Anda di halaman 1dari 27

Pendahuluan Fisika Inti

Peluruhan Sinar Alfa

( )

Disusun Oleh :
Abdullah Ubaid

103224025/

Aunun Jannah

113224003

Ria Novita

113224014/

Vita Retu M

113224016

Ria Inus S

113224020/

M.Sholachuddin

113224022

Dina Mila T

113224028/

Yonita Fadila

113224201

Usayidah

113224204/

Ria Septitis

113224208

Universitas Negeri Surabaya


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Fisika
2015

SUB BAB 1

Peluruhan Spontan
A. Kondisi pada peluruhan spontan
A
Tinjau inti Z X dengan massa Mp kemudian mengalami peluruhan menjadi inti
lain

A4
Z2

Y dengan massa Md dan partikel alfa dari massa mx.


A
Z

A4
Z2

Y +

4
2

He

Karena inti induk diam sebelum peluruhan, anak partikel dan x-partikel harus
terpancar dalam arah yang berlawanan setelah peluruhan untuk menghemat
momentum (Gambar 1.1). Ei (Energi pada induk) dan Ef (Energi setelah terjadi
peluruhan) adalah total energi sistem sebelum dan sesudah peluruhan. Berdasarkan
prinsip energy.
Mp
(a) sebelum

Vd

Md

(a)Sesudah

Gambar 1.1(a) nukleus inti sebelum peluruhan dan (b) anak inti dan partikel alfa
bertumbukan saling menjauh.
Ei= Ef

1.1

atau
Mpc2+Kp= Mdc2+Kd+Mzc2+Ka
Mpc2+0 = Mdc2+Kd+Mzc2+Ka
Kd + Ka= Mdc2+Mzc2- Mpc2

1.2

dimana Kp adalah energi kinetik dari inti induk partikel, tetapi karena induk
partikel dalam keadaan diam maka nilai K p = 0. Kd dan Ka adalah energi kinetik
dari inti anak partikel dan partikel alfa. Dengan demikian energi disintegrasi, Q,
pada proses ini diberikan sebagai berikut:
Q = Kd+Ka = (Mp-Md-Ma)c2

Peluruhan Alfa

Page 2

1.3

Untuk peluruhan spontan, Q harus positif. Dari Persamaan (1.3), sehingga kita
dapat menyimpulkan bahwa peluruhan akan berlangsung hanya jika jumlah
massa pada inti induk yang dalam kondisi diam lebih besar dari jumlah massa sisa
inti anak partikel kemudian ditambah dengan partikel alfa.
B. Energi kinetik dari bagian partikel alfa
Dari kekekalan momentum dan kekelan energi, kita telah lihat pada (gambar 1.1)
p1= p2
MpVP = Mv - Mdvd

(vd Bernilai negatif karena bergerak ke arah


kiri)
0 = Mv - Mdvd
Mva = Mdvd

(Vp bernilai nol karena inti induk diam)

dan
Q = Kd+Ka=

M v
Md

vd

1
2

MdVd2+

1
2 mava

1.6
dimana rx dan Vd adalah kecepatan dari partikel alfa dan inti partikel. Dengan
substitusi Vd dari persamaan (1.5) ke persamaan (1.6), kita mendapatkan
1
1
Q = 2 Md(Mzvz/Md)2 + 2 mzvz2
=

1
2

Q = Kx

Kx=

mz
mzvz2+ ( M d +1)

mz
+1)
Md

1.7

Q
1+ ( M z / M d )

1.8
Jika A dan A-4 adalah nomor massa dan inti, masing-masing, m x / Md = 4 / (A-4),
dan Pers. (1.8) menjadi

Peluruhan Alfa

Page 3

Kz =

A4
Q
A

1.9
Untuk nilaiyang besar A, A-4 / Ahampir kesatuan, dan partikel alfa, sebagai
hasilnya, akan mengambil sebagian besar energi disintegrasi, Q, tetapi tidak secara
keseluruhan.

Peluruhan Alfa

Page 4

SUB BAB 2

Pengukuran Energi dari Partikel Alfa


Terdapat dua hal penting dalam penentuan secara akurat energi partikel alfa;
pertama, untuk meningkatkan teori yang mengatur peluruhan alfa, dan kedua, untuk
membangun skema tingkat energi nuklir yang tepat. Banyak teknik yang telah
digunakan untuk melakukn pengukuran energi partikel alfa.Metode yang deskripsinya
telah dijelaskan, pada kenyataannya, dapat digunakan untuk setiap partikel bermuatan
berat seperti proton, neutron, dan sejenisnya. Metode tersebut dapat dikategorikan
sebagai berikut : (a) defleksi magnetik, (b) berkisar energi hubungan, dan (c) analisis
pulsa-tinggi
A. Defleksi Magnetik
Salah satu metode tertua dan paling tepat untuk penentuan energi adalah
pengukuran defleksi dari jalur partikel alfa di bawah pengaruh medan magnet.

+++++++++++++++++++++++++++++++++

Muatan

Pengamat

------------ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Gambar 2.1 Penembakan muatan partikel alfa pada dua plat


Gambar 2.1 diatas menjelaskan eksperimen pada dua plat yang dialiri listrik.
Terdapat muatan partikel alfa yang ditempakkan pada dua plat yaitu plat positif
dan plat negatif. Pengamat tidak mampu melihat berkas partikel alfa yang
ditembakkan karena arah dari muatan partikel alfa jatuh kebawah (kearah plat
negatif). Berkas partikel alfa jatuh sesuai dengan arah arus listrik yang dialiran
pada plat tersebut yaitu dari positif ke negatif. Pengamat hanya mampu melihat
berkas partikel alfa yang sejajar dengan posisi pengamat. Gaya yang berlaku pada
dua plat tersebut adalah sebagai berikut :

Peluruhan Alfa

Page 5

Fe =qE

(2.1)

dimana :
Fe

= Gaya Electric (Gaya Listrik)

= Muatan

E = Medan Listrik

++++++++++++++++++++++++++++++
+++
Medan

Magne
t

Ketikapartikelbergerakbermuatan di ujungkanan
x

Muatan

x
x

Pengamat

------------ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Gambar 2.2 Terdapat medan magnet yang berfungsi membelokkan arah dari
muatan alfa
Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa medan magnet berfungsi untuk
membelokkan arah muatan partikel alfa. Muatan partikel yang ditembakkan
melewati garis lurus dari pengamat, sehingga pengamat dapat melihat muatan
partikel alfa yang ditembakkan.Kecepatan partikel alfa adalah konstan, sehingga
percepatannya bernilai 0. Gaya yang berpengaruh pada eksperiment tersebut
adalah gaya listrik dan gaya magnet, maka persamaannya menjadi :
F=m. a
F=m.0
Fe + F m=0
Fe =F m

Peluruhan Alfa

Page 6

Fe =F m
qE=qvH

(2.1)

Persamaan diatas tidak digunakan dalam pembahasan sub bab pada makalah
ini,karena pembahasan pada sub bab masalah ini menitik beratkan pada
pembelokan partikel alfa karena pengaruh medan magnet. Jadi gaya yang
digunakan adalah gaya medan magnet, sehigga perumusannya menjadi :
F=m. a

qvH =

mv
r

qH=

mv
r

v=

q
(Hr)
m

(2.3)
Energi kinetik yang berlaku pada persamaan ini adalah
1
K= mv 2
2
1
q
m
Hr
2
m

(2.4)

Karena pergerakan dari partikel sangat cepat sehingga berlaku rumus relativitas
sebagai berikut :
m=

v=

Peluruhan Alfa

m0

1v 2 /c 2

q
( Hr )
m
Page 7

q
m0

Hr

1v2 /c 2

v
qHr 1 2
c

m0

v=

qHr
v2
1 2
m0
c

maka energi kinetiknya adalah sebagai berikut:


1 2
k = mv
2
1
q
m
Hr
2
m

1 q2
2
m 2 Hr
2 m

q2 1v 2 /c 2 2
Hr
2 m0
v 2 m02 1v 2 /c 2

v
2 1 2 . m0
c
2

1 v m0
2 1v 2 / c2

(2.5)
B. Range energy relationship

Peluruhan Alfa

Page 8

Kisaran partikel alfa dapat diukur dengan memanfaatkan ruang awan, piring
emulsi nuklir, atau ruang sebagai ion.Gambar 1.5 menunjukkan foto jejak partikel
alfa dalam ruang hampa.

Gambar 2.3 Tracks of alfa particles from thorium (C+C) in a Wilson Cloud
Chamber showing the two ranges Rutherford, Chadwick, and Ellis.

Gambar 2.4 Tracks of alfa particles of about 50 range in various emulsion


plates : a) Ilford C2 emulsion, b) Ilford El emulsion.
Gambar 2.4 menunjukkan jalan partikel alfa di piring emulsi nuklir. Jika kisaran
tersebut diukur, adalah untuk mendapatkan energy partikel alfa dari hubungan
jarak-energi, yang akan kita bahas secara rinci pada bagian berikutnya. Bentuk
modifikasi dari ruang ionisasi (juga dibahas dalam bagian berikutnya) adalah
perangkat yang nyaman untuk mengukur rentang partikel alfa.

Peluruhan Alfa

Page 9

c. High pulse analysis


Prinsip metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa ukuran pulse yang dihasilkan
sebanding dengan energy partikel alfa. Ini dapat dicapai dalam tiga cara yang
berbeda.
(i) dengan menggunakan total ruang pengion atau counter proporsional,
(ii) dengan menggunakan counter solid state,
(iii) dengan menggunakan pencacah sintilasi

Gambar 2.5. Pulse height spectra of alfa particles from a source containing Am241,
Am243, and Cm244 obtained by using a solid state detector of 25 mm2 sensitive area

Gambar 2.6. Pulse height spectra of alfa particles from the U230 series, obtained by
using a NaI crystal.

Peluruhan Alfa

Page 10

Gambar 2.5 dan 2.6 menunjukkan alfa spektrum (Am241 + + Am243 Cm244) danseri
U230 diperoleh dengan menggunakan counter solid state dan pencacah sintilasi,
masing-masing. Perhatikan perbedaan yang nyata dalam resolusi dua detektor

Peluruhan Alfa

Page 11

SUB BAB 3

Jarak dan Ionisasi


Pengukuran rentang merupakan metode yang mudah dan akurat untuk menentukan energi
partikel yang bermuatan. Partikel bermuatan bergerak lalu menyerap atau kehilangan energi
kinetik sebesar interaksi elektromagnetik dengan elektron dari atom yang menyerap. Jika
bertabrakan, sebuah elektron mendapatkan energi yang cukup, mungkin benar-benar
melepaskan diri dari atom. sebaliknya elektron yang tersisa dalam keadaan batas-terlarang.
Dalam pembahasan berikut istilah "ionisasi" akan berarti baik tingkat terikat dan terikat
eksitasi. Energi rata-rata yang dibutuhkan untuk ionisasi disebut potensial ionisasi rata-rata,
dan dilambangkan dengan I.
Kisaran partikel alfa dapat didefinisikan sebagai jarak perjalanan dari sumber ke titik
di mana energi kinetik adalah nol. Tergantung pada metode pengukuran nilai kisaran akan
sedikit berbeda. Ada tiga jenis kisaran antara lain: Kisaran ekstrapolasi, berbagai rata-rata,
dan rentang ionisasi. Nilai kisaran bergantung pada energi kinetik inti dari partikel
bermuatan, serta jenis bahan penyerap. Standar penyerapan di udara yaitu pada 15C dan 760
mmHg.
A. Pengukuran Kisaran Partikel Alfa
Untuk pengukuran akurat dari rentang partikel alfa di udara ditunjukkan oleh
percobaan Holloway dan Livingstone pada tahun 1938 dan ditunjukkan pada Gambar.
2.6. dimanaTerdiri dari ruangan ionisasi dangkal yang terisolasi (kedalaman 1-2 mm).
Kedalaman ruang dapat diubah dengan memasang kembali pelat pada sekrup 1 mm pitch,
yang menentukan kedalaman dengan akurasi yang lebih dari 0,005 mm. Pelat belakang
bergerak, yang terhubung ke amplifier, merupakan piringan kuningan dengan diameter
3/4 inci dan dikelilingi oleh cincin penjaga.Bagian depan. yang membentuk elektroda
potensial tinggi, adalah layar nikel tenunan erat dengan lubang persegi panjang 0,20 x
0.40 mm. Sumber partikel alfa dipasang diantara mesin penjaga yang tegak lurus dengan
ruangan (chamber).Jarak antara ruang dan sumber dapat diubah dengan memindahkan
sekrup baja. Celah ditempatkan di depan sumber untuk mendapatkan sinar collimated
partikel alfa atau untuk memfokuskan sinar.

Peluruhan Alfa

Page 12

Gambar 3.1 Tabung ionisasi untuk pembuktian adanya sinar alfa (Hordway, M. G. And M. S.
Livingston, Phys. Vol.54, pp. 18, 1938)
Ketika sumber memancarkan partikel alfa, partikel alfa akan masuk dalam ruang
ionisasi. Dimana dalam ruang ionisasi ini akan terjadi tabrakan antar partikel yang
menyebabkan partikel akan mengalami proses ionisasi, yaitu proses pelepasan atau
pengikatan electron. Laju hitungan diukur untuk jarak yang berbeda antara sumber
danbagian depanruang. Kurva 3.2 menunjukkan kurva jarak untuk Po210 partikel alfa
(hanya bagian ujung kurva yang ditampilkan). Itu menunjukkan bahwa jumlah partikel
alfa mencapai ruangan tetap konstan untuk jarak sekitar 3,7 cm,setelah itu laju hitungan
jatuh sangat tajam menjadi sekitar 3,85 cm dan kemudian menuju nol.Kisaran
ekstrapolasi, Rcdidefinisikan sebagai jarak dari titik asal ke titik di mana bersinggungan
ditarik ke kurva A. pada titik belok, memotong sumbu jarak. seperti ditunjukkan pada
gambar. 3.2 untuk Po210 partikel alfa, Rc = 3,897 cm.
Kurva B pada gambar 3.2 disebut kurva kisaran diferensial dan diperoleh dengan
mengambil turunan dari nomor - kurva jarak A pada jarak yang berbeda. kurva yang
R
dihasilkan menunjukkan maksimum pada titik infleksi A. kisaran rata-rata, ,
didefinisikan sebagai jarak dari asal ke maksimum kurva kisaran diferensial. dalam hal ini

R 3,482

cm. Sebuah makna penting dari kisaran rata-rata adalah bahwa setengah dari
R

partikel alfa memiliki rentang lebih dari dan kurang dari setengah
lebih sering digunakan daripada kisaran ekstrapolasi.

Gambar 3.2 Kurva Kisaran Differensial


B. Terurai
Peluruhan Alfa

Page 13

. kisaran rata-rata

Sebagaimana telah disebutkan,bahwa partikel alfa kehilangan energy melalui proses


ionisasi dan eksitasi.kehilangan energy, terjadi dalam jumlah diskrit dan akan
menunjukkan fluktuasi statistik tentang rata-rata atau kisaran yang paling mungkin. ini
cukup jelas dari kurva A dan B pada Gambar 3.2 yang menunjukkan bahwa semua
partikel alfa tidak memiliki range yang sama. Jika semua partikel alfa memiliki range
yang sama, akan ada penurunan di akhir. Fluktuasi dalam range disebut range straggling
(kisaran terurai). efek kisaran terurai juga terlihat dari gambar. 2.1 , yang menunjukkan
bahwa semua tracks tidak memiliki panjang yangsama. kurva distribusi B dapat
diperkirakan ketat oleh fuction gausian , yaitu
2

f ( x)dx=(1 / )e(R x)2/ x dx

(3.1)

Dimana f(x)dx adalah nomor fraksi total yang mempunyai kisaran akhir antara xdan
x+dx,

adalah mean range, dan x adalah parameter range straggling. yang terakhir

R
didefinisikan sebagai setengah dari lebar kurva distribusi pada 1/e maksimal, dan /
adalah koefisien dimensi dari range straggling yang disimbolkan dengan .
Menggunakan persamaan (3.1) kita dapat menunjukkan bahwa kuantitas S, yang
didefinisikan sebagai selisih antara kisaran rata-rata dan kisaran ekstrapolasi, diberikan
oleh
1

S= RR
c =
(3.2)
2

Untuk partikel alfa Po210, nilai eksperimen dari = 0,060 cm memberikan S = 0,055 cm.
R

S juga dapat dihitung langsung dari selisih antara dan Rc, dalam kondisisuhu dan
tekanan standar, memberikan S = 0,070cm . yang dihitung dari gradien garis lurus yang
digunakan dalam interpolasi perhitungan nilai setengah maksimum, S = 0.074 cm. dengan
demikian, stragglingparameter total untuk partikel alfa Po210 diberikan oleh
1
t 0,074 / 0,084cm
2
Total pengamatan straggling ini sebenarnya jumlah dari banyaknya bagian efek
straggling, beberapa diantaranya adalah: (i) range straggling, (ii) noise straggling, (iii)
ionization straggling, (iv) angular straggling, (v) chamber-dept straggling, (vi) source
straggling.
C. Kisaran Ionisasi
Perhitungan dari kisaran dan ionisasi sepanjang garis dari partikel alfa dapat
digunakan untuk menghitung energi awal. Didefinisikan ionisasi spesifik sebagai jumlah
ionisasi persatuan panjang dari garis balok. Relatif spesifik ionisasi dihasilkan oleh sinar
partikel alfa pada jarak yang berbedadari sumber dapat diukur dengan bantuan ruang
ionisasi dan gkal yang dijelaskan sebelumnya. Untuk tujuan ini, amplifier dari ruang
Peluruhan Alfa

Page 14

ionisasi dirancang sedemikian rupa sehingga ketinggian pulsa tegangan keluaran


sebanding dengan jumlah pasangan ion yang terbentuk dalam tabung. Plot ionisasi
spesifik terhadap jarak dari akhir rentang disebut kurva Bragg. Dua kurva tersebut untuk
Po210 dan Po214 alpha partikel ditunjukkan pada gambar 3.3 (kurva pada gambar 3.2 juga
merupakan kurva Bragg). Kurva tersebut menunjukkan bahwa ionisasi relatif spesifik
tetap konstan sampai jarak tertentu, naik dengan cepat dan diikuti oleh penurunan tajam.
Partikel alfa Po214 memiliki massa yang lebih besar dari Po210. Untuk mencapai ionisasi
yang sama besar, Po214 memerlukan waktu yang lebih lama dan jarak yang lebih jauh serta
dengan kecepatan yang lebih rendah dari Po210. kisaran ionisasi ekstrapolasi, Ri,
didefinisikan sebagaijarakdari titik asal ketitik dimana kurva ionisasi bersinggungan, pada
titik infleksi, memotong sumbu axis. Dari kurva D pada gambar 3.1 kita mendapatkan
Ri=3,870cm.
Pada kurva 3.3 dimana koreksi telah dibuat untuk kedalaman ruang yang terbatas.
Dalam hubungan ini kita mendefinisikan perbedaan ionisasi spesifik sebagai nilai yang
didekati oleh ionisasi spesifik. Dalam semua diskusi kita sebelumnya, kita telah
membahas tentang jenis dari tabrakan. Ketika partikel bermuatan dengan energi tinggi

bertabrakan dengan elektron, Sebagian besar dari energinya diberikan kepada elektron
dalam tabrakan tunggal. Elektron yang dihasilkan dengan cara ini disebut sinar delta.

Peluruhan Alfa

Page 15

Gambar 3.3 Kurva Bragg (Rutherford, et. Al.,


1930)

Gambar 3.4 Koreksi Kurva Bragg (Holloway. M.


G, 1938)

Peluruhan Alfa

Page 16

SUB BAB 4

Stopping Power dan Jangkauan Rata-rata Energinya


Stopping Power adalah besarnya sejumlah energi yang hilang oleh partikel dalam
bahan tertentu karena terjadi penyerapan partikel bermuatan oleh bahan per satuan
panjang.Contohnya : Saat pancaran sinar alfa dihalangi oleh Timbal, maka pancaran sinar alfa
tidak dapat tembus. Diketahui rumusan Stopping Power sebagai berikut:
S ( E )=

dE
=I
dx

(4.1)

Dimana S(E) adalah fungsi energi kinetik dari partikel E, nilainya berbeda untuk
material yang berbeda pula. I adalah nilai rata-rata ionisasi jenis khususnya dalam hal
jumlah pasangan ion yang dibentuk per satuan panjang. adalah energi yang dibutuhkan

untuk menghasilkan pasangan ion.

dE
dx adalah laju dari hilangnya energi partikel

bermuatan dalam melewati bahan. Jika nilai stopping power diketahui jangkauan rata-rata
energinya dapat dihitung sebagai berikut.
R

( )

= dx= dE
R
dx
0
0

dE=
0

Sebaliknya, jika jangkauan rata-rata

dE
S(E)

(4.2)

energi partikel alfa pada media perantara

dari stopping power S(E) diketahui. Jangkauan rata-rata

adalah jarak r yang

berhubungan dengan titik maksimum dan kurva integral , energinya bisa dihitung sebagai
berikut.
R

E=
0

Peluruhan Alfa

dR
( dE
dx )

Page 17

(4.3)

Jika diketahui jangkauan energi stopping power sebagai fungsi dari energi(muatan
dan massa ion) pada bahan maka memungkinkan juga untuk mencari nilai stopping power
dari suatu bahan sebagai berikut:
dR
1
=
dE S ( E)

(4.4)

Penghitungan stopping power tidak perlu dilakukan secara eksperimental untuk


penyerap yang berbeda , karena dapat dihitung secara teoritik baik dari mekanika klasik
maupun mekanika kuantum. Interaksi antara partikel bermuatan dan elektron atom mirip
dengan Coulomb. Jika ion berkurang muatannya dengan cara mengambil selama melewati
materi, maka interaksi Coulomb dan laju hilangnya akan berkurang. Besarnya daya penghenti
dapat ditentukan dengan persamaan yang diturunkan berdasarkan mekanika kuantum dan
relativitas.
(4.5)
Dimana adalah kecepatan partikel, z adalah nomor atom dan e adalah muatan
elektron, dan m adalah massa elektron, N adalah jumlah atom per satuan volume dalam
penyerap, Z adalah nomor atom penyerap, I adalah potensial ionisasi efektif. adalah v/e, c
adalah kecepatan cahaya, adalah fraksi rata-rata elektron atom penyerap diambil oleh ion
positif . Jika energi kinetik ion positif sangat kecil dibandingkan dengan energi massa
rehatnya atau <<< 1, maka persamaan (4.5.1) dapat direduksi menjadi
S ( E )=

dE 4 z 2 e 4
2 m v2
=
NZ
ln
dx
I
m v2

) ( )

(4.6)

Dari persamaan tersebut diketahui bahwa laju hilangnya energi semua partikel
bermuatan yang bergerak dengan laju yang sama pada suatu penyerap adalah berbanding
lurus dengan kuadrat muatannya. Dengan demikian laju hilangnya energi proton yang
berenergi E, deuteron yang berenergi 2E, dan triton yang berenergi 3E adalah sama satu
dengan yang lain, dan sama dengan seperempat 3He yang berenergi 3E atau partikel alfa
berenergi 4E. Ketentuan tersebut berlaku jika radiasi ion positif dapat mengambil
(mengosongkan) semua elektron dari atom penyusun penyerap (=l) dan hilangnya energi
karena penghentian nuklir dapat diabaikan. Ion-ion yang sangat ringan seperti hidrogen dan
helium dapat mengambil dan mengosongkan semua elektronnya pada energi diatas
Peluruhan Alfa

Page 18

MeV/amu.Untuk boron sampai dengan neon, energi yang diperlukan sekitar 10 MeV/amu,
sedangkan untuk uranium mendekati beberapa ratus MeV/amu.
Seperti yang dijelaskan pada persamaan di atas, stopping power adalah fungsi dari
kecepatan. Stopping power relative yang dimana kecepatannya sendiri didefinisikan sebagai
rasio stopping power dari penyerap untuk beberapa penyerap standar. Jika di bawah 0
menunjuk ke substansi standar maka
relative stopping power (RSP )=

S(E)
Zln ( 2 mv 2 ) ln I
2
2
=
r = r
S 0 ( E) Z 0 ln ( 2 m v 2 )ln I 0

(4.7)

Juga

RSP=

S( E)
jangkauan partikel alfa( )diudara
=
S 0 (E) jangakauan partikel alfa( ) peredam

(4.8)

Secara eksperimental, kita akan lebih tertarik untuk mengetahui ketebalan suatu bahan
yang diperlukan untuk menyerap sejumlah partikel alfa. Hal ini biasanya disebut ketebalan
setara pada satuan mg/cm2 yang didefinisikan sebagai
equivalent t h ickness

mg
=range x density x 1000
2
cm

(4.9)

Jika stopping power relatif bahan dan jangkauan selanjutnya di udara diketahui,
ketebalan setara bisa dihitung dengan menggunakan persamaan (4.8) dan (4.9).

Peluruhan Alfa

Page 19

SUB BAB 5

Theori Yang Menghentikan Peluruhan


Beban patikel yang melalui penyerapan akan menghilangkan energi
ionisasi atom yang terserap, energi dapat hilang dari ketinggian,
serta menghentikan energi yang dapat memperhitungkan dalam
teori energinya dalam bentuk energi yang berhenti didasarkan dari
mekanikal klasik dari niels bohr dan H. Bethe, jadi penjelasan
tersebut dengan pendekatan mekanikal kuantum, jadi F. Bloch pada
tahun 1993 dan memasukkan kembali hukum bohr dan bethe yang
memiliki tempat yang terbatas, seharusnya menunjukkan point
yang klasik lalu menggantikan dari mekanikan kuantum
Kejadian beban partikel massa M dijadikan ke ze dan kecepatan c,

Gambar 5.1 Hubungan antara partikel alfa dengan atom berelektron


Ukuran dari partikel menunjukkan ukuran yang kecil gambar 1.13
hanya t=0 waktu yang wewakili yang memiliki asal mula partikel
untuk memiliki asal yang mudah, ini membuat banyak
kemungkinan:
(i)

Partikel yang dibebankan sangat baik dan, sebab kecepatan


yang tinggi, yang mana memiliki penyerapan yang kecil
hubungan yang kuat. Semua itu dapat menghilangkan energi
ionisasi dan menarik atom untuk menyerap juga, ini semua
mengasumsikan
dapat
diatur
dengan
menggunakan
mekanikal klasik dan hubungan relativistik yang di inginkan.
Ini membuktikan bahwa partikel alfa hilang kurang lebih
sebesar 10 Mev.

Peluruhan Alfa

Page 20

(ii)

Elektron yang diserap akan bebas. Selama gerak elektron


posisinya tetap.ini menunjukkan kecepatan partikel bagus lalu
kecepatan elektron terdapat di atom

Dari masalah yang alami gambar 1.13 komponen x memberi


elektron pada elektron yang nol. Ini menyebabkan kontribusi
pendekatan 0 ditiadakan ketika partikel dari i

Fxdt= Fxdt

(5.1)

Dimana F adalah x componen untuk gaya F=ze2/r2. Komponen y


adalah momentum yang memberikan elektron.

Py =

Fydt=

Z e2
sin dt
r2

( )

(5.2)

Untuk mengganti yang berhubungan dengan variable gambar 5.1


Sin = b/r

-vt/b = cos

dt = (b/v) csc2
dari persamaan 1.22 dan integrasi, kita dapatkan
Py = 2Ze2/bv
(5.3)
Energi yang memberikan elektron tunggal jarak b, selama,
2

Ee =

P y
2m

2 Z2 e 4
mb2 v 2
(5.4)

Jika NA adalah bilangan avigadro, maka (ZpNA)/A nomer elektron


yang memiliki volume penyerapan, sebab tabung simetri
bermasalah, elektron memiliki radi i b dan b + db dan panjang dx
menunjukkan gambar 5.2
dN = 2b db dx(ZNA/A)
(5.5)

Peluruhan Alfa

Page 21

Gambar 5.2 area representasi silinder radius b, ketebalan db, dan


panjang dx
dari persamaan 1.24 dan 1.25 energi hilang dengan panjang dx dan
ketebalan db
-dE(b) = 2 b db dx

Z Na 2 Z 2 E2
Am b 2 v2
(5.6)

Sehingga total energi yang hilang per satuan unit panjang elektron
semuanya terikat pada kulit dengan dampak parameter minimum adalah
b min dan dampak maksimum parameternya adalah bmax
2

bmax

dE 4 z e NapZ
db 4 z e NZ bmax
=
ln

2
2
- dx =
bmin
mv A
mv
bmin b

Dimana

pNa
A

(5.7)

dapat diganti dengan N, nomer atom per unit yang

menyerap.Oleh karena itu, dapat menghitung nilai b min san b


max.seharusnya untuk menghentikan peluruhan ada berbagai
caratetapi kita menggunakan simple classic method.
Nilai minimum yang dapat dihitung dari clasikal maxsimum
kecepatannya dapat menanamkan elektron dengan kondisi 2v, ini
edalah energi,
Ee

m (2v)2 = 2mv2
(5.8)

Dan dari persamaan 5.3 dan 5.4


b min = ze2 /mv2

(5.9)

Nilai maksimum b dapat menghitung dengan mengasumsikan


elektron terjadi tabrakan, elektron dapat terikat, dan rata rata
energi minimum, b max dapat di hitung dengan ,
Peluruhan Alfa

Page 22

I = 2z2e4/mbmax2v2
bmax = ze2/v(2/mI)1/2
(5.10)
Untuk alternatif b max/bmin didapatkan dari pendekatan mekaanika
kuantum.
Nilai bmin : gelombang dengan elektron dan kecepatan v didapatkan

1b2

= h/p = h

m0 v

Ini terjadi valid, yang manahanya hukum colom partikel yang terjadi
tidak ada dimensi yang lain
(bmin)Q,M

1b2
m0 v

Nilai bmax dari poin relativistik, waktu untuk melanjutkan pulsa


memberikan elektron serta arah partikel,
b

Jika 1/ < v ,

1b2 / v

yang mana frekuensi elektron, elektron tidak dapat

menyerap energi, untuk menyerap menggunakan


1/v

1b2 / v

Atau
bmax = v/v b

1b2

Dimana v merupakan rata rata frekuensi elektron. Ini dapat


menunjukkan rasio elektron bmak/bmin diperoleh dari pengolahan
clasikal yang sama.
Dari mengkombinasi 5.12, 5.13, dan 5.14 maka didapatkan
2

4z e
NZ ln(2 mv 2 / I )
2
S = -dE/dx =
mv
(5.11)

Peluruhan Alfa

Page 23

Jika penentuan relativistik terjadi energi tinggi akan mengambil


pemikiran mengikuti.
S = -dE/dx =

4 z2 e4
2m v 2
v2 v2
NZ
[ln
ln
1
]
I
m v2
c2 c2

) (

(5.12)
Dimana mo adalah massa elektron. Massa yang datang
menimbulkan partikel tidak mengalir, nilai berasal dari biaya partikel
alfa, deutron, proton, mesons, dan yang keempat. Membandingkan
teorema yang menghentikan energi dengan hasil percobaan,
dengan pertimbangan partikel alfa z=2, untuk mengambil dari
2
S(E) = -dE/dx = 16 e4/mv2 NZ ln (2 m v / I )

(5.13)
Dengan menulis didapatkan
m v2
S(E) = - 16 e 4 N dE/dx =

NZ ln (2 m v 2 / I )

(5.14)
Untuk nilai S(E) gambar 5.3 menunjukhan hubunagn antara S(E)
dengan Z. Garis padat gambar 5.2 yang mana membuka poin.
Menggunakan antara teori dan percobaan yang terbaik,
menggunakan ekspresion, A. Beiser menghitung energinya berhenti
yang berbeda, nilai dari gambar 5.4 untuk alfa partikel, deutron,
proton, pimesons, mu-mesons, dan elektron, menggunakan
penyerapan.

Peluruhan Alfa

Page 24

Gambar 5.3 Verifikasi dari penjelasan energi stopping

Peluruhan Alfa

Page 25

Untuk menghentikan energi yang berasal tidak dapat mengalir


sesuai dengan partikel, untuk contoh partikel alfa tidak kurang dari
5Mev dan energi poton yang kurang dari 1,3 Mev. Teori yang tidak
disetujui untuk memberikan energi yang fakta yang menutupi dan
elektron yang hilang, yang mana mendatangkan energi lemah yang
menonjol, serta tidak dapat mengambil perhatian.

Gambar 5.4 plot dari dE/dx dalam MeV di


udara untuk differensial partikel

Peluruhan Alfa

Page 26

DAFTAR PUSTAKA
Array, Atam P., tahun...., Judul...... pp. 189-198
Buechner, W. W. 1995. Program Nuclear Physics..Vol.5, p.1
Hinds, S., and R. Middleron. 1959. Proc. Physics Society. Vol.73, p.501
Rutherford, Chadwick, and Ellis. 1930. Radiaion from radioactive substances.
New York: Cambridge University Press
Blankenship, J. L., and C. J. Borkowski, I. R. E. 1961. Trans. NS-8, p. 17
Stephen, F. Jr., F. Asaro, and I. Periman. 1954. Physics Rev. Vol.96, p. 1568
Holloway, M. G., and M. S. Livingston. 1938. Physics Rev. Vol.54, p. 18
Kaplan, I. 1963. Nuclear Physics. Reading, Mass.:Addison Wesley Publishing Co., p.
315
Beiser, A. 1952. Revsl Modern Physics. Peluruhan Alfa. Vol.24, p. 273

Peluruhan Alfa

Page 27