Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA MEDIS


SINDROMA NEFROTIK DI RUANG BONA 1
RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Oleh:
Inas Husnun Hanifah, S. Kep

131523143048

Siwi Sabdasih, S. Kep

131523143049

Achmad Ali Basri, S. Kep

131523143050

Diyah Hita Mariyati, S. Kep

131523143051

Indriani Kencana Wulan, S. Kep

131523143052

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Seminar Asuhan Keperawatan Anak Program Profesi Pendidikan Ners


angkatan B17 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya di Ruang Bona 1
Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juli
2016 telah disahkan sebagai laporan seminar ujian klinik atas nama:
1.
2.
3.
4.
5.

Inas Husnun Hanifah, S. Kep


Siwi Sabdasih, S. Kep
Achmad Ali Basri, S. Kep
Diyah Hita Mariyati, S. Kep
Indriani Kencana Wulan, S. Kep

131523143048
131523143049
131523143050
131523143051
131523143052

Surabaya, 26 Juli 2016


Pembimbing Klinik,

Pembimbing Pendidikan,

Dwi Endah M, S. Kep. Ns


NIP. 19670412 199703 2 003

Iqlima Dwi Kurnia, S.Kep. Ns., M.Kep


NIK. 139131743

Mengetahui,
Kepala Ruangan
Ruang Bona 1

Erna Supatmi, S. Kep. Ns


NIP. 19711130 199403 2 005

ii

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sindroma nefrotik (SN) merupakan manifestasi glomerulopati yang sering
dijumpai pada anak. Sindroma nefrotik merupakan keadaan klinis yang ditandai dengan
proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema dan hiperkolesterolemia (Vogt dan Avner,
2007). Angka kejadian sindroma nefrotik di Amerika berkisar antara 2-7 kasus baru per
100.000 anak per tahun (Eddy dan Symons, 2003). Anak-anak keturunan Asia Selatan
memiliki tingkat insidens 7,4 per 100.000 anak per tahun dan anak ras lain mencapai 1,6
per 100.000 anak per tahun (McKinney et al., 2001). Di Indonesia, insidens sindroma
nefrotik dilaporkan 6 per 100.000 anak per tahun pada anak berusia kurang dari 14
tahun (Wirya, 1992). Data penyakit ginjal anak di Indonesia yang dikumpulkan dari
tujuh Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Anak memperlihatkan bahwa sindroma nefrotik
merupakan penyakit yang paling sering dijumpai (35%) di poliklinik nefrologi (UKK
Nefrologi, 2008).
Luaran klinis penyakit ini bergantung pada umur saat presentasi, gambaran
histopatologis, keberadaan hematuria dan hipertensi, gangguan fungsi ginjal, dan
respons terhadap terapi steroid (Bagga dan Mantan, 2005). Prognosis sindroma nefrotik
pada anak berkorelasi dengan spektrum respons terapi steroid, yaitu mulai dari sindroma
nefrotik sensitif steroid (SNSS) hingga sindroma nefrotik resisten steroid (SNRS). Kirakira 90% anak dengan sindroma nefrotik idiopatik sensitif terhadap terapi steroid dan
hanya 10% anak yang tidak respon (resisten) terhadap steroid (Cattran, 2000). Insidens
kasus sindroma nefrotik resisten steroid pada anak mencapai 0,3 per 100.000 anak per
tahun (Mc Kinney et al., 2001).
Sindroma nefrotik resisten steroid

(SNRS) merupakan penyebab tersering

penyakit ginjal tahap akhir pada anak. Walaupun persentase penderita anak dengan
Sindroma nefrotik resisten steroid (SNRS) kecil, grup ini berisiko mengalami
komplikasi ekstrarenal dan berkembang menjadi penyakit ginjal tahap akhir (Niaudet et
al., 2004). Prediksi terhadap kemungkinan menjadi resisten terhadap steroid menjadi

amat penting bagi seorang anak penderita sindroma nefrotik agar terhindar dari penyakit
ginjal tahap akhir dan biaya pengobatan yang cukup mahal.
Ruang Menular Anak Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah ruangan
dimana anak-anak dirawat dengan berbagai macam penyakit, salah satunya di ruang 3
dengan masalah penyakit nefro. Ruangan tersebut banyak sekali anak-anak yang
mengalami penyakit sindrom nefrotik maka penulis ingin mengangkat seminar tentang
asuhan keperawatan sindroma nefrotik pada An. R di Ruang Menular Anak Bona 1.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana konsep teori tentang sindroma nefrotik?
1.2.2 Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada anak dengan sindroma nefrotik?
1.2.3 Bagaimana asuhan keperawatan pada An. R dengan sindroma nefrotik di Ruang
Menular Anak Bona 1 Dr. Soetomo Surabaya?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawayan pada An. R dengan sindroma nefrotik di Ruang
Menular Anak Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Memahami konsep teori sindroma nefrotik
2. Memahami konsep asuhan keperawatan pada anak dengan sindroma nefrotik.
3. Memahami asuhan keperawayan pada An. R dengan sindroma nefrotik di
Ruang Menular Anak Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya
a. Pengkajian
b. Analisa data dan diagnose keperawatan
c. Rencana intervensi
d. Implementasi
e. Evaluasi
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa

Mahasiswa mampu memahami konsep teori dan asuhan keperawatan sindroma


nefrotik pada anak sehingga menunjang pembelajaran praktik lapangan anak
program profesi ners.
1.4.2 Bagi Institusi
Makalah ini dapat dijadikan referensi di ruang Menular Anak Bona 1, jika akan
dilakukan kegiatan ilmiah lainnya.

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Fisiologi


1. Anatomi
Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal
dengan panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada
umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan
lebih dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra
thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi batas bawah vertebra lumbalis III.
Pada fetus dan infan, ginjal berlobulasi. Makin bertambah umur, lobulasi makin
kurang sehingga waktu dewasa menghilang. Parenkim ginjal terdiri atas korteks
dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid yang berjumlah kira-kira 8-18
buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh kolumna bertini. Dasar
piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla marginalis) menonjol
ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor yang
berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis
renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter.
Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubili, sedangkan pada medula hanya
terdapat tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron
terdiri dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal (kadangkadang dimasukkan pula duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang
1,5-2 juta nefron berarti pula lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Pembentukan urin dimulai dari glomerulus, dimana pada glomerulus ini filtrat
dimulai, filtrat adalah isoosmotic dengan plasma pada angka 285 mosmol. Pada
akhir tubulus proksimal 80 % filtrat telah di absorbsi meskipun konsentrasinya
masih tetap sebesar 285 mosmol. Saat infiltrat bergerak ke bawah melalui bagian
desenden lengkung henle, konsentrasi filtrat bergerak ke atas melalui bagian
asenden, konsentrasi makin lama makin encer sehingga akhirnya menjadi
hipoosmotik pada ujung atas lengkung. Saat filtrat bergerak sepanjang tubulus

distal, filtrat menjadi semakin pekat sehingga akhirnya isoosmotic dengan plasma
darah pada ujung duktus pengumpul. Ketika filtrat bergerak turun melalui duktus
pengumpul sekali lagi konsentrasi filtrat meningkat pada akhir duktus pengumpul,
sekitar 99% air sudah direabsorbsi dan hanya sekitar 1% yang diekskresi sebagai
urin atau kemih (Price,2001 : 785).
2.

Fisiologi
Telah diketahui bahwa ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat
penting melalui ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya
ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20%
dari seluruh cardiac output.

a.

Faal glomerolus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk
ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan
hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit
per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal
dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12
tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak.

b.

Faal Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat
yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Sebagaimana diketahui,
GFR : 120 ml/menit/1,73 m2, sedangkan yang direabsorbsi hanya 100 ml/menit,
sehingga yang diekskresi hanya 1 ml/menit dalam bentuk urin atau dalam sehari
1440 ml (urin dewasa).

Pada anak-anak jumlah urin dalam 24 jam lebih kurang dan sesuai dengan umur :

1-2 hari : 30-60 ml


3-10 hari : 100-300 ml
10 hari-2 bulan : 250-450 ml
2 bulan-1 tahun : 400-500 ml
1-3 tahun : 500-600 ml
3-5 tahun : 600-700 ml
5-8 tahun : 650-800 ml
8-14 tahun : 800-1400 ml

c.

Faal Tubulus Proksimal


Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan
reabsorbsi yaitu 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat
yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi
sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus
organic ion (citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi
asam dan basa organik.

d.

Faal loop of henle


Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending thick
limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.

e.

Faal tubulus distalis dan duktus koligentes.


Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara
reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen.

2.2 Definisi
Sindrom Nefrotik adalah Status klinis yang ditandai dengan peningkatan
permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang mengakibatkan kehilangan
protein urinaris yang massif (Donna L. Wong, 2004).
Sindrom nefrotik (SN) merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari proteinuria
massif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang dari 2,5 gram/100
ml) yang disertai atau tidak disertai dengan edema dan hiperkolesterolemia. (Rauf,
2002).
2.3 Etiologi
Menurut Arif Mansjoer, 2000 :488, sebab pasti belum diketahui. Umunya dibagi
menjadi :
Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosom atau karena reaksi fetomaternal
Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh parasit malaria, penyakit kolagen, glomerulonefritis akut,
glomerulonefrits kronik, trombosis vena renalis, bahan kimia (trimetadion,

paradion, penisilamin, garam emas, raksa), amiloidosis, dan lain-lain.


Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)

2.4 Manifestasi Klinis

Menurut Betz, Cecily L.2002 : 335, manifestasi klinis dari sindroma yaitu:
Gejala utama sindrom nefrotik adalah edema. Edema biasanya bervariasi dari
bentuk ringan sampai berat (anasarka). Edema biasanya lunak dan cekung bila
ditekan (pitting), dan umumnya ditemukan disekitar mata (periorbital) dan

berlanjut ke abdomen daerah genitalia dan ekstermitas bawah.


Penurunan jumlah urin : urine gelap, berbusa
Pucat
Hematuri
Anoreksia dan diare disebabkan karena edema mukosa usus.
Sakit kepala, malaise, nyeri abdomen, berat badan meningkat dan keletihan

umumnya terjadi.
Gagal tumbuh dan pelisutan otot (jangka panjang)

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Betz, Cecily L, 2002 : 335 :
1. Uji urine

Protein urin meningkat


Urinalisis cast hialin dan granular, hematuria
Dipstick urin positif untuk protein dan darah
Berat jenis urin meningkat

2.

Uji darah

Albumin serum menurun


Kolesterol serum meningkat
Hemoglobin dan hematokrit meningkat (hemokonsetrasi)
Laju endap darah (LED) meningkat
Elektrolit serum bervariasi dengan keadaan penyakit perorangan.

3.

Uji diagnostik

Biopsi ginjal merupakan uji diagnostik yang tidak dilakukan secara rutin.
Indikasi dilakukan biopsi ginjal :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Resisten terhadap steroid


Umur < 1 tahun
Umur > 10 tahun jika dependen steroid atau resisten
Hipertensi
Hematuria pekat
Hipokomplementemia

g. Gagal ginjal
h. Riwayat keluarga atau gagal ginjal dan tuli (Yap, 2015)
2.6 Patofisiologi
Menurut Suriadi dan Rita yuliani, 2001 :217 :
Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat pada
hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria. Lanjutan dari
proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan menurunnya albumin, tekanan
osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke dalam interstitial.
Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang,
sehingga menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi.
Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi dengan
merangsang produksi renin angiotensin dan peningkatan sekresi anti diuretik hormon
(ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian terjadi retensi kalium dan air. Dengan
retensi natrium dan air akan menyebabkan edema.
Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan
stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin dan penurunan
onkotik plasma
.Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipopprtein dalam
hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak
dalam urin (lipiduria)
Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh
karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng.

2.7 Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah mencegah terjadinya kerusakan ginjal lebih lanjut dan
menurunkan resiko komplikasi. Menurut Kim Yap-Hui (2015), untuk mencapai tujuan
terapi, maka penatalaksanaan tersebut meliputi hal-hal berikut.
1.
2.
3.

Tirah baring
Diuretik
Adenokortikosteroid, golongan prednisolone
Indikasi : episode pertama pada sindrom nefrotik dan relaps berikutnya
Protokol:

a. Anak-anak yang mengalami episode pertama mereka karena sindrom


nefrotik harus diobati dengan prednisolone dosis 60mg/m2 (maksimum 80
mg/hari) selama 4 minggu diikuti dengan 40 mg/m2 setiap hari berikutnya
dalam 4 minggu dan bertahap selama 4 minggu selanjutnya untuk total
rangkaian pengobatan dalam 3 bulan
b. Prednisolone seharusnya diberikan sebagai dosis single pagi untuk
meminimalkan efek samping
c. Anak-anak dengan kekambuhan pertama dan kekambuhan jarang harus
diobati dengan prednisolone 60mg/m2/hari (maksimum 80 mg) minimal 14
hari atau hingga 3 hari bebas proteinuria, kemudian prednisolon 40 mg/m 2
tiap hari berikutnya selama 4 minggu dalam 3 bulan
d. Anak-anak dengan kekambuhan sindrom nefrotik sering harus diberikan
terapi rumatan setelah terapi kekambuhan dengan alternatif hari prednisolon
0,1-0,5 mg/m2 tiap hari berikutnya selama 3-6 bulan.
e. Anak-anak dengan sindrom nefrotik dependent steroid harus diberikan
terapi rumatan dengan prednisolone 0,1-0,5 mg/m2 tiap hari berikutnya
4.
5.

selama 9-12 bulan (Yap, 2015)


Diet rendah natrium cukup protein
Terapi cairan.
Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara cermat
dan dicatat. Pembatasan cairan diberikan untuk mengurangi kelebihan volume
cairan akibat edema dan mengurangi beban kerja ginjal.

2.8 WOC

Glomerulonefritis kronik, diabetes melitus disertai


glomerulosklerosis interkapiler, amiloidosis ginjal, penyekit
lupus erythematosus sistemik, dan trombosis vena renal

Gangguan
permeabilitas
selektif kapiler
glomerulus dan
filtrasi glomerulus
meningkat

Penurunan
tekanan onkotik
Produksi
albumin dalam
darah tidak
seimbang
dengan
kehilangan
albumin yang
keluar dari

Aktivasi
SRAA

Hilangnya
protein dalam
serum
Sintesis
lipoprotein di hati

Protein dan
albumin bocor
melalui
glomerulus
Proteinuri
a

Perpindahan cairan
dari sistem vaskular
ke ruang cairan
ekstraseluler

Peningkatan
konsentrasi lemak
dalam darah

Edem
a

Hiperlipidemi
a

Hipoalbumine
mia

Sindrom
nefrotik

Respons edema
- Edema (Pitting edema) di
sekitar mata (periorbital),
pada area ekstremitas
(sakrum, tumit, dan tangan),
dan pada abdomen (asites)

Respons sistemik
-Mual, muntah,
anoreksia
-Malaise
-Sakit kepala
-Keletihan umum
- Respons psikologis

Peningkatan
permeabilitas
kapiler

MK: Mual

Perpindahan
cairan ekstra
seluler ke
interstitial

Intake
nutrisi
menurun

Krisis
situasional

MK:
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

MK: Kelebihan
volume cairan

DAMPAK HOSPITALISASI

Orang tua

Perubaha
n peran
Faktor
ekonomi
Krisis
situasional

Anak

Lingkungan
baru
Perpisahan
dengan
orang tua

Kurang
informasi
MK: Kurang
Pengetahua
n

Tindakan
invasif

MK:
Ketakutan

10

MK:
Kecemas
an

MK: Cemas

2.9 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
A. Keluhan utama yang serius dikeluhkan wajah atau kaki. Pada pengkajian
riwayat kesehatan sekarang, perawat menanyakan hal berikut.
1. Kaji berapa lama kaluhan adanya perubahan urine output.
2. Kaji onset keluhan benkgkan pada wajah atau kaki apakah disertai
dengan adanya keluhan pusing dan cepat lelah.
3. Kaji adanya anoreksia pada klien
4. Kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise
B. Riwayat kesehatan dahulu, perawat perlu mengkaji apakah klien pernah
menderita penyakit edema, apakah ada riwayat dirawat dengan penyakit
diabetes mellitus dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya. Penting
dikaji tentang riwayat pemakian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat
alergi terhadap jenis obat dan dokumentasikan.

11

C. Pada pengkajian psikososiokultural, adanya kelemahan fisik, wajah, dan kaki


yang bengkak akan memberikan dampak rasa cemas dan koping yang mal
adaptif pada klien.
D. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum klien lemah dan terlihat sakit berat dengan tingkat kesadaran
biasanya compos mentis. Pada TTV sering tidak didapatkan adanya.
1. B1 (Breathing). Biasanya tidak didapatkan adanya gangguan pola
nafas dan jalan nafas walau secara fekuensi mengalami peningkatan
terutama pada fase akut. Pada fase lanjut sering didapatkan adanya
gangguan pola nafas dan jalan nafas yang merupakan respon
terhadap edema pulmoner dan efusi pleura.
2. B2 (Blood). Sering ditemukan penurunan curah jantung respons
sekunder dari peningkatan beban volume.
3. B3 (Brain). Didapatkan edema wajah terutama periorbital, sklera
tidak ikterik. Status neurologis mengalami perubahan sesuai dengan
tingkat parahnya azotemia pada sistem saraf pusat.
4. B4 (Bladder). Mengalami perubahan urine output seperti warna urine
berwarna kola.
5. B5 (Bowel). Didapatkan adanya mual muntah, anoreksia sehingga
sering didapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.
Didapatkan asites pada abdomen.
6. B6 (Bone). Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum, efek
sekunder dari edema tungkai dari keletihan fisik secara umum.

2. Diagnosis Keperawatan
a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme cairan
atau onkotik.
b) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien
c) Resiko infeksi

3. Rencana Keperawatan

ANALISA DATA
NO DATA

ETIOLOGI

12

PROBLEM

1.

2.

DS
DO

DS:

DO:

3.

DS:
DO:

Edema anasarka
Efusi
Ascites
Peningkatan berat badan
Perubahan tekanan darah
(Hipertensi).

Pasien mengeluh nafsu makan


menurun.
Penurunan berat badan
Hipoalbumin
Pengecilan tonus otot.
Ketidakadekuatan asupan
nutrisi.
Membran mukosa pucat
Malnutrisi
Penggunaan terapi
imunosupresif
Peningkatan leukosit
Penurunan hemoglobin

Gangguan
mekanisme
regulasi

Kelebihan volume
cairan

Perubahan
tekanan onkotik
Peningkatan
aktivasi sistem
renin angiotensin
aldosteron
Ketidakmampuan Ketidakseimbangan
untuk
nutrisi: kurang dari
mengabsorpsi
kebutuhan tubuh.
nutrien

Penyakit kronik
dan supresi
respon inflamasi
akibat steroid.

Risiko infeksi.

INTERVENSI
1. Diagnosa Keperawatan 1: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
gangguan mekanisme cairan atau onkotik.
NOC
a. Elektrolit and acid based balance
b. Fluid balance
c. Hidration
Kriteria Hasil:
a.
b.
c.
d.

Terbebas dari edema, efusi, anasarka


Bunyi napas bersih, tidak ada dispnea atau ortopnea
Terbebas dari distensi vena jugularis, refleks hepatojugula (+)
Memelihara tekanan vena central, tekanan kapiler paru, output jantung dan
vital sign dalam batas normal.
e. Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan.
NIC

13

a. Fluid management
1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
2) Pasang urine kateter jika diperlukan
3) Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, HMT,
osmolalitas urine)
4) Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP dan PC WP
5) Monitor vital sign
6) Monitor indikasi retensi atau kelebihan cairan (krakels, CVP, edema,
distensi vena leher, ascites).
7) Kaji lokasi dan luas edema
8) Monitor masukan makanan atau cairan dan hitung intake kalori.
9) Monitor status nutrisi.
10) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai instruksi
b. Fluid Monitoring
1) Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi.
2) Tentukan kemungkinan faktor risiko dari ketidakseimbangan cairan
(hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaforesis,
disfungsi hati, dan lain-lain).
3) Monitor berat badan
4) Monitor serum dan elektrolit urine
5) Monitor serum dan osmolalitas urine
6) Monitor BP, HR dan RR.
7) Monitor tekanan darah orthostatic dan perubahan irama jantung.
8) Catat secara akurat intake dan output, monitor tanda dan gejala dar
oedem.
2. Diagnosa Keperawatan 2: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien
NOC
a. Nutritional status: food and fluid intake
b. Nutritional status: nutrient intake
c. Nutritional status: weight control
KRITERIA HASIL:
a.
b.
c.
d.

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.


Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.

NIC
a. Nutrition management
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
3) Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi).
4) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
5) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
b. Nutrition monitoring

14

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

BB pasien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan berat badan
Monitor tipe dan jumlah aktifitas yang biasa dilakukan
Monitor lingkungan selama makan
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema, hiperemic, hipertonic papila lidah dan cavitas oral.

3. Diagnosa Keperawatan 3:
NOC:
a. Imune status
b. Knowledge: infection control
c. Risk control
KRITERIA HASIL
a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
c. Jumlah leukosit dalam batas normal
NIC:
a. Infection control:
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
2) Batasi pengunjung bila perlu
3) Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung
dan setelah berkunjung meninggalkan pasien.
4) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
5) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
6) Dorong masukan nutrisi yang cukup.
7) Dorong masukan cairan
8) Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi.

15

BAB 3
TINJAUAN KASUS
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Tanggal Pengkajian
14.00
Tanggal MRS
1250 XXXX
Ruang/Kelas
Nefrotik

: 12 Juli 2016

Jam

: 11 Juli 2016

No. RM

: Bona 1/ 3

Identitas

Identitas Anak
Nama Anak
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
Usia
SMA
Diagnosa Medis

:
:
:
:

Dx Medis

Identitas Orang Tua


Nama Ayah
: Tn. M
Nama Ibu
: Ny. N
Pekerjaan Ayah/Ibu : Swasta/ IRT
Pendidikan Ayah/Ibu
:

An. R
06-06-2008
Laki-laki
8 tahun

: Sindrom

Agama

Nefrotik
: Manukan, Sby

Alamat
Jawa/ Indonesia
Sumber Informasi :
Manukan, Sby

: Sindrom

Ibu Klien

16

: Islam

Suku /Bangsa

Alamat

Keluhan Utama : Klien mengatakan perut membesar


Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluarga klien mengatakan sebelumnya klien sudah pernah
MRS pada bulan Mei 2016 dengan penyakit yang sama. Setelah
pulang ke rumah 2 bulan klien rutin kontrol ke poli anak RS
Dr. Soetomo dan pada waktu kontrol terakhir oleh dokter klien
diadviskan untuk MRS
Riwayat Kesehatan Sebelumnya
Riwayat kesehatan yang lalu :
Penyakit yang pernah diderita :
Demam
Kejang
Pilek
Mimisan
Lain-lain:

Batuk

Operasi :

Ya

Tidak

Alergi

Makanan
Debu

Obat
Udara
Lainnya, Sebutkan tidak ada

Tahun

alergi
Imunisasi
: BCG (Umur 1 Bln ) Polio 4 X(Umur
1,2,3,4 bln )
DPT 3 X (Umur 2,3,4 bln ) Campak
(Umur 9 bln) Hepatitis 4 X(Umur 1 minggu, 2, 3, 4 bulan )

17

Riwayat Kesehatan Keluarga


Penyakit yang pernah diderita keluarga :
Keluarga mengatakan terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit
yang dialami klien saat ini (penyakit ginjal) yaitu ayah dan nenek klien
Lingkungan rumah dan komunitas :
Lingkungan rumah klien bersih, lingkungan sekolah anak banyak penjual
jajanan sekolah yang tidak sehat
Perilaku yang mempengaruhi kesehatan :
Keluarga mengatakan sering memberikan sarapan pagi dan makan pada
klien dengan mie instan dan telur, klien juga sering minum minuman perasa,
saos, sosis di sekolah

Riwayat Sakit dan Kesehatan

Persepsi keluarga terhadap penyakit anak :


Keluarga menerima kondisi klien saat ini
Riwayat Nutrisi
Nafsu makan : Baik
Tidak
Mual
Muntah
Pola makan
:
2X/hari
3X/hari
>3X/hari
Minum
: Jenis air putih, jumlah : 1500 cc/hari
Pantangan makan :
Ya Tidak
Menu makanan
: Nasi, sayur, ikan, buah
Riwayat Pertumbuhan
BB saat ini
: 27 kg,TB : 111 cm, LK :
cm, LD : 61
cm, LLA :18,5 cm
BB lahir
: 3100 gram,
BB sebelum sakit :
21kg
Panjang lahir : .50 cm
PB/TB saat ini :110 cm
Perkembangan
Pengkajian Perkembangan (DDST) :
Tahap Perkembangan Psikososial :
Tahap Perkembangan Psikoseksual :

18

ROS
Pernafasan B1 (Braeth)

Observasi dan Pemeriksaan Fisik (ROS : Review of System):


Keadaan Umum :
Baik
Sedang
Lemah
Kesadaran
:
Compos mentis
Tanda vital
: Nadi : 102 x/mt Suhu : 36,7 oC RR : 20
x/mt TD : 110/70 mmHg
Bentuk Dada
:
Normal Tidak, Jenis...............
Pola Napas :
Irama
:
Teratur Tidak Teratur
Jenis
:
Dispnoe Kusmaul
Ceyne
Stokes
Lain-Lain:
Suara Napas
:
Vesikuler
Stridor
Wheezing
Ronchi
Lain-Lain
Sesak Napas
:
Ya
Tidak
Batuk :
Ya Tidak
Retraksi Otot Bantu Napas :
Ada
ICS
Supraklavikular
Suprasternal
Tidak Ada
Alat Bantu Pernapasan
:
Ya
Nasal
Masker
Respirator (
lpm)
Tidak
Lain-Lain :

Kardiovaskuler B2
(Blood)

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Irama Jantung :
S1/S2 Tunggal
Nyeri Dada :
Ya
Bunyi Jantung: Normal
Lain-Lain
CRT
:
<3 dt
Akral
:
Hangat
Kering
Dingin Basah
Lain-lain
:

Reguler
Ya
Tidak
Murmur

Eye :

Gallop

>3 dt
Panas

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

GCS
Total : 15

Ireguler
Tidak

Reflek Fisiologis :
Menoleh

Verbal : 5

Dingin

Motorik :

Menghisap
Mengenggam
Patella
Biceps
Lain-Lain

Triceps

19

Moro

Persyarafan & Penglihatan B3 (Brain)

Refleks Patologis :
Babinsky
Kernig
Lain-Lain
:
Istirahat / Tidur
: 10
Jam/Hari
Gangguan Tidur: tidak ada
Kebiasaan Sebelum Tidur :
Minum Susu
Cerita/Dongeng
Penglihatan (Mata)
Pupil
:
Isokor
Anisokor
Sclera/Konjungtiva
:
Anemis
Lain :
Pendengaran/Telinga
Gangguan Pandangan:
Ya
Jelaskan:
Penciuman (Hidung)
Bentuk
:
Normal Tidak
Gangguan Penciuman:
Ya
Jelaskan:
Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Perkemihan B4 (Bladder)

Kebersihan
Urin

:
:

Budzinsky

Mainan
Lain-Lain :
Ikterus
Tidak
Jelaskan:
Tidak

Bersih
Kotor
Jumlah :
cc/hari
Bau:
Alat bantu (kateter dan lain-lain):
Kandung Kencing :
Membesar
Ya
Tidak
Nyeri Tekan
Ya
Alat Kelamin
: Normal
Tidak Normal,
Sebutkan....................
Uretra
:
Normal
Hipospadia/Epispadia
Gangguan
: Anuria
Oliguri
Inkontinensia
Nokturia

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

20

Lain-

Warna :

Tidak

Retensi
Lain-lain

Pencernaan B5 (Bowel)

Nafsu makan
x/hari
Porsi makan

Baik

Menurun

Frekuensi

Habis

Tidak

Ket:

cc/hari

Jenis : air putih

Minum
: 1500
Mulut dan tenggorokan
Mulut
:
Bersih
Mukosa
:
Lembab
Tenggorokan
:
menelan

Kotor
Berbau
Kering
Stomatitis
Sakit /nyeri telan

Kesulitan

Pembesaran tonsil

Lain-lain

Abdomen
Perut
:
Tegang
Kembung Ascites
Nyeri
tekan, lokasi :
Peristaltik : 5-10 x/menit
Pembesaran hepar
:
Ya
Tidak
Pembesaran lien :
Ya
Tidak
Buang air besar : 2
hari/1x Teratur
Ya
Tidak
Konsistensi : lunak
Bau: khas Warna: kecoklatan
Lain-lain :

Muskuloskeletal B6 (Bone &


Integumen)

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Kemampuan pergerakan sendi :


Terbatas
Kekuatan otot:
5 5
5 5
Kulit
Warna kulit

Ikterus
Pucat

Turgor
Odema
Lain-lain

:
:
:

Baik
Ada

Bebas

Sianotik
Hiperpigmentasi
Sedang Jelek
Tidak ada

Kemerahan

Lokasi :

Endokrin

Masalah : Kelebihan volume cairan

Tyroid
:
Hiperglikemia
Hipoglikemia
Luka gangren
Lain-lain
:

Membesar
:
Ya
:
Ya
:
Ya

Ya

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

21

HygienePersonal

Mandi
: 2 x/hari
Sikat gigi
:2 x/hari
Keramas : 3 hari sekali
Memotong kuku
: 1 minggu
1x
Ganti pakaian
: 2 x/hari

Masalah : Tidak ada masalah keperawatan

Psiko Sosio- Spiritual

a.

Ekspresi afek dan emosi


:
Senang
Sedih
Menangis
Cemas
Marah
Diam
Takut
Lain
b.
Hubungan dengan keluarga :
Akrab
Kurang akrab
c. Dampak hospitalisasi bagi anak
: Anak
tampak ketakutan
d. Dampak hospitalisasi bagi orang tua
: Cemas

Masalah
: takut,
pengetahuan
Data
Penunjang
(Lab,kurang
Foto, USG,
dll)
Hasil laboratorium terlampir
Hasil Foto Thoraks (tanpa kontras)
Nama
No. Reg
Tanggal

: An. R
: 1250xxxx
: 14/7/ 2016

Hasil:
Pulmonal: tidak tampak infiltrate pada lapang paru kiri dan lapang paru kanan yang
tervisualisasi Sinus phrenicostalis kanan tertutup perselubungan, kiri tajam.
Tampak perselubungan di hemithorax kanan hingga atas disertai terdesaknya trakea ke
kiri.
Kesimpulan: Efusi Pleura Kanan

22

Terapi/Tindakan lain :
Injeksi Ranitidin 2x 20 mg IV
Injeksi Furosemide 25mg-0-0
Oral Prednisol 1x 5 tablet
Oral Captopril 3x6,25 mg
Oral Kalek 3 x 1 tablet
Diit makanan 1700 kkal, protein 25 gr
Diit garam 1-2 gr/hari, TKCPRG
Surabaya,

14 Juli 2016
Ners,

Ringkasan Kasus :
1. Identitas Anak :
An. R dengan diagnosis sindrom nefrotik umur 8 tahun, jenis kelamin laki-laki
2. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik :
B1 (Breathing)
Bentuk dada klien normal dengan jenis normochest. Pola napas normal dengan irama
teratur. Suara napas vesikuler, klien batuk namun tidak sesak napas. tidak ada retraksi
dinding dada dan klien tidak menggunakan alat bantu pernapasan.
B2 (Blood)
Irama jantung klien teratur, S1/S2 tunggal, tidak ada nyeri dada. Bunyi jantung klien
normal, CRT < 3 detik dan akral hangat
B3 (Brain)
GCS: 15

Eye: 4

Verbal: 5

Motorik: 6

Reflek Fisiologis: Patella, triseps, dan biseps ada


Reflek Patologis: Babinsky, budzinzky, dan kernig tidak ada
Klien istirahat/tidur 10 jam/hari, tidak ada gangguan, dan setiap sebelum tidur klien
sering meminta ibunya untuk bercerita atau mendongeng.
B4 (Bladder)
Alat genetalia klien bersih, jumlah urin 1100 cc/hari, warna kuning pekat dengan bau
khas urin. klien tidak menggunakan alat bantu kencing. Tidak ada pembesaran dan nyeri

23

tekan pada kandung kemih. Bentuk alat kelamin klien normal, uretra normal.
B5 (Bowel)
Nafsu makan klien menurun, frekuensi makan 3 x/hari. Porsi makan klien 1 porsi makan
dari rumah sakit. klien minum 1500 cc/hari.
Mulut dan tenggorokan: mulut klien bersih, mukosa lembab, tidak ada keluhan pada
tenggorokan. Perut: terdapat asites dan tidak ada nyeri tekan. peristaltik 8 x/menit.
Tidak ada pembesaran hepar dan lien. Klien BAB 2 hari/1x dan teratur dengan
konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan dan bau khas
B6 (Bone & Integumen)
Kemampuan pergerakan sendi klien bebas,kekuatan otot 5 5

. Warna kulit pucat, turgor

kulit sedang, terdapat odema ekstremitas.

3. Pemeriksaan Penunjang :
Hasil Foto Thoraks (tanpa kontras)
Nama
No. Reg
Tanggal

: An. R
: 1250xxxx
: 14/7/ 2016

Hasil:
Pulmonal: tidak tampak infiltrate pada lapang paru kiri dan lapang paru kanan yang
tervisualisasi Sinus phrenicostalis kanan tertutup perselubungan, kiri tajam.
Tampak perselubungan di hemithorax kanan hingga atas disertai terdesaknya trakea ke
kiri.
Kesimpulan: Efusi Pleura Kanan
Pemeriksaan laboratorium terlampir
4. Terapi :
Injeksi Ranitidin 2x 20 mg IV
Injeksi Furosemide 10mg-0-0
Oral Prednisol 1x 5 tablet
Oral Captopril 3x6,25 mg
Oral Kalek 3 x 1 tablet
Diit makanan 1700 kkal, protein 25 gr

24

Diit garam 1-2 gr/hari, TKCPRG

Hasil laboratorium
Nama
No. Reg
Tanggal
No
1
2
3
4
5
6
7

: An. R
: 1250xxxx
: 11/7/2016
Parameter
WBC
HGB
HCT
RBC
MCV
PLT
MPV

Hasil
17,6
15,4
43,9
5,49
80,1
497
6,23

Satuan
10e3/uL
g/dl
%
10e6/uL
fL
10e3/uL
fL

Nilai Rujukan
3,70-10,1
12,9-14,2
37,7-53,7
4,06-4,69
81,1-96,0
155-366
6,90-10,6

Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik


Nama
No. Reg
Tanggal
No
1
2
3
4
5
6

: An. R
: 1250xxxx
: 11/7/2016
Parameter
Albumin
BUN
Kreatinin Serum
Asam Urat
Kalium
Natrium

Hasil
1,9
20
0,65
8,1
3,4
131

Satuan
g/dL
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mmol/l
mmol/l

25

Nilai Rujukan
3,4 5,0
7 18
0,00- 1,50
2,6 7,2
3,5 5,1
136 145

7
8
9
10

Klorida
Kalsium
Fosfat
CRP

88
6,6
5,3
3,2

mmol/l
mg/dL
mg/dL
mg/dL

98 107
8,5 10,1
2,5 4,9
0,00 0,90

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DATA
DS: ibu klien mengatakan
perut anak membesar dan anak
terlihat lebih gemuk saat ini
DO:
1. edema palpebra +
2. edema ekstremitas +
3. asites +
4. peningkatan BB dari 22 kg
menjadi 25 kg
5.
nilai albumin 1,9 gr/dl
6. Balance cairan
Input: 1000 (minum)
10 (injeksi) +
1010 cc/24 jam
Out put: urin 800
IWL 404 +
1204 cc/24jam
Deficit 194 cc
7. Terapi lasix 25mg-0-0

ANALISA DATA
ETIOLOGI
Gangguan mekanisme regulasi
Perubahan tekanan onkotik
Peningkatan aktivasi sistem
RAA
Peningkatan permeabilitas
kapiler
Perpindahan cairan dari
intravaskuler ke interstitial
edema

26

MASALAH
Kelebihan volume cairan

DS:
ibu klien mengatakan
selain makan makanan di rs,
klien juga makan makanan di
luar rumah sakit
DO:
Klien makan makanan di
luar rumah sakit
Ibu tampak belum
memahami diet yang harus
diberikan pada anaknya
DS: klien hanya menangis
DO:
Klien tampak menangis
saat hendak dilakukan
tindakan invasif
Perilaku menghindar
Fokus tertuju pada pusat
ketakutan

Sindroma nefrotik
Gangguan reabsorpsi natrium
dan air
Pembatasasan asupan garam
Diet rendah garam cukup
protein
Kurang informasi
Dampak hospitalisasi
Tindakan invasif
Perubahan emosi
Ketakutan

PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN


1.
2.
3.
4.

Kurang Pengetahuan

Kelebihan Volume Cairan


Kurang Pengetahuan
Takut

27

Takut

28

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
1

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Kelebihan volume cairan

TUJUAN DAN KRITERIA HASIL


Tujuan:
Keseimbangan asam basa dan
elektrolit
Keseimbangan cairan
Hidrasi
Kriteria hasil :
a) Terbebas dari edema, efusi,
anasarka
b) Terbebas dari distensi vena
jugularis, reflek hepatojugular +
c) Menjelaskan indikator kelebihan
cairan

29

INTERVENSI
Fluid Management:
1. Pertahankan intake dan output dalam cairan
yang akurat
2. Pasang urin kateter bila diperlukan
3. Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi
cairan (BUN, Hematokrit, osmolalitas urin)
4. Monitor status hemodinamik
5. Monitor vital sign
6. Monitor indikasi retensi/kelebihan cairan
7. Kaji lokasi dan luas edema
8. Batasi masukan cairan pada keadaan
hiponatremi dilusi dengan serum Na<130
mEq/L
9. Kolaborasi dengan dokter jika tanda cairan
berlebih muncul

Kurang Pengetahuan

Tujuan :
Knowledge: Healthy Diet 1854
Kriteria hasil:
a) Menerima tujuan diet
b) Mengoptimalkan rentang berat badan
diri
c) Intake cairan seimbang dengan
metabolisme tubuh
d) Intake nutrisi seimbang dengan
metabolisme tubuh
e) Makanan sesuai dengan petunjuk gizi
f) Rekomendasi diet untuk natrium dan
protein

30

Health Education 5510 :


1. Tentukan sasaran grup resiko tinggi dan
rentang usia yang akan bermanfaat pada
pendidikan kesehatan
2. Bantu individu dan keluaga dalam
mengklarifikasi nilai dan kepercayaan
tentang kesehatan
3. Ajarkan strategi yang dapat menanggulangi
perilaku tidak sehat atau adanya perubahan
perilaku
4. Gunakan sistem dukungan keluarga dan
lingkungan untuk meningkatkan keefektifan
modifikasi gaya hidup atau perilaku
kesehatan
5. Libatkan individu, keluarga, dan kelompok
dalam merencanakan dan mengaplikasikan
modifikasi gaya hidup dan perilaku
kesehatan

Takut

Tujuan:
Fear level: child - 1213
Kriteria hasil:
Tidak ada peningkatan nadi
Tidak berkeringat
Tidak menangis
Tidak marah
Tidak ada perilaku menghindar
Tidak gelisah

31

Domain 3, Kelas T, intervensi :


5820 anxiety reduction
1. Gunakan teknik secara tenang saat
pengkajian
2. Secara jelas, ukur harapan pasien dari
perilaku yang dilakukan
3. Jelaskan semua prosedur termasuk
gambaran sensasi sebagai pengalaman saat
tindakan dilakukan
4. Cari pengertian sesuai dengan perpektif
pasien pada situasi stres
5. Berikan
informasi
faktual
tentang
diagnosis, pengobatan, dan prognosis
6. Berikan gosokan punggung atau leher
7. Anjurkan keluarga untuk menemani pasien
8. Jaga peralatan pengobatan jauh dari
penglihatan
9. Ciptakan suasana yang menimbulkan
kepercayaan
10. Anjurkan
mengungkapkan
perasaan,
persepsi, dan ketakutan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
HARI
TANGGAL

No
DK

IMPLEMENTASI

Rabu

1. Melakukan pengukuran tandatanda vital, TD: 100/60 mmHg, N:


102 x/menit, S: 36,7C
2. Melakukan observasi balance
cairan
Input: 1000 (minum)
10 (injeksi) +
1010 cc/24 jam
Out put: urin 800
IWL 404 +
1204 cc/jam
3. Mengobservasi lokasi kelebihan
volume cairan, terjadi pembesaran
di abdomen (asites +), edema
ekstremitas + +
+ +
4. Menimbang BB setiap hari,
dengan timbangan yang sama, BB
25 kg
5. Monitoring dalam pemberian
cairan, dalam 1 hari klien

13 Juli 2016

PARAF

JAM
13.30
WIB

EVALUASI
S: ibu klien mengatakan perut
anaknya masih membesar, ibu
klien sudah mengontrol minum
klien maksimal 1000 cc/hari
O: BB saat ini 27 kg
TD 110/60 mmHg, N 90
x/menit, RR 24 x/menit, S
37 C
Intake output (balance
cairan), deficit 152 cc
Pembesaran abdomen +
Injeksi furosemid IV 25 mg
A: Kelebihan volume cairan
belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

32

PARAF

Rabu

13 Juli 2016

maksimal minum 1000 cc/hari


6. Kolaborasi pemberian diureti
IV furosemid 25 mg
1. Menjelaskan pada keluarga tentang
diet rendah garam cukup protein
2. Menganjurkan agar keluarga di
rumah mematuhi aturan diet yang
diberikan
3. Menganjurkan
agar
seluruh
anggota keluarga ikut terlibat dan
mendukung dalam pemenuhan diet
pada klien

13.30
WIB

S: ibu klien mengatakan selain


makan makanan di rs, klien
juga makan makanan di luar
rumah sakit
O: Diet TKCPRG
Orang tua klien tampak
memahami aturan diet yang
diberikan
Klien terkadang masih makan
makanan diluar RS
A: Kurang pengetahuan teratasi
sebagian
P: Lanjutkan intervensi Health
Education

Rabu
13 Juli 2016

1. Memberikan penjelasan sebelum


melakukan tindakan invasif
2. Menggunakan teknik distraksi saat
melakukan tindakan invasif
3. Menganjurkan keluarga agar ikut
menemani klien saat dilakukan
tindakan invasif

13.30
WIB

S: Klien hanya menangis


O: Klien tampak ketakutan
Klien menangis saat hendak
dilakukan tindakan invasif
Keluarga memberi dukungan
agar klien tidak menangis
Perilaku menghindar (+)

33

A: Ketakutan belum teratasi


P: Lanjutkan intervensi anxiety
reduction

34

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
HARI
TANGGAL

No
DK

IMPLEMENTASI

Kamis

1. Melakukan pengukuran tandatanda vital, TD: 110/60 mmHg, N:


90 x/menit, S: 37C, RR 24
x/menit
2. Melakukan observasi balance
cairan
3. Input: 1000 (minum)
10 (injeksi) +
1010 cc/24 jam
Out put: urin 800
IWL 204 +
1004 cc/jam
7. Mengobservasi lokasi kelebihan
volume cairan, terjadi pembesaran
di abdomen (asites +), edema
ekstremitas + +
+ +
4. Menimbang BB setiap hari,
dengan timbangan yang sama, BB
25 kg
5. Monitoring dalam pemberian

14 Juli 2016

PARAF

JAM
13.00
WIB

EVALUASI
S: ibu klien mengatakan perut
anaknya masih membesar,
O: Keadaan umum baik, BB saat
ini 25 kg, edema (+)
TD 110/70 mmHg, N 94
x/menit, RR 20 x/menit, S 37
C
Intake output (balance cairan),
deficit 152 cc
Pembesaran abdomen +
Injeksi furosemid IV 25 mg
A: Kelebihan volume cairan
belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

35

PARAF

cairan, dalam 1 hari klien


maksimal minum 1000 cc/hari
6. Kolaborasi pemberian diuretic
IV furosemid 25 mg
Kamis

14 Juli 2016

1. Menjelaskan pada keluarga tentang


diet rendah garam cukup protein
2. Menganjurkan agar keluarga di
rumah mematuhi aturan diet yang
diberikan
3. Menganjurkan
agar
seluruh
anggota keluarga ikut terlibat dan
mendukung dalam pemenuhan diet
pada klien

13.00
WIB

S: ibu klien mengatakan selain


makan makanan di rs, klien
juga makan makanan di luar
rumah sakit
O: Diet TKCPRG
Orang tua klien tampak
memahami aturan diet yang
diberikan
Klien mematuhi agar tidak
membawa makanan diluar RS
A: Kurang pengetahuan teratasi
P: intervensi Health Education
dihentikan

Kamis
14 Juli 2016

1. Memberikan penjelasan sebelum


melakukan tindakan invasif
2. Menggunakan teknik distraksi
saat melakukan tindakan invasif
3. Menganjurkan keluarga agar ikut
menemani klien saat dilakukan
tindakan invasif

13.00
WIB

S: Klien hanya menangis


O: Klien tampak ketakutan
Klien menangis saat hendak
dilakukan tindakan invasif
Keluarga memberi dukungan
agar klien tidak menangis
Perilaku menghindar (+)

36

A: Ketakutan belum teratasi


P: Lanjutkan intervensi anxiety
reduction

37

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
HARI
TANGGAL

No
DK

IMPLEMENTASI

Jumat

1. Melakukan pengukuran tandatanda vital, TD: 110/60 mmHg, N:


90 x/menit, S: 37C, RR 24
x/menit
2. Melakukan observasi balance
cairan
Input: 1000 (minum)
10 (injeksi) +
1010 cc/24 jam
Out put: urin 800
IWL 204 +
1004 cc/jam
3. Mengobservasi lokasi kelebihan
volume cairan, terjadi pembesaran
di abdomen (asites +), edema
ekstremitas + +
+ +
4. Menimbang BB setiap hari,
dengan timbangan yang sama, BB
27 kg
5. Monitoring dalam pemberian

15 Juli 2016

PARAF

JAM
13.30
WIB

EVALUASI
S: ibu klien mengatakan perut
anaknya masih membesar,
O: Keadaan umum baik, BB
saat ini 25 kg, edema (+)
TD 110/70 mmHg, N 94
x/menit, RR 20 x/menit, S 37
C
Intake output (balance
cairan), deficit 152 cc
Pembesaran abdomen +
Injeksi furosemid IV 25 mg
A: Kelebihan volume cairan
belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi

38

PARAF

cairan, dalam 1 hari klien


maksimal minum 1000 cc/hari
6. Kolaborasi pemberian diuretic
7. IV furosemid 25 mg

Jumat
15 Juli 2016

1. Memberikan penjelasan sebelum


melakukan tindakan invasif
2. Menggunakan teknik distraksi
saat melakukan tindakan invasif
3. Menganjurkan keluarga agar ikut
menemani klien saat dilakukan
tindakan invasif

13.30
WIB

S: Klien hanya menangis


O: Klien tampak ketakutan
Klien menangis saat hendak
dilakukan tindakan invasif
Keluarga memberi dukungan
agar klien tidak menangis
Perilaku menghindar (+)
A: Ketakutan belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
anxiety reduction

39

BAB 4
PEMBAHASAN
Pada kasus yang dialami An. R dengan Sindrom Nefrotik terdapat beberapa
persamaan dan perbedaan dengan teori, antara lain :
1.1 Sindrom nefrotik bisa teradi karena diturunkan sebagai resesif autosom yang
disebut sindrom nefrotik bawaan. Pada kasus An. R, riwayat penyakit keluarga
klien yaitu ayah dan nenek klien mempunyai penyakit ginal.
2.1 Selain bisa diturunkan sindrom nefrotik juga bisa disebabkan oleh penyakit malaria,
penyakit kolagen, glomerulonefritis, bahan kimia, dan lain-lain. Klien An. R
mempunyai kebiasaan minum perasaatau minuman kemasan yang dijual di tempat
umum dan mempunyai kebiasaan makan mie instan untuk sarapan pagi, sehingga
kemungkinan bisa disebabkan oleh zat-zat kimia yang klien konsumsi melalui
makanan dan minuman yang tidak sehat.
3.1 Salah satu gejala utama sindrom nefrotik adalah edema. Edema biasanya bervariasi
dari bentuk ringan sampai berat (anarsaka). Jika dilihat pada kasus An. R, An. R
terdapat edema pada tangan dan kaki atau edema pada ekstremitas.
4.1 Selain gejala utama yaitu edema, ada gejala penyerta lainnya pada sindrom nefrotik
seperti, penurunan jumlah urin, pucat, hematuri, anoreksia, diare, sakit kepala, nyeri
abdomen, gagal tumbuh. Pada kasus ini gejala lainnya adalah, konjungtiva klien
anemis, tidak ada hematuri, urin kuning keruh, nafsu makan klien turun, tidak ada
diare, tidak ada sakit kepala, tidak gagal tumbuh.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh injuri glomerular

yang terjadi pada anak. Data penyakit ginjal anak di Indonesia dari tujuh Pusat
Pendidikan Dokter Spesial Anak memperlihatkan bahwa Sindrom Nefrotik merupakan
penyakit yang paling dijumpai (35%) di poliklinik nefrologi.
Penyebab sindrom nefrotik adalah bisa dikarenakan genetic atau diturunkan, zatzat kimia, penyakit malaria, penyakit kolagen, glomerulonefritis, maupun tidak dapat
ditemukan secara pasti penyebabnya.
Sindrom Nefrotik bisa memunculkan beberapa gejala yaitu, edema yang termasuk
gejala utama pada sindrom nefrotik, edema ini bisa mulai dari edema ringan sampai
edema berat (anarsaka), kemudian bisa teradi diare, anoreksia, pucat, hematuri, urin
sedikit, nyeri abdomen, dan gagal pertumbuhan.
5.2

Saran
1. Hindari makan dan minuman yang terdapat bahan pengawet dan garam
berlebih jika mempunyai faktor resiko pada genetik.
2. Jika sudah terkena sindrom nefrotik, lakukan terapi sesuai advis dokter dengan
rutin.

41

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily. L. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik (Mosbys Pediatric Nursing
Reference) edisi 3. Jakarta: EGC
Bulechek, Gloria. M et. al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th edition.
Philadelphia: Mosby, Inc.
Herdman, T. H, et. al. 2014. Nursing Diagnoses Definitions and Classifications 10th
edition. Oxford: Willey Blackwell
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 edisi 3. Jakarta: Medika
Aesculafius
Mc. Kinney, et al. 2001. Maternal-Child Nursing. Philadelphia : WB Saunders
Moorhead, Sue, et. al. 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5 th edition.
Philadelphia: Mosby, Inc
Rauf, S. 2002. Catatan Kuliah Nefrologi Anak. Makassar: Bagian Ilmu Kesehatan anak
FK-UH
Suriadi, Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. CV. Sagung Seto, Jakarta.
Sylvia A. Price. (2001). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Proses Penyakit. Edisi 4
Buku 2. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. (2004). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta : EGC
Yap, Hui-Kim, et. al. 2015. Pediatric Nephrology On-The-Go 2nd edition. Singapore:
Childerens Kidney Centre

42