Anda di halaman 1dari 4

PEWARISAN GEN RANGKAI KELAMIN

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Fadhila Meilasari
B1A015051
III
1
Zeihan Aziiza

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

HASIL
Tabel pengamatan perolehan jumlah lalat F1 (Kelompok 1)
Jantan

No

Betina

White

Liar

White

Liar

PEMBAHASAN
Gen berangkai adalah gen - gen yang terletak pada satu kromosom.
Sedangkan gen rangkai kelamin merupakan gen- gen yang terletak pada kromosom
kelamin. Gen rangkai kelamin dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu berdasarkan
macam-macam kromosom kelamin tempatnya berada. Kromosom kelamin pada
umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin
dapat menjadi gen rangkai X dan gen rangkai Y. Selain itu ada pula beberapa gen
yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Gen ini
dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna (Kimball, 2001).
Rangkai X pada manusia dicontohkan adalah gen resesif yang
menyebabkan

penyakit

hemofilia

yaitu

gangguan

proses

pembekuan darah. Pewarisan rangkai X dapat ditemukan pada


kucing, warna bulu kucing ditentukan rangkai X, gen tersebut
dalam keadaan heterozigot akan menyebabkan warna tortoise
shell,

dan

hanya

ditemukan

pada

kelamin

betina.

Individu

homozigot jantan dan betina berbulu hitam, sedangkan resesifnya


bulu berwarna kuning (Kimball, 2001).
Pewarisan gen rangkai Y dilatarbelakangi oleh kandungan gen
aktif yang rendah pada kromosom Y yang dapat menyebabkan oleh
sulitnya menemukan alel mutan bagi gen rangkai Y yang mampu
menghasilkan fenotipe abnormal. Suatu gen atau alel dapat
mendeteksi pada individu dengan fenotipe abnormal, namun gen
rangkai Y diduga merupakan gen yang sangat stabil. Gen rangkai Y
tidak mungkin diekspresikan pada individu betina sehingga disebut
holandri, contohnya Hg dengan alel hg yang menyebabkan bulu

kasar dan panjang pada manusia, Ht dengan alelnya Ht yang


menyebabkan pertumbuhan bulu panjang disekitar telinga, serta
Wt dengan alelnya wt menyebabkan abnormalitas kulit (Suryo,
2004).
Pewarisan rangkai kelamin tak sempurna dapat terjadi akibat
terdapat segmen kromosom yang homolog antara kromosom X dan
Y. Pewarisan sifat tersebut tidak dipengaruhi jenis kelamin dan
berlangsung seperti pewarisan gen autosomal. Pada Drosophila
melanogaster terdapat gen berangkai kelamin tak sempurna yang
mengakibatkan pertumbuhan bulu pendek (Campbell, 2002).
Pewarisan gen rangkai kelamin merupakan pola pewarisan respirok, yang
dihasilkan dari perkawinan respirok adalah suatu perkawinan yang menghasilkan
keturunan, dimana keturunan betina memiliki sifat yang sama dengan sifat tetua
jantannya dan keturunan jantan akan memiliki sifat yang sama dengan tetua
betinanya, pewarisannya sering disebut criss-cross inheritance (Pai,1992).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan adalah untuk melihat pewarisan saling
silang (criss-cross inheritance) melalui perkawinan resiprok yang melibatkan baik
gen rangkai X maupun Y yang kemudian akan menghasilkan keturunan yang
berbeda. Penggunaan lalat betina tipe white eyes digunakan dalam percobaan
pewarisan saling silang dikarenakan karena pada lalat betina tipe white eyes terjadi
mutasi kromosom nomor 1 dan kromosom nomor 1 merupakan kromosom kelamin.
Individu betina membawa dua kromosom X pada Drosophila
melanogaster dan bersifat homolog sehingga susunan gen sama
sehingga individu betina dinamakan homogametik. Sehingga lalat
betina yang akan menentukan keturunannya (Kusdiarni,1999).
Setelah melalui beberapa hari masa inkubasi hasil yang kelompok
kami dapatkan adalah didapatkan dua lalat jantan tipe liar. Hal ini
tidak sesuai dengan pustaka, karena perkawinan saling silang
seharusnya menghasilkan keturunan dengan individu jantan yang
memiliki fenotipe seperti tetua betinanya yaitu white eyes dan
sebaliknya, individu betina akan memiliki fenotipe seperti tetua
jantan yaitu tipe liar. Hasil ini membuktikan bahwa tidak terjadinya

pewarisan saling silang (criss-cross inheritance). Diagram persilangan antara


lalat jantan liar dengan lalat betina tipe white eyes adalah sebagai berikut :
P:

betina mata
putih
F1 : +

jantan
normal

betina
normal
Berdasarkan

jantan mata
putih
praktikum yang

dilakukan

faktor

kemungkinan

yang

mempengaruhi hasil tidak ditemukannya pewarisan saling silang antara lain :


1. Lalat F2 kawin dengan parentalnya sehingga tidak terjadi (criss-cross
inheritance)
2. Selama pengamatan kemungkinan terdapat lalat lain masuk dan lalat yang
berada di dalam terlepas.

DAFTAR REFERENSI
Campbell, N. A. 2002. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Kimball, J. W. 2001. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Kusdiarni, N. 1999. Genetika. Erlangga. Jakarta.
Pai, A. C. 1992. Dasar-dasar Genetika Ilmu untuk Masyarakat. Diterjemahkan oleh
Machidin Apandi. Jakarta : Erlangga.
Suryo. 2004. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.