Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN An. N DENGAN CAP (Community Acquired Pneumonia)


DI RUANG MELATI 2 RSUP Dr. SARDJITO
Tugas ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas PKK Keperawatan Anak

OLEH :
Anisah Devi Shintarini (2520142427 / 02)
3A

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan ini disusun untuk memenuhi Tugas PKK Keperawatan
Anak Semester V di Ruang Melati 2 RSUP Sardjito, yang disahkan pada :
Hari

: Selasa

Tanggal

: 13 Desember 2016

Tempat: di Ruang Melati 2 RSUP Sardjito

Praktikan

(Anisah Devi Shintarini)

Pembimbing Lahan

Pembimbing Akademi

BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
atau alveoli. Terjadi pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan
dengan proses infeksi akut pada bronkus, sehingga biasa di sebut dengar
broncho nomonia. Gejala penyakit tersebut adalah nafas yang cepat dan sesak
karena paru-paru meradang secara mendadak.
Pneumonia adalah penyakit umum di semua bagian dunia. Ini adalah
penyebab utama kematian di antara semua kelompok umur. Pada anak-anak,
banyak dari kematian ini terjadi pada masa neonatus. Organisasi Kesehatan
Dunia memperkirakan bahwa satu dari tiga kematian bayi baru lahir
disebabkan pneumonia. Lebih dari dua juta anak balita meninggal setiap
tahun di seluruh dunia. WHO juga memperkirakan bahwa sampai dengan 1
juta ini (vaksin dicegah) kematian yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus pneumoniae, dan lebih dari 90% dari kematian ini terjadi di
negara-negara berkembang.
Pneumonia sering terjadi pada anak usia 2 bulan 5 tahun, pada usia
dibawah 2 bulan pneumonia berat di tandi dengan frekuensi pernafasan
sebanyak 60 kali/menit juga disertai penarikan kuat pada dinding dada
sebelah bawah kedalam. Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala
seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu memuntahkan semuanya,
kejang dan terdapat tarikan dinding dada kedalam dan suara nafas bunyi
krekels (suara nafas tambahan pada paru) saat inspirasi. Kasus terbnyak
terjadi pada anak dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak pada bayi yang
berusia kurang dari 2 bulan. Apabila anak diklasifikasikan menderita
pneumonia berat di puskesmas atau balai pengobatan, maka anak perlu segera
dirujuk setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai.
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas masalah pneumonia,
agar dapat memberikan manfaat untuk kita semua.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan unutuk pasien pneumonia.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian pneumonia.
b. Mengetahui bagaimana anatomi dan isiologi pneumonia.
c. Mengetahui etiologi pneumonia.
d. Mengetahui patofisilogi pneumonia.
e. Mengetahui klasifikasi pneumonia.
f. Mengetahui penatalaksanaan pneumonia.
g. Mengetahui diagnosis pneumonia.
h. Mengetahui komplikasi pneumona.
i. Mengrtahui asuhan keperawatan pneumonia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan
adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. {Muttaqin,
Arif. 2009)
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru dimana asinus terisi
dengan cairan radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke
dalam interstitium, menyebabkan sekumpulan gejala dan tanda khas biasanya
dengan gambaran infiltrat sampai konsolidasi pada foto rontgen dada.
Gejala/tanda tersebut antara lain, demam, sesak napas, batuk dengan dahak
purulen kadang disertai darah dan nyeri dada (Muttaqin, Arif. 2009)
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang.
Kantung-kantung

kemampuan

menyerap

oksigen

menjadi

kurang.

Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja. Gara-gara


inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita pneumonia bisa
meninggal (Muttaqin, Arif. 2009)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkhiolus terminalis yang mencakup bronkhiolus respiratorius, dan alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan mengganggu pertukaran gas
setempat. Istilah pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses
infeksi akut yang merupakan penyebab tersering, sedangkan istilah
pneumonitis sering dipakai untuk proses non infeksi (Muttaqin, Arif. 2009)
Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada
masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul
sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi.
(Muttaqin, Arif. 2009)
B. Etiologi Pneumonia
Pneumonia bisa diakibatkan adanya perubahan keadaan pasien seperti
gangguan kekebalan dan penyakit kronik, polusi lingkungan, dan penggunaan

antibiotik yang tidak tepat hingga menimbulkan perubahan karakteristik pada


kuman. Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia,
dan hal ini berdampak kepada obat yang akan di berikan. Mikroorganisme
penyebab yang tersering adalah bakteri, yang jenisnya berbeda antar Negara,
antara suatu daerah dengan daerah yang lain pada suatu Negara, maupun
bakteri yang berasal dari lingkungan rumah sakit ataupun dari lingkungan
luar. Karena itu perlu diketahui dengan baik pola kuman di suatu tempat.
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi antara lain:
1. Bakteri
Agen penyebab pneumonia di bagi menjadi organisme gram-positif atau
gram-negatif seperti:
a. Steptococcus pneumonia (pneumokokus)
b. Streptococcus piogenes
c. Staphylococcus aureus
d. Klebsiela pneumoniae
e. Legionella
f. Hemophilus influenzae.
2. Virus
Influenzae virus antara lain
a. Parainfluenzae virus
b. Respiratory
c. Syncytial adenovirus
d. Chicken-pox (cacar air)
e. Rhinovirus
f. Sitomegalo virus
g. Virus herves simplek
h. Virus sinial pernapasan
i. Hantavirus.
3. Fungi
a. Aspergilus
b. Fikomisetes
c. Blastomises dermatitidis
d. Histoplasma kapsulatum.
(Muttaqin, Arif. 2009)
Selain disebabkan oleh infeksi, pneumonia juga bisa di sebabkan oleh bahanbahan lain/non infeksi :
1. Pneumonia Lipid : Disebabkan karena aspirasi minyak mineral
2. Pneumonia Kimiawi : Inhalasi bahan-bahan organik dan anorganik atau
uap kimia seperti berillium

3. Extrinsik allergic alveolitis : Inhalasi bahan debu yang mengandung


alergen seperti spora aktinomisetes termofilik yang terdapat pada ampas
4.
5.
6.
7.

debu di pabrik gula


Pneumonia karena obat : Nitofurantoin, busulfan, metotreksat
Pneumonia karena radiasi
Pneumonia dengan penyebab tak jelas
Pada bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah:
a. Virus sinsisial pernafasan
b. Adenovirus
c. Virus parainfluenza
d. Virus influenza
(Muttaqin, Arif. 2009)

Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui :


1. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar.
2. Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain
3. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paruparu.
C. Klasifikasi pneumonia
1. Skema Klasifikasi Awal
a. Penumonia lobarik adalah infeksi yang hanya melibatkan satu lobus
atau bagian dari paru. Pneumonia lobarik sering disebabkan
streptococcus pneumonia.
b. Pneumonia multilobar melibatkan lebih satu lobus dan sering
merupakan penyakit yang lebih berat dari pneumonia lobarik.
c. Pneumonia interstistial melibatkan area diantara alveoli dan
mungkin disebut sebagai pneumonia interstial.
2. Skema klasifikasi kombinasi
a. Community acquired pneumonia
Community acquired pneumonia (CAP) adalah penumonia infeksius
pada seseorang yang tidak menjalani rawat inap dirmah sakit barubaru ini. CAP adalah tipe pneumonia yang paling sering. Penyebab
paling sering dari CAP berbeda tergantung usia seseorang, tetapi
mereka termasuk streptococcus pneumonia, virus, bakteri atipikal dan
haemophilus influenza. Streptococcus pneumonia adalah penyebab
paling paling umum dari CAP. Bakteri gram negatif menyebabkan
CAP pada populasi beresiko tertentu.
b. Hospital acquired pneumonia

Hospital acquried pneumonia, juga disebut pneumonia nosokomial


adalah pnemonia yang disebabkan selama perawatan dirumah sakit
atau sesudahnya karena penyakit lain atau prosedur. Penyebabnya
mikrobiologi, perawatan dan prognosis berbeda dari community
acquried pneumonia pasien rawat inap mungkin mempunyai banyak
faktor risiko untuk pneumonia, termasuk ventilasi mekanisme,
malnutrisi berkepanjangan, penyakit dasar jantung dan paru-paru,
penurunan

jumlah

asam

lambung

dan

gangguan

imun.

Mikroorganisme disuatu rumah sakit mungkin termasuk bakteri


resisten sperti: MRSA, pseudomonas, enterobacter, dan serratia.
Karena individu dengan Hospital acquired pneumonia biasanya
memiliki penyakit yang mendasari dan terekspos dengan bakteri yang
lebih berbahaya, cenderung lebih mematikan dripada Community
acquired pneumonia.
c. Ventilator associated pneumonia (VAP) adalah bagian dari Hospital
acquired pneumonia. VAP adalah pneumonia yang timbul setelah
minimal 48 jam sesudah intubasi dan ventilasi mekanis.

d. Tipe lain dari pneumonia


1) Severe acute respiratory syndrome (SARS)
SARS adalah pneumonia yang sangat menular dan mematikan.
SARS disebabkan olah SARS coronavirus, sebelumnya patogen
yang tidak diketahui.
2) Bronchiolitis obliterans organizing pneumonia (BOOP)
BOOP disebabkan oleh inflamasi dari jalan napas kecil dari paruparu. Juga dikenal sebagai cryptogenic organizing pneumonitis
(COP)
3) Pneumonia eosinofilik
Pneumobia eosinofilik adalah invasi kedalam paru oleh eosinofil,
sejenis partikel sel darah putih. Pneumonia eosinofilik sering
muncul sebagai respons terhadap infeksi parasit atau setelah
terekspos oleh tipe faktor lingkungan tertentu.
4) Chemical pneumonia
Chemical pneumonia (biasanya disebut chemical pneumonitis)
biasanya disebabkan toxin kimia seperti pestisida, yang mungkin
memasuki tubuh melalui inhalasi atau melalui konta dengan kulit.
Manakala bahan toxinnya adalah minyak, pneumonia disebut
lipoid pneumonia.
5) Aspiration pneumonia
Aspiration pneumonia (atau aspiration pneumnitis) disebabkan
oleh aspirasi oral atau bahan dari lambung, entah ketika makan
atau setelah muntah. Hasilnya inflamasi pada paru bukan
merupakan infeksi tetapi dapat menjadi infeksi karena bahan yang
teraspirasi mungkin mengandung bakteri anaerobic atau penyebab
lain dari pneumonia. Aspirasi adalah penyebab kematian dirumah
sakit.
(Muttaqin, Arif. 2009)

D. Manifestasi klinis
a. Kesulitan dan sakit pada saat pernapasan
b. Nyeri dada
c. Nafas dangkal (Takipnea) dan mendengkur

d. Bunyi napas diatas area yang mengalami konsolidasi: mengecil kemudian


e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

menjadi hilang, krekels, rhonki, egofoni


Gerakan dada tidak simetris
Menggigil dan deman 38,80C sampai 41,10C, delirium
Diafoesis
Anoreksia
Malaise
Batuk kental produktif
Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau

berkarat
l. Gelisah
m. Sianosis: area sirkumoral,dasar kuku kebiruan
E. Patofisiologi
Aspirasi mikroorganisme

yang

mengkolonisasi

sekresi

orofarinks

merupakan rute infeksi yang peling sering. Rute inokulasi lain meliputi
inhalasi, penyebaran infeksi melalui darah (hematogen) dari area infeksi yang
jauh, penyebaran langsung dari tempat penularan infeksi.
Jalan napas atas merupakan garis pertahanan pertama terhadap infeksi,
tetapi, pembersihan mikroorganisme oleh air liur, ekspulsi mukosiliar, dan
sekresi IgA dapat terhambat oleh berbagai penyakit, penurunan imun,
merokok, dan intubasi endotrakeal.
Pertahanan jalan napas bawah meliputi batuk, refleks muntah, ekspulsi
mukosiliar, surfaktan, fagositosis makrofag dan polimorfonukleosit (PMN),
dan imunitas selular dan humoral. Pertahan ini dapat dihambat oleh
penurunan kesadaran, merokok, produksi mukus yang abnormal (mis, kistik
fibrosis atau bronkitis kronis), penurunan imun, intubasi dan tirah baring
berkepanjangan.
Makrofag alveolar merupakan pertahanan primer terhadap invasi saluran
pernapasan

bawah

dan

setiap

harimembersihkan

jalan

napas

dari

mikroorganisme yang teraspirasi tanpa menyebabkan inflamasi yang


bermakna.
Bila jumlah atau virulensi mikroorganisme terlalu besar, maka makrofag
akan merekrut PMN dan memulai rangkaian inflamasi dengan pelepasan
berbagai sitokin termasuk leukotrien, faktor nekrosis tumor (TNF),
interleukin, radikal oksigen, dan protese.

Inflamasi

tersebut

menyebabkan

pengisian

alveolus

mengalami

ketidakcocokan ventilasi/perfusi dan hipoksemia. Terjadi apoptosis sel-sel


paru yang meluas, ini membantu membasmi mikroorganisme intrasel seperti
tuberkulosis atau klamidia, tetapi juga turut andil dalam proses patologis
kerusakan paru.
Infeksi dan inflamasi dapat tetap terlokalisir di paru atau dapat
menyebabkan bakteremia yang mengakibatkan meningitis atau endokarditis,
sindrom respons inflamasi sistemik (Systemic inflamatory response
syndrome, SIRS), dan/atau sepsis.
(Muttaqin, Arif. 2009)
F. Pengkajian
1. Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya, yang
meliputi: nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama,
tanggal pengkajian.
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasaan klein untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah Sesak napas, batuk berdahak, demam, sakit kepala, dan kelemahan
3. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Penderita pneumonia menampakkan gejala nyeri, sesak napas, batuk
dengan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan, badan lemah, ujung jari
terasa dingin.

4. Riwayat Kesehatan Terdahulu (RKD)


Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit,
kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti :
asthma, alergi terhadap makanan, debu, TB dan riwayat merokok.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat adanya penyakit pneumonia pada anggota keluarga yang lain
seperti : TB, Asthma, ISPA dan lain-lain.
6. Data Dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya /GJK kronis
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
c. Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes
mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk,
penampilan kakeksia (malnutrisi), hiperaktif bunyi usus.
d. Neurosensori
Gejala
:
sakit
kepala
daerah
frontal

(influenza)

Tanda : perubahan mental (bingung, somnolen)


e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia,
artralgia, nyeri dada substernal (influenza).
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk
membatasi gerakan).
f. Pernafasaan
Gejala: adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea,
takipnue, dispnenia progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot
aksesori, pelebaran nasal.
Tanda :
1) Sputum: merah muda, berkarat atau purulen.
2) Perkusi: pekak datar area yang konsolidasi.
3) Premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
4) Gesekan friksi pleural.
5) Bunyi nafas menurun tidak ada lagi area yang terlibat, atau napas
bronkial.
6) Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku.
g. Keamanan

Gejala : riwayat gangguan sistem imun, misal SLE,AIDS, penggunaan


steroid, kemoterapi, institusionalitasi, ketidak mampuan umum,
demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan
mungkin ada pada kasus rubeola, atau varisela.
(Muttaqin, Arif. 2009)
h. Pemeriksaan Diagnosis
1. Chest X-ray: teridentifikasi adanya penyebaran (misalnya: lobus dan
bronkhial); dapat juga menunjukan multipel abses/infiltrat, empiema
(staphylococcus); penyebaran atau lokasi infiltrat (bakterial); atau
penyebaran/extensive nodul infiltrat (sering kali viral), pneumonia
mycoplasma chest X-ray mungkin bersih.
2. Analisis gas darah (analysis blood gasses-ABGs) dan pulse oximetry:
abnormalitas mungkin timbul tergantung dari luasnya kerusakan paruparu.
3. Pewarna Gram/culture sputum dan darah: didapatkan dengan needly
biopsy, apirasi transtrakheal, fiberoptic bronchoscopy, atau biopsi paruparu terbuka untuk mengeluarkan organisme penyabab. Lebih dari satu
tipe organisme yang dapat ditemukan, seperti diplococcuspneumonia,
staphylococcus aureus, A. Hemolytic streptococcus , dan hemophilus
influenzae.
4. Periksa darah lengkap (complete blood count-): leukositosis biasanya
timbul, meskipun nilai pemeriksaan darah putih (white blood coun-WBC)
rendah pada infeksi virus
5. Tes serologi: membantu dalam membedakan diagnosis pada organisme
secara spesifik
6. LED: meningkat
7. Pemeriksaan fungsi paru-paru: volume mungkin menurun (kongesti dan
kolaps alveolar): tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas
pemenuhan udara menurun, hipoksemia
8. Elektrolit :sodium dan klorida mungkin rendah
9. Bilirubin mungkin meningkat
(Muttaqin, Arif. 2009)
i. Penatalaksanaan

1. Penatalaksaan infeksi akut


a. Oksigen dan hidrasi bila ada indikasi
b. Pertimbangkan isolasi respirasi
c. Hospitalisasi diindikasikan bila:
1) Usia diatas 65 tahun, tunawisma, dirawat dirumah sakit karena
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

pneumonia ditahun yang lalu


Denyut nadi > 140/menit, frekuensi respirasi > 30/menit hipotensi.
Temperatur > 38,30C
Penurunan status mental, sianosis
Imunosupresi
Mikroorganisme risiko tinggi
SDP < 4000 atau > 3000/L
Tekanan parsial oksigan dalam darah arteri (PaO2) < 60 atau

PaCO2 > 50
d. Foto ronsen dada dengan keterlibatan banyak lobus atau progresi
cepat
e. Menarik napas dalam dan batuk, fisioterapi dada bila tersedia
f. Antibiotik untuk pneumonia bakteri, parasit, atau jamur (bukan virus)
g. Perlindungan empiris paling sering digunakan pada pasien rawat
jalan; pewarnaan gram pada sputum dapat menjadi panduan terapi
pada pasien rawat inap tetapi mungkin perlu diubah bila kultur dengan
sensitivitas telahtersedia (48 samapi 72 jam).
h. Pilihan antibiotik empiris bervariasi berdasar pada pasien rawat jalan
versus rawat inap, usia, faktor risiko pasien, dan pengkajian pasien;
pilihan antibiotika empiris beikut ini:
Terapi antimikrobial empiris
1) Pasien rawat jalan
a) Untuk pasien yang sebelumnya sehat dan tidak terdapat
resiko resisten dengan obat S.pneumonia dapat diberikan
makrolide (azithromycin, clarithromycin, erythromycin) atau
Doxycycline
b) Pasien dengan komorbid penyakit jantung, paru-paru, hati,
atau ginjal kronis; diabetes melitus, kecanduan alkohol,
keganasan,

asplenia,

kondisi

atau

penggunaan

obat

immunosupresif, penggunaan antimikroba dalam 3 bulan


sebelumnya atau bila terdapat faktor resiko terjadinya
resistensi obat dapat diberikan obat golongan uoroquinolone
(moxioxacin, gemioxacin, or levooxacin (750 mg) atau
dengan gabungan -lactam dan macrolide (amoxicillin,

amoxicillin-clavulanate)

dengan

alternatif

cefpodoxime, and cefuroxime


2) Pasien rawat inap bangsal
a) uoroquinolone
b) -lactam (cefotaxime, ceftriaxone,
ertapenem) dan macrolide (doxycycline)

dan

ceftriaxone,

ampicillin;

3) Pasien rawat inap ICU


a) -lactam(cefotaxime, ceftriaxone, atau ampicillin-sulbactam)
ditambah azithromycin atau fluoroquinolon (untuk pasien
yang alergi penisilin, fluoroquinolon dan aztreonam dapat
direkomendasikan)
b) Untuk
infeksi

oleh

Pseudomonas,

digunakan

antipneumococcal, antipseudomonal -lactam (piperacillintazobactam,cefepime, imipenem, atau meropenem) ditambah


dengan ciprooxacin or levooxacin (750mg)
(Muttaqin, Arif. 2009)
j. Komplikasi
1. Gagal napas dan sirkulasi
2. Efusi pleura, empyema, dan abces
(Muttaqin, Arif. 2009)
k. DIAGNOSA
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan sekret
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan dispnea
3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit CAP
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis (batuk produktif)
(Muttaqin, Arif. 2009)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pneumonia adalah penyakit umum di semua bagian dunia. Ini adalah
penyebab utama kematian di antara semua kelompok umur. Pada anak-anak,
banyak dari kematian ini terjadi pada masa neonatus. Organisasi Kesehatan
Dunia memperkirakan bahwa satu dari tiga kematian bayi baru lahir
disebabkan pneumonia.
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan
adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Muttaqin,
Arif. 2009)
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:
1.
2.
3.
4.

Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter


Virus: virus influenza, adenovirus
Micoplasma pneumonia
Jamur: candida albicans

B. Saran
Saran dari beberapa kesimpulan diatas dengan melaksanakan asuhan
keperawatan pada anak dengan diare, maka perlu adanya saran untuk
memperbaik dan meningkatkan mutu asuhan keperawatan ,adapun saran
sebagai berikut
1. Untuk mahasiswa dan mahasiswi diharapkan untuk lebih memahami
tentang asuhankeperawatan anak dengan diare sehingga dalam melakukan
asuhan keperawatanlebih komperhensif.
2. Untuk perawat diharapkan untuk meningkatkan konsep keperawatan anak
dengancara diskusi, seminar dan pengadan buku-buku (perpustakan kecil)
yang berkaitandengan masalah-masalah keperawatan anak sehinga
dalammelakukan proses keperawatan di RS lebih komperhensif.

Daftar Pustaka
Muttaqin, Arif. 2009.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Respirasi. Jakarta:
Salemba Medika