Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Pertumbuhan dan perkembangan wajah serta rongga mulut merupakan suatu


proses yang sangat kompleks. Gangguan yang terjadi pada saat intra uterin terutama
pada masa-masa pembentukan organ, bisa menyebabkan timbulnya kelainan pada
anak yang akan dilahirkan. Kelainan tersebut antara lain adalah celah bibir dan langitlangit. (Gunarto, 2008)
Celah bibir dan langit-langit merupakan kelainan wajah yang paling umum
terjadi di seluruh dunia. Sebanyak 65% kelainan pada kepala dan leher adalah celah
bibir dan langit-langit. Setiap hari kurang lebih 700 bayi lahir ke dunia dengan
kelainan ini. (Tolarova et all, 2002)
Lokasi celah bibir dan langit-langit secara anatomi berimplikasi pada fungsi
bicara, hubungan oklusi gigi, tumbuh kembang craniofacial, dan gangguan
pendengaran sehingga memiliki tingkat morbiditas yang tinggi pada pasien. (Hood et
all, 2004)
Untuk mengatasi keadaan tersebut maka tindakan bedah labioplasty atau
palatoplasty perlu dilakukan untuk merekonstruksi celah bibir dan celah langit-langit.
Penanganan dilakukan untuk memelihara fungsi rongga mulut dan mempertahankan
perkembangan dan pertumbuhan normal. Harapannya adalah agar penderita dapat
tumbuh secara optimal baik secara fisik maupun psikologis. (Pedersen, 1996)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

2.1 Embriologi Bibir dan Langit-Langit


Celah bibir dan langit-langit terjadi ketika jaringan yang membentuk bibir dan
langit-langit gagal bersatu selama perkembangan embrio. Terdapat dua tipe celah,
yaitu celah bibir dengan atau tidak diikuti dengan celah langit-langit dan celah langitlangit terisolasi. Keduanya diakibatkan fusi pada dua tahap perkembangan orofacial
yang berbeda. (Sadler, 2004)
Celah bibir berasal dari gagalnya fusi pada usia 4-6 minggu dalam kandungan
antara prosesus nasalis medialis, lateralis dan premaksila. Celah langit-langit berasal
dari gagalnya fusi pada usia 8 minggu dalam kandungan antara pembengkakan
palatum lateral/ palatal shelves. (Sadler, 2004)

2.1.1

Perkembangan Bibir Dan Langit-Langit


Untuk mengetahui pathogenesis terjadinya celah bibir dan langit-

langit, penting untuk mengetahui proses perkembangan embriologi orofacial yang


normal. (Sadler, 2004)

Gambar 2.1 Wajah dilihat dari aspek Frontal


A. Embrio 5 minggu; B. Embrio 6 minggu. Tonjol nasal sedikit demi sedikit
terpisah dari tonjol maxila dengan alur yang dalam; C. Gambaran embrio 6
minggu dengan scanning electron micrograph (Sadler, 2004)
2.1.2

Pembentukan Palatum Primer


Pada akhir minggu keempat, terbentuk lima buah tonjolan pada daerah

wajah yang mengelilingi satu rongga mulut primitif yang disebut stomodeum.
Tonjolan wajah ini disebut juga prosesus fasialis, terdiri dari dua buah tonjolan
maksila atau prosesus maxillaris (terletak di lateral stomodeum), dua buah
tonjolan mandibula atau prosesus mandibularis (arah kaudal stomodeum) dan
tonjolan frontonasalis atau prosesus frontonasalis (di tepi atas stomodeum).
(Sadler, 2004)

Prosesus

fasialis

ini

merupakan

akumulasi

sel

mesenkim

di

bawah permukaan epitel, yang berperan besar dalam tumbuh kembang struktur
orofasial. Adapun kelima prosesus tersebut memiliki peran penting dalam
pembentukan wajah, yaitu prosesus frontonasalis membentuk hidung dan bibir
atas, prosesus maksilaris membentuk maksila dan bibir dan prosesus mandibularis
membentuk mandibula dan bibir bawah. (Sadler, 2004)
Pada minggu ke lima di daerah inferior prosesus frontonasalis akan
muncul nasal placode. Proliferasi mesenkim pada kedua sisi nasal placode akan
menghasilkan pembentukan prosesus nasalis medialis dan lateralis. Di
antara pasangan prosesus tersebut akan terbentuk nasal pit yang merupakan
lubang hidung primitif. Prosesus maxilaris kanan dan kiri secara bersamaan akan
mendekati

prosesus

nasalis

lateral

dan

medial.

Selama

dua

minggu

berikutnya prosesus maxillaris akan terus tumbuh ke arah tengah dan menekan
prosesus nasalis medialis ke arah midline. Kedua prosesus ini kemudian akan
bersatu dan membentuk bibir atas. Prosesus nasalis lateralis tidak berperan
dalam pembentukan bibir atas tetapi berkembang terus membentuk ala nasi.
(Sadler, 2004)
Kegagalan fusi sebagian atau seluruh prosesus maxillaris dengan prosesus
nasalis medialis dapat menyebabkan celah pada bibir dan alveolus baik unilateral
maupun bilateral. (Sadler, 2004)

Gambar 2.1 A. Embrio 7 minggu; B. Embrio 10 minggu. Tonjol maksila


berangsur-angsur bergabung dengan lipatan nasal dan alur terisi dengan
mesenkim; C. Gambaran embrio 7 minggu dengan scanning electron micrograph.
(Sadler, 2004)

2.1.3

Pembentukan Palatum Sekunder


Pada minggu keenam terbentuk lempeng palatum atau palatal shelves

dari prosessus maxillaris. Kemudian pada minggu ke tujuh lempeng palatum


akan bergerak kearah medial dan horizontal dan berfusi membentuk palatum
sekunder. Di bagian anterior, kedua palatal shelves ini akan menyatu dengan
palatum primer. Pada daerah penyatuan ini terbentuklah foramen insisivum.
Proses penyatuan lempeng palatum dan palatum primer ini terjadi antara minggu
ke 7 sampai minggu ke 10. (Sadler, 2004)

Pada anak perempuan, proses penyatuan ini terjadi satu minggu kemudian.
Hal ini yang menyebabkan celah langit-langit (cleft palate) lebih banyak terjadi
pada anak perempuan. (Sadler, 2004)
Celah pada palatum primer terjadi karena kegagalan mesoderm invaginasi
ke dalam celah di antara prosesus maxillaris dan prosesus nasalis medialis,
sehingga proses penggabungan di antara keduanya tidak terjadi. Sedangkan pada
celah pada palatum sekunder diakibatkan karena kegagalan palatal shelves berfusi
satu sama lain. (Sadler, 2004)

Gambar 2.3 Gambaran Frontal Embrio Usia 6 Minggu-10 Minggu; A. Gambaran


frontal embrio usia 6 minggu. Palatine shelves berada di posisi vertical pada tiap
sisi lidah; B. Gambaran ventral embrio usia 6 minggu; C. Gambaran palatine
shelves berada di posisi vertical pada tiap sisi lidah dengan scanning electron
micrograph; D. Gambaran ventral embrio usia 6 minggu dengan Scanning electron
micrograph (Sadler, 2004)

Gambar 2.4 Gambaran frontal kepala embrio usia 7 minggu. Lidah sudah
bergerak turun dan lempeng langit-langit mencapai posisi horizontal. Gambaran
ventral kepala embrio usia 7 minggu (Sadler, 2004)

Gambar 2.5 A. Gambaran frontal kepala embrio usia 10 minggu; B. Kedua lempeng
langit-langit sudah bersatu satu sama lain juga dengan nasal septum; C. Gambaran
penutupan palatum komplit dengan scanning electron micrograph (Sadler, 2004)

2.2 Etiologi Celah Bibir dan Langit-Langit


Celah bibir dan langit-langit dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor
dan belum dapat diketahui secara pasti. Selain faktor genetik, faktor non genetik juga
dapat berperan.

2.2.1

Faktor Genetik
Faktor genetik yang menyebabkan terjadinya celah bibir dan langit-langit

telah diketahui tetapi belum dapat dipastikan sepenuhnya. Kruger (1957)


mengatakan berdasarkan sejumlah kasus yang telah dilaporkan dari seluruh dunia,
tendensi keturunan sebagai penyebab kelainan ini diketahui kurang lebih 30-50%.
Dasar genetik terjadinya celah bibir dan langit-langit yaitu gagalnya mesoderm
berproliferasi melintasi garis pertemuan, di mana bagian ini seharusnya bersatu.
Atropi epithelium atau tidak adanya perubahan otot pada epithelium sebagai
akibat hipoplasia mesodermal juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya
celah bibir dan langit-langit. Adanya gen yang dominan dan resesif juga
merupakan penyebab terjadinya hal ini. Teori lain mengatakan bahwa celah bibir
dan langit-langit terjadi karena:
1. Dengan bertambahnya usia ibu hamil dapat menyebabkan ketidakkebalan
embrio terhadap terjadinya celah.
2. Adanya abnormalitas dari kromosom menyebabkan terjadinya malformasi
kongenital yang ganda.

3. Adanya sindrom tripel autosom yang mengakibatkan celah bibir dan langitlangit serta dapat diikuti dengan anomali kongenital yang lain.

2.2.2

Faktor Non-Genetik
Faktor non-genetik memegang peranan penting dalam keadaan krisis dari

penyatuan bibir dan langit-langit pada masa kehamilan. Beberapa hal yang
berperan menyebabkan terjadinya celah bibir dan langit-langit, yaitu:
1. Defisiensi nutrisi
Nutrisi yang kurang pada masa kehamilan merupakan satu penyebab
terjadinya celah. Hal ini diketahui melalui percobaan yang dilakukan pada
binatang dengan memberikan vitamin A secara berlebihan atau kurang.
Hasilnya mennunjukkan terjadinya celah pada anak-anak tikus yang baru
lahir. Begitu juga dengan defisiensi vitamin riboflavin pada tikus, dan
hasilnya juga menunjukkan adanya celah dengan persentase yang tinggi. Efek
yang sama juga terjadi pada pemberian kortison pada kelinci yang sedang
hamil.
2. Zat kimia
Pemberian aspirin, kortison dan insulin pada masa kehamilan trimester
pertama dapat meyebabkan terjadinya celah. Obat-obat yang berpengaruh
yaitu obat-obatan yang bersifat teratogenik seperti thalidomide dan phenitoin,
serta alkohol, kaffein, aminoptherin dan injeksi steroid.

10

3. Virus rubella
Fraser mengatakan bahwa virus rubella dapat menyebabkan cacat berat, tetapi
hanya sedikit kemungkinan virus ini dapat menyebabkan celah.
4. Beberapa hal lain yang juga berpengaruh, yaitu:
1) Kurang daya perkembangan
2) Radiasi bahan-bahan teratogenik yang potent
3) Infeksi penyakit menular sewaktu trimester pertama kehamilan yang dapat
mengganggu perkembangan janin
4) Gangguan endokrin
5) Pemberian hormon seks, dan tyroid
6) Merokok, alkohol, dan modifikasi pekerjaan
Faktor-faktor ini mempertinggi insiden terjadinya celah bibir dan langitlangit, tetapi yang harus lebih diperhatikan adalah intensitas dan waktu
terjadinya dibandingkan dengan jenis faktor lingkungan yang spesifik.
5. Trauma
Strean dan Peer melaporkan bahwa trauma mental dan trauma fisik dapat
menyebabkan terjadinya celah. Stress yang timbul menyebabkan fungsi
korteks adrenal terangsang untuk mensekresi hidrokortison sehingga nantinya
dapat mempengaruhi keadaan ibu yang sedang mengandung dan dapat
menimbulkan celah. Mekanisme stress yang mengakibatkan celah, yaitu
terangsangnya hipothalamus adrenocorticotropic hormone (ACTH) sehingga

11

merangsang

kelenjar

adrenal

bagian

glukokortikoid

mengeluarkan

hidrokortison, sehingga dapat menganggu pertumbuhan. (Bailey, 2001)

2.3 Klasifikasi Celah Bibir dan Langit-Langit


2.3.1

Klasifikasi Veau
Veau memperkenalkan metode klasifikasi celah wajah menjadi empat

katagori, yaitu:
1. Celah hanya pada jaringan palatum lunak
2. Celah pada jaringan palatum lunak dan keras
3. Celah bibir dan palatum unilateral
4. Celah bibir dan palatum bilateral (Veau, 1931)
Klasifikasi ini sangat sederhana dan tetap digunakan sampai saat ini.
Namun demikian Veau tidak memasukkan celah bibir atau celah langit-langit
terisolasi dalam klasifikasi ini.

2.3.2

Klasifikasi Kernahan
Klasifikasi Kernahan berdasarkan pada embriologi yang menggunakan

foramen insisivum sebagai batas yang memisahkan celah pada palatum primer
dari palatum sekunder. Palatum primer terdiri dari bibir atas, tulang alveolar
dan palatum yang terletak di anterior foramen insisivum. Celah komplit pada
palatum primer akan melibatkan semua struktur ini, palatum sekunder terdiri dari

12

palatum keras dan palatum lunak dibelakang foramen insisivum. (Kernahan,


1971)
Klasifikasi ini menggunakan metode strip Y. Klasifikasi ini dikembangkan
untuk mengatasi kekurangan klasifikasi verbal dan numeric dan memungkinkan
identifikasi kondisi pasien preoperatif secara tepat. (Kernahan, 1971)

Gambar 2.6 Klasifikasi strip Y Kernahan (Kernahan, 1971)

Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.

Area 1 dan 4 menunjukkan sisi kanan dan kiri bibir


Area 2 dan 5 menunjukkan tulang alveolar
Area 3 dan 6 menunjukkan daerah palatum di anterior foramen insisivum
Area 7 dan 8 menunjukkan palatum keras
Area 9 menunjukkan palatum lunak

2.3.3

Klasifikasi Modifikasi Millard

13

Prinsip yang dipakai sama seperti strip Y Kernahan, namun klasifikasi ini
juga mengikutsertakan kondisi hidung, dasar hidung, dan daerah velofaringeal.
(Millard, 1977)

Gambar 2.7 Klasifikasi strip Y modifikasi Millard (Millard, 1977)

2.4 Penatalaksanaan
Penanganan

kelainan

celah

bibir

dan

celah

langit-langit

memerlukan penanganan yang multidisiplin karena merupakan masalah yang


kompleks, variatif dan memerlukan waktu yang lama serta membutuhkan beberapa
ilmu dan tenaga ahli, di antaranya dokter bedah mulut, dokter anak, dokter bedah
plastik, dokter gigi anak, orthodontist, prosthodontist, ahli THT (otolaryngologist ),
speech pathologist, dan psikiater atau psikolog untuk menangani masalah psikologis
pasien. (Balaji, 2007)

14

Tabel 2.1 Penatalaksanaan Celah Bibir dan Langit-Langit


Usia
Prenatal

Tindakan
Konsultasi psikolog mempersiapkan orangtua dalam menerima

0 1 minggu
1 2 minggu

kehadiran anak dengan celah bibir dan langit-langit.


Pemberian nutrisi dengan kepala miring (posisi 45)
Pasang obturator untuk menutup celah pada langitlangit, dan pemakaian dot khusus untuk mencegah

10 Minggu

aspirasi
Labioplasty, dengan mengikuti Rules of Ten:

18 - 24 bulan
18 bulan 4

1. Berat minimal 10 pounds


2. Jumlah leukosit di bawah 10.000 /dl
3. Hb minimal 10 gr/dl
Palatoplasty
Terapi wicara

tahun
4 6 tahun

Velopharyngeal flap apabila ditemukan adanya


velopharingeal incompetence.

6 8 tahun
9 11 tahun

Kunjungan berkala ke dokter gigi anak


Preventif orthodonsia
Secondary alveolar bone grafting

11 18 tahun Ortodonsia lanjutan


18 tahun
Evaluasi hasil perawatan orthodonsia
Bedah orthognatik

2.4.1

Prenatal
Pada masa ini orang tua mendapatkan konsultasi dari tim psikolog untuk

mempersiapkan diri menghadapi kelahiran bayi dengan celah bibir dan langit-

15

langit. Bimbingan psikolog diperlukan agar orang tua dapat menerima keadaan ini
dan secara bersama-sama merawatnya dengan penuh kasih sayang.

2.4.2

Kelahiran
Pada saat lahir, orang tua sudah harus mendapatkan pelatihan bagaimana

cara memasang dan membuka feeding plate/obturator. Botol susu dengan bentuk
dot khusus seperti haberman feeder yang mampu mengeluarkan cairan tanpa bayi
perlu mengerahkan tekanan negatif intra oral dapat digunakan bila menyusui tidak
berhasil.

2.4.3

Labioplasty
Operasi labioplasty dilakukan dengan mengikuti ketentuan Rules of ten,

yaitu:
1.
2.
3.
4.

Usia 10 minggu
Berat minimal 10 pounds
Jumlah leukosit di bawah 10.000 /dl
Hb minimal 10 gr/dl (Pedersen, 1996)
Penanganan dilakukan untuk memelihara fungsi rongga mulut dan usaha

mempertahankan perkembangan dan pertumbuhan normal. Agar hasil koreksi


celah bibir memuaskan maka perlu diperhatikan kriteria sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Penyatuan kulit, otot dan membran mukosa yang cermat


Dasar cuping hidung simetris
Lubang hidung simetris
Vermillion border simetris
Bibir harus mencuat

16

6. Jaringan parut minimal (Wulandari, 2008)


Perawatan celah bibir unilateral diklasifikasikan kedalam empat kategori
besar, yaitu:
1. Straight Line
1) Rose dan Thomson
2) Veau
2. Triangular
1) Mirault
2) Brown & Mc Dowel
3) Blair
(1) Tennison
(2) Randall
(3) Cronin, dll
3. Double Triangular
1) Skoog dan Trauner
4. Quadrangular
1) Le Measurier
2) Hagedorn
5. Rotation
1) Millard.
Sedangkan beberapa metode yang bisa di gunakan untuk operasi celah
bibir bilateral, yaitu Barsky, Straight Line Clossure, Millard, dan Manchester.
Metode Barsky digunakan untuk celah bibir bilateral dengan prolabium
yang pendek, dengan metode ini bisa memperpanjang prolabium. Straight Line
Clossure digunakan untuk celah bibir bilateral komplit dengan prolabium yang
panjang. Metode Millard bisa digunakan untuk celah bibir bilateral komplit
maupun

inkomplit,

dapat

digunakan

untuk

memperpanjang

prolabium,

kekurangan dari metode ini membutuhkan operasi bertahap. Metode Menchester


digunakan untuk celah bibir bilateral tingkat ringan, sedang sampai berat.
Keuntungannya yaitu: Mucocutan junction dapat dipertahankan, bentuk
rekonstruksi bibir sesuai anatomi, jaringan parut yang terbentuk sangat minim,

17

kekurangan dari metode ini tidak bisa menambah panjang pada pada kasus celah
bibir bilateral dengan prolabium yang pendek. (Gunarto, 2008)

2.4.4

Palatoplasty
Tujuan palatoplasty adalah memisahkan rongga mulut dan rongga hidung,

membentuk katup velofaringeal yang kedap air dan kedap udara dan memperoleh
tumbuh kembang maksilofasial yang mendekati normal. Tantangan palatoplasty
dewasa ini bukanlah hanya bagaimana menutup defek celah langit-langit namun
juga bagaimana didapatkan fungsi bicara yang optimal tanpa mengganggu
pertumbuhan maksilofasial.
Waktu yang paling tepat untuk dilakukannya palatoplasty masih menjadi
kontroversi. Sebagian ahli bedah mendukung waktu palatoplasty sebelum usia 12
bulan karena lebih menguntungkan perkembangan bicara pasien sebab proses
belajar bicara dimulai pada usia 12 bulan.
Penundaan palatoplasty lebih menguntungkan untuk perkembangan
maksilofasial namun lebih merugikan untuk perkembangan bicara pasien. Waktu
yang paling optimal untuk palatoplasty sampai sejauh ini secara ilmiah belum
terbukti namun sebagian besar ahli bedah sepakat bahwa palatoplasty harus
dilakukan sebelum usia 2 tahun.
Teknik pembedahan untuk pasien dengan celah palatum meliputi: Von
Langenbeck, 2-flap, 3-flap (V-to-Y), dan Double Z-plasty (Furlow) bedah

18

palatum. Pemilihan metode ini di dasarkan pada kondisi kelainan celah bibir pada
masing-masing pasien. (Riden, 1998)
Teknik Von Langenbeck mengacu terhadap pentingnya memisahkan oral
dan kavitas nasal. Keuntungan teknik ini yaitu dengan sedikitnya dilakukan
diseksi serta tekniknya juga sederhana. Kerugian dari teknik ini adalah tidak
bertambahnya panjang palatum, di sebabkan oleh keterbatasan dalam penutupan
secara tepat dan celah tambahan. Teknik 2-flap merupakan cara yang paling
umum digunakan untuk penutupan celah komplit. Tidak terdapat penambahan
lebar yang biasanya dilakukan untuk penutupan terhadap setiap celah pada
alveolar

pada

metode

ini

dalam

perbaikannya.

Keuntungannya

yaitu

berkurangnya insiden terhadap fistula posterior. Teknik Doble Z-plasty sulit


dilakukan pada celah yang lebar, akan tetapi merupakan metode yang baik
digunakan ketika celah cukup sempit atau jika terdapat celah submukosa. (Riden,
1998)

2.4.5

Evaluasi Hasil Operasi


Untuk mengetahui keberhasilan operasi maka perlu dilakukan evaluasi

pasca operasi labioplasty atau palatoplasty yaitu dengan pemeriksaan subyektif


melalui wawancara yang meliputi: 1) keluhan dari segi bicara, 2) keluhan dari
segi fungsi makan dan minum, 3) perubahan perilaku setelah dilakukan operasi.
Kemudian dilakukan pemeriksaan obyektif meliputi: 1) berhasil tidaknya operasi

19

dengan melihat kondisi klinis pada luka operasi terjadi penutupan sempurna atau
tidak, 2) ada tidaknya fistula, 3) penyambungan bibir atau palatum. (Ross, 1987)
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas pasien


Nama

: Zahra

No. Rekam Medis

: 0001367397

Umur

: 3 bulan

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir

: Sukabumi, 13 Februari 2014

Alamat

: Kp. Sindang Resmi RT 07 RW 07, Sukabumi

Pekerjaan

: -

Agama

: Islam

3.2 Pemeriksaan Subyektif


Pada tanggal 3 Juni 2014, pasien wanita berumur 4 bulan datang bersama
ibunya ke bagian Bedah Mulut Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan keluhan
utama terdapat celah pada bibir kiri dan langit-langit pasien. Selama kehamilan (9
bulan) ibu pasien mengkonsumsi obat penambah darah, dan pada bulan ke-6
kehamilan ibu pasien mengkonsumsi obat pegal yang diresepkan oleh puskesmas. Ibu

20

pasien menyangkal pernah meminum jamu maupun obat-obatan lain, dan tidak
pernah terjatuh pada saat kehamilan. Pasien merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara
(G = 4; P = 4; A = 0). Kakak pasien (anak ke-2) juga menderita celah bibir. Ibu pasien
juga menyangkal adanya alergi, maupun penyakit penyerta lainnya. Ibu pasien
berharap celah pada bibir anaknya dapat ditutup.

3.3 Pemeriksaan Obyektif


Pada pemeriksaan tanda vital diketahui keadaan umum pasien baik, kesadaran
compos mentis, jumlah denyut nadi 100 x/menit, pernafasan 60 x/menit, suhu tubuh
pasien 37C, dan skala nyeri ringan (0/10).
Pada status umum pemeriksaan fisik, diketahui turgor kulit positif, kepala
simetris, mata non anemis, pupil isokhor, sklera non ikhterik, kelenjar limfe tidak
teraba dan tidak sakit, bentuk dan gerak dada simetris, perut datar lembut, dan akral
ekstremitas hangat.
Pada status lokalisata pemeriksaan fisik, diketahui tidak terdapat kelainan
pada sendi temporomandibula, rahang, sistem saraf, dan kelenjar ludah. Pemeriksaan
ekstra oral dan intra oral menunjukkan terdapat celah unilateral complete pada bibir
kiri, gusi, dan palatum hingga mencapai uvula pasien. Seluruh gigi pasien belum
erupsi.

21

Gambar 3.1 Tampilan klinis pasien

3.4 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium
lengkap dan foto rontgen thorax. Tidak terdapat kelainan pada hasil pemeriksaan
tersebut.

3.4.1

Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Jenis Pemeriksaan

Hasil

Nilai
Rujukan

Satuan

Metode

Hematologi
Hematologi Rutin
Hematologi Lengkap
Hemoglobin

11,0

9,5 13,5

g/dL

Hematology

22

Analyzer
Eritrosit

3,65

3,1 4,5

106/L

Hematology
Analyzer

Hematokrit

31,7

29 41

Hematology
Analyzer

MCV

86,8

74 108

fL

Hematology
Analyzer

MCH

30,1

25,0
35,0

Pg

Hematology
Analyzer

MCHC

34,7

30,0
36,0

g/dL

Hematology
Analyzer

RDW

12,7

11,5
14,5

Hematology
Analyzer

Leukosit

10.930

6.000
17.500

/L

Hematology
Analyzer

Eosinofil

15

Hematology
Analyzer

Basofil

01

Hematology
Analyzer

Neutrofil Batang

08

Hematology
Analyzer

Neutrofil Segmen

23

17 60

Hematology
Analyzer

Limfosit

65

20 70

Hematology
Analyzer

Monosit

1 11

Hematology
Analyzer

370.000

150.000

/L

Hematology

Hitung Jenis

Trombosit

23

450.000
Laju Endap Darah

Analyzer

0 10

mm/jam

Westergreen

Waktu Perdarahan

2,0

13

menit

Duke

Waktu Pembekuan

7,5

5 - 15

menit

Lee and White

Faal Hemostasis

Klinik Rutin
Urinalisis
Urine Lengkap
Warna

Kuning

Refraktometer

Kejernihan

Agak
Keruh

Refraktometer

BJ

1,020

1,015
1,025

Refraktometer

pH

6,0

4,8 7,4

Refraktometer

Protein

Negatip

Negatip

Refraktometer

Glukosa

Negatip

Negatip

Refraktometer

Keton

Negatip

Negatip

Refraktometer

Bilirubin

Negatip

Negatip

Refraktometer

Urobilinogen

Normal

<1

Nitrit

Negatip

Negatip

Refraktometer

Darah

Negatip

Negatip

Refraktometer

Leukosit Esterase

Positip 1

Negatip

Refraktometer

Sedimen

mg/dL

Refraktometer

24

Eritrosit

02

02

/lp

Microscopic

Leukosit

46

05

/lp

Microscopic

Epitel

46

5 - 15

/lp

Microscopic

Silinder

Negatip

/lp

Microscopic

Kristal

Negatip

Microscopic

Lain - lain

Negatip

Microscopic

Kimia klinik
Fungsi Hati
SGOT

69

0 - 84

U/L Opt
37 C

IFCC, without p5-p

SGPT

43

0 60

U/L Opt
37 C

IFCC, without p5-p

Urea N

9,7

4,0 19,0

mg/dL

Urease

Serum Kreatinin

0,3

0,2 0,4

mg/dL

Jaffe/Picrate

88

< 100

mg/dL

Hexokinase

Natrium

137

132 - 140

mEq/L

ISE

Kalium

5,6

3,5 5,6

mEq/L

ISE

Fungsi Ginjal

Gula Darah
Glukosa Darah
Sewaktu
Elektrolit

25

3.4.2

Hasil Foto Thorax

Gambar 3.2 Foto thorax pasien; tidak menunjukkan adanya kelainan

3.5 Diagnosis
Dari hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan diagnosa klinis untuk pasien adalah Labiognatopalato
Schizis Unilateral Complete Sinistra.

3.6 Penatalaksanaan
Rencana perawatan pada pasien ini adalah melakukan labioplasty dalam NU
yang dilakukan pada tanggal 11 Juni 2014. Setelah persiapan alat, pasien, operator,

26

dan asisten operator, dilakukan tindakan aseptik ekstra oral dan intra oral dengan
betadine solution 10%. Hal pertama yang dilakukan adalah pembuatan pola insisi
dengan methylene blue. Setelah telah ditentukan pola insisi yang diinginkan,
kemudian dilakukan anestesi lokal pada daerah yang akan di insisi. Insisi dilakukan
sesuai pola yang telah dibuat, kemudian dilakukan diseksi jaringan dengan
menggunakan gunting jaringan. Setelah itu, dilakukan penjahitan mukosa, otot,
subkutan, dan kutan dengan menggunakan jahitan interrupted. Dilakukan aplikasi
antibiotik pada daerah penjahitan dan pemasangan tube pada nasal kiri. Kemudian
dilakukan penutupan daerah penjahitan dengan menggunakan sufratule dan hypafix.
Pasien diinstruksikan untuk mengganti perban 1x setiap hari, dan membuka
jahitan 7 hari setelah operasi. Pasien diberikan resep Amoxicillin 125 mg yang
diminum 3x sehari, serta kaltrofen yang diaplikasikan 2x dalam sehari.

Gambar 3.3 Foto Post-operasi


BAB IV

27

DISKUSI

Pada tanggal 3 Juni 2014, pasien wanita berumur 4 bulan datang bersama
ibunya ke bagian Bedah Mulut Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan keluhan
utama terdapat celah pada bibir kiri dan langit-langit pasien. Selama kehamilan (9
bulan) ibu pasien mengkonsumsi obat penambah darah, dan pada bulan ke-6
kehamilan ibu pasien mengkonsumsi obat pegal yang diresepkan oleh puskesmas. Ibu
pasien menyangkal pernah meminum jamu maupun obat-obatan lain, dan tidak
pernah terjatuh pada saat kehamilan. Pasien merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara
(G = 4; P = 4; A = 0). Kakak pasien (anak ke-2) juga menderita celah bibir. Ibu pasien
menyangkal adanya riwayat medis, alergi, maupun penyakit penyerta lainnya. Ibu
pasien berharap celah pada bibir anaknya dapat ditutup.
Pada pemeriksaan tanda vital diketahui keadaan umum pasien baik, kesadaran
compos mentis, jumlah denyut nadi 100 x/menit, pernafasan 60 x/menit, suhu tubuh
pasien 37C, dan skala nyeri ringan (0/10).
Pada status umum pemeriksaan fisik, diketahui turgor kulit positif, kepala
simetris, mata non anemis, pupil isokhor, sklera non ikhterik, kelenjar limfe tidak
teraba dan tidak sakit, bentuk dan gerak dada simetris, perut datar lembut, dan akral
ekstremitas hangat.
Pada status lokalisata pemeriksaan fisik, diketahui tidak terdapat kelainan
pada sendi temporomandibula, rahang, sistem saraf, dan kelenjar ludah. Pemeriksaan

28

ekstra oral dan intra oral menunjukkan terdapat celah unilateral complete pada bibir
kiri, gusi, dan palatum hingga mencapai uvula pasien. Seluruh gigi pasien belum
erupsi.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium
lengkap dan foto rontgen thorax. Tidak terdapat kelainan yang ditemukan pada hasil
pemeriksaan tersebut.
Dari hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan diagnosa klinis untuk pasien adalah Labiognatopalato
Schizis Unilateral Complete Sinistra.
Perawatan yang dilakukan pada pasien ini adalah labioplasty dalam NU yang
dilakukan pada tanggal 11 Juni 2014. Setelah persiapan alat, pasien, operator, dan
asisten operator, dilakukan tindakan aseptik ekstra oral dan intra oral dengan betadine
solution 10%. Hal pertama yang dilakukan adalah pembuatan pola insisi dengan
methylene blue. Setelah telah ditentukan pola insisi yang diinginkan, kemudian
dilakukan anestesi lokal pada daerah yang akan di insisi. Insisi dilakukan sesuai pola
yang telah dibuat, kemudian dilakukan diseksi jaringan dengan menggunakan gunting
jaringan. Setelah itu, dilakukan penjahitan mukosa, otot, subkutan, dan kutan dengan
menggunakan jahitan interrupted. Dilakukan aplikasi antibiotik pada daerah
penjahitan dan pemasangan tube pada nasal kiri. Kemudian dilakukan penutupan
daerah penjahitan dengan menggunakan sufratule dan hypafix.

29

Pasien diinstruksikan untuk mengganti perban 1x setiap hari, dan membuka


jahitan 7 hari setelah operasi. Pasien diberikan resep Amoxicillin 125 mg yang
diminum 3x sehari, serta kaltrofen yang diaplikasikan 2x dalam sehari.
BAB V
KESIMPULAN

Celah bibir dan langit-langit merupakan kelainan wajah yang paling umum
terjadi di seluruh dunia. Sebanyak 65% kelainan pada kepala dan leher adalah celah
bibir dan langit-langit. Setiap hari kurang lebih 700 bayi lahir ke dunia dengan
kelainan ini.
Celah bibir dan langit-langit terjadi ketika jaringan yang membentuk bibir dan
langit-langit gagal bersatu selama perkembangan embrio. Kelainan ini dapat
disebabkan oleh berbagai macam faktor, namun faktor utama penentu tejadinya
kelainan ini masih belum diketahui.
Penanganan

kelainan

celah

bibir

dan

celah

langit-langit

memerlukan penanganan yang multidisiplin karena merupakan masalah yang


kompleks, variatif dan memerlukan waktu yang lama serta membutuhkan beberapa
ilmu dan tenaga ahli, di antaranya dokter bedah mulut, dokter anak, dokter bedah
plastik, dokter gigi anak, orthodontist, prosthodontist, ahli THT (otolaryngologist ),
speech pathologist, dan psikiater atau psikolog untuk menangani masalah psikologis
pasien.

30

Tabel 5.1 Penatalaksanaan Celah Bibir dan Langit-Langit


Usia
Prenatal

Tindakan
Konsultasi psikolog mempersiapkan orangtua dalam menerima

0 1 minggu
1 2 minggu

kehadiran anak dengan celah bibir dan langit-langit.


Pemberian nutrisi dengan kepala miring (posisi 45)
Pasang obturator untuk menutup celah pada langitlangit, dan pemakaian dot khusus untuk mencegah

11 Minggu

aspirasi
Labioplasty, dengan mengikuti Rules of Ten:

18 - 24 bulan
18 bulan 4

4. Berat minimal 10 pounds


5. Jumlah leukosit di bawah 10.000 /dl
6. Hb minimal 10 gr/dl
Palatoplasty
Terapi wicara

tahun
4 6 tahun

Velopharyngeal flap apabila ditemukan adanya


velopharingeal incompetence.

6 8 tahun
9 11 tahun

Kunjungan berkala ke dokter gigi anak


Preventif orthodonsia
Secondary alveolar bone grafting

11 18 tahun Ortodonsia lanjutan


18 tahun
Evaluasi hasil perawatan orthodonsia
Bedah orthognatik

31

DAFTAR PUSTAKA

Bailey, Byron J. 2001. Head and Neck Surgery: Otolangologist. 3th ed. Lippincott
Williams & Wilkins.
Balaji SM. 2007. Textbook Of Oral & Maxillofacial Surgery. New Delhi: Elsevier.
Gunarto S. A., Prihatiningsih. 2008. Rekonstruksi Celah Bibir Bilateral Pada Pasien
Pasca Operasi Labioplasti. Maj Ked Gi.
Hood, C. A., Hosey, M. T., Bock, M., White, J., Ray, A. & Ayoub A. F. 2004. Facial
Characterization of Infants with Cleft Lip and Palate Using a ThreeDimensional Capture Technique. Cleft Palate-Craniofacial Journal.
Kernahan, D. A. 1971. The Striped Y- a symbolic classification for cleft lip and
palate. Plastic and Reconstructive Surgery.
Langman J. Medical embryology.8thed. Baltimore: The Williams & Wilkins
Company.
Millard D. 1977. Cleft Craft. Boston. Little, Brown.
Pedersen W Gordon. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Purwanto Basoeseno,
editor. Jakarta: EGC.
Riden K. 1998. Oral & Maxillofacial Surgery. United Kingdom: BIOS.
Ross. 1987. Treatment Variables Affecting Facial Growth In Unilateral Cleft Lip And
Palate Part 4: Repair Of The Cleft Lip. Cleft Palate Journal.

32

Tolarova M, Mosby T, Pastor L, Armento V, Oh H, Guinazu M. 2002. Prevention Of


Cleft Lip And Palate The Plan For Today, The Goal For The Future.
Munich: 2nd World Cleft Congress.
Veau. 1993. Division Palatine.
Wulandari PD, Soelistiono. 2008. Labioplasty Metode Barsky Dengan Anestesi Lokal
Pada Penderita Celah Bibir Bilateral Inkomplit. Maj Ked Gi.

LABIOGNATOPALATO SCHIZIS UNILATERAL COMPLETE


SINISTRA
(Laporan Kasus)

Oleh:
Ayu Pujiwati
160112130067

Pembimbing:
DR. Mantra Nandini, drg. Sp. BM (K). MARS

33

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014