Anda di halaman 1dari 6

Sediaan losion...............

(Mutiara Widawati)

pengendalian vektor bertujuan agar rantai penularan


dari DBD ini tidak berlanjut. Upaya ini salah
satunya yaitu dengan cara penggunaan insektisida.
Insektisida dapat digolongkan menjadi dua jenis,
yaitu insektisida alami dan sintetik. Pemberantasan
nyamuk dengan insektisida sintetik memiliki efek
tersendiri.
Penggunaan insektisida sintetik dalam
prosesnya menggunakan senyawa kimiawi tunggal
yang apabila diterapkan pada nyamuk secara terus
menerus akan menyebabkan timbulnya resistensi
3
senyawa tersebut pada nyamuk yang terpapar.
Insektisida yang populer di masyarakat biasanya
terdiri dari empat jenis sediaan, yaitu semprot, bakar,
elektrik dan losion. Obat nyamuk semprot dan bakar
memiliki efek yang berbahaya untuk kesehatan
karena dapat terhirup dan proses pembakaran yang
membuat oksigen dalam ruangan berkurang.
Insektisida semprot, bakar dan elektrik dapat
dengan mudah masuk ke sistem pernafasan menuju
paru-paru dan dapat diteruskan ke peredaran darah.
Efeknya bisa bermacam-macam, seperti gangguan
saraf, liver, pernafasan, bahkan dalam penggunaan
jangka panjang dapat menimbulkan kanker.4
Obat nyamuk losion merupakan salah satu
alternatif insektisida yang tidak terlalu mengganggu
sistem pernafasan dikarenakan aplikasinya langsung
pada kulit manusia. Losion digunakan untuk
menghindari gigitan serangga. Pada umumnya
losion yang dijual di pasaran mengandung bahan
aktif kimiawi yaitu DEET (Diethyl toluamide).
DEET yang diperbolehkan di Indonesia hanya dalam
konsentrasi 15%.5 Seperti senyawa sintetik lain,
DEET pun memiliki efek negatif diantaranya efek
6
iritasi pada kulit, urtikaria hingga ensefalopati.
Penggunaan minyak atsiri sebagai repelan secara
langsung kurang efektif karena sifat minyak atsiri
yang mudah menguap, maka perlu dibuat dalam
bentuk sediaan yang sesuai agar mudah dipakai dan
lebih tahan lama. Penggunaan bahan-bahan alami
sebagai bahan aktif losion sudah mulai banyak
digunakan oleh berbagai penelitian sebagai salah
satu cara untuk mencegah penyebaran DBD.
Dalam penelitian ini, minyak atsiri akan
diformulasikan dalam bentuk losion dengan
penambahan zat fiksatif berupa minyak nilam.
Losion berbentuk cair sehingga memudahkan bahan
aktif losion cepat menyebar sehingga dapat
memberikan perlindungan pada pemakainya.
Penambahan zat fiksatif bertujuan agar efek
repelansi bisa bertahan lebih lama seperti losion

78

dengan DEET.
Diantara berbagai tanaman obat yang
digunakan sebagai insektisida, daun sirih adalah
salah satunya. Daun sirih dengan nama latin Piper
betle L. merupakan salah satu jenis tanaman obat
yang banyak tumbuh di Indonesia. Daun sirih
mengandung berbagai senyawa kimia seperti
senyawa saponin, fenolik dan alkaloid. Selain
senyawa-senyawa tersebut, daun sirih juga memiliki
kandungan minyak atsiri dan dapat digunakan
sebagai insektisida.7 Minyak nilam (Pogostemon
cablin) mengandung berbagai bahan metabolit
sekunder seperti saponin, flavonoid, sesquiterpen
dan alkohol patchouli.17 Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Widawati dan Eka, didapatkan hasil
bahwa minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat
fiksatif18,19 yang dapat mengikat wangi repelan.18
Formulasi pembuatan insektisida dari daun
sirih bisa melalui proses penyulingan atau ekstraksi.
Penyulingan adalah suatu metode pemisahan
senyawa kimia berdasarkan perbedaan kecepatan
8
atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Menurut Eliningaya,9 senyawa yang diekstrak dari
tanaman dapat menghasilkan minyak atsiri dari daun
cengkeh diantaranya yaitu eugenol dan terbukti
dapat dipakai untuk mengendalikan jentik dan
nyamuk dewasa. Berdasarkan Agus Kardinan10
minyak atsiri daun cengkeh memiliki eugenol
dengan kandungan 70-93% dan berpotensi untuk
mengusir nyamuk. Walaupun tidak sebesar daun
cengkeh, daun sirih juga merupakan salah satu
tanaman yang memiliki eugenol, umumnya sirih
mengandung 30% eugenol.11 Oleh karena itu,
penelitian ini akan menguji losion hasil modifikasi
dari minyak atsri daun sirih sebagai repelan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi
losion minyak atsiri daun sirih sebagai repelan
terhadap nyamuk Aedes aegypti.
METODE
Penelitian dilakukan dengan rancangan acak
lengkap dimana pengujian dilakukan pada kondisi
yang disamakan dan dilakukan selama tahun 2013.
Jenis penelitian yaitu penelitian eksperimental
sederhana dengan desain post test only control group
design.12 Nyamuk yang digunakan yaitu Ae. aegypti
yang terdapat di Insektarium Laboratorium Loka
Litbang P2B2 Ciamis. Sampel penelitian adalah
nyamuk Ae. aegypti betina dari populasi. Sampel
didapatkan dengan metode purposive sampling,
yaitu pemisahan nyamuk Ae. aegypti jantan dari

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 77-82

SEDIAAN LOSION MINYAK ATSIRI Piper betle L. DENGAN PENAMBAHAN MINYAK NILAM
SEBAGAI REPELAN NYAMUK Aedes aegypti
LOTION PREPARATION FROM Piper betle L. ESSENTIAL OIL WITH THE ADDITION OF
PATCHOULI OIL AS AN Aedes aegypti REPELLENT
Mutiara Widawati*
Loka Litbang P2B2 Ciamis
Jl. Raya Km 3 Kampung Kamurang Desa Babakan Kecamatan Pangandaran
Kabupaten Pangandara, Provinsi Jawa Barat, Indonesia
*E_mail: mutiara_w61@yahoo.com
Received date: 28/3/2014, Revised date: 7/11/2014, Accepted date: 11/11/2014

ABSTRAK
Daun Sirih (Piper betle L.) merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku repelan. Penelitian bertujuan
untuk mengetahui potensi minyak atsiri dari daun sirih dengan penambahan minyak nilam sebagai repelan. Penelitian
eksperimental dengan rancangan post test only control group design dilakukan tahun 2013, menggunakan sampel nyamuk
Ae. aegypti betina lapar darah. Konsentrasi digunakan yaitu 2%, untuk kontrol positif digunakan losion DEET dengan
ulangan lima kali. Lengan diolesi losion sirih selanjutnya dimasukkan pada kurungan berisi 100 ekor nyamuk uji, kemudian
dihitung rata-rata jumlah nyamuk hinggap selama lima menit pengamatan setiap jam periode (uji efikasi repelan dilakukan
selama 6 jam). Pada kondisi yang sama, diujikan pula losion biasa tanpa minyak sirih dan fiksatif yang dioleskan ke lengan
yang lain terhadap nyamuk Ae. aegypti (kontrol negatif). Efektifitas penolakan hinggapan nyamuk Ae. aegypti dianalisis
menggunakan daya proteksi, kemudian dianalisis lebih lanjut dengan uji paired t-test. Losion sirih hasil modifikasi yang
dioleskan pada lengan mampu menolak hinggapan nyamuk Ae. aegypti. Losion sirih dengan penambahan minyak nilam
memiliki daya proteksi rata-rata 90,33%. Walaupun daya proteksi losion sirih tidak berbeda secara nyata dengan daya
proteksi DEET, tetapi masih memenuhi syarat efektivitas repelan. Minyak sirih dengan penambahan minyak nilam
berpotensi untuk digunakan sebagai repelan terhadap nyamuk Ae. aegypti.
Kata kunci: losion, daun sirih, minyak nilam, repelan, Aedes aegypti
ABSTRACT
Betel leaf (Piper betle L.) is a plant that can be used as raw material for repellent. This study aimed to determine the potential
of essential oil of betle leaf with a modified formulation by adding patchouli oil as a repellent. This study was an experimental
study with a post-test only control group design done in 2013 and using samples of blood hungry Ae. aegypti females. The
concentration used is 2%, DEET lotion for the positive control repellent with five times repetition. Arms that have been
smeared by lotion then put in a cage containing 100 of mosquitoes, and then the average number of mosquitoes that land on
each treatment on observations ranging from 1 hour to up to six hours were calculated. At the same condition, also tested
regular lotion without betle oil and fixative, this data is used as a negative control. Aedes aegypti repellent effectiveness were
analyzed using power protection. The data were analyzed further with paired t-test. The modified betle lotion is applied to the
arm to resist the perch of Ae. aegypti, and effectively used as repellent. Betle lotion by adding patchouli oil has 90.33% power
protection. Although power protection of betel lotion not significantly different with power protection of DEET, but it still
qualify repellent effectiveness. Betle oil by adding of patchouli oil has the potential to be used as repellent against
Ae. aegypti.
Keywords: lotion, Piper betle L. leaf, patchouli oil, repellent, Aedes aegypti

PENDAHULUAN
Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD
merupakan salah satu penyakit menular yang
memiliki tingkat endemisitas tinggi di negara tropis
dan hingga kini tiap tahun selalu memiliki
1
kecenderungan untuk meningkat. Kasus DBD di
Indonesia memiliki nilai yang tidak tentu dan

cenderung tinggi dari tahun ke tahun dengan nilai


CFR (Case Fatality Rate) rata-rata di atas 1% per
2
lima tahun.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
untuk menurunkan angka kejadian DBD di
Indonesia. Ada dua upaya utama yang dilakukan
untuk mengendalikan penyakit ini, yaitu upaya
pengobatan dan pengendalian vektor. Upaya

77

Sediaan losion...............(Mutiara Widawati)

pengendalian vektor bertujuan agar rantai penularan


dari DBD ini tidak berlanjut. Upaya ini salah
satunya yaitu dengan cara penggunaan insektisida.
Insektisida dapat digolongkan menjadi dua jenis,
yaitu insektisida alami dan sintetik. Pemberantasan
nyamuk dengan insektisida sintetik memiliki efek
tersendiri.
Penggunaan insektisida sintetik dalam
prosesnya menggunakan senyawa kimiawi tunggal
yang apabila diterapkan pada nyamuk secara terus
menerus akan menyebabkan timbulnya resistensi
3
senyawa tersebut pada nyamuk yang terpapar.
Insektisida yang populer di masyarakat biasanya
terdiri dari empat jenis sediaan, yaitu semprot, bakar,
elektrik dan losion. Obat nyamuk semprot dan bakar
memiliki efek yang berbahaya untuk kesehatan
karena dapat terhirup dan proses pembakaran yang
membuat oksigen dalam ruangan berkurang.
Insektisida semprot, bakar dan elektrik dapat
dengan mudah masuk ke sistem pernafasan menuju
paru-paru dan dapat diteruskan ke peredaran darah.
Efeknya bisa bermacam-macam, seperti gangguan
saraf, liver, pernafasan, bahkan dalam penggunaan
jangka panjang dapat menimbulkan kanker.4
Obat nyamuk losion merupakan salah satu
alternatif insektisida yang tidak terlalu mengganggu
sistem pernafasan dikarenakan aplikasinya langsung
pada kulit manusia. Losion digunakan untuk
menghindari gigitan serangga. Pada umumnya
losion yang dijual di pasaran mengandung bahan
aktif kimiawi yaitu DEET (Diethyl toluamide).
DEET yang diperbolehkan di Indonesia hanya dalam
konsentrasi 15%.5 Seperti senyawa sintetik lain,
DEET pun memiliki efek negatif diantaranya efek
6
iritasi pada kulit, urtikaria hingga ensefalopati.
Penggunaan minyak atsiri sebagai repelan secara
langsung kurang efektif karena sifat minyak atsiri
yang mudah menguap, maka perlu dibuat dalam
bentuk sediaan yang sesuai agar mudah dipakai dan
lebih tahan lama. Penggunaan bahan-bahan alami
sebagai bahan aktif losion sudah mulai banyak
digunakan oleh berbagai penelitian sebagai salah
satu cara untuk mencegah penyebaran DBD.
Dalam penelitian ini, minyak atsiri akan
diformulasikan dalam bentuk losion dengan
penambahan zat fiksatif berupa minyak nilam.
Losion berbentuk cair sehingga memudahkan bahan
aktif losion cepat menyebar sehingga dapat
memberikan perlindungan pada pemakainya.
Penambahan zat fiksatif bertujuan agar efek
repelansi bisa bertahan lebih lama seperti losion

78

dengan DEET.
Diantara berbagai tanaman obat yang
digunakan sebagai insektisida, daun sirih adalah
salah satunya. Daun sirih dengan nama latin Piper
betle L. merupakan salah satu jenis tanaman obat
yang banyak tumbuh di Indonesia. Daun sirih
mengandung berbagai senyawa kimia seperti
senyawa saponin, fenolik dan alkaloid. Selain
senyawa-senyawa tersebut, daun sirih juga memiliki
kandungan minyak atsiri dan dapat digunakan
sebagai insektisida.7 Minyak nilam (Pogostemon
cablin) mengandung berbagai bahan metabolit
sekunder seperti saponin, flavonoid, sesquiterpen
dan alkohol patchouli.17 Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Widawati dan Eka, didapatkan hasil
bahwa minyak nilam dapat berfungsi sebagai zat
fiksatif18,19 yang dapat mengikat wangi repelan.18
Formulasi pembuatan insektisida dari daun
sirih bisa melalui proses penyulingan atau ekstraksi.
Penyulingan adalah suatu metode pemisahan
senyawa kimia berdasarkan perbedaan kecepatan
8
atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Menurut Eliningaya,9 senyawa yang diekstrak dari
tanaman dapat menghasilkan minyak atsiri dari daun
cengkeh diantaranya yaitu eugenol dan terbukti
dapat dipakai untuk mengendalikan jentik dan
nyamuk dewasa. Berdasarkan Agus Kardinan10
minyak atsiri daun cengkeh memiliki eugenol
dengan kandungan 70-93% dan berpotensi untuk
mengusir nyamuk. Walaupun tidak sebesar daun
cengkeh, daun sirih juga merupakan salah satu
tanaman yang memiliki eugenol, umumnya sirih
mengandung 30% eugenol.11 Oleh karena itu,
penelitian ini akan menguji losion hasil modifikasi
dari minyak atsri daun sirih sebagai repelan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi
losion minyak atsiri daun sirih sebagai repelan
terhadap nyamuk Aedes aegypti.
METODE
Penelitian dilakukan dengan rancangan acak
lengkap dimana pengujian dilakukan pada kondisi
yang disamakan dan dilakukan selama tahun 2013.
Jenis penelitian yaitu penelitian eksperimental
sederhana dengan desain post test only control group
design.12 Nyamuk yang digunakan yaitu Ae. aegypti
yang terdapat di Insektarium Laboratorium Loka
Litbang P2B2 Ciamis. Sampel penelitian adalah
nyamuk Ae. aegypti betina dari populasi. Sampel
didapatkan dengan metode purposive sampling,
yaitu pemisahan nyamuk Ae. aegypti jantan dari

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 77-82

SEDIAAN LOSION MINYAK ATSIRI Piper betle L. DENGAN PENAMBAHAN MINYAK NILAM
SEBAGAI REPELAN NYAMUK Aedes aegypti
LOTION PREPARATION FROM Piper betle L. ESSENTIAL OIL WITH THE ADDITION OF
PATCHOULI OIL AS AN Aedes aegypti REPELLENT
Mutiara Widawati*
Loka Litbang P2B2 Ciamis
Jl. Raya Km 3 Kampung Kamurang Desa Babakan Kecamatan Pangandaran
Kabupaten Pangandara, Provinsi Jawa Barat, Indonesia
*E_mail: mutiara_w61@yahoo.com
Received date: 28/3/2014, Revised date: 7/11/2014, Accepted date: 11/11/2014

ABSTRAK
Daun Sirih (Piper betle L.) merupakan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku repelan. Penelitian bertujuan
untuk mengetahui potensi minyak atsiri dari daun sirih dengan penambahan minyak nilam sebagai repelan. Penelitian
eksperimental dengan rancangan post test only control group design dilakukan tahun 2013, menggunakan sampel nyamuk
Ae. aegypti betina lapar darah. Konsentrasi digunakan yaitu 2%, untuk kontrol positif digunakan losion DEET dengan
ulangan lima kali. Lengan diolesi losion sirih selanjutnya dimasukkan pada kurungan berisi 100 ekor nyamuk uji, kemudian
dihitung rata-rata jumlah nyamuk hinggap selama lima menit pengamatan setiap jam periode (uji efikasi repelan dilakukan
selama 6 jam). Pada kondisi yang sama, diujikan pula losion biasa tanpa minyak sirih dan fiksatif yang dioleskan ke lengan
yang lain terhadap nyamuk Ae. aegypti (kontrol negatif). Efektifitas penolakan hinggapan nyamuk Ae. aegypti dianalisis
menggunakan daya proteksi, kemudian dianalisis lebih lanjut dengan uji paired t-test. Losion sirih hasil modifikasi yang
dioleskan pada lengan mampu menolak hinggapan nyamuk Ae. aegypti. Losion sirih dengan penambahan minyak nilam
memiliki daya proteksi rata-rata 90,33%. Walaupun daya proteksi losion sirih tidak berbeda secara nyata dengan daya
proteksi DEET, tetapi masih memenuhi syarat efektivitas repelan. Minyak sirih dengan penambahan minyak nilam
berpotensi untuk digunakan sebagai repelan terhadap nyamuk Ae. aegypti.
Kata kunci: losion, daun sirih, minyak nilam, repelan, Aedes aegypti
ABSTRACT
Betel leaf (Piper betle L.) is a plant that can be used as raw material for repellent. This study aimed to determine the potential
of essential oil of betle leaf with a modified formulation by adding patchouli oil as a repellent. This study was an experimental
study with a post-test only control group design done in 2013 and using samples of blood hungry Ae. aegypti females. The
concentration used is 2%, DEET lotion for the positive control repellent with five times repetition. Arms that have been
smeared by lotion then put in a cage containing 100 of mosquitoes, and then the average number of mosquitoes that land on
each treatment on observations ranging from 1 hour to up to six hours were calculated. At the same condition, also tested
regular lotion without betle oil and fixative, this data is used as a negative control. Aedes aegypti repellent effectiveness were
analyzed using power protection. The data were analyzed further with paired t-test. The modified betle lotion is applied to the
arm to resist the perch of Ae. aegypti, and effectively used as repellent. Betle lotion by adding patchouli oil has 90.33% power
protection. Although power protection of betel lotion not significantly different with power protection of DEET, but it still
qualify repellent effectiveness. Betle oil by adding of patchouli oil has the potential to be used as repellent against
Ae. aegypti.
Keywords: lotion, Piper betle L. leaf, patchouli oil, repellent, Aedes aegypti

PENDAHULUAN
Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD
merupakan salah satu penyakit menular yang
memiliki tingkat endemisitas tinggi di negara tropis
dan hingga kini tiap tahun selalu memiliki
1
kecenderungan untuk meningkat. Kasus DBD di
Indonesia memiliki nilai yang tidak tentu dan

cenderung tinggi dari tahun ke tahun dengan nilai


CFR (Case Fatality Rate) rata-rata di atas 1% per
2
lima tahun.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
untuk menurunkan angka kejadian DBD di
Indonesia. Ada dua upaya utama yang dilakukan
untuk mengendalikan penyakit ini, yaitu upaya
pengobatan dan pengendalian vektor. Upaya

77

Kepadatan Jentik .............(Eva Lestari, dkk..)

DAFTAR PUSTAKA
1. Nugroho FS. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
keberadaan jentik Aedes aegypti di RW IV Desa
Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali.
[Diakses 6 April 2010]. Diunduh dari:
http://etd.eprints.ums.ac.id.
2. Siregar FA. Epidemiologi dan pemberantasan demam
berdarah dengue (DBD) di Indonesia. [Diakses 2
Agustus 2010]. Diunduh dari:
http://respiratory.usu.ac.id.
3. Putra AE. Faktor lingkungan dan perilaku kesehatan
yang berhubungan dengan endemisitas demam
berdarah dengue: studi di wilayah kerja di Puskesmas
Pandian dan Pamolokan Kabupaten Sumenep.
[Diakses 2 Agustus 2010]. Diunduh dari:
http://www.adln.lib.unair.ac.id.
4. Sitorus H dan Ambarita LP. Pengamatan larva Aedes
di Desa Sukaraya Kabupaten Oku dan di Dusun
Martapura Kabupaten Oku Timur tahun 2004. Media
Litbang Kesehatan. 2007; XVII (2): 28-33.
5. Fitriani SM dan Keman S. Perbedaan kepadatan
jentik Aedes aegypti pada daerah endemis, sporadis,
dan potensial DBD di wilayah kerja Puskesmas
Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Skripsi.
Surabaya: Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga; 2009.
6. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Laporan kasus
DBD Kota Semarang. Semarang: Seksi P2P.
7. Santoso dan Budiyanto A. Hubungan pengetahuan,
sikap dan perilaku (PSP) masyarakat terhadap vektor
DBD di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan.
Jurnal Ekologi Kesehatan. 2008; 7 (2): 732-39.
8. Kementerian Kesehatan RI. Modul pengendalian
demam berdarah dengue. Jakarta: Dirjen P2PL; 2011.
9.

Purnama SG. Pengendalian vektor DBD. [Diakses 16


Juli 2010]. Diunduh dari: http://staff.unud.ac.id.

10. Departemen Kesehatan RI. Pencegahan dan


pemberantasan demam berdarah dengue di Indonesia.
Jakarta: Dirjen P2PL; 2005.
11. Focks DA. A review of entomological sampling
methods and indicators for dengue vectors.
UNICEF/UNDP/WORLD BANK/WHO; 2003.
12. Wati WE. Beberapa faktor yang berhubungan dengan
kejadian demam berdarah dengue (DBD) di
Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan Tahun 2009.
Skripsi. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah; 2009.

76

13. Astuti D. Upaya pemantauan nyamuk Aedes aegypti


dengan pemasangan ovitrap di Desa Gonilan
Kartasura Sukoharjo. Warta. 2008; 11 (1): 90-8.
14. Adrial. Beberapa aspek indikator entomologi nyamuk
Aedes spp. dalam rangka perencanaan pengendalian
vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) di
Kecamatan Padang Barat, Kodya Padang. Majalah
Kedokteran Andalas. 2006; 30 (2): 59-68.
15. Salim M dan Febrianto. Survei jentik Aedes aegypti
di Desa Saungnaga Kec. Oku Tahun 2005. [Diakses 7
Maret 2011]. Diunduh dari: http://www.scribd.com/.
16. Rasyad SL. Perbedaan house index, container index,
breteau index di daerah endemis, sporadis, dan
potensial demam berdarah dengue Kecamatan
Banyumanik Kotamadya Semarang. [Diakses 3
Maret 2011]. Diunduh dari:
http://eprints.undip.ac.id/5104/.
17. Wuryadi S. Masalah penyakit demam berdarah
dengue pada Pelita VI. Majalah Cermin Dunia
Kedokteran. 1995; 101.
18. Roose A. Hubungan sosiodemografi dan lingkungan
dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue
(DBD) di Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru
Tahun 2008. Tesis. Medan: Universitas Sumatera
Utara; 2008.
19. Yuswulandary V. Karakteristik penderita demam
berdarah dengue di wilayah kerja Dinas Kesehatan
Kota Lhokseumawe dan kegiatan pemberantasannya
tahun 2003-2007. Skripsi. Medan: Universitas
Sumatera Utara; 2008.

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 77-82

kandang dan dilanjutkan dengan random sampling


dimana nyamuk Ae. aegypti betina di kandang
diambil secara acak. Seratus ekor nyamuk digunakan
untuk perlakuan, ulangan dilakukan sebanyak lima
kali dan satu kontrol positif sehingga total sampel
nyamuk yang digunakan sebanyak 600 ekor
13
nyamuk.
Nyamuk yang digunakan yaitu nyamuk Ae.
aegypti betina berumur 3-5 hari, hanya diberi pakan
gula. Nyamuk uji kenyang darah dan yang mati tidak
digunakan dalam penelitian ini. Pengujian dilakukan
selama enam jam. Daya proteksi dari masing-masing
13
perlakuan dihitung dengan rumus:

Keterangan :
DP : daya proteksi
K
: jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan
kanan (kontrol negatif)
R
: jumlah nyamuk yang hinggap pada lengan
kiri (perlakuan)
Uji pendahuluan dilakukan terlebih dahulu
untuk mengetahui jumlah volume pengolesan losion
ke lengan dan didapatkan jumlah optimal yaitu
sebanyak 1 mg. Sebanyak 1 mg losion dioleskan dari
ujung jari hingga siku lengan kiri, dan sebanyak 1 mg
losion tanpa minyak atsiri dioleskan sebagai kontrol.
Konsentrasi yang digunakan yaitu 2%, untuk kontrol
positif digunakan losion DEET sebagai repelan.
Lengan kanan dan kiri dimasukan secara bergantian
ke dalam kandang uji. Uji dilakukan selama 5 menit
per lengan diawal jam selama 6 jam.13 Jumlah
nyamuk yang hinggap di lengan pada perlakuan dan
kontrol dihitung per jam dan menjadi variabel
terikat. Data hinggapan nyamuk di lengan diolah
lebih lanjut untuk mendapatkan nilai daya proteksi.
Metode Pembuatan Losion
Basis losion dibuat dengan ditimbang semua
bahan yang diperlukan yaitu: acetil alkohol, asam

stearat, lanolin dimasukkan kedalam cawan porselen


(bagian I), dilebur di atas penangas air hingga suhu
75oC, metil paraben dilarutkan kedalam aquades
panas, lalu ditambah gliserin, trietanolamin (T.E.A)
(bagian II). Kemudian dimasukkan bagian I ke dalam
lumpang porselen panas, lalu ditambahkan bagian II,
diaduk sampai homogen. Untuk formulasinya,
ditimbang minyak sirih sesuai formula, kemudian
ditambahkan basis losion hingga mencapai 100 g,
diaduk homogen dan dimasukkan ke dalam wadah
yang sesuai. Sambil diaduk hingga homogen untuk
mendapatkan formula losion anti nyamuk dengan
konsentrasi yang optimum, kemudian pH dicek.
Setelah semua campuran bahan tercampur homogen
kemudian ditambahkan air suling hingga 100%
(b/b). Pada saat pengujian, suhu tubuh probandus,
suhu lingkungan, kelembaban lingkungan dan cara
pengolesan dibuat sehomogen mungkin.
Analisis Data
Data daya proteksi dianalisis lebih lanjut
dengan uji paired t-test menggunakan program SPSS
17, untuk mengetahui perbedaan daya proteksi
antara pengolesan losion sirih dan DEET.
HASIL
Suhu tubuh, suhu ruang dan kelembaban
ruang uji merupakan variabel pengganggu
dikarenakan dapat berpengaruh pada kondisi
nyamuk dan kondisi probandus. Besarnya variabel
ini sulit untuk dikendalikan. Rata-rata suhu tubuh,
suhu ruang dan kelembaban ruang disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Suhu Tubuh, Suhu Ruang dan
Kelembaban Ruang
Suhu Tubuh Suhu Ruang
(oC)
(oC)

Perlakuan
DEET
Losion

35.84
35.92

27.28
27.28

Kelembaban
Ruang (%)
90
90

Hasil pengujian selama 6 jam dari awal


pengolesan (0 jam) hingga jam ke-6 menunjukkan

Tabel 2. Rata-rata Daya Proteksi Losion Minyak Atsiri Daun Sirih dengan Penambahan Minyak Nilam Terhadap Nyamuk
Ae. aegypti
No

Perlakuan

0 jam

1 jam

Daya Proteksi (%), pada jam ke


2 jam
3 jam
4 jam

5 jam

6 jam

Rata -rata

DEET

100

100

100

100

80

80.77

85.37

92.31

Losion

100

100

98.64

96.89

76.06

80.15

80.6

90.33

79

Sediaan losion...............(Mutiara Widawati)

Tabel 3. Hasil Uji Beda Daya Proteksi Losion Sirih dan


DEET Terhadap Nyamuk Ae. aegypti

Rata -rata

Standar
Deviasi

dF

1 DEET

92.31

9.74

0.037

2 Losion Sirih

90.33

10.81

No

Perlakuan

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ratarata daya proteksi DEET dan losion sirih tidak
berbeda secara nyata (p < 0,05).
PEMBAHASAN
Senyawa kimia yang didapatkan dari berbagai
macam diversitas spesies tanaman merupakan
sumber bahan pembuat repelan dan insektisida
nyamuk yang aman dan dapat terdegradasi oleh
alam. Repelan yang terbuat dari bahan alam tidak
berbahaya dan beracun terhadap manusia, hewan
dan alam. Produk alam lebih aman jika dibandingkan
dengan produk kimia buatan.16
Hasil penelitian menunjukan DEET dan
losion sirih memiliki rata-rata daya proteksi di atas
90% selama 6 jam terhadap nyamuk Ae. aegypti.
Walaupun jumlah hinggapan nyamuk menurun
cukup drastis pada jam ke empat, tetapi dikarenakan
pada kontrol pun terjadi hal yang serupa, maka tidak
terlalu mempengaruhi besarnya daya proteksi. Pada
jam ke empat saat pengujian terjadi setelah jam 12
siang, mulai terjadi penurunan aktifitas nyamuk, hal
ini dikarenakan setelah jam 12 siang merupakan
masa istirahat nyamuk sehingga hinggapan nyamuk
mulai berkurang.14 Daun sirih mengandung berbagai
senyawa kimia seperti senyawa saponin, fenolik dan
alkaloid. Selain senyawa-senyawa tersebut, daun
sirih juga memiliki kandungan minyak atsiri, dan
dapat digunakan sebagai insektisida.7 Berdasarkan
11
penelitian yang dilakukan oleh Ido, umumnya sirih
mengandung 30% eugenol.
Berdasarkan penelitian Eliningaya,9 senyawa
eugenol yang diekstrak dari minyak atsiri daun
cengkeh terbukti dapat dipakai untuk mengendalikan
jentik dan nyamuk dewasa. Selain itu, menurut
penelitian Kardinan, minyak atsiri daun cengkeh
memiliki eugenol dengan kandungan 70-93% dan
berpotensi untuk mengusir nyamuk. Walaupun tidak
sebesar daun cengkeh, daun sirih juga memiliki
kandungan eugenol dan setelah ditambahkan dengan
minyak nilam terbukti berpotensi menjadi repelan
nyamuk Ae. aegypti.

80

Repelan nyamuk losion sirih yang dibuat pada


penelitian ini terfokus pada palpi dan antena
nyamuk, dikarenakan palpi dan antena nyamuk
sangat peka terhadap aroma dari senyawa eugenol.
Jika aroma ekstrak tanaman dapat menutupi bau
tubuh manusia sehingga mengganggu kemampuan
15
nyamuk untuk mendeteksi manusia.
Walaupun berdasarkan uji statistik antara
losion sirih dan DEET menunjukkan tidak berbeda
nyata, tetapi losion sirih ini dapat menjadi repelan
yang efektif dikarenakan daya proteksi rata-ratanya
di atas 90% selama 6 jam. Melihat efek samping
yang dapat ditimbulkan oleh senyawa DEET,
walaupun DEET memiliki daya proteksi yang lebih
besar, akan lebih bijaksana jika penggunaan losion
sirih ini dapat menjadi alternatif dari DEET.
Masalah utama dari anti nyamuk alami yaitu
daya tahannya yang sangat jauh berbeda dengan
DEET. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
jarang terdapat bahan alami yang memenuhi
ketentuan efektivitas repelan. Penelitian ini
membuktikan bahwa modifikasi pada formulasi
sediaan yaitu dengan penambahan zat fiksatif berupa
minyak nilam dapat meningkatkan potensi bahan
alam untuk dijadikan repelan.
Beberapa penelitian tentang uji repelan telah
dilakukan, diantaranya oleh Eliningaya,9 Aminah,7
15
16
Kardinan, Sharma dan Ansari. Akan tetapi,
perbandingan hasil langsung diantara uji-uji repelan
ini tidak dapat dilakukan dikarenakan adanya
perbedaan spesies nyamuk yang digunakan dan
terdapatnya perbedaan protokol uji, yang berujung
pada perbedaan waktu proteksi. Waktu proteksi yang
didapatkan pada penelitian ini tidak dapat dianggap
sebagai nilai estimasi proteksi absolut, karena
penelitian ini menggunakan produk buatan terhadap
Ae. aegypti yang diuji pada kondisi laboratorium.
Perlu digaris bawahi juga bahwa efektifitas produk
ini bisa saja berbeda jika diterapkan di lapangan.
Pengendalian vektor DBD dengan
menggunakan repelan alami hasil penambahan
bahan lain merupakan salah satu alternatif dari
berbagai cara yang sering digunakan. Tetapi akan
lebih baik jika dilakukan secara bersama-sama, dari
segi lingkungan, biologi, fisik dan kimianya. Jika
cara-cara untuk mengendalikan nyamuk Ae. aegypti
ini dilakukan dengan seksama, maka angka kejadian
DBD tentunya akan berkurang.

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 71-76

Rasyad pada tahun 1997 di Kecamatan Banyumanik


Kota Semarang yang menyatakan bahwa Angka HI,
CI, BI di daerah endemis lebih rendah daripada
16
daerah sporadis. Upaya pemerintah dalam
mengantisipasi kenaikan dan penyebaran penyakit
DBD melalui program pencegahan/pemberantasan
dilakukan berdasarkan prioritas. Daerah wabah akan
mendapat prioritas utama, disusul daerah endemis,
sporadis, dan terakhir daerah potensial.17 Oleh karena
daerah endemis DBD sudah mendapat intervensi
dari pemerintah setempat, maka kepadatan jentik di
daerah endemis lebih rendah. Hal ini menunjukkan
keberhasilan program pemerintah dalam
menurunkan angka kepadatan jentik di daerah
endemis DBD. Selain itu, sebagian besar penduduk
Kelurahan Sendangmulyo memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi. Masyarakat dengan
pendidikan tinggi diharapkan lebih banyak
mengetahui informasi tentang upaya pencegahan
18
terjadinya DBD dari berbagai sumber dan media.
Adanya pengetahuan masyarakat tentang DBD akan
mendorong masyarakat dalam melakukan upaya
pencegahan DBD misalnya kegiatan PSN sebagai
upaya pengendalian vektor, sehingga dapat
menurunkan angka kepadatan jentik.
Kepadatan jentik di Kelurahan Terboyo
Wetan tergolong tinggi. Berdasarkan hasil
penelitian, jenis kontainer yang paling banyak
ditemukan di Kelurahan Terboyo Wetan berupa bak
mandi/ WC. Bak mandi merupakan tempat
perkembangbiakan nyamuk yang potensial.4 Bak
mandi mempunyai ukuran yang cukup besar
sehingga air yang ada di dalam bak mandi tidak cepat
dikuras. Kondisi bak mandi yang berada di dalam
rumah sangat menguntungkan nyamuk Aedes untuk
berkembang biak karena kurangnya cahaya dari luar.
Keadaan rumah yang sedikit gelap dengan suhu yang
tidak terlalu tinggi atau rendah, serta kelembaban
udara di dalam rumah yang lebih tinggi juga
4
mendukung perkembangbiakan nyamuk.
Kepadatan jentik di Kelurahan Pesantren
paling rendah. Sebagian besar rumah di kelurahan
tersebut tidak mempunyai tempat penampungan air
berupa bak mandi, tetapi lebih banyak memakai
ember sebagai tempat penampungan air untuk
keperluan sehari-hari. Ember memiliki ukuran
relatif kecil sehingga air akan cepat habis dan lebih
sering diganti dengan air yang baru. Hal ini akan
meminimalkan siklus hidup nyamuk.
Angka DF (density figure) di daerah endemis,
sporadis, dan potensial berturut-turut adalah 5, 7,

dan 4. Angka DF yang paling tinggi dimiliki daerah


sporadis, kemudian diikuti daerah endemis, dan
yang paling rendah di daerah potensial. Di daerah
endemis angka DF mempunyai skala 5, artinya
daerah ini mempunyai risiko penularan sedang. Di
daerah sporadis angka DF mempunyai skala 7,
artinya daerah ini mempunyai risiko penularan
tinggi. Di daerah potensial angka DF mempunyai
skala 4, artinya daerah ini mempunyai risiko
penularan sedang. Daerah yang memiliki risiko
tinggi penularan DBD merupakan daerah sporadis,
bukan daerah endemis. Daerah endemis dalam
penelitian ini mengambil daerah penelitian di
Kelurahan Sendangmulyo karena daerah ini
merupakan daerah dengan kasus DBD paling tinggi
di Kota Semarang. Walaupun Kelurahan
Sendangmulyo terdapat kasus DBD tinggi dan
tergolong daerah endemis, daerah ini memiliki
kepadatan jentik yang tergolong sedang berdasarkan
nilai DF yang didapat. Kepadatan jentik dalam
penelitian ini tidak berkorelasi dengan stratifikasi
endemisitas wilayah DBD. Salah satu hal yang
berperan dalam hal ini yaitu mobilitas penduduk.
Mobilitas penduduk sangat berpengaruh terhadap
penularan DBD. Mobilitas penduduk akan
memudahkan penularan dari suatu tempat ke tempat
yang lainnya. Semakin tinggi mobilitas makin besar
kemungkinan penyebaran penyakit DBD. 1 9
Tingginya kasus DBD di Kelurahan Sendangmulyo
dapat dipengaruhi adanya mobilitas penduduknya
yang tinggi. Penularan DBD dapat terjadi di sekolah,
tempat kerja, pasar, rumah sakit, saat berkunjung ke
rumah saudara, dan sebagainya.
KESIMPULAN
Angka kepadatan jentik Aedes sp. di daerah
endemis lebih rendah daripada daerah sporadis
DBD. Kepadatan jentik tidak berkorelasi dengan
stratifikasi endemisitas wilayah DBD. Daerah
endemis belum tentu kepadatan jentiknya tinggi,
sehingga tingginya kasus tidak dipengaruhi oleh
kepadatan jentik tetapi dapat dipengaruhi faktorfaktor lain seperti mobilitas penduduk.
SARAN
Perlu dilakukan intervensi untuk pencegahan
penyakit DBD dan pengendalian vektor nyamuk
yang tidak hanya dilakukan pada daerah endemis
saja, tetapi juga daerah sporadis dan potensial DBD.
Peran aktif masyarakat dalam kegiatan PSN penting
untuk mendukung program pengendalian vektor.

75

Kepadatan Jentik .............(Eva Lestari, dkk..)

Kontainer dalam rumah yang positif jentik di


Kelurahan Sendangmulyo paling banyak ditemukan
pada bak mandi/WC. Sedangkan di luar rumah jenis
kontainer yang banyak ditemukan jentik adalah jenis
kontainer yang bukan merupakan tempat
penampungan air sehari-sehari (non TPA), antara
lain tempat minum burung, barang bekas, pot
tanaman, tempat tiang bendera, kolam, dan lain-lain.
Di Kelurahan Terboyo Wetan jenis kontainer dalam
rumah yang positif jentik paling banyak ditemukan
di bak mandi/WC. Di luar rumah, drum merupakan

kontainer yang banyak dijumpai jentik. Jenis


kontainer dalam rumah di Kelurahan Pesantren yang
positif jentik banyak ditemukan di bak mandi/WC
dan di luar rumah jenis kontainer yang positif jentik
hanya ditemukan pada tempayan.
Identifikasi jentik dilakukan di laboratorium
terpadu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro menggunakan alat bantu mikroskop
dengan perbesaran 100x. Hasil identifikasi
didapatkan dua spesies Aedes, yaitu Aedes aegypti
dan Aedes albopictus.

Tabel 5. Persentase Jentik Ae. aegypti dan Ae. albopictus


Spesies Aedes sp.
Kelurahan
Sendangmulyo
Terboyo Wetan
Pesantren

Keterangan:

D
n
128
63

%
68,09
91,30

46

100

Aedes aegypti
L
n
%
60
31,91
6
8,70
0

Total
n
%
188
100
69
100
46

%
50
-

100

Total

PEMBAHASAN
Kepadatan nyamuk merupakan faktor risiko
terjadinya penularan DBD, semakin tinggi
kepadatan nyamuk Ae. aegypti, semakin tinggi pula
12
risiko masyarakat untuk tertular penyakit DBD.
Kepadatan nyamuk akan meningkat pada waktu
musim hujan, dimana terdapat genangan air yang
dapat menjadi tempat berkembangbiaknya
13
nyamuk. Air hujan yang tertampung di kontainer
terutama barang bekas merupakan tempat potensial
bagi perkembangbiakan nyamuk. Kepadatan jentik
yang tinggi akan meningkatkan populasi nyamuk
sehingga akan meningkatkan pula kemungkinan
14
penyakit DBD terutama di daerah endemis.

KESIMPULAN
Losion sirih dengan penambahan minyak
nilam berpotensi menjadi repelan nyamuk
Ae. aegypti dengan daya proteksi rata-rata sebesar
90,33%.
SARAN
Penelitian ini membuka kemungkinan
penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek
modifikasi formulasi repelan dari jenis tanaman
pengusir nyamuk yang lain.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan peneliti dan teknisi yang membantu
dalam pelaksanaan penelitian ini.

n
8
0

%
100
-

DAFTAR PUSTAKA

100

1.

n = jumlah sampel
D = dalam
L = luar

Berdasarkan tabel 5 di Kelurahan


Sendangmulyo ditemukan jentik Ae. aegypti dan
Ae. albopictus baik di dalam maupun luar rumah.
Persentase jentik Ae. aegypti yang berada di dalam
rumah lebih besar dibanding luar rumah. Sedangkan
jentik Ae. albopictus mempunyai persentase yang
sama antara dalam dan luar rumah. Di Kelurahan
Terboyo Wetan hanya ditemukan jentik Ae. aegypti
dengan persentase jentik dalam rumah lebih besar
dibanding luar rumah. Sedangkan Kelurahan
Pesantren jentik Ae. aegypti hanya ditemukan di
dalam rumah dan jentik Ae. albopictus hanya
ditemukan di luar rumah.

74

100

D
n
4
0

Aedes albopictus
L
n
%
4
50
0
-

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 77-82

Sudarto. Entomologi kedokteran. Jakarta:


EGC;1992, h 96 -105.

2. Depkes RI. Laporan kasus DBD. Jakarta: Subdit


Arbovirus Ditjen PPM & PLP; 2009.

Dari survei jentik yang dilakukan dapat


diperoleh nilai ABJ, HI, CI, dan BI di Kelurahan
Sendangmulyo, Terboyo Wetan, dan Pesantren.
Suatu daerah dikatakan aman jika ABJ 95%, CI
10%, HI < 5%, dan BI < 50.9,13 Angka HI, CI, dan
BI di Kelurahan Sendangmulyo dan Terboyo Wetan
melebihi batas aman transmisi DBD. Demikian juga
dengan ABJ di ketiga wilayah tersebut kurang dari
95%, menunjukkan daerah tersebut merupakan
daerah sensitif atau rawan DBD dan memiliki
peluang lebih besar untuk terjadinya transmisi virus
Dengue sehingga mempunyai risiko untuk terjadi
epidemi apabila tidak diambil tindak lanjut terhadap
keberadaan vektor penular DBD. 1 5 Upaya
pengendalian DBD sangat penting dilakukan untuk
mencegah semakin luasnya transmisi virus Dengue.
Angka bebas jentik di Kelurahan Pesantren kurang
dari batas aman, sedangkan angka CI dan BI berada
pada level aman. Walaupun demikian, upaya
pengendalian vektor tetap harus dilakukan karena
daerah tersebut juga memiliki peluang terjadinya
transmisi virus Dengue.
Angka HI, CI, dan BI tertinggi ditemukan di
daerah sporadis (Kelurahan Terboyo Wetan),
kemudian diikuti daerah endemis (Kelurahan
Sendangmulyo), dan paling rendah di daerah
potensial (Kelurahan Pesantren). Hasil ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Sabila L.

3. Arifin M. Resistensi Aedes aegypti terhadap


insektisida. [Diakses 27 Mei 2012]. Diunduh dari:
http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2012/03/resiste
nsi-aedes-aegypti.html.
4. Hasyimi M,
Sukowati S, Kusriastuti R,
Muchlastriningsih E. Situasi vektor demam
berdarah saat kejadian luar biasa (KLB) di
Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Media
Litbang Kesehatan. 2005; XV (2); 32-8.
5. Ditjen POM, Depkes RI. Formularium kosmetika
Indonesia. Jakarta : Depkes RI; 1985.
6. Koreng G, Matsui D, Bailey B. DEET based insect
repelans safety implications for children, pregnant
and lactating women. Canadian Medical Association
Journal. 2003; 169: 209-12.

11. Suryana I. Pengujian aktivitas ekstrak daun sirih


(Piper betle linn) terhadap Rhizoctonia sp. secara in
vitro. Bul. Littro. 2009; 20 (1): 92-8.
12. Pratiknyo AWatik. Dasar-dasar metode penelitian
kedokteran dan kesehatan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada; 2003.
13. Komisi Pestisida Departemen Pertanian. Metode
standar pengujian efikasi pestisida (pengujian efikasi
insektisida terhadap larva nyamuk). Jakarta:
Departemen Pertanian; 1995. h. 7-8.
14. Soegijanto S. Demam berdarah dengue edisi kedua.
Surabaya: Airlangga University Press; 2006.
15. Kardinan A. Potensi selasih sebagai repelan terhadap
nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Litri. 2007; 13(2): 3942.
16. Sharma VP, Ansari MA. Personal protection from
mosquitoes (Diptera: Culicidae) by burning neem oil
in kerosene. Indian Med Entomol. 1994; 31(3): 505507.
17. Shinta. Potensi minyak atsiri daun nilam
(Pogostemon cablin B.), daun babadotan (Ageratum
conyzoides L.), bunga kenanga (Cananga odorata
hook F & Thoms) dan daun rosemarry (Rosmarinus
officinalis L.) sebagai repelan terhadap nyamuk
Aedes aegypti L. Media Litbang Kesehatan. 2012; 22
(2): 61-9.
18. Widawati M, Santi M. 2013. The effectiveness of
fixative addition on Zodia (Evodia suaveolens S.) and
rosemary (Rosmarinus officinalis L.) gel against
Aedes aegypti. Health Science Journal of Indonesia.
2013; 4 (2): 103-6.
19. Hutagaol L, Darma GCE. Pengaruh penambahan
minyak nilam (Patchouli oil) sebagai fiksatif
terhadap stabilitas aroma parfum melon dan maskulin
pada saat pemakaiannya. Laporan Penelitian. Jakarta:
Fakultas Farmasi Universitas Pancasila; 2007.

7. Aminah SN. Evaluasi tiga jenis tumbuhan sebagai


insektisida dan repellant terhadap nyamuk di
laboratorium. Tesis. Bogor: Institut Pertanian Bogor;
1995.
8. Ma'mun. Identifikasi Kimiawi Tumbuhan Obat.
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat; 2012.
9. Eliningaya JK. Etnobotanical study of some of
mosquito repelan plants in north eastern Tanzania.
Malaria Journal. 2008; 7: 152.
10. Kardinan A. Pestisida nabati ramuan dan aplikasi.
Jakarta: PT Penebar Swadaya; 2001.

81

Sediaan losion...............(Mutiara Widawati)

BALABA Vol. 10 No. 02, Desember 2014: 71-76

Tabel 2. Kepadatan Jentik di Kelurahan Sendangmulyo, Terboyo Wetan, dan Pesantren Kota Semarang Bulan JanuariFebruari 2011
Kelurahan

Rumah
Jentik (+)

Kontainer
Jentik (+)

ABJ (%)

Indeks Jentik
HI (%)
CI (%)

BI (%)

Sendangmulyo

435

147

1.598

252

66,21

33,79

15,77

57,93

Terboyo Wetan

80

43

195

60

46,25

53,75

30,77

75,00

Pesantren

43

11

163

14

74,42

25,58

8,59

32,56

Keterangan:
n = jumlah sampel

di semua lokasi penelitian kurang dari 95%. Density


Figure ditentukan dengan cara mencocokkan angka
HI, CI, dan BI pada tabel larva indeks.

Tabel 2 menunjukkan bahwa daerah dengan


angka HI, CI, dan BI tertinggi berada di Kelurahan
Terboyo Wetan. Sedangkan HI, CI, dan BI terendah
berada di Kelurahan Pesantren. Angka bebas jentik

Tabel 3. Density Figure di Kelurahan Sendangmulyo, Terboyo Wetan, dan Pesantren Tahun 2011
No.

Kelurahan

Stratifikasi

HI

CI

BI

DF

Sendangmulyo

Endemis

Terboyo Wetan

Sporadis

Pesantren

Potensial

Tabel 3 menunjukkan bahwa kelurahan


dengan kepadatan jentik tertinggi berada di
Kelurahan Terboyo Wetan dengan nilai DF sebesar
7, artinya kepadatan jentiknya tinggi, sedangkan

Kelurahan Pesantren kepadatan jentiknya paling


rendah dengan nilai DF sebesar 4, artinya kepadatan
jentiknya sedang.

Tabel 4. Keberadaan Jentik pada Berbagai Macam Kontainer di Kelurahan Sendangmulyo,

Jenis Kontainer

Kel. Sendangmulyo
Kontainer
Kontainer (+)
diperiksa
jentik

Kel. Terboyo Wetan


Kontainer
Kontainer (+)
diperiksa
jentik

Kel. Pesantren
Kontainer
Kontainer (+)
diperiksa
jentik

Dalam Rumah:
Bak mandi/ WC

461

107

79

31

18

Drum

89

20

14

Tempayan

159

28

37

13

35

Ember

520

39

40

79

Lain-lain

47

14

11

Jumlah

1.276

208

172

53

149

13

Bak mandi/ WC

19

Drum

36

Tempayan

32

Ember

114

Lain-lain

121

22

Jumlah

322

44

23

14

Luar Rumah:

82

73