Anda di halaman 1dari 24

KISAH ISRAILIYAT DALAM TAFSIR

Oleh: Sobhan
A. Pendahuluan
Al-Quran adalah kitab suci agama Islam untuk seluruh
umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga
waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi
maupun di luar angkasa akibat kiamat besar.
Di dalam surat-surat dan ayat-ayat Alquran terkandung
kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi
beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti
definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu
sebagaimana berikut ini :
1. Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia
mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap
orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada
kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang
satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak.
Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun
iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap
rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.
2. Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau menurut dari
segi bahasa. Dari pengertian fuqaha, ibadah adalah segala
bentuk ketaatan yang dijalankan atau dkerjakan untuk
mendapatkan ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar
dalam ajaran agama islam yakni seperti yang tercantum
dalam lima butir rukum islam. Mengucapkan dua kalimah
syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan
suci Ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah
mampu menjalankannya.

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

3. Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia,
baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun
yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT
mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan
adalah untuk memperbaiki akhlak. Setiap manusia harus
mengikuti apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi
larangan-Nya.
4. Hukum-hukum
Hukum yang ada di Alquran adalah memberi suruhan
atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili
dan memberikan penjatuhan hukuman hukum pada sesama
manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam
berdasarkan Alquran ada beberapa jenis atau macam seperti
jinayat, muamalat, munakahat, faraidh dan jihad.
5. Peringatan (Tadzkir)
Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang
memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah
SWT berupa siksa neraka atau waaid. Tadzkir juga bisa
berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman
kepada-Nya dengan balasan berupa nikmat surga jannah
atau waaad. Di samping itu ada pula gambaran yang
menyenangkan di dalam Alquran atau disebut juga targhib
dan kebalikannya gambarang yang menakutkan dengan
istilah lainnya tarhib.
6. Sejarah-sejarah atau kisah-kisah
Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orangorang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan
akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang
mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap
56

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari


sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari
sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikibar.
7. Dorongan untuk berpikir
Di dalam Alquran banyak ayat-ayat yang mengulas
suatu bahasan yang memerlukan pemikiran menusia untuk
mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya,
terutama mengenai alam semesta.1
Terlihat dalam petikan di atas, bahwa di antara pokok
kandungan Alquran adalah berisi tentang sejarah atau kisah.
Sejumlah ayat-ayat Alquran telah memaparkan kisah dan cerita
para rasul, nabi, orang-orang shalih, thalih dan lainnya serta
periode kehidupan mereka. Karena di balik kisah-kisah tersebut
tersimpan pelajaran-pelajaran berharga dan kisah-kisah
tersebutpada hakikatnyaadalah harta simpanan yang
memiliki banyak rahasia dan misteri, ayat-ayat tersebut telah
mendapatkan perhatian dari para sejarawan, penulis buku
sejarah dan kisah-kisah para nabi dan para peneliti kajian agama
secara istimewa. Setiap dari mereka telah mengambil
pengetahuan sesuai dengan kemampuan masing-masing dari
mata air segar itu. Pada umumnya kisah tersebut dicantumkan
dengan ringkas, tanpa perincian. Namun kaum muslimin
menginginkan perincian dari kisah tersebut, maka perincianperinciannya ditemukan dalam penjelasan dari mantan pengikut
Yahudi dan Nasrani yang sudah memeluk agama Islam.
Penjelasan ini disebut dengan Israiliyyat.
Israiliyyat adalah isu yang berkait rapat dengan Tafsir Bil
Masur karena ia berkembang melalui periwayatan.
Keberadaannya di celah-celah tafsiran al-Quran bisa
menimbulkan bahaya tanpa disadari khususnya Israiliyyat yang
1

http://roelwie.wordpress.com/isi-kandungan-alquran/

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

57

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

bersifat merusak aqidah seseorang. Dalam banyak hal ia bisa


menghalangi seseorang dari memahami dan menghayati alQuran.
Isu Israiliyyat perlu ditangani dengan menelusuri
pemahaman yang betul tentang Israiliyyat itu sendiri,
pembahagiannya serta cara atau pun kaidah dalam mengenal
secara pasti Israiliyyat tersebut. Sebagai pengenalan secara
umum, berikut ini penulis mencoba untuk mengupasnya.
B. Defenisi Israiliyat
Israiliyyaat secara etimologis merupakan bentuk jamak
dari kata Israiliyyah; nama yang di nisbatkan kepada kata Israil
(bahasa Ibrani) yang artinya Abdullah (hamba Allah). Dalam
pengertian lain Israiliyyat dinisbatkan kepada Nabi Yakub ibn
Ishaq ibn Ibrahim. Terkadang Israiliyyat identik dengan yahudi,
walaupun sebenarnya tidak demikian. Bani Israil menunjuk
merujuk pada garis keturunan bangsa, sedangkan Yahudi
merujuk kepada pola pikir, termasuk di dalamnya agama dan
dogma.2
Secara terminologis, Israiliyat pada mulanya merujuk
pada sumber-sumber dari Yahudi, namun pada akhirnya, para
ulama tafsir dan hadis menggunakan istilah tersebut dalam
pengertian yang lebih luas lagi. Oleh karena itu ada ulama yang
mendefinisikan israiliyyat yaitu sesuatu yang menunjukkan pada
setiap hal yang berhubungan dengan tafsir maupun hadis berupa
cerita atau dongeng-dongeng kuno yang dinisbatkan pada asal
riwayatnya dari sumber Yahudi, Nasrani, atau lainnya.
Dikatakan pula bahwa israiliyyat termasuk dongeng yang
sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir

Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran, (Jakarta:Pustaka


Islamika) h. 197.

58

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

dan hadis yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam sumber
lama.3
C. Sebab-sebab Masuknya Kisah Israiliyat dalam Tafsir
Alquran
Ketika ahlul kitab banyak masuk ke dalam Islam,
mereka memabawa tsaqofah agama mereka berupa berita-berita,
kisah-kisah agama. Mereka itu ketika mendengar kisah-kisah
Alquran kadang-kadang mereka mengaitkannya dengan kisah
yanga ada dalam kitab-kitab mereka sebelumnya. Para sahabat
akhirnya berpegang dari apa yang mereka dengar dari mereka.
Hal ini memang ada dasar dari hadis Rasul SAW sendiri:




" :

: } [
{

:
] 631
(Dari Abi Hurairah r.a. ia berkata : Dahulunya Ahli
Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan
mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada umat
Islam, maka Rasulullah saw bersabda : Janganlah kalian
membenarkan dan mendustai ahli kitab, katakanlah,
kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami... (HR. Bukhari).

Para sahabat dan ahli kitab bergaul seputar beberapa


masalah. Mereka menerima sebagian darinya selama tidak
3

Ahmad Izzan, Ulumul Quran; Telaah Tekstualitas


Kontekstualitas Al-Quran, (Bandung: tafakur:2009) h. 232.
Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

dan

59

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

berkaitan dengan akidah dan hukum, kemudian hal itu jadi isu
perbincangan.4
Jika kita lihat masa pra Islam, jauh sebelum Islam
datang, Israiliyyat sudah mulai memasuki kebudayaan Arab
(pada masa jahiliyah) karena di tengah-tengah mereka orangorang ahli kitab yaitu Yahudi telah lama hidup berdampingan.
Orang-orang Yahudi telah melakukan migrasi ke Jazirah
Arabiya secara besar-besaran pada tahun 70 M untuk
menghindari penyiksaan dan keberutalan yang dilakukan Kaisar
Dinasti Titus Romawi yang hendak menjajahnya dengan
membakar dan menghancurkan Jerussalaem yang dikenal
dengan nama Great Diaspora. Mereka datang ke Jazirah
Arabiya dengan membawa kebudayaan mereka yang
bersendikan kitab-kitab keagamaan.
Di samping itu harus diakui bahwa masyarakat Madinah
dan sekitarnya termasuk masyarakat yang heterogen dengan
Yahudi dan Arab sebagai etnis yang paling dominan. Mereka
yang masuk Islam dari kaum Yahudi (suku Bani Qainuqa,
Quraidzah, An-nazir, Khaibah, Taima, dan Fadak) dan nasrani
serta Majusi masih tetap membawa kesan-kesan agama
terdahulu pemahaman mereka sebelumnya. Di samping itu,
bangsa Arab sendiri tidak banyak mengetahui perihal kitab-kitab
terdahulu, sehingga ketika mereka ingin mengetahui perihal
kitab-kitab terdahulu, sehingga ketika mereka ingin mengetahui
tentang penciptaan alam, kejadian-kejadian penting lainnya,
mereka bertanya kepada ahli kitab dari golongan Yahudi dan
Nasrani. Momen inilah yang mengakibatkan merembesnya
faham-faham israiliyyat ke dalam Islam.5
Faktor yang juga menjadi sebab masuknya kisah
israiliyyat adalah masuk Islamnya ulama Yahudi, seperti
4

Manna Al-Khattan, Mabahis fi Ulumil Quran, (Mansurat AlAshril Hadits,1393) h. 354.


5
Supiana dan M. Karman, Op.cit, h. 198-199.

60

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

Abdullah ibn Salam, Kaab ibn Akhbar dan Wahab ibn


Munabbih. Mereka dipandang punya andil besar terhadap
masuknya kisah israiliyat di kalangan Muslim. Ini juga
mengindikasikan kisah israiliyat telah muncul sejak masa
sahabat dan membawa pengaruh besar terhadap kegiatan
penafsiran Alquran pada masa-masa sesudahnya.6
Harus diakui bahwa salah satu lembaga pengkajian
keagamaan memiliki andil besar tumbuh berkembangnya
Israiliyyat. Midras, sebagai lembaga kajian agama tersebut,
menurut Ahmad Khalil, juga sering didatangi sahabat Nabi
untuk mendengar apa yang disajikan di sana. Di dalam musnad,
Imam Ahmad meriwayatkan:
Nabi saw pernah melihat Umar Ibn Al-Khattab keluar
dari Midras, lalu Nabi menegurnya, Apakah engkau ragu
terhadap ajaran Islam wahai Umar? Demi Allah yang
berkuasa atas diriku, aku benar-benar telah datang
membawa ajaran itu kepadamu dalam keadaan putih
bersih. Janganlah kamu bertanya kepada mereka tentang
sesuatu lalu mereka menceritakannya kepadamu dengan
sebenar-benarnya lalu kamu mendustakannya, atau
mereka memabawa berita bohong, tetapi kamu sekalian
membenarkannya. Demi zat yang diriku berada pada
kekuasaan-Nya, seandainya Nabi Musa masih hidup,
tidaklah ia memberi kebebasan melainkan menyuruh
mengikuti jejakku.
Ilmu-ilmu seperti dialektika dan kalam banyak
dipengaruhi pula oleh israiliyyat. Ibn Atsir dalam tarikh-nya
mengabadikan bahwa faham khalq quran yang dicetuskan kaum
Muktazilah berasal dari Bisr al-Marisiy. Ia mengambil faham itu
dari Jahm ibn Shafwan. Jahm mengadopsinya dari Jadi ibn
Dirham, Jadi menerimanya dari Aban ibn Saman, Saman
mengambilnya dati Thalut ibn Ukht Lubaid ibn al-Asham dan

Ahmad Izzan, Op.Cit, h. 233.

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

61

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

ia menerimanya dari Lubaid ibn al-Asham, seorang Yahudi


yang pernah menyihir Nabi SAW.
Jadi, penyusupan israiliyyat ke dalam tafsir dapat
dikatakan melalui periodesasi periwayatan dan kodifikasinya.
Adapun pada masa tabiin, untuk memecahkan masalah
keagamaan, informasi didapat dari para sahabat dan muridmurid sahabat. Namun, persoalannya, tidak semua yang
diriwayatkan tabiin itu berasal dari Rasul SAW, melainkan ada
yang mauquf sampai sahabat dan tabiin. Di zaman tabiin inilah
muncul pemalsuan dan kebohongan terhadap hadis dan tafsir.7
D. Dampak Israiliyat terhadap Tafsir
Menurut Muhammad Husain al-Dzahabi, israiliyat
memiliki beberapa dampak negatif terhadap khazanah tafsir
Alquran, di antaranya:
1. Dapat merusak akidah kaum Muslimin karena ia
mengandung unsur penyerupaan keadaan Allah, peniadaan
ishmah para Nabi dan Rasul dari dosa, serta mengandung
tuduhan buruk yang tidak pantas bagi seorang nabi.
2. Merusak citra Islam, karena seolah-olah Islam itu agama
yang penuh dengan khurafat dan mitos yang tidak ada
sumbernya.
3. Menghilangkan kepercayaan kepada ulama salaf, baik di
kalangan sahabat maupun tabiin.
4. Memalingkan manusia dari maksud dan tujuan yang
terkandung dalam ayat-ayat Alquran.8
E. Hukum Periwayatan Israiliyat
Dari segi kandungannya, secara garis besar, Israiliyyat
terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, kisah Israiliyyat yang
7

Ibid, h.199.
Muhammad Husain Az-Zahabi, Al-Tafsir Wal-Mufassirun,
Terjemahan Ensiklopedia Tafsir, (Jakarta:Kalam Mulia, 2010), h. 165.
8

62

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

benar isinya, sesuai dengan Alquran dan hadis. Kedua, kisah


israiliyyat yang bertentangan dengan Alquran dan
hadis. Ketiga, kisah israiliyyat yang tidak diketahui benar atau
tidaknya.
Dari kategori kisah-kisah israiliyyat tersebut, Ibn
Taimiyyah berpendapat bahwa cerita israiliyyat yang shahih
boleh diterima, cerita yang dusta harus ditolak dan cerita yang
tidak diketahui kebenaran dan kedustaannya didiamkan; tidak
disutakan dan tidak juga dibenarkan. Jangan mengimaninya dan
jangan pula mebohonginya.
Secara umum, ada dua pendapat ulama yang
memberikan pendapat tentang diakui atau tidaknya israiliyyat.
Pendapat pertama, menagatakan keharamnya, sedangkan lainnya
mengatakan kebolehannya.
Alasan ulama yang mengharamkannya mendasarkan diri
pada beberapa alasan. Riwayat tentang menerima berita dari ahli
kitab di atas, karena Yahudi dan Nasrani telah merubah kitabkitab mereka, sehingga periwayatannya tidak tsiqot/kuat lagi.
Riwayat yang tidak kuat tidak dibenarkan untuk dijadikan
hujjah. Adapun pendapat yang membolehkannya bersandar
kepada Alquran surat Yunus ayat 94, sebagai berikut:

)49(

(Jika kamu ragu kepada apa yang kami turunkan
kepadamu, maka tanyalah orang-orang yang membaca
Al-Kitab sebelum kamu).
Di samping itu ada hadis yang berbunyi:

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

63

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir




.

(Sampaikanlah olehmu apa yang kalian dapat dariku,
walaupun satu ayat. Ceritakanlah tentang bani Israil dan
tidak ada dosa di dalamnya, barangsiapa yang sengaja
berbohong kepadaku maka bersiaplah dirinya
mendapatkan tempat di dalam neraka. HR. Bukhari).9

F. Israiliyat dalam Kitab-kitab Tafsir


1. Jamiul bayan fi Tafsir al-Quran
Tafsir ini disusun oleh Ibn Jarir al-Thabariy (224310), seorang yang dikenal faiq, mufassir dan ahli dalam
berbagai disiplin ilmu. Disebut-sebut sebagai Tafsir yang
paling unggul dalam tafsir bil-matsur. Paling shahih dan
terkumpul di dalamnya pernyataan para sahabat dan tabiin.
Tafsir ini dianggap sebagai referensi utama para mufassir.
Bahkan sampai Imam an-Nawawi berkata, Kitab Ibn jarir
dalam tafsir tidak ada duanya. 10
Bagi sebagian kalangan, dalam tafsir ini terdapat
beberapa riwayat israiliyyat dan ini dianggap kesalahan.
Riwayat itu banyak berasal dari Kaab al-Ahbar, Wahhab
ibn Munabbih, ibn Juraij, as-Sudi dan lain-lain.
Salah satu contoh adalah ketika beliau menafsirkan
surat al-Kahfi ayat 94:

Supiana dan M. Karman. Op.Cit., h. 202-204


Muhammad Ali Al-Shabuni, Op.cit, h.190.

10

64

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan








)49(

Mereka berkata: Hai Zulkarnain, Yajuj dan Majuj


itu perusak di muka bumi.

Ibn Jarir al-Thabariy menyebutkan riwayat dengan


isnad yang menyatakan: telah menceritakan kepada kami
Humaid; ia berkata: telah menceritakan kepada kami
salamah ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibn Ishaq, yang berkata, telah menceritakan
kepada kami salah seorang ahli kitab yang telah masuk
Islam, yang suka menceritakan kisah-kisah asing: dari
warisan-warisan cerita yang diperoleh, dikatakan bahwa
Zulkarnain termasuk salah seorang penduduk Mesir. Nama
lengkapnya Mirzaban ibn Murdhiyah, bangsa Yunani
keturunan Yunan Ibn Yafits Ibn Nuh dan seterusnya.
Oleh para muhaqqiq seharusnya Ibn jarir tidak
menukil riwayat-riwayat yang belum jelas kesahihannya
berkenaan dengan Israiliyyat. Namun, bagaimanapun juga
beliau selalu menulis lengkap sanad-sanad riwayat yang
dinukilnya.11
2. Tafsir Muqatil
Disusun oleh Muqatil ibn Sulaiman (w. 150 H).
Dikenal sebagai ahli tafsir. Beliau banyak mengambil hadis
dari Mujahid, Atha ibn Rabah, Dhahhak dan Atiyyah.
Tafsir karya Muqatil terkenal sebagai tafsir yang
sarat dengan cerita-cerita israiliyyat tanpa memberi sanad
11

Supiana dan M. Karman, Op.Cit, h. 206.

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

65

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

sama sekali. Di samping itu tidak ditemukan komentar


penelitian dan penjelasannya, mana yang hak dan yang batil.
Contoh yang diceritakan dalam tafsir ini hampir merupakan
bagian dari khurafat.
3. Tafsir Al-Quranul Azhim
Kitab tafsir buah karya al-Hafizh Imaduddin Ismail
ibn Amr ibn Katsir (700-774 H) ini adalah kitab yang paling
masyhur dalam bidangnya. Kedudukannya berada pada
posisi kedua setelah Tafsir ibn Jarir al-Thabari. Nama
aslinya adalah Tafsir al-Quran al-Azhim. Tafsir yang
diterima di khalayak ramai umat Islam.
Beliau menempuh metode tafsir bil matsur dan
benar-benar berpegang padanya. Ini diungkapkan sendiri
oleh beliau dalam muqaddimah tafsirnya,: bila ada yang
bertanya, apa metode penafsiran yang terbaik? Jawabannya,
metode terbaik ialah dengan menafsirkan Alquran dengan
Alquran. Sesuatu yang global di sebuah ayat diperjelas di
ayat lain. Bila engkau tidak menemukan penafsiran ayat itu,
carilah di as-Sunnah karena ia berfungsi menjelaskan
Alquran. Bahkan Imam Syafii menegaskan bahwa semua
yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW, itulah hasil
pemahaman beliau terhadap Alquran. Allah SWT
berfirman: sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu alKitab dengan kebenaran, agar engkau memutuskan perkara
di antara manusia dengan apa yang Allah ajarkan
kepadamu. (Q.S. al-Nisa ayat 105) dan Rasul SAW
bersabda: sesungguhnya aku diberikan Alquran dan
bersamanya yang semisal (as-Sunnah).
Murid Imam ibn Taimiyah ini menafsirkan dengan
menyertakan ilmu al-jarh wa at-tadil. Hadis-hadis mungkar
dan dhaif beliau tolak. Terlebih dahulu beliau menyebutkan
ayat lalu ditafsirkan dengan bahasa yang mudah dipahami
66

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

dan ringkas. Kemudian disertakan pula ayat-ayat lainnya


sebagai syahidnya. Beberapa ulama setelah beliau telah
berinisiatif menulisnya dalam bentuk mukhtasar (ringkasan),
bahkan hingga saat ini.12
Di dalam tafsir ini juga, menurut al-Zhahabi, tafsir
ini populer dengan israiliyyat dan disertai penjelasan dan
komentar, hanya sedikit saja yang tidak dikomentari.
Berbeda dengan Ibn jarir, Ibn Katsir selalu mngingatkan
para pembaca agar mewaspadai keganjilan dan
kemungkaran kisah-kisah Israiliyyat dalam tafsir bilMatsur.13 Contohnya, saat menafsirkan surat al-Baqarah
ayat 67, berikut:

Sesungguhnya Allah menyuruh


menyembelih sapi betina...

kamu

untuk

Dalam tafsirnya, Ibn katsir menceritakannya panjang


lebar sampai hal aneh dengan menceritakan bahwa mereka
mencari sapi betina khusus dan berada pada seorang Bani
Israil yang paling berbakti.. setelah menceritakan hal
tersebut beserta asal-usul riwayatnya, ia menjelaskan bahwa
semua itu berasal dari kitab-kitab Bani Israil yang boleh
diriwayatkan tapi tidak boleh dibenarkan atau didustakan.
Maka cerita-cerita ini gtidak boleh dipercaya kecuali yang
sesuai dengan haq menurut kami.14

12

Muhammad Ali As-Shabuni, Op.cit, h. 192


Muhammad Husein Al-Zahabi, Op.cit, h. 223
14
Ibid., h. 232.
13

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

67

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

4. Tafsir Al-Baghawi
Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain ibn Masud
al-Farra al-Baghawi. Beliau juga seorang faqih lagi
muhaddist, bergelar Muhyi al-Sunnah (yang menghidupkan
sunnah). Beliau wafat tahun 510 H. Beliau memberi nama
tafsirnya dengan Maalim at-Tanzil.
Dalam menafsirkan Alquran beliau mengutip atsar
para salaf dengan meringkas sanad-sanadnya. Beliau juga
membahas kaidah-kaidah tata bahasa dan hukum-hukum
fikih secara panjang lebar. Tafsir ini juga banyak memuat
kisah-kisah dan cerita sehingga kita juga bisa menemukan
diantaranya kisah-kisah israiliat yang ternyata batil (berbeda
dengan syariat dan tak rasional). Namun secara umum, tafsir
ini lebih baik dan lebih selamat dibanding sebagian kitabkitab tafsir bil matsur lain.
Imam Ibn Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir
yang paling dekat dengan Alquran dan as-Sunnah di antara
al-Kasysyaf, al-Qurtubi atau al-Baghawi. Beliau menjawab:
Adapun di antara tiga tafsir yang ditanyakan, tafsir yang
paling selamat dari bidah dan hadis dhaif adalah Tafsir alBaghawi, bahkan ia adalah ringkasan tafsir al-Tsalabi
dimana beliau menghapus hadis palsu dan bidah di
dalamnya.15
Al-Baghawi membahas tentang qiraat sekalipun
tidak panjang lebar. Sesekali membahas ilmu nahwu dalam
rangka mengungkap makna. Adapun berkenaan dengan
kisah israiliyyat, ia menulisnya tanpa memberi komentar. Ia
juga mengutip selisih pandangan di antara para salaf dalam
tafsir dan menyebutkan riwayat-riwayat mereka tanpa
mentarjih, yakni tanpa mensahihkan atau mendhaifkan.16

15
16

68

Ibid, h. 223.
Muhammad husain Az-Zahabi, Op.Cit. h. 165
Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

5. Madarik At-Tanzil wa Haqaiq At-Ta'wil


Kitab tafsir ini dikarang oleh Abul Barakat Abdullah
ibn Ahmad ibn Mahmud an-Nasafi al-Hanafi (Imam Nasafi).
Salah seorang ahli zuhud dari kalangan mutaakhirin. Ahli
fikih dan ushul fikih, ahli hadits dan beragam sisi-sisi
makna, sangat tahu tentang kitabullah. Memiliki banyak
karangan dalam berbagai disiplin ilmu.
Tafsir ini termasuk di antara tafsir ilmiah yang tidak
terlalu panjang dan tidak menjemukan. Tidak pendek dan tak
bermakna. Dalam mukaddimah kitabnya ia menjelaskan,
saya telah diminta oleh seseorang yang harus dipenuhi
permintaannya agar menulis kitab tafsir yang menghimpun
berbagai i'rob dan qira'at, ilmu badi, isyarat yang detail
yang sarat dengan pandangan ahlusunnah dan terbebas dari
kebatilan ahli bid'ah dan kesesatan...17
Imam Nasafi banyak menggambil faidah dari tafsir
al-Baidhawi dan al-Kassyaf. Dari Tafsir pertama ia banyak
mengambil makna-makna mendalam, pemahamannya,
wejangan-wejangannya dan pembahasannya yang fokus.
Adapun dari al-Kasysyaf, ia banyak mengutip tentang
bahasa dan dialognya terhadap berbagai pendapat, ia pun
memilih pendapatnya sendiri. Namun, ia tidak jatuh dalam
fanatisme terhadap muktazilah seperti Zamakhsari.18
Dalam masalah israiliyyat, ia sangat sedikit
menyebutkan
cerita-cerita
israiliyyat.
Dalam
menyebutkannya pun terkadang tidak memberi komentar
dan adakalanya menyatakan ketidaksetujuannya. Beberapa
contoh penafsiran di antaranya adalah Q.S. Shad ayat 21-22:

17

Mani'
Abdul
Halim
Mahmud,
Mufassirin, (Kairo:Darul Kutubul Misri,1978) h. 217.
18
Ibid, hal. 217
Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Manahij

al-

69

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

) 16(















)11(

(Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang


yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?
Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia
terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata:
Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua
orang yang berperkara yang salah seorang dari kami
berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah
keputusan antara kami dengan adil dan janganlah
kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah
kami ke jalan yang lurus. (Q.S. Shad: 21-22)

Muhammad Husain az-Zahabi menulis bahwa setelah


menyebutkan riwayat yang tidak bertentangan dengan
kemaksuman Nabi Dawud, an-Nasafi berkata:
Hikayat bahwa ia mengutus Auria kedua kalinya ke
peperangan Balqa agar ia terbunuh supaya istrinya
dinikahi olehnya, sangat kontradiksi dengan orang
yang memiliki sifat kesalihan, terlebih lagi para
Nabi.
Ali ibn Abi Thalib berkata,barangsiapa bercerita
kepadamu satu hadits tentang Dawud seperti yang
diceritakan oleh para ahli kisah dan tukang cerita, hendaklah
kamu mencambuknya 160 kali. Karena ia melakukan
kebohongan tentang Nabi.... Ketika menafsirkan Q.S. Shad
ayat 34:

70

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman


dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya
sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian
ia bertaubat.
Di sini al-Nasafi menyebutkan sejumlah riwayat
yang tidak kontradiksi dengan kemaksuman Sulaiman AS.
Kemudian ia berkata, adapun riwayat tentang cincin dan
setan serta penyembahan setan di rumah Sulaiman AS,
merupakan riwayat batil dari orang-orang Yahudi.19
G. Kaidah Mengecam Israiliyat
Bukanlah sesuatu perkara yang mudah untuk
mengatakan sesuatuh riwayat itu israiliyyaat atau tidak. Ilmu
yang amat penting bagi mereka yang ingin menguasai bidang ini
ialah Ilmu Tafsir Alquran, khususnya yang melibatkan kisahkisah Alquran, Ilmu Musthalah Hadis, Ilmu Rijaal Hadis, di
samping pengetahuan mendalam tentang hadis-hadis yang
shahih dan tidak shahih berkenaan kisah para Nabi dan kisahkisah masa lalu. Berikut akan dicoba menyebutkan beberapa
kaidah yang dapat membantu mengenal riwayat Israiliyyat.
1. Pengamatan sanad
Rijal/perawi
terkenal
dengan
meriwayatkan
israiliyyat seperti Abdullah ibn Amar ibn al-Ash dan
Abdullah ibn Salam dari kalangan sahabat. Dari kalangan
tabiin pula seperti Kaab ibn al-Ahbar, Wahab ibn
Munabbbih, as-Saiyyidul al-Kabir, Qatadah, al-Hasan alBasri dan Mujahid. Adapun dari kalangan golongan tabi
tabiin pula seperti Ibn Ishaq, Ibn Zaid dan Ibn Juraih.
Terdapat kenyataan jelas dari perawi menyebut
bahwa riwayat yang disampaikan adalah bersumberkan
sumber Israiliyyaat. Sanad riwayat Israiliyyat kebiasaannya
19

Muhammad Husain Az-Zahabi, Op.Cit. h.285

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

71

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

bersifat terhenti mauquf kepada sahabat, bukan marfu


kepada Nabi SAW.
2. Pengamatan matan
Persoalan yang disentuh israiliyyaat biasanya
mengenai asal usul kejadian alam serta rahasianya seperti
asal usul kejadian langit dan bumi. Matan mengandungi
kisah para Nabi dan kisah-kisah lampau. Perincian ayat-ayat
samar (mubhamat) yaitu perkara yang tidak dijelaskan
Alquran seperti menentukan jenis pohon larangan dalam
surga yang dilarang Allah kepada Nabi Adam dan isterinya
Hawa dan menentukan bagian anggota lembu yang
digunakan untuk memukul si mati dalam kisah bani Israil.
Matan memperlihatkan hal yang tidak masuk akal
seperti cerita salah seorang anak Nabi Adam AS yang
memikul saudaranya yang dibunuh selama seratus
tahun. Janazah itu dibawanya kesana- kemari sehingga Allah
mengirim burung gagak untuk mengajarnya cara menguburn
jenazah saudaranya itu. Matan mengandungi perkaraperkara yang berlawanan dengan Alquran dan as-Sunnah asSahihah seperti matan yang menyebut bahwa isteri Nabi
Nuh AS adalah yang mereka yang selamat dari azab banjir
besar.
Matan
mengandungi
perkara-perkara
yang
menyalahi kesucian ishmah para Nabi dan malaikat seperti
dalam cerita keinginan Nabi Yusuf terhadap isteri pembesar
Mesir yang sampai ke peringkat paling kritikal yaitu
menangggalkan seluar serta kisah tentang malaikat Harut
dan Marut. Matan menyebut cerita-cerita khurafat. Matan
menceritakan sesuatu yang pelik gharib seperti yang
menyebut bahwa bilangan alam sebanyak delapan belas ribu
atau empat belas ribu.

72

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

Adanya pertentangan fakta pada matan seperti


penentuan anggota lembu Bani Israil di mana ada yang
mengatakan paha, lidah, ekor dan sebagainya. Terdapat
indikasi di dalam matan yang menyebutkan bahwa ia
diambil dari sumber Israiliyyaat dari Ahli Kitab atau kitab
Bani Israil. Disebut pada matan lafaz-lafaz tadhif atau
tamridh yang menjelaskan bahawa ia dianggap lemah.
3. Merujuk kepada pendapat para Ulama
Ulama yang banyak mengupasn isu Israiliyyaat, di
antaranya seperti:
a. Ibn Hazam dalam kitab al-Faslu Fil Milaali Wal Ahwai
Wan Nihal.
b. At-Thobari dalam kitab Jamiul Bayan Fi Tawili Aayil
Quran dan Tarikhul Umami Wal Muluk.
c. Al-Qadhi Iadh dalam Kitabus Syifaa Bitarifi Huquqil
Mustafa.
d. Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah dalam kitab AnNubuwwah dan Al-Jawabus Sahihu Li Man Baddala
Diinul Masih.
e. Ibn al-Qayyim dalam kitab Hidayatul Hiyari Fi Ajwibatil
Yahudi Wan Nashara.
f. Al Hafiz Ibn Katsir dalan kitab tafsirnya dan juga AlBidayatu Wan Nihayah.
g. Rahimahullah Al-Hindi dalam Izharul Haq.
h. Jamaluddin al-Qosimi dalam Mahasinut Tawil.
i. Muhammad Husin az-Zahabi dalam Al-Israiliyyaat Fit
Tafsir Wal Hadits dan Kitabut Tafsir Wal Mufassirun
j. Al-Allamah Abu Syahbah dalam Al-Israiliyyaat Wal
Maudhuat Fi Kutubit. Tafsir.
k. Syeikh Abdul Wahab an-Najjar dalam Qishoshul
Anbiya.

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

73

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

4. Merujuk sumber-sumber Israiliyat


Tujuan merujuk kepada sumber-sumber Yahudi
(Irailiyyat) tidak bermaksud agar kita mengiyakan atau
membenarkan apa yang termaktub dalam kitab-kitab
mereka, tetapi sekadar untuk melakukan perbandingan
dengan kitab-kitab warisannya ulama mutabar kita dalam
soal-soal yang berkaitan dengan Israiliyyaat. Sekiranya ia
disebut
dalam
sumber-sumber yang
itu, maka itu
dapat meyakinkan kita bahwa ia memang benar riwayat
Israiliyyaat.
a. Kitab Taurat

b. Talmud
Talmud berarti ajaran atau pengetahuan, derivasi
dari kata laumid dalam bahasa Ibrani yang artinya
pelajaran, ada yang mengatakan pengajaran dengan
perantara kitab suci, dan setelah pertengahan abad kedua
maeshi ditetapkan Talmud sebagai kitab yang berisi
hukum-hukum syariat kaum Yahudi.20

20

Asad Zaruq, Talmud wa Suhyuniyyah, (Kairo, Maktab al-Bahts),


1970, h.87.

74

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

c. Kitab-kitab Injil

Selain daripada sumber Yahudi terdapat juga sumber


Nasrani yang termuat dalam Kitab Injil tetapi Israiliyyaat di
dalam sumber Nasrani amat sedikit berbanding sumber Yahudi
sendiri.21

21

www. Almadanii.multyply.com

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

75

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

H. Penutup
Ada beberapa kisah Israiliyyat yang kemudian
menyebabkan kekeliruan dan mengganggu kemurnian ajaran
Islam. Kisah-kisah tersebut biasanya yang berbumbu dongeng
dan khurafat, yang bertentangan dengan akal sehat dan syara.
Implikasi dari kisah-kisah macam ini sangat dalam, misalnya:
1. Dalam riwayat Israiliyyat terdapat unsur-unsur penafikkan
terhadap sifat maksum para Nabiyullah dan Rasulullah, serta
menggambarkan mereka dengan imaji kekejian dan aib yang
tidak layak bagi manusia yang dimuliakan oleh wahyu
Allah. Sebagai contoh misalnya kisah bahwa Nabi Nuh AS.
minum anggur sampai mabuk dan telanjang, kisah bahwa
Nabi Luth AS berzina dengan dua orang putri kandungnya,
kisah bahwa Nabi Daud AS menzinahi istri panglimanya Aurya, kisah bahwa Nabi Sulaiman AS menyembah patungpatung dan membangun kuil-kuil pemujaan untuk
menyenangkan istri-istrinya;
2. Riwayat-riwayat israiliyyat berpotensi menyimpangkan
kepercayaan umat Islam terhadap sebagian ulama salaf dari
kalangan sahabat dan Tabiin. Ada banyak dongeng
Israiliyyat yang riwayatnya dinisbatkan kepada kalangan
salafus salih yang terkenal karena keadilannya dan
reputasinya yang dapat dipercaya. Sebagian dari mereka
bahkan terkenal di kalangan orang-orang Islam dengan tafsir
dan Hadits yang diriwayatkannya. Mereka yang namyanya
dicatut antara lain Abu Hurairah RA, Abdullah ibn Salam
RA, Kaab al-Ahbar dan Wahab Ibn Munabih;
3. Riwayat israiliyyat memiliki potensi untuk memalingkan
manusia dari tujuan Alquran yang sesungguhnya dan dapat
melalaikan umat dari pelajaran dan pemahaman maksud
ayat-ayat Alquran, melalaikan umat dari pengambilan
manfaat dan iktibar, serta nasihat-nasihat yang terkandung di
dalamnya atau pemahaman tentang hukum-hukum yang
76

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

Sobhan

terdapat di dalamnya. Riwayat israiliyyat memiliki potensi


memalingkan umat kepada perkara sia-sia. Misalnya
membahas warna anjing Ashabul Kahfi dan namanya,
membahas kayu bahan tongkat Nabi Musa AS, membahas
tentang nama anak kecil yang dibunuh oleh Khidr dan
sebagainya.
Inilah akibat riwayat israiliyyat terhadap akidah umat
Islam dan juga terhadap kesucian ajaran Islam. Kaum Yahudi
selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikis
aqidah dan melemahkan kepercayaan umat Islam terhadap
Alquran dan al-Hadits. Mereka juga berusaha menggoyang
kepercayaan umat Islam terhadap golongan salafussalih yang
memiliki peran dalam memikul risalah umat Islam dan
menyebarkannya ke segala penjuru dunia. Karena itu, umat
Islam perlu mencermati dan memperhatikan serta
mempertimbangkan penyerapan riwayat israiliyyat dalam tafsirtafsir dan menyaringnya. (al-Zahabi 1990: 29-34).
Semoga kaum Muslimin terhindar dari israiliyyat yang
menyesatkan.

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014

77

Kisah Israiliyyat dalam Tafsir

DAFTAR PUSTAKA
Izzan, Ahmad, Ulumul Quran; Telaah Tektualitas dan
Kontektualitas Al-Quran, (Bandung, Tafakur, 2009).
al-Jurjani, Imam, Kitab al-Tarifat, (Darul Baz, Makkah,1403
H).
Mahmud, Mani Abdul Halim, Manahij al-Mufassirin, (Darul
Kutubul Misri Kairo, 1978)
al-Qaththan, Manna, Al-Mabahits fi Ulum al-Quran,
(Mansyurat Al-Ashr Hadits, Riyadh, 1393 H)
Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran, (Pustaka Islamika,
Jakarta, 2009)
as-Shabuni, Muhammad Ali, At-Tibyan fi Ulum al-Quran, (Dar
al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2003)
az-Zahabi, Muhammad Husain, Al-Tafsir Wal-Mufassirun,
Terjemahan, Kalam Mulia, Jakarta, 2010)
Zaruq, Asad, Talmud wa Suhyuniyyah, (Kairo, Maktab alBahts, 1970).

78

Al Muqaranah Volume V, Nomor 1, Tahun 2014