Anda di halaman 1dari 24

DERMATITIS KONTAK

A. Definisi
Dermatitis kontak adalah dermatitis karena kontak eksternal yang menimbulkan
fenomena sensitisasi (alergik) atau toksik (iritan).Dermatitis merupakan epidermadermatitis dengan gejala subjektif pruritus, obyek tampak inflamasi eritema,
vesikulasi, eksudasi dan pembentukan sisik. (Mansjoer, Arif, dkk, 2000)
Dermatitis kontak sering terjadi pada tempat tertentu dimana alergen mengadakan
kontak dengan kulit. (Price, Sylvia Anderson.1991)
Dermatitis kontak adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang disertai dengan
adanya spongiosis/edeme interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan
bahan bahan kimia yang berkontak atau terpajan kulit .Bahan- bahan tersebut dapat
bersifat toksik ataupun alergik. (Mawarli Harahap, Prof.Dr. 2000)

B. Etiologi
Dermatitis kontak bisa ditimbulkan oleh bahan-bahan irritan primer atau penyebab
alergic primary irritant contact dermatitis merupakan reaksi non alergik dari pada kulit
yang disebabkan karena terkena irritantia. Zat diterjen ( seperti lisol ) desinfektan dan
zat warna ( untuk pakaian, sepatu dan lain lain ) dapat mengakibatkan dermatitis.
a) Irritantia ringan, relatif atau marginal, memebutuhkan kontak berulang-ulang dan
atau kontak yang lama untuk menimbulkan peradangan atau termasuk di sini
adalah sabun, deterjen dan kebanyakan jenis bahan pelarut. Dermatitis pekerjaan
tampak pula fisura ,skuama, dan paronikima sebagai akibat iritasi kronik.
Dermatitis juga dapat terdapat pada rumah tangga yang terjadi karena insektisida
dan berbagai salep yang di jual secara bebas yang mengandung sulfonamid,
penisilin, merkuri, atau sulfur.

b) Irritantia keras atau absolut merupakan zat-zat perusak yang keras sehingga akan
melukai kulit dengan seketika jika mengenainya (asam kuat dan basa kuat).

PENYEBAB YANG BAKU DARI DERMATITIS KONTAK


PADA BERBAGAI BAGIAN TUBUH
Bagian Tubuh
Muka
Cuping telinga

Penyebab
Kosmetik, hairspray, semir rambut.
Nikel, perhiasan imitasi
Kosmetik, transfer oleh tangan, tangkai kaca

Kelopak mata
mata
Bagian Tubuh
Hidung, bibir dan sekitarnya
Leher
Aksila
Dada
Lengan dan kaki
Tangan

Penyebab
Pasta gigi, lipstick
Parfum, pakaian (bahan wool)
Deodoran, pakaian, parfum
Bahan kuningan
Deterjen, bahan pembersih, sepatu
Sarung tangan, deterjen

C. Manifestasi Klinis
Gejala dari dermatitis kontak adalah:
a) Fase akut
b) Fase kronik

: merah, edema, papula, vesikula, berair, kusta, dan gatal


:kulit

tebal/likenifikasi,

kulit

pecahpecah

skuama,

kulit

kering,dan hiperpigmentasi.
c) Gejala subyektif :Iritan primer akan menyebabkan kulit terasa kaku, rasa tidak
enak karena kering, gatal-gatal sebab peradangan dan rasa sakit
karena fisura, vesikula, ulcus.
d) Gejala obyektif :- Erythema
-

Mikrovesikulasi
keluarnya

- Kulit menebal, kering, retak


- Pengelupasan kulit

dan

- Vesikulasi, erosi,ulcus, fisura


- Edema muka dan tangan
- Ruam-ruam dan lesi

D. Faktor Predisposisi
Penyakit dermatitis ini biasanya dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, yang antara
lain:
a) Obat-obatan

: obat kumur, balsem dan salep yang mengandung sulfanamid,


penisilin, insektisida, neomisin, benzokain dan etilendiamin.

b) Karet atau nilon : sandal karet, kaos kaki nilon, pakaian nilon.
c) Kunyit, kapur sirih, merkuri dan sulfur.

E. Klasifikasi
Dermatitis kontak ditimbulkan oleh fenomena alergik atau toksik.
Dermatitis kontak dapat berupa:
a) Tipe

dermatitis

kontak

alergi,

merupakan

manifestasi

Delayed

Hypersesitivity; hipersensitifitas yang tertunda dan merupakan terkena oleh


alergen kontak pada orang yang sensitif.
b) Tipe dermatitis kontak iritan, terjadi karena irritant primer dimana reaksi non
alergik terjadi akibat pejanan terhadap substansi iritatif.
Perbedaan dermatitis kontak iritan dan alergi:
Faktor
Penyebab
Permulaan
Penderita
Lesi
Faktor

Dermatitis Kontak Iritan


Iritan primer
Pada kontak pertama
Semua orang
Batas lebih jelas, eritema

Dermatitis Kontak Alergi


Alergen kontak sensitizer
Pada kontak ulang
Orang yang alergik
Batas tidak begitu jelas,

Dermatitis Kontak Iritan

eritema
Dermatitis Kontak Alergi

Uji temple

Contoh

sangat jelas
Sesudah ditempel 24 jam

kurang jelas
Bila sesudah 24 jam bahan

bila iritan diangkat, reaksi

alergen diangkat, reaksi

akan segera
Sabun, deterjen

menetap/meluas berhenti
Pemakaian terlalu lama, jam,
sandal jepang, kalung imitasi

F. Patofisiologi
Dermatitis

Kontak

termasuk

reaksi

hipersensitivitas

tipe

IV, yaitu

reaksi

hipersensitivitas tipe lambat. Patogenesisnya melalui dua fase:


1) Fase Induksi (sensitisasi)
Saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit mengenal dan
memberi respons, perlu waktu 2-3 minggu.
Hapten (protein tidak lengkap) berpenetrasi ke dalam tubuh dan berikatan
dengan protein karier membentuk ,antigen yang lengkap. Antigen ditangkap
dan diproses oleh macrofag dan sel langerhans kemudian memicu reaksi
limfosit T yang belum tersensitisasi di kulit, sehingga terjadi sensitisasi limfosit
T melalui saluran limfe.
2) Fase Eksitasi
Yaitu saat terjadinya kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa. Sel
efektor yang telah tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik
berbagai sel radang sehingga timbul gejala klinis.

G. Pathway
Kontak alergen dengan kulit

Respon limfosit

Hapten berpenetrasi ke kulit

Berikatan dengan protein karier

Antigen lengkap

Diproses oleh sel langerhans


dan makrofag
Limfosit T bermigrasi ke daerah
parakortikal kelenjar getah bening

Sensitisasi limfosit T

Deferensiasi dan berpoliferasi

Pejanan ulang dengan


alergen sama

Sel efektor tersensitisasi secara


spesifik dan sel memori terbentuk
(peristiwa imunologik)

Sel masuk ke kulit dan sirkulasi

Sensitisasi di sel tubuh

Reaksi tipe IV

Pelepasan sitokin / limfokin

Gejala klinis

Lanjutan
Gejala klinis

Perubahan status kesehatan

Cemas

Kurang pengetahuan

Pruritus

Eritema

Trauma
mekanik

Lesi

Resiko
infeksi

Gangguan pola
tidur

Gangguan
citra tubuh

Kerusakan
integritas
kulit

Nyeri

H. Penatalaksanaan
Proteksi terhadap zat penyebab dan menghindarkan kontaktan merupakan tindakan
penting. Anti-hisatamin tidak diindikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak ada
pembebasan hisatamin. Pada stadium berikutnya terjadi pembebasan histamin secara
pasif. Kortikosteroid diberikan bila penyakit berat, misalnya prednison 20 mg/hari.
Terapi topikal diberikan sesuai petunjuk umum.
Dasar penyakit dermatitis adalah mencari etiologi dan menyingkirkan penyebabnya.
Pada dermatitis akut
Dilihat adanya oedema, erasia, eksudasi, pustula, erythema.
1) Kompres

Cara kompres : - Rendam kain putih halus ke air


- Letakkan di lesi, 10-20 menit
- Ganti dengan kain dan air yang bersih
Perhatian

: - Pakai 2/3 obat lokal, ketahui seluk beluk obat


- Pada daerah tropis perlu dipertimbangkan faktor penguapan. Sol
Boric Acid 3 % bila dibalutkan pada lesi maka konsentrasinya
menjadi 20-50 % sehingga melekat pada lesi dan terdapat kristal
Boric (BAHAYA).

2) Antibiotik
Biasanya infeksi sekunder disebabkan oleh Gram positif.
Diobati dengan penicillin/ampicillin untuk penderita yang tidak alergi, buctrim,
supristol, septrin (efek aplasticanemia).
3) Antihistamin
4) Obat- obat topical
Karena kulit mudah diakses maka mudah pula diobati maka obat obat topical dapat
sering digunakan,beberapa obat dengan konsentrasi yang tinggi dapat dioleskan
langsung pada kulit yang sakit dengan sedikit absorbsi sistemik sehingga efek
samping sistemiknya juga sedikit.adapun obat topikalnya antara lian:
a. Lotion
Lotion memeiliki dua tipe : suspensi yang terdiri atas serbuk dan dalam
air yang perlu di kocok sebelum di gunakan ,dan larutan jernih yang
mengandung unsur - unsur aktif yang bisa di larutkan seluruhnya .
b. Bedak
Bedak biasanya memiliki bahan dasar talk,zinkoksida,bentonit atau pati
jagung dan ditaburkan pada kulit dengan alat pengocok atau spons

katun.Meski

kerja

medisnya

singkat

,bedak

merupakan

preparat

higroskopis yang menyerap serta menahan kelembaban kulit dan seprei.


c. Krim
Krim dapat berupa suspensi minyak - dalam - air
atau emulsi air- dalam- minyak dengan unsur-unsur untuk mencegah
bakteri ataupun jamur (Mackie,1991).
d. Jel
Jel merupakan emulsi semisolid yang menjadi cair ketila dioleskan pada
kulit,bentuk preparat topikal ini

secara kosmetik dapat diterima

oleh

pasien karena tidak terlihat setelah dioleskan dan juga tidak terasa
berminyak serta tidak meninggalkan noda.
e. Pasta
Pasta merupakan campuran bedak dengan salep dan digunakan pada keadaan
inflamasi,pasta melekat pada kulit tetapi sulit dihilangkan tanpa menggunakan
minyak seperti minyak zaitun atau minyak mineral.
f. Salep
Salep bersifat menahan kehilangan air dan melumasi serta melindungi kulit,
bentuk preparat topikal ini lebih disukai untuk kelainan kulit yang kronis atau
terlokalisasi.
g. Preparat spray dan aerosol
Dapat di gunakan

untuk lesi yang luas,bentuk ini akan mengisat ketika

mengenai kulit sehinga harus digunakan dengan sering.


h. Korrtikosteroid
Banyak dipakai dalam pengobatan kelainan dermatologik untuk memberikan
efek anti inflamasi,anti priritus dan vasokontriksi(Litt,1993).

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DERMATITIS KONTAK

I. PENGKAJIAN
Kulit merupakan bagian tubuh yang paling terlihat, bila terjadi cedera akut
dari

dermatitis

kontak

eksim

pasien

sulit

untuk

mengabaikan

atau

menyembunyikanya dari orang lain.Sangat penting untuk mengetahui faktor


penyebabnya agar dapat mencegah kontak ulang atau terhadap perubahan data yang
harus dikumpulkan sejak awal adalah:
1) Pengetahuan tentang faktor penyebab dan metode kontak.
2) Kemungkinan bisa kontak dengan menimbulkan iritasi di rumah, tempat
pekerjaan/pada waktu kegiatan rekreasi.
3) Bagaimana kelainan kulit yang timbul dimulai.
4) Riwayat tentang infeksi yang berulang, kemungkinan kurangnya respon
imunitas.
5) Respon obat baru, terutama penicillin/sulfanilamide.
6) Peningkatan stress yang dicatat pasien.
7) Faktor-faktor yang membuat lebih parah (resep dokter/pengobatan pribadi).
8) Luasnya pruritis dan faktor yang membuat lebih parah.
Lesi diperiksa setiap hari untuk diketahui apakah pasien masih suka
menggaruk lesi, periksa apakah terdapat perubahan atau ada infeksi.

a.DIAGNOSA
1) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan
fungsi barier kulit.

2) Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan adanya lesi dan pruritus.
3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya pruritus.
4) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak
bagus.
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah tanggap informasi.
6) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya lesi pada kulit.

b.

PERENCANAAN
1) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perbahan
fungsi barier kulit.
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan

selama ( ...x...) jam diharapkan

integritas kulit pasien baik dengan kriteria hasil:

Tidak adanya maserasi.

Tidak ada tanda tanda cedara termal.

Tidak ada infeksi.

Intervensi:

1. Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi ( hidrasi stratum


korneum yang berlebihan ) ketika memasang kompres basah.
2. Hilangkan kelembaban dari kulit dengan menutulkan untuk menghisap dan
menghindari friksi.
3. Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya cedera termal akibat
penggunaan kompres hangat dengan suhu yang terlau tinggi dan akibat
cedera panas yang tidak terasa ( bantalan pemanas, radiator )
4. Nasehati pasien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.

Rasional:
1.

Maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit dan
perluasan kelainan primer.

2.

Friksi dan maserasi memainkan peranan yang penting dalam proses


terjadinya sebagian penyakit kulit.

3.

Penderita Dermatitis dapat mengalami penurunan sensitifitas terhadap


panas.

4.

Banyaknya masalah kosmetika pada hakekatnya semua kelainan


malignitas kulit dapat dikaitkan dengan kerusakan kulit kronik.

2) Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan adanya lesi kulit.


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ( ...x...) jam diharapkan tidak
ada gatal dan nyeri dengan kriteria hasil:

Mengutarakan dengan kata kata bahwa gatal telah reda.

Memeperlihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.

Menunjukan kulit utuh; kulit menunjukan kemajuan dalam penampilan


yang sehat.

Intervensi:
1. Periksa daerah yang terlibat
a.

Upayakan untuk menemukan penyebab gangguan rasa


nyaman.

b.

Mencatat hasil-hasil observasi secara rinci dengan memakai


terminologi deskriptif

c.

Mengantisipasi reaksi alergi yang mungkin terjadi ,


mendapatkan riwayat pemakaian obat.

2. Kendalikan faktor faktor iritan.


a.

Pertahankan kelembaban kira-kira 60% gunakan alat pelembab

b.

Pertahankan lingkungan dingin

c.

Gunakan sabun ringan atau sabun yang dibuat untuk kulit


sensitif.

d.

lepaskan kelebihan pakaian atau peralatan di tempat tidur.

e.

Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun ringan .

f.

Hentikan pemajanan berulang terhadap deterjen, pembersih,


dan pelarut.

3. Menggunakan tindakan perawatan kulit untuk mempertahankan integritas


kulit dan meningkatkan kenyamanan pasien.
a. Melaksanakan kompresi penyejuk dengan air suam suam kuku, atau
kompres dingin guna meredakan rasa gatal.
b. Mengatasi kekeringan sebagaimana di preskripsikan .
c. Mengoleskan losion dan krim kulit segera setelah mandi.
d. Menjaga agar kuku selau terpangkas.
e. Menggunakan terapi tropikal seperti yang preskiripsikan.
f. Membantu pasien menerima terapi yang lama, yang diperlukan pada
beberapa kelainan kulit.
g. Menasehati pasien untuk menghindari pemakaian salep atau losion
yang di beli tanpa resep dokter.

Rasional:

1. Pemahaman tentang luas dan karakteristik kulit meliputi bantuan dalam


menyusun rencana interfensi
a. Membantu menidentifikasi tindakan yang tepat untk memberikan
kenyamanan.
b. Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk diagnosa
dan pengobatan. Banyak kondisi kulit tampak serupa tetapi
memepunyai etiologi yang berbeda, respon inflamasi kutan mungjin
mati pada pasien lansia.
c.

Ruang menyeluruh terutama dengan awitan yang mendadak


dapat menunjukan reaksi alergi terhadap obat.

2. Rasa gatal diperburuk oleh panas, kimia dan fisik.


a. Dengan kelembaban yang rendah, kulit akan kehilangan air.
b. Kesejukan mengurangi gatal.
c. Upaya ini mencakup tidak adanya larutan diterjen, zat pewarna atau
bahan pengeras.
d. Meningkatkan lingkungan yang sejuk.
e. Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi kulit.
f. Setiap substansi yang menghilangkan air, lipid atau protein dari
epidermis akan mengubah fungsi barier kulit.
3. Kulit merupakan barier yang penting yang harus dipertahankan keutuhanya
agar berfungsi dengan benar.
a. Pengisatan air yang bertahap dari kasa kompres akan menyejukan kulit
dan meredakan pruritus.

b. Kulit yang kering dpat menimbulkan daerah dermatitis dengan gejala


kemerahan, gatal, deskuamasi dan pada bentuk yang lebih berat,
pembengkakan, pembentukan lepuh, keretakan dan eksudat.
c. Hidrasi yang efektif pada stratum korneum mencegah gangguan lapisan
barier pada kulit.
d. Pemotongan kuku akan mengurangi kerusakan kulit karena garukan.
e. Tindakan ini membantu meredakan gejala.
f. Tindakan koping biasanya akan meningkatkan kenyamanan.
g. Masalah pasien dapat disebabkan oleh iritasi atau sensitisasi
pengobatan sendiri.

3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya pruritus.


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ( ...x...) jam diharapkan tidak
ada gangguan tidur dengan kriteria hasil:

Mencapai tidur yang nyenyak.

Melaporkan peredaran rasa gatal.

Mengalami pola tidur / istirahat yang memuaskan.

Intervensi:
1. Cegah dan obati kulit yang kering.
a. Menasehati pasien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki
fentilasi dan kelembaban yang baik.
b. Menjaga agar kulit selalu lembab.
c. Mandi hanya diperlukan jika kulit sangat kering.

d. Jangan gunakan sabun atau gunakan sabun yang lembut oleskan losion
segera sesudah mandi sementara kulit masih lembab.
2. Nasehati pasien untuk melakukan hal berikut yang dapat membantu
meningkatkan tidur
a. Menjaga jadwal tidur yang teratur pergi tidur pada saat yang sama dan
bangun pada sat yang sama.
b. Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur
dimalam hari.
c. Melaksanakan gerak badan secara teratur.
d. Mengerjakan hal hal yang rirual dan rutin menjelang tidur.
Rasional:
1. Pruritus nokturnal mengganggu tidur yang normal.
a. Udara yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang
nyaman meningkatkan relaksasi.
b. Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan gatal
biasanya tidak dapat disembuhkan, tapi bisa di kendalikan.
c. Semua tindakan ini kan memelihara kelembaban kulit.
2. a. Dengan kelembaban yang rendah kulit akan kehilangan air.
b. Kafein memiliki efek puncak 2 4 jam sesduah di konsumsi.
c. Gerak badan memberikan efek yang menguntungkan untuk tidur jika
dilaksanakan pada sore hari.
d. Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan terja menjadi tertidur.

4) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak


bagus.

Tujuan dan Kriteria Hasil:


Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ( ...x...) jam diharapkan citra
tubuh pasien bagus dengan kriteria hasil:

Mengembangkan peningkatan kemampuan untuk menerima diri sendiri.

Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan mandiri.

Melaporkan perasaan dalam mengendalikan situasi.

Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang sehat.

Intervensi:
1. Kaji adanya gangguan pada citra diri pasien (Menghindari kontak mata,
merendahkan diri sendiri, ekspresi muak terhadap kondisi kulitnya).
2. Identiffikaasi stadium psikososial tahap perkembangan.
3. Berikan kesempatan untuk pengungkapan, dengarkan, (dengan cara yang
terbuka, tidak menghkimi). Untuk mengekspresikan berduka/ansietas
tentang perubahan citra tubuh
4. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan pasien, bantu pasien yang cemas
dalam mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali serta
mengatasi masalah.
5. Mendukung upaya pasien untuk memperbaiki citra diri (turut
berpartisippasi dalam penanganan kulitnya, merias atau merapikan diri)
6. Membantu pasien ke arah penerimaan diri.
7. Mendorong sosialisasi dengan orang lain.
8. Memberikan nasehat kepada pasien mengenai cara cara perawatan
kosmetik untuk menyembunyikan kondisi kulit yang abnormal.
Rasional:

1. Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit atau keadaan yang
nyata bagi pasien. Kesan seseorang terhadap dirinya sendiri akan
berpengaruh pada konsep diri.
2. Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi serta
pemahaman pasien terhadap kondisi kulitnya.
3. Pasien membutuhkan pengalaman, didengarkan dan dipahami.
4. Tindakan ini memeberikan kesempatan kepada petugas kesehatan untuk
menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas
situasi. Ketakutan merupakan unsur yang merusak adaptasi pasien .
5. (Untuk nomor 5 s/d 8). Pnedekatan dan sasaran yang positif tentang
tekhnik tekhnik kosmetik seringkali membantu dalam meningkatkan
penerimaan diri dan sosialisasi.

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah tanggap informasi.


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ( ...x...) jam diharapkan pasien
mengerti tentang penyakitnya dengan kriteria hasil:

Menunjukan ekspresi mengerti.

Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.

Mengikuti terapi seperti yang diprogramkan dan dapat mengungkapkan


rasional tindakan yang dilakukan.

Menjalankan mandi, pencucian, barutan basah sesuai yang diprogramkan.

Intervensi:

1. Tentukan apakah pasien mengetahui (memahami dan salah mengerti)


tentang kondisi dirinya.
2. Jaga agar pasien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki
kesalahan konsepsi / informasi.
3. Peragakan penerapan terapi yang di programkan (kompres basah; terapi
topikal)
4. Berikan nasehat pada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan
fleksibel dengan tindakan hidrasi dan pengolesan krim serta losion kulit.
5. Dorong pasien utnuk mendapatkan status nutrisi yang sehat.
Rasional:
1.

Memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan.

2.

Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada yang harus diperbuat,


kebanyakan pasien merasakan manfaat yang lebih.

3.

Memungkinkan pasien untuk memperoleh kesempatan untuk


menunjukan cara yang tepat untuk melakukan terapi.

4.

Stratum korneum memerlukan air agar fleksibilitas kulit tetap terjaga.


Pengolesan krim atau losion untuk melembabkan kulit akan mencegah agar
kulit tidak menjadi kering, kasar, retak dan bersisik.

5.

Penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang.


Perubahan pada kulit akan menandakan status nutrisi yang ab normal.

6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya lesi pada kulit.


Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ( ...x...) jam diharapkan tidak
ada infeksi dengan kriteria hasil:

Tidak ada tanda dan gejala infeksi

Intervensi:
1.

Memiliki indeks kecurigaan yang tinggi terhadap suatu infeksi pada


pasien yag sistem kekebalanya ter ganggu.

2.

Berikan petunjuk yang jelas dan rinci kepada pasien mengenai


program terapi.

3.

Laksanankan pemakaian kompres basah seperti yang diprogramkan


untuk mengurangi intensitas inflamasi

4.

Sediakan terapi rendaman separti yang diprogramkan .

5.

Berikan preparat anibiotik yang diresepkan dokter.

6.

Gunakan obat-obat topikal yang mengandug kortikosteroid seperti


yang diresepkan dokter dan menurut indikasinya
a. Observasi lesie secara periodik untuk peribahan respon terhadap terapi.
b. Instruksikan pasien tentang kemungkinan efek samping penggunaan
jangka panjang kortikosteroid, topikal, difluorinasi.

7.

Nasihati pasien untuk menghentukan pemakaian obat kulit yang yang


memperburuk masalah.

Rasional:
1.

Setiap keadaan yang mengganggu status imune akan memperbesar


resiko terjadinya infeksi kulit.

2.

Pendidikan pasien yang efektif bergantung kepada ketrampilan,


keterampilan interpresonal, profesional kesehatan dan pada pemberian
instruksi yang jelas yang diperkuat instruksi tertulis.

3.

Kompres basah akan menghasilkan pendinginan lewat pengisatan yang


menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah kulit dan dengan demikian

mengurangi eritema serta produksi serum. Kompres basah akan membantu


tindakan debridemen fesikel serta krusta dan mengendalikan proses
inflamasi.
4.

Melepaskan eksudat dan krusta.

5.

Membunuh atau mencegah pertumbuhan mikrorganisme penyebab


infeksi.

6.

Kortikosteroid memiliki kerja anti inflamasi yang menjelaskan


sebagian kemampuanya untuk menimbuklan vasokontriksi pada pembuluh
- pembuluh kecil dalam dermis lapisan atas. Pemakaian kortikosterod
topikal yang ekstensif dalam waktu yang lama dapat menimbulkan efek
anti proliferatif pada sel sel epidermis ( kerontokan rambut pada daerah
yang dioleskan ).

7.

Dermatitis kontak atau reaksi alergi dapat terjadi setiap unsur yang ada
dalam obat tersebut.

c.EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan hasil yang di harapkan adalah sebagai berikut:
1) Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan
fungsi barier kulit.
1. Memepertahankan integritas kulit.
2. Tidak adanya maserasi.
3. Tidak ada tanda tanda cedara termal.
4. Tidak ada infeksi.
5. Memberikan obat topikal yang diprogramkan.
6. Menggunakan obat yang diresepkan sesuai jadwal.

2) Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan adanya lesi kulit.


1. Mencapai peredaan gangguan rasa.
2. Mengutarakan dengan kata kata bahwa gatal telah reda.
3. Memeperlihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.
4. Mematuhi terapi yang diprogramkan.
5. Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
6. Menunjukan kulit utuh; kulit menunjukan kemajuan dalam penampilan
yang sehat.

3) Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya pruritus.


1. Mencapai tidur yang nyenyak.
2. Melaporkan peredaran rasa gatal.
3. Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
4. Menghindari konsumsi kafein pada sore hari dan menjelang tidur malam
hari.
5. Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
6. Mengalami pola tidur / istirahat yang memuaskan.

4) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak


bagus.
1. Mengembangkan peningkatan kemampuan untuk menerima diri sendiri.
2. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan mandiri.
3. Melaporkan perasaan dalam mengendalikan situasi.
4. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri

5. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang sehat.


6. Tampak tidak begitu memperhatikan kondisi.
7. Menggunakan tekhnik menyembunyikan kekurangan dan menekankan
teknik untuk meningkatkan penampilan.

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah tanggap informasi.


1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
2. Mengikuti terapi seperti yang diprogramkan dan dapat mengungkapkan
rasional tindakan yang dilakukan.
3. Menjalankan mandi, pencucian, barutan basah sesuai yang diprogramkan.
4. Gunakan obat tropikal dengan tepat.
5. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

6) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya lesi pada kulit.


1. Tetap bebas dari infeksi.
2. Mengungkapkan tindakan perawatan kulit yang meningkatkan kebersihan
dan mencegah kerusakan.
3. Mengidentifikasikan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan.
4. Mengidentifikasi efek merugikan dari obat yang harus dilaporkan ke
petugas perawatan kesehatan.
5. Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulit (misalnya mandi, dan
penggantian balut).

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2001.Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Marwali Harahap, Prof. Dr.2000.Ilmu Penyakit Kulit.Jakarta: Hipokrates
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Price, Sylvia Anderson. 1991. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
NANDA.2006.Pedoman Diagnosa Keperawatan NANDA 2005 2006. ....: Primamedika.

DERMATITIS

OLEH KELOMPOK 7

I Kadek Andhika Putra


Luh Putu Risma Agustini
Ni Putu Parmini
Ni Putu Sukma Pradnyayanthi
Ayu Surya Dewi
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2014