Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap manusia akan merasakan sensasi nyeri yang tentutanya akan
mengganggu aktivitasnya sehari hari. Menurut IASP (International Association
for the Study of Pain) definisi tentang nyeri dalam buku Encyclopedia of Pain
yang ditulis oleh Robert dan William (2007) adalah perasaan dan pengalaman
emosi yang tidak menyenangkan atau rasa tidak enak dan berhubungan secara
nyata atau potensial dengan ditandai adanya kerusakan jaringan. Kondisi nyeri
yang sering kita jumpai salah satunya adalah Myofascial Pain Syndrome (MSP).
Myofascial Pain Syndrome adalah kumpulan gejala dan tanda dari satu
atau beberapa titik picu (trigger points) dan dicirikan oleh nyeri otot kronis
dengan peningkatan sensitivitas terhadap tekanan (Werenski, 2011). Penelitian
yang dilakukan di Spanyol oleh Fernandez dalam David G (2007) sebanyak 30
pasien dengan keluhan nyeri leher menjalar yang sebelumnya didiagnosa dengan
neck pain syndrome dan shoulder pain syndrome yang mereka masukan dalam
penelitiannya, kemudian setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dihasilkan
bahwa 66.6% mengalami myofasial trigger points (MTrPs) pada otot
Sternocleidomastoid kiri, dan 83.3% pada kanannya, lalu pada otot upper
trapezius kiri 70.0%, kanan 63.3% dan pada otot levator scapula kiri 30.0% dan
kanan 26.6% mengalami MTrPs. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Lestari
(2009) pada penjahit di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang dari 25 orang
yang telah diteliti terdapat 16 orang yang didiagnosa mengalami Syndroma
Myofascial Leher.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya myofascial pain
syndrome yaitu: trauma pada otot, postur yang buruk saat beraktivitas, dan
ergonomi kerja yang kurang baik. Faktor-faktor tersebut sering dipicu oleh
aktivitas yang statis, seperti penggunaan laptop dan gadget dalam waktu yang
lama. Penggunaan teknologi tersebut selalu dilakukan dalam posisi yang tidak
ergonomis atau buruk, sehingga menyebabkan terjadinya trauma pada otot akibat
pembebanan yang berlebih (Anggraeni, 2013) Otot upper trapezius merupakan

otot stabilitator yang berfungsi mempertahankan posisi kepala yang perlekatannya


tepat berada di punggung bagian atas. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan
elevasi dan depresi tulang scapula. Kontraksi otot upper trapezius yang
berlangsung secara kontinu akan mengakibatkan terjadinya spasme, collagen
contracture, adhesion, abnormal crosslink actin myosin, serta penurunan sirkulasi
darah pada daerah tersebut yang menjadi pemicu munculnya trigger points pada
taut band yang akan menimbulkan nyeri sindroma miofasial (Daniels et al.,
2003). Myofascial Pain Syndrome otot upper trapezius merupakan implikasi dari
terdapatnya trigger point pada taut band yang disebabkan oleh perlengketan atau
adhesion pada struktur miofasia. Perlengketan tersebut akan berdampak terjadinya
iskemia lokal karena penurunan sirkulasi darah dan kebutuhan akan nutrisi serta
hipoksia pada area taut band juga menumpuknya sisa metabolisme yang sering
disebut sebagai akumulasi asam laktat (Gerwin et al., 2004). Peningkatan tekanan
dalam jaringan myofascial ini akan menekan arteri, vena, dan pembuluh darah
limfe yang akan menyebabkan iskemia dan timbul myofascial trigger points,
sehingga jaringan akan mudah mengalami kontraktur (Widodo, 2011). Hipoksia
dan iskemik dalam sel otot berdampak penurunan pH lokal dan diikuti keluarnya
substansi yang menstimulasi reseptor nyeri pada otot. Aktivitas reseptor nyeri
tersebut akan berdampak spasme otot, allodynia, hyperesthesia dan mekanik
hiperalgesia (Donmerholt et al., 2006). Proses degenerasi pada otot akan terjadi
penurunan jumlah serabut otot, atrofi beberapa serabut, fibril menjadi tidak
teratur, berkurangnya 30% massa otot terutama otot tipe II, degenerasi myofibril
yang akan mempengaruhi penurunan kekuatan dan fleksibilitas dari otot (Widodo,
2011). Beban yang berlebih pada otot upper trapezius akan menyebabkan nyeri
leher dan rasa tegang pada otot sekitar.
Diagnosa dan edukasi bagi individu yang memiliki faktor resiko terhadap
timbulnya keluhan ini perlu dilakukan sedini mungkin untuk mencegah pola
progresifitas penyakit ini (Cush, 2005). Terapi dengan medikamentosa sudah tepat
diberikan pada kasus myofascial pain syndrome, selain dengan medikamentosa
untuk menangani nyeri akibat myofascial pain syndrome juga dapat dilakukan
dengan intervensi fisioterapi. Fisioterapi yang merupakan salah satu pelayanan
kesehatan yang bertujuan untuk memulihkan fungsi dan gerak tubuh harus

memiliki kemampuan untuk melakukan assessment, diagnosa, planning,


intervensi sesuai dengan patologi pada kasus tersebut dan evaluasi pada akhir
program agar pasien dapat beraktivitas seperti biasa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana asuhan fisioterapi dalam penyakit Myofascial Pain Syndrome
pada otot upper trapezius?
2. Bagaimana metode fisioterapi yang tepat dalam mengatasi penyakit
Myofascial Pain Syndrome pada otot upper trapezius?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui asuhan fisioterapi dalam penyakit Myofascial Pain Syndrome
pada otot upper trapezius
2. Mengetahui metode fisioterapi yang tepat dalam mengatasi penyakit
Myofascial Pain Syndrome pada otot upper trapezius
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat memperoleh informasi dan wawasan mengenai
asuhan fisioterapi dan metode fisioterapi yang digunakan untuk mengatasi
penyakit Myofascial Pain Syndrome pada otot upper trapezius
2. Masyarakat
Memberikan informasi dan penanganan mengenai penyakit Myofascial
Pain Syndrome pada otot upper trapezius
1.5 Ruang Lingkup

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Myofascial Pain Syndrome
Myofascial pain syndrome merupakan suatu kondisi dengan banyak
kumpulan tanda dan gejala yang di akibatkan adanya gangguan kerusakan struktur
jaringan fascia dan otot. Adapun tanda dan gejala-nya ialah terdapat trigger point
yakni regio otot yang mengalami hiperiritasi dan menjadi hipersensitif pada taut
band pada otot yang mengalami myofascial pain syndrome, dan akan terasa nyeri

apabila dilakukan penekanan (Kumala, 1998). Gejala khas dari penyakit ini adalah
Referred Pain (Nyeri Menjalar), Motor Dysfunction (Gangguan gerak), dan
Autonomic Phenomena (McPartland dan Simons, 2006)
Travel and Simon membagi Trigger Point (TrP) menjadi dua yaitu TrPaktif dan TrP-laten. TrP-aktif menimbulkan nyeri MTPS, pada pemeriksaan fisik
(tekanan jari) menimbulkan nyeri setempat, nyeri rujukan serta reaksi local
twitch yaitu berupa kontraksi lokal sekilat dari otot yang diperiksa pada saat TrP
ditekan, dan juga reaksi lain berupa jump sign yaitu ditunjukkan dengan gerak
menjauhkan diri dari sumber tekanan, yang dalam keadaan ekstrim dapat dengan
gerakan melonjak. Sedang TrP-laten secara klinik tidak menimbulkan nyeri, jika
ditekan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman di area sekitar. Untuk kepentigan
klinis, TrP dibagi atas 2 kelompok, yaitu :
(1) MTP (Myofascial Trigger Point), yaitu trigger point yang berada di otot
atau fascianya yang menjadi sentra MTPS.
(2) Non-Myofascial Trigger Point, yang terdiri dari ; TrP pada jaringan
parut, TrP pada ligament, dan TrP pada periosteum.
Pola rujukan nyeri dari MTP tidak mengikuti distribusi myotom ataupun
dermatom dan tidak juga mengikuti jalannya saraf tepi. Daerah rujukan nyeri
disebut reference zone, yang dapat terletak dekat dengan TrP tetapi umumnya
berada jauh dari TrP. Lokasi TrP dan reference zone adalah khusus pada setiap
otot, sehingga seakan-akan terdapat Peta MTP. Nyeri rujukan biasanya berupa
nyeri dalam, sehingga penderita sering mengatakan sakitnya sampi ke tulang.
Myofascial pain syndrome sering terjadi pada masyarakat umum dengan
angka kejadian dapat mencapai 54% pada wanita dan 45% pada pria. Myofascial
pain syndrome biasanya ditemukan pada pekerja kantoran, musisi, dokter gigi,
dan jenis profesi lainnya yang aktifitas pekerjaannya banyak menggunakan low
level muscle. Myofascial pain syndrome tidak hanya terjadi pada orang usia tua
saja, namun bisa terjadi pada usia muda. Menurut Delgado, et al. (2009),
presentasi usia yang paling sering ditemukan kasus myofascial pain syndrome
adalah usia 27-50 tahun.2 Berdasarkan data tersebut, maka disimpulkan bahwa
usia produktif adalah usia yang rentan mengalami kasus myofascial pain
syndrome.

Kondisi Myofascial pain syndrome umumnya pasien datang dengan


keluhan nyeri yang menjalar apabila dilakukan penekanan pada daerah tersebut,
sehingga ditemukan adanya taut band yaitu berbentuk seperti tali yang
membengkak yang ditemukan di otot, yang membuat pemendekan sarabut otot
yang terus-menerus, sehingga terjadi peningkatan ketegangan serabut otot
(Wodsworth, 1988). Pembebanan dari otot yang terus menerus atau karena
penggunaan yang berlebihan, sehingga otot akan mengalami ketegangan atau
kontraksi terus menerus yang kemudian menimbulkan stress mekanis pada
jaringan miofasial dalam waktu yang lama sehingga akan menstimulasi nosiseptor
yang ada di dalam otot. Semakin sering dan kuat nosiseptor tersebut terstimulasi
maka akan semakin kuat aktifitas reflex ketegangan otot tersebut. Akan
meningkatkan nyeri sehingga menimbulkan keadaan Viscous Cycle. Keadaan
Viscous Cycle akan mengakibatkan adanya daerah pada jaringan miofasial yang
mengakibatkan iskemik lokal akibat kontraksi otot yang kuat dan terus tidak kuat
sehingga jaringan ini akan mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen serta
menumpuknya zat-zat sisa metabolisme. Keadaan ini akan merangsang ujungujung saraf tepi nosiseptif tipe C untuk melepaskan suatu neuropeptida yaitu
substansi P, karena adanya pelepasan substansi P akan membebaskan
prostaglandin dan diikuti juga dengan pembebasan bradikinin, potassium ion,
serotin, yang merupakan Noxius atau Chemical Stimuli sehingga dapat
menimbulkan nyeri (Sugijanto, 2008).
2.2 Otot Upper Trapezius
Otot trapezius merupakan otot ekstrinsik superficial yang ada pada region
pungggung dan leher. Otot trapezius dibagi menjadi tiga bagian yaitu : otot upper
trapezius, otot middle trapezius, dan otot lower trapezius. Musculus trapezius
merupakan salah satu otot yang besar dan berbentuk seperti segitiga, menutupi
aspek dorsal tengkk dan paruh cranial batang tubuh. Otot upper trapezius
memiliki origo di proc. Spinosus pada vertebrae cervicales bagian atas dan
memiliki insersio di klavikula (sepertiga akromial). Fungsi dari otot upper
trapezius adalah menstabilisasi atau menahan pergerakan shoulder misalnya saat
mengangkat koper, mengangkat scapula misalnya saat inspirasi, dan rotasi ke atas,

dan pergerakan pada kedua sisi akan memberikan gerakan ekstensi leher. Inervasi
dari otot upper trapezius adalah nervus accesorius dan rami trapezius (C2-C4).
Penyebab terjadinya sindrom myofascial otot upper trapezius disebabkan oleh
beberapa faktor mekanik, trauma pada jaringan myofascial dan degenerasi pada
otot. Postural pada otot upper trapezius yang berfungsi sebagai fiksator leher dan
sebagai fiksator scapula ketika lengan beraktivitas, maka kesalahan postur
berupaya forward head akan menyebabkan kerja statis yang terus menerus pada
saat aktifitas dalam posisi duduk atau berdiri. Pada lateral head posture maka
posisi kepala yang miring ke salah satu sisi juga akan menyebabkan overload
work pada otot upper trapezius. Kerja statis yang terus menerus dan overload
work menyebabkan trigger points dan taut band pada sebuah otot (Widodo, 2011).
2.3 Infrared
Infrared merupakan pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang
o.
gelombang 7.700 sampai 4 juta A Infrared dapat digunakan untuk mengatasi
keluhan yang hanya sampai di bagian kulit. Sebagian besar radiasi infrared yang
datang pada kulit akan langsung diserap oleh lapisan kulit bagian luar. Bagian
dalam kulit akan mengalami pemanasan dari aliran darah sehingga terjadi
vasodilatasi pembuluh darah. Apabila sinar infrared diabsorbsi oleh kulit, maka
akan terjadi peningkatan suhu secara lokal. Berdasarkan panjang gelombangnya,
inframerah dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a. Gelombang panjang (non luminous) merupakan panjang gelombang
o
o
yang dihantarkan 12.000 A sampai 150.000 A dengan penetrasi sekitar
0,5 mm. Ada juga yang menyebutkan antara 14.000 hingga 120.000 A

dengan penetrasi sekitar 2mm. Daya penetrasi dari gelombang ini hanya
sampai pada lapisan superficial epidermis.
b. Gelombang

pendek

(luminous)

merupakan

panjang

gelombang

o
yangdihantarkan antara 7.700 sampai 12.000 A . Gelombang ini
mempunyai daya penetrasi yang lebih dalam dari pada gelombang
panjang. Daya penetrasi dari gelombang ini mencapai jaringan subkutan

dan dapat berpengaruh langsung terhadap pembuluh darah


pembuluh

kapiler,

limfe, ujung-ujung saraf, dan jaringan lain yang ada di

bawah kulit.
Efek Fisiologis Infrared
a. Meningkatkan proses metabolisme.

Suatu reaksi kimia akan dapat dipercepat dengan adanya panas atau
kenaikan temperatur akibat pemanasan. Proses metabolisme yang terjadi
pada lapisan superficial kulit akan mengalami peningkatan sehingga
pemberian oksigen dan nutrisi ke jaringan menyebabkan pengeluaran
sampah-sampah sisa hasil pembakaran dalam tubuh dan adanya
perbaikan pada jaringan.
b. Vasodilatasi pembuluh darah
Efek thermal yang dihasilkan oleh sinar infrared dapat menyebabkan
dilatasi pembuluh darah kapiler dan artiole. Kulit akan mengadakan
reaksi dan berwarna kemrah-merahan yang disebut erythema. Untuk ini
mekanisme vasomotor mengadakan reaksi dengan jalan pelebaran
pembuluh darah sehingga jumlah panas daratakan keseluruh jaringan
lewat sirkulasi darah. Dengan sirkulasi darah yang miningkat, maka
pemberian nutrisi dan oksigen kepada jaringan akan meningkat, sehingga
pemeliharaan jaringan menjadi lebih baik dan perlawanan terhadap
radang juga baik.
c. Pigmentasi
Penyinaran yang berulang-ulang dengan sinar infrared

dapat

menimbulkan pigmentasi pada tempat yang disinari. Hal tersebut


disebabkan oleh karena adanya perubahan sel-sel darah merah di tempat
tersebut.
d. Pengaruh terhadap jaringan otot.
Kenaikan temperatur membantu terjadi relaksasi otot, pemanasan juga
akan mengaktifkan terjadinya pembuangan sisa-sisa metabolisme.
e. Distruksi Jaringan.
Penyinaran yang diberikan dapat menimbulkan kenaikan temperatur
jaringan yang cukup tinggi dan berlangsung dalam waktu yang lama

sehingga diluar toleransi jaringan penderita.


f. Meningkatkan temperatur tubuh.
Penyinaran infrared akan memanasi jaringan superfisial, kemudian
diteruskan keseluruh tubuh, maka disamping terjadi pemerataan panas
juga akan terjadi penurunan tekanan darah sistemik oleh karena adanya
panas yang akan merangsang pusat pengatur panas tubuh untuk
meratakan panas yang terjadi dengan jalan dilatasi bersifat general.
g. Mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
Pengaruh rangsangan panas yang dibawa ujung-ujung saraf sensoris
dapat mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
Efek Terapeutik Infrared
a. Mengurangi rasa sakit
Mild heating menimbilkan efek sedatif pada superficial sensoris nerve
ending, stronger heating dapat counter iritation yang akan menimbulkan
pengurangan nyeri. Deangan sirkulasi darah yang lancar maka zat P
yang merupakan salah satu penyebab nyeri akan ikut terbuang.
b. Relaksasi otot
Relaksasi otot mudah dicapai bila jaringan otot dalam keadaan hangat
dan rasa sakit tidak ada.
c. Meningkatkan suplai darah
Adanya kenaikan temperatur akan menimbulkan vasodilatasi, yang akan
menyebabkan terjadinya peningkatan darah kejaringan setempat.
d.

Menghilangkan sisa-sisa hasil metabolisme


Penyinaran di daerah yang luas akan mengaktifkan glandula sudoifera
diseluruh badan, sehingga dengan demikian akan meningkatkan
pembuangan sisa-sisa hasil metabolisme melalui keringat

2.4 Myofascial Release Techniques


Myofascial Release Technique merupakan salah satu metode soft tissue
mobilization yang efektif untuk treatment pada struktur myofascial (otot, tendon,
ligament dan jaringan ikat). MRT difokuskan pada jaringan lunak yaitu fascia dan
otot, berperan untuk memberikan regangan atau elongasi pada struktur otot dan
fascia dengan tujuan yaitu untuk mengembalikan kualitas cairan atau lubrikasi

pada jaringan fascia, mobilitas jaringan fascia dan otot, dan fungsi sendi normal
(Riggs and Grant, 2009). Myofascial release technique dapat digunakan untuk
mengurangi nyeri muskulosceletal karena adanya teori yang dapat menjelaskan
hal tersebut. Teori yang dimaksud yaitu gate control theory, interpersonal
attention, parasympathetic respon pada saraf otonom, dan pelepasan serotonin
(Werenski, 2011).
Gate Control Theory menyatakan bahwa adanya rangsangan sensorik, seperti
tekanan, perjalanan jalur sistem saraf akan bergerak bebih cepat pada sistem saraf
daripada stimulasi nyeri. Stimulasi tekanan akan berpengaruh pada transmisi rasa
nyeri yang menuju otak, sehingga terjadi penutupan pintu gerbang yang menuju
pada reseptor rasa nyeri di otak (Werenski, 2011). Ketika pasien menerima suatu
sentuhan atau pijatan seringkali mendapatkan efek yang menyenangkan sekaligus
mampu untuk menurunkan persepsi nyeri. Hal ini berkaitan dengan adanya respon
parasimpatis yang dapat menurunkan pelepasan hormon stress, kecemasan,
depresi dan rasa sakit (Paloni, 2009).
Manfaat utama yang dapat diperoleh dari myofascial release yaitu untuk
meningkatkan kebebasan gerak dan mengurangi rasa sakit akibat adanya
pembatasan dari suatu jaringan, menghilangkan rasa sakit dan ketidaknyamanan,
meningkatkan proprioception dan interoception, meningkatkan fungsi jangkauan
gerak sendi dan otot, memulihkan keseimbangan dan postur tubuh yang benar
(Duncan, 2014).
Efek Penurunan Nyeri Sindrom Myofascial Melalui Myofascial Release
Technique Menurut Cantu and Grodin, 2001 efek-efek yang dapat ditimbulkan
dari pemberian myofascial release technique yaitu:
1. Efek terhadap aliran darah dan temperatur
Ketika otot diberikan myfascial release, maka akan terjadi peningkatan
aliran darah secara signifikan dan bertahan selama 30 menit. Kemudian
setelah 30 menit akan terjadi penurunan aliran darah. Tekanan yang
dihasilkan oleh myofascial release technique dapat membuka kapilerkapiler darah sehingga terjadi proses vasodilatasi pembuluh darah
sehingga aliran darah meningkat. Reaksi kapiler berdilatasi oleh stimulus

tersebut (myofascial release technique) akan diikuti oleh peningkatan


temperatur cutaneous.
2. Efek terhadap metabolisme
Pemberian myofascial release technique dapat meningkatkan volume
darah dan aliran darah pada area tersebut dan membuang sisa-sisa
metabolisme atau cairan yang berlebihan selama pemberian myofascial
release technique sehingga terjadi penurunan nyeri
3. Efek terhadap aktivitas fibroblastik atau sinthesis collagen selama proses
penyembuhan
Myofascial release technique dapat menghasilkan mobilisasi pada jaringan
lunak dimana gerakan yang terkontrol dapat mempengaruhi proses
penyembuhan. Jaringan lunak tubuh dapat dibangkitkan melalui gaya
internal dan gaya eksternal. Tanpa adanya stress pada jaringan tersebut
maka

kekuatan

regangan

akan

menurun.

Beberapa

ahli

telah

mengobservasi efek gerakan terhadap aktivitas fibroblastic dalam proses


penyembuhan jaringan konektif, dimana jaringan fibril membentuk hampir
seluruh jaringan yang regenerasi. Adanya gaya eksternal dapat menyusun
jaringan fibril yang terbentuk.
2.5 Pengukuran Nyeri
Terdapat 4 alat Unidimentional Pain Rating Scale (UPRS) utama yang
digunakan dalam praktek klinis untuk menilai nyeri. Terdiri dari Numeric Rating
Scale (NRS), Verbal Rating Scale (VRS), Faces Pain Scale (FPS) dan Visual
Analogue Scale (VAS). Visual Analogue Scale (VAS) merupakan alat pengukuran
intensitas nyeri yang dianggap paling efisien yang telah digunakan dalam
penelitian dan pengaturan klinis (Hawker et al, 2011).
Pada umunya VAS disajikan dalam bentuk garis horisontal yang cara
penyajiannya diberikan angka 0-10 yang masing-masing nomor dapat
menunjukkan intensitas nyeri yang dirasakan oleh pasien. Setiap ujungnya
ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung kiri diberi tanda tidak nyeri dan
ujung kanan diberi tanda nyeri tidak tertahankan). Pasien diminta untuk
menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang

dirasakan pasien. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda
yang diberi oleh pasien (ukuran mm) dan skorenya menunjukkan level intensitas
nyeri. Kemudian score tersebut dicatat untuk melihat kemajuan pengobatan/terapi
selanjutnya (Witri, 2013).
Dalam penggunaan VAS terdapat beberapa keuntungan dan kerugian yang
dapat diperoleh. Keuntungan penggunaan VAS antara lain VAS adalah metode
pengukuran intensitas nyeripaling sensitif, murah dan mudah dibuat. VAS
mempunyai korelasi yang baik dengan skala-skala pengukuran yang lain dan
dapat diaplikasikan pada semua pasien bahkan dapat digunakan pada anak-anak di
atas 5 tahun, serta VAS dapat digunakan untuk mengukur semua jenis nyeri.
Namun kekurangan dari skala ini adalah VAS memerlukan pengukuran yang lebih
teliti dan sangat bergantung pada pemahaman pasien terhadap alat ukur tersebut.
Vas sangat bergantung pada pemahaman pasien terhadap alat ukur tersebut.
Sehingga edukasi pengukur tentang VAS terhadap pasien sangat diperlukan
(Hawker et al, 2011).

BAB III

METODE PENULISAN
3.1

Sumber dan Jenis Data


Sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sumber pustaka

yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas. Jenis data yang diperoleh
berupa data sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
3.2

Pengumpulan Data
Pengumpulan data digunakan metode telaah pustaka yang didasarkan atas

hasil pengkajian terhadap berbagai sumber data yang telah teruji validitasnya,
berhubungan satu sama lain, relevan dengan kajian tulisan, serta mendukung
uraian atau analisis pembahasan.
3.3

Analisis Data
Setelah data yang diperlukan terkumpul, dilakukan pengolahan data

dengan menyusun secara sistematis dan logis. Teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif argumentatif.
3.4

Penarikan Simpulan
Setelah proses analisis, dilakukan proses sintesis dengan menghimpun dan

menghubungkan rumusan masalah, tujuan penulisan, serta pembahasan.


Berikutnya ditarik kesimpulan yang bersifat umum kemudian direkomendasikan
beberapa hal sebagai upaya transfer gagasan.

3.5 Kerangka Berpikir


Myofascial Pain Syndrome otot Upper
Trapezius

Overuse Injury

Spasme otot
Nyeri leher
Penurunan ROM

Manajemen Fisioterapi

Meningkatkan kapasitas fungsional

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1 Metode Infrared
Sebelum memberikan intervensi muscle energy technique, subjek
diberikan intervensi infrared. Menurut teori yang disampaikan oleh Prentice
(2002) bahwa infrared merupakan salah satu terapi panas yang diberikan sebelum
melakukan manual terapi. Efek panas dari infrared akan menyebabkan
peningkatan suhu di area superfisial. Hal ini dapat menstimulasi reseptor saraf
pada kulit dan impulsnya akan diteruskan ke hipothalamus, sehingga
menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah di area terapi dan jaringan
dibawahnya
Posisi pasien diatur senyaman mungkin sesuai dengan arah yang akan disinari
baik duduk atau tengkurap. Daerah yang disinari harus bebas dari logam dan
pakaian. Lakukan tes sensibilitas terhadap panas atau dingin. Daerah yang akan
disinari dalam keadaan kering dan pastikan memberitahu pasien tentang rasa
panas yang akan dirasakan. Posisikan lampu infrared tegak lurus dengan daerah
yang diterapi. Durasi waktu diberikan pada terapi adalah 10 menit dengan jarak
35 cm. Selama proses terapi berlangsung harus dikontrol rasa hangat yang
diterima oleh pasien.
4.2 Metode Myofascial Release Technique
Teknik myofascial release technique berupa tekanan dan peregangan pada
otot ke arah yang ditargetkan. Teknik

ini berperan untuk meregangkan atau

memanjangkan struktur fascia dan otot. Selain itu tujuan dari myofascial release
technique adalah untuk memulihkan kualitas cairan atau pelumas dari jaringan
fascia dan mobilitas jaringan serta fungsi normal sendi. Dalam myofascial release
technique terdapat beberapa teknik yaitu teknik general, skin rolling, direct
technique, dan lifting atau rolling. Dalam penelitian ini hanya dijelaskan direct
technique. Pada direct technique terapis menggunakan lengan bawah, kedua
palmar tangan, atau suatu permukaan yang kasar. Perlu diingat bahwa penting
melakukan stretch yang cepat pada fascia baik dengan menggunakan posisi tubuh
untuk memanjangkan komponen fascia (meletakkan jaringan dalam posisi cukup
stretch untuk memanjangkan otot tanpa adanya ketegangan

yang dapat

menyebabkan kesulitan penetrasi) atau dengan menggunakan anchor pada satu


tangan dan tangan lain melakukan stretch secara terlokalisir (Riggs and Grant,
2009). Kemudian otot diposisikan sepanjang mungkin sehingga receptor stretch
akan terstimulasi dan menyebabkan otot berkontraksi. Hal ini menguntungkan
bagi terapis didalam memulai teknik pada akhir lingkup gerak dimana jaringan
fascial ter-stretch. Ditambah lagi dengan adanya pembebasan hambatan yang
terjadi pada akhir gerak stretch yang relaks dapat memberikan input neurologik
yang bermakna terhadap receptor

stretch sehingga

membantu reprogram

learning terhadap disfungsi pemendekan (Riggs and Grant, 2009).


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Witri Okta Maruli mengenai
Perbandingan Myofascial Release Technique dengan Contract Relax Stretching
Terhadap Penurunan Nyeri pada Sindrom Myofascial Otot Upper Trapezius,
intervensi myofascial release technique dilakukan tiga kali seminggu selama 1
bulan dan didapatkan penurunan nyeri yang bermakna pada pasien myofascial
pain syndrome otot upper trapezius.
4.3 Mekanisme Kombinasi Teknik
Pemanasan pada jaringan superfisial dapat menghasilkan relaksasi dari otot
skelet. Reaksi ini merupakan refleks alamiah yang dicetuskan oleh efek reseptor
suhu pada kulit. Stimulasi pada superfisialis dapat mengurangi aktivitas serabut
gamma sehingga kepekaan otot spindel akan berkurang. Selain itu dengan
pemberian pemanasan dengan modalitas infrared dapat menyebabkan vasodilatasi
pembuluh darah sehingga menyebabkan aliran darah pada daerah nyeri yang
diakibatkan oleh myofascial pain syndrome menjadi lancar. Pemberian infrared
menyebabkan kulit akan tampak kemerah-merahan, hal ini disebabkan karena
adanya dilatasi pada pembuluh darah kapiler dan arteriole.
Keadaan ini merupakan reaksi tubuh terhadap adanya energi panas yang
diterima oleh ujung-ujung syaraf sensoris yang kemudian dipengaruhi mekanisme
pengatur panas (heat regulating mechanism). Dengan sirkulasi darah yang
meningkat ini, maka pemberian nutrisi dan oksigen meningkat, sehingga kadar sel
darah merah dan anti bodies dalam jaringan akan meningkat. Dengan demikian
jaringan akan menjadi lebih baik dan perlawanan terhadap agen penyebab proses

radang juga semakin baik. Dengan lancarnya sirkulasi darah maka zat P juga
akan ikut terbuang, sehingga rasa nyeri berkurang dan terjadi relaksasi otot
(Prentice, 2002). Peningkatan sirkulasi menyebabkan metabolisme meningkat
pada jaringan, sehingga zat-zat yang menyebabkan nyeri dapat dikeluarkan dari
jaringan.13 Hal ini dapat menurunkan nyeri pada myofascial pain syndrome otot
upper trapezius. Selain itu, teori ini juga diperkuat oleh penelitian dari Gale, et
al., (2006) yang menunjukkan adanya penurunan nyeri setelah pemberian
infrared dan tidak ditemukannya efek yang merugikan dari infrared.
Grant dan Riggs pada tahun 2009 menyatakan bahwa myofascial release
technique dapat berperan untuk memberikan stretch atau elongasi pada struktur
otot dan fascia dengan tujuan melepas adhesion atau perlengketan, mengurangi
nyeri dengan gate control theory, memulihkan kualitas cairan pelumas dari
jaringan fasia, mobilitas jaringan dan fungsi normal sendi. Penelitian sebelumnya
telah dibuktikan oleh Werenski pada tahun 2011 dalam studi literaturnya yang
berjudul The Effectifness of Myofascial Release Techniques in the Treatment of
Myofascial Pain bahwa penerapan myofascial release technique dapat mengurangi
nyeri musculoskeletal dengan menggunakan Gate Control Theory, interpersonal
attention, parasympathetic respon pada saraf otonom, dan pelepasan serotonin.
Fryer pada tahun 2005 menyatakan bahwa secara fisiologis apanya pelepasan
biokimia dari tubuh seperti histamin dan serotonin akan menyebabkan
vasodilatasi dan permeabilitas pembuluh darah yang secara mekanis melakukan
penataan kembali pada struktur jaringan pada otot.
Jadi kombinasi dari infrared dan myofascial release techniques bertujuan
untuk mengurangi nyeri pada myofascial pain syndrome otot upper trapezius
dengan meningkatkan aliran darah ke otot agar otot mendapatkan nutrisi sehingga
akan terjadi perbaikan jaringan otot yang lebih cepat.

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari pembahasan adapun yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pemberian
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan melalui penulisan karya tulis ini yaitu :
1. Gagasan karya tulis ini memiliki potensi untuk diterapkan lebih lanjut

dalam penatalaksanaan kasus myofascial pain syndrome otot upper


trapezius, sehingga diperlukan kajian yang lebih mendalam terkait strategi
terapi penatalaksanaan kasus myofascial pain syndrome otot upper
trapezius.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas