Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL BLOK XXII GERITRI

SKENARIO II
NENEK TEGANYA MENINGGALKAN KAKEK SENDIRIAN

KELOMPOK A2
YAASIN RACHMAN NOOR

G0012231

MAHARDHIKA K

G0012123

PARADA JIWANGGANA

G0012159

FADHLI RAHMAN

G0012073

DENATA SIENVIOLINCIA

G0012055

PRATIWI RETNANINGSIH

G0012163

RIFAATUL MAHMUDAH

G0012183

BERLIAN MAYA DEWI

G0012043

DITA MAYASARI

G0012063

NELSI MARINTAN TAMPUBOLON

G0012147

RUSMITA HARDINASARI

G0012197

DEVITA MAHAJANA

G0012057

TUTOR :
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Pada diskusi turorial minggu ke-II blok pediatri, kami mendapat skenario
sebagai berikut :
Nenek, Teganya Teninggalkan Kakek Sendirian
Kakek Yoso, kini berusia 78 tahun, dibawa ke poliklinik geriatrik oleh
cucunya karena mengeluh berulang kali kencing di malam hari. Akhir-akhir ini
sering marah-marah, gaduh gelisah, dan tidak bisa tidur. Sejak istrinya meninggal
satu bulan yang lalu, sering minum obat tidur dari dokter umum.
Pada pemeriksaan tanda vital Takanan Darah 150/90 mmHg, Hasil
pemeriksaan rutin leukosit 75/LPB, nitrit positif. Hasil GDS 350 mg/dl, creatinin
2.0 mg/dl, Proteinuria (+3). Setelah diperiksa prostat dengan rectal touch
didapatkan sulkus medianus datar. Juga dilakukan pemeriksaan Geriatric
Depression Scale, Mini Mental State Examination, konsultasi bagian psikiatri.
Oleh dokter disarankan dirawat di rumah sakit.

BAB II
DISKUSI
A. SEVEN JUMP
1. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa
istilah dalam skenario.
a. Geriatric Depression scale: Screening depresi, terdiri dari 30 atau 15
pertanyaan, untuk mengeliminasi hal2 somatik pada lansia.
b. Kreatinin: produk sisa dari perombakan keratin fosfat yang di terjadi
di otot, normalnya pada laki-laki 0,5 sampai dengan 1,5, sedangkan
pada perempuan 0,4 sampai dengan 1,1.
c. Mini Mental Scale Examination: Menilai fungsi kognisi, meliputi
orientasi, repetisi, perhatian dan kalkulasi, recall, dan bahasa.
d. Sulcus Medianus: cekungan yang ada di tengah2 prostat, patokan
penilaian perbesaran pada prostat, normalnya cekung.
2. Langkah II : Menentukan/mendefinisikan permasalahan
Permasalahan pada skenario ini yaitu sebagai berikut :
a. Mengapa kakek Yoso sering kencing di malam hari ?
b. Apakah ada hubungan antara kencing di malam hari dengan sering
marah-marah, gaduh gelisah dan tidak bisa tidur ?
c. Apa hubungan usia dan jenis kelamin terhadap keluhan pasien ?
d. Apakah ada hubungan istri kakek yang meninggal dengan keluhan
marag-marag, gaduh gelisah, tidak bisa tidur dan kencing pada malam
hari ?
e. Bagaimana interpretasi pemeriksaan vital dan pemeriksaan rectal
touch?
f. Bagaimana interpretasi pemeriksaan laboratorium ?
g. Bagaimana interpretasi pemeriksaan status mental pada pasien ?
h. Apakah efek samping dari obat tidur yang diberikan pasien ? Apa
i.
j.
k.
l.

indikasi obat tidur ?


Mengapa dokter menyarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit ?
Mengapa pasien dikonsultasikan ke bagian psikiatri ?
Adakah kegawatdaruratan pada pasien ?
Apakah indikasi pemeriksaan Geriatric Depression Scale dan Mini
Mental Scale Examination ?

3. Langkah III: Menganalisis permasalahan dan membuat penyataan


sementara mengenai permasalahan.
a. Apa kaitan jenis kelamin dan usia dengan keluhan pasien?
Keluhan sering kencing di malam hari (nocturia) salah satunya
disebabkan oleh inkontinensia urin yang dialami oleh pasien. Sekitar
50% usia lanjut di instalasi perawatan kronis dan 11-30% di
masyarakat mengalami inkontinensia urin. Prevalensi nya meningkat
seiring dengan paningkatan umur. Perempuan lebih sering mengalami
inkontinensia urin daripada laki-laki dengan perbandingan 1,5:1
(Sudoyo, 2006).
Survei inkontinensia urin yang dilaukan oleh Divisi Geriatri
Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo pada
208 orang usia lanjut di lingkungan Pusat Santunan Keluarga
(PUSAKA)

di

Jakarta

(2002)

mendapatkan

angka

kejadian

inkontinensia urin tipe stres sebesar 32,2% (Sudoyo, 2006).


b. Apakah penyebab pasien mengalami kencing berulang pada
malam hari?
Inkontinensia urin meningkat seiring proses menua. Akan
tetapi, proses menua bukanlah penyebabnya melainkan hanya faktor
predisposisi penyakit ini. Proses penuaan pada manusia (pria maupun
wanita) menyebabkan perubahan anatomis dan fisiologis urogenital
bawah. Hal ini terkait dengan kadar hormon yaitu terjadi penurunan
produksi androgen pada pria maupun estrogen pada wanita (Sudoyo,
2006).
Hal ini akan berdampak pada perubahan morfologis kandung
kemih (vesika urinaria) manusia berupa timbulnya fibrosis dan
penurunan kandungan kolagen pada dinding vesika urinaria. Selain itu,
fungsi kontraktil vesika urinaria juga tidak efektif lagi. Hal ini akan
mengakibatkan terbentuknya trabekulasi pada otot detrusor dan
divertikel pada dinding dalam vesika urinaria. Sedangkan, pada
mukosa vesika urinaria terjadi atrofi, perubahan vaskularisasi
submukosa, dan penipisan otot uretra sehingga terjadi penurunan
penutupan uretra oleh otot tersebut (Sudoyo, 2006).

Pada semua usia, kontinensi tergantung mobilitas yang


adekuat, status mental, motivasi, dan fungsi saluran kemih bagian
bawah yang intak. Walaupun inkontinensia urin pada pasien usia muda
jarang berkaitan dengan defisit di luar saluran kemih, defisit seperti ini
biasa dijumpai pada pasien usila. Defisit ini sangat penting dideteksi
karena dapat menyebabkan inkontinensia dan intervensi mungkin tidak
akan efektif sampai masalah di luar saluran kemih tersebut
diselesaikan.
Saluran kemih bagian bawah mengalami perubahan karena
usia, walaupun tanpa ada penyakit apapun. Kapasitas kandung kemih,
kontraktilitas, dan kemampuan untuk menahan berkemih menurun
pada usila pria dan wanita, sedangkan kekuatan dan lama menutup
uretra menurun bersamaan dengan meningkatnya usia pada wanita.
Prostat membesar pada kebanyakan pria yang sering menyebabkan
obstruksi. Pada pria dan wanita, prevalensi kontraksi kandung kemih
meningkat sedangkan volume residu setelah berkemih meningkat
sampai 50-100 ml. Sebagai tambahan, usila sering mengeksresikan
sebagian besar asupan cairan pada malam hari, walaupun tidak
memiliki penyakit ginjal, edema perifer dan prostatismus. Perubahanperubahan ini meningkatkan gangguan tidur, menyebabkan berkemih
1-2 kali di malam hari pada kebanyakan usila sehat.
c. Apakah efek dari penggunaan obat tidur pada pasien geriatri ?
Ada 2 jenis obat tidur yang sering dipakai, yaitu Benzodiazepin
dan Barbiturat
1. Benzodiazepin
Benzodiazepine berefek hypnosis, sedasi, relaksasi otot, ansiolitik,
dan antikonvulsi.Hampir semua efek benzodiazepine merupakan
hasil kerja golongan ini pada SSP dengan efek utama : sedasi,
hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan

emosi/ansietas.

Efeknya pada tidur menyebabkan mengurangi waktu jatuh tidur,


sehingga meningkatkan siklus tidur REM. Kerja benzodiazepine
berupa interakhsinya dengan reseptor penghambar neurotransmitter
yang

diaktifkan

oleh

asam

gamma

amino

butirat

(GABA)Benzodiazepin diabsorbsi secara sempurna di usus.


Golongannya terbagi atas lama kerjanya, (1) senyawa yang bekerja
sangat cepat; (2) senyawa yang bekerja cepat, dengan waktu paruh
kurang dari 6 jam ; (3) senyawa yang bekerja sedang, dengan
waktu paruh 6-24 jam, dan ; (3) senyawa yang bekerja lebih lama
dari

24

jam.

Metabolit

plasma.Benzodiazepin

aktifnya

dimetabolisme

terikat
secara

pada

protein

ekstensif

oleh

kelompok enzim mitokrom P450 di hati.Efek sampingnya antara


lain lemas, sakit kepala, pandangan kabur, vertigo, mual dan
muintah, diare, nyeri epigastric, nyeri sendi, nyeri dada, dan pada
beberapa pasien dapat mengalami inkontinensia.Pada efek
psikologik,

benzodiazepine

juga

dapat

meningkatkan

efek

paradoksal.Penggunaan benzodiazepine dalam waktu lama juga


dapat berisiko terjadinya ketergantungan dan penyalahgunaan,
namun dapat dicegah dengan penggunaan dosis yang tepat.Indikasi
benzodiazepine antara lain : pengobatan insomnia, ansietas, kaku
otot, medikasi preanestesi, dan anestesi.
2. Barbiturat
Efek utama barbiturat ialah depresi SSP, mulai dari sedasi,
hypnosis, berbagai tingkat anesthesia, koma, dan bahkan
kematian.Barbiturat tidak dapat mengurangi rasa nyeri tanpa
disertai hilangnya kesadaran.Bahkan, pada keadaan tertentu,
barbiturat justru menimbulkan eksitasi, karena adanya depresi
pusat penghambatan.Efek hipnotik barbiturate meningkatkan total
lama tidur dan mempengaruhi tingkatan tidur, tergantung
dosisnya.Penyalahgunaan

barbiturate

berisiko

terjadi

ketergantungan.Dosis nonanestesi barbiturate terutama menekan


respons pasca sinaps pada SSP. Penghambatannya hanya terjadi
pada sinaps GABA-nergik.Efek lain barbiturat pada pernafasan
menimbulkan depresi pernafasan yang berbanding lurus dengan
dosis. Pada dosis hipnotik oral dapar menyebabkan pengurangan
frekuensi dan amplitude nafas, ventilasi alveolus berkurang, seperti

pada keadaan tidur fisiologis.Pada dosis hipnotik oral yang lebih


tinggi atau suntikan IV dapat menyebabkan depresi pernafasan
yang lebih berat.Pada system kardiovaskular juga, menyebabkan
penurunan frekuensi nadi dan tekanan darah sedikit seperti pada
keadaan tidur fisiologis, namun dengan dosis yang lebih tinggi
dapat menyebabkan hipotensi dan syok.Barbiturat oral diabsorbsi
secara cepat dan sempurna, dengan mula kerja sekitar 10-60 menit,
dan dihambat oleh adanya makanan di lambung.Barbiturat
didistribusikan secara luas, dan dapat melewati plasenta.
Pemberian secara IV akan ditimbun di jaringan lemak dan otot, dan
menyebabkan pasien akan sadar dalam waktu 5-15 menit setelah
penyuntikan. Barbiturat diekskresikan lewat urin dan eliminasinya
berlangsung selama 24 jam.Efek samping barbiturate yang utama
adalah hangover/after effects, yang terjadi pada beberapa hari
setelah pemakaian. Efek samping ini meliputi vertigo, mual,
muntah, atau diare.Pada beberapa individu, pemakaian ulang
barbiturate lebih menimbuilkan eksitasi daripada depresi.Sesekali
juga menimbulkan rasa myalgia, neuralgia. Hipersentivitas akan
barbiturate dapat terjadi terutama pada individu yang mengidap
asma, urtikaria, angioedema, dan keadaan serupa. Penggunaan
barbiturate sebagai hipnotik-sedatif saat ini sudah berkurang
karena efeknya pada SSP kurang spesifik.Namun, masih digunakan
sebagai terapi darurat kejang, seperti tetanus, eklamsia, status
epilepsy, pendarahan serebral, dan keracunan konvulsan.Barbiturat
tidak boleh diberikan pada pasien alergi barbiturate, penyakit hati
atau ginjal, hipoksia, dan penyakit Parkinson (Gunawan et al,
2011).
d. Apakah obat tidur pilhan untuk pasien lansia ?
Pada lansia yang mengalami gangguan tidur pada dasarnya
lebih baik memberi tata laksana terlebih dahulu untuk penyakit yang
menyebabkan gangguan tidur pada lansia. Hal ini dikarenakan adanya
penurunan fungsi organ tubuh pada lansia sehingga sebisa mungkin

meminimalisir obat yang masuk.Selain itu, menjaga pola hidup sehat


lebih disarankan bagi lansia yang mengalami gangguan tidur
dibandingkan mengkonsumsi obat tidur dalam jangka waktu lama.
Namun, beberapa keadaan gangguan tidur memang bisa
diberikan obat tidur misalnya obat transkuiliser minor (contoh :
golongan benzodiazepin) dapat diberikan kepada penderita insomnia
akut, diberikan dosis kecil dan dalam waktu yang tidak lama. Selain
itu, akhir-akhir ini obat yang sedang marak dipakai sebagai obat tidur
adalah melatonin, namun sampai saat ini belum menunjukkan hasil
yang memuaskan dalam mengatasi gangguan tidur pada usia lanjut.
Benzodiazepine (BZDs) adalah obat yang paling sering
digunakan untuk mengobati insomnia pada usia lanjut. BZDs
menimbulkan efek sedasi karena bekerja secara langsung pada reseptor
benzodiazepine.Efek yang ditimbulkan oleh BZDs adalah menurunkan
frekuensi tidur pada fase REM, menurunkan sleep latency, dan
mencegah pasien terjaga di malam hari. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pemberian BZDs pada usia lanjut mengingat
terjadinya perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik terkait
pertambahan umur. Absorpsi dari BZDs tidak dipengaruhi oleh
penuaan akan tetapi peningkatan masa lemak pada lanjut usia akan
meningkatkan drug-elimination half life, disamping itu pada usia lanjut
lebih sensitif terhadap BZDs meskipun memiliki konsentrasi yang
sama jika dibandingkan dengan pasien usia muda. Pilihan pertama
adalah short-acting BZDs serta dihindari pemakaian long acting
BZDs. BZDs digunakan untuk transient insomnia karena tidak
dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan lebih dari 4
minggu akan menyebabkan tolerance dan ketergantungan. Golongan
BZDs yang paling sering dipakai adalah temazepam, termasuk
intermediate acting BZDs karena memiliki waktu paruh 8-20
jam.Dosis temazepam adalah 15-30 mg setiap malam. Efek samping
BZDs meliputi: gangguan psikomotor dan memori pada pasien yang
diterapi short-acting BZDs sedangkan residual sedation muncul pada

pasien yang mendapat terapi long acting BZDs. Pada pasien yang
menggunakan BZDs jangka panjang akan menimbulkan resiko
ketergantungan, daytime sedation, jatuh, kecelakaan dan fraktur.
e. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan laboratorium yang telah
dilakukan ?
Leukosit75/P:padmnrl,gjyhceukaositnmlwr.BbpyukadShKI,nefitsrlop ybagmndektrjifs.
Nitrposf:unmalehy.Tjkdtbri,ngpealmuhjdt.Sirposfnamekbtdluris.
nKreati2.0dmgl:k/ hsunatoirefgjlm.Nnkipadrs07-12Kmg/el.nibakrufsj,ogynmeibhatdrsu,ogynmelkafibrt.
GDS250dmgl:/ahnsipukery taw,npdus.GDS>=20mkeoragitblus.
nProuteia+3:p(lbmd)hskniateruoplm.Gjygbkndareilmhu tpnyeasrgilbumkhceadrjing.Nlpotuk:s
(-):102dmgl/
+1():50mg/dl
+2():10dmgl/
+3():0dmgl/
+4():10-2mg/dl
f. Bagaimana fisiologi tidur dari lansia yang normal ?
Fisiologi tidur dapat diterapkan melalui gambaran aktivitas selsel otak selama tidur, dan dapat direkam dengan elektroensefalograf
(EEG).Untuk merekam otak orang yang sedang tidur, digunakan
poligrafi EEG. Dengan cara ini kita dapat erekam stadium tidur adalah
sebagai berikut:
1. Stadium jaga (wake)
EEG : Pada keadaan rileks dan mata tertutup, gambaran didominasi
oleh gelombang alfa. Tidak ditemukan adanya kumparan tidur dan
kompleks K.
Elektrookuloagraf (EOG) : Gerakan mata berkurang, kadangkadang terdapat artefak yang disebabkan oleh gerakan kelopak
mata
Elektromiograf (EMG) : Kadang-kadang tonus otot meninggi
2. Stadium I

EEG : Terdiri dari gelombang campuran alfa, beta dan kadangkadang teta. Tidak terdapat kumparan tidur, kompleks K atau
gelombang delta
EOG : Tidak terlihat aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dibandingkan dengan stadium W.
3. Stadium II
EEG : Terdiri atas gelombang campuran alfa, teta dan delta.
Terlihat adanya kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Tidak terdapat aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Kadang-kadang terlihat peningkatan tonus otot secara tibatiba, menunjukkan bahwa otot-otot tonik belum seluruhnya dalam
keadaan rileks.
4. Stadium III
EEG : Persentase

gelombang

delta

antara

20-

50

%.

Tampakkumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat.
EMG : Gambaran tonus otot yang jelas dari Stadium II.
5. Stadium IV
EEG : Persentase gelombang delta mencapai lebih dari 50%.
Tampak kumparan tidur.
EOG : Tidak tampak aktivitas bola mata yang cepat
EMG : Tonus otot menurun dari pada stadium sebelumnya.
6. Stadium REM (Rapid Eye Movement)
EEG : Terlihat gelombang campuran alfa, beta dan teta. Tidak
tampak gelombang delta, kumparan tidur dan kompleks K.
EOG : Terlihat gambaran REM yang lebar
EMG : Tonus otot sangat rendah. Frekuensi di tinggi dan ereksi.
Stadium I dan II disebut sebagai tidur ringan, sedangkan
Stadium III dan IV sebagai tidur dalam. Stadium I, II, III dan IV
disebut Stadium non REM (NREM).
Stadium REM dikatakan sebagai tidur ringan, sehingga stadium
ini juga disebut sebagai paradoxical leep. Pada stadium REM, individu
mengalami peristiwa mimpi dengan intensitas tinggi sehingga panca
indera ikut terangsang.
Terdapat perubahan tidur secara subjektif dan objektif pada
usia lanjut. Survei epidemiologic menunjukkan bahwa pada usia lanjut

yang tinggal di rumah atau panti werda menunjukkan bahwa 15- 75


persen dari mereka tidak puas dalam lamanya dan kualitas tidur
malam. Pada usia lanjut wanita sehat secara subjektif lebih merasakan
kesulitan tidur dari pada pria.
Yang paling mencolok pada karakteristik tidur pada usia lanjut
ialah konfirmasi poligrafik pada upaya setelah dimulai tidur. Struktur
tidur pada usia lanjut berubah dengan meningkatnya stadium I
sehingga terjadi fragmentasi atau disrupsi dari struktur tidur.
Berkurangnya tidur mempunyai dampak pada pemulihan fungsi tidur.
Orang lanjut usia membutuhkan waktu lebih lama untuk msuk
tidur (berbaring lama di temnpat tidur sebelum tertidur) dan
mempunyai lebih sedikit/lebih pendek waktu tidur nyenyaknya. Pada
usia lanjut juga terjadi perubahan pada irama sirkadian tidur normal
yaitu menjadi kurang sensitif dengan perubahan gelap dan terang.
Dalam irama sirkadian yang normal terdapat peranan pengeluaran
hormon dan perubahan temperatur badan selama siklus 24 jam.
Ekskresi kortisol dan GH meningkat pada siang hari dan temperatur
badan menurun di waktu malam. Pada usia lanjut, ekskresi kortisol dan
GH serta perubahan temperatur tubuh berfluktuasi dan kurang
menonjol. Melatonin menurun dengan meningkatnya umur (Sudoyo,
2006).
Penelitian lain menunjukkan kualitas tidur usia lanjut yang
sehat, juga tergantung pada bagaimana aktivitasnya pada siang hari.
Bila siang hari sibuk dan aktif sepanjang hari, pada malam hari tidak
ada gangguan dalam tidurnya, sebaliknya bila siang hari tidak ada
kegiatan dan cenderung tidak aktif, malamnya akan sulit tidur
(Sudoyo, 2006).
g. Faktor-faktor apa yang menyebabkan tekanan darah pasien
tinggi?
Pada kasus hipertensi pada lansia, ada beberapa faktor yang
berperan, antara lain :

Penurunan kadar renin karena menurunnya jumlah nefron akibat


proses menua. Hal ini menyebabkan suatu sirkulus vitiosus :
hipertensi-glomerulo-sklerosis-hipertensi yang berlangsung terus-

menerus.
Penurunan elastisitas pembuluh darah perifer yang pada akhirnya

mengakibatkan hipertensi sistolik saja.


Perubahan ateromatous akibat proses menua menyebabkan
disfungsi endotel yang berlangsung pada pembentukan berbagai
sitokin dan substansi kimiawi lain yang kemudian menyebabkan
resorbsi natrium di tubulus ginjal, meningkatkan proses sklerosis
pembuluh darah perifer dan keadaan lain yang berakibat pada

kenaikan tekanan darah.


Peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. Pada poin
sebelumnya juga sudah dijelaskan bahwa karena adanya disfungsi
endotel, menyebabkan resorbsi natrium di tubulus ginjal meningkat
sehingga kadar natrium pun di tubuh menjadi meningkat dan pada
akhirnya menyebabkan tekanan darah naik.
Adanya penurunan diastole pada usia tua disebabkan karena

adanya kekakuan pada pembuluh darah pasien (Sudoyo, 2006).


4. Langkah IV: Mengeinventarisasi permasalahan secara sistematis dan
pernyataan sementara mengenai permasalahan pada langkah 3.

Permasalahan
Psikologis

Diabetes
Mellitus

Proses
penuaan

Nefropati
DM

Inkontinensia
Urin

Hipertensi

ISK

Depres
i
Tatalaksana

Rawat Inap

Psikiatri

5. Langkah V: Merumuskan tujuan pembelajaran


a. Pemeriksaan tanda vital : tekanan darah pada pasien di skenario
b. Pemeriksaan Geriatric Depression Scale dan Mini Mental State
Examination
c. Diagnosis Banding :
i.
Depresi
ii.
BPH
iii.
Inkontinensia Urin
iv. Infeksi Saluran Kemih
v. Nefropati Diabetik
vi.
Diabetes Melitus
vii.
Hipertensi
d. Tatalaksana :
i.
Konsultasi ke psikiatri
ii.
Rawat inap di Rumah sakit
iii.
Rehabilitasi Medik
iv. Assesment pada geriatri
e. Kegawatdaruratan pada geriatri
6. Langkah VI: Mengumpulkan informasi baru
7. Langkah VII: Melaporkan, membahas dan menata kembali informasi
baru yang diperoleh
a. Pemeriksaan tanda vital : tekanan darah
Baik TDS maupun TDD meningkat

sesuai

dengan

meningkatnya umur. TDS meningkat secara progresif sampai umur

70-80 tahun, sedangkan TDD meningkat samapi umur 50-60 tahun


dan kemudian cenderung menetap atau sedikit menurun. Kombinasi
perubahan ini sangat mungkin mencerminkan adanya pengakuan
pembuluh darah`dan penurunan kelenturan (compliance) arteri dan
ini mengakibatkan peningkatan tekanan nadi sesuai dengan umur
(Rigaud dan Forette, 2001)
b. Geriatric Depression Scale
Geriatric Depression Scale adalah sebuah skala yang
digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat depresi seorang
lansia. Meskipun ada banyak instrumen yang tersedia untuk mengukur
depresi, Depresi Skala Geriatri (GDS), pertama kali diciptakan oleh
Yesavage et al., Telah diuji dan digunakan secara luas dengan populasi
yang lebih tua. Ini adalah kuesioner singkat di mana peserta diminta
untuk menanggapi 30 pertanyaan dengan menjawab ya atau tidak
mengacu pada apa yang mereka rasakan pada hari administrasi. Skor
dari 0 - 9 dianggap normal, 10-19 menunjukkan depresi ringan dan 20
- 30 menunjukkan depresi berat.
c. Diagnosis Banding
i.
Inkontinensia Urin
Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yang tidak
terkendali

pada

waktu

yang

tidak

dikehendaki

tanpa

memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, yang mengakibatkan


masalah social dan higienis penderitanya. Proses menua baik pada
laki-Iaki maupun perempuan telah diketahui mengakibatkan
perubahan-perubahan

anatomis

dan

fisiologis

pada

sistem

urogenital bagian bawah. Secara keseluruhan perubahan akibat


proses menua pada sistem urogenital bawah mengakibatkan posisi
kandung kemih prolaps sehingga melemahkan tekanan atau
tekanan akhiran kemih keluar.
Penyebab dan Tipe Inkontinensia Urin

Mengetahui penyebab inkontinensia urin penting dalam


penatalaksanaannya yang tepat. Perlu dibedakan 4 penyebab pokok
yaitu: gangguan urologik, neurologis, fungsional/psikologis , dan
iatrogenik lingkungan.

Inkontinensia akut terjadi secara mendadak, biasanya berkaitan


dengan kondisi sakit akut atau problem iatrogenik yang
menghilang jika bila kondisi akut teratasi atau problem
medikasi dihentikan.

Inkontinensia persisten merujuk pada kondisi urikontinensia

yang tidak berkaitan dengan kondisi akut iatrogenik dan


berlangsung lama. Penyebab inkontinensia urin akut dapat di
ingat dengan akronim DRIP seperti tercantum pada Tabel 4.

Inkontinensia Urin Kronik-Persisten

Ada 2 kelainan mendasar pada fungsi saluran kemih


bawah yang melatarbelakangi inkontinensia persisten yaitu :
1) Kegagalan menyimpan urin pada kandung kemih akibat
hiperaktif atau menunmnya kapasitas kandung kemih atau
lemahnya tahanan saluran keluar
2). Kegagalan pengosongan kandung kemih akibat lemahnya
kontraksi otot detrusor atau meningkatnya tahanan aliran
keluar.
Tipe Inkontinensia Urin
1. Inkontinensia

urin

tipe

urgensi

ditandai

dengan

ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi berkemih


muncul. Manifestasinya berupa urgensi, frekuensi, dan
nokturia. Kelainan ini dibagi 2 subtipe yaitu motorik dan
sensorik.
a. Subtipe motorik disebabkan oleh lesi pada sistem saraf
pusat seperti stroke, parkinsonism, tumor otak dan sklerosis
multipel atau adanya lesi pada medula spinalis suprasakral.
b. Subtipe sensorik disebabkan oleh hipersensitivitas kandung
kemih akibat sistitis, uretritis, dan divertikulitis.
2. Inkontinensia urin tipe stres terjadi akibat

tekanan

intraabdominal yang meningkat seperti batuk, bersin, atau


mengejan, terutama terjadi pada perempuan usia lanjut yang
mengalami hipermobilitas uretra dan lemahnya otot dasar
panggul akibat seringnya melahirkan, operasi dan penurunan
estrogen.
3. Inkontinensia urin tipe overflow : Meningkatnya tegangan
kandung kemih akibat obstruksi prostat hipertrofi pada lakiIaki atau lemahnya otot detrusor akibat diabetes melitus,
trauma medula spinalis, obat-obatan dapat menimbulkan.
Manifestasi klinisnya berupa berkemih sedikit, pengosongan

kandung kemih tidak sempurna, dan nokturia.


Inkontinensia urin tipe fungsional terjadi akibat penurunan
berat fungsi fisik dan kognitif sehingga pasien tidak dapat
mencapai toilet pada saat yang tepat. Hal ini terjadi biasanya
pada demensia berat, gangguan mobilitas (artritis genu,
kontraktur), gangguan neurologik dan psikologik.
Tatalaksana
a. Terapi non Farmakologi
1. Bladder

training

bertujuan

memperpanjang

interval

berkemih yang normal dengan teknik distraksi atau teknik


relaksasi sehingga frekuensi berkemih hanya 6-7 kali per
hari atau 3-4 jam sekali.
2. Latihan otot dasar panggul, dilakukan tiga sampai lima kali
sehari dengan 15 kontraksi dan menahan hingga 10 detik.
Latihan ini dapat meningkatkan kekuatan uretra untuk
menutup sempurna. Efektif untuk tipe stres atau campuran
dan tipe urgensi.
3. Habit training memerlukan penjadwalan waktu berkemih.
Diupayakan agar jadwal berkemih sesuai dengan pola
berkemih pasien sendiri. Teknik ini sebaiknya digunakan
pada inkontinensia urin tipe fungsional dan membutuhkan
keterlibatan petugas kesehatan atau pengasuh pasien.
4. Prompted voiding dilakukan dengan cara mengajari pasien
mengenali kondisi atau status kontinensia mereka serta
dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin
berkemih. Teknik ini digunakan pada pasien dengan
gangguan fungsi kognitif.

5. Terapi

biofeedback

bertujuan

agar

pasien

mempu

mengontrol/menahan kontraksi involunter otot detrusor


kandung kemihnya. Cara biofeedback mempunyai kendala
karena penderita karena jangka waktu lama dan perlu
mempunyai intelegensia yang cukup untuk dapat mengikuti
petunjuk pelatihnya,
6. Stimulasi elektrik merupakan terapi yang menggunakan
dasar kejutan kontraksi otot pelvis dengan menggunakan
alat-alat bantu pada vagina atau rektum. Terapi ini tidak
begitu

disukai

oleh

pasien,

karena

pasien

harus

menggunakan alat dan kemajuan dari terapi ini terlihat


lamban.
7. Penggunaan

keteter

menetap

(indwelling

catheter)

sebaiknya tidak digunakan secara rutin dalam pengelolaan


inkontinensia urin karena dapat terjadi ISK sampai sepsis,
pembentukan batu, abses, dan bocor.
b. Terapi Farmakologi

Obat fenilpropanolamin saat ini dihentikan penggunaannya


untuk inkotinensia urin tipe stres karena uji klinik
menunjukkan adanya peningkatan risiko stroke.

Pseudoefedrin

dapat

digunakan

untuk

tatalaksana

inkontinensia tipe stres karena meningkatkan tekanan


sfingter uretra, sehingga menghambat pengeluaran urin

Antikolinergik

dapat

inkontinensia

urgensi.

digunakan

untuk

Oksibutinin

tatalaksana

memiliki

efek

antikolinergik dan merelaksasikan otot halus. Tolterodin


merupakan kompetitif bloker reseptor M3.
ii.

Depresi

Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang


ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan
berkelanjutan sehingga menyebabkan hilangnya kegairahan hidup,
tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing
Ability/RTA masih baik), kepribadian yang utuh (tidak mengalami
keretakan kepribadian/spliting of personality, perilaku dapat
mengganggu tetapi masih dalam batas-batas normal.
Gambaran klinis
Menurut

Lumbantobing (2004), gejala-gejala depresi

meliputi :
1. Gangguan tidur
2. Keluhan somatik berupa nyeri kepala, dizzi (puyeng), rasa
nyeri, pandangan kabur, gangguan saluran cerna,gangguan
nafsu makan (meningkat atau menurun), konstipasi, perubahan
berat badan (menurun atau bertambah).
3. Gangguan psikomotor berupa aktivitas tubuh meningkat
(agitasi atauhiperaktivitas) atau menurun, aktivitas mental
meningkat atau menurun, tidak mengacuhkan kejadian di
sekitarnya, fungsi seksual berubah (mencakup libido menurun),
variasi diurnal dari suasana hati dan gejala biasanya lebih
buruk di pagi hari.
4. Gangguan psikologis berupa suasana hati (disforik, rasa tidak
bahagia, letupan menangis), kognisi yang negatif, gampang
tersinggung, marah, frustasi, toleransi rendah, emosi meledak,
menarik diri dari kegiatan sosial, kehilangan kenikmatan &
perhatian terhadap kegiatan yang biasa dilakukan, banyak
memikirkan kematian & bunuh diri, perasaan negatif terhadap
diri sendiri, persahabatan serta hubungan sosial.

Diagnosis depresi
Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman
pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis gangguan
Jiwa di Indonesia III) yang merujuk pada ICD 10 (International
Classification of Deseases 10). Gangguan depresi dibedakan dalam
depresi ringan, sedang, dan berat sesuai dengan banyak dan
beratnya gejala serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
Pedoman diagnostik lainnya adalah DSM IV (Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders IV). Depresi berat
menurut DSM IV jika ditemukan 5 atau lebih gejala-gejala berikut
dibawah ini, yang terjadi hampir setiap hari selama 2 minggu dan
salah satu dari gejala tersebut adalah mood terdepresi atau
hilangnya rasa senang/minat.
Gejala-gejala tersebut :
1. Mood depresi hampir sepanjang hari
2. Hilang miknat/rasa senang secara nyata dalam aktivitas normal
3. Berat badan menurun atau bertambah
4. Insomnia atau hipersomnia
5. Agitasi atau retardasi psikomotor
6. Kelelahan dan tidak punya tenaga
7. Rasa tidak berharga atau perasaan bersalah berlebihan
8. Sulit berkonsentrasi
9. Pikiran berulang tentang kematian, percobaan/ide bunuh diri.
Menurut ICD 10, pada gangguan depresi, ada tiga gejala
utama yaitu :
1. Mood terdepresi
2. Hiulang minat/semangat
3. Hilang tenaga/mudah lelah.
Disertai gejala lain :
1. Konsentrasi menurun
2. Harga diri menurun

3. Perasaan bersalah
4. Psimis memandang masa depan
5. Ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri
6. Pola tidur berubah
7. Nafsu makan menurun
Pengelompokan berat ringannya depresi, disajikan dalam
tabel 1
Tabel 1.
Pedoman Pengelompokan Berat Ringannya Depresi
Depres

Gejala utama Gejala

i
Ringan

minimal
2

lain

minimal
3

Sedang 2

3 atau 4

Berat

Fungsi

Keterangan

Baik

Distres
Berlangsung minimal

Terganggu
Sangat

2 minggu
Intensitas

terganggu

berat

gejala

Menurunnya perawatan diri, perubahan kebiasaan makan,


turunnya berat badan, dapat merupakan tanda awal depresi tapi
dapat juga merupakan tanda-tanda demensia. Oleh karena itu perlu
dilakukan juga pemeriksaan fungsi kognitif dengan Mini Mental
State Examination (MMSE) atau Abbreviated Mental Test (AMT)
Pemeriksaan pasien depresi
Salah satu langkah penting dalam penatalaksanaan depresi
adalah mendeteksi atau mengidentifikasi. Sampai saat ini belum
ada

suatu

konsensus

atau

prosedur

khusus

untuk

penapisan/skrening depresi pada populasi usia lanjut. Salah satu


instrumen yang dapat membantu adalah Geriatric Depression
Scale (GDS) yang terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab
oleh pasien sendiri. GDS ini dapat dimampatkan menjadi 15

pertanyaan saja dan ini mungkin lebih sesuai untuk dipergunakan


dalam praktek umum sebagai alat penapis depresi pada lanjut usia
(Depkes RI, 2001).
iii.

BPH
Hiperplasia prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia)
adalah pembesaran prostat yang jinak bervariasi berupa hiperplasia
kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering
menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi
yang dominan adalah hyperplasia. Penyakit kelenjar prostat
merupakan gangguan yang banyak diderita oleh pria lansia. Pada
60% penderita sudah mulai muncul adanya nodul mikroskopik di
usia 60 tahun, dan pada usia 85 tahun meningkat menjadi 90%.
Adanya pembesaran prostat atau BPH disebabkan oleh 2
faktor, yaitu proses menua dan rangsangan androgen jangka
panjang.
Gejala hyperplasia prostat dapat dibagi menjadi gejala
akibat iritasi yang ditimbulkan oleh aliran urin (gejala iritatif) dan
gejala akibat obstruksi pembesaran prostat (gejala obstruktif)

Gejala obstruktif

Gejala iritatif

Hesitancy (keluar kemih terputus-

Urgency

putus)
Aliran urin lemah
Mengejan untuk mengeluarkan

berkemih)
Frequency (sering berkemih)
Nocturia (ingin berkemih

urin
Lama berkemih berkepanjangan
Perasaan tak tuntas saat berkemih
Retensi urin

malam hari)
Inkotinensia urge

(perasaan

ingin

di

Pembagian Derajat BPH


Derajat Berat BPH berdasarkan Gambaran Klinik
Derajat
I
II
III
IV

Colok Dubur
Penonjolan prostat, batas atas mudah diraba
Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai
Batas atas prostat tidak dapat diraba

iv.

Sisa volume urin


< 50 ml
50 100 m
100 m
Retensi urin total

ISK
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang
menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin.
Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat dengan makin
meningkatnya usia, hal ini disebabkan karena :

Sisa

pengosongan kandung kemih kurang efektif


Mobilitas menurun
Nutrisi pada lansia seringkali kurang baik
System imunitas menurun
Ada hambatan pada aliran urine
Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat (Darmojo, 2014)

urine

dalam

kandung

kemih

meningkat

akibat

Infeksi saluran kencing pada usia lanjut dibedakan atas:


a. ISK uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan anatomi
saluran kencing tidak baik walaupun fungsional normal.
Terutama mengenai wanita dan infeksi ini hanya mengenai
mukosa superfisial kandung kemih. Penyebab kuman tersering
(90%) adalah E. Coli.
b. ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena kuman penyebab
sulit diberantas sering resisten terhadapa pengobatan berbagai

macam antibiotic, sering terjadi sepsis, bakteriemia dan syok.


Penyebab kuman adalah Pseudomonas Proteus atau Klebsiella.
v.

Nefropati Diabetik

Nefropatidbkhlsnm eituyagdnbmlrp(>3024j/)aiduklemsnr wt3pa6b.


Padnefropbtik5h:
pTahI:PdtinLFGmgkeysrbajl.Auinmtdekhbrasyol.Tnpimvedugh0-5tasjkwlnoiDMe.fpgdauksrhynt,bielfgdkjamnorbi.
pTahIi:derjstl5-10ungoDMk,waphbrtijleundLFGmsgkba.Arihynetlmjsd,kauonietblygmk.KradpsunHeitygbjrlahkpnu.Posvitedgambkyrnolh.Tpifsuegta(n)
pTahI:dnligwoefrmtkbuahny.pTisterjfl15-20uahdgnoDMk.Secristp,ljanbm oisguler.LFGhatpndk uygli,meat.Knpdbrh-uvogiesamnkdc ltearhnygk.
pTahIV:nuimkertsofbdacklingeprutydamsbi,nkrhegtLFGudamwibnorl.Iejsth15-20uadkgPybilnhpjma,sertouignflkdavsrmuo.Pgeithnaljypdrmbgeiukosah,ldntr.
pTahnVdi:IltgjsLFGuemkrnahdipjt-somurekdanlihytpg,smaunckojl.i
PadpDMeti2sgnokh,ubyamelirodnku,bsyaDMtelhrgn-um.Lipabkedlnrgsfutyaopikdb.eTn hs20-4%ariumeltjpdnfoy.SharLFGkmljunpebviscad,kt20huneliysr%damkgbtjenpihlr.

vi. Diabetes Mellitus


Diabetes

Mellitus

adalah

suatu

kelompok

penyakit

metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena


kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Tanda-tanda klasik dari diabetes yang tidak diobati adalah
hilangnya

berat

badan,

polyuria

(sering

berkemih),

polydipsia(sering haus), dan polyphagia (sering lapar).[8] Gejalagejalanya dapat berkembang sangat cepat (beberapa minggu atau
bulan saja) pada diabetes type 1, sementara pada diabetes type 2
biasanya berkembang jauh lebih lambat dan mungkin tanpa gejala
sama sekali atau tidak jelas.

Beberapa tanda-tanda lainnya dan gejala-gejalanya dapat


menunjukkan adanya diabetes, meskipun hal ini tidak spesifik
untuk diabetes. Mereka adalah pandangan yang kabur, sakit kepala,
fatigue, penyembuhan luka yang lambat, dan gatal-gatal. Tingginya
tingkat glukosa darah yang lama dapat menyebabkan penyerapan
glukosa pada lensa mata, yang menyebabkan perubahan bentuk,
dan perubahan ketajaman penglihatan. Sejumlah gatal-gatal karena
diabetes dikenal sebagai diabetic dermadromes.

vii. Hipertensi
Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah
diastolik dan sistolik yang intermiten atau menetap. Pengukuran
tekanan darah serial 150/95 mmHg atau lebih tinggi pada orang
yang berusia diatas 50 tahun memastikan hipertensi. Insiden
hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia (Stockslager ,
2008).
Hipertensi lanjut usia dibedakan menjadi dua hipertensi
dengan peningkatan sistolik dan diastolik dijumpai pada usia
pertengahan hipertensi sistolik pada usia diatas 65 tahun. Tekanan
diastolik meningkat usia sebelum 60 tahun dan menurun sesudah
usia 60 tahun tekanan sistolik meningkat dengan bertambahnya
usia (Temu Ilmiah Geriatri Semarang, 2008).
Hipertensi menjadi masalah pada usia lanjut karena sering
ditemukan menjadi faktor utama payah jantung dan penyakit
koroner. Lebih dari separuh kematian diatas usia 60 tahun
disebabkan oleh penyakit jantung dan serebrovaskuler. Hipertensi
pada usia lanjut dibedakan atas:
a. Hipertensi pada tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan atau tekanan sistolik sama atau lebih 90 mmHg.
b. Hipertensi sistolik terisolasi tekanan sistolik lebih besar dari

160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg


(Nugroho,2008).
Patofisiologi Hipertensi Lanjut Usia
Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan
meningkatnya umur. TDS meningkat secara progresif sampai
umur 70-80 tahun, sedangkan TDD meningkat samapi umur 5060

tahun

menurun.

dan

kemudian

Kombinasi

mencerminkan

cenderung menetap

perubahan

adanya

ini

atau

sangat

pengakuan pembuluh

sedikit
mungkin

darah`dan

penurunan kelenturan (compliance) arteri dan ini mengakibatkan


peningkatan tekanan nadi sesuai dengan

umur.( Rigaud dan

Forette, 2001)
Seperti

diketahui, takanan nadi merupakan predictok

terbaik dari adanya perubahan struktural di dalam arteri.


Mekanisme pasti hipertensi pada lanjut usia belum sepenuhnya
jelas. Efek

utama

dari

ketuaan

normal

terhadap

sistem

kardiovaskuler meliputi perubahan aorta dan pembuluh darah


sistemik. Penebalan dinding aorta dan pembuluh darah besar
meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai umur.
Perubahan ini menyebabkan penurunan compliance aorta dan
pembuluh darah besar dan

mengakibatkan

pcningkatan TDS.

Penurunan elastisitas pembuluh darah menyebabkan peningkatan


resistensi vaskuler perifer. Sensitivitas baroreseptor juga berubah
dengan umur.

Perubahan

mekanisme

refleks baroreseptor

mungkin dapat menerangkan adanya variabilitas tekanan darah


yang

terlihat pada

pemantauan

terus menerus. (Rigaud dan

Forette, 2001; Kuswardhany,2006)


Penurunan sensitivitas baroreseptor juga menyebabkan
kegagalan refleks postural, yang mengakibatkan hipertensi pada

lanjut

usia

sering terjadi

keseimbangan antara

hipotensi

vasodilatasi

ortostatik. Perubahan
adrenergic -

dan

vasokonstriksi adrenergik - akan menyebabkan kecenderungan


vasokontriksi

dan

selanjutnya

mengakibatkan peningkatan

resistensi pembuluh darah perifer dan tekanan darah. Resistensi


Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi juga
berperan

dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan

penurunan renin plasma dan respons renin terhadap asupan garam,


sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada
hipertensi pada lanjut usia. (Rigaud dan Forette, 2001)
Perubahan-perubahan

di

atas

bertanggung

jawab

terhadap penurunan curah jantung (cardiac output), penurunan


denyut jantung, penurunan kontraktilitas miokard, hipertrofi
ventrikel

kiri,

dan

disfungsi

diastolik.

Ini menyebabkan

penurunan fungsi ginjal dengan penurunan perfusi ginjal dan laju


filtrasi glomerulus.
d. Tatalaksana
i. Konsultasi Psikiatri
Kondisi geriatri yang harus dirujuk ke psikiater antara lain :
-

Terdapat masalah diagnostik serius


Risiko bunuh diri tinggi
Pengabaian diri serius
Agitasi, delusi, halusinasi berat
Tidak memberi tanggapan dan

pengobatan
Memerlukan tindakan/rawat inap

tidak

patuh

terhadap

ii. Rawat inap rumah sakit


Pasien disarankan untuk dirawat di Rumah Sakit karena
adanya beberapa penyakit pada pasien yang menyebabkan pasien
mengalami gangguan tidur. Kualitas tidur pasien pun menjadi
berkurang. Pasien membutuhkan perawatan yang baik untuk
mengobati penyakit yang mendasari gangguan tidur ini. Selain itu

pasien membutuhkan terapi farmakologis untuk penyakit metabolik


yang mendasari keluhan pasien.
iii. Rehabilitasi Medik
Rehabilitasi

medik

adalah

suatu

bentuk

pelayanan

kesehatan yang bertujuan untuk memulihkan atau mengoptimalkan


kemampuan seseorang setelah mengalami gangguan kesehatan
yang berakibat pada penurunan kemampuan fisik.
Tujuan Rehabilitasi Medik pada Usia Lanjut
1. Memberikan pelayanan rehabilitasi medik yang komprehensif.
2. Berperan dalam mempertahankan dan atau meningkatkan
kualitas hidup pasien (kesehatan, vitalitas, fisik, dan fungsi).
3.

Mencegah

atau

mengurangi

keterbatasan

(impairment),

hambatan (disability) dan kecacatan (handicap).


Tujuan pokok rehabilitasi para usia lanjut bukanlah untuk
mengembalikan peran mereka sebagai pencari nafkah, melaikan
bagaimana mempersiapkan mereka untuk dapat menikmati ruas
ahir dari kehidupannya dengan kemandirian yang maksimal.
1. Program Fisioterapi
a. Aktivitas di tempat tidur
Positioning, alih baring, latihan pasif dan aktif lingkup
gerak sendi.
b. Mobilisasi
Latihan bangun sendiri, duduk, transfer dari tempat tidur ke
kursi, berdiri, jalan
Melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, makan,
berpakaian.

2. Program okupasi terapi


Latihan ditujukan untuk mendukung aktifitas kehidupan
sehari-hari, dengan memberikan latihan dalam bentuk aktifitas,
permainan, atau langsung pada aktifitas yang diinginkan. Misal
latihan jongkok berdiri.
3. Program ortetik prostetik
Pada ortotis prostetis akan membuat alat penopang atau
alat pengganti bagian tubuh yang memerlukan sesuai dengan
kondisi penderita, misal pembuatan alat diusahakan dari bahan
yang ringan, model alat yang lebih sederhana sehingga mudah
di pakai.
4. Program terapi bicara
Program ini kadang kadang tidak selalu di tujukan
untuk latihan bicara saja, tetapi di perlukan untuk memberi
latihan pada penderita dengan gangguan fungsi menelan
apabila di temukan adanya kelemahan pada otot otot sekitar
tenggorok. Hal ini sering terjadi pada penderita stroke, dimana
terjadi kelumpuhan saraf fagus, saraf lidah, dll.
5. Program social medic
Petugas social medic memerlukan data pribadi maupun
keluarga yang tinggal bersama lansia, melihat bagaimana
struktur atau kondisi di rumahnya yang berkaitan dengan
aktifitas yang di butuhkan penderita, tingkat social ekonomi.
Misal seorang lansia yang tinggal dirumahnya banyak
tramp/anak tangga, bagaimana bisa di buat landai/pindah kamar
yang datar dan bisa deket dengan kamar mandi.
6. Program psikologi

Dalam

menghadapi

lansia

sering

kali

harus

memperhatikan keadaan emosionalnay yang mempunyai ciriciri yang khas pada lansia, misal apakah seorang yang tipe
agresif atau konstruktif. Untuk memberikan motifasi lansia
agar lansia mau melakukan latihan, mau berkomunikasi,
sosialisaai dan sebagainya.
vi.

Assesment pada geriatric


Pedoman untuk asesmen diagnosis pada geriatric meliputi :
1. Anamnesis, meliputi :
a. Identitas pasien, termasuk jumlah anak dan berapa orang
yang tinggal bersama pasien
b. Riwayat pemakaian obat
c. Penilaian system
d. Kebiasaan
e. Gangguan yang didapat
f. Kepribadian, meliputi perasaan hati, kesadaran, dan afek
g. Riwayat tentang sindrom geriatric
2. Pemeriksaan fisik. Karena gejala yang muncul pada geriatric
tidak khas dan seringkali tersembunyi, maka hamper semua
system harus kita periksa. Pemeriksaan-pemeriksaan yang
harus ada antara lain :
a. Tekanan darah
b. Pemeriksaan fisik untuk menilai system
3. Pemeriksaan tambahan. Ini adalah pemeriksaan tambahan yang
dianggap rutin pada asesmen geriatric di Negara maju
a. Foto toraks, EKG
b. Laboratorium :
Darah, feses, urin/feses
Gula darah, lipid, fungsi hati, fungsi ginjal
Fungsi tiroid
Kadar serum B6, B12
4. Pemeriksaan fungsi
a. Aktivitas hidup hidup sehari-hari (AHS) dasar, adalah
aktivitas hidup dasar seperti makan, minum, berpakaian
b. AHS instrumental, adalah aktivitas hidup sehari-hari yang
membutuhkan lebih banyak koordinasi kemampuan otot,

susunan syaraf, seperti mengangkat telepon, naik-turun


tangga
c. Kemampuan mental dan kognitif
Asesmen lingkungan. Bagaimana kondisi di sekitar
lingkungan rumah pasien, keadaan di rumah pasien, apakah
mendukung kesehatan dan penyembuhan pasien atau tidak
(Darmojo, 2014)

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A Kesimpulan
Berdasarkan hasil diskusi yang telah kami laksanakan dapat
disimpulkan bahwa Kakek Yoso menderita Infeksi Saluran Kemih akibat
inkontinensia urin. Selain itu, karena penyakit Diabetes Mellitus yang diderita,
tekanan darah Kakek Yoso menjadi tinggi karena komplikasi Nefropati
Diabetikum. Beberapa penyakit tersebut menjadikan kakek Yoso mengalami
depresi, ditambah masalah psikologis akibat meninggalnya sang istri.
B Saran
Beberapa saran untuk diskusi tutorial skenario 2 blok geriatri ini antara
lain dalam melakukan kegiatan diskusi tutorial, seharusnya kami lebih aktif
lagi dalam mengemukakan pendapat dan mencantumkan sumber informasi
yang dapat dipercaya berdasarkan prinsip Evidence Based Medicine (EBM)
setiap kali kami menyampaikan pendapat. Selain itu, kami sebaiknya dapat
menggunakan waktu secara efisien supaya waktu yang dialokasikan untuk
diskusi dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

DAFTAR PUSTAKA
Dorland WA, Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guyton AC, Hall JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC
Tortora, Gerard J. 2011. Principles of Anatomy and Physiology 13th Edition. New
Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Gunawan SG, Nafrialdi RS, Elysabeth (ed). 2011. Farmakologi dan Terapi Edisi
5. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Osman NI, Christopher R. Chapple. 2013. Focus On Nocturia In The Elderly.
Diakses dari : http://www.medscape.com/viewarticle/809746_6Sudoyo, Aru W et al. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.
Penerbit Buku Kedokteran IPD FK UI.