0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
314 tayangan43 halaman

REFERAT Antipsikotik

Dokumen tersebut membahas tentang antipsikotik, obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik seperti skizofrenia. Jenis-jenis antipsikotik dijelaskan beserta indikasi dan dosis penggunaannya."

Diunggah oleh

theresiaaquila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
314 tayangan43 halaman

REFERAT Antipsikotik

Dokumen tersebut membahas tentang antipsikotik, obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikotik seperti skizofrenia. Jenis-jenis antipsikotik dijelaskan beserta indikasi dan dosis penggunaannya."

Diunggah oleh

theresiaaquila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

ANTIPSIKOTIK

Dokter Pembimbing
Dr. Ayesha Devina, Sp. KJ

Disusun Oleh:
Richella Khansa Lauditta
030.12.229

Kepaniteraan Klinik Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Trisakti Jakarta
Rumah Sakit Jiwa dr. Soeharto Heerdjan Jakarta
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA : Richella Khansa Lauditta


NIM : 030.12.229
UNIVERSITAS : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

JUDUL REFERAT : Antipsikotik


BAGIAN : Ilmu Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Soeharto Heerdjan
PEMBIMBING : dr. Ayesha Devina, Sp. KJ

Jakarta, Desember 2017


Pembimbing

dr. Ayesha Devina, Sp. KJ

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya yang begitu besar
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah referat yang berjudul
Antipsikotik pada kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Dr. Soeharto
Heerdjan.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini,
terutama kepada dr. Ayesha Devina, Sp. KJ selaku pembimbing yang telah
memberikan waktu dan bimbingannya sehingga makalah referat ini dapat
terselesaikan.
Penulis berharap makalah referat ini dapat menambah pengetahuan dan
memahami lebih lanjut mengenai Antipsikotik serta salah satunya untuk memenuhi
tugas yang diberikan pada kepaniteraan klinik di RS Dr. Soeharto Heerdjan.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah referat ini masih banyaknya
kekurangan, oleh karena itu, segala kritik dan saran dari semua pihak yang
membangun guna menyempurnakan makalah ini sangat penulis harapkan. Demikian
yang penulis dapat sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai
pihak.

Jakarta, Desember 2017

Penulis

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Antipsikotik adalah antagonis dopamin dan menyekat reseptor dopamin


dalam berbagai jaras di otak. Obat antipsikotik baik tipikal maupun atipikal tentunya
memiliki efek samping yang perlu diketahui agar pengobatan klinis bisa efisien dan
sesuai dengan proporsi dan tentunya agar mencapai target terapi. Untuk itu kita harus
mengenali obat antipsikotik ini terlebih dahulu, karena selain manfaatnya,
antipsikotik juga mempunyai kerugian yang menyertainya.
Antipsikotik merupakan pengobatan yang terbaik untuk penyakit skizofrenia
dan penyakit psikotik lainnya. Antipsikotik digunakan secara klinis pada tahun
1950an, ketika Chlorpromazine(CPZ), turunan dari phenotiazine, telah disintetis di
Perancis. Walaupun dikembangkan sebagai potensial antihistamin, chlorpromazine
memiliki antipsikotik pada pemakaian klinis. CPZ digunakan sebagai model dalam
pengembangan antipsikotik , tapi semua generasi pertama (kecuali clozapine)
mempunyai efek yang menyebabkan gejala ekstrapiramidal berdasarkan atas
property utama, antagonis kuat dari reseptor dopamine D2. Sebagai tambahan
property antipsikotik, obat-obat ini memiliki fungsi lain, berdasarkan kemampuan
memblok reseptor Dopamin D2 (seperti antiemetic dan mengurangi beberapa
kelainan gerak yang ditandai dengan adanya gerakan yang berlebih). Antipsikotik
antagonis D2 disebut dengan tipikal, (untuk memisahkan dengan clozapine dan obat-
obat atipikal baru) yang mengurangi gejala ekstrapiramidal.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian
Sekelompok bermacam-macam obat yang menghambat reseptor dopamine
tipe 2 (D2) sering disebut sebagai antipsikotik. Indikasi utama untuk pemakaian obat
adalah terapi skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Kelas obat antipsikotik
adalah termasuk chlorpromazine, thioridazine, fluphenazine dan haloperidol.
Antipsikotik digunakan secara klinis ketika Chlorpromazine telah disintetis di
Perancis. Satu obat antipsikotik baru yaitu risperidone, telah dikenalkan di Amerika
serikat. Walaupun risperidone adalah antagonis reseptor D2 yang poten, ia memiliki
ciri farmakologis tambahan yang memberikan keuntungan terapeutik dan
memperbaiki profil efek samping, dibandingkan dengan antagonis reseptor dopamine
yang tersedia sebelumnya. 1
Antipsikotik dan antagonis reseptor dopamine tidak sepenuhnya sama.
Clozapine adalah suatu antipsikotik yang efektif tetapi berbeda dengan semua obat
karena memiliki aktivitas pada reseptor D2 yang kecil. Obat-obat ini dinamakan
sebagai neuroleptik dan transkuiliser mayor. Istilah neuroleptik menekankan efek
neurologis dan motorik dari sebagian besar obat. Perkembangan senyawa baru,
seperti risperidone dan remoxipine, yang disertai dengan efek neurologis yang sedikit
menyebabkan pemakaian istilah neuroleptik menjadi tidak akurat sebagai label
keseluruhan senyawa. Istilah transkuiliser mayor secara tidak akurat menekankan
bahwa efek primer dari obat adalah untuk mensedasi pasien dan dikacaukan oleh
obat yang disebut transkuiliser minor, seperti benzodiasepin.
Antispikotik atipikal terbaru, seperti klozapin, risperidon, olanzapin, dan
ziprasidon, mempunyai efek klinis yang lebih besar daripada antipsikotik kelas lain
dengan efek samping ekstrapiramidal akut yang minimal. 1,2,3
Penggunaan utama antipsikotik untuk skizofrenia, sindrom otak organik
dengan psikosis. Obat ini juga berguna untuk pasien yang mengalami ansietas berat
dan menyalahgunakan obat atau alkohol karena benzodiazepin dikontraindikasikan
bagi mereka. 1

2
II.2 Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome) : SINDROM PSIKOSIS
Butir-butir diagnostik Sindrom Psikosis 4
 Hendaya berat dalam kemampuan daya menilai realitas (reality testing
ability), bermanifestasi dalam gejala: kesadaran diri (awareness) yang
terganggu, daya nilai norma sosial (judgment) terganggu, dn daya tilikan diri
(insight) terganggu.
 Hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, bermanifestasi dalam gejala
POSITIF: gangguan asosiasi pikiran (inkoherensi), isi pikaran yang tidak
wajar (waham), gangguan persepsi (halusinasi), gangguan perasaan (tidak
sesuai dengan situasi), perilaku yang aneh atau tidak dapat terkendali
(disorganized), dan gejala NEGATIF: gangguan perasaan (afek tumpul,
respon emosi minimal), gangguan hubungan sosial (menarik diri, pasif,
apatis), gangguan prosses berfikir (lambat, terhambat), isi pikiran yang
stereotip dan tidak ada inisiatif, perilaku yang sangat terbatas dan cenderung
menyendiri (abulia).
 Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanisfestasi dalam
gejala: tidak mampu bekerja, menjalin hubugan sosial, dan melakukan
kegiatan rutin.

II.3 Jenis-Jenis Antipsikotik


No Nama obat
1 Antipsikotik tipikal :
- Phenothiazine
 Rantai aliphatic : chlorpromazine
 Rantai piperazine : perphenazine, trifluoperazine, fluphenazine
 Rantai piperidine : thioridazine
- Butyrophenone : Haloperidol
- Diphenyl-butyl-piperidine : pimozide
2 Antipsikotik atipikal :
- Benzamide : sulpiride
- Dibenzodiazepin : clozapine, olanzapine, quetiapine, zotepine
- Benzisoxazole : risperidon, aripiprazole

No Nama obat Sediaan Dosis anjuran

3
1 Chlorpromazine Tab 25-100 mg 150-600mg/h
Amp 50mg/2cc 50-100 mg(im) setiap 4-6 jam
Anak anak >5 tahun ½ dosis orang
dewasa, anak anak < 5 tahun 1
mg/kgBB . bila perlu diberikan 2x
sehari.

2 Haloperidol Tab 0,5-1,5 mg- 5 5-15 mg/h


mg 5-10mg(im) setiap 4-6 jam
Amp 5mg/cc 50 mg (im) setiap 2-4 minggu
Amp 50mg/cc
3 Perphenazine Tab 2-4-8 mg 12-24 mg/h
4 Fluphenazine Tab 2,5-5 mg 10-15 mg/h
Vial 25 mg/cc 25 mg(im) setiap 2-4 minggu
5 Trifluoperazine Tab 1-5 mg 10-15 mg/h
6 Thioridazine Tab 50-100 mg 150-300 mg/h
7 Sulpiride Amp 100mg/2cc 3-6 amp/h
Tab 200 mg 300-600mg/h
8 Pimozide Tab 4 mg 2-4 mg/h
9 Risperidone Tab 1-2-3 mg 2-6 mg/h
Vial 25 mg/cc 25-50 mg(im) setiap 2 minggu
Vial 50 mg/cc
10 Clozapine Tab 25-100 mg 25-100mg/h
11 Quetiapine Tab 25-100 mg 50-400 mg
200 mg
12 Olanzapine Tab 5-10mg 10-20 mg/h
13 Zotepine Tab 25-50 mg 75-100 mg/h
14 Aripiprazole Tab 10-15 mg 10-15 mg/h

II.3.1 ANTIPSIKOTIK GENERASI PERTAMA (APG I)


Obat antipsikotik yang ada di pasaran saat ini, dapat di kelompokkan dalam
dua kelompok besar yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik
generasi kedua (APG II). Antipsikotik generasi pertama mempunyai cara kerja
dengan memblok reseptor D2 khususnya di mesolimbik dopamine pathways, oleh
karena itu sering disebut juga dengan Antagonist Reseptor Dopamin (ARD) atau

4
antipsikotik konvensional atau tipikal.4 Dapat menurunkan gejala positif hingga 60-
70% dan hanya sedikit berpengaruh pada gejala negative.1,5
Mekanisme kerja : Mekanisme kerja obat antipsikotik tipikal adalah
memblokade dopamin pada reseptor pasca-sinaptik neuron di otak khusunya di
sistem limbik dan sistem ekstrapirimidal (dopamin D2 receptor antagonists),
sehingga efektif untuk gejala positif.
Dopamin merupakan neurotransmitter yang disekresikan oleh neuron-neuron
yang berasal dari substansia nigra di batang otak. Neuron-neuron ini terutama
berakhir pada region striata ganglia basalis. Pengaruh dopamin biasanya bersifat
inhibisi. Pada skizofrenia diduga terjadi produksi dopamin yang berlebihan akibat
sekresi dari sekelompok neuron proyeksi dopamine. Neuron-neuron ini
menghasilkan system dopaminergik mesolimbik yang menjulurkan serabut-serabut
saraf dan sekresi dopamine ke bagian medial dan anterior dari sistem limbik,
khususnya ke dalam hipokampus, amigdala, nukleus kaudatus anterior dan sebagian
lobus prefrontalis. Semua ini merupakan pusat-pusat pengatur tingkah laku yang
sangat berpengaruh. Dengan menggunakan antipsikotik tipikal dianggap mampu
mengurangi efek produksi dopamin yang berlebihan. Potensi antipsikotik untuk
menurunkan gejala psikotik sangat berhubungan dengan afinitas obat tersebut dengan
reseptor D2. Antipsikotik tipikal bekerja mengurangi produksi dopamine yang
berlebihan dengan cara menghambat atau mencegah dopamine endogen untuk
mengaktivasi reseptor.5,8
Antipsikotik tipikal mempunyai cara kerja dengan memblok reseptor D2
khususnya di mesolimbik dopamine pathways, oleh karena itu sering disebut juga
dengan antagonis reseptor dopamin (ARD) atau antipsikotik konvensional. Kerja dari
antipsikotik ini menurunkan hiperaktivitas dopamine dijalur mesolimbik sehingga
menyebabkan gejala positif menurun tetapi ternyata tidak hanya memblok reseptor
D2 di mesolimbik tetapi juga di tempat lain seperti dijalur mesokortikal, nigrostriatal,
dan tuberoinfundibular.1,5,8
Apabila antipsikotik tipikal memblok reseptor D2 dijalur mesokortikal, dapat
memperberat gejala negatif dan gejala kognitif disebabkan penurunan dopamin di
jalur tersebut. Jika hal ini terjadi, maka merupakan sebuah tantangan terapi, karena

5
blokade reseptor dopamin di jalur ini secara teoritis akan menyebabkan
memburuknya gejala negatif dan kognitif.5,8
Blokade reseptor D2 di nigrostriatal dapat menyebabkan timbulnya gangguan
dalam mobilitas seperti pada parkinson, bila pemakaian secara kronik dapat
menyebabkan gangguan pergerakan hiperkinetik (tardive dyskinesia). Jalur
nigrostriatal dopamin, sebagai bagian dari sistem saraf ekstrapiramidal, mengontrol
movements atau pergerakan.2,8
Blokade reseptor D2 di tuberoinfundibular oleh antipsikotik tipikal
menyebabkan peningkatan kadar prolaktin sehingga dapat terjadi disfungsi seksual
dan peningkat berat badan. Fungsi normal jalur dopamin tuberoinfundibular
menghambat pelepasan prolaktin. Pada wanita postpartum, aktivitas di jalur ini
menurun, sehingga memungkinkan laktasi.2,8
Antipsikotik selain menyebabkan terjadinya blokade reseptor D2 pada
keempat jalur dopamine, juga menyebabkan terjadinya blokade reseptor kolinergik
muskarinik sehingga timbul efek samping antikolinergik berupa mulut kering,
pandangan kabur, konstipasi dan kognitif tumpul. Reseptor histamin (H1) juga
terblok sehingga timbul efek samping mengantuk dan meningkatkan berat bdan.
Selain itu antipsikotik juga memblok reseptor alfa1 adrenergik sehingga dapat
menimbulkan efek samping pada kardiovaskuler berupa hipotensi ortostatic,
mengantuk, pusing, dan tekanan darah menurun.2,8

6
APG I mempunyai peranan yang cepat dalam menurunkan gejala positif
seperti halusinasi dan waham, tetapi juga menyebabkan kekambuhan setelah
penghentian pemberian APG I. 4
Kerugian pemberian APG I: 4
1. Mudah terjadi EPS dan tardive dyskinesia
2. Memperburuk gejala negatif dan kognitif
3. Peningkatan kadar prolaktin
4. Sering menyebabkan terjadinya kekambuhan

Keuntungan pemberian APG I adalah jarang menyebabkan terjadinya


Sindrom Neuroleptik Malignant (SNM) dan cepat menurunkan gejala negatif.4
APG I dapat dibagi berdasarkan potensi dan rumus kimia. Pembagian
berdasarkan potensi adalah potensi tinggi, sedang, dan rendah. Sedangkan
pembagian berdasarkan rumus kimia adalah phenotiazine dan non-phenotiazine.4
Potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg.
APG I potensi tinggi diantaranya adalah haloperidol, fluphenazine, trifluoperazine
dan thiothixine. Potensi anti dopaminergik tinggi, kemungkinan efek samping tinggi

7
seperti distonia, akatisia, dan parkinsonisme. Pengaruhnya terhadap tekanan darah
rendah.4
Potensi sedang bila dosis APG I yang digunakan antara 10- 50 mg. APG I
potensi sedang diantaranya perphenazine, loxapine dan molindone. Digunakan untuk
penderita yang sulit terhadap toleransi efek samping APG I potensi tinggi dan potensi
rendah.4
Potensi rendah bila dosis APG I yang digunakan lebih dari 50 mg. APG I
potensi rendah diantaranya adalah clorpromazine, thiridazine, dan mesoridazine.
Mempunyai efek samping sedasi, hipotensi ortostatik, lethargi dan gejala
antikolinergik meningkat berupa mulut kering retensi urine, pandangan kabur dan
konstipasi.4
Pembagian APG I bedasarkan rumus kimia: 5
1. Phenotiazine
 Rantai Aliphatic: Clorpromazine
 Rantai piperazine: Perphenazine, Trifluoperazine, fluphenazine.
 Rantai Piperidine: Thioridazine
2. Butyrophenoone: Haloperidol
3. Diphenyl-butyl-piperidine: Pimozide

CLORPROMAZINE (Largactil, Promactil, Cepezet)


Clorpromazine (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin.
Derivat fenotiazin lain di dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti
fenotiazin.6
Farmakodinamik: CPZ berefek farmakodinamik sangat luas. Largactil diambil dari
kata large action.6
Fatmakokinetik: pada umumnya semua fenotiazin di absorpsi baik bila diberikan
per oral maupun parenteral. Penyebaran luas ke semua jaringan dengan kadar
tertinggi di paru-paru, hati, kelenjar suprarenal dan limpa. Sebgaian fenotiazin
mengalami hidroksilasi dan konjugasi, sebagian lagi diubah menjadi sulfoksid yang
kemduian dieksresi bersama feses dan urin. Setelah pemberian CPZ dosis besar,
maka masih ditemukan eksresi CPZ atau metabolitnya selama 6-12 bulan.5
Indikasi (obat ini dapat di pakai) pada: 6,7,8

8
- Skizofrenia dengan gejala agitasi, ansietas, tegang, bingung, insomnia,
waham, halusinasi;
- Psikosis manik-depresif;
- Gangguan kepribadian
- Psikosis involusional
- Psikosis pada anak
- Dalam dosis rendah dapat digunakan untuk mual, muntah maupun cegukan
atau gangguan non psikosis dengan gejala agitasi tegang, gelisah, cemas dan
insomnia.

Dosis: 6,7,
- Dosis permulaan 25-100 mg/hari
- Dosis ditingkatkan sampai 300 mg/hari
- Bila gejala belum hilang dosis dapat ditingkatkan perlahan-lahan hingga 600-
900 mg/hari.

Cara pemberian : 6,7


- diberikan per-oral dengan dosis terbagi.
- untuk efek cepat dapat diberikan per injeksi (im) dengan penderita dalam
posisi berbaring (untuk mencegah timbulnya orthostatic hipotension yang
sering terjadi).

Efek samping : 6,7,8


- Lesu dan ngantuk.
- Hipotensi ortostatik.
- Mulut kering, hidung tersumbat, konstipasi dan amenore pada wanita

Kontra indikasi : 6,7,8


- Klorpromazine tidak boleh diberikan pada keadaan-keadaan :
- Koma.
- Keracunan alkohol, barbiturat dan narkotika.
- Hipersensitif (allergik).

9
TRIFLUOPERAZINE (Stelazine, Stelosi)
Indikasi : 7
- Skizofrenia.
- Psikosis paranoid (gangguan waham menetap).
- Psikosis manik-depresif.
- gangguan tingkah laku pada Retardasi Mental.

Dosis : 7
- dosis awal 2 – 3 x 2,5 mg.
- dosis pemeliharaan 3 x 5 – 10 mg.

Efek samping : 7
- Ngantuk, pusing lemas.
- Gangguan ekstra piramidalis.
- Occulogyric crisis.
- Hiperefleksi.
- Kejang-kejang grandmal.

Kontra indikasi : 7
- Depresi SSP.
- Koma.
- Gangguan liver.
- Dyscrasia darah.
- Hipersensitif.

FLUPHENAZINE
Untuk kasus-kasus akut diberikan Flupenazine HCl (anatensol) dalam bentuk
tablet dan injeksi. 4
Dosis :
- 2,5 – 10 mg / hari dengan dosis terbagi.
- Bila diperlukan dosis dapat dinaikkan sp 20 mg / hari.

10
Untuk kasus-kasus kronis diberikan Flupenazine decanoat (flupenazine
dilarutkan dalam minyak), sebagai long acting anti psychotic (berefek panjang) ---
Modecate injeksi(25 mg / amp). 4

Dosis : 4,7
- awal : 12,5 mg / 2 minggu.
- bila efek samping ringan/tidak ada, ditingkatkan 25 mg / 3 – 6 minggu.

Efek samping : 4,7,8


- Tersering gangguan estra piramidalis.
- Tardive diskinesia persistent.
- Ngantuk.
- Mimpi2 aneh.

Kontra indikasi : 4,7,8


- hipersensitif.
- Depresi SSP berat.

PERPHENAZINE (Trifalon)
Indikasi : 7
- Gejala positif Skizofrenia.
- Dalam dosis rendah digunakan untuk nausea, vomitus dan cegukan.

Dosis : 7
- 3 x 4 - 8 mg / hari.

Efek samping : 7
- Sering timbul gangguan ekstra piramidalis.
- Gangguan endokrin, seperti : laktasi meningkat, gnekomasti, menstruasi
terganggu, sukar eyakulasi.

Kontra indikasi : 7

11
- hipersensitif.
- Koma.
- Depresi berat.
- Gangguan liver.
- Gangguan darah.

THIORIDAZINE
Indikasi : 7
- Gejala positif Skizofrenia.
- Depresi dengan agitasi, ansietas dan afek hipotim.

Dosis : 7
- Awal (initial) : 3 x 50 – 100 mg / hari.
- Pemeliharaan (maintenance) : 200 – 800 mg / hari.

Efek samping : 7
- sedasi, mulut kering, gangguan akomodasi, vertigo, hipotensi ortostatik.
- Jarang timbul ganguan ekstra piramidalis.

Kontra indikasi : 7
- Koma.
- Depresi SSP berat.
- Diskrasia darh.
- Hipersensitif.

HALOPERIDOL
Haloperidol mempunyai afinitas yang kuat pada reseptor D 2, lebih lemah
antagonis reseptor kolinergik dan histamin. Kadar puncak plasma Haloperidol dalam
waktu 2-6 jam setelah pemberian oral dan dalam waktu 20 menit setelah pemberian
intramuskular. Waktu paruhnya antara 10-12 jam. Diekskresi dengan cepat melalui
urine dan tinja dan berakhir dalam 1 minggu setelah pemberian. 4

12
Secara farmakologi, struktur haloperidol berbeda dengan fenotiazin, tetapi
butirofenon memperlihatkan banyak sifat farmakologi fenotiazin. Pada orang normal,
efek haloperidol mirip fenotiazin piperazin. Haloperidol memperlihatkan antipsikotik
yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit manik deprsif dan skizofrenia. Efek
fenotiazin piperazin dan butirofenon berbeda secara kuantitatif keran butirofenon
selain menghambat efek dopamin, juga meningkatkan turn over rate nya. 6
Secara farmakokinetik, haloperidol cepat diserap dari saluran cerna. Kadar
puncaknya dalam plasma tercapai dalam waktu 2-6 jam sejak menelan obat, menetap
sampai 72 jam dan masih dapat ditemukan dalam plasma sampai berminggu-minggu.
Obat ini ditimbun dalam hati dan kira-kira 1% dari dosis yang diberikan diekskresi
melalui empedu. Eksresi haloperidol lambat melalui ginjal, kira-kira 40% obat
dikeluarkan selama 5 hari sesudah pemberian dosis tunggal. 6
Dosis Haloperidol dapat dimulai dari 1 atau 2 mg dengan pemberian 2 atau 3
kali per hari, kemudian peningkatan dosis disesuaikan dengan gejala yang belum
terkontrol, beberapa kepustakaan mengatakan dosis per hari yang efektif antara 5-20
mg. Pada pasien dengan efek samping mininal dan belum tercapai respon terapi,
dosis obat dapat ditingkatkan sampai dosis 30-40 mg per hari. Setelah pemberian
awal perlu dilakukan monitoring efikasi klinis, sedasi atau efek samping lainnya
yang mungkin timbul sehingga dapat dilakukan penyesuaian dosis atau penggantian
dengan antipsikotik lain. 4
Pada anak-anak atau usia lanjut dosis dapat diturunkan dan dapat dimulai
dengan 0,5-1,5 mg per hari dengan pemberian 2 atau 3 kali perhari. 4
Haloperidol decanoate (injeksi long acting) setelah disuntikan dilepas secara
lambat ke dalam pembuluh darah, sehingga pemberiannya tiap 3-4 minggu perkali,
karena waktu paruhnya panjang. 4
Kontraindikasi pemberian Haloperidol adalah pasien dalam keadaan koma,
depresi SSP yang disebabkan alkohol atau obat lain, sindrom parkinson, usia lanjut
dengan Parkinson Like Symptomps, wanita menyusui dan sesitif terhadap
Haloperidol. 2,4,6,7,8
Interaksi Haloperidol akan menghambat metabolisme antidepresan trisiklik,
dapat mengganggu efek antiparkinson dan levodopa, tekanan intra okuler bola mata

13
dapat terjadi apabila diberikan bersama dengan antikolinergik. Metabolisme
Haloperidol meningkat bila diberikan bersama dengan carbamazepine. 4
Efek samping yang paling sering adalah efek ekstrapirmidalis (EPS) seperti
parkinson like symptomps, akatisia, diskinesia, distonia, hyperreflexia, rigiditas,
opistotonus, dan kadang-kadanga krisi okulogirik. Efek samping yang lain adalah
tardive dyskinesia pada pemakaian haloperidol yang lama atau penghentian
haloperidol tiba-tiba. Efek samping lain yang ringan seperti sedasi dan autonomik.
Pemberian haloperidol dalam waktu lama dapat terjadi peningkatan berat badan dan
penurunan fungsi kognitif. 4,6

PIMOZIDE (Orap)
Indikasi : 5
- Gangguan skizofrenia kronik untuk memperbaiki sosialisasi.

Dosis : 2 – 8 mg / hari.

Efek samping : 7
- Jarang timbul gangguan ekstra piramidalis pada dosis terapeutik.

Kontra indikasi : 7
- Koma.
- Hipersensitif.
- Depresi endogen.
- Penyakit parkinson.

Obat antipsikotik tipikal biasanya menyebabkan gejala ekstrapiramidalis


(Sindrom Parkinsonisme): 2,5,9
- tremor (pada ektremitas dan lidah).
- kaku kuduk.
- hiper salivasi.
- rigiditas.

14
- jalan seperti robot, karena kaku otot tungkai.
- ekspresi muka monoton (muka topeng), karena kaku otot wajah.
- bicara pelo.

Bila terjadi Gangguan ekstra piramidalis (sindroma parkinsonisme), maka


pemberian obat distop dan diganti dengan obat lain atau dosis obat diturunkan. Bila
obat obat pengganti tidak tersedia atau obat tersebut sangat diperlukan, maka untuk
menghilangkan sindroma parkinsonisme diberikan obat-obat anti sindroma
parkinsonisme. Obat-obat anti Sindrom Parkinsonisme: 9
1. Triheksifenidil
Diberikan per-oral dengan dosis 3 x 2 – 4 mg / hari.
2. Dipenhidramin (benadryl)
Dapat diberikan per-oral atau per-enteral dengan dosis 50 – 100 mg / hari.
3. Sulfas atropin
dapat diberikan per-oral atau per-enteral
tablet 0,5 mg ; 3 x 1
injeksi 0,25 mg/amp. ; 3 x 1 amp.
4. Benzodiazepin.

Obat-obat APG I yang masih sering digunakan adalah Haloperidol,


Fluphenazine, Trifluoperazine dan Clorpromazine. Cara pemberian APG I dapat
secara per oral, injeksi short acting maupun injeksi long acting (depot). Injeksi shot
acting pemberiannya secara intramuscular (IM), biasanya digunakan untuk pasien
yang agitasi atau menolak minum obat.efek klinis cepat diperoleh setelah pemberian.
4

II.3.2 ANTIPSIKOTIK GENERASI KEDUA (APG II)


APG II sering disebut juga sebagai Serotonin Dopamin Antagosis (SDA) atau
antipsikotik atipikal. APG II mempunyai mekanisme kerja melalui interaksi anatar
serotonin dan dopamin pada ke 4 jalur dopamin di otak. Hal ini yang menyebabkan
efek samping EPS lebih rendah dan sanagat efektif untuk mengatasi gejala negatif.
Perbedaan antara APG I dan APG II adalah APG I hanya dapat memblok reseptor D 2

15
sedangkan APG II memblok secara bersamaan reseptor serotonin (5HT 2A) dan
reseptor dopamin (D2). APG yang dikenal saat ini adalah clozapine, risperidone,
olanzapine, quetiapine, zotepine, ziprasidone, aripiprazole. Saat ini antipsikotik
ziprasidone belum tersedia di Indonesia. 2,4
Kerja obat antipsikotik generasi kedua pada dopamin pathways: 4
1. Mesokortikal Pathways
Antagonis 5HT2A tidak hanya akan menyababkan berkurangnya blokade
terhadap antagonis D2 tetapi juga menyababkan terjadinya aktivitas dopamin
pathways sehingga terjadi keseimbangan antara keseimbangan antara
serotonin dan dopamin. APG II lebih berpengaruh banyak dalam memblok
reseptor 5HT2A dengan demikian meningkatkan pelepasan dopamin dan
dopamin yand dilepas menang daripada yang dihambat di jalur mesokortikal.
Hal ini menyebabkan berkurangnya gejala negatif maka tidak terjadi lagi
penurunan dopamin di jalur mesokortikal dan gejala negatif yang ada dapat
diperbaiki.
APG II dapat memperbaiki gejala negatif jauh lebih baik dibandingkan APG
I karena di jalur mesokortikal reseptor 5HT2A jumlahnya lebih banyak dari
reseptor D2, dan APG II lebih banyak berkaitan dan memblok reseptor 5HT2A
dan sedikti memblok reseptor D2 akibatnya dopamin yang di lepas jumlahnya
lebih banyak, karena itu defisit dopamin di jalur mesokrtikal berkurang
sehingga menyebabkan perbaikan gejala negatif skizofrenia.
2. Mesolimbik Pathways
APG II di jalur mesolimbik, antagonis 5HT2A gagal untuk mengalahkan
antagonis D2 di jalur tersebut. jadi antagonsis 5HT2A tidak dapat
mempengaruhi blokade reseptor D2 di mesolimbik, sehingga blokade reseptor
D2 menang. Hal ini yang menyababkan APG II dapat memperbaiki gejala
positif skizofrenia. Pada keadaan normal serotonin akan menghambat
pelepasan dari dopamin.
3. Tuberoinfundibular Pathways
APG II di jalur tuberoinfundibular, antagonis reseptor 5HT2A dapat
mengalahkan antagonis reseptor D2. Hubungan antara neurotransmiter
serotonin dan dopamin sifatnya antagonis dan resiprokal dalam kontrol
sekresi prolaktin dari hipofise. Dopamin akan menghambat pengelepasan

16
prolaktin, sedangkan serotonin menigkatkan pelepasan prolaktin. Pemberian
APG II dalam dosis terapi akan menghambat reseptor 5HT2A sehingga
menyebabkan pelepasan dopamin menigkat. Ini mengakibatkan pelepasan
prolaktin menurun sehingga tidak terjadi hiperprolaktinemia.
4. Nigrostriatal Pathways

APG II dalam klinis praktis, memiliki empat keuntungan, yaitu: 4


1. APG II menyebabkan EPS jauh lebih kecil dibandingkan APG I, umunya
pada dosis terapi sangat jarang terjadi EPS.
2. APG II dapat mengurangi gejala negatif dari skzofrenia dan tidak
memperburuk gejala negatif seperti yang terjadi pada pemberian APG II.
3. APG II menurunkan gejalan afektif dari skizofrenia dan sering digunakan
untuk pengobatan depresi dan gangguan bipolar yang resisten.
4. APG II menurunkan gejala kognitif pada pasien skizofrenia dan penyakit
Alzheimer.

Antipsikotik generasi kedua yang digunakan sebagai: 4


First line: Risperidone, Olanzapine, Quetiapine, Ziprasidone, Aripiprazole
Second line: Clozapine.
Obat antipsikotik yang sering digunakan ada 21 jenis yaitu 15 jenis berasal
dari APG I dan 6 jenis berasal dari APG II. Keuntungan yang didapatkan dari
pemakaian APG II selain efek samping yang minimal juga dapat memperbaiki gejala
negatif, kognitif dan mood sehingga mengurangi ketidaknyamanan dan
ketidakpatuhan pasien akibat pemakian obat antipsikotik. 4
Pemakaian APG II dapat meningkatkan angka remisi dan menigkatkan
kualitas hidup penderita skizofrenia karena dapat mengembalikan fungsinya dalam
masyarakat. Kualitas hidup seseorang yang menurun dapat dinilai dari aspek
occupational dysfunction, social dysfunction, instrumental skills deficits, self-care,
dan independent living. 4

CLOZAPINE
Merupakan APG II yang pertama dikenal, kurang menyebabkan timbulnya
EPS, tidak menyebabkan terjadinya tardice dyskinesia dan tidak terjadi peningkatan
dari prolaktin. Clozapine merupakan gold standard pada pasien yang telah resisten
dengan obat antipsikotik lainnya. Profil farmakoligiknya atipikal bila dibandingkan

17
dengan antipsikotik lain. Dibandingkan terhadap psikotropik yang lain, clozapine
menunjukkan efek dopaminergik rendah, tetapi dapat mempengaruhi fungsi saraf
dopamin pada sistem mesolimbik-mesokortikal otak, yang berhubungan dengan
fungsi emosional dan mental yang lebih tinggi, yang berbeda dari dopamin neuron di
daerah nigrostriatal (darah gerak) dan tuberoinfundibular (daerah neruendokrin). 4
Clozapine efektif untuk menggontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia
baik yang positif (iritabilitias) maupun yang negatif (social disinterest dan
incompetence, personal neatness). Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2
minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini
berguna untuk pasien yang refrakter dan terganggu berat selam pengobatan. Selain
itu, karena resiko efek samping EPS yang sangat rendah, obat ini cocok untuk pasien
yang menunjukkan gejala EPS yang berat bila diberikan antipsikosis yang lain.
Namun, karena clozapin memiliki efek resiko agranulositosis yang lebih tinggi
dibandingkan antipsikosis yag lain, maka pengunaannya di batasi hanya pada pasien
yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis lain. Pasien yang diberi
clozapine perlu di pantau sel darah putihnya setiap minggu. 4,6,10
Secara farmakokinetik, clozapine di absorpsi secara cepat dan sempurna pada
pemberian per oral. Kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah
pemberian obat. Clozapine secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini di
metabolisme hampir sempurna sebelum dieksresi lewat urin dan tinja (30% melaui
kantong empedu dan 50% melaui urine), dengan waktu paruh rata-rata 11,8 jam
6
sehingga pemberiannya dianjurkan 2 kali dalam sehari. Distribusi dari clozapine
dibandingkan obat antipsikotik lainnya lebih rendah. Umunya afinitas dari clozapine
rendah pada reseptor D2 dan tinggi pada reseptor 5HT2A sehingga cenderung rendah
untuk menyebabkan terjadinya efek samping EPS. Pada reseptor D 4 afinitasnya lebig
tinggi 10 kali lipat dibandingkan antipsikotik lainnya, dimana reseptor D4 terdapat
pada daerah korteks dan sedikit pada daerah srtiatal. Hal ini lah yang membedakan
clozapine dengan APG I. 4

Dosis : 4,7
- Hari 1 : 1 – 2 x 12,5 mg.

18
- Berikutnya ditingkatkan 25 – 50 mg / hari sp 300 – 450 mg / hari dengan
pemberian terbagi.
- Dosis maksimal 600 mg / hari.
- Sediaan yang ada di pasaran tablet 25 mg dan 100 mg

Efek samping : 4,7


- granulositopeni, agranulositosis, trombositopeni, eosinofilia, leukositosis,
leukemia.
- Ngantuk, lesu, lemah, tidur, sakit kepala, bingung, gelisah, agitasi, delirium.
- Mulut kering atau hipersalivasi, penglihata kabur, takikardi, postural
hipotensi, hipertensi.
- Dsb.

Kontra indikasi : 4,7


- Ada riwayat toksik/hipersensitif.
- Gangguan fungsi Sumsum tulang.
- Epilepsi yang tidak terkontrol.
- Psikosis alkoholik dan psikosis toksik lainnya.
- Intoksikasi obat.
- Koma.
- Kollaps sirkulasi.
- Depresi SSP.
- Ganguan jantung dan ginjal berat.
- Gangguan liver.

RISPERIDONE

Risperidone merupakan obat APG II yang kedua diterima oleh FDA (Food
and Drug Administration) sebagai antipsikotik setelah clozapine. Rumus kimianya
adalah benzisoxazole derivative. Absorpsi risperidone di usus tidak di pengaruhi oleh
makanan dan efek terapeutik nya terjadi dalam dosis rendah, pada dosis tinggi dapat
terjadi EPS. Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah terjadinya
kekambuhan dan menurunkan jumlah dan lama perawatan sehingga baik digunakan

19
dalam dosis pemeliharaan. Pemakaian riperidone masih diizinkan dalam dosis
sedang, setelah pemberian APG I dengan dosis yang kecil dihentikan, misalnya pada
pasien usia lanjut dengan psikosis, agitasi, gangguan perilaku yang di hubungkan
dengan demensia. 4

Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal di terapi dengan APG


I tetapi hasil pengobatannya tidak sebaik clozapine. Obat ini juga dapat memperbaiki
fungsi kognitif tidak hanya pada skizofrenia tetapi juga pada penderita demensia
misalnya demensia Alzheimer. 4

Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di hati oleh enzim CYP 2D6
menjadi 9-hydroxyrisperidone dan sebagian kecil oleh enzim CYP 3A4.
Hydroxyrisperiodne mempunyai potensi afinitas terhadap reseptor dopamin yang
setara dengan risperidone. Eksresi terutama melalui urin. Metabolisme risperiodne
dihambat oleh antidepresan fluoxetine dan paroxetine, karena antidepresan ini
menghambat kerja dari enzim CYP 2D6 dan CYP 3A4 sehingga pada pemberian
bersama antidepresan ini, maka dosis risperidone harus dikurangi untuk
meminimalkan timbulnya efek samping dan toksik. Metabolisme obat ini dipercepat
bila diberikan bersamaan carbamazepin, karena menginduksi CYP 3A4 sehingga
perlu peningkatan dosis risperidone pada pemberiaan bersama carbamazepin
disebabkan konsentrasi risperidone di dalam plasma rendah. 4
Indikasi : 4,7
- Skizofrenia akut dan kronik dengan gejala positif dan negatif.
- Gejala afektif pada skizofrenia (skizoafektif).

Dosis : 4,7
- Hari 1 : 1 mg, hari 2 : 2mg, hari 3 : 3 mg.
- Dosis optimal - 4 mg / hari dengan 2 x pemberian.
- Pada orang tua, gangguan liver atau ginjal dimulai dengan 0,5 mg,
ditingkatkan sp 1 – 2 mg dengan 2 x pemberian.
- Umunya perbaikan mulai terlihat dalam 8 minggu dari pengobatan awal, jika
belum terlihat respon perlu penilaian ulang.
- Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral.

20
Efek samping: 4,7
- EPS
- Peningkatan prolaktin (ditandai dengan gangguan menstruasi, galaktorea,
disfungsi seksual)
- Sindroma neuroleptik malignan
- Peningkatan berat badan
- Sedasi
- Pusing
- Konstipasi
- Takikardi

OLANZAPINE
Merupakan derivat dari clozapine dan dikelompokkan dalam golongan
Thienobenzodiazepine. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Plasma puncak
olanzapine dicapai dalam waktu 5-6 jam setalah pemberian oral, sedangkan pada
pemberian intramuskular dapat dicapai setelah 15-45 menit dengn waktu paruh 30
jam (antara 21-54 jam) sehingga pemberian cukup 1 kali sehari. 4
Olanzapine merupaka antagonis monoaminergik selektif yang mempunyai
afinitas yang kuat terhadap reseptor dopamin (D 1-D4), serotonin (5HT2A/2c), Histamin
(H1) dan α1 adrenergik. Afinitas sedang dengan reseptor kolinergik muskarinik (M1-5)
dan serotonin (5HT3). Berikatan lemah dengan reseptor GABAA, benzodiazepin dan
β-adrenergik. Metabolisme olanzapine di sitokrom P450 CYP 1A2 dan 2D6.
Metabolisme akan meningkat pada penderita yang merokok dan menurun bila
diberikan bersama dengan antidepresan fluvoxamine atau antibiotik ciprofloxacin.
Afinitas lemah pada sitokrom P450 hati sehingga pengaruhnya terhadap metabolisme
obat lain rendah dan pengaruh obat lain minimal terhadap konsentrasi olanzapine. 4
Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada penderita usia lanjut.
Cleareance 30% lebih rendah pada wanita dibanding pria, hal ini menyebabkan
terjadinya perbedaan efektivitas dan efek samping anatar wanita dan pria. Sehingga
perlu modifikasi dosis yang lebih rendah pada wanita. Cleareance olanzapine
meningkat sekitar 40% pada perokok dibandingkan yang tidak merokok, sehingga
perlu penyesuaian dosis yang lebih tinggi pada penderita yang merokok. 4

Indikasi : 4,7

21
- Sizofrenia atau psikosis lain dengan gejala positive dan negatif.
- Episode manik moderat dan severe.
- Pencegahan kekambuhan gangguan bipoler.

Dosis : 4,7
- Untuk skizofrenia mulai dengan dosis 10 mg 1 x sehari.
- Untuk episode manik mulai dengan dosis 15 mg 1 x sehari.
- Untuk pecegahan kekambuhan gangguan bipolar 10 mg / hari.

Efek samping: 4,7


- Penigkatan berat badan
- Somnolen
- Hipotensi ortostatik berkaitan dengan blokade reseptor α1
- EPS dan kejang rendah
- Insiden tardive dyskinesia rendah

QUETIAPINE

Struktur kimia yang mirip dengan clozapine, masuk dalam kelompok


dibenzothiazepine derivates. Absorpsinya berlangsung cepat setelah pemberian oral,
konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1,5 jam setelah pemberian.
Metabolisme terjadi di hati, pada jalur sulfoxidation dan oksidasi menjadi metabolit
tidak aktif dan waktu paruhnya 6 jam. 4

Quetiapine merupaka antagonis reseptor serotonin (5HT1A dan 5HT2A),


reseptor dopamin (D1 dan D2), reseptor histamin (H1), reseptor adrenergik α1 dan α2.
Afinitasnya lemah pada reseptor muskarinik (M1) dan reseptor benzodiazepin.
Cleareance quetiapine menurun 40% pada penderita usia lanjut, sehinga perlu
penyesuaian dosis yang lebih rendah dan menurun 30% pada penderita yang
mengalami gangguan fungsi hati. Cleareance quetiapine meningkat apabila
pemberiannya dilakukan bersamaan dengan antiepileptik fenitoin, barbiturat,
carbamazepin dan antijamur ketokonazole. 4

22
Quetiapine dapat memperbaiki gejala positif, negatif, kognitif dan mood.
Dapat juga memperbaiki pasien yang resisten dengan antipsikotik generasi pertama
tetapi hasilnya tidak sebaik apabila di terapi dengan clozapine. Pemberian pada
pasien pertama kali mendapat quetiapine perlu dilakukan titrasi dosis untuk
mencegah terjadinya sinkope dan hipotensi postural. Dimulai dengan dosis 50 mg
per hari selama 4 hari, kemudian dinaikkan menjadi 100 mg selama 4 ahri, kemudian
dinaikkan lagi menjadi 300 mg. Sete;ah itu dicari dosis efektif antara 300-450
mg/hari. Efek samping obat ini yang sering adalah somnolen, hipotensi postural,
pusing, peningkatan berat badan, takikardi, dan hipertensi. 4

ZIPRASIDONE

APG II dengan struktur kimia yang baru, obai ini belum tersedia di Indonesia.
Ziprasidone merupakan antipsikotik dengan efek antagonsis antara reseptor 5HT2A
dan D2. Berinteraksi juga denga reseptor 5HT2C, 5HT1D dan 5HT1A, afinitasnya pada
reseptor ini sama atau lebih besar dari afinitas pada reseptor D 2. Afinitas sedang pada
reseptor histamin dan α1. Ziprasidone tidak bekerja pada muskarinik (M1). 4

Ziprasidone juga antipsikotik yang mempunyai mekanisme kerja yang unik


karena menghambat pengambilan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin dan
norepineprine di sinaps. Obat ini efektif digunakan untuk gejala negatif dan penderita
yang refrakter dengan antipsikotik. Obat ini aman diberikan pada penderita usia
lanjut. 4

Absorpsi ziprasidone akan meningkat dengan adanya makan, tetapi tidak


dipangruhi oleh usia, jenis kelamin, gangguan fungsi hati atau ginjal. Konsentrasi
plasma puncak dicapai dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian oral denga waktu
paruh obat rata-rata 5-10 jam, sehingga pemberiannya 2 kali sehari. Metabolsime
ziprasidone melalui hati, sebagian besar pada isoenzim CYP 3A4 dan sebagian kecil
di CYP 1A2. Mekanisme kerja farmakologik diperkirakan pro-serotonergik dan pro-
noradregenik sehingga di prediksi dapat bekerja sebagai antidepresan dan ansiolitik.

23
Efikasi dari ziprasidone terjadi pada dosis 80-160 mg/hari, untuk pengobatan
terhadap gejala positif, negatif, dan depresif pada pasien skizofrenia. 4

Dosis intial yang aman diberikan tanpa dosis titrasi adalah sebesar 40 mg
perhari. Pemberiannya akan semakin efektif bila bersamaan dengan makanan. Dosis
pemeliharaan berkisar antara 40-60 mg per hari. 4

Terjadinya efek samping EPS rendah dan tidak terjadi peningkatan kadar
prolaktin. Efek samping yang dijumpai selama uji klinis adalah somnolen (14%),
peningkatan berat badan (10%), gangguan pernafasan (8%), EPS (5%), dan bercak-
bercak merah di kulit (4%). Peningkatan berat badan sangat kecil atau dapat dikatan
tidak ada, karena bekerja sangat lemah pada reseptor AH1 walaupun bekerja juga
sebagai antagonis pada reseptor 5HT2c. Ziprasidone tidak menyebabkan gangguan
jantung. 4

ARIPIPRAZOLE

Merupakan antipsikotik generasi baru, yang bersifat partial agonis pada


reseptor D2 dan reseptor serptonin 5HT1A serta antagonis pada reseptor serotonin
5HT2A. Aripiprazole bekerja sebagai dopamin sistem stabilizer artinya menghasilkan
signal transmisi dopamin yang sama pada keadaan hiper atau hipo-dopaminergik
karena pada keadaan hiperdopaminergik aripiprazole afinitasnya lebih kuat dari
dopamin akan mengeser secara kompetitif neurotransmiter dopamin dan berikatan
dengan reseptor dopamin. Pada keadaan hipodopaminergik maka aripiprazole dapat
menggantikan peran neurotransmiter dopamin dan akan berikatan dengan reseptro
dopamin. 4

Aripiprazole di metabolisme di hati melaui isoenzim P450 pada CYP 2D6


dan CYP 3A4, menjadi dehydro-aripiprazole. Afinitas dari hasil metabolisme ini
mirip dengan aripiprazole pada reseptor D2 dan berada di plasma sebesar 40% dari
keseluruhan aripiprazole. Waktu paruh berkisar antara 75-94 jam sehingga pemberian
cukup 1 kali sehari. Absorpsi aripiprazole mencapai konsentrasi plasma ouncak
dalam waktu 3-5 jam setelah pemberian oral. Aripiprazole sebaiknya diberikan

24
sesudah makan, terutama pada pasien yang mempunyai keluhan dispepsia, mual dan
muntah. 4

Indikasi :
- Skizofrenia.

Dosis :
- 10 atau 15 mg 1 x sehari.

Efek samping :
- Sakit kepala.
- Mual, muntah.
- Konstipasi.
- Ansietas, insomnia, somnolens.
- Akhatisia.

II. 4 INTERAKSI OBAT 5


 Antipsikosis + Antipsikosis lain = potensi efek samping obat dan tidak ada
bukti lebih efektif (tidak ada sinergis antara 2 obat anti-psikosis). Misalnya,
Chlorpromazine + Reserpine = potensiasi efek hipotensif.
 Antipsikosis + Antidepresan trisiklik = efek samping antikolinergik
meningkat (hati-hati pada pasien dengna hipertrofi prostat, glaukoma, ileus,
penyakit jantung).
 Antipsikosis + anti-anxietas = efek sedasi meningkat, bermanfaat untuk kasus
dengan gejala dan gaduh gelisah yang sangat hebat (acute adjunctive
therapy).
 Antispikosis + ECT = dianjurkan tidak memberikan obat anti-psikosis pada
pagi hari sebelum ECT (Electro Convulsive Therapy) oleh karena angka
mortalitas yang tinggi.
 Antipsikosis + antikonvulsan = ambang konvulsi menurun, kemungkinan
serangan kejang meningkat, oleh karena itu dosis antikonvulsan harus lebih
besar (dose-related). Yang paling minimal menurunkan ambang kejang
adalah obat anti-psikosis Haloperidol.

25
 Antipsikosis + Antasida = efektivitas obat antu-psikosis menurun disebabkan
gangguan absorpsi.

II.5 CARA PENGGUNAAN


Pemilihan Obat

Pada dasarnya semua obat anti-psikosis mempunyai efek primer (efek klinis)
yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan terutama pada efek sekunder
(efek samping ; sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). 5
Anti-psikosis Mg. Dosis (Mg/h) Sedasi Otonomik Eks.Pir.
Eq
Chlopromazine 100 150 - 1600 +++ +++ ++
Thioridazine 100 100 - 900 +++ +++ +
Perphenazine 8 8 - 48 + + +++
Trifluoperazine 5 5 - 60 + + +++
Fluphenazine 5 5 - 60 ++ + +++
Haloperidol 2 2 - 100 + + ++++
Pimozide 2 2 - 6 + + ++
Clozapine 25 25 - 200 ++++ + -
Zotepine 50 75 - 100 + + +
Sulpiride 200 200 - 1600 + + +
Risperidone 2 2 - 9 + + +
Quetiapine 100 50 - 400 + + +
Olanzapine 10 10 - 20 + + +
Aripiprazole 10 10 - 20 + + +

Pemilihan jenis obat anti-psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang
dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis
ekivalen.

Apabila obat anti-psikosis tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang
sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat
anti-psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis
ekivalen-nya, dimana profil efek samping belum tentu sama.

Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti-psikosis sebelumnya, jenis obat
anti-psikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik
efek samping-nya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang.

Apabila gejala negatif (afek tumpul, penarikan diri, hipobulia, isi pikiran
miskin) lebih menonjol dari gejala positif (waham, halusinasi, bicara kacau,
perilaku tak terkendali) pada pasien Skizofrenia, pilihan obat antipsikosis –

26
atipikal perlu dipertimbangkan. Khususnya pada penderita Skizofrenia yang
tidak dapat mentolerir efek samping ekstrapiramidal atau mempunyai risiko
medik dengan adanya gejala ekstrapiramidal (neuroleptic induced medical
complication).

Pengaturan Dosis
Dalam pengaturan dosis perlu dipertimbangkan : 5
 Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2 – 4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2 – 6 jam.
 Waktu paruh : 12 – 14 jam (pemberian obat 1-2 x perhari).
 Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak dari efek
samping (dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu
mengganggu kualitas hidup pasien.
Mulai dengan “dosis awal” sesuai dengan “dosis anjuran”, dinaikkan setiap
2-3 hari  sampai mencapai “dosis efektif” (mulai timbul peredaran
Sindrom Psikosis)  dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan 
“dosis optimal”  dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) 
diturunkan setiap 2 minggu  “dosis maintenance”  dipertahankan 6
bulan sampai 2 tahun (diselingi “drug holiday” 1-2 hari/minggu)  tapering
off (dosis diturunkan tiap 2-4 minggu)  stop.

Lama Pemberian
Untuk pasien dengan serangan Sindrom Psikosis yang “multi episode”, terapi
pemeliharaan (maintenance) diberikan paling sedikit selama 5 tahun. Pemberian
yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 – 5 kali.
Efek obat anti-psikosis secara relatif berlangsung lama, sampai beberapa hari
setelah dosis terakhir masih mempunyai efek klinis. Sehingga tidak langsung
menimbulkan kekambuhan setelah obat dihentikan, biasanya satu bulan kemudian
baru gejala Sindrom Psikosis kambuh kembali.
Hal tersebut disebabkan metabolisme dan ekskresi obat sangat lambat,
metabolit-metabolit masih mempunyai keaktifan anti-psikosis.
Pada umumnya pemberian obat anti-psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3
bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk

27
“Psikosis Reaktif Singkat” penurunan obat secara bertahap setelah hilangnya gejala
dalam kurun waktu 2 minggu – 2 bulan.
Obat anti psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun
diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil
sekali.
Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala “Cholinergic Rebound”
: gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing, gemetar dan lain-lain. Keadaan
ini akan mereda dengan pemberian “anticholinergic agent” (injeksi Sulfas Atropin
0,25 mg (im), tablet Trihexyphenidyl 3x 2 mg/h).
Oleh karena itu pada penggunaan bersama obat anti-psikosis + antiparkinson,
bila sudah tiba waktu penghentian obat, obat antipsikosis dihentikan lebih dahulu,
kemudian baru menyusul obat antiparkinson. 5
Penggunaan Parenteral
Obat anti-psikosis “long acting” (Fluphenazine Decanoate 25 mg/cc atau
Haloperidol Decanoas 50 mg/cc, im, setiap 2 – 4 minggu sangat berguna untuk
pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat atau apapun yang tidak efektif
terhadap medikasi oral.
Sebaiknya sebelum penggunaan parenteral diberikan secara oral lebih dahulu
beberapa minggu untuk melihat apakah terdapat efek hipersensitivitas.
Dosis mulai dengan ½ cc setiap 2 minggu pad bulan pertama kemudian bau
ditingkatkan menjadi 1 cc setiap bulan.
Pemberian obat anti psikosis “long acting” hanya untuk terapi stabilisasi dan
pemeliharaan (maintenance therapy) terhadap kasus Skizofrenia. 15 – 25 % kasus
menunjukkan toleransi yang baik terhadap efek samping ektrapiramidal. 5
II.6 EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK
a. Gejala Ekstrapiramidal (Extrapyramidal syndrome)
Gejala ekstrapiramidal (EPS) mengacu pada suatu gejala atau reaksi yang
ditimbulkan oleh penggunaan jangka pendek atau panjang dari medikasi
antipsikotik golongan tipikal. Obat antipsikotik tipikal yang paling sering
memberikan efek samping gejala ekstrapiramidal yakni Haloperidol,
Trifluoperazine, Perphenazine, Fluphenazine, dan dapat pula oleh
Chlorpromazine. Namun lebih sering diakibatkan oleh obat dengan potensial
tinggi yang memiliki afinitas yang kuat pada reseptor muskarinik. 1 Gejala

28
bermanifestasikan sebagai gerakan otot skelet, spasme atau rigitas, tetapi
gejala-gejala itu diluar kendali traktus kortikospinal (piramidal).
Gejala ekstrapiramidal sering di bagi dalam beberapa kategori yaitu reaksi
distonia akut, tardive diskinesia, akatisia, dan sindrom Parkinson.
 Reaksi distonia akut
Merupakan spasme atau kontraksi involunter satu atau lebih otot
skelet yang timbul beberapa menit. Kelompok otot yang paling sering
terlibat adalah otot wajah, leher, lidah atau otot ekstraokuler,
bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria bicara, krisis okulogirik, sikap
badan yang tidak biasa hingga opistotonus (melibatkan keseluruhan otot
tubuh). Hal ini akan mengganggu pasien, dapat menimbulkan nyeri hingga
mengancam kehidupan seperti distonia laring atau diafragmatik. Reaksi
distonia akut sering terjadi dalam satu atau dua hari setelah pengobatan
dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja. Terjadi pada kira-kira 10% pasien,
lebih lazim pada pria muda, dan lebih sering dengan neuroleptik dosis
tinggi yang berpotensi tinggi, seperti haloperidol, trifluoperazine dan
flufenazine.
 Akatisia
Manifestasi berupa keadaan gelisah, gugup atau suatu keinginan
untuk tetap bergerak, atau rasa gatal pada otot. Pasien dapat mengeluh
karena anxietas atau kesukaran tidur yang dapat disalah tafsirkan sebagai
gejala psikotik yang memburuk. Sebaliknya, akatisia dapat menyebabkan
eksaserbasi gejala psikotik akibat perasaan tidak nyaman yang ekstrim.
Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifestasi fisik lain dari akatisisa
hanya dapat ditemukan pada kasus yang berat.
 Sindrom Parkinson
Terdiri dari akinesia, tremor, dan bradikinesia. Akinesia meliputi
wajah topeng, jedaan dari gerakan spontan, penurunan ayunan lengan pada
saat berjalan, penurunan kedipan, dan penurunan mengunyah yang dapat
menimbulkan pengeluaran air liur. Pada bentuk yang yang lebih ringan,
akinesia hanya terbukti sebagai suatu status perilaku dengan jeda bicara,

29
penurunan spontanitas, apati dan kesukaran untuk memulai aktifitas
normal, kesemuanya dapat dikelirukan dengan gejala skizofrenia negatif.
Tremor dapat diteukan pada saat istirahat dan dapat pula mengenai rahang.
Gaya berjalan dengan langkah yang kecil dan menyeret kaki diakibatkan
karena kekakuan otot.
 Tardive diskinesia
Disebabkan oleh defisiensi kolinergik yang relatif akibat supersensitif
reseptor dopamine di puntamen kaudatus. Merupakan manifestasi gerakan
otot abnormal, involunter, menghentak, balistik, atau seperti tik yang
mempengaruhi gaya berjalan, berbicara, bernapas, dan makan pasien dan
kadang mengganggu. Faktor predisposisi dapat meliputi umur lanjut, jenis
kelamin wanita, dan pengobatan berdosis tinggi atau jangka panjang.
Gejala hilang dengan tidur, dapat hilang timbul dengan berjalannya waktu.

b. Sindrom Neuropleptik Maligna


Sindrom neuroleptik maligna merupakan gabungan dari hipertermia,
rigiditas, dan disregulasi autonomik yang dapat terjadi sebagai komplikasi
serius dari penggunaan obat antipsikotik. Sindrom ini pertama kali dikenal
tahun 1960 setelah observasi pasien yang diberikan obat antipsikotik
potensial tinggi.
Mekanisme antipsikotik sehingga dapat menyebabkan SNM
berhubungan dengan sifat antagonism obat terhadap reseptor D-2 dopamine.
Blokade pusat reseptor D-2 pada hipotalamus, jalur nigrostriatal, dan di
medulla spinalis menyebabkan terjadinya peningkatan rigiditas otot dan
tremor berkaitan yang dengan jalur ekstrapiramidal. Blockade reseptor D2
hipotalamus juga menghasilkan peningkatan titik temperatur dan gangguan
mekanisme pengaturan panas tubuh. Sementara itu efek antipsikotik di perifer
tubuh menyebabkan peningkatan pelepasan kalsium dari retikulum
sarkoplasma sehingga terjadi peningkatan kontraktilitas yang juga dapat
berkontribusi dalam terjadinya hipertermia, rigiditas, dan penghancuran sel
otot.

30
Semua golongan antipsikotik dapat menyebabkan sindrom neuroleptik
maligna baik neuroleptik potensial rendah maupun potensial tinggi.
Berdasarkan penelitian SNM lebih sering ditemukan pada pasien yang
mengkonsumsi haloperidol dan chlorpromazine. Antipsikotik atipikal yang
terbaru walaupun tidak diklasifikasikan secara akurat sebagai golongan
neuroleptik juga dapat mengakibatkan sindrom ini. Contoh obat antipsikotik
atipikal yang juga dapat menyebabkan sindrom neuroleptik maligna (SNM)
seperti olanzapine, risperidone, ziprasidone, dan quetiapine.
Faktor resiko yang berhubungan erat dengan kejadian SNM yakni
penggunaan antipsikosis dosis tinggi, waktu yang singkat dalam menaikkan
dosis pengobatan, penggunaan injeksi antipsikotik kerja lama, kondisi pasien
yang mengalami dehidrasi, kelelahan, dan agitasi. Selain itu pada pasien yang
telah mengalami SNM juga memiliki resiko tinggi untuk terjadi SNM
rekurens.
Secara epidemiologi belum terdapat adanya penelitian mengenai
kejadian SNM yang berhubungan dengan suku. Namun penelitian di Cina
menunjukkan terdapat insidens 0,12% dari pasien yang menggunakan obat
neuroleptik sementara di India terdapat 0.14%. SNM dapat terjadi kapan pun
dari waktu pengobatan dan resiko kejadian meningkat pada pasien yang
berusia kurang dari 40 tahun. Namun 2/3 kasus terjadi pada minggu pertama
setelah pemberian obat. Angka kematian sekitar 10-20% dan umumnya resiko
kematian meningkat bila pasien telah mengalami nekrosis sel-sel otot yang
menyebabkan rhabdomyolisis.

Gambaran gejala klinis SNM dapat berupa :



Disfagia

Resting tremor

Inkontinensia

Delirium yang berkelanjutan pada letargi, stupor hingga koma (level
kesadaran yang fluktuatif)

Tekanan darah yang labil/berubah-ubah

31

Sesak nafas, takipnea

Agitasi psikomotrik

Takikardia dan hipertermia (demam tinggi)

Rigiditas
Pemeriksaan laboratorium pada pasien dengan SNM memperlihatkan
peningkatan Kreatinin kinase (CK) akibat penghancuran dan nekrosis sel-sel
otot, peningkatan aminotransferase (aminotransferasi aspartat/GOT dan
aminotransferasealanine/GPT), peningkatan Laktat dehidrogenase (LDH)
yang juga menggambarkan terjadinya nekrosis dan dapat dengan cepat
berkembang menjadi rhabdomyolisis yang memberikan hasil laboratorium
hiperkalemia, hiperfosfatemia, hiperurisemia, dan hipokalsemia. Selain itu
bila terdapat peningkatan kadar myoglobin dalam darah atau myoglobinuria
merupakan tanda terjadinya kegagalan ginjal. Sementara untuk pemeriksaan
darah rutin dapat ditemukan leukositosis, trombositosis, dan tanda-tanda
dehidrasi.

c. Gangguan fungsi kognitif


Terdapat konsensus bahwa antipsikotik yang bersifat antimuskarinik kuat
dapat mengganggu fungsi memori. Gangguan untuk memusatkan perhatian,
menyimpan memori, dan memori semantik yang mungkin memang terdapat
pada pasien skizofrenia di episode awal penyakit dapat menjadi lebih berat.
Selain itu kemampuan memecahkan masalah sosial, keterampilan sosial juga
memperlihatkan penurunan.

d. Efek hormonal
Obat psikotik tipikal yang digunakan dalam jangka waktu yang
panjang dapat menyebabkan peningkatan produksi hormon prolaktin
terutama pada wanita.
Blokade pada traktur tuberoinfundibular yang terproyeksikan ke
hipotalamus dan kelenjar hipofisis mengakibatkan berbagai efek samping
neuroendokrine, yakni peningkatan pelepasan hormone prolaktin .

32
Prolaktin serum yang meningkat dapat mempengaruhi fungsi seksual
pada wanita maupun pria yang dapat bermanifestasi sebagai galaktorrhea,
amenorrhea dan poembesaran payudara pada wanita, gangguan fungi ereksi
dan pencapaian orgasme, gangguan libido, impotensi, dan ginekomasti pada
pria.

e. Efek samping pada sistem lainnya



Efek lain antipsikotik tipikal seperti efek antikolinergik baik sentral
maupun perifer melalui blokade reseptor muskarinik. Gejala pada efek
sentral seperti agitasi yang berat, disorientasi waktu, tempat dan orang,
halusinasi, dan dilatasi pupil. Sedangkan efek perifer antikolinergik
berupa mulut dan hidung yang kering umumnya dilaporkan pada pasien
dengan pengobatan antipsikotik tipikal potensi rendah, contohnya
chlorpromazine dan mesoridazine. Efek antikolinergik autonomik lainnya
seperti konstipasi.

Fotosensitivitas dapat terjadi pada pasien yang mengkonsumsi golongan
potensi rendah seperti chlorpromazine sehingga pasien perlu
diinstruksikan untuk berhati-hati ketika terpapar sinar matahari. Selain itu
dermatitis alergi dapat terjadi di awal pengobatan.

Efek sedasi terjadi akibat mekanisme hambatan reseptor histamine H 1
yang mungkin akan berpengaruh dalam pekerjaan bila pasien merupakan
orang yang masih aktif bekerja. Akibat inhibisi psikomotorik menjadikan
aktivitas psikomotorik menurun, kewaspadaan berkurang dan kemampuan
kognitif menurun.

Efek autonomik yang muncul seperti hipotensi postural dimediasi oleh
blokade adrenergik umumnya pada pengguna obat tipikal potensial
rendah seperti chlorpromazine dan thioridazine. Sehingga penggunaan
obat tipikal potensial rendah intramuscular memerlukan pemantauan
tekanan darah (saat berbaring dan berdiri) untuk mencegah pasien pingsan
ataupun jatuh saat berdiri.

33

Gangguan irama jantung merupakan efek antipsikotik yang mengganggu
kontraktilitas jantung, menghancurkan enzim kontraktilitas sel-sel
miokardium.

Antipsikotik tipikal mampu menurunkan ambang batas seseorang untuk
mengalami kejang. Chlorpromazine dan thioridazine diperkirakan bersifat
lebih epiloeptogenik sehingga resiko untuk kejang selama masa
pengobatan perlu dipertimbangkan dalam gangguan kejang atau lesi pada
otak.

Selain itu efek yang mungkin timbul juga dapat berupa peningkatan berat
badan yang kebanyakan terdapat pada pasien yang mengkonsumsi
chlorpromazine dan thioridazine. Paling sering karena pengobatan
antipsikotik atipikal. Nafsu makan yang meningkat erat kaitannya dengan
blokade reseptor alpha1- adrenergic dan Histaminergic.

Efek hematologi dapat terjadi berupa leukopenia dengan sel darah putih
3.500 sel/mm3 merupakan masalah yang umum. Agranulositosis yang
mampu mengancam kehidupan dapat terjadi pada 1 : 10.000 pasien yang
dirawat dengan antipsikotik tipikal.

EFEK SAMPING OBAT ANTIPSIKOSIS


OBAT ANTI PSIKOSIS EFEK EFEK EFEK EFEK
EKSTRAP ANTIEM SEDATI HIPOTENSI
IRAMIDA ETIK F F
L
A. DERIVAT FENOTIAZIN
1. Senyawa dimetilaminopropil :
Klorpromazin ++ ++ +++ ++
Promazin ++ ++ ++ +++
Triflupromazin +++ +++ +++ +
2. Senyawa piperidil :
Mepazin ++ ++ +++ ++
Tioridazin + + ++ ++
3. Senyawa piperazin :

34
Asetofenazin ++ ++ + +
Karfenazin +++ +++ ++ ++
Flufenazin +++ +++ ++ +
Perfenazin +++ +++ + +
Proklorperazin +++ +++ ++ +
Trifluoperazin tiopropazat +++ +++ ++ +
B. NON-FENOTIAZIN
Klorprotiksen ++ ++ +++ ++
C. BUTYROPHENONE
Haloperidol +++ +++ + +

EFEK SAMPING NEUROLOGIK OBAT NEUROLEPTIK


WAKTU
GAMBARAN
EFEK RESIKO MEKANISME PENGOBATAN
KLINIS
MAKSIMAL
Spasme otot
lidah, wajah, Dapat diberikan
leher, punggung berbagai pengobatan,
Belum
Distonia akut ; dapat 1-5 hari obat anti Parkinson
diketahui
menyerupai bersifat diagnostik
bangkitan ; dan kuratif
bukan histeria
Ketidak- Kurangi dosis atau
tenangan, ganti obat; obat anti
Belum
Akatisia motorik, bukan 5-60 hari Parkinson,
diketahui
ansietas atau benzodiazepin, atau
agitasi propanolol
Parkinsonisme Bradikinesia, 5-30 hari Antagonisme Obat anti Parkinson
rigiditas, dengan menolong
macam-macam dopamin
tremor, wajah

35
topeng, suffling
gait
Berminggu-
Katatonik, Hentikan neuroleptik
minggu,
stupor, demam, Ada kontribusi segera; dantrolene
dapat
Sindroma tekanan darah antagonisme atau bromokriptin
bertahan
malignan tidak stabil, dengan dapat menolong; obat
beberapa hari
mioglobinemia,; dopamin anti Parkinson lainnya
setelah obat
dapat fatal tidak efektif
dihentikan
Tremor perioral
(mungkin Setelah
Tremor
sejenis berbulan- Obat antiparkinson
perioral Belum
perkinsonisme bulan atau sering menolong
(sindroma diketahui
yang dating bertahun-
kelinci)
terlambat) tahun
pengobatan
Setelah
berbulan-
Diskinesia
bulan atau
mulut-wajah; Diduga : Sulit dicegah,
Diskinesia bertahun-
koreoatetosis kelebihan efek pengobatan tidak
tardif tahun
atau distonia dopamin memuaskan
(memburuk
meluas
dengan
penghentian)

A. PERHATIAN KHUSUS

Efek samping yang sering timbul dan tindakan mengatasinya : 5
Penggunaan Chlorpromazine injeksi (im) : sering menimbulkan
Hipotensi Ortostatik pada waktu perubahan posisi tubuh (efek alfa adrenergic
blockade). Tindakan mengatasinya dengan injeksi Nor-adrenaline (Nor-
epinephrine) sebagai “alfa adrenergic stimulator”.

36
Dalam keadaan ini tidak diberikan Adrenaline oleh karena bersifat “alfa
dan beta adrenergic stimulator” sehingga efek beta-adrenergic tetap ada dan
dapat terjadi Shock.
Hipotensi ortostatik seringkali dapat dicegah dengan tidak langsung
bangun setelah mendapat suntikan dan dibiarkan tiduran selama sekitar 5-10
menit.
Bila dibutuhkan dapat diberikan Norepinephrine bitartrate (LEVOPHED
– Abbot atau RAIVAS – Dexa Medica atau VASCON – Fahrenheit) ampul 4
mg/4cc dalam infus 1000 ml dextrose 5% dengan kecepatan infus 2-
3cc/menit.
Obat anti-psikosis yang kuat (Haloperidol) sering menimbulkan gejalan
Ekstrapiramidal/Sindrom Parkinson. Tindakan mengatasinya dengan tablet
Trihexyphenidyl (Artane) 3-4x 2 mg/hari, Sulfas Atropin 0,50-0,75 mg (im).
Apabila Sindrom Parkinson sudah terkendali diusahakan penurunan dosis
secara bertahap, untuk menentukan apakah masih dibutuhkan penggunaan
obat antiparkinson.
Secara umum dianjurkan penggunaan obat antiparkinson tidak lebih lama
dari 3 bulan (risiko timbul “atropine toxic syndrome”). Tidak dianjurkan
pemberian “antiparkinson profilaksis”, oleh karena dapat mempengaruhi
penyerapan/absorpsi obat anti-psikosis sehingga kadarnya dalam plasma
rendah, dan dapt menghalangi manifestasi gejala psikopatologis yang
dibutuhkan untuk penyesuaian dosis obat anti-psikosis agar tercapai dosis
efektif.

“Rapid Neuroleptizattion” : Haloperidol 5 – 10 mg (im) dapt diulangi setiap
2 jam, dosis maksimum adalah 100 mg dalam 24 jam. Biasanya dalam 6 jam
sudah dapat mengatasi gejala-gejala akut dari Sindrom Psikosis (agitasi,
hiperaktivitas psikomotorm impulsif, menyerang, gaduh-gelisah, perilaku
destruktif dll).

Kontraindikasi :
- Penyakit hati (hepato-toksik),
- Penyakit darah (hemato-toksik),
- Epilepsi (menurunkan ambang kejang),
- Kelainan jantung (menghambat irama jantung),
- Febris yang tinggai (thermoregulator di SSP),
- Ketergantungan alkohol (penekanan SSP meningkat),
- Penyakit SSP (parkinson, tumor otak dll),

37
- Gangguan kesadaran disebabkan “CNS-depressant” (kesadaran makin
memburuk).

38
BAB III
KESIMPULAN

Antipsikotik adalah sekelompok bermacam-macam obat yang menghambat


reseptor dopamine tipe 2 (D2). Obat antipsikotik baik tipikal maupun atipikal selain
berfungsi untuk mengobati penyakit psikotik khsusnya skizofrenia, tentunya juga
memiliki efek samping
Efek samping yang sering ditimbulkan pada pemakaian antipsikotik tipikal:
gangguan pergerakan seperti distonia, bradikinesia, tremor, akatisia, koreoatetosis,
anhedonia, sedasi, peningkatan beratbadan yang sedang, disregulasi tempertur,
poikilotermia, hiperprolaktinemia, dengan galaktorea dan amenorea pada wanita dan
ginekomastia pada pria, serta disfungsi seksual pada pria dan wanita, hipotensi
postural(ortostatik), kuli terbakar, interval QT memanjang, risiko terjadi fatal aritmia.
Efek samping yang ditimbulkan oleh pemakaian antipsikotik atipikal:
peningkatan berat badan sedang sampai berat, diabetes mellitus, hiperkolesterolemia,
sedasi, gangguan pergerakan yang sedang, hipotensi postural, hiperprolaktinemia,
kejang, salivasi nocturnal, agrabulositosis, miokarditis, lensa mata bertambah.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Amir N.Buku Ajar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universias Indonesia. Edisi


kedua. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. 2013.Bab 12.
Skizofrenia; p. 173-95.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s synopsis of psychiatry :
Behavioral sciences/clinical psychiatry.10 th edition. Philadelphia :
Lippincott Williams and WOLTERS Kluwer business.2007.Bab
13.Schizophrenia.;p.467-97.
3. Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga.
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.Bab 3.
Penggolongan obat psikotropik; p.10-11.
4. Muslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.Edisi ketiga.
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.Bab 3. Obat
antipsikosis; p.14-22.
5. Stahl SM. Psychopharmacology of Antipsychotic.United Kingdon : Martin
Dunitz Ltd.1999.Bab 4.Conventional Antipsychotic: the classical
neuroleptics;p.35-47.
6. Stahl SM. Psychopharmacology of Antipsychotic.United Kingdon : Martin
Dunitz Ltd.1999.Bab 5.Atypical Antipsychotic and Seotonine-Dopamine
Antagonism;p.50-62.
7. Stahl SM. Psychopharmacology of Antipsychotic.United Kingdon : Martin
Dunitz Ltd.1999.Bab 6. Beyond the serotonine-dopamine antagonism concept
: how individual atypical antipsychotic differ;p.63-96.
8. Ebert MH, Loosen PT, Nurcombe B. Current Diagnosis & Treatment in
PSYCHIATRY.Singapore : McGraw-Hill Book.2000.Bab III.Syndrome and
their treatments in adult psychiatric : schizophrenia and other psychotic
disorders; p.260-89

9. Maramis, Willy F. dan Maramis, Albert A. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2.


Surabaya : Airlangga University Press, 2009.
10. Gan Sulistia, Arozal Wawaimuli. Antipsikosis. Buku Ajar Farmakologi dan
Terapi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.p.161-5

40

Anda mungkin juga menyukai