Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOGRAFI REGIONAL INDONESIA


(GPW 0101)
ACARA VIII:
PEMAHAMAN FENOMENA ANTROPOSFER

Disusun oleh :
Nama

: Mohammad Farhan Arfiansyah

NIM

: 13/346668/GE/07490

Hari, tanggal : Rabu, 18 November 2014


Waktu

: 11.00-13.00 WIB

Asisten

: 1. Elisabeth Simatupang

Asisten

: 2. Septi Purnama S.

LABORATORIUM ANALISIS DATA WILAYAH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ACARA 8
PEMAHAMAN FENOMENA ANTROPOSFER

I. TUJUAN
1. Dapat memahami kondisi karakteristik antroposfer tiap provinsi di Indonesia
2. Dapat memahami dan mengidentifikasi tentang potensi dan permasalahan region
II. ALAT DAN BAHAN
1. Alat tulis
2. Petunjuk praktikum Geografi Regional Indonesia
3. Pensil warna
4. Kalkulator
5. Peta administrasi Indonesia
6. Buku referensi acuan lainnya
III.

TINJAUAN PUSTAKA
Antroposfer berasal dari kata antro yang berarti manusia dan spehere berarti
lapisan. Jadi, antroposfer adalah kajian kependudukan dalam konteks keruangan.
Sumber daya manusia adalah segala potensi dan kemampuan yang ada dalam diri
manusia yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan dan kelangsungan hidup manusia.
Berbicara tentang manusia, sudah pasti membahas penduduk dengan aspekaspeknya. Penduduk adalang orang, baik sebagai perseorangan (individu) maupun
sebagai kelompok yang bertempat tinggal dan menetap di suatu wilayah. Penduduk
merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu wilayah atau negara. Syarat
suatu negara adalah salah satunya adalah penduduk. Penduduk Indonesia adalah
semua

individu

yang

bertempat

tinggal

di

wilayah

Negara

kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Pemabahasan penduduk tidak terlepas dari segi kualitas (mutu) penduduk
kuantitas (jumlah) penduduk. Masalah masalah kependudukan dari segi kualitas dan
kuantitas, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia,
harus mendapatkan perhatian yang lebih. Secara kualitas, sumber daya manusia
dibandingkan dengan negara-negara lain di sunia masih relatif rendah.
Berdasarkan data yang

dipublikasikan

oleh United

Nation

Development

Program (UNDP) tahun 2004,kualitas sumber daya manusia Indonesia masih di bawah
negara-negara ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Prioritas utama pemerintah Indonesia dalam menanggulangi masalh kualitas sumber

daya manusia Indonesia adalah perbaikan dalam dunia pendidikan, peningkatan


fasilitas kesehatan dan peningkatan tingkat pendapatan penduduk.
Secara kuantitas, jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat di
dunia, setelah Republik Rakyat China (RRC), India dan Amerika Serikat. Banayaknya
jumlah Indonesia sebenarnya dapat menjadi modal utama bagi tenaga pembangunan.
Akan tetapi, permasalahan yang muncul sekarang ini adalah tingginya pengangguran.
Pengangguran merupakan akibat dari kualitas sumber daya manusia yang rendah.
Rendahnya kualitas sumber daya mengakibatkan kalah bersaingdengan negara lain.
Selain itu, banyaknya pengangguran di Indonesia terjadi karena keterbatasan lapangan
pekerjaan.
Selain pengangguran, masalah kuantitas penduduk Indonesia adalah persebaran
penduduk yang tidak merata. Sebagian besar penduduk Indonesia masih terkonsentrasi
di Pulau Jawa. Padahal, luas Pulau Jawa hanya sekitar 7% dari luas kseluruhan
Indonesia. Padatnya penduduk di Pulau Jawa mengakibatkan masalah-masalah lain,
seperti munculnya daerah-daerah permukiman kumuh (slum area) di kota-kota besar,
seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Salah satu upaya pemerintah untuk menanggulangi kepadatan penduduk adalah
program trnsmigrasi. Program utama transmigrasi adalah pemindahan penduduk dari
yang padat ke daerah yang masih jarang Penduduknya. Adapun masalah
kependudukan yang terjadi di Indonesia secara umum dikemukakan sebagai berikut :
1.

Jumlah penduduk yang sangat besar

2.

Tingkat pertumbuhan yang tinggi

3.

Angka kematian yang tinggi

4.

Struktur usia muda cukup tinggi

5.

Angka ketergantungan tinggi

6.

Nilai sex ratio lebih dari 100

7.

Angka harapan hidup rendah

8.

Arus migrasi desa-kota cukup bersar

Komposisi Penduduk adalah struktur penduduk yang berdasarkan atribut


tertentu. Atribut dalam komponen [enduduk meliputi aspek geografis, biologis dan
sosial. Atribut tersebut dapat di kelaskan sebagai berikut.
1. Komposisi penduduk geografis, berdasarkan pemilihan karakteristik lokasi ,
seperti penduduk pedesaan dan perkotaan.

2. Komposisi Penduduk Biologis, berdasarkan jenis kelamin dan usia.


3. Komposisi penduduk sosial, biasanya berdasarkan identitas sosial, seperti status
kawin (marital), tingkat pendidikan, dan mata pencaharian.
Membagi penduduk atas kelompok kelompok tertentu merupakan salah satu
bentuk inventarisasi data kependudukan. Melalui komposisi penduduk, dapat dilihat
susunan penduduk berdasarkan karakteristik yang relatif seragam.Adapun contoh yang
paling sering ditemukan adalah komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin.
Komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin merupakan faktor penting
dalam demografi(kajian mengenai aspek kependudukan dalam suatu wilayah).
Hampir semua pembahasan masalah kependudukan, selalu melibatkan
komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin. Informasi ini memang sangat
penting , misalnya ketika pemerintah mencanangkan program pendidikan dasar
sembilan tahun, diperlukan data yang akurat mengenai data penduduk usia sekolah.
Data tersebut bdiperoleh berdasarkan data komposisi penduduk pada suatu wilayah.
Komposisi penduduk menurut usia, dapat dikemas dalam umur tunggal
(0,1,2,3,4 dan seterusnya) dan dapat pula menggunakan interval tertentu (0-4, 5-9, 1014, 15-19, 20-14, dan seterusnya). Struktur penduduk Indonesia berdasarkan usia dan
jenis kelamin.
Suatu negara dikategorikan berstuktur usia muda, apabila kelompok penduduk
yang berusia 15 tqhun ke bawah lebih besar komposisinya jika dibandingkan dengan
kelompok usia tua dengan nilai komposisi 35%. Negara-negara berkembang, seperti
Indonesia, India, Myanmar, Laos dan Vietnam umumnya memiliki komposisi struktur
penduduk usia muda yang jauh lebih dominan.
Untuk memudahkan pengelompokan usia, komposisi penduduk menurut usia
masih dapat dibedakan lagi menjadi usia produktif dan non produktif. Usia produktif
adalah penduduk yang berusia 15-64 tahun, sedangkan usia non produktif adalah
penduduk yang berusia 0-14 dan 65 ke atas.
Dari data komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin, dapat din=buat
analisi yang lebih jauh, misalnya perbandingan penduduk menurut usia dan jenis
kelamin. Perbandingan usia menurut jenis kelamin, biasanya di formulasikan dalam
hitungan sex ratio. Sex ratio dapat dicari dengan menggunakan formula sederhana
sebagai berikut.

Sex Ratio=

Jumlah penduduk lakilaki


Jumlah penduduk perempuan

x 100

Apabila anda menemukan sex ratio perhitungan di suatu wilayah=95, artinya di


wilayah tersebut terdapat 95 laki-laki diantara 100 perempuan.
Selain berdasarkan jenis kelamin, perbandinagn penduduk dapat dianalisi
berdasarkan kelompok usia. Perbandingan penduduk menurut usia, diformulasikan
berdasarkan angka ketergantungan (dependency ratio). Dependency ratio dapat dicari
dengan menggunakan formula sebagai berikut.

Despency Ratio =

IV.

Jumlah penduduk usia non produktif


Jumlah penduduk usia produktif

x100

CARA KERJA
Menyiapkan alat dan
bahan

Mempelajari naskah
yang telah disediakan

Membuat Tabel

Membuat Peta

1. Klasifikasi Jumlah Penduduk


Tahun 1980 dan 2000
2. Klasifikasi Pertumbuhan
Penduduk Tahun 1980-1990
dan 1990-2000
3. Migrasi tingkat Migrasi
Penduduk Tahun 1985 dan 2000
4. Klasifikasi Sex Rasio tahun
2009 dan 2010

1. Klasifikasi Sex Rasio


tahun 2009 dan 2010

Membuat
pembahasan dan
kesimpulan

Membuat Perhitungan
1. standar deviasi
2. sex
rasio
maing
masing 5 provinsi
tahun 2009 dan 2010
3.

V. HASIL
Pada pembelajaran praktikum ini, diperoleh hasil tentang:
1. Tabel klasifikasi Jumlah Penduduk Tahun 1980 dan 2000 (terlampir)
2. Tabel Klasifikasi Pertumbuhan Penduduk Tahun 1980-1990 dan 1990-2000
3.
4.
5.
6.
7.
VI.
VII.

(terlampir)
Tabel dan grafik Migrasi tingkat Migrasi Penduduk Tahun 1985 dan 2000 (terlampir)
Tabel klasifikasi Sex Rasio tahun 2009 dan 2010 (terlampir)
Peta Klasifikasi Sex Rasio tahun 2009 dan 2010 (terlampir)
Perhitungan standar deviasi (terlampir)
Perhitugan sex rasio maing masing 5 provinsi tahun 2009 dan 2010 (terlampir)

PEMBAHASAN
KESIMPULAN

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Endarto, Danang, 2009, Geografi 1, Grahadi
I Made Sandy. 1996. Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: PT. Indograph
Bakti
Suharyano. 2005. Dasar-Dasar Kajian Geografi Regional. Semarang : Universitas
Negeri Semarang Press.
Wirosuhardjo, kartomo (1981). Dasar-dasar Demografi. Lembaga Demografi Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta

Yusupana, Sandra (2005). Belajar Efektif Geografi. Intimedia Ciptanusantara : Jakarta


Timur

LAMPIRAN