Anda di halaman 1dari 24

Program Studi Sarjana Farmasi

Fakultas Farmasi
Universitas Andalas

Sistem penghantaran obat


- Polimer Farmasetika
Oleh Kelompok 1 Kelas C

Dosen;
Dr. Erizal, M.Si, Apt

1211014001 Siti Khoratun Nisa


1211014019 Yuliana Ristantia
1311011039 Habibie Deswilyaz G
1311011087 Ivan Pratama

1311012026 Nurul Fadillah Zahari


1311012032 Yozi Fiedya Ningsih
1311012046 Rany Dwi Utami

A. Apa Itu Polimer?

Senyawa polimer merupakan senyawa makromolekul yaitu suatu senyawa yang memiliki
struktur molekul yang besar. Senyawa polimer terbentuk dari penggabungan molekulmolekul yang kecil dan saling berikatan membentuk senyawa makromolekul.

Polimerisasi adalah reaksi penggabungan molekul-molekul yang kecil (monomer) untuk


membentuk suatu molekul yang besar.
Monomer adalah molekul-molekul kecil yang bergabung untuk membentuk suatu polimer.
Biasanya polimer sintetis diberi nama menurut monomernya, diawali dengan kata poli.
Contohnya ialah Etilena, yaitu etilena yang membentuk suatu polimer sederhana yaitu
polietilen yang merupakan bahan pembuat kantong plastik dan pipa plastik.
SPO - Polimer Farmasetika

B. Jenis-jenis Polimerisasi

Polimerisasi kondensasi

polimerisasi yang disertai dengan pembentukan molekul kecil (H2O, NH3


Polimerisasi adisi
polimerisasi yang disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi
monomer.

SPO - Polimer Farmasetika

Contoh Polimerisasi

SPO - Polimer Farmasetika

C. Sumber Polimer
Alam

Buatan/ sintetis

No

Monomer

Polimer

1
2
3
4
5

Isoprena
Glukosa
Glukosa
Asam Amino
Nukleotida

Karet Alam
Amilum
Selulosa
Protein
Asam Nukleat

No
1
2
3
4

SPO - Polimer Farmasetika

Jenis
Polimerisasi
Adisi
Kondensasi
Kondensasi
Kondensasi
Kondensasi

Jenis
Polimerisasi
Etetna
Polietilena
Adisi
Vinilklorida
Pilivinilklorida
Adisi
Propena
Poliropena
Adisi
Tetrafluoroetena
Teflon
Adisi
Monomer

Polimer

Sumber
Getah Karet
Beras, Jagung
Kayu, Tumbuhan
Sutra, Wol
DNA, RNA

Sumber
Plastik
Plapis, Lantai, Pipa
Tali, Karung, Plastik
Panci

D. Tipe Polimer
Polimer diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

Homopolimer
yaitu polimer yang terbentuk dari monomer-monomer yang sejenis
-[AAAAA]-

Kopolimer
yaitu polimer yang terbentuk dari monomer-monomer yang berbeda jenisnya
-[ABABA]-

SPO - Polimer Farmasetika

D. Tipe Polimer (contd)


Berdasarkan sifat-sifatnya, polimer digolongkan menjadi dua yaitu :
Poimer Termosting
Jenis polimer yang jika dipanaskan akan menjadi lunak dan jika terus dipanaskan akan
mengalami perubahan kimia hingga mengeras dan tidak diubah lagi, seperti contoh produk
dari fenol, formaldehid, urea formaldehida, dan melamin formaldehida.
Polimer Termoplastik
Jenis polomer yang jika dipanaskan akan menjadi lunak dan akan mengeras jika didinginkan.
Polimer ini dapat dikeraskan dan dilunakan secara berulang, seperti contoh yaitu nitroselulosa,
selulosa asetat, polietena, polisterena, dan PVC.

SPO - Polimer Farmasetika

D. Tipe Polimer (contd)

Berdasarkan bio-stability-nya;
Bio-degradable Polymers
e.g. polyesters, proteins, carbohydrates, etc
Non biodegradable Polymers
e.g. ethyl cellulose, HPMC, acrylic polymers, silicones

SPO - Polimer Farmasetika

E. Karakteristik Polimer yang Ideal

Inert and kompatible dengan lingkungan


Tidak beracun (non-toxic)

Mudah diberikan
Fabrikasinya mudah dan tidak mahal
Memiliki kekuatan mekanik yang bagus

SPO - Polimer Farmasetika

F. Berat Molekul Polimer

Berfungsi untuk;
Menentukan aplikasi polimer tersebut
Sebagai indikator dalam sintesa dan proses pembuatan produk polimer
Studi kinetika reaksi polimerisasi
Studi ketahanan produk polimer dan efek cuaca terhadap kualitas produk

SPO - Polimer Farmasetika

10

G. Aplikasi Polimer di Farmasi


Penutup karet dan tube plastik alat suntik:

polietilen, polistirena, polikarbonat


Penyalut tablet
hidroksi propil metil-selulosa, polietilen glikol, CMC-Na
Bahan pengikat dalam tablet
akasia, gelatin
Sebagai obat
insulin, metilselulosa, polikarbofil
Sebagai pembentuk kompleks
povidone
SPO - Polimer Farmasetika

11

G.1. Dalam Sediaan Gel

Gel terdiri dari dua fase yang saling berpenetrasi, yang satu adalah padatan sedangkan yang lain
adalah cairan
Dalam gel, polimer bertindak sebagai padatan yang terisi oleh cairan

SPO - Polimer Farmasetika

12

G.2. Sebagai Zat Pengental

Mempunyai kemampuan yang baik dalam meningkatkan viskositas larutan

Contoh: larutan 2% metil selulosa dalam air mempunyai viskositas 80 poise

SPO - Polimer Farmasetika

13

G.3. Sebagai Koaservasi

Merupakan salah satu metode pembentukan mikrokapsul oleh polimer


Materi inti harus berupa serbuk halus yang didispersikan dalam cairan yang berisi polimer
Larutan tersebut di tambah elektrolit, kemudian didinginkan. Lalu dikeringkan

SPO - Polimer Farmasetika

14

H. Aplikasi dalam Penghantaran Obat Terkendali


(Controlled Drud Delivery)
Reservoir Systems
-Ocusert System
-Progestasert System
-Reservoir Designed Transdermal Patches

Matrix Systems
Swelling Controlled Release Systems
Biodegradable Systems

Osmotically controlled Drug Delivery

SPO - Polimer Farmasetika

15

H.1. Matrix System


Sistem matriks merupakan sistem yang paling sederhana dan sering digunakan dalam pembuatan
tablet lepas lambat.
Matriks obat didefinisikan sebagai dispersi seragam obat secara homogen di dalam pembawa dan
formulasi dikembangkan untuk mengontrol secara efektif kecepatan ketersediaan obat di mana
pelepasan obat tergantung bahan polimer.
Mekanisme pelepasan obat secara sistem matriks terjadi secara difusi dan disolusi.
Difusi, umumnya terjadi tanpa melalui proses pengembangan dan erosi dari matriks, jadi obat keluar dengan
cara migrasi dari zat aktif yang bergantung dari sifat dari obat tersebut.
Disolusi, matrik mengalami proses pelarutan atau terlarut dalam medium atau terjadi proses erosi, yang
diikuti pelarutan zat aktif sehingga zat aktif dapat terlepas atau keluar dari pembawa.

Pada sistem matriks dibedakan menjadi dua tipe pelepasan, yaitu untuk sistem matriks hidrofilik dan
sistem matrik tidak larut atau inert.
SPO - Polimer Farmasetika

16

H.1. Matrix System (contd)


Beberapa bahan yang sering digunakan sebagai system matriks pada sediaan sustained release ;
Metil selulosa
Inti tablet dilapisi dengan cara penyemprotan dengan salah satu cairan atau larutan organik pengganti
tingkat viskositas yang rendah dari metil selulosa untuk menutupi rasa tidak enak atau modifikasi pelepasan
obat dengan mengontrol sifat fisik dari granul. Lapisan metil selulosa juga digunakan untuk menutup inti
tablet lebih dulu dengan melapisi gula.
Konsentrasi yang digunakan untuk sustained-release tablet matriks adalah 5.0-75.0 %.
Mekanisme : Metil selulosa merupakan turunan selulosa yang tersubstitusi hidroksipropil dan metil. Metil
selulosa merupakan bahan matriks hidrofil yang dapat mengendalikan pelepasan kandungan obat di
dalamnya ke dalam medium pelarut. Metil selulosa dapat membentuk lapisan hidrogel dengan viskositas
tinggi pada sekeliling sediaan setelah kontak dengan cairan medium pelarut. Gel ini merupakan penghalang
fisik lepasnya obat dari matriks secara cepat.
SPO - Polimer Farmasetika

17

H.1. Matrix System (contd)


Na-CMC
Matriks sustained release, coating tablet, serta dapat juga digunakan sebagai agen penstabil,
suspending agent, disintegran tablet atau kapsul, pengikat pada tablet, peningkat viskositas,
water-absorbing agent.
Mekanisme : secara umum, natrium karboksi metil selulosa stabil pada pH larutan 7-9 dan
menunjukkan viskositas yang maksimum. Namun, sebagai matriks sustained release pH yang
menunjukkan kemampuan sebagai matriks yang dapat mengembang adalah pada pH 4,5 dan
6,8. Pada pH tersebut terbentuk rantai makromolekular dalam gel yang terdiri dari ikatan yang
lemah sehingga pelepasan obat dapat terjadi dengan cara erosi dari matriks natrium karboksi
metil selulosa. Sedangkan pada pH 1, akan terbentuk gel yang kaku, sehingga memiliki tipe
seperti hidrogel ikatan silang yang menghasilkan pelepasan obat secara difusi.

SPO - Polimer Farmasetika

18

H.1. Matrix System (contd)


Ethyl cellulose
Digunakan dalam sediaan formulasi oral dan topical. Penyalutan dengan ethylcellulose
digunakan untuk modifikasi pelepasan obat sustained release. Etilselulosa dengan viskositas tinggi
digunakan dalam obat mikroenkapsulasi.
Mekanisme : dalam saluran cerna akan terbentuk lapisan etilselulosa yang terhidrasi, yang akan
mengontrol difusi air selanjutnya ke dalam metriks. Difusi obat melalui lapisan matriks yang
terhidrasi akan mngontrol kecepatan pelepasan obat. Lapisan matrils terhidrasi akan mengalami
erosi sehingga menjadi terlarut.

Konsentrasi yang digunakan dalam tablet salut sustained release adalah 3-20%.

SPO - Polimer Farmasetika

19

H.1. Matrix System (contd)


Karbomer
Karbomer dapat digunakan sebagai matriks sustained release. Resin karbomer diketahui ada
dalam sediaan sustained-release, yaitu di dalam rangkaian matrix sebagai inhibitor enzim
protease di dalam usus (pada sediaan yang mengandung peptida). Selain itu karbomer juga
dapat digunakan sebagai bioadhesive (pada sediaaan untuk serviks dan untuk pemberian
mikrosfer intranasal), untuk penyampaian obat spesifik pada esofagus, dan sebagai
mucoadhesive untuk pemberian oral dalam sediaan obat spesifik.

Mekanisme : merupakan polimer tidak larut dalam air, namun dapat mengembang dan
membentuk gel. Namun, pembentukan gel dan proses mengembangnya berbeda dengan
polimer hidrofilik lainnya, pada polimer asam akrilat, pembentukan permukaan gel adalah tidak
terjadi pemisahan rantai polimer (polimer sudah terjadi ikatan silang) tetapi terbentuk mikrogel
yang mengandung banyak partikel-partikel polimer.
SPO - Polimer Farmasetika

20

H.1. Matrix System (Karbomer contd)


Ikatan silang memungkinkan obat terjebak dalam hidrogel. Karena hidrogel tidak larut dalam air,
obat tidak terlarut, dan erosi pada polimer linier ini tidak terjadi. Sebaliknya, ketika hidrogel
terhidrasi sepenuhnya, tekanan osmotik dari dalam bekerja untuk memecah struktur, sehingga
terbentuk pecahan-pecahan dari hidrogel. Kemudian dilanjutkan dengan terjadinya difusi pada
lapisan gel. Bentuk ikatan silang dari polimer dengan viskositas rendah umumnya lebih efisien
sebagai pelepasan sediaan terkontrol dibandingakan dengan ikatan silang dengan variasi yang besar.
Metode Pembuatan : diproduksi di dalam campuran kosolven dengan sebuah zat yang dapat
membantu polimerisasi dan resin diikat secara crosslinked dengan polyalkenyl polyether. Polimer
Carbopol dibuat dengan proses cross-linking. Tergantung pada derajat cross-linking dan kondisi
pembuatan, sehingga terdapat berbagai kelas Carbopol. Carbopol 934 P dibuat melalui cross-linked
dengan alil sukrosa dan dipolimerisasi dalam pelarut benzena. Carbopol 71G, 971 P, 974 P dibuat
melalui cross-linked dengan alil penta erythritol dan dipolimerisasi dalam etil asetat.
SPO - Polimer Farmasetika

21

H.2. Biodegradable System

Natural polymers
Fibrin
Collagen
Chitosan
Gelatin
Hyaluronan

SPO - Polimer Farmasetika

Synthetic polymers
PLA, PGA, PLGA, PCL, Polyorthoesters G
Poly(dioxanone)
Poly(anhydrides)
Poly(trimethylene carbonate)
Polyphosphazenes

22

Daftar Pustaka
Attwood, D and Florence, A. T. 2008. Fast Track, Physical Pharmacy. Cornwall: Pharmaceutical Press.
Harold, Hard dan Leslie, E. 2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Harris, J. M. 1992. Poly Ethylene Glycol. New York: Plenum Press.


Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik: Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik Edisi 3. Jakarta: UI Press.
Mitchell, H. L. 1972. How PEG Helps the Hobbyist Who Work With Wood. U.S.A: Departement of Agriculture.
Rowe, Raymond C, et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th ed. USA: Pharmaceutical Press.
S.H. Pine, J.B. Hendricson. 1988. Kimia Organik 2. Bandung: ITB.
Swarbick, James, et al. 1991. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology Vol 4. New York: Marcel Dekker Inc.
Wilson and Clive, G. 2011. Controlled Release in Oral Drug Delivery. Springer : London.
SPO - Polimer Farmasetika

23

THANK YOU

SPO - Polimer Farmasetika

24