Anda di halaman 1dari 33

SOLUSI MITIGASI DAERAH RAWAN GEMPA BUMI DI

INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS


MIKROTREMOR

Dosen Pembimbing :
Bambang Wijatmoko, S.Si., M.Si.
Disusun oleh :
Denis Candra
140710140033

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN

LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Karya Tulis

: Solusi Mitigasi Daerah Rawan Gempa Bumi di


Indonesia dengan Menggunakan Analisis
Mikrotremor.

2. Disusun oleh :
a. Nama Lengkap

: Denis Candra

b. NIM

: 140710140033

c. Jurusan

: Geofisika

d. Perguruan Tinggi

: Universitas Padjadjaran

e. Alamat dan Telp : Jl. Kol. Achmad Syam No.73


f. Alamat email

: denis.candra7@gmail.com

3. Dosen Pembimbing
a. NamaLengkap

: Bambang Wijatmoko, S.Si., M.Si.

b. NIDN

: 0013037001

c. Alamat dan Telp

: Jalan Puri Dago Timur No. 22 Arcamanik


Bandung

d. Alamat Email

: bwmoko@geophys.unpad.ac.id

Sumedang, 14 Desember 2014

Dosen Pembimbing

Penulis

Bambang Wijatmoko, S.Si., M.Si.


NIDN. 0013037001

Denis Candra
NPM.140710140033

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum
Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah

memberikan

rahmat

dan

hidayah-Nya

sehingga

penulis

mampu

menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Solusi Mitigasi


Daerah Rawan Gempa Bumi Di Indonesia Dengan Menggunakan Analisis
Mikrotremor .
Berbagai hambatan telah penulis hadapi dalam penyusunan karya ilmiah
ini, namun berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, hambatan
tersebut dapat penulis atasi. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bambang Wijatmoko, selaku dosen pembimbing dalam penyusunan karya
ilmiah ini.
2. Keluarga kami yang telah mendukung baik dari moral, material, maupun
spiritual.
Penulis menyadari bahwa penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis butuhkan guna perbaikan penulisan karya tulis ilmiah selanjutnya.
Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Sumedang, 18 April 2015,

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL,..,.........i
LEMBAR PENGESAHAN ,,,,.........ii
KATA PENGANTAR,,,,.....iii
DAFTAR ISI..,.....iv
ABSTRAK.......,...vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

,..1

Latar Belakang...,..
1

1.2.

Rumusan Masalah.......
..2

1.3.

Tujuan...........
.2

1.4.

Manfaat........
..3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.,....4


2.1. Potensi Bencana Indonesia,......4
2.2. Bencana Gempa Bumi..5
2.3. Pengaruh efek lokal..................................................................7
2.4. Mitigasi Bencana..8
2.5. Mikrotremor......9
2.6. Analisis Mikrotremor...............................................................10
2.6.1

Fast Fourier Transform.............................................................11

2.7. Aplikasi Mikrotremor...12


BAB III METODE PENELITIAN...................................................................14

BAB IV PEMBAHASAN................................................................................15
4.1. ANALISIS DAN SINTESIS.........15
4.1 Mikrotremor Pada Tanah................................................................15
4.2 HVSR..............................................................................................16
4.3 Mikrotremor Pada Bangunan..........................................................17
4.4 METODE FSR................................................................................18
4.5 METODE RDM..............................................................................19
4.6 INDEKS KERENTANAN BANGUNAN......................................20
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................24
5.1. KESIMPULAN...................................................................................24
5.2. SARAN.............................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA........25

Solusi Mitigasi Daerah Rawan Gempa Bumi Di Indonesia Dengan


Menggunakan Analisis Mikrotremor
Denis Candra
140710140033

Abstrak
Indonesia merupakan salah satu Negara di dunia yang memiliki potensi
bencana alam yang sangat tinggi ini disebabkan posisi geografisnya yang terletak
diantara lempeng tektonik dunia bencana alam itu terutama gempa bumi dan
tanah longsor .Bencana ini sering terjadi di Indonesia dan tidak sedikit memakan
korban jiwa dan kerusakan infrastruktur .Bencana alam memang sesuatu yang
tidak bisa kita hentikan atau kita selesaikan namun satu satunya cara adalah
mencegah dengan upaya mitigasi yang baik.Analisis Mikrotremor merupakan
salah satu metode yang sangat potensi untuk digunakan sebagai upaya mitigasi
bencana gempa bumi dan tanah longsor. Mikrotremor sendiri adalah salah satu
metoda geofisika untuk menghitung efek karakteristik tanah dan karakteristik
dinamika tanah ditinjau dari kecepatan gelombang seismik dengan menitik
beratkan pada variasi amplitude dan perioda serta frekuensi terhadap waktu yang
disebabkan oleh gempa bumi maupun sumber getaran yang lain. Metoda ini
sangat berguna untuk mengklasifikasikan tanah akibat gempa dan perhitungan
faktor amplikasi lapisan sedimen permukaan.Metode ini digunakan untuk
mengetahui kekuatan bangunan sehingga kita bisa tahu apakah suatu bangunan
bisa tahan dengan gempa bumi atau tidak dan setelah gempa bumi terjadi apakah
bangunan itu masih layak untuk digunakan.Mikrotremor juga digunakan untuk
mengetahui kekuatan tanah berdasarkan frekuensi alami dari tanah tersebut
sehingga bisa digunakan untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor .Metode
analisis ini sangat potensi sebagai informasi awal dan referensi bagi penerintah

dalam menentukan kebijakan tentang upaya mitigasi untuk mengurangi dampak


dari bencana alam gempa bumi maupun banjir.
Kata Kunci : Mikrotremor, mitigasi, gelombang.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan
morfologi yang beragam dari daratan sampai pegunungan tinggi.
Keragaman morfologi ini banyak dipengaruhi oleh faktor geologi terutama
dengan adanya aktivitas pergerakan lempeng tektonik aktif di sekitar
perairan Indonesia diantaranya adalah lempeng Eurasia, Australia dan
lempeng Dasar Samudera Pasifik. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik
tersebut menyebabkan terbentuknya jalur gempa bumi, rangkaian gunung
api aktif serta patahanpatahan geologi yang merupakan zona rawan
bencana gempa bumi dan tanah longsor. Menurut BAKORNAS PBP
dalam "Arahan Kebijakan Mitigasi Bencana Perkotaan di Indonesia",
dilihat dari potensi bencana yang ada Indonesia merupakan negara dengan
potensi bencana yang sangat tinggi. Beberapa potensi bencana yang ada
antara lain adalah bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus,
banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Potensi bencana yang ada di Indonesia
dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu potensi bahaya
utama dan potensi bahaya ikutan. Potensi bahaya utama (main hazard
potency) ini dapat dilihat antara lain pada peta potensi bencana gempa di
Indonesia yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah wilayah dengan
zona-zona gempa yang rawan, peta potensi bencana tanah longsor, peta
potensi bencana letusan gunung api, peta potensi bencana tsunami, peta
potensi bencana banjir, dan lain-lain. Dari indikator-indikator diatas dapat
disimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi bahaya utama (main
hazard potency) yang tinggi. Hal ini tentunya sangat tidak menguntungkan
bagi negara Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pada saat sebelum
terjadinya bencana adalah pencegahan dan mitigasi, yang merupakan

upaya untuk mengurangi atau memperkecil dampak kerugian atau


kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh bencana.
Berbagai

upaya

diperlukan

terutama

untuk

mengatasi

permasalahan ini yaitu upaya mitigasi dengan memanfaatkan ilmu


pengetahuan yang telah berkembang terutama untuk bencana gempa bumi
dan tanah longsor. Dari latar belakang tentang bencana alam di Indonesia,
mitigasi bencana merupakan langkah yang sangat perlu dilakukan sebagai
suatu titik tolak utama dari manajemen bencana. Sesuai dengan tujuan
utamanya yaitu mengurangi dan / atau meniadakan korban dan kerugian
yang mungkin timbul. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk
segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural
disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (manmade disaster). Mitigasi pada dilakukan dalam rangka mengurangi
kerugian akibat kemungkinan terjadinya bencana, baik itu korban jiwa
dan/atau kerugian harta benda yang akan berpengaruh pada kehidupan dan
kegiatan manusia. Untuk itu dalam Karya Tulis ini mengkaji tentang
potensi MIKROTREMOR dalam upaya mitigasi bencana gempa dan tanah
longsor di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah utama yang dikaji dalam karya tulis ini adalah dengan cara
apa upaya mitigasi bencana alam yaitu gempa bumi dan tanah longsor
dapat secara efektif dilakukan.
1.3 Tujuan
Untuk mengaplikasikan analisis mikrotremor sebagai alat yang
digunakan untuk upaya mitigasi bencana gempa bumi dan tanah longsor

1.4 Manfaat
Sebagai upaya mitigasi dan pertimbangan kebijakan pemerintah
tentang suatu daerah rawan bencana alam terutama gempa bumi dan tanah
longsor

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Potensi Bencana Indonesia


Indonesia merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang memiliki
17.508 pulau. Letak astronomis Indonesia yaitu antara 6 o LU-11o LS dan 95o BT141o BT. Secara geografis letak indonesia yaitu diantara samudra Hindia dan
Samudra Pasifik, diantara benua Asia dan Australia. Berdasarkan letak itu pula,
Indonesia dapat dikatakan negara yang memiliki potensi bencana alam yang
cukup besar. Hal ini tentu nya berdasarkan beberapa alasan. Indonesia relatif
rentan terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan
semburan lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan,
putingbeliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang
tinggi). Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti
gempa,gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang
terkait dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan
tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat
penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana,
dua hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena
alam. Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk
mengantisipasi kemungkinan adanya potensi bencana.

Gambar 1.1 Posisi geografis wilayah indonesia

Negara Indonesia merupakan wilayah pertemuan 3 buah Lempeng yaitu


Indo-australia, Eurasia dan Lempeng Pasifik serta Indonesia di Lalui oleh Jalur
pegunungan aktif dunia yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. Hal ini
menyebabkan Indonesia merupakan termasuk jalur Ring of Fire atau cincin api
pasifik dunia, yang merupakan jalur pegunungan aktif di Indonesi. Tidak heran
jika Indonesia sering mengalami bencana alam baik berupa gempa bumi yang
meliputi gempa tektonik dan gempa vulkanik.
2.2 Bencana Gempa Bumi
Selama dua puluh tahun terakhir, beberapa gempa besar (Mexico 1985,
Loma Prieta 1989, Kobe 1995, Izmir 1999, El Salvador 2001, Bam 2003) telah
menelan ribuan korban, kerusakan sarana dan prasarana dengan kerugian yang tak
terhitung. Tingkat kerusakan akibat gempabumi dalam skala lokal dipengaruhi
oleh magnitudo, jarak pusat gempabumi, periode ulangnya, struktur, dan litologi
bawah permukaan. Beberapa gempabumi yang bersifat merusak di dunia
menunjukkan bahwa kerusakan lebih parah terjadi pada dataran alluvial
dibandingkan dengan daerah perbukitan (Nakamura et al.,2000). Banyak daerah
perkotaan dengan populasi yang besar berada pada soft-sediment (seperti di
daerah lembah dan muara) yang struktur tanahnya cenderung memperkuat
gelombang seismik (Bard, 1994). Litologi yang lunak cenderung akan
memberikan respon periode getaran yang panjang (frekuensi rendah), begitu pula
sebaliknya. Dalam kajian teknik kegempaan, litologi yang lebih lunak mempunyai
resiko yang lebih tinggi bila digoncang gelombang gempabumi karena akan
mengalami penguatan yang lebih besar dibandingkan dengan batuan yang lebih
kompak. Fenomena ini biasanya disebut site-effect atau site amplification selama
respon tanah terhadap getaran gelombang bergantung pada sifat tanahnya. Oleh
karena itu, proses mitigasi memerlukan penelitian tentang keadaan geologi
masing-masing daerah.
Gempa bumi adalah getaran partikel batuan atau goncangan pada kulit
bumi yang disebabkan oleh pelepasan energi secara tiba-tiba akibat aktivitas
tektonik (gempa bumi tektonik) dan rekahan akibat naiknya fluida (magma, gas,

uap dan Iainnya) dari dalam bumi menuju ke permukaan, di sekitar gunung api,
disebut gempa bumi gunung api/vulkanik. Getaran tersebut menyebabkan
kerusakan dan runtuhnya struktur bangunan yang menimbulkan korban bagi
penghuninya. Getaran gem-pa ini juga dapat memicu terjadinya tanah longsor,
runtuhan batuan dan kerusakan tanah Iainnya yang merusakkan permu-kiman
disekitarnya. Getaran gempa bumi juga dapat menyebabkan bencana ikutan yang
berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi dan juga banjir akibat
runtuhnya bendungan dan tanggultanggul penahan lainnya.

Gambar 1.2 : Bencana gempa bumi yang merusak infrastruktur dan


menimbulkan korban jiwa
Sumber gempa bumi di Indonesia banyak dijumpai di lepas pantai/di
bawah laut yang disebabkan oleh aktivitas subduksi dan sesar bawah laut.
Beberapa gempa bumi dengan sumber di bawah laut, dengan magnitude besar
dengan mekanisme sesar naik dapat menyebabkan tsunami. Dijumpai pula sumber
gempa bumi di darat yang disebabkan oleh aktivitas sesar di darat.
Gempa bumi merupakan salah satu jenis bencana alam yang secara terus
menerus terjadi di bumi. Hanya saja, kita baru bisa merasakan getarannya apabila
gempa tersebut terjadi di dekat permukaan bumi. Teknisnya, semua wilayah yang
ada di bumi berpotensi mengalami gempa. Hanya saja, ada beberapa titik yang
mengalami gempa dengan jumlah lebih jika dibandingkan dengan titik lainnya.
Salah satu Negara yang sering mengalaminya adalah Jepang dan juga Indonesia.
6

Di Indonesia sendiri, gempa bumi seolah telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat. Hal ini wajar mengingat Indonesia memang dilalui pegunungan
Sirkum dan juga Mediterania yang menjadikannya titik potensial gempa bumi.
2.3 Pengaruh efek lokal terhadap gempa bumi
Nakamura et al. (2000), Herak (2009) dan Warnana et al. (2011)
menyebutkan bahwa yang terjadi pada sebagian besar gempabumi terhadap
bahaya kerusakan struktur tanah dan banyaknya jumlah korban jiwa yang
diakibatkan oleh gempa bumi sangat signifikan. Hubungan intensitas gempabumi
terhadap kerusakan suatu wilayah dipengaruhi oleh jarak dari sumber gempa,
skala gempa, ukuran zona patahan, energi yang dilepaskan batuan, jenis geologi
antara

sumber

dan

lokasi

setempat

serta

kondisi

geologi

lokal(Towhata,2008).Besar percepatan dan kecepatan maksimum energi gempa


dipengaruhi oleh kondisi geologi setempat.Percepatan dan kecepatan (khususnya
sensor horizontal) ini berpengaruh secara langsung terhadap kerusakan bangunan
akibat gempa bumi.Perbedaan kondisi lokal di setiap wilayah terjadi karena
adanya variasi formasi geologi, ketebalan dan sifat-sifat fisika lapisan tanah dan
batuan, kedalaman bedrock dan permukaan air bawah tanah, serta permukaan
struktur bawah permukaan. Secara signifikan variasi tersebut berpengaruh
terhadap karakteristik getaran gempa pada struktur bawah permukaan
(Oliveira,2006) Nakamura (1989) menyebutkan efek lokal dan indeks kerentanan
tanah seperti yang sudah diketahui merupakan faktor penting dalam mitigasi
bencana gempabumi.
Amplifikasi gelombang gempa bisa terjadi ketika gelombang merambat ke
permukaan dan menggetarkan benda-benda di atas permukaan tanah dengan
kecepatan yang lebih besar, jika frekuensi natural gelombang tanah yang bergetar
mempunyai frekuensi natural sama atau mendekati frekuensi diri benda tersebut.
Frekuensi natural sendiri, dipengaruhi oleh kedalaman bedrock (ketebalan
sedimen) dan kecepatan rata-rata bawah permukaan ketika amplifikasi
mempunyai keseimbangan terhadap kecepatan gelombang geser dan densitas
bawah permukaan.Karena densitas relatif konstan terhadap kedalaman, maka

amplifikasi bisa diidentifikasi menggunakan kecepatan gelombang geser bawah


permukaan (Sungkono, et al., 2011).

A=

b V
s V

sb

ss

dengan A adalah amplifikasi tanah, b adalah densitas bedrock, Vsb adalah


kecepatan gelombang geser bedrock, s adalah densitas sedimen dan Vss adalah
kecepatan gelombang geser sedimen.
Gempa Meksiko pada 19 September 1985 merupakan contoh gempa yang
merusak kota dengan bangunan modern yang terletak pada batuan sedimen.
Kerusakan kota Meksiko akibat gempa yang sumbernya (di laut fasifik) berjarak
390 km dari kota tersebut. Bagian barat kota terletak di lapisan bekas rawa danau,
sedangkan, keberadaan tanah lunak yang mengisi di bekas rawa sampai bagian
timur. Pada daerah bekas rawa, keberadaan tanah lunak mempunyai kecepatan
gelombang geser 40 sampai 90 m/s dan dibawah lapisan lunak tersebut, terdapat
lapisan keras dengan kcepatan gelombang geser (Vs) sekitar 500 m/s atau lebih
(Seed et al, 1972). Amplifikasi gelombang seismik terjadi karena ada empat sebab
(Towhata, 2008), diantaranya Adanya lapisan lapuk yang terlalu tebal di atas
lapisan keras pada suatu tempat, suatu wilayah mempunyai frekuensi natural yang
rendah, frekuensi natural gempa bumi dan geologi setempat sama atau mendekati
sama energi gempa terjebak di lapisan lapuk dalam waktu yang lama. Faktor
penting yang digunakan untuk mengestimasi efek lokal yang diakibatkan oleh
gempa bumi adalah hubungan antara frekuensi natural suatu bangunan dengan
frekuensi natural lapisan tanah di bawahnya.Sehingga bisa diketahui nilai
resonansi bangunan yang nantinya bisa diestimasi kerentanannya terhadap
gelombang gempa.
2.4 Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko


bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi bencana merupakan suatu
aktivitas yang berperan sebagai tindakan pengurangan dampak bencana, atau
usaha-usaha yang dilakukan untuk megurangi korban ketika bencana terjadi, baik
korban jiwa maupun harta. Dalam melakukan tindakan mitigasi bencana, langkah
awal yang kita harus lakukan ialah melakukan kajian resiko bencana terhadap
daerah tersebut. Dalam menghitung resiko bencana sebuah daerah kita harus
mengetahui Bahaya (hazard), Kerentanan dan kapasitas suatu wilayah yang
berdasarkan pada karakteristik kondisi fisik dan wilayahnya
2.5 Mikrotremor
Mikrotremor merupakan getaran tanah selain gempa bumi, bisa berupa
getaran akibat aktivitas manusia maupun aktivitas alam.Mikrotremor bisa terjadi
karena getaran akibat orang yang sedang berjalan, getaran mobil, getaran mesinmesin pabrik, getaran angin, gelombang laut atau getaran alamiah dari
tanah(Tokimatsu,1995). Mikrotremor mempunyai frekuensi lebih tinggi dari
frekuensi gempabumi, periodenya kurang dari 0,1 detik yang secara umum antara
0.05 2 detik dan untuk mikrotremor periode panjang bisa 5 detik, sedang
amplitudenya berkisar 0,1 2,0 mikron. Kaitannya dengan mikroseismik,
mikrotremor merupakan getaran tanah yang menjalar dalam bentuk gelombang
yang disebut gelombang mikroseismik. Belakangan ini aplikasi mikrotremor
digunakan untuk mengidentifikasi resonansi frekuensi natural bangunan dan tanah
(Mucciarelli et al., 2001, 2004; Gallipoli et al., 2004; Gosar, 2007, 2010;
Warnana, 2011). Dilakukan studi peningkatan kerusakan dan resonansi struktur
tanah gempa bumi menggunakan mikrotremor gempa bumi Molise (Gallipoli et
al., 2004).Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui karakteristik
bangunan tanpa merusak bangunan tersebut adalah analisis mikrotremor yang
direkam pada setiap lantai bangunan dengan menggunakan gangguan alami
berupa ambient noise.Sehingga bisa dikatakan bahwa mikrotremor didasarkan
pada perekaman ambient noise untuk menentukan parameter karakteristik dinamis

suatu bangunan (damping rasio, frekuensi natural) dan fungsi perpindahan


(amplifikasi dan frekuensi) bangunan.
2.6 Analisis Mikrotremor
Analisis ambient noise ini menggunakan tehnik HVSR (Horizontal to
Vertical Fourier Amplitude Spectral Ratio) pada tanah, sedangkan analisis
spektrum,RDM (Random Decreament Method) dan FSR (Floor Spectral Ratio)
pada bangunan untuk mendapat frekuensi natural dan rasio redaman. Kemampuan
teknik HVSR bisa memberikan informasi yang bisa diandalkan dan diasosiasikan
dengan efek lokal yang ditunjukkan secara cepat yang dikorelasikan dengan
parameter HVSR yang dicirikan oleh frekuensi natural rendah (periode tinggi) dan
amplifikasi tinggi.Sehingga untuk

Gambar 1.4 : Alat Mikrotremor


Estimasi frekuensi, redaman dan indeks kerentanan pada getaran bangunan
dari eksitasi amplitudo kecil dinilai akurat dan stabil (Farsi, 2002). Proses analisis
ini menggunakan RDM untuk mengekstrak frekuensi natural dan rasio redaman
bangunan, dengan menggunakan FSR di setiap komponen horisontal untuk
memperkirakan indeks kerentanan bangunan. Frekuensi natural dan rasio redaman
dapat dihitung secara simultan menggunakan daya spectral random decreament

10

method atau analisis non parametrik, sementara perhitungan indeks kerentanan


bangunan untuk menghitung amplitudo fungsi transfer dari struktur floor spectral
ratio dan kekuatan struktur bangunan.Rasio redaman adalah parameter yang
menyatakan penyerapan energi atau redaman dari suatu sistem yang berosilasi
dari redaman material maupun radiasi.Secara umum rasio redaman digunakan
untuk menggambarkan tingkat redaman struktur bangunan.Kemampuan struktur
bangunan untuk menghilangkan energi getaran dapat dihitung dari rasio redaman.
Meskipun getaran gempa sangat kuat, suatu bangunan memiliki amplitudo yang
tinggi, tetapi respon frekuensi natural bangunan tergantung pada massa struktur
dan kekakuan bangunan. Dengan demikian tingkat redaman adalah desain yang
sangat penting dalam pengurangan getaran dan bangunan tahan gempa (Sungkono
et al., 2011).
2.6.1

Fast Fourier Transform


Analisis Fourier adalah metoda untuk mendekomposisi sebuah gelombang

seismik menjadi beberapa gelombang harmonik sinusoidal dengan frekuensi


berbeda-beda. Jadi, sebuah gelombang seismik dapat dihasilkan dengan
menjumlahkan beberapa gelombang sinusoidal frekuensi tunggal.Sedangkah
sejumlah

gelombang

sinusoidal

tersebut

dikenal

dengan

Deret

Fourier.Transformasi Fourier adalah metoda untuk mengubah gelombang seismik


dalam domain waktu menjadi domain frekuensi (Sugeng et al., 2009).

(2.2)
Dimana X() adalah fungsi dalam domain frekuensi, adalah frekuensi
radial 0 2f, atau dapat dituliskan bahwa = 2f

11

Gambar 2.6 Proses FFT mengubah gelombang signal data rekaman


mikrotremordari domain waktu ke dalam domain frekuensi
2.7 Aplikasi Mikrotremor
Belakangan ini aplikasi mikrotremor digunakan untuk mengidentifikasi
resonansi frekuensi natural bangunan dan tanah (Mucciarelli et al., 2001; Gallipoli
et al., 2004). Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui karakteristik
bangunan tanpa merusak bangunan tersebut adalah analisis mikrotremor yang
direkam pada setiap lantai bangunan dengan menggunakan gangguan alami
berupa ambient noise. Sehingga bisa dikatakan bahwa mikrotremor didasarkan
pada perekaman ambient noise untuk menentukan parameter karakteristik dinamis
suatu bangunan (rasio redaman, frekuensi alami primer) dan fungsi perpindahan
(amplifikasi dan frekuensi)bangunan, dan pengukuran mikrotremor sudah menjadi
metode popular untuk menentukan dinamika sifat lapisan tanah dan secara
ekstensif dipakai untuk mikrozonasi. Pengukuran mikrotremor mudah dilakukan,
murah dan bisa dipakai pada tempat yang seismisitasnya rendah. Nakamura et al.
(2000), Nakamura (1997), Lu et al. (1992), Sun et al. (2008), Lermo dan Chavesgarcia (1994) dan Karnawati et al. (2007) telah sukses melakukan mikrozonasi
untuk mengetahui lokasi-lokasi kerusakan akibat gempabumi karena efek lokal.
Pembangunan

infrastuktur di Indonesia harus memenuhi syarat tahan

gempa, untuk memperkecil resiko kerugian dan kecelakaan yang timbul akibat
terjadinya gempa, mengingat tingginya pengaruh gempa di Surabaya.

Ada

12

beberapa faktor yang

menyebabkan tingkat kerusakan suatu bangunan akibat

gempa bumi yaitu.


1. Kekuatan atau magnitude gempa
2. Jarak sumber gempa terhadap bangunan
3. Kualitas bangunan
Mikrotremor juga digunakan untuk memetakan daerah yang rawan gempa
bumi maupun longsor . Mikrozonasi kegempaan menggunakan mikrotremor
merupakan proses membagi zona menjadi zona-zona kecil berdasarkan tanggapan
(response) geologi setempat terhadap gempabumi. Karakteristik dan value dari
tanggapan ini sangat ditentukan oleh kondisi tanah dan batuan pada struktur
bawah permukaan. Upaya mikrozonasi merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan akurasi dan presisi pendugaan karakteristik kegempaan wilayah
tersebut.Pengukuran mikrotremor sudah menjadi metode popular untuk
menentukan dinamika sifat lapisan tanah dan secara ekstensif dipakai untuk
mikrozonasi. Pengukuran mikrotremor mudah dilakukan, murah dan bisa dipakai
pada tempat yang seismisitasnya rendah. Nakamura et al. (2000), Nakamura
(1997), Lu et al. (1992), Sun et al. (2008), Lermo dan Chaves-garcia (1994) dan
Karnawati et al. (2007) telah sukses melakukan microzonasi untuk mengetahui
lokasi-lokasi kerusakan akibat gepabumi karena efek lokal.
Analisis yang digunakan untuk microzonasi dengan microtremor ialah
horisontal to vertical spectal ratio (HVSR) yang dikenalkan oleh Nogoshi dan
Igarashi (1971) yang selanjutnya di kembangkan oleh Nakamura (1987). Metode
HVSR dapat digunakan untuk estimasi frekuensi natural yang tidak bergantung
sumber dan waktu (Bonnefoy-Claudet, 2006). Sedangkan untuk estimasi
amplifikasi dipengaruhi oleh sumber, walaupun pengaruhnya sangat kecil
(Nakamura, 2008). Frekuensi natural diketahui dari puncak HVSR, dan nilai
puncak HVSR adalah amplifikasi.Belakangan ini, analisis kurva HVSR tidak
hanya digunakan untuk penentuan frekuensi natural dan amplikasi saja. Namun,
dapat digunakan untuk menentukan karaktersitik struktur bawah permukaan
13

melalui metode inversi. Inversi kurva HVSR telah dilakukan oleh Garca-Jerez et
al. (2007), Dal Moro (2010), Pilz et al. (2010) dan Arai dan Tokimatsu (2008).
Hasilnya, kurva HVSR ini mampu digunakan untuk mencitrakan struktur bawah
permukaan dengan menggunakna parameter kecepatan gelombang geser sebagai
fungsi kedalaman.

BAB III
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan studi literatur
yang diambil dari berbagai sumber.

14

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Mikrotremor pada tanah


Pada analisis data mikrotremor telah digunakan Teknik HVSR (Horizontal
to Vertical Fourier Amplitude Spectral Ratio) secara luas untuk studi efek lokal
dan mikrozonasi (Warnana et al., 2011). Selain sederhana dan bisa dilakukan
kapan dan dimana saja, teknik ini juga mampu mengestimasi frekuensi resonansi
secara langsung tanpa harus mengetahui struktur kecepatan gelombang geser dan
kondisi geologi bawah permukaan lebih dulu.Nakamura,et al(2000) menyebutkan
bahwa metode HVSR untuk analisis mikrotremor bisa digunakan untuk
memperoleh frekuensi natural sedimen. Penggunaan mikrotremor sendiri telah
banyak dilakukan untuk mengidentifikasi resonansi frekuensi dasar bangunan dan
struktur tanah di bawahnya.Parameter penting yang dihasilkan dari metode HVSR
adalah frekuensi natural dan amplifikasi.HVSR yang terukur pada tanah bertujuan
untuk karakterisasi geologi setempat, frekuensi natural dan amplifikasi yang
berkaitan dengan parameter fisik bawah permukaan (Herak, 2008).Sedangkan
HVSR yang terukur pada bangunan berkaitan dengan kekuatan bangunan
(Nakamuraet al., 2000) dan keseimbangan bangunan (Gosar, 2010).
Dalam analisis HVSR pada pengukuran data sedimen yang dilakukan,
harus memenuhi kriteria yang disarankan oleh SESAME (2004), yaitu
berdasarkan hubungannya dengan puncak frekuensi terhadap panjang windows,
15

jumlah siklus signifikan dan standar deviasi puncak amplitudo. Kriteria


selanjutnya untuk membersihkan puncak berdasarkan hubungannya dengan
puncak amplitudo terhadap level kurva HVSR standar deviasi puncak frekuensi
dan amplitudonya. Jika semua kriteria tersebut terpenuhi, maka puncak frekuensi
tersebut bisa dipertimbangkan sebagai frekuensi natural sedimen dari kontras
impedansi

kuat

pertama.Sedangkan

menurut

Nakamura

(2008)

dalam

mengestimasi nilai amplifikasi, dipengaruhi oleh sumber meskipun sangat


kecil.Frekuensi natural sendiri bisa diketahui dari puncak HVSR dan nilai
amplifikasinya adalah puncak dari HVSR.
4.2 HVSR (Horizontal to Vertical Fourier Amplitude Spectral Ratio)
Metode HVSR didasari oleh terperangkapnya getaran gelombang geser
(gelombang SH) pada medium sedimen di atas bedrock. Dengan kata lain
gelombang SH berperan sangat penting di dalam kurva HVSR yang
direpresentasikan oleh persamaan 2.3 berikut ini (Mucciarelli ,et al., 2008) :
f=

Vs
(2.3)
4h

Dengan f, Vs dan berturut-turut menunjukkan frekuensi natural, kecepatan


gelombang SH dan ketebalan sedimen. Dari persamaan 2.3 tersebut, bisa
disimpulkan bahwa frekuensi natural berbanding lurus terhadap kecepatan
gelombang SH dan berbanding terbalik terhadap ketebalan sedimen. pada analisis
mikrotremor yang digunakan untuk karakterisasi suatu wilayah. Dalam
penggunaan metode ini, digunakan beberapa asumsi (Nakamura ,1989) bahwa:
1. Mikrotremor sebagian besar terdiri dari gelombang geser
2. Komponen vertikal gelombang tidak mengalami amplifikasi lapisan sedimen
dan hanya komponen horisontal yang teramplifikasi
3. Tidak ada amplitudo yang berlaku dengan arah yang spesifik pada bedrock
dengan getaran ke segala arah
4. Gelombang Rayleigh diasumsikan sebagai noise mikrotremor dan diusulkan
metode untuk mengeliminasi efek gelombang Rayleigh Nakamura (1989)
mengidentifikasi bahwa jika diasumsikan gelombang geser dominan pada

16

mikrotremor, maka rasio spektrum horisontal terhadap vertikal (HVSR) pada data
mikrotremor suatu tempat sama dengan fungsi transfer gelombang geser yang
bergetar antara permukaan dan batuan dasar di suatu tempat. Nakamura menduga
bahwa mikrotremor berperiode pendek sebagian besar terdiri dari gelombang
geser dan gelombang permukaan dianggap sebagai noise.Dari hasil analisis data
gempa menunjukkan bahwa nilai maksimum rasio getaran horizontal dan vertikal
dalam setap pengamatan (H/V) ada kaitannya dengan kondisi tanah dan hampir
setara dengan satu kekuatan tanah dengan beberapa gataran ke semua arah.
4.3 Mikrotremor pada bangunan
Analisisini dilakukan dengan pengukuran mikrotremor pada bangunan, setiap
lantai bangunan digunakan peralatan yang sama ketika mengukur lapisan
sedimen. Dua komponen horisontal diarahkan terhadap arah utara-selatan (NS)
dan timur-barat (EW). Peralatan pengukuran dimungkinkan diletakkan di dekat
pusat massa bangunan dan dekat dengan dinding bangunan tersebut. SESAME
(2004) menyarankan, lama pengukuran 10 sampai 15 menit, karena biasanya
bangunan memliki frekuensi natural rata-rata lebih dari 1Hz dan kurang dari 8 Hz,
sedangkan frekuensi dibawah 1Hz dianggap tidak menarik. Jarak pengukuran
bangunan dengan struktur tanah diusahakan dekat dan pada kondisi geologi yang
sama. Selama ini belum ada referensi yang menyebutkan parameter jarak
minimum pengukuran antara bangunan dengan tanah.Pengukuran dilakukan apada
seluruh lantai bangunan. SESAME (2004) menyarankan, lama pengukuran 10
sampai15 menit, karena biasanya bangunan memliki frekuensi natural rata-rata
lebih dari 1Hz dan kurang dari 8 Hz, sedangkan frekuensi dibawah 1Hz dianggap
tidak menarik (Gosar, 2007; Gosar, 2010; Sungkono et al., 2011). Pengolahan data
yang digunakan pada pengukuran bangunan menggunakan metode FSR (Floor
Spectral Ratio) yang direkomendasikan oleh Gosar (2010).Menurut Herak et al.
(2009; 2011), dalam menentukan frekuensi bangunan tidak direkomendasikan
menggunakan metode HVSR meskipun hasil estimasi frekuensinya masuk akal.
Hal ini karena tidak ada dasar teori dalam aplikasinya sehingga tidak bisa
diasumsikan bahwa spektrum vertikal dan horizontal tidak

17

berbeda pada level bawah tanah. Hal ini secara khusus berbahaya jika amplifikasi
tanah kuat secara signifikan.
Pada analisis HVSR sedimen mungkin terkontaminasi respon bangunan,
sehingga identifikasi resonansi dimungkinkan salah. Metode ini dilakukan dengan
cara membandingkan rasio selisih spektrum masing-masing komponen horizontal
bangunan dan tanah yang kondisi geologinya sama dengan kondisi tanah di bawah
bangunan dengan komponen horizontal masing-masing spektrum bangunan.
Menurut (Nakamura et al,2008) mengidentifikasi bahwa kerusakan bangunan
menggunakan index kerentanan untuk mengestimasi struktrur dari parameter
fungsi perpindahan. Frekuensi dan rasio redaman bangunan sebelum gempa lebih
kecil dari pada setelah gempa.Ini berarti menunjukkan bahwa parameter frekuensi
dan rasio redaman berbanding lurus dengan kekuatan bangunan.Sementara
menurut (Nakamura et al,2009) indeks kerentanan mampu menilai kerusakan
bangunan pada saat gempa, menunjukkan bahwa kelemahan bangunan dari
getaran gempa adalah langsung sebanding dengan indeks kerentanan.
4.4 FSR (Floor Spectral Ratio)
Metode FSR (Floor Spectral Ratio) ini digunakan untuk menganalisis dan
mengetahui frekuensi natural dan amplifikasi bangunan. Konsep dari metode FSR
adalah sebagai berikut:

Gambar 2.7skema model metode FSR


dengan H(w) adalah karakter bangunan(amplifikasi bangunan), S respon
getaran dari bangunan dan Sqq respon getaran dari bangunan. Metode FSR ini
yaitu metode fungsi transfer dari tiap lantai antara spektrum bangunan dan

18

spektrum tanah. Fungsi transfer bangunan bisa diestimasi dari rasio spektum
bangunan dan spektrum tanah atau spektrum bidang bebas, ini disebut floor
spektral rasio (FSR). Menurut Gosar (2007, 2010), metode Floor Spectral Ratio
(FSR) merupakan metode standart.Untuk evaluasi kekuatan bangunan yang
disebabkan getaran seismik dan karakteristik bangunan dapat dilakukan dengan
pencatatan rekaman mikrotremor.

4.5 RDM (Random Decreament Method)


Metode random decreament merupakan teknik yang paling popular dalam survey
geotknik dan geofisika digunakan untuk identifikasi karakteristik dinamik dan
deteksi kerusakan suatu bangunan dari respon suatu gempa. Prinsip kerja dari
RDM adalah merespon dari sebuah sistem frekuensi acak untuk difilter menjadi
sebuah eksitasi acak . Tujuannya yaitu membatalkan komponen acak untuk
mendapatkan kurva getaran bebas yang buruk dari perkiraan damping dan
frekuensi natural.RDM dikenal sebagai metode transform eksitasi acak dalam
pengurangan energi dari getaran bebas yang buruk pada struktur bangunan.
Sebuah ilustrasi skematis dari RDM diperlihatkan pada gambar 2.5 yang
menunjukkan proses untuk memperoleh random decrement. Komponen random
akan difilter. Representasi domain frekuensi menunjukkan puncak dominan dari
sistem

19

Gambar 2.8Skematis random decrement Methode.Respon


frekuensi acak di filter ke dalam domain waktu menghasilkan respon getaran.

4.6 Indeks kerentanan bangunan


Nilai

indeks

kerentanan

bangunan

dapat

diestimasikan

dengan

menggunakan sudut drift. Percepatan gempa input dan perpindahan dari setiap
lantai(Nakamura, 2001).Terkait dengan percepatan gempa masukan dalam cm/s2.
bagian yang mempengaruhi struktur dari seluruh gerak gempa yaitu,
= ea (2.4)
dengan e menunjukkan efisiensi gerak gempa untuk struktur. Sebuah kinerja
deformasi dan derajat gempa amplifikasi gerak dapat diperkirakan dari dinamika
karakteristik struktur. i adalah perpindahan horisontal, hi adalah tinggi, Ai adalah
amplifikasi faktor ke-i adalah kolom, H adalah ketinggian struktur lantai ke-n, dan
a adalah percepatan horizontal pondasi tanah. Frekuensi natural struktur yang
tampaknya memiliki pengaruh terhadap kerusakan gempa dianggap.pemindahan

20

ike-i lantai diperkirakan dari F frekuensi natural dan amplitudo Ai-i lantai
sebagai berikut (Lihat gambar 2.6)

Gambar 2.9 Skema model-n lantai bangunan bertingkat dan bentuk modenya jika
terjadi respon getaran gempa (Nakamura, 2001).
jadi, sudut penyimpangan i ke-i lantai ditampilkan sebagai,
i=

Aix
(2 f )2

(2.5)

=( i +1 )hi (2.6)

21

Aix
(2 f )2

(2.7)

e Khi a (2.8)

Dimana:
Khi= Ai/ (2 f )2 /i/10000 (2.9)
Dimana Aiadalahdeltaamplifikasi dari tiap lantai dan hi tinggi tiap lantai.
Jadi, sudut drift i untuk setiap lantai adalah perkiraan dari kerentanan indeks KBI
dikalikan dengan percepatan maksimal tanah permukaan di cm/s2 dan e efisiensi
gerak rata-rata untuk struktur masing-masing.
evKb=

A 10000
2
(2 f ) H

(2.10)

A amplitudo dari lantai atas, dan H ketinggian gedung dalam meter.


Bagi para mahasiswa dibidang geofisika mungkin sudah tidak asing lagi
dengan analisis mikrotremor karena mungkin merupakan salah satu alat yang
sering di pakai dalam berbagai penelitian terutama untuk mengetahui frekuensi
natural suatu bangunan ,namun untuk khalayak umum analisis mikrotremor
memang sangat asing untuk didengar.Analisis mikrotremor bisa digunakan dalam
berbagai keperluan pra maupun pasca bencana alam dalam rangka mitigasi.Dari
uraian telaah pustaka diatas kita tahu bahwa selain memiliki potensi sumberdaya
alam yang luar biasa Indonesia merupakan daerah dengan potensi bencana yang
tidak kalah hebatnya.Kita sebagai putra bangsa yang telah dibekali pengetahuan
dan juga pendidikan harusnya tidak hanya menganggap ini sebagai informasi yang
hanya harus kita tahu tapi juga harus kita fikirkan bagaimana solusinya.Indonesia
sangat rawan dengan bencana alam gempa bumi ,gunung meletus, banjir dan
tanah longsor ,sudah banyak kejadian bencana alam diindonesia yang telah
merenggut banyak nyawa dan juga menimbulkan kerusakan infrastruktur yang
luar biasa untuk itu upaya mitigasi bencana sangat diperlukan di seluruh bagian
daerah di Indonesia untuk paling tidak meminimalkan dampak korban jiwa yang
terjadi.

22

Analisis mikrotremor ini merupakan salah satu metode yang sangat


potensi untuk digunakan dalam rangka mitigasi, baik bencana gempa bumi
maupun tanah longsor.Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh mahasiswa
sebagai tugas akhir maupun program kreativitas mahasiswa menghasilkan hasil
yang sangat bagus dan bisa dijadikan sumber informasi awal untuk melakukan
upaya mitigasi tersebut.Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa mahasiswa
dengan menggunakan analisa mikrotremor adalah
1. Mikrozonasi gempa di Jembatan nasional SURAMADU yang
menghubungkan daerah Surabaya dengan Madura.
(oleh : Arga Nuryanto,Ahmat Dafit Hasim, M ibad, M iqbal)
2. Mengetahui

kekuatan

bangunan

perpustakaan

ITS

dengan

menggunakan analisa mikrotremor


(oleh : Vivi Wulandari)
3. Penaksiran resonansi tanah dan bangunan (10 bangunan yang memiliki
sejarah ) dengan menggunakan analisa mikrotremor di daerah
Surabaya jawa timur
(oleh : Dian Nur aini)
4. Zonasi likuifaksi (daerah rawan longsor) dengan menggunakan analisa
mikrotremor di kecamatan pacitan jawa timur
(oleh : juan pandu GNR)

Dari beberapa penelitian yang dilakukan mahasiswa ini sangat


menunjukkan bahwa sebenarnya upaya mitigasi bencana gempa bumi bisa
dilakukan lebih awal jauh sebelum bencana terjadi.Untuk bencana alam gempa
bumi kita tahu bahwa banyak bangunan bangunan di Indonesia baik di kota kecil
23

maupun kota besar masih jauh dari standart bangunan yang aman dari gempa
namun dengan menggunakan analisa mikrotremor ini kita dapat mengetahui
bangunan bangunan mana saja yang harus diwaspadai dan juga harus diperbaiki
untuk mengurangi kerusakan maupun korban jiwa yang diakibatkan bencana
gempa,dan bukan itu saja dengan menggunakan mikrotremor kita juga bisa
menganalisa kekuatan bangunan pasca terjadi gempa sehingga kita bisa
menentukan kelayakan sebuah bangunan apakah setelah bencana terjadi bangunan
ini masih layak dipergunakan atau tidak.Diindonesia tentunya banyak sekali
bangunan bangunan yang bersejarah dimana bukan hanya sekedar warisan budaya
namun juga merupakan ciri khas sebuah daerah diindonesia yang tentunya harus
dijaga,dengan menggunakan mikrotremor kita dapat mengetahui kekuatan sebuah
bangunan

bersejarah

ini

dibandingkan

dengan

kemampuan

tanah

disekelilingnya,hasil dari analisis mikrotremor ini dapat digunakan sebagai


informasi awal untuk mengambil kebijakan apakah harus dilakukan perbaikan
untuk tetap menjaga keutuhan bangunan bersejarah itu.
Memang Solusi yang ditawarkan dari analisa mikrotremor ini bukan solusi
secara langsung untuk menanggulangi bencana alam karena memang tidak ada
solusi dari bencana akibat perlakuan alam ini namun solusi sekunder yang bisa
digunakan sebagai informasi awal yang terpecaya untuk upaya mitigasi bencana
alam .

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

24

1. Analisa mikrotremor bisa digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan


bangunan baik sebelum

bencana terjadi maupun setelah bencana

terjadi.
2. Analisa Mikrotremor dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan
tanah berdasarkan frekuensi natural dari tanah tersebut untuk
mengetahui potensi longsor.
3. Analisa mikrotremor merupakan tool yang sangat berpotensi untuk
upaya mitigasi bencana alam baik gempa bumi maupun tanah longsor
5.2 Saran
Analisa mikrotremor bisa digunakan sebagai salah satu sarat atau
standar wajib

bagi suatu bangunan agar memiliki informasi tentang

kekuatan bangunan tersebut sebagai informasi awal penentuan mitigasi


jika terjadi bencana gempa bumi.
Bagi daerah yang sering menjadi langganan longsor di Indonesia
harus mempunyai peta persebaran bagian bagian daerah rawan longsor di
daerah tersebut sebagai upaya mitigasi bencana alam.

DAFTAR PUSTAKA

25

Dian Nur Aini,Tugas akhir .2012 Penaksiran resonasi tanah dan bangunan
menggunakan analisis mikrotremor wilyah Surabaya jawa timur ITS
Surabaya
Wulandari,Vivi. Tugas Akhir 2012, Analisa kekuatan bangunan dengan
menggunakan

mikrotremor

studi

kasus

perpustakaan

ITS

Surabaya,ITS Surabaya.
Bonnefoy-Claudet, S., Cotton, F., Bard, PY. 2006. The nature of noise wavefield
and its applications for site effects studies. Earth- Science Reviews,
doi:10.1016/j.earscirev.2006.07.004.
Dal Moro, G., 2010. Insights on surface wave dispersion and HVSR: Joint
analysis

via

Pareto

optimality,

J.

Appl.

Geophys.doi:10.1016/j.jappgeo.2010.08.004
Garcia-Jerez,A., Navarro, M., Alcala, F.J., Luzon, F., Perez-Ruiz, J.A., Enomoto,
T., Vidal, F., and Ocana, E.,2007. Shallow velocity structure using joint
inversion of arry and h/v spectral rasio of ambient noise: the case of
Mula town (SE of Spain), Soil Dynamic and Erathquake Engineering,
27, 907-919.
Gosar, A., Roer, J., ket-Motnikar, B., and Zupani, P. 2010. Microtremor study
of site effects and soil-structure resonance in the city of Ljubljana
(central Slovenia), Bull. Earth. Eng., doi:10.1007/s10518-009-9113-x,
in press, 2010.
Karnawati, D., S. Pramumijoyo, S. Hussein, R. Anderson and A. Ratdomopurbo;
2007, The Influence of Geology on Site Response in the Bantul
District, Yogyakarta Earthquake, INDONESIA. AGU 2007 Joint
Assembly. Acapulco.

26