Anda di halaman 1dari 676

KUMPULAN

MATERI PERPAJAKAN
(Untuk Umum)

Disusun oleh:
Mohammad Fauzi Nugraha

www.campur-aduk.com

DISCLAIMER

Penyusun tidak bertanggung jawab dalam bentuk apapun


terhadap keputusan yang diambil dalam bentuk apapun
berdasarkan materi di dalam kumpulan materi ini.
Kumpulan materi ini tidak dapat digunakan sebagai rujukan
hukum. Rujukan agar tetap mengacu pada ketentuan perpajakan
atau ketentuan lainnya yang berlaku.
Dilarang keras mengkomersialkan kumpulan materi ini dalam
bentuk apapun.
Kumpulan materi ini hanya menyajikan sebagian kecil dari ruang
lingkup perpajakan yang ada. Wajib Pajak atau calon Wajib Pajak
yang memerlukan informasi, bantuan atau konsultasi lebih lanjut
dapat merujuk ke peraturan terkait dan atau menghubungi:
Petugas Account Representative yang ada di Seksi
Pengawasan dan Konsultasi dan atau petugas di Help Desk
pada Kantor Pelayanan Pajak di tempat Wajib Pajak terdaftar
atau tempat calon Wajib Pajak berdomisili/berkedudukan;
Petugas Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan; atau
Petugas Call Center Kring Pajak 500200.
Isi kumpulan materi ini dapat diubah sewaktu-waktu tanpa
pemberitahuan terlebih dahulu demi penyempurnaan & perbaikan.
Rilis terakhir dapat diunduh di www.campur-aduk.com.

Rilis terakhir: 2014-11-14

Kumpulan Materi Perpajakan (Untuk Umum)


Nugraha, Mohammad Fauzi
Jakarta: www.campur-aduk.com, 2014
1 jil., 14,8 x 21 cm, xxvi + 630 hal.

ii


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Taala, karena dengan rahmat, taufik
dan hidayah-Nya penyusun tetap dapat terus memperbaharui Kumpulan Materi Perpajakan
Ringkas ini. Penyusunan kumpulan materi ini disusun pertama kali pada bulan Desember 2012 dan
diupayakan di-update tiap bulan. Kumpulan materi ini disusun dari berbagai sumber (tercantum di
daftar pustaka) terutama dari aturan perpajakan terkait, situs Tax Knowledge Base Direktorat
P2Humas DJP dan situs www.ortax.org.
Ide penyusunan kumpulan materi ini berawal dari kesulitan penyusun menemukan
kumpulan materi perpajakan umum sebagai informasi awal dalam satu kesatuan yang up-to-date
yang dapat dibawa kemana-mana dalam bentuk softcopy untuk mendukung tugas penyusun
sebagai seorang Account Representative dan untuk memudahkan para Wajib Pajak yang berada di
bawah pengawasan penyusun dalam memahami ketentuan perpajakan dengan praktis namun
dengan tetap tidak mengesampingkan aturan terkait dan literatur lainnya.
Penyusun menyadari bahwa kumpulan materi ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan serta kelemahan. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan pengalaman,
waktu, dan tenaga yang penyusun miliki. Banyaknya kata yang disingkat oleh penyusun sematamata hanya untuk mengurangi jumlah halaman kumpulan materi ini. Khusus untuk materi PBB
Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan sampai saat ini belum dapat penyusun kerjakan.
Kritik dan saran yang membangun bagi penyempurnaan kumpulan materi ini dapat dikirim melalui
email: mfn0309[at]gmail[dot]com.
Akhir kata, penyusun berharap semoga kumpulan materi yang sederhana ini dapat
memberikan manfaat walaupun secuil bagi berbagai pihak. Semoga Allah Subhanahu wa Taala
membalas segala amal kebaikan yang kita kerjakan. Amin.

Jakarta, November 2014

M. Fauzi Nugraha

iii

DAFTAR ISI
Cover
Disclaimer
Kata Pengantar
Daftar Isi
Singkatan yg Digunakan
Bbrp Aturan Penting Terbaru
A.
Pendahuluan
01.
Pengantar Hukum Pajak
02.
UU Perpajakan
03.
Jenis Pajak
A.
Pajak Pusat
B.
Pajak Daerah
04.
Kewajiban & Hak WP
05.
Struktur Organisasi DJP
A.
Kantor Pusat
B.
Instansi Vertikal
C.
UPT
06.
Nilai Kemenkeu dan Visi Misi & Kode Etik DJP
B.
KUP
01.
Poin UU KUP
02.
NPWP, PKP & NE
A.
Administrasi NPWP
B
Pendaftaran & Pelaporan Kegiatan Usaha, Pendaftaran &
Penghapusan NPWP, Pengukuhan & Pencabutan PKP
C.
Tempat Pendaftaran NPWP WP Tertentu
D.
Pemusatan Tempat Terutang PPN
E.
Tempat Pendaftaran/Pelaporan PKP bagi WP Real Estat
03.
Surat Kuasa Khusus
04.
Kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU)
05.
Batas Waktu Pembayaran & Pelaporan dan Terkait Pelaporan SPT
06.
Sanksi
A.
Sanksi Administrasi
B.
Sanksi Pidana
C.
Contoh Perhitungan Sanksi
D.
Aturan Sanksi dan Penjelasan Terkait Sunset Policy
07.
Kode Perpajakan
A.
Kode Akun Pajak & Kode Jenis Setoran
B.
Kode Ketetapan
C.
Kode Nota Penghitungan
D.
Kode Pemeriksaan
08.
Sistem Pembayaran Pajak scr Elektronik (Billing System)
09.
SPT Masa PPh
10.
SPT Masa PPN
11.
SPT Tahunan PPh OP-Badan
A.
SPT Tahunan PPh
B.
Contoh Kasus Khusus ttg PTKP
C.
Penerimaan & Pengolahan SPT Tahunan PPh
12.
e-SPT
A.
Tata Cara & Persyaratan
B.
Jenis e-SPT
C.
Daftar Menu e-SPT Masa
D.
Daftar Menu e-SPT Tahunan PPh Badan
E.
FAQ Ttg e-SPT
13.
e-FIN & e-Filing
A.
Penyampaian SPT (Masa/Tahunan) & Perpanjangan SPT Tahunan
Scr e-Filing Melalui ASP

iv

i
ii
iii
iv
ix
xvi
A-01-1
A-02-1
A-03-1
A-03-1
A-03-1
A-04-1
A-05-1
A-05-1
A-05-5
A-05-6
A-06-1
B-01-1
B-02-1
B-02-1
B-02-3
B-02-21
B-02-26
B-02-31
B-03-1
B-04-1
B-05-1
B-06-1
B-06-1
B-06-5
B-06-8
B-06-11
B-07-1
B-07-1
B-07-15
B-07-17
B-07-18
B-08-1
B-09-1
B-10-1
B-11-1
B-11-1
B-11-5
B-11-12
B-12-1
B-12-1
B-12-2
B-12-3
B-12-9
B-12-10
B-13-1
B-13-1

B.

14.

15.
16.
17.

18.

19.

20.
21.

22.
23.
24.
25.

C.

26.
PPh
01.
02.
03.
04.
05.
06.

07.

Penyampaian SPT 1770 S / 1770 SS Scr e-Filing melalui Website


DJP (www.pajak.go.id)
C.
Permohonan e-FIN Melalui Pemberi Kerja Tertentu
D.
FAQ Ttg e-Filing Melalui Website DJP
Pembukuan & Pencatatan
A.
Pembukuan & Pencatatan
B.
Perubahan Metode Pembukuan dan atau Thn Buku
C.
Pembukuan dgn Mata Uang Asing
Pemindahbukuan (Pbk)
Pengembalian Kelebihan Pajak yg Seharusnya Tdk Terutang
Pengembalian Pendahuluan
A.
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk WP dgn Kriteria
Tertentu
B.
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk WP dgn
Persyaratan Tertentu
C.
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak utk PKP Berisiko
Rendah
Kelebihan Pembayaran Pajak
A.
Penghitungan Kelebihan Pembayaran Pajak
B.
Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Pengurangan, Keberatan, Banding, dan Gugatan
A.
Pembetulan Kesalahan Tulis, Kesalahan Hitung, dan atau
Kekeliruan Penerapan Ketentuan Tertentu dlm Perpu Perpajakan
B.
Keberatan
C.
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dan
Pengurangan atau Pembatalan skp atau STP
D.
Banding
E.
Gugatan
F.
Peninjauan Kembali (PK)
Imbalan Bunga
Tata Cara Verifikasi
A.
Verifikasi dlm Rangka Menerbitkan NPWP scr Jabatan dan
Menghapuskan NPWP scr Jabatan/Berdasarkan Permohonan WP
B.
Verifikasi dlm Rangka Mengukuhkan PKP scr Jabatan/
Berdasarkan Permohonan WP dan Mencabut Pengukuhan PKP
scr Jabatan/Berdasarkan Permohonan PKP
C.
Verifikasi dlm Rangka Menerbitkan skp
Tata Cara Pemeriksaan
Tata Cara Penerbitan skp & STP
Angsuran & Penundaan Pembayaran Pajak
Penagihan Pajak
A.
Ketentuan Terkait Penagihan Pajak
B.
Jangka Waktu Pelunasan STP, SKPKB, SKPKBT, dan SK atau
Ketetapan Lainnya
C.
Jadwal Waktu Penagihan Pajak
D.
Biaya Penagihan Pajak
Surat Keterangan Fiskal (SKF)
Poin UU PPh
Ringkasan UU PPh
Penentuan SPDN & SPLN
Saat Terutang PPh
Tarif
Kompensasi Kerugian Fiskal & PTKP
A.
Kompensasi Kerugian Fiskal
B.
PTKP
Harta & Persediaan
A.
Perolehan atau Pengalihan Harta

B-13-2
B-13-3
B-13-4
B-14-1
B-14-1
B-14-3
B-14-4
B-15-1
B-16-1
B-17-1
B-17-1
B-17-3
B-17-6
B-18-1
B-18-1
B-18-3
B-19-1
B-19-1
B-19-4
B-19-11
B-19-23
B-19-27
B-19-31
B-20-1
B-21-1
B-21-4
B-21-6

B-21-7
B-22-1
B-23-1
B-24-1
B-25-1
B-25-1
B-25-3
B-25-4
B-25-5
B-26-1
C-01-1
C-02-1
C-03-1
C-04-1
C-05-1
C-06-1
C-06-1
C-06-1
C-07-1
C-07-1

08.

09.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

17.
18.
19.

20.

21.

22.
23.
24.
25.

B.
Penyusutan
C.
Amortisasi
D.
Kelompok Harta
E.
Perangkat Lunak (Software) Komputer
F.
HP, Telepon Seluler , Pager
G.
Kendaraan Milik Perusahaan
Hubungan Istimewa & Transfer Pricing
A.
Hubungan Istimewa
B.
Transfer Pricing
Contoh Pemakaian Norma
PPh Pasal 4 ayat (2)
PPh Pasal 15
PPh Pasal 21/26
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
PPh Pasal 24 Atas Penghasilan WP DN dari LN
PPh Pasal 25
A.
Angsuran PPh Pasal 25 dlm Thn Pajak Berjalan yg Hrs Dibayar
Sendiri
B.
Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25
C.
Angsuran Pajak dlm Thn Pajak Berjalan dlm Hal-hal Tertentu
PPh Pasal 26
Badan Usaha Tetap (BUT)
DGT
A.
DGT
B.
Nama Unit Organisasi & Jabatan utk Keperluan SKD
Tabel Terkait P3B
A.
P3B yg Berlaku Efektif
B.
Time Test P3B yg Berlaku Efektif (BUT)
C.
Tarif PPh Pasal 26 utk P3B yg Berlaku Efektif
D.
Dependent Personal Services (Hubungan Kerja)
E.
Independent Personal Services (Pekerjaan Bebas)
F.
Hak Pemajakan atas Penghasilan Tertentu
G.
Daftar Competent Authority dari Negara-negara Treaty Partner
WP yg Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
A.
Penghasilan dari Usaha yg Diterima atau Diperoleh WP yg Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu
B.
FAQ atas Penghasilan dari Usaha WP dgn Peredaran Bruto
Tertentu
Penggunaan Nilai Buku atas Pengalihan Harta dlm Rangka
Restrukturisasi
Dividen yg Diperoleh WP DN atas Penyertaan Modal pd Badan Usaha di
LN Selain Badan Usaha yg Menjual Sahamnya di Bursa Efek
PSAK 46
Fasilitas PPh
A.
SKB PPh Potput (PPh Pasal 21, 22, 22 Impor, 23)
B.
SKB PPh Potput (PPh Pasal 21, 22, 22 Impor, 23) atas WP yg
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
C.
SKB Pemotongan PPh atas Bunga Deposito, Tabungan, Diskonto
SBI yg Diterima/Diperoleh Dana Pensiun yg Pendiriannya Tlh
Disahkan oleh Menkeu
D.
SKB atas Impor Emas Batangan yg Akan Diproses Utk
Menghasilkan Brg Perhiasan dari Emas utk Tujuan Ekspor
E.
SKB Kewajiban Pembayaran/Pemungutan PPh atas Penghasilan
dari Penghasilan Hak atas Tanah & Bangunan (PHTB)
F.
SKB Kewajiban PPh atas Penghasilan dari PHTB bagi WP yg
Usaha Pokoknya Melakukan PHTB
G.
Pembebasan atau Pengurangan PPh Badan

vi

C-07-2
C-07-4
C-07-5
C-07-8
C-07-9
C-07-9
C-08-1
C-08-1
C-08-2
C-09-1
C-10-1
C-11-1
C-12-1
C-13-1
C-14-1
C-15-1
C-16-1
C-16-1
C-16-2
C-16-3
C-17-1
C-18-1
C-19-1
C-19-1
C-19-6
C-20-1
C-20-1
C-20-2
C-20-5
C-20-7
C-20-8
C-20-9
C-20-12
C-21-1
C-21-1
C-21-11
C-22-1
C-23-1
C-24-1
C-25-1
C-25-1
C-25-2
C-25-3

C-25-4
C-25-5
C-25-6
C-25-7

H.

D.

E.

F.

Fasilitas PPh utk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha


Tertentu dan/atau di Daerah Tertentu
I.
Pengurangan Besarnya PPh Pasal 25 dan Penundaan
Pembayaran PPh Pasal 29 bagi WP Industri Tertentu
PPN & PPnBM
01.
Poin UU PPN
02.
Ringkasan UU PPN
03.
Saat Terutang PPN
04.
BKP Tdk Berwujud & JKP
A.
Pemanfaatan BKP Tdk Berwujud atau JKP dari Luar Daerah
Pabean
B.
Ekspor JKP dan/atau BKP Tdk Berwujud
05.
Faktur Pajak (FP)
A.
Saat Pembuatan FP
B.
Saat Penyerahan/Ekspor
C.
Bentuk FP
D.
FP PKP Selain Pedagang Eceran
E.
FP PKP Pedagang Eceran
F.
Dokumen Tertentu yg Dipersamakan dgn FP
G.
Pemberian Kode Aktivasi & Nomor Seri Melalui Aplikasi e-Nofa
06.
Nota Retur & Nota Pembatalan
07.
Nilai Lain
08.
Pemakaian Sendiri & Pemberian Cuma-Cuma
A.
Pemakaian Sendiri
B.
Pemberian Cuma-Cuma
09
Kegiatan Membanguan Sendiri (KMS)
10.
Aktiva yg Mnr Tujuan Semula Tdk Utk Diperjualbelikan
11.
Toko Bebas Bea
12.
VAT Refund bagi Turis Asing
13.
Pemungut PPN
14.
Pedoman Pengkreditan PM
A.
Bagi PKP yg Peredaran Usahanya Tdk Melebihi Jml Tertentu
B.
Bagi PKP yg Melakukan Penyerahan Terutang & Tdk Terutang/
Dibebaskan PPN
C.
Bagi PKP Usaha Tertentu (Emas & Kendaraaan Bekas)
15.
Restitusi PPN
A.
Restitusi PPN
B.
Pembayaran Kembali PM Bagi PKP yg Gagal Berproduksi
16.
Pengawasan PKP
17.
PPnBM
18.
Fasilitas PPN & PPnBM
A.
Fasilitas Pembebasan PPN
B.
Fasilitas PPN Tdk Dipungut
C.
Fasilitas PPnBM
Bea Meterai
01.
Poin UU Bea Meterai
02.
Bea Meterai
Kapita Selekta
01.
Kewajiban Perpajakan Bendahara
02.
Reimbursable Items
03.
Transaksi Swap & Forward
04.
Jenis Usaha Tertentu
A.
Leasing (Sewa Guna Usaha)
B.
Build, Operate, and Transfer
C.
Joint Operation (JO) / Kerja Sama Operasi
D.
Reksa Dana
05.
e-Commerce
A.
Online Marketplace

vii

C-25-7
C-25-7

D-01-1
D-02-1
D-03-1
D-04-1
D-04-1
D-04-6
D-05-1
D-05-1
D-05-3
D-05-7
D-05-16
D-05-30
D-05-32
D-05-34
D-06-1
D-07-1
D-08-1
D-08-1
D-08-2
D-09-1
D-10-1
D-11-1
D-12-1
D-13-1
D-14-1
D-14-1
D-14-2
D-14-7
D-15-1
D-15-1
D-15-1
D-16-1
D-17-1
D-18-1
D-18-1
D-18-16
D-18-29
E-01-1
E-02-1
F-01-1
F-02-1
F-03-1
F-04-1
F-04-1
F-04-6
F-04-8
F-04-10
F-05-1
F-05-1

B.
C.
D.
Daftar Pustaka
Riwayat Hidup

Classified Ads
Daily Deals
Online Retail

F-05-5
F-05-7
F-05-9

viii

DAFTAR SINGKATAN YG DIGUNAKAN


Singkatan
@
3M
&
a.l.
a.n.
Agust
AJB
ALP
APA
APBD
APBN
Apr
AR
AS
ATM
ATPM
BA
BAPEPAM-LK
BBM
BBG
Bbrp
BI
Bid
BKP
Bln
BOS
BOT
BPE
BPHTB
BPJS
BPN
BPS
BPT
Brg
Brp
BUD
BUT
DepAg
DepDikNas
DepHan
DepHub
DepKes
Des

Uraian
Masing-masing
Mendapatkan, menagih dan memelihara
Dan
Antara Lain
Atas Nama
Agustus
Akta Jual Beli
Arms Length Principle
Advance Price Agreement
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
April
Account Representative
Amerika Serikat
Anjungan Tunai Mandiri
Agen Tunggal Pemegang Merek
Berita Acara
Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan
Bahan Bakar Minyak
Bahan Bakar Gas
Beberapa
Bank Indonesia
Bidang
Barang Kena Pajak
Bulan
Bantuan Operasional Sekolah
Build, Operate and Transfer
Bukti Penerimaan Elektronik
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Bukti Penerimaan Negara
Bukti Penerimaan Surat; Biro Pusat Statistik tergantung materi
Branch Proft Tax
Barang
Berapa
Bendahara Umum Daerah
Bentuk Usaha Tetap
Departemen Agama
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pertanahan
Departemen Perhubungan
Departemen Kesehatan
Desember

ix

Singkatan
Dgn
Dirjen
Ditjen
DJA
DJBC
DJP
Dlm
DN
Dpt
Dsb
Dst
Feb
FC
FIFO
FLN
Form
FP
Gol.
HGB
HGU
HP
HPP
Hrg
Hrs
Hub
IB
IFRS
JAMSOSTEK
Jan
Jgn
JHT
JK
JKK
JKP
Jml
JO
Jo
JPK
JPT/FF
KA
KAI
Kab.
Kanwil
KAPET
Kasi

Uraian
Dengan
Direktur Jenderal
Direktorat Jenderal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Dalam
Dalam Negeri
Dapat
Dan sebagainya
Dan seterusnya
Februari
Fotokopi
First-in, First-out
Fiskal Luar Negeri
Formulir
Faktur Pajak
Golongan
Hak Guna Bangunan
Hak Guna Usaha
Handphone
Harga Pokok Penjualan
Harga
Harus
Hubungan
Imbalan Bunga
International Financial Reporting Standards
Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Januari
Jangan
Jaminan Hari Tua
Jaminan Kematian
Jaminan Kecelakaan Kerja
Jasa Kena Pajak
Jumlah
Joint Operation
Juncto
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Jasa Pengurusan Transportasi/Freight Forwarding
Kereta Api
Kereta Api Indonesia
Kabupaten
Kantor Wilayah
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
Kepala Seksi

Singkatan
KB
KEK
Kemenkeu
Ket.
KGB
KIK
KITAP
KITAS
KITE
KJS
KKKS
KKP
KKPt
KLIP DJP
KLU
KMS
KP2KP
Kpd
KPA
KPDDP
KPDE
KPDJP
KPP
KPP Badora
KPP Migas
KPP PMA
KPP PMB
KPPBC
KPPN
Krn
KSO
KTP
KUP
Lamp
LB
Lbh
LHP
LHPt
LHV
LIFO
LK
LN
LPAD
LPJK
Lsg

Uraian
Kurang Bayar
Kawasan Ekonomi Khusus
Kementrian Keuangan
Keterangan
Keadaan Gagal Berproduksi
Kontrak Investasi Kolektif
Kartu Izin Tinggal Tetap
Kartu Izin Tinggal Terbatas
Kemudahan Impor Tujuan Ekspor
Kode Jenis Setoran
Kontraktor Kontrak Kerja Sama
Kertas Kerja Pemeriksaan
Kertas Kerja Penelitian
Kantor Layanan Informasi Dan Pengaduan Direktorat Jenderal Pajak
Klasifikasi Lapangan Usaha
Kegiatan Membangun Sendiri
Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan
Kepada
Kuasa Pengguna Anggaran
Kantor Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan
Kantor Pengolahan Data Eksternal
Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak
Kantor Pelayanan Pajak
Kantor Pelayanan Pajak Badan dan Orang Asing
Kantor Pelayanan Pajak Minyak dan Gas Bumi
Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing
Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Masuk Bursa
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
Karena
Kerja Sama Operasi
Kartu Tanda Penduduk
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Lampiran
Lebih Bayar
Lebih
Laporan Hasil Pemeriksaan
Laporan Hasil Penelitian
Laporan Hasil Verifikasi
Last-in First-out
Laporan Keuangan
Luar Negeri
Lembar Pengawasan Arus Dokumen
Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi
Langsung

xi

Singkatan
M
MAP
Max
Mekanisme LS
Mekanisme UP
MenKeu/Menkeu
Migas
Min
Mnr
MPN
NE
NIK
NJOPTKP
No.
NOP
Nothit
Nov
NPOPTKP
NPP
NPPN
NPWP
NSB
NSFP
NTB
NTP
NTPA
NTPN
NTPPP
NTTE
OECD
OJK
Okt
OPPT
Org
OP
PAHP
PAHV
P3B
PBB
Pbk
Pd
PDKB
PDRD
PER-

Uraian
Milyar
Mutual Agreement Procedure; Mata Anggaran Penerimaan tergantung
materi
Maksimal
Mekanisme Langsung
Mekanisme Uang Persediaan
Menteri Keuangan
Miinyak dan Gas Bumi; Minyak Bumi dan Gas Bumi
Minimal
Menurut
Modul Penerimaan Negara
Non Efektif
Nomor Induk Kependudukan
Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak
Nomor
Nomor Objek Pajak
Nota Penghitungan
November
Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak
Nomor Penerimaan Potongan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto
Nomor Pokok Wajib Pajak
Nilai Sisa Buku
Nomor Seri Faktur Pajak
Nomor Transaksi Bank
Nomor Transaksi Pos
Nomor Transaksi Pengiriman ASP
Nomor Transaksi Penerimaan Negara
Nomor Transaksi Pembayaran Pajak
Nomor Tanda Terima Elektronik
Organization for Economic Cooperation and Development
Otoritas Jasa Keuangan
Oktober
Orang Pribadi Pengusaha Tertentu
Orang
Orang Pribadi
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
Pajak Bumi dan Bangunan
Pemindahbukuan
Pada
Penyelenggara di Kawasan Berikat
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-

xii

Singkatan
Pemda
Pempus
Perda
Perpu
PHTB
PIN
PK
PKP
PKP PE
PLI
PM
PMB
PNBP
PMKPotput/Pot-Put
PPAT
PPBTT
PPDDP
PPh
PPJB
PPN
PPnBM
PPSP
Ps.
PSAK
PT
PTLL
PTUN
QA
RI
RIKI
Rp
RUPS
RUSUNAMI
s.d.
SAK
Sbb
Sbg
Sbl
Seb
Sept
Scr
SDA
SDM
SGU

Uraian
Pemerintah Daerah
Pemerintah Pusat
Peraturan Daerah
Peraturan perundang-undangan
Pengalihan Hak atas Tanah & Bangunan
Personal Identification Number
Peninjauan Kembali; Pajak Masukan tergantung materi
Pengusaha Kena Pajak; Penghasilan Kena Pajak tergantung materi
Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran
Profit Level indicator
Pajak Masukan
Perusahaan masuk bursa
Penerimaan Negara Bukan Pajak
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
Pemotongan Pemungutan
Pejabat Pembuat Akta Tanah
Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu
Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan
Pajak Penghasilan
Perjanjian Pengikatan Jual Beli
Pajak Pertambangan Nilai
Pajak Penjualan atas Barang Mewah
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
Pasal
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Perseroan Terbatas
Pajak Tidak Langsung Lainnya
Pengadilan Tata Usaha Negara
Quality Assurance
Republik Indonesia
Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal
Rupiah
Rapat Umum Pemegang Saham
Rumah Susun Sederhana Milik
Sampai dengan
Standar Akuntansi Keuangan
sebagai berikut
Sebagai
Sebelum
Sebesar
September
Secara
Sumber Daya Alam
Sumber Daya Manusia
Sewa Guna Usaha

xiii

Singkatan
SHU
SI
SIUP
SIUPP
SK
SKB
SKD
SKF
SKKPPBB
Skp/SKP
SKPD
SKPIB
SKPKB
SKPKBT
SKPKPP
SKPLB
SKPN
SKPPIB
SKPPKP
SKT
Slr
SMT
SP2
SP2D
SPD
SPDN
SPHP
SPHV
SPK
SPLN
SPM
SPMIB
SPMKP
SPMP
SPPKP
SPPT
SPT
SPUH
SPV
SRO
SSBP
SSP
SSPBB
ST
Stdd

Uraian
Sisa Hasil Usaha
Sistem Informasi
Surat izin Usaha Perdagangan
Surat Izin Perusahaan Pelayaran
Surat Keputusan
Surat Keterangan Bebas
Surat Keterangan Domisili
Surat Keterangan Fiskal
Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan
Surat Ketetapan Pajak
Satuan Kerja Perangkat Daerah
Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
Surat Ketetapan Pajak Nihil
Surat Keputusan Perhitungan Pemberian Imbalan Bunga
Surat Keputusaan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak
Surat Keterangan Terdaftar
Seluruh
Saat Mulai Terdaftar
Surat Perintah Pemeriksaan
Surat Perintah Pencairan Dana
Surat Pengiriman Dokumen
Subjek Pajak Dalam Negeri
Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan
Surat Pemberitahuan Hasil Verifikasi
Surat Perintah Kerja
Subjek Pajak Luar Negeri
Surat Perintah Membayar
Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga
Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang
Surat Pemberitahuan
Surat Pemberitahuan Untuk Hadir
Special Purpose Vehicle
Self Regulatory Organization
Surat Setoran Bukan Pajak
Surat Setoran Pajak
Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan
Surat Tugas
Sebagaimana telah diubah dengan

xiv

Singkatan
Stdtd
Stl
STP
STTS
Tdk
Tgl
Thd
Thn
THR
THT
TI
TLDDP
Tlh
TNMM
TP
TPB
TPPB
TPT
Tsb
Ttg
UP2
UPT
US$
Utk
UU
Waskon
WDP
WIBB
WP
WTP
YBDI
Yg

Uraian
Sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Setelah
Surat Tagihan Pajak
Surat Tanda Terima Setoran
Tidak
Tanggal
Terhadap
Tahun
Tunjangan Hari Raya
Tunjangan Hari Tua
Teknologi Informasi
Tempat Lain dalam Daerah Pabean
Telah
Transactional Net Margin Method
Transfer Pricing
Tempat Penimbunan Berikat
Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat
Tempat Pelayanan Terpadu
Tersebut
Tentang
Unit Pelaksana Pemeriksaan
Unit Pelaksana Teknis
Dollar Amerika Serikat
Untuk
Undang-Undang
Pengawasan dan Konsultasi
Wajar Dengan Pengecualian
Waktu Indonesia Bagian Barat
Wajib Pajak
Wajar Tanpa Pengecualian
Yang Berhubungan Dengan Itu
Yang

xv

BBRP ATURAN PENTING TERBARU


Thn 2014:
Perihal, Nomor, dan Tanggal Peraturan
RALAT SURAT EDARAN NOMOR SE-32/PJ/2014 TENTANG PENEGASAN
PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG
PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA
ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO
TERTENTU
SE-38/PJ/2014, 22 Okt 2014
TATA CARA PEMBERSIHAN DATA (DATA CLEANSING) WAJIB PAJAK
SE-37/PJ/2014, 22 Okt 2014
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-27/PJ/2014 TENTANG TATA CARA PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK
SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
SE-36/PJ/2014, 13 Okt 2014
TATA CARA PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK SEBAGAI DASAR
PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PER-27/PJ/2014, 13 Okt 2014
SISTEM PEMBAYARAN PAJAK SECARA ELEKTRONIK
PER-26/PJ/2014, 13 Okt 2014
mencabut PER-47/PJ/2011 jo PER-19/PJ/2012
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
130/PMK.011/2011 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS PEMBEBASAN ATAU
PENGURANGAN PAJAK PENGHASILAN BADAN
PMK-192/PMK.03/2014, 06 Okt 2014
PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
16/PMK.03/2013 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA
CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN
PERPAJAKAN
PMK-191/PMK.03/2014, 02 Okt 2014
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-44/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA
PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
(SPT MASA PPN)
PER-25/PJ/2014, 23 Sept 2014
TATA CARA PELAKSANAAN PEMBLOKIRAN DAN PENYITAAN HARTA
KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK YANG TERSIMPAN PADA BANK DALAM
RANGKA PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA
PER-24/PJ/2014, 17 Sept 2014
PENEGASAN PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN
2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA
YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI
PEREDARAN BRUTO TERTENTU
SE-32/PJ/2014, 17 Sept 2014
PENGGUNAAN DOKUMEN PELENGKAP PABEAN DALAM BENTUK DATA
ELEKTRONIK
PMK-175/PMK.04/2014, 28 Agust 2014
PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER27/PJ/2012 TENTANG BENTUK DAN ISI NOTA PENGHITUNGAN, BENTUK DAN
ISI SURAT KETETAPAN PAJAK SERTA BENTUK DAN ISI SURAT TAGIHAN
PAJAK
PER-23/PJ/2014, 14 Agust 2014
PEMBERITAHUAN BERLAKUNYA PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK
BERGANDA (P3B) ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN
PEMERINTAH NEGARA BERDAULAT PAPUA NUGINI
SE-31/PJ/2014, 14 Agust 2014

xvi

Referensi
C-21

B-08

C-25

B-17,
B-10

B-25

C-21

B-07

C-20

PENGAWASAN ATAS TRANSAKSI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU


BANGUNAN MELALUI JUAL BELI
SE-30/PJ/2014, 14 Agust 2014
TATA CARA PENERBITAN SURAT KETERANGAN BEBAS PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK
PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH KEPADA PERWAKILAN NEGARA ASING
DAN BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA
PMK-162/PMK.03/2014, 13 Agust 2014
TATA CARA PENGEMBALIAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
YANG TELAH DIPUNGUT KEPADA PERWAKILAN NEGARA ASING DAN BADAN
INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA
PMK-161/PMK.03/2014, 13 Agust 2014
TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
YANG SEHARUSNYA TIDAK DIBERIKAN PEMBEBASAN OLEH PERWAKILAN
NEGARA ASING DAN BADAN INTERNASIONAL SERTA PEJABATNYA
PMK-160/PMK.03/2014, 13 Agust 2014
UJI COBA PELAKSANAAN PEMBINAAN WAJIB PAJAK BARU MELALUI
PROGRAM TRIPLE ONE
KEP-167/PJ/2014, 04 Agust 2014
PERUBAHAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE17/PJ/2012 TENTANG TATA CARA PENGAWASAN PENERBITAN SURAT
PERINTAH MEMBAYAR KELEBIHAN PAJAK
SE-25/PJ/2014, 25 Juli 2014
Mengubah form konfirmasi utang pajak
PELAKSANAAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR
70P/HUM/2013 MENGENAI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS BARANG HASIL
PERTANIAN YANG DIHASILKAN DARI KEGIATAN USAHA DI BIDANG
PERTANIAN, PERKEBUNAN, DAN KEHUTANAN SEBAGAIMANA DIATUR DALAM
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 31 TAHUN 2007
SE-24/PJ/2014, 25 Juli 2014
PENYELENGGARAAN PELAYANAN PADA KANTOR LAYANAN INFORMASI DAN
PENGADUAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PER-22/PJ/2014, 25 Juli 2014
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-1/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN
PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK
PENGHASILAN OLEH PIHAK LAIN
PER-21/PJ/2014, 25 Juli 2014
TATA CARA PERMOHONAN DAN PENETAPAN MASA MANFAAT YANG
SESUNGGUHNYA ATAS HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN UNTUK
KEPERLUAN PENYUSUTAN
PER-20/PJ/2014, 25 Juli 2014
KLASIFIKASI DAN PENETAPAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK SEBAGAI DASAR
PENGENAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PMK-139/PMK.03/2014, 10 Juli 2014
Mencabut PMK-10/PMK.03/2010
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR PER-34/PJ/2010 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG
PRIBADI DAN WAJIB PAJAK BADAN BESERTA PETUNJUK PENGISIANNYA
PER-19/PJ/2014, 03 Juli 2014
PETUNJUK PELAKSANAAN PENGEMBANGAN DAN ANALISIS INFORMASI,
DATA, LAPORAN, DAN PENGADUAN
PER-18/PJ/2014, 02 Juli 2014
Mencabut PER-38/PJ/2010
TATA CARA PERMINTAAN DATA FAKTUR PAJAK BERBENTUK ELEKTRONIK

xvii

C-10

D-18

D-18

D-18

B-18

D-18

C-25

C-07

B-11

D-05

SE-21/PJ/2014, 20 Juni 2014


PENETAPAN PENGUSAHA KENA PAJAK YANG DIWAJIBKAN MEMBUAT
FAKTUR PAJAK BERBENTUK ELEKTRONIK
KEP-136/PJ/2014, 20 Juni 2014
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-24/PJ/2012 TENTANG BENTUK, UKURAN, TATA CARA PENGISIAN
KETERANGAN, PROSEDUR PEMBERITAHUAN DALAM RANGKA PEMBUATAN,
TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN, DAN TATA CARA
PEMBATALAN FAKTUR PAJAK
PER-17/PJ/2014, 20 Juni 2014
TATA CARA PEMBUATAN DAN PELAPORAN FAKTUR PAJAK BERBENTUK
ELEKTRONIK
PER-16/PJ/2014, 20 Juni 2014
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
78/PMK.03/2010 TENTANG PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK
MASUKAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MELAKUKAN PENYERAHAN
YANG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YANG TIDAK TERUTANG PAJAK
PMK-115/PMK.03/2014, 18 Juni 2014
PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
36/PMK.03/2007 TENTANG BATASAN RUMAH SEDERHANA, RUMAH SANGAT
SEDERHANA, RUMAH SUSUN SEDERHANA, PONDOK BORO, ASRAMA
MAHASISWA DAN PELAJAR, SERTA PERUMAHAN LAINNYA, YANG ATAS
PENYERAHANNYA DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN
NILAI
PMK-113/PMK.03/2014, 10 Juni 2014
KONSULTAN PAJAK
PMK-111/PMK.03/2014, 09 Juni 2014
PEJABAT PENGGANTI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN
PMK-110/PMK.01/2014, 09 Juni 2014
PANDUAN PENYUSUNAN KESEPAKATAN BERSAMA ANTARA DJP DENGAN
PIHAK LAIN DI DALAM NEGERI
SE-19/PJ/2014, 16 Mei 2014
PENGGUNAAN STEMPEL TANDA TANGAN PADA BUKTI PEMOTONGAN
PAJAK PENGHASILAN ATAS PEMBAYARAN DIVIDEN KEPADA PARA
PEMEGANG SAHAM
PER-15/PJ/2014, 16 Mei 2014
TATA CARA PEMETERAIAN KEMUDIAN
PMK-70/PMK.03/2014, 25 Apr 2014
Mencabut KMK-476/KMK.03/2002
BENTUK, UKURAN, DAN WARNA BENDA METERAI
PMK-65/PMK.03/2014, 21 Apr 2014
Mencabut PMK-55/PMK.03/2009
JENIS KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS
BARANG MEWAH DAN TATA CARA PEMBERIAN PEMBEBASAN DARI
PENGENAAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
PMK-64/PMK.03/2014, 16 Apr 2014
Mencabut KMK-355/KMK.03/2003
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER28/PJ/2012 TENTANG TEMPAT PENDAFTARAN DAN/ATAU TEMPAT
PELAPORAN USAHA BAGI WAJIB PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK DI
LINGKUNGAN KANTOR WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK WAJIB
PAJAK BESAR, KANTOR PELAYANAN PAJAK DI LINGKUNGAN KANTOR
WILAYAH DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JAKARTA KHUSUS, DAN KANTOR
PELAYANAN PAJAK MADYA
PER-13/PJ/2014, 11 Apr 2014
PETUNJUK PELAKSANAAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI
ADMINISTRASI DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN

xviii

D-05

D-05

D-05

D-12

D-18

B-03

C-14

E-02

E-02

D-18

B-02

B-19

PAJAK ATAU SURAT TAGIHAN PAJAK


SE-17/PJ/2014, 07 Apr 2014
TATA CARA PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK SECARA
JABATAN ATAS PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TAHUN 2014
PER-12/PJ/2014, 02 Apr 2014
TATA CARA PERTUKARAN INFORMASI (EXCHANGE OF INFORMATION)
PMK-60/PMK.03/2014, 27 Mar 2014
PENGECUALIAN PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA ATAS
KETERLAMBATAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN BAGI WAJIB
PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENYAMPAIKAN SURAT PEMBERITAHUAN
(SPT) TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI SECARA E-FILING
KEP-62/PJ/2014, 25 Mar 2014
BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PER-11/PJ/2014, 21 Mar 2014
TATA CARA PERMOHONAN DAN PENETAPAN ATAS SAAT MULAINYA
PENYUSUTAN HARTA BERWUJUD YANG DAPAT DILAKUKAN PADA BULAN
DIGUNAKAN ATAU BULAN MULAI MENGHASILKAN
PER-10/PJ/2014, 21 Mar 2014
RENCANA DAN STRATEGI PEMERIKSAAN TAHUN 2014
SE-15/PJ/2014, 21 Mar 2014
PENGAWASAN TERHADAP PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN
PAJAK YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN SATUAN KERJA
PERANGKAT DAERAH/KUASA BENDAHARA UMUM DAERAH
PER-08/PJ/2014, 21 Mar 2014
RALAT SE-09/PJ/2014 TENTANG PELAYANAN SEHUBUNGAN DENGAN
PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN
(SPT TAHUNAN PPh)
SE-13/PJ/2014, 17 Mar 2014
TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU
SE-12/PJ/2014, 13 Mar 2014
TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN BAGI WAJIB
PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU
1770SS SECARA e-FILING DAN MERUPAKAN PEGAWAI TETAP PADA PEMBERI
KERJA TERTENTU
PER-06/PJ/2014, 13 Mar 2014
PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KEBERATAN PAJAK
PENGHASILAN, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN
ATAS BARANG MEWAH
SE-11/PJ/2014, 10 Mar 2014
Mencabut SE-122/PJ/2010
PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER04/PJ/2012 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN METODE DAN TEKNIK
PEMERIKSAAN UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN
PERPAJAKAN
PER-07/PJ/2014, 10 Mar 2014
KEWENANGAN AKSES DATA PERPAJAKAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
SE-10/PJ/2014, 25 Feb 2014
PENETAPAN NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK PERMUKAAN BUMI
OFFSHORE, NILAI BUMI PER METER PERSEGI UNTUK TUBUH BUMI
EKSPLORASI, ANGKA KAPITALISASI, HARGA UAP, DAN HARGA LISTRIK,
UNTUK PENENTUAN BESARNYA NILAI JUAL OBYEK PAJAK BUMI DAN
BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN
KEP-33/PJ/2014, 22 Feb 2014
PELAYANAN SEHUBUNGAN DENGAN PENYAMPAIAN SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN (SPT TAHUNAN PPh)
SE-09/PJ/2014, 17 Feb 2014

xix

B-02

B-06,
B-13

C-07

F-01-01

B-17

B-13

B-19

SAAT PENGHITUNGAN DAN TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI PAJAK


MASUKAN YANG TELAH DIKREDITKAN DAN TELAH DIBERIKAN
PENGEMBALIAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MENGALAMI
KEADAAN GAGAL BERPRODUKSI
PMK- 31/PMK.03/2014, 10 Feb 2014
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN EMAS PERHIASAN
PMK- 30/PMK.03/2014, 10 Feb 2014
PENYESUAIAN BESARNYA NILAI JUAL OBJEK PAJAK TIDAK KENA PAJAK
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PMK-23/PMK.03/2014, 03 Feb 2014
mencabut PMK-67/PMK.03/2011
PENCABUTAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP272/PJ/2002 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGAMATAN,
PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN, DAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI
BIDANG PERPAJAKAN
PER-04/PJ/2014, 3 Feb 2014
PETUNJUK PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG
PERPAJAKAN
SE-06/PJ/2014, 3 Feb 2014
PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-40/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN
KELEBIHAN PAJAK BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI
PERSYARATAN TERTENTU
PER-03/PJ/2014, 3 Feb 2014
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
78/PMK.03/2010 TENTANG PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK
MASUKAN BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MELAKUKAN PENYERAHAN
YANG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YANG TIDAK TERUTANG PAJAK
PMK-21/PMK.011/2014, 30 Jan 2014
PETUNJUK KEGIATAN EKSTENSIFIKASI, PENDATAAN, DAN PENILAIAN
TAHUN 2014
SE-05/PJ/2014, 29 Jan 2014
TATA CARA PENGELOLAAN PENGADUAN PELAYANAN PERPAJAKAN
SE-04/PJ/2014, 21 Jan 2014
TATA CARA PENYAMPAIAN PENGADUAN PELAYANAN PERPAJAKAN
PER-02/PJ/2014, 21 Jan 2014
PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN
TAHUNAN BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN
FORMULIR 1770S ATAU 1770SS SECARA e-FILING MELALUI WEBSITE
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (www.pajak.go.id)
SE-1/PJ/2014, 6 Jan 2014
TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN BAGI WAJIB
PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU
1770SS SECARA e-FILING MELALUI WEBSITE DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
(www.pajak.go.id)
PER-1/PJ/2014, 6 Jan 2014

D-15

D-07

B-17

D-12

B-13

B-13

Thn 2013:
Perihal, Nomor, dan Tanggal Peraturan
PEDOMAN PENGGUNAAN METODE DAN TEKNIK PEMERIKSAAN
SE-65/PJ/2013, 31 Des 2013
TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PEMBERIAN IMBALAN BUNGA
PMK-226/PMK.03/2013, 31 Des 2013
TATA CARA PENATAUSAHAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR
PERTAMBANGAN UNTUK PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS BUMI, DAN
PANAS BUMI
SE-64/PJ/2013, 31 Des 2013

xx

Referensi

B-20

mencabut SE-21/PJ/2012
PENEGASAN KETENTUAN PERPAJAKAN ATAS TRANSAKSI E-COMMERCE
SE-62/PJ/2013, 27 Des 2013
KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK
SE-61/PJ/2013, 24 Des 2013
Penggabungan kode utk PPh Badan & PPh Pasal 26 Ayat (4) Minyak Bumi dan
Gas Bumi, Penambahan kode utk PPN KMS (STP), Pajak Penjualan Batubara, dan
Bea Materai
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-20/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN
NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA
KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK
SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PAJAK NOMOR PER-38/PJ/2013
SE-60/PJ/2013, 24 Des 2013
PEMBERITAHUAN BERLAKUNYA PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK
BERGANDA (P3B) ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN
PEMERINTAH REPUBLIK SURINAME
SE-59/PJ/2013, 23 Des 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
68/PMK.03/2010 TENTANG BATASAN PENGUSAHA KECIL
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
PMK-197/PMK.03/2013, 20 Des 2013
TATA CARA PENGENAAN PBB SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK BUMI, GAS
BUMI, DAN PANAS BUMI
PER-45/PJ/2013 , 20 Des 2013
PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22
SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG DAN
KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN USAHA DI BIDANG LAIN
PMK-175/PMK.011/2013, 05 Des 2013
TATA CARA PEMBERIAN SURAT KETERANGAN FISKAL DALAM RANGKA
PENGADAAN BARANG DAN/ATAU JASA UNTUK KEPERLUAN INSTANSI
PEMERINTAH
PER-44/PJ/2013, 5 Des 2013
BENTUK DAN ISI SURAT SETORAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PER-43/PJ/2013, 5 Des 2013
TATA CARA PEMBERIAN FASILITAS PAJAK PENGHASILAN, PENETAPAN
REALISASI PENANAMAN MODAL, PENYAMPAIAN KEWAJIBAN PELAPORAN,
DAN PENCABUTAN KEPUTUSAN PERSETUJUAN PEMBERIAN FASILITAS
PAJAK PENGHASILAN UNTUK WAJIB PAJAK YANG MELAKUKAN PENANAMAN
MODAL DI BIDANG-BIDANG USAHA TERTENTU DAN/ATAU DI DAERAHDAERAH TERTENTU
PER-41/PJ/2013, 27 Nov 2013
PENGAWASAN PENGUSAHA KENA PAJAK
PER-40/PJ/2013, 26 Nov 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER20/PJ/2013 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN NOMOR
POKOK WAJIB PAJAK, PELAPORAN USAHA DAN PENGUKUHAN PENGUSAHA
KENA PAJAK, PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN
PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN
DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK
PER-38/PJ/2013, 8 Nov 2013
PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK.011/2013
TENTANG BUKU-BUKU PELAJARAN UMUM, KITAB SUCI, DAN BUKU-BUKU
PELAJARAN AGAMA YANG ATAS IMPOR DAN/ATAU PENYERAHANNYA
DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
SE-58/PJ/2013, 26 Nov 2013

xxi

F-05
B-07

B-02

C-20

B-02

C-13

B-26

B-07

D-16
B-02

D-18

PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 130/PMK.011/2013


TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
121/PMK.011/2013 TENTANG JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG
MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK
PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
SE-57/PJ/2013, 26 Nov 2013
TATA CARA PEMBUATAN DAN TATA CARA PEMBETULAN ATAU
PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK
PMK-151/PMK.011/2013, 11 Nov 2013
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
154/PMK.03/2010 TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 22
SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS PENYERAHAN BARANG DAN
KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN USAHA DI BIDANG LAIN
PMK-146/PMK.011/2013, 4 Nov 2013
TATA CARA PENYETORAN PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI
USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI
PEREDARAN BRUTO TERTENTU MELALUI ANJUNGAN TUNAI MANDIRI
PER-37/PJ/2013, 30 Okt 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER47/PJ/2008 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN
DAN PENYAMPAIAN PEMBERITAHUAN PERPANJANGAN SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN SECARA ELEKTRONIK (e-FILING) MELALUI
PERUSAHAAN PENYEDIA JASA APLIKASI (ASP)
PER-36/PJ/2013, 30 Okt 2013
TATA CARA EKSTENSIFIKASI
PER-35/PJ/2013, 24 Okt 2013
mencabut PER-175/PJ./2006, PER-116/PJ./2007, PER-16/PJ./2007
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-35/PJ/2013 TENTANG TATA CARA EKSTENSIFIKASI
SE-51/PJ/2013, 24 Okt 2013
PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN TERHADAP WAJIB PAJAK YANG
MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA
SE-50/PJ/2013, 24 Okt 2013
PETUNJUK TEKNIS PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN TINDAK PIDANA DI
BIDANG PERPAJAKAN
SE-49/PJ/2013, 24 Okt 2013
PEJABAT YANG BERWENANG MENANDATANGANI SURAT KETERANGAN
DOMISILI BAGI WAJIB PAJAK DALAM NEGERI AMERIKA SERIKAT (FORM 6166)
SE-48/PJ/2013, 22 Okt 2013
TATA CARA PEMBAYARAN KEMBALI (REIMBURSEMENT) PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI ATAS PEROLEHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU
JASA KENA PAJAK KEPADA PENGUSAHA PANAS BUMI UNTUK
PEMBANGKITAN ENERGI/LISTRIK
PMK-142/PMK.02/2013, 18 Okt 2013
PENEGASAN PETUNJUK PENGISIAN SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK
OFFSHORE PAJAK BUMI DAN BANGUNAN SEKTOR PERTAMBANGAN UNTUK
PERTAMBANGAN MINYAK BUMI DAN GAS BUMI
SE-46/PJ/2013, 30 Sept 2013
TATA CARA PEMBEBASAN DARI PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN
PAJAK PENGHASILAN BAGI WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PAJAK
PENGHASILAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN
2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA
YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI
PEREDARAN BRUTO TERTENTU
PER-32/PJ/2013, 25 Sept 2013

xxii

D-17

D-05

C-13

C-21

B-13

C-19

C-21,
C-25

PROSEDUR PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN PEMUSATAN TEMPAT PAJAK


PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG DALAM RANGKA PELAKSANAAN
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR NOMOR PER-28/PJ/2012
SE-45/PJ/2013, 19 Sept 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
121/PMK.011/2013 TENTANG JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG
MEWAH SELAIN KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN
ATAS BARANG MEWAH
PMK-130/PMK.011/2013, 18 Sept 2013
PEDOMAN TEKNIS SENSUS PAJAK NASIONAL
PER -31/PJ/2013, 17 Sept 2013
TATA CARA PELAKSANAAN PENGURANGAN BESARNYA PAJAK
PENGHASILAN PASAL 25 DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK
PENGHASILAN PASAL 29 TAHUN 2013 BAGI WAJIB PAJAK INDUSTRI
TERTENTU
PER-30/PJ/2013, 11 Sept 2013
PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG
PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA
ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO
TERTENTU
SE-42/PJ/2013, 2 Sept 2013
PENETAPAN STANDAR PELAYANAN PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK
KEP-378/PJ/2013, 29 Agust 2013
PENGURANGAN BESARNYA PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 DAN
PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 29 TAHUN 2013
BAGI WAJIB PAJAK INDUSTRI TERTENTU
PMK-124/PMK.011/2013, 27 Agust 2013
BUKU-BUKU PELAJARAN UMUM, KITAB SUCI, DAN BUKU-BUKU PELAJARAN
AGAMA YANG ATAS IMPOR DAN/ATAU PENYERAHANNYA DIBEBASKAN DARI
PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
PMK-122/PMK.011/2013, 27 Agust 2013
JENIS BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH SELAIN
KENDARAAN BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH
PMK-121/PMK.011/2013, 26 Agust 2013
PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
147/PMK.04/2011 TENTANG KAWASAN BERIKAT
PMK-120/PMK.04/2013, 26 Agust 2013
TATA CARA PENGEMBALIAN DAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI KEPADA ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR
NEGERI
SE-39/PJ/2013, 2 Agust 2013
TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK ROKOK
PMK-115/PMK.07/2013, 1 Agust 2013
PAJAK PENGHASILAN DITANGGUNG PEMERINTAH ATAS BUNGA ATAU
IMBALAN SURAT BERHARGA NEGARA YANG DITERBITKAN DI PASAR
INTERNASIONAL DAN PENGHASILAN PIHAK KETIGA ATAS JASA YANG
DIBERIKAN KEPADA PEMERINTAH DALAM PENERBITAN DAN/ATAU
PEMBELIAN KEMBALI/PENUKARAN SURAT BERHARGA NEGARA DI PASAR
INTERNASIONAL TAHUN ANGGARAN 2013
PMK-112/PMK .011/2013, 1 Agust 2013
TATA CARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK
PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU
DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU
PMK-107/PMK.011/2013, 30 Juli 2013
TATA CARA PENDAFTARAN DAN KEWAJIBAN PENGUSAHA KENA PAJAK
TOKO RETAIL SERTA PENGELOLAAN ADMINISTRASI PENGEMBALIAN PAJAK

xxiii

B-02

D-17

C-25

C-10,
C-21

D-18

D-17

D-11,
D-18
D-13

C-10,
C-21

D-13

PERTAMBAHAN NILAI KEPADA ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR


NEGERI
PER-28/PJ/2013, 25 Juli 2013
PENGHITUNGAN ANGSURAN PAJAK DALAM TAHUN BERJALAN BAGI WAJIB
PAJAK YANG MENJALANKAN USAHA DI BIDANG PERTAMBANGAN MINERAL
ATAU BATUBARA DALAM RANGKA KONTRAK BAGI HASIL, KONTRAK KARYA,
ATAU PERJANJIAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN
SE-36/PJ/2013, 25 Juli 2013
PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA
PENGURUSAN TRANSPORTASI (FREIGHT FORWARDING) YANG DI DALAM
TAGIHANNYA TERDAPAT BIAYA TRANSPORTASI (FREIGHT CHARGES)
SE-33/PJ/2013, 12 Juli 2013
PELAKSANA PEMBUBUHAN TANDA BEA METERAI LUNAS DENGAN
TEKNOLOGI PERCETAKAN
PER-27/PJ/2013, 12 Juli 2013
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
76/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN
PERMINTAAN KEMBALI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG BAWAAN
ORANG PRIBADI PEMEGANG PASPOR LUAR NEGERI
PMK-100/PMK.03/2013, 5 Juli 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER34/PJ/2010 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN
PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DAN WAJIB PAJAK
BADAN BESERTA PETUNJUK PENGISIANNYA
PER-26/PJ/2013, 5 Juli 2013
PELAPORAN PEMUNGUTAN PPN DAN PPNBM ATAS PENYERAHAN
KENDARAAN BERMOTOR
SE-31/PJ/2013, 5 Juli 2013
TEMPAT PENDAFTARAN DAN/ATAU TEMPAT PELAPORAN USAHA BAGI WAJIB
PAJAK SEBAGAI PENGUSAHA YANG DIKENAI PAJAK BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 DAN PERUBAHANNYA
YANG MELAKUKAN USAHA DI BIDANG PENGALIHAN TANAH DAN/ ATAU
BANGUNAN
PER-25/PJ/2013, 3 Juli 2013
PELAKSANAAN PAJAK PENGHASILAN YANG BERSIFAT FINAL ATAS
PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/AT AU BANGUNAN
YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG USAHA POKOKNYA
MELAKUKAN PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/AT AU BANGUNAN DAN
PENENTUAN JUMLAH BRUTO NILAI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH
DAN/ATAU BANGUNAN OLEH WAJIB PAJAK YANG MELAKUKAN PENGALIHAN
HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
SE-30/PJ/2013, 3 Juli 2013
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-38/PJ/2009 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK
PER-24/PJ/2013, 2 Juli 2013
PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA
ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO
TERTENTU
PP 46 TAHUN 2013, 12 Juni 2013
STANDAR PEMERIKSAAN
PER-23/PJ/2013, 11 Juni 2013
KEBIJAKAN PEMERIKSAAN
SE-28/PJ/2013, 11 Juni 2013
PEDOMAN PEMERIKSAAN TERHADAP WAJIB PAJAK YANG MEMPUNYAI
HUBUNGAN ISTIMEWA
PER-22/PJ/2013, 30 Mei 2013
TATA CARA PENDAFTARAN DAN PEMBERIAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK,

xxiv

D-07

E-02

D-13

B-11

B-02

C-10

B-07

C-10,
C-21

B-22
B-22
C-08

B-02

PELAPORAN USAHA DAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK,


PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN PENCABUTAN
PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, SERTA PERUBAHAN DATA DAN
PEMINDAHAN WAJIB PAJAK
PER-20/PJ/2013, 30 Mei 2013
PENCABUTAN BEBERAPA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TERKAIT
DENGAN PENERBITAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN DI BIDANG
KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN
PER-19/PJ/2013, 30 Mei 2013
PEDOMAN e-AUDIT
SE-25/PJ/2013, 30 Mei 2013
BARANG KENA PAJAK YANG TERGOLONG MEWAH BERUPA KENDARAAN
BERMOTOR YANG DIKENAI PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
PP 41 TAHUN 2013, 23 Mei 2013
PERSYARATAN PEMBERIAN KODE AKTIVASI DAN NOMOR SERI FAKTUR
PAJAK MELALUI APLIKASI ENOFA
S-840/PJ.10/2013, 17 Mei 2013
PENCABUTAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER5/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENELITIAN
PERMOHONAN PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
PENGHASILAN YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG BAGI WAJIB PAJAK
DALAM NEGERI
PER-18/PJ/2013, 8 Mei 2013
KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK
SE-24/PJ/2013, 24 Apr 2013
Penambahan kode utk PPh Badan Minyak Bumi, PPh Badan Gas Bumi, PPh
Pasal 26 Ayat (4) Minyak Bumi, dan PPh Pasal 26 Ayat (4) Gas Bumi
BENTUK, ISI, TATA CARA PENGISIAN DAN PENYAMPAIAN SURAT
PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26
SERTA BENTUK BUKTI PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21
DAN/ATAU PASAL 26
PER-14/PJ/2013, 18 Apr 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER44/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA
PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
(SPT MASA PPN)
PER-11/PJ/2013, 12 Apr 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER45/PJ/2010 TENTANG BENTUK, ISI, DAN TATA CARA PENGISIAN SERTA
PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
(SPT MASA PPN) BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG MENGGUNAKAN
PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN
PER-10/PJ/2013, 12 Apr 2013
PERUBAHAN ATAS SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE53/PJ/2012 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 163/PMK.03/2012 TENTANG BATASAN DAN TATA CARA PENGENAAN
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI
SE-22/PJ/2013, 12 April 2013
Mengubah ketentuan bagian B angka 4 dari SE-53/PJ/2012
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
16/PMK.03/2013 TENTANG RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA
CARA PENYAMPAIAN DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN
PERPAJAKAN
PMK-79/PMK.03/2013, 11 Apr 2013
PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
231/KMK.03/2001 TENTANG PERLAKUAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH ATAS IMPOR BARANG KENA
PAJAK YANG DIBEBASKAN DARI PUNGUTAN BEA MASUK

xxv

B-16,
B-17,
B-19,
C-19

D-17

D-05

B-16

B-07

B-09

B-10

B-10

D-09

D-18

PMK-70/PMK.011/2013, 2 Apr 2013


PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER24/PJ/2012 TENTANG BENTUK, UKURAN, TATA CARA PENGISIAN
KETERANGAN, PROSEDUR PEMBERITAHUAN DALAM RANGKA PEMBUATAN,
TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN, DAN TATA CARA
PEMBATALAN FAKTUR PAJAK
PER-08/PJ/2013, 27 Mar 2013
PEMERIKSAAN ATAS SPT TAHUNAN PPh RUGI DAN SPT MASA PPN LEBIH
BAYAR KOMPENSASI YANG DALUWARSA PENETAPAN PADA TAHUN 2013
SE-12/PJ/2013, 26 Mar 2013
MEKANISME PENGAWASAN TERHADAP PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN DAN
PENYETORAN PAJAK YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA PENGELUARAN
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH/KUASA BENDAHARA UMUM DAERAH
PMK-64/PMK.05/2013, 15 Mar 2013
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR
PER-57/PJ/2010 TENTANG TATA CARA DAN PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK
PENGHASILAN PASAL 22 SEHUBUNGAN DENGAN PEMBAYARAN ATAS
PENYERAHAN BARANG DAN KEGIATAN DI BIDANG IMPOR ATAU KEGIATAN
USAHA DI BIDANG LAIN
PER-06/PJ/2013, 7 Mar 2013
KEWAJIBAN PEMOTONGAN DAN/ATAU PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN
YANG TERUTANG KEPADA PIHAK LAIN OLEH PERUSAHAAN YANG TERIKAT
DENGAN KONTRAK BAGI HASIL, KONTRAK KARYA, ATAU PERJANJIAN
KERJASAMA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN
PMK-39/PMK.011/2013, 27 Feb 2013
NILAI LAIN SEBAGAI DASAR PENGENAAN PAJAK
PMK-38/PMK.011/2013, 27 Feb 2013
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
75/PMK.03/2010 TENTANG KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA WAJIB PAJAK
SE-03/PJ/2013, 5 Feb 2013
TATA CARA PEMERIKSAAN
PMK-17/PMK.03/2013, 7 Jan 2013
RINCIAN JENIS DATA DAN INFORMASI SERTA TATA CARA PENYAMPAIAN
DATA DAN INFORMASI YANG BERKAITAN DENGAN PERPAJAKAN
PMK-16/PMK.03/2013, 6 Jan 2013
mengatur ttg kewajiban instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain
memberikan data dan informasi yg berkaitan dengan perpajakan kpd DJP
TATA CARA PEMBETULAN
PMK-11/PMK.03/2013, 2 Jan 2013
TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG
SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG
PMK-10/PMK.03/2013, 2 Jan 2013
TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN
PMK-9/PMK.03/2013, 2 Jan 2013
TATA CARA PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI
DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN PAJAK ATAU
SURAT TAGIHAN PAJAK
PMK-8/PMK.03/2013, 2 Jan 2013

xxvi

D-05

F-01

C-13,
C-25

D-07
B-04

B-22

B-19
B-16

B-19
B-19

BAGIAN A
PENDAHULUAN

PENGANTAR HUKUM PAJAK


Dasar Hukum:
Pasal 23A UUD 1945 Amandemen IV: Pajak dan pungutan lain yg bersifat memaksa utk keperluan
negara diatur dgn UU.
Definisi:
Pajak: Kontribusi wajib kpd negara yg terutang oleh OP atau badan yg bersifat memaksa
berdasarkan UU, dgn tdk mendapatkan imbalan scr lsg dan digunakan utk keperluan negara
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(Pasal 1 Angka 1 UU KUP)
WP: OP atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yg
mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
(Pasal 1 Angka 2 UU KUP)
NPWP: Nomor yg diberikan kpd WP sbg sarana dlm administrasi perpajakan yg dipergunakan
sbg tanda pengenal diri atau identitas WP dlm melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya.
(Pasal 1 Angka 6 UU KUP)
Fungsi Pajak:
1. Fungsi Utama:
Fungsi Anggaran (Budgetair) Sbg sumber dana yg diperuntukkan bagi pembiayaan
pengeluaran pemerintah baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.
Fungsi Mengatur (Regularend) Sbg alat utk mengatur atau melaksanakan berbagai kebijakan
pemerintah.
2. Fungsi Tambahan:
Fungsi Redistribusi menekankan unsur pemerataan dan keadilan dlm masyarakat, dpt
dilakukan pemerintah dari si kaya kpd si miskin, dari daerah surplus ke daerah minus, dari kota
ke desa, dsb.
Fungsi Demokrasi Salah satu penjelmaan/wujud sistem gotong royong termasuk partisipasi
masyaratkat di dlm kegiatan pemerintahan dan pembangunan, sering dikaitkan dgn tingkat
pelayanan pemerintah kpd masyarakat, khususnya pembayar pajak.
Jenis-jenis Pajak:
1. Mnr Sifatnya:
a. Pajak Lsg
Pajak yg pembebanannya tdk dpt dilimpahkan oleh pihak lain dan menjadi beban lsg WP yg
bersangkutan. Contoh: PPh.
b. Pajak Tdk Lsg
Pajak yg pembebanannya dpt dilimpahkan oleh pihak lain. Contoh: PPN, PPnBM.
2. Mnr Sasaran/Objeknya:
a. Pajak Subjektif
Pajak yg berpangkal/berdasarkan pd subjeknya yg selanjutnya dicari syrat objektifnya, dlm arti
memperhatikan keadaan diri WP. Contoh: PPh.
b. Pajak Objektif
Pajak yg berpangkal/berdasarkan pd objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri WP. Contoh:
PPN, PPnBM, PBB, Bea Meterai.
3. Mnr Pemungutnya:
a. Pajak Pusat
Pajak yg dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan utk membiayai rumah tangga pemerintah
pusat. Contoh: PPh, PPN, PPnBM, Bea Meterai.
b. Pajak Daerah
Pajak yg dipungut oleh pemda dan digunakan utk membiayai rumah tangga pemda. Contoh:
Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Kendaraan Bermotor, PBB Pedesaan dan Perkotaan,
BPHTB.

A011

Sistem Pemungutan Pajak:


1. Official Assessment System
Suatu sistem pajak yg memberi wewenang kpd pemerintah utk menentukan besarnya pajak yg
terutang.
2. Self Assessment System
Suatu sistem pemungutan pajak yg memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kpd WP utk
menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yg terutang dan
hrs dibayar.
3. Witholding Assessment System
Suatu sistem pemungutan pajak yg memberi wewenang kpd pihak ketiga utk memotong/memungut
besarnya pajak yg terutang oleh WP. Pajak yg dipotong/dipungut oleh pihak lain ini, nanti dpt menjadi
kredit pajak atau mrp pelunasan atas pajak terutang.
Tarif Pajak:
1. Tarif Proporsional/Sebanding
Tarif pajak berupa prosentase tetap thd jml brp pun yg menjadi DPP. Sering juga disebut dgn Tarif
Tunggal krn hanya menggunakan 1 tarif dgn prosentase tetap. Contoh: Tarif PPN 10%, PBB 0,5%,
Pph badan 28% (thn pjak 2009) atau 25% (thn pajak 2010 dan seterusnya).
2. Tarif Progresif
Tarif pajak yg prosentase nya menjadi lbh besar apabila jml yg menjadi DPP-nya semakin besar.
Contoh: Tarif utk WP Badan dan UT (tahun pajak 2001 s.d. 2008):
Lapisan s.d. Rp 50 juta, tarifnya 10%
Lapisan di atas Rp 50 juta s.d. Rp 100 juta, tarifnya 15%
Lapisan di atas Rp 100 juta, tarifnya 30%
3. Tarif Degresif
Tarif pajak yg prosentase nya menjadi lbh kecil apabila jml yg menjadi DPP-nya semakin besar.
4. Tarif Tetap
Tarif pajak yg berupa jml yg tetap thd brp pun jml yg menjadi DPP. Contoh: Tarif Bea Meterai dgn
struktur tarif Rp 3 ribu dan Rp 6 ribu.
5. Tarif Advalorem
Tarif pajak dgn prosentase tertentu atas hrg barang atau nilai suatu barang. Contoh: Tarif Bea Masuk
seb 10% dari nilai Cost Insurance Freigt (CIF) dlm transaksi impor.
6. Tarif Pajak Spesifik
Tarif pajak dgn jml tertentu atau suatu jenis/satuan jenis barang tertentu. Contoh: Tarif Bea Masuk yg
besar Rupiahnya ditetapkan atas suatu barang yg diimpor.
Asas Pemungutan Pajak:
Pungutan pajak hendaknya didasarkan pd asas yg dikemukakan Adam Smith dlm buku An Inquiry into
the Nature and Causes of the Wealth of Nations:
1. Equality
Pemungutan pajak hrs bersifat adil dan merata.WP yg berada dlm kondisi yg sama hrs dikenai pajak
yg sama besar. Asas keadilan dlm perinsip perpu perjakan maupun dlm hal pelaksanannya hrs
dipegang teguh walaupun keadilan itu sangat relatif.
2. Certainty
Penetapan pajak tdk ditentukan sewenang-wenang. Hrs dpt diketahui scr jelas dan pasti pajak yg
terutang, kapan hrs dibayar, serta batas waktu pembayaran shg memiliki kepastian hukum yg tinggi.
3. Convenience
Saat membayar pajak sebaknya sesuai dgn saat yg tdk menyulitkan WP. Contoh pd saat WP baru
saja memperoleh penghasilan. Disebut juga dgn Pay As You Earn (PAYE).
4. Economical
Biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi WP diharapkan seminimum mungkin.
Pajak yg dipungut hs lbh besar dari biaya pemungutan pajak.
Dasar Teori Pemungutan Pajak:
Teori-teori yg menjadi dasar bagi negara utk memungut pajak, a.l.:
1. Teori Asuransi
Teori ini menyamakan pembayaran premi asuransi dgn pembayaran pajak. Masyarakat seakan
mempertanggungkan keselamatan dan kemanan jiwanya kpd negara shg masyarakat hrs membayar
A012

2.

3.

4.

5.

premi kpd negara. Pd kenyataannya menyamakan pajak dgn premi tdk tepat, krn jika masyarakat
mengalami kerugian, negara tdk dpt memberikan penggantian layaknya perusahaan asuransi.
Teori Kepentingan
Teori ini diartikan bahwa negara yg melindungi kepentingan harta dan jiwa warga negara dgn
memperhatikan pembagian beban yg hrs dipungut dari masyarakat. Pembebanan ini didasarkan pd
kepentingan setiap orang termasuk perlindungan jiwa dan hartanya. Oleh krn itu, pengeluaran negara
utk melindungintya dibebankan kpd masyarakat. Warga negara yg memiliki harta lbh banyak akan
membayar pajak yg lbh besar, dan sebaliknya yg memiliki harta lbh sedikit akan membayar pajak lbh
kecil utk melindungi kepentingannya.
Teori Daya Pikul
Teori ini berpangkal dari asas keadilan yaitu setiap orang dikenakan pajak dgn bobot sama. Pajak yg
dibayar adalah mnr daya pikul dgn ukuran besarnya penghasilan dan pengeluaran seseorang.
Kekuatan (daya pikul) utk membayar pajak baru ada stl terpenuhinya kebutuhan primer seseorang.
Teori ini lbh menekankan unsur kemampuan seseorang dan rasa keadilan.
Teori Bakti
Teori ini mendasarkan bahwa negara mempunyai hak mutlak utk memungut pajak. Di lain pihak,
masyarakat menyadari bahwa membayar pajak sbg suatu kewajiban utk membuktikan tanda baktinya
thd negara krn negaralah yg bertugas menyelenggarakan kepentingan masyarakatnya. Dgn demikian
dasar hukum pajak terletak pd hubungan masyarakat dgn negara. Teori ini disebut juga dgn teori
kewajiban pajak mutlak.
Teori Daya Beli
Pembayaran pajak dimaksudkan utk memelihara masyarakatnya. Pembayaran pajak yg dilakukan
kpd negara lbh ditekankan pd fungsi mengatur dari pajak agar masyarakat tetap eksis. Teori ini
mendasarkan pd penyelenggaraan kepentingan masyarakat yg dianggap sbg dasar keadilan
pemungutan pajak, bukan kepentingan individu/nagara, shg pajak lbh menitikberatkan pd fungsi
mengatur. Dlm teori ini kemaslahatan masyarakat akan tetap terjamin dgn pembayaran pajak.

Pembagian Hukum Pajak:


Hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah (fiskus) selaku pemungut pajak dgn WP.
1. Hukum Pajak Formal
Memuat bentuk/tata cara utk mewujudkan hukum material menjadi kenyataan, meliputi: UU KUP, UU
Penagihan Pajak dgn Surat Paksa, UU Pengadilan Pajak.
2. Hukum Pajak Material
Memuat norma-norma yg menerangkan keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yg dikenakan (objek
pajak), siapa yg dikenakan pajak (subjek pajak), berapa besar pajak yg dikenakan, segala sesuatu yg
timbul dan hapusnya pajak, dan hubungan hukum antara pemerintahan dan WP, meliputi: UU PPh,
UU PPN dan PPnBM, UU PBB, UU BPHTB, UU Bea Meterai.
Penafsiran dlm Hukum Pajak:
1. Penafsiran Autentik
Penafsiran ketentuan dlm UU dgn melihat hal-hal yg tlh dijelaskan dlm UU tsb. Dlm suatu UU
umumnya terdapat pasal mengenai ketentuan umum atau definisi-definisi, shg sering disebut
terminologi mrp penafsiran autentik. Penafsiran ini memiliki kekuatan hukum tertinggi. Penjelasan
suatu pasal yg dimuat dlm tambahan lembaran negara bukanlah mrp penafsiran autentik.
2. Penafsiran Sistematik
Penafsiran ketentuan tertentu dgn mengkaitkannya dgn ketentuan (pasal-pasal) lain dlm UU tsb atau
dari UU lainnya. Ketentuan yg tdk jelas dpt dsiketahui dgn melihat/mengkaitkan dgn pasal lainnya.
Dlm proses pembuatan sebuah UU selalu ada kesatuan konsep dan pemikiran serta dilakukan
sinkronisasi dgn UU lain sbl diundankan oleh pemerintah.
3. Penafsiran Historis
Penafsiran UU dgn melihat sejarah dibuatnya UU tsb. Penafsiran ini dpt diketahui dari dokumen pd
waktu proses dibuatnya UU. Dgn penafisran ini dpt diketahui maksud penyusun UU.
4. Penafsiran Sosiologis
Penafsiran atas ketentuan UU yg disesuaikan dgn kehidupan masyrakat yg selalu berkembang. Krn
itu perlu penyesuaian antara UU dgn perkembangan kehidupan masyarakat.
5. Penafsiran Tata Bahasa (Gramatikal)
Penafsiran ketentuan dlm UU berdasarkan bunyi kata-kata scr keseluruhan dlm kalimat-kalimat yg
disusun. Penfsiran ini mrp penafsiran yg kurang memperhatikan aturan lainnya, tetapi semata-mata
A013

6.

7.

melihat bunyi atau redaksi pasal yg bersangkutan. Scr tata bahasa, sutau ketentuan UU hrs
memberikan kepastian hukum, yaitu apabila kata-kata dlm kalimat suatu pasal tlh jelas maksudnya.
Penafsiran Analogis
Penfsiran ketentuan dgn cara memberi kiasan pd kata-kata yg tercantum dlm UU atau suatu model yg
sejenis yg diatur di dlm ketentuan lain, shg suatu peristiwa yg sesungguhnya tdk termasuk dlm
ketentuan menjadi termasuk berdasarkan analogi yg dibuat. Penafsiran ini dlm hukum pajak tdk
diperbolehkan krn akan menimbulkan ketidakpastian hukum.
Penafsiran A Contrario
Penafsiran ketentuan UU berdasarkan pd perlawanan pengertian (kebalikan) antara masalah yg
dihadapi dan masalah yg diatur dlm UU. Diambil sutau kesimpulan bhawa atas masalah yg dihadapi
yg tdk diatur dlm UU berada di luar ketentuan (tdk diatur). Penafsiran ini dlm hukum pajak tdk
diperbolehkan krn akan menimbulkan ketidakpastian hukum.

Perlawanan Thd Pajak:


1. Perlawanan Pasif
Perlawanan yg inisiatifnya bukan dari WP itu sendiri tetapi terjadi krn keadaan yg ada di sekitar WP
itu. Hambatan-hambatan tsb biasanya terkait dgn struktur ekonomi suatu negara, perkembangan
intelektual dan moral warga negara, dan sistem pemungutan pajak itu sendiri.
2. Perlawanan Aktif
Scr nyata terlihat pd semua usaha dan perbuatan yg scr lsg ditujukan kpd pemerintah (fiskus) dgn
tujuan utk menghindari pajak.
a. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)
Suatu skema transaksi yg ditujukan utk meminimalkan beban pajak dgn tdk melanggar ketentuan
perpajakan shg skema tsb diartikan sbg kegiatan yg lega).
1) Menahan diri WP tdk melakuana sesuatu yg dpt dikenai pajak. Contoh: Tdk merokok agar
terhindar dari cukai tembakau.
2) Pindah lokasi memindahkan lokasi usaha/ domisili yg tarif pajaknya tinggi ke lokasi yg
tarif pajaknya rendah. Contoh: Diberikan keringanan bagi investor yg ingin menanamkan
modalnya di wilayah Indonesia Timur.
3) Penghindaran pajak scr yuridis biasanya dilakukan dgn memanfaatkan kekosongan
atau ketidakjelasan UU (loopholes).
b. Pengelakan atau Penyelundupan Pajak (Tax Evasion)
Suatu skema memperkecil pajak yg terutang dgn cara melanggar ketentuan perpajakan (illegal)
yg dpt dihukum dgn sanksi pidana. Contoh: Tdk melaporkan sebagian penjualan, Memperbesar
biaya dgn cara fiktif.
c. Melalaikan Pajak
Dilakukan dgn cara menolak membayar pajak yg tlh diitetapkan dan menolak memenuhi
formalitas yg hrs dipenuhi, shg termasuk sbg pelanggaran thd ketentuan perpajakan.

A014

UU PERPAJAKAN
1.

UU 6 Thn 1983 ttg Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan jo UU 9 Thn 1994 jo UU 16 Thn
2000 jo UU 28 Thn 2007 jo UU 16 Thn 2009 UU KUP
Aturan Pelaksanaan: PP 74 Thn 2011

2.

UU 7 Thn 1983 ttg Pajak Penghasilan jo UU 7 Thn 1991 jo UU 10 Thn 1994 jo UU 17 Thn 2000 jo
UU 36 Thn 2008 UU PPh
Aturan Pelaksanaan: PP 94 Thn 2010

3.

UU 8 Thn 1983 ttg Pajak Pertambahan Nilai Brg dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah jo UU 11 Thn 1994 jo UU 18 Thn 2000 jo UU 42 Thn 2009 UU PPN
Aturan Pelaksanaan: PP 1 Thn 2012

4.

UU 12 Thn 1985 ttg Pajak Bumi dan Bangunan jo UU 12 Thn 1994 UU PBB

5.

UU 13 Thn 1985 ttg Bea Meterai

6.

UU 19 Thn 1997 ttg Penagihan Pajak dgn Surat Paksa jo UU 19 Thn 2000 UU PPSP

7.

UU 14 Thn 2002 ttg Pengadilan Pajak

8.

UU 28 Thn 2009 ttg Pajak Daerah dan Retribusi Daerah UU PDRD

9.

UU 21 Thn 1997 ttg Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan jo UU 20 Thn 2000 UU
BPHTB

A021

JENIS PAJAK
A. PAJAK PUSAT
Pajak yg dipungut dan dikelola oleh Pempus (DJP):
1.

PPh
Pajak yg dikenakan kpd OP atau badan atas penghasilan yg diterima atau diperoleh dlm suatu
Thn Pajak. Penghasilan itu dpt berupa keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain
sebagainya.

2.

PPN
Pajak yg dikenakan atas konsumsi BKP atau JKP di dlm Daerah Pabean (dlm wilayah Indonesia).
OP, perusahaan, maupun pemerintah yg mengkonsumsi BKP atau JKP dikenakan PPN. Pd
dasarnya, setiap brg dan jasa adalah BKP atau JKP, kecuali ditentukan lain oleh UU PPN.

3.

PPnBM
Selain dikenakan PPN, atas pengkonsumsian BKP tertentu yg tergolong mewah, juga dikenakan
PPnBM.

4.

Bea Meterai
Pajak yg dikenakan atas pemanfaatan dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, serta
kwitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yg memuat jml uang atau nominal di atas jml
tertentu sesuai dgn ketentuan.

5.

PBB Perkebunan, Perhutanan, Pertambangan


Pajak yg dikenakan atas kepemilikan atau pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB mrp
Pajak Pusat namun demikian hampir slr realisasi penerimaan PBB diserahkan kpd Pemda
baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
Mulai 1 Jan 2010, PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah sepanjang Perda ttg
PBB yg terkait dgn Perdesaan dan Perkotaan tlh diterbitkan. Apabila dlm jangka waktu dari
1 Jan 2010 s.d. paling lambat 31 Des 2013 Perda blm diterbitkan, maka PBB Perdesaan dan
Perkotaan tsb masih tetap dipungut oleh Pempus. Mulai 1 Jan 2014, PBB Perdesaan dan
Perkotaan mrp pajak daerah. Utk PBB Perkebunan, Perhutanan, Pertambangan masih tetap
mrp Pajak Pusat.

B. PAJAK DAERAH
Pajak-pajak yg dipungut oleh Pemda baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota:
1.

Pajak Provinsi
a.

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)


Pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 12
UU PDRD)
Kendaraan bermotor: Semua kendaraan beroda beserta gandengannya yg digunakan di
semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau
peralatan lainnya yg berfungsi utk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi
tenaga gerak kendaraan bermotor yg bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat
besar yg dlm operasinya menggunakan roda dan motor dan tdk melekat scr permanen
serta kendaraan bermotor yg dioperasikan di air. (Pasal 1 angka 13 UU PDRD)
Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor: (Pasal 3 ayat (3) UU PDRD)
Kereta api;
Kendaraan Bermotor yg semata-mata digunakan utk keperluan pertahanan dan
keamanan negara;
Kendaraan bermotor yg dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan
negara asing dgn asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yg
memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah; dan
A031

Objek Pajak lainnya ygditetapkan dlm Perda.


Tarif PKB ditetapkan dgn Perda: (Pasal 6 UU PDRD & penjelasan)
Tarif PKB pribadi:
9 utk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah seb 1% dan paling
tinggi seb 2%;
9 utk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif dpt ditetapkan
scr progresif paling rendah seb 2% dan paling tinggi seb 10%.
Pajak progresif utk kepemilikan kedua dan seterusnya dibedakan menjadi
kendaraan roda kurang dari 4 dan kendaraan roda 4 atau lbh.
Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yg sama.
Tarif PKB angkutan umum, ambulans, pemadam kebakaran, sosial keagamaan,
lembaga sosial dan keagamaan, Pemerintah/TNI/POLRI, Pemda, dan kendaraan lain
yg ditetapkan dgn Perda, ditetapkan paling rendah seb 0,5% dan paling tinggi seb
1%.
Tarif PKB alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan paling rendah seb 0,1% dan
paling tinggi seb 0,2%.

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)


Pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sbg akibat perjanjian 2 pihak atau
perbuatan sepihak atau keadaan yg terjadi krn jual beli, tukar menukar, hibah, warisan,
atau pemasukan ke dlm badan usaha. (Pasal 1 angka 14 UU PDRD)
Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor: (Pasal 9 ayat (3) UU PDRD)
Kereta api;
Kendaraan Bermotor yg semata-mata digunakan utk keperluan pertahanan dan
keamanan negara;
Kendaraan Bermotor yg dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan
negara asing dgn asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yg
memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah; dan
Objek pajak lainnya yg ditetapkan dlm Perda.
Termasuk penyerahan Kendaraan Bermotor adalah pemasukan Kendaraan Bermotor
dari LN utk dipakai scr tetap di Indonesia, kecuali: (Pasal 9 ayat (6) & (7) UU PDRD)
utk dipakai sendiri oleh OP yg bersangkutan;
utk diperdagangkan;
utk dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia; tdk berlaku apabila
selama 3 thn berturut-turut tdk dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia
digunakan utk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan olahraga bertaraf
internasional.
Tarif BBNKB ditetapkan dgn Perda: (Pasal 12 UU PDRD)
Tarif BBNKB ditetapkan paling tinggi @:
9 penyerahan pertama seb 20%; dan
9 penyerahan kedua dan seterusnya seb 1%.
Khusus utk Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yg tdk
menggunakan jalan umum tarif pajak ditetapkan paling tinggi @:
9 penyerahan pertama seb 0,75%; dan
9 penyerahan kedua dan seterusnya seb 0,075%.
c.

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor (PBBKB)


Pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 15 UU PDRD)
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor: Semua jenis bahan bakar cair atau gas yg digunakan
utk kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 16 UU PDRD)
Tarif: (Pasal 19 UU PDRD)
Tarif PBBKB ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%.
Khusus tarif PBBKB utk bahan bakar kendaraan umum dpt ditetapkan paling sedikit
50% lbh rendah dari tarif PBBKB utk kendaraan pribadi.
Pemerintah dpt mengubah tarif PBBKB yg sdh ditetapkan dlm Perda dgn Peraturan
Presiden.
Kewenangan Pemerintah utk mengubah tarif PBBKB dilakukan dlm hal:
A032

terjadi kenaikan harga minyak dunia melebihi 130% dari asumsi harga minyak
dunia yg ditetapkan dlm UU ttg APBN thn berjalan; dlm hal harga minyak
dunia sdh normal kembali, Peraturan Presiden tsb dicabut dlm jangka waktu
paling lama 2 bulan.
atau
9 diperlukan stabilisasi harga bahan bakar minyak utk jangka waktu paling lama 3
tahun sejak ditetapkannya UU PDRD.

2.

d.

Pajak Air Permukaan


Pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan. (Pasal 1 angka 17 UU
PDRD)
Air Permukaan: Semua air yg terdapat pd permukaan tanah, tdk termasuk air laut, baik
yg berada di laut maupun di darat. (Pasal 1 angka 18 UU PDRD)
Dikecualikan dari objek Pajak Air Permukaan: (Pasal 21 ayat (2) UU PDRD)
pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan utk keperluan dasar rumah
tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, dgn tetap memperhatikan
kelestarian lingkungan dan perpu; dan
pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan lainnya yg ditetapkan dlm Perda.
Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 24 UU
PDRD)

e.

Pajak Rokok
Pungutan atas cukai rokok yg dipungut oleh Pemerintah. (Pasal 1 angka 19 UU PDRD)
Dikecualikan dari objek Pajak Rokok adalah rokok yg tdk dikenai cukai berdasarkan
perpu di bidang cukai. (Pasal 26 ayat (3) UU PDRD)
Tarif Pajak Rokok ditetapkan seb 10% dari cukai rokok. (Pasal 29 UU PDRD)

Pajak Kabupaten/Kota
a.

Pajak Hotel
Pajak atas pelayanan yg disediakan oleh hotel. (Pasal 1 angka 20 UU PDRD)
Hotel: Fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya
dgn dipungut bayaran, yg mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma
pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dgn jml
kamar lbh dari 10. (Pasal 1 angka 21 UU PDRD)
Objek: (Pasal 32 UU PDRD)
Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yg disediakan oleh Hotel dgn pembayaran,
termasuk jasa penunjang sbg kelengkapan Hotel yg sifatnya memberikan
kemudahan dan kenyamanan, termasuk fasilitas olahraga dan hiburan.
Jasa penunjang: Fasilitas telepon, faksimile, teleks, internet, fotokopi, pelayanan
cuci, seterika, transportasi, dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola
Hotel.
Tdk termasuk objek Pajak Hotel:
9 jasa tempat tinggal asrama yg diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemda;
9 jasa sewa apartemen, kondominium, dan sejenisnya;
9 jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan;
9 jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan,
dan panti sosial lainnya yg sejenis; dan
9 jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yg diselenggarakan oleh Hotel yg dpt
dimanfaatkan oleh umum.
Tarif Pajak Hotel ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 35 UU PDRD)

b.

Pajak Restoran
Pajak atas pelayanan yg disediakan oleh restoran. (Pasal 1 angka 22 UU PDRD)
Restoran: Fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dgn dipungut bayaran, yg
mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk
jasa boga/katering. (Pasal 1 angka 23 UU PDRD)
A033

Objek: (Pasal 37 UU PDRD)


Pelayanan yg disediakan Restoran meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau
minuman yg dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun
ditempat lain.
Tdk termasuk objek Pajak Restoran adalah pelayanan yg disediakan oleh Restoran
yang nilai penjualannya tdk melebihi batas tertentu yg ditetapkan dgn Perda.
Tarif Pajak Restoran ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10% (Pasal 40 UU PDRD).

c.

Pajak Hiburan
Pajak atas penyelenggaraan hiburan. (Pasal 1 angka 24 UU PDRD)
Hiburan: Semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yg
dinikmati dgn dipungut bayaran. (Pasal 1 angka 25 UU PDRD)
Obyek: (Pasal 42 UU PDRD)
Hiburan adalah: tontonan film; pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau
busana;kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; pameran; diskotik, karaoke,
klab malam, dan sejenisnya; sirkus, akrobat, dan sulap; permainan bilyar, golf, dan
boling; pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; panti pijat,
refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center); dan
pertandingan olahraga.
Penyelenggaraan Hiburan di atas dpt dikecualikan dgn Perda.
Tarif Pajak Hiburan ditetapkan dgn Perda: (Pasal 45 UU PDRD)
Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi seb 35%.
Khusus utk Hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke,
klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak
Hiburan dpt ditetapkan paling tinggi seb 75%.
Khusus Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan
paling tinggi seb 10%.

d.

Pajak Reklame
Pajak atas penyelenggaraan reklame. (Pasal 1 angka 26 UU PDRD)
Reklame: Benda, alat, perbuatan, atau media yg bentuk dan corak ragamnya dirancang
utk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau utk menarik
perhatian umum thd barang, jasa, orang, atau badan, yg dpt dilihat, dibaca, didengar,
dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum. (Pasal 1 angka 27 UU PDRD)
Tdk termasuk sbg objek Pajak Reklame: (Pasal 47 ayat (3) UU PDRD)
penyelenggaraan Reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta
mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya;
label/merek produk yg melekat pd barang yg diperdagangkan, yg berfungsi utk
membedakan dari produk sejenis lainnya;
nama pengenal usaha atau profesi yg dipasang melekat pd bangunan tempat usaha
atau profesi diselenggarakan sesuai dgn ketentuan yg mengatur nama pengenal
usaha atau profesi tsb;
Reklame yg diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah; dan
penyelenggaraan Reklame lainnya ng ditetapkan dgn Perda.
Tarif Pajak Reklame ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 25%. (Pasal 50 UU PDRD)

e.

Pajak Penerangan Jalan (PPJ)


Pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yg dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari
sumber lain. (Pasal 1 angka 28 UU PDRD)
Obyek: (Pasal 52 UU PDRD)
Listrik yg dihasilkan sendiri meliputi slr pembangkit listrik.
Dikecualikan dari objek PPJ:
9 penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah dan Pemda;
9 penggunaan tenaga listrik pd tempat-tempat yg digunakan oleh kedutaan,
konsulat, dan perwakilan asing dgn asas timbal balik;
9 penggunaan tenaga listrik yg dihasilkan sendiri dgn kapasitas tertentu yg tdk
memerlukan izin dari instansi teknis terkait; dan
A034

9 penggunaan tenaga listrik lainnya yg diatur dgn Perda.


Tarif PPJ ditetapkan dgn Perda: (Pasal 55 UU PDRD)
Tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb 10%.
Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi
dan gas alam, tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb 3%.
Penggunaan tenaga listrik yg dihasilkan sendiri, tarif PPJ ditetapkan paling tinggi seb
1,5%.

f.

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan


Pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber
alam di dlm dan/atau permukaan bumi utk dimanfaatkan. (Pasal 1 angka 29 UU PDRD)
Mineral Bukan Logam dan Batuan: Mineral bukan logam dan batuan sebagaimana
dimaksud di dlm perpu di bidang mineral dan batubara. (Pasal 1 angka 30 UU PDRD)
Dikecualikan dari objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan: (Pasal 57 ayat (2) UU
PDRD)
kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yg nyata-nyata tdk
dimanfaatkan scr komersial, seperti kegiatan pengambilan tanah utk keperluan
rumah tangga, pemancangan tiang listrik/telepon, penanaman kabel listrik/telepon,
penanaman pipa air/gas;
kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yg mrp ikutan dari kegiatan
pertambangan lainnya, yg tdk dimanfaatkan scr komersial; dan
pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan lainnya yg ditetapkan dgn Perda.
Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb
25%. (Pasal 60 UU PDRD).

g.

Pajak Parkir
Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yg disediakan
berkaitan dgn pokok usaha maupun yg disediakan sbg suatu usaha, termasuk
penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. (Pasal 1 angka 31 UU PDRD)
Parkir: Keadaan tdk bergerak suatu kendaraan yg tdk bersifat sementara. (Pasal 1 angka
32 UU PDRD)
Tdk termasuk objek pajak: (Pasa 62 ayat (2) UU PDRD)
penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemda;
penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yg hanya digunakan utk
karyawannya sendiri;
penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara
asing dgn asas timbal balik; dan
penyelenggaraan tempat Parkir lainnya yg diatur dgn Perda.
Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi dgn Perda seb 30% (Pasal 65 UU PDRD)

h. Pajak Air Tanah


Pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah. (Pasal 1 angka 33 UU PDRD)
Air Tanah: Air yg terdapat dlm lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
(Pasal 1 angka 34 UU PDRD)
Dikecualikan dari objek Pajak Air Tanah: (Pasal 67 ayat (2) UU PDRD)
pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah utk keperluan dasar rumah tangga,
pengairan pertanian dan perikanan rakyat, serta peribadatan; dan
pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah lainnya yg diatur dgn Perdah.
Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 20%. (Pasal 70 UU PDRD)
i.

Pajak Sarang Burung Walet


Pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. (Pasal 1
angka 35 UU PDRD)
Burung Walet: Satwa yg termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga,
collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi. (Pasal 1 angka 36 UU
PDRD)
Tdk termasuk objek pajak: (Pasal 72 ayat 2 UU PDRD)
A035

pengambilan Sarang Burung Walet yg tlh dikenakan PNBP;


kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet lainnya yg
ditetapkan dgn Perda.
Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 10%. (Pasal 75
UU PDRD)

j.

PBB Perdesaan dan Perkotaan


Pajak atas bumi dan/atau bangunan yg dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh OP
atau Badan, kecuali kawasan yg digunakan utk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan,
dan pertambangan. (Pasal 1 angka 37 UU PDRD)
Bumi: Permukaan bumi yg meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah
Kabupaten/Kota. (Pasal 1 angka 38 UU PDRD)
Bangunan: Konstruksi teknik yg ditanam atau dilekatkan scr tetap pd tanah dan/atau
perairan pedalaman dan/atau laut. (Pasal 1 angka 39 UU PDRD)
Obyek: (Pasal 77 UU PDRD)
Termasuk dlm pengertian Bangunan: jalan lingkungan yg terletak dlm 1 kompleks
bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, yg mrp suatu kesatuan dgn
kompleks Bangunan tsb; jalan tol; kolam renang; pagar mewah; tempat olahraga;
galangan kapal, dermaga; taman mewah; tempat penampungan/kilang minyak, air
dan gas, pipa minyak; dan menara.
Objek Pajak yg tdk dikenakan PBB Perdesaan dan Perkotaan adalah objek pajak yg:
9 digunakan oleh Pemerintah dan Daerah utk penyelenggaraan pemerintahan;
9 digunakan semata-mata utk melayani kepentingan umum di bidang ibadah,
sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yg tdk dimaksudkan utk
memperoleh keuntungan;
9 digunakan utk kuburan, peninggalan purbakala, atau yg sejenis dgn itu;
9 merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional,
tanah penggembalaan yg dikuasai oleh desa, dan tanah negara yg blm dibebani
suatu hak;
9 digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan
timbal balik; dan
9 digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yg ditetapkan dgn
Peraturan Menkeu.
Besarnya NJOPTKP ditetapkan dgn Perda paling rendah seb Rp 10 juta utk setiap WP.
(Pasal 77 ayat (4) UU PDRD)
Tarif PBB Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 0,3% (Pasal
80 UU PDRD).

k.

BPHTB
Pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. (Pasal 1 angka 41 UU PDRD)
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan: Perbuatan atau peristiwa hukum yg
mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh OP atau Badan.
(Pasal 1 angka 42 UU PDRD)
Hak atas Tanah dan/atau Bangunan: Hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta
bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dlm UU di bidang pertanahan dan
bangunan. (Pasal 1 angka 43 UU PDRD)
Objek pajak yg tdk dikenakan BPHTB adalah objek pajak yg diperoleh: (Pasal 85 UU
PDRD)
perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
negara utk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau utk pelaksanaan pembangunan
guna kepentingan umum;
badan atau perwakilan lembaga internasional yg ditetapkan dgn Peraturan Menkeu
dgn syarat tdk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan
tugas badan atau perwakilan organisasi tsb;
OP atau Badan krn konversi hak atau krn perbuatan hukum lain dgn tdk adanya
perubahan nama;
A036

OP atau Badan krn wakaf; dan


OP atau Badan yg digunakan utk kepentingan ibadah.
NPOPTKP ditetapkan dgn Perda: (Pasal 87 UU PDRD)
Besarnya NPOPTKP ditetapkan paling rendah seb Rp 60 juta utk setiap WP.
Dlm hal perolehan hak krn waris atau hibah wasiat yg diterima OP yg masih dlm hub
keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus 1 derajat ke atas atau 1 derajat ke
bawah dgn pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, NPOPTKP ditetapkan paling
rendah seb Rp 300 juta.
Tarif BPHTB ditetapkan dgn Perda paling tinggi seb 5%. (Pasal 88 UU PDRD)

A037

KEWAJIBAN WP
1.

Kewajiban Mendaftarkan Diri


Sesuai dgn sistem self assessment maka WP mempunyai kewajiban utk mendaftarkan diri ke KPP
atau KP2KP yg wilayahnya meliputi tempat tinggal atau kedudukan WP utk diberikan NPWP apabila
tlh memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, dan wajib dikukuhkan sbg PKP oleh KPP apabila tlh
memenuhi persyaratan tertentu.

2.

Kewajiban Pembayaran, Pemotongan/pemungutan, dan Pelaporan Pajak


WP dlm melaksanakan kewajiban perpajakannya hrs sesuai dgn sistem self assessment, yaitu wajib
melakukan sendiri penghitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak terutang.

3.

Kewajiban dlm Hal Diperiksa


DJP dpt melakukan pemeriksaan dgn tujuan menguji kepatuhan WP dan tujuan lain yg ditetapkan
oleh DJP. Kewajiban WP yg diperiksa:
Memenuhi panggilan utk datang menghadiri Pemeriksaan sesuai dgn waktu yg ditentukan
khususnya utk jenis Pemeriksaan Kantor.
Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yg menjadi dasarnya, dan
dokumen lain termasuk data yg dikelola scr elektronik, yg berhubungan dgn penghasilan yg
diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau objek yg terutang pajak. Khusus utk
Pemeriksaan Lapangan, WP wajib memberikan kesempatan utk mengakses dan/atau mengunduh
data yg dikelola scr elektronik.
Memberikan kesempatan utk memasuki tempat atau ruang yg dipandang perlu dan memberi
bantuan lainnya guna kelancaran pemeriksaan.
Menyampaikan tanggapan scr tertulis atas SPHP.
Meminjamkan KKP yg dibuat oleh Akuntan Publik khususnya utk jenis Pemeriksaan Kantor.
Memberikan keterangan lain baik lisan maupun tulisan yg diperlukan.

4.

Kewajiban Memberi Data


Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lain, wajib memberikan data dan informasi
yg berkaitan dgn perpajakan kpd DJP yg ketentuannya diatur pd Pasal 35A UU KUP.

HAK WP
1.

Hak atas Kelebihan Pembayaran Pajak


Dlm hal pajak yg terutang utk suatu tahun pajak ternyata lbh kecil dari jml kredit pajak (pembayaran
pajak yg dibayar atau dipotong atau dipungut lbh besar dari yg seharusnya terutang), maka WP
mempunyai hak utk mendapatkan kembali kelebihan tsb. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak
dpt diberikan dlm waktu 12 bulan sejak surat permohonan diterima scr lengkap.

2.

Hak dlm Hal WP Dilakukan Pemeriksaan


Meminta Surat Perintah Pemeriksaan.
Melihat Tanda Pengenal Pemeriksa.
Mendapat penjelasan mengenai maksud dan tujuan pemeriksaan.
Meminta rincian perbedaan antara hasil pemeriksaan dan SPT.
Utk hadir dlm pembahasan akhir hasil pemeriksaan dlm batas waktu yg ditentukan.

3.

Hak utk Mengajukan Keberatan, Banding, dan PK


Berdasarkan hasil pemeriksaan yg dilakukan oleh DJP, maka akan diterbitkan suatu skp, yg dpt
mengakibatkan pajak terutang menjadi KB, LB, atau nihil. Jika WP tdk sependapat maka dpt
mengajukan keberatan atas skp tsb. Selanjutnya apabila blm puas dgn keputusan keberatan tsb maka
WP dpt mengajukan banding ke Pengadilan Pajak. Langkah terakhir yg dpt dilakukan oleh WP dlm
sengketa pajak adalah PK ke MA.
a. Keberatan
Syarat pengajuan keberatan:
Mengajukan surat keberatan kpd Dirjen Pajak c.q. Kepala KPP setempat atas SKPKB,
SKPKBT, SKPLB, SKPN, dan Pemotongan dan Pemungutan oleh pihak ketiga.
A041

Diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dgn mengemukakan jml pajak terutang mnr
perhitungan WPk dgn menyebutkan alasan-alasan yg jelas.
Keberatan hrs diajukan dlm jangka waktu 3 bulan sejak skp, kecuali WP dpt menunjukkan
bahwa jangka waktu itu tdk dpt dipenuhi krn di luar kekuasaannya.
Keberatan yg tdk memenuhi persyaratan di atas tdk dianggap sbg Surat Keberatan, shg tdk
dipertimbangkan.
Dlm hal WP mengajukan keberatan atas skp, WP wajib melunasi pajak yg masih hrs dibayar
paling sedikit sejumlah yg tlh disetujui WP dlm PAHP, sbl surat keberatan disampaikan.
Atas keberatan tsb Dirjen Pajak akan memberikan keputusan paling lama dlm jangka waktu 12
bulan sejak surat keberatan diterima. Apabila permohonan keberatan WP ditolak dan WP tdk
mengajukan banding maka WP dikenai sanksi administrasi berupa denda seb 50% dari jml pajak
berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dgn pajak yg tlh dibayar sbl mengajukan keberatan.
b. Banding
Permohonan banding diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dlm waktu 3 bulan sejak
keputusan keberatan diterima dilampiri SK Keberatan tsb. Thd 1 Keputusan diajukan 1 Surat
Banding.
Pengadilan Pajak hrs menetapkan putusan paling lambat 12 bulan sejak Surat Banding diterima.
Dlm hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, WP dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebe 100% dari jml pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dgn
pembayaran pajak yg tlh dibayar sbl mengajukan keberatan.
c. PK
Permohonan PK hanya dpt diajukan 1 kali kpd MA melalui Pengadilan Pajak. Pengajuan
permohonan PK dilakukan dlm jangka waktu paling lambat 3 bulan terhitung sejak diketahuinya
kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim Pengadilan pidana memperoleh
kekuatan hukum tetap atau ditemukannya bukti tertulis baru atau sejak putusan banding dikirim.
MA mengambil keputusan dlm jangka waktu 6 bulan sejak permohonan PK diterima.
4.

Hak Kerahasiaan Bagi WP


WP mempunyai hak utk mendapat perlindungan kerahasiaan atas segala sesuatu informasi yg telah
disampaikannya kpd DJP dlm rangka menjalankan ketentuan perpajakan. Disamping itu pihak lain yg
melakukan tugas di bidang perpajakan juga dilarang mengungkapkan kerahasiaan WP, termasuk
tenaga ahli yg ditunjuk oleh Dirjen Pajak utk membantu pelaksanaan UU perpajakan. Kerahasiaan
WP antara lain:
Surat Pemberitahuan, laporan keuangan, dan dokumen lainnya yg dilaporkan oleh WP
Data dari pihak ketiga yg bersifat rahasia
Dokumen atau rahasia WP lainnya sesuai ketentuan perpajakan yg berlaku
Namun demikian dlm rangka penyidikan, penuntutan atau dlm rangka kerjasama dgn instansi
pemerintah lainnya, keterangan atau bukti tertulis dari atau ttg WP dpt diberikan atau diperlihatkan
kpd pihak tertentu yg ditetapkan oleh MenKeu.

5.

Hak utk Pengangsuran atau Penundaan Pembayaran


Dlm hal-hal atau kondisi tertentu, WP dpt mengajukan permohonan menunda pembayaran pajak.

6.

Hak utk Penundaan Pelaporan SPT Tahunan


Dgn alasan-alasan tertentu, WP dpt menyampaikan perpanjangan penyampaian SPT Tahunan baik
PPh Badan maupun PPh OP.

7.

Hak utk Pengurangan PPh Pasal 25


Dgn alasan-alasan tertentu, WP dpt mengajukan pengurangan besarnya angsuran PPh Pasal 25.

8.

Hak utk Pembebasan Pajak


Dgn alasan-alasan tertentu, WP dpt mengajukan permohonan pembebasan atas pemotongan/
pemungutan PPh.

9.

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak


WP yg tlh memenuhi kriteria tertentu sbg WP Patuh dpt diberikan pengembalian pendahuluan
kelebihan pembayaran pajak dlm jangka waktu paling lambat 1 bulan utk PPN dan 3 bulan utk PPh
sejak tanggal permohonan.
A042

10. Hak utk Mendapatkan Pajak Ditanggung Pemerintah


Dlm rangka pelaksanaan proyek pemerintah yg dibiayai dgn hibah atau dana pinjaman LN, PPh yg
terutang atas penghasilan yg diterima oleh kontraktor, konsultan dan supplier utama ditanggung oleh
pemerintah.
11. Hak utk Mendapatkan Insentif Perpajakan
Di bidang PPN, utk BKP tertentu atau kegiatan tertentu diberikan fasilitas pembebasan PPN atau PPN
Tdk Dipungut. Perusahaan yg melakukan kegiatan di kawasan tertentu seperti Kawasan Berikat
mendapat fasilitas PPN Tdk Dipungut antara lain atas impor dan perolehan bahan baku.

A043

STRUKTUR ORGANISASI DJP


Dasar Hukum:

PMK-184/PMK.01/2010 ttg Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan

KMK-595/KM.1/2013 ttg Uraian Jabatan Struktural Instansi Vertikal dan UPT di Lingkungan DJP
mencabut KMK-1555/KM.1/2011

PMK-62/PMK.01/2009 stdtd PMK-167/PMK.01/2012 ttg Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal DJP

PMK-133/PMK.01/2011 jo PMK-172/PMK.01/2012 ttg Organisasi dan Tata Kerja KPDDP

PMK-134/PMK.01/2011 jo PMK-173/PMK.01/2012 ttg Organisasi dan Tata Kerja KPDE

PMK-174/PMK.01/2012 ttg Organisasi dan Tata Kerja KLIP DJP


A.

Kantor Pusat
1.

Sekretariat Direktorat Jenderal


a. Bagian Organisasi dan Tata Laksana
1) Subbagian Organisasi
2) Subbagian Tata Laksana
3) Subbagian Pengukuran Kinerja
b. Bagian Kepegawaian
1) Subbagian Mutasi Kepegawaian
2) Subbagian Pemberhentian dan Pemensiunan Pegawai
3) Subbagian Administrasi Peningkatan Kapasitas
4) Subbagian Umum Kepegawaian
c. Bagian Keuangan
1) Subbagian Penyusunan Anggaran
2) Subbagian Perbendaharaan
3) Subbagian Administrasi Gaji dan Tunjangan
4) Subbagian Akuntansi dan Pelaporan
d. Bagian Perlengkapan
1) Subbagian Pengadaan I
2) Subbagian Pengadaan II
3) Subbagian Penyimpanan dan Distribusi
4) Subbag Inventarisasi, Pemeliharaan, dan Penghapusan
e. Bagian Umum
1) Subbagian Tata Usaha
2) Subbagian Tata Usaha Pimpinan Direktorat Jenderal
3) Subbagian Protokol
4) Subbagian Rumah Tangga
f. Kelompok Jabatan Fungsional

2.

Tenaga Pengkaji
a. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan Perpajakan
b. Tenaga Pengkaji Bidang Ekstensifikasi & Intensifikasi Pajak
c. Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum Perpajakan
d. Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan & Penertiban SDM

3.

Direktorat Peraturan Perpajakan I


a. Subdirektorat Peraturan KUP dan PPSP
1) Seksi Peraturan KUP
2) Seksi Peraturan PPSP
3) Seksi Peraturan Perpajakan Lainnya
b. Subdirektorat Peraturan PPN Industri
1) Seksi Peraturan PPN Industri I
2) Seksi Peraturan PPN Industri II
3) Seksi Peraturan PPN Industri III
c. Subdirektorat Peraturan PPN Perdagangan, Jasa, dan PTLL
1) Seksi Peraturan PPN Perdagangan I
2) Seksi Peraturan PPN Perdagangan II
3) Seksi Peraturan PPN Jasa
4) Seksi Peraturan PTLL
d. Subdirektorat Peraturan PBB dan BPHTB
A051

e.

1) Seksi Peraturan PBB I


2) Seksi Peraturan PBB II
3) Seksi Peraturan BPHTB
Kelompok Jabatan Fungsional

4.

Direktorat Peraturan Perpajakan II


a. Subdirektorat Peraturan PPh Badan
1) Seksi Peraturan PPh Badan I
2) Seksi Peraturan PPh Badan II
3) Seksi Peraturan PPh Badan III
b. Subdirektorat Peraturan Pot/Put PPh dan PPh OP
1) Seksi Peraturan Pot/Put PPh I
2) Seksi Peraturan Pot/Put PPh II
3) Seksi Peraturan PPh OP
c. Subdirektorat Perjanjian dan Kerjasama Perpajakan Internasional
1) Seksi Perjanjian Asia Pasifik
2) Seksi Perjanjian Eropa
3) Seksi Perjanjian Amerika dan Afrika
4) Seksi Kerjasama Perpajakan Internasional
d. Subdirektorat Bantuan Hukum
1) Seksi Bantuan Hukum I
2) Seksi Bantuan Hukum II
3) Seksi Bantuan Hukum III
4) Seksi Bantuan Hukum IV
e. Subdirektorat Harmonisasi Peraturan Perpajakan
1) Seksi Analisis Peraturan Perpajakan
2) Seksi Sinkronisasi Peraturan Perpajakan
3) Seksi Sinergi Peraturan Perpajakan
4) Seksi Analisis Peraturan Perpajakan Internasional
f. Kelompok Jabatan Fungsional

5.

Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan


a. Subdirektorat Perencanaan Pemeriksaan
1) Seksi Perencanaan Pemeriksaan WP OP
2) Seksi Perencanaan Pemeriksaan WP Badan
3) Seksi Strategi Pemeriksaan
b. Subdirektorat Teknik dan Pengendalian Pemeriksaan
1) Seksi Teknik Pemeriksaan
2) Seksi Pengendalian Mutu Pemeriksaan
3) Seksi Evaluasi dan Kinerja Pemeriksaan
c. Subdirektorat Pemeriksaan Transaksi Khusus
1) Seksi Pemeriksaan Transaksi Perusahaan Grup
2) Seksi Pemeriksaan WP Sektor SDA
3) Seksi Transfer Pricing dan Transaksi Khusus Lainnya
d. Subdirektorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan
1) Seksi Kerjasama Pemeriksaan
2) Seksi Dukungan Teknis Pemeriksaan
3) Seksi Data dan Dukungan Pemeriksaan
e. Subdirektorat Penagihan
1) Seksi Strategi dan Dukungan Penagihan
2) Seksi Perencanaan dan Evaluasi Penagihan
3) Seksi Pengendalian Mutu dan Administrasi Penagihan
f. Kelompok Jabatan Fungsional

6.

Direktorat Intelijen dan Penyidikan


a. Subdirektorat Intelijen Perpajakan
1) Seksi Intelijen Perpajakan I
2) Seksi Intelijen Perpajakan II
3) Seksi Evaluasi dan Pemantauan Intelijen Perpajakan
b. Subdirektorat Rekayasa Keuangan
1) Seksi Rekayasa Keuangan I
2) Seksi Rekayasa Keuangan II
3) Seksi Rekayasa Keuangan III
A052

c.

d.

e.

Subdirektorat Pemeriksaan Bukti Permulaan


1) Seksi Pemeriksaan Bukti Permulaan I
2) Seksi Pemeriksaan Bukti Permulaan II
3) Seksi Evaluasi dan Pemantauan Pemeriksaan Bukti Permulaan
Subdirektorat Penyidikan
1) Seksi Penyidikan I
2) Seksi Penyidikan II
3) Seksi Evaluasi dan Pemantauan Penyidikan
Kelompok Jabatan Fungsional

7.

Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian


a. Subdirektorat Ekstensifikasi
1) Seksi Perencanaan Ekstensifikasi
2) Seksi Teknis Ekstensifikasi
3) Seksi Evaluasi Ekstensifikasi
b. Subdirektorat Pendataan
1) Seksi Perencanaan Pendataan dan Pemetaan
2) Seksi Teknik Pendataan dan Pemetaan
3) Seksi Dukungan dan Evaluasi Data
c. Subdirektorat Penilaian I
1) Seksi Penilaian Massal Bumi
2) Seksi Penilaian Individu Perkebunan dan Perhutanan
3) Seksi Penilaian individu Komersial dan Objek Khusus
d. Subdirektorat Penilaian II
1) Seksi Penilaian Massal Bangunan
2) Seksi Penilaian Individu Perumahan dan Industri
3) Seksi Penilaian Individu Pertambangan
e. Kelompok Jabatan Fungsional

8.

Direktorat Keberatan dan Banding


a. Subdirektorat Pengurangan dan keberatan
1) Seksi Pengurangan dan Keberatan I
2) Seksi Pengurangan dan Keberatan II
3) Seksi Pengurangan dan Keberatan III
4) Seksi Pengurangan dan Keberatan IV
b. Subdirektorat Banding dan Gugatan I
1) Seksi Banding dan Gugatan IA
2) Seksi Banding dan Gugatan IB
3) Seksi Banding dan Gugatan IC
c. Subdirektorat Banding dan Gugatan II
1) Seksi Banding dan Gugatan IIA
2) Seksi Banding dan Gugatan IIB
3) Seksi Banding dan Gugatan IIC
d. Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi
1) Seksi Peninjauan Kembali
2) Seksi Evaluasi Pengurangan dan Keberatan
3) Seksi Evaluasi Banding, Gugatan, dan Peninjauan Kembali
e. Kelompok Jabatan Fungsional

9.

Direktorat Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan


a. Subdirektorat Potensi Perpajakan
1) Seksi Potensi Sektor Industri
2) Seksi Potensi Sektor Perdagangan
3) Seksi Potensi Sektor Jasa
b. Subdirektorat Dampak Kebijakan
1) Seksi Dampak Kebijakan Perpajakan
2) Seksi Dampak Kondisi Makro Ekonomi
3) Seksi Dampak Kebijakan Umum
c. Subdirektorat Kepatuhan WP dan Pematuhan
1) Seksi Kepatuhan WP Sektor Industri
2) Seksi Kepatuhan WP Sektor Perdagangan
3) Seksi Kepatuhan WP Sektor Jasa
4) Seksi Pemantauan Pemanfaatan Data
A053

d.

e.

Subdirektorat Administrasi dan Evaluasi Penerimaan


1) Seksi Pembukuan dan Rekonsiliasi I
2) Seksi Pembukuan dan Rekonsiliasi II
3) Seksi Statistik dan Prakiraan Penerimaan
4) Seksi Evaluasi Penerimaan
Kelompok Jabatan Fungsional

10. Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat


a. Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan
1) Seksi Materi Penyuluhan
2) Seksi Bimbingan Tenaga Penyuluh
3) Seksi Dukungan Penyuluh
4) Seksi Dokumentasi dan Perpustakaan
b. Subdirektorat Pelayanan Perpajakan
1) Seksi Pelayanan Pengaduan
2) Seksi Dukungan Pelayanan dan Konsultasi
3) Seksi Peningkatan Mutu Pelayanan
4) Seksi Pemutakhiran Tax Knowledge Based
c. Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan
1) Seksi Hubungan Internal
2) Seksi Hubungan Eksternal
3) Seksi Pengelolaan Berita
4) Seksi Pengelolaan Situs
d. Subdirektorat Kerjasama dan Kemitraan
1) Seksi Kerjasama Dalam Negeri
2) Seksi Kerjasaman Luar Negeri
3) Seksi Kemitraan WP
e. Kelompok Jabatan Fungsional
11. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan
a. Subdirektorat Pelayanan Operasional
1) Seksi Pelayanan Sistem Informasi
2) Seksi Pelayanan Aplikasi dan Registrasi
3) Seksi Pelayanan Dukungan Teknis
4) Seksi Pelayanan Jaringan Komunikasi Data
b. Subdirektorat Pendukung Operasional
1) Seksi Bimbingan Sistem
2) Seksi Pemutakhiran Data Tampilan
3) Seksi Pertukaran Data Elektronik
4) Seksi Pengelolaan Intranet dan dan Internet
c. Subdirektorat Pemantauan Sistem dan Infrastruktur
1) Seksi Pemantauan Konfigurasi dan Kapasitas
2) Seksi Pemantauan Keamanan Sistem dan Jaringan Komunikasi Data
3) Seksi Pemantauan Basis Data
4) Seksi Pemantauan Pengolahan Data dan Dokumen
d. Kelompok Jabatan Fungsional
12. Direktorat Kepatuhan Internal, dan Transformasi Sumber Daya Aparatur
a. Subdirektorat Kepatuhan Internal
1) Seksi Internalisasi Kepatuhan
2) Seksi Pengujian Kepatuhan
3) Seksi Penjaminan Kualitas
b. Subdirektorat Investigasi Internal
1) Seksi Investigasi internal I
2) Seksi Investigasi internal II
3) Seksi Evaluasi Temuan Pemeriksaan Eksternal
c. Subdirektorat Transformasi Organisasi
1) Seksi Perencanaan Strategis
2) Seksi Pengembangan Desain Kelembagaan
3) Seksi Evaluasi Implementasi Desain Kelembagaan
d. Subdirektorat Pengembangan Manajemen Kepegawaian
1) Seksi Pengembangan Klasifikasi Jabatan
2) Seksi Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja
A054

e.

f.

3) Seksi Pengembangan Sistem Mutasi, Promosi, dan Kompensasi


Subdirektorat Kompetensi dan Pengembangan Kapasitas Pegawai
1) Seksi Analisis Kompetensi Pegawai
2) Seksi Pengembangan Kapasitas Pegawai
Kelompok Jabatan Fungsional

13. Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi


a. Subdirektorat Analisis dan Evaluasi Sistem Informasi
1) Seksi Perancangan Sistem dan Prosedur Perpajakan
2) Seksi Analisis Konfigurasi dan Kapasitas
3) Seksi Analisis Jaringan Komunikasi Data
4) Seksi Evaluasi Sistem Informasi
b. Subdirektorat Pengembangan Perangkat Keras
1) Seksi Pengembangan Konfigurasi Basis Data
2) Seksi Pengembangan Jaringan Komunikasi Data
3) Seksi Pengelolaan Basis Data
4) Seksi Pengelolaan Data Spasial
c. Subdirektorat Pengembangan Aplikasi
1) Seksi Pengembangan Aplikasi Perpajakan
2) Seksi Pengembangan Aplikasi Informasi Geografis
3) Seksi Pengembangan Aplikasi Informasi dan Pelaporan
4) Seksi Penyusunan Prosedur Operasional
d. Kelompok Jabatan Fungsional
14. Direktorat Transformasi Proses Bisnis
a. Subdirektorat Pengembangan Penyuluhan
1) Seksi Pengembangan Penyuluhan I
2) Seksi Pengembangan Penyuluhan II
b. Subdirektorat Pengembangan Pelayanan
1) Seksi Pengembangan Pelayanan I
2) Seksi Pengembangan Pelayanan II
c. Subdirektorat Pengembangan Penegakan Hukum
1) Seksi Pengembangan Penegakan Hukum I
2) Seksi Pengembangan Penegakan Hukum II
d. Subdirektorat Pengembangan Ekstensifikasi dan Penilaian
1) Seksi Pengembangan Ekstensifikasi
2) Seksi Pengembangan Pemetaan dan Penilaian
e. Subdirektorat Manajemen Transformasi
1) Seksi Perencanaan Pengembangan dan Manajemen Perubahan
2) Seksi Manajemen Proses dan Penjaminan Kualitas Pengembangan
f. Kelompok Jabatan Fungsional
B.

Instansi Vertikal
1.

Kanwil DJP
a. Bagian Umum
1) Subbagian Kepegawaian
2) Subbagian Keuangan
3) Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga
4) Subbagian Bantuan Hukum dan Pelaporan
b. Bidang Dukungan Teknis dan Konsultasi
1) Seksi Dukungan Teknis Komputer
2) Seksi Bimbingan Konsultasi
3) Seksi Data dan Potensi
c. Bidang Kerjasama, Ekstensifikasi dan Penilaian selain Kanwil WP Besar & Kanwil DJP Jakarta
Khusus
1) Seksi Kerjasama Perpajakan
2) Seksi Bimbingan Ekstensifikasi
3) Seksi Bimbingan Pendataan dan Penilaian
4) Seksi Bimbingan Pengenaan
d. Bidang Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak
1) Seksi Administrasi Penyidikan
2) Seksi Bimbingan Penagihan
A055

e.

f.

3) Seksi Bimbingan Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal


Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat
1) Seksi Bimbingan Pelayanan
2) Seksi Bimbingan Penyuluhan
3) Seksi Hubungan Masyarakat
Bidang Keberatan dan Banding
1) Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding I
2) Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding II
3) Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding III
4) Seksi Pengurangan, Keberatan, dan Banding IV

Ket:

Unit yg berada di bawah Kanwil DJP WP Besar dan Kanwil DJP Jakarta Khusus: KPP WP Besar /
KPP setingkat Madya

Unit yg berada di bawah selain Kanwil DJP WP Besar dan Kanwil DJP Jakarta Khusus: KPP
Madya / KPP Pratama / KP2KP

C.

2.

KPP
a. Subbagian Umum
b. Seksi Pengolahan Data dan Informasi
c. Seksi Pelayanan
d. Seksi Penagihan
e. Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal
f. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan selain KPP WP Besar, KPP Madya, dan KPP yg berada di
bawah Kanwil DJP Jakarta Khusus
g. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I
h. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II
i.
Seksi Pengawasan dan Konsultasi III tergantung kebutuhan KPP ybs
j.
Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV tergantung kebutuhan KPP ybs
k. Kelompok Jabatan Fungsional

3.

KP2KP
a. Petugas Tata Usaha
b. Kelompok Jabatan Fungsional

UPT
1.

PPDDP
a. Subbagian Tata Usaha dan Keuangan
b. SubBagian Rumah Tangga, Kepegawaian dan Kepatuhan Internal
c. Seksi Pengumpulan dan Penerimaan Dokumen
d. Seksi Penyimpanan dan Peminjaman Dokumen
e. Seksi Perekaman dan Transfer Data
f. Seksi Pemindaian Dokumen

2.

KPDDP
a. Subbagian Tata Usaha dan Kepatuhan Internal
b. Seksi Verifikasi Dokumen
c. Seksi Pemeliharaan dan Pelayanan Dokumen
d. Kelompok Jabatan Fungsional

3.

KLIP DJP
a. Subbagian Tata Usaha dan Kepatuhan Internal
b. Seksi Operasional
c. Seksi Penjaminan Kualitas Layanan
d. Kelompok Jabatan Fungsional

4.

KPDE
a. Subbagian Tata Usaha dan Kepatuhan Internal
b. Seksi Pengelolaan Data dan Dukungan Operasional
c. Seksi Perekaman dan Transfer Data
d. Kelompok Jabatan Fungsional
A056

Kanwil DJP:
1.
Kanwil DJP Nanggroe Aceh Darussalam: 7 KPP Pratama, 14 KP2KP
2.
Kanwil DJP Sumatera Utara I: 1 KPP Madya, 8 KPP Pratama
3.
Kanwil DJP Sumatera Utara II: 8 KPP Pratama, 11 KP2KP
4.
Kanwil DJP Riau dan Kepulauan Riau: 2 KPP Madya, 11 KPP Pratama, 10 KP2KP
5.
Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi: 8 KPP Pratama, 19 KP2KP
6.
Kanwil DJP Sumatera Selatan & Kepulauan Bangka Belitung: 1 KPP Madya, 12 KPP Pratama,
13 KP2KP
7.
Kanwil DJP Bengkulu & Lampung: 9 KPP Pratama, 11 KP2KP
8.
Kanwil DJP Jakarta Pusat: 1 KPP Madya, 15 KPP Pratama
9.
Kanwil DJP Jakarta Barat: 1 KPP Madya, 10 KPP Pratama
10. Kanwil DJP Jakarta Selatan: 1 KPP Madya, 12 KPP Pratama
11. Kanwil DJP Jakarta Timur; 1 KPP Madya, 8 KPP Pratama
12. Kanwil DJP Jakarta Utara: 1 KPP Madya, 7 KPP Pratama, 1 KP2KP
13. Kanwil DJP Jakarta Khusus: 9 KPP Setingkat KPP Madya
14. Kanwil DJP Banten: 1 KPP Madya, 8 KPP Pratama, 1 KP2KP
15. Kanwil DJP Jawa Barat I: 1 KPP Madya, 15 KPP Pratama, 2 KP2KP
16. Kanwil DJP Jawa Barat II: 1 KPP Madya, 16 KPP Pratama, 2 KP2KP
17. Kanwil DJP Jawa Tengah I: 1 KPP Madya, 16 KPP Pratama, 5 KP2KP
18. Kanwil DJP Jawa Tengah II: 12 KPP Pratama, 6 KP2KP
19. Kanwil DJP Daerah Istimewa Yogyakarta: 5 KPP Pratama
20. Kanwil DJP Jawa Timur I: 1 KPP Madya, 12 KPP Pratama
21. Kanwil DJP Jawa Timur II: 1 KPP Madya, 14 KPP Pratama, 7 KP2KP
22. Kanwil DJP Jawa Timur III: 1 KPP Madya, 14 KPP Pratama, 7 KP2KP
23. Kanwil DJP Kalimantan Barat: 6 KPP Pratama, 7 KP2KP
24. Kanwil DJP Kalimantan Selatan & Tengah: 9 KPP Pratama,18 KP2KP
25. Kanwil DJP Kalimantan Timur: 1 KPP Madya, 7 KPP Pratama, 6 KP2KP
26. Kanwil DJP Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara: 1 KPP Madya, 14 KPP Pratama, 21 KP2KP
27. Kanwil DJP Sulawesi Utara,Tengah,Gorontalo, & Maluku Utara: 11 KPP Pratama, 16 KP2KP
28. Kanwil DJP Bali: 1 KPP Madya, 7 KPP Pratama, 4 KP2KP
29. Kanwil DJP Nusa Tenggara: 11 KPP Pratama, 11 KP2KP
30. Kanwil DJP Papua dan Maluku: 7 KPP Pratama, 15 KP2KP
31. Kanwil DJP Wajib Pajak Besar: 4 KPP WP Besar
Total 331 KPP dan 207 KP2KP

A057

NILAI-NILAI KEMENKEU DAN VISI MISI & KODE ETIK DJP


Nilai-Nilai Kemenkeu:
1. Integritas: Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dgn baik dan benar serta memegang teguh kode
etik dan prinsip-prinsip moral.
1. Bersikap jujur, tulus dan dpt dipercaya
Perilaku Utama:
2. Menjaga martabat dan tdk melakukan hal-hal tercela
2. Profesionalisme: Bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik, penuh tanggung jawab dan
komitmen yg tinggi.
3. Mempunyai keahlian dan pengetahuan yg luas
Perilaku Utama:
4. Bekerja dgn hati
3. Sinergi: Membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yg produktif serta kemitraan yg
harmonis dgn para pemangku kepentingan, utk menghasilkan karya yg bermanfaat dan berkualitas.
5. Memiliki sangka baik, saling percaya dan menghormati
Perilaku Utama:
6. Menemukan dan melaksanakan solusi terbaik
4. Pelayanan: Memberikan layanan yg memenuhi kepuasan pemangku kepentingan yg dilakukan dgn
sepenuh hati, transparan, cepat, akurat dan aman.
7. Melayani dgn berorientasi pd kepuasan pemangku kepentingan
Perilaku Utama:
8. Bersikap proaktif dan cepat tanggap
5. Kesempurnaan: Senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang utk menjadi dan memberikan
yg terbaik.
9. Melakukan perbaikan terus menerus
Perilaku Utama:
10. Mengembangkan inovasi dan kreativitas
Visi Misi DJP:
Visi
:
Menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak negara yg terbaik di wilayah Asia
Tenggara.
Misi
:
Menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dgn menerapkan UU Perpajakan scr
adil dlm rangka membiayai penyelenggaraan negara demi kemakmuran rakyat.
Kode Etik Pegawai DJP: (PMK-1/PM.3/2007)
Kewajiban:
1. Menghormati agama, kepercayaan, budaya dan adat istiadat orang lain
2. Bekerja scr profesional, transparan dan akuntabel
3. Mengamankan data dan/atau informasi yg dimiliki DJP
4. Memberikan pelayanan kpd WP, sesama pegawai, atau pihak lain dlm pelaksanaan tugas dgn sebaikbaiknya
5. Mentaati perintah kedinasan
6. Bertanggung jawab dlm penggunaan barang inventaris milik DJP
7. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor
8. Menjadi panutan yg baik bagi masyarakat dlm memenuhi kewajiban perpajakan
9. Bersikap, penampilan dan bertutur kata scr sopan
Larangan:
1. Bersikap diskriminatif dlm melaksanakan tugas
2. Menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik
3. Menyalahgunakan kewenangan jabatan baik lsg maupun tdk lsg
4. Menyalahgunakan fasilitas kantor
5. Menerima segala pemberian dlm bentuk apapun, baik lsg maupun tdk lsg, dari WP, sesama Pegawai,
atau pihak lain, yg menyebabkan Pegawai yg menerima, patut diduga memiliki kewajiban yg berkaitan
dgn jabatan atau pekerjaannya
6. Menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan
7. Melakukan perbuatan yg patut diduga dpt mengakibatkan gangguan, kerusakan dan atau perubahan
data pd SI milik DJP
8. Melakukan perbuatan tdk terpuji dan bertentangan dgn norma kesusilaan dan dpt merusak citra serta
martabat DJP
Aturan Standar Operasional Prosedur (SOP) : KEP-107/PJ/2014
A061

BAGIAN B
KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA
PERPAJAKAN (KUP)

POIN UU KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN


Pasal
Perihal
BAB I KETENTUAN UMUM
1
Pengertian-pengertian
BAB II NPWP, PENGUKUHAN PKP, SPT, DAN TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK
2
Persyaratan subjektif & objektif; Pendaftaran NPWP; Pengukuhan PKP; Penghapusan NPWP;
Pencabutan PKP
2A
Masa Pajak
3
SPT dan batas waktu penyampaian
4
SPT dan LK
5
Tempat lain utk Penyampaian SPT
6
Penyampaian SPT
7
Denda atas Penyampaian SPT
8
Pembetulan SPT
9
Jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak serta mengangsur atau menunda pembayaran pajak
10
Penyetoran pajak
11
Penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
BAB III PENETAPAN DAN KETETAPAN PAJAK
12
Pembayaran pajak terutang
13
SKPKB
13A
Kealpaan pertama kali
14
STP
15
SKPKBT
16
Pembetulan skp
17
SKPLB
17A
SKPN
17B
Jangka waktu permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
17C
Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari WP dgn kriteria tertentu
17D
Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari WP yg memenuhi persyaratan tertentu
17E
Pengembalian PPN yg tlh dibayar
BAB IV PENAGIHAN PAJAK
18
Dasar penagihan pajak
19
Pembayaran skp; Mengangsur atau menunda pembayaran pajak
20
Penagihan pajak dgn Surat Paksa
21
Hak Mendahulu
22
Daluwarsa penagihan pajak
23
Gugatan
24
Penghapusan piutang
BAB V KEBERATAN DAN BANDING
25
Keberatan
26
Jangka waktu penyelesaian keberatan
26A
Pengajuan dan penyelesaian keberatan
27
Banding
27A
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dan imbalan bunga
BAB VI PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN
28
Kewajiban menyelenggarakan pembukuan dan pencatatan
29
Pemeriksaan
29A
Pemeriksaan Kantor
30
Penyegelan
31
Tata cara pemeriksaan
BAB VII KETENTUAN KHUSUS
32
Kuasa WP
33
34
Larangan memberitahukan kpd pihak lain
35
Keterangan atau bukti dari pihak-pihak ketiga
35A
Kewajiban instansi pemerintah memberikan data dan informasi
36
Pengurangan atau penghapusan sanksi; Pengurangan atau pembatalan skp tdk benar; Pengurangan
atau pembatalan STP; Pembatalan hasil pemeriksaan pajak atau skp dari hasil pemeriksaan
36A
Kewajiban pegawai pajak
36B
Kode etik pegawai pajak
36C
Komite pengawasan perpajakan
36D
Insentif DJP
37
Perubahan besarnya imbalan bunga dan sanksi administrasi

B011

37A
Sunset Policy
BAB VIII KETENTUAN PIDANA
38
Kealpaan WP
39
Kesengajaan WP
39A
Kesengajaan WP
40
Daluwarsa penuntutan tindak pidana di bidang perpajakan
41
Kealpaan pejabat
41A
Kesengajaan pihak ketiga tdk memberi keterangan atau bukti, atau memberi keterangan atau bukti yg
tdk benar
41B
Kesengajaan menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan
41C
Kesengajaan instansi pemerintah tdk memenuhi kewajiban memberikan data dan informasi
42
43
Kesengajaan bagi wakil, kuasa, pegawai dari WP, atau pihak lain
BAB IX PENYIDIKAN
43A
Pemeriksaan bukti permulaan
44
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan
44A
Penghentian penyidikan
44B
Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan
BAB X KETENTUAN PERALIHAN
45
Perlakuan thd pajak terhutang sbl berlaku UU ini
46
Peraturan pelaksanaan di bidang perpajakan yg lama tetap berlaku sepanjang tdk bertentangan
47
47A
Penerapan thd semua hak dan kewajiban perpajakan Thn Pajak 1995 s.d. Thn Pajak 2000
BAB XI KETENTUAN PENUTUP
48
Pengaturan hal-hal yg blm cukup diatur dlm UU KUP
49
Ketentuan UU KUP berlaku pula bagi UU perpajakan lain kecuali ditentukan lain

B012

NPWP, PKP, WP NE
A. ADMINISTRASI NPWP
Dasar Hukum:
PER-20/PJ/2013 (berlaku sejak 31 Mei 2013) jo PER-38/PJ/2013 (berlaku sejak 08 Nov 13)
mencabut KEP-161/PJ/2001, KEP-144/PJ./2005, KEP-47/PJ./2006, PER-160/PJ/2007, PER26/PJ/2008, PER-44/PJ/2008, PER-51/PJ/2008, PER-41/PJ/2009, PER-24/PJ/2009, PER62/PJ/2010
SE terkait:
SE-60/PJ/2013 mencabut SE-89/PJ/2009, SE-17/PJ/2009, SE-36/PJ/2012
1. Kategori NPWP WP OP:
a. OP (lnduk): WP blm menikah dan suami sbg kepala keluarga
b. Hidup Berpisah (HB): Wanita kawin yg dikenai pajak scr terpisah krn hidup berpisah
berdasarkan putusan hakim
c. Pisah Harta (PH): Suami-istri yg dikenai pajak scr terpisah krn menghendaki scr tertulis
berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan scr tertulis
d. Memilih Terpisah (MT): Wanita kawin, selain kategori HB & PH, yg dikenai pajak scr terpisah
krn memilih melaksanakan hak & memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari suaminya
e. Warisan Blm Terbagi (WBT) sbg 1 kesatuan mrp subjek pajak pengganti, menggantikan
mereka yg berhak: Ahli waris
WP pd angka 1 huruf c & d diberikan NPWP Pusat yg berbeda dgn NPWP suami.
NPWP tdk diberikan kpd:
Wanita kawin yg tdk hidup berpisah berdasarkan putusan hakim, tdk melakukan perjanjian
pemisahan harta & penghasilan scr tertulis, dan/atau tdk menghendaki utk melaksanakan
hak & memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari suaminya, yg hak & kewajiban
perpajakannya digabungkan dgn pelaksanaan hak & pemenuhan kewajiban perpajakan
suaminya; dan
Anak yg blm dewasa yg memiliki penghasilan sesuai Pasal 8 ayat 4 UU PPh.
WP OPPT & OP lainnya yg melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas juga wajib mendaftarkan
diri di KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha tsb, utk memperoleh NPWP
Cabang bagi setiap tempat usaha. NPWP Cabang tsb diberikan kode cabang yg mencerminkan
urutan cabang di suatu KPP.
2. Kategori NPWP WP Badan:
a. Badan: Sekumpulan orang dan/atau modal yg mrp kesatuan baik yg melakukan usaha
maupun yg tdk melakukan usaha yg meliputi PT, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
BUMN atau BUMD dgn nama & dlm bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk KIK dan BUT
b. JO: Bentuk KSO yg melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP a.n. KSO
c. Kantor Perwakilan Perusahaan Asing: WP perwakilan dagang asing/kantor perwakilan
perusahaan asing (representative office/liason office) di Indonesia yg bukan BUT
d. Bendahara: Bendahara pemerintah yg membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain sehubungan dgn pekerjaan, jasa, atau kegiatan, dan diwajibkan melakukan
pemotongan/pemungutan pajak sehubungan dgn pembayaran/ penyerahan barang & jasa,
serta pembayaran lainnya sesuai dgn perpu di bidang perpajakan
e. Penyelenggara Kegiatan: Pihak selain WP pd huruf a d yg melakukan pembayaran
imbalan dgn nama dan dlm bentuk apapun sehubungan dgn pelaksanaan kegiatan, dan
diwajibkan melakukan pemotongan/pemungutan pajak sesuai dgn perpu di bidang
perpajakan
WP badan yg memiliki tempat usaha berbeda dgn tempat kedudukan juga wajib mendaftarkan diri
di KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat usaha tsb, utk memperoleh NPWP Cabang bagi
setiap tempat usaha.

B021

Status Master File WP:


a. WP Aktif: Status WP yg memenuhi persyaratan subjektif dan objektif dan menjalankan hak &
kewajiban perpajakan scr efektif sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
b. WP NE: Status yg diberikan kpd WP tertentu, dan utk sementara dikecualikan dari pengawasan
administrasi rutin, termasuk status WP penghasilan tertentu yg dikecualikan dari kewajiban
menyampaikan SPT.
c. WP Hapus: Status WP yg tdk lagi memenuhi persyaratan subjektif & objektif sbg WP dan NPWPnya tlh dihapus.
d. WP Aktivasi Sementara: WP Hapus yg statusnya diaktifkan sementara paling lama 1 bulan dlm
rangka memenuhi hak & kewajiban perpajakan.

B022

B. PENDAFTARAN & PELAPORAN KEGIATAN USAHA, PENDAFTARAN & PENGHAPUSAN NPWP,


PENGUKUHAN & PENCABUTAN PENGUKUHAN PKP
Dasar Hukum:
Pasal 2 UU KUP
Pasal 2, 3, dan 4 PP 74 Thn 2011 (berlaku sejak 1 Jan 2012)
PMK-73/PMK.03/2012 (berlaku sejak 15 Mei 2012)
PMK-146/PMK.03/2012 (mulai berlaku stl 15 hari terhitung sejak tanggal 10 Sept 2012)
PER-20/PJ/2013 (berlaku sejak 31 Mei 2013) jo PER-38/PJ/2013 (berlaku sejak 08 Nov 13)
PER-12/PJ/2014 (berlaku sejak 02 Apr 2014)
PER-4/PJ/2010 (berlaku sejak 01 Apr 2010)
KEP-701/PJ/2001 (berlaku sejak 16 Nop 2001)
SE terkait:
SE-60/PJ/2013 (berlaku sejak 24 Des 2013)

I.

PENDAFTARAN NPWP

WP yg tlh memenuhi persyaratan subjektif & objektif sesuai dgn ketentuan perpu di bidang
perpajakan, wajib mendaftarkan diri pd KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal (mnr
keadaan yg sebenarnya) atau tempat kedudukan (mnr keadaan yg sebenarnya), dan
tempat kegiatan usaha WP. (Pasal 2 ayat (1) & (2) PER-20/PJ/2013)
WP OP Pengusaha Tertentu (OPPT), selain wajib mendaftarkan diri pd KPP yg wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal WP, juga wajib mendaftarkan diri pd KPP yg wilayah
kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha WP. (Pasal 2 ayat (4) PER-20/PJ/2013)

Wajib Memiliki NPWP: (Pasal 2 ayat (3) PER-20/PJ/2013)


1. WP OP yg tdk menjalankan usaha / pekerjaan bebas & memperoleh penghasilan >
PTKP
Wajib mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lama pd akhir bulan berikutnya stl
penghasilan WP tsb pd suatu bulan yg disetahunkan > PTKP.
2. WP OP yg menjalankan usaha / pekerjaan bebas
Wajib mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lambat 1 bulan stl saat usaha, atau
pekerjaan bebas nyata-nyata mulai dilakukan.
Catatan:
Utk no. 1 & no. 2, termasuk juga wanita kawin yg dikenai pajak scr terpisah krn:
hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;
menghendaki scr tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta; atau
memilih melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya
meskipun tdk terdapat keputusan hakim atau tdk terdapat perjanjian pemisahan penghasilan
& harta.
3. WP badan yg memiliki kewajiban perpajakan sbg pembayar pajak, pemotong dan/atau
pemungut pajak sesuai ketentuan perpu perpajakan, termasuk BUT dan kontraktor
dan/atau operator di bidang usaha hulu migas
Wajib mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lambat 1 bulan stl saat pendirian.
4. WP badan yg hanya memiliki kewajiban perpajakan sbg pemotong dan/atau pemungut
pajak sesuai ketentuan perpu perpajakan, termasuk bentuk KSO (JO)
Wajib mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lambat 1 bulan stl saat pendirian.
5. Bendahara yg ditunjuk sbg pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan
perpu perpajakan
Wajib mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lambat sbl melakukan pemotongan
dan/atau pemungutan pajak.
WP OP selain WP yg wajib memiliki NPWP dpt memilih utk mendaftarkan diri utk
memperoleh NPWP

B023

Tempat Tinggal OP & Tempat Kedudukan Badan mnr Keadaan yg Sebenarnya:


1. Tempat Tinggal (Pasal 2 ayat (1) KEP-701/PJ/2001)
a. Rumah tetap OP berada, yaitu rumah tempat OP beserta keluarganya bertempat
tinggal sebagaimana tercantum dlm identitas kependudukan;
b. Rumah tetap OP tempat pusat kepentingan pribadi & ekonomi dilakukan, dlm hal OP
tsb mempunyai rumah tetap sebagaimana dimaksud pd huruf a di 2 tempat atau lbh
wilayah kerja KPP;
c. Tempat OP lbh lama tinggal, dlm hal rumah tetap tempat pusat kepentingan pribadi &
ekonomi dilakukan sebagaimana dimaksud dlm huruf b tdk dpt ditentukan; atau
d. Tempat tinggal mnr keadaan sebenarnya yg ditentukan oleh Dirjen Pajak, dlm hal
keadaan sebagaimana dimaksud dlm huruf c tdk dpt ditentukan.
2. Tempat Kedudukan (Pasal 3 ayat (1) KEP-701/PJ/2001)
a. Tempat kantor pimpinan perusahaan, pusat kegiatan usaha serta pusat administrasi &
keuangan berada sebagaimana tercantum dlm Akta Notaris Pendirian Perusahaan;
b. Tempat pusat kegiatan usaha berada, dlm hal tempat pusat kegiatan usaha terpisah
dari tempat kantor pimpinan perusahaan dan/atau terpisah dari pusat administrasi &
keuangan; atau
c. Tempat kedudukan mnr keadaan sebenarnya yg ditentukan oleh Dirjen Pajak, dlm hal
tempat pusat kegiatan usaha sebagaimana dimaksud pd huruf b berada di 2 tempat
atau lbh wilayah kerja KPP.
Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan: (Pasal 6 PER-20/PJ/2013 jo PER38/PJ/2013)
No.
Jenis WP
Dokumen yg disyaratkan
WP OP yg tdk menjalankan
1.
WNI FC KTP
WNA FC paspor,
usaha / pekerjaan bebas &
FC KITAS atau
memperoleh penghasilan >
KITAP
PTKP (Pasal 2 ayat (3) huruf a)
dan WP OP selain Pasal 2 ayat
(3)
WP OP yg menjalankan usaha /
2.
WNI FC KTP
WNA FC paspor,
pekerjaan bebas (Pasal 2 ayat
atau FC e-KTP &
FC KITAS atau
(3) huruf b)
surat pernyataan di
KITAP
atas meterai dari WP
OP yg menyatakan
bahwa yg bersangkutan benar-benar
menjalankan usaha /
pekerjaan bebas
FC dokumen izin kegiatan usaha yg diterbitkan
oleh instansi berwenang atau surat keterangan
tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dari Pejabat Pemda (minimal Lurah / Kepala
Desa) atau lembar tagihan listrik dari
Perusahaan Listrik / bukti pembayaran listrik
(memuat data identitas berupa nama WP ybs)
WP badan yg memiliki
3a.
WP badan DN FC
BUT Surat
kewajiban perpajakan sbg
akta pendirian /
keterangan
pembayar pajak, pemotong
dokumen pendirian
penunjukan dari
dan/atau pemungut pajak, terdan perubahan
kantor pusat
masuk BUT dan kontraktor
FC Kartu NPWP salah satu pengurus, atau FC
dan/atau operator di bid usaha
paspor & surat keterangan tempat tinggal dari
hulu migas (Pasal 2 ayat (3)
Pejabat Pemda (minimal Lurah / Kepala Desa)
huruf c) yg berorientasi pd
dlm hal penanggung jawab adalah WNA
profit
FC dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yg
diterbitkan oleh instansi berwenang atau surat
keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat
Pemda (minimal Lurah / Kepala Desa) atau

B024

3b.

4.

5.

6.

7.

WP badan yg memiliki
kewajiban perpajakan sbg
pembayar pajak, pemotong
dan/atau pemungut pajak,
termasuk BUT dan kontraktor
dan/atau operator di bid usaha
hulu migas (Pasal 2 ayat (3)
huruf c) yg tdk berorientasi pd
profit
WP badan yg hanya memiliki
kewajiban perpajakan sbg
pemotong dan/atau pemungut
pajak, termasuk bentuk KSO
(Pasal 2 ayat (3) huruf d)

Bendahara yg ditunjuk sbg


pemotong dan/atau pemungut
pajak (Pasal 2 ayat (3) huruf e)
WP dgn status cabang dan WP
OPPT (Pasal 2 ayat (4))

Wanita kawin yg dikenai pajak


scr terpisah krn menghendaki
scr tertulis berdasarkan
perjanjian pemisahan
penghasilan & harta, dan wanita
kawin yg memilih melaksanakan
hak & kewajiban perpajakannya
scr terpisah (Pasal 2 ayat (5))

lembar tagihan listrik dari Perusahaan Listrik /


bukti pembayaran listrik (memuat data identitas
berupa nama WP ybs)
FC e-KTP salah satu pengurus badan /
organisasi
Surat keterangan domisili dari pengurus RT/RW

FC Perjanjian Kerjasama/Akte Pendirian sbg


bentuk KSO
FC Kartu NPWP @ anggota bentuk KSO yg
diwajibkan utk memiliki NPWP
FC Kartu NPWP OP salah satu pengurus
perusahaan anggota bentuk KSO, atau FC
paspor & surat keterangan tempat tinggal dari
Pejabat Pemda (minimal Lurah / Kepala Desa)
dlm hal penanggung jawab adalah WNA
FC dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yg
diterbitkan oleh instansi berwenang atau surat
keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi
berwenang (minimal Lurah / Kepala Desa)
FC surat penunjukan sbg Bendahara
FC KTP
FC Kartu NPWP pusat / induk
Surat keterangan sbg cabang (utk WP Badan)
FC dokumen izin kegiatan usaha yg diterbitkan
oleh instansi berwenang atau surat keterangan
tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
dari Pejabat Pemda (minimal Lurah / Kepala
Desa)
FC Kartu NPWP suami
FC Kartu Keluarga
FC surat perjanjian pemisahan penghasilan &
harta, atau surat pernyataan menghendaki
melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban
perpajakan terpisah dari hak & kewajiban
perpajakan suami (Form Lamp II SE60/PJ/2013)

Wanita kawin yg tdk menghendaki utk melaksanakan hak & memenuhi kewajiban
perpajakan terpisah dari suaminya dan anak yg blm dewasa, hrs melaksanakan hak dan
memenuhi kewajiban perpajakannya menggunakan NPWP suami atau kepala keluarga.
Penjelasan Pasal 8 ayat (4) UU PPh:
Anak yg blm dewasa: anak yg blm berumur 18 thn dan blm pernah menikah
Jangka Waktu Penyelesaian:
Thd permohonan pendaftaran NPWP yg tlh diberikan BPS, KPP/KP2KP menerbitkan Kartu
NPWP & SKT paling lambat 1 hari kerja stl BPS diterbitkan. Kartu NPWP dan SKT
disampaikan kpd WP melalui pos tercatat.

B025

Apabila dlm jangka waktu tsb, KPP/KP2KP blm menerbitkan SKT & kartu NPWP,
KPP/KP2KP hrs segera menerbitkan SKT & kartu NPWP dgn tanggal mulai terdaftar
adalah hari kerja berikutnya stl BPS diterbitkan.
Petugas Pendaftaran melakukan pemantauan thd pengiriman SKT & Kartu NPWP yg tdk
sampai ke alamat WP (kembali pos). Dlm hal tdk sampai, maka WP tsb diusulkan utk
dilakukan penelitian dlm rangka penetapan WP NE.

Prosedur Kerja Pendaftaran dan Pemberian NPWP scr Jabatan di KPP: (Lamp V Huruf B
Angka IV SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Waskon utk menindaklanjuti.
2. Kasi Waskon meneliti data dan/atau informasi, selanjutnya menentukan apakah perlu
dilakukan pemeriksaan atau verifikasi. Dlm hal dilakukan pemeriksaan, Kasi Waskon
menyerahkan data dan/atau informasi kpd Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai Tata Cara
Pemeriksaan. Dlm hal dilakukan verifikasi, prosedur selanjutnya mengikuti Tata Cara
Verifikasi.
3. LHV / LHP selanjutnya disampaikan kpd Kasi Pelayanan.
4. Kasi Pelayanan menugaskan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
5. Petugas Pendaftaran menerima dan meneliti LHV / LHP.
a. Dlm hal LHV / LHP menyatakan WP tdk dpt diberikan NPWP, Petugas Pendaftaran
mengarsipkan LHV / LHP.
b. Dlm hal LHV / LHP menyatakan WP dpt diberikan NPWP, Petugas Pendaftaran:
1) mengisi dan menandatangani Formulir Pendaftaran WP;
2) merekam data isian Formulir Pendaftaran WP;
3) mencetak konsep SKT dan kartu NPWP;
4) menyampaikan konsep SKT dan kartu NPWP kpd Kasi Pelayanan.
6. Kasi Pelayanan meneliti, menandatangani SKT dan menyerahkan kembali kartu NPWP dan
SKT kpd Petugas Pendaftaran.
7. Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan Kartu NPWP, SKT dan
starter-kit kpd WP.

II.

PELAPORAN USAHA & PENGUKUHAN PKP

Setiap WP sbg Pengusaha yg melakukan penyerahan yg dikenai PPN berdasarkan UU PPN,


kecuali pengusaha kecil, wajib melaporkan usahanya pd KPP yg wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal / tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha utk dikukuhkan menjadi
PKP. (Pasal 15 PER-20/PJ/2013)
Pengusaha wajib melaporkan usahanya utk dikukuhkan sbg PKP, apabila s.d. suatu
bulan dlm thn buku jml peredaran/penerimaan bruto > Rp 4,8 M. Kewajiban melaporkan
usaha utk dikukuhkan sbg PKP tsb dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya stl bulan
saat jml peredaran/penerimaan bruto > Rp 4,8 M. (Pasal 4 PMK-68/PMK.03/2010 jo
PMK-197/PMK.03/2013)
Apabila diperoleh data dan/atau informasi yg menunjukkan adanya kewajiban perpajakan
di atas tdk dipenuhi pengusaha, DJP dpt mengukuhkan pengusaha sbg PKP scr jabatan.
DJP dpt menerbitkan skp dan/atau STP utk Masa Pajak sbl pengusaha dikukuhkan scr
jabatan sbg PKP terhitung sejak saat jml peredaran/penerimaan bruto > Rp 4,8 M. (Pasal
4 PMK-68/PMK.03/2010 jo PMK-197/PMK.03/2013)
Pengusaha Kecil: Pengusaha yg selama 1 thn buku melakukan penyerahan BKP dan/atau
JKP dgn jml peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto < Rp 4,8 M. Jml peredaran bruto
dan/atau penerimaan bruto tsb adalah jml keseluruhan penyerahan BKP dan/atau JKP yg
dilakukan oleh pengusaha dlm rangka kegiatan usahanya. Bagi pengusaha OP yg
dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan, pengertian thn buku adalah thn
kalender.
Batasan Pengusaha Kecil s.d. 31 Des 2013: < Rp 600 juta

B026

Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan: (Pasal 18 PER-20/PJ/2013)


No.
Jenis WP
Dokumen yg disyaratkan
1.
WP OP
FC KTP yg dilegalisasi oleh
FC paspor, FC KITAS atau
pejabat berwenang WNI
KITAP yg dilegalisasi oleh
pejabat berwenang WNA
Dokumen izin kegiatan usaha yg diterbitkan oleh instansi berwenang
Surat keterangan tempat kegiatan usaha / pekerjaan bebas dari
Pejabat Pemda (minimal Lurah / Kepala Desa)
2.
WP badan
FC akta pendirian / dokumen
Surat keterangan penunjukan
pendirian & perubahan yg
dari kantor pusat yg dilegalisasi
dilegalisasi oleh pejabat
oleh pejabat berwenang
berwenang WP badan DN
BUT
FC Kartu NPWP salah satu pengurus, atau FC paspor dan surat
keterangan tempat tinggal dari Pejabat Pemda (minimal Lurah /
Kepala Desa) dlm hal penanggung jawab adalah WNA
Dokumen izin usaha dan/atau kegiatan yg diterbitkan oleh instansi
berwenang
Surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemda (minimal
Lurah / Kepala Desa)
3.
WP badan FC Perjanjian Kerjasama/Akta Pendirian sbg bentuk KSO, yg
bentuk
dilegalisasi oleh pejabat berwenang
KSO
FC Kartu NPWP @ anggota bentuk KSO yg diwajibkan utk memiliki
NPWP
FC Kartu NPWP OP salah satu pengurus perusahaan anggota bentuk
KSO, atau FC paspor dlm hal penanggung jawab adalah orang WNA
Dokumen izin kegiatan usaha yg diterbitkan oleh instansi berwenang
Surat keterangan tempat kegiatan usaha dari Pejabat Pemda (minimal
Lurah / Kepala Desa) bagi WP badan DN maupun WP badan asing
Keputusan atas Permohonan WP utk Dikukuhkan Menjadi PKP:
1. Keputusan dpt berupa penerbitan Surat Pengukuhan PKP atau penerbitan Surat Penolakan
Pengukuhan PKP
2. Thd permohonan pengukuhan PKP yg tlh lengkap, KPP / KP2KP hrs memberikan keputusan
dlm jangka waktu 5 hari kerja stl Bukti Penerimaan Surat (BPS) diterbitkan.
Apabila jangka waktu tsb tlh terlampaui dan KPP / KP2KP tdk memberi suatu keputusan,
permohonan pengukuhan PKP dianggap dikabulkan.
Dlm hal permohonan WP Pajak dianggap dikabulkan, KPP atau KP2KP hrs menerbitkan
Surat Pengukuhan PKP dgn tanggal pengukuhan adalah hari kerja ke-5 stl tanggal
BPS diterbitkan.
3. Keputusan ini diberikan stl KPP / KP2KP melakukan Verifikasi dlm rangka pengukuhan PKP.
Tempat Pengukuhan PKP:
1. PKP OP wajib dikukuhkan sbg PKP pd setiap tempat kegiatan usahanya dimana terdapat
penyerahan BKP / JKP. Sedangkan PKP Badan wajib dikukuhkan sbg PKP pd setiap
tempat kedudukan walaupun mungkin pd cabang tertentu tdk terdapat kegiatan
penyerahan BKP / JKP (misalnya hanya sbg gudang tetap hrs dikukuhkan sbg PKP).
(Penjelasan Pasal 12 UU PPN)
2. Tempat terutangnya PPN & PPnBM (berdasarkan PER-4/PJ/2010)
a. Bagi PKP OP
PPN & PPnBM terutang di tempat tinggal dan/atau tempat kegiatan usaha atau
tempat lain. Bagi PKP OP yg mempunyai tempat tinggal tdk sama dgn tempat
kegiatan usahanya, dikukuhkan dan terutang PPN & PPnBM hanya di tempat
kegiatan usahanya, sepanjang PKP tsb tdk melakukan kegiatan usaha apapun di
tempat tinggalnya.
b. Bagi PKP Badan
PPN & PPnBM terutang di tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha atau
tempat lain (Tempat lain ini ditetapkan dgn Keputusan Dirjen Pajak)

B027

Penerbitan NPWP dan/atau Pengukuhan PKP scr Jabatan


Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau mengukuhkan PKP scr jabatan apabila WP
tdk melaksanakan kewajiban mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP dan/atau tdk
melaporkan usahanya dan kewajiban perpajakan dimulai sejak saat WP memenuhi
persyaratan subjektif dan objektif sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan, paling lama 5
thn sbl diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkannya sbg PKP. (Pasal 2 ayat (4) & (4a)
UU KUP)
Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP oleh Dirjen Pajak scr jabatan dilakukan
berdasarkan hasil pemeriksaan atau hasil verifikasi. (Pasal 2 ayat (10) PMK73/PMK.03/2012)
Tanggal terdaftar yg tercantum dlm Kartu NPWP & SKT yg diterbitkan scr jabatan sesuai
dgn tanggal penerbitan Kartu NPWP & SKT.
Tanggal penerbitan yg tercantum dlm SPPKP yg diterbitkan scr jabatan adalah sesuai
dgn tanggal penerbitan SPPKP.
Prosedur Kerja Pelaporan Usaha dan Pengukuhan PKP scr Jabatan: (Lamp X Huruf B Angka
III SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Waskon utk menindaklanjuti.
2. Kasi Waskon meneliti data dan/atau informasi, selanjutnya menentukan apakah perlu
dilakukan pemeriksaan atau verifikasi.
Dlm hal dilakukan pemeriksaan, Kasi Waskon menyerahkan data dan/atau informasi kpd
Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai SOP Tata Cara Pemeriksaan.
Dlm hal dilakukan verifikasi, prosedur selanjutnya mengikuti SOP Tata Cara Verifikasi.
3. Dlm hal LHV / LHP menyatakan WP memenuhi syarat utk dikukuhkan sbg PKP, Petugas
Verifikasi atau Pemeriksa Pajak mengisi dan menandatangani Formulir Pengukuhan PKP.
4. Formulir Pengukuhan PKP dan/atau LHV / LHP selanjutnya disampaikan kpd Kasi Pelayanan.
5. Kasi Pelayanan menugaskan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
6. Petugas Pendaftaran menerima dan merekam nomor LHV / LHP. Berdasarkan LHV / LHP:
a. menyatakan WP dpt dikukuhkan sbg PKP:
1) Petugas Pendaftaran merekam data dlm Formulir Pengukuhan PKP;
2) Petugas Pendaftaran mencetak konsep SPPKP, membuat dan menandatangani
konsep BA Pengukuhan PKP. Konsep SPPKP dan konsep BA Pengukuhan PKP
disampaikan kpd Kasi Pelayanan,
b. menyatakan WP tdk dpt dikukuhkan sbg PKP:
7. Petugas Pendaftaran mengarsipkan LHV / LHP.
8. Kasi Pelayanan menerima, meneliti dan menandatangani SPPKP dan BA Pengukuhan PKP,
kemudian menyerahkan SPPKP dan BA Pengukuhan PKP kpd Petugas Pendaftaran.
9. Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan SPPKP kpd WP.

III. PERUBAHAN DATA


Penyebab Perubahan Data: (Pasal 28 ayat (1) PER-20/PJ/2013)
Perubahan data WP dan/atau PKP dpt dilakukan dlm hal data yg terdapat dlm administrasi
perpajakan berbeda dgn data WP dan/atau PKP mnr keadaan yg sebenarnya yg tdk memerlukan
pemberian NPWP baru dan/atau pengukuhan PKP baru.
Termasuk Perubahan Data: (Pasal 28 ayat (2) PER-20/PJ/2013)
1. Perubahan identitas WP OP
2. Perubahan alamat tempat tinggal WP OP / tempat kedudukan WP badan masih dlm wilayah
kerja KPP yg sama
3. Perubahan kategori WP OP, misal: Perubahan kategori yg disebabkan oleh perubahan status
perkawinan, seperti WP PH atau MT menjadi HB; dan Perubahan kategori dari OP menjadi
WBT yg disebabkan WP OP meninggal dunia dan meninggalkan warisan yg blm terbagi sbg
1 kesatuan menggantikan yg berhak.
4. Perubahan sumber penghasilan utama WP OP

B028

5. Perubahan identitas WP badan tanpa perubahan bentuk badan, misal: CV MAKMUR


TANJUNG berubah namanya menjadi CV TANJUNG MULIA atau PT ABADI JAYA berubah
nama menjadi PT ABADI JAYA MAKMUR
6. Perubahan permodalan / kepemilikan WP badan tanpa perubahan bentuk badan, misal: PT
ALAM JAYA semula status permodalannya sbg PMDN berubah menjadi PT ALAM JAYA dgn
permodalan sbg PMA
Jangka waktu penyelesaian permohonan Perubahan Data WP dan/atau PKP adalah paling
lambat 1 hari kerja stl BPS diterbitkan.
Prosedur Kerja Perubahan Data scr Jabatan: (Lamp XV Huruf B Angka III SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Pelayanan utk menindaklanjuti.
2. Kasi Pelayanan menerima data dan/atau informasi dan menugaskan petugas pendaftaran utk
menindaklanjuti.
3. Petugas Pendaftaran melakukan pengecekan dan melakukan otorisasi perubahan.
4. Berdasarkan hasil pengecekan dan otorisasi perubahan, Petugas Pendaftaran mencetak
konsep BA Perubahan Data WP dan/atau PKP, konsep Surat Pemberitahuan Perubahan
Data, kartu NPWP, dan SKT dan/atau SPPKP, kemudian diserahkan kpd Kasi Pelayanan.
5. Kasi Pelayanan meneliti dan mendatangani BA Perubahan Data WP dan/atau PKP, Surat
Pemberitahuan Perubahan Data, kartu NPWP, dan SKT dan/atau SPPKP, kemudian
menyerahkan kembali kpd Petugas Pendaftaran.
6. Petugas Pendaftaran menatausahakan dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Perubahan
Data, Kartu NPWP, dan SKT dan/atau SPPKP kpd WP.

IV. PEMINDAHAN WP
Dpt dilakukan berdasarkan permohonan WP atau scr jabatan, dan hanya dpt dilakukan oleh KPP
Lama. (Huruf E angka 3 huruf f angka 1) SE-60/PJ/2013)
WP OP dpt mengajukan permohonan pindah melalui KPP Baru dan KPP Baru menerbitkan BPS
stl permohonan dinyatakan lengkap, serta meneruskan berkas permohonan ke KPP Lama paling
lambat 1 hari kerja stl penerbitan BPS.
Yg Dpt Mengajukan Pemindahan: (Pasal 33 ayat (1) PER-20/PJ/2013)
WP dgn NPWP 3 digit terakhir 000 (status domisili) yg tempat tinggal / tempat kedudukan mnr
keadaan yg sebenarnya pindah ke wilayah kerja KPP lain dpt mengajukan permohonan
pemindahan.
Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan: (Pasal 34 ayat (4) PER-20/PJ/2013)
Meliputi dokumen yg menunjukkan bahwa tempat tinggal / tempat kedudukan WP mnr
keadaan yg sebenarnya pindah ke wilayah kerja KPP lain
Proses yg Dilakukan KPP stl Menerima Permohonan dari WP:
a. Yg Dilakukan KPP Lama Stl Menerima Permohonan dari WP (Pasal 35 PER-20/PJ/2013)
Berdasarkan permohonan pindah yg sdh diberikan BPS, KPP Lama memberikan
keputusan dlm jangka waktu paling lama 5 hari kerja stl BPS diterbitkan, atau stl
diterimanya penerusan berkas permohonan pindah WP OP yg disampaikan melalui
KPP Baru.
Keputusan diberikan stl KPP Lama melakukan Verifikasi dlm rangka pemindahan WP,
dpt berupa:
1. Menerima permohonan WP dgn menerbitkan Surat Pindah, Surat Pencabutan SKT,
dan/atau Surat Pencabutan Pengukuhan PKP dan menyampaikan kpd WP; atau
Diterbitkan oleh KPP Lama dan ditembuskan ke KPP Baru dlm hal hasil Verifikasi
menunjukkan bahwa:
a. Tempat tinggal / tempat kedudukan mnr keadaan yg sebenarnya dari WP tdk
berada di wilayah kerja KPP Lama; dan

B029

b.

c.

b. Thd WP tdk sedang dilakukan Verifikasi dlm rangka penerbitan skp,


pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, atau penyidikan.
2. Menolak permohonan WP dgn menerbitkan Surat Pemberitahuan Tdk Dpt Dipindah
dan menyampaikan kpd WP.
Diterbitkan oleh KPP Lama dan ditembuskan ke KPP Baru dlm hal ketentuan
mnr Pasal 35 ayat (4) huruf a dan huruf b tdk terpenuhi.
Thd WP yg ditolak permohonannya krn sedang dilakukan Verifikasi dlm rangka
penerbitan SKP, pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, atau penyidikan,
pelaksanaan hak & pemenuhan kewajiban perpajakan WP tetap dilakukan di
KPP Lama s.d. WP dipindah ke KPP Baru.
Yg Dilakukan KPP Baru Stl Menerima Surat Pindah, Surat Pencabutan SKT, Dan/atau
Surat Pencabutan Pengukuhan PKP dari KPP Lama (Pasal 36 PER-20/PJ/2013)
Berdasarkan tembusan dokumen tsb dari KPP Lama, KPP Baru menerbitkan Kartu
NPWP dan SKT dan/atau Surat Pengukuhan PKP paling lambat 1 hari kerja stl
tembusan dokumen tsb diterima. KPP Baru mengirimkan tembusan SKT dan/atau
Surat Pengukuhan PKP paling lambat 1 hari kerja stl penerbitan ke KPP Lama.
Tanggal pengukuhan PKP di KPP Baru adalah sesuai dgn tanggal pengukuhan
PKP di KPP Lama.
Yg Dilakukan KPP Lama Stl Menerima Tembusan SKT Dan/atau SPPKP dari KPP Baru
(Pasal 37 PER-20/PJ/2013)
Dlm hal KPP Lama telah menerima tembusan SKT dan/atau Surat Pengukuhan PKP, KPP
Lama mengirim berkas WP yg bersangkutan, dilampiri dgn uraian singkat mengenai hal-hal
yg dianggap perlu kpd KPP Baru, a.l.:
Jml tunggakan pajak yg masih hrs ditagih;
Tindakan penagihan yg tlh dilakukan atas tunggakan pajak; atau
Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau keberatan WP yg blm
diselesaikan,
Paling lambat 3 hari kerja stl diterimanya tembusan dokumen tsb dari KPP Baru.

Ketentuan Lain-lain:
a. DJP dpt Memindahkan Tempat Pendaftaran WP (Pasal 38 PER-20/PJ/2013)
Dirjen Pajak dpt memindahkan tempat pendaftaran WP ke KPP yg wilayah kerjanya meliputi
tempat tinggal / tempat kedudukan WP mnr keadaan yg sebenarnya dlm hal terdapat data
dan/atau informasi yg menunjukkan bahwa KPP tempat WP terdaftar tdk sesuai dgn
tempat tinggal / tempat kedudukan mnr keadaan yg sebenarnya.
b. Bagi WP Badan atau OP dgn NPWP 3 Digit Terakhir Selain 000 (Pasal 39 PER20/PJ/2013)
WP badan atau OP dgn NPWP 3 digit terakhir selain 000 (status cabang) yg tempat kegiatan
usahanya pindah ke wilayah kerja KPP lain, hrs mendaftarkan diri dan melaporkan usaha utk
dikukuhkan sbg PKP di KPP Baru serta mengajukan permohonan penghapusan NPWP
dan/atau permohonan pencabutan PKP ke KPP Lama.
Prosedur Kerja Pemindahan WP scr Jabatan: (Lamp XVIII Huruf B Angka III SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh atau usulan dari KPP Baru, Kepala
Kantor menugaskan Kasi Pelayanan utk menindaklanjuti.
2. Kasi Pelayanan menerima penugasan dan menindaklanjuti sesuai SOP Tata Cara Verifikasi.
3. Berdasarkan LHV:
a. WP tdk dpt dipindahkan:
1) Dlm hal data dan/atau informasi berasal dari KPP Lain, Petugas Pendaftaran
mencetak konsep Surat Pemberitahuan WP Tdk Dpt Pindah Scr Jabatan;
2) Dlm hal data dan/atau informasi tdk berasal dari KPP Lain, Petugas Pendaftaran
mengarsipkan LHV.
b. WP dpt dipindahkan:
Petugas Pendaftaran mencetak konsep Surat Pindah, konsep Surat Pencabutan SKT,
dan/atau konsep Surat Pencabutan Pengukuhan PKP.
4. Petugas Pendaftaran menyerahkan konsep Surat Pemberitahuan WP Tdk Dpt Pindah Scr
Jabatan atau konsep Surat Pindah, konsep Surat Pencabutan SKT dan/atau konsep Surat
Pencabutan Pengukuhan PKP kpd Kasi Pelayanan.

B0210

5.

Kasi Pelayanan meneliti dan menandatangani Surat Pemberitahuan WP Tdk Dpt Pindah Scr
Jabatan atau Surat Pindah, Surat Pencabutan SKT dan/atau Surat Pencabutan Pengukuhan
PKP, kemudian menyerahkan kembali kpd Petugas Pendaftaran.
Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan:
1) Surat Pindah, Surat Pencabutan SKT, dan/atau Surat Pencabutan Pengukuhan PKP kpd
WP dan tembusannya dikirimkan ke KPP Baru.
2) Surat Pemberitahuan WP Tdk Dpt Pindah Scr Jabatan kpd KPP Baru dlm hal WP tdk dpt
dipindahkan.

6.

V. WP NE
Kriteria WP yg Ditetapkan sbg WP NE (Pasal 40 ayat (1) PER-20/PJ/2013) shg dikecualikan
dari pengawasan rutin oleh KPP
1. WP OP yg menjalankan usaha / pekerjaan bebas tetapi scr nyata tdk lagi menjalankan
kegiatan usaha atau tdk lagi melakukan pekerjaan bebas;
2. WP OP yg tdk menjalankan usaha / pekerjaan bebas dan penghasilannya < PTKP;
3. WP OP yg bertempat tinggal / berada di LN > 183 hari dlm jangka waktu 12 bulan dan tdk
bermaksud meninggalkan Indonesia utk selama-lamanya;
4. WP yg mengajukan permohonan penghapusan & blm diterbitkan keputusan; atau
5. WP yg tdk lagi memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif tetapi blm dilakukan
penghapusan NPWP.
Termasuk dlm kriteria WP NE pd angka 5:
WP OP wanita kawin yg tlh memiliki NPWP yg berbeda dgn suami dan tdk berniat
melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan scr terpisah;
OP yg memiliki NPWP sbg anggota keluarga/tanggungan, yaitu NPWP dgn kode cabang
"001", "999", "998" dst.;
WP bendahara pemerintah yg tdk lagi memenuhi syarat sbg WP krn ybs sdh tdk lagi
melakukan pembayaran dan blm dilakukan penghapusan NPWP; atau
WP yg tdk diketahui/ditemukan lagi alamatnya.
Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan WP NE: (Pasal 42 ayat (4) PER20/PJ/2013)
Dokumen yg menunjukkan bahwa WP memenuhi kriteria sesuai Pasal 40 ayat (1) PER20/PJ/2013
Hrs dilampiri dgn surat pernyataan memenuhi kriteria WP NE (format di Lamp XIX SE60/PJ/2013)
Kriteria WP yg Diusulkan Ditetapkan sbg WP NE scr Jabatan: (Huruf E angka 3 huruf g angka
12) SE-60/PJ/2013)
1. WP tdk menyampaikan SPT dan/atau tdk ada transaksi pembayaran selama 2 thn berturutturut;
2. Pengiriman kartu NPWP, SKT dan Starter Kit tdk sampai kpd WP (kembali pos); dan
3. Penerbitan NPWP Cabang scr Jabatan dlm rangka penerbitan SKPKB PPN KMS.
Jangka Waktu Penyelesaian Permohonan Penetapan WP NE:
Paling lambat 5 hari kerja stl BPS diterbitkan.

WP berstatus Pusat tdk dpt ditetapkan sbg WP NE apabila terdapat Cabang yg berstatus
Aktif. (Huruf E angka 3 huruf g angka 8) SE-60/PJ/2013)
WP berstatus PKP dpt ditetapkan sbg WP NE stl dilakukan Pencabutan Pengukuhan PKP
terlebih dahulu. (Huruf E angka 3 huruf g angka 9) SE-60/PJ/2013)
Dlm hal KPP melakukan penetapan WP sbg WP NE baik atas permohonan WP atau scr
jabatan, KPP menyampaikan pemberitahuan mengenai penetapan sbg WP NE tsb kpd WP.
(Pasal 44 PER-20/PJ/2013)

B0211

Kondisi WP NE dpt Berubah Menjadi Status WP Efektif: (Huruf E angka 3 huruf g angka 16)
SE-60/PJ/2013)
1. WP menyampaikan SPT Masa/SPT Tahunan;
2. WP melakukan pembayaran pajak;
3. WP melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas;
4. WP mengajukan permohonan utk diaktifkan kembali; atau
5. WP diketahui/ditemukan alamatnya.
Penetapan WP NE/Pengaktifan Kembali WP NE dpt dilakukan berdasarkan permohonan
WP/scr jabatan, dan hanya dpt dilakukan oleh KPP.
Prosedur Kerja Penetapan WP NE scr Jabatan: (Lamp XXII Huruf B Angka III SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Waskon utk menindaklanjuti.
2. Kasi Waskon memerintahkan AR utk menindaklanjuti.
3. AR melakukan penelitian administrasi perpajakan dlm rangka Penetapan WP NE.
4. AR membuat laporan hasil penelitian dan BA Penetapan WP NE, dan menyerahkan kpd Kasi
Waskon utk diteliti dan ditandatangani.
5. Kasi Waskon meneliti dan menandatangani laporan hasil penelitian dan BA Penetapan WP
NE dan meneruskan kpd Kasi Pelayanan.
6. Kasi Pelayanan menerima laporan hasil penelitian dan BA Penetapan WP NE.
7. Kasi Pelayanan menyerahkan laporan hasil penelitian dan BA Penetapan WP NE dan
memerintahkan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
8. Berdasarkan hasil penelitian administrasi perpajakan dan BA Penetapan WP NE:
a. WP memenuhi kriteria dpt ditetapkan sbg WP NE:
1) Petugas Pendaftaran melakukan perubahan Status Master File WP menjadi Status
NE.
2) Petugas Pendaftaran mencetak dan menyampaikan konsep Surat Pemberitahuan
Penetapan WP NE.
b. WP tdk memenuhi kriteria dpt ditetapkan sbg WP NE:
1) Petugas Pendaftaran tdk melakukan perubahan Status Master File WP.
2) Petugas Pendaftaran mengarsipkan laporan hasil penelitian dan BA Penetapan WP
NE.
9. Petugas Pendaftaran menyampaikan konsep Surat Pemberitahuan Penetapan WP NE kpd
Kasi Pelayanan.
10. Kasi Pelayanan meneliti dan menandatangani Surat Pemberitahuan Penetapan WP NE,
kemudian menyerahkan kembali kpd Petugas Pendaftaran.
11. Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan Surat Pemberitahuan
Penetapan WP NE kpd WP.
Prosedur Kerja Pengaktifan Kembali WP NE scr Jabatan: (Lamp XXIII Huruf B Angka III SE60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Pelayanan utk menindaklanjuti.
2. Kasi Pelayanan memerintahkan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
3. Petugas Pendaftaran melakukan perubahan Status Master File WP menjadi Aktif kembali.
4. Petugas Pendaftaran mencetak dan menyampaikan konsep Surat Pemberitahuan Pengaktifan
Kembali WP NE kpd Kasi Pelayanan.
5. Kasi Pelayanan meneliti dan menandatangani Surat Pemberitahuan Pengaktifan Kembali WP
NE, kemudian menyerahkan kembali kpd Petugas Pendaftaran.
6. Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pengaktifan Kembali WP NE kpd WP.

VI. PENGHAPUSAN NPWP


Dilakukan thd WP yg sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dgn
ketentuan perpu di bidang perpajakan.

B0212

Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan: (Pasal 11 ayat (4) PER-20/PJ/2013)


Jenis WP yg
Mengajukan
No.
Dokumen yg disyaratkan
Permohonan
Penghapusan NPWP
1.
OP yg meninggal dunia
Surat keterangan kematian atau dokumen sejenis dari
(permohonan
instansi berwenang
penghapusan NPWP dpt
Surat pernyataan bahwa tdk mempunyai warisan atau
diajukan oleh salah
surat pernyataan bahwa warisan sdh terbagi dgn
seorang ahli waris,
menyebutkan ahli waris
pelaksana wasiat, atau
pihak yg mengurus harta
peninggalan)
2.
OP yg meninggalkan
Dokumen yg menyatakan bahwa WP tlh meninggalkan
Indonesia selamaIndonesia utk selama-lamanya
lamanya
3.

Bendahara pemerintah

4.
5.

WP yg memiliki > 1
NPWP
Wanita kawin yg
sebelumnya tlh memiliki
NPWP

6.

WP badan

Dokumen yg menyatakan bahwa WP sdh tdk ada lagi


kewajiban sbg bendahara
Surat pernyataan mengenai kepemilikan NPWP ganda
FC semua kartu NPWP yg dimiliki
FC buku nikah atau dokumen sejenis
Surat pernyataan tdk membuat, perjanjian pemisahan
harta & penghasilan atau surat pernyataan tdk ingin
melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban
perpajakannya terpisah dari suami
Dokumen yg menunjukkan bahwa WP badan termasuk
BUT tlh dibubarkan shg tdk memenuhi persyaratan
subjektif & objektif (seperti akta pembubaran badan yg
tlh disahkan oleh instansi berwenang sesuai dgn
ketentuan perpu)

Cara Penghapusan NPWP: (Pasal 9 ayat (3) & (4) PER-20/PJ/2013)


a. Penghapusan NPWP Berdasarkan Hasil Verifikasi (atas permohonan WP atau scr
jabatan)
WP OP yg tlh meninggal dunia & tdk meninggalkan warisan
WP bendahara pemerintah yg tdk lagi memenuhi syarat sbg WP krn yg bersangkutan
sdh tdk lagi melakukan pembayaran
WP OP yg tlh meninggalkan Indonesia utk selama-lamanya
WP yg memiliki > 1 NPWP utk menentukan NPWP yg dpt digunakan sbg sarana
administratif dlm pelaksanaan hak & pemenuhan kewajiban perpajakan
WP OP yg berstatus sbg pengurus, komisaris, pemegang saham/pemilik dan pegawai yg
tlh diberikan NPWP melalui pemberi kerja/bendahara pemerintah dan penghasilan
netonya < PTKP
WP badan kantor perwakilan perusahaan asing yg tdk mempunyai kewajiban PPh badan
dan tlh menghentikan kegiatan usahanya
Warisan yg blm terbagi dlm kedudukan sbg Subjek Pajak sdh selesai dibagi
Wanita yg sebelumnya tlh memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian
pemisahan harta & penghasilan serta tdk ingin melaksanakan hak dan memenuhi
kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya
Wanita kawin yg memiliki NPWP berbeda dgn NPWP suami dan pelaksanaan hak &
pemenuhan kewajiban perpajakannya digabungkan dgn pelaksanaan hak dan
pemenuhan kewajiban perpajakan suami
Anak blm dewasa yg tlh memiliki NPWP
WP BUT yg tlh menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia

B0213

WP badan tertentu selain PT dgn status tdk aktif (NE) yg tdk mempunyai kewajiban PPh
dan scr nyata tdk menunjukkan adanya kegiatan usaha
Pelaksanaan Verifikasi mencakup kegiatan:
pencocokan thd data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh DJP yg
menyatakan bahwa WP sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif & objektif; dan
konfirmasi thd data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh DJP yg menyatakan
bahwa WP sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif & objektif.
b. Thd WP selain di atas dilakukan berdasarkan hasil Pemeriksaan

WP yg mengajukan permohonan penghapusan NPWP atau WP yg sedang menjalani


pemeriksaan atau verifikasi dlm rangka penghapusan NPWP scr jabatan diusulkan utk
ditetapkan sbg WP NE scr jabatan, sbl penerbitan keputusan. (Huruf E angka 3 huruf b angka
3) SE-60/PJ/2013)
Dlm hal Surat Penolakan Penghapusan NPWP diterbitkan krn WP: masih memiliki tunggakan
pajak; dan/atau masih menjalani proses hukum atau proses administrasi yg blm selesai, WP
tsb ditetapkan sbg WP NE. (Bagian E. angka 3 huruf b angka 4) SE-60/PJ/2013)
Penghapusan NPWP Pusat hanya dpt dilakukan apabila slr NPWP Cabang tlh dihapus.
(Bagian E. angka 3 huruf b angka 9) SE-60/PJ/2013)
Dlm hal terdapat WP Cabang yg terdaftar di KPP yg berbeda, KPP tempat WP Pusat
terdaftar meminta KPP tempat WP Cabang terdaftar utk melakukan penghapusan NPWP
Cabang scr jabatan atau berdasarkan permohonan. (Bagian E. angka 3 huruf b angka 10)
SE-60/PJ/2013)
Termasuk dlm penghapusan NPWP scr jabatan adalah penghapusan NPWP yg dilakukan
oleh Direktorat Teknologi dan lnformasi Perpajakan DJP dlm rangka pembenahan Master File
WP. (Bagian E. angka 3 huruf b angka 11) SE-60/PJ/2013)

Keputusan atas Permohonan Penghapusan NPWP:


Keputusan dpt berupa penerbitan SK Penghapusan NPWP atau penerbitan Surat Penolakan
Penghapusan NPWP
Pertimbangan KPP dlm memberikan keputusan: (Pasal 13 ayat (2) PER-20/PJ/2013)
a. Utang pajak; dan
b. Proses hukum atau proses administrasi berupa:
pembetulan dlm Pasal 16 UU KUP;
gugatan dlm Pasal 23 UU KUP;
keberatan dlm Pasal 25 UU KUP;
banding dlm Pasal 27 UU KUP;
pengurangan sanksi administrasi, pengurangan atau pembatalan skp, pengurangan atau
pembatalan STP dlm Pasal 36 UU KUP; dan
PK dlm Pasal 40 UU Pengadilan Pajak.
c. Status slr NPWP cabang WP, dlm hal penghapusan NPWP dilakukan thd NPWP pusat.
Dlm hal penghapusan NPWP dilakukan terkait penggabungan usaha, ketentuan Pasal 13 ayat (2)
PER-20/PJ/2013 tdk dipertimbangkan.
Jangka Waktu Keputusan atas Pemeriksaan / Verifikasi oleh DJP (Pasal 13 ayat (7) & (8)
PER-20/PJ/2013):
utk WP OP = 6 bulan sejak tgl permohonan WP diterima scr lengkap.
utk WP badan = 12 bulan sejak tgl permohonan WP diterima scr lengkap.
Apabila jangka waktu tsb tlh lewat dan DJP tdk memberi suatu keputusan, permohonan dianggap
dikabulkan & DJP hrs menerbitkan surat keputusan dlm jangka waktu paling lama 1 bulan stl
jangka waktu di atas berakhir.
SK Penghapusan NPWP diterbitkan dlm hal: (Pasal 13 ayat (4) PER-20/PJ/2013)
1. Berdasarkan hasil Pemeriksaan / hasil Verifikasi terdapat rekomendasi penghapusan NPWP
2. Tdk terdapat utang pajak, atau terdapat utang pajak tetapi:
Penagihannya sdh daluwarsa;
WP OP meninggal dunia dgn tdk meninggalkan warisan dan tdk mempunyai ahli waris
atau ahli waris tdk dpt ditemukan; atau

B0214

3.
4.

WP tdk mempunyai harta kekayaan;


Tdk terdapat proses hukum / proses administrasi sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf b PER20/PJ/2013; dan
Slr NPWP cabang WP tlh dihapus dlm hal penghapusan NPWP dilakukan thd NPWP
pusat.

Surat Penolakan Penghapusan NPWP diterbitkan dlm hal: (Pasal 13 ayat (5) PER20/PJ/2013)
1. Berdasarkan hasil Pemeriksaan atau hasil Verifikasi terdapat rekomendasi utk tdk melakukan
penghapusan NPWP; atau
2. Berdasarkan hasil Pemeriksaan atau hasil Verifikasi terdapat rekomendasi penghapusan
NPWP, namun:
Terdapat utang pajak;
Terdapat proses hukum atau proses administrasi; dan/atau
Terdapat NPWP cabang yg blm dihapus, dlm hal Penghapusan NPWP dilakukan thd
NPWP pusat.
Apabila stl diterbitkan Surat Penolakan Penghapusan NPWP diketahui:
a. WP melunasi utang pajak;
b. proses hukum atau proses administrasi dlm Pasal 13 ayat (2) PER-20/PJ/2013 tlh
selesai ditindaklanjuti sesuai dgn ketentuan perpu di bidang perpajakan; dan
c. slr NPWP cabang WP tlh dihapus, dlm hal permohonan penghapusan NPWP
diajukan thd NPWP pusat
WP dpt mengajukan kembali permohonan penghapusan NPWP dan permohonan tsb
dianggap sbg permohonan baru.
(Pasal 14 PER-20/PJ/2013)
Prosedur Kerja Penghapusan NPWP scr Jabatan: (Lamp VIII Huruf B Angka III SE-60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Waskon utk menindaklanjuti.
2. Kasi Waskon:
a. meneliti data dan/atau informasi dan menentukan perlu dilakukan pemeriksaan atau
verifikasi. Dlm hal dilakukan pemeriksaan, Kasi Waskon menyerahkan data dan/atau
informasi kpd Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai SOP Tata Cara Pemeriksaan. Dlm hal
dilakukan verifikasi, prosedur selanjutnya mengikuti Tata Cara Verifikasi;
b. menyampaikan usulan NE thd WP yg sedang diperiksa atau diverifikasi dan ditindaklanjuti
sesuai Tata Cara Penetapan WP NE.
3. LHP / LHV disampaikan kpd Kasi Pelayanan.
4. Kasi Pelayanan menugaskan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
5. Petugas Pendaftaran menerima dan merekam nomor LHP / LHV. Berdasarkan LHP / LHV
menyatakan:
a. WP tdk memenuhi syarat utk dihapuskan maka Petugas Pendaftaran mengarsipkan LHP /
LHV.
b. WP memenuhi syarat utk dihapuskan maka:
1) Petugas Pendaftaran mengecek apakah penghapusan NPWP dilakukan sesuai batas
waktu.
a) Dlm hal penghapusan NPWP dilakukan sesuai batas waktu, Petugas
Pendaftaran membuat dan menandatangani konsep SK Penghapusan NPWP
dan konsep BA Penghapusan NPWP.
b) Dlm hal penghapusan NPWP dilakukan melewati batas waktu, Petugas
Pendaftaran membuat dan menandatangani konsep SK Penghapusan NPWP
dan konsep BA Penghapusan NPWP Melewati Batas Waktu.
2) Petugas Pendaftaran menyerahkan konsep Surat Keputusan Penghapusan NPWP,
konsep BA Penghapusan NPWP atau konsep BA Penghapusan NPWP Melewati
Batas Waktu kpd Kasi Pelayanan.
6. Kasi Pelayanan meneliti dan menandatangani SK Penghapusan NPWP, BA Penghapusan
NPWP atau konsep BA Penghapusan NPWP Melewati Batas Waktu.
SK Penghapusan NPWP, BA Penghapusan NPWP dikembalikan kpd Petugas

B0215

Pendaftaran. Prosedur selanjutnya mengikuti prosedur nomor 8.


Konsep BA Penghapusan NPWP Melewati Batas Waktu selanjutnya disampaikan kpd
Kepala Kantor.
Kepala Kantor meneliti, dan menandatangani BA Penghapusan NPWP Melewati Batas Waktu
selanjutnya mengembalikan ke Seksi Pelayanan.
Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan SK Penghapusan
NPWP kpd WP.

7.
8.

VII. PENCABUTAN PENGUKUHAN PKP


PKP yg Pengukuhan PKP-nya Dicabut: (Pasal 21 ayat (1) PER-20/PJ/2013)
1. PKP dgn status WP NE;
2. PKP yg tdk diketahui keberadaan dan/atau kegiatan usahanya;
3. PKP menyalahgunakan pengukuhan PKP;
4. PKP pindah alamat ke wilayah kerja KPP lain;
5. PKP yg sdh tdk memenuhi persyaratan sbg PKP;
6. PKP tlh dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain; atau
7. PKP yg sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dgn ketentuan perpu
perpajakan.
Cara Pencabutan Pengukuhan PKP: (Pasal 21 ayat (4) (6) PER-20/PJ/2013)
a. Pencabutan Pengukuhan PKP Berdasarkan Hasil Verifikasi (atas permohonan PKP atau
scr jabatan)
PKP OP yg tlh meninggal dunia;
PKP tlh dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain;
PKP yg pindah alamat tempat tinggal, tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan
usaha ke wilayah kerja KPP lainnya;
PKP yg jml peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya utk 1 thn buku tdk melebihi
batas jml peredaran usaha dan/atau penerimaan bruto utk pengusaha kecil dan tdk
memilih utk menjadi PKP;
PKP selain PT dgn status tdk aktif (NE) dan scr nyata tdk menunjukkan adanya kegiatan
usaha;
PKP BUT yg tlh menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia;
hasil sensus pajak nasional;
hasil konfirmasi lapangan / pengawasan stl pengukuhan PKP; atau
hasil kegiatan lain yg dilakukan oleh Dirjen Pajak.
b. Thd Pencabutan Pengukuhan PKP thd PKP selain di atas berdasarkan hasil
Pemeriksaan
Dokumen yg Disyaratkan sbg Kelengkapan Permohonan: (Pasal 23 ayat (4) PER-20/PJ/2013)
Dokumen yg menunjukkan bahwa PKP sdh tdk lagi memenuhi persyaratan sbg PKP
Keputusan atas Permohonan Pencabutan Pengukuhan PKP:
Keputusan dpt berupa penerbitan Surat Pencabutan Pengukuhan PKP atau penerbitan Surat
Penolakan Pencabutan Pengukuhan PKP.
Jangka Waktu Keputusan atas Pemeriksaan / Verifikasi oleh DJP (Pasal 25 ayat (3) - (5)
PER-20/PJ/2013): 6 bulan sejak tgl permohonan WP diterima scr lengkap.
Apabila jangka waktu tsb tlh lewat dan DJP tdk memberi suatu keputusan, permohonan
dianggap dikabulkan & DJP hrs menerbitkan surat keputusan dlm jangka waktu paling lama 1
bulan stl jangka waktu di atas berakhir.
Dlm hal dilakukan pencabutan pengukuhan PKP, DJP dpt mengumumkan pencabutan
pengukuhan PKP tsb melalui situs www.pajak.go.id
Penghapusan NPWP dan/atau Pencabutan Pengukuhan PKP dimaksudkan utk kepentingan
administrasi perpajakan & tdk menghilangkan hak dan/atau kewajiban perpajakan yg hrs dilakukan
WP dan/atau PKP yg bersangkutan. (Pasal 45 PER-20/PJ/2013)

B0216

Pengaktifan Kembali NPWP / Pembatalan Pencabutan Pengukuhan PKP, dilakukan scr jabatan
oleh KPP.
Dilakukan dlm hal terdapat data dan/atau informasi yg menunjukkan bahwa WP / PKP yg
pernah diterbitkan Surat Penghapusan NPWP / Surat Pencabutan Pengukuhan PKP ternyata
masih memenuhi persyaratan subjektif & objektif / persyaratan sbg PKP. Dlm hal dilakukan
Pembatalan Surat Penghapusan NPWP / Surat Pencabutan Pengukuhan PKP tsb, NPWP yg tlh
dihapus / Surat Pengukuhan PKP yg dicabut dinyatakan tetap berlaku.
Prosedur Kerja Pencabutan Pengukuhan PKP scr Jabatan: (Lamp XII Huruf B Angka III SE60/PJ/2013)
1. Berdasarkan data dan/atau informasi yg dimiliki/diperoleh, Kepala Kantor menugaskan Kasi
Waskon utk menindaklanjuti.
2. Kasi Waskon meneliti data dan/atau informasi dan menentukan perlu dilakukan pemeriksaan
atau verifikasi.
Dlm hal dilakukan pemeriksaan, Kasi Waskon menyerahkan data dan/atau informasi kpd
Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai SOP Tata Cara Pemeriksaan.
Dlm hal dilakukan verifikasi, prosedur selanjutnya mengikuti Tata Cara Verifikasi.
3. LHP / LHV disampaikan kpd Kasi Pelayanan.
4. Kasi Pelayanan menugaskan Petugas Pendaftaran utk menindaklanjuti.
5. Petugas Pendaftaran menerima dan merekam nomor LHP / LHV. Berdasarkan LHP / LHV:
a. Menyatakan SPPKP tdk dpt dicabut:
Petugas Pendaftaran mengarsipkan LHP / LHV.
b. Menyatakan SPPKP dpt dicabut:
Petugas Pendaftaran:
1) mencetak konsep Surat Pencabutan Pengukuhan PKP.
2) membuat dan menandatangani konsep BA Pencabutan Pengukuhan PKP.
3) menyampaikan konsep Surat Pencabutan Pengukuhan PKP dan konsep BA kpd Kasi
Pelayanan.
6. Kasi Pelayanan meneliti dan menandatangani Surat Pencabutan Pengukuhan PKP dan BA
Pencabutan Pengukuhan PKP, kemudian menyerahkan Surat Pencabutan Pengukuhan PKP
dan BA Pencabutan Pengukuhan PKP kpd Petugas Pendaftaran.
7. Petugas Pendaftaran menatausahakan dokumen dan menyampaikan Surat Pencabutan
Pengukuhan PKP kpd WP.
Penghapusan NPWP dan/atau Pencabutan Pengukuhan PKP scr Jabatan
Pemeriksaan / Verifikasi dlm rangka penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP
scr jabatan, dilakukan apabila: (Pasal 12 ayat (2) PER-20/PJ/2013)
1. Terdapat data & informasi perpajakan yg dimiliki / diperoleh DJP yg menunjukkan bahwa WP
dan/atau PKP tdk memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif; dan
2. WP dan/atau PKP tdk mengajukan permohonan penghapusan NPWP dan/atau pencabutan
pengukuhan PKP.
Termasuk dlm Pencabutan Pengukuhan PKP scr jabatan adalah pencabutan pengukuhan PKP
dlm rangka pemusatan tempat pajak terutang
Pencabutan Pengukuhan PKP scr Jabatan atas Pengusaha Kecil Thn 2014
Dasar Hukum: PER-12/PJ/2014
I. Cara Pencabutan Pengukuhan PKP scr Jabatan:
Pencabutan pengukuhan PKP scr jabatan dilakukan berdasarkan LHV. (Pasal 2 ayat (1)
PER-12/PJ/2014)
Verifikasi dilakukan utk memastikan bahwa jml peredaran bruto dan/atau penerimaan
bruto PKP atas penyerahan BKP/JKP Masa Pajak Jan thn 2013 s.d. Masa Pajak Des thn
2013 < Rp 4,8 M. (Pasal 2 ayat (2) PER-12)
Ketentuan terkait pelaksanaan verifikasi: Lamp PER-12/PJ/2014
Hasil verifikasi dituangkan dlm LHV. (Pasal 2 ayat (4) PER-12/PJ/2014)
Verifikasi diselesaikan dlm jangka waktu paling lama 3 bulan yg dihitung sejak tanggal ST
diterbitkan s.d. tanggal LHV ditandatangani. (Pasal 2 ayat (5) PER-12/PJ/2014)
Slr kegiatan verifikasi dlm PER-12/PJ/2014 sdh hrs selesai paling lambat akhir bulan Agust

B0217

2014. (Pasal 2 ayat (6) PER-12/PJ/2014)


LHV, kertas kerja, dan dokumen pendukung verifikasi disatukan dlm 1 map dan disimpan
dlm berkas induk WP. (Pasal 2 ayat (7) PER-12/PJ/2014)
II. Tindak Lanjut Hasil Verifikasi:
Apabila berdasarkan LHV disimpulkan bahwa:
penyerahan BKP dan/atau JKP yg dilakukan oleh PKP < Rp 4,8 M; dan
PKP tdk memilih utk tetap sbg PKP,
kpd PKP tsb diterbitkan surat pencabutan pengukuhan PKP. (Pasal 3 PER-12/PJ/2014)
Surat pencabutan pengukuhan PKP diberlakukan terhitung sejak tanggal 1 bulan
berikutnya stl tanggal diterbitkannya surat pencabutan pengukuhan PKP. (Lamp I Bagian
VI butir 2 PER-12/PJ/2014)
III. Pembatalan Surat Pencabutan Pengukuhan PKP:
Dlm hal kemudian diperoleh data dan/atau informasi bahwa WP yg tlh dicabut pengukuhan
PKP-nya ternyata memiliki jml peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto > Rp 4,8 M,
surat pencabutan pengukuhan PKP dibatalkan. (Pasal 4 ayat (1) PER-12/PJ/2014)
Utk membatalkan surat pencabutan pengukuhan PKP ini hrs dilakukan verifikasi kembali.
(Pasal 4 ayat (2) PER-12/PJ/2014)
Hasil verifikasi ini dituangkan dlm LHV. (Pasal 4 ayat (3) PER-12/PJ/2014)
Berdasarkan LHV dilakukan pembatalan surat pencabutan pengukuhan PKP oleh Kepala
KPP. (Pasal 4 ayat (4) PER-12/PJ/2014)
Hasil pembatalan surat pencabutan pengukuhan PKP disampaikan kpd WP dgn surat
Kepala KPP (format dlm Lamp VI PER-12/PJ/2014)
Pembatalan atas pencabutan pengukuhan PKP yg dilakukan berdasarkan PER12/PJ/2014: (Pasal 6 PER-12/PJ/2014)
mengikuti tata cara dlm PER-20/PJ/2013 dan perubahannya; dan
dilakukan oleh Kepala KPP paling lambat tanggal 31 Des 2014.

e-REGISTRATION
Permohonan yg dpt disampaikan scr elektronik melalui Aplikasi e-Registration: Pendaftaran
dan Pemberian NPWP; Penghapusan NPWP; Pengukuhan PKP; Pencabutan PKP;
Perubahan Data WP dan/atau PKP; Pemindahan WP; dan Penetapan WP NE.
Proses pendaftaran utk mendapatkan akun bagi WP yg menggunakan aplikasi e-Registration:
WP membuka aplikasi e-Registration yg tersedia di situs DJP (http://www.pajak.go.id).
WP membuat akun dgn mengklik menu "buat account baru" dan mengisi informasi yg
diminta.
Stl WP mengisi semua informasi yg diperlukan, aplikasi e-Registration akan mengaktifkan
username & password.
Utk dpt memanfaatkan aplikasi e-Registration, WP melakukan login ke aplikasi eRegistration dgn mengisi username & password yg tlh dibuat.
Dlm hal permohonan diajukan melalui aplikasi e-Registration, dokumen yg dipersyaratkan
dpt diunggah di aplikasi e-Registration atau dikirim dgn menggunakan Surat Pengiriman
Dokumen (SPD) ke KPP. Apabila dokumen yg disyaratkan blm diterima KPP dlm
jangka waktu 14 hari kerja stl permohonan scr elektronik, permohonan tsb dianggap
tdk diajukan.
Apabila dokumen yg disyaratkan tlh diterima scr lengkap, KPP menerbitkan BPS scr
elektronik.
Dlm hal WP tdk dpt mengajukan permohonan scr elektronik, permohonan dpt dilakukan
dgn menyampaikan permohonan scr tertulis, yg dilakukan dgn mengisi dan
menandatangani formulir terkait., dan dilengkapi dgn dokumen yg disyaratkan.
Permohonan scr tertulis disampaikan ke KPP/KP2KP yg wilayah kerjanya meliputi tempat
tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha WP. Dlm hal pengajuan
permohonan disampaikan melalui KP2KP, KP2KP menerbitkan Tanda Terima dan
meneruskan berkas permohonan ke KPP paling lambat 1 hari kerja stl permohonan
diterima.
Thd penyampaian permohonan scr tertulis, KPP/KP2KP memberikan BPS apabila
permohonan dinyatakan tlh diterima scr lengkap.
Thd penyampaian permohonan scr tertulis yg diterima scr tdk lengkap berlaku ketentuan:

B0218

9
9

Dlm hal permohonan disampaikan scr lsg, permohonan dikembalikan kpd WP; atau
Dlm hal permohonan disampaikan melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir,
KPP menyampaikan pemberitahuan scr tertulis mengenai ketidaklengkapan tsb.

CETAK ULANG KARTU NPWP, SKT, SPPKP


WP mengajukan permohonan Cetak Ulang Kartu NPWP, SKT dan/atau SPPKP pd KPP/KP2KP
yg wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan
usaha (Pengecualian utk cetak ulang Kartu NPWP WP OP dpt dilayani oleh slr KPP/ KP2KP,
dilakukan dgn menunjukkan KTP asli WP OP ybs).
Dokumen yg diisyaratkan sbg kelengkapan permohonan adalah sama dgn dokumen yg
disyaratkan sbg kelengkapan permohonan pendaftaran NPWP dan/atau pengukuhan sbg PKP.
Jangka waktu penyelesaian pelayanan Cetak Ulang paling lambat 1 hari kerja stl penerbitan
BPS.
Permohonan Cetak Ulang dpt diajukan stl 1 bulan sejak tanggal mulai terdaftar.
Form-form yg digunakan berdasar PER-20/PJ/2013:
No.
Nama Form
Sumber
1.
Form Pendaftaran WP OP
Lamp I Bagian A.1
2.
Form Pendaftaran WP Badan
Lamp I Bagian A.2
3.
4.
5.

Surat Keterangan Terdaftar (SKT)


Kartu NPWP
Form Pengukuhan PKP

Lamp I Bagian B
LampI Bagian C
Lamp I Bagian D

6.

Surat Pengiriman Dokumen

Lamp I Bagian E

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Surat Pengukuhan PKP


Surat Penolakan Pengukuhan PKP
Form Perubahan Data WP
Form Permohonan Penetapan WP NE
Form Pemindahan WP
Surat Pindah
Surat Pencabutan SKT
Surat Pemberitahuan Tdk Dpt Dipindah
Form Penghapusan NPWP

Lamp I Bagian F
Lamp I Bagian G
Lamp II Bagian A
Lamp II Bagian B
Lamp III Bagian A
Lamp III Bagian B
Lamp III Bagian C
Lamp III Bagian D
Lamp IV Bagian A

16.
17.
18.

Surat Keputusan Penghapusan NPWP


Surat Penolakan Penghapusan NPWP
Form Pencabutan Pengukuhan PKP

Lamp IV Bagian B
Lamp IV Bagian C
Lamp IV Bagian D

19.
20.

Surat Pencabutan Pengukuhan PKP


Surat
Penolakan
Pencabutan
Pengukuhan PKP

Lamp IV Bagian E
Lamp IV Bagian F

Pihak Pembuat
Pemohon/Kuasa, atau
Pengusul dari DJP (scr
jabatan)
DJP
Pemohon/Kuasa, atau
Pengusul dari DJP (scr
jabatan)
Pemohon/Kuasa
Pemohon
DJP
Pemohon/Kuasa, atau
Pengusul dari DJP (scr
jabatan)
DJP

Pemohon/Kuasa, atau
Pengusul dari DJP (scr
jabatan)
DJP
Pemohon/Kuasa, atau
Pengusul dari DJP (scr
jabatan)
DJP

Form-form yg digunakan berdasar SE-60/PJ/2013:


No.

Nama Form

1.
2.

Tanda Terima Permohonan WP yg diajukan ke KP2KP


Form Surat Pernyataan Menghendaki Menjalankan
Kewajiban Perpajakan Terpisah
Form Surat Pernyataan Memperoleh Informasi Perpajakan
(melalui Aplikasi e-Registration)
Form Surat Pernyataan Memperoleh Informasi Perpajakan

3.
4.

Sumber

B0219

Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV

Pihak
Pembuat
DJP
WP OP
Disediakan
oleh sistem
WP/Kuasa

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

BA Penghapusan NPWP Melewati Batas Waktu


BA Penghapusan/Penolakan Penghapusan NPWP
BA Pengukuhan PKP Melewati Batas Waktu
BA Pencabutan Pengukuhan PKP Melewati Batas Waktu
Surat Pemberitahuan Perubahan Data
BA Perubahan Data WP dan/atau PKP
Surat Usulan Pemindahan WP
Surat Pemberitahuan WP Tdk Dpt Dipindah Scr Jabatan
Form Surat Pernyataan WP NE

Lamp VI
Lamp VII
Lamp IX
Lamp XI
Lamp XIII
Lamp XIV
Lamp XVI
Lamp XVII
Lamp XIX

14.
15.

BA Penetapan/Pengaktifan Kembali WP NE
Surat Pemberitahuan Penetapan WP NE/Penolakan
Penetapan WP NE/Pengaktifan Kembali WP NE
BA Pembatalan Penghapusan NPWP
Surat Pemberitahuan Pembatalan Penghapusan NPWP
BA Pembatalan Surat Pencabutan Pengukuhan PKP
Surat Pemberitahuan Pembatalan Surat Pencabutan
Pengukuhan PKP
BA Aktivasi Sementara
Form Permohonan Cetak Ulang (Kartu NPWP, SKT,
SPPKP)
Pengumuman Keadaan Kahar
Surat Pengantar Faksimile Keadaan Kahar dari KP2KP ke
KPP

Lamp XX
Lamp XXI

16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

Tata Cara yg diatur di SE-60/PJ/2013:


No.
Tata Cara
1.
Pendaftaran & Pemberian NPWP
2.
Penghapusan NPWP
3.
Pelaporan Usaha & Pengukuhan PKP
4.
Pencabutan Pengukuhan PKP
5.
Perubahan Data WP
6.
Pemindahan WP
7.
Penetapan WP NE
8.
Pengaktifan Kembali WP NE
9.
Pengaktifan Kembali NPWP
10.
Pembatalan Pencabutan Pengukuhan PKP
11.
Aktivasi Sementara WP Hapus
12.
Cetak Ulang Kartu NPWP, SKT, dan SPPKP
13.
Penyelesaian Permohonan dlm Keadaan Kahar

DJP

Pembuat
pernyataan
DJP

Lamp XXIV
Lamp XXV
Lamp XXVII
Lamp XXVIII
Lamp XXX
Lamp XXXII
LampXXXIV
Lamp XXXV

Pemohon
DJP

Sumber
Lamp V
Lamp VIII
Lamp X
Lamp XII
Lamp XV
Lamp XVIII
Lamp XXII
Lamp XXIII
Lamp XXVI
Lamp XXIX
Lamp XXXI
Lamp XXXIII
Lamp XXXVI

Form yg digunakan berdasar PER-12/PJ/2014:

1,
2.

Surat Pemberitahuan Batasan Pengusaha Kecil PPN


Form Surat Pernyataan Batasan Pengusaha Kecil PPN

Lamp II
Lamp III

3.

Surat Tugas Verifikasi Pencabutan Pengukuhan PKP scr


Jabatan atas Pengusaha Kecil PPN
Surat Pemberitahuan Pembatalan Surat Pencabutan
Pengukuhan PKP

Lamp IV

Pihak
Pembuat
DJP
WP/Wakil
WP/Kuasa
DJP

Lamp VI

DJP

No.

4.

Nama Form

B0220

Sumber

C. TEMPAT PENDAFTARAN NPWP WP TERTENTU


Dasar Hukum:
Pasal 2 ayat (3) huruf a UU KUP
PMK-62/PMK.01/2009 jo PMK-29/PMK.01/2012 ttg Organisasi dan tata kerja instansi vertikal
PER-28/PJ/2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013) jo PER-13/PJ/2014 (berlaku sejak 11 Apr 2014) ttg
Tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP pd KPP di lingkungan Kanwil
DJP WP Besar, KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya mencabut
PER-08/PJ/2012
KEP-26/PJ/2012 stdtd KEP-21/PJ.08/2012 ttg pemindahan WP dari KPP di lingkungan Kanwil
DJP WP Besar, KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya
KEP-27/PJ/2012 stdd KEP-87/PJ/2012 ttg Tempat pendaftaran dan pelaporan usaha bagi WP pd
KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan
KPP Madya
KEP-102/PJ/2012 jo KEP-22/PJ.08/2012 ttg Tempat pendaftaran dan pelaporan usaha bagi WP
pd KPP WP Besar 3, KPP WP Besar 4, dan KPP Minyak dan Gas Bumi mencabut Lamp I & V
KEP-27/PJ/2012
KEP-91/PJ/2012 ttg Penerapan organisasi, tata kerja, dan saat mulai beroperasinya KPP di
lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP Badora, dan KPP minyak dan gas bumi
PER-06/PJ/2012 jo PER-18/PJ/2012 ttg Tata Cara Penatausahaan, Pelaksanaan Hak &
Pemenuhan Kewajiban Perpajakan Sehubungan dgn Pemindahan WP dan/atau PKP dari
dan/atau ke KPP di Lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP di Lingkungan Kanwil DJP Jakarta
Khusus, dan KPP Madya
SE dan surat terkait:
SE-16/PJ/2012 ttg Persiapan pelaksanaan reorganisasi DJP berdasarkan PMK-29/PMK.01/2012
S-162/PJ.13/2012 ttg Penjelasan PER-28/PJ/2012
Definisi Terkait:
WP Berstatus Pusat WP yg terdaftar di KPP dan memiliki NPWP dgn kode 3 digit terakhirnya
000.
WP Berstatus Cabang WP yg terdaftar di KPP dan memiliki NPWP dgn kode 3 digit terakhirnya
selain 000.
Saat Mulai Terdaftar (SMT) tanggal saat WP terdaftar dan dikukuhkan sbg PKP di KPP yg
ditetapkan dgn Keputusan Dirjen Pajak.
Tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP pd KPP di Kanwil DJP WP
Besar, KPP di Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya: (Pasal 2 ayat (1) PER-28/PJ/2012)
No.
Kanwil
KPP
Jenis WP
a.1
Kanwil
KPP WP
WP badan besar tertentu yg melakukan kegiatan usaha di
DJP WP
Besar 1
sektor pertambangan & jasa penunjang pertambangan
Besar
a.2
KPP WP
WP badan besar tertentu yg melakukan kegiatan usaha di
Besar 2
sektor industri, perdagangan, dan jasa
a.3
KPP WP
WP BUMN yg melakukan kegiatan usaha di sektor industri &
Besar 3
perdagangan
a.4
KPP WP
WP BUMN yg melakukan kegiatan usaha di sektor jasa dan
Besar 4
WP OP tertentu
b.1
Kanwil
KPP PMB
WP yg pernyataan pendaftaran emisi sahamnya tlh
DJP
dinyatakan efektif oleh BAPEPAM-LK, badan-badan khusus
Jakarta
(SRO) yg didirikan & beroperasi di bursa berdasarkan UU 8
Khusus
Thn 1995 ttg Pasar Modal, dan Perusahaan efek non bank
b.2
KPP PMA 1
WP PMA tertentu yg tdk masuk bursa dan melakukan
kegiatan usaha di sektor industri kimia & barang galian nonlogam
b.3
KPP PMA 2
WP PMA tertentu yg tdk masuk bursa dan melakukan
kegiatan usaha di sektor industri logam & mesin
b.4
KPP PMA 3
WP PMA tertentu yg tdk masuk bursa dan melakukan
kegiatan usaha di sektor pertambangan & perdagangan

B0221

b.5

KPP PMA 4

b.6

KPP PMA 5

b.7

KPP PMA 6

b.8

KPP Badora

b.9
c

WP PMA tertentu yg iak masuk bursa dan melakukan


kegiatan usaha di sektor industri tekstil, makanan, dan kayu
WP PMA tertentu yg tdk masuk bursa dan melakukan
kegiatan usaha di sektor agribisnis & jasa
WP PMA tertentu yg tdk masuk bursa dan melakukan
kegiatan usaha di sektor jasa & perdagangan
WP BUT yg berkedudukan di DKI Jakarta & orang asing yg
bertempat tinggal di DKI Jakarta
WP Migas
WP badan besar tertentu dlm suatu Kanwil DJP terkait

KPP Migas
Kanwil
KPP Madya
DJP
terkait
Tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP di atas ditetapkan dgn Keputusan
Dirjen, kecuali:
Penetapan tempat pendaftaran dan/atau tempat
KPP WP Besar 3
pelaporan usaha utk pertama kali ditetapkan dgn
KPP WP Besar 4 utk WP BUMN
Keputusan Dirjen Pajak
KPP Migas
KPP Badora
Tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP b.2 b.7 ditentukan berdasarkan
KLU WP sesuai Lamp I PER-28/PJ/2012

Tempat Pendaftaran dan/atau Tempat Pelaporan Usaha bagi WP Baru: (Pasal 3 PER-28/PJ/2012)
Tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP baru:
WP PMA di KPP Pratama yg wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan WP
WP BUMN di KPP WP 3 atau KPP WP Besar 4 (sesuai dgn KLU WP tsb)
WP Migas di KPP Migas
Dlm hal WP Berstatus Pusat terdaftar pd KPP sesuai Pasal 2 ayat (1) PER-28/PJ/2012 (nomor
a.1 c) dan membuka kantor cabang baru yg berdomisili di wilayah sesuai Lamp II PER28/PJ/2012, tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha atas kantor cabang baru tsb di
KPP sesuai Pasal 2 ayat (1) PER-28/PJ/2012.
Dlm hal WP Berstatus Cabang terdaftar di KPP Madya, sedangkan WP Berstatus Pusat terdaftar
di KPP Pratama di Kanwil DJP yg berbeda, dan WP Berstatus Pusat tsb pindah ke KPP di Kanwil
DJP yg membawahi KPP Madya tempat WP Berstatus Cabang tsb terdaftar, maka tempat
pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP Berstatus Pusat tsb adalah di KPP
Madya.
Kewajiban Perpajakan: (Pasal 5 PER-28/PJ/2012)
Kewajiban perpajakan bagi WP yg terdaftar pd KPP sesuai Pasal 2 ayat (1) PER-28/PJ/2012 meliputi:
a. PPh Badan dan/atau PPh OP
b. PPN atau PPnBM lihat Bagian C. Pemusatan Tempat Terutang PPN
c. Pemotongan & Pemungutan PPh akibat dari transaksi yg dilakukan kantor pusat dan/atau cabang
WP yg berdomisili di wilayah dlm Lamp II PER-28/PJ/2012
d. Pajak Tdk Langsung Lainnya
Pelaksanaan Hak & Kewajiban bagi WP yg Dipindahkan ke KPP Baru Selain yg Diatur di PER18/PJ/2012: (Pasal 6 PER-28/PJ/2012)
KPP Baru adalah KPP yg menerima perpindahan WP dari KPP Lama
Pelaksanaan hak & pemenuhan kewajiban perpajakan bagi WP yg dipindahkan ke KPP Baru:
Hak & kewajiban perpajakan utk masa pajak, bagian thn pajak atau thn pajak sbl tanggal SMT
atau sbl tanggal WP dipindahkan ke KPP Baru, dilaksanakan dan dipenuhi di:
1. KPP Baru, yg meliputi:
a. Kewajiban PPh Badan, PPN dan/atau PPnBM, dan Pemotongan & Pemungutan PPh
dlm hal WP yg dipindahkan adalah WP Berstatus Pusat;
b. Kewajiban PPN dan Pemotongan & Pemungutan PPh dlm hal WP yg dipindahkan
adalah WP Berstatus Cabang yg berdomisili di wilayah dlm Lamp II PER-28/PJ/2012;
dan

B0222

c. Kewajiban PPN dlm hal WP yg dipindahkan adalah WP Berstatus Cabang yg


berdomisili di luar wilayah dlm Lamp II PER-28/PJ/2012
2. KPP Lama meliputi Kewajiban Pemotongan & Pemungutan PPh dlm hal WP yg
dipindahkan adalah WP Berstatus Cabang yg berdomisili di luar wilayah dlm Lamp II PER28/PJ/2012
Pasal 7 PER-28/PJ/2012
Bagi WP yg sbl-nya terdaftar di KPP Madya atau KPP Pratama yg wilayah kerjanya di luar
Propinsi DKI Jakarta, dan sejak berlakunya Keputusan Dirjen Pajak sesuai Pasal 9 ayat (3) PER28/PJ/2012 terdaftar pd KPP di Kanwil DJP WP Besar dan KPP di Kanwil DJP Jakarta Khusus,
maka kewajiban Pemotongan & Pemungutan PPh tetap diadministrasikan di KPP Madya atau
KPP Pratama tsb dgn menerbitkan NPWP cabang baru.
Bagi WP yg sbl-nya terdaftar di KPP Pratama di luar wilayah dlm Lamp II PER-28/PJ/2012, dan
sejak berlakunya Keputusan Dirjen Pajak sesuai Pasal 9 ayat (3) PER-28/PJ/2012 terdaftar pd
KPP Madya, maka kewajiban Pemotongan & Pemungutan PPh diadministrasikan di KPP Pratama
tsb dgn menerbitkan NPWP cabang baru.
Kriteria WP yg Terdaftar di KPP di Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP
Madya Berdasarkan Keputusan DJP: (Pasal 8 PER-28/PJ/2012)
WP yg terdaftar di KPP ini mrp WP terbesar yg penentuannya dilakukan berdasarkan kriteria:
1. Rata-rata realisasi pembayaran pajak, baik yg tercantum di dlm sistem MPN maupun yg tdk
tercantum dlm sistem MPN dan rata-rata peredaran usaha WP yg tercantum di dlm SPT Tahunan
PPh Badan selama 3 thn terakhir, khusus utk WP Badan; dan/atau
Kriteria ini ditetapkan dgn pembobotan 80% utk realisasi pembayaran pajak & 20% utk
peredaran usaha.
2. Pertimbangan Dirjen Pajak.
Dlm hal WP memenuhi kriteria terdaftar pd 2 KPP atau lbh, Dirjen Pajak menetapkan tempat
pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha WP.
Evaluasi yg Dilakukan DJP thd WP yg Terdaftar di KPP di Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP
Jakarta Khusus, KPP Madya & Tindak Lanjut Hasil Evaluasi Tsb: (Pasal 9 PER-28/PJ/2012 jo
PER-13/PJ/2014)
1. Ketentuan Terkait Evaluasi Yg Dilakukan DJP:
a. Dirjen Pajak melakukan evaluasi thd WP yg terdaftar pd KPP di kanwil DJP WP Besar, Kanwil
DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya, kecuali utk WP yg terdaftar di:
KPP WP Besar 3
KPP WP Besar 4 utk WP BUMN
KPP Migas
KPP Badora
Dirjen Pajak berdasarkan pertimbangan tertentu dpt menetapkan tempat pendaftaran
dan/atau tempat pelaporan usaha bagi WP pd huruf a dgn menerbitkan Keputusan
Dirjen Pajak. (Pasal 9 ayat (5) PER-28/PJ/2012 jo PER-13/PJ/2014)
b. Ketentuan evaluasi:
1) Evaluasi dilakukan paling lama 5 thn sejak evaluasi sbl-nya dilakukan
2) Utk WP yg terdaftar di KPP PMB, selain jangka waktu evaluasi angka 1), dlm hal terdapat
WP yg pernyataan pendaftaran emisi sahamnya tlh dinyatakan efektif oleh OJK (listing)
dan/atau WP yg melakukan penghapusan pencatatan dari daftar saham di BEI
(delisting), evaluasi dpt dilakukan setiap 1 thn.
3) Utk WP yg terdaftar di KPP Madya, selain jangka waktu evaluasi angka 1), dlm hal
Kepala Kanwil DJP yg membawahi KPP Madya memandang perlu utk
melakukan evaluasi WP yg terdaftar di KPP Madya pd thn tsb, evaluasi dpt dilakukan
paling cepat 3 thn sejak evaluasi sbl-nya dilakukan.
c. Berdasarkan hasil evaluasi yg dilakukan sesuai dgn ketentuan evaluasi tsb, Dirjen Pajak
menerbitkan Keputusan Dirjen Pajak ttg: (Pasal 9 ayat (3) PER-28/PJ/2012)
Tempat Pendaftaran dan/atau Tempat Pelaporan Usaha Bagi WP pd KPP di Kanwil DJP
WP Besar, KPP di Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya
Pemindahan WP dari KPP di Kanwil DJP WP Besar, KPP di Kanwil DJP Jakarta Khusus,
dan KPP Madya

B0223

2.

3.

Tempat Pendaftaran dan Pelaporan Usaha bagi WP di KPP PMB dan KPP Madya
Pemindahan WP dari KPP PMB dan KPP Madya
d. Keputusan Dirjen Pajak berdasarkan hasil evaluasi tsb diterbitkan paling lama pd akhir bulan
Sept thn evaluasi dilakukan dan mulai berlaku 1 Jan thn berikutnya.
Ketentuan Terkait Tindak Lanjut Hasil Keputusan DJP Atas Evaluasi Yg Tlh Dilakukan
(Pasal 10 PER-28/PJ/2012)
a. Dlm hal WP yg dipindahkan ke KPP Pratama sejak Keputusan Dirjen Pajak sesuai Pasal 9
ayat (3) PER-28/PJ/2012 mengajukan permohonan pindah sehubungan dgn perubahan
tempat tinggal atau tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha ke wilayah kerja KPP
Pratama lainnya, maka tata cara pemindahan thd WP tsb mengacu pd ketentuan perpu di
bidang perpajakan.
b. Dlm hal tempat terdaftar WP yg dicantumkan pd kolom KPP asal di dlm Keputusan Dirjen
Pajak sesuai Pasal 9 ayat (3) PER-28/PJ/2012 tdk sesuai dgn tempat terdaftar yg
sebenarnya, maka WP tsb tetap dipindahkan ke KPP tujuan sesuai dgn Keputusan Dirjen
Pajak tsb.
c. WP yg terdaftar di KPP di Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP
Madya tetap diadministrasikan di KPP tsb s.d. ditetapkan terdaftar di KPP lain dgn Keputusan
Dirjen Pajak sesuai Pasal 9 ayat (3) PER-28/PJ/2012.
Pemindahan WP krn Keadaan Tertentu: (Pasal 4 PER-28/PJ/2012)
WP yg terdaftar di KPP sesuai Pasal 2 ayat (1) PER-28/PJ/2012 yg:
a. Mengalami perubahan status modal;
b. Melakukan perubahan kegiatan usaha/jenis usaha atau KLU;
c. Melakukan perubahan tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha yg menyebabkan
perubahan tempat KPP terdaftar;
d. Pendaftaran emisi sahamnya tlh dinyatakan efektif oleh BAPEPAM-LK; atau
e. Sahamnya tdk lagi terdaftar di BEI (delisting),
pemindahan WP dilakukan bersamaan dgn evaluasi WP terdaftar sesuai Pasal 9 PER28/PJ/2012.

Evaluasi stl berlakunya PER-13 dilakukan paling lama thn 2016 dan mulai berlaku paling
lama pd tanggal 1 Jan thn berikutnya.
Daftar KPP PMA Berdasarkan KLU WP (Lamp I PER-28/PJ/2012)
Unit Kantor Kekhususan Jenis Usaha
Gol. Pokok
KPP PMA 1

17-23, 31, 37, 38, 58

KPP PMA 2

24-30, 32

KPP PMA 3

05-09, 45-47

KPP PMA 4

10-16

KPP PMA 5

01-03, 33, 35-36, 39, 49-53, 60-66, 72, 77-82, 84-88

KPP PMA 6

41-43, 55-56, 68, 71, 73-74, 90, 93-94

Wilayah Pengadministrasian Kewajiban Pemotongan & Pemungutan PPh pd KPP Tertentu


(Lamp II PER-28/PJ/2012)
No.
Wilayah Kota/Kabupaten
Tempat WP Terdaftar
1

Propinsi DKI Jakarta

KPP di Kanwil DJP WP Besar/ KPP di


Kanwil DJP Jakarta Khusus/ KPP
Madya Jakarta Pusat/ KPP Madya
Jakarta Selatan/ KPP Madya Jakarta
Timur/ KPP Madya Jakarta Utara/
KPP Madya Jakarta Barat

Kota Medan

KPP Madya Medan

Kota Batam

KPP Madya Batam

Kota Pekanbaru, Kab. Kampar, Kab. Rokan Hulu,

KPP Madya Pekanbaru

B0224

dan Kab. Pelalawan


5

Kota Palembang

KPP Madya Palembang

Kota Tangerang

KPP Madya Tangerang

Kota Bandung

KPP Madya Bandung

Kab. Bekasi

KPP Madya Bekasi

Kota Semarang

KPP Madya Semarang

10

Kota Surabaya

KPP Madya Surabaya

11

Kab. Sidoarjo

KPP Madya Sidoarjo

12

Kota Malang

KPP Madya Malang

13

Kota Denpasar, Kab. Badung, Kab. Tabanan, Kab.


Gianyar, Kab. Klungkung, Kab. Buleleng, Kab.
Jembrana, Kab. Karangasem, dan Kab. Bangli

KPP Madya Denpasar

14

Kota Balikpapan

KPP Madya Balikpapan

15

Kota Makassar

KPP Madya Makassar

B0225

D. PEMUSATAN TEMPAT TERUTANG PPN


Dasar Hukum:
Pasal 12 ayat (2) UU PPN
PP 1 Thn 2012
PER-4/PJ/2010 (berlaku sejak 1 Apr 2010) ttg tempat lain selain tempat tinggal atau tempat
kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha dilakukan sbg tempat terutang terutang PPN/ PPN &
PPnBM
PER-19/PJ/2010 (berlaku sejak 1 Apr 2010) ttg penetapan 1 tempat/lbh sbg tempat PPN
terutang
PER-28/PJ/2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013)
SE terkait:
SE-45/PJ/2013 ttg Prosedur penerbitan SK pemusatan tempat PPN terutang dlm rangka
pelaksanaan PER-28/PJ/2012
SE-25/PJ.52/2003 ttg Penegasan Pemusatan Tempat PPN Terutang bagi PKP yg Menyampaikan
SPT Masa PPN dan PPnBM Melalui media Elektronik (e-Filing)
SE-21/PJ.5/2001 ttg Tata Cara Penyelesaian Permohonan Tempat Lain sbg Tempat
Pengkreditan PM dan Tempat Lain sbg Tempat Pajak Terutang atas Ekspor
Definisi Terkait:
Saat Mulai Terdaftar (SMT) tanggal saat WP terdaftar dan dikukuhkan sbg PKP di KPP yg
ditetapkan dgn Keputusan Dirjen Pajak.
PKP yg memiliki > 1 tempat PPN terutang dpt memilih 1 tempat atau lbh sbg Tempat Pemusatan
PPN Terutang. Tempat tinggal, tempat kedudukan, atau tempat kegiatan usaha PKP yg:
berada di Kawasan Berikat;
berada di Kawasan Ekonomi Khusus;
mendapatkan fasilitas KITE.
tdk dpt dipilih sbg Tempat Pemusatan PPN Terutang atau tempat PPN terutang yg akan
dipusatkan.
(Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 PER-19/PJ/2010)
Pengajuan Pemusatan PPN:
PKP menyampaikan pemberitahuan scr tertulis (form lamp IV PER-19/PJ/2010) kpd Kakanwil yg
membawahi KPP yg wilayah kerjanya meliputi Tempat Pemusatan PPN Terutang, dgn tembusan
kpd Kepala KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat-tempat PPN terutang yg akan dipusatkan.
WP hrs mrp PKP, baik di tempat PPN terutang yg dipilih sbg Tempat Pemusatan PPN
Terutang dan tempat PPN terutang yg akan dipusatkan.
Pemberitahuan minimal memuat :
nama, alamat, dan NPWP tempat terpilih sbg pemusatan PPN Terutang (Catatan: tdk hrs/ tdk
selalu kantor pusat ber-NPWP 000)
nama, alamat, dan NPWP tempat PPN terutang yg akan dipusatkan
dilampiri surat pernyataan bahwa administrasi penjualan dipusatkan pd tempat terpilih sbg
tempat pemusatan PPN terutang (form Lamp V PER-19/PJ/2010)
Kakanwil menerbitkan SK Persetujuan (form Lamp I PER-19/PJ/2010) atau SK Penolakan (form
Lamp III PER-19/PJ/2010) paling lama 14 hari kerja sejak diterimanya pemberitahuan dari
PKP. Dlm hal ditolak, maka PKP dpt menyampaikan pemberitahuan kembali dgn melengkapi
syarat yg diperlukan. SK Persetujuan berlaku selama 5 thn dan dimulai pd masa pajak
berikutnya stl tanggal SK.
Penambahan/Pengurangan Tempat Terutang PPN Pemusatan:
PKP menyampaikan pemberitahuan scr tertulis (lamp VI PER-19/PJ/2010) kpd Kakanwil yg
membawahi KPP yg wilayah kerjanya meliputi Tempat Pemusatan PPN Terutang.
Minimal yg dimuat dlm surat pemberitahuan sama dgn minimal dlm pengajuan pemusatan PPN.

B0226

Perubahan Tempat Pemusatan PPN:


Dlm hal PKP tlh mendapatkan persetujuan pemusatan tempat PPN terutang, PKP dpt memilih
tempat PPN terutang yg lain sbg Tempat Pemusatan PPN Terutang yg baru dgn syarat masa
berlaku pemusatan di tempat lama sdh berjalan minimal 2 thn, kecuali bagi PKP dgn tempat
pemusatan awal yg scr permanen tdk ada lagi aktivitas usaha (jangka waktu minimal 2 thn tdk
berlaku baginya).
PKP wajib menyampaikan pemberitahuan scr tertulis (form Lamp VII PER-19/PJ/2010) kpd
Kakanwil yg membawahi KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat pemusatan PPN terutang yg
baru.
Minimal yg dimuat dlm pemberitahuan kpd Kakanwil tsb sama dgn minimal dlm pengajuan
pemusatan PPN.
Kakanwil menerbitkan SK Persetujuan (form Lamp I PER-19/PJ/2010) atau SK Penolakan (form
Lamp III PER-19/PJ/2010) paling lama 14 hari kerja sejak diterimanya pemberitahuan dari PKP.
Dlm hal ditolak, maka PKP dpt menyampaikan pemberitahuan kembali dgn melengkapi syarat yg
diperlukan. SK Persetujuan berlaku selama 5 thn dan dimulai pd masa pajak berikutnya stl
tanggal SK.
Pencabutan Pemusatan Tempat PPN Terutang:
PKP menyampaikan pemberitahuan tertulis kpd Kakanwil tembusan Kepala KPP @ tempat
kedudukan, disampaikan paling lambat 2 bulan sbl masa yg diinginkan utk tdk lagi pemusatan.
Kakanwil meneribitkan SK Pencabutan (form Lamp II PER-19/PJ/2010) paling lama 5 hari kerja
sejak diterimanya pemberitahuan dari PKP.
Perpanjangan Jangka Waktu Pemusatan Tempat PPN Terutang:
PKP menyampaikan pemberitahuan tertulis (form Lamp VIII PER-19/PJ/2010) kpd Kakanwil.
Paling lambat disampaikan 2 bulan sbl jangka waktu pemusatan berakhir. Apabila tdk terpenuhi,
maka PKP dianggap tdk memperpanjang jangka waktu pemusatan PPN terutang, namun PKP dpt
menyampaikan pemberitahuan pemusatan kembali dlm jangka waktu 2 thn sejak SK persetujuan
pemusatan berakhir.
Kakanwil menerbitkan SK Persetujuan (form Lamp I PER-19/PJ/2010) yg baru paling lambat 14
hari kerja sejak diterimanya pemberitahuan.
SK Persetujuan yg baru berlaku selama 5 thn dan dimulai pd masa pajak berikutnya stl tanggal
SK.
Kepastian Hukum bagi PKP:
Apabila Kakanwil tdk menerbitkan SK Persetujuan atau SK Penolakan dalam waktu yg tlh ditetapkan
(14 hari kerja), maka pemberitahuan dari PKP dianggap disetujui dan SK Persetujuan paling lambat
diterbitkan 5 hari kerja sejak jangka waktu penyelesaian (14 hari kerja) berakhir. SK Persetujuan
berlaku selama 5 thn dan dimulai pd masa pajak berikutnya stl tanggal SK.
Ketentuan Terkait Tempat Pemusataan PPN Terutang: (Pasal 5 ayat (2) (8) PER-28/PJ/2012)
1. Dlm hal WP terdaftar pd KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP JKT
Khusus, dan KPP Madya
Kepala KPP menerbitkan SK pemusatan tempat PPN terutang paling lama 1 bulan sejak tanggal
SMT utk WP yg sebelumnya terdaftar pd KPP lain yg tlh melaksanakan pemusatan tempat
PPN terutang, meliputi:
a. Slr tempat kegiatan usaha/cabang WP utk WP yg sebelumnya terdaftar pd KPP di lingkungan
Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP JKT Khusus, dan KPP Madya, yg berlaku sejak tanggal
SMT (form Lamp III PER-28/PJ/2012); atau
b. Slr tempat kegiatan usaha/cabang WP sesuai dgn SK pemusatan sebelumnya utk WP yg
sebelumnya terdaftar di KPP Pratama, yg berlaku sejak tanggal SMT s.d. tanggal 31 Des thn
SMT (form Lamp IV PER-28/PJ/2012).
2. Dlm hal WP ditetapkan terdaftar di KPP Pratama berdasarkan Kep Dirjen Pajak sesuai Pasal 9
ayat (3) PER-28/PJ/2012, Kepala KPP Pratama menerbitkan SK pemusatan tempat PPN terutang
paling lama 1 bulan sejak tanggal SMT utk WP yg sebelumnya tlh melaksanakan pemusatan
tempat PPN terutang, yg berlaku sejak tanggal SMT s.d. tanggal 31 Des thn SMT (form Lamp IV
PER-28/PJ/2012).

B0227

3.

4.

5.

Dlm hal WP yg ditetapkan terdaftar di KPP Pratama menghendaki utk memperpanjang jangka
waktu pemusatan tempat PPN terutang, WP wajib menyampaikan pemberitahuan scr tertulis kpd
Kakanwil DJP yg wilayah kerjanya meliputi KPP Pratama tempat WP terdaftar sesuai dgn
ketentuan perpu perpajakan.
Kepala KPP di Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP JKT Khusus, dan KPP Madya menerbitkan SK
pemusatan tempat PPN terutang paling lama 2 bulan sbl berakhirnya thn SMT utk:
a. WP yg mempunyai > 1 tempat kegiatan usaha/cabang tetapi blm melaksanakan pemusatan
tempat PPN terutang; atau
b. WP yg sdh diterbitkan SK pemusatan tempat PPN terutang sesuai Pasal 5 ayat (3) huruf b
PER-28/PJ/2012.
SK pemusatan tempat PPN terutang ini berlaku sejak tanggal 1 Januari thn berikutnya stl thn
SMT, kecuali jika WP menyampaikan pemberitahuan scr tertulis sesuai Pasal 5 ayat (7) huruf a
PER-28/PJ/2012.
Kepala KPP di Kanwil DJP WP Besar, Kanwil DJP JKT Khusus, dan KPP Madya dpt menerbitkan
SK pemusatan tempat PPN terutang berdasarkan:
a. Surat pemberitahuan scr tertulis dari WP sbl jangka waktu sesuai Pasal 5 ayat (5) PER28/PJ/2012
b. Surat pemberitahuan scr tertulis dari WP yg tlh mendapatkan persetujuan pemusatan tempat
PPN terutang dlm hal terdapat penambahan tempat PPN terutang yg akan dipusatkan atau
pengurangan tempat PPN terutang yg tlh dipusatkan;
SK pemusatan tempat PPN terutang ini berlaku sejak masa pajak berikutnya stl tanggal SK
pemusatan tempat PPN terutang
Bagi WP yg tetap terdaftar di KPP yg sama dan pernah diterbitkan SK pemusatan tempat PPN
terutang oleh Kepala KPP, maka SK pemusatan tsb dinyatakan tetap berlaku dan tdk perlu
diterbitkan lagi SK pemusatan tempat PPN terutang. (Pasal 5 ayat (8) PER-28/PJ/2012)

B0228

Perbedaan Ketentuan Terkait Tempat Pemusatan PPN Terutang:

No

1.

2.

Kriteria WP

WP yg terdaftar
pd KPP di Kanwil
DJP WP Besar
dan KPP di
Kanwil DJP JKT
Khusus

WP yg terdaftar
di KPP Madya

Ketentuan sbl
30 Des 2011
(PER15/PJ/2009)
Dlm hal WP
berstatus Pusat
mempunyai 1
atau lbh tempat
kegiatan usaha,
termasuk
cabangcabangnya,
Tempat PPN
Terutang utk slr
tempat kegiatan
usaha tsb
dipusatkan hanya
di KPP WP Besar
atau KPP
Madya terhitung
sejak SMT di
KPP WP Besar
atau KPP Madya
tsb

Dlm hal WP
berstatus Pusat
mempunyai 1
atau lbh tempat
kegiatan usaha,
termasuk
cabangcabangnya,
Tempat PPN

Ketentuan sejak 30 Des 2011 s.d 29 Mar 2012


(PER-49/PJ/2011)
Tanggal terdaftar
Sbl 30 Des 2011
dan thd WP ini
sdh pernah
diterbitkan SK
pemusatan
tempat PPN
terutang

Sejak 30 Des
2011

Sbl 30 Des 2011


dan thd WP ini
sdh pernah
diterbitkan SK
pemusatan
tempat PPN
terutang

Penetapan tempat PPN


terutang
Tempat
PPN
terutang
utk slr
tempat
kegiatan
usaha
ditetapkan
di KPP
tempat WP
terdaftar
tsb

Pemusatan
tempat PPN
terutang tetap
berlaku dan tdk
perlu diterbitkan
lagi SK
pemusatan
tempat PPN
terutang

Ketentuan sejak 30 Mar 2012


(PER-08/PJ/2012)

Ketentuan sejak 1 Jan 2013


(PER-28/PJ/2012)

Kewajiban pelaporan PPN atas Kewajiban pelaporan PPN atas slr


slr tempat kegiatan usaha di slr tempat kegiatan usaha/cabang
Indonesia dilaksanakan di KPP dilaksanakan di KPP ini
ini

Penetapan
tempat PPN
terutang
dilakukan dgn
menerbitkan SK
pemusatan
tempat PPN
terutang oleh
Kepala KPP
atas nama
Dirjen Pajak
dgn bentuk
sesuai Lamp II
PER49/PJ/2011

Penetapan pemusatan
tempat PPN terutang tetap
berlaku sampai dgn 31 Des
2012. Sbl jangka waktu 31
Des 2012 tsb berakhir dan
WP tetap menghendaki
pemusatan tempat PPN
terutang, WP hrs
menyampaikan

B0229

1. Dlm hal WP berstatus


1.
pusat, kewajiban pelaporan
PPN utk tempat-tempat
kegiatan usaha yg berada di
wilayah sesuai dgn Lamp II
PER-08/PJ/2012
dilaksanakan di KPP Madya
2. Dlm hal WP berstatus
2.
cabang sdh dikukuhkan sbg

Dlm hal WP berstatus Pusat,


kewajiban pelaporan PPN atau
PPN dan PPnBM atas slr tempat
kegiatan usaha, termasuk tempat
kegiatan usaha/cabang yg
terdaftar di KPP Madya lain,
dilaksanakan di KPP Madya
Dlm hal WP berstatus Cabang
sdh dikukuhkan sbg PKP dan

Terutang utk slr


tempat kegiatan
usaha tsb
dipusatkan hanya
di KPP WP Besar
atau KPP
Madya terhitung
sejak SMT di
KPP WP Besar
atau KPP Madya
tsb

pemberitahuan tempat PPN


terutang sesuai perpu di
bidang Perpajakan
Sejak 30 Des
2011 dan thd WP
ini blm pernah
diterbitkan SK
pemusatan
tempat PPN
terutang

Ketentuan
pemusatan
tempat
PPN
terutang
utk KPP
madya ini
sama dgn
ketentuan
utk KPP
Pratama

WP hrs
menyampaikan
pemberitahuan
tempat PPN
terutang sesuai
perpu di bidang
Perpajakan

B0230

PKP dan berada di wilayah


sesuai dgn Lamp II PER08/PJ/2012, kewajiban
pelaporan
PPNnya dilaksanakan di
KPP Madya hanya atas
cabang tsb
3. Dlm hal WP yg terdaftar di
KPP Madya yg memiliki
tempat kegiatan usaha di
luar wilayah sesuai dgn
Lamp II PER-08/PJ/2012
menghendaki tempat
kegiatan usaha tsb
dipusatkan di KPP Madya,
WP hrs menyam-paikan
pemberitahuan pemusatan
tempat PPN terutang kpd
Kepala KPP Madya.
4. Bagi WP berstatus pusat yg
tetap terdaftar di KPP Madya
yg sama namun berkedudukan di luar wilayah yg sesuai
dgn Lamp II PER08/PJ/2012, kewajiban PPN
dilaksanakan di KPP
Pratama yg wilayah
kerjanya meliputi tempat
kedudukan WP tsb dgn
menerbitkan NPWP cabang,
berlaku mulai 1 Jan thn
berikutnya stl thn SMT.

WP berstatus Pusatnya tdk


terdaftar pd KPP di Lingkungan
Kanwil DJP WP Besar atau
Khusus, kewajiban pelaporan
PPN dan PPnBM dilaksanakan di
KPP Madya hanya atas cabang
tsb

E. TEMPAT PENDAFTARAN/PELAPORAN PKP BAGI WP REAL ESTAT


Dasar Hukum:
Pasal 2 ayat (3) huruf a UU KUP
PER-25/PJ/2013 (berlaku sejak 3 Juli 2013) ttg Tempat pendaftaran dan/atau tempat
pelaporan usaha bagi WP sbg pengusaha yg dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 dan
perubahannya yg melakukan usaha di bidang pengalihan tanah dan/ atau bangunan
Tempat Pendaftaran dan/atau Pelaporan Usahanya:
Tempat pendaftaran dan/atau pelaporan usaha utk melaksanakan hak dan pemenuhan
kewajiban perpajakan sbg PKP yg dikenai pajak berdasarkan UU PPN bagi WP yg melakukan
usaha di bidang pengalihan tanah dan/atau bangunan, ditetapkan di KPP yg wilayah kerjanya
meliputi tempat kegiatan usaha tsb berada.
Khusus Bagi WP yg Terdaftar di KPP Madya di Jakarta, KPP di Kanwil DJP Besar, atau
KPP di Kanwil DP Jakarta Khusus:
a. Bagi WP yg melakukan usaha di bidang pengalihan tanah dan/atau bangunan yg terdaftar
pd KPP Madya di Jakarta dan KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar dan Kanwil DJP
Jakarta Khusus, kewajiban pendaftaran dan/atau pelaporan PPN atau PPN dan PPnBM
ditetapkan pd: (Pasal 2 ayat (1) PER-25/PJ/2013)
KPP Madya di Jakarta dan KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar & Kanwil DJP
Jakarta Khusus bagi WP yg mempunyai tempat kegiatan usaha di wilayah DKI Jakarta
KPP tempat kegiatan usaha tsb berada bagi WP yg mempunyai tempat kegiatan usaha
di luar wilayah DKI Jakarta
b. Bagi WP yg tempat kegiatan usahanya berada di luar wilayah DKI Jakarta dikukuhkan
sbg PKP scr jabatan oleh KPP yg wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha tsb
berada (Pasal 2 ayat (3) PER-25/PJ/2013)
SK Pemusatan Tempat PPN terutang yg diterbitkan berdasarkan PER-28/PJ/2012, tdk
berlaku bagi WP ini (Pasal 3 PER-25/PJ/2013)

B0231

SURAT KUASA KHUSUS


Dasar Hukum:
Pasal 32 UU KUP
Pasal 49, 50, 51, 52 PP 74 Thn 2011 (berlaku sejak 1 Jan 2012)
PMK-22/PMK.03/2008 (berlaku sejak 6 Feb 2008) ttg Persyaratan serta Pelaksanaan Hak &
Kewajiban Seorang Kuasa
PMK-111/PMK.03/2014 (berlaku stl 6 bulan terhitung sejak tanggal 9 Juni 2014) ttg Konsultan Pajak
Pd saat berlaku, PMK-111/PMK.03/2014 mencabut KMK-485/KMK.03/2003 jo PMK98/PMK.03/2005 ttg Konsultan Pajak Indonesia
SE terkait:
SE-16/PJ/2008 ttg Penegasan Sehubungan dgn Penunjukan Seorang Kuasa dgn Surat Kuasa
Khusus
Pihak yg menjalankan Hak & Kewajiban Perpajakan (Ketentuan Terkait Pengertian Pengurus)
Dlm menjalankan hak & kewajiban sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan, WP diwakili dlm hal:
1. Badan Pengurus
Termasuk dlm pengertian pengurus adalah orang yg nyata-nyata mempunyai wewenang dlm
menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dlm rangka menjalankan kegiatan
perusahaan, misalnya berwenang menandatangani kontrak dgn pihak ketiga, menandatangani
cek, dan sebagainya walaupun orang tsb tdk tercantum namanya dlm susunan pengurus yg
tertera dlm akte pendirian maupun akte perubahan, termasuk dlm pengertian pengurus.
Ketentuan ini berlaku pula bagi komisaris dan pemegang saham mayoritas atau
pengendali. (Penjelasan Pasal 32 UU KUP)
Tambahan Informasi: (sesuai UU 40 Thn 2007 ttg Perseroan Terbatas/UU PT)
Di dlm UU PT, yg menjalankan pengurusan PT (Pengurus PT) adalah Direksi, Komisaris juga dpt
melakukan tindakan pengurusan PT dlm hal: (Pasal 118 UU PT)
Anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan dg Perseroan; (Pasal 99 ayat (2) huruf
b UU PT)
Slr anggota Direksi berhalangan atau diberhentikan utk sementara. (Pasal 107 huruf c UU
PT)
2. Badan yg dinyatakan pailit Kurator
3. Badan dlm pembubaran Orang atau badan yg ditugasi utk melakukan pemberesan
4. Badan dlm likuidasi Likuidator
5. Suatu warisan yg blm terbagi Salah seorang ahli warisnya, pelaksana wasiatnya atau yg
mengurus harta peninggalannya
6. Anak yg blm dewasa atau orang yg berada dlm pengampuan Wali atau pengampunya
Anak yg blm dewasa: anak yg blm berumur 18 thn & blm pernah menikah (Penjelasan Pasal 8 ayat
(4) UU PPh)
Wanita kawin yg tdk menghendaki utk melaksanakan hak & memenuhi kewajiban perpajakan terpisah
dari suaminya dan anak yg blm dewasa, hrs melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban
perpajakannya menggunakan NPWP suami atau kepala keluarga. (Pasal 2 ayat (5) PER-20/PJ/2013)
Penegasan Terkait Tdk Diperlukannya Surat Kuasa Khusus dlm Bbrp Hal Pelaksanaan Kewajiban
Perpajakan
1. Pengurus, komisaris dan pemegang saham mayoritas atau pengendali serta karyawan WP yg nyatanyata mempunyai wewenang dlm menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dlm rangka
menjalankan perusahaan dpt melaksanakan hak dan/atau kewajiban perpajakan WP tanpa
memerlukan Surat Kuasa Khusus
2. Dokumen perpajakan seperti SSP, dpt ditandatangani oleh pejabat/karyawan yg ditunjuk oleh
WP tanpa memerlukan Surat Kuasa Khusus. (angka 11 SE-16/PJ/2008)
3. Dokumen perpajakan seperti FP, dpt ditandatangani oleh pejabat/karyawan yg ditunjuk oleh WP tanpa
memerlukan Surat Kuasa Khusus. (angka 11 SE-16/PJ/2008)
Tetapi yg berhak menandatangani adalah pejabat yg namanya tercantum dlm surat pemberitahuan
scr tertulis nama pejabat yg berhak menandatangani FP disertai dgn contoh tandatangannya dan
melampirkan FC kartu identitas pejabat/pegawai penandatanganan FP yg sah yg tlh dilegalisasi
pejabat berwenang, yg tlh disampaikan PKP ke KPP. (Pasal 13 ayat (2) PER-24/PJ/2012)

B031

4.

Penyerahan dokumen yg berdasarkan ketentuan dpt disampaikan melalui TPT, tdk memerlukan Surat
Kuasa Khusus atau Surat Penunjukan. (angka 11 SE-16/PJ/2008)

Ketentuan yg Ada di Pasal 32 ayat (3) UU KUP (Penunjukan Seorang Kuasa)


OP atau badan dpt menunjuk seorang kuasa dgn surat kuasa khusus utk menjalankan hak & memenuhi
kewajiban sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
Isi & Format Surat Kuasa Khusus: (Contoh Form Surat Kuasa Khusus ada di Lamp I PMK22/PMK.03/2008)
Surat Kuasa Khusus paling sedikit hrs memuat: (Pasal 49 ayat (4) PP 74 Thn 2011 & Pasal 5 ayat
(1) PMK-22/PMK.03/2008)
Nama, alamat, dan tanda tangan di atas meterai, serta NPWP dari WP pemberi kuasa;
Nama, alamat, dan tanda tangan, serta NPWP penerima kuasa; dan
Hak dan/ atau kewajiban perpajakan tertentu yg dikuasakan.
Contoh penggunaan surat kuasa khusus ini adalah utk penandatanganan SPT Tahunan PPh OP/
Badan.
Perbedaan antara Seorang Kuasa yg mrp Konsultan Pajak dan Bukan Konsultan Pajak:
Ketentuan
Bukan Konsultan Pajak (Termasuk
Konsultan Pajak
terkait
Karyawan WP)
Persyaratan utk
1.
Menguasai ketentuan perpu di bidang perpajakan
menjadi
Konsultan pajak sbg seorang kuasa
Seorang kuasa yg bukan
seorang Kuasa
dianggap menguasai ketentuan perpu
konsultan pajak dianggap
(kumulatif)
perpajakan apabila dpt menyerahkan
menguasai ketentuan perpu
(Pasal 2 ayat
FC surat izin praktek konsultan pajak
perpajakan apabila dpt
(2) PMKyg diterbitkan oleh Dirjen Pajak a.n.
menyerahkan FC sertifikat
22/PMK.03/2008
Menkeu yg dilengkapi dgn Surat
brevet atau ijazah pendidikan
&
Pernyataan sbg konsultan
formal di bidang perpajakan
Pasal 49 ayat
pajak (sesuai format dlm Lamp
yg diterbitkan oleh perguruan
(3) PP 74 Thn
II PMK-22/PMK.03/2008)
tinggi negeri atau swasta dgn
2011
status terakreditasi A, minimal
tingkat D III.
2.
Memiliki surat kuasa khusus dari WP yg memberi kuasa (sesuai format
dlm Lamp I PMK-22/PMK.03/2008)
3.
Memiliki NPWP
4.
Tlh menyampaikan SPT Tahunan PPh Thn Pajak Terakhir
5.
Tdk pernah dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang
perpajakan (Persyaratan ini baru ada stl PP 74 berlaku sejak 1 Jan 2012)
6
Jika yg menjadi kuasa adalah
.
karyawan WP tsb, maka
karyawan yg boleh menerima
kuasa adalah karyawan tetap yg
tlh menerima penghasilan dari
WP pemberi kuasa yg
dibuktikan dgn Surat
Pernyataan bermeterai dari WP
(sesuai format dlm Lamp
III PMK-22/PMK.03/2008)
(Pasal 4 ayat (2) PMK22/PMK.03/2008)
Batasan
Konsultan Pajak dpt menerima kuasa dari
Seseorang yg bukan konsultan pajak
Penerimaan
WP manapun.
termasuk karyawan WP hanya dpt
Kuasa
menerima kuasa dari: (Pasal 4 ayat
WP yg wajib menggunakan Konsultan
Pajak bila menunjuk sbg Kuasanya:
(1) PMK-22/PMK.03/2008)
WP OP yg menjalankan usaha atau
WP OP yg tdk menjalankan usaha
pekerjaan bebas dgn peredaran/
atau pekerjaan bebas;

B032

penerimaan bruto > Rp 1,8 M dlm 1 thn;


atau
WP Badan dgn peredaran bruto > Rp 2,4
M dlm 1 thn.
Pasal 52 PP 74 Thn 2011: menyebutkan
bahwa "Ketentuan lbh lanjut mengenai syarat
serta hak & kewajiban konsultan pajak yg dpt
ditunjuk sbg kuasa diatur dgn Peraturan
Menkeu " (PMK nya masih blm terbit), shg
PMK-22/PMK.03/2008 masih tetap berlaku
sepanjang tdk bertentangan dgn PP 74
(Pasal 65 PP 74 Thn 2011)

WP OP yg menjalankan usaha
atau pekerjaan bebas dgn
peredaran/penerimaan bruto < Rp
1,8 M dlm 1 tahun; atau
WP Badan dgn peredaran bruto <
Rp 2,4 M dlm 1 tahun.

Ketentuan yg Wajib Dipenuhi oleh Seorang Kuasa:


1. Seorang kuasa tdk dpt melimpahkan kuasa yg diterima dari WP kpd orang lain. (Pasal 50 ayat (1)
PP 74 Thn 2011 & Pasal 7 PMK-22/PMK.03/2008)
2. Dlm melaksanakan hak dan/atau memenuhi kewajiban perpajakan tertentu yg dikuasakan, dgn surat
penunjukan seorang kuasa hanya dpt meminta orang lain atau karyawannya utk menyampaikan
dan/atau menerima dokumen perpajakan tertentu yg diperlukan kpd dan/atau dari pegawai
DJP. (Pasal 50 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
Orang lain atau karyawan yg ditunjuk oleh seorang kuasa, hrs menyerahkan surat penunjukan
kpd pegawai DJP Pajak pd saat melaksanakan tugasnya. (Pasal 50 ayat (3) PP 74 Thn 2011)
Seorang kuasa dpt menunjuk orang lain atau karyawannya terbatas utk menyampaikan
dokumen-dokumen dan/atau menerima dokumen-dokumen perpajakan tertentu yg diperlukan
dlm pelaksanaan hak dan/atau pemenuhan kewajiban perpajakan tertentu yg dikuasakan,
selain penyerahan dokumen yg dpt disampaikan melalui TPT. Orang lain atau karyawan yg
ditunjuk wajib menyerahkan Surat Penunjukan dari kuasa tsb, sesuai dgn Lamp IV PMK22/PMK.03/2008. (Pasal 7 ayat (2) & (3) PMK-22/PMK.03/2008)
3. Seorang kuasa hanya mempunyai hak dan/atau kewajiban perpajakan tertentu yg dikuasakan WP
sesuai dgn surat kuasa khusus. (Pasal 51 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
1 surat kuasa khusus hanya utk 1 pelaksanaan hak dan/atau kewajiban perpajakan
tertentu. (Pasal 5 ayat (2) PMK-22/PMK.03/2008)
Yg dimaksud dgn: "hanya utk 1 pelaksanaan hak dan/atau kewajiban perpajakan tertentu"
adalah hanya utk 1 jenis pajak yg dituliskan dlm surat kuasa khusus, utk masa pajaknya bisa
> 1 masa pajak (tergantung dari isi surat kuasa khusus tsb).
4. Dlm melaksanakan hak dan/atau memenuhi kewajiban perpajakan tertentu, seorang kuasa
wajib mematuhi ketentuan perpu di bidang perpajakan. (Pasal 51 ayat (2) PP 74 Thn 2011 & Pasal 10
ayat (1) PMK-22/PMK.03/2008)
5. Seorang kuasa tdk dpt melaksanakan hak dan/atau kewajiban WP yg dikuasakan kepadanya apabila
dlm melaksanakan hak dan/atau memenuhi kewajiban perpajakannya: (Pasal 51 ayat (3) PP 74 Thn
2011 & Pasal 10 ayat (2) PMK-22/PMK.03/2008)
Melanggar ketentuan perpu di bidang perpajakan;
Menghalang-halangi pelaksanaan ketentuan peraturan perpu di bidang perpajakan; atau
Dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya.
6. Seorang kuasa wajib memberi bantuan, penjelasan dan hal-hal lain yg berkaitan dgn pelaksanaan hak
dan/atau kewajiban WP yg memberikan kuasa kpd-nya, sesuai perpu perpajakan. (Pasal 9 ayat
(3) PMK-22/PMK.03/2008)
Form-form yg digunakan berdasar PMK-22/PMK.03/2008:
No.
Nama Form
1.
Surat Kuasa Khusus WP....
2.
Surat Pernyataan sbg Konsultan Pajak
3.
Surat Pernyataan sbg Karyawan Tetap WP
4.
Surat Penunjukan

B033

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV

Pihak Pembuat
WP Pemberi Kuasa
WP Penerima Kuasa
WP Penerima Kuasa
WP Pemberi Kuasa

KODE KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA (KLU)


Dasar Hukum:
KEP-233/PJ/2012 jo KEP-321/PJ/2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013) ttg Klasifikasi Lapangan Usaha
WP mencabut KEP-34/PJ/2003
Kegunaan:
Tata Usaha WP, seperti data Kelompok Kegiatan Ekonomi WP dlm Master File WP, Kelompok
Kegiatan Ekonomi pd SPT PPh
Dasar penyusunan NPPN
Keperluan khusus lainnya
KLU 2012 (sejak 1 Jan 2013)
Kategori
A

B
C
D

F
G

H
I
J
K
L
M
N

KLU 2003

Pertanian, Kehutanan &


Perikanan

01 - 03

Kategori
A

Pertambangan &
Penggalian
Industri Pengolahan
Pengadaan Listrik, Gas,
Uap/Air Panas & Udara
Dingin
Pengadaan Air,
Pengelolaan Sampah &
Daur Ulang, Pembuangan
& Pembersihan Limbah &
Sampah
Konstruksi
Perdagangan Besar &
Eceran; Reparasi &
Perawatan Mobil &
Sepeda Motor

05 - 09

B
C

10 - 33
35

D
E

Judul Kategori

Gol. Pokok

Judul Kategori
Pertanian, Perburuan,
Kehutanan
Perikanan
Pertambangan &
Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air

Gol.
Pokok
01, 02
05
10 - 14
15 - 37
40, 41

36-39

41 - 43
45 - 47

F
G

Konstruksi
Perdagangan Besar &
Eceran, Reparasi Mobil,
Sepeda Motor, serta BrgBrg Keperluan Pribadi &
Rumah Tangga
Transportasi, Pergudangan
dan Komunikasi
Penyediaan Akomodasi &
Penyediaan Makan Minum
Transportasi, Pergudangan
dan Komunikasi
Perantara Keuangan

Transportasi &
Pergudangan
Penyediaan Akomodasi &
Penyediaan Makan Minum
Informasi & Komunikasi

49 - 53

55, 56

58 - 63

Jasa Keuangan &


Asuransi
Real Estat
Jasa Profesional, Ilmiah &
Teknis
Jasa Persewaan,
Ketenagakerjaan, Agen
Perjalanan & Penunjang
Usaha Lainnya
Administrasi
Pemerintahan,
Pertahanan & Jaminan
Sosial Wajib

64 - 66

68
69 - 75

Real Estate, Usaha


Persewaan, & Jasa
Perusahaan

Administrasi Pemerintah,
Pertahanan, & Jaminan
Sosial Wajib

45
50 - 54

60 - 64
55
60 - 64
64 - 67
70 - 74

77 - 82

84

B041

75

KLU 2012 (sejak 1 Jan


J 2013)
Kategori
P
Q
R
S
T

KLU 2003

Jasa Pendidikan
Jasa Kesehatan &
Kegiatan Sosial

85
86 - 88

Kategori
M
N

Kebudayaan, Hiburan &


Rekreasi
Kegiatan Jasa Lainnya
a
Jasa Perorangan yg
Melayani Rumah Tang
gga;
Kegiatan yg Menghasillkan
Brg & Jasa Oleh Ruma
ah
Tangga yg Digunakan
Sendiri Utk Memenuhi
Kebutuhan

90 - 93

Jasa Kemasyyarakatan,
Sosial, & Keg
giatan Lainnya

94 - 96
97, 98

Jasa Peroran
ngan

95
5

99

Badan Internasioanal, &


Badan Ekstra
a Internasional
Lainnya

9
99

Kegiatan yg Belum
B
Jelas
Batasannya

00
0

Judul Kategori

Gol. Pokok

Kegiatan Badan
Internasional & Badan
Ekstra Internasional
Lainnya

Struktur Kode
K
KLU:
X
X
X

Kode KLU

Golongan Pokok (2 digit pertama dari kode KLU

B042
2

Judul Kategori
Jasa Pendidikan
Jasa Kesehatan, & Kegiatan
Sosial

Go
ol.
Pok
kok
80
0
85
5
90 - 93

BATAS WAKTU PEMBAYARAN & PELAPORAN DAN TERKAIT PELAPORAN SPT


No.

Jenis SPT

1.

PPh Ps. 4 (2) yg dipotong


oleh Pemotong PPh
PPh Ps. 15 yg dipotong oleh
Pemotong PPh
PPh Ps. 21 yg dipotong oleh
Pemotong PPh
PPh Ps. 23 yg dipotong oleh
Pemotong PPh
PPh Ps. 26 yg dipotong oleh
Pemotong PPh
PPh Ps. 22 atas penyerahan
BBM, gas, pelumas kpd
penyalur/agen atau industri yg
dipungut oleh WP Badan yg
bergerak dlm bid. produksi
BBM, gas, dan pelumas
PPh ps. 22 yg
pemungutannya dilakukan
oleh WP badan tertentu sbg
Pemungut Pajak
PPh Ps. 4 (2) yg hrs dibayar
sendiri oleh WP
PPh Ps. 15 yg hrs dibayar
sendiri oleh WP
PPh Ps. 25 (angsuran pajak)
utk WP OP & badan

2.
3.
4.
5.
6.

7.

8.
9.
10.

11.

PPh Ps. 22, PPN atau PPN


dan PPnBM atas impor

12.

PPh Ps. 22, PPN atau PPN


dan PPnBM atas impor yg
dipungut oleh DJBC

13.

PPh Ps. 22 yg dipungut oleh


bendahara

Batas Waktu Pembayaran


Masa
Tgl 10 bulan berikut stl Masa
Pajak berakhir

Tgl 15 bulan berikut stl Masa


Pajak berakhir
(Bila memenuhi kriteria WP
yg Memiliki Peredaran Bruto
Tertentu, tdk wajib PPh Ps.
25 tetapi wajib PPh Ps. 4
ayat (2) atas penghasilan
dgn peredaran bruto
tertentu, dgn batas waktu
pembayaran adalah tgl 15
bulan berikut stl Masa Pajak
berakhir)
Bersamaan dgn saat
pembayaran Bea Masuk. Dlm
hal Bea Masuk ditunda/
dibebaskan, pajak hrs dilunasi
pd saat penyelesaian
dokumen PIB
1 hari kerja stl dilakukan
pemungutan pajak

Pd hari yg sama dgn


pelaksanaan pembayaran atas
penyerahan barang yg dibiayai
dari belanja Negara/Daerah,
dgn menggunakan SSP a.n.
rekanan & ditandatangani oleh
bendahara

B051

Batas Waktu
Pelaporan

20 hari stl Masa Pajak


berakhir
(Bila memenuhi
kriteria WP yg
Memiliki Peredaran
Bruto Tertentu, tdk
wajib PPh Ps. 25
tetapi wajib PPh Ps. 4
ayat (2) atas
penghasilan dgn
peredaran bruto
tertentu, dgn batas
waktu pelaporan
adalah tgl 15 bulan
berikut stl Masa Pajak
berakhir)

Scr mingguan paling


lama pd hari kerja
terakhir minggu
berikutnya
14 hari
stl Masa Pajak berakhir

No.

Jenis SPT

14.

PPh Ps. 25 (angsuran pajak)


bagi WP kriteria tertentu yg
melaporkan bbrp Masa Pajak
dlm 1 SPT Masa
Pembayaran masa selain
PPh Pasal 25 bagi WP
kriteria tertentu yg
melaporkan bbrp masa pajak
dlm 1 SPT Masa
PPN atau PPN & PPnBM yg
terutang dlm 1 Masa Pajak

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

PPN yg terutang atas keg.


membangun sendiri (hrs
disetor oleh pihak yg
melakukan)
PPN atau PPN & PPnBM yg
pemungutannya dilakukan
oleh Pemungut PPN selain
Bendahara Pemerintah/
Instansi Pemerintah yg
ditunjuk
PPN atau PPN & PPnBM yg
pemungutannya dilakukan
oleh Bendahara Pengeluaran
sbg Pemungut PPN
PPN yg terutang atas
pemanfaatan BKP tdk
berwujud dan/atau JKP dari
luar Daerah Pabean (hrs
disetor oleh pihak yg
memanfaatkan)
PPN atau PPN & PPnBM yg
pemungutannya dilakukan
oleh Pejabat Penandatangan
SPM sbg Pemungut PPN

1.

PPh - OP

2.

PPh - Badan

3.

PBB Perkebunan,
Perhutanan, Pertambangan

Batas Waktu Pembayaran


Masa
Pd akhir masa pajak terakhir

Batas Waktu
Pelaporan

20 hari
stl berakhirnya Masa
Pajak terakhir

Sesuai dgn batas waktu utk


masing-masing jenis pajak

Akhir bulan berikutnya stl Masa


Pajak berakhir & sbl SPT Masa
PPN disampaikan (mulai Masa
Pajak Apr 2010)
Tgl 15 bulan berikutnya stl
Masa Pajak berakhir

Akhir bulan berikutnya


stl Masa Pajak berakhir
(mulai Masa Pajak Apr
2010)

Tgl 7 bulan berikutnya stl Masa


Pajak berakhir

Tgl 15 bulan berikutnya stl saat


terutangnya pajak

Pd hari yg sama dgn


pelaksanaan pembayaran kpd
PKP Rekanan Pemerintah
melalui KPPN
Tahunan
Sbl SPT Tahunan PPh
disampaikan

6 bulan sejak tanggal


diterimanya SPPT

B052

Akhir bulan ke-3 stl


berakhirnya thn atau
bagian thn pajak
Akhir bulan ke-4 stl
berakhirnya thn atau
bagian thn pajak
-

Ket:
Dlm hal tgl jatuh tempo pembayaran/penyetoran pajak atau batas akhir pelaporan bertepatan dgn hari
libur termasuk hari Sabtu/hari libur nasional, pembayaran/penyetoran pajak atau pelaporan dpt
dilakukan pd hari kerja berikutnya (berlaku mulai tgl 1 Jan 2008).
Hari libur nasional termasuk hari yg diliburkan utk penyelenggaraan Pemilihan Umum yg ditetapkan
oleh Pemerintah & cuti bersama scr nasional yg ditetapkan oleh Pemerintah
Ketentuan utk PPN atau PPN & PPnBM yg terutang dlm 1 Masa Pajak sbl Masa Pajak Apr 2010:
batas waktu utk pembayaran tgl 15 bulan berikut stl Masa Pajak berakhir & utk pelaporan tgl 20 bulan
berikut stl Masa Pajak berakhir.
Sumber:
UU KUP, PMK-184/PMK.03/2007 jo. PMK-80/PMK.03/2010, Lamp II Huruf D.3.a & 3.b PER-11/PJ/2013
Pelaporan SPT Masa PPh Pasal 25 / PPh Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan dgn Peredaran Bruto
Tertentu:
PPh Pasal 25
Apabila SSP nya tlh mendapat validasi dgn NTPN, maka SPT Masa PPh Pasal 25 dianggap tlh
disampaikan ke KPP sesuai dgn tgl validasi yg tercantum pd SSP. PPh Pasal 25 NIHIL, tetap hrs
melaporkan SPT PPh Masa menggunakan SSP lembar ke-3 NIHIL.
Pembayaran stl tgl 15:
Apabila pembayaran dilakukan antara tgl 16 - 20 maka dikenakan sanksi administrasi terlambat bayar
(2% perbulan). Apabila pembayaran dilakukan stl tgl 20, dikenakan sanksi administrasi terlambat
bayar & denda terlambat lapor.
Sumber:
PER-22/PJ./2008 (berlaku sejak 21 Mei 2008)
PPh Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan dgn Peredaran Bruto Tertentu:
WP yg tlh melakukan penyetoran PPh final ini:
Mendapat validasi dgn NTPN dianggap tlh menyampaikan SPT Masa PPh, sesuai dgn tanggal
validasi NTPN yg tercantum pd SSP
Tdk mendapat validasi NTPN wajib menyampaikan SPT Masa PPh Pasa 4 ayat (2) ke KPP
sesuai tempat kegiatan usaha WP terdaftar dgn mengisi baris pd angka 11 form SPT:
Kolom Uraian ditulis dgn Penghasilan Usaha WP yg Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
Kolom KAP/KJS diisi dgn 411128/420
WP dgn jml PPh Pasal 4 ayat (2) nihil tdk wajib melaporkan SPT Masa PPh Pasal ayat (2)
Sumber:
PMK-107/PMK.011/2013 (berlaku sejak 1 Juli 2013), SE-42/PJ/2013
Pelaporan SPT Masa PPh Pasal 21/26
Ketentuan mengenai kewajiban utk melaporkan pemotongan PPh pasal 21/26 utk setiap bulan tetap
berlaku, dlm hal jml pajak yg dipotong pd bulan yg bersangkutan nihil.
Sumber:
Pasal 22 ayat (6) PER-31/PJ./2012
Penandatanganan SPT
SPT yg disampaikan wajib ditanda tangani oleh WP atau Kuasa WP
Penandatanganan SPT dilakukan dgn cara :
Tanda tangan biasa;
Tanda tangan stempel; atau
Tanda tangan elektronik atau digital.
Tanda tangan stempel dan tanda tangan elektronik atau digital mempunyai kekuatan hukum yg sama
dgn tanda tangan biasa.
Tanda tangan elektronik atau tanda tangan digital adalah informasi elektronik yg dilekatkan, memiliki
hubungan lsg atau terasosiasi pd suatu informasi elektronik lain termasuk sarana administrasi
perpajakan yg ditujukan oleh WP atau kuasanya utk menunjukan identitas dan status yg
bersangkutan.
Sumber:
Pasal 6 dan Pasal 7 PMK-181/PMK.03/2007 jo PMK-152/PMK.03/2009

B053

Perpanjangan SPT Tahunan PPh


WP dpt memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan utk paling lama 2 bulan sejak
batas waktu penyampaian SPT Tahunan dgn cara menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan
SPT Tahunan sbb:
Membuat Pemberitahuan Perpanjangan scr tertulis (disampaikan dlm bentuk formulir kertas
(hardcopy) 1770-Y/1771-Y/1771-$Y, atau dlm bentuk data elektronik (e-SPTy) dan disampaikan
ke KPP terdaftar sbl batas waktu penyampaian SPT Tahunan berakhir.
Wajib menyebutkan alasan perpanjangan dan melakukan penghitungan sementara pajak terutang
dlm 1 Thn Pajak yg batas waktu penyampaiannya diperpanjang (alasan ini dpt dimasukkan ke
kolom yg tersedia pd 1770-Y/1771-Y)
Wajib melampirkan:
9 LK Sementara utk Thn Pajak yg bersangkutan dari WP itu sendiri (bukan LK Sementara dari
konsolidasi grup);
9 SSP PPh Pasal 29 sbg bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yg terutang kecuali
ada ijin utk mengangsur/menunda pembayaran PPh Pasal 29; dan
9 Surat Pernyataan dari Akuntan Publik yg menyatakan audit LK blm selesai dlm hal LK diaudit
oleh Akuntan Publik.
Hrs ditandatangani oleh WP/kuasa WP. Dlm hal Pemberitahuan Perpanjangan ditandatangani
oleh Kuasa WP, Pemberitahuan Perpanjangan wajib dilampiri dgn Surat Kuasa Khusus.
Dlm hal WP blm siap utk menyampaikan SPT Tahunan dlm jangka waktu sebagaimana dimaksud pd
Pemberitahuan Perpanjangan yg diajukan sebelumnya, maka WP masih dpt menyampaikan
Pemberitahuan Perpanjangan lagi sepanjang tdk melampaui batas waktu 2 bulan sejak batas
waktu penyampaian SPT Tahunan pasal 3 UU KUP.
Penyampaian pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan:
Tanda BPS Pemberitahuan
No.
Cara Penyampaian
Perpanjangan SPT Tahunan
a.
Scr lsg pd KPP tempat WP terdaftar dan/atau tempat
BPS
PKP dikukuhkan
b.
Melalui pos dgn bukti pengiriman surat
Bukti Pengiriman Surat
c.
Dgn cara
1) Melalui perusahaan jasa ekspedisi/jasa
Bukti Pengiriman Surat
lain
kurir dgn bukti pengiriman surat
2) e-Filing melalui ASP sesuai dgn
BPE
ketentuan yg berlaku
Kepala KPP wajib memberitahukan kpd WP paling lama 7 hari kerja sejak Pemberitahuan
Perpanjangan diterima lengkap di KPP. Apabila Kepala KPP tdk memberikan pemberitahuan kpd
WP dlm jangka waktu tsb, maka Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dianggap diterima:
Sesuai dgn pemberitahuan WP dlm hal Pemberitahuan Perpanjangan tdk melebihi batas waktu;
atau
Utk jangka waktu paling lama 2 bulan dlm hal Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan
melebihi batas waktu
Dlm hal WP melakukan Pemberitahuan dgn Tdk Sesuai Ketentuan, maka pemberitahuan tsb akan
dianggap bukan mrp Pemberitahuan Perpanjangan, tetapi WP masih dpt menyampaikan kembali
Pemberitahuan Perpanjangan sepanjang tdk melampaui batas waktu penyampaian SPT Tahunan
sesuai Pasal 3 UU KUP.
Sumber:
Pasal 3 ayat (4) UU KUP, PER-21/PJ./2009 (berlaku sejak 02 Maret 2009)

B054

Pembetulan SPT
Sejak tanggal 1Jan 2012:
1. WP dgn kemauan sendiri dpt membetulkan SPT yg tlh disampaikan dgn menyampaikan
pernyataan tertulis, dgn syarat Dirjen Pajak blm melakukan tindakan;
a.
Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp;
Sbl Dirjen Pajak menyampaikan SPHV
b.
Pemeriksaan; atau
Sbl saat surat pemberitahuan Pemeriksaan disampaikan kpd WP, wakil, kuasa, pegawai,
atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP
c.
Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Sbl saat surat pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan disampaikan kpd WP, wakil,
kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP
2. Pernyataan tertulis dlm pembetulan SPT pd angka 1 dilakukan dgn cara memberi tanda pd tempat
yg tlh disediakan dlm SPT yg menyatakan bahwa WP yg bersangkutan membetulkan SPT.
3. Dlm hal Pembetulan SPT pd angka 1 menyatakan rugi atau LB, pembetulan SPT hrs disampaikan
paling lama 2 thn sbl daluwarsa penetapan.
(Pasal 5 ayat (1) dan penjelasan, ayat (2), dan ayat (3) PP 74 Thn 2011)
a.

b.

utk Thn Pajak 2008 ke atas: (Pasal 8 ayat (1), (1a), (3), (4), (6) UU No. 28 Thn 2007)
Dlm hal pembetulan SPT menyatakan Rugi atau LB, disampaikan paling lama 2 thn sbl
daluwarsa penetapan (5 thn stl saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian
Thn Pajak, atau Thn Pajak sesuai Pasal 13 ayat (1) UU KUP), dgn syarat Dirjen Pajak blm
melakukan tindakan pemeriksaan.
Walaupun tlh dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi blm dilakukan tindakan penyidikan
mengenai adanya ketidakbenaran yg dilakukan WP sesuai Pasal 38, thd ketidakbenaran
perbuatan WP tsb tdk akan dilakukan penyidikan, apabila WP dgn kemauan sendiri
mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tsb dgn disertai pelunasan kekurangan
pembayaran jml pajak yg sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda seb
150% dari jml pajak yg kurang dibayar.
Walaupun Dirjen Pajak tlh melakukan pemeriksaan, dgn syarat Dirjen Pajak blm menerbitkan
skp, WP dgn kesadaran sendiri dpt mengungkapkan dlm laporan tersendiri ttg ketidakbenaran
pengisian SPT yg tlh disampaikan sesuai keadaan yg sebenarnya, yg dpt mengakibatkan:
Pajak-pajak yg masin hrs dibayar menjadi lbh besar atau lbh kecil;
Rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lbh kecil atau lbh besar;
Jml harta menjadi lbh besar atau lbh kecil; atau
Jml modal menjadi lbh besar atau lbh kecil,
dan proses pemeriksaan tetap dilanjutkan. Pajak yg kurang dibayar yg timbul sbg akibat dari
pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT tsb beserta sanksi administrasi berupa kenaikan
seb 50% dari pajak yg kurang dibayar, hrs dilunasi oleh WP sbl laporan tersendiri dimaksud
disampaikan.
WP dpt membetulkan SPT Tahunan yg tlh disampaikan, dlm hal WP menerima skp, SK
Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan PK Thn Pajak sebelumnya atau bbrp
Thn Pajak sebelumnya, yg menyatakan rugi fiskal yg berbeda dgn rugi fiskal yg tlh
dikompensasikan dlm SPT Tahunan yg akan dibetulkan tsb, dlm jangka waktu 3 bulan stl
menerima surat/putusan tsb, dgn syarat Dirjen Pajak blm melakukan tindakan pemeriksaan.
utk Thn Pajak 2001-2007: (Pasal 8 ayat (1), (3), (4), (5) (6) UU 16 Thn 2000)
WP dgn kemauan sendiri dpt membetulkan SPT yg telah disampaikan dgn menyampaikan
pernyataan tertulis dlm jangka waktu 2 thn sesudah berakhirnya Masa Pajak, Bagian Thn
Pajak atau Thn Pajak, dgn syarat Dirjen blm melakukan tindakan pemeriksaan.
Sekalipun jangka waktu pembetulan SPT di atas tlh berakhir, dgn syarat Dirjen Pajak blm
menerbitkan skp, WP dgn kesadaran sendiri dpt mengungkapkan dlm laporan tersendiri ttg
ketidakbenaran pengisian SPT yg tlh disampaikan, yg mengakibatkan :
Pajak-pajak yg masih hrs dibayar menjadi lbh besar; atau
Rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lbh kecil; atau
Jml harta menjadi lbh besar; atau
Jml modal menjadi lbh besar.

B055

Pajak yg kurang dibayar yg timbul sbg akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT
tsb beserta sanksi administrasi berupa kenaikan seb 50% dari pajak yg kurang dibayar, hrs
dilunasi oleh WP sbl laporan tersendiri dimaksud disampaikan
Sekalipun jangka waktu pembetulan SPT tsb tlh berakhir, dgn syarat Dirjen Pajak blm
melakukan tindakan pemeriksaan, WP dpt membetulkan SPT yg tlh disampaikan, dlm hal WP
menerima Keputusan Keberatan atau Putusan Banding mengenai skp thn pajak sebelumnya, yg
menyatakan rugi fiskal yg berbeda dari ketetapan pajak yg diajukan keberatan atau Keputusan
Keberatan yg diajukan banding, dlm jangka waktu 3 bulan stl menerima putusan tsb.
Pasal II angka 2 UU No. 28 Thn 2007
Daluwarsa penetapan utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2007 dan sebelumnya,
selain penetapan sesuai Pasal 13 ayat (5) / Pasal 15 ayat (4), berakhir paling lama pd akhir Thn
Pajak 2013.

B056

SANKSI
A.
No.

SANKSI ADMINISTRASI
Pasal

Masalah

Sanksi

Ket.

Denda
1.

7 (1)
UU
KUP

SPT Terlambat disampaikan:


Masa

Tahunan 1, 2

2.

8 (3)
UU
KUP

Pengungkapan sendiri
ketidakbenaran mnr Ps. 38
walau sedang diperiksa
namun blm penyidikan disertai
pelunasan kekurangan
pembayaran jml pajak yg
sebenarnya terutang

3.

14 (4)
UU
KUP

4.

25 (8)
UU
KUP

Pengusaha tlh dikukuhkan


sbg PKP, tetapi tdk
membuat FP atau
membuat FP tetapi tdk
tepat waktu huruf d
Pengusaha tlh dikukuhkan
sbg PKP yg tdk mengisi FP
scr lengkap huruf e
PKP melaporkan FP tdk
sesuai dgn masa
penerbitan FP huruf f
Keberatan WP ditolak atau
dikabulkan sebagian

5.

27 (5d)
UU
KUP

Permohonan banding ditolak


atau dikabulkan sebagian

Rp 100 ribu
(selain
PPN) & Rp
500 ribu
(PPN)
Rp 100 ribu
(OP) & Rp
1 juta
(Badan)
150%

Per SPT

Dari jml pajak yg kurang dibayar


(Pengungkapan ketidakbenaran
perbuatan)

2%

Dari DPP

50%

Dari jml pajak berdasarkan


keputusan keberatan dikurangi
dgn pajak yg tlh dibayar sbl
mengajukan keberatan
Dlm hal WP mengajukan
permohonan banding, sanksi
administrasi tsb tdk dikenakan
Dari jml pajak berdasarkan
Putusan Banding dikurangi dgn
pembayaran pajak yg tlh dibayar
sbl mengajukan keberatan

100%

B061

No.

Pasal

Masalah

1.

8 (2)
UU
KUP

Pembetulan SPT Tahunan

8 (2a)
UU
KUP

Pembetulan SPT Masa

9 (2a)
UU
KUP

Keterlambatan pembayaran
pajak masa

9 (2b)
UU
KUP

Keterlambatan pembayaran
pajak tahunan

13 (2)
UU
KUP

Kekurangan pembayaran
pajak dlm SKPKB dlm hal:

Sanksi

Ket.

Bunga

2.

3.

4.

13 (5)
UU
KUP

2%

2%

2%

apabila berdasarkan hasil


pemeriksaan/keterangan
lain pajak yg terutang tdk
atau kurang dibayar 13
(1) huruf a

apabila kpd WP
diterbitkan NPWP
dan/atau dikukuhkan sbg
PKP scr jabatan mnr
Pasal 2 (4a) 13 (1)
huruf e
SKPKB dpt diterbitkan stl
lewat waktu 5 tahun krn
adanya tindak pidana
perpajakan maupun tindak
pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd
pendapatan negara
berdasarkan put. pengadilan
yg tlh mempunyai kekuatan
hukum tetap

48%

B062

Per bulan, dari jml pajak yg kurang


dibayar, dihitung sejak saat
penyampaian SPT berakhir s.d. tgl
pembayaran, bagian dari bulan
dihitung penuh 1 bulan
Per bulan, dari jml pajak yg kurang
dibayar, dihitung sejak jatuh tempo
pembayaran s.d. tgl pembayaran,
bagian dari bulan dihitung penuh 1
bulan
Per bulan, dari jml pajak terutang,
dihitung dari tgl jatuh tempo
pembayaran s.d. tgl pembayaran,
bagian dari bulan dihitung penuh 1
bulan
Per bulan, dari jml pajak terutang,
dihitung mulai dari berakhirnya
batas waktu penyampaian SPT
Tahunan s.d. tgl pembayaran,
bagian dari bulan dihitung penuh 1
bulan
Per bulan, dari jml kurang dibayar,
dihitung sejak saat terutangnya
pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, bagian Thn Pajak, atau Thn
Pajak s.d. diterbitkannya SKPKB,
max 24 bulan, diterbitkan dlm
jangka waktu 5 thn stl saat
terutangnya pajak atau
berakhirnya Masa Pajak/bagian
Thn Pajak/Thn Pajak

Dari jml pajak yg tdk atau kurang


dibayar

No.

Pasal

5.

14 (3)
UU
KUP

6.

14 (5)
UU
KUP

7.

15 (4)
UU
KUP

8.

19 (1)
UU
KUP

9.

19 (2)
UU
KUP
19 (3)
UU
KUP

10.

Masalah

Sanksi

Bunga
Penerbitan STP dlm hal:

PPh thn berjalan


2%
tdk/kurang bayar 14 (1)
huruf a

Dari hasil penelitian


terdapat kekurangan
pembayaran pajak sbg
akibat salah tulis
dan/atau salah hitung
14 (1) huruf b
WP dikenai sanksi

administrasi berupa
denda dan/atau bunga
14 (1) huruf c
PKP yg gagal berproduksi dan
2%
tlh diberikan pengembalian
Pajak Masukan 14 (1) huruf
g
SKPKBT yg diterbitkan stl
lewat waktu 5 thn krn adanya
tindak pidana perpajakan
maupun tindak pidana lainnya
SKPKB/T, SK Pembetulan, SK
Keberatan, Putusan Banding
atau Putusan PK yg
menyebabkan kurang bayar,
pd saat jatuh tempo pelunasan
tdk atau kurang dibayar
Diperbolehkan mengangsur
atau menunda pembayaran
Kekurangan pajak akibat
penundaan SPT Tahunan

48%

2%

2%

2%

B063

Ket.

Per bulan, dari jml pajak


tdk/kurang dibayar, dihitung sejak
saat terutangnya pajak atau
berakhirnya Masa Pajak/bagian
Thn Pajak/Thn Pajak s.d.
diterbitkannya STP, max 24 bulan

Dari jml pajak yg ditagih kembali,


dihitung dari tanggal penerbitan
SKPKPP s.d. tanggal penerbitan
STP, dan bagian dari bulan
dihitung penuh 1 bulan
Dari jml pajak yg tdk atau kurang
dibayar

Per bulan, atas jml pajak yg tdk


atau kurang dibayar, utk seluruh
masa, yg dihitung dari tgl jatuh
tempo s.d. tgl pelunasan atau tgl
diterbitkannya STP, bagian dari
bulan dihitung penuh 1 bulan
Per bulan, dari jml pajak yg masih
hrs dibayar, bagian dari bulan
dihitung penuh 1 bulan
Per bulan, atas kekurangan
pembayaran pajak, dihitung dari
saat berakhirnya batas waktu
penyampaian SPT Tahunan s.d.
tgl dibayarnya kekurangan
pembayaran tsb, bagian dari bulan
dihitung penuh 1 bulan

No.

Pasal

1.

8 (5)
UU
KUP

Masalah

Sanksi

Kenaikan
Pengungkapan ketidakbenaran
50%
pengisian SPT walau sedang
diperiksa namun sbl terbit SKP

Ket.
Dari pajak yg kurang dibayar, hrs
dilunasi sbl laporan tsb disampaikan
(Pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT)

2.

13 (3)
UU
KUP

3.

13A
UU
KUP

4.

15 (2)
UU
KUP

Kekurangan pembayaran pajak


dlm SKPKB dlm hal apabila:
SPT tdk disampaikan dlm
jangka waktu mnr Pasal 3
(3) & stl ditegur scr tertulis
tdk disampaikan pd
waktunya sebagaimana
ditentukan dlm Surat
Teguran
Berdasarkan hasil
pemeriksaan atau
keterangan lain mengenai
PPN & PPnBM ternyata tdk
seharusnya dikompensasikan selisih lbh pajak
atau tdk seharusnya dikenai
tarif 0%
Kewajiban mnr Ps. 28 atau
29 tdk dipenuhi shg tdk dpt
diketahui besarnya pajak
terutang
- PPh yg tdk atau kurang
dibayar
- tdk atau kurang
dipotong, tdk atau
kurang dipungut, tdk
atau kurang disetor, dan
dipotong/dipungut tetapi
tdk atau kurang disetor
- PPN & PPnBM tdk atau
kurang dibayar
WP yg krn kealpaannya (pertama
kali dilakukan) tdk
menyampaikan SPT atau
menyampaikan SPT, tetapi isinya
tdk benar atau tdk lengkap, atau
melampirkan keterangan yg
isinya tdk benar shg dpt
menimbulkan kerugian pd
pendapatan negara 3
Kekurangan pajak pd SKPKBT

50%
100%

100%

Dari PPh yg tdk atau kurang dibayar


dlm 1 Thn Pajak
Dari PPh yg tdk atau kurang
dipotong/dipungut

200%

Dari PPN/PPnBM yg tdk atau


kurang dibayar
Dari jml pajak yg kurang dibayar yg
ditetapkan melalui penerbitan
SKPKB

100%

Dari jml kekurangan pajak tsb

B064

B.
No.
1.

SANKSI PIDANA
Pasal
39 (1)
UU
KUP4

2.

39 (2)
UU
KUP4

3.

39 (3)
UU
KUP4

Perbuatan Pidana
Pidana Penjara
Setiap orang yg dgn sengaja:
a.

Tdk mendaftarkan diri utk diberikan NPWP


atau tdk melaporkan usahanya utk
dikukuhkan sbg PKP
b.
Menyalahgunakan atau menggunakan
tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP
c.
Tdk menyampaikan SPT
d.
Menyampaikan SPT dan/atau keterangan
yg isinya tdk benar atau tdk lengkap
e.
Menolak utk dilakukan pemeriksaan sesuai
Pasal 29
f.
Memperlihatkan pembukuan, pencatatan,
atau dokumen lain yg palsu atau
dipalsukan seolah-olah benar, atau tdk
menggambarkan keadaan yg sebenarnya
g.
Tdk menyelenggarakan pembukuan atau
pencatatan di Indonesia, tdk
memperlihatkan atau tdk meminjamkan
buku, catatan, atau dokumen lain
h.
Tdk menyimpan buku, catatan, atau
dokumen yg menjadi dasar pembukuan
atau pencatatan dan dokumen lain
termasuk hasil pengolahan data dari
pembukuan yg dikelola scr elektronik atau
diselenggarakan scr program aplikasi online di Indonesia sesuai Pasal 28 ayat (11)
UU KUP
i.
Tdk menyetorkan pajak yg tlh dipotong
atau dipungut
shg dpt menimbulkan kerugian pd pendapatan
negara
Seseorang melakukan lagi tindak pidana di
bidang perpajakan sbl lewat 1 thn, terhitung sejak
selesainya menjalani pidana penjara yg
dijatuhkan
Setiap orang yg melakukan percobaan utk
melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau
menggunakan tanpa hak NPWP atau
Pengukuhan PKP, atau menyampaikan SPT
dan/atau keterangan yg isinya tdk benar atau tdk
lengkap, dlm rangka mengajukan permohonan
restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau
pengkreditan pajak

B065

Sanksi
Pidana penjara paling singkat
6 bulan & paling lama 6 thn
dan denda paling sedikit 2 x &
paling banyak 4 x jml pajak
terutang yg tdk atau kurang
dibayar

Pidana sebagaimana
dimaksud pd ayat (1)
ditambahkan 1 x menjadi 2 x
sanksi pidana
Pidana penjara paling singkat
6 bulan & paling lama 2 thn
dan denda paling sedikit 2 x
jml & paling banyak 4 x jml
restitusi yg dimohonkan
dan/atau kompensasi atau
pengkreditan yg dilakukan

No.

Pasal

4.

39A
UU
KUP4

5.

41 (2)
UU
KUP

6.

41B
UU
KUP5

Perbuatan Pidana
Pidana Penjara
Setiap orang yg dgn sengaja:
a. Menerbitkan dan/atau menggunakan FP,
bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan
pajak, dan/atau bukti setoran pajak yg tdk
berdasarkan transaksi yg sebenarnya
b. Menerbitkan FP tetapi blm dikukuhkan sbg
PKP
Pejabat yg dgn sengaja tdk memenuhi
kewajibannya atau seseorang yg menyebabkan
tdk dipenuhinya kewajiban pejabat sesuai Pasal
34
Setiap orang yg dgn sengaja menghalangi atau
mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan

B066

Sanksi
Pidana penjara paling singkat
2 thn & paling lama 6 thn
serta denda paling sedikit 2 x
& paling banyak 6 kali jml
pajak dlm FP, bukti
pemungutan pajak, bukti
pemotongan pajak, dan/atau
bukti setoran pajak
Pidana penjara paling lama 2
thn dan denda paling banyak
Rp 50 juta
Pidana penjara paling lama 3
thn dan denda paling banyak
Rp 75 juta

No.

Pasal

1.

38
UU
KUP

2.

41 (1)
UU
KUP
41A
UU
KUP5

3.

4.

5.

6.

7.

41C (1)
UU
KUP
41C (2)
UU
KUP
41C (3)
UU
KUP
41C (4)
UU
KUP

Perbuatan Pidana
Pidana Kurungan
Setiap orang yg krn kealpaannya:
a.
Tdk menyampaikan SPT
b.
Menyampaikan SPT, tetapi isinya tdk benar
/ tdk lengkap, atau melampirkan
keterangan yg isinya tdk benar
shg dpt menimbulkan kerugian pd pendapatan
negara & perbuatan tsb mrp perbuatan stl yg
pertama kali sesuai Pasal 13A
Pejabat yg krn kealpaanya tdk memenuhi
kewajiban merahasiakan hal sesuai Pasal 34
Setiap org yg wajib memberikan keterangan atau
bukti yg diminta sesuai Pasal 35 tetapi dgn
sengaja tdk memberi keterangan atau bukti, atau
memberi keterangan atau bukti yg tdk benar
Setiap orang yg dgn sengaja tdk memenuhi
kewajiban sesuai Pasal 35A ayat (1)
Setiap org yg dgn sengaja menyebabkan tdk
terpenuhinya kewajiban pejabat & pihak lain
sesuai Pasal 35A ayat (1)
Setiap org yg dgn sengaja tdk memberikan data
dan informasi yg diminta oleh Dirjen Pajak Sesuai
Pasal 35A ayat (2)
Setiap org yg dgn sengaja menyalahgunakan
data dan informasi perpajakan shg menimbulkan
kerugian kpd negara

Sanksi
Denda paling sedikit 1 x &
paling banyak 2 x jml pajak
terutang yg tdk atau kurang
dibayar, atau dipidana
kurungan paling singkat 3
bulan atau paling lama 1 thn

Pidana kurungan paling lama


1 thn dan denda paling
banyak Rp 25 juta
Pidana kurungan paling lama
1 thn dan denda paling
banyak Rp 25 juta
Pidana kurungan paling lama
1 thn atau denda paling
banyak Rp 1 M
Pidana kurungan paling lama
10 bulan atau denda paling
banyak Rp 800 juta
Pidana kurungan paling lama
10 bulan atau denda paling
banyak Rp 800 juta
Pidana kurungan paling lama
1 thn atau denda paling
banyak Rp 500 juta

Ket:
1
Thd WP OP baru yg terlambat menyampaikan SPT yaitu menyampaikan SPT Tahunan PPh OP Thn
Pajak 2008 dlm jangka waktu tanggal 1 Apr - 31 Des 2009, berdasarkan kuasa Pasal 36 ayat (1) huruf
a UU KUP, sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dlm Pasal 7 UU KUP dpt
dipertimbangkan utk dihapuskan scr jabatan. (S-128/PJ/2009)
2
Thd WP OP yg menyampaikan SPT Tahunan utk Thn Pajak 2013 scr e-Filing melalui website DJP
stl batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh WP OP namun tdk melewati tanggal 30 Apr 2014
dikecualikan dari pengenaan sanksi administrasi berupa denda atas keterlambatan penyampaian
SPT. (KEP-62/PJ/2014)
3
WP yg krn kealpaannya tdk menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT, tetapi isinya tdk benar atau
tdk lengkap, atau melampirkan keterangan yg isinya tdk benar shg dpt menimbulkan kerugian pd
pendapatan negara, tdk dikenai sanksi pidana apabila kealpaan tsb pertama kali dilakukan oleh WP.
(Pasal 43 UU KUP)
4
Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 39 & 39A, berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari
WP, atau pihak lain yg menyuruh melakukan, yg turut serta melakukan, yg menganjurkan, atau yg
membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. (Pasal 43 UU KUP)
5
Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 41A & 41B berlaku juga bagi yg menyuruh melakukan, yg
menganjurkan, atau yg membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. (Pasal 43 UU KUP)
1 bulan: Jml hari dlm bulan kalender yg bersangkutan, misalnya mulai dari tanggal 22 Juni s.d. 21 Juli.
Bagian dari bulan: Jml hari yg tdk mencapai 1 bulan penuh, misalnya 22 Juni s.d. 5 Juli.
(Penjelasan Pasal 8 ayat (2) UU KUP)

B067

C.

CONTOH PENGHITUNGAN SANKSI


Contoh Pasal 9 ayat (2a) UU KUP
Angsuran masa PPh Pasal 25 PT A thn 2008 sejumlah Rp 10 juta per bulan. Angsuran masa
Mei thn 2008 dibayar tanggal 18 Juni 2008 dan dilaporkan tanggal 19 Juni 2008. Apabila pd
tanggal 15 Juli 2008 diterbitkan STP, sanksi bunga dlm STP dihitung 1 bulan sbg berikut:
1 x 2% x Rp10 juta = Rp 200 ribu.
Contoh Pasal 13 ayat (2) UU KUP
WP PT A mempunyai PKP selama Thn Pajak 2006 seb Rp 100 juta dan menyampaikan SPT
tepat waktu.
Pd bulan Apr 2009 berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan SKPKB maka sanksi bunga
dihitung sbg berikut:
1.
PKP Rp 100 juta
2.
Pajak yg terutang (30% x Rp 100 juta)
Rp 30 juta
3.
Kredit pajak
Rp 10 juta (-)
4.
Pajak yg kurang dibayar
Rp 20 juta
5.
Bunga 24 bulan (24 x 2% x Rp 20 juta)
Rp 9,6 juta (+)
6.
Jml pajak yg masih hrs dibayar
Rp 29,6 juta
Dlm hal pengusaha tdk melaporkan kegiatan usahanya utk dikukuhkan sbg PKP, selain hrs
menyetor pajak yg terutang, pengusaha tsb juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga seb
2% per bulan dari pajak yg kurang dibayar yg dihitung sejak berakhirnya Masa Pajak utk paling
lama 24 bulan.
Contoh Pasal 14 ayat (3) UU KUP
1. PPh dlm thn berjalan tdk atau kurang dibayar.
PPh Pasal 25 thn 2008 setiap bulan seb Rp 100 juta jatuh tempo misalnya tiap tanggal
15. PPh Pasal 25 bulan Juni 2008 dibayar tepat waktu seb Rp 40 juta.
Atas kekurangan PPh Pasal 25 tsb diterbitkan STP pd tanggal 18 Sept 2008 dgn
penghitungan:
- Kekurangan bayar PPh Pasal 25 bulan Juni 2008
(Rp 100 juta Rp 40 juta)
- Bunga = 3 x 2% x Rp 60 juta
- Jml yg hrs dibayar
2. Hasil penelitian SPT
SPT Tahunan PPh WP OP thn 2008 yg disampaikan pd tanggal 31 Maret 2009 stl
dilakukan penelitian ternyata terdapat salah hitung yg menyebabkan PPh KB seb Rp
1 juta. Atas kekurangan PPh tsb diterbitkan STP pd tanggal 12 Juni 2009 dgn
penghitungan:
- Kekurangan bayar PPh
= Rp 1 juta
- Bunga = 3 x 2%x Rp 1 juta
= Rp 60 ribu(+)
- Jml yg hrs dibayar
= Rp 1,06 juta
Contoh Pasal 17C ayat (5) UU KUP
1) PPh
- WP tlh memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak seb Rp 80 juta.
- Dari pemeriksaan diperoleh hasil:
a.
PPh yg terutang seb
Rp 100 juta
b.
Kredit pajak:
- PPh Pasal 22
Rp 20 juta
- PPh Pasal 23
Rp 40 juta
- PPh Pasal 25
Rp 90 juta
Berdasarkan hasil pemeriksaan tsb diterbitkan SKPKB dgn penghitungan:
- PPh yg terutang seb
- Kredit Pajak:
- PPh Pasal 22
Rp 20 juta
- PPh Pasal 23
Rp 40 juta
- PPh Pasal 25
Rp 90 juta (+)

B068

Rp 150 juta
Jml Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pajak
Rp 80 juta (-)
- Jml pajak yg dpt dikreditkan
Rp 70 juta (-)
Pajak yg tdk/kurang dibayar
Rp 30 juta
Sanksi administrasi berupa kenaikan seb 100%
Rp 30 juta (+)
Jml yg masih hrs dibayar
Rp 60 juta
PPN
- PKP tlh memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak seb Rp 60juta
- Dari pemeriksaan diperoleh hasil:
a.
PK
Rp 100 juta
b.
Kredit pajak, yaitu PM
Rp 150 juta
Berdasarkan hasil pemeriksaan tsb diterbitkan SKPKB dgn penghitungan:
- PK
Rp 100 juta
- Kredit Pajak:
- PM
Rp 150 juta
- Jml Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak
Rp 60 juta (-)
- Jml pajak yg dpt dikreditkan
Rp 90 juta (-)
Pajak yg kurang dibayar
Rp 10 juta
Sanksi administrasi kenaikan 100%
Rp 10 juta (+)
Jml yg masih hrs dibayar
Rp 20 juta
-

2)

Contoh Pasal 19 ayat (1) UU KUP


a. Jml pajak yg masih hrs dibayar berdasarkan SKPKB seb Rp 10 juta yg diterbitkan
tanggal 7 Okt 2008, dgn batas akhir pelunasan tanggal 6 Nov 2008. Jml pembayaran
s.d. tanggal 6 Nov 2008 Rp 6 juta. Pd tanggal 1 Des 2008 diterbitkan STP dgn
perhitungan:
Pajak yg masih hrs dibayar
= Rp 10 juta
Dibayar s.d. jatuh tempo pelunasan
= Rp 6 juta (-)
Kurang dibayar
= Rp 4 juta
Bunga 1 bulan
(1 x 2% x Rp 4 juta)
= Rp 80 ribu
b. Dlm hal thd SKPKB pd huruf a, WP membayar Rp 10 juta pd tanggal 3 Des 2008 dan
pd tanggal 5 Des 2008 diterbitkan STP, sanksi administrasi berupa bunga dihitung sbg
berikut:
Pajak yg masih hrs dibayar
= Rp 10 juta
Dibayar stl jatuh tempo pelunasan
= Rp 10juta
Kurang dibayar
= Rp
0
Bunga 1 bulan
= Rp 200 ribu
(1 x 2% x Rp 10 juta)
Contoh Pasal 19 ayat (2) UU KUP
a. WP menerima SKPKB seb Rp 1.120.000 yg diterbitkan pd tanggal 2 Jan 2009 dgn
batas akhir pelunasan tanggal 1 Feb 2009. WP tsb diperbolehkan utk mengangsur
pembayaran pajak dlm jangka waktu 5 bulan dgn jml yg tetap seb Rp 224.000. Sanksi
administrasi berupa bunga utk setiap angsuran dihitung sbg berikut:
angsuran ke-1
: 2% x Rp 1.120.000
= Rp 22.400
angsuran ke-2
: 2% x Rp 896.000
= Rp 17.920
angsuran ke-3
: 2% x Rp 672.000
= Rp 13.440
angsuran ke-4
: 2% x Rp 448.000
= Rp 8.960
angsuran ke-5
: 2% x Rp 224.000
= Rp 4.480
b. WP dlm huruf a diperbolehkan utk menunda pembayaran pajak s.d. tanggal 30 Juni
2009.
Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran SKPKB tsb seb 5 x
2% x Rp 1.120.000 = Rp 112.000.

B069

Contoh Pasal 25 ayat (9) UU KUP


Utk thn pajak 2008, SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1M diterbitkan thd PT A.
Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta. WP tlh melunasi
sebagian SKPKB tsb seb Rp 200 juta dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi
lainnya. Dirjen Pajak mengabulkan sebagian keberatan WP dgn jml pajak yg masih hrs dibayar
menjadi seb Rp 750 juta. Dlm hal ini, WP tdk dikenai sanksi administrasi dlm Pasal 19 UU KUP,
tetapi dikenai sanksi sesuai dgn Pasal 25 ayat (9) UU KUP, yaitu seb 50% x (Rp 750 juta - Rp
200 juta) = Rp 275 juta.
Contoh Pasal 27 ayat (5d) UU KUP
Utk thn pajak 2008, SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M diterbitkan thd PT
A. Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta. WP tlh
melunasi sebagian SKPKB tsb seb Rp 200 juta dan kemudian mengajukan keberatan atas
koreksi lainnya. Dirjen Pajak mengabulkan sebagian keberatan WP dgn jml pajak yg masih hrs
dibayar menjadi seb Rp 750 juta.
Selanjutnya WP mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan
besarnya pajak yg masih hrs dibayar menjadi seb Rp 450 juta. Dlm hal ini baik sanksi
administrasi berupa bunga seb 2% per bulan dlm Pasal 19 UU KUP maupun sanksi
administrasi berupa denda dlm Pasal 25 ayat (9) UU KUP tdk dikenakan. Namun, WP dikenai
sanksi administrasi berupa denda sesuai dgn Pasal 27 ayat (5d), yaitu seb 100% x (Rp 450
juta Rp 200 juta) = Rp 250 juta.

B0610

D.

ATURAN SANKSI DAN PENJELASAN TERKAIT SUNSET POLICY


1.

Pasal 37A UU KUP


(1) WP yg menyampaikan pembetulan SPT Tahunan PPh sbl Thn Pajak 2007, yg
mengakibatkan pajak yg masih hrs dibayar menjadi lbh besar dan dilakukan paling lambat
tanggal 28 Feb 2009, dpt diberikan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi berupa
bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran pajak yg ketentuannya
diatur dgn atau berdasarkan Peraturan MenKeu.
(2) WP OP yg scr sukarela mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP paling lama 1 thn stl
berlakunya UU KUP diberikan penghapusan sanksi adminstrasi atas pajak yg tdk atau
kurang dibayar utk Thn Pajak sbl diperoleh NPWP dan tdk dilakukan pemeriksaan pajak
kecuali terdapat data/keterangan yg menyatakan bahwa SPT yg disampaikan WP tdk
benar atau menyatakan LB.

2.

PMK-66/PMK.03/2008 jo PMK-12/PMK.03/2009
Pasal 1
(1) WP OP yg scr sukarela mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP dlm thn 2008 dan
menyampaikan SPT Tahunan WP OP utk Thn Pajak 2007 dan sebelumnya, diberikan
penghapusan sanksi administrasi berupa bunga atas pajak yg tdk atau kurang dibayar.
(2) WP yg dlm thn 2008 menyampaikan pembetulan:
a. SPT Tahunan PPh WP OP sbl Thn Pajak 2007; atau
b. SPT Tahunan PPh WP Badan sbl Thn Pajak 2007,
yg mengakibatkan pajak yg masih hrs dibayar menjadi lbh besar, diberikan penghapusan
sanksi administrasi berupa bunga atas keterlambatan pelunasan kekurangan pembayaran
pajak.
Pasal 3
WP yg diberikan penghapusan sanksi administrasi sesuai Pasal 1 ayat (1) adalah WP OP yg
memenuhi persyaratan:
a. scr sukarela mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP dlm thn 2008;
b. tdk sedang dilakukan pemeriksaan Bukti Permulaan, penyidikan, penuntutan, atau
pemeriksaan di pengadilan atas tindak pidana di bidang perpajakan;
c. menyampaikan SPT Tahunan Thn Pajak 2007 dan sebelumnya terhitung sejak memenuhi
persyaratan subjektif dan objektif paling lambat tanggal 31 Mar 2009; dan
d. melunasi slr pajak yg kurang dibayar yg timbul sbg akibat dari penyampaian SPT Tahunan
PPh sebagaimana dimaksud pd huruf c, sbl SPT Tahunan PPh disampaikan.
Pasal 4
Data dan informasi yg tercantum dlm SPT Tahunan PPh WP OP sebagaimana dimaksud dlm
Pasal 1 ayat (1) tdk dpt digunakan sbg dasar utk menerbitkan skp atas pajak lainnya.
Pasal 5
(1) Thd SPT Tahunan PPh WP OP yg tlh disampaikan sesuai Pasal 1 ayat (1), tdk dilakukan
pemeriksaan, kecuali:
a. terdapat data/keterangan yg menyatakan bahwa SPT Tahunan PPh tsb tdk benar; atau
b. SPT Tahunan PPh menyatakan Lb atau rugi.
(2) Dlm hal thd SPT Tahunan PPh yg tlh disampaikan dilakukan pemeriksaan krn memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud pd ayat (1) huruf a / b, Dirjen Pajak dpt menerbitkan skp
dan/atau STP atas slr kewajiban perpajakan.

3.

PENG-10/PJ.9/2008 tanggal 23 Des 2008


Bagi WP yg tlh diterbitkan NPWP dgn thn terdaftar 2005 dan tertulis pd NPWP-nya tsb 2 digit
pertama 17, 18, 19, 27, 28, 29, 37, atau 38, maka WP dgn kriteria tsb diperlakukan sbg WP
baru (terdaftar di thn 2008) dan diperbolehkan menyampaikan SPT Tahunan PPh utk Thn Pajak
2007 serta Thn-Thn Pajak sebelumnya paling lambat 31 Mar 2009.

4.

S-11/PJ/2009
WP OP yg memperoleh NPWP dlm bulan Jan & Feb 2009 diberlakukan sama dgn WP OP yg
mendaftarkan diri scr sukarela dlm thn 2008. Maka WP OP tsb dpt memanfaatkan fasilitas
Sunset Policy dgn menyampaikan SPT Tahunan PPh Thn Pajak 2007 dan Thn-Thn Pajak
sebelumnya paling lambat tanggal 31 Mar 2009.

B0611

KODE TERKAIT PERPAJAKAN


A. TABEL KODE AKUN PAJAK & KODE JENIS SETORAN
(PER-38/PJ/2009 stdtd PER-24/PJ/2013)
1.

Kode Akun Pajak 411121 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 21 (Kode Lama: 0111)
KJS
100
199
200
300
310
311
320
321
390
401
402
500
501
510
511

2.

Kode Akun Pajak 411122 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 22 (Kode Lama: 0112)
KJS
100
199
300
310
311
320
321
390
401
403
500
501
510
511
900

3.

Jenis Setoran
Masa PPh Ps. 21 (termasuk SPT pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Ps. 21
Tahunan PPh Ps. 21
STP PPh Ps. 21
SKPKB PPh Ps. 21
SKPKB PPh Final Ps. 21 Pembayaran Sekaligus Atas JHT, Uang Tebusan Pensiun, dan
Uang Pesangon
SKPKBT PPh Ps. 21
SKPKBT PPh Final Ps. 21 Pembayaran Sekaligus Atas JHT, Uang Tebusan Pensiun, dan
Uang Pesangon
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPh Final Ps. 21 Pembayaran Sekaligus Atas JHT, Uang Tebusan Pensiun, dan Uang
Pesangon
PPh Final Ps. 21 atas honorarium atau imbalan lain yg diterima Pejabat Negara, PNS,
anggota TNI/POLRI dan para pensiunannya
PPh Ps. 21 atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPh Ps. 21 atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh Ps. 21
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Jenis Setoran
Masa PPh Ps. 22 (termasuk SPT pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Ps. 22
STP PPh Ps. 22
SKPKB PPh Ps. 22
SKPKB PPh Final Ps. 22
SKPKBT PPh Ps. 22
SKPKBT PPh Final Ps. 22
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding atau Putusan PK
PPh Final Ps. 22 atas Penebusan Migas
PPh Final Ps. 22 atas Penjualan Barang yg Tergolong Sangat Mewah
PPh Ps. 22 atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPh Ps. 22 atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT Masa PPh Ps. 22
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
Pemungut PPh Ps. 22

Kode Akun Pajak 411123 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 22 Impor (Kode Lama: 0113)
KJS
100
199
300
310
320
390
500

Jenis Setoran
Masa PPh Ps. 22 Impor (termasuk SPT pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Ps. 22 Impor
STP PPh Ps. 22 Impor
SKPKB PPh Ps. 22 Impor
SKPKBT PPh Ps. 22 Impor
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPh Ps. 22 Impor atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)

B071

501
510
511

4.

PPh Ps. 22 Impor atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT Masa PPh Ps. 22 Impor
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana (di
bidang perpajakan

Kode Akun Pajak 411124 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 23 (Kode Lama: 0114)
KJS
Jenis Setoran
100 Masa PPh Ps. 23 (selain PPh Ps. 23 atas dividen, bunga, royalti, dan jasa) (termasuk SPT
pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
101 PPh Ps. 23 atas Dividen
102 PPh Ps. 23 atas Bunga (termasuk premium, diskonto dan imbalan krn jaminan
pengembalian utang)
103 PPh Ps. 23 atas Royalti
104 PPh Ps. 23 atas Jasa
199 Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Ps. 23
300 STP PPh Ps. 23
301 STP PPh Ps. 23 atas Dividen, Bunga, Royalti, dan Jasa
310 SKPKB PPh Ps. 23
311 SKPKB PPh Ps. 23 atas Dividen, Bunga, Royalti, dan Jasa
312 SKPKB PPh Final Ps. 23
320 SKPKBT PPh Ps. 23
321 SKPKBT PPh Ps. 23 atas Dividen, Bunga, Royalti, dan Jasa
322 SKPKBT PPh Final Ps. 23
390 Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
401 PPh Final Ps. 23 atas Bunga Simpanan Anggota Koperasi
500 PPh Ps. 23 atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
501 PPh Ps. 23 atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
510 Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT Masa PPh Ps. 23
511 Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

5.

Kode Akun Pajak 411125 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 25/29 OP (Kode Lama: 0115)
KJS
100
101
199
200
300
310
320
390
500
501
510
511

6.

Jenis Setoran
Masa PPh Ps. 25 OP
Masa PPh Ps. 25 OP Pengusaha Tertentu
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh OP
Tahunan PPh OP (termasuk SPT pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
STP PPh OP
SKPKB PPh OP
SKPKBT PPh OP
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPh OP atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPh OP atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh OP
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Kode Akun Pajak 411126 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 25/29 Badan (Kode Lama: 0116)
KJS
100
199
200
300
310
320
390

Jenis Setoran
Masa PPh Ps. 25 Badan
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Badan
Tahunan PPh Badan (termasuk SPT pembetulan sbl dilakukan pemeriksaan)
STP PPh Badan
SKPKB PPh Badan
SKPKBT PPh Badan
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK

B072

500
501
510
511

7.

PPh Badan atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPh Badan atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh Badan
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Kode Akun Pajak 411127 Utk Jenis Pajak PPh Ps. 26 (Kode Lama: 0117)
KJS
Jenis Setoran
100 Masa PPh Ps. 26 (selain PPh Ps. 26 atas dividen, bunga, royalti, jasa dan laba setelah pajak
BUT)
101 PPh Ps. 26 atas Dividen
102 PPh Ps. 26 atas Bunga (termasuk premium, diskonto, premi swap dan imbalan sehubungan
dgn jaminan pengembalian utang)
103 PPh Ps. 26 atas Royalti
104 PPh Ps. 26 atas Jasa
105 PPh Ps. 26 atas Laba setelah Pajak BUT
199 Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Ps. 26
300 STP PPh Ps. 26
301 STP PPh Ps. 26 atas Dividen, Bunga, Royalti, Jasa, dan Laba Setelah Pajak BUT
310 SKPKB PPh Ps. 26
311 SKPKB PPh Ps. 26 atas Dividen, Bunga, Royalti, Jasa, dan Laba Setelah Pajak BUT
320 SKPKBT PPh Ps. 26
321 SKPKBT PPh Ps. 26 atas Dividen, Bunga, Royalti, Jasa, dan Laba Setelah Pajak BUT
390 Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
500 PPh Ps. 26 atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
501 PPh Ps. 26 atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
510 Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh Ps. 26
511 Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

8.

Kode Akun Pajak 411128 Utk Jenis Pajak PPh Final (Kode Lama: 0118)
KJS
199
300
310
311
312
320
321
322
390
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
413
414
415
416
417

Jenis Setoran
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPh Final
STP PPh Final
SKPKB PPh Final Ps. 4 ayat (2)
SKPKB PPh Final Ps. 15
SKPKB PPh Final Ps. 19
SKPKBT PPh Final Ps. 4 ayat (2)
SKPKBT PPh Final Ps. 15
SKPKBT PPh Final Ps. 19
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Diskonto/Bunga Obligasi dan Surat Utang Negara
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Bunga Deposito / Tabungan, Jasa Giro dan Diskonto SBI
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Hadiah Undian
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Transaksi Saham, Obligasi dan Sekuritas Lainnya di Bursa
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Penjualan Saham Pendiri
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Penjualan Saham Milik Perusahaan Modal Ventura
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Jasa Konstruksi
PPh Final Ps. 15 atas Jasa Pelayaran DN
PPh Final Ps. 15 atas Jasa Pelayaran dan/atau Penerbangan LN
PPh Final Ps. 15 atas Penghasilan Perwakilan Dagang LN
PPh Final Ps. 15 atas Pola Bagi Hasil
PPh Final Ps. 15 atas Kerjasama Bentuk BOT
PPh Final Ps. 19 atas Revaluasi Aktiva Tetap
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Bunga Simpanan Anggota Koperasi yg Dibayarkan kpd OP

B073

418
419
420
421
499
500
501
510
511

9.

PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Penghasilan dari Transaksi Derivatif yg Diperdagangkan di
Bursa
PPh Final Ps. 17 ayat (2c) atas Penghasilan berupa Dividen (yg Diterima atau Diperoleh WP
OP DN)
PPh Final Ps. 4 ayat (2) atas Penghasilan dari Usaha yg Diterima atau Diperoleh WP yg
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu2
PPh Final atas Uplift dan Pengalihan Participating Interest di Bidang Usaha Hulu Migas
Bumi2
PPh Final Lainnya
PPh Final atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPh Final atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh Final
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Kode Akun Pajak 411129 Utk Jenis Pajak PPh Non Migas Lainnya (Kode Lama: 0119)
KJS
Jenis Setoran
100 PPh Non Migas Lainnya (selain PPh Ps. 15 atas jasa penerbangan DN) 1
101 PPh Ps. 15 atas Jasa Penerbangan DN yg memperoleh penghasilan berdasarkan
perjanjian charter (bersifat non-final) 1
300 STP PPh Non Migas Lainnya (selain PPh Ps. 15 atas jasa penerbangan DN)
301 STP PPh Ps. 15 atas Jasa Penerbangan DN1
310 SKPKB PPh Non Migas Lainnya (selain PPh Ps. 15 atas jasa penerbangan DN) 1
311 SKPKB PPh Ps. 15 atas Jasa Penerbangan DN yg memperoleh penghasilan berdasarkan
perjanjian charter (bersifat non-final)1
320 SKPKBT PPh Non Migas Lainnya (selain PPh Ps. 15 atas jasa penerbangan DN) 1
321 SKPKBT PPh Ps. 15 atas Jasa Penerbangan DN yg memperoleh penghasilan berdasarkan
perjanjian charter (bersifat non-final)1
390 Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
500 PPh Non Migas Lainnya atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat
(5) UU KUP)
501 PPh Non Migas Lainnya atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU
KUP)
510 Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPh Non Migas Lainnya
511 Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

10.

Kode Akun Pajak 411131 Utk Jenis Pajak Fiskal LN (Kode Lama: 0118)
KJS
100 Fiskal LN
300 STP Fiskal LN

11.

Kode Akun Pajak 411111 Utk Jenis Pajak PPh Minyak Bumi (Kode Lama: 0121)
KJS
100
300
310
320
390

12.

Jenis Setoran

Jenis Setoran
PPh Minyak Bumi
STP PPh Minyak Bumi
SKPKB PPh Minyak Bumi
SKPKBT PPh Minyak Bumi
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK

Kode Akun Pajak 411112 Utk Jenis Pajak PPh Gas Alam (Kode Lama: 0122)
KJS
100
300
310
320
390

Jenis Setoran
PPh Gas Alam
STP PPh Gas Alam
SKPKB PPh Gas Alam
SKPKBT PPh Gas Alam
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK

B074

13.

Kode Akun Pajak 411119 Utk Jenis Pajak PPh Migas Lainnya (Kode Lama: 0129)
KJS
100
300
310
320
390

14.

Kode Akun Pajak 411211 Utk Jenis Pajak PPN DN (Kode Lama: 0131)
KJS
100
101
102
103
104
105
199
300
310
311
312
313
314
320
321
322
323
324
390
500
501
510
511
900

15.

Jenis Setoran
Setoran Masa PPN DN
Setoran PPN BKP tdk berwujud dari luar Daerah Pabean
Setoran PPN JKP dari luar Daerah Pabean
Setoran Kegiatan Mem-bangun Sendiri
Setoran Penyerahan Aktiva yg mnr tujuan semula tdk utk diperjualbelikan
Setoran Atas Pengalihan Aktiva Dlm Rangka Restrukturisasi Perusahaan
Penebusan Stiker Lunas PPN atas Penyerahan Produk Rekaman Suara atau Gambar2
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPN DN
STP PPN DN
SKPKB PPN DN
SKPKB PPN Pemanfaatan BKP tdk berwujud dari luar Daerah Pabean
SKPKB PPN Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean
SKPKB PPN Kegiatan Membangun Sendiri
SKPKB Pemungut PPN DN
SKPKBT PPN DN
SKPKBT PPN Pemanfaatan BKP tdk berwujud dari luar Daerah Pabean
SKPKBT PPN Peman-faatan JKP dari luar Daerah Pabean
SKPKBT PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri
SKPKBT Pemungut PPN DN
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPN DN atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPN DN atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT Masa PPN DN
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
Pemungut PPN DN

Kode Akun Pajak 411212 utk jenis pajak PPN Impor (Kode Lama: 0132)
KJS
100
199
300
310
320
390
500
501
510
511
900

16.

Jenis Setoran
PPh Migas Lainnya
STP PPh Migas Lainnya
SKPKB PPh Migas Lainnya
SKPKBT PPh Migas Lainnya
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK

Jenis Setoran
Setoran Masa PPN Impor
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPN Impor
STP PPN Impor
SKPKB PPN Impor
SKPKBT PPN Impor
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPN Impor atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)
PPN Impor atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPN
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
Pemungut PPN Impor

Kode Akun Pajak 411219 Utk Jenis Pajak PPN Lainnya (Kode Lama: 0139)
KJS
100

Jenis Setoran
Setoran Masa PPN Lainnya

B075

300
310
320
390
500
501
510
511

17.

STP PPN Lainnya


SKPKB PPN Lainnya
SKPKBT PPN Lainnya
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPN Lainnya atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)
PPN Lainnya atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT PPN
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Kode Akun Pajak 411221 Utk Jenis Pajak PPnBM DN (Kode Lama: 0133)
KJS
100
199
300
310
311
320
321
390
500
501
510

Jenis Setoran
Setoran Masa PPnBM DN
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPnBM DN
STP PPnBM DN
SKPKB Masa PPnBM DN
SKPKB Pemungut PPnBM DN
SKPKBT Masa PPnBM DN
SKPKBT Pemungut PPnBM DN
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPnBM DN atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU KUP)
PPnBM DN atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pengisian SPT Masa PPN DN
511 Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
900 Pemungut PPnBM DN

18.

Kode Akun Pajak 411222 Utk Jenis Pajak PPnBM Impor (Kode Lama: 0134)
KJS
100
199
300
310
320
390
500
501
510
511
900

19.

Jenis Setoran
Setoran Masa PPnBM Impor
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp PPnBM Impor
STP PPnBM Impor
SKPKB PPnBM Impor
SKPKBT PPnBM Impor
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPnBM Impor atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)
PPnBM Impor atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pembayaran PPnBM pd saat impor BKP
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
Pemungut PPnBM Impor

Kode Akun Pajak 411229 Utk Jenis Pajak PPnBM Lainnya (Kode Lama: 0139)
KJS
100
300
310
320
390
500
501
510

Jenis Setoran
Setoran Masa PPnBM Lainnya
STP PPnBM Lainnya
SKPKB PPnBM Lainnya
SKPKBT PPnBM Lainnya
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
PPnBM Lainya atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)
PPnBM Lainnya atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pembayaran PPnBM Lainnya

B076

511

20.

Kode Akun Pajak 411611 Utk Bea Meterai (Kode Lama: 0171)
KJS
100
199
2XX

300
310
320
390
500
501
510
511
512

21.

Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

Jenis Setoran
Bea Meterai
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp Bea Meterai
Pembayaran deposit atas penggunaan Mesin Teraan Meterai Digital utk membubuhkan
tanda Bea Meterai Lunas1
Digit kedua dan ketiga (XX) adalah:
1)
angka "01", dlm hal WP hanya memiliki 1 Unit Mesin Teraan Meterai Digital,
atau
2)
sesuai dgn nomor urut dilakukannya pendaftaran Mesin Teraan Meterai
Digital dlm hal WP memiliki > 1 unit Mesin Teraan Meterai Digital.
STP Bea Meterai
SKPKB Bea Meterai
SKPKBT Bea Meterai
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
Bea Meterai atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP)
Bea Meterai atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP)
Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pembayaran Bea Meterai
Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan
Denda atas Pemeteraian Kemudian (Ps. 8 dan Ps. 9 UU Bea Meterai) 1

Kode Akun Pajak 411612 utk Penjualan Benda Meterai (Kode Lama: 0175)
KJS
100
199
300
310
320
390
500

Jenis Setoran
Penjualan Benda Meterai
Pembayaran Pendahuluan (sbl diterbitkan) skp Benda Meterai
STP Benda Meterai
SKPKB Benda Meterai
SKPKBT Benda Meterai
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
Benda Meterai atas pengungkapan ketidakbenaran (Ps. 8 ayat (3) atau Ps. 8 ayat (5) UU
KUP) 1
501 Benda Meterai atas penghentian penyidikan tindak pidana (Ps. 44B ayat (2) UU KUP) 1
510 Sanksi administrasi berupa denda atau kenaikan atas pengungkapan ketidakbenaran
pembayaran Benda Meterai1
511 Sanksi denda administrasi berupa denda atas penghentian penyidikan tindak pidana di
bidang perpajakan

22.

Kode Akun Pajak 411613 utk Pajak Penjualan Batubara (Kode Lama: -)
KJS
100
300
310
320
390

23.

Jenis Setoran
Pajak Penjualan Batubara
STP Pajak Penjualan Batubara
SKPKB Pajak Penjualan Batubara
SKPKBT Pajak Penjualan Batubara
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK

Kode Akun Pajak 411619 Utk Pajak Tdk Langsung Lainnya (Kode Lama: 0172)
KJS
100
300
310
320
390
900

Jenis Setoran
Setoran Masa Pajak Tdk Langsung Lainnya
STP Pajak Tdk Langsung Lainnya
SKPKB Pajak Tdk Langsung Lainnya
SKPKBT Pajak Tdk Langsung Lainnya
Pembayaran atas SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK
Pemungut Pajak Tdk Langsung Lainnya

B077

24.

Kode Akun Pajak 411621 Utk Bunga/Denda Penagihan PPh (Kode Lama: 0173)
KJS
Jenis Setoran
300 STP atas Bunga Penagihan PPh
301 STP atas Denda Penagihan PPh (Ps. 25 ayat (9) dan Ps. 27 ayat (5d) UU KUP)

25.

Kode Akun Pajak 411622 Utk Bunga/Denda Penagihan PPN (Kode Lama: 0174)
KJS
Jenis Setoran
300 STP atas Bunga Penagihan PPN
301 STP atas Denda Penagihan PPN (Ps. 25 ayat (9) dan Ps. 27 ayat (5d) UU KUP)

26.

Kode Akun Pajak 411623 Utk Bunga/Denda Penagihan PPnBM (Kode Lama: 0174)
KJS
JENIS SETORAN
300 STP atas Bunga Penagihan PPnBM
301 STP atas Denda Penagihan PPnBM (Ps. 25 ayat (9) dan Ps. 27 ayat (5d) UU KUP)

27.

Kode Akun Pajak 411624 Utk Bunga/Denda Penagihan PTLL (Kode Lama: 0174)
KJS
Jenis Setoran
300 STP atas Bunga Penagihan PTLL
301 STP atas Denda Penagihan PTLL (Ps. 25 ayat (9) dan Ps. 27 ayat (5d) UU KUP)

28.

Kode Akun Pajak 411313 Utk PBB Sektor Perkebunan3


KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

29.

Kode Akun Pajak 411314 Utk PBB Sektor Perhutanan3


KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

30.

Jenis Setoran

Kode Akun Pajak 411317 Utk PBB Sektor Pertambangan utk Pertambangan Panas
Bumi3
KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

33.

Jenis Setoran

Kode Akun Pajak 411316 Utk PBB Sektor Pertambangan utk Pertambangan Migas3
KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

32.

Jenis Setoran

Kode Akun Pajak 411315 Utk PBB Sektor Pertambangan utk Pertambangan Mineral
dan Batubara3
KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

31.

Jenis Setoran

Jenis Setoran

Kode Akun Pajak 411319 Utk PBB Sektor Lainnya3


KJS
100 SPPT
300 STP PBB
310 SKP PBB

Jenis Setoran

B078

Ket:
1
Penambahan/perubahan dari PER-23/PJ/2010 (mulai berlaku tgl 22 April 2010)
2
Penambahan/perubahan dari PER-24/PJ/2013 (mulai berlaku tgl 02 Juli 2013)
2
Peraturan Kode Akun Pajak yg lama: KEP-169/PJ./2001 stdtd. KEP-384/PJ./2003
3
PER-38/PJ/2013, penyetoran menggunakan SSPBB (mulai berlaku tgl 01 Jan 2014)
NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara): Nomor yg tertera pd BPN (Bukti Penerimaan Negara)
yg diterbitkan melalui MPN (Modul Penerimaan Negara) - dikeluarkan oleh KPPN sdh rekonsiliasi,
terdiri dari 16 digit.
NTPP (Nomor Transaksi Pembayaran Pajak): Nomor bukti/tanda pembayaran/penyetoran pajak yg
diterakan pd SSP yg digunakan dlm sistem pembayaran pajak scr on-line, yg dihasilkan oleh suatu
mesin penomoran dgn formula rahasia yg dimiliki DJP.
NTB (Nomor Transaksi Bank): Nomor bukti transaksi penerimaan negara yg diterbitkan oleh Bank.
NTP (Nomor Transaksi Pos): Nomor bukti transaksi penerimaan negara yg diterbitkan oleh Pos.
NPP (Nomor Penerimaan Potongan): Nomor bukti transaksi penerimaan negara yg berasal dari
potongan SPM (Surat Perintah Membayar) yg diterbitkan.
BPN: Dokumen yg diterbitkan oleh Bank Persepsi atas transaksi penerimaaan Negara dgn teraan
NTPN & NTB)

B079

Bentuk SSP: (PER-38/PJ/2009)

B0710

Petunjuk Pengisian Formulir SSP:


NPWP

Diisi dgn NPWP yg dimiliki WP

NAMA NPWP

Diisi dgn Nama WP

ALAMAT NPWP

Diisi sesuai dgn alamat yg tercantum dlm SKT

Catatan:
Bagi WP yg blm memiliki NPWP
1. NPWP diisi : a. Utk WP berbentuk Badan Usaha diisi dgn 01.000.000.0-XXX.000
b. Utk WP OP diisi dgn 04.000.000.00-XXX.000
2. XXX diisi dgn Nomor Kode KPP Domisili pembayar pajak
Nama dan Alamat diisi dgn lengkap sesuai dgn KTP atau identitas lain yg sah
NOP

Diisi sesuai dgn NOP berdasarkan SPPT PBB

Alamat Objek
Pajak

Diisi sesuai dgn alamat tempat Objek Pajak berada berdasarkan SPPT

Catatan :
Diisi hanya apabila terdapat transaksi yg terkait dgn tanah dan/atau bangunan yaitu transaksi PHTB
dan/atau bangunan dan KMS
Kode Akun
Pajak

Diisi dgn angka Akun Pajak utk setiap akun pajak yg akan dibayar atau disetor

Kode Jenis
Setoran

Diisi dgn angka dlm kolom "Kode Jenis Setoran" utk setiap jenis setoran pajak yg
akan dibayar atau disetor

Catatan :
Kedua kode tsb hrs diisi dgn benar dan lengkap agar kewajiban perpajakan yg tlh dibayar dpt
diadministrasikan dgn tepat

Uraian
Pembayaran

Diisi sesuai dgn uraian dlm kolom "Jenis Setoran" yg berkenaan dgn Kode Akun
Pajak dan Kode Jenis Setoran. Khusus PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas transaksi
PHTB, dilengkapi dgn nama pembeli. Khusus PPh Final Pasal 4 ayat (2) atas
transaksi Persewaan Tanah dan Bangunan yg disetor oleh yg menyewakan,
dilengkapi dgn nama penyewa.

Masa Pajak

Diisi dgn memberi tanda silang pd salah satu kolom Masa Pajak utk masa pajak yg
dibayar atau disetor. Pembayaran atau penyetoran utk lebih dari 1 masa pajak
dilakukan dgn menggunakan 1 SSP utk setiap masa pajak. Utk WP dgn kriteria
tertentu, dpt menyetorkan PPh Pasal 25 utk bbrp Masa Pajak dlm 1 SSP.

Tahun Pajak

Diisi thn terutangnya pajak

Nomor
Ketetapan

Diisi nomor ketetapan yg tercantum pd skp (SKPKB,SKPKBT) atau STP hanya


apabila SSP digunakan utk membayar atau menyetor pajak yg kurang
dibayar/disetor berdasarkan skp, STP atau putusan lain

Jumlah
Pembayaran

Diisi dgn angka jml pajak yg dibayar atau disetor dlm Rp penuh. Pembayaran pajak
dgn menggunakan mata uang US$ (bagi WP yg diwajibkan melakukan pembayaran
pajak dlm mata uang US$), diisi scr lengkap sampai dgn sen.

Terbilang

Diisi jml pajak yg dibayar atau disetor dgn huruf latin dan menggunakan bahasa
Indonesia

Diterima oleh
Kantor
Penerima

Diisi tanggal penerimaan pembayaran atau setoran oleh Kantor Penerima


Pembayaran, tanda tangan, dan nama jelas petugas penerima pembayaran atau
setoran, serta cap/stempel Kantor Penerima Pembayaran

B0711

Pembayaran
Wajib
Pajak/Penyetor

Diisi tempat dan tanggal pembayaran atau penyetoran, tanda tangan, dan nama
jelas WP/Penyetor serta stempel usaha

Ruang Validasi
Kantor
Penerima
Pembayaran

Diisi NTPN dan NTB atau NTPN dan NTP oleh Kantor Penerima Pembayaran

B0712

Bentuk Form SSBP: (PER-02/PB/2008)

B0713

Petunjuk Pengisian SSBP:


Nomor
Uraian Isian
Catatan : - Diisi dgn huruf kapital atau diketik
- 1 formulir SSBP hanya berlaku utk setoran 1 Mata Anggaran Penerimaan
1
Diisi dgn kode KPPN 3 digit dan uraian KPPN Penerima Setoran
2
Diisi dgn nomor SSBP dgn metode penomoran Nomor/Kode Satker/Bulan/Thn
(9999/999999/99/9999)
3
DiisidgnTanggalSSBPdibuat
4
Diisi kode Rekening Kas Negara (KPPN bersangkutan ..... diisi petugas Bank)
5
Diisi NPWP Wajib Setor atau Bendahara Satker
6
Diisi dgn Nama/Jabatan Wajib Setor/Wajib Bayar
7
Diisi dgn Alamat Jelas Wajib Setor/Wajib Bayar
8
Diisi Kode diikuti dgn uraian Kementrian/Lembaga sesuai dgn yg tercantum pd pagu
anggaran
9
Diisi dgn Kode Unit Organisasi Eselon I dan Uraian
10
Diisi dgn Kode Satker 6 digit dan uraian Satker
11
Diisi dgn Kode Fungsi 2 digit, Kode Subfungsi 2 digit, dan Kode Program 4 digit
12
Diisi 4 digit kode kegiatan apabila penyetoran utk Satker Pengguna PNBP
Diisi 4 digit kode Subkegiatan apabila penyetoran untuk Satker Pengguna PNBP
13
2 digit pertama: Kode Lokasi Provinsi 2 digit
2 digit terakhir: diisi Kode Kabupaten/Kota 2 digit
14
Diisi dgn Kode Mata Anggaran Penerimaan 6 digit disertai dgn Uraian Penerimaan sesuai
dgn format
15
Diisi dgn Jml Rp Setoran Penerimaan
16
Diisi dgn Jml Rp yg dibayarkan dgn huruf
17
Diisi dgn Nomor SPN dan SP3N kalau ada Surat Penetapannya
18
Diisi dgn tanggal SPN dan SP3N
19
Diisi Kode 3 digit dan Nama KPPN Penerbit SPN (Surat Penagihan) atau Penerima SP3N
(Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara)
20
Diisi keperluan pembayaran
21 & 22
Diisi sesuai dgn tempat dan tanggal dibuatnya SSBP
23 & 24
Diisi sesuai nama Wajib Setor, NIP, dan stempel Satker
25
Diisi dgn tanggal diterimanya setoran tsb oleh Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro
26 & 27
Diisi dgn Nama dan Tanda Tangan Penerima di Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro
serta Cap

B0714

B. KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK


(SE-61/PJ/2013)
Jenis Pajak
A.
1
2
3
4
5
6
7
8
B.
1
2
3

C.
1
2
3

D.
1
2
E.
1
2
3
4
5
6
7

STP

PPh Umum
PPh Ps. 21
PPh Ps. 22
PPh Ps. 22 Impor atas Impor/Perolehan
PPh Ps. 23
PPh Ps. 26
PPh Ps. 25/29 OP
PPh Ps. 25/29 Badan
PPh Ps. 25/29 Badan Minyak dan Gas
Bumi
PPN
PPN
PPN yg Tdk Seharusnya
Dibebaskan/Tdk Dipungut
PPN atas :
3.1 Impor
3.2
Penyerahan Aktiva Ps. 16 D
(Berlaku utk masa dan/atau thn
pajak 2006 dan sebelumnya)
3.3
Pemanfaatan BKP Tdk Berwujud
Dari Luar Daerah Pabean
3.4
Pemanfaatan JKP Dari Luar
Daerah Pabean
3.5
Pemungutan Pajak Oleh
Pemungut Pajak
3.6
Pembayaran Kembali PM bagi
PKP yg Gagal Berproduksi
3.7
Tanggung Jawab Scr Renteng
PPnBM
PPnBM
PPnBM yg Tdk Seharusnya
Dibebaskan/Tdk Dipungut
PPnBM atas :
3.1 Impor
3.2
Pemungutan Pajak Oleh
Pemungut Pajak
3.3
Tanggung Jawab Scr Renteng
Bunga/Denda Penagihan
Bunga Penagihan
Denda Penagihan
PPh Final
PPh Final Ps. 4 ayat (2)
PPh Final Ps. 15
PPh Final Ps. 19
PPh Final Ps. 21
PPh Final Ps. 22
PPh Final Ps. 23/26
PPh Final Ps. 26 (4) Minyak dan Gas
Bumi

Jenis Surat Ketetapan


SKPKB SKPKBT SKPLB

SKPN

101
102
122
103
104
105
106
116

201
202
222
203
204
205
206
216

301
302
322
303
304
305
306
316

401
402
422
403
404
405
406
416

501
502
522
503
504
505
506
516

107

207
217

307
317

407

507

127
137

227
237

327
337

427
437

527
537

167

267

367

467

567

177

277

377

477

577

187

287

387

487

587

147
297
108

208
218

308
318

408

508

128
148

228
248

328
348

428
448

528
548

340
341
342
343
344
345
346

440
441
442
443
444
445
446

540
541
542
543
544
545
546

298
109
110
140
141
142
143
144
145
146

B0715

240
241
242
243
244
245
246

Jenis Pajak
F.
G.
H.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
I.
J.

STP
157
158

PPN Membangun Sendiri


Pajak Penjualan Batubara
Pajak yg Seharusnya Tdk Terutang
PPh Ps. 21
PPh Ps. 22
PPh Ps. 23
PPh Ps. 26
PPh Ps. 25/29 OP
PPh Ps. 25/29 Badan
PPh Ps. 25/29 Badan Minyak Bumi
PPh Ps. 25/29 Badan Gas Bumi
PPh Final Ps. 4 ayat (2)
PPh Final Ps. 15
PPh Final Ps. 19
PPh Final Ps. 21
PPh Final Ps. 22
PPh Final Ps. 23/26
PPh Final Ps. 26 (4) Minyak Bumi
PPh Final Ps. 26 (4) Gas Bumi
PPN
PPnBM
PPN Membangun Sendiri
Pengembalian PPN kpd OP
pemegang paspor LN
Bea Materai
159
Jenis Pajak

PBB
1
2
3
4
5
6

PBB Sektor Pedesaan


PBB Sektor Perkotaan
PBB Sektor Perkebunan
PBB Sektor Perhutanan
PBB Sektor Pertambangan
PBB Sektor Pabum-Migas

Jenis Surat Ketetapan


SKPKB
SKPKBT
SKPLB
257
357
457
258
358
458

SKPN
557
558

411
412
413
414
425
426
456
466
490
491
492
493
494
495
486
489
447
438
497
807
259

359

459

STP PBB

SKP PBB

170
171
172
173
174
175

270
271
272
273
274
275

559

Catatan:
Bentuk dan isi Nothit, skp, dan STP PPh, PPN, dan PPnBM diatur di PER-27/PJ/2012 (berlaku mulai
tanggal 13 Des 2012) jo PER-23/PJ/2014 (berlaku mulai tanggal 14 Agust 2014) mencabut
PER-25/PJ/2008 stdtd PER-52/PJ/2011 dan PER-5/PJ/2009.
PER-23/PJ/2014 blm menampung bentuk dan isi nota penghitungan, skp, dan STP atas Bea
Meterai. Utk kepentingan penetapan Bea Meterai, Masa Pajak mrp periode pembubuhan atau
pelunasan Bea Meterai.
Bentuk dan isi Nothit, SKPPBB, STP PBB, SKKPPBB, dan SPT PBB diatur di PER-23/PJ/2011
(berlaku mulai tanggal 24 Agust 2011)
PMK-145/PMK.03/2012 ttg Tata Cara Penerbitan skp dan STP

B0716

C. KODE NOTA PENGHITUNGAN


Utk PPh, PPN, dan PPnBM: (SE-61/PJ/2013)
Nomor
Kode

Keterangan

1.1.5

Pemeriksaan Kantor yg dilakukan oleh Fungsional Pemeriksa KPP

1.2.3

Pemeriksaan Lapangan yg dilakukan oleh Tenaga Ahli yg ditunjuk oleh Dirjen Pajak

2.0.2

Pemeriksaan Lapangan yg dilakukan oleh Tim Gabungan DJP dan Instansi Lain

2.0.4

Pemeriksaan Lapangan yg dilakukan oleh Fungsional Pemeriksa KPDJP

2.0.5

Pemeriksaan Lapangan yg dilakukan oleh Fungsional Pemeriksa KPP

2.0.7

Pemeriksaan Bukti Permulaan yg dilakukan oleh Tenaga Fungsional Pemeriksa/Penyidik


Kanwil

3.0.2

Penelitian yg dilakukan oleh Seksi Penagihan

3.0.3

Penelitian yg dilakukan oleh Seksi Waskon

3.0.4

Penelitian yg dilakukan oleh Seksi Pelayanan

4.0.1

Verifikasi yg dilakukan oleh Petugas Verifikasi KPP

Utk PBB: (SE-66/PJ/2011)


Nomor
Kode
5.1.1

Keterangan
Pemeriksaan PBB Kantor

5.0.1

Pemeriksaan PBB Lapangan

3.0.3

Penelitian yg dilakukan oleh Seksi Waskon

3.0.4

Penelitian yg dilakukan oleh Fungsional Penilai PBB

3.0.5

Penelitian yg dilakukan oleh Seksi Ekstensifikasi Perpajakan

B0717

D. KODE PEMERIKSAAN
(SE-28/PJ/2013)
Kode Pemeriksaan Rutin:
No

Alasan Pemeriksaan

1.

Perubahan Tahun Buku/ Perubahan Metode


Pembukuan
Likuidasi atau Penutupan Usaha:
a. Domisili
b. Cabang
WP OP Akan Meninggalkan Indonesia
Selama-Lamanya
Penggabungan Usaha
Peleburan Usaha / Pengambilalihan Usaha
Pemecahan Usaha / Pemekaran Usaha
WP Yg Tlh Diberikan Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak
sesuai Pasal 17C & Pasal 17D UU KUP
a. Slr jenis pajak
b. PPN
SPT Tahunan PPh Rugi:
a. PPh OP/Badan (1 jenis pajak)
SPT LB:
a. Masa PPN
b. PPh OP/Badan (1 jenis pajak)
Revaluasi Aktiva Tetap

OP

2.

3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.

10.

Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan
Lapangan
Badan
OP
Badan
0012
0111
0112

Pemeriksaan Kantor

1022
0022

1121
0121
1121

1122
0122

1032
1042
1052

1131
1141
1151

1132
1142
1152

1161
2161

1162
2162

4071

4072

4171

4172

2081
4081

2082
4082
1092

2181
4181
1191

2182
4182
1192

Kode Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Scr Komputerisasi


Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan
No
Kriteria Pemeriksaan
Pemeriksaan Kantor
Lapangan
OP
Badan
OP
Badan
1.
WP Besar
a. Slr jenis pajak
1411
1412
b. PPN
2411
2412
c. P2PPh
3411
3412
d. PPh Pasal 25/29
4411
4412
e. PPh Pasal 21/26
7411
7412
f. PPh Pasal 23/26
8411
8412
g. PPh Final
9411
9412
h. Bbrp Jenis Pajak
0411
0412
2.
WP Menengah
a. Slr jenis pajak
1421
1422
b. PPN
2421
2422
c. P2PPh
3421
3422
d. PPh Pasal 25/29
4421
4422
e. PPh Pasal 21/26
7421
7422
f. PPh Pasal 23/26
8421
8422
g. PPh Final
9421
9422
h. Bbrp Jenis Pajak
0421
0422
3.
WP Kecil
a. Slr jenis pajak
1431
1432
b. PPN
2431
2432
c. P2PPh
3431
3432

B0718

d.
e.
f.
g.
h.

PPh Pasal 25/29


PPh Pasal 21/26
PPh Pasal 23/26
PPh Final
Bbrp Jenis Pajak

4431
7431
8431
9431
0431

4432
7432
8432
9432
0432

Kode Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Scr Manual


Jenis Pemeriksaan
No
Kriteria Pemeriksaan
Pemeriksaan Kantor
Pemeriksaan Lapangan
OP
Badan
OP
Badan
1.
Terdapat data & informasi yg
menunjukkan ketidakpatuhan
WP (bottom-up):
1911
1922
a. Slr jenis pajak
2911
2922
b. PPN
3911
3922
c. P2PPh
4911
4922
d. PPh Pasal 25/29
7911
7922
e. PPh Pasal 21/26
8911
8922
f. PPh Pasal 23/26
9911
9922
g. PPh Final
0911
0922
h. Bbrp Jenis Pajak
2.
Analisis Risiko Scr Manual
Kantor Pusat (top-down):
a. Slr jenis pajak
1921
1922
b. PPN
2921
2922
c. P2PPh
3921
3922
d. PPh Pasal 25/29
4921
4922
e. PPh Pasal 21/26
7921
7922
f. PPh Pasal 23/26
8921
8922
g. PPh Final
9921
9922
h. Bbrp Jenis Pajak
0921
0922
3.
Analisis Risiko Scr Manual
Kanwil DJP (top-down):
a. Slr jenis pajak
1941
1942
b. PPN
2941
2942
c. P2PPh
3941
3942
d. PPh Pasal 25/29
4941
4942
e. PPh Pasal 21/26
7941
7942
f. PPh Pasal 23/26
8941
8942
g. PPh Final
9941
9942
h. Bbrp Jenis Pajak
0941
0942
4.
Laporan & Pengaduan
Masyarakat Hasil Analisis
Direktorat Intelijen dan
Penyidikan (top-down):
1931
1932
a. Slr jenis pajak
2931
2932
b. PPN
3931
3932
c. P2PPh
4931
4932
d. PPh Pasal 25/29
7931
7932
e. PPh Pasal 21/26
8931
8932
f. PPh Pasal 23/26
9931
9932
g. PPh Final
0931
0932
h. Bbrp Jenis Pajak
5.
Laporan & Pengaduan
Masyarakat Hasil Analisis
Kanwil DJP (top-down):
1951
1952
a. Slr jenis pajak
2951
2952
b. PPN
3951
3952

B0719

6.

c. P2PPh
d. PPh OP/Badan
e. PPh Pasal 21/26
f. PPh Pasal 23/26
g. PPh Final
h. Bbrp Jenis Pajak
Pemeriksaan Khusus dlm
rangka Pemeriksaan Ulang
a. Slr jenis pajak
b. PPN
c. P2PPh
d. PPh Pasal 25/29
e. PPh Pasal 21/26
f. PPh Pasal 23/26
g. PPh Final
h. Bbrp Jenis Pajak

4951
7951
8951
9951
0951

4952
7952
8952
9952
0952

1991
2991
3991
4991
7991
8991
9991
0991

1992
2992
3992
4992
7992
8992
9992
0992

Kode Pemeriksaan WP Lokasi berdasarkan Permintaan UP2 Domisili


Disesuaikan dgn Kriteria Pemeriksaan WP Domisili, namun digit pertama dari setiap kode
pemeriksaan diganti dgn angka 6.

B0720

SISTEM PEMBAYARAN PAJAK SCR ELEKTRONIK (BILLING SYSTEM)


Dasar Hukum:
PMK-60/PMK.05/2011 jo PMK-204/PMK.05/2011
PER-26/PJ/2014 (berlaku sejak tanggal 13 Okt 2014) mencabut PER-47/PJ/2011 jo PER19/PJ/2012
KEP-359/PJ/2013 mencabut KEP-09/PJ/2013
SE dan surat terkait:
SE-102/PJ/2011
S-128/PJ.13/2013
Definisi:
Sistem Pembayaran Pajak Scr Elektronik: Bgian dari sistem Penerimaan Negara secara elektronik
yg diadministrasikan oleh Biller DJP dan menerapkan Billing System.
Billing System: Metode pembayaran elektronik dgn menggunakan Kode Billing.
Sistem Billing: Sistem informasi yg dikelola @ Biller dlm rangka pengadministrasian sistem
Penerimaan negara scr elektronik.
Kode Billing: Kode identifikasi yg diterbitkan melalui Sistem Billing atas suatu jenis pembayaran atau
setoran yg akan dilakukan WP.
Aplikasi Billing DJP: Bagian dari Sistem Billing DJP yg menyediakan antarmuka berupa aplikasi
berbasis web bagi WP utk menerbitkan Kode Billing dan dpt diakses melalui jaringan internet
Electronic Data Capture (EDC): alat yg dipergunakan utk transaksi kartu debit/kredit yg terhubung
scr online dgn sistem/ jaringan Bank Persepsi.
Bukti Penerimaan Negara (BPN): dokumen yg diterbitkan oleh Bank/Pos Persepsi atas transaksi
penerimaan negara dgn teraan NTPN dan NTB/NTP sbg sarana administrasi lain yg kedudukannya
disamakan dgn SSP.
Sistem pembayaran pajak scr elektronik: (Pasal 2 PER-26/PJ/2014)
Pembayaran/penyetoran pajak scr elektronik meliputi slr jenis pajak, kecuali:
pajak dlm rangka impor yg diadministrasikan pembayarannya oleh Biller DJBC; dan
pajak yg tata cara pembayarannya diatur scr khusus.
Pembayaran/penyetoran pajak tsb meliputi pembayaran dalam mata uang Rupiah dan Dollar AS.
Pembayaran dlm mata uang Dollar AS tsb hanya dpt dilakukan utk PPh Pasal 25, PPh Pasal 29 dan
PPh yg bersifat Final yg dibayar sendiri oleh WP yg memperoleh izin utk menyelenggarakan
pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris dan mata uang Dollar AS.
Transaksi pembayaran/penyetoran pajak tsb dilakukan melalui Bank/Pos Persepsi dgn menggunakan
Kode Billing.
Sarana Pembayaran/Penyetoran Pajak scr Elektronik: (Pasal 3 ayat (1)-(2) PER-26/PJ/2014)
Transaksi Pembayaran/penyetoran pajak scr elektronik dpt dilakukan melalui Teller Bank/Pos
Persepsi, ATM, Internet Banking dan EDC.
Contoh memasukan Kode Billing melalui mesin ATM:
Menu via ATM Mandiri: [Bayar/Beli][Lainnya][Lainnya][Multi Payment]. Masukkan kode
institusi DJP 10035 dan kode billing pajak, selanjutnya ikuti instruksi.
Menu via ATM BRI: [Transaksi Lain][Pembayaran][Lainnya][Lainnya][MPN]. Masukkan kode
billing pajak, selanjutnya ikuti instruksi.
Contoh memasukan Kode Billing melalui /internet banking yg disediakan Bank Persepsi yg
ditunjuk:

Menu via internet banking Mandiri (https://ib.bankmandiri.co.id): [Pembayaran][Pajak].


Masukkan kode billing pajak, selanjutnya ikuti instruksi.

Menu via internet banking BRI: [Pembayaran][MPN]. Masukkan kode billing pajak, selanjutnya
ikuti instruksi.
Atas pembayaran/penyetoran pajak, WP menerima BPN sbg bukti setoran.
BPN: (Pasal 3 ayat (3)-(6) PER-26/PJ/2014)
BPN diterbitkan dlm bentuk:

B081

a.

dokumen bukti pembayaran yg diterbitkan Bank/Pos Persepsi, utk pembayaran/penyetoran


melalui Teller dgn Kode Billing;
b. struk bukti transaksi, utk pembayaran melalui ATM dan EDC;
c. dokumen elektronik, utk pembayaran/penyetoran melalui internet banking; dan
d. teraan BPN pd SSP/SSP PBB, utk pembayaran melalui Teller Bank/Pos Persepsi dgn
menggunakan SSP/SSP PBB.
BPN tsb sekurang-kurangnya mencantumkan elemen-elemen sbg berikut:
a. NTPN;
b. NTB/NTP;
c. Kode Billing;
d. NPWP;
e. Nama WP;
f. Alamat WP, kecuali utk BPN yg diterbitkan melalui ATM dan EDC;
g. NOP, dlm hal pembayaran pajak atas transaksi PHTB, KMS dan PBB sektor Perkebunan,
Perhutanan dan Pertambangan, kecuali utk BPN yg diterbitkan melalui ATM dan EDC;
h. Kode Akun Pajak;
i. Kode Jenis Setoran;
j. Masa Pajak;
k. Thn Pajak;
l. Nomor ketetapan pajak, bila ada;
m. Tanggal bayar; dan
n. Jml nominal pembayaran.
BPN tsb termasuk cetakan, salinan dan fotokopinya, kedudukannya disamakan dgn SSP dan SSP
PBB dlm rangka pelaksanaan ketentuan perpu perpajakan.
Dlm hal terdapat perbedaan antara data pembayaran yg tertera dlm BPN dgn data pembayaran mnr
sistem Penerimaan Negara scr lektronik, maka yg dianggap sah adalah data sistem Penerimaan
Negara scr elektronik.

Cara Memperoleh Kode Billling: (Pasal 4-6 PER-26/PJ/2014)


WP dpt memperoleh Kode Billing dgn cara:
1. membuat sendiri pd Aplikasi Billing DJP yg dpt diakses melalui laman DJP dan laman Kemenkeu;
(Pasal 4 angka 1 PER-26/PJ/2014) http://ssereg.pajak.go.id
WP membuat sendiri Kode Billing tsb dgn melakukan input data setoran pajak yg akan
dibayarkan. (Pasal 5 ayat (1) PER-26/PJ/2014)
Input data tsb dilakukan atas nama dan NPWP sendiri, atau atas nama dan NPWP WP lain
sehubungan dgn kewajiban sbg Wajib Pungut.
WP dlm melakukan input data tsb terlebih dahulu melakukan log-in dgn memasukkan User ID dan
PIN akun pengguna Aplikasi Billing DJP yg tlh aktif.
WP dpt mendaftarkan diri utk memperoleh User ID dan PIN scr online melalui menu daftar baru
Aplikasi Billing DJP dan mengaktifkan akun pengguna melalui konfirmasi e-mail.
Dlm hal terdapat indikasi penyalahgunaan, Dirjen Pajak dpt melakukan penutupan scr jabatan
atas akun pengguna Aplikasi Billing DJP.
Dlm hal terjadi pemindahan tempat terdaftar WP yg mengakibatkan perubahan NPWP, aplikasi
Billing DJP akan menyesuaikan akun pengguna dgn NPWP baru.
2. melalui Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yg ditunjuk oleh Dirjen Pajak; atau (Pasal 4 angka 2
PER-26/PJ/2014)
a. mendatangi Teller Bank/Pos Persepsi dgn menyerahkan SSP/SSP PBB; atau
Mekanisme pembayaran/penyetoran pajak melalui Teller Bank/Pos Persepsi: (Pasal 7 PER26/PJ/2014)
WP menyerahkan SSP/SSP PBB dlm rangkap 4 yg tlh diisi lengkap dan ditandatangani
kpd Teller Bank/Pos Persepsi, dgn menyertakan uang sejumlah nominal yg disebutkan
dlm SSP/SSP PBB.
Teller Bank/Pos Persepsi merekam data pembayaran/setoran pajak utk menerbitkan
Kode Billing. (Pasal 7 ayat (1) huruf b PER-26/PJ/2014)
Teller Bank/Pos Persepsi mencetak bukti penerbitan Kode Billing dan menyerahkannya
kpd WP.

B082

3.

WP memeriksa kesesuaian elemen data pd bukti penerbitan Kode Billing dgn isian
SSP/SSP PBB.
Dlm hal elemen data yg tertera pd bukti penerbitan Kode Billing tlh sesuai dgn isian
SSP/SSP PBB, WP menandatangani bukti penerbitan Kode Billing dan menyerahkannya
kembali kpd Teller Bank/Pos Persepsi.
Teller Bank/Pos Persepsi memproses transaksi pembayaran pajak atas Kode Billing
dimaksud.
WP menerima kembali formulir bukti setoran lembar ke-1 dan ke-3 yg tlh ditera dgn
elemen-elemen data BPN serta dibubuhi tanda tangan/paraf, nama pejabat Bank/Pos
Persepsi dan cap Bank/Pos Persepsi sbg bukti bayar/setor.
Kebenaran elemen data yg tertera pd BPN mrp tanggung jawab WP yg tlh menandatangani
bukti penerbitan Kode Billing.
b. menggunakan layanan/produk/aplikasi/sistem yg tlh terhubung dgn Sistem Billing DJP
diterbitkan scr jabatan oleh DJP dlm hal terbit ketetapan pajak, STP, SPPT PBB atau SKP PBB yg
mengakibatkan KB. (Pasal 4 angka 3 PER-26/PJ/2014)

Masa Berlaku Kode Billing: (Pasal 9 PER-26/PJ/2014)


1. Kode Billing yg dibuat sendiri oleh WP (Pasal 4 angka 1 PER-26/PJ/2014) dan/atau diperoleh melalui
Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yg ditunjuk oleh Dirjen Pajak (Pasal 4 angka 2 PER-26/PJ/2014)
berlaku selama 48 jam sejak diterbitkan dan tdk dpt dipergunakan stl melewati jangka waktu
dimaksud.
2. Kode Billing yg diterbitkan oleh DJP (Pasal 4 angka 3 PER-26/PJ/2014) berlaku s.d. jatuh tempo
pembayaran pajak, dan tdk dpt dipergunakan stl melewati jangka waktu dimaksud.
3. Dlm hal Kode Billing tdk dpt dipergunakan sebagaimana dimaksud di atas, WP atau Bank/Pos
Persepsi dpt membuat kembali Kode Billing.
Kesalahan input data setoran pajak dlm Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) huruf b PER-26/PJ/2014
diselesaikan melalui prosedur Pemindahbukuan dlm administrasi perpajakan. (Pasal 8 PER-26/PJ/2014)

B083

SPT MASA PPh


Dasar Hukum:
KEP-108/PJ.1/1996 ttg Bentuk Formulir Pemotongan/Pemungutan PPh
PER-53/PJ/2009 (berlaku sejak 1 Nov 2009) ttg Bentuk Formulir SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat
(2), SPT Masa PPh Pasal 15, Pasal 22, Pasal 23 dan/atau Pasal 26 serta Bukti
Pemotongan/Pemungutannya mencabut PER-43/PJ/2009 (berlaku sejak 1 Okt 2009)
PER-14/PJ/2013 dan Ralat PER-14/PJ/2013 (berlaku sejak 1 Jan 2014) ttg Bentuk, Isi, Tata Cara
Pengisian dan Penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 serta Bentuk Bukti
Pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 mencabut PER-32/PJ/2009
Perubahan KEP-108/PJ.1/1996:
Dasar Perubahan
Hal yg Diubah
KEP-02/PJ.1/2000
Mengubah
Lamp
KEP-108/PJ.1/1996
(Perubahan I)
berkenaan dgn bentuk form SPT Masa PPh
Pasal 21 & 26, SPT Masa PPh Pasal 22
Belanja Negara, SPT Masa PPh Pasal 23 & 26
serta Bukti Pemotongan Pasal PPh Pasal 23
menjadi seperti di Lamp KEP-02/PJ.1/2000
KEP-506/PJ./2001
Mengubah sebagian bentuk, jenis, dan isi form
(Perubahan II)
Pemotongan/Pemungutan PPh dlm Lamp KEP108/PJ.1/1996 stdd KEP-02/PJ.1/2000 menjadi
seperti di Lamp KEP-506/PJ./2001

KEP-601/PJ./2001
(Perubahan III)

KEP-240/PJ./2002
dan ralat
KEP240/PJ./2002

Mengubah Petunjuk Pengisian Form SPT


Masa PPh Pasal 22 dgn kode formulir
F.1.1.32.02 dlm KEP-108/PJ./1996 stdtd
KEP-506/PJ./2001 menjadi seperti di Lamp
KEP-601/PJ./2001.
Form Bukti Pemotongan PPh Bunga
Deposito/Tabungan, Diskonto SBI, Jasa Giro
dgn kode formulir F.1.1.33.10 dlm KEP108/PJ.1/1996
stdtd
KEP-506/PJ./2001
hanya digunakan utk melayani permintaan
WP Dana Pensiun dan OP yg slr
penghasilannya dlm 1 thn pajak termasuk
bunga dan diskonto < PTKP.
Mengubah form Pemotongan/ Pemungutan
PPh tertentu dlm Lamp KEP-108/PJ.1/1996
stdtd KEP-506/PJ./2001 serta menambah form
baru shg menjadi sbg berikut:
a. Mengubah isi form SPT Masa PPh Pasal 4
ayat (2), (Kode Formulir F.1.1.32.04);
b. Mengubah bentuk dan isi form Bukti
Pemungutan PPh Penjualan Saham Dan
Atau Obligasi Yang Diperdagangkan Di
Bursa
Efek
(Final),
(Kode
Formulir
F.1.1.33.11) menjadi 2 formulir yaitu:
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) Atas Penjualan Saham Yang
Diperdagangkan
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) Atas Bunga Dan Diskonto

B091

Keterangan
Berlaku sejak tanggal 3 Jan
2000 dan dilaksanakan utk
pengisian SPT Masa PPh
mulai bulan Jan thn 2000.

Berlaku sejak tanggal 11 Juli


2001 dan form bentuk lama
masih dpt dipergunakan s.d.
tanggal 31 Des 2001
sepanjang dpt dilakukan
penyesuaian
seperlunya
berdasarkan ketentuan yg
berlaku.
Berlaku sejak tanggal 11
Sept 2001

Berlaku sejak tanggal 1 Mei


2002 dan form bentuk lama
masih dpt dipergunakan s.d.
masa pajak April 2002.
Ralat
KEP-240/PJ./2002
memperbaiki kekeliruan pd
Formulir
F.1.1.33.17
Formulir F.1.1.33.18.

KEP-100/PJ/2003
(Perubahan IV)

PER-42/PJ/2008
(Perubahan V)

Obligasi Yang Diperdagangkan Dan


Atau Dilaporkan Perdagangannya Di
Bursa Efek, (Kode Formulir F.1.1.33.17)
c. Menambah form baru yaitu Lampiran Bukti
Pemotongan PPh Pasal 23/26 Atas Bunga
Dan Diskonto Obligasi Yang Tidak
Diperdagangkan Dan Tidak Dilaporkan
Perdagangannya Di Bursa Efek (Kode
Formulir F.1.1.33.18)
Mencabut form Bukti Pemungutan Pajak
Atas Impor (Oleh Bendaharawan DJBC)
kode formulir F.1.1.33.03 pd Lamp KEP506/PJ./2001stdd KEP-02/PJ.1/2000.
Mengubah Form SPT Masa PPh Pasal 22
kode formulir F.1.1.32.02 di Lamp KEP506/PJ./2001
stdd
KEP-02/PJ.1/2000
menjadi Form SPT Masa PPh Pasal 22 kode
formulir
F.1.1.32.02
di
Lamp
KEP100/PJ/2003.

Mengubah Form Bukti Pemotongan PPh


Pasal 23 kode Formulir F.1.1.33.06 di Lamp
KEP-506/PJ./2001 stdd KEP-02/PJ.1/2000
menjadi Form Bukti Pemotongan PPh Pasal
23 kode formulir F.1.1.33.06.
Mengubah Form SPT Masa PPh Pasal 22
kode formulir F.1.1.32.02 di Lamp KEP100/PJ./2003 menjadi Form SPT Masa PPh
Pasal 22 kode formulir F.1.1.32.02 di Lamp II
PER-42/PJ/2008.
Mengubah Form SPT Masa PPh Pasal 23
dan atau 26 kode formulir F.1.1.32.03 di
Lamp
KEP-506/PJ./2001
stdd
KEP02/PJ.1/2000 menjadi Form SPT Masa PPh
Pasal 23 dan
Mengubah Form SPT Masa PPh Pasal 4
ayat (2) kode formulir F.1.1.32.04 di Lamp
KEP-506/PJ./2001 stdd KEP-02/PJ.1/2000
menjadi Form SPT Masa PPh Pasal 4 ayat
(2) kode formulir F.1.1.32.04 di Lamp IV
PER-42/PJ/2008.

Berlaku sejak tanggal 1 Apr


2003. Bagi WP yg utk masa
pajak Apr 2003 dan Mei
2003 terlanjur menggunakan
form
lama
dlm
KEP506/PJ./2001 stdd KEP02/PJ.1/2000 maka SSP
dan SPT dgn form lama tsb
tetap dpt diterima sbg SSP
dan SPT Masa yg sah
sepanjang
diisi
dan
ditandatangani
sebagaimana mestinya.
Berlaku sejak tanggal 20
Okt 2008

Keterangan:
KEP-108/PJ.1/1996 stdtd PER-42/PJ/2008 dinyatakan tetap berlaku, kecuali Bentuk Form SPT Masa PPh
dan Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh dlm PER-53/PJ/2009 dan Bentuk Form SPT Masa PPh Pasal 21
dan/atau Pasal 26 dan Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 sebagaimana
ditetapkan dlm PER-14/PJ/2013.
PER-53/PJ/2009:
Pasal 1: Bentuk Form SPT Masa PPh Final Pasal 4 Ayat (2) dan Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh
Final Pasal 4 Ayat (2) serta petunjuk pengisiannya adalah sebagaimana ditetapkan dlm Lamp I PER53/PJ/2009.
Pasal 2: Bentuk Form SPT Masa PPh Pasal 15 dan Bukti Pemotongan PPh Pasal 15 serta petunjuk
pengisiannya adalah sebagaimana ditetapkan dlm Lamp II PER-53/PJ/2009

B092

Pasal 3: Bentuk Form SPT Masa PPh Pasal 22 dan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 serta petunjuk
pengisiannya adalah sebagaimana ditetapkan dlm Lamp III PER-53/PJ/2009
Pasal 4: Bentuk Form SPT Masa PPh Pasal 23 dan/atau Pasal 26 dan Bukti Pemotongan Ph Pasal 23
dan/atau Pasal 26 serta petunjuk pengisiannya adalah sebagaimana ditetapkan dlm Lamp IV PER53/PJ/2009
Pasal 5: Bentuk Form SPT Masa PPh dan Bukti Pemotongan/Pemungutan kegiatan usaha berbasis
syariah berlaku mutatis mutandis ketentuan dlm Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4.

SPT MASA PPh PASAL 4 AYAT (2)


Susunan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2):
Nama Form

Nomor Form

SPT Masa PPh Final Pasal 4 ayat (2)

F.1.1.32.04

Daftar Bukti Pemotongan/Pemungutan


PPh Final Pasal 4 ayat (2)
Daftar Jml Bruto Nilai Transaksi
Penjualan Saham dan atau Obligasi Per
Hari Bursa ... Bulan .... Thn ....
Daftar Perantara Perdagangan Efek,
Pemungutan PPh Final dari Penjualan
Saham dan atau Obligasi yg
Diperdagangkan di Bursa Efek Bulan ....
Thn ....
Daftar Bukti Pemotongan PPh Final
Pasal 4 ayat (2) atas Bunga Deposito/
Tabungan, Diskonto SBI, Jasa Giro
Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh
Final Pasal 4 ayat (2) atas Hadiah
Undian
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) atas Bunga Deposito/
Tabungan, Diskonto SBI, Jasa Giro
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) atas Penghasilan dari Transaksi
Penjualan yg Diperdagangkan di Bursa
Efek
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) atas Penghasilan dari
Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh
Final Pasal 4 ayat (2) atas Penghasilan
dari Usaha Jasa Konstruksi
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) atas Bunga dan/atau Diskonto
Obligasi dan Surat Berharga Negara
(SBN)

D.1.1.32.06

Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4


ayat (2) atas Bunga Simpanan yg
Dibayarkan oleh Koperasi kpd Anggota
Koperasi Orang Pribadi
Bukti Pemungutan PPh Final Pasal 4

F.1.1.33.19

Jml Lembar
Peruntukan

Sumber
Lamp I.1 PER53/PJ/2009
Lamp I.2 PER53/PJ/2009
Lamp KEP506/PJ/2001

D.1.1.32.07

D.1.1.32.08

Lamp KEP506/PJ/2001

D.1.1.32.10

Lamp I.3 PER53/PJ/2009

F.1.1.33.09

F.1.1.33.10

F.1.1.33.11

F.1.1.33.12

F.1.1.33.16

F.1.1.33.17

F.1.1.33.20

B093

3 (WP, KPP,
Pemotong/
Pemungut Pajak)
2 (WP, Pemotong
Pajak)

Lamp I.4 PER53/PJ/2009

3 (WP yg Dipotong,
Penyelenggara
Bursa Efek, Arsip
Pemotong Pajak)
3 (yg Menyewakan,
KPP, Penyewa)

Lamp I.6 PER53/PJ/2009

Lamp I.5 PER53/PJ/2009

Lamp I.7 PER53/PJ/2009

3 (WP, KPP,
Pemotong/
Pemungut Pajak)
4 (WP yg Dipotong,
Penyelenggara
Bursa Efek, Arsip
Pemotong Pajak,
Pembeli/Pemegang
Obligasi)
3 (WP, KPP,
Pemotong Pajak)

Lamp I.8 PER53/PJ/2009

3 (WP, KPP,

Lamp I.11 PER-

Lamp I.9 PER53/PJ/2009

Lamp I.10 PER53/PJ/2009

ayat (2) atas Penghasilan dari Transaksi


Derivatif Berupa KontrakBerjangka yg
Diperdagangkan di Bursa
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 4
ayat (2) atas Dividen yg Diterima atau
Diperoleh WP OP DN

F.1.1.33.21

Pemungut Pajak)

53/PJ/2009

3 (WP, KPP,
Pemotong Pajak)

Lamp I.12 PER53/PJ/2009

SPT MASA PPh PASAL 15


Susunan SPT Masa PPh Pasal 15:
Nama Form

Nomor Form

SPT Masa PPh Final Pasal 15

F.1.1.32.05

Daftar Bukti Pemotongan PPh Final


Pasal 15
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 15
atas Imbalan yg Dibayarkan/Terutang
kpd Perusahaan Pelayaran DN (Final)
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 15
atas Imbalan yg Dibayarkan/Terutang
kpd Perusahaan Pelayaran dan/atau
Penerbangan LN (Final)
Bukti Pemotongan PPh Final Pasal 15
atas Imbalan yg Dibayarkan/Terutang
kpd Perusahaan Penerbangan DN

D.1.1.32.09

Jml Lembar
Peruntukan

Sumber

F.1.1.33.13

3 (yg Menyewakan,
KPP, Penyewa)

Lamp II.1 PER53/PJ/2009


Lamp II.2 PER53/PJ/2009
Lamp II.3 PER53/PJ/2009

F.1.1.33.14

3 (yg Menyewakan,
KPP, Penyewa)

Lamp II.4 PER53/PJ/2009

F.1.1.33.15

3 (yg Menyewakan,
KPP, Penyewa)

Lamp II.5 PER53/PJ/2009

SPT MASA PPh PASAL 22


Susunan SPT Masa PPh Pasal 22:
Nama Form

Nomor Form

SPT Masa PPh Final Pasal 22

F.1.1.32.02

Daftar SSP PPh atas Penjualan Migas


oleh PERTAMINA /Badan Usaha selain
PERTAMINA Masa .... Thn ...
Daftar SSP PPh Pasal 22 Impor (Bank
Devisa dan Bendaharawan/Badan
Tertentu yg Ditunjuk) Masa ... Thn ...
Daftar Bukti Pemungutan PPh Pasal 22

D.1.1.32.02

Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 atas


(Oleh Badan usaha Industri/Eksportir
Tertentu)

D.1.1.32.03

Jml Lembar
Peruntukan

Lamp III.1 PER53/PJ/2009


Lamp KEP506/PJ/2001
2 (KPP, Pemungut
Pajak)

D.1.1.32.04
F.1.1.33.04

Sumber

3 (WP, KPP,
Pemungut Pajak)

Lamp KEP506/PJ/2001
Lamp III.2 PER53/PJ/2009
Lamp III.3 PER53/PJ/2009

SPT MASA PPh PASAL 23 DAN/ATAU PASAL 26


Susunan SPT Masa PPh Pasal 23 dan/atau Pasal 26:
Nama Form
SPT Masa PPh Pasal 23 dan/atau
Pasal 26

Nomor Form
F.1.1.32.03

B094

Jml Lembar
Peruntukan

Sumber
Lamp IV.1 PER53/PJ/2009

Daftar Bukti Pemotongan Pasal 23


dan/atau Pasal 26
Bukti Pemotongan PPh Pasal 23

D.1.1.32.05

Bukti Pemotongan PPh Pasal 26

F.1.1.33.08

F.1.1.33.06

3 (WP, KPP,
Pemotong Pajak)
3 (WP, KPP,
Pemotong Pajak)

Lamp IV.2 PER53/PJ/2009


Lamp IV.3 PER53/PJ/2009
Lamp IV.4 PER53/PJ/2009

SPT MASA PPh PASAL 21/26


Dasar Hukum:
PMK-181/PMK.03/2007 stdd PMK-152/PMK.03/2009
PER-14/PJ/2013 dan Ralat PER-14/PJ/2013 (berlaku sejak 1 Jan 2014) mencabut PER-32/PJ/2009
PER-31/PJ/2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013)
PER-6/PJ/2009
SE terkait:
SE-62/PJ/2009
1.

Sejak 1 Jan 2014


Susunan SPT Masa PPh Pasal 21/26
a.
SPT Masa PPh Pasal 21/26:
Nomor
Nama Form
Form
1721
Induk SPT Masa PPh Pasal 21/26
1721-I
Daftar Pemotongan PPh Pasal 21 bagi
Pegawai Tetap & Penerima Pensiun
atau THT/JHT Berkala serta bagi PNS,
Anggota TNI, Anggota Polisi RI, Pejabat
Negara dan Pensiunannya
1721-II
Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal
21/26
1721-III
Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 21
(Final)
1721-IV
Daftar SSP dan/atau Bukti Pbk utk
Pemotongan PPh Pasal 21/26
1721-V
Daftar Biaya

b.

Keterangan
tdk perlu dilampirkan dlm hal tdk ada
pemotongan PPh Pasal 21

tdk perlu dilampirkan dlm hal tdk ada


pemotongan PPh Pasal 21/26
tdk perlu dilampirkan dlm hal tdk ada
pemotongan PPh Pasal 21 (Final)
tdk perlu dilampirkan dlm hal tdk ada
penyetoran & pbk PPh Pasal 21/26
tdk perlu dilampirkan dlm hal
Pemotong wajib menyampaikan SPT
Tahunan

Bukti Pemotongan PPh Pasal 21/26:


Nomor
Nama Form
Form
1721-VI
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Tdk Final)
atau Pasal 26
1721-VII
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Final)
1721-A1
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 bagi Pegawai
Tetap atau Penerima Pensiun atau THT /JHT
Berkala
1721-A2
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 Bagi PNS /
Anggota TNI / Anggota Polisi RI / Pejabat
Negara / Pensiunannya

Yg Wajib Menggunakan e-SPT PPh Pasal 21/26:


Pemotong yg:

B095

Jml Lembar
Peruntukan
2 (Penerima
Penghasilan,
Pemotong)

Keterangan
tdk perlu
dilampirkan
dlm
penyampaian
SPT Masa

a.

melakukan pemotongan PPh Pasal 21 thd pegawai tetap & penerima pensiun atau THT/JHT
berkala dan/atau thd PNS, anggota TNI/Polisi RI, pejabat negara dan pensiunannya yg jml-nya >
20 org dlm 1 masa pajak; dan/atau
b. melakukan pemotongan PPh Pasal 21 (Tdk Final) dan/atau Pasal 26 selain pemotongan PPh
sebagaimana dimaksud pd huruf a dgn bukti pemotongan yg jml-nya > 20 dokumen dlm 1 masa
pajak; dan/atau
c. melakukan pemotongan PPh Pasal 21 (Final) dgn bukti pemotongan yg jml-nya > 20 dokumen
dlm 1 masa pajak; dan/atau
d. melakukan penyetoran pajak dgn SSP dan/atau bukti Pbk yg jml-nya > 20 dokumen dlm 1 masa
pajak.
Pemotong yg tdk memenuhi salah satu kriteria dpt menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dlm
bentuk form kertas maupun e-SPT.
Pemotong yg tlh menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/ 26 dlm bentuk e-SPT tdk diperbolehkan
lagi menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/ 26 dlm bentuk formulir kertas (hard copy) utk masamasa pajak berikutnya. (Pasal 4 PER-14/PJ/2013)
SPT Masa PPh Pasal 21/26 dlm bentuk e-SPT hrs disampaikan dgn disertai Induk SPT Masa PPh
Pasal 21/26 dlm bentuk formulir kertas (hard copy). (Pasal 7 ayat (2) PER-14/PJ/2013)
Penyampaian/Pembetulan SPT Masa PPh 21/26:
1. Utk masa pajak s.d. Masa Pajak Nov 2013:
Dlm hal Pemotong melakukan penyampaian/pembetulan SPT yg dilakukan sejak berlakunya
PER-14/PJ/2013, penyampaian/pembetulan tsb dilakukan dgn menggunakan form SPT Masa
PPh Pasal 21/26 sesuai PER-14/PJ/2013
2. Utk masa pajak Des 2013
Dlm hal Pemotong melakukan penyampaian/pembetulan SPT yg dilakukan:
a. s.d. tanggal 20 Jan 2014 menggunakan form SPT Masa PPh Pasal 21/26 sesuai PER32/PJ/2009;
b. stl tanggal 20 Jan 2014 menggunakan form SPT Masa PPh Pasal 21/26 sesuai PER14/PJ/2013
Pengisian Nomor Bukti Pemotongan (Mulai berlaku utk Masa Pajak Jan 2014):
Format Kode
Nama Kode
1.1-mm.yy-xxxxxxx
Kode Form 1721 A1
1.2-mm.yy-xxxxxxx
Kode Form 1721-A2
1.3-mm.yy-xxxxxxx
Kode Form 1721-VI
1.4-mm.yy-xxxxxxx
Kode Form 1721-VII
Nomor urut berlanjut selama 1 thn pajak. Saat memasuki thn pajak berikutnya, nomor urut dimulai
kembali dari 0000001.
Ket:
mm
:
Diisi masa pajak
yy
:
Diisi 2 digit terakhir dari thn pajak
xxxxxxx
:
Diisi
Daftar Kode Objek Pajak PPh Pasal 21/26 (Mulai berlaku utk Masa Pajak Jan 2014):
No.
A.
1.
2.
3.
4.

Penerima Penghasilan
OBJEK PAJAK TDK FINAL
Pegawai Tetap
Penerima Pensiun Berkala
Pegawai Tdk Tetap / Tenaga Kerja Lepas
Bukan Pegawai:
a. Distributor MLM
b. Petugas Dinas Luar Asuransi
c. Penjaja Barang Dagangan

B096

Kode
Objek
Pajak
21-100-01
21-100-02
21-100-03
21-100-04
21-100-05
21-100-06

d.
e.
f.

5.
6.
7.
8.
9.
10.

B.
1.
2.
3.

4.

Tenaga Ahli
Bukan Pegwai yg Menerima Imbalan yg Bersifat Berkesinambungan
Bukan Pegawai yg Menerima Imbalan yg Tdk Bersifat
Berkesinambungan
Anggota Dewan Komisaris / Dewan Pengawasa yg Tdk Merangkap Sbg
Pegawai Tetap
Mantan Pegawai yg Menerima Jasa Produksi, Tantiem, Bonus atau Imbalan
Lain
Pegawai yg Melakukan Penarikan Dana Pensiun
Peserta Kegiatan
Penerima Penghasilan yg Dipotong PPh Pasal 21 Tdk Final Lainnya
Pegawai/Pemberi Jasa/Peserta Kegiatan/Penerima Pensiun Berkala sbg
WP LN
OBJEK PAJAK FINAL
Penerima Uang Pesangon yg Dibayarkan Sekaligus
Penerima Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua atau JHT dan
Pembayaran Sejenis yg Dibayarkan Sekaligus
Pejabat Negaram PNS, Anggota TNI/POLRI dan Pensiunan yg Menerima
Honorarium dan Imbalan Lain yg Dibebankan kpd Keuangan
Negara/Daerah
Penerima Penghasilan yg Dipotong PPh Pasal 21 Final Lainnya

21-100-07
21-100-08
21-100-09
21-100-10
21-100-11
21-100-12
21-100-13
21-100-99
27-100-99

21-401-01
21-401-02
21-402-01

21-499-99

Dlm Hal Pegawai Tetap / Penerima Pensiun Berkala Baru Memiliki NPWP
Dlm hal pegawai tetap / penerima pensiun berkala yg tlh dipotong PPh Pasal 21 dgn tarif yg lbh tinggi
mendaftarkan diri utk memperoleh NPWP, maka Pemotong Pajak hrs melakukan pembetulan atas SPT
Masa PPh Pasal 21/26 s.d. Masa Pajak di mana pegawai tetap atau penerima pensiun berkala tsb
memperoleh NPWP
2.

Sejak 1 Juli 2009 s.d. 31 Des 2013


Yg Wajib Disampaikan WP Saat Melaporkan SPT Masa PPh 21
A.
Induk SPT Masa PPh 21
Jml Penghasilan Bruto (kolom 4) dan Jml Pajak Terutang (kolom 5) diisi dgn jml akumulatif
setiap bulan, kecuali khusus utk Masa Desember diisi jml kumulatif dlm Tahun Kalender yg
bersangkutan.
B.
Lampiran SPT Masa PPh Pasal 21
1. 1721-I (Daftar bukti pemotongan PPh 21 utk Pegawai Tetap / Penerima Pensiun Berkala)
Mrp rekapitulasi dari 1721-A1/A2 & hanya wajib disampaikan pd masa pajak
Desember
Saat pembuatan 1721-A1:
Atas penghasilan yg diterima atau diperoleh pegawai tetap / penerima pensiun berkala,
pemberian bukti pemotongan 1721-A1 hrs dilakukan paling lama 1 bulan stl tahun
kalender berakhir
Dlm hal pegawai tetap berhenti bekerja sbl bulan Desember, pemberian bukti
pemotongan 1721-A1 hrs dilakukan paling lambat akhir bulan berikutnya stl berhenti
bekerja
1721-A1 tdk perlu dilampirkan saat penyampaian SPT Masa PPh 21
2. Daftar Biaya utk WP yg Tdk Wajib Menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan
(Disampaikan hanya pd Masa Pajak Desember)
3. 1721-II
Wajib disampaikan hanya pd saat ada Pegawai Tetap yg keluar dan/atau ada Pegawai
Tetap yg masuk dan/atau ada Pegawai yg baru memiliki NPWP.
4. 1721-T

B097

5.

6.

7.
8.

Wajib dilampirkan pd saat pertama kali WP berkewajiban utk menyampaikan SPT


Masa PPh Pasal 21/26.
Dlm hal WP tlh berkewajiban utk menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 sbl 1 Juli
2009, Formulir 1721-T wajib dilampirkan pd Masa Pajak Juli 2009.
Daftar Bukti Pemotongan PPh Tdk Final
Jika tdk terjadi pemotongan PPh 21 utk selain pegawai tetap pd suatu masa pajak
(NIHIL): maka bukti pemotongan PPh 21 & daftar bukti potongnya tdk perlu utk dibuat dan
dilampirkan dlm SPT Masa PPh 21
Daftar Bukti Pemotongan PPh Final
Jika tdk terjadi pemotongan PPh 21 yg bersifat final pd suatu masa pajak (NIHIL):
maka bukti pemotongan PPh 21 final dan daftar bukti potong finalnya tdk perlu utk dibuat
dan dilampirkan dlm SPT Masa PPh 21
SSP
Surat Kuasa Khusus/Surat Keterangan Kematian

B098

SPT MASA PPN


Dasar Hukum:
PER-44/PJ/2010 jo PER-11/PJ/2013 ttg Bentuk, Isi, dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian
SPT Masa PPN
PER-45/PER-10/PJ/2013 jo PER-10/PJ/2013 ttg Bentuk, Isi, dan Tata Cara Pengisian serta
Penyampaian SPT Masa PPN Bagi PKP yg Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM
PER-1/PJ/2011 (berlaku sejak 11 Jan 2011 mulai Masa Pajak Jan 2011) jo PER-21/PJ/2013 (berlaku
sejak 30 Mei 2013 mulai masa Pajak Juni 2013) ttg Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT
Masa PPN
SE terkait:
SE-17/PJ/2013 Pengantar PER-11/PJ/2013
SE-18/PJ/2013 Pengantar PER-10/PJ/2013

MULAI MASA PAJAK JUNI 2013


1.

SPT Masa PPN 1111 PKP yg menggunakan mekanisme PM & PK (Normal)


Dasar Hukum: PER-11/PJ/2013 (ttg perubahan PER-44/PJ/2010) dan SE-17/PJ/2013
SPT Masa PPN 1111 dlm bentuk data elektronik wajib digunakan oleh :
a. PKP Badan
b. PKP OP yg
Melaporkan > 25 dokumen (FP/dokumen tertentu yg kedudukannya dipersamakan dgn FP
dan/atau Nota Retur/Nota Pembatalan) pd salah satu Lampiran SPT dlm 1 Masa Pajak; atau
Jml slr penyerahan brg dan jasanya dlm 1 Masa Pajak > Rp 400 juta.
PKP OP
Melaporkan < 25 dokumen (FP/dokumen tertentu yg kedudukannya dipersamakan dgn FP
dan/atau Nota Retur/Nota Pembatalan) pd setiap Lampiran SPT dlm 1 Masa Pajak; dan
Jml slr penyerahan brg dan jasanya dlm 1 Masa Pajak < Rp 400 juta.
dpt memilih menyampaikan SPT Masa PPN 111 dlm bentuk formulir kertas atau dlm bentuk elektronik
Tata cara penggantian FP dan pembetulan SPT Masa PPN sesuai PER-24/PJ/2012 berlaku
juga utk penggantian FP yg dilakukan stl berlakunya PER-24/PJ/2012 atas FP yg diterbitkan
sbl berlakunya PER-24/PJ/2012. (Pasal 11A PER-11/PJ/2013)
Isi Form 1111 B3:
PM yg mnr ketentuan perpajakan tdk dpt dikreditkan
PM yg mnr ketentuan perpajakan dpt dikreditkan namun tdk dikreditkan oleh PKP hrs
dilaporkan mulai Masa Pajak Juni 2013
PM yg mendapat fasilitas PPN sesuai dgn ketentuan perpajakan
SSP lbr ke-3 yg diterima dari Pemungut PPN atas penyerahan BKP dan/atau JKP kpd
Pemungut PPN:
PKP yg melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP kpd Pemungut PPN wajib melampirkan SSP
lbr ke-3 yg diterima dari Pemungut PPN dlm hal SSP tlh diterima oleh PKP
SSP lbr ke-3 tsb bukan mrp syarat kelengkapan SPT Masa PPN yg disampaikan oleh PKP yg
melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP kpd Pemungut PPN
Form 1111:
Form Induk
Form 1111 AB (Rekapitulasi Penyerahan & Pelaporan)
Form 1111 A1 (Daftar Ekspor BKP Berwujud, BKP Tdk Berwujud, dan/atau JKP)
Form 1111 A2 (Daftar PK atas Penyerahan DN dgn FP)
Form 1111 B1 (Daftar PM yg Dpt Dikreditkan atas Impor BKP & Pemanfaatn BKP Tdk
Berwujud/JKP dari Luar Daerah Pabean)
Fom 1111 B2 (Daftar PM yg Dpt Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP DN)

B101


2.

Form 1111 B3 (Daftar PM yg Tdk Dikreditkan atau yg Mendapat Fasilitas)

SPT Masa PPN 1111 DM PKP yg menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM


Ketentuan PKP yg menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM sama dgn aturan
utk mulai Masa Pajak Jan 2011
SPT Masa PPN 1111 DM dlm bentuk data elektronik wajib digunakan oleh :
a. PKP Badan
b. PKP OP yg menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM yg
Melaporkan > 25 dokumen (FP/dokumen tertentu yg kedudukannya dipersamakan dgn FP
dan/atau Nota Retur/Nota Pembatalan) pd salah satu Lampiran SPT dlm 1 Masa Pajak; atau
Jml slr penyerahan brg dan jasanya dlm 1 Masa Pajak > Rp 400 juta.
PKP OP yg tdk memenuhi angka 1b dpt memilih menyampaikan SPT Masa PPN 111 dlm bentuk
formulir kertas atau dlm bentuk elektronik
Isi tdk mengalami perubahan

3.

SPT Masa PPN 1107 PUT Pemungut PPN


Isi tdk mengalami perubahan

PER-1/PJ/2011 (berlaku sejak 11 Jan 2011 mulai Masa Pajak Jan 2011) jo PER-21/PJ/2013 (berlaku
sejak 30 Mei 2013 mulai masa Pajak Juni 2013) ttg Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT Masa
PPN
Pasal 4 PER-1/PJ/2011
SPT dianggap tdk lengkap apabila:
1. Nama dan/atau NPWP tidak dicantumkan dalam SPT;
2. Elemen-elemen Induk SPT & Lampiran SPT tdk atau kurang lengkap diisi;
3. Induk SPT tdk ditandatangani oleh PKP atau Pemungut PPN;
4. Induk SPT ditandatangani oleh Kuasa PKP / Kuasa Pemungut PPN, tetapi tdk dilampiri Surat
Kuasa Khusus;
5. SPT KB tetapi tdk dilampiri SSP/bukti Pbk;
6. SPT yg Lampiran SPT dan lampiran-lampiran lainnya yg dipersyaratkan tdk disampaikan, kecuali
tdk ada data yg dilaporkan dlm Lamp SPT tsb;
7. SPT disampaikan dlm bentuk kertas (hardcopy) oleh PKP yg wajib menyampaikan SPT dlm
bentuk media elektronik (e-SPT) sesuai perpu perpajakan.
8. Dlm hal SPT disampaikan dlm bentuk media elektronik berdasarkan pengujian data, diketahui:
a. induk SPT hasil cetakan yg disampaikan oleh PKP / Pemungut PPN tanpa disertai Lampiran
SPT dlm bentuk media elektronik;
b. induk SPT hasil cetakan yg disampaikan oleh PKP / Pemungut PPN tdk sesuai dgn Induk SPT
yg ada dlm bentuk media elektronik;
c. elemen-elemen data elektronik dlm bentuk media elektronik yg disampaikan oleh PKP /
Pemungut PPN tdk diisi atau diisi tdk lengkap;
d. data elektronik dlm bentuk media elektronik yg disampaikan oleh PKP / Pemungut PPN tdk
dpt diproses pd SI DJP.
Sejak tgl 23 Sept 2014:
SPT Masa PPN 111 LB Resitusi dianggap tdk lengkap bila: (Pasal 8A PER-25/PJ/2014)
Dlm hal SPT Masa PPN 111 LB dan dimintakan pengembalian (restiusi) dgn pengembalian
pendahuluan sesuai Pasal 17C UU KUP namun tdk dilampiri dgn slr dokumen dlm bentuk
hardcopy berupa:
a. PEB, Pemberitahuan Ekspor JKP/BKP Tdk Berwujud, sebagaimana dilaporkan dlm Form 1111
A1;
b. FP Keluaran dan Nota Retur/Nota Pembatalan, sebagaimana dilaporkan dlm Form 1111 A2;
c. PIB atas Impor BKP dan/atau SSP atas pemanfaatn BKP Tdk Berwujud/JKP dari luar daerah
pabean, sebagaimana dilaporkan dlm Form 1111 B1;

B102

d. FP Masukan dan Nota Retur/Nota Pembatalan, sebagaimana dilaporkan dlm Form 1111 B2;
e. FP Masukan dan/atau Nota Retur/Nota Pembatalan, sebagaimana dilaporkan dlm Form 1111
B3.
Dikecualikan dari aturan melampirkan dokumen tsb di atas dlm bentuk hardcopy, dlm hal dokumen
tsb berupa FP yg berbentuk elektonik (e-faktur)
Tata Cara Pengembalian Pendahuluan sesuai Pasal 17C UU KUP lihat di Bab B-15 Bagian A
Pasal 5 PER-1/PJ/2011
1. Thd SPT Lengkap yg disampaikan scr lsg diberikan tanda bukti penerimaan SPT stl dilakukan
proses penelitian dan/atau pengujian data.
2. Thd SPT yg disampaikan scr tdk lsg melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir dgn tanda
bukti pengiriman surat, tanda bukti pengiriman surat dianggap sbg tanda bukti penerimaan SPT
dan tanggal penerimaan SPT.
3. Dlm hal pengujian data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 8 belum dpt dilakukan krn
sarana komputer tdk berfungsi atau tempat penerimaan SPT blm dilengkapi dgn sarana pengujian
data (SPT loader), thd SPT tsb yg disampaikan scr lsg oleh PKP / Pemungut PPN diberikan tanda
bukti penerimaan SPT.
4. Tanda bukti penerimaan SPT sebagaimana dimaksud pd ayat (2) & (3) dianggap sah, apabila dlm
jangka waktu 30 hari sejak tanggal tanda bukti penerimaan SPT, KPP/KP2KP tdk menerbitkan
Surat Penolakan (format di Lamp IV PER-1/PJ/2011).
Lamp II PER-1/PJ/2011 Bagian I. Huruf A. Angka 4:
Petugas TPT pd Seksi Pelayanan menolak SPT yg disampaikan scr lsg atau yg disampaikan melalui
pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir dgn bukti pengiriman surat dlm hal:

PKP atau Pemungut PPN tsb tdk terdaftar di KPP; atau

SPT tdk lengkap,


dgn cara yaitu:
a. SPT yg disampaikan lsg oleh PKP / Pemungut PPN, ditolak dan dikembalikan scr lsg kpd PKP
atau Pemungut PPN utk dilengkapi.
b. SPT yg disampaikan melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir dgn BPS, ditolak dgn
mengirimkan kembali SPT dan membuat Surat Penolakan SPT Masa PPN rangkap 2 utk
ditandatangani oleh Kasi Pelayanan (lembar ke-1 utk PKP / Pemungut PPN, lembar ke-2 utk
arsip).

MASA PAJAK JAN 2011 - JUNI 2013


1.

SPT Masa PPN 1111 PKP yg menggunakan mekanisme PM & PK (Normal)


a. SPT Masa PPN 1111 dlm bentuk data elektronik wajib digunakan oleh PKP yg melaporkan lebih
dari 25 dokumen per Lampiran dlm 1 Masa Pajak. Tdk perlu dilampiri dgn Lampiran SPT Masa
PPN 1111 dlm hal tdk ada data yg dilaporkan dlm Lampiran SPT.
b. Dlm hal PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN 1111 utk Masa Pajak Januari 2011 dan
sesudahnya, utk:
Yg disampaikan dlm bentuk data elektronik, SPT Masa PPN Pembetulan dilampiri dgn
Lampiran SPT;
Yg disampaikan dlm bentuk formulir kertas, SPT Masa PPN Pembetulan cukup dilampiri dgn
Lampiran SPT yg dibetulkan.
Pembetulan SPT Masa PPN
a. Sbl Masa Pajak Januari 2011
Hrs menggunakan formulir lama sesuai SPT yg dibetulkan
b. Mulai Masa Pajak Januari 2011 dan Sesudahnya
Yg dilaporkan adalah :
Data elektronik yaitu Induk + semua Lampiran SPT 1111 (dlm bentuk data elektronik CSV)
Form kertas yaitu Induk + Lampiran SPT 1111 yg dibetulkan saja
Form 1111:
Form Induk

B103

2.

Form 1111 AB (Rekapitulasi Penyerahan & Pelaporan)


Form 1111 A1 (Daftar Ekspor BKP Berwujud, BKP Tdk Berwujud, dan/atau JKP)
Form 1111 A2 (Daftar PK atas Penyerahan DN dgn FP)
Form 1111 B1 (Daftar PM yg Dpt Dikreditkan atas Impor BKP & Pemanfaatn BKP Tdk
Berwujud/JKP dari Luar Daerah Pabean)
Fom 1111 B2 (Daftar PM yg Dpt Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP DN)
Form 1111 B3 (Daftar PM yg Tdk Dpt Dikreditkan atau yg Mendapat Fasilitas)

SPT Masa PPN 1111 DM PKP yg menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM


Hanya digunakan oleh PKP yg menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM:
PKP yg mempunyai peredaran usaha < Rp 1,8 M yg memilih utk menggunakan Pedoman
Penghitungan Pengkreditan PM sesuai PMK- 74/PMK.03/2010
PKP yg melakukan kegiatan usaha tertentu yg wajib menggunakan Pedoman Penghitungan
Pengkreditan PM sesuai PMK-79/PMK.03/2010, yaitu PKP yg kegiatan usaha semata-mata
melakukan:
Penyerahan Kendaraan Bermotor Bekas scr eceran ; atau
Penyerahan emas perhiaasan scr eceran
PKP yg mempunyai peredaran usaha dlm 1 tahun buku < Rp 1,8 M & melakukan kegiatan usaha
tertentu, wajib menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM berdasarkan kegiatan
usaha.
Pembetulan SPT Masa PPN 1111 DM sbl Masa Pajak Jan 2011:
PKP yg menggunakan Deemed PM melakukan pembetulan SPT Masa PPN utk Masa Pajak Apr
Des 2010, pembetulan dilakukan dgn menggunakan Formulir SPT Masa PPN yg dibetulkan.
Hal Penting Berkaitan dgn SPT Masa PPN 1111 DM:
1) Mekanisme Penghitungan
a. PM dihitung seb persentase tertentu dari PK
1) Berdasarkan Peredaran Usaha Tertentu maka:

Atas Penyerahan JKP maka PM = 60% x PK

Atas Penyerahan BKP maka PM = 70% x PK


2) Berdasarkan Kegiatan Usaha Tertentu maka :

Atas Penyerahan Kendaraan Bermotor Bekas Scr Eceran PM = 90% x PK

Atas penyerahan Emas Perhiasaan Scr Eceran PM = 80% x PK


b. PK dihitung seb tarif 10% dikalikan dgn Peredaran Usaha
c. Peredaran Usaha meliputi peredaran yg terutang PPN dan yg tdk terutang PPN dikurangi
retur barang yg diterima atau dikurangi dgn pembatalan jasa.
2) Prinsip PKP yg menggunakan Deemed PM akan selalu KB
Tapi Kemungkinan LB bisa terjadi apabila:
PKP melakukan pembetulan SPT yg menyebabkan peredaran usaha menjadi lbh kecil;
atau
Terdapat nota retur atau nota pembatalan yg jumlahnya > jml penyerahan dlm masa
pajak yg bersangkutan; atau
Terdapat PM hasil kompensasi dari Masa Pajak sebelumnya, namun hanya utk LB
sesudah PKP tsb menggunakan Deemed PM.
Maka apabila LB tsb berasal dari Masa Pajak pd saat PKP tsb menggunakan mekanisme
Normal, kelebihan tsb tdk dpt dikompensasikan. (SE-99/PJ/2010 angka 7 huruf a)
3) Mekanisme Deemed PM bahwa PKP tdk diperkenankan utk mengkreditkan PM atas
perolehan barang (termasuk barang modal) atau jasa yg diterima, shg PKP tsb:
Tdk akan pernah melakukan penghitungan kembali PM yg tlh dikreditkan
Tdk akan pernah mengalami skema gagal berproduksi

Form 1111 DM:


Form Induk
Form 1111 A DM (Daftar PK atas Penyerahan DN dgn FP)

B104

3.

Form 1111 R DM (Daftar pengembalian BKP dan Pembatalan JKP oleh PKP yg Menggunakan
Pedoman Penghitungan Pengkreditan PM)

SPT Masa PPN 1107 PUT Pemungut PPN


Mulai Masa Pajak Jan 2007. Dlm hal PKP melakukan pembetulan SPT utk Masa Pajak sbl Masa
Pajak Jan 2007, maka pembetulan dilakukan dgn menggunakan SPT Masa PPN 1195.
Form 1107 PUT:
Form Induk
Form 1107 PUT 1 (Daftar PPN dan PPnBM yg Dipungut oleh Bendaharawan Pemerintah)
Form 1107 PUT 2 (Daftar PPN dan PPnBM yg Dipungut oleh Selain Bendaharawan Pemerintah)

SBL 1 JAN 2011


1.

2.

Bagi PKP (non Wajib Pungut PPN)


a. SPT 1107 manual Mulai Masa Pajak Jan 2007
Diperuntukkan bagi PKP di luar wilayah DKI Jakarta dgn jml FP (keluaran dan atau masukan) <
30 pd suatu masa pajak. Namun demikian, PKP ini dpt juga memilih utk menggunakan aplikasi eSPT. (PER-146/PJ/2006)
b. E-SPT 1107
Slr jenis PKP dpt menggunakan aplikasi ini, namun ada bbrp jenis PKP yg diwajibkan
menggunakan aplikasi ini, yaitu :
PKP dgn jml FP (keluaran dan atau masukan) > 30 pd suatu masa pajak. PKP yg sdh
menggunakan aplikasi ini tdk boleh lagi utk beralih menggunakan form manual
PKP yg terdaftar di KPP Madya, KPP di wilayah Kanwil DJP Khusus dan Kanwil DJP WP
Besar (PER-6/PJ/2009)
c. SPT 1108 manual
Diperuntukkan bagi PKP yg terdaftar di Kanwil DKI Jakarta (selain Madya & Khusus) dgn jml FP
tdk melebihi 30 pd suatu masa pajak. (PER-29/PJ/2008). Masa mulai berlakunya form ini juga
dilakukan scr bertahap :
Kanwil Jakbar, mulai masa Okt 2008 (KEP-170/PJ/2008)
Kanwil Jaktim dan Jakut, mulai masa Des 2008 (KEP-192/PJ/2008)
Kanwil Jaksel, mulai masa Agust 2008 (KEP-127/PJ/2008)
Kanwil Jakpus, terbagi menjadi 3 tahap (KEP-112/PJ/2008)
Mulai Masa Pajak Januari 2008 meliputi: KPP Pratama JKT Gambir Dua, Gambir Tiga,
Tanah Abang Satu
Mulai Masa Pajak April 2008 meliputi: KPP Pratama JKT Gambir Satu, Gambir Empat,
Tanah Abang Dua, Tanah Abang Tiga, Sawah Besar Satu, Sawah Besar Dua
Mulai Masa Pajak Juni 2008 meliputi:
o KPP Madya Jakarta Pusat
o KPP Pratama JKT Menteng Satu, Menteng Dua, Menteng Tiga, Cempaka Putih,
Kemayoran, Senen
Bagi Wajib Pungut PPN, hanya ada 1 formulir yaitu 1107 PUT manual (tdk ada aplikasi e-SPTnya).

B105

PETUNJUK PENGISIAN UTK PEMBETULAN SPT MASA PPN 1111:


(Lamp II PER-11/PJ/2013 Bagian Petunjuk Pengisian Form 1111 SPT Masa PPN Huruf B Angka 3 Bagian
II Huruf F)
1.

Contoh pembetulan SPT Masa PPN utk PPN yg semula / sebelumnya dilaporan KB
1.1. SPT Masa PPN KB dibetulkan menjadi KB lbh kecil
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan KB Rp 1,1 juta dan tlh disetor ke
Kas Negara.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi KB lbh kecil yaitu Rp 1 juta.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat LB PPN Rp 100 ribu.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
1.000.000
Rp.
1.100.000
_________________
Rp.
(100.000)

(-)

Atas kelebihan PPN pd butir II.F Rp 100 ribu dpt:


1) dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011);
2) dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak
Jan 2011 yaitu Masa Pajak Apr 2011; atau
3) dimintakan kembali oleh PKP dlm hal memenuhi ketentuan dlm Pasal 9 ayat (4b) UU
PPN.

1.2. SPT Masa PPN KB dibetulkan menjadi KB lbh besar


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan KB Rp 13,5 juta dan tlh disetor
ke Kas Negara.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi KB lbh besar yaitu Rp 14 juta.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat KB PPN Rp 500 ribu.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
14.000.000
Rp.
13.500.000
_________________
Rp.
500.000

(-)

PKP wajib menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 500 ribu.

1.3. SPT Masa PPN KB dibetulkan menjadi Nihil.


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan KB Rp 1 juta dan tlh disetor ke
Kas Negara.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi Nihil.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat LB PPN Rp 1 juta.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
0
Rp.
1.000.000
_________________
Rp.
(1.000.000)

(-)

Atas kelebihan PPN pd butir II.F Rp 100 ribu dpt:


1) dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011);
2) dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak

B106

Jan 2011 yaitu Masa Pajak Apr 2011; atau


3) dimintakan kembali oleh PKP dlm hal memenuhi ketentuan dlm Pasal 9 ayat (4b) UU
PPN.
1.4. SPT Masa PPN KB dibetulkan menjadi LB
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan KB Rp 1 juta dan tlh disetor ke
Kas Negara.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi LB Rp 500 ribu.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat LB PPN Rp 1,5 juta.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

2.

PPN
Rp.
(500.000)
Rp.
1.000.000
_________________
Rp.
(1.500.000)

(-)

Atas kelebihan PPN pd butir II.F Rp 100 ribu dpt:


1) dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011);
2) dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak
Jan 2011 yaitu Masa Pajak Apr 2011; atau
3) dimintakan kembali oleh PKP dlm hal memenuhi ketentuan dlm Pasal 9 ayat (4b) UU
PPN.

Contoh pembetulan SPT Masa PPN utk PPN yg semula / sebelumnya dilaporkan LB
2.1. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi LB lbh besar
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 17 juta dan tlh
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 menunjukkan LB Rp 19 juta dan tlh dikompensasikan
ke Masa Pajak Mar 2011.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Mar 2011 menujukkan LB Rp 18 juta. Atas LB tsb diminta utk
dikompensasikan ke Masa Pajak Apr 2011.
d. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 dgn
hasil pembetulan LB menjadi lbh besar yaitu Rp 20 juta.
e. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat tambahan LB PPN Rp 3 juta.
f. Utk contoh kasus ini PKP mempunyai 2 pilihan (asumsi PKP memilih utk kompensasi
kelebihan pembayaran PPN bukan restitusi):
1) Pilihan I: mengkompensasikan kelebihan PPN pd butir II.F Rp 3 juta ke Masa Pajak
dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 yaitu Masa Pajak Apr
2011; atau
2) Pilihan II: mengkompensasikan kelebihan PPN pd butir II.D Rp 20 juta ke Masa Pajak
berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
sesuai dgn ketentuan peraturan perpu perpajakan.
1) Dlm hal PKP memilih pilihan I:
a) PKP cukup melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 saja dan
mengkompensasikan kelebihan PPN pd butir II.F Rp 3 juta ke Masa Pajak Apr 2011.
b) PKP tdk perlu melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan MasaMasa seterusnya.
c) Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
d)

PPN
Rp.
(20.000.000)
Rp.
(17.000.000)
_________________
Rp.
(3.000.000)

Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Masa Pajak Apr 2011:

B107

(-)

Formulir 1111 AB
Butir III.B.2:
Kompensasi kelebihan PPN krn
pembetulan SPT PPN Masa Pajak 01 - 2011

PPN
Rp.

3.000.000

2) Dlm hal PKP memilih pilihan II:


a) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 dan
mengkompensasikan kelebihan PPN pd butir II.D Rp 20 juta ke Masa Pajak Feb
2011.
b) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan Masa-Masa
seterusnya s.d. posisi LB menjadi KB, atau s.d. Masa Pajak saat pembetulan SPT
Masa PPN Masa Pajak Jan dilakukan. Dlm kasus ini PKP melakukan pembetulan
SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan Mar 2011.
c) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 dgn
membetulkan jml kompensasi yg berasal dari Masa Pajak Jan dari semula Rp 17
juta menjadi Rp 20 juta.
d) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Mar 2011 dgn
membetulkan jml kompensasi yg berasal dari Masa Pajak Feb dari semula Rp 19
juta menjadi Rp 22 juta.
e) Butir II.E dan II.F pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan, Feb, dan Mar
2011, tdk diisi.
f) Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan, Feb, dan Mar
2011:
SPT Masa PPN

g)

Penghitungan PPN
KB atau (LB)

PPN

Pembetulan
Masa Pajak Jan

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(20.000.000)

Pembetulan
Masa Pajak Feb

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(22.000.000)

Pembetulan
Masa Pajak Mar

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(21.000.000)

(-)

(-)

(-)

Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Masa Pajak Apr 2011:


Formulir 1111 AB
Butir III.B.1:
Kompensasi kelebihan PPN Masa Pajak
Sebelumnya

PPN
Rp.

21.000.000

2.2. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi LB lbh kecil


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 200 ribu dan tlh
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 menunjukkan LB Rp 300 ribu dan tlh dikompensasikan
ke Masa Pajak Mar 2011.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Mar 2011 menunjukkan LB Rp 250 ribu dan tlh dikompensasikan
ke Masa Pajak Apr 2011.
d. SPT Masa PPN Masa Pajak Apr 2011 menunjukkan KB Rp 100 ribu.
e. SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2011 menunjukkan KB Rp 225 ribu.
f. Pd bulan Juni 2011, dilakukan pembetulan utk SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 dgn
hasil pembetulan LB menjadi lbh kecil yaitu Rp 150 ribu.
g. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan terdapat KB PPN Rp 50 ribu.
h. Utk contoh kasus ini PKP mempunyai 2 pilihan (asumsi PKP memilih utk kompensasi

B108

kelebihan pembayaran PPN bukan restitusi):


1) Pilihan I: menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 50 ribu; atau
2) Pilihan II: mengkompensasikan LB hasil pembetulan pd butir II.D Rp 150 ribu ke Masa
Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011),
sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
1) Dlm hal PKP memilih pilihan I:
a) PKP cukup melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 saja dan
menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 50 ribu.
b) PKP tdk perlu melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan MasaMasa seterusnya.
c) Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan

PPN
Rp.
(150.000)
Rp.
(200.000)
__________________
Rp.
(50.000)

(-)

d)

Atas pembetulan SPT tsb PKP akan dikenai sanksi administrasi sesuai dgn
ketentuan perpu perpajakan.
2) Dlm hal PKP memilih pilihan II:
a) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 dan
mengkompensasikan kelebihan PPN pd butir II.D Rp 150 ribu ke Masa Pajak Feb
2011.
b) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan Masa-Masa Pajak
berikutnya yg terpengaruh oleh Pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011.
Dlm kasus ini PKP harus membetulkan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb, Mar, dan
Apr 2011.
c) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 dgn
membetulkan jml kompensasi yg berasal dari Masa Pajak Jan dari semula Rp 200
ribu menjadi Rp150 ribu.
d) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Mar 2011 dgn
membetulkan jml kompensasi yg berasal dari Masa Pajak Feb dari semula Rp 300
ribu menjadi Rp 250 ribu.
e) PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Apr 2011 dgn
membetulkan jml kompensasi yg berasal dari Masa Pajak Mar dari semula Rp 250
ribu menjadi R p200 ribu.
f) Butir II.E dan II.F pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan, Feb, dan Mar
2011, tdk diisi. Utk Masa Pajak Apr 2011, butir II.E dan II.F hrs diisi.
g) Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan, Febr, Mar, dan
Apr 2011:
SPT Masa PPN

Penghitungan PPN
KB atau (LB)

PPN

Pembetulan
Masa Pajak Jan

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(150.000)

Pembetulan
Masa Pajak Feb

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(250.000)

Pembetulan
Masa Pajak Ma

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

(200.000)

Pembetulan
Masa Pajak April

Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp.
Rp.

B109

(-)

(-)

(-)
150.000
100.000 (-)
50.000

h)
i)

PKP hrs menyetor PPN KB pd butir II. Rp 50 ribu.


PKP dikenai sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

2.3. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi Nihil.


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 1 juta dan tlh
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi Nihil.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat KB PPN Rp 1 juta.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.
f.

PPN
Rp.
0
Rp.
(1.000.000)
_________________
Rp.
1.000.000

(-)

PKP hrs menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 1 juta dan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan
Mar 2011 tdk perlu dibetulkan.
PKP dikenai sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

2.4. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi KB


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 1 juta dan tlh
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya yaitu Masa Pajak Feb 2011.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi KB Rp 250 ribu.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat KB PPN Rp 1,25 juta.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.
f.
3.

PPN
Rp.
250.000
Rp.
(1.000.000)
__________________
Rp.
1.250.000

(-)

PKP hrs menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 1,25 juta dan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb
dan Mar 2011 tia perlu dibetulkan.
PKP dikenai sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

Contoh pembetulan SPT Masa PPN utk PPN yg semula / sebelumnya dilaporkan LB, namun
SPT Masa PPN Masa Pajak stl Masa Pajak SPT Masa PPN yg dibetulkan blm dilaporkan
3.1. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi LB lbh besar
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 17 juta dan akan
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. Pd tanggal 10 Mar 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi LB lbh besar yaitu Rp 20 juta.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 blm dilaporkan.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
(20.000.000)
Rp.
0
_________________
Rp.
(20.000.000)

(-)

Dgn dilakukannya pembetulan thd SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011, maka LB pd SPT
Masa PPN yg dibetulkan seb Rp 17 juta tdk perlu diperhitungkan, shg butir II.E tdk perlu diisi
(diisi dgn angka 0).

B1010

3.2. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi LB lbh kecil


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 200 ribu dan akan
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. Pd tanggal 10 Mar 2011, dilakukan pembetulan utk SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi LB lbh kecil yaitu Rp150 ribu.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 blm dilaporkan.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
(150.000)
Rp.
0
_________________
Rp.
(150.000)

(-)

Dgn dilakukannya pembetulan thd SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011, maka LB pd SPT
Masa PPN yg dibetulkan Rp 200 ribu tdk perlu diperhitungkan, shg butir II.E tdk perlu diisi
(diisi dan angka 0).

3.3. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi Nihil


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 1 juta dan akan
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. Pd tanggal 10 Mar 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi Nihil.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 blm dilaporkan.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

PPN
Rp.
0
Rp.
0
_________________
Rp.
0

(-)

Dgn dilakukannya pembetulan thd SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011, tdk ada LB pd
Masa Pajak Jan 2011 yg dikompensasikan ke SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011, shg
butir II.E tdk perlu diisi (diisi dgn angka 0).

3.4. SPT Masa PPN LB dibetulkan menjadi KB


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 1 juta dan akan
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. Pd tanggal 10 Mar 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi KB Rp 250 ribu.
c. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 blm dilaporkan.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.

f.
g.
4.

PPN
Rp.
250.000
Rp.
0
_________________
Rp.
250.000

(-)

Dgn dilakukannya pembetulan thd SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011, tdk ada LB pd
Masa Pajak Jan 2011 yg dikompensasikan ke SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011, shg
butir II.E tdk perlu diisi (diisi dgn angka 0).
PKP hrs menyetor PPN KB Rp 250 ribu.
PKP dikenakan sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

Contoh pembetulan SPT Masa PPN utk PPN yg semula / sebelumnya dilaporkan Nihil
4.1. SPT Masa PPN Nihil dibetulkan menjadi LB
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan Nihil.

B1011

b.
c.
d.

Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi LB Rp 100 ribu.
Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat LB PPN Rp 100 ribu.
Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan

e.

PPN
Rp.
(100.000)
Rp.
0
__________________
Rp.
(100.000)

(-)

Atas kelebihan PPN pd butir II.F Rp100 ribu dpt:


1) dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011);
2) dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak
Jan 2011 (Masa Pajak Apr 2011); atau
3) dimintakan kembali oleh PKP dlm hal memenuhi ketentuan dlm Pasal 9 ayat (4b) UU
PPN.

4.2. SPT Masa PPN Nihil dibetulkan menjadi KB


a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan Nihil.
b. Pd bulan Apr 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011
menjadi KB Rp 750 ribu.
c. Shg pd SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan terdapat KB PPN Rp 750 ribu.
d. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan 2011:
Penghitungan PPN KB atau (LB)
Butir II.D - PPN KB (LB)
Butir II.E - PPN KB (LB) pd SPT yg dibetulkan
Butir II.F - PPN KB (LB) krn pembetulan
e.
f.
5.

PPN
Rp.
750.000
Rp.
0
__________________
Rp.
(750.000)

(-)

PKP hrs menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 750 ribu.


PKP dikenai sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

Contoh pembetulan SPT Masa PPN yg semula / sebelumnya dilaporkan LB dikompensasikan


menjadi LB direstitusi
a. Semula SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 berisi PK Rp 3 juta dan PM Rp 8 juta shg SPT
Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 menunjukkan LB Rp 5 juta. PPN LB tsb tlh dikompensasikan ke
Masa Pajak berikutnya (Masa Pajak Feb 2011).
b. SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 berisi PK Rp 6 juta dan PM Rp 9 juta (terdiri dari PM pd
Masa Pajak Feb 2011 Rp 4 juta dan kompensasi LB dari Masa Pajak Jan 2011 Rp 5 juta) shg
SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011 menunjukkan LB Rp 3 juta dan tlh dikompensasikan ke
Masa Pajak Mar 2011.
c. Pd bulan Maret 2011, dilakukan pembetulan atas SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 yaitu
kelebihan bayar yg sebelumnya dimintakan utk dikompensasi ke Masa Pajak berikutnya diubah
menjadi dimintakan kembali (direstitusi).
d. Akibat pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 tsb, PKP hrs melakukan pembetulan
SPT Masa PPN Masa Pajak Feb dan Masa-Masa seterusnya s.d. posisi LB menjadi KB, atau s.d.
Masa Pajak saat pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan. Utk contoh kasus ini, PKP hrs
melakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Feb 2011.
e. Pengisian pd formulir SPT Masa PPN Pembetulan Masa Pajak Jan dan Feb 2011:
SPT Masa PPN
Pembetulan
Masa Pajak Jan

Penghitungan PPN KB atau (LB)


Butir II.A
Butir II.C
Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

B1012

PPN
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

3.000.000
8.000.000 (-)
(5.000.000)
(5.000.000) (-)
0

Pembetulan
Masa Pajak Feb

f.
g.

Butir II.A
Butir II.C
Butir II.D
Butir II.E
Butir II.F

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

6.000.000
4.000.000 (-)
2.000.000
(3.000.000) (-)
5.000.000

PKP hrs menyetor PPN KB pd butir II.F Rp 5 juta.


PKP dikenai sanksi sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.

Catatan:
Utk contoh-contoh pembetulan SPT Masa PPN yg mengakibatkan kelebihan pembayaran PPN
dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN, namun SPT Masa PPN Masa
Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN tsb sdh disampaikan, maka kelebihan bayar tsb dpt
dikompensasikan ke SPT Masa PPN Masa Pajak stl Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa
PPN.
Contoh:
Dlm bulan Apr 2011 dilakukan pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Jan 2011 yg hasil pembetulannya
menunjukkan LB dan akan dikompensasikan ke Masa Pajak dilakukannya pembetulan SPT Masa PPN
Masa Pajak Jan 2011 yaitu Masa Pajak Apr 2011. Namun, apabila SPT Masa PPN Masa Pajak Apr 2011
sdh disampaikan, maka kelebihan bayar tsb dikompensasikan ke SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2011.

B1013

SPT TAHUNAN PPh


A. SPT TAHUNAN PPh
Dasar Hukum:
PP 94 Thn 2010
PER-34/PJ./2010 jo PER-26/PJ/2013 jo PER-19/PJ/2014
PER-4/PJ/2011 (berlaku sejak 10 Feb 2011) ttg Bentuk dan tata cara penggunaan template dlm
bahasa Inggris SPT Tahunan PPh WP Badan dan OP Thn Pajak 2010 beserta petunjuk
pengisiannya
PER-28/PJ/2011 (berlaku sejak 19 Sept 2011 utk pengisian SPT Tahunan PPh Thn Pajak 2011
dan seterusnya) ttg Bentuk & isi SPT Tahunan PPh bagi WP yg melakukan kegiatan di bidang
usaha hulu minyak dan/atau gas bumi
SE dan surat terkait:
SE-29/PJ/2010 ttg Pengisian SPT Tahunan PPh WP OP Bagi Wanita Kawin yg Melakukan
Perjanjian Pemisahan Harta dan Penghasilan atau yg Memilih utk Menjalankan Hak & Kewajiban
Perpajakannya Sendiri
S-1018/PJ.03/2014 tgl 28 Agust 2014
Batas Waktu Pelaporan/Pembayaran dan Perpanjangan SPT Tahunan lihat di Bagian B.05
Jenis SPT Tahunan
I.

SPT Tahunan PPh OP


1. SPT Tahunan 1770
Digunakan WP yg mempunyai penghasilan:
a. dari usaha/pekerjaan bebas yg menyelenggarakan pembukuan atau Norma
Penghitungan Penghasilan Neto;
b. dari 1 atau lbh pemberi kerja;
c. yg dikenakan PPh Final dan atau bersifat Final; dan/atau
d. penghasilan lain.
Yg wajib menggunakan SPT Tahunan PPh OP 1770:
a. Suami/istri yg melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas.
b. WP OP yg mempunyai penghasilan dari 1 atau lbh pemberi kerja tetapi tdk memiliki bukti
potong 1721-A1/A2 atau bukti potong lain.
c. WP OP yg tdk mempunyai penghasilan dari sumber manapun tetapi mempunyai NPWP.
2. SPT Tahunan 1770 S
Digunakan WP yg mempunyai penghasilan:
a. dari 1 atau lbh pemberi kerja;
b. dari DN lainnya; dan/atau
c. yg dikenakan PPh dan/atau bersifat final.
3. SPT Tahunan 1770 SS
Utk Thn Pajak 2009-2012:
Digunakan WP yg mempunyai penghasilan hanya dari satu 1 pemberi kerja dgn jml
penghasilan bruto dari pekerjaan < Rp 60 juta setahun dan tdk mempunyai penghasilan
lain kecuali penghasilan berupa bunga bank dan/atau bunga koperasi.
Mulai Thn Pajak 2013:
Digunakan WP yg mempunyai penghasilan selain dari usaha dan/atau pekerjaan
bebas dgn jml penghasilan bruto < Rp 60 juta setahun.
Dpt disampaikan dlm bentuk kertas atau e-SPT (menggunakan media elektronik atau melalui
e-filing)
Penggunaan format berwarna pd Form SPT 1770 SS (kertas) mulai thn pajak 2013
ditujukan agar WP tdk melakukan penggandaan sendiri shg menyulitkan proses scanning
& capturing di Unit Pengolahan Data dan Dokumen Pepajakan (UPDDP) nantinya. Utk itu
Form SPT 1770 SS (kertas) hanya dpt diperoleh dgn cara mengambil lsg ke KPP, KP2KP,

B111

Pojok Pajak dan Mobil Pajak. Cara mencetak sendiri menggunakan aplikasi PDF isian
atau menggandakan sendiri tetap dianggap lengkap sepanjang memenuhi ketentuan
mengenai bentuk, ukuran dan spesifikasi teknis yg tlh ditentukan (sekurang-kurangnya
memenuhi ukuran formulir & batas margin formulir yg ditentukan)
SPT
1770

1770 S

1770
SS

Dasar
Hukum

II.

Thn Pajak 2009

Thn Pajak
Thn Pajak 2014
Thn Pajak 2013
2010-2012
dst
Di pojok kiri atas tertulis Kementrian Keuangan

Di pojok kiri atas


tertulis Departemen
Keuangan
1770-III bagian A No. 2 tertulis bunga/diskonto
1770-III bagian A
obligasi
No. 2 tertulis
bunga/diskonto
obligasi yg
dilaporkan
perdagangannya
di bursa efek
1770-III bagian B No. 5 tertulis beasiswa
1770-III bagian B
No. 5 tertulis
beasiswa dalam
negeri
Dipojok kiri atas tertulis Kementrian Keuangan
Dipojok kiri atas
tertulis Departemen
Keuangan
1770 S-I bagian B No. 5 tertulis beasiswa
1770 S-I bagian B
No. 5 tertulis
beasiswa dalam
negeri
1770 S-II bagian A No. 2 tertulis bunga/diskonto
1770 S-II bagian A
obligasi
No. 2 tertulis
bunga/diskonto
obligasi yg
dilaporkan
perdagangannya
di bursa efek
Dipojok kiri atas tertulis Kementrian Keuangan
Dipojok kiri atas
tertulis Departemen
Keuangan
Terdiri dari Bagian Identitas (7 butir),
Terdiri dari Bagian Identitas (2 butir),
Jumlah Keseluruhan Harta yang
Pajak Penghasilan, Penghasilan
Dimiliki Pada Akhir Tahun, dan
yang Dikenakan PPh Final dan yang
Jumlah Keseluruhan Kewajiban/
Dikecualikan dari Objek Pajak dan
Utang Pada Akhir Tahun
Daftar Harta dan Kewajiban
PER-34/PJ/2009 jo
PERPER-26/PJ/2013
PER-19/PJ/2014
PER-66/PJ/2009
34/PJ/2010

SPT Tahunan PPh Badan


1.
2.

SPT Tahunan PPh 1771 utk WP Badan yg menggunakan pembukuan dgn Bahasa
Indonesia & mata uang Rupiah
SPT Tahunan PPh 1771 $ utk WP Badan yg menggunakan pembukuan dgn bahasa
asing & mata uang selain Rupiah

Yg Tdk Wajib Menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan (dan SPT Masa PPh Pasal 25)
a. WP (termasuk Bendahara) yg tdk termasuk ke dlm pengertian WP Badan

B112

b.

Kantor cabang dari suatu perseroan (krn yg wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh WP
Badan hanyalah kantor pusatnya saja lihat S-979/PJ.313/2004)
c. Joint Operation, (lihat S-60/PJ.422/1994, S-251/PJ.313/1998, S-323/PJ.42/1989, kewajiban
yg ada hanya sbg WP pemotong/pemungut PPh Pasal 21, PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26
atau PPN)
d. Representative Office (Kantor Perwakilan Dagang Asing) yg dlm ketentuan UU PPh atau Tax
Treaty tdk termasuk ke dlm pengertian BUT (lihat SE-18/PJ.431/1992, S-545/PJ.312/2003)
BUT wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan namun tdk wajib menyampaikan SPT Masa
PPh Pasal 25
SPT
Induk

Lamp
Khusus

Thn Pajak 2010Thn Pajak 2014 dst


2013
Di pojok kiri atas tertulis Kementrian
Keuangan
1771 Induk bagian C No. 10 menjadi dihapus

Thn Pajak 2009

Di pojok kiri atas tertulis


Departemen Keuangan
1771 Induk bagian C No.10
tertulis PPh pasal 25 ayat
(8)/Fiskal Luar Negeri
1771 Induk bagian D No.13 terdapat kata-kata Khusus
Restitusi untuk Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu :

1771-I No. 2, di dlm kurung tertulis


diisi dari Lamp 7A kolom 4
1771-IV Bagian A No. 2 tertulis
bunga/diskonto obligasi yg
dilaporkan perdagangannya di
bursa efek
1771-V Bagian A, dan Bagian B,
kolom nama & alamat dijadikan 1
1771-VI Bagian A, kolom nama &
alamat dijadikan 1
Jml neto di Lamp Khusus 7A ada
di kolom 4
Lamp Khusus Transkrip LK
8A-1: Manufaktur
8A-2: Dagang
8A-3: Bank Konvensional
8A-4: Bank Syariah
8A-5: Perusahaan Asuransi
8A-6: Non-Kualifikasi

Dasar
Hukum

PER-39/PJ/2009

1771 Induk bagian D


No.13 terdapat
penambahan katakata Khusus
Restitusi untuk
Wajib Pajak dengan
Kriteria Tertentu
atau Wajib Pajak
yang Memenuhi
Persyaratan
Tertentu:
1771-I No. 2, di dlm kurung tertulis diisi dari
Lamp 7A kolom 5
1771-IV Bagian A No. 2, tertulis
bunga/diskonto obligasi

1771-V Bagian A dan Bagian B, menjadi


kolom nama & alamat terpisah
1771-VI Bagian A, menjadi kolom nama &
alamat terpisah
Jml neto di Lamp Khusus 7A ada di kolom 5
(dikarenakan penambahan kolom alamat yg
dijadikan di kolom 3)
Lamp Khusus Transkrip LK
8A-1: Manufaktur
8A-2: Dagang
8A-3: Bank Konvensional
8A-4: Bank Syariah
8A-5: Perusahaan Asuransi
8A-6: Non-Kualifikasi
8A-7: Dana Pensiun
8A-8: Perusahaan Pembiayaan
PER-34/PJ/2010
PER-19/PJ/2014

SPT Tahunan PPh Migas


SPT Tahunan PPh bagi WP yg melakukan kegiatan di bidang usaha hulu minyak dan/atau gas
bumi adalah sebagaimana ditetapkan dlm PER-34/PJ./2010 dgn dilampiri (mulai Thn Pajak 2011):

B113

a.

b.

Lamp keterangan/dokumen:
Financial Quarterly Report (FQR) utk periode terakhir Thn Pajak yg bersangkutan; dan
Bukti penyetoran PPh
Lamp Khusus:
Lamp Khusus Penghitungan PPh bagi KKKS Migas (Lamp I PER-28);
Lamp Khusus Rincian Biaya dlm Rangka Kontrak Kerja Sama Migas (Lamp II PER28/PJ/2011); dan
Lamp Khusus Daftar Penyusutan dlm Rangka Kontrak Kerja Sama Migas (Lamp III PER28/PJ/2011)
Pengisian Lampiran V Form 1771-V & 1771-V / $ (berdasar Buku Petunjuk Pengisian SPT
Tahunan PPh Badan dan SE-02/PJ.42/2003):
WP yayasan dan badan-badan lain yg tdk dimiliki atas dasar penyertaan modal, serta
KIK Reksa Dana dan KIK-EBA, cukup mengisi Daftar Pemegang Saham/Pemilik Modal
dgn pernyataan Tidak Ada pd kolom (2).
WP PMB, pemegang saham publik tdk perlu dirinci per nama (dpt dinyatakan scr
kumulatif) kecuali apabila kepemilikan sahamnya berjumlah > 5% dari jml modal disetor.
Daftar Susunan Pengurusan dan Komisaris diisi lengkap tetapi tdk termasuk tingkat
manajer.
Bagi pemegang saham/pemilik modal serta pengurus & komisaris yg mrp WP DN dan
menerima atau memperoleh penghasilan yg melebihi PTKP wajib mencantumkan NPWP
dlm SPT Tahunan PPh WP Badan.
Bagi pemegang saham/pemilik modal serta pengurus & komisaris yg tdk bertempat
tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia < 183 hari dlm jangka waktu 12 bulan dan
atau menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia, tdk wajib mencantumkan
NPWP dlm SPT Tahunan PPh WP Badan.
Bagi istri yg tdk mengadakan perjanjian pemisahan harta & penghasilan dgn suami dan
bagi anak yg blm dewasa (anak yg blm berumur 18 thn & blm pernah menikah), yg
menjadi pemegang saham/pemilik modal dan atau pengurus & komisaris, wajib
mencantumkan NPWP suami/bapak dlm SPT Tahunan PPh WP Badan.
Apabila dlm mengisi SPT Tahunan PPh WP Badan dibantu konsultan pajak, WP
diwajibkan utk mengisi identitas konsultan pajak (Nama & NPWP).

Ketentuan Terkait
a. Penghasilan yg Diterima/diperoleh OP dari Badan yg Tdk Wajib Memotong PPh Pasal 21
(Pasal 14 PP 94 Thn 2010)
OP DN yg menerima/memperoleh penghasilan di atas PTKP sehubungan dgn pekerjaan dari
badan-badan yg tdk wajib melakukan pemotongan pajaksesuai Pasal 21 ayat (2) UU PPh, wajib:
memiliki NPWP;
melaksanakan sendiri penghitungan & pembayaran PPh yg terutang dlm tahun berjalan; dan
melaporkan penghitungan & pembayaran PPh yg terutang dlm thn berjalan dlm SPT
Tahunan.
b. PPh 21, 22, 23 yg Dipotong/dipungut Sbl Memiliki NPWP (Pasal 20 PP 94 Thn 2010 &
penjelasannya)
PPh yg dipotong/ dipungut berdasarkan tarif pemotongan/pemungutan sesuai Pasal 21 ayat (5a),
Pasal 22 ayat (3), dan Pasal 23 ayat (1a) UU PPh, dpt dikreditkan thd PPh yg terutang utk thn
pajak yg bersangkutan stl WP tsb memiliki NPWP.
c. Hak & Kewajiban Perpajakan Wanita Kawin (Angka 3 SE-29/PJ/2010)
1. Bagi wanita kawin yg melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan atau yg
memilih utk menjalankan hak & kewajiban perpajakannya sendiri wajib menyampaikan SPT
Tahunan PPh WP OP atas namanya sendiri terpisah dgn SPT Tahunan PPh suaminya.
2. Penghasilan yg dilaporkan dlm SPT Tahunan PPh wanita kawin pd angka 1 adalah slr
penghasilan yg diterima atau diperoleh wanita kawin tsb dlm suatu thn pajak, tdk termasuk
penghasilan anak yg blm dewasa.

B114

3.

4.

Penghitungan PPh terutang dlm SPT Tahunan PPh wanita kawin pd angka 1 didasarkan pd
penggabungan penghasilan neto suami isteri dan besarnya PPh terutang bagi isteri tsb
dihitung sesuai dgn perbandingan penghasilan neto antara suami dan isteri.
Penghitungan PPh terutang pd angka 3, berlaku juga bagi wanita kawin sbg pegawai yg
mempunyai penghasilan semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 pemberi kerja yg tlh
dipotong PPh Pasal 21.

Uraian
Pelaksanaan hak
& kewajiban
perpajakan
NPPW yg tlh ada

Penghasilan yg
diterima/diperoleh

Penghasilan
wanita kawin yg
semata-mata
diterima atau
diperoleh dari 1
pemberi kerja
Pemotongan atau
pemungutan PPh
Perhitungan PPh
Kewajiban
Penyampaian
SPT Tahunan
Hak & kewajiban
lainnya

Tdk Berkehendak Menjalankan Hak &


Kewajiban Perpajakan Scr Terpisah dgn
Suami
Menggunakan NPWP suami

Wajib mengajukan permohonan


penghapusan NPWP

Dianggap sbg penghasilan/kerugian


suaminya
Kecuali:
Penghasilan tsb semata-mata diterima/
diperoleh dari 1 pemberi kerja yg tlh
dipotong PPh Pasal 21 dan pekerjaan tsb
tdk ada hubungannya dgn
usaha/pekerjaan bebas suami atau
anggota keluarga lainnya
Apabila tlh dipotong PPh Pasal 21 dan
pekerjaan tsb tdk ada hubungannya dgn
usaha/pekerjaan bebas suami atau
anggota keluarga lainnya, maka PPh
Pasal 21 yg tlh dipotong bersifat final
Wajib menunjukkan NPWP sumai atau
kepala keluarga kpd pemotong/pemungut
PPh
Berdasarkan Pasal 8 ayat (1) UU PPh
Ada pd pihak suami

B. CONTOH KASUS KHUSUS TTG PTKP


Dasar Hukum:
PER-34/PJ./2010 jo PER-26/PJ/2013 jo PER-19/PJ/2014
SE dan surat terkait:
SE-29/PJ/2010
S-1018/PJ.03/2014
Contoh 1 4: Sumber dari Buku Petunjuk Pengisian SPT 1770 & 1770 S
Contoh 5: Sumber dari Buku Petunjuk Pengisian SPT 1770

B115

Berkehendak
Menjalankan Hak &
Kewajiban Perpajakan
Scr Terpisah dgn Suami
Menggunakan NPWP
sendiri
Wajib menyampaiakn
Surat Penrytaan
Menghendaki
Menjalankan Kewajiban
Perpajakan scr Terpisah
Dianggap sbg
penghasilan/kerugian
sendiri

PPh Pasal 21 yg tlh


dipotong tdk bersifat final

Wajib menunjukkan
NPWP-nya sendiri kpd
pemotong/ pemungut PPh
Berdasarkan Pasal 8 ayat
(3) UU PPh
Dilakukan sendiri oleh
wanita kawin

1.

2.

3.

Seorang WP menerima atau memperoleh penghasilan neto Thn Pajak 2010 seb Rp 96,8 juta. WP
berstatus kawin dan mempunyai 3 orang anak, sedangkan istrinya tdk mempunyai penghasilan
sendiri. Penghitungan pajak dgn penerapan tarif tsb di atas dilakukan sbb:
Penghasilan Neto 1 thn
PTKP
PKP

=
=
=

Rp 96,8 juta
Rp 21,12 juta +/+
Rp 75,68 juta

PPh terutang:
5% x Rp 50 juta
15% x Rp 25,68 juta
Jml

=
=

Rp 2,5 juta
Rp 3,852 juta +/+
Rp 6,352 juta

Seorang WP yg berstatus tdk kawin baru datang dan mempunyai niat menetap di Indonesia utk
selama-lamanya pd awal Okt 2010 dan menerima atau m,eperoleh penghasilan dari usaha mulai
Okt s.d. Des 2010 seb Rp 5.750.230. Atas penghasilan tsb, dilakukan penerapan tarif pajak sbb:
Penghasilan 3 bulan
Penghasilan 1 thn
12/3 x Rp 5.750.230

Rp 5.750.230

Rp 23.000.920

PTKP
PKP
Dibulatkan menjadi (utk penerapan tarif)

=
=
=

Rp 15,84 juta +/+


Rp 7.160.920
Rp 7,16 juta

PPh yg terutang 1 thn: = 5% x Rp 7,16 juta


PPh yg terutang thn 2010 (3 bulan): 3/12 x Rp 358 ribu

=
=

Rp 358 ribu
Rp 89,5 ribu

Seorang WP dlm thn 2010 menerima atau memperoleh penghasilan neto seb Rp 219,608 juta.
WP berstatus kawin pisah harta dan mempunyai 3 orang anak, sedangkan istrinya menerima
atau memperoleh penghasilan neto dari usaha seb Rp 109,192 juta.
Penerapan tarif utk @ suami & istri adalah sbb:
Penghasilan Neto suami
Penghasilan Neto istri
Penghasilan Neto gabungan
PTKP (K/I/3)
PKP
PPh terutang gabungan (suami & istri):
5% x Rp 50 juta
15% x Rp 200 juta
25% x Rp 41,4 juta
a.

b.

4.

Utk SPT suami


PPh terutang
Utk SPT istri:
PPh terutang

=
=
=

=
=
=
=
=

Rp 219,608 juta
Rp 109,192 juta +/+
Rp 3028,8 juta
Rp 37,4 juta -/Rp 291,4 juta

Rp 2,5 juta
Rp 30 juta
Rp 10,35 juta +/+
Rp 42,85 juta
=

Rp 219,608 juta
Rp 328,8 juta

Rp 42,85 juta

Rp 28.619.838

Rp 109,192 juta
Rp 328,8 juta

Rp 42,85 juta

Rp 14.230.162

Dlm hal suami & istri tlh hidup berpisah, penghitungan PKP-nya dilakukan sendiri-sendiri
(menggunakan 2 SPT tahunan PPh WP OP yg berbeda). PTKP bagi suami dan istri yg tlh hidup
berpisah diperlakukan seperti WP tdk kawin (TK), sedangkan tangungan sesuai dgn kenyataan
sebenarnya yg diperkenankan.

B116

Contoh perhitungan sbb:


Seorang WP(suami) dlm thn 2010 menerima atau memperoleh penghasilan neto seb Rp
219,608 juta. WP berstatus hidup berpisah (HB) dan mempunyai 3 orang anak, sedangkan
istrinya menerima atau memperoleh pengahilan neto dari usaha seb Rp 109,192 juta.
a.

b.

Perhitungan PPh terutang bagi suami:


Penghasilan Neto suami
PTKP (TK/3)
PKP

=
=
=

Rp 219,608 juta
Rp 19,8 juta -/Rp 199,808 juta

PPh terutang suami:


5% x Rp 50 juta
15% x Rp 149,808 juta

=
=

Rp 2,5 juta
Rp 22,4712 juta +/+
Rp 24,9712 juta

Perhitungan PPh terutang bagi istri:


Penghasilan Neto istri
PTKP (TK)
PKP

=
=
=

Rp 109,192 juta
Rp 15,84 juta -/Rp 93,352 juta

PPh terutang istri:


5% x Rp 50 juta
15% x Rp 43,352 juta

=
=

Rp 2,5 juta
Rp 6,5028 juta +/+
Rp 9,0028 juta

Contoh Perhitungan pd Kasus 3 & 4 di atas dibuat di dlm lembar tersendiri dan sbg Lampiran
di dlm penyampaian SPT bagi WP yg kawin pisah harta dan penghasilan istri yg menghendaki
utk menjalankan hak & kewajibannnya sendiri, baik suami maupun istri.
5.

Data:
Nama
NPWP
Pekerjaan
Status
Tanggungan

:
:
:
:
:

Hendra Sialagan
08.296.172.2-007.000
Dagang Tekstil/Direktur CV Inovasi
Menikah
1 orang anak (PTKP K/I/1)

Thn 2010:
Peredaran bruto atau omzet dari usaha dagang tekstil Hendra Sialagan adalah Rp 1 M
(berdasarkan KEP-536/PJ/2000, persentase norma perkiraan penghasilan neto ata usaha
dagang tekstil adalah 30%).
Penghasilan lainnya pd thn 2010:
1. Jasa angkutan darat (angkutan kota), (berdasarkan KEP-536/PJ/2000, persentase norma
perkiraan penghasilan neto ata jasa angkutan darat adalah 25%) dgn omzet seb Rp 400
juta
2. Gaji bersih sbg direktur di CV Inovasi seb Rp 44,4 juta
3. Keuntungan dari penjualan [perhiasan emas seb Rp 38 juta (Hendra Sialagan membeli
perhiasan emas seharga Rp 40 juta dan kemudian dijual seharga Rp 76 juta)
Data tanbahan:
Bahwa Hendra Sialagan memiliki istri bernama Megan Susilawati dan mempunyai NPWP
07.890.123.4-567.000 (NPWP sendiri yg terpisah dgn suami) dan menerima penghasilan neto
selama thn 2010 total seb Ro 141 juta yg berasal dari:
1. Penghasilan sbg karyawan Rp 129 juta
2. Penghasilan dari keuntungan selisih kurs Rp 12 juta
Dari data di atas perhitungan PPh bagi Hendra Sialagan dan istrinya Megan Susilawati yg @
memiliki NPWP tsb dibuatkan lembar perhitungan sendiri di bawah ini.

B117

B118

Lampiran S-1018/PJ.03/2014 tgl 28 Agust 2014:

B119

B1110

B1111

C. PENERIMAAN & PENGOLAHAN SPT TAHUNAN PPh


Dasar Hukum:
PER-26/PJ/2012 (berlaku sejak 01 Jan 2013) ttg Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT
Tahunan mencabut PER-19/PJ/2009 stdtd PER-48/PJ/2011
SE terkait:
SE-55/PJ/2012 ttg Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan

No.
1.

2.

3.

Uraian
Penyampaian SPT

SPT yg Hrs
Disampaikan ke TPT
KPP Tempat WP
Terdaftar (meliputi
TPT KPP & KP2KP)
SPT KPP Sendiri
Diteliti di Depan

4.

Penelitian SPT
Pembetulan

5.

SPT Dianggap Tdk


Disampaikan

Pokok-Pokok Perubahan 2013


Lama
Baru
Penyampaian SPT dlm
Penyampaian SPT tdk dlm
amplop
amplop.
Apabila disampaikan dlm
amplop/kemasan lain,
Petugas hrs membukanya
SPT LB
SPT LB
SPT Pembetulan
SPT Pembetulan
SPT yg disampaikan
SPT yg disampaikan lewat
lewat waktu
waktu
e- SPT
SPT KPP Sendiri dan
SPT KPP Lain tdk diteliti di
SPT KPP Lain tdk diteliti
depan
di depan
SPT KPP Sendiri diteliti di
WP lsg diberi tanda
depan
terima SPT
Apabila lengkap, WP
diberi tanda terima SPT
dan SPT di-stempel
LENGKAP
Apabila tdk lengkap, SPT
dikembalikan disertai
lembar penelitian SPT
Petugas: Peneliti
Petugas: AR dari WP ybs
Proses: Penelitian
Proses:
kelengkapan SPT
Pengecekan syarat
penyampaian SPT
pembetulan (UU KUP
Pasal 8 ayat (1), (1a) dan
(6)
Penelitian kelengkapan
SPT
Pemberitahuan SPT
Pemberitahuan SPT dianggap
dianggap tdk
tdk disampaikan dilakukan1
disampaikan dilakukan1
atas SPT yg:
atas SPT yg:
Tdk ditandatangani
Tdk ditandatangani
Tdk dilampiri
keterangan/dokumen
Tdk dilampiri
keterangan/dokumen
LB disampaikan stl 3 thn
& tlh ditegur tertulis
Disampaikan stl
diperiksa/ diterbitkan SKP

Ket:
1
Atas butir 5 thd SPT yg tdk diitandatangani dan/ tdk dilampiri keterangan/dokumen dilakukan
permintaan kelengkapan SPT dahulu. 30 hari berikutnya apabila WP tdk merespon maka dilakukan
pemberitahuan SPT dianggap tdk disampaikan.

B1112

Penyampaian SPT Tahunan PPh: (Pasal 2 PER-26/PJ/2012)


1. WP dpt menyampaikan SPT Tahunan dgn cara:
a. lsg;
b. dikirim melalui pos dgn bukti pengiriman surat ke KPP tempat WP terdaftar;
c. dikirim melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dgn bukti pengiriman surat ke KPP
tempat WP terdaftar;
d. e-Filing melalui website DJP (www.pajak.go.id) atau Penyedia Jasa Aplikasi/Application
Service Provider (ASP).
2. Penyampaian SPT Tahunan scr lsg pd ayat (1) huruf a dpt dilakukan di TPT, Pojok Pajak, Mobil
Pajak atau Drop Box di mana saja yg disediakan oleh DJP.
3. Penyampaian SPT Tahunan scr lsg pd ayat (1) huruf a hrs disampaikan di TPT KPP tempat WP
terdaftar, dlm hal:
a. SPT Tahunan LB;
b. SPT Tahunan pembetulan;
c. SPT Tahunan yg disampaikan stl batas waktu penyampaian SPT; dan/atau
d. SPT Tahunan dlm bentuk e-SPT;
4. Penyampaian SPT Tahunan scr lsg pd ayat (1) huruf a dilakukan tdk dlm amplop atau kemasan
lainnya.
5. Penyampaian SPT Tahunan melalui pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir pd ayat
(1) huruf b / c dilakukan dlm amplop tertutup yg tlh dilekati lembar informasi amplop SPT Tahunan
yg berisi data sbb:
a. Nama WPk;
b. NPWP;
c. Thn Pajak;
c. Status SPT (Nihil/KB/LB);
d. Jenis SPT (SPT Tahunan/SPT Tahunan Pembetulan Ke-...);
e. Perubahan Data (Ada/Tdk Ada);
f. Nomor Telepon;
g. Pernyataan; dan
h. Tanda Tangan WP.
6. Format lembar informasi pd ayat (5) dilekatkan pd amplop SPT Tahunan mengacu pd Lamp I
PER-26/PJ/2012.
7. Dlm hal WP mengalami perubahan data, WP hrs mengisi dan melampirkan lembar perubahan
data identitas WP.

B1113

LEMBAR INFORMASI AMPLOP SPT TAHUNAN YANG DISAMPAIKAN MELALUI POS ATAU
PERUSAHAAN JASA EKSPEDISI ATAU JASA KURIR
NPWP

Nama Wajib Pajak

Tahun Pajak

Status SPT*

Nihil

Kurang Bayar

Jenis SPT*

SPT Tahunan

SPT Tahunan Pembetulan Ke-...

Perubahan Data*

:
:

No. Telp/HP

Pernyataan

Tanda Tangan

Lebih Bayar

Ada
Tidak Ada
Jika ada perubahan data Wajib Pajak, maka tempelkan formulir perubahan
data pada amplop SPT Tahunan

Dengan menyadari sepenuhnya atas segala akibat termasuk sanksi-sanksi


sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, saya
menyatakan bahwa informasi pada amplop ini sesuai dengan SPT Tahunan
yang terdapat dalam amplop ini.

Keterangan :
a. *) isilah tanda silang (X) pada kotak
yang sesuai.
b. Jika merupakan SPT Tahunan Pembetulan maka isi pembetulan yang ke berapa kalinya.
Sumber: Lamp I PER-26/PJ/2012

B1114

Kriteria SPT Tahunan/e-SPT Tahunan Dinyatakan Tdk Lengkap (Pasal 3 PER-26/PJ/2012)


1. NPWP atau nama WP tdk dicantumkan dlm SPT Induk dgn lengkap & jelas
2. SPT Induk tdk ditandatangani oleh WP atau Kuasanya
3. SPT Induk ditandatangani oleh kuasa WP tetapi tdk dilampiri dgn Surat Kuasa Khusus atau
SPT Tahunan PPh OP ditandatangani oleh ahli waris tetapi tdk dilampiri dgn Surat Keterangan
Kematian dari Instansi yg berwenang
4. Terdapat elemen SPT Induk yg diisi tdk lengkap
5. SPT KB tetapi tdk dilampiri dgn bukti pelunasan berupa SSP yg sesuai
6. SPT tdk atau kurang disertai dgn lampiran pd Formulir sesuai Lamp IV butir I.A.,butir II.A, butir
III.A dan butir IV.A PER-26/PJ/2012
7. SPT Tahunan tdk atau kurang disertai dgn Lampiran Keterangan dan/atau Dokumen yg
Disyaratkan sesuai Lamp IV butir I.A s.d. butir IV.A atau butir I.B s.d. butir IV.B pd PER-26
8. Lamp Daftar Harta dan Kewajiban Pada Akhir Tahun dan Daftar Susunan Anggota
Keluarga dlm SPT Tahunan PPh OP dilampirkan tetapi diisi tdk lengkap
9. Lamp Daftar Pemegang Saham/Pemilik Modal dan Daftar Susunan Pengurus dan
Komisaris dlm SPT Tahunan PPh Badan dilampirkan tetapi diisi tdk lengkap;
10. Terdapat Lampiran Khusus sesuai Lamp IV butir I.A s,d, butir IV.A atau butir I.B s.d. butir IV.B
pd PER-26/PJ/2012 yg diisi tdk lengkap
11. SPT Induk hasil cetakan dari aplikasi e-SPT Tahunan yg disampaikan oleh WP tdk dilampiri
dgn media elektronik yg berisi data digital SPT Tahunan
12. e-SPT Tahunan yg data digitalnya disampaikan dgn menggunakan media elektronik, tetapi isi
datanya tdk sesuai dgn SPT Induk hasil hasil cetakan yg disampaikan oleh WP
13. e-SPT Tahunan yg data digitalnya disampaikan dgn menggunakan media elektronik tetapi tdk
dpt di-load pd aplikasi SI Perpajakan di DJP
14. e-SPT Tahunan yg data digitalnya disampaikan dgn menggunakan media elektronik tetapi
elemen-elemen datanya tdk diisi atau diisi tetapi tdk lengkap
15. e-SPT Tahunan yg data digitalnya disampaikan melalui e-filing tetapi elemen-elemen data
digitalnya tdk diisi atau diisi tetapi tdk lengkap.
Kriteria Perseroan Terbatas yg wajib diaudit oleh akuntan publik: (Pasal 68 ayat (1) & (2) UU 40
Thn 2007 ttg Perseroan Terbatas ):
Direksi wajib menyerahkan LK Perseroan kpd akuntan publik utk diaudit apabila:
kegiatan usaha Perseroan adalah menghimpun dan/ atau mengelola dana masyarakat;
Perseroan menerbitkan surat pengakuan utang kpd masyarakat;
Perseroan mrp Perseroan Terbuka;
Perseroan mrp persero;
Perseroan mempunyai aset dan/atau jml peredaran usaha dgn jml nilai paling
sedikit Rp 50 M; atau
diwajibkan oleh perpu.
Dlm hal kewajiban di atas tdk dipenuhi, LK tdk disahkan oleh RUPS.

B1115

Alur Penerimaan & Pengolahan SPT Tahunan:

No.

Pokok Bahasan

1.
2.
3.

Penelitian SPT
SPT Kolektif
Pembuatan & Perekaman Detil BA

4.

Penyortiran SPT KPP Lain

5.
6.

Pengiriman SPT
Pengawasan SPT yg Diterima dari
KPP Lain dan Melalui Pos
Permintaan Kelengkapan SPT
Pencetakan LPAD
Aplikasi Pendukung

7.
8.
9.

Kode Posisi pd Alur Proses


sesuai SE-55/PJ/2012
B (Penerimaan Lsg), H (Penelitian)
B (Penerimaan Lsg)
A (Distribusi Tanda Terima), D (Pengumpulan
SPT)
E (Perekaman Tanda Terima), F (Pengiriman
SPT ke KPP Lain)
F (Pengiriman SPT ke KPP Lain)
G (Penerimaan SPT dari KPP Lain)
I (Permintaan Kelengkapan SPT)
L (Pencetakan LPAD)
E (Perekaman Tanda Terima)

Kriteria Utama Ukuran Kesuksesan Pelaksanaan Drop Box:


1. BA dibuat dan direkam setiap hari
2. Pengiriman SPT ke KPP Lain dlm jangka waktu 10 hari sejak diterima di KPP
3. Pengiriman SPT ke KPP atasan dlm jangka waktu 7 hari sejak SPT diterima di KP2KP
4. Penelitian SPT LB dlm jangka waktu 18 hari sejak diterima melalui pos
5. Penelitian SPT yg diterima dari KPP Lain dlm jangka waktu 2 bulan sejak diterima
6. Perekaman isi SPT:
a. 1 bulan sejak SPT LB diterima lengkap
b. 3 bulan sejak SPT KB/N diterima lengkap

B1116

Lembar Penelitian Kelengkapan SPT Tahunan:


Lembar Penelitian Kelengkapan SPT Tahunan WP OP (Lamp III.B.1. SE-55/PJ/2012)
1770

1770 S
FORMULIR TDK ADA
1770 S

1770
1770-I hal. 1

1770 S I

1770-I hal. 2

1770 S II

1770 SS
1770 SS

1770-II
1770-III
1770-IV
LAMPIRAN YG DISYARATKAN TDK ADA
SSP Ps. 29 (Jika SPT KB)

FC Form 1721-A1 dan/atau


1721-A2 atau bukti pemotongan
PPh Pasal 21 lain

Daftar Jml Penghasilan dan


Pembayaran PPh Pasal 25 dari @
tempat usaha/gerai (utk WP
Pengusaha Tertentu)

FC Form 1721-A1
dan/atau 1721-A2 atau
bukti pemotongan PPh
Pasal 21 lain

Surat Kuasa Khusus (jika SPT


ditandatangani oleh kuasa WP)

FC Form 1721-A1 dan/atau


1721-A2 atau bukti pemotongan
PPh Pasal 21 lain (jika memiliki
penghasilan sehubungan dgn
pekerjaan)

Surat Kuasa Khusus (jika


SPT ditandatangani oleh
kuasa WP)

Surat Kuasa Khusus (jika SPT


ditandatangani oleh kuasa WP)

Surat keterangan kematian


(jika SPT ditandatangani
oleh Ahli Waris)

Surat keterangan kematian (jika


SPT ditandatangani oleh Ahli Waris)

Penghitungan Angsuran
PPh Pasal 25 Thn
Berikutnya (Jika WP
Mengisi Bagian F Angka
18.b)

SSP Ps. 29 (Jika SPT KB)


Neraca & Laporan Laba Rugi (jika
pembukuan)
Rekapitulasi bulanan peredaran/
penerimaan bruto dan biaya (jika
menggunakan Norma)

Penghitungan angsuran PPh Pasal


25 thn berikutnya (jika ada sisa
kerugian thn sebelumnya yg
dikompensasikan dan penghasilan
tdk teratur)
Perhitungan Kompensasi Kerugian
(jika WP mengkompensasikan
kerugian thn sebelumnya)
Penghitungan PPh terutang (bagi
WP kawin pisah harta atau suami
istri yg memilih kewajiban
perpajakannya @)

Bukti Pemotongan/
Pemungutan oleh pihak
lain/ditanggung pemerintah
dan yg dibayar/ dipotong di
LN

Bukti Pemotongan/ Pemungutan


oleh pihak lain/ditanggung
pemerintah dan yg dibayar/dipotong
di LN (jika ada)
LAMPIRAN KHUSUS TDK ADA
Lembar "Data Identitas WP" (jika terdapat perubahan identitas)

B1117

LAIN-LAIN
NPWP dan/atau Nama WP tdk diisi
SPT tdk ditandatangani
Thn Pajak tdk diisi
Salah Formulir SPT (Jenis/Thn Formulir)
Tdk ada data digital dlm media elektronik (utk penyampaian melalui e-SPT)
Stl 1 Jan 2013, lampiran yg tdk disyaratkan lagi utk 1770:
FC tanda bukti pembayaran fiskal luar negeri (TBFLN) (jika ada)

B1118

Lembar Penelitian Kelengkapan SPT Tahunan WP Badan (Lamp III.B.2. SE-55/PJ/2012)


1771
1771

1771 $
FORMULIR TDK ADA
1771/$

1771 hal. 2

1771/$ hal. 2

1771-I

1771-I/$

1771-II

1771-II/$

1771-III

1771-III/$

1771-IV

1771-IV/$

1771-V

1771-V/$

1771-VI

1771-VI/$

LAMPIRAN YG DISYARATKAN TDK ADA


SSP Lembar ke-3 PPh Pasal 29 (Jika SPT KB)
SSP Lembar ke-3 PPh Pasal 29 (Jika SPT KB)
LK atau LK yg tlh diaudit oleh Akuntan Publik

LK atau LK yg tlh diaudit oleh Akuntan Publik

SSP PPh Pasal 26 ayat (4) (Khusus BUT yg


membayar setoran PPh Pasal 26 Ayat (4))

SSP PPh Pasal 26 ayat (4) (Khusus BUT yg membayar


setoran PPh Pasal 26 Ayat (4))

Daftar nominatif pengeluaran biaya promosi

Daftar nominatif pengeluaran biaya promosi yg


dikurangkan dari penghasilan bruto (Apabila ada)

Surat Kuasa Khusus (Jika dikuasakan)

Surat Kuasa Khusus (Jika dikuasakan)

LAMPIRAN KHUSUS TDK ADA


1A : Daftar Penyusutan dan Amortisasi Fiskal
1B : Daftar Penyusutan dan Amortisasi Fiskal (jika WP
(Jika WP memiliki aktiva yg disusutkan atau
memiliki aktiva yg disusutkan atau diamortisasi)
diamortisasi)
2A : Perhitungan Kompensasi Kerugian Fiskal
(jika WP mempunyai hak Kompensasi kerugian
fiskal)

2B : Perhitungan Kompensasi Kerugian Fiskal (jika WP


mempunyai hak kompensasi kerugian fiskal)

3A,3A-1 & 3A-2 : Pernyataan transaksi dlm


hubungan istimewa dan/atau transaksi dgn pihak
yg mrp penduduk negara Tax haven Country
(jika WP mengisi Induk SPT 1771 bagian G
angka 16.a)

3B,3B-1 & 3B-2 : Pernyataan transaksi dalam hubungan


istimewa dan/atau transaksi dengan pihak yang
merupakan penduduk negara Tax haven Country (jika
WP mengisi Induk SPT 1771 bagian G angka 16.a)

4A : Daftar Fasilitas Penanaman Modal (jika WP


memperoleh fasilitas penanaman modal)

4B : Daftar Fasilitas Penanaman Modal (jika WP


memperoleh fasilitas penanaman modal)

5A : Daftar Cabang Utama Perusahaan (jika WP


mempunyai kantor cabang atau tempat-tempat
usaha di luar kantor pusatnya)

5B : Daftar Cabang Utama Perusahaan (Jika WP


mempunyai kantor cabang atau tempat-tempat usaha di
luar kantor pusatnya)

6A : Perhitungan PPh Pasal 26 ayat (4) (jika


terdapat setoran PPh Pasal 26 ayat (4) oleh
BUT)

66 : Perhitungan PPh Pasal 26 ayat (4) (Jika terdapat


setoran PPh Pasal 26 ayat (4) oleh BUT)

7A : KPLN (jika WP memperoleh penqhasilan


den tlh dikenakan pajak di LN)

7B : KPLN (jika WP memperoleh penghasilan dan tlh


dikenakan pajak di LN)

8A-1/8A-2/8A-3/8A-4/8A-5/8A-6 : Transkrip
Kutipan Elemen-elemen dari LK (wajib diisi oleh
WP, pilih salah satu formulir sesuai dgn jenis
usahanya)

8B-1/8B-2/8B-3/8B-4/8B-5/8B-6 : Transkrip Kutipan


Elemen-elemen dari LK (wajib diisi oleh WP, pilih salah
satu formulir sesuai dgn jenis usahanya)
LAIN-LAIN

NPWP dan/atau Nama WP tdk diisi


SPT tdk ditandatangani
Thn Pajak tdk diisi
Salah Formulir SPT (Jenis/Thn Formulir)

B1119

Tdk ada data digital dlm media elektronik (utk penyampaian melalui e-SPT)
Utk SPT Tahunan WP OP & Badan
KETENTUAN PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN PEMBETULAN TDK TERPENUHI
Pembetulan SPT Tahunan disampaikan dgn syarat Dirjen Pajak blm melakukan tindakan pemeriksaan
Pembetulan SPT Tahunan disampaikan paling lama 2 thn sbl daluarsa penetapan, dlm hal pembetulan SPT
Tahunan tsb menyatakan rugi atau LB
Pembetulan SPT Tahunan disampaikan dlm jangka waktu 3 bulan stl menerima skp, SK Keberatan, SK
Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan PK, dgn syarat Dirjen Pajak blm melakukan tindakan pemeriksaan,
dlm hal WP menerima dokumen tsb yg menyatakan rugi fiskal yg berbeda dgn rugi fiskal yg tlh dikompensasikan
dlm SPT Tahunan yg akan dibetulkan

B1120

e-SPT
Definisi:
e-SPT: SPT beserta lampiran-lampirannya dlm bentuk digital dan dilaporkan scr elektronik atau dgn
menggunakan media komputer ke KPP di mana WP terdaftar.
Aplikasi e-SPT: Aplikasi SPT yg diberikan scr cuma-cuma oleh DJP kpd WP, yg digunakan utk
merekam, memelihara, dan menghasilkan data digital SPT serta mencetak SPT.

A. TATA CARA & PERSYARATAN


Dasar Hukum:
Pasal 1 UU KUP
PER-184/PJ/2004 ttg Tata cara penyampaian SPT dlm bentuk digital
Tata Cara & Persyaratan:
WP melakukan instalasi aplikasi e-SPT pd sistem komputer yg digunakan utk keperluan
administrasi perpajakannya.
WP menggunakan aplikasi e-SPT utk merekam data-data perpajakan yg akan dilaporkan.
WP mencetak Bukti Pemotongan/Pemungutan dgn menggunakan aplikasi e-SPT dan
menyampaikannya kpd pihak yg dipotong/dipungut.
WP mencetak Form Induk SPT Masa PPh/PPN dan atau SPT Tahunan PPh menggunakan
aplikasi e-SPT, kemudian menandatanganinya.
WP membentuk file data SPT dgn menggunakan aplikasi e-SPT dan disimpan dlm media
komputer (disket, CD, dsb)
WP melaporkan SPT dgn menggunakan media elektronik ke KPP dgn membawa Form Induk SPT
Masa PPh/PPN dan atau SPT Tahunan PPh hasil cetakan e-SPT yg tlh ditandatangani beserta
file data SPT yg tersimpan dlm media komputer sesuai dgn ketentuan perpu yg berlaku.
WP yg tlh memiliki sistem administrasi keuangan/perpajakan sendiri dpt melakukan proses impor
data dari sistem yg dimiliki WP ke dlm aplikasi e-SPT dgn mengacu kpd format data yg sesuai
dgn aplikasi e-SPT.
Setting Regional:
Setting Regional dilakukan agar penanggalan yg ada pd setiap form dan pencetakan sama. Ubah
setting regional pd komputer yg akan digunakan ke setting utk Indonesia.
1. Pilih menu Start Setting Control Panel
2. Kemudian klik icon Regional and Language Options.
3. Kemudian ubah lokasi negara menjadi Indonesia.
4. Utk mengubah standar dan format dari Number, Currency, Time, Date, klik tombol Customize.
a. Klik Tab Numbers utk mengubah Setting Number. Pilih:
Decimal Symbol = , (koma)
Digit Grouping Symbol = . (titik)
List Separator = ; (titik koma)
Klik tombol Apply.
b. Klik Tab Currency utk mengubah Setting Currency. Pilih:
Currency Symbol = Rp
Klik tombol Apply.
c. Klik Tab Time utk mengubah Setting Time. Pilih:
Format = H:mm:ss
Klik Apply.
d. Klik Tab Date utk mengubah Setting Date. Pilih:
Short Date Format = dd/mm/yyyy
Date Separator = /
Long Date Format = dd mmmm yyyy
Klik Apply.

B121

5.
6.

Klik OK utk menyimpan perubahan setting


Klik Cancel jika ingin membatalkan perubahan setting

B. JENIS e-SPT

a.

b.

e-SPT Masa
PPh:
e-SPT PPh Pasal 4 Ayat (2) v 1.0
e-SPT PPh Pasal 15 v 1.0
e-SPT PPh Pasal 21-26 2014 v 2.2
e-SPT PPh Pasal 22 v 2.1
e-SPT PPh Pasal 23-26 v 1.0
PPN:
e-SPT PPN 1111 v 1.5
e-SPT PPN 1111 DM v 1.2
e-SPT PPN 1107 PUT v 3.0

a.

b.

e-SPT Tahunan
PPh Badan:
e-SPT 1771 Rp 2011 v 2.0
e-SPT 1771 $ 2010 v 1.1
e-SPT 1771 Rp Y
e-SPT 1771 $ Y
PPh OP:
e-SPT 1770
e-SPT 1770 S
e-SPT 1770 Y

Daftar Perubahan e-SPT PPh Pasal 21-26 2014


Versi 2.2
Utk bukti potong tdk final, bagi yg tdk ber-NPWP atau bukan pegawai, utk PTKP-nya dianggap
berstatus TK/0.
Pembetulan atas pembulatan per-seribu dikenakan utk PKP bagi pegawai harian yg dibayarkan
scr bulanan, bukan PPh-nya yg dibulatkan.
Utk SPT Induk, poin B.1.3 s.d B.1.10 utk kolom Jumlah Penerima Penghasilan dan kolom
Jumlah Penghasilan Bruto sdh dpt di edit, sedangkan utk Jumlah Pajak Penghasilan-nya, tdk
dpt diedit.
Tombol Select All sdh tersedia utk menghapus bukti potong.
Utk bendahara pemerintah / pembuat bukti potong A2 sdh ditambah NIP/NRP.
Bukti potong tdk final Pasal 26, DPP-nya otomatis sdh sama dgn bruto.
Help Manual pd aplikasi e-SPT sdh dibuat detail.
Versi 2.1:
Penghitungan pajak utk kode 21-100-10, 21-100-11 dan 21-100-12 diperbaiki dgn tambahan field
baru: Akumulasi Penghasilan Kena Pajak
Kesalahan yg muncul ketika membuat CSV utk SPT LB diperbaiki.
Pembuatan CSV tlh menyaring karakter khusus yaitu karakter 10 (new-line) dan karakter 13
(carriage return)
Pencetakan 1721-A2 lsg dari daftar tdk terkait dgn 1721-A1 lagi.
Penghitungan Biaya Jabatan/Biaya Pensiun pd 1721-A1/A2 tlh didasarkan pd lamanya bulan
bekerja.
Kesalahan ketika membuat CSV yg memberi tanda pd Bagian E Induk 1721 diperbaiki.
Tanggal pelaporan pd induk 1721 tdk lagi menjadi nol dlm Database ketika mengedit SPT yg sdh
ada.
1721-VI dan 1721-VII menambahkan menu ditandatangani oleh NPWP & Nama dari profil utama.
Daftar Perubahan e-SPT PPN 1111
Versi 1.5
Perbaikan penjumlahan pd lampiran AB dan induk SPT dpt dilakukan scr otomatis tanpa hrs
posting ulang.
Versi 1.4
Perubahan judul pd Formulir 1111 B3 yg semula Daftar Pajak Masukan yang Tidak Dapat
Dikreditkan atau yang Mendapat Fasilitas menjadi Daftar Pajak Masukan yang Tidak
Dikreditkan atau yang Mendapat Fasilitas.

B122

C. DAFTAR MENU e-SPT MASA


e-SPT PPh 4 ayat (2) v 1.0 (Username: Administrator, password: 123)
Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Logout
Program
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT Yg Ada
SPT PPh
1. Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 4 Ayat (2)
2. Daftar BP PPh Bunga Deposito/Tabungan, Diskonto SBI, Jasa Giro
3. Daftar PPh Sewa Tanah dan/atau Bangunan Bagi OP/Badan yg Menyetor
Sendiri PPh
4. Daftar PPh Jasa Konstruksi Bagi Penyedia Jasa Yg Menyetor Sendiri PPh
5. Daftar PPh WP Yg Usaha Pokoknya Melakukan Pengalihan Hak atas
Tanah/Bangunan
6. Daftar SSP dan Daftar Bukti Pemindahbukuan
SPT Tools
1. Hapus SPT
2. Menu Cetakan
3. Lapor Data SPT ke KPP
Utility
1. Profile WP
2. Referensi
a. Lawan Transaksi
b. Nomor Bukti Potong
c. KPP
3. Setting Tarif
4. Impor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong
c. SSP/PBK
5. Ekspor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong
c. SSP/PBK
6. Set User Name Password
Help
1. Content
2. Search for Help On
3. About My App
e-SPT PPh 15 v 1.0 (Username: Administrator, password: 123)
Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Logout
Program
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT Yg Ada
SPT PPh
1. Bukti Pemotongan PPh Pasal 15
a. BP Imbalan Yg Dibayarkan/terutang kpd perusahaan pelayaran DN
b. BP Imbalan Yg Diterima/diperoleh sehubungan dgn pengangkutan orang
dan/atau Barang Termasuk Penyewaan Kapal Laut oleh Perusahaan
Pelayaran DN
Penghasilan Dari Indonesia
Penghasilan Dari Luar Negeri
PPh Yang Dipotong Pihak Lain
c. BP Imbalan Charter Kapal Laut Dan/Atau Pesawat Udara yg
dibayarkan/terutang kpd perusahaan pelayaran dan/atau penerbangan LN

B123

2.

3.

SPT Tools

Utility

4.
1.
2.
3.
1.
2.

3.
4.

5.

Help

6.
1.
2.
3.

d. BP Imbalan yg diterima sehubungan dgn pengangkutan orang dan/atau


barang termasuk charter kapal laut dan/atau pesawat udara oleh perusahaan
pelayaran dan/atau penerbangan LN yg dipotong pihak lain
e. BP Imbalan Charter pesawat udara yg dibayarkan/terutang kpd perusahaan
penerbangan DN
Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 15
a. Daftar PPh Imbalan yg diterima sehubungan dgn pengangkutan orang
dan/atau barang termasuk charter kapal laut dan/atau pesawat udara oleh
perusahaan pelayaran dan/atau penerbangan LN yg dibayar sendiri
b. Daftar Bukti Potong PPh Pasal 15
Daftar SSP/Bukti PBK
a. Daftar SSP
b. Daftar Bukti PBK
SPT Masa PPh Pasal 15
Hapus SPT
Menu Cetakan
Lapor Data SPT ke KPP
Profile WP
Referensi
a. Lawan Transaksi
b. Nomor Bukti Potong
c. KPP
Setting Tarif
Impor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong PPh Pasal 15
c. SSP dan PBK
Ekspor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong PPh Pasal 15
c. SSP dan PBK
Set User Name Password
Content
Search for Help On
About My App

e-SPT PPh 21/26 2014 v 2.2 (Username: administrator, password: 123)


Menu
Sub Menu
Database
1. Pilih Database
2. Compact Database
Pilih SPT
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT
Isi SPT
1. Daftar Bukti Potong
a. Tdk Final (1721-II)
b. Final (1721-III)
c. A1 hanya aktif bila utk Masa Pajak Desember
d. A2 hanya aktif bila utk Masa Pajak Desember
2. Daftar Pemotongan Pajak (1721-I)
a. 1 Masa Pajak
b. 1 Thn Pajak hanya aktif bila utk Masa Pajak Desember
3. Daftar Biaya (1721-V)
4. SPT Induk (1721)
5. Daftar SSP/Pbk (1721-IV)
CSV
1. Ekspor
a. Referensi
b. Bukti Potong dan SSP

B124

Cetak
Referensi

Profil
Help

2. Impor
a. Referensi
Penerima Penghasilan
Pegawai A1
Pegawai A2
b. Bukti Potong
Tdk Final
Final
A1
A2
Pemotongan Pajak Bulanan
c. SSP
3. Pelaporan SPT
1. Formulir SPT
2. Bukti Potong
1. Bukti Potong
a. Penerima Penghasilan
b. Pegawai A1
c. Pegawai A2
d. Penomoran BP
2. Kode
a. Kode Negara
b. Kode KPP
c. Kode Objek Pajak
d. Kode SSP
e. Jabatan
f. Golongan/Pangkat
3. Tarif
a. PTKP
b. Pasal 17 Berlapis
c. Pasal 21 Final
Pesangon Tarif terdapat kesalahan, input scr berturut-turut: 0, 5, 15,
25, 25
Manfaat Pensiun
Imbalan PNS
d. Biaya Jabatan
e. Upah Harian
4. Ubah Username
5. Ubah Password
1. Manual
2. Help

e-SPT PPh 22 v 2.1 (Username: Administrator, password: 123)


Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Logout
Program
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT Yg Ada
SPT PPh
1. Bukti Pemungutan Pajak Atas Impor (oleh Bendaharawan DJBC)
2. Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 (Oleh Badan Usaha Industri/Eksportir Tertentu)
3. Daftar Bukti Pemungutan PPh Pasal 22
4. Daftar SSP PPh Atas Penjualan Migas
5. Daftar SSP PPh Ps 22 Impor

B125

SPT Tools

Utility

6.
7.
1.
2.
3.
1.
2.

3.
4.

5.

Help

6.
1.
2.
3.

Bank Devisa dan Bendaharawan Tertentu yg ditunjuk


Dibayar Sendiri
Daftar SSP)/Bukti PBK
SPT Masa Pasal 22
Hapus SPT
Menu Cetakan
Lapor Data SPT ke KPP
Profile WP
Referensi
a. Lawan Transaksi
b. Nomor Bukti Potong
c. Jenis Komoditi Migas
Setting Tarif Pasal 22
Impor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong PPh Pasal 22
c. SSP/PBK
Ekspor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong
c. SSP/PBK
Set User Name Password
Content
Search for Help On
About My App

e-SPT PPh 23/26 v 1.0 (Username: Administrator, password: 123)


Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Logout
Program
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT Yg Ada
SPT PPh
1. Bukti Potong PPh Pasal 23
2. Bukti Potong PPh Pasal 26
3. Daftar Bukti Potong PPh Pasal 23 Dan Atau 26
4. Daftar SSP / Bukti PBK
a. Daftar SSP
b. Daftar Bukti PBK
5. SPT Masa PPh Pasal 23 Dan Atau 26
SPT Tools
1. Hapus SPT
2. Menu Cetakan
3. Lapor Data SPT ke KPP
Utility
1. Profile WP
2. Referensi
a. Lawan Transaksi
b. Nomor Bukti Potong
c. Daftar KPP
3. Setting Tarif
4. Impor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong PPh Pasal 23/26
c. SSP-PBK
5. Ekspor Data
a. Lawan Transaksi
b. Bukti Potong PPh Pasal 23/26

B126

Help

6.
1.
2.
3.

c. SSP-PBK
Set User Name Password
Content
Search for Help On
About My App

e-SPT PPN 1111 v 1.5 (Username: Administrator, password: 123)


Menu
Sub Menu
Program
1. Koneksi Database
2. Logout
3. Keluar Aplikasi
Input Data
1. Pajak Keluaran
2. Pajak Masukan
3. SPT Tanpa Rincian Faktur
4. Posting Data
Setting
1. Profil WP
2. Setting SPT PPN 1111
SPT
1. Lampiran SPT 1111
a. Lampiran A1
b. Lampiran A2
c. Lampiran B1
d. Lampiran B2
e. Lampiran B3
f. Lampiran AB
2. Induk SPT 1111
3. SSP
a. Daftar SSP
b. SSP PPN yg Tlh Dibayar
c. SSP PPnBM yg Tlh Dibayar
d. SSP Atas Kegiatan Membangun Sendiri
e. SSP Pembayaran Kembali PM PKP Gagal Produksi
4. Hapus SPT
5. Buat CSV
Tools
1. Username
a. Tambah Username
b. Ganti Password
2. Ekspor Data Faktur
3. Impor Data
a. Faktur Pajak
b. Faktur Pajak Pengganti tdk ada di menu sebelumnya
c. Faktur Pajak Khusus menu sebelumnya adalah Faktur VAT Refund
d. Lawan Transaksi
4. Referensi
a. Nomor Faktur
b. Lawan Transaksi
c. Batasan VAT Refund
d. Masa Pajak Masukan tdk ada di menu sebelumnya
e. Jatah Faktur Pajak tdk ada di menu sebelumnya
5. Informasi Aplikasi
?
User Manual
e-SPT PPN 1111 DM v 1.2 (Username: Administrator, password: 123)
Menu
Sub Menu
Program
1. Koneksi Database
2. Logout
3. Keluar Aplikasi

B127

Input Data

Setting
SPT

Tools

1.
2.
3.
4.
1.
2.
1.
2.

Pajak Keluaran
Daftar Pengembalian BKP dan Pembatalan JKP
SPT Tanpa Faktur
Buat SPT PPN 1111 DM
Profil WP
Setting SPT PPN 1111 DM
Induk SPT 1111 DM
Lampiran SPT 1111 DM
a. Lampiran A DM
b. Lampiran R DM
3. SSP
a. Daftar SSP
b. SSP PPN Yg Tlh Dibayar
c. SSP PPnBM Yg Tlh Dibayar
d. SSP Atas Kegiatan Membangun Sendiri
4. Hapus SPT
5. Cetak SPT
6. Buat CSV
1. Username
a. Tambah Username
b. Ganti Password
2. Ekspor Data
a. Faktur Pajak
b. Faktur Pajak Lampiran A dan R
3. Impor Data
a. Faktur Pajak
b. Faktur Pajak Khusus
c. Lawan Transaksi
4. Referensi
a. Nomor Faktur
b. Lawan Transaksi
c. Batasan VAT Refund
d. Setting Nilai Persen
5. Informasi Aplikasi
User Manual

e-SPT PPN 1107 PUT v 3.0 (Username: Administrator, password: 123)


Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Login
Program
Setting SPT
SPT PPN

Input Data

SPT Tools

Utility

1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.

Lampiran 1107 PUT 1


Lampiran 1107 PUT 2
SPT Induk 1107 PUT
Daftar Faktur 1107 PUT
SPT Non Transaksi
Posting Data
Hapus SPT
Menu Cetakan
Lapor Data SPT ke KPP
Informasi Profile
Referensi
a. Lawan Transaksi
b. Lampiran 1107 PUT

B128

Help

D.

c. Nomor Faktur
3. Impor Data
a. Data Faktur
b. Lawan Transaksi
4. Ekspor Data Faktur
5. Set User Name Password
1. Content
2. Search for Help On
3. About My App

DAFTAR MENU e-SPT TAHUNAN PPh BADAN


e-SPT Tahunan PPh Badan Rupiah/Dollar (Username: Administrator, password: 123)
Menu
Sub Menu
Connect to
DB
Logout
Program
1. Buat SPT Baru
2. Buka SPT Yg Ada
SPT PPh
1. Lampiran Khusus
a. Daftar Cabang Utama Perusahaan
b. Daftar Penyusutan dan Amortisasi Fiskal
c. Pernyataan Transaksi Dalam Hubungan Istimewa
d. Daftar Fasilitas Penanaman Modal
e. Perhitungan Kompensasi Kerugian Fiskal
f. Kredit Pajak Luar Negeri
2. Lampiran
a. Lampiran 1771-I Perhitungan Penghasilan Neto Fiskal
b. Lampiran 1771-II Perincian Harga pokok penjualan, Biaya usaha Lainnya
dan Biaya Dari Luar Usaha
c. Lampiran 1771-III Kredit Pajak Dalam Negeri
d. Lampiran 1771-IV Penghasilan yang Dikenakan Pph Final dan Yang Tidak
Termasuk Objek Pajak
e. Lampiran 1771-V Daftar Pemegang Saham / Pemilik Modal dan Jumlah
Dividen Yang Dibagikan dan Susunan Pengurus/Komisaris
f. Lampiran 1771-VI Daftar Penyertaan Modal Pada Perusahaan Afiliasi dan
Pinjaman Dari/Kepada Pemegang Saham atau Perusahaan Afiliasi
3. SPT PPh WP Badan
4. Perhitungan PPh Pasal 26 ayat (4)
5. Transkrip Kutipan Elemen laporan Keuangan
6. Daftar Surat Setoran Pajak
SPT Tools
1. Hapus SPT
2. Menu Cetakan
3. Lapor Data SPT ke KPP
Utility
1. Profil WP
2. Impor Data
3. Ekspor Data
4. Setting Tarif
5. Set User Name Password
Help
1. Content
2. Search for Help On
3. About My App

B129

E.

FAQ TTG e-SPT


1. Bagaimana cara memperoleh installer e-SPT?
Jawaban:
Installer e-SPT, dpt diperoleh dgn cara men-download dari website DJP (www.pajak.go.id) pd
menu aplikasi e-SPT. Karena ukuran file installer e-SPT besar, sebaiknya WP menggunakan
aplikasi unduhan seperti Internet Download Manager, Download Accelerator Plus atau Orbit
Downloader jika koneksi internet WP kurang memadai. WP juga dpt memperoleh installer e-SPT
dgn cara meminta lsg ke KPP (disarankan membawa flashdisk).
2. WP sdh selesai men-download installer e-SPT dari website DJP tetapi file-nya tdk dpt
dibuka dan tampilannya di komputer WP juga tdk berupa icon buku. Apa sebabnya?
Jawaban:
Kemungkinan komputer WP blm ter-install aplikasi WinRAR. Agar menginstal WinRAR terlebih
dahulu.
3. WP sdh selesai men-download installer e-SPT dari website DJP tetapi stl dilakukan ekstrak
ada peringatan error winrar diagnostic message. Apa sebabnya?
Jawaban:
Peringatan tsb muncul ketika melakukan ekstrak biasanya terjadi krn file installer blm terdownload seluruhnya (misalnya ukuran file installer e-SPT PPh Masa PPh Pasal 21-26 2009
adalah 29,2 Mb, namun proses download sdh selesai saat file blm ter-download sempurna).
Umumnya terjadi krn koneksi internet WP kurang memadai.
4. Bagaimana langkah peng-install-an e-SPT?
Jawaban:
a. Stl installer berhasil diunduh, langkah selanjutnya adalah mengekstrak file hasil unduhan tsb.
Apabila unduhan installer terdiri dari bbrp part, ekstrak part 1-nya saja.
b. Utk Windows 7 atau Windows Vista, sbl melakukan proses install sebaiknya diubah terlebih
dahulu setting User Account Control-nya (agar database tdk tersimpan di virtual store).
Caranya:
Pilih Control Panel;
Pilih User Accounts;
Pilih Change User Account Control Settings;
Geser ke Never notify lalu klik OK.
c. Buka file hasil ekstrak. User dpt lsg meng-install melalui Setup.exe dan mengikuti langkah
peng-install-an yg muncul, termasuk mengubah direktori peng-install-an aplikasi e-SPT
apabila diperlukan. Bilamana pd hasil unduhan yg tlh diekstrak terdapat file e-SPT
package.msi, file ini mrp alternatif utk meng-install e-SPT tsb (biasanya dpt lsg di-install
apabila aplikasi pendukung seperti Windows Installer atau dotNetFX sdh ter-install).
5. Di mana umumnya aplikasi e-SPT ter-install?
Jawaban:
Aplikasi e-SPT umumnya ter-install pd direktori C:\Program Files\DJP\e-SPT. atau utk Win7 pd
direktori C:\Program Files(x86)\DJP\e-SPT..
6. Utk bbrp e-SPT yg tlh di-install di Windows Vista atau Win7 terkadang stl aplikasi berhasil
di-install, WP tdk dpt membuka aplikasinya dan terdapat peringatan Unable to create
DSN. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Apabila muncul peringatan Unable to create DSN ketika pertama kali membuka e-SPT hasil
instalasi, buka aplikasi e-SPT pd All Program dgn cara mengarahkan cursor ke aplikasi e-SPT yg
akan dibuka, kemudian klik kanan, selanjutnya pilih run as administrator. Utk membuka e-SPT
pd waktu selanjutnya tdk perlu memilih run as administrator lagi.

B1210

7. WP sdh selesai dan berhasil meng-install e-SPT, namun ketika aplikasinya dibuka muncul
peringatan Format tanggal tidak sesuai dan kemudian aplikasinya tertutup scr otomatis.
Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Apabila muncul peringatan tsb, ubah terlebih dahulu format Region and Language ke Indonesia.
Langkahnya:
Buka Control Panel;
Pilih Region and Language;
Ubah format ke Indonesia;
Pilih Apply dan buka kembali e-SPTnya.
8. Pd bbrp kasus dijumpai bahwa WP yg aplikasi e-SPTnya sdh berhasil dibuka namun tdk
dpt membuka database-nya (error) dan muncul peringatan koneksi ke database gagal,
silahkan cek DSN yang dipilih. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Pd bbrp aplikasi e-SPT yg lama (seperti e-SPT Masa PPh), user perlu melakukan koneksi
database terlebih dahulu. Caranya:
Buka Control Panel;
Pilih Administrative Tools (pd Win7 dgn view by Category dpt lsg pilih System and
Security Administrative Tools, atau dpt lsg ketikkan pd search);
Pilih Data Sources (ODBC);
Pilih System DSN;
Double click nama database e-SPT yg dikehendaki (hasil instalasi pertama); atau jika ingin
menambah database baru maka pilih Add double click Microsoft Access Driver (*.mdb/
*.accdb atau *.mdb tergantung jenis database yg dipakai) isi Data Source Name dgn
nama database yg dikehendaki oleh user;
Selanjutnya pilih Select cari lokasi database pd kolom directories dgn double click folder
yg ada di dlm-nya (misal di drive C:\Program Files\DJP\eSPT PPh Masa 21-26\Database);
Pilih database yg ingin dikoneksikan pd kolom Database Name, lalu klik OK;
Bagian description tdk wajib diisi, lsg klik OK dan Apply.
9. Ketika memilih System DSN pd Administrative Tools saat ingin koneksi DSN ternyata
kolom System Data Sources-nya kosong dan ketika pilih Add hanya ada pilihan SQL
Server. Hal ini terjadi pd Windows7 64 bit. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Pd Windows7 64 bit, cara membuka Data Sources (ODBC) utk setting DSN agar database
terkoneksi yaitu:
Buka Drives C;
Buka folder Windows;
Buka folder SysWOW64;
Buka file odbcad32.exe, maka muncul ODBC Data Source Administrator dan setting DSN
dpt lsg dilakukan sebagaimana dijelaskan pd penjelasan sbl-nya.
10. WP meng-install e-SPT di Windows7 atau Vista dan sdh dipakai selama berbulan-bulan.
Suatu waktu WP ingin memindahkan database ke komputer lain dan meng-copy data tsb
dari direktori C:\Program Files\DJP.... Namun, stl di-paste pd komputer lain ternyata
database tsb kosong dan hrs mengerjakan kembali dari awal (isi NPWP dan seterusnya st).
Apa penyebabnya?
Jawaban:
Hal ini terjadi kemungkinan krn saat instalasi e-SPT pd Windows7 atau Vista, User Account
Control blm di-setting ke never notify shg database tersimpan pd virtual store. User hrs mengcopy ulang database yg akan di-back up atau dipindahkan ke komputer lain dgn cara:
Buka drive C;
Buka folder Users;
Buka folder User (tergantung proses instalasi yg dulu dilakukan oleh user);

B1211

Buka folder AppData (folder ini ter-hidden, jadi pastikan View hidden files and folders pd
folder options (ada di Organize) ter-checklist pd bagian Show hidden files, folders, dan
drives;
Buka folder Local;
Buka folder VirtualStore;
Buka folder Program Files;
Buka folder DJP;
Buka folder e-SPT yg dikehendaki;
Buka folder database dan copy database yg dimaksud utk dipindah ke komputer lain atau utk
back up.

11. Bagaimana cara menambah database baru pd e-SPT? Misalnya utk multi NPWP.
Jawaban:
Langkah pertama yg hrs dilakukan adalah meng-copy database kosong. Database kosong dpt
diperoleh dari installer e-SPT tsb (bukan hasil instalasi). Pd bbrp e-SPT (Masa PPN 1111,
1111DM, PPh pasal 21-26 2014), database kosong dpt diperoleh dari folder hasil instalasi e-SPT
tsb, seperti pd folder db kosong utk e-SPT PPN 1111. Selanjutnya file database kosong tsb dipaste pd folder database/db pd direktori e-SPT yg dimaksud (sebaiknya file database kosong tsb
diubah namanya agar tdk sama dgn database yg sdh ada).
Pd aplikasi terbaru seperti e-SPT PPN 1111, 1111DM, atau PPh Pasal 21-26 2014, database
baru tsb dpt lsg digunakan ketika aplikasi e-SPTnya dijalankan. Namun, utk e-SPT lama (seperti
Masa PPh) perlu dilakukan koneksi database (setting DSN) terlebih dahulu sebagaimana tlh
dijelaskan pd angka 8 di atas (jgn lupa Data Source Name dibedakan dgn Data Source Name yg
sdh ada).
12. Bagaimana cara agar ketika melakukan cetak formulir tdk terpotong menjadi 2 halaman
hasil print outnya?
Jawaban:
a. Pastikan apakah print preview-nya utuh atau terpotong menjadi 2 halaman. Pastikan juga
apakah ukuran kertasnya sdh ukuran 8,5x13.
b. Jika print preview-nya terpotong menjadi 2 halaman, problem ini blm diketahui sebabnya
dan solusinya (bisa disarankan untuk install kembali Crystal Report-nya).
c. Jika print preview-nya utuh namun ketika dicetak terpotong, disarankan user utk
mengekspornya ke dlm bentuk pdf (hanya ada menu ini pd beberapa jenis aplikasi seperti
e-SPT PPN 1111) atau pilih copy kemudian buka Microsoft Excel dan pilih paste special
paste as picture saat melakukan proses paste. User juga dpt menambahkan 1 setting-an
printer. Caranya:
Buka Control Panel;
Pilih Devices and Printers;
Pilih Add a printer (atau klik kanan, pilih add a printer pd Windows XP);
Pilih Add a local printer;
Pilih use an existing port LPT1 lalu Next;
Pilih jenis printer pd kolom Manufacturer, kemudian pilih printer dimaksud pd kolom
Printers lalu Next;
Pilih do not share pd printer sharing;
Pilih set as default printer;
Tdk perlu melakukan print test;
Stl finish, setting preference-nya dgn mengubah ukuran kertasnya menjadi 8,5x13, lalu
apply.
FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 4 AYAT (2)
1.

Versi ter-update e-SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) tertanggal brp?
Jawaban:
Tertanggal 25-07-2010.

B1212

2.

WP terlanjur memasukkan NPWP dgn kode KPP yg salah dan sdh melakukan pengisian
data bukti potong dlm jml yg banyak. Kemudian user melakukan proses pindah KPP pd
menu utility profil WP dan berhasil disimpan kode KPP yg sebenarnya. Namun, ketika
WP mencetak induk SPT, tampilan NPWP masih menggunakan NPWP yg lama (blm
update). Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Pd versi ter-update permasalahan ini masih terjadi. Hanya bukti potongnya lah yg mengikuti
perubahan profil tsb. Induk SPT sendiri masih menggunakan kode KPP yg lama pd bagian
NPWP-nya. Sementara ini user hrs melakukan ekspor terlebih dahulu bukti potong yg sdh diinput, kemudian menghapus Masa Pajak yg dimaksud. Selanjutnya user membuat Masa Pajak
baru utk masa pajak tsb kemudian melakukan impor data bukti potong hasil ekspor sebelumnya.

3.

Darimana user dpt memperoleh contoh skema impor terkait e-SPT Masa PPh Pasal 4 ayat
(2) (baik utk lawan transaksi, bukti potong, maupun SSP)?
Jawaban:
Contoh skema impor e-SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) ini dpt diperoleh dari installer e-SPT Masa
PPh Pasal 4 ayat (2) (bukan dari hasil instalasi e-SPT ini).

4.

WP mengubah profil WP (dlm hal ini mengubah kode KPP pd NPWP-nya). NPWP sdh
sesuai dgn SKT yg baru tetapi tdk dpt dilakukan perubahan. Terdapat peringatan Kode
KPP Tersebut Tidak Terdaftar Pada Referensi Kode KPP. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Pastikan bahwa kode KPP yg dimaksud sdh terdaftar pd Referensi KPP pd menu Utility. Jika blm
ada, maka tambahkan dgn klik Baru pd referensi tsb.

FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 15


1.

Versi ter-update e-SPT Masa PPh Pasal 15 tertanggal brp?


Jawaban:
Tertanggal 30-10-2009.

2.

Apa kegunaan submenu-submenu pd


Bukti Pemotongan PPh Pasal 15?
Jawaban:
No.
Submenu
a.
Bukti Pemotongan PPh atas
imbalan yg dibayarkan/
terutang kpd perusahaan
pelayaran DN (Final)
b.
Bukti Potong PPh atas
imbalan y diterima/diperoleh
oleh perusahaan pelayaran
DN (Final) baik dari Indonesia
maupun dari Luar Indonesia

c.

d.

Bukti Potong PPh atas


imbalan yg dibayar/terutang
kpd perusahaan pelayaran
dan/atau penerbangan LN
(Final)
Bukti Potong PPh atas
imbalan yg diterima/diperoleh

menu Bukti Pemotongan PPh Pasal 15 dan Daftar

Kegunaan
Utk menginput pemotongan PPh Pasal 15 yg
dilakukan oleh user atas penghasilan yg
dibayarkan/terutang kpda perusahaan pelayaran DN
Utk memasukkan penghasilan/imbalan yg diperoleh
oleh user yg mrp perusahaan pelayaran DN, baik
penghasilan yg berasal dari Indonesia maupun yg
berasal dari luar Indonesia.
Bagian WP yg dipotong diisi dgn NPWP & nama
user. Sedangkan bagian PPh yg dipotong oleh Pihak
lain digunakan utk memasukkan bukti potong-bukti
potong PPh Pasal 15 yg diterima oleh user
(perusahaan pelayaran DN) dari pihak lain (lawan
transaksi user).
Utk menginput pemotongan PPh pasal 15 yg
dilakukan oleh user atas imbalan/penghasilan yg
dibayarkan/terutang kpd perusahaan pelayaran
dan/atau penerbangan LN sbg pihak lawan
transaksinya
Digunakan oleh user selaku pihak perusahaan
pelayaran dan/atau penerbangan LN utk menginput

B1213

e.

f.

g.

oleh perusahaan pelayaran


dan/atau penerbangan LN
(Final)(Dipotong Pihak Lain)
Bukti Potong PPh atas
imbalan yg dibayarkan/
terutang kpd perusahaan
penerbangan DN
Daftar PPh yg disetor sendiri
atas imbalan yg diterima oleh
perusahaan pelayaran
dan/atau penerbangan LN
Daftar Bukti Pemotongan PPh
Pasal 15

bukti potong PPh pasal 15 yg diterima dari pemotong


pajak (lawan transaksinya) sehubungan dgn
imbalan/penghasilan yg diterima/diperolehnya
Utk menginput pemotongan PPh pasal 15 yg
dilakukan oleh user atas imbalan/penghasilan yg
dibayarkan/terutang kpd perusahaan penerbangan
DN sbg pihak lawan transaksinya
Digunakan oleh user selaku perusahaan pelayaran
dan/atau penerbangan LN utk menginput penyetoran
sendiri PPh pasal 15 yg terutang kpd dirinya
Berisi rekapitulasi pemotong PPh Pasal 15 user.
Bilamana user selaku perusahaan pelayaran DN
dipotong PPh di LN, maka user dpt memperhitungkan
kredit pajak PPh pasal 24 pd submenu Perhitungan
PPh Pasal 24 pd kolom daftar bukti pemotongan
PPh pasal 15

FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 21/26 2014 (PER-14/PJ/2013)


1.

Program apa yg dibutuhkan utk meng-install e-SPT Masa PPh Pasal 21/26 2014 pd
Windows XP?
Jawaban:
Instalasi pd Windows XP memerlukan Microsoft Imaging Component dan dpt diunduh pd link
http://www.microsoft.com/en-us/download/details.aspx?id=32.

2.

e-SPT Masa PPh Pasal 21/26 2014 tdk dpt membaca database yg dipilih. Bagaimana
solusinya?
Jawaban:
Apabila saat memilih database tdk dpt membaca database, install Database Access Engine.

3.

Pd saat melakukan inisialisasi muncul error must use an updateable query. Apa
penyebabnya? Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Kemungkinan setting user pd OS-nya bukan Administrator. Solusinya adalah lakukan install eSPT di folder selain C:\Program Files.

4.

Darimana user dpt memperoleh contoh skema impor terkait e-SPT PPh Pasal 21-26 2014?
Jawaban:
User dpt memperoleh contoh skema impor terkait e-SPT PPh Pasal 21-26 pd lokasi instalasi eSPT pd folder dokumentasi. Misal drives C:\Program Files\DJP\e-SPT Masa 21-26
2014\dokumentasi\csv format.

5.

Bagaimana cara menambahkan database baru pd e-SPT Masa PPh 21/26 2014?
Jawaban:
Utk menambahkan database baru diperlukan database kosong dan database kosong tsb dpt
diperoleh dari drives C:\Program Files\DJP\e-SPT Masa 21-26 2014\db\db kosong (atau lokasi
lain sesuai instalasi user). Copy database yg ada di dlm folder db kosong dan paste-kan di folder
db. Jgn lupa utk mengubah nama database yg baru agar tdk sama dgn database yg sdh ada
sebelumnya. Database baru ini dpt lsg digunakan ketika e-SPT dijalankan tanpa hrs melakukan
setting DSN.

6.

Apakah pengisian Daftar Pemotongan PPh Pasal 21 formulir 1721-I Satu Masa Pajak dpt
dilakukan dgn menggunakan impor csv?
Jawaban:

B1214

Dpt dilakukan dgn menggunakan impor csv 1721-I Satu Masa Pajak dgn mengikuti ketentuan
skema impor yg sdh dibuat. Contoh skema impornya dpt dilihat pd file 1721_I_bulanan pd folder
contoh csv.
7.

Apakah tdk ada cara yg lbh mudah utk mengisi Daftar Bukti Pemotongan 1721-I Satu Masa
Pajak utk setiap masanya (anggap jml pegawai tetapnya ribuan)?
Jawaban:
Dlm hal ini user memang hrs meng-input Daftar Bukti Pemotongan 1721-I Satu Masa Pajak
setiap masanya apabila memang dilakukan pemotongan thd pegawai tetap (dan penerima
penghasilan lainnya yg sejenis) berdasarkan PER-14/PJ/2013. User dpt melakukan ekspor 1721-I
bulanan melalui menu CSV Ekspor Bukti Potong atas 1721-I bulanan Masa Pajak
pertama kali lapor 1721-I bulanan. Utk bulan berikutnya user mengubah terlebih dahulu masa
pajak pd csv hasil ekspor masa pajak sbl-nya (termasuk mengubah penghasilan dan pajak
dipotong jika ada atau menambah pegawai yg baru dipotong), baru kemudian diimpor kembali ke
e-SPT. Bulan-bulan selanjutnya dpt menggunakan cara yg sama sebagaimana tlh dijelaskan sblnya.

8.

Bagaimana cara mengubah atau menghapus bukti potong 1721-A1 yg ada pd formulir
1721-I Satu Tahun Pajak?
Jawaban:
Cara mengubah, menambah, atau menghapus bukti potong 1721-A1 yg ada pd formulir 1721-A1
Satu Tahun Pajak adalah dgn membuka submenu Daftar Bukti Potong 1721-A1. Kemudian
pilih bukti potong yg ingin diubah atau dihapus, termasuk jika ingin menambah bukti potong 1721A1 yg baru.

FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 21/26 (PER-32/PJ/2009)


tdk dipakai lagi sejak tanggal 21 Jan 2014
1.

Versi ter-update e-SPT Masa PPh Pasal 21-26 (PER-32/PJ/2009) tertanggal brp?
Jawaban:
Tertanggal 14-01-2010.

2.

User melakukan update NPWP dgn mengubah kode KPP pd menu utility profil WP.
Updating NPWP berhasil dilakukan, namun stl membuka data induk SPT dan lain
sebagainya terjadi error dan e-SPT PPh 21 menjadi hang. Notifikasi error yg muncul:
Either BOF or EOF is True, or the current record has been deleted. Requested operation
requires a current record.
Jawaban:
Jika muncul notifikasi error tsb maka klik OK scr berulang kali sampai notifikasi tsb hilang. Stl
notifikasi tsb hilang, user mengubah kembali kode KPP-nya melalui menu utility profil WP ke
kondisi semula (kode KPP lama) dan disimpan.
Sementara ini apabila user pindah KPP, user hrs membuat database baru utk diisi dgn profil
sesuai dgn SKT terbarunya. Krn menggunakan database baru (masih kosong), user dpt
melakukan mekanisme ekspor data bukti potong dari database lama utk kemudian diimpor di
database yg baru apabila user ingin melakukan pembetulan dgn menggunakan NPWP
terbarunya.

3.

WP mendapatkan bukti Pbk dari jenis pajak lain ke PPh Pasal 21. Bagaimana cara menginput-nya padahal menu e-SPT PPh 21 hanya ada menu untuk input SSP saja?
Jawaban:
Apabila WP mendapatkan bukti Pbk dari jenis pajak lain ke PPh Pasal 21, maka WP meng-input
bukti Pbk tsb melalui submenu Surat Setoran Pajak dgn mengisikan KAP & KJS sesuai hasil
Pbk dgn NTPN diisi dgn NTPN SSP yg di-Pbk-an.

4.

User membuat pelaporan Masa Pajak Des 2013 ketika tanggal pd komputer menunjukkan
tun 2014 (misal baru membuat Masa Des 2013 pd tanggal 5 Jan 2014). Ketika user

B1215

mencetak induk SPT Masa PPh Pasal 21-26 nya, thn kalendernya tertulis 2014 dan bukan
2013 (padahal ingin melaporkan Masa Desember 2013). Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Permasalahan ini timbul apabila user blm meng-update e-SPT Masa PPh Pasl 21/26-nya ke
versi tanggal 27-01-2010 sbl membuat Masa Pajak Des 2013 (dlm kasus ini). Pd e-SPT versi terupdate permasalahan ini sdh dpt diselesaikan.
Apabila user terlanjur membuat Masa Pajak Des 2013 dan sdh mengisi data bukti potongnya
padahal aplikasi blm yg ter-update, solusi yg dpt dilakukan adalah user melakukan ekspor bukti
potong yg sdh di-input. Stl itu, user menghapus Masa Des 2013 tsb melalui menu SPT Tools.
Apabila user sdh mempunyai patch update versi terbaru, user melakukan update terlebih dahulu
e-SPT-nya sbl membuat Masa Des 2013 yg baru.
Apabila user blm memiliki update terbaru dan ingin segera membuat Masa Des 2013, user hrs
mengubah terlebih dahulu tanggal komputernya menjadi tanggal yg bertahun 2013 (melalui
Control Panel atau lsg klik tanggal yg ada di pojok kanan bawah layar monitor) utk selanjutnya
membuat kembali Masa Des 2013 tsb dan melakukan impor data bukti potong hasil ekspor
sebelumnya.
FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 22
1.

Versi ter-update e-SPT Masa PPh Pasal 22 tertanggal brp?


Jawaban:
Tertanggal 01-02-2013.

2.

Mnr PMK-224/PMK.011/2012 utk PPh Pasal 22 Impor yg dipungut oleh DJBC cukup dgn
SSP yg berlaku sbg bukti pemungutan PPh Pasal 22 Impor. Namun e-SPT PPh Pasal 22
justru diminta input bukti pungut.
Jawaban:
Hal ini sdh disampaikan ke pihak terkait dan dlm proses penyelesaian.

3.

Perubahan jenis WP (Pemungut atau Bukan Pemungut) pd menu Utiliy Profil WP hanya
dpt dilakukan max 3 kali. Kalau lbh, ada peringatan error Jenis WP Tdk Bisa Diubah Lagi.
Jawaban:
Hal ini sdh disampaikan ke pihak terkait dan dlm proses penyelesaian.

Stl dilakukan install atau update e-SPT Masa PPH Pasal 22 tertanggal 01-02-2013, jangan lupa
user utk memasukkan tarif PPh pasal 22 atas penjualan BBM, gas, dan pelumas (baik final
maupun tdk final) berdasarkan pasal 2 ayat (1) huruf c PMK-224/PMK.011/2012 (salah satu saja
yg dimasukkan).
FAQ e-SPT MASA PPh PASAL 23/26
1.

Versi ter-update e-SPT Masa PPh Pasal 23/26 tertanggal brp?


Jawaban:
Tertanggal 30-11-2009.

2.

Utk Bukti Potong PPh Pasal 26 yg menggunakan ketentuan tax treaty dan mnr tax treaty
hak pemajakan terdapat pd Negara partner, pemberi penghasilan tetap membuat bukti
potong PPh Pasal 26 dgn tarif 0% berdasarkan PER-24/PJ./2010. Tetapi e-SPT tdk
mengakomodir pembuatan bukti potong dgn tarif 0%.
Jawaban:
Hal ini sdh disampaikan ke pihak terkait dan dlm proses penyelesaian.

FAQ e-SPT MASA PPN 1111


1.

Di mana user dpt memperoleh contoh skema impor FP?


Jawaban:
Dpt diperoleh dari folder Skema Impor, yg ada pd lokasi instalasi e-SPT Masa PPN 1111-nya.

B1216

2.

Mengapa user tdk dpt menyimpan FP Keluaran yg sdh diisi? Muncul notifikasi nomor
seri faktur tidak sesuai dengan jatah.
Jawaban:
Utk e-SPT Masa PPN 1111 versi 1.5.0.0, user hrs memasukkan terlebih dahulu NSFP yg
diperoleh dari KPP berupa hasil permintaan NSFP. Input NSFP dilakukan pd menu Tools
Referensi Jatah Faktur Pajak.

3.

Mengapa baris PPnBM terutang tdk dpt diisi padahal user memungut PPnBM dan ingin
melaporkannya pd SPT?
Jawaban:
Apabila user ingin melakukan pengisian baris PPnBM (baik pd PK maupun PM), terlebih dahulu
user hrs mengubah profilnya melalui menu Setting Profil Wajib Pajak checklist Wajib
PPnBM.

4.

PKP A melakukan transaksi pembelian (FP Masukan) di thn 2012 ke PKP B. Pd bulan April
2013 PKP B mengalami perubahan NPWP (pindah KPP). Di bulan Mei 2013 PKP A
membuat nota retur dan ketika PKP A ingin meng-input data nota retur pd aplikasi
terdapat warning nomor faktur pajak tersebut tidak ditemukan. Bagaimana solusinya?
Jawaban:
Atas kondisi tsb, user meng-klik OK pd notifikasi yg muncul. Kemudian user memasukkan data
nominal returnya dan disimpan.

FAQ e-SPT TAHUNAN PPh BADAN RUPIAH


1.

Versi ter-update e-SPT Tahunan Badan Rupiah tertanggal brp?


Jawaban:
Tertanggal 01-01-2011.

2.

Bagaimana cara mengubah penandatangan induk SPT 1771 menjadi kuasa WP?
Jawaban:
Cara mengubah penandatangan induk SPT 1771 menjadi kuasa WP adalah dgn melakukan
checklist Bagian H angka 17 huruf k (Surat Kuasa Khusus) pd induk SPT 1771.

3.

Di mana user dpt memperoleh database kosong jika ingin menambah database baru?
Jawaban:
Database kosong dpt diperoleh user dari installer e-SPT Tahunan PPh Badan Rupiah yg lama
(thn 2009), bukan pd installer terbaru.

4.

Bagaimana cara pengisian daftar penyusutan apabila terdapat aktiva yg perolehannya tdk
pd awal thn dan thn 2013 mrp thn terakhir masa manfaatnya (misal aktiva Kelompok I
diperoleh pd bulan Juli 2009 dan WP akan membebankan penyusutannya pd thn 2013)?
Jawaban:
Beban penyusutan aktiva tsb diisi seperti mengisi beban penyusutan aktiva yg lain, hanya pd
baris nilai buku dan penyusutan fiskal thn 2013 diisi sesuai dgn nilai sisa buku dan beban
penyusutan yg dpt dibiayakan berdasarkan pembukuan WP.

5.

Bagaimana cara mengisi lampiran khusus kompensasi kerugian fiskal?


Jawaban:
Klik Ubah R/L;
Mengisikan Rugi/Laba pd thn-thn sebelumnya (apabila dlm suatu thn WP mengalami
kerugian fiskal maka diisi dgn diawali dgn tanda minus (-)).

6.

User ingin membuat laporan utk thn tertentu pd e-SPT Tahunan 1771 Rupiah (misalnya
thn 2013) sedangkan setting profil thn bukunya masih blm disesuaikan (masih dlm thn
2012). Apakah aplikasi e-SPT Tahunan PPh Badan Rupiah dpt menyesuaikannya scr
otomatis?

B1217

Jawaban:
Tdk. Aplikasi ini tdk menyesuaikan scr otomatis shg user hrs meng-edit juga profil WP.
Sumber:
http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1164, http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1230, http://tkbdjp/tkb/engine/faq/view.php?id=1231, http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1232, http://tkbdjp/tkb/engine/faq/view.php?id=1233, http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1234, http://tkbdjp/tkb/engine/faq/view.php?id=1235, http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1234, http://tkbdjp/tkb/engine/faq/view.php?id=1236, http://tkb-djp/tkb/engine/faq/view.php?id=1235,
http://www.pajak.go.id/content/faq-e-spt-masa-pph-pasal-2326, http://www.pajak.go.id/content/faq-e-sptmasa-pph-pasal-22
(dgn bbrp perubahan seperlunya oleh penyusun)

B1218

e-FIN & e-FILING


Definisi:
e-Filing (Electronic Filling): Suatu cara penyampaian SPT scr elektronik yg dilakukan scr online dan
real time melalui internet pd website DJP (www.pajak.go.id) atau Penyedia Jasa Aplikasi atau
Application Service Provider (ASP)
e-FIN (Electronic Filing Identification Number): Nomor identitas yg diterbitkan oleh KPP kpd WP yg
mengajukan permohonan utk melaksanakan e-Filing.
Digital Certificate (DC): Sertifikat yg bersifat elektronik yg memuat Tanda Tangan Elektronik dan
identitas yg menunjukan status subjek hukum para pihak dlm transaksi elektronik yg dikeluarkan
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
ASP: Perusahaan yg tlh ditunjuk dgn Keputusan Dirjen Pajak sbg perusahaan yg dpt menyalurkan
penyampaian SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan scr elektronik ke DJP
NTPA (Nomor Transaksi Pengiriman ASP): Bukti penerimaan penyampaian SPT scr elektronik oleh
ASP
NTTE (Nomor Tanda Terima Elektronik): Bukti penerimaan penyampaian SPT scr elektronik yg
menyatakan bahwa SPT tlh diterima oleh DJP
Pemberi Kerja Tertentu: Pemberi kerja yg memiliki Pegawai Tetap dgn jml minimal 1.000 orang yg
memiliki alamat e-mail.

A. PENYAMPAIAN SPT (SPT MASA/TAHUNAN) & PERPANJANGAN SPT TAHUNAN SCR e-FILING
MELALUI ASP
Dasar Hukum:
PMK-181/PMK.03/2007 jo PMK-152/PMK.03/2009 ttg Bentuk dan Isi SPT, serta Tata Cara
Pengambilan, Pengisian, Penandatanganan dan Penyampaian SPT
PER-47/PJ/2008 (berlaku sejak 1 Maret 2009 - 31 Des 2013) jo PER-36/PJ/2013 (berlaku sejak 1
Jan 2014) ttg Tata cara penyampaian SPT dan penyampaian pemberitahuan perpanjangan SPT
Tahunan scr elektronik (e-Filing) melalui perusahaan ASP
SE terkait:
SE-53/PJ/2013 ttg Penegasan Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan dan Penyampaian
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan Scr Elektronik Melalui Perusahaan ASP
Yg Hrs Dilakukan WP Utk Menyampaikan SPT & Perpanjangan Penyampaian SPT Tahunan
Melalui e-Filing:
1. WP mengajukan surat permohonan utk memiliki e-FIN scr tertulis dgn form pd Lamp PER36/PJ/2013 dgn melampirkan FC Kartu NPWP/SKT dan Surat Pengukuhan PKP (Jika PKP)
2. Surat permohonan WP diajukan ke KPP tempat WP terdaftar
Kepala KPP hrs memberikan keputusan atas permohonan yg diajukan oleh WP utk
memperoleh e-FIN paling lama 2 hari kerja sejak permohonan diterima dgn lengkap &
benar.
Dlm hal e-FIN hilang, WP dpt mengajukan permohonan pencetakan ulang dgn syarat
menunjukkan asli kartu NPWP / SKT, atau bagi PKP dgn syarat menunjukkan asli Surat
Pengukuhan PKP.
3. WP yg sdh mendapatkan e-FIN hrs mendaftarkan diri melalui website pd 1 atau bbrp Perusahaan
ASP yg ditunjuk oleh Dirjen Pajak.
ASP yg tlh ditunjuk oleh DJP yg menyediakan aplikasi e-Filing:
http://www.pajakku.com
http://www.laporpajak.com
http://www.spt.co.id
4. Stl mendaftarkan diri, WP akan memperoleh DC dari DJP melalui Perusahaan ASP dimana WP
mendaftarkan diri.
DC seterusnya akan digunakan sbg alat yg berfungsi sbg pengaman data WP dlm setiap
proses penyampaian SPT dan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan scr elektronik melalui
suatu Perusahaan ASP ke DJP

B131

5. Perusahaan ASP hrs me


engirimkan:
Tata cara pelaksana
aan e-Filing;
Aplikasi dan petunjuk penggunaan e-SPT & e-SPTy; dan
Informasi lainnya;
kp
pd WP yg tlh mendaftarkan diri.
Cara Pelaporan SPT scr e-F
Filing Bagi WP yg Tlh Memperoleh DC:
1. e--SPT & e-SPTy yg tlh diisi dan dilengkapi se
esuai dgn ketentuan be
eserta keterangan dan//atau
do
okumen lain yg hrs dila
ampirkan dlm SPT dan//atau Pemberitahuan Perpanjangan
P
SPT Tahunan
diibubuhi tanda tangan elektronik atau tanda tan
ngan digital dan disamp
paikan scr elektronik ke DJP
rn
nelalui suatu Perusahaa
an ASP.
Tanda Tangan Elektrronik atau Tanda Tang
gan Digital adalah suattu informasi elektronik yg
y di
ge
enerate oleh Sistem DJJP.
2. Dlm hal SPT & Pembe
eritahuan Perpanjangan
n SPT Tahunan menu
unjukkan adanya kewa
ajiban
pe
embayaran pajak, WP wajib mencantumkan N
NTPN pd e-SPT & e-S
SPTy sbg bukti pembayyaran
yg
g tlh divalidasi.
3. Apabila e-SPT & e-SP
PTy tsb dinyatakan len
ngkap oleh DJP, maka
a kpd WP diberikan Bukti
Penerimaan Elektronik (BPE). BPE dianggap ssbg bukti penerimaan SPT
S
yg sah sepanjang SPT
diisampaikan lengkap.
4. Penyampaian SPT & Pe
emberitahuan Perpanja
angan SPT Tahunan scr
s elektronik dpt dilakkukan
se
elama 24 jam sehari da
an 7 hari seminggu dgn standar WIBB.
SPT & Pemberitahua
an Perpanjangan SPT Tahunan yg disampaikan scr elektronik pd akhir
ba
atas waktu Penyampaian SPT & Pemberitahu
uan Perpanjangan SPT
T Tahunan yg jatuh pd
d hari
lib
bur, dianggap disampaikan tepat waktu. (Pasa
al 8 ayat (2) PER-47/PJ//2008)
5. WP
W hrs menyampaikan dokumen
d
lainnya yg wa
ajib dilampirkan ke KPP tempat WP terdaftar sccr lsg
attau melalui pos scr tercatat, paling lama:
14 hari sejak batas terakhir pelaporan SPT dlm hal SPT disampaikan sbl batas akhir
penyampaian;
al penyampaian SPT sccr e-Filing dlm hal SPT disampaikan stl lewat batas
14 hari sejak tangga
akhir penyampaian.
(Pasal 9 ini dihapus oleh PER
R-36/PJ/2013)

es e-Filing Melalui ASP


P:
Prose
M
Mengajukan
permohonan
p
e-FIN ke KPP
terdaftar

Registrasi
ke ASP

Install Digital
Certificate dari
DJP

Install
Aplikasi e-SP
PT

Cetak Bukti
Penerimaan
Elektronik (BPE)

Kirim file e-SPT


ke DJP (e-Filing)

Input data
ke e-SPT

B132

B. PENYAMPAIAN SPT 1770 S / 1770 SS SCR e-FILING MELALUI WEBSITE DJP (www.pajak.go.id)
Dasar Hukum:
Pasal 3 ayat (1b), ayat (2), ayat (4), ayat (5), serta ayat (6) dan Pasal 6 ayat (2) UU KUP
PMK-181/PMK.03/2007 jo PMK-152/PMK.03/2009 tentang Bentuk dan Isi SPT, serta Tata Cara
Pengambilan, Pengisian, Penandatanganan dan Penyampaian SPT
PER-1/PJ./2014 (berlaku sejak 6 Jan 2014) ttg Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan bagi WP
OP yg Menggunakan Form 1770 S/1770 SS scr e-Filing Melalui Website DJP) mencabut PER39/PJ/2011
PER-62/PJ/2014 (berlaku sejak 25 Mar 2014) ttg Pengecualian Pengenaan Sanksi Administrasi
Berupa Denda atas Keterlambatan Penyampaian SPT Bagi WP OP yg Menyampaikan SPT
Tahunan PPh OP Scr e-Filing
SE terkait:
SE-01/PJ/2014 ttg Petunjuk teknis tata cara penyampaian SPT Tahunan bagi WP OP yg
menggunakan Formulir 1770 S/1770 SS scr e-Filing melalui website DJP
WP yg Dpt Menyampaikan SPT Tahunan scr e-Filing Melalui Website DJP:
WP OP yg memenuhi kriteria utk menyampaikan SPT Tahunan menggunakan Form 1770 S/1770 SS
Tata Cara Memperoleh e-FIN:
1. WP mengajukan permohonan scr lsg ke KPP terdekat menggunakan form sesuai Lamp PER1/PJ/2014 dgn menyertakan:
Asli kartu identitas diri WP atau kuasanya utk ditunjukkan kpd petugas pajak; dan
FC identitas diri dan FC NPWP/SKT; dan
Surat kuasa khusus bermeterai dan FC identitas diri WP, dlm hal permohonan disampaikan
oleh kuasa WP.

B133

2. KPP hrs menerbitkan e-FIN paling lama 1 hari kerja sejak permohonan diterima dgn lengkap &
benar.
Permohonan dianggap lengkap dan benar dlm hal:
Nama & NPWP yg tercantum sesuai dgn nama & NPWP dlm Master File Nasional DJP;
dan
Memenuhi ketentuan dlm penyampaian permohonan dan dokumen yg disertainya.
3. e-FIN disampaikan KPP (dlm amplop yg tertutup rapat) scr lsg kpd WP atau Kuasa WP,
Tata Cara Pengaktifan Akun e-Filing pd Website DJP: Hanya dilakukan 1x
1. WP yg sdh mendapatkan e-FIN, hrs mendaftarkan diri melalui website DJP.
2. Pendaftaran dilakukan dgn mengisi Form Registrasi e-Filing pd website DJP dan WP diwajibkan
utk mencantumkan alamat e-mail dan nomor HP yg valid dan aktif sbg sarana utk pengiriman
kode verifikasi, notifikasi, dan BPE pd proses e-Filing.
3. Stl proses registrasi berhasil maka WP akan menerima e-mail yg berisi username, password, dan
link aktivasi utk mengaktifkan akun e-Filing.
4. Dgn meng-klik atau menyalin link aktivasi dlm browser maka akun e-Filing sdh diaktifkan dan WP
dpt melakukan login utk masuk dlm akun e-Filing.
5. WP yg sdh mendapatkan e-FIN tetapi tdk mendaftarkan diri sampai batas waktu yg ditentukan
(paling lama 30 hari kalender sejak diterbitkannya e-FIN), maka atas e-FIN yg tlh diterbitkan
tdk dpt digunakan.
6. Dlm hal WP tdk mendaftarkan diri sampai batas waktu tsb atau e-FIN hilang sbl WP mendaftarkan
diri melalui www.pajak.go.id, WP dpt mengajukan kembali permohonan e-FIN.
Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan Scr e-Filing Melalui Website DJP:
1. WP melakukan login pd akun e-Filing dgn menggunakan username berupa NPWP dan password
yg tlh dibuat pd saat registrasi akun e-Filing, kemudian memilih menu sesuai dgn jenis SPT yg
hendak disampaikan.
2. Pemilihan menu tsb akan mengarahkan WP kpd aplikasi e-SPT yg sesuai dgn jenis SPT yg
dipilih.
3. WP mengisi SPT Tahunan scr online melalui aplikasi e-SPT (dgn mengikuti langkah-langkah yg
ada di dlm-nya) dgn memasukkan data yg benar, lengkap dan jelas pd setiap elemen e-SPT.
4. Dlm hal hasil pengisian aplikasi e-SPT menunjukkan status KB, WP hrs mencantumkan NTPN
atas pembayaran PPh Pasal 29 sbg bukti pembayaran. NTPN dpt diperoleh WP stl melakukan
pelunasan atas jml pajak yg kurang dibayar (PPh Pasal 29).
5. Simpan dan lakukan preview hasil pengisian SPT.
6. Stl mengisi e-SPT, WP mengklik tombol Minta Kode Verifikasi dlm menu yg tersedia. Kode
verifikasi tsb akan dikirimkan kpd WP melalui e-mail yg tlh didaftarkan oleh WP pd saat registrasi
akun e-Filing.
7. WP memilih data SPT, kemudian mengirim e-SPT dgn mengklik tombol Kirim. Kemudian
memasukkan kode verifikasi yg tlh diterima memalui e-mail ke dlm kotak isian yg disediakan pd
sat proses pengiriman e-SPT.
8. WP akan diberikan BPE sbg tanda terima penyampaian SPT Tahunan dlm hal hasil pengisian eSPT dinyatakan lengkap (apabila slr elemen data digital-nya tlh diisi) melalui e-mail kpd WP.
9. Keterangan dan/atau dokumen lain terkait SPT Tahunan tdk disampaikan pd saat penyampaian
SPT Tahunan scr e-Filing tetapi wajib disimpan sesuai ketentuan perpu.
10. Penyampaian SPT Tahunan scr e-Filing melalui website DJP dpt dilakukan setiap saat dgn
standar WIBB.
Tata Cara Penerbitan e-FIN: Lamp II SE-01/PJ/2014
Tata Cara Penyampaian & Pengolahan SPT Scr Melalui Website DJP: Lamp III SE-01/PJ/2014

B134

C. PERMOHONAN e-FIN MELALUI PEMBERI KERJA TERTENTU


Dasar Hukum:
PER-06/PJ/2014 (berlaku sejak 1 Jan 2014) ttg Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan Bagi WP
OP yg Menggunakan Form 1770 S/1770 SS scr e-Filing dan Mrp Pegawai Tetap pd Pemberi
Kerja Tertentu
Cara Penetapan Pemberi Kerja Tertentu:
1. Pemberi Kerja atau Instansi Pemerintah dpt mengajukan permohonan scr tertulis kpd Dirjen Pajak
dgn form Lamp I PER-06/PJ/2014 utk ditetapkan sbg Pemberi Kerja Tertentu.
2. Pemberi Kerja Tertentu ditetapkan melalui Keputusan Dirjen Pajak, dlm jangka waktu paling lama
7 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap dan benar.
3. Dlm hal permohonan tdk memenuhi syarat, Dirjen Pajak menyampaikan Surat Penolakan
Permohonan Menjadi Pemberi Kerja Tertentu, kpd Pemberi Kerja atau Instansi Pemerintah.
Cara Memperoleh e-FIN Melalui Pemberi Kerja Tertentu:
1. WP OP yg mrp Pegawai Tetap pd Pemberi Kerja Tertentu dpt mengajukan permohonan e-FIN
melalui Pemberi Kerja Tertentu.
2. Permohonan e-FIN dilakukan dgn mengisi form permohonan sesuai Lamp IV PER-06/PJ/2014,
dan menyampaikannya kpd Pemberi Kerja Tertentu.
3. Berdasarkan formulir permohonan e-FIN dari Pegawai Tetap, Pemberi Kerja Tertentu membuat
Daftar Nominatif yg sekurang-kurangnya memuat:
Nama Pegawai Tetap;
NPWP Pegawai Tetap;
Alamat Pegawai Pegawai Tetap;
NIK/No.KTP/Passport;
Alamat e-mail;
Nomor HP; dan
Nomor induk atau identitas kepegawaian.
4. Pemberi Kerja Tertentu menjamin kebenaran data dgn melampirkan Surat Pernyataan Kebenaran
Data sesuai Lamp V PER-06/PJ/2014.
5. Pemberi Kerja Tertentu menyampaikan form permohonan e-FIN para Pegawai Tetapnya, Daftar
Nominatif dan dan Surat Pernyataan Kebenaran Data kpd Dirjen Pajak.
6. Penyampaian form permohonan e-FIN dan Daftar Nominatif dituangkan oleh DJP dlm Berita
Acara sesuai Lamp VI PER-06/PJ/2014.
7. Dirjen Pajak menerbitkan e-FIN dan mengirimkannya ke e-mail @ Pegawai Tetap Pemberi Kerja
Tertentu berdasarkan Daftar Nominatif dan surat permohonan e-FIN paling lama 5 hari kerja sejak
permohonan diterima scr lengkap dan benar.
8. Permohonan e-FIN dianggap lengkap dan benar dlm hal nama & NPWP yg tercantum dlm Daftar
Nominatif dan surat permohonan e-FIN sesuai dgn nama & NPWP dlm Master File Nasional DJP.
9. Dirjen Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pengiriman dan Penerbitan e-FIN kpd Pemberi
Kerja Tertentu.
Yg Dilakukan Pegawai Stl Memperoleh e-FIN:
Tata cara mengikuti Tata Cara Pengaktifan Akun e-Filing pd Website DJP
Yg Dilakukan Pegawai Stl Mendaftarkan Diri sbg WP e-Filing:
Tata cara mengikuti Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan Scr e-Filing Melalui Website DJP
Termasuk penyampaian SPT Tahunan scr e-Filing melalui website DJP adalah penyampaian SPT
Tahunan melalui Sistem Informasi (SI) Pemberi Kerja Tertentu yg terhubung ke SI DJP.
Penyampaian SPT Tahunan scr e-Filing melalui SI Pemberi Kerja Tertentu ini dpt dilakukan
apabila Pemberi Kerja Tertentu memenuhi kriteria:
Memiliki SI yg terhubung dgn SI DJP; dan
SI tsb tlh lulus uji kelayakan yg dilakukan oleh DJP.

B135

D. FAQ TTG e-FILING MELALUI WEBSITE DJP

Browser apakah yg dpt digunakan scr optimal utk e-Filing?


Browser yg direkomendasikan adalah Mozilla Firefox, Google Chrome dan Apple Safari

Bagaimanakah cara meminta informasi ttg tatacara penggunaan aplikasi e-Filing?


Hubungi nomor telepon Kring Pajak (021) 500200

Apakah tg hrs dilakukan apabila WP pengguna mrp WP pindah dan tdk dpt login?
Hubungi admin e-Filing di e-mail: admin.efiling@pajak.go.id

Bagaimanakah apabila tdk memperoleh e-mail link Aktivasi?


Silahkan masuk ke menu Registrasi kemudian klik tombol Kirim Ulang Link Aktivasi

Bagaimanakah apabila gagal melakukan aktivasi?


Hubungi admin e-Filing di e-mail: admin.efiling@pajak.go.id

Bagaimanakah apabila tdk bisa login/gagal login?


Jika lupa password user e-Filing, WP dpt menggunakan fasilitas reset password dgn klik tombol Lupa
password di halaman login

Bagaimanakah apabila tanda terima SPT tdk diterima melalui e-mail WP?
WP dpt melakukan perubahan e-mail, kemudian klik kirim Ulang BPE pd bagian Dashboard

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

No.
1.
2.
3.
4.

5.

6.
7.

Executive Summary Persandingan Media e-Filing


Uraian
ASP
Website DJP
Formulir
Slr formulir SPT
1770 S & 1770 SS
Permohonan e-FIN
Ke KPP WP terdaftar
Ke KPP terdekat
Media Penyimpanan
ASP
Website DJP
Tanda Tangan Digital
Digital Certificate
Kode verifikasi (token) yg dikirim
melalui e-mail/SMS
Biaya
Membayar sesuai tarif ASP
Gratis
Dokumen Pelengkap
Dikirim scr elektronik
Tdk perlu dikirim lagi kecuali diminta
oleh KPP
Perubahan Aplikasi e-Filing Website DJP
Uraian
Aplikasi Lama
Aplikasi Baru
Perubahan Form 1770 SS
Blm mengakomodir
Sdh mengakomodir
Username
e-mail
NPWP
Metode Pengisian
1770 S & 1770 SS
1770 S: Wizard & template
menggunakan Wizard
1770 SS: Template
Sistem Monitoring
Blm detil
Lbh detil dgn menambahkan
Nomor Tanda Terima Elektronik
(NTTE), BPE, tanggal lapor, thn
pajak, status SPT serta status
penurunan data ke database
Informasi tambahan berupa to
Blm ada
Sdh dicantumkan shg
do list yg perlu dipersiapkan dlm
memudahkan user dlm melakukan
mengisi e-Filing bagi user
pengisian e-Filing
Fitur Save Draft
Di akhir pengisian
Di setiap halaman
Mekanisme Retrieve data
Tdk ada
Sdh diakomodir
terkait dgn data harta &
kewajiban dari thn sebelumnya

B136

PEMBUKUAN & PENCATATAN


A. PEMBUKUAN & PENCATATAN
Dasar Hukum:
Pasal 28 UU KUP
Pasal 10 PP 74 Thn 2011
KMK-543/KMK.04/2000 ttg Penggunaan bahasa asing dlm pembukuan atau pencatatan WP
PMK-197/PMK.03/2007 ttg Bentuk & tata cara pencatatan bagi WP OP
PER-4/PJ/2009 ttg Petunjuk pelaksanaan pencatatan bagi WP OP
Yg Wajib & Tdk Wajib Menyelenggarakan Pembukuan/Pencatatan:
Yg wajib menyelenggarakan pembukuan: (Pasal 28 ayat (1) UU KUP)
1. WP OP yg melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
2. WP badan di Indonesia
Yg tdk wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan pencatatan: (Pasal 28
ayat (2) UU KUP)
1. WP OP yg melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yg yg peredaran brutonya dlm 1
thn < Rp. 4,8 M diperbolehkan menghitung penghasilan neto dgn menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto dgn syarat memberitahukan kpd Dirjen Pajak dlm jangka
waktu 3 bulan pertama dari thn pajak yg bersangkutan (Pasal 14 ayat (2) UU PPh).
2. WP OP yg tdk melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
Ketentuan Penyelenggaraan Pembukuan/Pencatatan:
1. Pembukuan atau pencatatan tsb hrs diselenggarakan dgn memperhatikan iktikad baik dan
mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yg sebenarnya. (Pasal 28 ayat (3) UU KUP)
2. Pembukuan atau pencatatan hrs diselenggarakan di Indonesia dgn menggunakan huruf Latin,
angka Arab, satuan mata uang Rp, dan disusun dlm bahasa Indonesia atau dlm bahasa asing yg
diizinkan oleh Menkeu. (Pasal 28 ayat (4) UU KUP)
3. Buku, catatan, dan dokumen yg menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain
termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yg dikelola scr elektronik atau scr program
aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 thn di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat
tinggal WP OP, atau di tempat kedudukan WP badan. (Pasal 28 ayat (11) UU KUP)
Ketentuan Penyelenggaraan Pembukuan:
1. Pembukuan diselenggarakan dgn prinsip taat asas dan dgn stelsel akrual atau stelsel kas. (Pasal
28 ayat (5) UU KUP)
Penjelasan Pasal 28 ayat (5) UU KUP:
a. Prinsip taat asas: prinsip yg sama digunakan dlm metode pembukuan dgn thn-thn
sebelumnya utk mencegah penggeseran laba atau rugi.
Misalnya dlm penerapan:
Stelsel pengakuan penghasilan
Thn buku
Metode penilaian persediaan
Metode penyusutan dan amortisasi
b. Stelsel akrual: suatu metode penghitungan penghasilan & biaya dlm arti penghasilan diakui
pd waktu diperoleh dan biaya diakui pd waktu terutang. Tdk tergantung kapan penghasilan itu
diterima dan kapan biaya itu dibayar scr tunai.
Termasuk dlm pengertian stetsel akrual pengakuan penghasilan berdasarkan metode
persentase tingkat penyelesaian pekerjaan yg umumnya dipakai dim bidang konstruksi dan
metode lain yg dipakai dlm bidang usaha tertentu seperti BOT dan real estat.
c. Stelsel kas: suatu metode yg penghitungannya didasarkan atas penghasilan yg diterima dan
biaya yg dibayar scr tunai.
Menurut stelsei kas, penghasilan baru dianggap sbg penghasilan apabila benar-benar tlh
diterima scr tunai dlm suatu periode tertentu serta biaya baru dianggap sbg biaya apabila
benar-benar tlh dibayar scr tunai dlm suatu periode tertentu.
Stelsel kas biasanya digunakan oleh perusahaan kecil OP atau perusahaan jasa,
misalnya transportasi, hiburan, dan restoran yg tenggang waktu antara penyerahan jasa

B141

dan penerimaan pembayarannya tdk berlangsung lama. Dlm stetsel kas murni,
penghasilan dari penyerahan barang atau jasa ditetapkan pd saat pembayaran dari
pelanggan diterima dan biaya-biaya ditetapkan pd saat barang, jasa, dan biaya operasi
lain dibayar.
Dgn cara ini, pemakaian stelsel kas dpt mengakibatkan penghitungan yg mengaburkan
thd penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dari thn ke thn dpt disesuaikan dgn
mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas. Utk penghitungan PPh dlm memakai
stelsel kas hrs memperhatikan hal-hal antara lain sbg berikut:
Penghitungan jml penjualan dlm suatu periode hrs meliputi slr penjualan, baik yg
tunai maupun yg bukan. Dlm menghitung HPP hrs diperhitungkan slr pembeiian &
persediaan.
Dlm memperoleh harta yg dpt disusutkan dan hak- hak yg dpt diamortisasi, biayabiaya yg dikurangkan dari penghasilan hanya dpt dilakukan melalui penyusutan &
amortisasi.
Pemakaian stelsel kas hrs dilakukan scr taat asas (konsisten).
Dgn demikian penggunaan stelsel kas utk tujuan perpajakan dpt juga dinamakan stelsel
campuran.
2. Perubahan thd metode pembukuan dan/atau thn buku hrs mendapat persetujuan dari Dirjen
Pajak. (Pasal 28 ayat (6) UU KUP)
Apabila WP menggunakan thn buku yg tdk sama dgn thn kalender, penyebutan Thn Pajak
yg bersangkutan menggunakan thn yg di dlm-nya termasuk 6 bulan pertama atau lbh.
Contoh:
a. Thn buku 1 Juli 2008 s.d. 30 Juni 2009 adalah Thn Pajak 2008.
b. Thn buku 1 Okt 2008 s.d. 30 Sept 2009 adalah Thn Pajak 2009.
3. Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian shg dpt dihitung besarnya pajak yg
terutang. (Pasal 28 ayat (7) UU KUP)
4. Pembukuan dgn menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rp dpt diselenggarakan oleh
WP stl mendapat izin Menkeu.
Ketentuan Penyelenggaraan Pencatatan:
1. Pencatatan terdiri atas data yg dikumpulkan scr teratur ttg peredaran atau penerimaan bruto
dan/atau penghasilan bruto sbg dasar utk menghitung jml pajak yg terutang, termasuk
penghasilan yg bukan objek pajak dan/atau yg dikenai pajak yg bersifat final. (Pasal 28 ayat (9)
UU KUP)
Pencatatan hrs dpt menggambarkan antara lain: (Pasal 2 ayat (1) PER-4/PJ/2009)
Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jml penghasilan bruto yg diterima dan/atau
diperoleh;
Penghasilan yg bukan objek pajak dan/atau penghasilan yg pengenaan pajaknya bersifat
final.
Bagi WP yg mempunyai > 1 jenis usaha dan/atau tempat usaha, pencatatan hrs dpt
menggambarkan scr jelas utk @ jenis usaha dan/atau tempat usaha yg bersangkutan. (Pasal
2 ayat (2) PER-4/PJ/2009)
WP OP juga hrs menyelenggarakan pencatatan atas harta & kewajiban. (Pasal 2 ayat (3)
PER-4/PJ/2009)
2. Pencatatan hrs dibuat dlm suatu Thn Pajak, yaitu jangka waktu 1 thn kalender mulai tanggal 1
Jan s.d. 31 Des. (Pasal 4 ayat (2) PER-4/PJ/2009)
3. Pencatatan hrs dibuat scr kronologis dan sistematis berdasarkan urutan tanggal diterimanya
peredaran dan/atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto. (Pasal 4 ayat (3) PER4/PJ/2009)
4. Pencatatan diselenggarakan dgn bentuk sesuai lamp PER-4/PJ/2009
a. Bagi WP OP yg melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yg peredaran brutonya dlm
1 thn < Rp 4,8 M
Pencatatan penghasilan yg diterima dari kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas yg
mrp objek pajak yg tdk dikenai pajak bersifat final diselenggarakan dgn bentuk sesuai
Lamp I PER-4/PJ/2009.

B142

b.

Pencatatan penghasilan bruto yg diterima dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan
bebas yg penghasilannya mrp objek pajak yg tdk dikenai pajak bersifat final
diselenggarakan dgn bentuk sesuai Lamp II PER-4/PJ/2009.
Pencatatan penghasilan yg bukan objek pajak dan/atau penghasilan yg pengenaan
pajaknya bersifat final diselenggarakan dgn bentuk sesuai LampIV PER-4/PJ/2009.
Bagi WP OP yg tdk melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
Pencatatan penghasilan bruto diselenggarakan dgn bentuk sesuai Lamp III PER4/PJ/2009.
Pencatatan penghasilan yg bukan objek pajak dan/atau penghasilan yg pengenaan
pajaknya bersifat final diselenggarakan dgan bentuk Lamp IV PER-4/PJ/2009.

B. PERUBAHAN METODE PEMBUKUAN DAN ATAU THN BUKU


Dasar Hukum:
Pasal 28 ayat (6) UU KUP
Pasal 28 PP 94 Thn 2010 (berlaku sejak 30 Des 2010)
Lamp I, II dan VI KEP-297/PJ/2002 stdtd KEP-11/PJ/2013
SE dan surat terkait:
SE-40/PJ.42/1998 (tanggal 24 Des 1998) ttg Petunjuk Pelaksanaan KEP-208/PJ/1998
SE-14/PJ.313/1991 ttg Petunjuk penerbitan keputusan persetujuan/penolakan permohonan
perubahan thn buku/thn pajak dari WP
S-255/PJ.312/2004 ttg Tata cara permohonan perubahan metode
Tata Cara & Persyaratan:
a. WP menyampaikan surat permohonan kpd Kepala KPP dimana WP terdaftar, dgn
menyebutkan: (angka 1 SE-40/PJ.42/1998)
1. Identitas WP;
2. Perubahan metode pembukuan dan/atau thn buku utk yg ke berapa;
3. Alasan permohonan dan maksud/tujuan usul perubahan.
b. Permohonan hrs memenuhi syarat sbb: (angka 1 SE-14/PJ.313/1991)
1. SPT Tahunan PPh thn terakhir tlh dimasukkan.
2. Apabila ada utang pajak, maka utang pajak yg tlh jatuh tempo pembayarannya hrs sdh
dilunasi oleh WP. Keterlambatan pelunasan utang pajak akan mengakibatkan
tertundanya penerbitan SK Persetujuan.
3. Alasan perubahan periode thn buku/thn pajak.
a. Alasan yg dpt dipertimbangkan utk disetujuinya permohonan dimaksud hrs memenuhi
syarat sbb :
i. Perubahan thn buku/thn pajak dikehendaki oleh pemegang saham, pemberi
kredit, partner usaha, pemerintah atau pihak-pihak lainnya, dimana apabila thn
buku/thn pajak tdk diubah akan mengakibatkan kesulitan dan atau kerugian bagi
perusahaan;
ii. Permohonan perubahan thn buku/thn pajak tsb baru pertama kali diajukan dan
tdk ada niat utk melakukan perubahan lagi pd thn-thn yg akan datang.
Apabila pengajuan permohonan perubahan thn buku/thun pajak tsb adalah mrp
permohonan kedua dan seterusnya, maka Kepala KPP meneruskan permohonan
tsb kpd Kanwil selambat-lambatnya 7 hari sejak diterimanya permohonan WP utk
menerbitkan SK Persetujuan atau SK Penolakan;
iii. Tdk ada maksud bahwa perusahaan dgn sengaja berusaha utk melakukan
penggeseran laba/rugi guna meringankan beban pajak;
b. Alasan tsb hrs dituangkan dlm bentuk surat pernyataan dari WP yg bersangkutan.
Wewenang Persetujuan Perubahan Metode Pembukuan:
Hrs mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak (Pasal 28 (6) UU KUP)
a. Perubahan pertama Kepala KPP (Lamp I No. 45 & 55, Lamp II No. 36 & 44 KEP297/PJ/2002)
b. Perubahan kedua & seterusnya Kanwil DJP (Lamp VI No. 20 KEP-297/PJ./2002)

B143

Jangka Waktu Penyelesaian:


a. Perubahan thn buku
Perubahan pertama Paling lambat 2 bulan stl permohonan diterima lengkap oleh KPP
(angka 2 SE-14/PJ.313/1991)
Perubahan kedua dan seterusnya Paling lambat 14 hari sejak diterimanya surat
permohonan oleh Kanwil dari KPP
b. Perubahan metode pembukuan Paling lama 1 bulan sejak diterimanya permohonan scr
lengkap
Ketentuan Peralihan: (Pasal 28 PP 94 Thn 2010)
WP yg melakukan perubahan thn buku dan tlh mendapat persetujuan dari Dirjen Pajak sesuai
Pasal 28 ayat (6) UU KUP, hrs melaporkan penghasilan yg diterima atau diperoleh dlm bagian thn
buku yg tdk termasuk dlm thn buku yg baru dlm SPT Tahunan PPh tersendiri utk Bagian Thn
Pajak yg bersangkutan.
Sisa rugi fiskal yg masih dpt dikompensasikan yg berasal dari thn-thn pajak sbl perubahan thn
buku dpt dikompensasikan dgn penghasilan utk Bagian Thn Pajak & Thn Pajak berikutnya.

C. PEMBUKUAN DGN MATA UANG ASING


Dasar Hukum:
Pasal 28 ayat (8) UU KUP
PMK-196/PMK.03/2007jo PMK-24/PMK.11/2012
PMK-31/PMK.05/2012 ttg Nomor dan Rekening Kas Umum Negara mencabut PMK196/PMK.05/2009 jo PMK-43/PMK.05/2011
PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012
Keputusan bersama Dirjen Anggaran & Dirjen Pajak KEP-60/A/1999 & KEP-306/PJ./1999 ttg
Tata Cara Pembayaran PPh dlm Mata Uang US$
SE terkait:
SE-31/PJ./2010 ttg Penyampaian PER-11/PJ/2010
Jenis Bahasa Asing & Satuan Mata Uang Selain Rp yg Diperbolehkan:
Bahasa: Bahasa Inggris
Satuan mata uang asing selain Rp: US$
Syarat pengajuan permohonan:
Disampaikan scr tertulis kpd Dirjen Pajak melalui Kepala Kanwil paling lama 3 bulan sbl thn
buku yg diselenggarakan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ berakhir;
Mengemukakan alasan pencabutan sesuai dgn kondisi yg sebenarnya; dan
Permohonan diajukan stl lewat jangka waktu 5 thn pajak sejak diterbitkan izin / penyampaian
pemberitahuan dgn format Lamp I PER-10/PJ/2012.
Keputusan DJP atas:
Izin sebagaimana dimaksud dlm Pasal 2 & 5 ayat (2) PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012
Pembatalan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 7 ayat (1) huruf b PER-11/PJ/2010 jo PER10/PJ/2012
Izin sebagaimana dimaksud dlm Pasal 7 ayat (2) PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012
Pencabutan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 8 PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012
Paling lama 1 bulan sejak permohonan dari WP diterima scr lengkap. Apabila jangka waktu
tsb tlh lewat dan Kepala Kanwil DJP blm memberikan keputusan maka permohonan dianggap
diterima dan Kepala Kanwil atas nama Menkeu hrs menerbitkan keputusan paling lama 2 hari
kerja terhitung sejak berakhirnya jangka waktu tsb dgn menggunakan Lamp IV PER-10/PJ/2012.
Ketentuan Stl Memperoleh Izin / Penyampaian Pemberitahuan Scr Tertulis:
WP hrs menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang
US$ tsb dlm jangka waktu paling sedikit 5 thn pajak sejak diterbitkan izin / penyampaian
pemberitahuan

B144

Dlm hal WP tsb tetap menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Indonesia &
satuan mata uang Rp, akan dicabut izinnya scr jabatan oleh Kepala Kanwil dgn menerbitkan
Keputusan sesuai Lamp III PER-10/PJ/2012, dan tdk dpt diberikan izin utk menyelenggarakan
pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$.

WP yg Tlh Memperoleh Izin Tetapi Merencanakan utk tdk Memanfaatkan Izin yg Dimilikinya:
WP wajib:
Menyampaikan pemberitahuan tertulis dlm hal Thn Pajak sebagaimana tercantum dlm surat izin
blm dimulai & pemberitahuan tsb hrs sdh diterima oleh KPP tempat WP terdaftar sbl Thn Pajak
tsb dimulai (Pasal 7 ayat (1) huruf a PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012); atau
Mengajukan permohonan pembatalan scr tertulis kpd Kepala KPP tempat WP terdaftar paling
lama 3 bulan stl thn buku yg diselenggarakan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata
uang US$ tsb dimulai (Pasal 7 ayat (1) huruf b PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012)
dgn format Lamp I PER-10 serta melampirkan FC surat izin.
Kontrak Karya, KKKS, atau KSO yg Tlh Memberitahukan utk Menyelenggarakan Pembukuan
dgn Bahasa Inggris & Mata Uang US$ Tetapi Akan Menyelenggarakan Pembukuan dgn Bahasa
Indonesia & Mata Uang Rp: (Pasal 7 ayat (2) PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012)
Wajib mengajukan permohonan utk menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa
Indonesia & satuan mata uang Rp kpd Kepala Kanwil paling lama 3 bulan sbl thn buku yg
diselenggarakan dgn menggunakan bahasa Indonesia & satuan mata uang Rp tsb dimulai, dgn format
Lamp I PER-10/PJ/2012 serta melampirkan FC surat pemberitahuan
Permohonan Pencabutan Izin: (Pasal 8 PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012)
Dlm hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 4 ayat (1), 5 ayat (1) dan 7 ayat (1)
huruf a PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012 yg disampaikan ke KPP tdk dilengkapi dgn dokumen
yg dipersyaratkan dan/atau melampaui ketentuan batas waktu penyampaian pemberitahuan, maka
pemberitahuan tsb dianggap tdk disampaikan.

Dlm hal permohonan WP sebagaimana dimaksud dlm:


Pasal 7 ayat (1) huruf b & 7 ayat (2) PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012 dikabulkan, WP
tsb tdk diperbolehkan menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris &
satuan mata uang US$ dlm jangka waktu 5 thn sejak izin tsb dicabut; atau
Pasal 8 PER-11/PJ/2010 jo PER-10/PJ/2012 dikabulkan, WP tsb wajib menyelenggarakan
pembukuan dgn menggunakan bahasa Indonesia & satuan mata uang Rp pd awal thn
bukuberikutnya, dan tdk dpt mengajukan permohonan utk menyelenggarakan pembukuan
dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ dlm jangka waktu 5 thn sejak
izin tsb dicabut.
Dlm hal WP kemudian bermaksud menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$ lagi, WP hrs mengajukan surat permohonan kpd Kepala
Kanwil stl jangka waktu 5 thn terlampaui.

Ketentuan Konversi ke Satuan Mata Uang US$ bagi WP yg Tlh Memperoleh Izin: (Pasal 6 PMK196/PMK.05/2009)
1. Pd awal thn buku
Penyelenggaraan pembukuan dgn menggunakan satuan mata uang US$ utk pertama kali
dilakukan dgn bertitik tolak dari Neraca akhir thn buku sebelumnya (dlm satuan mata uang Rp) yg
dikonversikan ke satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs:
a. Utk harga perolehan harta berwujud dan/atau harta tdk berwujud yg mempunyai masa
manfaat > 1 thn menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku pd saat perolehan harta tsb
b. Utk akumulasi penyusutan dan/atau amortisasi harta pd huruf a menggunakan kurs yg
sebenarnya berlaku pd saat perolehan harta tsb
c. Utk harta lainnya dan kewajiban menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku pd akhir thn buku
sebelumnya, berdasarkan sistem pembukuan yg dianut yg dilakukan scr taat asas
d. Apabila terjadi revaluasi aktiva tetap, di samping menggunakan nilai historis, atas nilai selisih
lbh dikonversi ke dlm satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku
pd saat dilakukannya revaluasi

B145

e.

2.

Utk laba ditahan atau sisa kerugian dlm satuan mata uang Rp dari thn-thn sebelumnya,
dikonversi ke dlm satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku pd
akhir thn buku sebelumnya, yakni kurs tengah BI, berdasarkan sistem pembukuan yg dianut
yg dilakukan scr taat asas
f. Utk modal saham dan ekuitas lainnya menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku pd saat
terjadinya transaksi
g. Dlm hal terdapat selisih laba atau rugi sbg akibat konversi dari satuan mata uang Rp ke
satuan mata uang US$ pd huruf a e maka selisih laba atau rugi tsb dibebankan pd rekening
laba ditahan.
Dlm thn berjalan:
a. Utk transaksi yg dilakukan dgn satuan mata uang US$, pembukuannya dicatat sesuai dgn
dokumen transaksi yg bersangkutan
b. Utk transaksi, baik DN maupun LN, yg menggunakan satuan mata uang selain US$,
dikonversikan ke satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs yg sebenarnya berlaku pd
saat terjadinya transaksi:
Apabila dari dokumen transaksi diketahui kurs yg berlaku, maka kurs yg dipakai adalah
kurs yg diketahui dari transaksi tsb
Apabila dari dokumen transaksi tdk diketahui kurs yg berlaku, maka kurs yg dipakai
adalah kurs tengah BI yg berlaku, berdasarkan sistem pembukuan yg dianut yg dilakukan
scr taat asas.

Penghitungan Besar Angsuran PPh 25 Stl WP Memperoleh Izin: (Pasal 7 PMK-196/PMK.05/2009)


1. Besarnya angsuran PPh Pasal 25 utk thn pajak pertama penyelenggaraan pembukuan dgn
menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ adalah sebesar PPh Pasal 25 dlm satuan
mata uang Rp yg dikonversikan dgn menggunakan kurs tengah BI yg berlaku:
a. Pd akhir thn buku sbl dimulainya pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan
mata uang US$ utk konversi PPh sesuai Pasal 25 ayat (2) UU PPh;
b. Pd saat penyampaian atau batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Thn Pajak sbl
dimulainya pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ utk
konversi PPh sesuai Pasal 25 ayat (1) UU PPh; atau
c. Pd saat skp diterbitkan utk Thn Pajak sbl dimulainya pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris & satuan mata uang US$ utk konversi PPh sesuai Pasal 25 ayat (4) UU PPh
dan pd saat penetapan penghitungan besarnya angsuran pajak sesuai Pasal 25 ayat (6) UU
PPh.
2. Pembayaran PPh Pasal 25 & Pasal 29 serta PPh Final yg dibayar sendiri oleh WP yg
memperoleh izin utk menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan
mata uang US$, dpt dilakukan dlm satuan mata uang Rp. (Pasal 7 ayat (2) PMK196/PMK.05/2009)
Dlm hal pembayaran PPh tsb dilakukan dlm satuan mata uang Rp, WP hrs mengkonversikan
pembayaran dlm satuan mata uang Rp tsb ke satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs yg
ditetapkan dlm Keputusan MenKeu yg berlaku pd tanggal pembayaran. (Pasal 7 ayat (3) PMK196/PMK.05/2009)
Ketentuan Terkait SPT Tahunan: (Pasal 8 ayat (1) & (2) PMK-196/PMK.05/2009)
a. WP yg diizinkan utk menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan
mata uang US$, wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh WP Badan beserta lampirannya dlm
bahasa Indonesia kecuali lampiran berupa LK, dan menggunakan satuan mata uang US$.
b. Dlm hal terdapat bukti pembayaran atau pemotongan/pemungutan PPh Pasal 22 & Pasal 23 dgn
menggunakan satuan mata uang Rp yg akan dikreditkan dlm SPT Tahunan PPh WP Badan, hrs
dikonversi ke dlm satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs yg ditetapkan dlm Keputusan
MenKeu yg berlaku pd tanggal pembayaran atau pemotongan/pemungutan pajak tsb.
Ketentuan Terkait Sisa Kerugian Fiskal: (Pasal 11 PMK-196/PMK.05/2009)
Sisa kerugian fiskal dlm satuan mata uang Rp dari thn-thn sebelumnya yg dpt dikompensasikan ke
Thn Pajak dimulainya pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$,
dikonversikan ke dlm satuan mata uang US$ dgn menggunakan kurs tengah BI yg berlaku pd akhir
thn buku pd saat kerugian fiskal tsb terjadi.

B146

Ketentuan Peralihan: (Pasal 17 PMK-196/PMK.05/2009)


a. Bagi WP yg tlh memperoleh izin utk menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$ sbl berlakunya PMK-196/PMK.05/2009:
Tdk perlu mengajukan permohonan baru dan izin tsb tetap berlaku; dan
Ketentuan yg diatur dlm PMK-196/PMK.05/2009 diberlakukan utk Thn Pajak yg dimulai stl
tanggal 31 Des 2007.
b. Bagi WP yg tlh menyampaikan pemberitahuan atau mengajukan permohonan izin utk
menyelenggarakan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ sbl
berlakunya PMK-196/PMK.05/2009, perlakuan hak & kewajiban WP sehubungan dgn
penyelenggaraan pembukuan dgn menggunakan bahasa Inggris & satuan mata uang US$ sesuai
PMK-196.
Pembayaran Pajak dgn Mata Uang US$:
PPh yg dpt dibayar dgn mata uang US$ adalah hanya PPh Pasal 25, PPh Psl 29, dan PPh Final
yg dibayar WP sendiri. (Pasal 1 huruf a KEP-60/A/1999 & KEP-306/PJ./1999)
Prosedur pembayaran:
WP diwajibkan memberitahukan scr tertulis kpd BI dan Direktorat Perbendaharaan bahwa
WP yg bersangkutan akan melakukan transfer pembayaran PPh dlm mata uang US$ ke
Rekening Giro Kas Negara Nomor 600.500411.
Nomor rekening kas umum negara terakhir dlm valuta US$ diatur di PMK31/PMK.05/2012: 600.502411980
WP melakukan transfer pembayaran PPh dlm mata uang US$ melalui Bank WP di LN atau
Bank Devisa di DN ke Rekening Giro Kas Negara sesuai dgn jangka waktu pembayaran.
WP diwajibkan meminta bukti transfer pembayaran di atas dari Bank WP di LN atau Bank
Devisa.
WP membuat SSP dlm mata uang US$ rangkap 2:
9 SSP lembar ke-1 digabungkan dgn asli bukti transfer utk arsip WP yg bersangkutan;
9 SSP lembar ke-2 dilampiri FC bukti transfer pembayaran disampaikan ke KPP di tempat
9 WP terdaftar sesuai dgn ketentuan yg berlaku.
WP menerima LPAD dari KPP setempat sbg tanda bukti tlh menyampaikan SSP.
Pembayaran Pajak dgn Mata Uang US$ melalui Bank Persepsi Mata Uang Asing:
a. Sbl adanya Bank Persepsi yg Menerima Mata Uang Asing:
Dgn US$
Rek. 600
Dgn Rp (Konversi)
Bank Persepsi
b. Stl adanya Bank Persepsi yg Menerima Mata Uang Asing:
Dgn US$
Rek. 600
Bank Persepsi yg Ditunjuk Menerima Mata Uang Asing
Dgn Rp (Konversi)
Bank Persepsi
Ket:
Saat ini BNI menjadi satu-satunya Bank Persepsi Mata Uang Asing (berdasar Keputusan
Dirjen Perbendaharaan KEP-213/PB/2012 tanggal 13 Nov 2012)
Pembayaran pajak dgn mata uang US$ melalui BNI mendapat NTPN, sedangkan melalui
bank lainnya tdk mendapat NTPN.

B147

WP yg Dpt Menyelenggarakan pembukuan dgn Bahasa Inggris & Mata Uang US$:
No

Kelompok WP

1.

WP BUT

2.

WP dlm rangka PMA

3.

WP yg mendaftarkan
emisi sahamnya
(sebagian / seluruhnya)
di bursa efek LN
WP KIK yg
menerbitkan reksadana
dlm denominasi satuan
mata uang Dollar AS &
tlh memperoleh Surat
Pemberitahuan Efektif
Pernyataan
Pendaftaran
WP yg berafiliasi lsg
dgn perusahaan induk
di LN

4.

5.

6.

7.
8.

WP baru terdaftar yg
blm wajib menyampaikan SPT Tahunan
WP dlm rangka Kontrak
Karya
WP KKKS

Permohonan Izin /
Pemberitahuan
Permohonan izin
dgn mengajukan permohonan
scr tertulis kpd Kepala Kanwil DJP
(melalui KPP) dgn format Lamp I
PER-10/PJ/2012 paling lambat 3
bulan:
Sbl thn buku yg diselenggarakan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$
tsb dimulai; atau
Sejak tanggal pendirian bagi
WP baru utk Bagian Thn Pajak
atau Thn Pajak pertama

Lampiran Dokumen
FC akta pendirian perusahaan &
perubahannya atau dokumen lain yg serupa
FC surat keterangan/ penunjukan kantor
perwakilan Indonesia dari kantor pusat
FC SPT Tahunan PPh thn pajak terakhir
FC Surat Persetujuan PMA dari BKPM
FC SPT Tahunan PPh thn pajak terakhir
Surat keterangan dari bursa efek LN yg
menyatakan bahwa emisi saham WP
pemohon didaftarkan di bursa efek tsb
FC SPT Tahunan PPh thn pajak terakhir
FC Surat Pemberitahuan Efektifnya
Pernyataan Pendaftaran dari BAPEPAM-LK
atas penerbitan reksadana oleh KIK yg
bersangkutan
FC prospektus penawaran atas reksadana yg
diterbitkan dlm satuan mata uang US$
FC SPT Tahunan PPh thn pajak terakhir
Surat keterangan/ pernyataan dari
perusahaan induk di LN & LK konsolidasi
perusahaan induk di LN
FC SPT Tahunan PPh thn pajak terakhir
FC Bukti Penyetoran Modal Awal dlm Dollar
AS

Pemberitahuan
dgn menyampaikan
pemberitahuan scr tertulis ke KPP
tempat WP terdaftar dgn format
Lamp I PER-10/PJ/2012 paling
lambat 3 bulan:
Sejak tanggal pendirian apabila
sejak pendiriannya
menyelenggarakan pembukuan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang

FC Kontrak Karya
FC Kontrak Kerja Sama

B148

Dasar
Surat Pernyataan
(bermeterai Rp
6000) bahwa
transaksi
penjualan & biaya
yg dilakukan
perusahaan
didominasi oleh
satuan mata uang
US$ dan
pembukuan
menggunakan
bahasa Inggris
serta slr aktiva,
pasiva, modal,
pendapatan, dan
biaya seluruhnya
dicatat dlm satuan
mata uang US$
dgn format Lamp
II PER-10/PJ/2012

Pasal 2
PER11/PJ/2010
jo PER10/PJ/2012

Pasal 4 ayat
(1) PER11/PJ/2010
jo PER10/PJ/2012

US$; atau
Sbl thn buku yg diselenggarakan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$
tsb dimulai bagi yg akan
menyelenggarakan pembukuan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$
1.

KSO sepanjang
dipersyaratkan dlm
perjanjian
kerjasama/akta
pendirian KSO utk
menyelenggarakan
pembukuan dgn
bahasa & mata uang
US$ yg
a. semua anggota
KSO telah
mendapatkan izin
Menkeu utk
menyelenggarakan
pembukuan dgn
menggunakan
bahasa Inggris &
satuan mata uang
US$

FC perjanjian kerjasama/ akta pendirian KSO


FC SK Menkeu ttg Pemberian Izin Menyelenggarakan Pembukuan
dgn Menggunakan Bahasa Inggris & Satuan Mata Uang US$ atas
nama anggota-anggota KSO yg tlh mendapatkannya

Pemberitahuan
dgn menyampaikan
pemberitahuan scr tertulis ke KPP
tempat WP terdaftar dgn format
Lamp I PER-10/PJ/2012 paling
lambat 3 bulan:
Sejak tanggal pendirian apabila
sejak pendiriannya
menyelenggarakan pembukuan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang
US$; atau
Sbl thn buku yg diselenggarakan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$
tsb dimulai bagi yg akan
menyelenggarakan pembukuan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$

Pasal 5 ayat
(1) PER11/PJ/2010
jo PER10/PJ/2012

B149

b.

tdk semua anggota


KSO-nya
mendapatkan izin
Menkeu utk
menyelenggarakan
pembukuan dgn
menggunakan
bahasa Inggris &
satuan mata uang
US$

Permohonan izin
dgn mengajukan permohonan
scr tertulis kpd Kepala Kanwil DJP
(melalui KPP) dgn format Lamp I
PER-10/PJ/2012 paling lambat 3
bulan:
Sbl thn buku yg diselenggarakan
dgn menggunakan bahasa
Inggris & satuan mata uang US$
tsb dimulai; atau
Sejak tanggal pendirian bagi
WP baru utk Bagian Thn Pajak
atau Thn Pajak pertama

Pasal 5 ayat
(2) PER11/PJ/2010
jo PER10/PJ/2012

KPP hrs mengirimkan surat permohonan/pemberitahuan dari WP ke Kanwil paling lama 3 hari sejak permohonan/pemberitahuan diterima dan mengarsipkan
FC berkas surat permohonan/pemberitahuan tsb. SK diterbitkan oleh Kanwil DJP.

B1410

PEMINDAHBUKUAN (Pbk)
Dasar Hukum:
KMK-88/KMK.04/1991 (berlaku mulai 24 Jan 1991) ttg Tata cara pembayaran pajak melalui Pbk
KEP-965/PJ.9/1991 (berlaku mulai 17 Okt 1991) ttg Tata cara pelaksanaan teknis pembayaran
pajak melalui Pbk
KEP-522/PJ./2002 (berlaku mulai 16 Des 2002) ttg Pelaksanaan teknis tata cara Pbk atas
kekeliruan pembayaran PPh dlm mata uang dollar AS
KEP-378/PJ/2013 ttg Penetapan Standar Pelayanan pd KPP
PER-65/PB//007 tanggal 11 Okt 2007
SE terkait:
SE-26/PJ.9/1991 ttg Petunjuk teknis Pbk
Definisi:
Pbk Pembayaran utang pajak, termasuk bunga, denda administrasi dan kenaikan, yg
dilakukan melalui:
Perhitungan dgn kelebihan pembayaran pajak atau bunga yg diterima; atau
Melalui perhitungan dgn setoran pajak yg lain atas nama WP yg sama atau WP lain.
Tata Cara Pbk: (Pasal 2 ayat (1) & (2) KEP-965/PJ.9/1991)
Utk Pbk yg:
1. dikarenakan adanya kelebihan pembayaran pajak atau tlh melakukan pembayaran Pajak yg
Seharusnya Tdk Terutang berdasarkan Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak
(SKKPP) atau surat keputusan lainnya yg menyebabkan timbulnya kelebihan pembayaran
pajak;
2. dikarenakan adanya pemberian bunga kpd akibat keterlambatan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak.
maka Pbk dilaksanakan: oleh Kepala KPP yg menerbitkan SKP, dan tanpa permohonan dari WP,
serta tanpa memerlukan persetujuan dari Kanwil DJP atau Dirjen Pajak.

Utk Pbk yg:


1. dikarenakan diperolehnya kejelasan SSP yg semula diadministrasikan dlm Bermacammacam Penerimaan Pajak (BPP);
2. dikarenakan kesalahan mengisi SSP baik menyangkut WP sendiri maupun WP lain;
3. dikarenakan adanya pemecahan setoran pajak yg berasal dari SSP;
4. dikarenakan adanya pelimpahan PPh Pasal 22 dlm rangka impor atas dasar inden sbl
berlakunya KMK-539/KMK.04/1990.
maka Pbk dilaksanakan dgn cara: WP pemegang asli SSP hrs mengajukan permohonan
Pbk scr tertulis kpd Kepala KPP tempat WP terdaftar.

Lampiran Permohonan Pbk scr Tertulis:


Asli SSP lembar ke-1 yg dimohonkan utk dipindahbukukan, dgn syarat SSP yg dimohonkan
Pbk blm diperhitungkan dgn pajak yg terutang dlm SPT, STP, skp, skp Tambahan, SKKPP,
Surat Pemberitaan, atau dlm PIB

Asli PIB (jika Pbk dilakukan utk pembayaran PPh Pasal 22 atau PPN Impor). Dahulu istilah
PIB adalah PIUD (Pemberitahuan Impor Utk Dipakai)

Daftar Nominatif WP yg Menerima Pbk, jika pemecahan SSP dilakukan oleh Bendaharawan/
Pemotong/Pemungut

Surat pernyataan dari WP yg nama & NPWP-nya tercantum dlm SSP, jika nama & NPWP
pemegang asli SSP (yg mengajukan permohonan Pbk) tdk sama dgn nama & NPWP yg
tercantum dlm SSP, surat pernyataan tersebut berisi bahwa SSP yg akan di Pbk sebenarnya
bukan pembayaran pajak utk kepentingannya WP yg nama & NPWP-nya tercantum dlm SSP dan
tdk keberatan utk dipindahbukukan kpd WP yg mengajukan Pbk.
Stl dilakukan Pbk maka Kepala KPP akan menerbitkan Bukti Pbk. SSP dan Bukti Pbk yg tlh
dipindahbukukan hrs dibubuhi cap dan ditandatangani oleh Kepala KPP. Jika KPP menerima
permohonan Pbk tetapi SSP yg akan dipindahbukukan ditatausahakan di KPP lain, maka KPP
penerima wajib meneruskan permohonan Pbk tsb ke KPP dimana SSP ditatausahakan, 1 lembar
surat pengantar dikirim kpd WP.

B151

Saat Berlakunya Bukti Pbk: (Pasal 3 ayat (1) & (2) KEP-965/PJ.9/1991)
1. Bagi Pbk yg terjadi krn adanya kelebihan pembayaran pajak atau pemberian bunga kpd WP:

Jika dilakukan penghitungan dgn hutang pajak yg blm dilunasi, maka saat berlakunya Bukti
Pbk adalah tanggal yg lbh akhir diantara tanggal timbulnya hak WP atas kelebihan
pembayaran pajak atau atas pemberian bunga dgn tanggal saat terhutangnya hutang pajak
dimaksud.

Jika dilakukan perhitungan dgn hutang pajak yg akan datang, maka saat berlakunya Bukti
Pbk adalah tanggal yg lbh akhir diantara tanggal timbulnya hak WP atas kelebihan
pembayaran pajak atau atas pemberian bunga dgn tanggal permohonan WP.
Yg dimaksud dgn tanggal timbulnya hak WP atas kelebihan pembayaran pajak atau atas
pemberian bunga adalah:
1. Tanggal SKKPP utk kelebihan pembayaran pajak yg diputuskan dgn SKKPP
2. Tanggal Surat Keputusan Pemberian Bunga atas Kelambatan Pengembalian Kelebihan
Pembayaran Pajak (SKPB) utk pemberian bunga kpd WP
3. Tanggal yg lbh akhir diantara tanggal keputusan keberatan/banding/PK dan tanggal-tanggal
setoran pajak yg melebihi pajak terutang, utk kelebihan pembayaran pajak yg timbul krn
adanya keputusan keberatan/banding/PK.
2. Bagi Pbk yg terjadi krn alasan selain no. 1 di atas:
Saat berlakunya Bukti Pbk adalah tanggal penyetoran pajak yg dipindahbukukan.
Pbk atas Kekeliruan Pembayaran PPh dlm Mata Uang Dollar AS: (KEP-522/PJ./2002)
Pbk atas kekeliruan pembayaran PPh dlm mata uang Dollar AS dilakukan oleh WP yg diijinkan
utk menyelenggarakan pembukuan dlm bahasa asing & mata uang selain rupiah yg melakukan
pembayaran PPh dlm Dollar AS.

Permohonan Pbk diajukan kpd Kepala KPP yg berwenang menatausahakan SSP tanpa
memerlukan persetujuan Kepala Kanwil DJP atasannya dgan melampirkan: SSP lembar ke-1 dan
Bukti transfer asli pembayaran PPh dlm mata uang Dollar AS

Pbk dpt dilakukan jika SSP yg dimohonkan utk di Pbk blm diperhitungkan dgn pajak terhutang dlm
SPT, STP, SKPKB, SKPKBT, SKPPKP.

Stl dilakukan Pbk, maka: Kepala KPP menerbitkan Bukti Pbk. SSP lembar ke-1, bukti transfer asli
pembayaran dan Bukti Pbk dibubuhi cap dan ditandatangani oleh Kepala KPP. Pd Bukti Pbk
dicantumkan tanggal saat berlakunya Bukti Pbk sbg tanggal penerimaan SSP oleh kantor
penerima pembayaran.

Jangka Waktu Penyelesaian:


Paling lama 30 hari sejak persyaratan memenuhi (Lamp IV KEP-378/PJ/2013)
Utk kesalahan penginputan data SSP yg dilakukan oleh pihak Bank/Pos Persepsi maka
Bank/Pos Persepsi yg melakukan kesalahan tsb mengajukan permintaan perbaikan
transaksi penerimaan ke KPPN mitra kerja. (Pasal 8 PER-65/PB/2007)

Kesalahan input data setoran pajak dlm Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) huruf b PER26/PJ/2014 ttg Sistem Pembayaran Pajak scr Elektronik diselesaikan melalui prosedur
Pemindahbukuan dlm administrasi perpajakan. (Pasal 8 PER-26/PJ/2014)

B152

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YG SEHARUSNYA TDK TERUTANG


Dasar Hukum:
Pasal 17 ayat 2 UU KUP
PP 74 Thn 2011
PMK-10/PMK.03/2013 (berlaku mulai tanggal 1 Feb 2013)
PMK-146/PMK.03/2012 (berlaku stl 15 hari terhitung sejak tanggal 10 Sept 2012)
PER-18/PJ/2013 (berlaku mulai tanggal 8 Mei 2013) mencabut PER-5/PJ/2011
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut PER-5/PJ/2011, PER-48/PJ/2009, dan
PER-53/PJ/2010
Ruang Lingkup Permohonan: (Pasal 2 & 3 PMK-10/PMK.03/2013)
No.
Perihal
Ruang Lingkup
Terdapat pembayaran pajak oleh WP yg bukan objek pajak yg terutang/
1.
Terkait
yg seharusnya tdk terutang Pasal 2 huruf a PMK-10/PMK.03/2013
Pembayaran
a. Pembayaran pajak oleh WP yg lbh besar dari pajak yg terutang
b. Pembayaran pajak atas transaksi yg dibatalkan
c. Pembayaran pajak yg seharusnya tdk dibayar
d. Pembayaran pajak oleh WP terkait dgn permintaan penghentian
penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai Pasal 44B UU
KUP yg tdk disetujui
Terdapat kelebihan pembayaran pajak oleh WP yg terkait dgn pajakpajak dlm rangka impor Pasal 2 huruf d PMK-10/PMK.03/2013
a. SPTNP atau SPKTNP
b. SPKPBM, SPTNP, atau SPP yg tlh diterbitkan keputusan keberatan
c. SPKPBM, SPTNP, atau SPP yg tlh diterbitkan keputusan keberatan dan
putusan banding
d. SPKPBM, SPTNP, atau SPP yg tlh diterbitkan keputusan keberatan,
putusan banding, dan putusan PK
e. SPKTNP yg tlh diterbitkan putusan banding
f.
SPKTNP yg tlh diterbitkan putusan banding dan putusan PK
g. Dokumen yg berisi pembatalan impor yg tlh disetujui oleh pejabat yg
berwenang,
yg menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak
Terdapat kesalahan pemotongan/pemungutan yg mengakibatkan pajak
2.
Terkait
yg dipotong/dipungut lbh besar daripada pajak yg seharusnya
Pemotongan/
dipotong/dipungut Pasal 2 huruf b PMK-10/PMK.03/2013
Pemungutan
a. Pemotongan/pemungutan PPh yg mengakibatkan PPh yg dipotong atau
dipungut lbh besar daripada PPh yg seharusnya dipotong/dipungut,
termasuk yg diatur dlm P3B
b. Pemotongan/pemungutan PPh atas penghasilan yg diterima oleh bukan
subjek pajak
c. Pemungutan PPN thd bukan PKP yg lbh besar daripada pajak yg
seharusnya dipungut
d. Pemungutan PPnBM thd PKP/bukan PKP yg lbh besar daripada pajak
yg seharusnya dipungut
Terdapat kesalahan pemotongan/pemungutan yg bukan mrp objek pajak
Pasal 2 huruf c PMK-10/PMK.03/2013
a. Pemotongan/pemungutan PPh yg seharusnya tdk dipotong/tdk dipungut
b. Pemungutan PPN yg seharusnya tdk dipungut
c. Pemungutan PPnBM yg seharusnya tdk dipungut
Dlm hal terjadi kesalahan pemotongan/pemungutan pajak atas butir 2 di atas dan pajak yg
dipotong/dipungut tsb tlh disetorkan & dilaporkan, WP yg melakukan pemotongan/pemungutan
atau PKP yg melakukan pemungutan tdk dpt meminta kembali pajak yg dipotong/dipungut.
(Pasal 5 ayat (1) PMK-10/PMK.03/2013)

B161

Pemohon & Tempat Pengajuan Permohonan: (Pasal 4, 5, 8 PMK-10/PMK.03/2013)


No.
1.

Pengembalian
Terkait dgn pembayaran

Pemohon
WP Badan yg melakukan pembayaran
WP OP yg melakukan pembayaran
OP/Badan yg yg melakukan pembayaran
yg tdk diwajibkan memiliki NPWP

2.

Terkait dgn
Pemotongan/
Pemungutan

PPh

Tempat
Permohonan
KPP Terdaftar WP
yg melakukan
pembayaran
KPP tempat OP
atau badan
berdomisili
KPP tempat pihak
yg dipungut
terdaftar

WP yg dipotong/dipungut
WPLN melalui BUT-nya
PPN
Non PKP yg dipungut
PPnBM
PKP yg dipungut
Non PKP yg dipungut
Pengecualian (Terkait Pemotongan/Pemungutan): (Pasal 6 PMK-10/PMK.03/2013)
Tempat
Pihak yg dipotong/dipungut
Pemohon
Permohonan
Tdk wajib NPWP
WP pemotong/pemungut
KPP tempat WP
atau PKP pemungut
yg melakukan
pemotongan/
WPLN tanpa BUT
WP pemotong/pemungut
pemungutan
Pihak yg dipotong/dipungut
terdaftar atau
Dlm hal WP pemotong/pemungut atau PKP
PKP yg
pemungut tdk ditemukan antara lain krn
melakukan
pembubaran usaha
pemungutan
dikukuhkan

Lampiran Permohonan: (Pasal 9 PMK-10/PMK.03/2013)


No.
Permohonan
Dokumen yg Hrs Dilampirkan
1.
Terdapat
a. Asli bukti pembayaran pajak berupa SSP atau sarana administrasi
pembayaran pajak
lain yg dipersamakan dgn SSP
oleh WP yg bukan b. Perhitungan pajak yg seharusnya tdk terutang
objek pajak yg
c. Alasan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak
terutang atau yg
yg seharusnya tdk terutang
seharusnya tdk
terutang
2.
Terdapat
a. FC bukti pembayaran pajak berupa surat setoran pabean cukai dan
kelebihan
pajak (SSPCP) atau sarana administrasi lain yg dipersamakan dgn
pembayaran pajak
SSPCP
oleh WP yg terkait
b. FC keputusan keberatan, putusan banding, dan putusan PK yg terkait
dgn pajak-pajak
dgn SPTNP, SPKTNP, SPKPBM, SPP, atau dokumen yg berisi
dlm rangka impor
pembatalan impor yg tlh disetujui oleh pejabat yg berwenang
c. Perhitungan pajak yg seharusnya tdk terutang
d. Alasan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak
yg seharusnya tdk terutang
3.
Terdapat
Utk permohonan yg diajukan a. Asli bukti pemotongan/pemungutan;
kesalahan
WP/PKP/non-PKP yg
atau asli FP atau dokumen lain yg
Pemotongan/
dipotong/ dipungut & WPLN
dipersamakan dgn FP
Pemungutan
melalui BUT
b. Perhitungan pajak yg seharusnya tdk
terkait PPh, PPN
terutang
Utk permohonan yg diajukan
dan PPnBM
c. Alasan permohonan pengembalian
oleh OP/Badan yg tdk wajib
NPWP atau WPLN tanpa
BUT
Utk permohonan yg diajukan a. Asli bukti pemotongan/pemungutan;
WP Pemotong/ Pemungut
atau asli FP/dokumen lain yg
dipersamakan dgn FP
b. Perhitungan pajak yg seharusnya tdk

B162

terutang
c. Surat permohonan dari pihak yg
dipotong/ dipungut kpd WP
d. Surat kuasa dari pihak yg
dipotong/dipungut kpd WP
e. Alasan permohonan pengembalian
Proses Penyelesaian Permohonan: (Pasal 11 ayat (1) (8) PMK-10/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak melakukan Verifikasi thd permohonan
Dlm hal utk melakukan Verifikasi diperlukan tambahan dokumen pendukung lainnya yg terkait dgn
permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta dokumen tsb kpd WP atau pihak yg mengajukan permohonan.
Pengembalian Pajak yg Seharusnya Tdk Terutang dilakukan dgn ketentuan:
No.
Terkait
Ketentuan
1.
Pembayaran
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh dibayar/disetor ke kas negara; dan
pajak
b. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh dibayar/ disetor tsb tdk dikreditkan
dlm SPT.
2.
Pembayaran
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh dibayar/disetor ke kas negara;
pajak dlm
b. Terkait dgn PPh Pasal 22 impor, pajak tsb tdk dikreditkan dlm SPT
rangka impor
Tahunan PPh;
c. Terkait dgn PPN impor, pajak tsb tdk dikreditkan dlm SPT Masa PPN,
tdk dibebankan sbg biaya dlm SPT Tahunan PPh, atau tdk dikapitalisasi
dlm hrg perolehan; dan
d. Terkait dgn PPnBM impor, pajak tsb tdk dibebankan sbg biaya dlm SPT
Tahunan PPh atau tdk dikapitalisasi dlm hrg perolehan.
3.
Pemotongan
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh disetor ke kas negara;
atau
b. Terkait dgn pemotongan/pemungutan yg bersifat tdk final, PPh tsb tdk
pemungutan
dikreditkan pd SPT Tahunan PPh WP yg dipotong/dipungut;
PPh
c. Pajak yg dipotong/dipungut tlh dilaporkan oleh pemotong/pemungut dlm
SPT Masa WP pemotong/pemungut; dan
d. Pajak yg dipotong/dipungut tdk diajukan keberatan oleh WP yg
dipotong/dipungut sesuai Pasal 25 ayat (1) huruf e UU KUP.
4.
Pemungutan
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh disetor ke kas negara;
PPN
b. Tdk dikreditkan dlm SPT Masa PPN, tdk dibebankan sbg biaya dlm SPT
Tahunan PPh, atau tdk dikapitalisasi dlm hrg perolehan;
c. Pajak yg dipungut tlh dilaporkan oleh pemungut dlm SPT Masa PPN WP
pemungut; dan
d. Pajak yg dipungut tdk diajukan keberatan oleh WP yg dipungut sesuai
Pasal 25 ayat (1) huruf e UU KUP.
5.
Pemungutan
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh disetor ke kas negara;
PPnBM
b. Tdk dibiayakan dlm SPT Tahunan PPh WP yg dipungut atau tdk
dikapitalisasi dlm hrg perolehan;
c. Pajak yg dipungut tlh dilaporkan oleh pemungut dlm SPT Masa PPN WP
pemungut; dan
d. Pajak yg dipungut tdk diajukan keberatan oleh WP yg dipungut sesuai
Pasal 25 ayat (1) huruf e UU KUP.
6.
Pemotongan
a. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh dibayar/disetor ke kas negara; dan
atau
b. Pajak yg seharusnya tdk terutang tlh dibayar/disetor tsb tlh dilaporkan
pemungutan
dlm SPT Masa WP pemotong/pemungut.
pajak thd
WPLN
Dlm hal berdasarkan LHV: (Pasal 11 ayat (9) & (1) PMK-10/PMK.03/2013)
terdapat kelebihan pembayaran pajak yg seharusnya tdk terutang, Dirjen Pajak menerbitkan SKPLB.
tdk terdapat pajak yg seharusnya tdk terutang, Dirjen Pajak menyampaikan scr tertulis kpd pemohon.
Dlm hal permohonan pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang diajukan oleh OP/Badan yg
tdk diwajibkan memiliki NPWP: (Pasal 12 PMK-10/PMK.03/2013)
Utk Badan, pd 2 digit pertama dicantumkan angka 01
Utk OP, pd 2 digit pertama dicantumkan angka 04

B163

Pd 7 digit berikutnya dicantumkan angka 0;


Pd 3 digit berikutnya dicantumkan angka kode KPP tempat permohonan diajukan
Pd 3 digit terakhir dicantumkan angka 0.
Thd permohonan pengembalian kelebihan pembayaran PPh yg seharusnya tdk terutang yg diajukan
oleh WP DN sebagaimana dimaksud dlm PER-5/PJ/2011 bagi WP DN sbl berlakunya PMK10/PMK.03/2013 (tanggal 1 Feb 2013) diselesaikan sesuai dgn ketentuan dlm PER-5/PJ/2011. (Pasal 2
PER-18/PJ/2013)

B164

PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK


A. PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK UTK WP DGN KRITERIA TERTENTU
1.

Dasar Hukum:
Pasal 17C ayat (7) UU KUP
Pasal 27 ayat (2) PP 74 Thn 2011
PMK-74/PMK.03/2012 (berlaku sejak 15 Mei 2012) mencabut PMK-192/PMK.03/2007
PMK-72/PMK.03/2010
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut KEP-550/PJ./2000 jo KEP213/PJ./2013
SE terkait:
SE-62/PJ/2012

2.

Cara Penetapan WP dgn Kriteria Tertentu (WP Patuh):


a. Berdasarkan permohonan dari WP; atau
Batas waktu pengajuan permohonan ini diajukan paling lambat tanggal 10 Jan pd thn
penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu. (Pasal 4 ayat (2) PMK-74/PMK.03/2012)
Permohonan diajukan scr tertulis kpd Kepala KPP tempat WP Domisili terdaftar (NPWP
dgn kode 3 digit terakhir adalah "000") dgn dilampiri: (Butir E angka 2 SE-62/PJ/2012)
Rekapitulasi nomor & tanggal bukti penerimaan SPT Masa utk masa pajak Jan s.d.
November thn terakhir utk setiap jenis pajak; dan
Rekapitulasi nomor & tanggal bukti penerimaan SPT Tahunan selama 3 thn pajak
terakhir yg wajib disampaikan s.d. akhir thn sbl thn penetapan sbg WP Dgn Kriteria
Tertentu.
Dlm hal WP mempunyai > 1 tempat kegiatan usaha/cabang maka permohonan diajukan
scr tertulis kpd Kepala KPP tempat WP Domisili terdaftar dgn dilampiri: (Butir E angka 3
SE-62/PJ/2012)
Rekapitulasi nomor bukti & tanggal penerimaan SPT Masa utk masa pajak Jan s.d.
Nov thn terakhir utk setiap jenis pajak dan utk setiap tempat kegiatan usaha/cabang;
dan
Rekapitulasi nomor & tanggal bukti penerimaan SPT Tahunan selama 3 thn pajak
terakhir yg wajib disampaikan s.d. akhir thn sbl thn penetapan sbg WP Dgn Kriteria
Tertentu.
b. Berdasarkan kewenangan Dirjen Pajak scr jabatan

3.

Persyaratan WP Dgn Kriteria Tertentu & Penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu:


Hrs memenuhi persyaratan:
1. Tepat waktu dlm menyampaikan SPT, yg meliputi: (Pasal 3 ayat (1) PMK74/PMK.03/2012)
Penyampaian SPT Tahunan selama 3 Thn Pajak terakhir yg wajib disampaikan s.d.
akhir thn sbl thn penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu dilakukan tepat waktu;
Penyampaian SPT Masa yg terlambat dlm thn terakhir sbl thn penetapan WP Dgn
Kriteria Tertentu utk Masa Pajak Jan sampai Nov tdk lbh dari 3 Masa Pajak utk
setiap jenis pajak dan tdk berturut-turut;
Slr SPT Masa dlm thn terakhir sbl thn penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu utk Masa
Pajak Jan sampai Nov tlh disampaikan; dan
SPT Masa yg terlambat sebagaimana dimaksud pd huruf b tlh disampaikan tdk lewat
dari batas waktu penyampaian SPT Masa Masa Pajak berikutnya.
2. Tdk mempunyai tunggakan pajak utk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak
yg tlh memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
Yg dimaksud dgn tdk mempunyai tunggakan pajak adalah keadaan WP pd tanggal 31
Des thn sbl penetapan sbg WP Dgn Kriteria Tertentu. (Pasal 3 ayat (2) PMK74/PMK.03/2012)
3. LK diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah
dgn pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 thn berturut-turut.

B171

4.

Yg dimaksud dgn LK yg dilampirkan dlm SPT Tahunan PPh yg wajib disampaikan


selama 3 thn berturut-turut s.d. akhir thn sbl thn penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu;
(Pasal 3 ayat (3) PMK-74/PMK.03/2012)
4. Tdk pernah dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
berdasarkan putusan pengadilan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap dlm
jangka waktu 5 thn terakhir.
Berdasarkan hasil penelitian atas pemenuhan persyaratan ini, Dirjen Pajak: (Pasal 4 ayat (3)
PMK-74/PMK.03/2012)
Menerbitkan keputusan mengenai penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu, dlm hal
permohonan WP memenuhi persyaratan (dgn contoh format Lamp I PMK74/PMK.03/2012); atau
Memberitahukan scr tertulis kpd WP mengenai penolakan permohonan, dlm hal
permohonan WP tdk memenuhi persyaratan. (dgn contoh format Lamp II PMK74/PMK.03/2012)
Penerbitan keputusan atas WP Dgn Kriteria Tertentu dan pemberitahuan scr tertulis tsb,
dilakukan paling lambat tanggal 20 Feb pd thn penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu. (Pasal 4
ayat (4) PMK-74/PMK.03/2012)
Apabila s.d. tanggal 20 Feb pd thn penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu, Dirjen Pajak tdk
memberikan keputusan, permohonan WP dianggap disetujui dan Dirjen Pajak menerbitkan
keputusan mengenai penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu. (Pasal 4 ayat (5) PMK74/PMK.03/2012)
Keputusan mengenai penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu diterbitkan paling lambat 5 hari
kerja stl berakhirnya batas waktu yg ditentukan (5 hari kerja stl tanggal 20 Feb pd thn
penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu) (Pasal 4 ayat (6) PMK-74/PMK.03/2012)
Keputusan Dirjen Pajak mengenai penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu berlaku utk jangka
waktu 2 thn kalender, terhitung sejak tanggal 1 Jan pd thn penetapan WP Dgn Kriteria
Tertentu. (Pasal 4 ayat (7) PMK-74/PMK.03/2012)

Penelitian atas Permohonan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi WP Dgn


Kriteria Tertentu:
Kelengkapan SPT dan lampiran-lampirannya;
Kebenaran penulisan dan penghitungan pajak;
Kebenaran Kredit Pajak atau PM berdasarkan hasil konfirmasi dlm sistem aplikasi DJP atau
konfirmasi dgn menggunakan surat; dan
Kebenaran pembayaran pajak yg tlh dilakukan oleh WP.
Ket:
Thd WP yg tlh ditetapkan sbg WP Dgn Kriteria Tertentu (berdasarkan permohonan WP),
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan
Pasal 17C UU KUP. (Pasal 6 ayat (1) PMK-74/PMK.03/2012)
Thd WP yg ditetapkan sbg WP Dgn Kriteria Tertentu (berdasarkan kewenangan Dirjen Pajak
scr jabatan), permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan
ketentuan Pasal 17C UU KUP, kecuali WP mengajukan permohonan utk diproses
berdasarkan ketentuan Pasal 17B UU KUP. (Pasal 6 ayat (2) PMK-74/PMK.03/2012)
Dlm hal permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diajukan oleh PKP berisiko
rendah yg juga ditetapkan sbg WP Dgn Kriteria Tertentu, pengembalian kelebihan
pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan dlm Pasal 9 ayat (4c) UU PPN. (Pasal 6
ayat (3) PMK-74/PMK.03/2012)
Dlm hal WP yg ditetapkan sbg WP Dgn Kriteria Tertentu tdk menyampaikan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak scr tertulis, SPT yg disampaikan WP menjadi
SPT LB yg tdk disertai dgn permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dan
ditindaklanjuti berdasarkan ketentuan dlm Pasal 17 ayat (1) UU KUP. (Pasal 6 ayat (4) PMK74/PMK.03/2012)

5.

Penerbitan SKPPKP:
Dirjen Pajak stl melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak dari WP Dgn Kriteria Tertentu, menerbitkan SKPPKP:

B172

Paling lama 3 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap utk PPh
Paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap utk PPN
Mulai tanggal 23 Sept 2014, sesuai PER-25/PJ/2014 terdapat persyaratan agar SPT
Masa PPN 111 LB Resitusi yg dimintakan pengembalian pendahuluan sesuai Pasal 17C
UU KUP dpt diterima lengkap. lihat Bab B-10 SPT Masa PPN
Apabila jangka waktu tsb tlh terlampaui tetapi SKPPKP blm diterbitkan, Kepala KPP hrs
menerbitkan SKPPKP paling lama 7 hari kerja stl jangka waktu tsb berakhir.

6.

Hal-hal yg Menyebabkan SKPPKP Tdk Diterbitkan:


SKPPKP tdk diterbitkan dlm hal berdasarkan hasil penelitian atas permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak dari WP Dgn Kriteria Tertentu menunjukkan:
Tdk terdapat kelebihan pembayaran pajak;
SPT beserta lampirannya tdk lengkap;
Penulisan dan penghitungan pajak tdk benar;
Kredit Pajak atau Pajak Masukan berdasarkan hasil konfirmasi dlm sistem aplikasi DJP
atau konfirmasi dgn menggunakan surat tdk benar; atau
Pembayaran pajak tdk benar.
Dlm hal permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak tdk diterbitkan SKPPKP,
WP dianggap tdk mengajukan permohonan.

7.

Pencabutan Penetapan WP Dgn Kriteria Tertentu:


Dicabut penetapannya dlm hal WP:
Dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka atau dilakukan tindakan Penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan;
Terlambat menyampaikan SPT Masa utk suatu jenis pajak tertentu 2 Masa Pajak
berturut-turut;
Terlambat menyampaikan SPT Masa utk suatu jenis pajak tertentu 3 Masa Pajak dlm 1
thn kalender; atau
Terlambat menyampaikan SPT Tahunan.
Dirjen Pajak menerbitkan keputusan mengenai pencabutan penetapan WP Dgn Kriteria
Tertentu dan memberitahukan scr tertulis kpd WP

B. PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK UTK WP DGN PERSYARATAN


TERTENTU
1.

Dasar Hukum:
Pasal 17D UU KUP
PMK-198/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Jan 2014) mencabut PMK-193/PMK.03/2007 jo
PMK-54/PMK.03/2009
PMK-72/PMK.03/2010
PER-03/PJ/2014 (berlaku sejak 3 Feb 2014) mencabut PER-40/PJ/2009 (berlaku sejak 7
Juli 2009)
SE terkait:
SE-12/PJ/2014 (berlaku sejak 13 Mar 2014) mencabut SE-67/PJ/2009

2.

WP yg Memenuhi Persyaratan Tertentu (WP sesuai Pasal 17D UU KUP) yg Dpt Diberikan
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak: (Pasal 2 PMK-198/PMK.03/2013)
a. WP OP yg tdk menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yg menyampaikan SPT Tahunan
PPh LB Restitusi;
b. WP OP yg menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yg menyampaikan SPT Tahunan PPh
LB Restitusi dgn jml LB < Rp 10 juta;
c. WP badan yg menyampaikan SPT Tahunan PPh LB Restitusi dgn jml LB < Rp 100 juta; atau
d. PKP yg menyampaikan SPT Masa PPN LB Restitusi dgn jml LB < Rp 100 juta.

3.

Analisis Risiko:

B173

Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak hrs didasarkan pd analisis risiko yg


pedomannya ditetapkan oleh Dirjen Pajak, yg mempertimbangkan perilaku & kepatuhan WP yg
dpt berupa (Pasal 3 PMK-198/PMK.03/2013):
a. Kepatuhan penyampaian SPT;
Kepatuhan penyampaian SPT terpenuhi dlm hal WP tlh menyampaikan SPT Tahunan PPh
utk 1 Thn Pajak terakhir yg sdh menjadi kewajiban utk disampaikan sbl Thn Pajak yg diajukan
permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak. (Butir III angka 2 SE12/PJ/2014)
b. Kepatuhan dlm melunasi utang pajak; dan
Kepatuhan dlm melunasi utang pajak terpenuhi dlm hal: (Butir III angka 3 SE-12/PJ/2014)
WP tdk memiliki utang pajak; atau
WP memiliki utang pajak namun thd utang pajak tsb blm diterbitkan Surat Paksa.
Utang pajak ini terbatas pd utang pajak yg diadministrasikan pd KPP tempat WP
mengajukan permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak.
(Butir III angka 4 SE-12/PJ/2014)
c. Kebenaran SPT utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, dan Thn Pajak sbl-sbl-nya.
Kebenaran SPT utk Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak sbl-nya mrp kebenaran formal dan
terpenuhi dlm hal WP tlh menyampaikan SPT Tahunan PPh dan lampiran-lampirannya, utk 1
Thn Pajak terakhir yg sdh menjadi kewajiban utk disampaikan sbl Thn Pajak yg diajukan
permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak, yg dibuktikan dgn tlh
diterbitkannya tanda terima SPT. (Butir III angka 5 SE-12/PJ/2014)
Permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak yg tdk memenuhi
ketentuan analisis risiko, diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B UU KUP. (Butir III angka 6
SE-12/PJ/2014)
4. Cara Mengajukan Permohonan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak: (Pasal 4 PMK198/PMK.03/2013)
WP yg memenuhi persyaratan tertentu dpt diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak apabila mengajukan permohonan ke KPP tempat WP terdaftar, dgn cara
memberi tanda pd SPT yg menyatakan LB Restitusi atau dgn cara mengajukan surat
tersendiri.
WP yg menyampaikan:
SPT LB dgn permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sesuai ketentuan
Pasal 17B UU KUP; (Pasal 5 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013 & Butir II angka 3 huruf a
SE-12/PJ/2014)
SPT yg menyatakan LB tanpa ada permohonan kompensasi dan tanpa ada permohonan
restitusi; atau
SPT pembetulan yg menyatakan LB dgn permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak,
dianggap mengajukan permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran
pajak.
5. Pemrosesan & Penelitian Thd Permohonan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak:
Dikecualikan dari permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak
oleh WP yg memenuhi persyaratan tertentu: (Butir II angka 6 SE-12/PJ/2014)
SPT LB yg disampaikan oleh WP dgn Kriteria Tertentu sesuai Pasal 17C UU KUP;
SPT Masa PPN LB utk Masa Pajak Januari s.d. November yg disampaikan oleh PKP selain
PKP sesuai Pasal 9 ayat (4b) UU PPN;
SPT Masa PPN LB yg disampaikan oleh PKP berisiko rendah sesuai Pasal 9 ayat (4c) UU
PPN;
SPT Masa PPN yg disampaikan oleh Pengusaha Kawasan Berikat dan/atau PDKB sesuai
PMK-147/PMK.04/2011 dan perubahannya.
Kondisi Permohonan
Permohonan pengembalian sesuai
Pasal 17B UU KUP diajukan oleh

Mekanisme Pemroresan
Diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17D UU KUP,
dan atas penyelesaian permohonan tsb Dirjen Pajak

B174

WP yg memenuhi persyaratan
tertentu dlm Pasal 2 & 3 PMK198/PMK.03/2013
Permohonan pengembalian dlm
Pasal 4 PMK-198/PMK.03/2013
diajukan oleh PKP beresiko rendah
sesuai Pasal 9 ayat (4c) UU KUP
Permohonan pengembalian dlm
Pasal 4 PMK-198/PMK.03/2013
diajukan oleh WP dgn Kriteria
Tertentu sesuai Pasal 17C UU KUP
Permohonan pengembalian dlm
Pasal 4 PMK-198 yg tdk memenuhi
ketentuan dlm Pasal 3 PMK198/PMK.03/2013

memberitahukan kpd WP.


(Pasal 5 PMK-198/PMK.03/2013)
Diproses berdasarkan ketentuan Pasal 9 ayat (4c) UU
PPN.
(Pasal 6 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013)
Diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17C UU KUP.
(Pasal 6 ayat (2) PMK-198/PMK.03/2013)

Diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B UU KUP,


dan atas penyelesaian permohonan tsb Dirjen Pajak
memberitahukan kpd WP.
(Pasal 7 PMK-198/PMK.03/2013)

Pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak kpd WP yg memenuhi persyaratan


tertentu, dilakukan stl Dirjen Pajak melakukan penelitian atas: (Pasal 8 PMK-198/PMK.03/2013)
Kelengkapan SPT dan lampiran-lampirannya;
Kebenaran penulisan dan penghitungan pajak;
Kebenaran kredit pajak atau Pajak Masukan berdasarkan aplikasi DJP; dan
Kebenaran pembayaran pajak yg dilakukan oleh WP.
6. Penerbitan SKPPKP: (Pasal 9 PMK-198/PMK.03/2013)
Stl melakukan penelitian atas permohonan pengembalian pendahuluan, Dirjen Pajak
menerbitkan SKPPKP: (Pasal 9 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013)
Paling lama 15 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap utk PPh OP
Paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap utk PPh Badan
Paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap utk PPN
Apabila stl lewat jangka waktu tsb, Dirjen Pajak tdk menerbitkan keputusan, permohonan
pengembalian pendahuluan dianggap dikabulkan dan Dirjen Pajak menerbitkan SKPPKP
paling lama 7 hari kerja stl jangka waktu pada Pasal 9 ayat (1) PMK198/PMK.03/2013
berakhir. Bentuk formulir SKPPKP ada di Lamp PMK-198/PMK.03/2013.
SKPPKP tdk diterbitkan apabila: (Pasal 10 PMK-198/PMK.03/2013)
Tdk terdapat kelebihan pembayaran pajak;
SPT beserta lampirannya tdk lengkap;
Penulisan dan penghitungan pajak tdk benar;
Kredit pajak atau PM berdasarkan sistem aplikasi DJP tdk benar;
Pembayaran pajak yg dilakukan oleh WP tdk benar, atau
WP dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan atau Penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan.
Dlm hal SKPPKP tdk diterbitkan, Dirjen Pajak memberitahukan scr tertulis kpd WP dan SPT
yg menyatakan LB tsb ditindaklanjuti sesuai Pasal 17 ayat (1) UU KUP.
7. Ketentuan Lain-lain: (Pasal 11 PMK-198/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak dpt melakukan pemeriksaan dlm rangka penerbitan skp thd WP yg tlh diterbitkan
SKPPKP sesuai Pasal 9 PMK-198/PMK.03/2013.
Jika berdasarkan hasil pemeriksaan, Dirjen Pajak menerbitkan SKPKB maka jml pajak yg KB
tsb ditambah dgn sanksi administrasi berupa kenaikan seb 100% sesuai Pasal 17D ayat (5)
UU KUP.
8. Ketentuan Peralihan: (Pasal 13 PMK-198/PMK.03/2013)
Dgn berlakunya PMK-198/PMK.03/2013:
Thd SPT pembetulan LB Restitusi atas Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak
sbl berlakunya PMK-198/PMK.03/2013 yg disampaikan sejak 1 Jan 2014, diproses
berdasarkan ketentuan dlm PMK-198/PMK.03/2013.

B175

Thd permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak bagi WP yg memenuhi


persyaratan tertentu yg blm diselesaikan pengembaliannya s.d. tanggal 1 Jan 2014,
diselesaikan berdasarkan PMK-193/PMK.03/2007 jo PMK-54/PMK.03/2009.

Prosedur Penyelesaian Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak Bagi WP yg Memenuhi


Persyaratan Tertentu: Lamp I SE-12/PJ/2014
Jangka Waktu Penyelesaian:
a. Proses analisis risiko dilakukan paling lama 3 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap.
b. Pemberitahuan SPT LB Diproses Berdasarkan Ketentuan Pasal 17B UU KUP disampaikan kpd
WP paling lama 5 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap.
c. Pemberitahuan SPT LB Diproses Berdasarkan Ketentuan Pasal 17D UU KUP disampaikan kpd
WP paling lama 5 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap.
d. SKPPKP atau Pemberitahuan SKPPKP Tdk Diterbitkan utk:
PPh OP paling lama 15 hari kerja sejak permohonan diterima scr lengkap.
PPh Badan paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap.
PPN paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima scr lengkap.
e. Dlm hal SPT LB disampaikan melalui:
pos dgn bukti pengiriman surat; atau
perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dgn bukti pengiriman surat,
pelaksanaan proses analiasis risiko pd huruf a dan pemberitahuan kpd WP pd huruf b & c
dilakukan dgn mempertimbangkan batas waktu penerbitan SKPPKP.
Contoh kasus permohonan pengembalian kelebihan pendahuluan kElebihan pembayaran pajak
melalui penyampaian SPT Pembetulan & Contoh penerapan ketentuan analisis risiko berupa
kepatuhan penyampaian SPT serta kebenaran SPT utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, dan Thn
Pajak sbl-sbl-nya: Lamp III SE-12/PJ/2014
Form-form yg digunakan berdasar SE-12/PJ/2014:
No.
Nama Form
1.
Form Checklist Analisis Risiko Terkait PPh
2.
Form Checklist Analisis Risiko Terkait PPN
3.
Form Pemberitahuan SPT LB Diproses
Berdasarkan Ketentuan Pasal 17D UU KUP
4.
Form Pemberitahuan SPT LB Diproses
Berdasarkan Ketentuan Pasal 17D UU KUP
Contoh Form Laporan Hasil Penelitian dlm
Rangka Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pembayaran Pajak
5.
Form Pemberitahuan SK Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak Tdk
Diterbitkan
6.
Form Daftar Nominatif SPT LB Terkait WP
yg Memenuhi Persyaratan Tertentu

Sumber
Lamp II Bagian A
Lamp II Bagian B
Lamp II Bagian C

Pihak Pembuat
Petugas Analisis
Risiko
KPP

Lamp II Bagian D
Lamp II Bagian E

Lamp I Bagian F

Lamp I Bagian G

Kasi Pelayanan di
KPP

C. PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK UTK PKP BERISIKO RENDAH


1. Dasar Hukum:
Pasal 9 ayat (4c) UU PPN
PMK-71/PMK.03/2010 (berlaku sejak 1 Apr 2010)
PMK-72/PMK.03/2010
PER-31/PJ/2010 (berlaku sejak 5 Juli 2010)
SE terkait:
SE-76/PJ/2010 ttg penyampaian PER-31/PJ/2010
2. PKP yg Dpt Diberikan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak:

B176

PKP yg dpt diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak adalah PKP yg memenuhi
ketentuan: (Pasal 1 PMK-71/PMK.03/2010)
a. Melakukan kegiatan :
Ekspor BKP Berwujud;
Penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP kpd Pemungut Pajak ;
Penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yg PPN-nya tdk dipungut;
Ekspor BKP Tdk Berwujud; dan/atau
Ekspor JKP; dan
b. Tlh ditetapkan sbg PKP berisiko rendah.
3.

Kriteria PKP Berisiko Rendah: (dgn syarat tdk pernah dilakukan pemeriksaan bukti permulaan
dan/atau penyidikan dlm jangka waktu 24 bulan terakhir) (Pasal 2 PMK-71/PMK.03/2010)
a. PKP mrp Perusahaan Terbuka yg paling sedikit 40% dari keseluruhan saham disetornya
diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;
b. PKP mrp perusahaan yg saham mayoritasnya dimiliki scr lsg oleh Pempus dan/atau Pemda;
atau
c. Produsen selain PKP pd huruf a & b, yg memenuhi persyaratan tertentu meliputi:
Tepat waktu dlm penyampaian SPT Masa PPN selama 12 bulan terakhir,
Nilai BKP yg dijual pd thn sebelumnya paling sedikit 75% adalah produksi sendiri; dan
LK utk 2 thn pajak sebelumnya diaudit oleh Akuntan Publik dgn pendapat WTP/ WDP.

4.

Cara Agar Dpt Ditetapkan Menjadi PKP Berisiko Rendah: (Pasal 2 PER-31/PJ/2010)
Utk ditetapkan sbg PKP berisiko rendah, PKP hrs menyampaikan permohonan kpd Kepala
KPP tempat WP dikukuhkan sbg PKP paling lambat 15 hari kerja sbl dimulainya Masa Pajak
PKP ditetapkan sbg PKP berisiko rendah dgn menggunakan form lamp I PER-31/PJ/2010.
Permohonan disampaikan dgn melampirkan kelengkapan dokumen berupa:
Keterangan dari instansi yg berwenang, yg dpt berupa Laporan Bulanan Kepemilikan
Saham Emiten atau Perusahaan Publik dan Rekapitulasi, bagi Perusahaan Terbuka yg
paling sedikit 40% dari keseluruhan saham disetornya diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia;
Keterangan dari instansi yg berwenang, yg dpt berupa Akta Pendirian dan
perubahannya, bagi perusahaan yg saham mayoritasnya dimiliki scr lsg oleh Pempus
dan/atau Pemda; atau
Surat Pernyataan bahwa nilai BKP yg dijual pd thn sebelumnya paling sedikit 75% adalah
produksi sendiri dan LK utk 2 thn pajak sebelumnya yg diaudit oleh Akuntan Publik dgn
pendapat WTP/WDP, bagi produsen selain Perusahaan Terbuka dan BUMN/BUMD.

5.

Keputusan Penetapan sbg PKP Berisiko Rendah: (Pasal 4 PER-31/PJ/2010)


Dirjen Pajak menerbitkan keputusan penetapan sbg PKP berisiko rendah atau surat
pemberitahuan bahwa permohonan tdk dpt diproses paling lambat 15 hari kerja stl tanggal
diterimanya permohonan WP. Apabila jangka waktu ini tlh lewat dan Dirjen Pajak tdk
menerbitkan SK Penetapan PKP Berisiko Rendah atau surat pemberitahuan bahwa
permohonan tdk dpt diproses, maka permohonan PKP dianggap dikabulkan dan Dirjen Pajak
hrs menerbitkan keputusan penetapan sbg PKP berisiko rendah paling lama 15 hari kerja stl
berakhirnya jangka waktu 15 hari kerja stl tanggal diterimanya permohonan WP.
Keputusan penetapan sbg PKP berisiko rendah berlaku sejak stl berakhirnya jangka waktu
15 hari kerja stl tanggal diterimanya permohonan WP.
Keputusan penetapan sbg PKP beresiko rendah berlaku utk 24 Masa Pajak sejak Masa
Pajak PKP ditetapkan sbg PKP berisiko rendah.
Apabila jangka waktu penetapan sbg PKP berisiko rendah berakhir, PKP dpt
menyampaikan permohonan kembali utk ditetapkan sbg PKP berisiko rendah. (Pasal 4 ayat
(1) PMK-71/PMK.03/2010)

6.

Pencabutan Penetapan PKP Berisiko Rendah: (Pasal 5 PER-31/PJ/2010)


SK Penetapan PKP Berisiko Rendah dinyatakan tdk berlaku lagi apabila dlm masa
berlakunya penetapan sbg PKP berisiko rendah (stl berakhirnya jangka waktu 15 hari kerja stl
tanggal diterimanya permohonan WP). thd PKP dilakukan :

B177

7.

Pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan (Penetapan PKP sbg PKP berisiko rendah
dinyatakan tdk berlaku sejak diterbitkannya Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan)
Pemeriksaan dan ternyata dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa PKP tdk lagi memenuhi
kriteria sbg PKP berisiko rendah (Penetapan PKP sbg PKP berisiko rendah dinyatakan tdk
berlaku sejak ditandatanganinya BA PAHP)

Penelitian & SKPPKP:


Penelitian dilakukan oleh DJP thd permohonan pengembalian kelebihan pajak, meliputi:
kebenaran pemenuhan ketentuan Pasal 9 ayat (4b) huruf a - e UU PPN;
kelengkapan SPT dan lampiran-lampirannya;
kebenaran penulisan dan penghitungan pajak; dan
kebenaran pembayaran pajak yg telah dilakukan oleh WP.
Dirjen Pajak stl melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan Pajak yg
diajukan oleh PKP, hrs menerbitkan SKPPKP paling lama 1 bulan sejak saat diterimanya
permohonan pengembalian kelebihan Pajak. (Pasal 5 & 7 ayat (1) PMK-72/PMK.03/2010)
Apabila jangka waktu 1 bulan tsb tlh lewat dan Dirjen Pajak tdk menerbitkan SKPPKP,
permohonan pengembalian kelebihan Pajak yg diajukan dianggap dikabulkan dan SKPPKP hrs
diterbitkan paling lama 7 hari stl jangka waktu 1 bulan tsb berakhir. (Pasal 7 ayat (2) PMK72/PMK.03/2010)

8.

Tdk Diterbitkannya SKPPKP Thd PKP Berisiko Rendah: (Pasal 7 PMK-72/PMK.03/2010)


Apabila:
Hasil penelitian menyatakan PKP tdk memenuhi ketentuan Pasal 9 ayat (4b) huruf a - e UU
PPN;
Hasil penelitian menyatakan tdk LB;
Lampiran SPT tdk lengkap; dan/atau
Pembayaran pajak tdk benar.
Dlm hal SKPPKP tdk diterbitkan, thd PKP beresiko rendah tsb hrs diberikan pemberitahuan scr
tertulis dgn menggunakan form Lamp PMK-72/PMK.03/2010 dan permohonan pengembalian
kelebihan Pajak dari PKP ini akan diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B UU KUP.

Pemeriksaan Thd PKP Pasal 17 C UU KUP, Pasal 17D UU KUP, PKP Resiko Rendah
Dirjen Pajak stl melakukan pengembalian pendahuluan kelebihan Pajak dpt melakukan
pemeriksaan kpd PKP berisiko rendah sebagaimana dimaksud dlm Pasal 9 ayat (4c) UU PPN,
PKP kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dlm Pasal 17C UU KUP, atau PKP yg memenuhi
persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud dlm Pasal 17D UU KUP (Pasal 9 ayat (1a) PMK72/PMK.03/2010)
Dlm hal berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan SKPKB, PKP kriteria tertentu atau PKP yg
memenuhi persyaratan tertentu wajib membayar jml kekurangan Pajak ditambah dgn sanksi
administrasi berupa kenaikan seb 100% dari jml kekurangan pembayaran Pajak (Pasal 17C dan
Pasal 17D ayat (5) UU KUP)
Dlm hal berdasarkan hasil pemeriksaan diterbitkan SKPKB, PKP berisiko rendah wajib membayar
jml kekurangan Pajak ditambah dgn sanksi administrasi berupa bunga seb 2% per bulan, paling
lama 24 bulan, dari jml kekurangan pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud dlm Pasal 13 ayat
(2) UU KUP.

B178

KELEBIHAN PEMBAYARAN
A. PENGHITUNGAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Dasar Hukum:
PMK-16/PMK.03/2011 ttg Tata Cara Penghitungan & Pengembalian Kelebihan Pembayaran
Pajak
PER-7/PJ/2011 ttg Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
SE dan surat terkait:
SE-22/PJ/2011
S-1142/PJ.02/2013
Kelebihan Pembayaran Pajak yg Dpt Dikembalikan:
a. Pajak yg lbh dibayar dlm SKPLB sesuai Pasal 17 ayat (1) UU KUP
b. Pajak yg seharusnya tdk terutang dlm SKPLB sesuai Pasal 17 ayat (2) UU KUP
c. Pajak yg lbh dibayar dlm SKPLB sesuai Pasal 17B UU KUP
d. Pajak yg lbh dibayar dlm SKPPKP sesuai Pasal 17C UU KUP
e. Pajak yg lbh dibayar dlm SKPPKP sesuai Pasal 17D UU KUP
f. Pajak yg tlh dibayar atas pembelian BKP yg dibawa ke luar Daerah Pabean oleh OP pemegang
paspor LN dlm Pasal 17E UU KUP & Pasal 16E UU PPN
g. Pajak yg lbh dibayar dlm SKPPKP sesuai Pasal 9 ayat (4c) UU PPN
h. Pajak yg lbh dibayar krn diterbitkan SK Keberatan / Putusan Banding / Putusan PK oleh MA
i. Pajak yg lbh dibayar krn diterbitkan SK Pembetulan sesuai Pasal 16 UU KUP
j. Pajak yg lbh dibayar krn diterbitkan SK Pengurangan Sanksi Administrasi / SK Penghapusan
Sanksi Administrasi sesuai Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP
k. Pajak yg lbh dibayar krn diterbitkan SK Pengurangan skp / SK Pembatalan skp sesuai Pasal 36
ayat (1) huruf b UU KUP
l. Pajak yg lbh dibayar krn diterbitkan SK Pengurangan STP / SK Pembatalan STP sesuai Pasal 36
ayat (1) huruf c UU KUP
Tata Cara Penghitungan Kelebihan Pembayaran Pajak:
1. Kelebihan Pembayaran diperhitungkan dgn Utang Pajak di KPP domisili dan/atau KPP Lokasi
Utang Pajak yg tercantum dlm:
a. STP
b. SKPKB, SKPKBT, dan SK Keberatan, yg menyebabkan jml pajak yg hrs dibayar bertambah,
utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2007 dan sebelumnya
c. SKPKB atau SKPKBT yg tlh disetujui dlm PAHP, dan SK Keberatan yg tdk diajukan banding,
yg menyebabkan jml pajak yg hrs dibayar bertambah, utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak,
atau Thn Pajak 2008 dan sesudahnya
d. SKPKB atau SKPKBT atas jml yg tdk disetujui dlm PAHP, utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak,
atau Thn Pajak 2008 dan sesudahnya, dlm hal:
1) tdk diajukan keberatan;
2) diajukan keberatan tetapi SK Keberatan mengabulkan sebagian, menolak, atau
menambah jml pajak terutang dan atas SK Keberatan tsb tdk diajukan banding; atau
3) diajukan keberatan dan atas SK Keberatan tsb diajukan banding tetapi Putusan Banding
mengabulkan sebagian, menambah jml pajak terutang, atau menolak;
e. SPPT, Surat Ketetapan Pajak PBB, atau STP PBB
f. SK utk PBB yg menyebabkan jml pajak yg masih hrs dibayar bertambah tetapi tdk diajukan
banding
g. Putusan Banding atau Putusan PK yg menyebabkan jml pajak yg masih hrs dibayar
bertambah
h. SK Pembetulan yg menyebabkan jml pajak yg masih hrs dibayar bertambah
2. Jika masih terdapat sisa stl diperhitungkan dgn utang pajak maka atas permohonan WP sisa
kelebihan dpt diperhitungkan dgn pajak yg akan terutang atau dgn Utang Pajak atas nama
WP lain.
3. Perhitungan kelebihan pembayaran pajak dgn Utang Pajak ditindaklanjuti dgn kompensasi utang
pajak, dan dlm hal tdk ada utang pajak, slr kelebihan pembayaran pajak dikembalikan kpd
WP.

B181

WP hrs memberikan nomor & nama rekening bank atas nama WP yg bersangkutan ke
KPP utk keperluan pengembalian kelebihan pembayaran pajak (dlm hal masih terdapat
sisa kelebihan pembayaran pajak stl dilakukan Kompensasi Utang Pajak/dlm hal tdk ada
Utang Pajak), paling lambat 7 hari kerja sbl jangka waktu penerbitan SPMKP berakhir.
Dlm hal WP tdk memberikan nomor & nama rekening bank tsb, KPP tetap menerbitkan
SKPKPP dan SPMKP, kemudian disampaikan ke KPPN.
(Pasal 11 PER-7/PJ/2011)
Jangka Waktu Pengembalian:
Kelebihan pembayaran PPh, PPN, dan PPnBm stl diperhitungkan dgn utang pajak
dikembalikan dlm jangka waktu paling lama 1 bulan terhitung sejak:
1. Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran sehubungan diterbitkannya SKPLB
sesuai dlm Pasal 17 ayat (1) UU KUP, diterima
2. SKPLB sesuai Pasal 17 ayat (2) / Pasal 17D UU KUP, diterbitkan
3. SKPPKP sesuai Pasal 17C / Pasal 17D / Pasal 9 ayat (4c) UU KUP,diterbitkan
4. SK Keberatan sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf h PMK-16, diterbitkan
5. Putusan Banding atau Putusan PK sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf h PMK-16, diterima kantor
DJP yg berwenang melaksanakan Putusan Banding atau Putusan PK
6. SK Pembetulan sesuai Pasal 16 UU KUP,diterbitkan
7. SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan Sanksi Administrasi sesuai
Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP, diterbitkan
8. SK Pengurangan skp atau SK Pembatalan skp sesuai Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP,
diterbitkan
9. SK Pengurangan STP atau SK Pembatalan STP sesuai Pasal 36 ayat (1) huruf c UU KUP,
diterbitkan
Kelebihan pembayaran PBB stl diperhitungkan dgn utang pajak dikembalikan dlm jangka
waktu paling lama 1 bulan terhitung sejak:
1. SKKP PBB sesuai Pasal 3 huruf a PMK-16/PMK.03/2011
2. SK Keberatan sesuai Pasal 3 huruf b PMK-16/PMK.03/2011, diterbitkan
3. Putusan Banding atau Putusan PK sesuai Pasal 3 huruf b PMK-16/PMK.03/2011, diterima
kantor DJP yg berwenang melaksakan Putusan Banding atau Putusan PK
4. SK Pemberian Pengurangan PBB sesuai Pasal 3 huruf c PMK-16/PMK.03/2011, diterbitkan
5. SK Pengurangan Denda Administrasi sesuai Pasal 3 huruf d PMK-16/PMK.03/2011,
diterbitkan
6. SK Pembetulan PBB sesuai Pasal 3 huruf e PMK-16/PMK.03/2011, diterbitkan
7. SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan Sanksi Administrasi sesuai
Pasal 3 huruf f PMK-16/PMK.03/2011, diterbitkan
8. SK Pengurangan skp atau SK Pembatalan skp sesuai Pasal 3 huruf g PMK-16/PMK.03/2011,
diterbitkan
9. SK Pengurangan STP PBB atau SK Pembatalan STP PBB sesuai Pasal 3 huruf h PMK16/PMK.03/2011, diterbitkan
KPP wajib menyampaikan SPMKP beserta SKPKPP dan/atau SSP, SSPBB, SSPPBB ke KPPN
dgn ketentuan: paling lama 2 hari kerja sbl jangka waktu 1 utk pengembalian kelebihan
pembayaran stl diperhitungkan dgn utang pajak sebagaimana dijelaskan di atas terlampaui.
Jangka Waktu Penyelesaian
3 minggu sejak
1. Permohonan WP diterima
2. SKPLB atau SKPPKP diterbitkan
3. SK Keberatan, SK Pembetulan, SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK Penghapusan
Sanksi Administrasi, SK Pengurangan Ketetapan Pajak atau SK Pembatalan Ketetapan
Pajak, yg menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak, diterbitkan
4. Putusan Banding atau Putusan PK, yg menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak,
diterima kantor DJP yg berwenang melaksakanan Putusan Banding atau Putusan PK
(SE-79/PJ/2010)

B182

B. PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK


Dasar Hukum:
PMK-16/PMK.03/2011
PER-7/PJ/2011
SE terkait:
SE-17/PJ/2012 (berlaku sejak tanggal 05 Apr 2012) jo SE-25/PJ/2014 (berlaku sejak tanggal 25
Juli 2014, mencabut Lamp III SE-17/PJ/2012 dan mengubah form konfirmasi utang pajak)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Penghitungan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dituangkan dlm Nota


Penghitungan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak.
Format Nota Penghitungan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak: Lamp I PMK16/PMK.03/2011
Bagi WP yg menggunakan pembukuan dgn mata uang Dollar AS, pengembalian diberikan
dlm mata uang rupiah, yg dihitung menggunakan kurs yg ditetapkan oleh MenKeu yg berlaku
pd saat:
1. diterbitkannya SKPLB sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf a, b, c PMK-16/PMK.03/2011
2. diterbitkannya SKPPKP sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf d & e PMK-16/PMK.03/2011
3. diterbitkannya SK Keberatan atau diucapkannya Putusan Banding atau Putusan PK
sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf h PMK-16/PMK.03/2011
4. diterbitkannya SK sesuai Pasal 2 ayat (1) huruf i, j, k, dan l PMK-16/PMK.03/2011
Pengembalian melalui kompensasi utang pajak dilakukan melalui pemotongan SPMKP
dan/atau transfer pembayaran
Pemotongan SPMKP dlm hal: Kelebihan PPh, PPN, atau PPnBM dikompensasikan ke Utang
Pajak PPh, PPN, atau PPnBM
Transfer Pembayaran dlm hal:
1. kelebihan pembayaran PPh, PPN, atau PPnBM, dikompensasikan ke Utang Pajak PBB;
2. kelebihan pembayaran PBB dikompensasikan ke Utang Pajak PPh, PPN, PPnBM, atau
PBB.
Pemotongan SPMKP dan/atau transfer pembayaran dianggap sah apabila :
1. Kompensasi Utang Pajak melalui potongan SPMKP tlh mendapatkan NTPN dan NPP;
2. Kompensasi Utang Pajak melalui transfer pembayaran tlh mendapatkan NTPN, dan NTB
atau NTP.
Kepala KPP atas nama Dirjen Pajak menerbitkan SKPKPP
Format SKPKPP tercantum dlm Lampiran II PMK-16, dibuat rangkap 3 (lembar ke-1 utk WP,
lembar ke-2 utk KPPN, lembar ke-3 utk arsip KPP)
Atas dasar SKPKPP, Kepala KPP atas nama MenKeu menerbitkan SPMKP
Format SPMKP tercantum dlm Lampiran III PMK-16, dibuat rangkap 4 (lembar ke-1 dan lembar
ke-2 utk KPPN, lembar ke-3 utk WP, lembar ke-4 utk arsip KPP)
SPMKP dibebankan pd akun pendapatan pajak thn anggaran berjalan, yaitu pd akun yg sama
dgn akun pd saat diakuinya pendapatan pajak semula.
SPMKP beserta SKPKPP disampaikan scr langsung ke KPPN.
Dlm hal Kompensasi Utang Pajak melaui potongan SPMKP dilampiri dgn surat setoran
Dlm hal Kompensasi Utang Pajak melalui transfer pembayaran tdk perlu dilampiri surat
setoran
Berdasarkan SPMKP, Kepala KPPN atas nama MenKeu menerbitkan SP2D
Dibuat rangkap 3 (lembar ke-1 utk Bank Operasional I atau Bank Operasional III, lembar ke-2 utk
KPP penerbit SPMKP, lembar ke-3 utk KPPN)
KPPN dlm hal :
Kompensasi melalui potongan SPMKP :
1. mengesahkan setiap surat setoran yg dilampirkan dlm SPMKP dgn membubuhkan cap,
nama dan tanda tangan pd kolom penyetor.
2. menerbitkan BPN dgn teraan (NTPN & NPP) sesuai dgn tanggal SP2D.
3. KPPN menyampaikan ke KPP penerbit SPMKP lembar ke-2 SPMKP dan lembar ke-2
SP2D, dan disertai dgn surat setoran yg tlh disahkan.
Kompensasi melalui transfer pembayaran :
KPP menyampaikan informasi akan adanya transfer penerimaan negara dan menyampaikan
surat setoran berupa SSP, SSPBB, dan/atau SSPPBB, ke:

B183

1.
2.

Bank/Pos Persepsi tujuan utk SSP;


Bank/Pos Persepsi tujuan yg sekaligus merangkap sbg Bank Operasional III PBB utk
SSPBB atau SSP PBB.
Bank/Pos Persepsi sebagaimana dimaksud pd ayat (5) menerbitkan BPN, NTB atau NTP,
dan NTPN atas dasar transfer sesuai SP2D dari KPPN dan SSP, SSPBB, atau SSPPBB, yg
diterima dari KPP.
KPPN menyampaikan ke KPP penerbit SPMKP lembar ke-2 SPMKP dan lembar ke-2 SP2D,
dan disertai dgn surat setoran yg tlh disahkan.
9. Lembar BPN utk WP yg diterbitkan oleh Bank/Pos Persepsi dan/atau lembar SSP, SSPBB, atau
SSPPBB, utk WP yg tlh diterbitkan NTPN dan NTB atau NTP oleh Bank/Pos Persepsi
disampaikan kpd WP melalui KPP setempat.
10. Kepala KPP selaku pejabat yg diberi wewenang utk menandatangani SKPKPP dan SPMKP
menyampaikan spesimen tanda tangan kpd Kepala KPPN setiap awal thn anggaran atau
apabila terjadi perubahan pejabat yg bersangkutan.
Ket. Tambahan:
1. Atas kelebihan pembayaran PPh, PPN, PPnBM, dan/atau PBB hrs diperhitungkan terlebih dahulu dgn
Utang Pajakyg diadministrasikan di KPP domisili dan/atau KPP lokasi.
2. Perhitungan kelebihan pembayaran pajak dgn Utang Pajak ditindaklanjuti dgn kompensasi Utang
Pajak.
3. Kompensasi Utang Pajak dilakukan melalui potongan SPMKP dan/atau transfer pembayaran.
4. Kompensasi Utang Pajak melalui potongan SPMKP dilakukan dlm hal kelebihan pembayaran PPh,
PPN, atau PPnBM, dikompensasikan ke Utang Pajak PPh, PPN, atau PPnBM.
5. Kompensasi Utang Pajak melalui transfer pembayaran dilakukan dlm hal:
a. Kelebihan pembayaran PPh, PPN, atau PPnBM, dikompensasikan ke Utang Pajak PBB.
b. Kelebihan pembayaran PBB dikompensasikan ke Utang Pajak PPh, PPN, PPnBM, atau PBB.
6. Kompensasi Utang Pajak melalui potongan SPMKP dianggap sah apabila tlh mendapatkan NTPN dan
NPP.
7. Kompensasi Utang Pajak melalui transfer pembayaran dianggap sah apabila tlh mendapatkan NTPN,
dan NTB atau NTP.

B184

PENGURANGAN, KEBERATAN, BANDING, DAN GUGATAN

A.

PEMBETULAN KESALAHAN TULIS, KESALAHAN HITUNG, DAN ATAU KEKELIRUAN


PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU DLM PERPU PERPAJAKAN
Dasar Hukum:
Pasal 16 UU KUP
Pasal 34, 57, 64 PP 74 Thn 2011 mencabut PP 80 Thn 2007
PMK-11/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Maret 2013) ttg Tata cara pembetulan mencabut
PMK-19/PMK.03/2008
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut PER-48/PJ/2009, PER-37/PJ/2008
KEP-297/PJ./2002 stdtd KEP-11/PJ./2013 ttg Pelimpahan wewenang Dirjen Pajak kpd para
pejabat di lingkungan DJP
Yg Dpt Diajukan Pembetulan: (Pasal 2 ayat (1) PMK-11/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak atas permohonan WP atau krn jabatannya dpt membetulkan:
1. skp yg meliputi SKPKB, SKPKBT, SKPN, dan SKPLB;
2. STP;
3. SK Pembetulan;
4. SK Keberatan;
5. SK Pengurangan Sanksi Administrasi;
6. SK Penghapusan Sanksi Administrasi;
7. SK Pengurangan Ketetapan Pajak; dpt berupa SK Pengurangan Ketetapan Pajak atas skp
atau SK Pengurangan Ketetapan Pajak atas STP (Pasal 2 ayat (2) PMK-11/PMK.03/2013)
8. SK Pembatalan Ketetapan Pajak;
9. SK Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak; dpt berupa SK Pembatalan Ketetapan
Pajak atas skp atau SK Pembatalan Ketetapan Pajak atas STP (Pasal 2 ayat (3) PMK11/PMK.03/2013)
10. SK Pemberian Imbalan Bunga;
11. SPPT;
12. SKP PBB;
13. STP PBB;
14. SK Pemberian Pengurangan PBB; atau
15. SK Pengurangan Denda PBB,
yg dlm penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan
ketentuan tertentu dlm perpu di bidang perpajakan.
Ruang Lingkup Pembetulan: (Penjelasan Pasal 16 UU KUP)
1. Kesalahan tulis, berupa kesalahan penulisan nama, alamat, NPWP, nomor skp, jenis pajak,
Masa Pajak atau Thn Pajak, tanggal jatuh tempo, atau kesalahan tulis lainnya yg tdk
mempengaruhi jml pajak terutang.
2. Kesalahan hitung, meliputi:
a. Kesalahan yg berasal dari penjumlahan dan/atau pengurangan dan/atau perkalian dan/atau
pembagian suatu bilangan; atau
b. Kesalahan hitung yg diakibatkan oleh adanya penerbitan skp, STP, SK yg terkait dgn
bidang perpajakan, Putusan Banding, atau Putusan PK.
3. Kekeliruan dlm penerapan ketentuan tertentu dlm perpu perpajakan, berupa kekeliruan
dlm penerapan tarif, kekeliruan penerapan persentase NPPN, kekeliruan penerapan sanksi
administrasi, kekeliruan PTKP, kekeliruan penghitungan PPh dlm thn berjalan, dan kekeliruan
dlm pengkreditan pajak.
Dlm hal terdapat kekeliruan pengkreditan PM PPN pd SK atau surat ketetapan yg dpt
diajukan pembetulan Pasal 16 UU KUP, pembetulan atas kekeliruan tsb hanya dpt dilakukan
apabila: (Pasal 34 ayat (3) PP 74 Thn 2011 & Pasal 3 ayat (5) PMK-11/PMK.03/2013)
a. Terdapat perbedaan besarnya PM yg menjadi kredit pajak; dan
b. PM tsb tdk mengandung persengketaan antara fiskus & WP.

B191

Persyaratan Permohonan Pembetulan: (Pasal 4 PMK-11/PMK.03/2013)


1. 1 permohonan diajukan utk 1 skp, STP, atau SK lain yg terkait dgn bidang perpajakan dlm
Pasal 2 ayat (1) PMK-11/PMK.03/2013);
2. Permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar dan/atau tempat PKP dikukuhkan;
3. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dgn disertai alasan permohonan
dan menggunakan format surat permohonan sesuai contoh dlm Lamp I PMK-11/PMK.03/2013);
dan
Cara Penyampaian
Tanda BPS
Tanggal Diterima
No.
Permohonan
(Pasal 5 ayat (1) PMK(Pasal 5 ayat (8) PMKPembetulan
11/PMK.03/2013)
11/PMK.03/2013)
a.
Scr lsg pd KPP tempat WP
BPS
Tanggal yg tercantum pd
terdaftar dan/atau tempat PKP
BPS
dikukuhkan
b.
Melalui pos dgn bukti pengiriman
Bukti
Tanggal yg tercantum pd
surat scr tercatat
Pengiriman
Bukti Pengiriman Surat
Surat
c.
Dgn cara
1) Melalui
Bukti
Tanggal yg tercantum pd
lain
perusahaan jasa
Pengiriman
Bukti Pengiriman Surat
ekspedisi/jasa
Surat
kurir dgn bukti
pengiriman surat
2) e-Filing
BPE
Tanggal yg tercantum pd
BPE
4. Surat permohonan tsb ditandatangani oleh WP, dan dlm hal surat permohonan ditandatangani
bukan oleh WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal 32
ayat (3) UU KUP.
Hak & Kewajiban WP:
1. Dlm hal permohonan pembetulan tdk memenuhi ketentuan sesuai Pasal 4 PMK11/PMK.03/2013), Dirjen Pajak mengembalikan permohonan pembetulan dgn
menyampaikan pemberitahuan tertulis kpd WP sbl jangka waktu 6 bulan sesuai Pasal 16 ayat
(2) UU KUP berakhir. (Pasal 6 ayat (2) PMK-11/PMK.03/2013)
2. Dlm hal permohonan pembetulan dikembalikan pd angka 1, WP masih dpt mengajukan
permohonan dgn ketentuan sesuai Pasal 4 PMK-11/PMK.03/2013).
Penerbitan Keputusan Pembetulan:
1. Dlm hal permohonan pembetulan memenuhi ketentuan sesuai Pasal 4 PMK-11/PMK.03/2013),
Dirjen Pajak menindaklanjuti permohonan tsb dgn meneliti permohonan WP. (Pasal 7 ayat (1)
PMK-11/PMK.03/2013)
Seksi Terkait:
Permohonan disampaikan ke KPP (Seksi Pelayanan dan Seksi Waskon)
2. Dlm rangka meneliti permohonan pembetulan pd angka 1, Dirjen Pajak dpt meminta data,
informasi, dan/atau keterangan yg diperlukan.
3. Dirjen Pajak hrs menerbitkan SK Pembetulan dlm jangka waktu paling lama 6 bulan sejak
tanggal surat permohonan pembetulan diterima sesuai Pasal 5 ayat (8) PMK11/PMK.03/2013).
4. SK Pembetulan pd angka 3 berisi keputusan berupa:
a. Mengabulkan permohonan WP dgn membetulkan kesalahan atau kekeliruan yg dpt berupa
menambahkan, mengurangkan, atau menghapuskan jml pajak yg terutang; atau
b. Menolak permohonan WP.
5. Apabila jangka waktu 6 bulan pd angka 3 tlh terlampaui tetapi Dirjen Pajak tdk menerbitkan SK
Pembetulan pd angka 4 atau tdk mengembalikan permohonan pembetulan sesuai Pasal 6 ayat
(2) PMK-11/PMK.03/2013), permohonan pembetulan tsb dianggap dikabulkan dan Dirjen
Pajak hrs menerbitkan SK Pembetulan sesuai dgn permohonan WP.

B192

6.

Dlm hal atas suatu skp diajukan permohonan pembetulan dan keberatan, SK Pembetulan
diterbitkan scr terpisah dgn SK Keberatan. (Pasal 7 ayat (6) PMK-11/PMK.03/2013)

Dirjen Pajak menerbitkan SK Pembetulan scr jabatan dlm hal: (Pasal 8 ayat (1) PMK11/PMK.03/2013)
a. Terdapat kesalahan hitung dlm skp akibat pelaksanaan MAP yg menghasilkan Persetujuan
Bersama stl skp diterbitkan dan thd skp tsb tdk diajukan keberatan atau tdk diajukan
permohonan pengurangan atau pembatalan skp yg tdk benar.
b. Terdapat kesalahan hitung dlm SK Keberatan akibat pelaksanaan MAP yg menghasilkan
Persetujuan Bersama stl Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan dan thd SK Keberatan tsb tdk
diajukan banding atau WP mengajukan banding tetapi dicabut.
c. Terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dlm
perpu perpajakan yg diketahui oleh Dirjen Pajak dan blm diajukan permohonan pembetulan
oleh WP.
Dlm hal Dirjen Pajak menerbitkan SK Pembetulan scr jabatan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf c
yg mengakibatkan jml pajak yg masih hrs dibayar dlm skp berubah, WP dpt mengajukan
keberatan atas skp yg dibetulkan scr jabatan tsb. Pengajuan keberatan tsb disampaikan dlm
jangka waktu paling lama 3 bulan sejak tanggal dikirim SK Pembetulan. (Pasal 9 PMK11/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak dpt menerbitkan SK Pembetulan scr jabatan dlm hal: (Pasal 10 PMK11/PMK.03/2013)
1. Terdapat SK Keberatan yg nyata-nyata tdk benar sbg akibat adanya kesalahan dlm
penghitungan pajak yg terutang atau pajak yg masih hrs dibayar utk Masa Pajak, bagian Thn
Pajak, atau Thn Pajak 2007 dan sebelumnya; dan
2. Atas SK Keberatan tsb tdk dpt diajukan banding atau diajukan banding dgn putusan tdk dpt
diterima.
Ketentuan Peralihan:

Pd saat PP 74 mulai berlaku, thd pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan yg
blm diselesaikan yg berkaitan dgn
Pembetulan thd SK Pemberian Imbalan Bunga sesuai Pasal 16 ayat (1) UU KUP utk
penerbitan SK Pemberian Imbalan Bunga stl tanggal 31 Des 2007; dan
Batas waktu bagi Dirjen Pajak utk menerbitkan SK Pembetulan sesuai Pasal 16 ayat (2)
UU KUP utk pengajuan permohonan yg diterima stl tanggal 31 Des 2007;
berlaku ketentuan PP 74 Thn 2011. (Pasal 64 huruf c & d PP 74 Thn 2011)

Dgn berlakunya PMK-11/PMK.03/2013, thd permohonan pembetulan yg diajukan sbl


berlakunya PMK-11 dan blm diselesaikan s.d. penerbitan SK, proses penyelesaian selanjutnya
s.d. penerbitan SK dilakukan berdasarkan ketentuan sesuai PMK-11/PMK.03/2013.
Form-form yg digunakan berdasar PMK-11/PMK.03/2013:
No.
Nama Form
1.
Surat Permohonan Pembetulan
2.
Surat Pengembalian Permohonan Pembetulan
3.
SK Pembetulan Krn Permohonan WP
4.
SK Pembetulan Krn Permohonan WP
5.
SK PembetulanScr Jabatan

B193

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV
Lamp V

Pihak Pembuat
WP /Wakil/Kuasa
DJP

B.

KEBERATAN
Dasar Hukum:
Pasal 25 & 26 UU KUP
Pasal 28, 29, 30, 31, 33 PP 74 Thn 2011 mencabut PP 80 Thn 2007
PMK-9/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Maret 2013) ttg Tata cara pengajuan dan penyelesaian
keberatan mencabut PMK-194/PMK.03/2007
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut PER-49/PJ./2009, PER-52/PJ/2010
KEP-297/PJ./2002 stdtd KEP-11/PJ./2013 ttg Pelimpahan wewenang Dirjen Pajak kpd para
pejabat di lingkungan DJP
SE terkait:

SE-11/PJ/2014 (mulai berlaku tanggal 8 Apr 2014) ttg Petunjuk pelaksanaan penyelesaian
keberatan PPh, PPN dan/atau PPnBM mencabut SE-122/PJ/2010
Ruang Lingkup Keberatan:
1. WP dpt mengajukan keberatan hanya kpd DJP atas suatu: (Pasal 25 ayat (1) UU KUP &
Pasal 2 ayat (1) PMK-9/PMK.03/2013)
a. SKPKB, kecuali SKPKB berdasarkan Pasal 13A UU KUP
b. SKPKBT;
c. SKPLB;
d. SKPN;
e. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan perpu
perpajakan.
Seksi Terkait:
Permohonan disampaikan ke KPP (Seksi Pelayanan dan Seksi Waskon), tetapi proses
penyelesaiannya dilakukan oleh:
Kanwil DJP (Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding), atau
Kantor Pusat DJP (Direktorat Keberatan dan Banding)
2. WP hanya dpt mengajukan keberatan thd materi atau isi dari skp, yg meliputi jml rugi
berdasarkan ketentuan perpu perpajakan, jml besarnya pajak, atau thd materi atau isi dari
pemotongan atau pemungutan pajak. (Pasal 2 ayat (3) PMK-9/PMK.03/2013)
3. Dlm hal terdapat alasan keberatan selain mengenai materi atau isi dari skp atau pemotongan
atau pemungutan pajak, alasan tsb tdk dipertimbangkan dlm penyelesaian keberatan. (Pasal 2
ayat (4) PMK-9/PMK.03/2013)
Persyaratan Pengajuan Keberatan:
Thn Pajak 2007 dan sbl-nya
(Pasal 3 ayat (1) PMK-9/PMK.03/2013)
a. Diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia;

a.

b.

Mengemukakan jml pajak yg terutang atau


jml pajak yg dipotong/dipungut atau jml rugi
mnr penghitungan WP dgn disertai alasanalasan yg menjadi dasar penghitungan;

b.

c.

1 keberatan diajukan hanya utk 1 skp, utk 1


pemotongan pajak, atau utk 1 pemungutan
pajak;

c.

d.

d.

Diajukan dlm jangka waktu 3 bulan sejak


tanggal:
1) skp diterbitkan; atau
2) pemotongan/pemungutan pajak oleh

B194

e.

Thn Pajak 2008 dan sesudahnya


(Pasal 4 ayat (1) PMK-9/PMK.03/2013)
Diajukan scr tertulis dlm bahasa
Indonesia;
Mengemukakan jml pajak yg terutang
atau jml pajak yg dipotong/dipungut
atau jml rugi mnr penghitungan WP
dgn disertai alasan-alasan yg menjadi
dasar penghitungan;
1 keberatan diajukan hanya utk 1 skp,
utk 1 pemotongan pajak, atau utk 1
pemungutan pajak;
WP tlh melunasi pajak yg masih hrs
dibayar paling sedikit sejumlah yg
tlh disetujui WP dlm PAHP/PAHV,
sbl Surat Keberatan disampaikan;
Diajukan dlm jangka waktu 3 bulan
sejak tanggal:
1) skp dikirim; atau
2) pemotongan/pemungutan pajak

e.

f.

pihak ketiga,
kecuali WP dpt menunjukan bahwa jangka
waktu tsb tdk dpt dipenuhi krn keadaan di
luar kekuasaan WP;
Surat Keberatan ditandatangani oleh WP,
dan dlm hal Surat Keberatan
ditandatangani oleh bukan WP, Surat
Keberatan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa
khusus sesuai Pasal 32 ayat (3) UU KUP;
dan
WP tdk mengajukan permohonan sesuai
Pasal 36 UU KUP.

f.

g.

oleh pihak ketiga,


kecuali WP dpt menunjukan bahwa
jangka waktu tsb tdk dpt dipenuhi krn
keadaan di luar kekuasaan WP;
Surat Keberatan ditandatangani oleh
WP, dan dlm hal Surat Keberatan
ditandatangani oleh bukan WP, Surat
Keberatan tsb hrs dilampiri dgn surat
kuasa khusus sesuai Pasal 32 ayat (3)
UU KUP; dan
WP tdk mengajukan permohonan
sesuai Pasal 36 UU KUP.

Contoh Penghitungan jangka waktu 3 bulan: (Penjelasan Pasal 28 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
Contoh 1:
Apabila skp dikirim kpd WP pd tanggal 20 Sept 2012 maka WP dpt mengajukan keberatan paling
lama tanggal 19 Des 2012.
Contoh 2:
Apabila skp dikirim kpd WP pd tanggal 30 Nov 2012, maka WP dpt mengajukan keberatan paling
lama tanggal 28 Feb 2013.
Contoh 3:
Apabila skp dikirim kpd WP pd tanggal 2 Jan 2013, maka WP dpt mengajukan keberatan paling
lama tanggal 1 Apr 2013.
Dlm hal stl WP mengajukan keberatan terdapat penerbitan SK Pembetulan oleh Dirjen Pajak scr
jabatan yg mengakibatkan persyaratan jml pajak yg masih hrs dilunasi pd Pasal 4 ayat (1) huruf d
(WP tlh melunasi pajak yg masih hrs dibayar paling sedikit sejumlah yg tlh disetujui WP dlm
PAHP/PAHV, sbl Surat Keberatan disampaikan) bertambah, proses penyelesaian keberatan yg
diajukan oleh WP tsb tetap dilanjutkan oleh Dirjen Pajak. (Pasal 6 PMK-9)
Ketentuan Pengajuan Keberatan:
Thn Pajak 2007 dan sbl-nya
1. Dlm hal Surat Keberatan yg disampaikan
oleh WP tdk memenuhi persyaratan
sesuai ayat (1) huruf a, b, c, atau e, WP
dpt melakukan perbaikan atas Surat
Keberatan tsb dan menyampaikan
kembali sbl jangka waktu 3 bulan sesuai
ayat (1) huruf d terlampaui.
(Pasal 3 ayat (2) PMK-9/PMK.03/2013)
2. Tanggal penyampaian Surat Keberatan
yg tlh diperbaiki pd ayat (2) mrp tanggal
Surat Keberatan diterima.
(Pasal 3 ayat (3) PMK-9/PMK.03/2013)
3. Pengajuan keberatan pd ayat (1):
a. Tdk menunda kewajiban membayar
pajak sebagaimana tercantum dlm
SKPKB dan SKPKBT sesuai Pasal 2
ayat (1) huruf a & b; dan
b. Tdk menunda pelaksanaan
penagihan pajak.
(Pasal 3 ayat (4) PMK-9/PMK.03/2013)

B195

1.

2.

3.

Thn Pajak 2008 dan sesudahnya


Dlm hal Surat Keberatan yg disampaikan
oleh WP tdk memenuhi persyaratan
sesuai ayat (1) huruf a, b, c, d, atau f,
WP dpt melakukan perbaikan atas Surat
Keberatan tsb dan menyampaikan
kembali sbl jangka waktu 3 bulan sesuai
ayat (1) huruf e terlampaui.
(Pasal 4 ayat (2) PMK-9/PMK.03/2013)
Tanggal penyampaian Surat Keberatan
yg tlh diperbaiki pd ayat (2) mrp tanggal
Surat Keberatan diterima.
(Pasal 4 ayat (3) PMK-9/PMK.03/2013)
Dlm hal WP mengajukan keberatan pd
ayat (1), jangka waktu pelunasan pajak
yg masih hrs dibayar yg iak disetujui dlm
PAHP/PAHV sebagaimana tercantum
dlm SKPKB dan SKPKBT sesuai Pasal 2
ayat (1) huruf a & b, dan blm dibayar pd
saat pengajuan keberatan, tertangguh
s.d. 1 bulan sejak tanggal penerbitan SK
Keberatan.
(Pasal 4 ayat (4) PMK-9/PMK.03/2013)

Keadaan di Luar Kekuasaan WP: (Pasal 5 ayat (1) & (2) PMK-9/PMK.03/2013)
a. Bencana alam;
b. Kebakaran;
c. Huru-hara/kerusuhan massal;
d. Diterbitkan SK Pembetulan scr jabatan yg mengakibatkan jml pajak yg masih hrs dibayar yg
tertera dlm skp berubah, kecuali SK Pembetulan yg diterbitkan akibat hasil Persetujuan
Bersama; atau
Dlm hal terdapat penerbitan SK Pembetulan scr jabatan di atas dan WP blm mengajukan
keberatan atas skp, WP dpt mengajukan keberatan atas skp tsb dlm jangka waktu paling lama
3 bulan sejak tanggal SK Pembetulan dikirim.
e. Keadaan lain berdasarkan pertimbangan Dirjen Pajak.
.
Cara Penyampaian dan tanggal diterima Surat Keberatan: (Pasal 9 PMK-9/PMK.03/2013)
Cara Penyampaian
Tanda BPS
Tanggal Diterima
No.
Permohonan
(Pasal 9 ayat (1) PMK(Pasal 9 ayat (8) PMKPembetulan
9/PMK.03/2013)
9/PMK.03/2013)
a.
Scr lsg pd KPP tempat WP terdaftar BPS
Tanggal yg tercantum pd
dan/atau tempat PKP dikukuhkan
BPS
b.
c.

Melalui pos dgn bukti pengiriman


surat scr tercatat
Dgn cara
1) Melalui
lain
perusahaan jasa
ekspedisi/jasa kurir
dgn bukti
pengiriman surat
2) e-Filing

Bukti Pengiriman
Surat

Tanggal yg tercantum pd
Bukti Pengiriman Surat

BPE

Tanggal yg tercantum pd
BPE

Permintaan Keterangan oleh WP: (Pasal 10 PMK-9/PMK.03/2013)


a. Sbl mengajukan keberatan, WP dpt meminta keterangan scr tertulis hal-hal yg menjadi DPP,
penghitungan rugi, pemotongan/pemungutan pajak kpd Dirjen Pajak melalui KPP tempat WP
terdaftar dan/atau tempat PKP dikukuhkan.
b. Dirjen Pajak wajib memberikan keterangan yg diminta oleh WP.
c. Pemberian keterangan oleh Dirjen Pajak atas permintaan WP tdk menambah jangka waktu
pengajuan keberatan yg hrs dipatuhi oleh WP.
Ketentuan Terkait Pencabutan Pengajuan Keberatan oleh WP:
1. WP dpt mencabut pengajuan keberatan yg tlh disampaikan kpd Dirjen Pajak sbl tanggal
diterima SPUH oleh WP. (Pasal 30 ayat (3) PP 74 Thn 2011 & Pasal 11 ayat (1) PMK9/PMK.03/2013)
2. Pencabutan pengajuan keberatan tsb dilakukan melalui penyampaian permohonan dgn
memenuhi persyaratan: (Pasal 11 ayat (2) PMK-9/PMK.03/2013)
a. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dan dpt mencantumkan alasan
pencabutan (dgn menggunakan format dlm Lamp III PMK-9);
b. Surat permohonan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat permohonan tsb
ditandatangani bukan oleh WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus
sesuai Pasal 32 ayat (3) UU KUP; dan
c. Surat permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar dgn tembusan kpd Dirjen
Pajak dan Kepala Kanwil DJP yg mrp atasan Kepala KPP.
3. Dirjen Pajak wajib memberikan jawaban atas permohonan pencabutan pengajuan keberatan
tsb berupa surat persetujuan atau surat penolakan. (Pasal 11 ayat (3) PMK-9/PMK.03/2013)
4. WP yg mencabut pengajuan keberatan yg tlh disampaikan kpd Dirjen Pajak ini tdk dpt
mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal 36 ayat
(1) huruf b UU KUP. (Pasal 30 ayat (4) PP 74 Thn 2011 & Pasal 12 ayat (1) PMK9/PMK.03/2013)

B196

5.

6.

Dlm hal Wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan sesuai Pasal 30 ayat (3) PP 74 Thn 2011
atau pengajuan keberatan tdk dipertimbangkan oleh Dirjen Pajak krn tdk memenuhi
persyaratan pengajuan keberatan sesuai pasal 25 ayat (1), ayat (2), ayat (3) atau ayat (3a) UU
KUP, WP dianggap tdk mengajukan keberatan. (Pasal 31 ayat (3) PP 74 Thn 2011)
Dlm hal WP dianggap tdk mengajukan keberatan, pajak yg masih hrs dibayar dlm
SKPKB/SKPKBT yg tdk disetujui dlm PAHP/PAHV menjadi utang pajak sejak tanggal
penerbitan skp. (Pasal 31 ayat (4) PP 74 Thn 2011 & Pasal 12 ayat (2) PMK-9)

WP yg Mengajukan Keberatan Tdk Dpt Mengajukan Permohonan: (Pasal 30 ayat (2) PP 74 Thn
2011)
1. Pengurangan, penghapusan, dan pembatalan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan
kenaikan yg terutang sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan (Pasal 36 ayat (1) huruf a UU
KUP);
2. Pengurangan atau pembatalan skp yg tdk benar (Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP); atau
3. Pembatalan skp dari hasil pemeriksaan/verifikasi yg dilaksanakan tanpa (Pasal 36 ayat (1)
huruf d UU KUP):
a. Penyampaian SPHP/SPHV;atau
b. PAHP/PAHV dgn WP.
Penyelesaian Keberatan:
1. Dlm proses penyelesaian keberatan, Dirjen Pajak berwenang utk:
a. Meminjam buku, catatan, data, dan informasi dlm bentuk hardcopy dan/atau softcopy kpd
WP terkait dgn materi yg disengketakan melalui penyampaian surat permintaan
peminjaman buku, catatan, data, dan informasi;
b. Meminta WP utk memberikan keterangan terkait dgn materi yg disengketakan melalui
penyampaian surat permintaan keterangan;
c. Meminta keterangan atau bukti terkait dgn materi yg disengketakan kpd pihak ketiga yg
mempunyai hub dgn Wajib Pajak sesuai Pasal 35 ayat (1) UU KUP melalui penyampaian
surat permintaan data dan keterangan kpd pihak ketiga;
d. Meninjau tempat WP, termasuk tempat lain yg diperlukan;
e. Melakukan pembahasan dan klarifikasi atas hal-hal yg diperlukan dgn memanggil WP
melalui penyampaian surat panggilan; dan
Surat panggilan dikirimkan paling lama 10 hari kerja sbl tanggal pembahasan dan
klarifikasi atas sengketa perpajakan.
Pembahasan dan klarifikasi tsb dituangkan dlm BA pembahasan dan klarifikasi
sengketa perpajakan.
f. Melakukan pemeriksaan utk tujuan lain dlm rangka keberatan utk mendapatkan data
dan/atau informasi yg objektif yg dpt dijadikan dasar dlm mempertimbangkan keputusan
keberatan.
2. WP hrs memenuhi peminjaman pd angka 1 huruf a dan/atau permintaan pd angka 1 huruf b
paling lama 15 hari kerja stl tanggal surat permintaan peminjaman dan/atau surat permintaan
keterangan dikirim.
3. Apabila s.d. jangka waktu 15 hari kerja stl tanggal surat permintaan peminjaman dan/atau surat
permintaan keterangan dikirim berakhir, WP tdk meminjamkan sebagian atau slr buku, catatan,
data dan informasi dan/atau tdk memberikan keterangan yg diminta, Dirjen Pajak
menyampaikan:
a. Surat permintaan peminjaman yg kedua; dan/atau
b. Surat permintaan keterangan yg kedua.
4. WP hrs memenuhi peminjaman dan/atau permintaan yg kedua paling lama 10 hari kerja stl
tanggal surat peminjaman dan/atau permintaan yg kedua dikirim.
5. Perlakuan atas dokumen dlm Proses Penyelesaian Keberatan: (Pasal 14 PMK9/PMK.03/2013)
Dokumen
Perlakuan
Keterangan
Buku, catatan, data, Tdk
Yg diminta pd saat pemeriksaan tetapi tdk
informasi, atau
Dipertimbangkan
diberikan oleh WP
keterangan lain yg
Dipertimbangkan
Yg pd saat pemeriksaan tetapi tdk diberikan

B197

diterima/diperoleh
pd proses
penyelesaian
keberatan

6.

7.

8.

9.

oleh WP krn berada di pihak ketiga dan blm


diperoleh WP pd saat pemeriksaan
skp yg Penghasilan Kena Pajaknya dihitung scr
jabatan terbatas pd:
a. Dokumen yg terkait dgn penghitungan
peredaran usaha atau penghasilan bruto
dlm rangka penghitungan penghasilan
neto scr jabatan; dan
b. Dokumen kredit pajak sbg pengurang PPh.
Dpt
Yg tdk diminta pd saat pemeriksaan tetapi
Dipertimbangkan
diperlukan dan diminta oleh Dirjen Pajak serta
diberikan oleh WP
Yg tdk diminta pd saat pemeriksaan dan
keberatan tetapi diberikan oleh WP
Dlm hal WP mengajukan keberatan dan mengajukan MAP scr bersamaan namun Persetujuan
Bersama: (Pasal 16 PMK-9/PMK.03/2013)
Blm diperoleh pd saat SK Keberatan diterbitkan, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan
dgn mempertahankan temuan pemeriksaan dlm skp yg diajukan MAP.
Tlh diperoleh sbl SK Keberatan diterbitkan, Dirjen Pajak memperhitungkan Persetujuan
Bersama dlm SK Keberatan.
Dirjen Pajak dlm jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal Surat Keberatan diterima
hrs memberikan keputusan atas keberatan yg diajukan. (Pasal 26 ayat (1) UU KUP, Pasal
33 ayat (1) PP 74 Thn 2011, dan Pasal 17 ayat (1) PMK-9/PMK.03/2013)
Jangka waktu tsb dihitung sejak tanggal Surat Keberatan diterima sesuai Pasal 9 ayat (8)
PMK-9/PMK.03/2013 s.d. tanggal SK Keberatan diterbitkan. Apabila jangka waktu tsb tlh
terlampaui dan Dirjen Pajak tdk memberi keputusan atas keberatan, keberatan yg diajukan
oleh WP dianggap dikabulkan dan Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan sesuai dgn
pengajuan keberatan WP dlm jangka waktu paling lama 1 bulan sejak jangka waktu 12
bulan tsb berakhir.
Keputusan atas keberatan yg diajukan tsb diterbitkan berdasarkan laporan penelitian
keberatan.
Keputusan atas keberatan tsb dpt berupa mengabulkan seluruhnya, mengabulkan sebagian,
menolak, atau menambah besarnya jml pajak yg masih hrs dibayar yg dituangkan dlm SK
Keberatan.
Dlm hal surat keberatan tdk memenuhi persyaratan, KPP memberikan jawaban scr tertulis dgn
surat biasa (bukan SK penolakan).
Dlm hal WP mengajukan keberatan atas skp sesuai Pasal 13 ayat (1) huruf b UU KUP (apabila
Surat Pemberitahuan tdk disampaikan dlm jangka waktu sesuai Pasal 3 ayat (3) UU KUP
dan stl ditegur scr tertulis tdk disampaikan pd waktunya sebagaimana ditentukan dlm
Surat Teguran) dan huruf d UU KUP (apabila kewajiban sesuai Pasal 28 / Pasal 29 tdk
dipenuhi shg tdk dpt diketahui besarnya pajak yg terutang), WP yg bersangkutan hrs dpt
membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tsb.

Sanksi Administrasi Terkait Pengajuan Keberatan:


1. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda seb 50% dari jml pajak berdasarkan
keputusan keberatan dikurangi dgn pajak yg tlh dibayar sbl mengajukan keberatan yaitu
dlm hal:
a. Keberatan WP ditolak atau dikabulkan sebagian. (Pasal 25 ayat (9) UU KUP & Pasal 31
ayat (1) PP 74 Thn 2011)
b. Keputusan keberatan atas pengajuan keberatan WP menambah jml pajak yg masih hrs
dibayar. (Pasal 31 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
2. Dlm hal WP mengajukan permohonan banding, sanksi administrasi berupa denda seb 50%
ini tdk dikenakan. (Pasal 25 ayat (10) UU KUP)
Jml pajak yg tlh dibayar sbl pengajuan keberatan meliputi baik pembayaran atas jml yg disetujui
maupun yg tdk disetujui dlm PAHP/PAHV.
3. Contoh perhitungan atas Pasal 31 ayat (1) PP 74 Thn 2011:

B198

a.

Pd tanggal 2 Apr 2012, diterbitkan SKPKB dgn nilai Rp 1 M. Jml pajak yg disetujui dlm
PAHP seb Rp 300 juta.
b. Pd tanggal 1 Mei 2012, jml pajak yg disetujui maupun yg tdk disetujui dlm PAHP tlh dilunasi
oleh WP.
c. Pd tanggal 3 Mei 2012, WP mengajukan keberatan.
Jika SK Keberatan menolak pengajuan keberatan WP maka utk menghitung pengenaan sanksi
administrasi berupa denda seb 50% slr jml pajak yg tlh dibayar sbl pengajuan keberatan (baik
yg disetujui maupun tdk) hrs dikurangkan dari jml pajak yg masih hrs dibayar dlm SK
Keberatan.
Dlm hal ini, dasar utk menghitung sanksi administrasi berupa denda seb 50% adalah seb Rp 0,
yaitu seb Rp 1 M (jml pajak dlm SK Keberatan) dikurangi dgn Rp 1 M (jml yg tlh dibayar sbl
pengajuan keberatan).

Ketentuan Terkait Imbalan Bunga:


Lihat Bab B-20 Imbalan Bunga
Ketentuan Peralihan:
Sbl PP 74 Thn 2011 Berlaku (sbl 1 Jan 2012):
Thd proses penyelesaian keberatan sesuai Pasal 26 dan Pasal 26A UU KUP utk pengajuan
keberatan yg diterima stl tanggal 31 Des 2007 berlaku ketentuan berdasarkan UU
KUP. (Pasal 36 ayat (2) huruf f PP 80 Thn 2007)
Stl PP 74 Thn 2011 Berlaku (sejak 1 Jan 2012):
Pd saat PP 74 Thn 2011 mulai berlaku, thd pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban
perpajakan yg blm diselesaikan yg berkaitan dgn proses penyelesaian keberatan sebagaimana
dimaksud dlm Pasal 26 & Pasal 26A UU KUP utk pengajuan keberatan yg diterima stl tanggal
31 Des 2007 berlaku ketentuan berdasarkan PP 74 Thn 2011. (Pasal 64 huruf f PP 74 Thn
2011)
Penjelasan Pasal 64 huruf f PP 74 Thn 2011: Pengajuan keberatan yg diterima stl tanggal 31
Des 2007 dan blm diselesaikan, proses penyelesaian keberatannya dilakukan berdasarkan
ketentuan Pasal 26 & Pasal 26A UU KUP serta Pasal 33 PP 74 Thn 2011 tanpa
memperhatikan Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak yg diajukan keberatan.
Sedangkan persyaratan pengajuan keberatan khususnya berupa kewajiban melunasi pajak yg
masih hrs dibayar paling sedikit sejumlah yg disetujui pd saat PAHP sebagaimana dimaksud
dlm Pasal 25 ayat (3a) UU KUP, hanya berlaku utk pengajuan keberatan atas Masa Pajak,
Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak 2008 dan setelahnya.
Pengajuan keberatan tdk menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan
penagihan pajak.
WP dpt mengajukan permohonan banding kpd Pengadilan Pajak thd keputusan
keberatan yg ditetapkan oleh Dirjen Pajak.
Form-form yg digunakan berdasar PMK-9/PMK.03/2013:
No.

Nama Form

Sumber

1.

Surat Keberatan

Lamp I

2.

Surat Pemberitahuan Keberatan Tdk Memenuhi


Persyaratan
Surat Permohonan Pencabutan Pengajuan
Keberatan
Surat Persetujuan Permohonan Pencabutan
Pengajuan Keberatan
Surat Penolakan Permohonan Pencabutan
Pengajuan Keberatan
Surat Panggilan dlm Rangka Pembahasan dan
Klarifkasi Sengketa Perpajakan

Lamp II

3.
4.
5.
6.

B199

Lamp III
Lamp IV Bagian A
Lamp IV Bagian B
Lamp V

Pihak
Pembuat
WP/Wakil/
Kuasa
DJP
WP/Wakil/
Kuasa
DJP

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan,


Data, dan Informasi Pertama
Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan,
Data, dan Informasi Kedua
Surat Permintaan Peminjaman Tambahan Buku,
Catatan, Data, dan Informasi
Surat Permintaan Keterangan
Surat Permintaan Keterangan Kedua
Surat Permintaan Keterangan Tambahan
BA Tdk Memenuhi Sebagian/Seluruhnya
Permintaan Peminjaman dan/atau Permintaan
Keterangan
BA Pembahasan dan Klarifikasi Sengketa
Perpajakan
SPUH
Pemberitahuan Daftar Hasil Penelitian Keberatan
Surat Tanggapan Hasil Penelitian Keberatan
BA Kehadiran dan Pemberian Keterangan Tertulis
BA Kehadiran WP Tetapi Tdk Memberikan
Keterangan Tertulis
BA Kehadiran WP Memberikan Keterangan Tetapi
Tdk Bersedia Tanda Tangan
BA Ketidakhadiran WP dan Tdk Memberikan
Keterangan Tertulis
BA Ketidakhadiran WP dan Memberikan
Keterangan Tertulis
SK Keberatan utk PPh Badan & OP
SK Keberatan utk PPh Pot-Put
SK Keberatan utk PPN dan PPnBM
SK Keberatan utk Pot-Put oleh Pihak Ketiga

Lamp VI Bagian A
Lamp VI Bagian B
Lamp VI Bagian C
Lamp VI Bagian D
Lamp VI Bagian E
Lamp VI Bagian F
Lamp VII

Lamp VIII
Lamp IX Bagian A
Lamp IX Bagian B
Lamp IX Bagian C
Lamp X Bagian A
Lamp X Bagian B
Lamp X Bagian C
Lamp XI Bagian A
Lamp XI Bagian B
Lamp XII Bagian A
Lamp XII Bagian B
Lamp XII BagianC
Lamp XII Bagian D

Prosedur berdasar SE-11/PJ/2014:


No.
Nama Form
1.
Prosedur Penanganan Pengajuan Keberatan
2.
Prosedur Penerimaan dan Penelitian Berkas Keberatan di Unit yg
Berwenang utk Menerbitkan Keputusan atas Keberatan
3.
Prosedur Penyelesaian Keberatan

B1910

WP/Wakil/
Kuasa
DJP

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III

C.

PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI DAN PENGURANGAN ATAU


PEMBATALAN skp ATAU STP
Dasar Hukum:
Pasal 36 ayat (1) UU KUP
Pasal 13, 35, 36 PP 74 Thn 2011 mencabut PP 80 Thn 2007
PMK-8/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Maret 2013) ttg Tata cara Pengurangan atau
Penghapusan Sanksi Administrasi dan Pengurangan atau Pembatalan skp/STP mencabut
KMK-542/KMK.04/2000, PMK-21/PMK.03/2008
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut PER-01/PJ.07/2007, PER37/PJ/2008, PER-48/PJ/2009
KEP-297/PJ./2002 stdtd KEP-11/PJ./2013 ttg Pelimpahan wewenang Dirjen Pajak kpd para
pejabat di lingkungan DJP
SE terkait:
SE-17/PJ/2014 (berlaku stl 1 bulan sejak tanggal 07 Apr 2014) ttg Petunjuk pelaksanaan
pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dan pengurangan atau pembatalan
skp/STP mencabut SE-02/PJ.07/2007
Isi Pasal 36 ayat (1) UU KUP: berlaku sejak 1 Jan 2008
Dirjen Pajak krn jabatan atau atas permohonan WP dpt:
a. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan
kenaikan yg terutang sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan dlm hal sanksi tsb dikenakan
krn kekhilafan WP atau bukan krn kesalahannya. (Pasal 36 ayat (1) huruf a);
b. Mengurangkan atau membatalkan skp yg tdk. benar (Pasal 36 ayat (1) huruf b);
c. Mengurangkan atau membatalkan STP sesuai Pasal 14 yg tdk benar. (Pasal 36 ayat (1)
huruf c); atau
d. Membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau skp dari hasil pemeriksaan yg dilaksanakan
tanpa:
1. penyampaian SPHP; atau
2. PAHP dgn WP. (Pasal 36 ayat (1) huruf d)
Isi Pasal 35 PP 74 Thn 2011: berlaku sejak 1 Jan 2012
Dirjen Pajak krn jabatan atau atas permohonan WP dpt:
a. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan
kenaikan yg terutang sesuai dgn ketentuan perpu di bidang perpajakan dlm hal sanksi tsb
dikenakan krn kekhilafan WP, atau bukan krn kesalahannya;
b. Mengurangkan atau membatalkan skp yg tdk benar;
c. Mengurangkan atau membatalkan STP sesuai Pasal 14 UU KUP,yg tdk benar; atau
d. Membatalkan skp dari hasil Pemeriksaan atau Verifikasi, yg dilaksanakan tanpa:
1. penyampaian SPHP/SPHV; atau
2. PAHP/PAHV dgn WP.
Pengurangan, penghapusan, atau pembatalan scr jabatan dilakukan berdasarkan data dan/atau
informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh Dirjen Pajak. (Pasal 27 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi scr Jabatan: Pasal 28 s.d. 29
PMK-8/PMK.03/2013
Cara Penyampaian dan tanggal diterima Surat Permohonan:
Tanda BPS
Cara Penyampaian
No.
Permohonan
(Pasal 3 ayat (1) PMK-8/PMK.03/2013)
Pembetulan
a.
Scr lsg pd KPP tempat WP terdaftar
BPS
dan/atau tempat PKP dikukuhkan
b.
Melalui pos dgn bukti pengiriman surat
Bukti
scr tercatat
Pengiriman
Surat
c.
Dgn cara
1) Melalui perusahaan
Bukti
lain
jasa ekspedisi/jasa kurir Pengiriman

B1911

Tanggal Diterima
(Pasal 3 ayat (8) PMK8/PMK.03/2013)
Tanggal yg tercantum pd
BPS
Tanggal yg tercantum pd
Bukti Pengiriman Surat
Tanggal yg tercantum pd
Bukti Pengiriman Surat

dgn bukti pengiriman


surat
2) e-Filing

Surat
BPE

Tanggal yg tercantum pd
BPE

(Pasal 3 PMK-8/PMK.03/2013)
Pencabutan Permohonan WP:
WP dpt melakukan pencabutan thd surat permohonan yg tlh disampaikan kpd Dirjen Pajak sbl
diterbitkan SK terkait permohonan WP.
Pencabutan thd surat permohonan tsb hrs memenuhi persyaratan:
1. Pencabutan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dan dpt mencantumkan alasan
pencabutan;
2. Pencabutan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar; dan
3. Surat pencabutan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat pencabutan ditandatangani
bukan oleh WP, surat pencabutan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal 32
ayat (3) UU KUP.
Dlm hal WP melakukan pencabutan thd surat permohonannya , WP tdk berhak utk mengajukan
kembali permohonan yg sama dgn jenis permohonan yg dicabut.
(Pasal 26 PMK-3/PMK.03/2013)
Jangka Waktu Penyelesaian:
Paling lama 6 bulan sejak tanggal permohonan diterima. Keputusan dpt berupa mengabulkan
seluruhnya atau sebagian, atau menolak permohonan WP. Apabila jangka waktu dimaksud tlh lewat
dan Dirjen Pajak tdk memberi suatu keputusan, maka permohonan yg diajukan tsb dianggap
diterima.
(Pasal 36 ayat (1c) & (1d) UU KUP)
Seksi Terkait:
Permohonan disampaikan ke KPP (Seksi Pelayanan dan Seksi Waskon), tetapi proses
penyelesaiannya dilakukan oleh:
Kanwil DJP (Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding), atau
Kantor Pusat DJP (Direktorat Keberatan dan Banding)
Ketentuan Peralihan:

Permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi, permohonan pengurangan/


pembatalan skp, permohonan pengurangan/pembatalan STP:
utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2007 dan sebelumnya yg diajukan stl
berlakunya PMK-8/PMK.03/2013, berlaku ketentuan berdasarkan PMK-8;
utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2008 dan sesudahnya yg diajukan stl
berlakunya PMK-8/PMK.03/2013, berlaku ketentuan berdasarkan PMK-8;

Thd
permohonan
pengurangan/penghapusan
sanksi
administrasi,
permohonan
pengurangan/pembatalan skp, permohonan pengurangan/pembatalan STP yg diajukan sbl
berlakunya PMK-8/PMK.03/2013 dan blm diselesaikan s.d. penerbitan SK, proses penyelesaian
selanjutnya s.d. penerbitan SK dilakukan berdasarkan ketentuan sesuai PMK-8/PMK.03/2013.
(Pasal 39 PMK-8/PMK.03/2013)
1. PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI
(Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP, Pasal 2 huruf a PMK-8/PMK.03/2013)
Sanksi Administrasi yg Dpt Dikurangkan/Dihapuskan berdasarkan Permohonan WP:
(Pasal 4 PMK-8/PMK.03/2013)
1. Sanksi administrasi yg tercantum dlm skp, kecuali sanksi administrasi yg tercantum dlm
SKPKB yg diterbitkan berdasarkan ketentuan Pasal 13A UU KUP;
Hanya dpt diajukan dlm hal atas skp tsb:
a. Tdk diajukan keberatan;

B1912

b.

2.

3.

Diajukan keberatan, tetapi dicabut oleh WP dan DJP tlh menyetujui permohonan
pencabutan WP tsb;
c. Diajukan keberatan, tetapi tdk dipertimbangkan;
d. Tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal
2 huruf b PMK-8/PMK.03/2013;
e. Diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal 2
huruf b PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP;
f. Tdk sedang diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi
sesuai Pasal 2 huruf d PMK-8/PMK.03/2013;
g. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP; atau
h. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi permohonan tsb ditolak.
(Pasal 5 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Sanksi administrasi yg tercantum dlm STP yg terkait dgn penerbitan skp, kecuali
sanksi administrasi yg tercantum dlm STP yg diterbitkan berdasarkan Pasal 25 ayat (9) &
Pasal 27 ayat (5d) UU KUP; atau
Hanya dpt diajukan dlm hal skp yg terkait dgn STP tsb:
a. Tdk diajukan keberatan;
b. Diajukan keberatan, tetapi dicabut oleh WP dan DJP tlh menyetujui permohonan
pencabutan WP tsb;
c. Diajukan keberatan, tetapi tdk dipertimbangkan;
d. Tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal
2 huruf b PMK-8/PMK.03/2013;
e. Diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal 2
huruf b PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP;
f. Tdk sedang diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi
sesuai Pasal 2 huruf d PMK-8/PMK.03/2013;
g. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP; atau
h. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi permohonan tsb ditolak.
(Pasal 5 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan yg hrs dipenuhi atas STP yg diajukan permohonan:
a. STP tsb tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan STP yg tdk benar
sesuai Pasal 2 huruf c PMK-8/PMK.03/2013; atau
b. STP tsb diajukan permohonan pengurangan/pembatalan STP yg tdk benar sesuai
Pasal 2 huruf c PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 5 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
Sanksi administrasi yg tercantum dlm STP selain STP pd angka 2.
Ketentuan yg hrs dipenuhi atas STP yg diajukan permohonan:
a. STP tsb tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan STP yg tdk benar
sesuai Pasal 2 huruf c PMK-8/PMK.03/2013; atau
b. STP tsb diajukan permohonan pengurangan/pembatalan STP yg tdk benar sesuai
Pasal 2 huruf c PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 5 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)

Syarat Mengajukan Permohonan Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi yg


Tercantum dlm skp/STP:
1. 1 permohonan utk 1 skp/STP, kecuali permohonan tsb diajukan utk STP berdasarkan Pasal
19 ayat (1) UU KUP, sepanjang terkait dgn skp yg sama maka 1 permohonan dpt diajukan
utk lbh dari 1 STP;
2. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia;
3. Mengemukakan jml sanksi administrasi mnr WP dgn disertai alasan;
4. Permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar; dan

B1913

5.

Surat permohonan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat permohonan ditandatangani
bukan oleh WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal
32 ayat (3) UU KUP.
(Pasal 5 ayat (6) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Jml Permohonan:
Permohonan dpt diajukan oleh WP paling banyak 2 x.
Dlm hal WP mengajukan permohonan yg kedua, permohonan tsb hrs diajukan dlm jangka
waktu paling lama 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama
dikirim, kecuali WP dpt menunjukkan bahwa jangka waktu tsb tdk dpt dipenuhi krn keadaan
di luar kekuasaan WP.
Permohonan yg kedua tetap diajukan thd skp/STP yg tlh diterbitkan SK Dirjen Pajak.
(Pasal 5 ayat (7) (9) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan dlm Hal Permohonan Dikembalikan krn:
1. Tdk Memenuhi Persyaratan:
Utk permohonan yg pertama, WP dianggap blm mengajukan permohonan shg WP
masih dpt mengajukan permohonan paling banyak 2 x; atau
Utk permohonan yg kedua, WP masih dpt mengajukan permohonan sepanjang jangka
waktu 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama dikirim, blm
terlampaui
(Pasal 6 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
2. Tdk Memenuhi Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm:
a. Pasal 5 ayat (2) s.d. (5), utk permohonan pertama; atau
b. Pasal 5 ayat (2) s.d. ayat (5) dan ayat (8), utk permohonan kedua,
WP tdk dpt mengajukan permohonan kembali.
(Pasal 6 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)
Dlm hal permohonan tdk memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak mengembalikan permohonan tsb
dgn menyampaikan surat yg berisi mengenai pengembalian permohonan pengurangan/
penghapusan sanksi administrasi.
(Pasal 6 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Proses Penerbitan Keputusan DJP atas Permohonan WP:
1. Thd permohonan yg memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak menindaklanjuti permohonan tsb
dgn meneliti permohonan WP.
2. Dlm rangka meneliti permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta dokumen, data, dan/atau
informasi yg diperlukan melalui penyampaian surat permintaan dokumen, data, dan/atau
informasi.
WP hrs memenuhi permintaan ini paling lama 15 hari kerja sejak tanggal surat
permintaan dikirim.
3. Dlm rangka meneliti lbh lanjut permohonan tsb, Dirjen Pajak dpt meminta keterangan
tambahan kpd WP dgn menyampaikan surat permintaan keterangan tambahan dan WP hrs
memberikan keterangan yg diminta dlm jangka waktu paling lama sebagaimana disebut
dlm surat permintaan keterangan tambahan.
4. Dlm hal WP tdk memenuhi sebagian atau slr permintaan tsb, permohonan tetap diproses
sesuai dgn dokumen, data, informasi, dan/atau keterangan yg ada atau yg diterima.
(Pasal 7 PMK-8/PMK.03/2013)
Permohonan Terkait Sanksi Administrasi yg Tercantum pd STP:
1. Akibat WP Melakukan Pembetulan SPT:
Ketentuan dlm hal permohonan terkait dgn sanksi administrasi yg tercantum dlm STP
berdasarkan Pasal 8 ayat (2)/ayat (2a) UU KUP dan sanksi administrasi tsb melebihi
jangka waktu 24 bulan:
a. Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila sanksi
administrasi tsb blm dibayar atau blm dilunasi oleh WP; dan

B1914

b.

Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila jml


pajak yg kurang dibayar dlm pembetulan SPT yg menjadi dasar penerbitan STP
berdasarkan Pasal 8 ayat (2)/ayat (2a) UU KUP tlh dilunasi oleh WP.
(Pasal 8 ayat (1) PMK-8/PMK.03/2013)
Thd permohonan yg memenuhi ketentuan ini diberikan pengurangan sanksi
administrasi shg besarnya sanksi administrasi seb 2% per bulan menjadi 24 bulan.
(Pasal 8 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
sesuai Pasal 36 ayat (2) PP 74 Thn 2011
2. Akibat WP Melakukan Keterlambatan Pembayaran/Penyetoran Pajak yg tercantum pd
SPT:
Ketentuan dlm hal permohonan terkait dgn sanksi administrasi yg tercantum dlm STP
berdasarkan Pasal 9 ayat (2a)/ayat (2b) UU KUP dan sanksi administrasi tsb melebihi
jangka waktu 24 bulan:
a. Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila sanksi
administrasi tsb blm dibayar atau blm dilunasi oleh WP; dan
b. Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila jml
pajak yg terutang atau kekurangan pembayaran pajak yg terutang yg menjadi
dasar penerbitan STP berdasarkan Pasal 9 ayat (2a)/ayat (2b) UU KUP tlh dilunasi
oleh WP.
(Pasal 9 ayat (1) PMK-8/PMK.03/2013)
Thd permohonan yg memenuhi ketentuan ini diberikan pengurangan sanksi
administrasi shg besarnya sanksi administrasi seb 2% per bulan menjadi 24 bulan.
(Pasal 9 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi atas STP sesuai Pasal 9 ayat (2a) UU
KUP, Pasal 9 ayat (2b) UU KUP, dan Pasal 19 ayat (1) UU KUP shg sanksi
administrasi menjadi paling lama 24 bulan, diberikan utk permohonan yg diajukan stl
tanggal 31 Des 2011 s.d. tanggal 31 Des 2013.
(Pasal 11 PMK-8/PMK.03/2013)
sesuai Pasal 36 ayat (3) PP 74 Thn 2011
3. Akibat WP Melakukan Keterlambatan Pembayaran/Penyetoran Pajak yg Tercantum
pd skp, SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, Putusan PK:
Dlm hal permohonan terkait dgn sanksi administrasi yg tercantum dlm STP
berdasarkan Pasal 19 ayat (1) UU KUP dan sanksi administrasi tsb melebihi jangka
waktu 24 bulan, perhitungan waktu sanksi administrasi dlm STP tsb dpt berasal dari
perhitungan waktu yg tercantum dlm 1 atau bbrp STP utk dasar penagihan pajak yg
sama.
(Pasal 10 ayat (1) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan thd permohonan ini:
a. Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila sanksi
administrasi tsb blm dibayar atau blm dilunasi oleh WP; dan
b. Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi hanya dpt diberikan apabila jml
pajak yg masih hrs dibayar dlm skp yg menjadi dasar penerbitan STP berdasarkan
Pasal 19 ayat (1) UU KUP tlh dilunasi oleh WP.
(Pasal 10 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Thd permohonan yg memenuhi ketentuan ini diberikan pengurangan sanksi
administrasi shg besarnya sanksi administrasi seb 2% per bulan menjadi 24 bulan.
(Pasal 10 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Keputusan diberikan atas @ STP yg diajukan permohonan.
(Pasal 10 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
Pengurangan/penghapusan sanksi administrasi atas STP sesuai Pasal 9 ayat (2a) UU
KUP, Pasal 9 ayat (2b) UU KUP, dan Pasal 19 ayat (1) UU KUP shg sanksi
administrasi menjadi paling lama 24 bulan, diberikan utk permohonan yg diajukan stl
tanggal 31 Des 2011 s.d. tanggal 31 Des 2013.
(Pasal 11 PMK-8/PMK.03/2013)
sesuai Pasal 36 ayat (3) PP 74 Thn 2011

B1915

2.

Dpt Diberikannya Pengurangan/Penghapusan Sanksi Menjadi Kurang dari 24 Bulan:


Dpt dilakukan apabila:
1. Sanksi administrasi tsb blm dibayar atau blm dilunasi oleh WP;
2. Jml kekurangan pembayaran pajak yg menjadi dasar pengenaan sanksi administrasi yg
tercantum dlm skp/STP tlh dilunasi oleh WP; dan
3. Memenuhi kriteria yg dpt berupa:
a. WP yg dikenai sanksi administrasi krn kesalahan DJP selain yg tercakup dlm
kesalahan sesuai Pasal 16 UU KUP;
b. WP yg dikenai sanksi administrasi krn keadaan yg disebabkan oleh pihak ketiga dan
bukan krn kesalahan WP;
c. WP yg dikenai sanksi administrasi terkena bencana alam, kebakaran, huruhara/kerusuhan massal, atau kejadian luar biasa lainnya; atau
d. WP mengalami kesulitan likuiditas shg mempengaruhi kelangsungan usahanya.
(Pasal 12 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK YG TDK BENAR
(Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP, Pasal 2 huruf b PMK-8/PMK.03/2013)
skp yd Dpt Dikurangkan/Dibatalkan:
skp yg dpt dikurangkan/dibatalkan berdasarkan permohonan WP adalah skp yg tdk benar,
kecuali SKPKB yg diterbitkan berdasarkan ketentuan Pasal 13A UU KUP.
(Pasal 13 PMK-8/PMK.03/2013)
Hanya dpt diajukan dlm hal atas skp tsb:
1. Tdk diajukan keberatan;
2. Diajukan keberatan, tetapi tdk dipertimbangkan;
3. Tdk diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi sesuai Pasal 2
huruf a PMK-8/PMK.03/2013;
4. Diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi sesuai Pasal 2 huruf
a PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP;
5. Tdk sedang diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai
Pasal 2 huruf d PMK-8/PMK.03/2013;
6. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2 huruf d
PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP; atau
7. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2 huruf d
PMK-8/PMK.03/2013, tetapi permohonan tsb ditolak.
(Pasal 14 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
a.

skp yg tdk benar yg dpt dikurangkan berdasarkan permohonan WP meliputi skp yg jml
pajak terutangnya tdk benar.
b. skp yg tdk benar yg dpt dibatalkan berdasarkan permohonan WP meliputi skp yg
seharusnya tdk diterbitkan.
Dlm hal skp dibatalkan, thd Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak, dan
jenis pajak yg terkait dgn skp yg dibatalkan tsb:
1. dianggap tdk pernah diterbitkan skp; dan
2. DJP tetap dpt menerbitkan skp atas Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn
Pajak dan jenis pajak tsb.
(Pasal 13 ayat (2) (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Permohonan tdk dpt diajukan dlm hal skp tsb diajukan keberatan, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 14 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Syarat Mengajukan Permohonan:
1. 1 permohonan utk 1 skp;
2. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia;
3. Mengemukakan jml pajak yg terutang mnr perhitungan WP dgn disertai alasan;
4. Permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar; dan

B1916

5.

Surat permohonan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat permohonan ditandatangani
oleh bukan WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal
32 ayat (3) UP KUP.
(Pasal 14 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Jml Permohonan:
Permohonan dpt diajukan oleh WP paling banyak 2 x.
Dlm hal WP mengajukan permohonan yg kedua, permohonan tsb hrs diajukan dlm jangka
waktu paling lama 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama
dikirim, kecuali WP dpt menunjukkan bahwa jangka waktu tsb tdk dpt dipenuhi krn keadaan
di luar kekuasaan WP.
Permohonan yg kedua tetap diajukan thd skp/STP yg tlh diterbitkan SK Dirjen Pajak.
(Pasal 14 ayat (5) (7) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan dlm Hal Permohonan Dikembalikan krn:
1. Tdk Memenuhi Persyaratan:
Utk permohonan yg pertama, WP dianggap blm mengajukan permohonan shg WP
masih dpt mengajukan permohonan paling banyak 2 x; atau
Utk permohonan yg kedua, WP masih dpt mengajukan permohonan sepanjang jangka
waktu 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama dikirim, blm
terlampaui
(Pasal 14 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
2. Tdk Memenuhi Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm:
a. Pasal 14 ayat (2) & (3), utk permohonan pertama; atau
b. Pasal 5 ayat (2), (3) dan (6), utk permohonan kedua,
WP tdk dpt mengajukan permohonan kembali.
(Pasal 14 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013
Dlm hal permohonan tdk memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak mengembalikan permohonan tsb
dgn menyampaikan surat yg berisi mengenai pengembalian permohonan pengurangan/
pembatalan skp yg tdk benar.
(Pasal 15 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Proses Penerbitan Keputusan DJP atas Permohonan WP:
1. Thd permohonan yg memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak menindaklanjuti permohonan tsb
dgn meneliti permohonan WP.
2. Dlm rangka meneliti permohonan ini, Dirjen Pajak dpt meminta pembukuan atau
pencatatan, dokumen yg menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, data, dan/atau
informasi yg diperlukan melalui penyampaian surat permintaan pembukuan atau
pencatatan, dokumen yg menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, data, dan/atau
informasi.
WP hrs memenuhi permintaan ini paling lama 15 hari kerja sejak tanggal surat
permintaan dikirim.
3. Dlm rangka meneliti lbh lanjut permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta keterangan
tambahan kpd WP dgn menyampaikan surat permintaan keterangan tambahan dan WP hrs
memberikan keterangan yg diminta dlm jangka waktu paling lama sebagaimana disebut
dlm surat permintaan keterangan tambahan.
4. Dirjen Pajak dpt mempertimbangkan pembukuan atau pencatatan, dokumen yg menjadi
dasar pembukuan atau pencatatan, data, dan/atau informasi serta keterangan tambahan yg
diberikan dlm proses penyelesaian permohonan.
Dikecualikan dari ketentuan ini, dlm hal penghasilan kena pajak dlm skp dihitung scr
jabatan sesuai Pasal 11 ayat (3) & (4) PP 74 Thn 2011, dokumen yg dpt dipertimbangkan
dlm proses penyelesaian permohonan terbatas pd:
a. Dokumen yg terkait dgn penghitungan peredaran usaha atau penghasilan bruto dlm
rangka penghitungan penghasilan neto scr jabatan; dan
b. Dokumen kredit pajak sbg pengurang PPh.
(Pasal 16 PMK-8/PMK.03/2013)

B1917

3.

PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN STP YG TDK BENAR


(Pasal 36 ayat (1) huruf c UU KUP, Pasal 2 huruf c PMK-8/PMK.03/2013)
STP yg dpt dikurangkan/dibatalkan berdasarkan permohonan WP:
(Pasal 17 ayat (1) PMK-8/PMK.03/2013)
1. STP yg tdk benar yg terkait dgn penerbitan skp; dan
Permohonan hanya dpt diajukan dlm hal atas skp tsb:
a. Tdk diajukan keberatan;
b. Diajukan keberatan, tetapi dicabut oleh WP dan Dirjen Pajak tlh menyetujui
permohonan pencabutan WP tsb;
c. Diajukan keberatan, tetapi tdk dipertimbangkan;
d. Tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal
2 huruf b PMK-8/PMK.03/2013;
e. Diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar sesuai Pasal 2
huruf b PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP;
f. Tdk sedang diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi
sesuai Pasal 2 huruf d PMK-8/PMK.03/2013;
g. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP; atau
h. Diajukan permohonan pembatalan skp hasil pemeriksaan/verifikasi sesuai Pasal 2
huruf d PMK-8/PMK.03/2013, tetapi permohonan tsb ditolak.
(Pasal 18 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Selain memenuhi ketentuan Pasal 18 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013, permohonan
pengurangan/pembatalan STP yg terkait dgn skp juga hrs memenuhi ketentuan:
a. STP tsb tdk diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi
sesuai Pasal 2 huruf a PMK-8/PMK.03/2013; atau
b. STP tsb diajukan permohonan pengurangan/ penghapusan sanksi administrasi
sesuai Pasal 2 huruf a PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 18 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
2. STP yg tdk benar selain STP pd angka 1.
Permohonan hanya dpt diajukan dlm hal:
a.
STP tsb tdk diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi
administrasi sesuai Pasal 2 huruf a PMK-8/PMK.03/2013; atau
b.
STP tsb diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi
sesuai Pasal 2 huruf a PMK-8/PMK.03/2013, tetapi dicabut WP.
(Pasal 18 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
a.

STP yg tdk benar yg dpt dikurangkan berdasarkan permohonan WP meliputi STP dgn
jml sanksi administrasi yg tdk benar.
b. STP yg tdk benar yg dpt dibatalkan berdasarkan permohonan WP meliputi STP yg
seharusnya tdk diterbitkan.
(Pasal 17 ayat (2) (3) PMK-8/PMK.03/2013)

Syarat Mengajukan Permohonan:


1. 1 permohonan utk 1 STP;
2. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia;
3. Mengemukakan jml tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi dlm STP mnr WP dgn
disertai alasan;
4. Permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar; dan
5. Surat permohonan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat permohonan ditandatangani
oleh bukan WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal
32 ayat (3) UU KUP.
(Pasal 18 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Jml Permohonan:
Permohonan dpt diajukan oleh WP paling banyak 2 x.

B1918

Dlm hal WP mengajukan permohonan yg kedua, permohonan tsb hrs diajukan dlm jangka
waktu paling lama 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama
dikirim, kecuali WP dpt menunjukkan bahwa jangka waktu tsb tdk dpt dipenuhi krn keadaan
di luar kekuasaan WP.
Permohonan yg kedua tetap diajukan thd STP yg tlh diterbitkan SK Dirjen Pajak.
(Pasal 18 ayat (6) (8) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan dlm Hal Permohonan Dikembalikan krn:
1. Tdk Memenuhi Persyaratan:
Utk permohonan yg pertama, WP dianggap blm mengajukan permohonan shg WP
masih dpt mengajukan permohonan paling banyak 2 x; atau
Utk permohonan yg kedua, WP masih dpt mengajukan permohonan sepanjang jangka
waktu 3 bulan sejak tanggal SK Dirjen Pajak atas permohonan yg pertama dikirim, blm
terlampaui
(Pasal 19 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
2. Tdk Memenuhi Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm:
a. Pasal 18 ayat (2) s.d. (4), utk permohonan pertama; atau
b. Pasal 18 ayat (2) s.d. (4) dan (7), utk permohonan kedua,
WP tdk dpt mengajukan permohonan kembali.
(Pasal 19 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)
Dlm hal permohonan tdk memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak mengembalikan permohonan tsb
dgn menyampaikan surat yg berisi mengenai pengembalian permohonan pengurangan/
pembatalan STP yg tdk benar.
(Pasal 19 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Proses Penerbitan Keputusan DJP atas Permohonan WP:
1. Thd permohonan yg memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak menindaklanjuti permohonan tsb
dgn meneliti permohonan WP.
2. Dlm rangka meneliti permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta dokumen, data, dan/atau
informasi yg diperlukan melalui penyampaian surat permintaan.
WP hrs memenuhi permintaan ini paling lama 15 hari kerja stl tanggal surat permintaan
dikirim.
3. Dlm rangka meneliti lbh lanjut permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta keterangan
tambahan kpd WP dgn menyampaikan surat permintaan keterangan tambahan dan WP hrs
memberikan keterangan yg diminta dlm jangka waktu paling lama sebagaimana disebut
dlm surat permintaan keterangan tambahan.
4. Dlm hal WP tdk memenuhi sebagian atau slr permintaan, permohonan tetap diproses
sesuai dgn dokumen, data, informasi, dan/atau keterangan yg ada atau yg diterima.
(Pasal 20 PMK-8/PMK.03/2013)
4.

PEMBATALAN skp HASIL PEMERIKSAAN ATAU HASIL VERIFIKASI


(Pasal 36 ayat (1) huruf d UU KUP, Pasal 2 huruf d PMK-8/PMK.03/2013)
skp hasil pemeriksaan/verifikasi yg dpt dibatalkan berdasarkan permohonan WP:
(Pasal 21 PMK-8/PMK.03/2013)
skp yg diterbitkan tanpa:
1. Penyampaian SPHP/SPHV;
2. PAHP/PAHV,
kecuali SKPKB yg diterbitkan berdasarkan ketentuan Pasal 13A UU KUP, SKPKBT yg
diterbitkan berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (3) UU KUP dan SKPLB yg diterbitkan
berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (2) UU KUP.
Hanya dpt diajukan dlm hal atas skp tsb:)
a. Tdk diajukan keberatan;
b. Tdk diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi
c. Diajukan permohonan pengurangan/penghapusan sanksi administrasi, tetapi dicabut
oleh WP;

B1919

d.
e.

Tdk diajukan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk benar; atau


Diajukan permohonan pembatalan permohonan pengurangan/pembatalan skp yg tdk
benar, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 22 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013
Permohonan tdk dpt diajukan dlm hal skp tsb:
a. Diajukan keberatan, tetapi tdk dipertimbangkan; atau
b. Diajukan keberatan, tetapi dicabut oleh WP.
(Pasal 22 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Syarat Mengajukan Permohonan:
1. 1 permohonan utk 1 skp;
2. Permohonan hrs diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dgn menguraikan ttg tdk
disampaikannya SPHP/SPHV dan/atau tdk dilaksanakannya PAHP/PAHV;
3. Permohonan hrs disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar; dan
4. Surat permohonan ditandatangani oleh WP dan dlm hal surat permohonan ditandatangani
oleh bukan WP, surat permohonan tsb hrs dilampiri dgn surat kuasa khusus sesuai Pasal
32 ayat (3) UU KUP.
(Pasal 22 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Jml Permohonan:
Permohonan dpt diajukan oleh WP paling banyak 1 x.
(Pasal 22 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan dlm Hal Permohonan Dikembalikan krn:
1. Tdk Memenuhi Persyaratan:
WP dianggap blm mengajukan permohonan shg WP masih dpt mengajukan permohonan
(Pasal 23 ayat (4) PMK-8/PMK.03/2013)
2. Tdk Memenuhi Ketentuan sebagaimana dimaksud dlm:
Pasal 22 ayat (2) & (3) PMK-8/PMK.03/2013, WP tdk dpt mengajukan permohonan
kembali.
(Pasal 23 ayat (5) PMK-8/PMK.03/2013)
Dlm hal permohonan tdk memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak mengembalikan permohonan tsb
dgn menyampaikan surat yg berisi mengenai pengembalian permohonan pembatalan skp hasil
pemeriksaan/verifikasi.
(Pasal 23 ayat (3) PMK-8/PMK.03/2013)
Proses Penerbitan Keputusan DJP atas Permohonan WP:
1. Thd permohonan yg memenuhi ketentuan, Dirjen Pajak menindaklanjuti permohonan tsb
dgn meneliti permohonan WP.
2. Dlm rangka meneliti permohonan, Dirjen Pajak dpt meminta dokumen, data, dan/atau
informasi yg diperlukan utk membuktikan tdk disampaikannya SPHP/SPHV dan/atau tdk
dilaksanakannya PAHP/PAHV melalui penyampaian surat permintaan.
(Pasal 24 PMK-8/PMK.03/2013)
Pengurangan, penghapusan, atau pembatalan scr jabatan:
dilakukan berdasarkan data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh Dirjen Pajak.
(Pasal 27 ayat (2) PMK-8/PMK.03/2013)
Ketentuan Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi scr Jabatan: Pasal 28 s.d. 29
PMK-8/PMK.03/2013
Ketentuan Pengurangan/Pembatalan skp yg Tdk Benar: Pasal 30 s.d. 32 PMK8/PMK.03/2013
Ketentuan Pengurangan/Pembatalan STP yg Tdk Benar: Pasal 33 s.d. 35 PMK8/PMK.03/2013
Ketentuan Pembatalan skp dari Hasil Pemeriksaan/Verifikasi: Pasal 36 s.d. 37 PMK8/PMK.03/2013

B1920

Form-form yg digunakan berdasar PMK-8/PMK.03/2013:


No.

Nama Form

1.

Surat Permohonan Pengurangan atau Penghapusan


Sanksi Administrasi
Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan skp
yg Tdk Benar
Surat Permohonan Pengurangan atau Pembatalan STP
yg Tdk Benar
Surat Permohonan Pembatalan skp Hasil Pemeriksaan/
Verifikasi
Surat Pengembalian Permohonan
Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi
Surat Pengembalian Permohonan
Pengurangan/Pembatalan skp yg Tdk Benar
Surat Pengembalian Permohonan Pengurangan atau
Pembatalan STP yg Tdk Benar
Surat Pengembalian Permohonan Pembatalan skp Hasil
Pemeriksaan/Verifikasi
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pengurangan atau Penghapusan Sanksi
Administrasi Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pengurangan atau Pembatalan STP yg Tdk
benar Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pembatalan skp Hasil Pemeriksaan/
Verifikasi Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Pembukuan atau Pencatatan, ,okumen
yg Menjadi Dasar Pembukuan atau Pencatatan, Data
dan/atau Informasi dlm Rangka Pengurangan atau
Pembatalan skp yg Tdk Benar Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Keterangan Tambahan dlm Rangka
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi
Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Keterangan Tambahan dlm rangka
Pengurangan atau Pembatalan skp yg Tdk benar
Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Keterangan Tambahan dlm Rangka
Permintaan Keterangan Tambahan dlm Rangka
Pengurangan atau Pembatalan STP yg Tdk Benar
Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Keterangan Tambahan dlm Rangka
Pembatalan skp Hasil Pemeriksaan/Verifikasi
Berdasarkan Permohonan
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pengurangan atau Penghapusan Sanksi
Administrasi Scr Jabatan
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pengurangan atau Pembatalan STP yg Tdk
Benar scr Jabatan
Surat Permintaan Dokumen, Data, dan/atau Informasi
dlm Rangka Pembatalan skp Hasil
Pemeriksaann/Verifikasi Scr Jabatan
Surat Permintaan Pembukuan/Pencatatan, Dokumen yg
Menjadi Dasar Pembukuan/Pencatatan, Data, dan/atau

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

Sumber

B1921

Lamp I
Bagian A
Lamp I
Bagian B
Lamp I
Bagian C
Lamp I
Bagian D
Lamp II
Bagian A
Lamp II
Bagian B
Lamp II
Bagian C
Lamp II
Bagian D
Lamp III
Bagian A
Lamp III
Bagian B
Lamp III
Bagian C
Lamp III
Bagian D

Lamp III
Bagian E
Lamp III
Bagian F
Lamp III
Bagian G

Lamp III
Bagian H
Lamp III
Bagian I
Lamp III
Bagian J
Lamp III
Bagian K
Lamp III
Bagian L

Pihak
Pembuat
WP/Wakil/
Kuasa

DJP

21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.

Informasi dlm Rangka Pengurangan atau Pembatalan


skp yg Tdk Benar Scr Jabatan
SK Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi krn
Permohonan WP
SK Pengurangan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf b krn Permohonan WP
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf b krn Permohonan WP
SK Pengurangan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf c krn Permohonan WP
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf c krn Permohonan WP
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf d krn Permohonan WP
SK Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi scr
Jabatan
SK Pengurangan Ketetapan Paak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf b scr Jabatan
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf b scr Jabatan
SK Pengurangan Ketetapan Paak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf c scr Jabatan
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf c scr Jabatan
SK Pembatalan Ketetapan Pajak Berdasarkan Pasal 36
ayat (1) huruf d scr Jabatan

Lamp IV
Bagian A
Lamp IV
Bagian B
Lamp IV
Bagian C
Lamp IV
Bagian D
Lamp IV
Bagian E
Lamp IV
Bagian F
Lamp IV
Bagian G
Lamp IV
Bagian H
Lamp IV
Bagian I
Lamp IV
Bagian J
Lamp IV
Bagian K
Lamp IV
Bagian L

Prosedur berdasar SE-17/PJ/2014:


No.
Nama Form
1.
Prosedur Penyelesaian Permohonan Pengurangan/Penghapusan Sanksi
Administrasi
2.
Prosedur Penyelesaian Permohonan Pengurangan/Pembatalan skp yg
Tdk Benar
3.
Prosedur Penyelesaian Permohonan Pengurangan/Pembatalan STP
sebagaimana dimaksud dlm Pasal 14 UU KUP yg Tdk Benar
4.
Prosedur Penyelesaian Permohonan Pembatalan skp dari Hasil
Pemeriksaan/Verifikasi
5.
Prosedur Penyelesaian Pengurangan/Penghapusan Sanksi Administrasi
scr Jabatan
6.
Prosedur Penyelesaian Pengurangan/Pembatalan skp yg Tdk Benar scr
Jabatan
7.
Prosedur Penyelesaian Pengurangan/Pembatalan STP sebagaimana
dimaksud dlm Pasal 14 UU KUP yg Tdk Benar scr Jabatan
8.
Prosedur Penyelesaian Pembatalan skp dari Hasil Pemeriksaan/Verifikasi
scr Jabatan

B1922

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV
Lamp V
Lamp VI
Lamp VII
Lamp VIII

D.

BANDING
Dasar Hukum:

Pasal 27 UU KUP

Pasal 32 PP 74 Thn 2011 (berlaku sejak 1 Jan 2012) mencabut PP 80 Thn 2007

Pasal 35, 36, 37, 38, 39 UU 14 Thn 2002 (berlaku sejak 12 Apr 2002) ttg Pengadilan Pajak

PMK-06/PMK.01/2007 ttg Persyaratan utk menjadi kuasa hukum pd Pengadilan Pajak


SE terkait:
SE-65/PJ./2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013) ttg Tata cara penanganan sidang banding dan
gugatan di Pengadilan Pajak mencabut SE-28/PJ/2010
Definisi:

Banding: Upaya hukum yg dpt dilakukan oleh WP atau penanggung Pajak thd suatu
keputusan yg dpt diajukan Banding, berdasarkan perpu perpajakan yg berlaku. (Pasal 1 angka
6 UU 14 Thn 2002)

Surat Uraian Banding: Surat terbanding kpd Pengadilan Pajak yg berisi jawaban atas alasan
Banding yg diajukan oleh pemohon Banding. (Pasal 1 angka 8 UU 14 Thn 2002)

Putusan Banding: Putusan badan peradilan pajak atas banding thd SK Keberatan yg diajukan
oleh WP. (Pasal 1 angka 35 UU KUP).
Syarat Pengajuan Banding:
1.
WP dpt mengajukan permohonan banding hanya kpd badan peradilan pajak atas SK Keberatan
sesuai Pasal 26 ayat (1) UU KUP. (Pasal 27 ayat (1) UU KUP)
2.
Permohonan diajukan scr tertulis dlm bahasa Indonesia dgn alasan yg jelas paling lama 3
bulan sejak SK Keberatan diterima dan dilampiri dgn salinan SK Keberatan tsb. (Pasal 27 ayat
(3) UU KUP)
3.
Thd 1 Keputusan diajukan 1 Surat Banding
Ketentuan Banding yg Berhubungan dgn Penagihan Pajak: (Pasal 27 UU KUP)
1.
Dlm hal WP mengajukan banding, jangka waktu pelunasan pajak sesuai Pasal 9 ayat (3) /
Pasal 9 ayat (3a) / Pasal 25 ayat (7) UU KUP, atas jml pajak yg blm dibayar pd saat pengajuan
keberatan, tertangguh s.d. 1 bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
(Pasal 27 ayat (5a) UU KUP).
Isi Pasal 9 ayat (3) UU KUP: STP, SKPKB, serta SKPKBT, dan SK Keberatan, SK
Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan PK, yg menyebabkan jml pajak yg hrs dibayar
bertambah, hrs dilunasi dlm jangka waktu 1 bulan sejak tanggal diterbitkan.
Isi Pasal 9 ayat (3a) UU KUP: Bagi WP usaha kecil dan WP di daerah tertentu, jangka waktu
pelunasan pd ayat (3) dpt diperpanjang paling lama menjadi 2 bulan yg ketentuannya diatur dgn
atau berdasarkan Peraturan MenKeu.
Isi Pasal 25 ayat (7) UU KUP: Dlm hal WP mengajukan keberatan, jangka waktu pelunasan
pajak pd Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) atas jml pajak yg blm dibayar pd saat pengajuan
keberatan, tertangguh s.d. 1 bulan sejak tanggal penerbitan SK Keberatan.
2.
Jml pajak yg blm dibayar pd saat pengajuan permohonan keberatan tdk termasuk sbg
utang pajak sesuai Pasal 11 ayat (1) & (1a).
(Pasal 27 ayat (5b) UU KUP).
Apabila terdapat kelebihan pembayaran pajak, maka kelebihan pembayaran pajak ini tdk dpt
digunakan utk melunasi jml pajak yg blm dibayar pd saat pengajuan permohonan keberatan krn
tdk termasuk sbg utang pajak
3.
Jml pajak yg blm dibayar pd saat pengajuan permohonan banding blm mrp pajak yg
terutang s.d. Putusan Banding diterbitkan.
(Pasal 27 ayat (5c) UU KUP).
4.
Dlm hal Putusan Banding berupa tdk dpt diterima, pajak yg masih hrs dibayar
berdasarkan SK Keberatan menjadi utang pajak sejak tanggal penerbitan SK Keberatan.
(Pasal 32 ayat (2) PP 74 Thn 2011)

B1923

Yg Mengajukan Banding:
1.
Banding dpt diajukan oleh WP ahli, ahli, warisnya, seorang pengurus, atau kuasa hukumnya.
2.
Apabila selama proses Banding, pemohon Banding meninggal dunia, Banding dpt dilanjutkan
oleh ahli warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau pengampunya dlm hal pemohon
Banding pailit.
3.
Apabila selama proses Banding pemohon Banding melakukan penggabungan, peleburan,
pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan dimaksud dpt dilanjutkan oleh pihak
yg menerima pertanggungjawaban krn penggabungan, peleburan, pemecahan/pemekaran
usaha, atau likuidasi dimaksud.
(Pasal 37 UU 14 Thn 2002)
Persidangan:
1. Pengadilan Pajak meminta Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan atas Surat Banding
atau Surat Gugatan kpd terbanding atau tergugat dlm jangka waktu 14 hari sejak tanggal
diterima Surat Banding atau Surat Gugatan.
2. Dlm hal pemohon Banding mengirimkan surat atau dokumen susulan kpd Pengadilan Pajak
sesuai Pasal 38 UU 14 Thn 2002, jangka waktu 14 hari pd angka 1 dihitung sejak tanggal
diterima surat atau dokumen susulan dimaksud.
3. Terbanding atau tergugat menyerahkan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan tsb dlm
jangka waktu:
3 bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Uraian Banding; atau
1 bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Tanggapan.
4. Salinan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan tsb oleh Pengadilan Pajak dikirim kpd
pemohon Banding atau penggugat dlm jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima.
5. Pemohon Banding atau penggugat dpt menyerahkan Surat Bantahan kpd Pengadilan Pajak
dlm jangka waktu 30 hari sejak tanggal diterima salinan Surat Uraian Banding atau Surat
Tanggapan pd angka 4.
6. Salinan Surat Bantahan pd angka 5 dikirimkan kpd terbanding atau tergugat, dlm jangka waktu
14 hari sejak tanggal diterima Surat Bantahan.
7. Apabila terbanding atau tergugat, atau pemohon Banding atau penggugat tdk memenuhi
ketentuan pd angka 3 atau angka 5, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan Banding
atau Gugatan.
(Pasal 44 & 45 UU 14 Thn 2002)
Jangka Waktu Penyelesaian Banding: Sesuai dgn ketentuan Pengadilan Pajak
Seksi Terkait:
Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding Kanwil DJP atau (Direktorat Keberatan dan
Banding Kantor Pusat DJP, yg menerbitkan SK Keberatan, membuat Surat Uraian
Banding. Surat Uraian Banding dibuat oleh DJP berdasarkan permintaan dari Sekretariat
Pengadilan Pajak utk memenuhi ketentuan UU 14 Thn 2002. Dlm hal Surat Uraian Banding
diselesaikan oleh Kanwil DJP, Surat Uraian Banding juga ditembuskan ke Kantor Pusat
DJP.
Sanksi Banding:

Dlm hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, WP dikenai sanksi
administrasi berupa denda seb 100% dari jml pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi
dgn pembayaran pajak yg tlh dibayar sbl mengajukan keberatan.
(Pasal 27 ayat (5d) UU KUP).
WP dikenai sanksi administrasi berupa denda seb 100% tsb dlm hal Putusan Banding:
1. Menolak;
2. Mengabulkan sebagian;
3. Menambahkan pajak yg hrs dibayar; atau
4. Membetulkan kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung yg menambah pajak yg masih hrs
dibayar.
(Pasal 32 ayat (1) PP 74 Thn 2011)

Contoh penghitungan sanksi:

B1924

Contoh 1 (Putusan Banding menolak):


Diterbitkan SKPKB utk Thn Pajak 2008 dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M.
Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta. WP tlh
melunasi pajak yg disetujui dlm SKPKB tsb seb Rp 200 juta dan kemudian mengajukan
keberatan atas koreksi lainnya.
Dirjen Pajak menolak keberatan WP.
Selanjutnya WP mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan
dgn amar putusan menolak banding WP. Dgn demikian, WP dikenai sanksi administrasi
berupa denda, yaitu seb 100% x (Rp 1 M - Rp 200 juta) = Rp 800 juta
Contoh 2 (Putusan Banding mengabulkan sebagian):
Diterbitkan SKPKB utk Thn Pajak 2008 dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M.
Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta. WP tlh
melunasi pajak yg disetujui dlm SKPKB tsb seb Rp 200 juta dan kemudian mengajukan
keberatan atas koreksi lainnya.
Dirjen Pajak mengabulkan sebagian keberatan WP dgn jml pajak yg masih hrs dibayar
menjadi seb Rp 750 juta.
Selanjutnya WP mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan
besarnya pajak yg masih hrs dibayar menjadi seb Rp 450 juta. Dlm hal demikian, WP
dikenai sanksi administrasi berupa denda, yaitu seb 100% x (Rp 450 juta - Rp 200 juta) =
Rp 250 juta. Mengingat WP sdh dikenai sanksi administrasi berupa denda seb 100% maka
s.d. diterbitkannya Putusan Banding tsb WP tdk dikenai sanksi administrasi berupa bunga
seb 2% per bulan sesuai Pasal 19 ayat (1) UU KUP maupun sanksi administrasi berupa
denda seb 50% sesuai Pasal 25 ayat (9) UU KUP.
Sisa utang pajak seb Rp 250 juta tsb hrs dilunasi WP (jatuh tempo) paling lambat 1 bulan
sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
Apabila s.d. tanggal jatuh tempo sisa utang pajak tdk dilunasi maka dilakukan tindakan
PPSP dan berlaku ketentuan mengenai pengenaan sanksi administrasi berupa bunga seb
2% per bulan sesuai Pasal 19 ayat (1) UU KUP.
Contoh 3 (Putusan Banding menambah):
Diterbitkan SKPKB utk Thn Pajak 2008, dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M.
Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta. WP tlh
melunasi jml yg disetujui dlm SKPKB tsb seb Rp 200 juta dan kemudian mengajukan
keberatan atas koreksi lainnya.
Dirjen Pajak menolak keberatan WP.
Selanjutnya WP mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan Pajak diputuskan
dgn amar putusan menambah pajak yg hrs dibayar menjadi seb Rp 1,3 M.
Dgn demikian, WP dikenai sanksi administrasi berupa denda, yaitu seb 100% x (Rp 1,3 M Rp 200 juta) = Rp 1,1 M.
(Penjelasan Pasal 32 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
Pencabutan Banding:
1.
Thd Banding dpt diajukan surat pernyataan pencabutan kpd Pengadilan Pajak.
2.
Banding yg dicabut tsb dihapus dari daftar sengketa dgn:
a. penetapan Ketua dlm hal surat pernyataan pencabutan diajukan sbl sidang dilaksanakan
b. putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dlm hal surat pernyataan pencabutan
diajukan dlm sidang atas persetujuan terbanding
3.
Banding yg tlh dicabut melalui penetapan atau putusan pd angka 2, tdk dpt diajukan kembali.
(Pasal 39 UU 14 Thn 2002)
Ketentuan Terkait Imbalan Bunga:
Lihat Bab B-20 Imbalan Bunga
Dirjen Pajak menerbitkan surat pelaksanaan Putusan Banding stl menerima Putusan Banding
(Pasal 42 ayat (1) PP 74 Thn 2011 )

B1925

Form-form yg digunakan berdasar SE-65/PJ./2012:


No.
Nama Form
1.
Susunan Tim Sidang
2.
Surat Uraian Banding
3.
Matrik Sengketa
4.
Surat Tanggapan
5.
ST
6.
Resume Pokok Sengketa Banding
7.
Resume Pokok Sengketa Gugatan
8.
Permintaan Utk Menghadirkan Pemeriksa atau Peneliti/Penelaah
Keberatan/AR/Juru Sita/Pegawai lainnya*) dlm Rangka Pembahasan
Materi/Sidang Banding/Gugatan*)
9.
Laporan Hasil Pembahasan
10.
Laporan Hasil Sidang di Pengadilan Pajak
11.
Daftar Isi Arsip Sidang Banding
12.
Daftar Isi Arsip Sidang Gugatan

B1926

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV
Lamp V
Lamp VIa
Lamp VIb
Lamp VII

Lamp VIII
Lamp IX
Lamp Xa
Lamp Xb

E.

GUGATAN
Dasar Hukum:

Pasal 23 UU KUP

Pasal 37, 38, 39, 40, 41, 42 PP 74 Thn 2011 (berlaku sejak 1 Jan 2012)

Pasal 40, 41, 42, dan 43 UU 14 Thn 2002 (berlaku sejak 12 Apr 2002) ttg Pengadilan Pajak
SE terkait:
SE-65/PJ./2012 (berlaku sejak 1 Jan 2013) ttg Tata cara penanganan siding banding dan
gugatan di Pengadilan Pajak mencabut SE-28/PJ/2010
Definisi:

Gugatan: Upaya hukum yg dpt dilakukan oleh WP atau penanggung Pajak thd pelaksanaan
penagihan Pajak atau thd keputusan yg dpt diajukan Gugatan berdasarkan perpu perpajakan
yg berlaku. (Pasal 1 angka 7 UU 14 Thn 2002)

Surat Tanggapan: Surat dari tergugat kpd Pengadilan Pajak yg berisi jawaban atas Gugatan
yg diajukan oleh penggugat. (Pasal 1 angka 9 UU 14 Thn 2002)

Putusan Gugatan: Putusan badan peradilan pajak atas gugatan thd hal-hal yg berdasarkan
ketentuan perpu perpajakan dpt diajukan gugatan. (Pasal 1 angka 36 UU KUP)
Yg Dpt Diajukan Gugatan:

Gugatan WP atau Penanggung Pajak hanya dpt diajukan kpd badan peradilan pajak.

Yg dpt diajukan gugatan:


(Pasal 23 ayat (2) UU KUP)
a. Pelaksanaan Surat Paksa, SPMP, atau Pengumuman Lelang;
b. Keputusan pencegahan dlm rangka penagihan pajak;
c. Keputusan yg berkaitan dgn pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yg ditetapkan dlm
Pasal 25 ayat (1) & Pasal 26 UU KUP; atau
Keputusan yg berkaitan dgn pelaksanaan keputusan perpajakan yg diajukan Gugatan
kpd badan peradilan pajak ini meliputi keputusan yg diterbitkan oleh Dirjen
Pajak selain: (Pasal 37 PP 74 Thn 2011)
1) skp yg penerbitannya tlh sesuai dgn prosedur atau tata cara penerbitan;
2) SK Pembetulan;
3) SK Keberatan yg penerbitannya tlh sesuai dgn prosedur atau tata cara penerbitan;
4) SK Pengurangan Sanksi Administrasi;
5) SK Penghapusan Sanksi Administrasi;
6) SK Pengurangan Ketetapan Pajak;
7) SK Pembatalan Ketetapan Pajak; dan
8) SK Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak.
d. Penerbitan skp atau SK Keberatan yg dlm penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau
tata cara yg tlh diatur dlm ketentuan perpu perpajakan sesuai Pasal 23 ayat (2) huruf d UU
KUP
1. skp yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata cara penerbitan meliputi skp
yg penerbitannya tdk berdasarkan pd: (Pasal 38 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
hasil Verifikasi;
hasil Pemeriksaan;
hasil Pemeriksaan ulang; atau
hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan terkait dgn SKPKB pd Pasal 13A UU KUP.
Termasuk dlm pengertian skp yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata
cara penerbitan meliputi skp yg menetapkan Masa Pajak, Bagian Thn Pajak atau Thn
Pajak tdk sesuai dgn Masa Pajak, Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak yg dilakukan
Verifikasi, Pemeriksaan, Pemeriksaan Ulang, atau Pemeriksaan Bukti Permulaan.
(Pasal 38 ayat (3) PP 74 Thn 2011)
2. SK Keberatan yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata cara penerbitan yg
diatur dlm ketentuan perpu di bidang perpajakan dpt diajukan Gugatan kpd badan
peradilan pajak sesuai Pasal 23 ayat (2) huruf d UU KUP.

B1927

Surat Keputusan Keberatan yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata
cara penerbitan meliputi SK Keberatan yg penerbitannya tdk didahului dgn
penyampaian SPUH kpd WP.
Syarat Pengajuan Gugatan:
(Pasal 40 UU 14 Thn 2002)
1. Gugatan diajukan scr tertulis dlm Bahasa Indonesia kpd Pengadilan Pajak.
2. Jangka waktu utk mengajukan Gugatan thd pelaksanaan penagihan Pajak adalah 14 hari
sejak tanggal pelaksanaan penagihan.
3. Jangka waktu utk mengajukan Gugatan thd Keputusan selain Gugatan pd angka 2 adalah 30
hari sejak tanggal diterima keputusan yg digugat.
Jangka waktu angka 2 & 3 tdk mengikat apabila jangka waktu dimaksud tdk dpt dipenuhi krn
keadaan di luar kekuasaan penggugat. Perpanjangan jangka waktunya adalah 14 hari terhitung
sejak berakhirnya keadaan di luar kekuasaan penggugat.
4. Thd 1 pelaksanaan penagihan atau 1 Keputusan diajukan 1 Surat Gugatan.
5. Gugatan disertai dgn alasan-alasan yg jelas, mencantumkan tanggal diterima, pelaksanaan
penagihan, atau Keputusan yg digugat dan dilampiri salinan dokumen yg digugat.
Pemohon Gugatan dpt melengkapi Surat Gugatan-nya utk memenuhi ketentuan yg berlaku,
sepanjang masih dlm jangka waktu yg ditetapkan.
(Pasal 38 UU 14 Thn 2002)
Yg Dpt Mengajukan Gugatan:
1. Gugatan dpt diajukan oleh penggugat, ahli warisnya, seorang pengurus, atau kuasa hukumnya.
2. Apabila selama proses Gugatan penggugat meninggal dunia. Gugatan dpt dilanjutkan oleh ahli
warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau pengampunya dlm hal penggugat pailit.
3. Apabila selama proses Gugatan, penggugat melakukan penggabungan, peleburan,
pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan dimaksud dpt dilanjutkan oleh pihak
yg menerima pertanggungjawaban krn penggabungan, peleburan, pemecahan/pemekaran
usaha, atau likuidasi dimaksud.
(Pasal 41 UU 14 Thn 2002)
Pencabutan Gugatan:
1. Thd Gugatan dpt diajukan surat pernyataan pencabutan kpd Pengadilan Pajak.
2. Gugatan yg dicabut dihapus dari daftar sengketa dgn:
a. penetapan Ketua dlm hal surat pernyataan pencabutan diajukan sbl sidang
b. putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dlm hal surat pernyataan pencabutan
diajukan stl sidang atas persetujuan tergugat.
3. Gugatan yg tlh dicabut melalui penetapan ketua atau putusan Majelis/Hakim Tunggal tdk dpt
diajukan kembali.
(Pasal 42 UU 14 Thn 2002)
Gugatan Tdk Menunda atau Menghalangi Pelaksanaan Penagihan:
1. Gugatan tdk menunda atau menghalangi dilaksanakannya penagihan Pajak atau
kewajiban perpajakan.
2. Penggugat dpt mengajukan permohonan agar tindak lanjut pelaksanaan penagihan pajak
ditunda selama pemeriksaan Sengketa Pajak sedang berjalan, sampai ada putusan
Pengadilan Pajak.
Permohonan dpt diajukan sekaligus dlm Gugatan dan dpt diputus terlebih dahulu dari pokok
sengketanya. Permohonan penundaan pelaksanaan penagihan pajak dpt dikabulkan hanya
apabila terdapat keadaan yg sangat mendesak yg mengakibatkan kepentingan penggugat
sangat dirugikan jika pelaksanaan penagihan Pajak yg digugat itu dilaksanakan.
(Pasal 43 UU 14 Thn 2002)
Persiapan Persidangan:
(Pasal 44 & 45 UU 14 Thn 2002)

B1928

1.

2.

3.

4.
5.

6.
7.

Pengadilan Pajak meminta Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan atas Surat Banding
atau Surat Gugatan kpd terbanding atau tergugat dlm jangka waktu 14 hari sejak tanggal
diterima Surat Banding atau Surat Gugatan.
Dlm hal pemohon Banding mengirimkan Surat atau dokumen susulan kpd Pengadilan Pajak
sesuai Pasal 38 UU 14 Thn 2002, jangka waktu 14 hari pd angka 1 dihitung sejak tanggal
diterima surat atau dokumen susulan dimaksud.
Terbanding atau tergugat menyerahkan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan tsb dlm
jangka waktu:
3 bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Uraian Banding; atau
1 bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Tanggapan.
Salinan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan tsb oleh Pengadilan Pajak dikirim kpd
pemohon Banding atau penggugat dlm jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima.
Pemohon Banding atau penggugat dpt menyerahkan Surat Bantahan kpd Pengadilan Pajak
dlm jangka waktu 30 hari sejak tanggal diterima salinan Surat Uraian Banding atau Surat
Tanggapan pd angka 4.
Salinan Surat Bantahan pd angka 5 dikirimkan kpd terbanding atau tergugat, dlm jangka waktu
14 hari sejak tanggal diterima Surat Bantahan.
Apabila terbanding atau tergugat, atau pemohon Banding atau penggugat tdk memenuhi
ketentuan pd angka 3 atau angka 5, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan Banding
atau Gugatan.

Jangka Waktu Penyelesaian Gugatan: Sesuai dgn ketentuan Pengadilan Pajak


Seksi Terkait:
Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding Kanwil DJP atau Direktorat Keberatan dan
Banding Kantor Pusat DJP, yg menerbitkan objek yg digugat, membuat Surat Tanggapan
atas keputusan yg digugat. Surat Tanggapan dibuat oleh DJP berdasarkan permintaan
dari Sekretariat Pengadilan Pajak utk memenuhi ketentuan UU 14 Thn 2002. Dlm hal Surat
Tanggapan diselesaikan oleh Kanwil DJP, Surat Tanggapan juga ditembuskan ke Kantor
Pusat DJP.
Tindak Lanjut yg Dilakukan DJP atas Putusan Gugatan:
Dirjen Pajak menerbitkan surat pelaksanaan Putusan Gugatan stl menerima
Putusan Gugatan.
(Pasal 42 ayat (3) PP 74 Thn 2011)
1. Utk Putusan Gugatan atas skp yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata cara
penerbitan yg diatur dlm ketentuan perpu di bidang perpajakan
Dirjen Pajak menindaklanjuti Putusan Gugatan dgn menerbitkan kembali skp sesuai dgn
prosedur atau tata cara sesuai Pasal 38 ayat (2) / (3) PP 74 Thn 2011.
(Pasal 40 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
2. Utk Putusan Gugatan yg menyebabkan DJP menerbitkan kembali SKP yg terkait
dgn permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sesuai Pasal 17B ayat (1)
UU KUP, penerbitan kembali skp tsb dilakukan dgn ketentuan:
Apabila jangka waktu 12 bulan sesuai Pasal 17B ayat (1) UU KUP blm terlewati, skp
diterbitkan sesuai dgn prosedur atau tata cara sesuai Pasal 38 ayat (2) / (3) PP 74 Thn
2011
Apabila jangka waktu 12 bulan sesuai Pasal 17B ayat (1) UU KUP terlewati, SKPLB
diterbitkan sesuai dgn SPT
(Pasal 40 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
3. Utk Putusan Gugatan atas SK Keberatan yg penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau
tata cara penerbitan
Dirjen Pajak menindaklanjuti Putusan Gugatan tsb dgn menerbitkan kembali SK
Keberatan sesuai dgn prosedur atau tata cara sesuai Pasal 39 ayat (2) PP 74 Thn 2011.
(Pasal 41 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
4. Utk Putusan Gugatan yg mengabulkan Gugatan WP atas surat dari Dirjen Pajak yg
menyatakan bahwa keberatan WP tdk dpt dipertimbangkan sesuai Pasal 25 ayat (4) UU
KUP

B1929

Dirjen Pajak menyelesaikan keberatan yg diajukan oleh Wajib Pajak dlm jangka waktu paling
lama 12 bulan.
(Pasal 41 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
Jangka waktu paling lama 12 bulan ini dihitung sejak Putusan Gugatan diterima oleh Dirjen
Pajak.
(Pasal 41 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
Ketentuan Peralihan:

Pd saat PP 74 Thn 2011 mulai berlaku, thd pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban
perpajakan yg blm diselesaikan yg berkaitan dgn

Pengajuan gugatan thd penerbitan skp berdasarkan Pemeriksaan yg dimulai stl tanggal
31 Des 2007 yg dlm penerbitannya tdk sesuai dgn prosedur atau tata cara yg tlh diatur
dlm ketentuan perpu di bidang perpajakan;

Pengajuan gugatan thd penerbitan SK Keberatan yg dlm penerbitannya tdk sesuai dgn
prosedur atau tata cara yg tlh diatur dlm ketentuan perpu di bidang perpajakan, utk
pengajuan keberatan yg diterima stl tanggal 31 Des 2007;
berlaku ketentuan PP 74 Thn 2011.
(Pasal 64 huruf g & h PP 74 Thn 2011)

B1930

F.

PENINJAUAN KEMBALI (PK)


Dasar Hukum:
Pasal 34, 69, 81, 77 ayat (1) & (3), 89 s.d. 92 UU 14 Thn 2002 (berlaku sejak 12 Apr 2002) ttg
Pengadilan Pajak
Pasal 66, 68, 70 ayat (1), 71 ayat (1), 73 ayat (1), dan 74 UU 14 Thn 1985 stdtd UU 3 Thn
2009 ttg Mahkamah Agung utk pasal-pasal yg berkaitan dgn PK tdk ada perubahan, jadi
masih tetap mengacu kpd UU 14 Thn 1985
Peraturan MA No. 03 Thn 2002 (tanggal 23 Okt 2002) ttg Tata Cara Pengajuan Permohonan
PK Putusan Pengadilan Pajak
Ketentuan Umum:
1. Permohonan PK hanya dpt diajukan 1 kali kpd MA melalui Pengadilan Pajak.
(Pasal 89 ayat 1 UU 14 Thn 2002)
2. Permohonan PK tdk menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan Pengadilan
Pajak.
(Pasal 89 ayat 2 UU 14 Thn 2002)
3. Permohonan PK dpt dicabut sbl diputus, dan jika sdh dicabut, maka permohonan PK tsb tdk dpt
diajukan lagi.
(Pasal 89 ayat 3 UU 14 Thn 2002)
4. Hukum Acara yg berlaku pd pemeriksaan PK adalah hukum acara pemeriksaan PK sesuai UU
14 Thn 1985, kecuali yg diatur scr khusus dlm UU Pengadilan Pajak.
(Pasal 90 UU 14 Thn 2002)
5. Pasal-pasal yg berkaitan ttg PK di UU 14 Thn 1985: Pasal 28, 34, Pasal 66 s.d. Pasal 76.
Persyaratan Formal Pengajuan PK:
1. Permohonan PK putusan Pengadilan Pajak diajukan kpd MA melalui:
a. Pengadilan Pajak
b. PTUN
dlm hal di tempat tinggal atau tempat kedudukan permohonan PK tdk terdapat
Pengadilan Pajak, maka permohonan dpt diajukan kpd PTUN tempat tinggal atau tempat
kedudukan pemohon.
c. Pengadilan Negeri
dlm hal di tempat tinggal atau tempat kedudukan pemohon PK tdk terdapat PTUN,
permohonan dpt diajukan kpd Pengadilan Negeri tempat tinggal atau tempat kedudukan
pemohon.
(Pasal 2 Peraturan MA No. 03 Thn 2002)
2. Permohonan PK diajukan scr tertulis oleh Pemohon, ahli waris, atau kuasa hukum yg ditunjuk
scr khusus utk itu dgn menyebutkan alasan-alasan dan dilampiri bukti-bukti.
(Pasal 71 ayat (1) UU MA jo Pasal 3 Peraturan MA No. 03 Thn 2002)
3. Permohonan PK dpt diterima, apabila panjar biaya yg ditentukan dlm Surat Kuasa Utk
Membayar tlh dibayar lunas.
(Pasal 4 ayat (1) Peraturan MA No. 03 Thn 2002)
Alasan & Jangka Waktu PK:
No.
Alasan PK
1.
Bila putusan pengadilan pajak didasarkan pd
kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yg
diketahui stl perkaranya diputus atau
didasarkan pd bukti-bukti yg kemudian oleh
hakim pidana dinyatakan berlaku.
(Pasal 91 huruf a UU 14 Thn 2002)
2.

Apabila terdapat bukti tertulis baru yg penting


dan bersifat menentukan, yg apabila diketahui
pd tahap persidangan di pengadilan pajak

B1931

Jangka Waktu utk pengajuan


Diajukan paling lambat 3 bulan
terhitung sejak diketahuinya
kebohongan atau tipu muslihat atau
sejak Putusan Hakim pengadilan
pidana memperoleh kekuatan hukum
tetap.
(Pasal 92 ayat 1 UU 14 Thn 2002)
Diajukan paling lambat 3 bulan
terhitung sejak ditemukan surat-surat
bukti yg hari dan tanggal ditemukannya

akan menghasilkan putusan yg berbeda.


(Pasal 91 huruf b UU 14 Thn 2002)
3.

4.

5.

Apabila tlh dikabulkan suatu hal yg tdk


dituntut atau lebih daripada yg dituntut,
kecuali yg diputus berdasarkan Pasal 80 ayat
(1) huruf b & c.
(Pasal 91 huruf c UU 14 Thn 2002)
Isi dari Pasal 80 ayat (1) huruf b & c:
Putusan Pengadilan Pajak dpt berupa:
mengabulkan sebagian atau seluruhnya
menambah Pajak yg hrs dibayar
Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan
blm diputus tanpa mempertimbangkan sebabsebabnya.
(Pasal 91 huruf d UU 14 Thn 2002)
Apabila terdapat suatu putusan yg nyatanyata tdk sesuai dgn ketentuan perpu yg
berlaku.
(Pasal 91 huruf e UU 14 Thn 2002)

hrs dinyatakan di bawah sumpah dan


disahkan oleh pejabat yg berwenang.
(Pasal 92 ayat 2 UU 14 Thn 2002)
Diajukan paling lambat 3 bulan sejak
putusan dikirim.
(Pasal 92 ayat 3 UU 14 Thn 2002)

Diajukan paling lambat 3 bulan sejak


putusan dikirim.
(Pasal 92 ayat 3 UU 14 Thn 2002)
Diajukan paling lambat 3 bulan sejak
putusan dikirim.
(Pasal 92 ayat 3 UU 14 Thn 2002)

Jangka Waktu Pemeriksaan & Keputusan Permohonan PK:


MA memeriksa dan memutus permohonan PK dgn ketentuan:
1. Dlm jangka waktu 6 bulan sejak permohonan PK diterima oleh MA tlh mengambil putusan, dlm
hal Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa.
(Pasal 93 ayat (1) huruf a UU 14 Thn 2002)
2. Dlm jangka waktu 1 bulan sejak permohonan PK diterima oleh MA tlh mengambil putusan, dlm
hal Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara cepat.
(Pasal 93 ayat (1) huruf b UU 14 Thn 2002)
3. Putusan atas permohonan PK hrs diucapkan dlm sidang terbuka utk umum.
(Pasal 93 ayat (2) UU 14 Thn 2002)

B1932

IMBALAN BUNGA (IB)


Dasar Hukum:
UU KUP
Pasal 43, 44, 45, 65 PP 74 Thn 2011
PMK-226/PMK.03/2013 (berlaku sejak 1 Jan 2014) ttg Tata Cara Penghitungan dan Pemberian Imbalan
Bunga mencabut PMK-40/PMK.03/2005, PMK-121/PMK.06/2008, PMK-195/PMK.03/2007 jo PMK12/PMK.03/2011
Definisi:
SKPIB: SK yg meentukan besarnya imbalan bunga yg diberikan kpd WP
SKPPIB: SK yg digunakan sbg dasar utk memperhitungkan imbalan bunga dlm SKPIB dgn Utang Pajak
SPMIB: Surat yg diterbitkan oleh Kepala KPP a.n. MenKeu utk membayar imbalan bunga kpd WP
SKPKPP: SK yg digunakan sbg dasar utk menerbitkan SPMKP
Tabel Penghitungan Besar IB yg terkait dgn PPh, PPN, dan PPnBM utk Masa Pajak, Bagian Thn
Pajak, atau Thn Pajak 2008 dan sesudahnya:
Penyebab Diberikannya IB
No.
Dasar Pemberian IB
Penghitungan Besar IB
(Pasal 2 PMK226/PMK.03/2013)
1.
Keterlambatan pengembalian
2% per bulan dari jml
Dihitung sejak batas waktu
kelebihan pembayaran pajak
kelebihan
penerbitan SKPKPP atau SKPPIB
sesuai Pasal 11 ayat 3 UU KUP
pembayaran pajak
berakhir s.d. tanggal penerbitan
SKPKPP atau SKPPIB
Batas waktu penerbitan
SKPKPP atau SKPPIB paling lama
1 bulan sejak:
a. Permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
sehubungan dgn diterbitkannya
SKPLB sesuai Pasal 17 ayat (1)
UU KUP
b. Diterbitkan SKPLB sesuai Pasal
17 ayat (2) & Pasal 17B UU
KUP
c. Diterbitkan SKPPKP sesuai
Pasal 17C atau 17D UU KUP,
termasuk utk WP risiko rendah
dlm Pasal 9 ayat (4c) UU PPN
d. Diterbitkan SK Keberatan, SK
Pembetulan, SK Pengurangan
Sanksi Administrasi, SK
Penghapusan Sanksi
Administrasi, SK Pengurangan
Ketetapan Pajak, SK
Pembatalan ketetapan Pajak,
atau SKPIB, yg menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak
e. Diterima Putusan Banding atau
Putusan PK oleh kantor DJP yg
berwenang melaksanakan
putusan pengadilan, yg
menyebabkan kelebihan
pembayaran pajak.
(Pasal 6 ayat (1) & (2) PMK226/PMK.03/2013)
2.
Keterlambatan penerbitan
2% per bulan dari jml
Dihitung sejak jangka waktu 1
SKPLB sesuai Pasal 17B ayat
kelebihan
bulan utk penerbitan SKPLB
B201

(3) UU KUP

3.

Kelebihan pembayaran pajak


sesuai Pasal 17B ayat (4) UU
KUP

4.

Kelebihan pembayaran pajak


krn pengajuan keberatan,
permohonan banding, atau
permohonan PK, terkait dgn
SKPKB, SKPKBT, SKPN, dan
SKPLB yg dikabulkan sebagian
atau seluruhnya sesuai Pasal
27A ayat (1) UU KUP, terbatas
pd kelebihan pembayaran
pajak krn:
a. Pengajuan keberatan,
permohonan banding, atau
permohonan PK dikabulkan
sebagian atau seluruhnya
atas SKPKB yg seluruhnya
tdk disetujui oleh WP dlm
PAHP yg diterbitkan atas
SPT LB sesuai Pasal 44
ayat (1) PP 74 Thn 2011
b. Pengajuan keberatan,
permohonan banding, atau
permohonan PK dikabulkan
sebagian atau seluruhnya
atas SKPN yg tdk disetujui
oleh WP dlm PAHP yg
diterbitkan atas SPT LB
sesuai Pasal 44 ayat (2) PP
74 Thn 2011
c. Pengajuan keberatan,
permohonan banding, atau
permohonan PK dikabulkan
sebagian atau seluruhnya
atas SKPLB sesuai Pasal
43 ayat (2) PP 74 Thn 2011
d. Permohonan PK dikabulkan
atas Putusan Banding yg
Putusan Bandingnya
menyebabkan jml pajak yg
masih hrs dibayar
bertambah
Kelebihan pembayaran pajak
krn SK Pembetulan, SK
Pengurangan Ketetapan Pajak,
atau SK Pembatalan Ketetapan
Pajak yg mengabulkan

5.

pembayaran pajak

2% per bulan dari jml


kelebihan
pembayaran pajak utk
paling lama 24 bulan

2% per bulan utk


paling lama 24 bulan
dari jml kelebihan
pembayaran pajak
berdasarkan SK
Keberatan, Putusan
Banding, atau
Putusan PK

sesuai Pasal 17B ayat (2) UU KUP


berakhir s.d. diterbitkannya
SKPLB.
(Pasal 6 ayat (3) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak jangka waktu 12
bulan sejak tanggal surat
permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
diterima scr lengkap berakhir s.d.
saat diterbitkan SKPLB.
(Pasal 6 ayat (4) PMK226/PMK.03/2013)

Dihitung sejak tanggal penerbitan


SKPKB s.d. diterbitkannya SK
Keberatan, Putusan Banding, atau
Putusan PK.
(Pasal 6 ayat (7) PMK226/PMK.03/2013)

Dihitung sejak tanggal penerbitan


SKPN s.d. diterbitkannya SK
Keberatan, Putusan Banding, atau
Putusan PK.
(Pasal 6 ayat (8) PMK226/PMK.03/2013)

2% per bulan dari jml


kelebihan
pembayaran pajak,
utk paling lama 24
bulan
2% per bulan dari jml
kelebihan
pembayaran pajak utk
paling lama 24 bulan
B202

Dihitung sejak tanggal penerbitan


SKPLB s.d. diterbitkannya SK
Keberatan, Putusan Banding, atau
Putusan PK.
(Pasal 6 ayat (9) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak tanggal
pembayaran berdasarkan Putusan
Banding s.d. diterbitkannya
Putusan PK.
(Pasal 6 ayat (10) PMK226/PMK.03/2013)
1. Utk SKPKB & SKPKBT:
Dihitung sejak tanggal
pembayaran yg menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak
s.d. diterbitkannya SK

sebagian atau seluruh


permohonan WP sesuai Pasal
27A ayat (1a) UU KUP, kecuali:
a. Kelebihan pembayaran
pajak krn SK Pembetulan
terkait dgn Persetujuan
Bersama; atau
b. Kelebihan pembayaran
pajak krn SK Pembatalan
Ketetapan Pajak sesuai
Pasal 36 ayat (1) huruf d
UU KUP

6.

Kelebihan pembayaran sanksi


administrasi berupa denda
Pasal 14 ayat (4) UU KUP
dan/atau bunga Pasal 19 ayat
(1) UU KUP krn SK
Pengurangan Sanksi
Administrasi atau SK
Penghapusan Sanksi
Administrasi sbg akibat
diterbitkan SK Keberatan,
Putusan Banding, atau Putusan
PK yg mengabulkan sebagian
atau seluruh permohonan WP
sesuai Pasal 27A ayat (2) UU
KUP

2% per bulan dari jml


kelebihan
pembayaran pajak utk
paling lama 24 bulan

Pembetulan, SK Pengurangan
Ketetapan Pajak, atau SK
Pembatalan Ketetapan Pajak
2. Utk SKPN & SKPLB:
Dihitung sejak tanggal
penerbitan SKPN & SKPLB, s.d.
diterbitkannya SK Pembetulan,
SK Pengurangan Ketetapan
Pajak, atau SK Pembatalan
Ketetapan Pajak
3. Utk STP:
Dihitung sejak tanggal
pembayaran yg menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak
s.d. diterbitkannya SK
Pembetulan, SK Pengurangan
Ketetapan Pajak, atau SK
Pembatalan Ketetapan Pajak.
(Pasal 6 ayat (5) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak tanggal
pembayaran pajak yg
menyebabkan kelebihan
pembayaran sanksi administrasi
s.d. diterbitkannya SK Pengurangan Sanksi Administrasi atau SK
Penghapusan Sanksi Administrasi
sbg akibat diterbitkan SK
Keberatan, Putusan Banding, atau
Putusan PK.
(Pasal 6 ayat (6) PMK226/PMK.03/2013)

Tabel Penghitungan Besar IB yg terkait dgn PPh, PPN, dan PPnBM utk Masa Pajak, Bagian Thn
Pajak, atau Thn Pajak 2001 s.d. 2007:
Dasar
Penyebab Diberikannya IB
No.
Pemberian
Penghitungan Besar IB
(Pasal 3 PMK-226/PMK.03/2013)
IB
1.
Keterlambatan pengembalian kelebihan
2% per bulan
Dihitung sejak batas waktu
pembayaran pajak sesuai Pasal 11 ayat
dari jml
penerbitan SKPKPP berakhir s,d,
3 UU KUP 2000
kelebihan
tanggal penerbitan SKPKPP.
pembayaran
Batas waktu penerbitan
pajak
SKPKPP paling lama 1 bulan
sejak:
a. Permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
diterima sehubungan dgn
diterbitkannya SKPLB sesuai
Pasal 17 UU KUP 2000
b. Diterbitkan SKPLB sesuai Pasal
17B UU KUP 2000
c. Diterbitkan SKPPKP sesuai
Pasal 17C UU KUP 2000.
(Pasal 7 ayat (1) & (2) PMK226/PMK.03/2013)
B203

2.

Keterlambatan penerbitan SKPLB sesuai


Pasal 17B ayat (3) UU KUP 2000

2% per bulan
dari jml
kelebihan
pembayaran
pajak

3.

Kelebihan pembayaran pajak krn


pengajuan keberatan atau permohonan
banding terkait dgn SKPKB atau
SKPKBT, diterima sebagian atau
seluruhnya sesuai Pasal 27A ayat (1)
UU KUP 2000, termasuk kelebihan
pembayaran pajak sbg akibat
permohonan PK dikabulkan sebagian
atau seluruhnya utk Putusan PK yg
diterbitkan sejak tanggal 1 Jan 2012,
selama pajak yg masih hrs dibayar dlm
SKPKB dan SKPKBT tlh dibayar dan
menyebabkan kelebihan pembayaran
pajak

2% per bulan
utk paling
lama 24
bulan dari jml
kelebihan
pembayaran
pajak

4.

Kelebihan pembayaran sanksi


administrasi Pasal 14 ayat (4) UU KUP
2000 dan/atau Pasal 19 ayat (1) UU
KUP 2000 krn Keputusan Pengurangan
atau Penghapusan Sanksi Administrasi
sbg akibat diterbitkan Keputusan
Keberatan atau Putusan Banding, sesuai
Pasal 27A ayat (2) UU KUP 2000

2% per bulan
dari jml
kelebihan
pembayaran
pajak, utk
paling lama
24 bulan

Dihitung sejak jangka waktu 1


bulan utk penerbitan SKPLB
sesuai Pasal 17B ayat (2) UU KUP
2000 berakhir s.d. diterbitkannya
SKPLB.
(Pasal 7 ayat (3) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak tanggal
pembayaran yg menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak s.d.
diterbitkannya SK Keberatan atau
Putusan Banding.
(Pasal 7 ayat (4) PMK226/PMK.03/2013)
Kelebihan pembayaran pajak
akibat permohonan PK dikabulkan
sebagian atau seluruhnya utk
Putusan PK yg diterbitkan sejak
tanggal 1 Jan 2012, selama pajak
yg masih hrs dibayar dlm SKPKB
dan SKPKBT tlh dibayar dan
menyebabkan kelebihan
pembayaran pajak, dihitung sejak
tanggal pembayaran yg
menyebabkan kelebihan
pembayaran pajak s.d. tanggal
diterbitkannya Putusan Banding.
(Pasal 7 ayat (6) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak tanggal
pembayaran pajak yg
menyebabkan kelebihan
pembayaran sanksi administrasi
s.d. diterbitkannya SK
Pengurangan Sanksi Administrasi
atau SK Penghapusan Sanksi
Administrasi sbg akibat
diterbitkannya SK Keberatan,
Putusan Banding, atau Putusan
PK.
(Pasal 7 ayat (5) PMK226/PMK.03/2013)

Tabel Penghitungan Besar IB yg terkait dgn PPh, PPN, dan PPnBM utk Masa Pajak, Bagian Thn
Pajak, atau Thn Pajak 1995 s.d. 2000:
Dasar
Penyebab Diberikannya IB
No.
Pemberian
Penghitungan Besar IB
(Pasal 4 PMK-226/PMK.03/2013)
IB
1.
Keterlambatan pengembalian kelebihan
2% per bulan
Dihitung sejak batas waktu
pembayaran pajak sesuai Pasal 11 ayat
dari jml
penerbitan SKPKPP berakhir s.d.
3 UU KUP 1994
kelebihan
tanggal penerbitan SKPKPP.
pembayaran
Batas waktu penerbitan
pajak
SKPKPP paling lama 1 bulan
sejak:
a. Permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
diterima sehubungan dgn
diterbitkannya SKPLB sesuai
B204

2.

Keterlambatan penerbitan SKPLB sesuai


Pasal 17B ayat (3) UU KUP 1994

2% per bulan
dari jml
kelebihan
pembayaran
pajak

3.

Kelebihan pembayaran pajak yg timbul


krn pengajuan keberatan atau
permohonan banding atas SKPKB,
SKPKBT, SKPN, dan SKPLB, diterima
sebagian atau seluruhnya sesuai Pasal
27A UU KUP 1994, termasuk kelebihan
pembayaran pajak sbg akibat
permohonan PK dikabulkan sebagian
atau seluruhnya utk Putusan PK yg
diterbitkan sejak tanggal 1 Jan 2012,
selama pajak yg masih hrd dibayar dlm
SKPKB dan SKPKBT tlh dibayar dan
menyebabkan kelebihan pembayaran
pajak

2% per bulan
dari jml
kelebihan
pembayaran
pajak, utk
paling lama
24 bulan

Pasal 17 UU KUP 1994


b. Diterbitkan SKPLB sesuai Pasal
17B UU KUP 1994.
(Pasal 8 ayat (1) & (2) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak jangka waktu 1
bulann utk penerbitan SKPLB
sesuai Pasal 17B ayat (2) UU KUP
1994 berakhir s.d. diterbitkannya
SKPLB.
(Pasal 8 ayat (3) PMK226/PMK.03/2013)
Dihitung sejak:
1. SKPKB dan SKPKBT:
Tanggal pembayaran yg menyebabkan kelebihan pembayaran
pajak s.d. diterbitkannya SK
Keberatan atau Putusan Banding
2. SKPN dan SKPLB:
Tanggal penerbitan SKPN dan
SKPLB s.d. diterbitksnnya SK
Keberatan atau Putusan
Banding
Kelebihan pembayaran pajak
sbg akibat permohonan PK
dikabulkan sebagian atau
seluruhnya utk Putusan PK yg
diterbitkan sejak tanggal 1 Jan
2012, selama pajak yg masih hrd
dibayar dlm SKPKB dan SKPKBT
tlh dibayar dan menyebabkan
kelebihan pembayaran pajak,
dihitung sejak tanggal pembayaran
yg menyebabkan kelebihan
pembayaran pajak s.d. tanggal
diterbitkannya Putusan Banding.
(Pasal 8 ayat (4) & (5) PMK226/PMK.03/2013)

Tabel Penghitungan Besar IB yg terkait dgn PBB utk Thn Pajak 2007 dan sebelumnya:
Penyebab Diberikannya IB
Dasar
No.
Pemberian
Penghitungan Besar IB
(Pasal 5 ayat (1) PMKIB
226/PMK.03/2013)
1.
Keterlambatan pengembalian kelebihan
2% per bulan
Dihitung sejak batas waktu
pembayaran PBB sbg akibat adanya SK
dari jml
penerbitan SKPKPP PBB berakhir
Kelebihan Pembayaran PBB
kelebihan
s.d. tanggal penerbitan SKPKPP
pembayaran
PBB.
PBB
Batas waktu penerbitan
SKPKPP PBB paling lama 1 bulan
sejak diterbitkannya SK Kelebihan
Pembayaran PBB
(Pasal 9 ayat (1) & (2) PMK226/PMK.03/2013)
Tabel Penghitungan Besar IB yg terkait dgn PBB utk Thn Pajak 2008 dan sesudahnya:
Penyebab Diberikannya IB
Dasar
No.
Penghitungan Besar IB
Pemberian
(Pasal 5 ayat (2) PMKB205

1.

226/PMK.03/2013)
Keterlambatan pengembalian kelebihan
pembayaran PBB sbg akibat adanya SK
Kelebihan Pembayaran PBB, Keputusan
Keberatan, Putusan Banding atau
Putusan PK, SK Pembetulan PBB, SK
Pengurangan Saknsi Administrasi PBB
atau SK Penghapusan Sanksi
Administrasi PBB, SK Pengurangan
SPPT atau SK Pembatakan SPPT, SK
Pengurangan SKP PBB atau SK
Pembatalan SKP PBB, atau SK
Pengurangan STP PBB atau SK
Pembatalan STP PBB

IB
2% per bulan
dari jml
kelebihan
pembayaran
PBB

Dihitung sejak batas waktu


penerbitan SKPKPP PBB berakhir
s.d. tanggal penerbitan SKPKPP
PBB.
Batas waktu penerbitan
SKPKPP PB paling lama 1 bulan
sejak:
Diterbitkannya SK Kelebihan
Pembayaran PBB
Diterbitkannya Keputusan
Keberatan
Putusan Banding atau Putusan
PK diterima kantor DJP yg
berwenang melaksanakan
Putusan Banding atau Putusan
PK
Diterbitkannya SK Pembetulan
PBB
Diterbitkannya SK Pengurangan
SPPT atau SK Pembatalan
SPPT
Diterbitkannya SK Pengurangan
skp PBB atau SK Pembatalan
skp PBB
Diterbitkannya SK Pengurangan
STP PBB atau SK Pembatalan
STP PBB.
(Pasal 9 ayat (3) & (4) PMK226/PMK.03/2013)

Masa imbalan bunga dihitung berdasarkan satuan bulan, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1
bulan.
Tata Cara Pemberian IB: (Pasal 11 21 PMK-226/PMK.03/2013)
1. Dirjen Pajak menerbitkan SKPIB dlm hal terdapat imbalan bunga.
2. Penerbitan SKPIB terkait dgn pemberian imbalan bunga atas kelebihan pembayaran pajak krn
pengajuan kebearatan, permohonan banding, atau permohonan PK:
SKPIB diterbitkan apabila thd SK Keberatan tdk diajukan permohonan banding ke Pengadilan Pajak
SKPIB diterbitkan apabila thd Putusan Banding tdk diajukan permohonan PK ke MA
SKPIB diterbitkan apabila Putusan PK tlh diterima oleh Dirjen Pajak dari MA
3. Dlm hal permohonan WP atas imbalan bunga tdk mencantumkan nomor rekening WP, SKPIB tdk
diterbitkan.
4. Pemberian imbalan bunga kpd WP hrs diperhitungkan terlebih dahulu dgn Utang Pajak yg
diadministrasikan di KPP tempat WP terdaftar dan/atau tempat PKP dikukuhkan, termasuk di KPP
tempat WP cabang terdaftar dan di KPP tempat objek PBB terdaftar.
5. Dlm hal stl dilakukan perhitungan dgn Utang Pajak masih terdapat sisa imbalan bunga yg hrs
dibayarkan kpd WP, atas permohonan WP, sisa imbalan bunga tsb dpt diperhitungkan dgn pajak yg
akan terutang atau dgn Utang Pajak a.n. WP lain.
6. SKPPIB diterbitkan sbg dasar utk memperhitungkan imbalan bunga dlm SKPIB dgn Utang Pajak.
7. Dlm hal terdapat perhitungan imbalan bunga dgn Utang Pajak, Utang Pajak tsb hrs dicantumkan pd
SKPPIB dan dibuatkan surat setoran sesuai dgn ketentuan perpu yg berlaku.
8. Atas dasar SKPPIB, Kepala KPP a.n. MenKeu menerbitkan SPMIB.
9. SKPPIB dan SPMIB beserta Arsip Data Komputer disampaikan ke KPPN scr lsg.
10. Berdasarkan SPMIB dan stl diperhitungkan dgn utang pajak, diterbitkan SP2D.
11. Pembayaran imbalan bunga mrp bagian dari pengurang penerimaan pajak.

B206

12. Ketentuan mengenai jml pajak yg masih hrs dibayar bertambah sesuai Paal 9 ayat (3) atau ayat (3a),
Pasal 18 ayat (1), Pasal 19 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 21 ayat (4), dan Pasal 26 ayat (3) UU
KUP, termasuk imbalan bunga yg seharusnya tdk diberikan.
13. SKPPIB dan SPMIB diterbitkan paling lama 1 bulan sejak penerbitan SKPIB.
Form-form yg digunakan berdasar PMK-226/PMK.03/2013:
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nam Form

Sumber

SKPIB
Nota Penghitungan Pemberian Imbalan Bunga
Nota Penghitungan Perhitungan Pemberian Imbalan Bunga
SKPPIB
SPMIB

Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV
Lamp V

Pihak
Pembuat
DJP
DJP
DJP
DJP
DJP

Contoh Perhitungan Imbalan Bunga:


1. Penjelasan Pasal 43 ayat (5) PP 74 Thn 2011
Contoh 1:
Utk Thn Pajak 2008, thd PT A diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp
1 M. Dlm PAHP, WP hanya menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 200 juta, akan tetapi
WP tlh melunasi slr SKPKB tsb seb Rp 1 M dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi
yg tdk disetujui.
Dirjen Pajak menerbitkan SK keberatan dgn jml pajak yg masih hrs dibayar menjadi seb Rp 600
juta. Dlm hal ini, WP memperoleh kelebihan pembayaran pajak seb Rp 400 juta (Rp 1 M - Rp
600 juta). Atas kelebihan pembayaran pajak Rp 400 juta tdk diberikan imbalan bunga.
Apabila WP mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Pajak dan Putusan Banding
mengabulkan sebagian permohonan WP shg jml pajak yg masih hrs dibayar dlm Putusan
Banding menjadi seb Rp 150 juta maka kelebihan pembayaran pajak akibat Putusan Banding
ini tdk diberikan imbalan bunga.
Demikian halnya bagi WP yg menyetujui slr temuan Pemeriksaan dlm PAHP yg mengakibatkan
diterbitkannya SKPKB atau SKPKBT dan WP tlh melunasi pajak yg masih hrs dibayar tetapi
mengajukan keberatan, dan dlm hal keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya shg
mengakibatkan kelebihan pembayaran pajak, thd kelebihan pembayaran pajak tsb tdk diberikan
imbalan bunga.
Demikian pula, dlm hal kelebihan pembayaran pajak tsb diakibatkan adanya Putusan Banding
atau Putusan PK, Kelebihan Pembayaran tsb tdk diberikan imbalan bunga.
Contoh 2:
Utk Thn Pajak 2008, thd PT A diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1
M. Dlm PAHP, WP menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M, dan tlh melunasi slr
SKPKB tsb seb Rp 1 M. Namun WP kemudian mengajukan keberatan atas skp tsb.
Atas keberatan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan dgn menolak permohonan WP
shg jml pajak yg masih hrs dibayar tetap seb Rp 1 M. WP kemudian mengajukan banding atas
Keputusan Keberatan tsb.
Atas banding WP, Pengadilan Pajak mengabulkan sebagian permohonan WP shg jml pajak yg
masih hrs dibayar menjadi seb Rp 700 juta. Dlm hal ini, WP memperoleh kelebihan
pembayaran pajak seb Rp 300 juta (Rp 1 M - Rp 700 juta). Atas kelebihan pembayaran pajak
seb Rp 300 juta tdk diberikan imbalan bunga.
Contoh 3:
Diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M atas SPT Thn Pajak 2012
yg menyatakan LB seb Rp 2,5 M. Dlm PAHP, WP menyetujui pajak yg masih hrs dibayar seb
Rp 250 juta. WP melunasi jml yg disetujui dlm PAHP sbl mengajukan keberatan.
Atas keberatan yg diajukan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan yg menolak
permohonan WP. Thd SK Keberatan tsb, WP mengajukan permohonan banding dan Putusan
Banding menyatakan mengabulkan sebagian permohonan WP shg jml LB dlm Putusan
Banding menjadi seb Rp 1,25 M.
Jml kelebihan pembayaran pajak yg dikembalikan kpd WP adalah seb Rp 1,5 M, yaitu jml
kelebihan pembayaran sebagaimana tercantum dlm Putusan Banding (Rp 1,25 M) ditambah
dgn SKPKB yg tlh dibayar (Rp 250 juta). Dlm hal ini, WP tdk diberikan imbalan bunga krn pd
dasarnya WP tlh menyetujui SKPKB seb Rp 250 juta.
B207

2.

3.

4.

Penjelasan Pasal 44 ayat (1) PP 74 Thn 2011


Contoh 3:
Diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M atas SPT Thn Pajak 2012
yg menyatakan LB seb Rp 2,5 M. Dlm PAHP, WP tdk menyetujui slr pajak yg masih hrs dibayar
shg tdk ada pembayaran yg dilakukan oleh WP.
Atas keberatan yg diajukan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan yg mengabulkan
sebagian permohonan WP shg SK Keberatan menyatakan terdapat jml LB seb Rp 1,5 M.
Jml kelebihan pembayaran pajak yg dikembalikan kpd WP adalah seb Rp 1,5 M, yaitu jml
kelebihan pembayaran sebagaimana tercantum dlm SK Keberatan. Dlm hal ini, WP diberikan
imbalan bunga seb 2% per bulan yg dihitung dari jml kelebihan yg tercantum dlm SK Keberatan
seb Rp 1,5 M.
Contoh 4:
Diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M atas SPT Thn Pajak
2012 yg menyatakan LB seb Rp 2,5 M. Dlm PAHP, WP tdk menyetujui slr pajak yg masih hrs
dibayar namun WP melunasi SKPKB tsb sbl mengajukan keberatan.
Atas keberatan yg diajukan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan dgn mengabulkan
sebagian keberatan WP shg jml LB dlm SK Keberatan menjadi seb Rp 1,25 M.
Jml kelebihan pembayaran pajak yg dikembalikan kpd WP adalah seb Rp 2,25 M, yaitu jml
kelebihan pembayaran sebagaimana tercantum dlm SK Keberatan (Rp 1,25 M) ditambah dgn
SKPKB yg tlh dibayar (Rp 1 M). Dlm hal ini, WP diberikan imbalan bunga seb 2% per bulan yg
dihitung dari jml kelebihan pembayaran yg tercantum dlm SK Keberatan, yaitu seb Rp 1,25 M.
Contoh 5:
Diterbitkan SKPKB dgn jml pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 1 M atas SPT Thn Pajak 2012
yg menyatakan LB seb Rp 2,5 M. Dlm PAHP, WP menyetujui pajak yg LB seb Rp 2,25 M.
Atas keberatan yg diajukan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan yg menolak keberatan
WP.
Thd SK Keberatan tsb, WP mengajukan permohonan banding dan Putusan Banding menyatakan mengabulkan sebagian permohonan WP shg jml LB dlm Putusan Banding menjadi seb
Rp 1,5 M.
Jml kelebihan pembayaran pajak yg dikembalikan kpd WP adalah seb Rp 1,5 M, sesuai dgn jml
kelebihan pembayaran sebagaimana tercantum dlm Putusan Banding. Dlm hal ini, WP
diberikan imbalan bunga seb 2% per bulan yg dihitung dari jml kelebihan pembayaran yg
tercantum dlm Putusan Banding, yaitu seb Rp 1,5 M.
Penjelasan Pasal 44 ayat (2) PP 74 Thn 2011
Contoh 6:
Diterbitkan SKPN atas SPT Thn Pajak 2012 yg menyatakan LB seb Rp 2,5 M. Dlm PAHP, WP
tdk menyetujui seluruhnya.
Atas keberatan yn diajukan WP, Dirjen Pajak menerbitkan SK Keberatan yg menolak
permohonan WP. Thd SK Keberatan tsb, WP mengajukan permohonan banding dan Putusan
Banding menyatakan mengabulkan sebagian permohonan WP shg jml LB dlm Putusan
Banding menjadi seb Rp 1,25 M.
Jml kelebihan pembayaran pajak yg dikembalikan kpd WP adalah seb Rp 1,25 M, yaitu jml
kelebihan pembayaran sebagaimana tercantum dlm Putusan Banding. Dlm hal ini, WP
diberikan imbalan bunga seb 2% per bulan utk paling lama 24 bulan yg dihitung dari jml
kelebihan pembayaran pajak dlm Putusan Banding.
Penjelasan Pasal 44 ayat (3) PP 74 Thn 2011
Contoh 7:
SKPKB utk Thn Pajak 2010 diterbitkan tanggal 5 April 2012 dan diajukan keberatan pd tanggal
8 Juni 2012. Jika SK Keberatan yg mengabulkan permohonan WP diterbitkan pd tanggal 10
Mei 2013 maka perhitungan jangka waktu sbg dasar pemberian imbalan bunga sesuai dgn
ketentuan Pasal 44 ayat (3) PP 74 Thn 2011 adalah mulai dari tanggal 5 April 2012 s.d. 10 Mei
2013, yaitu selama 14 bulan [13 bulan penuh, yaitu tanggal 5 April 2012 s.d. 4 Mei 2013
ditambah bagian dari bulan yg dihitung penuh 1 bulan yaitu tanggal 5 Mei 2013 s.d. 10 Mei
2013)].
Contoh 8:
SKPKB utk Thn Pajak 2010 diterbitkan tanggal 5 April 2012 dan diajukan keberatan pd tanggal
10 Mei 2012. SK Keberatan yg menolak permohonan WP diterbitkan pd tanggal 5 Jan 2013.
WP mengajukan banding dan Putusan Banding yg mengabulkan slr permohonan WP
B208

diterbitkan pd tanggal 10 Maret 2014. Putusan Banding tsb baru diucapkan oleh Hakim
Pengadilan Pajak dlm sidang terbuka utk umum pd tanggal 20 Maret 2014 dan baru diterima
oleh Dirjen Pajak pd tanggal 10 Mei 2014. Dlm hal ini, perhitungan jangka waktu sbg dasar
pemberian imbalan bunga sesuai dgn ketentuan Pasal 44 ayat (3) PP 74 Thn 2011 mulai dari
tanggal 5 April 2012 s.d. 20 Maret 2014, yaitu selama 24 bulan [23 bulan penuh, yaitu tanggal 5
April 2012 s.d. 4 Maret 2014) ditambah bagian dari bulan yg dihitung penuh 1 bulan, yaitu
tanggal 5 Maret 2014 s.d. 20 Maret 2014].

B209

TATA CARA VERIFIKASI


Dasar Hukum:
PP 74 Thn 2011 ttg Tata Cara Pelaksanaan Hak & Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
PMK-146/PMK.03/2012 (berlaku stl 15 hari terhitung sejak tanggal 10 Sept 2012) ttg Tata Cara
Verifikasi
PMK-73/PMK.03/2012 ttg Jangka Waktu Pendaftaran dan Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata Cara
Pendaftaran, Pemberian, dan Penghapusan NPWP serta Pengukuhan dan Pencabutan PKP
SE terkait:
SE-48/PJ/2012 tgl 1 Nop 2012 ttg Kebijakan Pelaksanaan Verifikasi
Verifikasi:
Verifikasi mrp salah satu prosedur yg dpt dilakukan oleh DJP sejak 1 Jan 2012 dlm hal-hal tertentu.
Kegiatan Verifikasi tsb dpt dilakukan baik utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak sbl Thn Pajak
2008 maupun Thn Pajak 2008 dan sesudahnya.
Tujuan Verifikasi: (Pasal 2 PMK-146/PMK.03/2012)
Dirjen Pajak berwenang melakukan Verifikasi dlm rangka:
a. menerbitkan NPWP scr jabatan;
b. menghapuskan NPWP scr jabatan atau berdasarkan permohonan WP;
c. mengukuhkan PKP scr jabatan;
d. mengukuhkan PKP berdasarkan permohonan WP;
e. mencabut pengukuhan PKP scr jabatan atau berdasarkan permohonan PKP; dan/atau
f. menerbitkan skp.
Kebijakan Umum:
a. Verifikasi hrs dilakukan oleh Petugas Verifikasi yg ditugaskan oleh Kepala KPP berdasarkan ST,
meliputi:
AR;
Pelaksana KPP;
Kepala KP2KP;
Pelaksana KP2KP,
yg ditunjuk oleh Kepala KPP.
Penunjukan Petugas Verifikasi oleh Kepala KPP dilakukan dgn mempertimbangkan kompetensi dan
beban kerja pegawai yg ditunjuk.
b. Dlm hal Verifikasi dilakukan dlm rangka pengukuhan PKP berdasarkan:
permohonan WP yg disampaikan ke KP2KP Verifikasi hrs dilakukan oleh Kepala KP2KP
dan/atau Pelaksana KP2KP dgn ST yg ditandatangani oleh Kepala KP2KP a.n. Dirjen Pajak
permohonan WP yg disampaikan ke KPP (dgn mempertimbangkan tempat kedudukan/ kegiatan
usaha WP) Verifikasi dpt dilakukan oleh KP2KP
c. Jangka waktu penyelesaian Verifikasi:
No.
Tujuan Verifikasi
Jangka Waktu
1.
Pengukuhan PKP berdasarkan permohonan WP
5 hari kerja sesuai
PMK-73/PMK.03/2012
2.
Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan 6 bulan WP OP
PKP berdasarkan permohonan WP/PKP
12 bulan WP Badan
(Sesuai Pasal 2 UU KUP)
3.
Pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP scr
3 bulan yg dihitung sejak tanggal
Jabatan utk WP/PKP tertentu berdasarkan data dan
ST diterbitkan s.d. tanggal LHV
informasi perpajakan yg dimiliki atau diperoleh DJP
ditandatangani
4.
Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan 3 bulan yg dihitung sejak tanggal
PKP scr jabatan utk WP/PKP tertentu sesuai ketentuan
ST diterbitkan s.d. tanggal LHV
Pasal 5 dan/atau Pasal 10 PMK-146/PMK.03/2012
ditandatangani
5.
Penerbitan skp sesuai ketentuan Pasal 13
3 bulan yg dihitung sejak tanggal
PMK-146/PMK.03/2012
ST diterbitkan s.d. tanggal LHV
ditandatangani
d. Usulan dan Penugasan Verifikasi:

B211

No.
1.

Tujuan Verifikasi
Pengukuhan PKP
berdasarkan
permohonan WP

2.

Penghapusan
NPWP dan/ atau
pencabutan
pengukuhan PKP
berdasarkan
permohonan
WP/PKP

3.

Pemberian NPWP
dan/ atau
pengukuhan PKP
scr jabatan utk
WP/PKP tertentu
berdasarkan data
dan informasi
perpajakan yg
dimiliki/ diperoleh
DJP

4.

Penghapusan
NPWP dan/ atau
pencabutan
pengukuhan PKP
scr jabatan utk
WP/PKP tertentu
berdasarkan data &
informasi

Tahap Verifikasi
Berdasarkan permohonan yg diajukan ke KPP, Kasi Pelayanan
mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat konsep ST
Verifikasi.
Kasi Pelayanan menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala
KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Dlm hal permohonan diajukan melalui KP2KP, Kepala KP2KP dpt
menunjuk pelaksana KP2KP dan/atau dirinya sendiri utk menjadi
Petugas Verifikasi.
Selanjutnya, Kepala KP2KP menandatangani ST Verifikasi a.n.
Dirjen Pajak dgn tembusan kpd Kepala KPP.
Berdasarkan permohonan yg diajukan ke KPP, Kasi Pelayanan
meneliti dan menentukan apakah penghapusan dan/atau
pencabutan dpt dilakukan melalui Verifikasi atau hrs melalui
pemeriksaan
(sesuai
ketentuan
Pasal
5
&
10
PMK-146/PMK.03/2012).
Dlm hal WP mengajukan permohonan melalui KP2KP,
permohonan tsb diteruskan ke KPP.
Thd permohonan penghapusan NPWP dan/atau pencabutan
pengukuhan PKP yg dpt ditindaklanjuti melalui Verifikasi,
Kasi Pelayanan mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat
konsep ST Verifikasi.
Kasi Pelayanan menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala
KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Thd permohonan yg tdk dpt ditindaklanjuti melalui Verifikasi,
Kasi Pelayanan menyampaikan permohonan tsb kpd Kasi RIKI
sesuai dgn ketentuan di bidang pemeriksaan.
Berdasarkan data dan informasi perpajakan yg dimiliki atau
diperoleh KPP, Kasi Waskon terkait meneliti dan menentukan
apakah pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP scr jabatan
dpt dilakukan melalui Verifikasi atau hrs melalui pemeriksaan
(sesuai ketentuan Pasal 3 & 8 PMK-146/PMK.03/2012).
Dlm hal pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP scr
jabatan dpt dilakukan melalui Verifikasi, Kasi Waskon
mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat konsep ST
Verifikasi.
Kasi Waskon menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala
KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Thd pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP scr jabatan yg
tdk dpt dilakukan melalui Verifikasi, Kasi Waskon
menyampaikan data dan informasi perpajakan yg diperoleh kpd
Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai dgn ketentuan di bidang
Pemeriksaan.
Berdasarkan data dan informasi perpajakan yg dimiliki atau
diperoleh KPP, Kasi Waskon terkait meneliti dan menentukan
apakah Penghapusan NPWP dan/atau Pencabutan Pengukuhan
PKP scr jabatan dpt dilakukan melalui Verifikasi atau hrs melalui
pemeriksaan (sesuai ketentuan Pasal 5 & 10 PMK-146/PMK.03/
2012)
Dlm hal penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan
PKP scr jabatan dpt dilakukan melalui Verifikasi, Kasi Waskon

B212

perpajakan
yg dimiliki atau
diperoleh DJP

5.

Penerbitan skp
sesuai ketentuan
Pasal 13 PMK-146/
PMK.03/2012
a. SKPKB sesuai
ketentuan
Pasal 13 ayat
(2) PMK-146/
PMK.03/2012

b.

SKPKBT
sesuai
ketentuan
Pasal 13 ayat
(3) huruf b & c
PMK-146/PMK
.03/2012

mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat konsep ST


Verifikasi.
Kasi Waskon menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala
KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Thd penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan
PKP scr jabatan yg tdk dpt dilakukan melalui Verifikasi, Kasi
Waskon menyampaikan data dan informasi perpajakan yg
diperoleh kpd Kasi RIKI utk ditindaklanjuti sesuai dgn ketentuan
di bidang Pemeriksaan.

Berdasarkan data dan informasi perpajakan yg dimiliki atau


diperoleh KPP, Kasi Waskon menganalisis dan mengevaluasi
data dan informasi perpajakan tsb.
Hasil analisis dan evaluasi tsb disampaikan kpd Kepala KPP utk
dilakukan pembahasan bersama antara Kepala KPP dgn Kasi
Waskon dan Kasi RIKI.
Berdasarkan pertimbangan Kepala KPP dan hasil pembahasan
tsb, Kepala KPP menentukan apakah data dan informasi
perpajakan tsb ditindaklanjuti dgn Verifikasi atau Pemeriksaan.
Dlm hal Kepala KPP memutuskan bahwa data dan informasi
perpajakan tsbt ditindaklanjuti dgn Verifikasi, Kasi Waskon
mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat konsep ST
Verifikasi. Dlm hal Verifikasi dilakukan terkait dgn keterangan lain
dari kegiatan membangun sendiri sesuai Pasal 16C UU PPN,
salah satu petugas Verifikasi dpt berasal dari Seksi
Ekstensifikasi.
Kasi Waskon menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala
KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Dlm hal Kepala KPP memutuskan bahwa data dan informasi
perpajakan tsb ditindaklanjuti dgn Pemeriksaan, hasil analisis
data dan informasi perpajakan ditindaklanjuti sesuai dgn
ketentuan di bidang Pemeriksaan.
Berdasarkan data baru berupa hasil klarifikasi/konfirmasi FP yg
mengakibatkan penambahan jml pajak yg terutang atau
berdasarkan Putusan Pengadilan yg memuat data baru berupa
FP yg dpt digunakan utk menghitung besarnya pajak yg terutang
yg tdk atau kurang dibayar, Kasi Waskon menganalisis dan
mengevaluasi hasil klarifikasi/konfirmasi FP atau Putusan
Pengadilan tsb.
Hasil analisis dan evaluasi tsb disampaikan kpd Kepala KPP utk
dilakukan pembahasan bersama antara Kepala KPP dgn Kasi
Waskon dan Kasi Kepala Seksi Pemeriksaan.
Berdasarkan pertimbangan Kepala KPP dan hasil pembahasan
tsb, Kepala KPP menentukan apakah hasil klarifikasi/konfirmasi
tsb ditindaklanjuti dgn Verifikasi, Pemeriksaan, atau
Pemeriksaan Ulang.
Dlm
hal
Kepala
KPP
memutuskan
bahwa
hasil
klarifikasi/konfirmasi tsb ditindaklanjuti dgn Verifikasi, Kasi
Waskon mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat konsep
ST Verifikasi.

B213

c.

e.

f.

Kasi Waskon menyampaikan konsep ST Verifikasi kpd Kepala


KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.
Dlm
hal
Kepala
KPP
memutuskan
bahwa
hasil
klarifikasi/konfirmasi tsb ditindaklanjuti dgn Pemeriksaan atau
Pemeriksaan
Ulang,
hasil
klarifikasi/konfirmasi
tsb
ditindaklanjuti sesuai dgn ketentuan di bidang Pemeriksaan.
Berdasarkan keterangan tertulis dari WP atau berdasarkan
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yg
seharusnya tdk terutang, Kasi Waskon meneliti keterangan
tertulis atau permohonan pengembalian tsb.
Berdasarkan keterangan tertulis atau permohonan pengembalian
tsb, Kasi Waskon mengusulkan Petugas Verifikasi dan membuat
konsep ST Verifikasi.
Kasi Waskon menyampaikan konsep ST Verifikasi dlm rangka
menerbitkan skp kpd Kepala KPP utk mendapatkan persetujuan.
Kepala KPP meneliti dan memberikan persetujuan atas konsep
ST Verifikasi.

SKPKBT
sesuai
ketentuan
Pasal 13 ayat
(3) huruf a
PMK-146/PMK
.03/2012 dan
SKPLB sesuai
ketentuan
Pasal 13 ayat
(5) huruf a
PMK-146/PMK
.03/2012
Pelaksanaan Verifikasi:
Kasi Waskon atau Kasi Pelayanan sesuai dgn kewenangannya, melakukan supervisi atas
pelaksanaan Verifikasi dan penelaahan konsep LHV.
Hasil Verifikasi hrs dilaporkan oleh petugas Verifikasi kpd Kepala KPP melalui Kepala Seksi
Pengawasan dan Konsultasi atau Kasi Pelayanan sesuai dgn kewenangannya.
Dlm hal Verifikasi dlm rangka pengukuhan PKP berdasarkan permohonan WP dilaksanakan oleh
KP2KP, pelaksanaan Verifikasi tdk dilakukan supervisi oleh Kasi Pelayanan, namun LHV
disampaikan kpd Kepala KPP.
LHV:
No.
Tujuan Verifikasi
Minimal Memuat
1.
Menerbitkan/menghapuskan
a. penugasan Verifikasi;
NPWP dan/atau dlm rangka
b. identitas WP;
mengukuhkan/mencabut
c. tujuan Verifikasi;
pengukuhan PKP
d. uraian hasil Verifikasi;
e. simpulan dan usul petugas Verifikasi; dan
f.
pengungkapan infomasi lain yg terkait.
2.
Menerbitkan skp
a. penugasan Verifikasi;
b. identitas WP;
c. pemenuhan kewajiban perpajakan;
d. data/informasi yg tersedia;
e. materi yg diverifikasi;
f.
uraian hasil Verifikasi;
g. pengujian yg tlh dilakukan;
h. penghitungan pajak terutang; dan
i.
simpulan dan usul petugas Verifikasi.

A. VERIFIKASI DLM RANGKA MENERBITKAN NPWP SCR JABATAN DAN MENGHAPUSKAN


NPWP SCR JABATAN/ BERDASARKAN PERMOHONAN WP
Pasal 3 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi dlm rangka menerbitkan NPWP scr jabatan sesuai Pasal 2 huruf a dilakukan thd:
a. WP OP yg tdk menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
b. WP OP ng menjalankan usaha atau pekerjaan bebas; dan/atau
c. WP sesuai hasil kegiatan ekstensifikasi yg dilakukan scr massal,
yg berdasarkan data dan informasi menunjukkan tlh memenuhi persayaratan subjektif dan
objektif sbg WP.

B214

(2)

(3)
(4)
(5)

Verifikasi juga dilakukan dlm rangka mengaktifkan kembali NPWP yg tlh dilakukan penghapusan
dlm hal Dirjen Pajak memperoleh data dan/atau informasi yg menunjukkan adanya hak dan/atau
kewajiban perpajakan WP.
Termasuk hasil kegiatan ekstensifikasi pd ayat (1) huruf c adalah hasil kegiatan SPN.
Verifikasi pd ayat (1) dilakukan utk menentukan kebenaran pemenuhan persyaratan subjektif dan
objektif WP.
Penerbitan NPWP scr jabatan thd WP selain pd ayat (1) & (2), dilakukan berdasarkan hasil
pemeriksaan.

Pasal 4 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi thd WP OP yg tdk menjalankan usaha atau pekerjaan bebas sesuai Pasal 3 ayat (1)
huruf a PMK-146/PMK.03/2012 mencakup kegiatan:
a. konfirmasi kpd pemberi kerja; dan
b. pengujian thd penghasilan WP apakah penghasilan WP tsb di atas PTKP.
(2)
Verifikasi thd WP OP yg menjalankan usaha atau pekerjaan bebas sesuai Pasal 3 ayat (1) huruf
b PMK-146 mencakup kegiatan:
a. konfirmasi lapangan thd tempat kedudukan atau kegiatan usaha;
b. pengujian thd penghasilan WP apakah penghasilan WP tsb di atas PTKP; dan
c. analisa dlm rangka menentukan jml angsuran PPh Pasal 25 UU PPh.
(3)
Verifikasi thd WP hasil kegiatan ekstensifikasi yg dilakukan scr massal sesuai Pasal 3 ayat (1)
huruf c PMK-146/PMK.03/2012 mencakup kegiatan:
a. pengujian thd kebenaran formulir isian data hasil kegiatan ekstensifikasi yg dilakukan scr
massal; dan
b. pencocokan thd data hasil kegiatan ekstensifikasi yg dilakukan scr massal dan tlh divalidasi
dgn basis data perpajakan.
(4)
Verifikasi thd WP sesuai Pasal 3 ayat (2) PMK-146/PMK.03/2012 mencakup kegiatan:
a. pengujian thd kebenaran data dan/atau informasi yg diperoleh; dan
b. pencocokan thd data dan/atau informasi yg diperoleh dgn basis data perpajakan.
(5)
Verifikasi thd WP hasil kegiatan SPN sesuai Pasal 3 ayat (3) PMK-146/PMK.03/2012 mencakup
kegiatan:
a. pengujian thd kebenaran formulir isian SPN; dan
b. pencocokan thd data hasil kegiatan SPN dgn basis data perpajakan.
Pasal 5 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi dlm rangka menghapuskan NPWP scr jabatan atau berdasarkan permohonan WP
sesuai Pasal 2 huruf b PMK-146/PMK.03/2012 dilakukan thd:
a. WP OP yg tlh meninggal dunia dan tdk meninggalkan warisan;
b. WP bendahara pemerintah yg tdk lagi memenuhi syarat sbg WP krn yg bersangkutan sdh tdk
lagi melakukan pembayaran;
c. WP OP yg tlh meninggalkan Indonesia utk selama-lamanya;
d. WP yg memiliki lbh dari 1 NPWP utk menentukan NPWP yg dpt digunakan sbg sarana
administratif dlm pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan;
e. WP OP yg berstatus sbg pengurus, komisaris, pemegang saham/pemilik dan pegawai yg tlh
diberikan NPWP melalui pemberi kerja/bendahara pemerintah dan penghasilan netonya tdk
melebihi PTKP;
f. WP badan kantor perwakilan perusahaan asing yg tdk mempunyai kewajiban PPh badan yg
tlh menghentikan kegiatan usahanya;
g. Warisan yg blm terbagi dlm kedudukan sbg Subjek Pajak sdh selesai dibagi;
h. Wanita yg sebelumnya tlh memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan serta tdk ingin melaksanakan hak dan memenuhi
kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya;
i. Wanita kawin yg memiliki NPWP berbeda dgn NPWP suami dan pelaksanaan hak dan
pemenuhan kewajiban perpajakannya digabungkan dgn pelaksanaan hak dan pemenuhan
kewajiban perpajakan suami;
j. Anak blm dewasa yg tlh memiliki NPWP;
k. WP BUT yg tlh menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia; atau
l. WP badan tertentu selain PT dgn status tdk aktif (NE) yg tdk mempunyai kewajiban PPh dan
scr nyata tdk menunjukkan adanya kegiatan usaha.

B215

(2)
(3)

(4)

Verifikasi pd ayat (1) dilakukan utk menentukan apakah WP sdh tdk memenuhi persyaratan
subjektif dan objektif.
Dlm hal berdasarkan hasil Verifikasi thd WP pd ayat (1) diperoleh data dan/atau informasi yg
menunjukkan adanya hak dan/atau kewajiban perpajakan, thd WP tsb dpt diterbitkan skp
dan/atau STP.
Penghapusan NPWP Pajak berdasarkan permohonan WP atau scr jabatan thd WP selain pd ayat
(1) dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Pasal 6 PMK-146/PMK.03/2012
Pelaksanaan Verifikasi sesuai Pasal 5 ayat (1) PMK-146/PMK.03/2012 mencakup kegiatan:
a.
pencocokan thd data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh DJP yg menyatakan
bahwa WP sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif dan objektif; dan
b.
konfirmasi thd data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh DJP yg menyatakan bahwa
WP sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif dan objektif.
Pasal 7 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Kegiatan dlm rangka Verifikasi sesuai Pasal 4 & 6 dilaksanakan oleh petugas Verifikasi.
(2)
Kegiatan dlm rangka Verifikasi pd ayat (1) dilakukan tanpa penyampaian SPHV dan PAHV.
(3)
Petugas Verifikasi pd ayat (1) mrp PNS di lingkungan DJP yg diberi tugas, wewenang, dan
tanggung jawab utk melaksanakan Verifikasi.
(4)
Hasil dari kegiatan dlm rangka Verifikasi pd ayat (1) dituangkan dlm LHV.

B. VERIFIKASI DLM RANGKA MENGUKUHKAN PKP SCR JABATAN/BERDASARKAN


PERMOHONAN WP DAN MENCABUT PENGUKUHAN PKP SCR JABATAN/ BERDASARKAN
PERMOHONAN PKP
Pasal 8 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi dlm rangka mengukuhkan PKP scr jabatan sesuai Pasal 2 huruf c
PMK-146/PMK.03/2012 dilakukan thd:
a. WP OP sbg Pengusaha; dan/atau
b. WP OP dan badan sbg Pengusaha, sesuai hasil kegiatan ekstensifikasi yg dilakukan scr
massal,
yg berdasarkan data dan informasi menunjukkan tlh memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sbg PKP.
(2)
Termasuk hasil kegiatan ekstensifikasi pd ayat (1) huruf b adalah hasil kegiatan SPN.
(3)
Verifikasi dlm rangka mengukuhkan PKP berdasarkan permohonan WP sesuai Pasal 2 huruf d
PMK-146 dilakukan thd:
a. WP OP sbg Pengusaha; atau
b. WP badan sbg Pengusaha,
yg mengajukan permohonan utk dikukuhkan sbg PKP.
(4)
Termasuk WP OP sbg Pengusaha pd ayat (3) huruf a adalah WP OPPT berdasarkan perpu di
bidang perpajakan.
(5)
Verifikasi pd ayat (1) & (3) dilakukan utk menentukan kebenaran pemenuhan persyaratan
subjektif dan objektif sbg PKP.
(6)
Pengukuhan PKP scr jabatan thd WP selain pd ayat (1) & (2), dilakukan berdasarkan hasil
pemeriksaan.
Pasal 9 PMK-146/PMK.03/2012
Verifikasi thd WP sesuai Pasal 8 ayat (1) s.d. (4) PMK-146/PMK.03/2012 dlm rangka mengukuhkan
PKP, mencakup kegiatan:
a.
Pengujian pemenuhan persyaratan subjektif yg meliputi:
1) pengujian atas kelengkapan dokumen terkait dgn identitas Pengusaha, antara lain KTP
Pengusaha, KTP Pengurus, akta pendirian, dan surat keterangan domisili; dan
2) pengujian atas kebenaran status Pengusaha, kebenaran alamat Pengusaha, dan kebenaran
keberadaan Pengusaha yg bersangkutan di alamat tsb, antara lain peta lokasi kegiatan
usaha, dan foto tempat kegiatan usaha.
b.
Pengujian pemenuhan persyaratan objektif yg meliputi:

B216

1) pengujian atas kelengkapan dokumen izin kegiatan usaha sesuai dgn ketentuan yg berlaku,
misalnya SIUP dan surat izin usaha jasa konstruksi; dan
2) pengujian thd kesesuaian antara dokumen izin kegiatan usaha dgn kegiatan usaha yg
dilakukan utk memperoleh informasi antara lain mengenai gambaran kegiatan usaha, data
peredaran usaha, dan daftar harta di tempat kegiatan usaha.
Pasal 10 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi dlm rangka mencabut pengukuhan PKP scr jabatan atau berdasarkan permohonan
PKP sesuai Pasal 2 huruf e PMK-146/PMK.03/2012 dilakukan thd:
a. PKP OP yg tlh meninggal dunia;
b. PKP tlh dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain;
c. PKP yg pindah alamat tempat tinggal, tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha ke
wilayah kerja KPP lainnya;
d. PKP yg jml peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya utk 1 thn buku tdk melebihi
batas jml peredaran usaha dan/atau penerimaan bruto utk pengusaha kecil dan tdk memilih
utk menjadi PKP;
e. PKP selain PT dgn status tdk aktif (NE) dan scr nyata tdk menunjukkan adanya kegiatan
usaha;
f. PKP yg tdk menyampaikan SPT Masa PPN utk Masa Pajak Jan s.d. Des;
g. PKP yg menyampaikan SPT Masa PPN yg PK dan PM-nya nihil utk Masa Pajak Jan s.d.
Des; atau
h. PKP BUT yg tlh menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia.
(2)
Pencabutan pengukuhan PKP scr jabatan pd ayat (1) juga dpt dilaksanakan stl Dirjen Pajak
melakukan Verifikasi atas:
a. hasil SPN;
b. hasil konfirmasi lapangan stlhpengukuhan PKP; atau
c. hasil kegiatan lain yg dilaksanakan oleh Dirjen Pajak.
(3)
Verifikasi pd ayat (1) dilakukan utk tertib administrasi dan/atau menguji pemenuhan persyaratan
subjektif dan objektif sbg PKP.
(4)
Pencabutan pengukuhan PKP scr jabatan atau berdasarkan permohonan PKP thd WP selain pd
ayat (1) & (2), dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Pasal 11 PMK-146/PMK.03/2012
Pelaksanaan Verifikasi thd PKP sesuai Pasal 10 ayat (1) & (2) PMK-146/PMK.03/2012 mencakup
kegiatan:
a.
pencocokan thd data dan/atau informasi yg diperoleh atau dimiliki oleh DJP yg menyatakan
bahwa WP sdh tdk memenuhi persyaratan subjektif dan objektif;
b.
konfirmasi lapangan thd tempat kedudukan atau kegiatan usaha; dan/atau
c.
pengujian thd jml nilai peredaran bruto atas penyerahan BKP atau JKP yg dilakukan oleh WP tlh
melampaui batasan yg ditentukan sbg pengusaha kecil.
Pasal 12 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi sesuai Pasal 9 & 11 PMK-146/PMK.03/2012 dilaksanakan oleh petugas Verifikasi.
(2)
Verifikasi pd ayat (1) dilakukan tanpa penyampaian SPHV dan PAHV.
(3)
Petugas Verifikasi pd ayat (1) mrp PNS di lingkungan DJP yg diberi tugas, wewenang, dan
tanggung jawab utk melaksanakan Verifikasi.
(4)
Hasil Verifikasi pd ayat (1) dituangkan dlm LHV.

C. VERIFIKASI DLM RANGKA MENERBITKAN skp


Ruang Lingkup dan Kriteria Verifikasi:
Pasal 13 PMk-146/PMK.03/2012
(1)
Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp sesuai Pasal 2 huruf f PMK-146/PMK.03/2012 dpt
dilakukan utk 1 atau bbrp jenis pajak, baik utk 1 atau bbrp Masa Pajak, Bagian Thn Pajak atau
Thn Pajak dlm thn-thn lalu maupun thn berjalan.
(2)
Verifikasi dlm rangka menerbitkan SKPKB dilakukan dlm hal terdapat:

B217

a.
b.

(3)

(4)

(5)

keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (1) UU KUP; atau


Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap thd WP yg dipidana krn
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd pendapatan negara yg di dalamnya memuat data konkret yg dpt
dipergunakan utk menghitung besarnya pajak terutang yg tdk atau kurang dibayar.
Verifikasi dlm rangka menerbitkan SKPKBT dilakukan dlm hal terdapat:
a. keterangan tertulis dari WP atas kehendak sendiri sesuai Pasal 15 ayat (3) UU KUP;
b. data baru berupa hasil klarifikasi/konfirmasi FP yg mengakibatkan penambahan jml pajak yg
terutang; atau
c. Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap thd WP yg dipidana krn
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd pendapatan negara.
Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap pd ayat (3) huruf c meliputi
Putusan Pengadilan yg memuat data baru berupa FP yg dpt dipergunakan utk menghitung
besarnya pajak yg terutang yg tdk atau kurang dibayar.
Verifikasi dlm rangka menerbitkan SKPLB dilakukan dlm hal terdapat permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak yg seharusnya tdk terutang sesesuai Pasal 17 ayat (2) UU KUP.

Pasal 14 PMK-146/PMK.03/2012
Keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf a PMK-146 adalah data konkret yg diperoleh atau dimiliki
oleh Dirjen Pajak, berupa:
a.
hasil klarifikasi/konfirmasi FP;
b.
bukti pemotongan PPh;
c.
data perpajakan terkait dgn WP yg tdk menyampaikan SPT dlm jangka waktu sesuai Pasal 3 ayat
(3) UU KUP dan stl ditegur scr tertulis WP tdk menyampaikan SPT pd waktunya sebagaimana
ditentukan dlm surat teguran; atau
d.
bukti transaksi atau data perpajakan yg dpt digunakan utk menghitung kewajiban perpajakan WP.
Tata Cara Verifikasi dlm Rangka Menerbitkan skp:
Pasal 15 PMK-146/PMK.03/2012
Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp dilakukan dgn ketentuan sbg berikut:
a.
Verifikasi dilakukan oleh petugas Verifikasi;
b.
petugas Verifikasi pd huruf a mrp PNS di lingkungan DJP yg diberi tugas, wewenang, dan
tanggung jawab utk melaksanakan Verifikasi;
c.
Verifikasi dilaksanakan dgn meneliti keterangan lain dan dikembangkan melalui pencocokan
data, permintaan keterangan, konfirmasi, dan pengujian lainnya berkenaan dgn Verifikasi;
d.
petugas Verifikasi hrs memanggil WP dlm rangka Verifikasi atas keterangan lain, melalui Kepala
KPP;
e.
pemanggilan WP dlm rangka Verifikasi pd huruf d dilakukan sbl menyampaikan SPHV;
f.
dlm hal WP hadir memenuhi panggilan dlm rangka Verifikasi pd huruf d, petugas Verifikasi
melakukan klarifikasi atas keterangan lain yg hasilnya dituangkan dlm
g.
BA mengenai klarifikasi WP;
h.
BA mengenai klarifikasi WP pd huruf f, digunakan sbg dasar penyusunan SPHV;
i.
dlm hal WP tdk memenuhi panggilan dlm rangka Verifikasi pd huruf d, petugas Verifikasi
membuat BA mengenai tdk dipenuhinya panggilan dlm rangka Verifikasi oleh WP;
j.
berdasarkan BA mengenai tdk dipenuhinya panggilan dlm rangka Verifikasi oleh WP dan
keterangan lain yg dimiliki, petugas Verifikasi menyusun SPHV;
k.
WP dpt membetulkan SPT yg dilakukan Verifikasi sepanjang SPHV blm disampaikan;
l.
berdasarkan SPHV, petugas Verifikasi melakukan PAHV dgn WP yg hasilnya dituangkan dlm BA
mengenai PAHV;
m.
hasil Verifikasi dituangkan dlm LHV;
n.
LHV pd huruf l dilampiri dgn BA mengenai klarifikasi WP, BA mengenai tdk dipenuhinya
panggilan dlm rangka Verifikasi oleh WP, SPHV, dan BA mengenai PAHV, kecuali Verifikasi yg
dilaksanakan tanpa PAHV maka LHV tanpa dilampiri dgn SPHV dan BA mengenai PAHV.
Kewajiban dan Kewenangan Petugas Verifikasi:

B218

Pasal 17 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Dlm melakukan Verifikasi utk menerbitkan skp, petugas Verifikasi wajib:
a. memberikan kesempatan kpd WP/Kuasanya utk memberikan klarifikasi terkait dgn
keterangan lain yg dimiliki oleh DJP;
b. menyampaikan SPHV kpd WP; dan
c. memberikan kesempatan kpd WP utk melakukan PAHV dlm jangka waktu yg tlh ditentukan.
(2)
Petugas Verifikasi melalui kepala KPP berwenang memanggil WP dgn surat panggilan utk
meminta klarifikasi scr lisan dan/atau tertulis dari WP.
Kewajiban dan Hak WP:
Pasal 18 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Dlm pelaksanaan Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp, WP berkewajiban memenuhi panggilan
dlm rangka Verifikasi utk memberikan klarifikasi scr lisan dan/atau tertulis.
(2)
Dlm pelaksanaan Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp, WP berhak utk:
a. memberikan klarifikasi scr lisan dan/atau tertulis terkait dgn keterangan lain;
b. meminta kpd petugas Verifikasi utk memberikan penjelasan ttg alasan dan tujuan Verifikasi;
c. menerima SPHV; dan
d. menghadiri PAHV dlm jangka waktu yg tlh ditentukan.
Pemberitahuan Hasil Verifikasi dan PAHV:
Pasal 19 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Penerbitan skp berdasarkan hasil Verifikasi hrs dilakukan melalui penerbitan SPHV dan PAHV.
(2)
Ketentuan pd ayat (1) tdk berlaku utk penerbitan:
a. SKPBT berdasarkan hasil Verifikasi atas keterangan tertulis dari WP atas kehendak sendiri
sesuai Pasal 13 ayat (3) huruf a PMK-146/PMK.03/2012; dan
b. SKPLB berdasarkan hasil Verifikasi thd kebenaran pembayaran pajak sesuai Pasal 13 ayat
(5) PMK-146/PMK.03/2012.
Pasal 20 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Hasil Verifikasi dlm rangka menerbitkan skp, diberitahukan melalui SPHV kpd WP, dgn
memberikan hak kpd WP utk hadir dlm PAHV.
(2)
Undangan PAHV dibuat scr tertulis dgn mencantumkan hari dan tanggal dilaksanakannya
pembahasan akhir, yg memperhatikan tempat tinggal atau tempat kedudukan WP.
(3)
SPHV pd ayat (1) dan undangan PAHV pd ayat (2) disampaikan scr bersamaan oleh petugas
Verifikasi melalui kurir, faksimili, pos, atau jasa pengiriman lainnya.
Pasal 21 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Apabila WP hadir sesuai waktu yg ditentukan dlm undangan PAHV sesuai Pasal 20 ayat (2)
PMK-146/PMK.03/2012, petugas Verifikasi melakukan PAHV dgn WP yg dituangkan dlm BA
mengenai PAHV.
(2)
BA mengenai PAHV pd ayat (1), berisi koreksi, baik yg disetujui maupun yg tdk disetujui dan hrs
ditandatangani oleh kedua belah pihak.
(3)
Dlm hal WP menolak menandatangani BA mengenai PAHV pd ayat (1), petugas Verifikasi
membuat catatan ttg penolakan tsb dlm BA mengenai PAHV dan berdasarkan BA tsb
PAHV dianggap tlh dilaksanakan.
(4)
Dlm hal WP tdk hadir sesuai waktu yg ditentukan dlm undangan PAHV sesuai Pasal 20 ayat
(2) PMK-146/PMK.03/2012, petugas Verifikasi membuat BA mengenai PAHV dgn
mencantumkan keterangan mengenai ketidakhadiran WP dlm BA mengenai PAHV.
(5)
Berdasarkan BA mengenai PAHV pd ayat (4), PAHV dianggap tlh dilaksanakan dan WP
dianggap menyetujui hasil Verifikasi.
(6)
Jangka waktu PAHV dlm rangka menerbitkan skp paling lama 3 hari kerja terhitung sejak hari dan
tanggal pelaksanaan pembahasan akhir sebagaimana tercantum dlm undangan PAHV sesuai
Pasal 20 ayat (2) PMK-146/PMK.03/2012.
Pasal 22 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Berdasarkan LHV sesuai Pasal 15 huruf l PMK-146 dibuat nota penghitungan.

B219

(2)

Nota penghitungan pd ayat (1) mrp dasar penerbitan SKPKB sesuai Pasal 13 ayat (2)
PMK-146/PMK.03/2012, SKPKBT sesuai Pasal 13 ayat (3) PMK-146/PMK.03/2012, atau SKPLB
sesuai Pasal 13 ayat (5) PMK-146/PMK.03/2012.

Pasal 23 PMK-146/PMK.03/2012
Pajak yg terutang dlm SKPKB sesuai Pasal 13 ayat (2) PMK-146/PMK.03/2012 dan SKPKBT sesuai
Pasal 13 ayat (3) huruf b & c PMK-146/PMK.03/2012, hrs sesuai dgn PAHV.
Pasal 24 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
Dlm hal berdasarkan keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf a PMK-146/PMK.03/2012 tdk
terdapat pajak yg kurang atau tdk dibayar, kegiatan Verifikasi dilanjutkan dgn membuat LHV
tanpa usulan penerbitan skp.
(2)
Dlm hal keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf a PMK-146/PMK.03/2012 tlh
ditindaklanjuti oleh WP dgn melakukan pembetulan SPT sbl penyampaian SPHV, kegiatan
Verifikasi dilanjutkan dgn:
a. membuat LHV tanpa usulan penerbitan skp apabila pembetulan SPT sesuai dgn keterangan
lain sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf a PMK-146/PMK.03/2012; atau
b. membuat LHV dgn usulan utk penerbitan skp berdasarkan PAHV apabila pembetulan SPT
blm sesuai dgn keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (2) huruf a PMK-146/PMK.03/2012.
(3)
Dlm hal berdasarkan hasil Verifikasi thd permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
yg seharusnya tdk terutang sesuai Pasal 13 ayat (5) PMK-146/PMK.03/2012, tdk terdapat
kelebihan pembayaran pajak, kegiatan Verifikasi dilanjutkan dgn membuat LHV tanpa usulan
penerbitan skp.
Pembatalan skp Hasil Verifikasi:
Pasal 25 PMK-146/PMK.03/2012
(1)
skp hasil Verifikasi yg dilaksanakan tanpa:
a. penyampaian SPHV sesuai Pasal 20 PMK-146/PMK.03/2012; atau
b. PAHV sesuai Pasal 21 PMK-146/PMK.03/2012,
dpt dilakukan pembatalan oleh Dirjen Pajak sesuai ketentuan Pasal 35 ayat (1) huruf d PP 74 Thn
2011.
(2)
Dikecualikan dari ketentuan pd ayat (1) adalah penerbitan skp dari hasil Verifikasi sesuai Pasal
19 ayat (2) PMK-146/PMK.03/2012.
(3)
Dlm hal dilakukan pembatalan pd ayat (1), proses Verifikasi hrs dilanjutkan dgn melaksanakan
prosedur penyampaian SPHV dan/atau PAHV.
(4)
Dlm hal pembatalan dilakukan krn Verifikasi dilaksanakan tanpa penyampaian SPHV,
berdasarkan SK pembatalan hasil Verifikasi, petugas Verifikasi melanjutkan Verifikasi dgn
memberitahukan hasil Verifikasi melalui SPHV kpd WP dan melakukan PAHV sesuai dgn
prosedur Pasal 20 & 21 PMK-146/PMK.03/2012.
Form-form yg digunakan berdasar PMK-146/PMK.03/2012:
No.

Nama Form

Sumber

1.
2.
3.
4.
5,
6.

Form Surat Panggilan dlm Rangka Verifikasi


Form BA Klarifikasi WP
Form BA Tdk Dipenuhinya Panggilan dlm Rangka Verifikasi oleh WP
Form SPHV
Form Mengenai PAHV
Form Undangan PAHV

Lamp I
Lamp II
Lamp III
Lamp IV
Lamp V
Lamp VI

Pihak
Pembuat
KPP

Form-form yg digunakan berdasar SE-48/PJ/2012:


No.
1.
2.
3.

Nama Form
Form ST Verifikasi
Contoh Form Bentuk & Isi LHV 1
Contoh Form Bentuk & Isi LHV 2

Sumber
Lamp I
Lamp II
Lamp III

B2110

Pihak
Pembuat
KPP/KP2KP
KPP

TATA CARA PEMERIKSAAN


I.

Dasar Hukum
UU KUP
PMK-17/PMK.03/2013 (mulai berlaku pd tanggal 1 Feb 2013) ttg Tata Cara Pemeriksaan
PMK ini mencabut:
PMK-191/PMK.03/2007 ttg Penerbitan skp Atas Permohonan Pengembalian Kelebihan
Pembayaran Pajak Thd WP yg Sedang Dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak
Pidana Di Bidang Perpajakan
PMK-198/PMK.03/2007 ttg Tata Cara Penyegelan Dlm Rangka Pemeriksaan di Bidang
Perpajakan
PMK-199/PMK.03/2007 jo PMK-82/PMK.03/2011 ttg Tata Cara Pemeriksaan Pajak
PER-23/PJ/2013 (mulai berlaku pd tanggal 11 Juni 2013) ttg Standar Pemeriksaan
PER-19/PJ/2013 (berlaku sejak 30 Mei 2013) mencabut PER-34/PJ/2011, PER-35/PJ/2011,
PER-16/PJ/2009, dan PER-17/PJ/2009
SE terkait:
SE-25/PJ/2013 (mulai berlaku tanggal 30 Mei 2013) ttg Pedoman e-Audit
SE-28/PJ/2013 (mulai berlaku tanggal 11 Juni 2013) ttg Kebijakan Pemeriksaan

II. Tujuan Pemeriksaan (Pasal 2 PMK-17/PMK.03/2013)


Dirjen Pajak berwenang melakukan Pemeriksaan dgn tujuan:
utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau
utk tujuan lain dlm rangka melaksanakan ketentuan perpu perpajakan.

III. Pemeriksaan utk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan


a.

Ruang Lingkup, Kriteria, dan Jenis Pemeriksaan:


1. Ruang lingkup Pemeriksaan dpt meliputi: (Pasal 3 PMK-17/PMK.03/2013)
a. satu, bbrp, atau slrh jenis pajak,
b. baik utk satu atau bbrp Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak,
c. dlm thn-thn lalu maupun thn berjalan.
2. Kriteria & Jenis Pemeriiksaan
a. Yg Hrs Dilakukan Pemeriksaan
Kriteria
Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan utk
Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan
menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dilakukan dgn jenis
kewajiban perpajakan hrs
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan
dilakukan thd WP yg
Kantor. (Pasal 5 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
mengajukan permohonan
Dilakukan dgn Pemeriksaan Kantor, dlm hal
pengembalian kelebihan
permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak sesuai Pasal
pembayaran tsb diajukan oleh WP yg
17B UU KUP. (Pasal 4 ayat
memenuhi persyaratan:
(1) PMK-17/PMK.03/2013)
LK WP utk Thn Pajak yg diperiksa diaudit
oleh akuntan publik atau LK salah satu
Thn Pajak dari 2 Thn Pajak sbl Thn Pajak
yg diperiksa tlh diaudit oleh akuntan
publik, dgn pendapat wajar tanpa
pengecualian; dan
WP tdk sedang dilakukan Pemeriksaan
Bukti Permulaan, penyidikan, atau
penuntutan tindak pidana perpajakan,
dan/atau WP dlm 5 thn terakhir tdk
pernah dipidana krn melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan.
(Pasal 5 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

B221

b.

b.

Yg Dpt Dilakukan Pemeriksaan


Kriteria
Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan utk menguji
Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan
kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dilakukan dgn jenis
kewajiban perpajakan dpt
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan
dilakukan dlm hal WP:
Kantor. (Pasal 5 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
menyampaikan SPT yg
Penentuan jenis pemeriksaannya diatur oleh
menyatakan LB, selain yg
Dirjen Pajak. (Pasal 5 ayat
mengajukan permohonan
(3) PMK-17/PMK.03/2013)
pengembalian kelebihan
pembayaran pajak sesuai ayat
(1);
tlh diberikan pengembalian
pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak;
menyampaikan SPT yg
menyatakan rugi;
melakukan penggabungan,
peleburan, pemekaran, likuidasi,
pembubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia utk
selama-lamanya;
melakukan perubahan thn buku
atau metode pembukuan atau
krn dilakukannya penilaian
kembali aktiva tetap;
tdk menyampaikan atau
Dilakukan dgn jenis Pemeriksaan
menyampaikan SPT tetapi
Lapangan. (Pasal 5 ayat
melampaui jangka waktu yg tlh
(4) PMK-17/PMK.03/2013)
ditetapkan dlm surat teguran yg
terpilih utk dilakukan
Pemeriksaan berdasarkan
analisis risiko; atau
menyampaikan SPT yg terpilih
utk dilakukan Pemeriksaan
berdasarkan analisis risiko.
Dlm hal Pemeriksaan Kantor ditemukan indikasi transaksi yg terkait dgn transfer
pricing dan/atau transaksi khusus lain yg berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan,
pelaksanaan Pemeriksaan Kantor diubah menjadi Pemeriksaan Lapangan. (Pasal 5 ayat
(5) PMK-17/PMK.03/2013)

Standar Pemeriksaan:
1. Pemeriksa Pajak tdk dikenai sanksi dlm hal Pemeriksaan yg dilakukan: (Pasal 11 ayat (2)
PER-23/PJ/2013) berlaku baik utk Pemeriksaan utk menguji kepatuhan & utk
Pemeriksaan utk tujuan lain
Tlh sesuai dgn Standar Pemeriksaan,
Dilaksanakan berdasarkan iktikad baik, dan
Sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
2. Standar Pemeriksaan meliputi: (Pasal 6 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
a. Standar Umum Pemeriksaan (Pasal 7 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak yg memenuhi syarat:
1. Tlh mendapat pendidikan & pelatihan teknis yg cukup serta memiliki keterampilan sbg
Pemeriksa Pajak;
(Pasal 3 ayat (3) huruf a PER-23/PJ/2013)
2. Menggunakan keterampilannya scr cermat & seksama;
apabila dlm melaksanakan Pemeriksaan didasarkan pd iktikad baik & sesuai dgn
ketentuan perpu perpajakan. (Pasal 3 ayat (3) huruf b angka 2 PER-23/PJ/2013)

B222

3.

b.

c.

Jujur dan bersih dari tindakan-tindakan tercela serta senantiasa mengutamakan


kepentingan negara; dan
4. Taat thd berbagai ketentuan peraturan perpu di bidang perpajakan.
Dlm hal diperlukan, pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dpt dilaksanakan oleh tenaga ahli dari luar DJP yg ditunjuk oleh Dirjen
Pajak. (Pasal 7 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan (Pasal 8 PMK-17/PMK.03/2013)
1. Pelaksanaan Pemeriksaan hrs didahului dgn persiapan yg baik sesuai dgn tujuan
Pemeriksaan, yg paling sedikit meliputi:
a. Kegiatan mengumpulkan & mempelajari data WP, meliputi:
Mempelajari profil WP
Menganalisis data keuangan WP
Mempelajari data lain yg relevan, baik dari DJP maupun dari pihak lain
(Pasal 4 huruf a angka 1 PER-23/PJ/2013)
b. Menyusun rencana Pemeriksaan (audit plan), dan menyusun program
Pemeriksaan (audit program), serta mendapat pengawasan yg seksama
c. Menyiapkan sarana Pemeriksaan (Pasal 4 huruf a angka 4 PER-23/PJ/2013)
2. Pemeriksaan dilaksanakan dgn melakukan pengujian berdasarkan metode & teknik
Pemeriksaan sesuai dgn program Pemeriksaan (audit program) yg tlh disusun
3. Temuan hasil Pemeriksaan hrs didasarkan pd bukti kompeten yg cukup &
berdasarkan ketentuan perpu perpajakan
4. Pemeriksaan dilakukan oleh suatu tim Pemeriksa Pajak yg terdiri dari seorang
supervisor, seorang ketua tim, dan seorang atau lebih anggota tim, dan dlm keadaan
tertentu ketua tim dpt merangkap sbg anggota tim berlaku baik utk Pemeriksaan
utk menguji kepatuhan & utk Pemeriksaan utk tujuan lain
Keadaan tertentu:
a. terbatasnya jml Pemeriksa Pajak pada UP2; dan/atau
b. berdasarkan pertimbangan Kepala UP2.
(Pasal 4 huruf d PER-23/PJ/2013)
5. Tim Pemeriksa Pajak dpt dibantu oleh seorang atau lebih yg memiliki keahlian
tertentu, baik yg berasal dari DJP, maupun dari instansi di luar DJP yg tlh ditunjuk oleh
Dirjen Pajak, sbg tenaga ahli seperti penerjemah bahasa, ahli di bidang teknologi
informasi, dan pengacara
6. Apabila diperlukan, Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dpt dilakukan scr bersama-sama dgn tim pemeriksa dari instansi lain
7. Pemeriksaan dpt dilaksanakan di kantor DJP, tempat tinggal atau tempat kedudukan
WP, tempat kegiatan usaha / pekerjaan bebas WP, dan/atau atau tempat lain yg
dianggap perlu oleh Pemeriksa Pajak berlaku baik utk Pemeriksaan utk menguji
kepatuhan & utk Pemeriksaan utk tujuan lain
8. Pemeriksaan dilaksanakan pd jam kerja dan apabila diperlukan dpt dilanjutkan di luar
jam kerja berlaku baik utk Pemeriksaan utk menguji kepatuhan & utk
Pemeriksaan utk tujuan lain
9. Pelaksanaan Pemeriksaan didokumentasikan dlm bentuk KKP
Fungsi KKP (Pasal 9 huruf a PMK-17/PMK.03/2013)
Bukti bahwa Pemeriksaan tlh dilaksanakan sesuai standar pelaksanaan
Pemeriksaan
Bahan dlm melakukan PAHP dgn WP mengenai temuan hasil Pemeriksaan
Dasar pembuatan LHP
Sumber data atau informasi bagi penyelesaian keberatan atau banding yg
diajukan oleh WP
Referensi utk Pemeriksaan berikutnya
Standar Pelaporan Hasil Pemeriksaan
1. LHP disusun scr ringkas dan jelas, memuat: (Pasal 6 huruf a PER-23/PJ/2013)
a. Ruang lingkup dan pos-pos yg diperiksa sesuai dgn tujuan Pemeriksaan,
b. Simpulan Pemeriksa Pajak yg didukung temuan yg kuat ttg ada atau tdk adanya
penyimpangan thd perpu perpajakan
c. Pengungkapan informasi lain yg terkait dgn Pemeriksaan

B223

2.

3.
4.

c.

LHP utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan sekurang-kurangnya


memuat: (Pasal 10 huruf b PMK-17/PMK.03/2013)
a. Penugasan Pemeriksaan
b. Identitas WP
c. Pembukuan atau pencatatan WP
d. Pemenuhan kewajiban perpajakan
e. Data/informasi yg tersedia
f. Buku dan dokumen yg dipinjam
g. Materi yg diperiksa
h. Uraian hasil Pemeriksaan
i. Ikhtisar hasil Pemeriksaan
j. Penghitungan pajak terutang
k. Simpulan dan usul Pemeriksa Pajak
LHP disusun dan ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak (Pasal 6 huruf c
PER-23/PJ/2013)
LHP ditandatangani oleh Kepala UP2 utk mengetahui apakah:
Pos-pos yg diperiksa tlh sesuai dgn Rencana Pemeriksaan dan perubahannya
Dasar hukum koreksi tlh sesuai dgn ketentuan perpu perpajakan.
(Pasal 6 huruf d PER-23/PJ/2013)

Kewajiban & Kewenangan Pemeriksa Pajak:


1. Kewajiban Pemeriksa Pajak (Pasal 11 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan kpd WP (dlm hal
Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Lapangan) atau Surat Panggilan Dlm
Rangka Pemeriksaan Kantor (dlm hal Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan
Kantor)
b. Memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak & SP2 kpd WP pd waktu melakukan
Pemeriksaan
c. Memperlihatkan surat yg berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak kpd WP apabila susunan
keanggotaan tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan
d. Melakukan pertemuan dgn WP
utk memberikan penjelasan mengenai:
1. Alasan dan tujuan Pemeriksaan
2. Hak dan kewajiban WP selama dan stl pelaksanaan Pemeriksaan
3. Hak WP mengajukan permohonan utk dilakukan pembahasan dgn Tim Quality
Assurance (QA) Pemeriksaan dlm hal terdapat hasil Pemeriksaan yg blm disepakati
antara Pemeriksa Pajak dgn WP pd saat PAHP
4. Kewajiban dari WP utk memenuhi permintaan buku, catatan, dan/atau dokumen yg
menjadi dasar pembukuan / pencatatan, dan dokumen lainnya, yg dipinjam dari WP
e. Menuangkan hasil pertemuan dgn WP dlm BA pertemuan dgn WP
f. Menyampaikan SPHP kpd WP
g. Memberikan hak utk hadir kpd WP dlm rangka PAHP pd waktu yg tlh ditentukan
h. Menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan kpd WP
i. Melakukan pembinaan kpd WP dlm memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dgn
ketentuan perpu perpajakan dgn menyampaikan saran scr tertulis
j. Mengembalikan buku, catatan, dan/atau dokumen yg menjadi dasar pembukuan /
pencatatan, dan dokumen lainnya yg dipinjam dari WP
k. Merahasiakan kpd pihak lain yg tdk berhak atas segala sesuatu yg diketahui atau
diberitahukan kpd-nya oleh WP dlm rangka Pemeriksaan
2. Kewenangan Pemeriksa Pajak
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
Pemeriksa Pajak berwenang:
Pemeriksa Pajak berwenang:
a. Melihat dan/atau meminjam buku, catatan,
a. Memanggil WP utk datang ke
dan/atau dokumen yg menjadi dasar
kantor DJP dgn menggunakan
pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lain
Surat Panggilan Dlm Rangka
yg berhubungan dgn penghasilan yg diperoleh,
Pemeriksaan Kantor
kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau
b. Melihat dan/atau meminjam
objek yg terutang pajak
buku, catatan, dan/atau

B224

b.

Mengakses dan/atau mengunduh data yg


dikelola scr elektronik
c. Memasuki dan memeriksa tempat atau ruang,
barang bergerak dan/atau tdk bergerak yg
diduga atau patut diduga digunakan utk
menyimpan buku atau catatan, dokumen yg
menjadi dasar pembukuan atau pencatatan,
dokumen lain, uang dan/atau barang yg dpt
memberi petunjuk ttg penghasilan yg diperoleh,
kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau
objek yg terutang pajak;
d. Meminta kpd WP utk memberi bantuan guna
kelancaran Pemeriksaan, a.l. berupa:
1. Menyediakan tenaga dan/atau peralatan
atas biaya WP apabila dlm mengakses data
yg dikelola scr elektronik memerlukan
peralatan dan/atau keahlian khusus
2. Memberikan bantuan kpd Pemeriksa Pajak
utk membuka barang bergerak dan/atau tdk
bergerak
3. Menyediakan ruangan khusus tempat
dilakukannya Pemeriksaan Lapangan dlm
hal Pemeriksaan dilakukan di tempat WP
e. Melakukan Penyegelan tempat atau ruang
tertentu serta barang bergerak dan/atau tdk
bergerak
f. Meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari
WP
g. Meminta keterangan dan/atau bukti yg
diperlukan dari pihak ketiga yg mempunyai
hubungan dgn WP yg diperiksa melalui kepala
unit pelaksana Pemeriksaan
(Pasal 12 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

dokumen yg menjadi dasar


pembukuan atau pencatatan,
dan dokumen lain termasuk data
yg dikelola scr elektronik, yg
berhubungan dgn penghasilan
yg diperoleh, kegiatan usaha,
pekerjaan bebas WP, atau objek
yg terutang pajak
c. Meminta kpd WP utk memberi
bantuan guna kelancaran
Pemeriksaan
d. Meminta keterangan lisan
dan/atau tertulis dari WP
e. Meminjam KKP yg dibuat oleh
akuntan publik melalui WP
f. Meminta keterangan dan/atau
bukti yg diperlukan dari pihak
ketiga yg mempunyai hubungan
dgn WP yg diperiksa melalui
kepala UP2
(Pasal 12 ayat
(2) PMK-17/PMK.03/2013)

d. Hak & Kewajiban WP:


1. Hak WP dlm Pemeriksaan (Pasal 13 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak &
SP2
b. Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memberikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan dlm hal Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Lapangan
c. Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memperlihatkan surat yg berisi perubahan tim
Pemeriksa Pajak apabila susunan keanggotaan tim Pemeriksa Pajak mengalami
perubahan
d. Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memberikan penjelasan ttg alasan & tujuan
Pemeriksaan
e. Menerima SPHP
f. Menghadiri PAHP pd waktu yg tlh ditentukan;
g. mengajukan permohonan utk dilakukan pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan, dlm hal
masih terdapat hasil Pemeriksaan yg blm disepakati antara Pemeriksa Pajak dgn WP pd
saat PAHP
h. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian Kuesioner Pemeriksaan
2. Kewajiban WP dlm Pemeriksaan (Pasal 14 PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
WP wajib:
WP wajib:
a. Memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku,
a. Memenuhi panggilan utk datang
catatan, dan/atau dokumen yg menjadi dasar
menghadiri Pemeriksaan sesuai
pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lain
dgn waktu yg ditentukan

B225

yg berhubungan dgn penghasilan yg diperoleh,


kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau
objek yg terutang pajak
b. Memberikan kesempatan utk mengakses
dan/atau mengunduh data yg dikelola scr
elektronik
c. Memberikan kesempatan utk memasuki dan
memeriksa tempat atau ruang, barang bergerak
dan/atau tdk bergerak yg diduga atau patut
diduga digunakan utk menyimpan buku atau
catatan, dokumen yg menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan, dokumen lain,
uang, dan/atau barang yg dpt memberi petunjuk
ttng penghasilan yg diperoleh, kegiatan usaha,
pekerjaan bebas WP, atau objek yg terutang
pajak serta meminjamkannya kpd Pemeriksa
Pajak
d. Memberi bantuan guna kelancaran
Pemeriksaan, yg dpt berupa:
1. Menyediakan tenaga dan/atau peralatan
atas biaya WP apabila dlm mengakses data
yg dikelola scr elektronik memerlukan
peralatan dan/atau keahlian khusus
2. Memberikan bantuan kpd Pemeriksa Pajak
utk membuka barang bergerak dan/atau tdk
bergerak
3. Menyediakan ruangan khusus tempat
dilakukannya Pemeriksaan Lapangan dlm
hal Pemeriksaan dilakukan di tempat WP;
e. Menyampaikan tanggapan scr tertulis atas
SPHP
f. Memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis
yg diperlukan.
(Pasal 14 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
e.

b. Memperlihatkan dan/atau
meminjamkan buku, catatan,
dan/atau dokumen yg menjadi
dasar pembukuan atau
pencatatan, dan dokumen lain
termasuk data yg dikelola scr
elektronik, yg berhubungan dgn
penghasilan yg diperoleh,
kegiatan usaha, pekerjaan bebas
WP, atau objek yg terutang pajak
c. Memberi bantuan guna
kelancaran Pemeriksaan
d. Menyampaikan tanggapan scr
tertulis atas SPHP
e. Meminjamkan KKP yg dibuat oleh
akuntan publik
f. Memberikan keterangan lisan
dan/atau tertulis yg diperlukan
(Pasal 14 ayat
(2) PMK-17/PMK.03/2013)

Jangka Waktu Pemeriksaan:


Dilakukan dlm jangka waktu Pemeriksaan yg meliputi: (Pasal 15 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
1. Jangka Waktu Pengujian
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
Jangka waktu pengujiannya paling lama 6
Jangka waktu pengujiannya paling lama 4
bulan, yg dihitung sejak Surat Pemberitahuan
bulan, yg dihitung sejak tanggal WP,
Pemeriksaan Lapangan disampaikan kpd WP, wakil, kuasa dari WP pegawai, atau
wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP
yg tlh dewasa dari WP, s.d. tanggal SPHP
datang memenuhi Surat Panggilan Dlm
disampaikan kpd WP, wakil, kuasa, pegawai,
Rangka Pemeriksaan Kantor s.d. tanggal
atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari
SPHP disampaikan kpd WP, wakil, kuasa,
WP.
pegawai, atau anggota keluarga yg tlh
(Pasal 15 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
dewasa dari WP.
(Pasal 15 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Perpanjangan Jangka Waktu
Perpanjangan Jangka Waktu
Jangka waktu pengujiannya dpt
Jangka waktu pengujiannya dpt
diperpanjang utk jangka waktu paling lama
diperpanjang utk jangka waktu paling
2 bulan. (Pasal 16 ayat
lama 2 bulan. (Pasal 17 ayat
(1) PMK-17/PMK.03/2013)
(1) PMK-17/PMK.03/2013)
Perpanjangan jangka waktu pengujian
Perpanjangan jangka waktu pengujian
dilakukan dlm hal:
dilakukan dlm hal:
1. Pemeriksaan Lapangan diperluas ke
1. Pemeriksaan Kantor diperluas ke
Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau
Masa Pajak, Bagian Thn Pajak,

B226

Thn Pajak lainnya;


Terdapat konfirmasi atau permintaan
data dan/atau keterangan kpda pihak
ketiga;
3. Ruang lingkup Pemeriksaan Lapangan
meliputi slr jenis pajak; dan/atau
4. Berdasarkan pertimbangan kepala
UP2.
(Pasal 16 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
2.

2.

f.

atau Thn Pajak lainnya;


Terdapat konfirmasi atau
permintaan data dan/atau
keterangan kpd pihak ketiga;
3. Ruang lingkup Pemeriksaan
Kantor meliputi slr jenis
pajak; dan/atau
4. Berdasarkan pertimbangan kepala
UP2.
(Pasal 17 ayat (2) PMK-17/PMK.03/
2013)
2.

Jangka waktu pengujian Pemeriksaan


Lapangan dpt diperpanjang utk jangka
waktu paling lama 6 bulan dan dpt
dilakukan paling banyak 3 x s.d. kebutuhan
waktu utk melakukan pengujian apabila
terkait dgn:
1. WP KKKS Migas;
2. WP dlm 1 grup; atau
3. WP yg terindikasi melakukan
transaksi transfer pricing dan/atau
transaksi khusus lain yg berindikasi
adanya rekayasa transaksi keuangan.
(Pasal 16 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemberitahuan Tertulis kpd WP
Dlm hal dilakukan perpanjangan jangka waktu pengujian, baik Pemeriksaan Lapangan
ataupun Pemeriksaan Kantor, kepala UP2 hrs menyampaikan pemberitahuan
perpanjangan jangka waktu pengujian scr tertulis kpd WP.
(Pasal 18 PMK-17/PMK.03/2013)
Penyampaian SPHP kpd WP
Apabila jangka waktu perpanjangan pengujian, baik Pemeriksaan Lapangan
ataupun Pemeriksaan Kantor, tlh berakhir, SPHP hrs disampaikan kpd WP.
(Pasal 19 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal Pemeriksaan dilakukan krn WP mengajukan permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak, jangka waktu pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan hrs memperhatikan jangka waktu penyelesaian permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sesuai Pasal 17B UU KUP.
(Pasal 19 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Jangka waktu PAHP & Pelaporan
Jangka waktu PAHP dan pelaporannya paling lama 2 bulan, yg dihitung sejak tanggal SPHP
disampaikan kpd WP, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota yg tlh dewasa dari WP s.d. tanggal
LHP.
(Pasal 15 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)

Penyelesaian Pemeriksaan:
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor diselesaikan dgn cara: (Pasal 20
PMK-17/PMK.03/2013)
1. Menghentikan Pemeriksaan dgn membuat LHP Sumir; (Pasal 21 PMK-17/PMK.03/2013) atau
Dilakukan dlm hal:
a. WP, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg diperiksa:
Tdk ditemukan dlm jangka waktu 6 bulan sejak tanggal Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan diterbitkan; atau
Tdk memenuhi panggilan Pemeriksaan dlm jangka waktu 4 bulan sejak tanggal Surat
Panggilan Dlm Rangka Pemeriksaan Kantor diterbitkan.
Pemeriksaan yg dihentikan dgn membuat LHP Sumir krn WP tdk ditemukan atau tdk
memenuhi panggilan Pemeriksaan, dpt dilakukan Pemeriksaan kembali apabila
dikemudian hari WP ditemukan. (Pasal 23 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

B227

b.

2.

g.

Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yg ditangguhkan krn ditindaklanjuti dgn


Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka dan Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
tsb:
Tdk dilanjutkan dgn penyidikan krn WP mengungkapkan ketidakbenaran
perbuatannya sesuai Pasal 8 ayat (3) UU KUP
Tdk dilanjutkan dgn penyidikan tetapi diselesaikan dgn menerbitkan SKPKB sesuai
Pasal 13A UU KUP; atau
Dilanjutkan dgn penyidikan tetapi penyidikannya dihentikan krn tdk dilakukan
penuntutan sesuai Pasal 44B UU KUP.
c. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yg ditangguhkan krn ditindaklanjuti dgn
penyidikan sbg tindak lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan scr tertutup dan penyidikan tsb
dihentikan krn memenuhi ketentuan sesuai Pasal 44B UU KUP.
d. Pemeriksaan Ulang tdk mengakibatkan adanya tambahan atas jml pajak yg tlh ditetapkan
dlm skp sebelumnya.
e. Terdapat keadaan tertentu berdasarkan pertimbangan Dirjen Pajak.
Membuat LHP, sbg dasar penerbitan skp dan/atau STP. (Pasal 22 PMK-17/PMK.03/2013)
Dilakukan dlm hal:
a. WP, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg dilakukan
Pemeriksaan sehubungan dgn permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
sesuai Pasal 17B UU KUP:
Tdk ditemukan dlm jangka waktu 6 bulan sejak tanggal Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan diterbitkan; atau
Tdk memenuhi panggilan Pemeriksaan dlm jangka waktu 4 bulan sejak tanggal Surat
Panggilan Daa Rangka Pemeriksaan Kantor diterbitkan.
Pajak terutang atas Pemeriksaan thd WP yg tdk ditemukan atau tdk memenuhi panggilan
Pemeriksaan, ditetapkan scr jabatan. (Pasal 23 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
b. WP, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg dilakukan
Pemeriksaan ditemukan atau memenuhi panggilan Pemeriksaan, dan Pemeriksaan dpt
diselesaikan dlm jangka waktu Pemeriksaan.
c. WP, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg dilakukan
Pemeriksaan ditemukan atau memenuhi panggilan Pemeriksaan, dan pengujian
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan blm dpt diselesaikan s.d.:

Berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan Lapangan; atau

Berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan Kantor.


Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yg pengujiannya blm diselesaikan, hrs
diselesaikan dgn menyampaikan SPHP dlm jangka waktu paling lama 7 hari kerja sejak
berakhirnya perpanjangan jangka waktu pengujian tsb dan melanjutkan tahapan
Pemeriksaan s.d. pembuatan LHP. (Pasal 22 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
d. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yg ditangguhkan krn ditindaklanjuti dgn
Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka dan Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
tsb:
Dihentikan krn WP OP yg dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
meninggal dunia;
Dihentikan krn tdk ditemukan adanya bukti permulaan tindak pidana di bidang
perpajakan;
Dilanjutkan dgn penyidikan namun penyidikannya dihentikan krn memenuhi ketentuan
sesuai Pasal 44A UU KUP; atau
Dilanjutkan dgn penyidikan dan penuntutan serta tlh terdapat Putusan Pengadilan
mengenai tindak pidana di bidang perpajakan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap
dan salinan Putusan Pengadilan tsb tlh diterima oleh Dirjen Pajak.
e. Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor yg ditangguhkan krn ditindaklanjuti dgn
penyidikan sbg tindak lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan scr tertutup dan penyidikan tsb:
Dihentikan krn memenuhi ketentuan sesuai Pasal 44A UU KUP; atau
Dilanjutkan dgn penuntutan serta tlh terdapat Putusan Pengadilan mengenai tindak
pidana di bidang perpajakan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap dan salinan
Putusan Pengadilan tsb tlh diterima oleh Dirjen Pajak.

Tim Pemeriksa Pajak:

B228

Pemeriksaan dilakukan oleh Pemeriksa Pajak yg tergabung dlm suatu tim Pemeriksa Pajak
berdasarkan SP2. (Pasal 24 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
SP2 diterbitkan utk 1 atau bbrp Masa Pajak dlm suatu Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak yg
sama atau utk 1 Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak thd 1 WP. (Pasal 24 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal susunan tim Pemeriksa Pajak diubah, kepala UP2 hrs menerbitkan surat yg berisi
perubahan tim Pemeriksa Pajak. (Pasal 24 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal tim Pemeriksa Pajak dibantu oleh tenaga ahli sesuai Pasal 8 huruf e PMK-17, tenaga
ahli tsb bertugas berdasarkan ST yg diterbitkan oleh Dirjen Pajak. (Pasal 24 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
Tim Pemeriksa Pajak dpt dibantu oleh seorang atau lbh yg memiliki keahlian tertentu, baik
yg berasal dari DJP, maupun yg berasal dari instansi di luar DJP yg tlh ditunjuk oleh Dirjen
Pajak, sbg tenaga ahli seperti penerjemah bahasa, ahli di bidang TI, dan pengacara. (Pasal
8 huruf e PMK-17/PMK.03/2013)

h. Pemberitahuan, Panggilan, dan Pertemuan dgn WP:


1. Pemberitahuan Kpd WP
Pemeriksaan Lapangan
Pemberitahuan
Pemeriksa Pajak wajib memberitahukan kpd
WP mengenai dilakukannya Pemeriksaan Lapangan
dgn menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan. (Pasal 25 ayat
(1) PMK-17/PMK.03/2013)

Cara Penyampaian Pemberitahuan


Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan dpt
disampaikan:
1. Scr lsg kpd WP pd saat dimulainya Pemeriksaan
Lapangan,
a. Dlm hal disampaikan scr lsg dan WP tdk
berada di tempat, dpt disampaikan kpd:
Wakil atau kuasa dari WP; atau
Pihak yg dpt mewakili WP, yaitu:
Pegawai dari WP yg mnr Pemeriksa
Pajak dpt mewakili WP, dlm hal
Pemeriksaan dilakukan thd
WP badan;
Anggota keluarga yg tlh dewasa dari
WP yg mnr Pemeriksa Pajak dpt
mewakili WP, dlm hal Pemeriksaan
dilakukan thd WP OP; atau
Pihak lain yg dpt mewakili WP.
(Pasal 26 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
b. Dlm hal wakil atau kuasa dari WP atau pihak
yg dpt mewakili WP tdk dpt ditemui,
disampaikan melalui pos dgn bukti
pengiriman surat, atau jasa pengiriman
lainnya dgn bukti pengiriman dan Surat
Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
dianggap tlh disampaikan dan Pemeriksaan
Lapangan tlh dimulai. (Pasal 26 ayat
(3) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Melalui faksimili,
3. Pos dgn bukti pengiriman surat, atau
4. Jasa pengiriman lainnya dgn bukti pengiriman.

B229

Pemeriksaan Kantor
Pemberitahuan
Pemeriksa Pajak wajib
memberitahukan kpd WP
mengenai dilakukannya
Pemeriksaan Kantor dgn
menyampaikan Surat Panggilan
Dlm Rangka Pemeriksaan
Kantor. (Pasal 25 ayat
(2) PMK-17/PMK.03/2013)
Cara Penyampaian
Pemberitahuan
Surat Panggilan Dlm Rangka
Pemeriksaan Kantor disampaikan
melalui:
1. Faksimili,
2. Pos dgn bukti pengiriman
surat, atau
3. Jasa pengiriman lainnya dgn
bukti pengiriman.
(Pasal
26 ayat
(4) PMK-17/PMK.03/2013)

2.

(Pasal 26 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)


Pertemuan dgn WP
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
Pertemuan dgn WP
Dlm pelaksanaan Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan,
Pemeriksa Pajak wajib melakukan pertemuan dgn WP, wakil, atau kuasa dari WP. (Pasal
27 ayat (1) & (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Alur Pertemuan
1. Pertemuan dilakukan stl Pemeriksa Pajak
menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan. (Pasal 27 ayat
(3) PMK-17/PMK.03/2013)

Alur Pertemuan
1. Pertemuan dilakukan pd saat
WP, wakil, atau kuasa dari WP
datang memenuhi Surat
Panggilan Dlm Rangka
Pemeriksaan Kantor. (Pasal
27 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
2. Stl melakukan pertemuan, Pemeriksa Pajak wajib membuat BA hasil pertemuan,
yg ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak dan WP, wakil, atau kuasa dari WP. (Pasal
27 ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)
3. Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak menandatangani BA hasil pertemuan,
Pemeriksa Pajak membuat catatan mengenai penolakan tsb pd BA hasil
pertemuan. (Pasal 27 ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)
4. Dlm hal Pemeriksa Pajak tlh:
a. Menandatangani BA hasil pertemuan, dan
b. Membuat catatan mengenai penolakan penandatanganan BA,
pertemuan dianggap tlh dilaksanakan.
(Pasal 27 ayat (7) PMK-17/PMK.03/2013)
i.

Peminjaman Dokumen:
1. Ketentuan Peminjaman Dokumen berlaku baik utk Pemeriksaan utk menguji
kepatuhan & utk Pemeriksaan utk tujuan lain
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
a. Buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data
a. Daftar buku, catatan, dan/atau
yg dikelola scr elektronik serta keterangan lain yg
dokumen, termasuk data yg
diperlukan dan diperoleh/ditemukan pd saat
dikelola scr elektronik serta
pelaksanaan Pemeriksaan di tempat WP,
keterangan lain yg diperlukan
dipinjam pd saat itu juga dan Pemeriksa Pajak
oleh Pemeriksa Pajak, hrs
membuat bukti peminjaman dan pengembalian
dilampirkan pd Surat
buku, catatan, dan dokumen. (Pasal 28 ayat
Panggilan Dlm Rangka
(1) huruf a PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Kantor. (Pasal
28 ayat (2) huruf a
PMK-17/PMK.03/2013)
b. Dlm hal buku, catatan, dan/atau dokumen,
b. Buku, catatan, dan/atau
termasuk data yg dikelola scr elektronik serta
dokumen, termasuk data yg
keterangan lain yg diperlukan blm ditemukan atau
dikelola scr elektronik serta
diberikan oleh WP pd saat pelaksanaan
keterangan lain, wajib
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak membuat surat
dipinjamkan pd saat
permintaan peminjaman buku, catatan, dan
WP memenuhi panggilan dlm
dokumen yg dilampiri dgn daftar buku, catatan,
rangka Pemeriksaan Kantor
dan/atau dokumen yg wajib dipinjamkan. (Pasal
dan Pemeriksa Pajak
28 ayat (1) huruf b PMK-17/PMK.03/2013)
membuat bukti peminjaman
dan pengembalian buku,
catatan, dan dokumen. (Pasal
28 ayat (2) huruf
b PMK-17/PMK.03/2013)
c. Dlm hal utk mengakses dan/atau mengunduh
c. Dlm hal buku, catatan,
data yg dikelola scr elektronik diperlukan
dan/atau dokumen, termasuk

B2210

peralatan dan/atau keahlian khusus, Pemeriksa


Pajak dpt meminta bantuan kpd:
WP utk menyediakan tenaga dan/atau
peralatan atas biaya WP; atau
Seorang atau lbh yg memiliki keahlian
tertentu, baik yg berasal dari DJP maupun yg
berasal dari luar DJP.
(Pasal 28 ayat (1) huruf
c PMK-17/PMK.03/2013)
2.

3.

4.

5.

data yg dikelola scr elektronik


serta keterangan lain yg
diperlukan blm tercantum dlm
lampiran Surat Panggilan Dlm
Rangka Pemeriksaan Kantor,
Pemeriksa Pajak membuat
surat permintaan peminjaman
buku, catatan, dan
dokumen. (Pasal 28 ayat (2)
huruf c
PMK-17/PMK.03/2013)

Kondisi Tertentu atas Dokumen


Dokumen Berupa Fotokopi/Data yg Dikelola Scr Elektronik:
Dlm hal yg dipinjam berupa fotokopi dan/atau berupa data yg dikelola scr elektronik, WP yg
diperiksa hrs membuat surat pernyataan bahwa fotokopi dan/atau data yg dikelola scr
elektronik yg dipinjamkan kpd Pemeriksa Pajak adalah sesuai dgn aslinya. (Pasal 28 ayat
(5) PMK-17/PMK.03/2013)
Dokumen Tdk Dimiliki atau Tdk Dikuasai WP:
Dlm hal yg diminta oleh Pemeriksa Pajak tdk dimiliki atau tdk dikuasai oleh WP, WP hrs
membuat surat pernyataan yg menyatakan bahwa buku, catatan, dan/atau dokumen,
termasuk data yg dikelola scr elektronik serta keterangan lain yg diminta oleh Pemeriksa
Pajak tdk dimiliki atau tdk dikuasai oleh WP. (Pasal 29 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Dokumen Perlu Dilindungi Kerahasiaannya:
Dlm hal perlu dilindungi kerahasiaannya, WP dpt mengajukan permintaan agar
pelaksanaan Pemeriksaan dpt dilakukan di tempat WP dgn menyediakan ruangan
khusus. (Pasal 29 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Bukti Penyerahan Dokumen
Setiap penyerahan buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yg dikelola scr
elektronik serta keterangan lain dari WP, Pemeriksa Pajak membuat bukti peminjaman dan
pengembalian buku, catatan, dan dokumen. (Pasal 28 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP tlh meminjamkan seluruh buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yg
dikelola scr elektronik serta keterangan lain yg diminta, Pemeriksa Pajak hrs membuat BA
pemenuhan slr peminjaman buku, catatan dan dokumen. (Pasal 30 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)
Jangka Waktu Penyerahan Dokumen
Buku, catatan, dan/atau dokumen termasuk data yg dikelola scr elektronik serta
keterangan lain wajib diserahkan kpd Pemeriksa Pajak paling lama 1 bulan sejak surat
permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen disampaikan. (Pasal 28 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yg dikelola scr elektronik serta
keterangan lain yg dipinjam blm dipenuhi dan jangka waktu 1 bulan blm terlampaui,
Pemeriksa Pajak dpt menyampaikan peringatan scr tertulis paling banyak 2 x, yaitu:
Surat peringatan I stl 2 minggu sejak tanggal penyampaian surat permintaan
peminjaman buku, catatan, dan dokumen;
Surat peringatan II stl 3 minggu sejak tanggal penyampaian surat permintaan
peminjaman buku, catatan, dan dokumen.
(Pasal 28 ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)
Setiap surat peringatan yg disampaikan hrs dilampiri dgn daftar buku, catatan, dan
dokumen yg blm dipinjamkan dlm rangka Pemeriksaan. (Pasal 28 ayat (7)
PMK-17/PMK.03/2013)
Apabila jangka waktu 1 bulan terlampaui dan WP tdk atau tdk sepenuhnya meminjamkan
buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yg dikelola scr elektronik serta
keterangan lain yg diminta, Pemeriksa Pajak hrs membuat BA tdk dipenuhinya permintaan
peminjaman buku, catatan, dan dokumen yg dilampiri dgn rincian daftar buku, catatan, dan
dokumen yg wajib dipinjamkan namun blm diserahkan oleh WP. (Pasal 30 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Pengujian Besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) (Pasal 31 PMK-17/PMK.03/2013)

B2211

Dlm hal WP tdk atau tdk sepenuhnya meminjamkan buku, catatan, dan/atau dokumen,
termasuk data yg dikelola scr elektronik serta keterangan lain yg diminta berdasarkan BA tdk
dipenuhinya permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen, Pemeriksa Pajak hrs
menentukan dpt atau tdk-nya melakukan pengujian dlm rangka menghitung besarnya PKP
berdasarkan bukti kompeten yg cukup sesuai standar pelaksanaan Pemeriksaan.
a. PKP Dihitung Scr Jabatan apabila:
Pemeriksaan dilakukan thd WP OP yg menjalankan usaha / pekerjaan bebas atau WP
badan, dan
Pemeriksa Pajak tdk dpt melakukan pengujian dlm rangka menghitung besarnya PKP.
b. PKP Tdk Dihitung Scr Jabatan
Dlm hal PKP tdk dihitung scr jabatan, Pemeriksa Pajak dpt meminjam tambahan buku,
catatan, dan/atau dokumen serta keterangan lain selain yg sdh dipinjam.
j.

Penyegelan:
1. Tujuan Penyegelan
Pemeriksa Pajak berwenang melakukan Penyegelan utk memperoleh atau mengamankan
buku, catatan, dan/atau dokumen, termasuk data yg dikelola scr elektronik, dan benda-benda
lain yg dpt memberi petunjuk ttg kegiatan usaha / pekerjaan bebas WP yg diperiksa agar tdk
dipindahkan, dihilangkan, dimusnahkan, diubah, dirusak, ditukar, atau dipalsukan. (Pasal 32
ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Syarat Penyegelan (Pasal 32 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Penyegelan dilakukan apabila pd saat pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan, WP, wakil, atau
kuasa dari WP yg diperiksa:
a. Tdk memberi kesempatan kpd Pemeriksa Pajak utk memasuki tempat atau ruang serta
memeriksa barang bergerak dan/atau tdk bergerak, yg diduga atau patut diduga digunakan
utk menyimpan buku atau catatan, dan/atau dokumen, termasuk hasil pengolahan data
dari pembukuan yg dikelola scr elektronik atau scr program aplikasi on-line yg dpt memberi
petunjuk ttg kegiatan usaha / pekerjaan bebas WP;
b. Menolak memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan yg a.l. berupa tdk memberi
kesempatan kpd Pemeriksa Pajak utk mengakses data yg dikelola scr elektronik atau
membuka barang bergerak dan/atau tdk bergerak;
c. Tdk berada di tempat dan tdk ada pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari
WP yg mempunyai kewenangan utk bertindak selaku pihak yg mewakili WP, shg
diperlukan upaya pengamanan Pemeriksaan sbl Pemeriksaan ditunda; atau
d. Tdk berada di tempat dan pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg
mempunyai kewenangan utk bertindak selaku pihak yg mewakili WP menolak memberi
bantuan guna kelancaran Pemeriksaan.
3. Tata Cara Penyegelan (Pasal 33 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Penyegelan dilakukan dgn menggunakan tanda segel.
b. Penyegelan dilakukan oleh Pemeriksa Pajak dgn disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2
orang yg tlh dewasa selain anggota tim Pemeriksa Pajak.
Dlm hal saksi menolak menandatangani BA Penyegelan, Pemeriksa Pajak membuat
catatan ttg penolakan tsb dlm BA Penyegelan.
c. Dlm melakukan Penyegelan, Pemeriksa Pajak wajib membuat berita acara Penyegelan.
BA Penyegelan dibuat dan ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak dgn disaksikan oleh
sekurang-kurangnya 2 yg tlh dewasa selain anggota tim Pemeriksa Pajak. (Pasal
33 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
BA dibuat 2 rangkap dan rangkap ke-2 diserahkan kpd WP, wakil, kuasa, pegawai,
atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP yg diperiksa. (Pasal 33 ayat (5)
PMK-17/PMK.03/2013)
d. Dlm melaksanakan Penyegelan, Pemeriksa Pajak dpt meminta bantuan Kepolisian
Negara RI dan/atau pemda setempat.
4. Pembukaan Segel (Pasal 34 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Pembukaan segel dilakukan apabila:
WP, wakil, kuasa, atau pihak yg dpt mewakili WP tlh memberi izin kpd Pemeriksa
Pajak utk membuka atau memasuki tempat atau ruangan, barang bergerak atau tdk
bergerak yg disegel, dan/atau tlh memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan;

B2212

5.

k.

Berdasarkan pertimbangan Pemeriksa Pajak, Penyegelan tdk diperlukan lagi;


dan/atau
Terdapat permintaan dari penyidik yg sedang melakukan penyidikan tindak pidana.
b. Pembukaan segel hrs dilakukan oleh Pemeriksa Pajak dgn disaksikan oleh
sekurang-kurangnya 2 orang yg tlh dewasa selain anggota tim Pemeriksa Pajak.
c. Dlm keadaan tertentu, pembukaan segel dpt dibantu oleh:
Kepolisian Negara RI, dan/atau
Pemda setempat.
d. Dlm hal tanda segel yg digunakan utk melakukan Penyegelan rusak atau hilang,
Pemeriksa Pajak hrs:
Membuat BA mengenai kerusakan atau kehilangan, dan
Melaporkannya kpd Kepolisian Negara RI.
e. Dlm melakukan pembukaan segel, Pemeriksa Pajak membuat BA pembukaan segel yg
ditandatangani oleh Pemeriksa Pajak & saksi.
Dlm hal saksi menolak menandatangani BA, Pemeriksa Pajak membuat catatan ttg
penolakan tsb dlm BA pembukaan segel.
f. BA pembukaan segel dibuat 2 rangkap dan rangkap ke-2 diserahkan kpd WP, wakil,
kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP.
WP Tetap Tdk Memberikan Izin/Bantuan (Pasal 35 PMK-17/PMK.03/2013)
Apabila dlm jangka waktu 7 hari stl tanggal Penyegelan atau jangka waktu lain dgn
mempertimbangkan tujuan Penyegelan, WP, wakil, atau kuasa dari WP tetap tdk memberi izin
kpd Pemeriksa Pajak utk membuka atau memasuki tempat atau ruangan, barang bergerak
atau tdk bergerak yg disegel, dan/atau tdk memberikan bantuan guna kelancaran
Pemeriksaan, WP dianggap menolak dilakukan Pemeriksaan. (Pasal 35 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP dianggap menolak dilakukan Pemeriksaan, WP, wakil, atau kuasa dari
WP wajib menandatangani surat pernyataan penolakan Pemeriksaan.
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak menandatangani surat pernyataan
penolakan, Pemeriksa Pajak membuat dan menandatangani BA mengenai penolakan tsb.

Penolakan Pemeriksaan:
Pemeriksaan Lapangan
WP Menyatakan Menolak Utk Dilakukan
Pemeriksaan
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP yg dilakukan
Pemeriksaan Lapangan utk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan menyatakan menolak
utk dilakukan Pemeriksaan termasuk menolak menerima
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan, WP,
wakil, atau kuasa dari WP hrs menandatangani surat
pernyataan penolakan Pemeriksaan. (Pasal 36 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak
menandatangani surat pernyataan penolakan
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak membuat BA penolakan
Pemeriksaan yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa
Pajak. (Pasal 36 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

B2213

Pemeriksaan Kantor
WP Menyatakan Menolak Utk
Dilakukan Pemeriksaan
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari
WP memenuhi Surat Panggilan
Dlm Rangka Pemeriksaan Kantor
namun menyatakan menolak utk
dilakukan Pemeriksaan, WP, wakil,
atau kuasa dari WP hrs
menandatangani surat pernyataan
penolakan Pemeriksaan. (Pasal 37
ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa
dari WP menolak menandatangani
surat pernyataan penolakan
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
membuat BA penolakan
Pemeriksaan yg ditandatangani
oleh tim Pemeriksa Pajak. (Pasal
37 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
BA Tdk Dipenuhinya Panggilan
Pemeriksaan
Apabila:
Dlm jangka waktu paling lama
1 bulan sejak Surat Panggilan
Dlm Rangka Pemeriksaan
Kantor disampaikan kpd WP,

Surat panggilan tsb tdk


dikembalikan oleh pos atau
jasa pengiriman lainnya, dan
WP tdk memenuhi panggilan
Pemeriksaan Kantor,
Pemeriksa Pajak membuat BA tdk
dipenuhinya panggilan
Pemeriksaan oleh WP yg
ditandatangani oleh tim Pemeriksa
Pajak. (Pasal 37 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
WP/Wakil/Kuasa dari WP Tdk Di Tempat
(Pasal 36 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP tdk ada di tempat
maka:
1. Pemeriksaan tetap dpt dilakukan sepanjang
terdapat pegawai atau anggota keluarga yg tlh
dewasa dari WP yg dpt dan mempunyai
kewenangan utk mewakili WP, terbatas utk hal yg
berada dlm kewenangannya; atau
2. Pemeriksaan ditunda utk dilanjutkan pd kesempatan
berikutnya.
Penyegelan
Utk keperluan pengamanan Pemeriksaan, sbl
dilakukan penundaan, Pemeriksa Pajak dpt
melakukan Penyegelan. (Pasal 36 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
WP Tetap Tdk Di Tempat/Tdk Memberi Izin
Apabila stl dilakukan Penyegelan dlm jangka
waktu 7 hari atau jangka waktu lain dgn
mempertimbangkan tujuan Penyegelan, WP,
wakil, atau kuasa dari WP tetap tdk berada di
tempat dan/atau tdk memberi izin kpd
Pemeriksa Pajak utk membuka atau memasuki
tempat atau ruangan, barang bergerak atau tdk
bergerak, dan/atau tdk memberikan bantuan
guna kelancaran Pemeriksaan, Pemeriksa
Pajak meminta pegawai atau anggota keluarga
yg tlh dewasa dari WP membantu kelancaran
Pemeriksaan. (Pasal 36 ayat (5)
PMK-17/PMK.03/2013)
Pegawai/Anggota Keluarga WP Menolak
Membantu Kelancaran Pemeriksaan
Dlm hal menolak membantu kelancaran
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak meminta
pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa
dari WP utk menandatangani surat penolakan
membantu kelancaran Pemeriksaan. (Pasal 36
ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)
Pegawai/Anggota Keluarga WP Menolak
Menandatangani Surat Penolakan Membantu
Kelancaran Pemeriksaan
Dlm hal menolak utk menandatangani surat
penolakan membantu kelancaran Pemeriksaan,
Pemeriksa Pajak membuat BA penolakan
membantu kelancaran Pemeriksaan yg
ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
(Pasal 36 ayat (7) PMK-17/PMK.03/2013)

B2214

Pemeriksa Pajak berdasarkan:


Surat pernyataan penolakan Pemeriksaan,
BA penolakan Pemeriksaan,
BA tdk dipenuhinya panggilan Pemeriksaan,
Surat penolakan membantu kelancaran Pemeriksaan,
BA penolakan membantu kelancaran Pemeriksaan
dpt melakukan penetapan pajak scr jabatan atau mengusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
(Pasal 38 PMK-17/PMK.03/2013)
l.

Penjelasan WP dan Permintaan Keterangan Kpd Pihak Ketiga: berlaku baik utk
Pemeriksaan utk menguji kepatuhan & utk Pemeriksaan utk tujuan lain
1. Penjelasan WP
Utk memperoleh penjelasan yg lbh rinci, Pemeriksa Pajak melalui kepala UP2 dpt
memanggil WP, wakil, kuasa dari WP, pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari
WP melalui penyampaian surat panggilan. (Pasal 39 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Lapangan, penjelasan yg lebih rinci
dpt dilakukan pd saat pelaksanaan Pemeriksaan di tempat WP. (Pasal 39 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)
Penjelasan yg lebih rinci yg diberikan kpd Pemeriksa Pajak dituangkan dlm BA mengenai
pemberian penjelasan WP yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan WP, wakil,
kuasa dari WP, pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP. (Pasal 39 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP, wakil, kuasa dari WP, pegawai atau anggota keluarga yg tlh dewasa dari WP
menolak menandatangani BA tsb, Pemeriksa Pajak membuat catatan penolakan tsb dlm
BA dimaksud. (Pasal 39 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Permintaan Keterangan
Pemeriksa Pajak melalui kepala UP2, dpt meminta keterangan dan/atau bukti kpd pihak ketiga
sesuai Pasal 35 UU KUP scr tertulis sesuai dgn PMK yg mengatur mengenai tata cara
permintaan keterangan kpd pihak ketiga. (Pasal 40 PMK-17/PMK.03/2013)
PMK yg mengatur mengenai tata cara permintaan keterangan kpd pihak ketiga adalah
PMK-87/PMK.03/2013 ttg Tata Cara Permintaan Keterangan atau Bukti dari Pihak-Pihak yg
Terikat oleh Kewajiban Merahasiakan.

m. Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan dan PAHP:


1. Penyampaian SPHP
Hasil Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan hrs
diberitahukan kpd WP melalui penyampaian SPHP yg dilampiri dgn daftar temuan hasil
Pemeriksaan. (Pasal 41 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Cara Penyampaian SPHP
a. Scr Lsg
Jika SPHP disampaikan scr lsg dan WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak utk menerima
SPHP, WP, wakil, atau kuasa dari WP hrs menandatangani surat penolakan menerima
SPHP. (Pasal 41 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika menolak menandatangani surat penolakan menerima SPHP, Pemeriksa Pajak
membuat BA penolakan menerima SPHP yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
(Pasal 41 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
b. Melalui Faksimili
3. Tanggapan Tertulis atas SPHP
a. Bentuk Tanggapan Tertulis (Pasal 42 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
WP wajib memberikan tanggapan tertulis atas SPHP dan daftar temuan hasil Pemeriksaan
dlm bentuk:
Lembar pernyataan persetujuan hasil pemeriksaan jika WP menyetujui slr hasil
Pemeriksaan; atau
Surat sanggahan jika WP tdk menyetujui sebagian atau slr hasil Pemeriksaan.
Tanggapan tertulis disampaikan oleh WP scr lsg atau melalui faksimili.
b. Jangka Waktu Penyampaian Tanggapan (Pasal 42 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Tanggapan tertulis atas SPHP hrs disampaikan dlm jangka waktu paling lama 7 hari kerja
sejak tanggal diterimanya SPHP oleh WP.

B2215

c.

4.

5.

Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian Tanggapan (Pasal 42 ayat (3)


PMK-17/PMK.03/2013)
WP dpt melakukan perpanjangan jangka waktu penyampaian tanggapan tertulis utk jangka
waktu paling lama 3 hari kerja terhitung sejak jangka waktu pd Pasal 42 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013 berakhir. Pemberitahuan tertulis disampaikan oleh WP scr
langsung atau melalui faksimili.
d. WP Tdk Menyampaikan Tanggapan (Pasal 42 ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP tdk menyampaikan tanggapan tertulis atas SPHP, Pemeriksa Pajak membuat BA
tdk disampaikannya tanggapan tertulis atas SPHP yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa
Pajak.
Hak Hadir WP dlm PAHP
Dlm rangka melaksanakan PAHP yg tercantum dlm SPHP dan daftar temuan hasil
Pemeriksaan, kpd WP hrs diberikan hak hadir dlm PAHP. (Pasal 43 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
a. Isi Undangan (Pasal 43 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Hak hadir dlm PAHP diberikan melalui penyampaian undangan scr tertulis kpd WP dgn
mencantumkan hari dan tanggal dilaksanakannya PAHP.
b. Jangka Waktu Penyampaian Undangan (Pasal 43 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Undangan hrs disampaikan kpd WP dlm jangka waktu paling lama 3 hari kerja terhitung
sejak:
Diterimanya tanggapan tertulis atas SPHP dari WP sesuai jangka waktu dlm Pasal 42
ayat (2) atau ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013; atau
Berakhirnya jangka waktu dlm Pasal 42 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013 (jika WP tdk
menyampaikan tanggapan tertulis atas SPHP)
c. Cara Penyampaian Undangan (Pasal 43 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Undangan dpt disampaikan oleh Pemeriksa Pajak scr langsung atau melalui faksimili.
Kondisi-Kondisi WP
Kondisi WP
Yg Dilakukan Pemeriksaan
Jika WP, wakil, atau kuasa dari
Pemeriksa Pajak membuat:
WP:
Risalah pembahasan dgn mendasarkan pd
lembar pernyataan persetujuan hasil
Menyampaikan lembar
pernyataan persetujuan hasil
Pemeriksaan, dan
Pemeriksaan dlm jangka
Membuat BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
waktu dlm sesuai Pasal 42
pembahasan akhir, yg ditandatangani oleh tim
ayat (2) atau ayat (3)
Pemeriksa Pajak dan WP, wakil, atau kuasa dari
PMK-17/PMK.03/2013; dan
WP.
(Pasal 44 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Hadir dlm PAHP sesuai dgn
hari dan tanggal yg tercantum
dlm undangan tertulis.
Jika WP, wakil, atau kuasa dari
Pemeriksa Pajak membuat:
WP:
Risalah pembahasan berdasarkan lembar
Menyampaikan lembar
pernyataan persetujuan hasil Pemeriksaan,
pernyataan persetujuan hasil
BA ketidakhadiran WP dlm PAHP, dan
Pemeriksaan dlm jangka
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
waktu sesuai Pasal 42 ayat (2)
pembahasan akhir,
atau ayat (3)
yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
PMK-17/PMK.03/2013; dan
(Pasal 44 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Tdk hadir dlm PAHP sesuai
dgn hari dan tanggal yg
tercantum dlm undangan
tertulis.
Jika WP, wakil, atau kuasa dari
Pemeriksa Pajak hrs:
WP:
Melakukan PAHP dgn WP dgn mendasarkan pd

Menyampaikan surat
surat sanggahan, dan
sanggahan dlm jangka waktu
Menuangkan hasil pembahasan tsb dlm risalah
sesuai Pasal 42 ayat (2) atau
pembahasan,
ayat (3)
yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan
PMK-17/PMK.03/2013; dan
WP, wakil, atau kuasa dari WP.

B2216

(Pasal 44 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)

Hadir dlm PAHP sesuai


undangan.

Jika WP, wakil, atau kuasa dari


WP:

Menyampaikan surat
sanggahan dlm jangka waktu
sesuai Pasal 42 ayat (2) atau
ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013; dan

Tdk hadir dlm PAHP sesuai


dgn hari dan tanggal yg
tercantum dlm undangan.
Jika WP, wakil, atau kuasa dari
WP:
Tdk menyampaikan
tanggapan tertulis atas SPHP
dlm jangka waktu sesuai Pasal
42 ayat (2) atau ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013; dan
Hadir dlm PAHP sesuai
undangan.

Jika WP, wakil, atau kuasa dari


WP:

Pemeriksa Pajak membuat:


BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
pembahasan akhir stl pembahasan dgn Tim QA
Pemeriksaan dilaksanakan (jika ada hasil
Pemeriksaan yg blm disepakati dlm risalah
pembahasan) (Pasal 45 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013),
Jika WP tdk mengajukan permohonan
pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan, BA PAHP
yg dilampiri dgn ihtisar hasil pembahasan akhir
dibuat berdasarkan risalah pembahasan. (Pasal 45
ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Catatan mengenai penolakan penandatanganan
(jika WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak
menandatangani risalah pembahasan, dan/atau
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
pembahasan akhir). (Pasal 45 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksa Pajak membuat:
Risalah pembahasan berdasarkan surat
sanggahan,
BA ketidakhadiran WP dlm PAHP, dan
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
pembahasan akhir,
Yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
(Pasal 44 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)

Pemeriksa Pajak tetap:


Melakukan PAHP dgn WP, dan
Menuangkan hasil pembahasan tsb dlm risalah
pembahasan,
yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan
WP, wakil, atau kuasa dari WP.
(Pasal 44 ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksa Pajak membuat:
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
pembahasan akhir stl pembahasan dgn Tim QA
Pemeriksaan dilaksanakan (jika ada hasil
Pemeriksaan yg blm disepakati dlm risalah
pembahasan) (Pasal 45 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013),
Jika WP tdk mengajukan permohonan
pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan, BA
PAHP yg dilampiri dgn ihtisar hasil pembahasan
akhir dibuat berdasarkan risalah pembahasan.
(Pasal 45 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Catatan mengenai penolakan penandatanganan
(jika WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak
menandatangani risalah pembahasan, dan/atau
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
pembahasan akhir). (Pasal 45 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksa Pajak membuat:
Risalah pembahasan berdasarkan SPHP,

B2217

Tdk menyampaikan
BA ketidakhadiran WP dlm PAHP, dan
tanggapan tertulis atas SPHP
BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil
dlm jangka waktu sesuai Pasal
pembahasan akhir,
42 ayat (2) atau ayat (3)
yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
PMK-17/PMK.03/2013; dan
(Pasal 44 ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)

Tdk hadir dlm PAHP sesuai


dgn hari dan tanggal yg
tercantum dlm undangan.
6. Ketidakhadiran WP
Jika WP tdk hadir dlm PAHP pd hari dan tanggal sesuai undangan, PAHP dianggap tlh
dilakukan. (Pasal 46 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika PAHP dianggap tlh dilakukan, BA PAHP yg dilampiri dgn ihtisar hasil pembahasan
akhir ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak. (Pasal 46 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
7. Permohonan Pembahasan dgn Tim QA
a. Tujuan Surat Permohonan (Pasal 47 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP mengajukan permohonan pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan, WP
menyampaikan surat permohonan kpd:

Kepala Kanwil DJP, jika Pemeriksaan dilakukan oleh Pemeriksa Pajak pd KPP atau
Kanwil DJP; atau

Direktur Pemeriksaan dan Penagihan, jika Pemeriksaan dilakukan oleh Pemeriksa


Pajak pd Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan.
b. Syarat Permohonan Pembahasan dgn Tim QA (Pasal 47 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Permohonan pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan dpt dilakukan apabila:

Risalah pembahasan sesuai Pasal 44 ayat (3) atau ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013
tlh ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak dan WP, wakil, atau kuasa dari WP; dan

BA PAHP sesuai Pasal 45 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013 blm ditandatangani oleh


tim Pemeriksa Pajak dan WP, wakil, atau kuasa dari WP.
c. Cara dan Jangka Waktu Penyampaian Surat Permohonan (Pasal 47 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Surat permohonan pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan hrs disampaikan:

scr lsg, atau

melalui faksimili,
dlm jangka waktu paling lama 3 hari kerja sejak penandatanganan risalah pembahasan
sesuai Pasal 44 ayat (3) atau ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013 dan ditembuskan kpd kepala
UP2.
Berdasarkan surat permohonan pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan, Tim QA
Pemeriksaan hrs menyampaikan undangan kpd WP dan Pemeriksa Pajak utk melakukan
PAHP yg blm disepakati dlm risalah pembahasan. (Pasal 50 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Undangan dpt disampaikan:
scr lsg, atau
melalui faksimili.
(Pasal 50 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
8. Susunan & Pembentukan Tim QA (Pasal 48 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Susunan Tim QA
Terdiri dari 1 orang ketua, 1 orang sekretaris, dan 3 orang anggota.
b. Pembentukan Tim QA
Dibentuk oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP a.n. Dirjen
Pajak.
9. Tugas Tim QA (Pasal 49 PMK-17/PMK.03/2013)
Membahas perbedaan pendapat antara WP dgn Pemeriksa Pajak pd saat PAHP;
Memberikan simpulan dan keputusan atas perbedaan pendapat antara WP dgn Pemeriksa
Pajak; dan
Membuat risalah Tim QA Pemeriksaan yg berisi simpulan dan keputusan hasil
pembahasan dan bersifat mengikat.
10. Pembahasan dgn Tim QA (Pasal 51 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Pihak-Pihak yg Melakukan Pembahasan

B2218


Tim QA Pemeriksaan,

Tim Pemeriksa Pajak, dan

WP, wakil, atau kuasa dari WP.


b. WP Tdk Hadir dlm Pembahasan
Dlm hal WP tdk hadir dlm pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan sesuai dgn hari dan
tanggal yg tercantum dlm undangan, pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan hrs tetap
dilakukan oleh Tim QA Pemeriksaan dan tim Pemeriksa Pajak.
11. Risalah Tim QA Pemeriksaan
a. Risalah Tim QA Pemeriksaan (Pasal 53 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Hasil pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan hrs dituangkan dlm risalah Tim QA
Pemeriksaan.
b. WP Hadir dlm Pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan
1. WP Bersedia Menandatangani Risalah Tim QA Pemeriksaan (Pasal 53 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)
Risalah Tim QA Pemeriksaan ditandatangani oleh:
Tim QA Pemeriksaan,
Ttim Pemeriksa Pajak, dan
WP, wakil, atau kuasa dari WP.
2. WP Menolak Menandatangani Risalah Tim QA Pemeriksaan (Pasal 53 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Tim QA Pemeriksaan membuat catatan mengenai penolakan tsb dlm risalah Tim QA
Pemeriksaan.
c. WP Tdk Hadir dlm Pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan
1. Jika tdk hadir dlm pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan sesuai dgn hari dan tanggal
yg tercantum dlm undangan, Tim QA Pemeriksaan membuat:
BA ketidakhadiran WP dlm pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan yg
ditandatangani oleh Tim QA Pemeriksaan; dan
Risalah Tim QA Pemeriksaan,
yg ditandatangani oleh Tim QA Pemeriksaan dan tim Pemeriksa Pajak. (Pasal 53 ayat
(4) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Jika tdk hadir dlm pembahasan pd hari dan tanggal sesuai undangan, pembahasan
dgn Tim QA Pemeriksaan dianggap tlh dilakukan. (Pasal 53 ayat (5)
PMK-17/PMK.03/2013)
12. BA PAHP
a. Dasar Pembuatan BA PAHP (Pasal 54 PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksa Pajak membuat BA PAHP yg dilampiri dgn ikhtisar hasil pembahasan akhir dgn
mendasari kpd:
Risalah Pembahasan (sesuai Pasal 44 ayat (3) atau ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013),
dan

Risalah Tim QA Pemeriksaan (sesuai Pasal 53 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013).


b. Surat Panggilan
Pemeriksa Pajak melalui kepala UP2 memanggil WP dgn mengirimkan surat panggilan utk
menandatangani BA PAHP. (Pasal 55 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Penyampaian Surat Panggilan (Pasal 55 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Surat panggilan dpt disampaikan:
Scr lsg, atau
Jika surat panggilan disampaikan scr lsg dan WP, wakil, atau kuasa dari WP
menolak utk menerima surat panggilan tsb, WP, wakil, atau kuasa dari WP hrs
menandatangani surat penolakan menerima surat panggilan utk menandatangani
BA PAHP. (Pasal 55 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP, wakil, atau kuasa dari WP menolak menandatangani surat penolakan
menerima surat panggilan utk menandatangani BA PAHP, Pemeriksa Pajak
membuat BA penolakan menerima surat panggilan utk menandatangani BA
PAHP yg ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak. (Pasal 55 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
Melalui faksimili.
Jangka Waktu Pemenuhan Surat Panggilan

B2219

WP hrs memenuhi panggilan dlm jangka waktu paling lama 3 hari kerja stl surat
panggilan utk menandatangani BA PAHP diterima oleh WP. (Pasal 56 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP, wakil, atau kuasa dari WP memenuhi panggilan, namun menolak
menandatangani BA PAHP, Pemeriksa Pajak membuat catatan mengenai penolakan
penandatanganan pd BA PAHP. (Pasal 56 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
WP Tdk Memenuhi Panggilan (Pasal 56 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika WP tdk memenuhi panggilan, Pemeriksa Pajak membuat catatan pd BA PAHP
mengenai tdk dipenuhinya panggilan.
13. Penetapan Pajak dan Penghasilan Kena Pajak (PKP) Scr Jabatan (Pasal 57
PMK-17/PMK.03/2013)
Jika thd WP dilakukan penetapan pajak maupun PKP scr jabatan, buku, catatan, dan/atau
dokumen, termasuk data yg dikelola scr elektronik serta keterangan lain yg dpt
dipertimbangkan oleh Pemeriksa Pajak dlm PAHP terbatas pd:
Penghitungan peredaran usaha atau penghasilan bruto dlm rangka penghitungan
penghasilan scr jabatan; dan
Kredit pajak sbg pengurang PPh.
n.

Pelaporan Hasil Pemeriksaan & Pengembalian Dokumen Pemeriksaan:


1. Dasar Penyusunan LHP (Pasal 58 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
LHP disusun berdasarkan KKP.
2. Bagian dari LHP (Pasal 58 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Bagian yg tdk terpisahkan dari LHP, a.l.:
Risalah pembahasan,
Risalah Tim QA Pemeriksaan, dan/atau
BA PAHP.
3. Kegunaan LHP (Pasal 58 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
LHP digunakan oleh Pemeriksa Pajak sbg dasar utk membuat nothit.
Nothit digunakan sbg dasar penerbitan skp atau STP. (Pasal 58 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
Pajak yg terutang dlm skp dihitung sesuai dgn PAHP, kecuali:
WP Tdk Hadir dlm PAHP tetapi Menyampaikan Lembar Pernyataan Persetujuan Hasil
Pemeriksaan
Pajak yg terutang dihitung sesuai dgn lembar pernyataan persetujuan hasil
Pemeriksaan;
WP Tdk Hadir dlm PAHP tetapi Menyampaikan Surat Sanggahan
Pajak yg terutang dihitung berdasarkan SPHP dgn jml yg tdk disetujui sesuai dengan
surat sanggahan WP;
WP Tdk Hadir dlm PAHP dan Tdk Menyampaikan Tanggapan Tertulis atas SPHP,
Pajak yg terutang dihitung berdasarkan SPHP dan WP dianggap menyetujui hasil
Pemeriksaan.
(Pasal 58 ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)
4. Jangka Waktu Pengembalian Dokumen (Pasal 59 PMK-17/PMK.03/2013)
Buku, catatan, dan dokumen yg dipinjam hrs dikembalikan kpd WP dgn menggunakan bukti
peminjaman dan pengembalian buku, catatan dan dokumen paling lambat 7 hari kerja sejak
tanggal LHP.

o.

Pembatalan Hasil Pemeriksaan:


1. SKP yg Dpt Dibatalkan (Pasal 60 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
SKP yg dpt dibatalkan scr jabatan atau berdasarkan permohonan WP oleh Dirjen Pajak adalah
SKP hasil Pemeriksaan yg dilaksanakan tanpa:
Penyampaian SPHP; atau
PAHP.
2. Kondisi-Kondisi Terkait Pembatalan Hasil Pemeriksaan
a. Pemeriksaan yg Dilanjutkan
Jika dilakukan pembatalan SKP hasil pemeriksaan, proses Pemeriksaan hrs dilanjutkan
dgn melaksanakan prosedur penyampaian SPHP dan/atau PAHP. (Pasal 60 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)

B2220

b.

Jika Pemeriksaan yg dilanjutkan terkait dgn permohonan pengembalian kelebihan


pembayaran pajak sesuai Pasal 17B ayat (1) UU KUP, Pemeriksaan dilanjutkan dgn
penerbitan:

SKP sesuai dgn PAHP apabila jangka waktu 12 bulan sesuai Pasal 17B ayat (1) UU
KUP blm terlewati; atau

SKPLB sesuai dgn SPT apabila jangka waktu 12 bulan sesuai Pasal 17B ayat (1) UU
KUP terlewati.
(Pasal 60 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Susunan Keanggotaan Tim Pemeriksa Pajak Berbeda (Pasal 60 ayat (5)
PMK-17/PMK.03/2013)
Jika susunan keanggotaan tim Pemeriksa Pajak utk melanjutkan Pemeriksaan berbeda
dgn susunan keanggotaan tim Pemeriksa Pajak sebelumnya, Pemeriksaan tsb dilakukan
stl diterbitkan surat yg berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak.

p. Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT Selama Pemeriksaan:


1. Syarat Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT
WP dpt mengungkapkan dlm laporan tersendiri scr tertulis mengenai ketidakbenaran pengisian
SPT yg tlh disampaikan sesuai dgn keadaan yg sebenarnya sesuai Pasal 8 ayat (4) UU KUP
dan Pasal 8 PP 74 Thn 2011, sepanjang Pemeriksa Pajak blm menyampaikan SPHP. (Pasal
61 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT disampaikan ke KPP tempat WP terdaftar.
(Pasal 61 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Laporan Tersendiri (Pasal 61 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Laporan tersendiri scr tertulis hrs:
Ditandatangani oleh WP, wakil, atau kuasa dari WP, dan
Dilampiri dgn:
Penghitungan pajak yg kurang dibayar sesuai dgn keadaan yg sebenarnya dlm format
SPT;
SSP atas pelunasan pajak yg kurang dibayar; dan
SSP ini diperhitungkan sbg kredit pajak dlm SKP hasil Pemeriksaan. (Pasal 62 ayat
(4) PMK-17/PMK.03/2013)
SSP atas pembayaran sanksi administrasi berupa kenaikan seb 50%.
Apabila pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT tdk mengakibatkan
kekurangan pembayaran pajak maka pengungkapan tsb tdk perlu dilampiri dgn SSP.
(Pasal 61 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
3. Pembuktian atas Pengungkapan dlm Laporan Tersendiri (Pasal 62 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Utk membuktikan pengungkapan ketidakbenaran dlm laporan tersendiri, Pemeriksaan tetap
dilanjutkan dan atas hasil Pemeriksaan diterbitkan SKP dgn: mempertimbangkan laporan
tersendiri tsb, serta memperhitungkan pokok pajak yg tlh dibayar.
Jika hasil Pemeriksaan membuktikan bahwa pengungkapan ketidakbenaran pengisian
SPT oleh WP tdk sesuai dgn keadaan yg sebenarnya, SKP diterbitkan sesuai dgn keadaan
yg sebenarnya. (Pasal 62 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika hasil Pemeriksaan membuktikan bahwa pengungkapan ketidakbenaran pengisian
SPT oleh WP sesuai dgn keadaan yg sebenarnya, SKP diterbitkan sesuai dgn
pengungkapan WP. (Pasal 62 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
4. Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT terkait dgn SPT Masa PPN (Pasal 62 ayat
(3) PMK-17/PMK.03/2013)
Jika pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT dilakukan utk SPT Masa PPN, PM atas
perolehan BKP atau JKP yg tdk dilaporkan dlm SPT Masa PPN tdk dpt dikreditkan.
q. Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan Penangguhan Pemeriksaan:
Pemeriksaan Bukti Permulaan
Pemeriksaan Bukti Permulaan Scr
Scr Terbuka
Tertutup
Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan
Pemeriksaan utk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dpt diusulkan Pemeriksaan
Bukti Permulaan scr terbuka apabila:

B2221

1.

Pd saat pelaksanaan Pemeriksaan


ditemukan adanya indikasi tindak pidana di
bidang perpajakan; atau
2. WP menolak utk dilakukan Pemeriksaan
(Lapangan maupun Kantor) dan thd WP tdk
dilakukan penghitungan PKP scr jabatan.
(Pasal 63 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Penangguhan Pemeriksaan
Jika usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan scr
terbuka disetujui oleh pejabat yg berwenang,
pelaksanaan Pemeriksaan ditangguhkan dgn
membuat laporan kemajuan Pemeriksaan s.d.:
1. Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
diselesaikan krn:
WP mengungkapkan ketidakbenaran
perbuatan sesuai Pasal 8 ayat (3) UU
KUP; atau
Diterbitkan SKPKB sesuai Pasal 13A UU
KUP; atau
2. Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
dihentikan krn:
WP OP yg dilakukan Pemeriksaan Bukti
Permulaan scr terbuka meninggal dunia;
Tdk ditemukan adanya bukti permulaan
tindak pidana di bidang perpajakan;
Penyidikan dihentikan sesuai dgn
ketentuan Pasal 44A atau Pasal 44B UU
KUP; atau
Putusan pengadilan atas tindak pidana di
bidang perpajakan tlh mempunyai
kekuatan hukum tetap dan salinan
putusan pengadilan tsb tlh diterima oleh
Dirjen Pajak.
(Pasal 64 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Dokumen terkait Penangguhan Pemeriksaan
1. Pemberitahuan Tertulis
2.
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Bukti Permulaan
Penangguhan Pemeriksaan hrs
diberitahukan scr tertulis kpd WP dan
disampaikan bersamaan dgn surat
pemberitahuan Pemeriksaan Bukti
Permulaan scr terbuka. (Pasal 64 ayat (2) dan
(3) PMK-17/PMK.03/2013)
3. Berita Acara
Buku, catatan, dan dokumen yg terkait dgn
Pemeriksaan yg ditangguhkan diserahkan
kpd Pemeriksa Bukti Permulaan dgn
membuat BA yg ditandatangani Pemeriksa
Pajak dan pemeriksa bukti permulaan. (Pasal
64 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Fotokopi BA diserahkan kpd WP. (Pasal 64
ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)

B2222

Penangguhan Pemeriksaan
Jika WP yg dilakukan Pemeriksaan utk
menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan juga dilakukan
Pemeriksaan Bukti Permulaan scr
tertutup, Pemeriksaan utk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan ditangguhkan dgn membuat
laporan kemajuan Pemeriksaan apabila
Pemeriksaan Bukti Permulaan scr
tertutup ditindaklanjuti dg penyidikan.
(Pasal 66 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Penangguhan Pemeriksaan utk menguji
kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dilakukan s.d.:

Penyidikan dihentikan sesuai dgn


Pasal 44A atau Pasal 44B UU KUP;
atau

Putusan pengadilan atas tindak


pidana di bidang perpajakan yg tlh
memiliki kekuatan hukum tetap dan
salinan atas keputusan tsb tlh
diterima oleh Dirjen Pajak.
(Pasal 66 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Pemberitahuan Tertulis terkait


Penangguhan Pemeriksaan
Penangguhan Pemeriksaan hrs
diberitahukan scr tertulis kpd WP. (Pasal
66 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)

Melanjutkan Pemeriksaan yg Ditangguhkan


Pemeriksaan yg ditangguhkan dilanjutkan sesuai
dgn ketentuan yg berlaku apabila:
1. Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
dihentikan krn:
WP OP yg dilakukan Pemeriksaan Bukti
Permulaan scr terbuka meninggal dunia;
Tdk ditemukan adanya bukti permulaan
tindak pidana di bidang perpajakan; atau
2. Pemeriksaan Bukti Permulaan scr terbuka
dilanjutkan dgn:
Penyidikan namun penyidikan dihentikan
krn memenuhi ketentuan sesuai Pasal
44A UU KUP; atau
Penyidikan dan penuntutan serta tlh
terdapat putusan pengadilan mengenai
tindak pidana di bidang perpajakan yg tlh
mempunyai kekuatan hukum tetap dan
salinan putusan pengadilan tsb tlh
diterima oleh Dirjen Pajak.
(Pasal 65 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

Melanjutkan Pemeriksaan yg
Ditangguhkan
Pemeriksaan yg ditangguhkan dilanjutkan
apabila:
1. Penyidikan dihentikan krn Pasal 44A
UU KUP; atau
2. Putusan pengadilan atas tindak
pidana di bidang perpajakan yg tlh
memiliki kekuatan hukum tetap dan
salinan atas keputusan tsbt tlh
diterima oleh Dirjen Pajak.
(Pasal 66 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)

Jangka Waktu Pengujian dan Perpanjangannya


Jika Pemeriksaan dilanjutkan, jangka waktu pengujian atau jangka waktu perpanjangan
pengujian diperpanjang utk jangka waktu paling lama 4 bulan. (Pasal 67 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Menghentikan Pemeriksaan yg Ditangguhkan
Menghentikan Pemeriksaan yg
Ditangguhkan
Pemeriksaan yg ditangguhkan dihentikan dgn
membuat LHP Sumir apabila Pemeriksaan Bukti
Pemeriksaan yg ditangguhkan dihentikan
Permulaan scr terbuka:
apabila penyidikan dihentikan krn Pasal
1. Diselesaikan krn WP mengungkapkan
44B UU KUP. (Pasal 66 ayat (5)
ketidakbenaran perbuatannya sesuai Pasal 8 PMK-17/PMK.03/2013)
ayat (3) UU KUP;
2. Tdk dilanjutkan dgn penyidikan tetapi
diselesaikan dgn menerbitkan SKPKB sesuai
Pasal 13A UU KUP; atau
3. Dilanjutkan dgn penyidikan tetapi
penyidikannya dihentikan krn tdk dilakukan
penuntutan sesuai Pasal 44B UU KUP.
(Pasal 65 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Surat Pemberitahuan Penghentian Pemeriksaan


Jika Pemeriksaan dihentikan, Pemeriksa Pajak hrs menyampaikan surat pemberitahuan
penghentian Pemeriksaan kpd WP. (Pasal 67 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Data Selain yg Tlh Diungkapkan


Dirjen Pajak masih dpt melakukan Pemeriksaan apabila stl Pemeriksaan dihentikan
terdapat data selain yg diungkapkan dlm Pasal 8 ayat (3) UU KUP atau Pasal 44B UU KUP.
(Pasal 67 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
r.

Pemeriksaan Ulang:
1. Dasar Pemeriksaan Ulang
Pemeriksaan Ulang hanya dpt dilakukan berdasarkan instruksi atau persetujuan Dirjen
Pajak.(Pasal 68 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Instruksi atau persetujuan Dirjen Pajak tsb dpt diberikan apabila terdapat data baru
termasuk data yg semula blm terungkap. (Pasal 68 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
2. Hasil Pemeriksaan Ulang
a. Adanya Tambahan atas Jml Pajak yg Tlh Ditetapkan dlm SKP Sebelumnya (Pasal 68 ayat
(3) PMK-17/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak menerbitkan SKPKBT.

B2223

b.

c.

Tdk Adanya Tambahan atas Jml Pajak yg Tlh Ditetapkan dlm SKP Sebelumnya (Pasal 68
ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Ulang dihentikan dgn membuat LHP Sumir dan kpda WP diberitahukan
mengenai penghentian tsb
Tdk Adanya Tambahan atas Jml Pajak yg Tlh Ditetapkan dlm SKP Sebelumnya tetapi Ada
Perubahan Jml Rugi Fiskal (Pasal 68 ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)
Dirjen Pajak menerbitkan keputusan mengenai rugi fiskal.
Keputusan mengenai rugi fiskal tsb digunakan sbg dasar utk memperhitungkan rugi fiskal
ke thn pajak berikutnya. (Pasal 68 ayat (6) PMK-17/PMK.03/2013)

IV. Pemeriksaan utk Tujuan Lain


a.

Ruang Lingkup, Kriteria, dan Jenis Pemeriksaan:


1. Ruang lingkup Pemeriksaan dpt meliputi: (Pasal 69 PMK-17/PMK.03/2013)
Penentuan, pencocokan, atau pengumpulan materi yg berkaitan dgn tujuan Pemeriksaan.
2. Kriteria Pemeriksaan (Pasal 70 PMK-17/PMK.03/2013)
Pemberian NPWP scr jabatan selain yg dilakukan berdasarkan Verifikasi sesuai
PMK-146/PMK.03/2012;
Penghapusan NPWP selain yg dilakukan berdasarkan Verifikasi sesuai
PMK-146/PMK.03/2012;
Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan PKP selain yg dilakukan berdasarkan
Verifikasi sesuai PMK-146/PMK.03/2012;
WP mengajukan keberatan;
Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan penghasilan neto;
Pencocokan data dan/atau alat keterangan;
Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil;
Penentuan 1 atau lbh tempat terutang PPN;
Pemeriksaan dlm rangka penagihan pajak;
Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian
sehubungan dgn pemberian fasilitas perpajakan; dan/atau
Memenuhi permintaan informasi dari negara mitra P3B.
3. Jenis Pemeriksaan (Pasal 71 PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Lapangan, atau
Pemeriksaan Kantor.

b.

Standar Pemeriksaan:
1. Standar Pemeriksaan meliputi:
a. Standar Umum Pemeriksaan (Pasal 73 PMK-17/PMK.03/2013)
Sama dgn Standar Umum Pemeriksaan utk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan
b. Standar Umum Pemeriksaan (Pasal 74 PMK-17/PMK.03/2013)
1. Hrs didahului dgn persiapan yg baik, sesuai dgn tujuan Pemeriksaan, dan mendapat
pengawasan yg seksama;
a. Persiapan yg baik hrs didukung dgn penyusunan Program Pemeriksaan (audit
program).
b. Pengawasan yg seksama dilakukan oleh Supervisor dlm rangka memastikan
bahwa pelaksanaan Pemeriksaan sejalan dgn tujuan & kriteria Pemeriksaan.
(Pasal 7 huruf a PER-23/PJ/2013)
2. Luas Pemeriksaan disesuaikan dgn kriteria dilakukannya Pemeriksaan;
4. Kriteria Bagian III huruf b angka 2.b butir 4, 7, 8 berlaku juga utk Pemeriksaan
utk tujuan lain
5. Didokumentasikan dlm bentuk KKP.
Fungsi KKP (Pasal 75 huruf a PMK-17/PMK.03/2013)
Bukti bahwa Pemeriksa Pajak tlh melaksanakan Pemeriksaan berdasarkan
standar Pemeriksaan
Dasar pembuatan LHP

B2224

c.

c.

Standar Pelaporan Hasil Pemeriksaan (Pasal 76 PMK-17/PMK.03/2013)


1. LHP disusun scr ringkas dan jelas, memuat:
a. Ruang lingkup atau pos-pos yg diperiksa sesuai dgn tujuan Pemeriksaan
b. Simpulan Pemeriksa Pajak
c. Pengungkapan informasi lain yg terkait
2. LHP utk tujuan lain sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas WP
b. Penugasan Pemeriksaan
c. Dasar (tujuan) Pemeriksaan
d. Buku dan dokumen yg dipinjam
e. Materi yg diperiksa
f. Uraian hasil Pemeriksaan
g. Simpulan dan usul Pemeriksa Pajak
3. LHP disusun dan ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak, (Pasal 9 huruf c
PER-23/PJ/2013)
4. LHP ditandatangani oleh Kepala UP2 utk mengetahui apakah:
Hasil Pemeriksaan tlh sesuai kriteria Pemeriksaan tujuan lain,
Simpulan, usul, dan/atau rekomendasi yg diberikan tlh memiliki dasar hukum yg
tepat.
(Pasal 9 huruf d PER-23/PJ/2013)

Kewajiban dan Kewenangan Pemeriksa Pajak:


1. Kewajiban Pemeriksa Pajak (Pasal 77 PMK-17/PMK.03/2013)
a. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan (dlm hal Pemeriksaan
dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Lapangan) atau Surat Panggilan Dlm Rangka
Pemeriksaan Kantor (dlm hal Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Kantor)
b. Memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan SP2 kpd WP pd waktu
Pemeriksaan;
c. Memperlihatkan surat yg berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak kpd WP apabila susunan
Tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan
d. Menjelaskan alasan dan tujuan Pemeriksaan kpd WP yg diperiksa
e. Menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan kpd WP
f. Mengembalikan buku, catatan, dan dokumen pendukung lainnya yg dipinjam dari WP
g. Merahasiakan kpd pihak lain yg tdk berhak segala sesuatu yg diketahui atau diberitahukan
kpd-nya oleh WP dlm rangka Pemeriksaan
2. Kewenangan Pemeriksa Pajak
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
Pemeriksa Pajak berwenang:
Pemeriksa Pajak berwenang:
a. Melihat dan/atau meminjam buku, catatan,
a. Melihat dan/atau meminjam
dan/atau dokumen yg menjadi dasar
buku, catatan, dan/atau
pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain,
dokumen yg menjadi dasar
yg berhubungan dgn tujuan Pemeriksaan
pembukuan atau pencatatan,
b. Mengakses dan/atau mengunduh data yg
dan dokumen lain termasuk
dikelola scr elektronik
data yg dikelola scr elektronik,
c. Memasuki dan memeriksa tempat atau ruang,
yg berhubungan dgn
barang bergerak dan/atau tdk bergerak yg
penghasilan yg diperoleh,
diduga atau patut diduga digunakan utk
kegiatan usaha, pekerjaan
menyimpan buku, catatan, dan/atau dokumen
bebas WP, atau objek yg
yg menjadi dasar pembukuan atau pencatatan,
terutang pajak
dokumen lain, dan/atau barang, yg berkaitan
b. Meminta keterangan lisan
dgn tujuan Pemeriksaan
dan/atau tertulis dari WP
d. Meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari
c. Meminta keterangan dan/atau
WP
data yg diperlukan dari pihak
e. Meminta keterangan dan/atau data yg
ketiga yg mempunyai
diperIukan dari pihak ketiga yg mempunyai
hubungan dgn WP yg
hubungan dgn WP yg diperiksa melalui kepala
diperiksa melalui kepala UP2
UP2
(Pasal 78 ayat (2)
(Pasal 78 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
PMK-17/PMK.03/2013)

B2225

d. Hak & Kewajiban WP:


1. Hak WP (Pasal 79 PMK-17/PMK.03/2013)
a.
Meminta kpda Pemeriksa Pajak utk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak
& SP2 kpd WP pd waktu Pemeriksaan
b.
Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memberikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan, dlm hal Pemeriksaan dilakukan dgn jenis Pemeriksaan Lapangan
c.
Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memberikan penjelasan ttg alasan & tujuan
Pemeriksaan
d.
Meminta kpd Pemeriksa Pajak utk memperlihatkan surat yg berisi perubahan tim
Pemeriksa Pajak apabila terdapat perubahan susunan Tim Pemeriksa Pajak
e.
Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian Kuesioner Pemeriksaan
2. Kewajiban WP
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan Kantor
WP wajib:
WP wajib:
a. Memperlihatkan dan meminjamkan buku,
a. Memperlihatkan dan
catatan, dan/atau dokumen yg menjadi dasar
meminjamkan buku, catatan,
pembukuan atau pencatatan, dan dokumen
dan/atau dokumen yg menjadi
lain, ng berhubungan dgn tujuan Pemeriksaan
dasar pembukuan atau
b. Memberi kesempatan utk mengakses dan/atau
pencatatan, dan dokumen lain,
mengunduh data yg dikelola scr elektronik
yg berhubungan dgn tujuan
c. Memberi kesempatan utk memasuki tempat
Pemeriksaan
atau ruang penyimpanan buku, catatan,
b. Memberikan keterangan lisan
dan/atau dokumen yg menjadi dasar
dan/atau tertulis serta
pembukuan atau pencatatan, dokumen lain,
memberikan data dan/atau
dan/atau barang, yg berkaitan dgn tujuan
keterangan lain yg diperlukan.
Pemeriksaan serta meminjamkannya kpd
(Pasal 80 ayat (2) PMK-17/PMK.03/
Pemeriksa Pajak
2013)
d. Memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis
serta memberikan data dan/atau keterangan
lain yg diperlukan
(Pasal 80 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
e.

Jangka Waktu Pemeriksaan:


Pemeriksaan Lapangan
Dilakukan dlm jangka waktu paling lama 4 bulan
sejak tanggal Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan disampaikan kpd WP,
wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg
tlh dewasa dari WP s.d. tanggal LHP. (Pasal 81
ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

Pemeriksaan Kantor
Dilakukan dlm jangka waktu paling lama 14
hari yg dihitung sejak tanggal WP, wakil,
kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yg
tah dewasa dari WP, datang memenuhi
Surat Panggilan Dlm Rangka Pemeriksaan
Kantor s.d. tanggal dlm LHP. (Pasal 81 ayat
(2) PMK-17/PMK.03/2013)

Jangka Waktu Pemeriksaan Berakhir


Dlm hal jangka waktu Pemeriksaan Lapangan maupun Kantor berakhir, Pemeriksaan hrs
diselesaikan. (Pasal 81 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Dlm Rangka Penghapusan NPWP Selain Yg Dilakukan Berdasarkan
Verifikasi
Jangka waktu Pemeriksaan Lapangan maupun Kantor hrs memperhatikan jangka waktu
penyelesaian permohonan penghapusan NPWP sesuai Pasal 2 ayat (7) UU KUP. (Pasal 81
ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Dlm Rangka Pencabutan Pengukuhan PKP Selain Yg Dilakukan
Berdasarkan Verifikasi
Jangka waktu Pemeriksaan Lapangan maupun Kantor hrs memperhatikan jangka waktu
penyelesaian permohonan pencabutan pengukuhan PKP sesuai Pasal 2 ayat (9) UU KUP.
(Pasal 81 ayat (5) PMK-17/PMK.03/2013)
f.

SP2 & Surat Yg Berisi Perubahan Tim Pemeriksa Pajak:

B2226

1.

2.

3.

Yg Melakukan Pemeriksaan Lapangan (Pasal 82 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)


Dilakukan oleh Pemeriksa Pajak yg tergabung dlm suatu tim Pemeriksa Pajak berdasarkan
SP2.
Penerbitan SP2 (Pasal 82 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
SP2 diterbitkan utk 1 atau bbrp Masa Pajak dlm suatu Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak yg
sama atau utk 1 Bagian Thn Pajak atau Thn Pajak thd 1 WP.
Susunan Tim Pemeriksa Pajak Berubah (Pasal 82 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal susunan tim Pemeriksa Pajak perlu diubah, kepala UP2 tdk perlu memperbarui SP2
tetapi hrs menerbitkan surat yg berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak.

g. Pemberitahuan & Panggilan Pemeriksaan:


Pemeriksaan Lapangan
Pemberitahuan
Pemeriksa Pajak wajib memberitahukan kpd WP
mengenai dilakukannya Pemeriksaan Lapangan dgn
menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan. (Pasal 83 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

Penerbitan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan


Lapangan
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
diterbitkan utk:
a. Masa Pajak,
b. Bagian Thn Pajak, atau
c. Thn Pajak
sebagaimana tercantum dlm SP2.
(Pasal 83 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Cara Penyampaian Pemberitahuan
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan dpt
disampaikan:
1. Scr lsg kpd WP pada saat dimulainya
Pemeriksaan Lapangan;
a. Dlm hal disampaikan scr lsg dan WP tdk
berada di tempat, dpt disampaikan kpd:

Wakil atau kuasa dari WP; atau

Pihak yg dpt mewakili WP, yaitu:


Pegawai dari WP yg mnr
Pemeriksa Pajak dpt mewakili WP,
dlm hal Pemeriksaan dilakukan thd
WP badan; atau
Anggota keluarga yg tlh dewasa
dari WP yg mnr Pemeriksa Pajak
dpt mewakili WP, dlm hal
Pemeriksaan dilakukan thd WP
OP.
(Pasal 84 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
b. Dlm hal wakil atau kuasa dari WP atau pihak
yg dpt mewakili WP tdk dpt ditemui,
disampaikan melalui pos atau jasa
pengiriman lainnya dan Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan dianggap tlh
disampaikan. (Pasal 84 ayat (4)
PMK-17/PMK.03/2013)
2. Melalui faksimili,
3. Melalui pos dgn bukti pengiriman surat, atau

B2227

Pemeriksaan Kantor
Pemberitahuan
Pemeriksa Pajak wajib
memberitahukan kpd WP mengenai
dilakukannya Pemeriksaan Kantor
dgn menyampaikan Surat Panggilan
Dlm Rangka Pemeriksaan Kantor.
(Pasal 83 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)
Penerbitan Surat Panggilan Dlm
Rangka Pemeriksaan Kantor
Surat Panggilan Dlm Rangka
Pemeriksaan Kantor diterbitkan utk:
a. Masa Pajak,
b. Bagian Thn Pajak, atau
c. Thn Pajak
sebagaimana tercantum dlm SP2.
(Pasal 83 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)
Cara Penyampaian Pemberitahuan
Surat Panggilan Dlm Rangka
Pemeriksaan Kantor dpt disampaikan
melalui:
1. Faksimili,
2. Pos dgn bukti pengiriman surat,
atau
3. Jasa pengiriman lainnya dgn
bukti pengiriman.
(Pasal 84 ayat (3)
PMK-17/PMK.03/2013)

4. Jasa pengiriman lainnya dgn bukti pengiriman.


(Pasal 84 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
h. Peminjaman Dokumen:
Buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi, dan keterangan lain yg dipinjam hrs
disesuaikan dgn tujuan dan kriteria Pemeriksaan utk tujuan lain sesuai Pasal 70
PMK-17/PMK.03/2013.
Peminjaman buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi, dan keterangan lain hrs
dilaksanakan sesuai dgn ketentuan sesuai Pasal 28 & Pasal 29 PMK-17/PMK.03/2013.
Kriteria Bagian III huruf i berlaku juga utk Pemeriksaan utk tujuan lain
i.

Penolakan Pemeriksaan:
Pemeriksaan Lapangan
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP yg
dilakukan Pemeriksaan Lapangan utk tujuan lain
menyatakan menolak utk dilakukan
Pemeriksaan, termasuk menolak menerima
Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan,
WP, wakil, atau kuasa dari WP hrs
menandatangani surat penolakan Pemeriksaan.
(Pasal 86 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP
menolak menandatangani surat penolakan
Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak membuat BA
penolakan Pemeriksaan yg ditandatangani oleh
tim Pemeriksa Pajak. (Pasal 86 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)

Pemeriksaan Kantor
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP yg
dilakukan Pemeriksaan Kantor utk tujuan
lain memenuhi Surat Panggilan Dlm
Rangka Pemeriksaan Kantor namun
menyatakan menolak utk dilakukan
Pemeriksaan, WP, wakil, atau kuasa dari
WP hrs menandatangani surat pernyataan
penolakan Pemeriksaan. (Pasal 87 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
Dlm hal WP, wakil, atau kuasa dari WP
menolak menandatangani surat pernyataan
penolakan Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak
membuat BA penolakan Pemeriksaan yg
ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
(Pasal 87 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Konsekuensi Apabila WP Menolak Utk Dilakukan Pemeriksaan


1. Permohonan WP Tdk Dpt Diproses atau Tdk Dpt Dipertimbangkan
Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau BA penolakan Pemeriksaan,
permohonan WP tdk dpt diproses atau tdk dpt dipertimbangkan dlm hal Pemeriksaan dilakukan
dlm rangka:
a. Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil; atau
b. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian
sehubungan dgn pemberian fasilitas perpajakan.
(Pasal 88 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
2. WP Diberi NPWP dan Dikukuhkan Sbg PKP Scr Jabatan
Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau BA penolakan Pemeriksaan, WP
diberi NPWP dan dikukuhkan sbg PKP scr jabatan dlm hal Pemeriksaan dilakukan dlm rangka:
a. Pemberian NPWP scr jabatan; dan/atau
b. Pengukuhan PKP scr jabatan.
(Pasal 88 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
3. Permohonan WP Tdk Dikabulkan
Berdasarkan surat pernyataan penolakan Pemeriksaan atau BA penolakan Pemeriksaan,
permohonan WP tdk dikabulkan dlm hal Pemeriksaan dilakukan dlm rangka:
a. Penghapusan NPWP; dan/atau
b. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan PKP.
(Pasal 88 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
j.

Penjelasan WP & Pihak Ketiga:


1. Dlm pelaksanaan Pemeriksaan, melalui kepala UP2, Pemeriksa Pajak juga dpt memanggil WP
utk memperoleh penjelasan yg lbh rinci atau meminta keterangan dan/atau bukti yg berkaitan
dgn Pemeriksaan kpd pihak ketiga sesuai Pasal 35 UU KUP. (Pasal 89 ayat (1)
PMK-17/PMK.03/2013)
2. Permintaan keterangan kpd WP atau kpd pihak ketiga hrs dilaksanakan sesuai dgn ketentuan
dlm Pasal 39 dan Pasal 40 PMK-17/PMK.03/2013. (Pasal 89 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

B2228

Bagian III huruf l berlaku juga utk Pemeriksaan utk tujuan lain

V. Kuesioner Pemeriksaan
Tujuan Penyampaian Kuesioner Pemeriksaan (Pasal 90 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksa Pajak wajib menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan kpd WP yg diperiksa utk
meningkatkan kualitas & akuntabilitas Pemeriksaan.
Waktu Penyampaian Kuesioner Kpd WP (Pasal 90 ayat (2) & (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Pemeriksaan Utk Menguji
Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Pemeriksaan Utk Tujuan Lain
Perpajakan
Penyampaian Kuesioner Pemeriksaan Penyampaian
Kuesioner
Pemeriksaan
dilakukan pd saat pertemuan dgn WP disampaikan pd saat:
sesuai Pasal 27 PMK-17/PMK.03/2013.
1. Penyampaian
Surat
Pemberitahuan
Pemeriksaan Lapangan, atau
2. Pd saat WP datang memenuhi Surat
Panggilan Dlm Rangka Pemeriksaan Kantor.
Penyampaian Kuesioner Pemeriksaan Oleh WP (Pasal 90 ayat (4) PMK-17/PMK.03/2013)
WP dpt menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan yg tlh diisi kpd:
1. Direktur Pemeriksaan dan Penagihan, jika UP2 adalah Direkorat Pemeriksaan dan Penagihan;
atau
2. Kakanwil DJP, jika UP2 adalah Kantor Wilayah DJP atau KPP.

VI. Ketentuan Lain-lain


SP2 yg Diterbitkan Sbl Berlakunya PMK-17/PMK.03/2013 dan Pemeriksaan Blm Selesai
Proses penyelesaian selanjutnya dilakukan berdasarkan ketentuan PMK-17/PMK.03/2013.
(Pasal 94 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

Pemeriksaan yg Ditindaklanjuti dgn Pemeriksaan Bukti Permulaan dan Tlh Dibuat LHP
Sumir
Dpt dilakukan Pemeriksaan dlm rangka penerbitan skp sepanjang hasil Pemeriksaan Bukti
Permulaan tdk terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan. (Pasal 94 ayat (2)
PMK-17/PMK.03/2013)

Form-form yg digunakan di dlm PMK-17/PMK.03/2013:


No.
Ket
1.
Surat Pernyataan Keaslian Dokumen dan/atau Data yg DIberikan
2.
Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan
3.
Surat Pernyataan Penolakan Membantu Kelancaran Pemeriksaan
4.
Surat Pernyataan Penolakan Menerima SPHP / Undangan PAHP /
Surat Panggilan Penandatanganan BA PAHP
5.
Pernyataan Persetujuan Hasil Pemeriksaan
6.
Surat Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian
Tanggapan Hasil Pemeriksaan
7.
Permohonan Pembahasan dgn Tim QA Pemeriksaan
8.
Laporan Pengungkapan Ketidakbenaran Pengisian SPT
9.
a. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan utk Menguji
Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
b. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor utk Menguji
Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
c.
Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan utk Tujuan
Lain
d. Kuesioner Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor utk Tujuan Lain

B2229

Sumber
Lamp III Huruf D
Lamp V Huruf A
Lamp V Huruf C
Lamp VII Huruf B1
Lamp VII Huruf C
Lamp VII Huruf D
Lamp VII Huruf H
Lamp VIII
Lamp IX Huruf D
Lamp IX Huruf E
Lamp IX Huruf F
Lamp IX Huruf G

TATA CARA PENERBITAN skp & STP


Dasar Hukum:
Pasal 13 ayat (6), 14 ayat (6), 15 ayat (5), dan 17A ayat (2) UU KUP
Pasal 23 & 24 ayat (4) PP 74 Thn 2011
PMK-145/PMK.03/2012 ttg Tata Cara Penerbitan skp dan STP (berlaku stl 15 hari terhitung sejak
tanggal 10 Sept 2012) mencabut PMK-189/PMK.03/2007 jo PMK-84/PMK.03/2010 dan PMK-23/
PMK.03/2008 jo PMK-83/PMK.03/2010
PER-27/PJ/2012 (berlaku tanggal 13 Des 2012) jo PER-23/PJ/2014 (berlaku mulai tanggal 14 Agust
2014) ttg Bentuk & Isi Nothit, Bentuk & Isi skp serta Bentuk & Isi STP
Tata Cara Penerbitan skp:
Pasal 2 PMK-145/PMK.03/2012
(1) Dlm jangka waktu 5 thn stl saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau
Thn Pajak, Dirjen Pajak dpt menerbitkan:
a. SKPKB; atau
b. SKPKBT.
(2) Dirjen Pajak tetap dpt menerbitkan SKPK B/SKPKBTsesuai ayat (1) walaupun jangka waktu 5 thn tlh
lewat, dlm hal Dirjen Pajak menerima Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap thd
WP yg dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd pendapatan negara.
(3) Dlm hal Dirjen Pajak menerbitkan SKPKB/SKPKBT utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak
2007 dan sebelumnya, berlaku ketentuan:
a. jangka waktu pd ayat (1) menjadi 10 thn atau paling lama pd akhir Thn Pajak 2013;
b. jangka waktu pd ayat (2) menjadi 10 thn.
(4) SKPKB diterbitkan dlm hal terdapat pajak yg tdk atau kurang dibayar berdasarkan:
a. hasil Verifikasi thd keterangan lain sesuai Pasal 13 ayat (1) UU KUP berupa:
1) hasil klarifikasi/konfirmasi FP;
2) bukti pemotongan PPh;
3) data perpajakan terkait dgn WP yg tdk menyampaikan SPT dlm jangka waktu sesuai Pasal 3
ayat (3) UU KUP dan stl ditegur scr tertulis WP tdk menyampaikan SPT pd waktunya
sebagaimana ditentukan dlm Surat Teguran;
4) data konkret dlm Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap thd WP yg
dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd pendapatan negara, yg dpt dipergunakan utk menghitung besarnya
pajak yg terutang yg tdk atau kurang dibayar; atau
5) bukti transaksi atau data perpajakan yg dpt digunakan utk menghitung kewajiban perpajakan
WP.
b. hasil Pemeriksaan thd:
1) SPT;
2) kewajiban perpajakan WP krn WP tdk menyampaikan SPT dlm jangka waktu sesuai Pasal 3
ayat (3) UU KUP, dan stl ditegur scr tertulis WP tdk menyampaikan SPT pd waktunya
sebagaimana ditentukan dlm Surat Teguran; atau
3) Putusan Pengadilan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap thd WP yg dipidana krn
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt menimbulkan
kerugian pd pendapatan negara, dan thd Putusan Pengadilan tsb tdk dilakukan Verifikasi pd
huruf a angka 4).
c. hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan thd WP yg melakukan perbuatan sesuai Pasal 13A UU KUP.
(5) SKPKBT diterbitkan berdasarkan:
a. hasil Verifikasi thd:
1) keterangan tertulis dari WP atas kehendak sendiri sesuai Pasal 15 ayat (3) UU KUP;
2) data baru berupa hasil klarifikasi/konfirmasi FP yg mengakibatkan penambahan jml pajak yg
terutang; atau
3) data baru berupa FP dlm Putusan Pengadilan yg tlh memperoleh kekuatan hukum tetap thd
WP yg dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya
yg dpt menimbulkan kerugian pd pendapatan negara, yg dpt dipergunakan utk menghitung

B231

besarnya pajak terutang yg tdk atau kurang dibayar.


hasil Pemeriksaan atau hasil Pemeriksaan Ulang thd:
1) data baru yg mengakibatkan penambahan jml pajak yg terutang termasuk data yg semula blm
terungkap sesuai Pasal 15 ayat (1) UU KUP; atau
2) data baru dlm Putusan Pengadilan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap thd WP yg
dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
menimbulkan kerugian pd pendapatan negara dan thd data baru dlm Putusan Pengadilan tsb
tdk dilakukan Verifikasi pd huruf a angka 3 PMK-145/PMK.03/2012).
(6) Dirjen Pajak menerbitkan SKPN sesuai Pasal 17A ayat (1) UU KUP berdasarkan hasil Pemeriksaan thd
SPT apabila jml kredit pajak atau jml pajak yg dibayar sama dgn jml pajak yg terutang, atau pajak tdk
terutang dan tdk ada kredit pajak atau tdk ada pembayaran pajak.
(7) Dirjen Pajak menerbitkan SKPLB dlm hal berdasarkan:
a. hasil Verifikasi thd kebenaran atas permohonan pengembalian kelebihan pajak yg seharusnya tdk
terutang sesuai Pasal 17 ayat (2) UU KUP terdapat pembayaran pajak yg seharusnya tdk terutang;
b. hasil Pemeriksaan thd:
1) SPT terdapat jml kredit pajak atau jml pajak yg dibayar lbh besar daripada jml pajak yg terutang
sesuai Pasal 17 ayat (1) UU KUP; atau
2) permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sesuai Pasal 17B UU KUP terdapat
jml kredit pajak atau jml pajak yg dibayar lbh besar daripada jml pajak yg terutang.
(8) SKPLB pd ayat (7) masih dpt diterbitkan apabila terdapat data baru, termasuk data yg semula blm
terungkap, apabila ternyata pajak yg lbh dibayar jml-nya lbh besar daripada kelebihan pembayaran
pajak yg tlh ditetapkan.
b.

Pasal 3 PMK-145/PMK.03/2012
(1) skp dlm Pasal 2 diterbitkan utk suatu Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak.
(2) skp pd ayat (1) diterbitkan sesuai dgn Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak yg dilakukan
Verifikasi, Pemeriksaan, Pemeriksaan Ulang, atau Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Pasal 4 PMK-145/PMK.03/2012
(1) skp dlm Pasal 2 hrs diterbitkan berdasarkan nota penghitungan.
(2) Nota penghitungan pd ayat (1) dibuat berdasarkan LHV, LHP, laporan hasil Pemeriksaan Ulang atau
laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
Pasal 5 PMK-145/PMK.03/2012
(1) skp dlm Pasal 2 hrs dikirimkan kpd WP.
(2) Pengiriman skp pd ayat (1), dpt dilakukan:
a. scr lsg;
b. melalui pos dgn bukti pengiriman surat; atau
c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dgn bukti pengiriman surat.
Tata Cara Penerbitan STP
Pasal 6 PMK-145/PMK.03/2012
Dirjen Pajak dpt menerbitkan STP utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2007 dan sebelumnya
dlm hal:
a. PPh dlm thn berjalan tdk atau kurang dibayar;
b. dari hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak sbg akibat salah tulis dan/atau salah
hitung;
c. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga;
d. pengusaha yg dikenakan pajak berdasarkan UU PPN tetapi tdk melaporkan kegiatan usahanya utk
dikukuhkan sbg PKP;
e. pengusaha yg tdk dikukuhkan sbg PKP tetapi membuat FP; atau
f. pengusaha yg tlh dikukuhkan sbg PKP tdk membuat FP atau membuat FP tetapi tdk tepat waktu atau
tdk mengisi selengkapnya FP.
Pasal 7 PMK-145/PMK.03/2012
Dirjen Pajak dpt menerbitkan STP utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak 2008 dan setelahnya

B232

dlm hal:
a. PPh dlm thn berjalan tdk atau kurang dibayar;
b. berdasarkan hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sbg akibat salah tulis dan/atau
salah hitung;
c. WP dikenai sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga;
d. pengusaha yg tlh dikukuhkan sbg PKP, tdk membuat FP atau membuat FP tetapi tdk tepat waktu;
e. pengusaha yg tlh dikukuhkan sbg PKP tdk mengisi FP scr lengkap sesuai Pasal 13 ayat (5) UU PPN,
selain :
1) identitas pembeli sesuai Pasal 13 ayat (5) huruf b UU PPN;
atau
2) identitas pembeli serta nama dan tanda tangan sesuai Pasal 13 ayat (5) huruf b & g UU PPN, dlm
hal penyerahan dilakukan oleh PKP PE;
f. PKP melaporkan FP tdk sesuai dgn masa penerbitan FP; atau
g. PKP yg mengalami gagal berproduksi dan tlh diberikan pengembalian PM sesuai Pasal 9 ayat (6a) UU
PPN.
Pasal 8 PMK-145/PMK.03/2012
Dirjen Pajak dpt menerbitkan STP dlm Pasal 6 atau Pasal 7 PMK-145/PMK.03/2012 stl meneliti data
administrasi perpajakan atau stl melakukan Verifikasi, Pemeriksaan, Pemeriksaan Ulang, atau Pemeriksaan
Bukti Permulaan dlm rangka penerbitan skp.
Pasal 9 PMK-145/PMK.03/2012
Jml kekurangan pajak yg terutang dlm STP dlm Pasal 6 huruf a & b PMK-145/PMK.03/2012 atau Pasal 7
huruf a & b PMK-145/PMK.03/2012, ditambah dgn sanksi administrasi berupa bunga seb 2% per bulan utk
paling lama 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Thn
Pajak, atau Thn Pajak sampai dgn diterbitkannya STP, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan.
Pasal 10 PMK-145/PMK.03/2012
Sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga yg ditagih berdasarkan STP dlm Pasal 6 huruf c
PMK-145/PMK.03/2012 atau Pasal 7 huruf c PMK-145/PMK.03/2012 termasuk sanksi administrasi berupa
denda seb 50% sesuai Pasal 25 ayat (9) UU KUP dan seb 100% sesuai Pasal 27 ayat (5d) UU KUP.
Pasal 11 PMK-145/PMK.03/2012
Thd pengusaha atau PKP dlm Pasal 6 huruf d, e, atau f PMK-145/PMK.03/2012 atau Pasal 7 huruf d, e, atau
f PMK-145/PMK.03/2012, selain wajib menyetor pajak yg terutang, dikenai sanksi administrasi berupa
denda seb 2% dari DPP.
Pasal 12 PMK-145/PMK.03/2012
Thd PKP dlm Pasal 7 huruf g PMK-145/PMK.03/2012, dikenai sanksi administrasi berupa bunga seb 2% per
bulan dari jml pajak yg ditagih kembali, yg dihitung dari tanggal penerbitan SKPKPP sampai dgn tanggal
penerbitan STP, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan.
Ketentuan Lain-lain:
Pasal 13 PMK-145/PMK.03/2012
(1) Dirjen Pajak dpt menerbitkan skp dan/atau STP utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak sbl
WP diberikan atau diterbitkan NPWP dan/atau dikukuhkan sbg PKP, apabila diperoleh data dan/atau
informasi yg menunjukkan adanya kewajiban perpajakan yg blm dipenuhi oleh WP.
(2) Dirjen Pajak dpt menerbitkan skp dan/atau STP utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak sbl
dan/atau stl penghapusan NPWP atau pencabutan Pengukuhan PKP, apabila stl penghapusan NPWP
atau pencabutan Pengukuhan PKP, diperoleh data dan/atau informasi yg menunjukkan adanya
kewajiban perpajakan yg blm dipenuhi oleh WP.
(3) skp dan/atau STP pd angka ayat (1) dan/atau ayat (2) diterbitkan dlm jangka waktu 5 thn stl saat
terutangnya pajak, atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak, kecuali thd WP
dipidana krn melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yg dpt
mengakibatkan kerugian pd pendapatan negara berdasarkan Putusan Pengadilan yg tlh mempunyai
kekuatan hukum tetap.
(4) skp dan/atau STP pd ayat (2) diterbitkan dgn terlebih dahulu mengaktifkan kembali NPWP yg tlh

B233

dihapus.
(5) Dlm hal Dirjen Pajak menerbitkan skp dan/atau STP utk Masa Pajak, Bagian Thn Pajak, atau Thn Pajak
2007 dan sebelumnya, jangka waktu pd ayat (3) menjadi 10 thn.
Pasal 14 PMK-145/PMK.03/2012
Dlm hal WP memperoleh izin utk menyelenggarakan pembukuan dgn satuan mata uang Dollar AS dan
diwajibkan utk menyampaikan SPT dgn menggunakan satuan mata uang Dollar AS, skp & STP diterbitkan
dgn menggunakan satuan mata uang Dollar AS kecuali STP berdasarkan Pasal 7 UU KUP.

B234

ANGSURAN & PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK


Dasar Hukum:
Pasal 9 ayat (4), Pasal 19 ayat (2) UU KUP
PMK-184/PMK.03/2007 (berlaku sejak 1 Jan 2008) jo PMK-80/PMK.03/2010 (berlaku sejak 1 Apr
2010) ttg Penentuan tanggal jatuh tempo pembayaran & penyetoran pajak, penentuan tempat
pembayaran, tata cara pembayaran, penyetoran & pelaporan pajak, serta tata cara pengangsuran &
penundaan pembayaran pajak
PER-38/PJ/2008 (berlaku sejak 24 Sept 2008) ttg Tata cara pemberian angsuran & penundaan
pembayaran pajak
Ketentuan Pasal 9 Ayat (4) UU KUP:
Dirjen Pajak atas permohonan WP dpt memberikan persetujuan utk mengangsur / menunda pembayaran
pajak termasuk kekurangan pembayaran yg terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh paling lama 12 bln,
yg pelaksanaannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan MenKeu.
Ketentuan diatur lebih lanjut pd Pasal 9-12 PMK-184/PMK.03/2007 jo PMK-80/PMK.03/2010 dan PER38/PJ/2008)
Yg Bisa Diajukan Permohonan Angsuran & Penundaan Pembayaran Pajak:
WP dpt mengajukan permohonan scr tertulis utk mengangsur / menunda pembayaran:
Pajak yg masih hrs dibayar dlm STP, SKPKB, SKPKBT, dan SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan PK, yg menyebabkan jml pajak yg terutang bertambah
PPh Pasal 29 yg masih hrs dibayar dlm SPT Tahunan PPh
kpd Dirjen Pajak.
Cara Pengajuan Permohonan:
1. Permohonan hrs diajukan scr tertulis (dgn menggunakan form yg ada di Lamp I PER-38/PJ/2008) kpd
Kepala KPP tempat WP terdaftar
2. Permohonan hrs diajukan paling lama 9 hari kerja sbl saat jatuh tempo pembayaran utang pajak
berakhir
Apabila ternyata batas waktu 9 hari kerja tdk dpt dipenuhi oleh WP krn keadaan di luar
kekuasaannya, permohonan WP masih dpt dipertimbangkan oleh Dirjen Pajak sepanjang WP dpt
membuktikan kebenaran keadaan di luar kekuasaannya tsb.
WP yg mengajukan permohonan hrs memberikan jaminan yg besarnya ditetapkan berdasarkan
pertimbangan Kepala KPP, kecuali apabila Kepala KPP menganggap tdk perlu.
Jaminan dpt berupa: garansi bank, surat/dokumen bukti kepemilikan barang bergerak, penanggungan
utang oleh pihak ketiga, sertifikat tanah, atau sertifikat deposito.
WP yg mengajukan permohonan dlm jangka waktu yg melampaui jangka waktu 9 hari kerja sbl
saat jatuh tempo pembayaran utang pajak berakhir hrs memberikan jaminan berupa garansi
bank seb utang pajak yg dpt dicairkan sesuai dgn jangka waktu pengangsuran atau penundaan.
3. Permohonan WP disertai dgn alasan dan bukti yg mendukung permohonan, serta:
Jml pembayaran pajak yg dimohon utk diangsur, masa angsuran, dan besarnya angsuran; atau
Jml pembayaran pajak yg dimohon utk ditunda & jangka waktu penundaan
Sanksi Administrasi yg Dikenakan thd WP dlm Hal Permohonannya Disetujui
Dlm hal WP diperbolehkan mengangsur / menunda pembayaran pajak dikenai sanksi administrasi
berupa bunga seb 2% per bulan dari jml pajak yg masih hrs dibayar & bagian dari bulan dihitung
penuh 1 bulan
Bunga yg timbul akibat angsuran / penundaan pembayaran pajak dihitung berdasarkan saldo utang
pajak
Ditagih dgn menerbitkan STP pd setiap tanggal jatuh tempo angsuran, jatuh tempo penundaan, atau pd
tanggal pembayaran
Bunga tdk dikenakan thd angsuran / penundaan atas pembayaran STP
Ketentuan Terkait Keputusan KPP atas Permohonan WP:
Dirjen Pajak menerbitkan SK atas permohonan paling lama 7 hari kerja stl tanggal diterimanya
permohonan. Apabila jangka waktu tsb tlh lewat, Dirjen Pajak tdk memberi suatu keputusan,
permohonan WP dianggap diterima. Apabila jangka waktu tsb tlh terlampaui dan Kepala KPP tdk

B241

menerbitkan suatu keputusan, permohonan disetujui sesuai dgn permohonan WP, dan SK
Persetujuan Angsuran Pembayaran Pajak atau SK Persetujuan Penundaan Pembayaran Pajak hrs
diterbitkan paling lama 5 hari kerja stl jangka waktu 7 hari kerja tsb berakhir.
Keputusan Kepala KPP dpt berupa:
Menyetujui jml angsuran pajak dan/atau masa angsuran atau lamanya penundaan sesuai dgn
permohonan WP;
Menyetujui jml angsuran pajak dan/atau masa angsuran atau lamanya penundaan sesuai dgn
pertimbangan Kepala KPP; atau
Menolak permohonan WP
Thd utang pajak yg tlh diterbitkan SK tdk dpt lagi diajukan permohonan utk mengangsur atau
menunda pembayaran

Lama Angsuran / Penundaan yg Diberikan oleh DJP:


a. Atas kekurangan pembayaran pajak yg terutang (PPh Pasal 29) berdasarkan SPT Tahunan PPh
1. Angsuran atas utang pajak dpt diberikan utk paling lama s.d. bulan terakhir Thn Pajak berikutnya
dgn angsuran paling banyak 1 x dlm 1 bulan
Besarnya pembayaran angsuran atas utang pajak ditetapkan dlm jml utang pajak yg sama
besar utk setiap angsuran
2. Penundaan atas utang pajak dpt diberikan utk paling lama s.d. bulan terakhir Thn Pajak
berikutnya
Besarnya pelunasan atas penundaan utang pajak ditetapkan sejumlah utang pajak yg ditunda
pelunasannya
b. Atas Pajak yg masih hrs dibayar dlm STP, SKPKB, SKPKBT, dan SK Pembetulan, SK Keberatan,
Putusan Banding, serta Putusan PK, yg menyebabkan jml pajak yg terutang bertambah
1. Angsuran atas utang pajak dpt diberikan utk paling lama 12 bulan sejak diterbitkannya SK
Persetujuan Angsuran Pembayaran Pajak dgn angsuran paling banyak 1 x dlm 1 bulan
Besarnya pembayaran angsuran atas utang pajak ditetapkan dlm jml utang pajak yg sama
besar utk setiap angsuran
2. Penundaan atas utang pajak dpt diberikan utk paling lama 12 bulan sejak diterbitkannya SK
Persetujuan Penundaan Pembayaran Pajak
Besarnya pelunasan atas penundaan utang pajak ditetapkan sejumlah utang pajak yg ditunda
pelunasannya
Pengurangan Angsuran PPh Pasal 25 lihat Bab C-16 PPh Pasal 25

B242

PENAGIHAN PAJAK
Dasar Hukum:
Pasal 18, 19, 20, 21, 22 UU KUP
UU PPSP
Pasal 46, 47, 48 PP 74 Thn 2011 (berlaku sejak 1 Jan 2012)
PP 135 Thn 2000 ttg Tata Cara Penyitaan dlm Rangka PPSP
PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010 ttg Tata Cara Pelaksanaan Penagihan dgn Surat
Paksa dan Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus
KMK-563/KMK.04/2000 ttg Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yg
Tersimpan pd Bank dlm Rangka PPSP
KEP-21/PJ/2002 ttg Tata Cara Pemberitahuan Pelaksanaan PPSP dan Penyitaan di Luar Wilayah
Kerja Pejabat yg Berwenang Menerbitkan Surat Paksa sejak 17 Sept 2014, Pasal 6 tdk berlaku
PER-24/PJ/2014 ttg Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan
Penanggung Pajak yg Tersimpan pd Bank dlm Rangka PPSP (berlaku sejak 17 Sept 2014)
mencabut KEP-627/PJ./2001 jo PER-109/PJ/2007, Pasal 6 KEP-21/PJ/2002, dan Formulir dlm
KEP-645/PJ/2001 jo KEP-474/PJ/2002
SE terkait:
SE-01/PJ.045/2007

A. KETENTUAN TERKAIT PENAGIHAN PAJAK


Dasar Penagihan Pajak: (Pasal 18 UU KUP)
1. STP,
2. SKPKB, serta
3. SKPKBT, dan
4. SK Pembetulan,
5. SK Keberatan,
6. Putusan Banding, serta
7. Putusan PK,
yg menyebabkan jml pajak yg masih hrs dibayar bertambah.
Pasal 46 PP 74 Thn 2011:
Ketentuan mengenai jml pajak yg masih hrs dibayar bertambah dlm Pasal 9 ayat (3) UU KUP,
Pasal 18 ayat (1) UU KUP, Pasal 19 ayat (1) UU KUP, Pasal 20 ayat (1) UU KUP, Pasal 21 ayat
(4) UU KUP, dan Pasal 26 ayat (3) UU KUP termasuk pajak yg pajak yg seharusnya tdk
dikembalikan.
Surat pelaksanaan Putusan Banding atau surat pelaksanaan Putusan PK juga diterbitkan akibat
Putusan Banding atau Putusan PK yg menyebabkan pembayaran atas pajak yg seharusnya tdk
dikembalikan.
Contoh 1:
Thd WP diterbitkan suatu SKPKB dgn nilai seb Rp 80 juta. Atas SKPKB tsb, bagian yg disetujui
oleh WP dlm PAHP adalah seb Rp 50 juta. WP mengajukan keberatan dgn keputusan yg menyatakan bahwa SKPKB menjadi seb Rp 70 juta. Thd keputusan keberatan WP mengajukan
permohonan banding. Putusan Banding menyatakan bahwa jml yg masih hrs dibayar dlm SKPKB
menjadi seb Rp 40 juta. Berdasarkan Putusan Banding tsb Dirjen Pajak menerbitkan SPMKP seb
Rp 10 juta, yakni pembayaran sbl mengajukan keberatan dikurangi dgn jml yg masih hrs dibayar
berdasarkan Putusan Banding. Thd Putusan Banding tsb, Dirjen Pajak mengajukan permohonan
PK ke MA. Putusan PK menyatakan bahwa WP hrs membayar sejumlah sebagaimana dimaksud
dlm SK Keberatan, yakni seb Rp 70 juta. Berdasarkan Putusan PK thd WP ditagih berdasarkan jml
pajak yg masih hrs dibayar seb Rp 30 juta yg terdiri dari jml pajak yg masih hrs dibayar
berdasarkan Putusan PK dikurangi dgn pajak yg tlh dilunasi sbl mengajukan keberatan
(Rp 70 juta - Rp 50 juta = Rp 20 juta) dan ditambah dgn pajak yg seharusnya tdk dikembalikan
berdasarkan Putusan Banding (Rp 50 juta - Rp 40 juta = Rp 10 juta).
Contoh 2:
Thd WP yg menyampaikan SPT LB seb Rp 90 juta. Atas SPT tsb diterbitkan sebuah SKPLB dgn
nilai seb Rp 10 juta. Atas SKPLB tsb, WP P mengajukan keberatan dgn keputusan yg menyatakan

B251

bahwa SKPLB tetap seb Rp 10 juta. WP mengajukan permohonan banding, dgn Putusan Banding
menyatakan bahwa SKPLB menjadi seb Rp 80 juta. Berdasarkan Putusan Banding, Dirjen Pajak
menerbitkan SPMKP seb Rp 70 juta. Dlm hal ini Dirjen Pajak mengajukan permohonan PK ke MA.
Putusan PK menyatakan bahwa thd WP hanya dpt diberikan pengembalian LB seb Rp 10 juta.
Berdasarkan Putusan PK thd WP ditagih berdasarkan jml pajak yg seharusnya tdk dikembalikan
seb Rp 70 juta.
Penagihan Pajak dgn Surat Paksa:
1. Atas jml pajak yg masih hrs dibayar, yg berdasarkan STP, SKPKB, serta SKPKBT, dan SK
Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan PK yg menyebabkan jml pajak yg
masih hrs dibayar bertambah, yg tdk dibayar oleh Penanggung Pajak sesuai dgn jangka waktu pd
Pasal 9 ayat (3) / ayat (3a) dilaksanakan penagihan pajak dgn Surat Paksa sesuai dgn ketentuan
perpu perpajakan. (Pasal 20 ayat (1) UU KUP)
2. Dikecualikan dari penagihan pajak dgn surat paksa, penagihan seketika & sekaligus dilakukan
apabila: (Pasal 20 ayat (2) UU KUP)
Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia utk selama-lamanya atau berniat utk itu;
Penanggung Pajak memindahtangankan barang yg dimiliki atau yg dikuasai dlm rangka
menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau pekerjaan yg dilakukannya di
Indonesia;
Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha atau
menggabungkan atau memekarkan usaha, atau memindahtangankan perusahaan yg dimiliki
atau yg dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya;
Badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
Terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda
kepailitan.
Penagihan seketika & sekaligus: Tindakan penagihan pajak yg dilaksanakan oleh Jurusita
Pajak kpd Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yg meliputi slr
utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Thn Pajak. (Penjelasan Pasal 20 ayat (2)
UU KUP)
Hak Mendahului:
1. Negara mempunyai hak mendahulu utk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak.
(Pasal 21 ayat (1) UU KUP)
Ketentuan tentang hak mendahulu meliputi pokok pajak, sanksi administrasi berupa bunga,
denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak. (Pasal 21 ayat (2) UU KUP)
2. Hak mendahulu utk utang pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali thd: (Pasal 21
ayat (3) UU KUP)
Biaya perkara yg hanya disebabkan oleh suatu penghukuman utk melelang suatu barang
bergerak dan/atau barang tdk bergerak;
Biaya yg tlh dikeluarkan utk menyelamatkan barang dimaksud; dan/atau
Biaya perkara, yg hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan.
3. Dlm hal WP dinyatakan pailit, bubar, atau dilikuidasi maka kurator, likuidator, atau orang atau
badan yg ditugasi utk melakukan pemberesan dilarang membagikan harta WP dlm pailit,
pembubaran atau likuidasi kpd pemegang saham atau kreditur lainnya sbl menggunakan harta
tsb utk membayar utang pajak WP tsb. (Pasal 21 ayat (3a) UU KUP)
4. Hak mendahulu hilang stl melampaui waktu 5 thn sejak tanggal diterbitkan STP, SKPKB, serta
SKPKBT, SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan PK yg menyebabkan
jml pajak yg hrs dibayar bertambah. (Pasal 21 ayat (4) UU KUP)
Perhitungan jangka waktu hak mendahulu: (Pasal 21 ayat (5) UU KUP)
Dlm hal Surat Paksa utk membayar diberitahukan scr resmi maka jangka waktu 5 thn dihitung
sejak pemberitahuan Surat Paksa; atau
Dlm hal diberikan penundaan pembayaran / persetujuan angsuran pembayaran maka jangka
waktu 5 thn dihitung sejak batas akhir penundaan diberikan.
Dlm hal diberikan penundaan pembayaran / persetujuan angsuran pembayaran, jangka
waktu hak mendahulu selama 5 thn pd Pasal 21 ayat (5) huruf b UU KUP, dihitung sejak
batas akhir penundaan diberikan atau sejak tanggal jatuh tempo angsuran terakhir. (Pasal 47
PP 74 Thn 2011)

B252

Daluwarsa Penagihan:
1. Hak utk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan
pajak, daluwarsa stl melampaui waktu 5 thn terhitung sejak penerbitan STP, SKPKB, serta
SKPKBT, dan SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan PK. (Pasal 22
ayat (1) UU KUP)
2. Daluwarsa penagihan pajak tertangguh apabila: (Pasal 22 ayat (2) UU KUP & penjelasannya)
a. Dirjen Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kpd Penanggung Pajak yg tdk
melakukan pembayaran hutang pajak sampai dgn tanggal jatuh tempo pembayaran.
Daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa tsb.
b. WP menyatakan pengakuan utang pajak dgn cara mengajukan permohonan angsuran /
penundaan pembayaran utang pajak sbl tanggal jatuh tempo pembayaran.
Daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran /
penundaan pembayaran utang pajak diterima oleh Dirjen Pajak.
c. Terdapat SKPKB atau SKPKBT yg diterbitkan thd WP krn WP melakukan tindak pidana di
bidang perpajakan dan tindak pidana lain yg dpt merugikan pendapatan Negara berdasarkan
putusan pengadilan yg tlh mempunyai kekuatan hukum tetap.
Daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan skp tsb.
d. Thd WP dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan
Daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Perintah Penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan.

B. JANGKA WAKTU PELUNASAN STP, SKPKB, SKPKBT, DAN SK ATAU KETETAPAN LAINNYA
1. STP, SKPKB, SKPKBT, dan SK Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan PK,
yg menyebabkan jml pajak yg hrs dibayar bertambah, hrs dilunasi dlm jangka waktu 1 bulan sejak
tanggal diterbitkan.
a. Dlm hal WP mengajukan keberatan & tdk mengajukan permohonan banding, pelunasan atas
jml pajak yg blm dibayar dilakukan paling lama 1 bulan sejak tanggal penerbitan SK
Keberatan.
(Pasal 48 ayat (1) PP 74 Thn 2011)
b. Dlm hal WP mengajukan permohonan banding, pelunasan atas jml pajak yg blm dibayar
dilakukan paling lama 1 bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding.
(Pasal 48 ayat (2) PP 74 Thn 2011)
c. Dlm hal WP menyetujui slr jml pajak yg masih hrs dibayar dlm PAHP / PAHV, pelunasan atas
jml pajak yg masih hrs dibayar dilakukan paling lama 1 bulan sejak tanggal penerbitan skp.
(Pasal 48 ayat (3) PP 74 Thn 2011)
2. Bagi WP usaha kecil dan WP di daerah tertentu, jangka waktu pelunasan dpt diperpanjang
paling lama menjadi 2 bulan yg ketentuannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan Menkeu.
(PMK-187/PMK.03/2007)
a. Dlm hal WP usaha kecil dan WP di daerah tertentu menyetujui slr jml pajak yg masih hrs
dibayar dlm PAHP / PAHV, pelunasan atas jml pajak yg masih hrs dibayar dilakukan paling
lama 2 bulan sejak tanggal penerbitan skp. (Pasal 48 ayat (4) PP 74 Thn 2011)
b. Kriteria WP usaha kecil:
1. WP OP usaha kecil:
WP OP; dan
menerima atau memperoleh peredaran usaha dari kegiatan usaha atau menerima
penerimaan bruto dari pekerjaan bebas dlm Thn Pajak sebelumnya < Rp 600 juta.
2. WP badan usaha kecil:
Modal WP 100% dimiliki oleh WNI;
Menerima atau memperoleh peredaran usaha dlm Thn Pajak sebelumnya < Rp 900
juta.
c. WP di daerah tertentu adalah WP yg tempat tinggal, tempat kedudukan, atau tempat kegiatan
usahanya berlokasi di daerah tertentu yg ditetapkan oleh Dirjen Pajak. (ketentuan terkait
daerah tertentu ini blm diterbitkan)
Dlm hal WP tdk melunasi jml pajak yg masih hrs dibayar dlm jangka waktu pd butir B.1.a-c &
B.2.a, pajak yg masih hrs dibayar tsb ditagih dgn terlebih dahulu menerbitkan Surat Teguran.
(Pasal 48 ayat (5) PP 74 Thn 2011)

B253

C. JADWAL WAKTU PENAGIHAN PAJAK


1. Penerbitan Surat Teguran
a. Penagihan Pajak dilakukan dgn terlebih dahulu menerbitkan Surat Teguran oleh Kepala KPP
b. Surat Teguran tdk diterbitkan thd Penanggung Pajak yg tlh disetujui utk mengangsur atau
menunda pembayaran pajak.
c. Jangka waktu penerbitan Surat Teguran :
Dlm hal WP tdk menyetujui sebagian atau slr jml pajak yg masih hrs dibayar dlm PAHP /
PAHV dan WP tdk mengajukan keberatan, Surat Teguran disampaikan stl 7 hari sejak
saat jatuh tempo pengajuan keberatan.
(Pasal 48 ayat (7) PP 74 Thn 2011)
Surat Teguran disampaikan stl 7 hari stl 3 bulan sejak tanggal dikirimnya SKP kpd
WP.
Dlm hal WP tdk menyetujui sebagian atau slr jml pajak yg masih hrs dibayar dlm PAHP /
PAHV dan WP tdk mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan, Surat
Teguran disampaikan stl 7 hari sejak saat jatuh tempo pengajuan permohonan banding.
(Pasal 48 ayat (8) PP 74 Thn 2011)
Surat Teguran disampaikan stl 7 hari stl 3 bulan sejak SK Keberatan diterima WP.
Dlm hal WP tdk menyetujui sebagian atau slr jml pajak yg masih hrs dibayar dlm PAHP /
PAHV, dan WP mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan
sehubungan dgn SKPKB, atau SKPKBT, kpd WP disampaikan Surat Teguran stl 7 hari
sejak saat jatuh tempo pelunasan pajak yg masih hrs dibayar berdasarkan Putusan
Banding.
(Pasal 48 ayat (9) PP 74 Thn 2011)
Surat Teguran disampaikan stl 7 hari stl 1 bulan sejak tanggal putusan banding
diterbitkan
Dlm hal WP menyetujui slr jml pajak yg masih hrs dibayar dlm PAHP, kpd WP
disampaikan Surat Teguran stl 7 hari sejak saat jatuh tempo pelunasan pajak atas STP,
SKPKB, SKPKBT, dan SK Pembetulan, SK Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan
PK.
(Pasal 9 ayat (4) PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)
Surat Teguran akan disampaikan stl 7 hari stl 1 bulan sejak surat ketetapan/keputusan
tsb diterbitkan
Dlm hal WP mencabut pengajuan keberatan atas SKPKB atau SKPKBT stl tanggal jatuh
tempo pelunasan tetapi sbl tanggal diterima Surat Pemberitahuan Utk Hadir oleh WP,
kpd WP disampaikan Surat Teguran stl 7 hari sejak tanggal pencabutan pengajuan
keberatan tsb.
(Pasal 9 ayat (5) PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)
Apabila sanksi administrasi dlm STP dikenakan sbg akibat diterbitkan skp, yg pajak
terutangnya tdk disetujui oleh WP dlm PAHP / PAHV dan atas skp diajukan keberatan
dan/atau banding, tindakan penagihan atas STP tsb ditangguhkan sampai dgn skp tsb
mempunyai kekuatan hukum tetap.
(Pasal 48 ayat (10) PP 74 Thn 2011)
2. Penerbitan Surat Paksa
Apabila jumlah utang pajak tdk dilunasi oleh Penanggung Pajak stl lewat waktu 21 hari sejak
tanggal disampaikan Surat Teguran, Surat Paksa diterbitkan oleh Pejabat dan diberitahukan scr
langsung oleh jurusita Pajak kpd Penanggung Pajak.
(Pasal 12 PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)
3. Penerbitan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP)
Apabila stl lewat waktu 2 x 24 jam sejak Surat Paksa diberitahukan kpd Penanggung Pajak dan
utang pajak tdk dilunasi oleh Penanggung Pajak, Pejabat menerbitkan SPMP.
(Pasal 24 PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)
4. Pengumuman Lelang
Apabila stl lewat waktu 14 hari sejak tanggal pelaksanaan penyitaan, Penanggung Pajak tdk
melunasi utang pajak & biaya Penagihan Pajak, Pejabat melakukan pengumuman lelang.
(Pasal 26 PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)
5. Pelaksanaan Lelang

B254

Apabila stl lewat waktu 14 hari sejak Pengumuman Lelang, Penanggung Pajak tdk melunasi
utang pajak & biaya Penagihan Pajak, Pejabat melakukan penjualan barang sitaan Penanggung
Pajak melalui kantor lelang negara.
(Pasal 28 PMK-24/PMK.03/2008 jo PMK-85/PMK.03/2010)

D. BIAYA PENAGIHAN PAJAK

Besar Biaya Penagihan Pajak: (Pasal 16 ayat (1) PP 135 Thn 2000)
Rp 50.000,- utk setiap pemberitahuan Surat Paksa, dan
Rp 100.000,- utk setiap pelaksanaan SPMP
Besar Tambahan Biaya Penagihan Pajak dlm Hal Barang yg Tlh Disita Dijual: (Pasal 16 ayat
(2) PP 135 Thn 2000)

scr lelang, 1% dari pokok lelang.

tdk scr lelang, 1% dari hasil penjualan.


Biaya penagihan pajak & tambahan biaya penagihan pajak mrp PNBP.
KPP/KPPBB mengupayakan agar semua biaya penagihan pajak termasuk biaya pelaksanaan
SP, SPMP, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, tambahan biaya penagihan dan biayabiaya lainnya sehubungan dgn penagihan pajak dibebankan kpd WP dan disetorkan ke Kas
Negara menggunakan formulir SSBP dgn Mata Anggaran Penerimaan 423155.

B255

SURAT KETERANGAN FISKAL (SKF)


Dasar Hukum:
UU KUP
UU PPh
UU PPN
PER-44/PJ/2013 (berlaku mulai 05 Des 2013) mencabut KEP-447/PJ./2001 jo PER-69/PJ./2007
KEP-378/PJ/2013 ttg Penetapan Standar Pelayanan pd KPP
SE terkait:
SE-29/PJ.44/1999 ttg Masa Berlakunya SKF
Definisi:
SKF: Surat yg diterbitkan oleh Dirjen Pajak yg berisi keterangan mengenai pemenuhan kewajiban
perpajakan WP utk masa pajak & thn pajak tertentu, yg dipergunakan untuk memenuhi persyaratan
bagi WP dalam melakukan pengadaan barang dan/atau jasa untuk keperluan Instansi Pemerintah.
Kantor Pusat: Tempat WP yg antara lain berupa tempat kegiatan usaha atau tempat kedudukan, yg
terdaftar di KPP dan memiliki NPWP dgn kode 3 digit terakhirnya adalah 000, serta mempunyai
kewajiban melaporkan SPT Tahunan PPh ke KPP tempat Kantor Pusat WP tsb terdaftar.
Kantor Cabang: Tempat WP yg antara lain berupa tempat kegiatan usaha atau tempat kedudukan,
yg terdaftar di KPP dan memiliki NPWP dgn kode 3 digit terakhirnya selain 000, yg hanya mempunyai
kewajiban melaporkan SPT Masa ke KPP tempat Kantor Cabang WP tsb terdaftar.
Terakhir: SPT dan/atau pelunasan pajak utk Masa Pajak dan Thn Pajak terakhir sbl surat
permohonan SKF diajukan hrs sdh dilaporkan dan/atau dilunasi pd saat surat permohonan SKF
dimaksud diajukan dan diterima oleh Dirjen Pajak melalui Kepala KPP
Tata Cara & Persyaratan:
1. WP menyampaikan permohonan SKF kpd Dirjen Pajak melalui KPP tempat WP terdaftar
Dlm hal WP mempunyai Kantor Cabang maka permohonan SKF diajukan oleh Kantor Pusat WP
melalui pengurus atau pihak yg diberikan kuasa dgn surat kuasa khusus kpd Dirjen Pajak melalui
Kepala KPP tempat SPT Tahunan PPh WP dimaksud diadministrasikan.
2. SKF diberikan kpd WP yg mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan: (Pasal 3 PER44/PJ/2013)
a. Tdk sedang dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan;
b. Tdk mempunyai Utang Pajak baik di KPP tempat Kantor Pusat terdaftar maupun di KPP tempat
Kantor Cabang terdaftar, kecuali dlm hal WP mendapatkan ijin utk menunda atau mengangsur
pembayaran pajak sesuai Pasal 9 ayat (4) UU KUP, mengajukan keberatan sesuai Pasal 25 ayat
(3a) UU KUP, atau mengajukan banding sesuai Pasal 27 ayat (5a) UU KUP;
c. Tlh menyampaikan SPT Tahunan PPh utk thn pajak terakhir dan SPT Masa utk 3 Masa Pajak
terakhir; dan
d. Mengisi form permohonan pd Lamp I PER-44/PJ/2013
Dgn Melampirkan: (Pasal 4 PER-44/PJ/2013)
FC SPT Tahunan PPh utk thn pajak terakhir beserta
FC tanda terima pelaporan; dan
FC SSP dlm hal terdapat pembayaran; dan/atau FC surat persetujuan mengangsur atau
menunda pembayaran pajak yg terutang, dlm hal WP mengajukan permohonan
menunda atau mengangsur pembayaran pajak yg terutang sesuai Pasal 9 ayat (4) UU
KUP;
FC SPPT dan STTS PBB Thn Pajak terakhir, dlm hal kewenangan pemungutannya berada di
DJP;
FC SPT Masa utk 3 Masa Pajak terakhir beserta FC bukti pelaporan dan SSP, dlm hal
terdapat pembayaran dlm SPT Masa dimaksud.
3. Apabila permohonan SKF WP tdk memenuhi persyaratan: (Pasal 6 PER-44/PJ/2013)
a. Kepala KPP tempat permohonan SKF diterima, menyampaikan permintaan kpd WP utk
melengkapi dokumen yg masih hrs dilengkapi
b. Kelengkapan dokumen pd huruf a hrs diterima oleh Kepala KPP tempat WP mengajukan
permohonan paling lama 5 hari kerja sejak formulir permintaan kelengkapan dikirim oleh
Kepala KPP, yg penyampaiannya dpt dilakukan scr lsg, melalui pos, dan/atau sarana komunikasi
lainnya.

B261

Yg Dilakukan Petugas KPP Stl Menerima Permohonan SKF dari WP:


1. Petugas di KPP tempat Kantor Pusat WP terdaftar meneliti pemenuhan slr persyaratan pemberian
SKF termasuk pemenuhan kewajiban perpajakannya di KPP tempat Kantor Cabang WP terdaftar.
2. Utk keperluan penelitian kewajiban perpajakan Kantor Cabang WP pd angka 1, Kepala KPP tempat
Kantor Pusat WP terdaftar melakukan konfirmasi pemenuhan kewajiban perpajakan ke Kepala KPP
tempat Kantor Cabang WP terdaftar dgn mengirimkan surat konfirmasi.
3. Kepala KPP tempat Kantor Cabang WP terdaftar, memberikan jawaban atas surat konfirmasi tsb
paling lama 3 hari kerja sejak formulir permohonan konfirmasi kewajiban perpajakan dikirim
oleh Kepala KPP tempat Kantor Pusat WP terdaftar, yg penyampaiannya dpt dilakukan scr lsg,
melalui pos, dan/atau sarana komunikasi lainnya.
Jangka Waktu Penyelesaian:
Kepala KPP a.n. Dirjen Pajak menerbitkan SKF utk WP yg tlh memenuhi persyaratan paling lama 10
hari kerja sejak diterimanya permohonan WP scr lengkap
(Pasal 7 ayat (4) PER-44/PJ/2013 dan Lamp III KEP-378/PJ/2013)
Dlm hal WP:
Tdk memenuhi persyaratan sesuai Pasal 3 PER-4/PJ/20134; atau
Tdk menyampaikan kelengkapan dokumen s.d. batas waktu yg tlh ditetapkan dlm surat
permintaan kelengkapan dokumen sesuai Pasal 6 PER-44/PJ/2013,
Kepala KPP a.n. Dirjen Pajak menerbitkan surat penolakan pemberian SKF
Masa Berlaku SKF:
Masa berlaku SKF adalah maksimal 1 thn atau 12 bulan sejak tanggal diterbitkan atau s.d.
dimasukkannya SPT Tahunan PPh thn berikutnya (sesuai dgn batas waktu penyampaian SPT Tahunan
PPh)

B262

BAGIAN C
PAJAK PENGHASILAN (PPh)

POIN UU PPh
Pasal
Perihal
BAB I KETENTUAN UMUM
1
Pengenaan PPh
BAB II SUBJEK PAJAK
2
Subjek Pajak dan pembagiannya
2A
Kewajiban pajak subjektif
3
Yg tdk termasuk subjek pajak
BAB III OBJEK PAJAK
4
Objek pajak; Penghasilan dikenai pajak final, Yg dikecualikan dari objek pajak
5
Objek pajak, biaya, dan laba BUT
6
Biaya utk 3M penghasilan
7
PTKP
8
Penghasilan atau kerugian bagi wanita yg tlh kawin; Penghasilan suami-isteri yg dikenai pajak scr
terpisah
9
Biaya yg tdk boleh dikurangkan
10
Perolehan atau pengalihan harta
11
Penyusutan
11A
Amortisasi
12
13
14
Norma Penghitungan Penghasilan Neto
15
Norma Penghitungan Khusus
BAB IV CARA MENGHITUNG PAJAK
16
Penghasilan Kena Pajak
17
Tarif pajak
18
Perbandingan antara utang dan modal perusahaan; Saat diperolehnya dividen oleh WP DN atas
penyertaan modal pd badan usaha di LN selain badan usaha yg menjual sahamnya di bursa efek;
Hubungan istimewa
19
Penilaian kembali aktiva
BAB V PELUNASAN PAJAK DLM THN BERJALAN
20
Pelunasan pajak yg diperkirakan akan terutang dlm suatu thn pajak
21
Pemotongan pajak atas penghasilan yg diterima atau diperoleh WP OP DN
22
Penetapan pemungut pajak
23
Pemotongan pajak atas penghasilan yg diterima atau diperoleh WP DN atau BUT
24
Kredit pajak LN
25
Angsuran pajak dlm thn pajak berjalan
26
Pemotongan pajak atas penghasilan yg diterima atau diperoleh WP LN selain BUT di Indonesia
27
BAB VI PERHITUNGAN PAJAK PD AKHIR THN
28
Kredit pajak utk thn pajak yg bersangkutan
28A
Kelebihan pembayaran pajak
29
Kekurangan pembayaran pajak yg terutang
30
31
BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN
31A
Fasilitas perpajakan atas penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di
daerah-daerah tertentu
31B
31C
Pembagian penerimaan negara dari PPh OP DN dan PPh Pasal 21 yg dipotong oleh pemberi kerja
31D
Ketentuan mengenai perpajakan bagi bidang usaha pertambangan
31E
Fasilitas bagi WP badan DN dgn peredaran bruto <. Rp 50 M
32
Tata cara pengenaan pajak dan sanksi-sanksi
32A
Wewenang pemerintah dlm rangka penghindaran pajak berganda & pencegahan pengelakan pajak
32B
Pengenaan pajak atas bunga atau diskonto Obligasi Negara
BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN
33
Pilihan cara menghitung pajak berdasar UU PPh lama
33A
Kewajiban penghitungan pajak bagi WP yg thn bukunya berakhir stl tanggal 30 Juni 1995
34
Peraturan pelaksanaan di bidang PPh yg masih berlaku dinyatakan tetap berlaku sepanjang tdk
bertentangan
BAB IX KETENTUAN PENUTUP
35
Pengaturan hal-hal yg blm cukup diatur dlm UU PPh

C011

RINGKASAN UU PPh
SUBJEK PAJAK (Pasal 2 UU PPh)
1. Orang Pribadi (OP)
2. Warisan yg blm terbagi sbg 1 kesatuan menggantikan yg berhak
3. Badan
4. BUT perlakuan perpajakannya dipersamakan dgn Subjek Pajak Badan
Subjek Pajak dpt dibedakan atas subjek pajak DN (SPDN) dan subjek pajak LN (SPLN)
SPDN (Pasal 2 ayat (3) UU PPh)
a.
OP yg bertempat tinggal di Indonesia, OP yg berada di Indonesia > 183 hari dlm jangka waktu
12 bulan, atau OP yg dlm suatu thn pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat utk
bertempat tinggal di Indonesia.
b.
Badan yg didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, kecuali unit tertentu dari badan
pemerintah yg memenuhi kriteria:
1.
pembentukannya berdasarkan ketentuan perpu;
2.
pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD;
3.
penerimaannya dimasukkan dlm anggaran Pempus atau Pemda; dan
4.
pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional Negara.
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yg mrp kesatuan baik yg melakukan usaha
maupun yg tdk melakukan usaha yg meliputi PT, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
BUMN atau BUMD dgn nama dan dlm bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau
organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya termasuk KIK dan BUT. BUMN dan
BUMD mrp subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya shg setiap unit tertentu
dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yg dimiliki oleh Pempus
dan Pemda yg menjalankan usaha atau melakukan kegiatan utk memperoleh penghasilan
mrpn subjek pajak. Dlm pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan,
perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yg mempunyai kepentingan yg sama.
c.
Warisan yg blm terbagi sbg 1 kesatuan menggantikan yg berhak.
SPLN (Pasal 2 ayat (4) & (5) UU PPh)
a. OP yg tdk bertempat tinggal di Indonesia, OP yg berada di Indonesia < 183 hari dlm jangka
waktu 12 bulan, dan badan yg tdk didirikan dan tdk bertempat kedudukan di Indonesia, yg
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
b. OP yg tdk bertempat tinggal di Indonesia, OP yg berada di Indonesia < 183 hari dlm jangka
waktu 12 bulan, dan badan yg tdk didirikan dan tdk bertempat kedudukan di Indonesia, yg dpt
menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tdk dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
BUT adalah bentuk usaha yg dipergunakan oleh OP yg tdk bertempat tinggal di Indonesia, OP yg
berada di Indonesia < 183 hari dlm jangka waktu 12 bulan, dan badan yg tdk didirikan dan tdk
bertempat kedudukan di Indonesia utk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia,
yg dpt berupa:
1.
tempat kedudukan manajemen;
2.
cabang perusahaan;
3.
kantor perwakilan;
4.
gedung kantor;
5.
pabrik;
6.
bengkel;
7.
gudang;
8.
ruang utk promosi dan penjualan;
9.
pertambangan dan penggalian sumber alam;
10. wilayah kerja pertambangan migas;
11. perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
12. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
13. pemberian jasa dlm bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan >
60 hari dlm jangka waktu 12 bulan;
14. orang atau badan yg bertindak selaku agen yg kedudukannya tdk bebas;
15. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yg tdk didirikan dan tdk bertempat kedudukan di

C021

16.

Indonesia yg menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia; dan


komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yg dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
penyelenggara transaksi elektronik utk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF (Pasal 2A UU PPh)


Subyek Pajak
Mulai
Berakhir
OP sesuai Pasal 2 ayat
Pd saat OP tsb dilahirkan,
Pd saat meninggal dunia atau
(3) huruf a UU PPh
berada, atau berniat utk
meninggalkan Indonesia utk
bertempat tinggal di Indonesia
selama-lamanya
OP sesuai Pasal 2 ayat
Pd saat badan tsb didirikan atau
Pd saat dibubarkan atau tdk lagi
(3) huruf b UU PPh
bertempat kedudukan di
bertempat kedudukan di
Indonesia
Indonesia
OP atau badan sesuai
Pd saat OP atau badan tsb
Pd saat tdk lagi menjalankan
Pasal 2 ayat (4) huruf a
menjalankan usaha atau
usaha atau melakukan kegiatan
UU PPh
melakukan kegiatan melalui BUT melalui BUT
OP atau badan sesuai
Pd saat OP atau badan tsb
Pd saat tdk lagi menerima atau
Pasal 2 ayat (4) huruf b
menerima atau memperoleh
memperoleh penghasilan tsb
UU PPh
penghasilan dari Indonesia
Warisan yg blm terbagi
Pd saat timbulnya warisan yg blm Pd saat warisan tsb selesai
sesuai Pasal 2 ayat (1)
terbagi tsb
dibagi sejak saat itu
huruf a angka 2) atau
pemenuhan kewajiban
Pasal 2 ayat (3) huruf c
perpajakannya beralih kpd para
Uu PPh
ahli waris
Apabila kewajiban pajak subjektif OP yg bertempat tinggal atau yg berada di Indonesia hanya
meliputi sebagian dari thn pajak, maka bagian thn pajak tsb menggantikan thn pajak.
BUKAN SUBJEK PAJAK (Pasal 3 UU PPh)
1. Kantor perwakilan negara asing
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing
dan orang-orang yg diperbantukan kpd mereka yg bekerja pd dan bertempat tinggal
bersama-sama mereka dgn syarat bukan WNI dan di Indonesia tdk menerima atau memperoleh
penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tsb serta negara bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik
3. Organisasi-organisasi internasional dgn syarat:
Indonesia menjadi anggota organisasi tsb, dan
tdk menjalankan usaha atau kegiatan lain utk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain
memberikan pinjaman kpd pemerintah yg dananya berasal dari iuran para anggota
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional, dgn syarat bukan WNI dan tdk menjalankan
usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain utk memperoleh penghasilan dari Indonesia

Organisasi Internasional: Organisasi/badan/lembaga/asosiasi/perhimpunan/forum antar


pemerintah atau non-pemerintah yg bertujuan utk meningkatkan kerjasama internasional dan
dibentuk dgan aturan tertentu atau kesepakatan bersama.
Pejabat perwakilan organisasi internasional: Pejabat yg diangkat atau ditunjuk langsung oleh
induk organisasi internasional yg bersangkutan utk menjalankan tugas atau jabatan pd kantor
perwakilan organisasi internasional tsb di Indonesia.
(Pasal 1 PMK-215/PMK.03/2008 stdd PMK-142/PMK.03/2010)
OBJEK PPh (Pasal 4 ayat (1) UU PPh)
Yg menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yg
diterima atau diperoleh WP, baik yg berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yg dpt
dipakai utk konsumsi atau utk menambah kekayaan WP yg bersangkutan, dgn nama dan dlm
bentuk apa pun, termasuk:
a. Penggantian atau imbalan berkenaan dgn pekerjaan atau jasa yg diterima atau diperoleh
termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau
imbalan dlm bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dlm UU ini;
b. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;
c. laba usaha;
d. keuntungan krn penjualan atau krn pengalihan harta termasuk :

C022

1.

e.
f.
g.

h.
i.
j.
k.

keuntungan krn pengalihan harta kpd perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sbg
pengganti saham atau penyertaan modal;
2. keuntungan krn pengalihan harta kpd pemegang saham, sekutu, atau anggota yg
diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya;
3. keuntungan krn likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan,
pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dgn nama dan dlm bentuk apa pun;
4. keuntungan krn pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yg
diberikan kpd keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus 1 derajat dan badan
keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang
pribadi yg menjalankan usaha mikro dan kecil, yg ketentuannya diatur lbh lanjut dgn
Peraturan MenKeu, sepanjang tdk ada hub dgn usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yg bersangkutan; dan
5. keuntungan krn penjualan atau pengalihan sebagian atau slr hak penambangan, tanda
turut serta dlm pembiayaan, atau permodalan dlm perusahaan pertambangan;
penerimaan kembali pembayaran pajak yg tlh dibebankan sbg biaya dan pembayaran
tambahan pengembalian pajak;
bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan krn jaminan pengembalian utang;
dividen, dgn nama dan dlm bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kpd
pemegang polis, dan pembagian SHU koperasi; termasuk:
1. pembagian laba baik scr lsg ataupun tdk lsg, dgn nama dan dlm bentuk apapun;
2. pembayaran kembali krn likuidasi yg melebihi jml modal yg disetor;
3. pemberian saham bonus yg dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham bonus yg
berasal dari kapitalisasi agio saham;
4. pembagian laba dlm bentuk saham;
5. pencatatan tambahan modal yg dilakukan tanpa penyetoran;
6. jml yg melebihi jml setoran sahamnya yg diterima atau diperoleh pemegang saham krn
pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yg bersangkutan;
7. pembayaran kembali slr-nya atau sebagian dari modal yg disetorkan, jika dlm thn-thn yg
lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari
pengecilan modal dasar (statuter) yg dilakukan scr sah;
8. pembayaran sehubungan dgn tanda-tanda laba, termasuk yg diterima sbg penebusan
tanda-tanda laba tsb;
9. bagian laba sehubungan dgn pemilikan obligasi;
10. bagian laba yg diterima oleh pemegang polis;
11. pembagian berupa SHU kpd anggota koperasi;
12. pengeluaran perusahaan utk keperluan pribadi pemegang saham yg dibebankan sbg
biaya perusahaan.
royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
sewa dan penghasilan lain sehubungan dgn penggunaan harta;
penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
keuntungan krn pembebasan utang, kecuali s.d. jml tertentu yg ditetapkan dgn Peraturan
Pemerintah (PP 130 Thn 2000);
Pasal 1 PP 130 Thn 2000:
Utang Debitur Kecil: utang usaha yg jml-nya < Rp 350 juta, termasuk:
Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra);
Kredit Usaha Tani (KUT);
Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS);
Kredit Usaha Kecil (KUK); dan
Kredit kecil lainnya dlm rangka kebijakan perkreditan BI dlm mengembangkan usaha
kecil dan koperasi.
Pasal 2 PP 130 Thn 2000:
(1) Kredit yg diberikan oleh > 1 bank kpd 1 debitur yg jml seluruhnya < Rp 350 juta dpt
dihitung sbg Utang Debitur Kecil dari @ bank, sepanjang memenuhi kriteria Utang
Debitur Kecil.
(2) Dlm hal pemberian Utang Debitur Kecil dilakukan oleh > 1 bank kpd 1 debitur yg
mengakibatkan jml plafon kreditnya melampaui batas maksimum sesuai dlm Pasal
1, maka keuntungan krn pembebasan utang yg dikecualikan sbg Objek Pajak
adalah jml sisa kredit yg diperoleh pd bank pertama ditambah dgn jml sisa kredit yg

C023

l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.

diperoleh pd bank-bank berikutnya sampai mencapai jml plafon kredit keseluruhan


seb Rp 350 juta.
(3) Apabila masih terdapat sisa kredit pd bank tsb dan atau bank-bank lain stl dikurangi
dgn jml plafon kredit keseluruhan seb Rp 350 juta sesuai ayat (2), maka keuntungan
krnpembebasan utang atas sisa kredit tsb mrp Objek Pajak.
Pasal 3 PP 130 Thn 2000:
(1) Atas penghasilan yg diperoleh debitur berupa keuntungan krn pembebasan utang
yg mrp Utang Debitur Kecil dari bank atau lembaga pembiayaan sesuai Pasal 1,
dikecualikan sbg Objek Pajak.
(2) Pengecualian sbg Objek Pajak sesuai ayat (1) hanya dpt dinikmati yg bersangkutan
1 x dlm 1 thn pajak.
keuntungan selisih kurs mata uang asing;
selisih lbh krn penilaian kembali aktiva;
premi asuransi;
iuran yg diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yg terdiri dari WP yg
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
tambahan kekayaan neto yg berasal dari penghasilan yg blm dikenakan pajak;
penghasilan dari usaha berbasis syariah;
imbalan bunga sebagaimana dimaksud dlm UU yg mengatur mengenai ketentuan umum dan
tata cara perpajakan; dan
surplus BI.

BUKAN OBJEK PPh (Pasal 4 ayat (3) UU PPh)


a.
1. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yg diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yg dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yg diterima oleh
penerima zakat yg berhak atau sumbangan keagamaan yg sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yg diakui di Indonesia, yg diterima oleh lembaga keagamaan yg dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan yg diterima oleh penerima sumbangan yg berhak, yg
ketentuannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;
(PP 18 Thn 2009, Pasal 8 PER-31/PJ/2012, PMK-254/PMK.03/2010, PER-6/PJ/2011,
PER-33/PJ/2011 jo PER-15/PJ/2012) dan
Pasal 1 PER-15/PJ/2012:
Badan/Lembaga sbg penerima zakat atau sumbangan keagamaan yg sifatnya
wajib yg dpt dikurangkan dan penghasilan bruto:
1. Badan Amil Zakat Nasional
2. Lembaga Amil Zakat (LAZ)
a. LAZ Dompet Dhuafa Republika
b. LAZ Yayasan Amanah Takaful
c. LAZ Pos Keadilan Peduli Umat
d. LAZ Yayasan Baitulmaal Muamalat
e. LAZ Yayasan Dana Sosial Al Falah
f. LAZ Baitul Maal Hidayatullah
g. LAZ Persatuan Islam
h. LAZ Yayasan Baitul Maal Umat Islam PT Bank Negara Indonesia
(Persero) Tbk.
i. LAZ Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat
j. LAZ Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
k. LAZ Yayasan Baitul Maal BRI
l. LAZ Baitul Maal wat Tamwil
m. LAZ Baituzzakah Pertamina
n. LAZ Dompet Peduli Umat Daarut Tauhiid (DUDT)
o. LAZ Yayasan Rumah Zakat Indonesia
3. Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (LAZIS):
a. LAZIS Muhammadiyah
b. LAZIS Nandlatul Ulama (LAZIS NU)
c. LAZIS Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (LAZIS IPHI)
4. Lembaga Sumbangan Agama Kristen Indonesia (LEMSAKTI)
5. Badan Dharma Dana Nasional Yayasan Adikara Dharma Parisad (BDDN

C024

YADP)
No. 1 s.d. 4 mulai berlaku tanggal 11 Nov 2011
No. 5 mulai berlaku tanggal 11 Juni 2012
Pasal 2 PER-6/PJ/2011:
(1) WP yg melakukan pengurangan zakat atau sumbangan keagamaan yg
sifatnya wajib, wajib melampirkan FC bukti pembayaran pd SPT Tahunan
PPh Thn Pajak dilakukannya pengurangan zakat atau sumbangan
keagamaan yg sifatnya wajib.
(2) Bukti pembayaran pd ayat (1):
a. dpt berupa bukti pembayaran scr lsg atau melalui transfer rekening bank,
atau pembayaran melalui ATM, dan
b. paling sedikit memuat:
1) Nama lengkap WP dan NPWP pembayar;
2) Jml pembayaran;
3) Tanggal pembayaran;
4) Nama badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau lembaga
keagamaan yg dibentuk atau disahkan Pemerintah; dan
5) Tanda tangan petugas badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau
lembaga keagamaan, yg dibentuk atau disahkan Pemerintah, di
bukti pembayaran, apabila pembayaran scr lsg; atau
6) Validasi petugas bank pd bukti pembayaran apabila pembayaran
melalui transfer rekening bank.
Pasal 3 PER-6/PJ/2011:
Zakat atau sumbangan keagamaan yg sifatnya wajib tdk dpt dikurangkan dari
penghasilan bruto apabila:
a. tdk dibayarkan oleh WP kpd badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau
lembaga keagamaan, yg dibentuk atau disahkan Pemerintah; dan/atau
b. bukti pembayarannya tdk memenuhi ketentuan sesuai Pasal 2 ayat (2).
Pasal 4 PER-6/PJ/2011:
(1) Pengurangan zakat atau sumbangan keagamaan yg sifatnya wajib tsb
dilaporkan dlm SPT Tahunan PPh WP yg bersangkutan dlm Thn Pajak
dibayarkan zakat atau sumbangan keagamaan yg sifatnya wajib tsb.
(2) Dlm SPT Tahunan PPh, zakat atau sumbangan keagamaan yg sifatnya wajib
pd ayat (1) dilaporkan utk menentukan penghasilan neto.
2. harta hibahan yg diterima oleh keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus 1 derajat,
badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau
OP yg menjalankan usaha mikro dan kecil, yg ketentuannya diatur dgn atau berdasarkan
Peraturan MenKeu (PMK-245/PMK.03/2008),
sepanjang tdk ada hub dgn usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara
pihak-pihak yg bersangkutan;
Pasal 2 PMK-245/PMK.03/2008:
(1) Keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus 1 derajat adalah orang tua dari anak
kandung.
(2) Badan keagamaan adalah badan keagamaan yg kegiatannya semata-mata
mengurus tempat-tempat ibadah dan/atau menyelenggarakan, kegiatan di bidang
keagamaan, yg tdk mencari keuntungan.
(3) Badan pendidikan adalah badan pendidikan yg kegiatannya sernata-mata
menyelenggarakan pendidikan yg tdk mencari keuntungan.
(4) Badan sosial termasuk yayasan dan koperasi adalah badan sosial yg
kegiatannya semata-mata menyelenggarakan:
a. pemeliharaan kesehatan;
b. pemeliharaan orang lanjut usia (panti jompo);
c. pemeliharaan anak yatim-piatu, anak atau orang terlantar, dan anak atau
orang cacat;
d. santunan dan/atau pertolongan kpd korban bencana alam, kecelakaan, dan
sejenisnya;
e. pemberian beasiswa;
f. pelestarian lingkungan hidup; dan/atau

C025

b.
c.
d.

e.
f.

g.
h.
i.

k.

l.

g. kegiatan sosial lainnya,


yg tdk mencari keuntungan.
(5) OP yg menjalankan usaha mikro dan usaha kecil adalah OP yg menjalankan
usaha mikro dan usaha, kecil yg memiliki dan menjalankan usaha produktif yg
memenuhi kriteria:
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500 juta tdk termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2,5 M.
Pasal 3ayat (2) PMK-245/PMK.03/2008:
Harta hibah, bantuan, atau sumbangan dibukukan oleh pihak penerima, sesuai dgn
nilai buku harta hibah, bantuan, atau sumbangan dari pihak pemberi.
warisan;
harta termasuk setoran tunai yg diterima oleh badan sebagaimana dimaksud dlm Pasal 2
ayat (1) huruf b sbg pengganti saham atau sbg pengganti penyertaan modal;
penggantian atau imbalan sehubungan dgn pekerjaan atau jasa yg diterima atau diperoleh
dlm bentuk natura dan/atau kenikmatan dari WP atau Pemerintah, kecuali yg diberikan oleh
bukan WP, WP yg dikenakan pajak scr final atau WP yg menggunakan norma penghitungan
khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dlm Pasal 15;
pembayaran dari perusahaan asuransi kpd orang pribadi sehubungan dgn asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa;
dividen atau bagian laba yg diterima atau diperoleh PT sbg WP DN, koperasi, BUMN, atau
BUMD, dari penyertaan modal pd badan usaha yg didirikan dan bertempat kedudukan di
Indonesia dgn syarat :
1. dividen berasal dari cadangan laba yg ditahan; dan
2. bagi PT, BUMN dan BUMD yg menerima dividen, kepemilikan saham pd badan yg
memberikan dividen paling rendah 25% dari jml modal yg disetor;
iuran yg diterima atau diperoleh dana pensiun yg pendiriannya tlh disahkan MenKeu, baik yg
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
penghasilan dari modal yg ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pd huruf g,
dlm bidang-bidang tertentu yg ditetapkan dgn Keputusan MenKeu;
bagian laba yg diterima atau diperoleh anggota dari CV yg modalnya tdk terbagi atas
saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan KIK;
penghasilan yg diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari
badan pasangan usaha yg didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dgn
syarat badan pasangan usaha tsb:
1. Mrp perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yg menjalankan kegiatan dlm
sektor-sektor usaha yg diatur dgn atau berdasarkan Peraturan MenKeu; dan
2. sahamnya tdk diperdagangkan di BEI.
beasiswa yg memenuhi persyaratan tertentu yg ketentuannya diatur lbh lanjut dgn atau
berdasarkan Peraturan MenKeu (PMK-246/PMK.03/2008 jo PMK-154/PMK.03/2009);
Pasal 1 PMK-154/PMK.03/2009:
(1)
Atas penghasilan berupa beasiswa yg diterima atau diperoleh WNI dari WP
pemberi beasiswa dlm rangka mengikuti pendidikan formal dan/atau
pendidikan nonformal yg dilaksanakan di DN dan/atau di LN dikecualikan dari
objek PPh.
(1a) Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yg terstruktur dan berjenjang yg
terdiri atas tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi.
(1b) Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yg dpt
dilaksanakan scr terstruktur dan berjenjang.
(2)
Ketentuan pd ayat (1) tdk berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hub
istimewa dgn:
a. Pemilik;
b. Komisaris;
c. Direksi; atau
d. Pengurus,
dari WP pemberi beasiswa.

C026

m.

n.

Pasal 2 PMK-154/PMK.03/2009:
Komponen beasiswa sesuai Pasal 1 terdiri dari biaya pendidikan yg dibayarkan ke
sekolah (tuition fee), biaya ujian, biaya penelitian yg berkaitan dgn bidang studi yg
diambil, biaya utk pembelian buku, dan/atau biaya hidup yg wajar sesuai dgn daerah
lokasi tempat belajar.
sisa lbh yg diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yg bergerak dlm bidang
pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yg tlh terdaftar pd instansi yg
membidanginya, yg ditanamkan kembali dlm bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dlm jangka waktu paling lama 4 thn
sejak diperolehnya sisa lbh tsb, yg ketentuannya diatur lbh lanjut dgn atau berdasarkan
Peraturan MenKeu (PMK-80/PMK.03/2009); dan
Pasal 1 PMK-80/PMK.03/2009:
(1) Sisa lebih yg diperoleh badan atau lembaga nirlaba yg ditanamkan kembali dlm
bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan yg diselenggarakan bersifat terbuka kpd pihak manapun, dalam
jangka waktu paling lama 4 thn sejak diperolehnya sisa lebih tsb dikecualikan
sebagai objek PPh.
(2) Sisa lebih pd ayat (1) adalah selisih dari slr penerimaan yg mrp objek PPh selain
penghasilan yg dikenakan PPh tersendiri, dikurangi dgn pengeluaran utk biaya
operasional sehari-hari badan atau lembaga nirlaba.
(3) Badan atau lembaga nirlaba pd ayat (1) adalah badan atau lembaga nirlaba yg
bergerak dlm bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan,
yg tlh terdaftar pd instansi yg membidanginya.
(4) Sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan pd ayat (1) meliputi:
a. Pembelian atau pembangunan gedung dan prasarana pendidikan, penelitian
dan pengembangan termasuk pembelian tanah sebagai lokasi
pembangunan gedung dan prasarana tsb;
b. pengadaan sarana dan prasarana kantor, laboratorium dan perpustakaan;
c. pembelian/pembangunan asrama mahasiswa, rumah dinas guru, dosen atau
karyawan, dan sarana prasarana olahraga, sepanjang berada di
lingkungan/lokasi lembaga pendidikan formal.
Pasal 2 PMK-80/PMK.03/2009:
(1) Apabila stl jangka waktu dlm Pasal 1 ayat (1) terdapat sisa lebih yg tdk digunakan
utk pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian
dan pengembangan dlm Pasal 1 ayat (4), sisa lebih tsb diakui sbg penghasilan
dan dikenai PPh pd thn pajak berikutnya, stl jangka waktu 4 thn tsb ditambah dgn
sanksi sesuai ketentuan yg berlaku.
(2) Apabila dlm jangka waktu dlm Pasal 1 ayat (1) terdapat sisa lebih yg digunakan
selain utk pengadaan sarana dan prasarana dlm Pasal 1 ayat (4), sisa lebih tsb
diakui sbg penghasilan dan dikenai PPh ditambah dgn sanksi sesuai ketentuan
yg berlaku.
bantuan atau santunan yg dibayarkan oleh BPJS kpd WP tertentu, yg ketentuannya diatur lbh
lanjut dgn atau berdasarkan Peraturan MenKeu (PMK-247/PMK.03/2008).
Pasal 2 PMK-247/PMK.03/2008:
BPJS meliputi :
a. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK);
b. Perusahaan Perseroan (Persero) Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri
(TASPEN);
c. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ASABRI);
d. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES);
dan/atau
e. badan hukum lainnya yg dibentuk untuk menyelenggarakan Program Jaminan
Sosial.
Pasal 3 PMK-247/PMK.03/2008:
WP tertentu adalah:
a. WP atau anggota masyarakat yg tdk mampu;

C027

b. WP atau anggota masyarakat yg sedang mengalami bencana alam; dan/atau


c. WP atau anggota masyarakat yg tertimpa masalah.
Pasal 4 PMK-247/PMK.03/2008:
(1) WP atau masyarakat yg tdk mampu pd Pasal 3 huruf a adalah WP dan/atau
masyarakat yg hidup di bawah garis kemiskinan sesuai dgn kriteria dan data yg
ditetapkan oleh BPS.
(2) WP atau masyarakat yg sedang mengalami bencana alam pd Pasal 3 huruf b
adalah WP dan/atau masyarakat yg sedang tertimpa bencana yg diakibatkan
peristiwa yg disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor.
(3) WP atau masyarakat yg tertimpa musibah pd Pasal 3 huruf c adalah WP dan/atau
masyarakat yg tertimpa kecelakaan yg tdk dpt diperkirakan sebelumnya dan
membahayakan atau mengancam keselamatan jiwa.

BIAYA YG DPT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO (Pasal 6 ayat (1) UU PPh)
a.
biaya yg scr lsg atau tdk lsg berkaitan dgn kegiatan usaha, antara lain:
1. biaya pembelian bahan;
2. biaya berkenaan dgn pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus,
gratifikasi, dan tunjangan yg diberikan dlm bentuk uang;
3. bunga, sewa, dan royalti;
Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf a UU PPh:
Pengeluaran-pengeluaran utk 3M penghasilan yg bukan mrp objek pajak tdk
boleh dibebankan sbg biaya
Bunga atas pinjaman yg dipergunakan utk membeli saham tdk dpt dibebankan
sbg biaya sepanjang dividen yg diterimanya tdk mrp objek pajak sesuai Pasal 4
ayat (3) huruf f UU PPh. Bunga pinjaman yg tdk boleh dibiayakan tsb dpt
dikapitalisasi sbg penambah harga perolehan saham.
Pengeluaran-pengeluaran yg tdk ada hubungannya dgn upaya utk 3M
penghasilan, misalnya pengeluaran-pengeluaran utk keperluan pribadi
pemegang saham, pembayaran bunga atas pinjaman yg dipergunakan utk
keperluan pribadi peminjam serta pembayaran premi asuransi utk kepentingan
pribadi, tdk boleh dibebankan sbg biaya.
4. biaya perjalanan;
5. biaya pengolahan limbah;
6. premi asuransi;
7. biaya promosi dan penjualan yg diatur dgn atau berdasarkan Peraturan MenKeu
(PMK-02/PMK.03/2010 dan SE-9/PJ./2010);
a. Biaya Promosi adalah