Anda di halaman 1dari 33

2016

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI


FAJKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
1
2016

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


BAGIAN 1. ASSESMEN
A. ANAMNESIS
1. IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Sex
Pekerjaan
Pendidikan
Agama

: Ny. W
: 27 tahun
: Perempuan
: Ibu Rumah Tangga
: SMP
: Islam

No RM
: 044267
Bangsal/Ruang : Candi Barong/6B
Tgl Masuk
: 14 Mei 2016
Tgl Kasus
: 16 Mei 2016
Alamat
: Pathuk, Semoyo, Tegalrejo
Diagnosis medis : GERD dengan Vomitus,
anoreksia, ISK dan hipoglikemia.

2. Berkaitan dengan Riwayat Penyakit


Keluhan Utama

Lemah sudah 3 hari, setiap makan selalu muntah, mual, dada tengah

Riwayat

terasa panas, BAK terakhir pukul 14.00 WIB (14 Mei 2016)
ISK

Penyakit
Sekarang
Riwayat

Penyakit
Dahulu
Riwayat

Penyakit
Keluarga
3. Berkaitan Dengan Riwayat Gizi
Data

Sosio Penghasilan : -

Aktifitas fisik

Jumlah anggota keluarga : 6


Suku : jawa
Jumlah jam kerja : -

jumlah jam tidur sehari : 3-4 jam

Alergi makanan

Jenis olahraga : Makanan : -

frekuensi : penyebab : -

ekonomi

Jenis diet khusus : -

alasan : -

Masalah

Yang menganjurkan : Nyeri ulu hati (ya), Mual (ya), Muntah (ya), Diare (tidak), Konstipasi

gastrointestinal
Penyakit kronik

(tidak), Anoreksia (ya), Perubahan pengecapan/penciuman (tidak),


Jenis penyakit
:Modifikasi diet
: Jenis dan lama pengobatan
2

:-

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Kesehatan mulut
Sulit menelan (tidak), Stomatitis (tidak), Gigi lengkap (tidak)
Pengobatan
Vitamin/mineral/suplemen gizi
:Frekuensi dan jumlah
Perubahan berat Bertambah/berkurang
badan
Mempersiapkan
makanan
Riwayat
makan

::-

Lamanya : -

Disengaja /tidak disengaja Fasilitas memasak : Kompor

Fasilitas menyimpan makanan : Meja dengan tudung saji


pola *Diit rumah sakit :
1. Makan siang :
Ikan lele bumbu kecap @1 porsi
Tempe bumbu kuning @2 sdm
Sayur asem jawa (tidak dimakan)
Bubur @4 sdm
2. Selingan pagi :
Bubur kacang hijau @1 gelas belimbing
3. Makan pagi :
Bubur @2-3 sdm
Orak arik ayu @ porsi
Cah tahu (tidak dimakan)
4. Selingan sore
Puding busa (tidak dimakan)
5. Makan sore :
Bubur (tidak dimakan)
Nasi @1 centong (dibeli diluar)
Nila saus asam manis @1 porsi
Sop oyong + misoa (tidak dimakan)

Kesimpulan :
Pasien bernama Ny.W berumur 27 tahun berjenis kelamin perempuan datang kerumah sakit
dengan keluhan lemah sudah 3 hari, setiap makan selalu muntah, mual, buang air kecil (BAK)
terakhir pukul 14.00 WIB pada tanggal 14 Mei 2016, dan dada bagian tengah terasa panas.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Dokter dengan diagnosis medis GERD dengan Vomitus, anoreksia,
ISK, hipoglikemia. Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga 6
orang (Ny. W, suami, ibu dan 3 orang anak), pasien masih menyusui, dan pendidikan terakhir
tamatan SMP. Jumlah jam tidur pasien sehari 3-4 jam. Pasien mengalami masalah gastrointestinal
yaitu, nyeri ulu hati, mual, muntah, dan anoreksia. Fasilitas memasak menggunakan kompor serta
fasilitas penyimpanan makanan hanya di letakkan di atas meja dengan tudung saji. Riwayat makan
pasien selama di rumah sakit kurang baik karena makanan yang dikonsumsi banyak yang tidak
disukai sehingga asupan makan pasien kurang.
3

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Pembahasan Anamnesis
Pasien Ny. W berusia 27 tahun berjenis kelamin perempuan dengan diagnosis medis GERD dengan
dan Vomitus , anoreksia, ISK, dan hipoglikemia.
Muntah atau vomitus merupakan gejala yang sering ditemukan dan sering kali merupakan gejala
awal dari penyakit infeksi dalam atau luar gastrointestinal, dan kelainan anatomi gastrointestinal.
Tekanan intrakranial yang meningkat pada awalnya memberikan gejala muntah juga.
Penatalaksanaan ditujukan pada penyebab muntah. Penggunaan obat antiemetik hanya untuk
gangguan fungsional gastrointestinal dan merupakan kontraindikasi pada kelainan mekanik
gastrointestinal (Sudarmo, 2006).
Salah satu penyebab anoreksia adalah hilangnya nafsu makan sering diakibatkan karena
gangguan fungsi saluran cerna, penyakit infeksi seperti ; infeksi tuberculosis, infeksi saluran kencing
dan infeksi parasite cacing (Judarwato, 2005).
GERD (Gastroesophageal Reflux Diseaase ) didefinisikan sebagai suatu gangguan dimana isi
lambung mengalami refluks secara berulang kedalam esofagus, yang menyebabkan terjadinya gejala
dan/atau komplikasi yang mengganggu. GERD juga dapat dipandang sebagai suatu kelainan yang
menyebabkan cairan lambung dengan berbagai kandungannya mengalami refluks ke dalam
esofagus, dan menimbulkan gejala khas seperti heartburn (rasa terbakar didada yang kadang
disertai rasa nyeri dan pedih) serta gejala-gejala lain seperti regurgitasi (rasa asam dan pahit
dilidah), nyeri epigastrium, disfagia, dan odinofagia (Syam dkk, 2013).
ISK (Infeksi Saluran Kemih) adalah keadaan berkembangnya mikroorganisme patogenik
didalam saluran kemih yang menyebabkan inflamasi. Kondisi normal saluran kemih tidak
mengandung bakteri, virus, atau mikroorgansme lain. Hal ini berarti diagnosis ISK ditegakkan
dengan membuktikan adanya mikroorganisme di dalam saluran kemih. (Rubin, Cotran & Rubin,
2004).
Penyebab ISK terbanyak adalah Escherichia coli yang ditemukan lebih dari 80% . Kondisi
normal saluran kemih di atas uretra steril. Bebrapa mekanisme pertahanan mekanik dan fisiologi
membantu mempertahankan kesterilan dan mencegah ISK. Mekanisme pertahanan mekanik meliputi
buang air kecil dengan pengosongan kendung kemih secara tuntas, kepatenan ureterovesical
junction, dan aktifitas peristaltik yang mendorong urine untuk masuk ke dlam kandung kemih.
Karakteristik antibakteri dari urine dipertahankan oleh pH yang asam (<6.0), konsentrasi urea yang
tinggi, dan glikoprotein dalam jumlah besar yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Perubahan
dari mekanisme pertahanan dapat meningkatkan risiki ISK (Lewis, et al. 2007).

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Perubahan pertahanan fisiologi terjadi pada pasien postmenopause yang dapat mempengaruhi
terjadinya ISK. Sebelum menopause, sel epitelial banyak mengandung glikogen dan flora normsl
Lactobacillus yang mmepertahankan keasaman pH vagina (3.5 4.5). lingkungan yang asam
membantu mencegah pertumbuhan organisme yang biasanya berproliferasi pada pH > 4.5. Sesudah
menopause kadar estrogen yang rendah menyebabkan atrofi vagina, sehingga Lactobacillus vagina
menurun dan pH vagina meningkat. Kondisi ini memudahkan pertumbuhan organisme khususnya
E.coli dan meningkatkan terjadinya ISK (Lewis, et al. 2007).
Manifestasi klinis ISK secara umum adalah rasa panas dan nyeri saat buang air kecil (dysuria),
sering buang air kecil (frequency) dengan keinginan buang air kecil yang mendesak dan tiba-tiba
(urgency), serta rasa tidak nyaman di area suprapubik. Manifestasi ini dikategorikan sistitis atau ISK
bawah. Adanya keluhan nyeri pinggang, demam, dan urine berwarna kemerahan menunjukkan
pielonefritis atau ISK atas (Lewis, et al. 2007).
B. ANTROPOMETRI
TB/PB

Tinggi lutut

Berat Badan

LLA

157 cm
IMT

43 cm

42 kg

17.03 kg/m2
Kesimpulan :
IMT

= BB/TB(m2)
= 42/(1.572)
= 17.03 kg/m2

Berdasarkan hasil perhitungan Indeks Massa Tubuh didapatkan hasil 17.03 kg/m2 dengan kategori
status gizi Underweight.
Pembahasan Anamnesis
Status gizi adalah keadaan fisiologis tubuh yang merupakan akibat dari konsumsi makanan dan
penggunaan zat gizi dalam tubuh. Status gizi dapat dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang, baik
dan lebih (Almatsier, 2009). Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak
terpenuhinya asupan makanan (Sampoerno, 1992).
Status gizi kurang (Underweight) merupakan keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang
masuk lebih sedikit dari energi yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang
masuk lebih sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007). Akibat yang terjadi apabila
kekurangan gizi antara lain menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi),
5

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kekurangan energi yang dapat
menurunkan produktivitas tenaga kerja, dan sulitnya seseorang dalam menerima pendidikan dan
pengetahuan mengenai gizi (Jalal dan Atmojo, 1998).
Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri bisa
merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan
dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa
Tubuh (IMT) atau yang disebut dengan Body Mass Index (Supariasa, 2001). IMT merupakan alat
sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan
dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang
dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang. IMT hanya dapat digunakan untuk orang
dewasa yang berumur diatas 18 tahun.
Dua parameter yang berkaitan dengan pengukuran Indeks Massa Tubuh, terdiri dari :
1. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu parameter massa tubuh yang paling sering digunakan yang
dapat mencerminkan jumlah dari beberapa zat gizi seperti protein, lemak, air dan mineral.
Untuk mengukur Indeks Massa Tubuh, berat badan dihubungkan dengan tinggi badan
(Gibson, 2005).
2. Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter ukuran panjang dan dapat merefleksikan
pertumbuhan skeletal (tulang) (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
Menurut WHO (2000) ambang batas IMT adalah :
IMT (kg/m2)
< 18.5
18.5 24.99
25.00
25.00 29.99
30.00 34.99
35 39.9
40.0

Kategori
Underweight
Normal
Overweight
Preobese
Obese tingkat 1
Obese tingkat 2
Obese tingkat 3
Sumber : WHO (2000) dalam Gibson (2005)

C. PEMERIKSAAN BIOKIMIA
Jenis
pemeriksaan
HGB
AL
AT
HCT
MCHC

Hasil

Nilai normal

Tgl 14/05/2016
13.3
4.58
228
42.4
31.2 g/dl

11.0 15.0 g/dL


1.2 3.5x109
150 450.000/mm3
36 46 %
32 36
6

Keterangan
Normal
Tinggi
Normal
Normal
Rendah

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


GDS
70 140 g/dL
60
SGOT
< 37
16
SGPT
< 42
10
Ureum
10 50
33
Kreatinin
0.6 1.0 mg/dL
1.2

Pemeriksaan Urin
Warna
Kejernihan
Keton
Leukosit
Eritrosit
Epitel
Bakteri

Satuan/
Nilai Normal
Kuning muda
Jernih
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi

15/05/2016

17/05/2016

Kuning
Keruh
3+
2+
1+
+++
Positif

Kuning
Jernih
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Kesimpulan :
Hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal 14 Mei 2016, penilaian biokimia menunjukkan
Angka limfosit tinggi, MCHC rendah, GDS rendah dan kreatinin tinggi. Pada tanggal 15 Mei
dilakukan pemeriksaan urin, dari hasil pemeriksaan menunjukkan warna urin kuning keruh
dengan menunjukkan nilai keton 3+, leukosit 2+, eritrosit 1+, epitel +++ dan bakteri positif.
Pembahasan :
Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan
untuk menilai fungsi ginjal, karena konsentrasi dalam plasma dan ekskresinya di urin dalam 24
jam relatif konstan (Sodeman, 1995). Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil
akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan
diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui
kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari,
kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal (Corwin,
2001).
Kreatinin ditentukan oleh banyaknya masa otot

(laju katabolisme protein), disamping

bagaimana aktivitas metabolisme badan kita, misalnya meningkat bila kita sakit (panas/adanya
infeksi) (Smeltzer and Bare, 2002).
Indeks MCHC adalah nilai yang mengindikasikan berat Hb rata-rata di
dalam sel darah merah, dan oleh karenanya menentukan kuantitas warna
(normokromik, hipokromik, hiperkromik) sel darah merah. MCHC dapat
digunakan untuk mendiagnosa anemia. Penurunan MCHC mengindikasikan
7

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


anemia mikrositik. Indeks MCHC mengukur konsentrasi Hb rata-rata dalam
sel darah merah, semakin kecil sel, semakin tinggi konsentrasinya. MCHC
menurun pada pasien kekurangan besi, anemia mikrositik, anemia karena
piridoksin, talasemia dan anemia hipokromik. peningkatan persentase
neutrofil, disebabkan oleh infeksi bakteri dan parasit, gangguan metabolit,
perdarahan dan gangguan myeloproliferatif (Anonim, 2013).

D. PEMERIKSAAN FISIK
1.

Kesan Umum : sedang, comfosmentis

2. Vital Sign :
Tanggal
14/5/2016
15/5/2016
16/5/2016
17/5/2016

18/5/2016

Tensi

Macam Pemeriksaan
RR
Nadi

Suhu

(mmHg)
100/70
90/70
90/70
100/80
100/80
100/60
100/60
100/70
110/70

(x/menit) (x/menit)
20
80
20
104
20
104
20
76
20
76
20
60
20
60
20
76
22
60

(C )
36C
37.5C
37.4C
36.5C
36.5
36.5
36.5
36
36.5

Kesimpulan :
Dari hasil pemeriksaan fisik, pasien mengalami takikardi, dan suhu badan febris pada hari
kedua di rumah sakit. Pada hari ketiga sampai hari kelima dirumah sakit nadi normal, suhu normal
dan respirasi meningkat.
Pembahasan :
Klasifikasi Pengukuran Tekanan Darah dari International Society of Hypertension (ISH) For
Recently Updated WHO tahun 2003
8

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Kategori
Sistolik (mmHg)

Diastolik (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Normal tinggi / pra

130 139

80 89

Hipertensi
Hipertensi derajat I
Hipertensi derajat II

140 159

90 99

160 179

100 109

Hipertensi derajat III

180

110

Sumber: Linda Brookes, 2004


Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh darah arteri yang berdasarkan
systol dan dystole dari jantung. Denyut nadi diketahui bervariasi pada setiap orangnya. Umumnya
denyut nadi lebih rendah ketika orang tersebut dalam keadaan rileks. Ada banyak kondisi yang
biasanya bisa berpengaruh besar untuk mengubah denyut nadi tiap orang (Yogaswara & Weni,
2010). Adapun tujuan untuk mengetahui jumlah denyut nadi seseorang adalah untuk mengetahui
kerja jantung, untuk menentukan diagnose dan untuk segera mengetahui adanya kelainan-kelainan
pada seseorang (Yogaswara & Weni, 2010).
Adapun Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
1) Ateri radalis

: Pada pergelangan tangan

2) Arteri temporalis

: Pada tulang pelipis

3) Arteri caratis

: Pada leher

4) Arteri femoralis

: Pada lipatan paha

5) Arteri dorsalis pedis

: Pada punggung kaki

6) Arteri politela

: pada lipatan lutut

7) Arteri bracialis

: Pada lipatan siku

8) Ictus cordis

: pada dinding iga, 5 7

Menurut Yogaswara & Weni (2010) denyut nadi normal manusia pada umumnya adalah
sebagai berikut :
Kelompok Umur

Denyut Jantung Normal Pada Keadaan Stabil


9

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Bayi usia 1 tahun
Anak-anak usia 1-10 tahun
Remaja usia 11-17 tahun
Dewasa usia > 18 tahun

10-140 x/menit
60-140 x/menit
60-100 x/menit
60-90 x/menit

Diketahui Jika jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut pradicardi dan
jika jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi.
Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas dari tubuh, yang
diukur dalam unit panas yang disebut derajat. Suhu yang di maksud adalah panas atau dingin
suatu substansi. Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses
tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Panas yang diproduksi dikurangi
pengeluaran panas sama dengan nilai suhu tubuh (Sutisna, 2012).

Menurut Adams (1990) cut off nilai suhu normal adalah sebagai berikut :
1) Hipotermia

(<35 C)

2) Normal

(35-37 C)

3) Pireksia/febris (37-41,1 C)
4) Hipertermia

(>41,1 C)

Pengukuran suhu tubuh ditujukan untuk memproleh suhu inti jaringan tubuh rata-rata
representatif. Suhu normal rata-rata bervariasi bergantung lokasi pengukuran. Tempat pengukuran
suhu inti merupakan indikator suhu tubuh yang lebih dapat diandalkan daripada tempat yang
menunjukan suhu permukaan.Tempat pengukuran suhu inti dan suhu permukaan adalah pada suhu
inti yaitu rektum, membran timpani, esofagus, arteri pulmoner, dan kandung kemih sedangkan
pada suhu permukaan diantaranya kulit, aksila, dan oral (Sutisna, 2012).
E. ASUPAN ZAT GIZI.
Hasil Recall 24 jam
Tanggal

: 16 Mei 2016

Diet sebelumnya

: Makanan Biasa

Implementasi

Energi

Asupan oral
Kebutuhan
% Asupan

(kal)
573 Kkal
2250 Kkal
25.42 %

Protein (gr)

Lemak

KH (gr)

33.7 g
56 g
60.17%

(gr)
11.5 g
75 g
15.33%

81.1 g
309 g
26.24%

Sumber : AKG 2013

10

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Kesimpulan :
Pada hasil recall 24 jam (16 Mei 2016) dari hasil asupan oral/kebutuhan didapatkan %
asupan energi yang belum memenuhi kebutuhan yaitu 25.42%, protein yang belum memenuhi
kebutuhan yaitu 60.17%, lemak yang belum memenuhi kebutuhan yaitu 15.33% dan karbohidrat
yang belum memenuhi kebutuhan yaitu 26.42%. Jadi tingkat konsumsi untuk energi, protein,
lemak dan karbohidrat termasuk dalam kategori defisit tingkat berat (<70% AKG).
Pembahasan :
Berdasarkan hasil perhitungan % asupan, didapatkan hasil % asupan energy, protein, lemak
dan karbohidrat yang tergolong dalam kategori defisit tingkat berat yaitu <70% AKG.
Tingkat konsumsi adalah perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi
yang dianjurkan. Klasifikasi tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat dan lemak menurut
Departemen Kesehatan (1996) adalah sebagai berikut :
1)

Defisit tingkat berat (<70% AKG)

2)

Defisit tingkat sedang (70-79% AKG)

3)

Defisit tingkat ringan (80-89% AKG)

4)

Normal (90-119% AKG)

5)

Kelebihan (>120% AKG)

Klasifikasi tingkat kecukupan vitamin dan mineral menurut Gibson (2005), yaitu :
1) Kurang (<77% AKG)
2)

Cukup (>78% AKG)

Kebutuhan energy, protein, lemak dan karbohidrat adalah sebagai berikut :


1. Kebutuhan energi adalah jumlah energi yang dibutuhkan seseorang untuk berbagai
kegiatan selama 24 jam untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
2. Kebutuhan protein, kebutuhan protein didefinisikan sebagai kebutuhan secara biologis
protein atau asam amino minimal yang secara individual dapat digunakan untuk
mempertahankan kebutuhan fungsional individu. Protein merupakan sumber asam
amino esensial yang diperlukan sebagai zat pembangun. Kebutuhan protein sebesar
10-15% dari kebutuhan energi total (Almatsier, 2008)
3. Kebutuhan lemak, Lemak merupakan bahan atau sumber pembentuk energi di dalam
tubuh, yang dalam hal ini bobot energi yang dihasilkan dari tiap gramnya lebih besar
dari yang dihasilkan tiap gram karbohidrat dan protein. Tiap gram lemak akan
menghasilkan 9 kalori (Kartasapoetra, 2008). Kebutuhan lemak sebesar 10-25% dari
kebutuhan energi total (Almatsier, 2008).

11

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


4. Kebutuhan karbohidrat, karbohidrat merupakan sumber energy yang terdapat dalam
barbagai makanan. Setiap 1 gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal. Kebutuhan
karbohidrat sebesar 60-75% dari kebutuhan energi total atau sisa dari kebutuhan
energi yang berasal dari protein dan lemak (Almatsier, 2008).

F. Terapi Medis
Obat/tindaka

Fungsi

Interaksi obat dan makanan

n
Ringer Laktat
Rehidrasi (menambah cairan tubuh Tidak ada interaksi
Ranitidin

yang hilang, menambah elektrolit)


makanan/obat lain (Lacy, 2009)
Menurunkan kadar asam lambung Efek samping : sakit kepala,
yang berlebihan

malaise,
insomnia,

pusing,

mengantuk,

vertigo,

agitasi,

depresi, halusinasi.
Selama menggunakan obat ini
hindarilah

mengkonsumsi

makanan atau minuman yang


meransang saluran pencernaan
seperti,

makanan

pedas,

minuman keras, minuman panas


Ondansetron

(kopi).
Mencegah dan mengobati mual dan Tidak ada interaksi dengan zat
muntah akibat kemoterapi, radioterapi gizi.

Sucraltaf

Paracetamol

dan pasca operasi.


- membentuk kompleks kimiawi yang
terikat pada pusat ulkus sehingga
merupakan lapisan pelindung.
- Menghambat aksi asam, pepsin, dan
garam empedu
- Menghambat difusi asam lambung
menembus lapisan film sukraltafalbumin.
Untuk meredakan rasa sakit seperti Konsumsi

obat

bersamaan

sakit kepala,sakit gigi, sakit pada otot dengan makanan atau susu dapat
12

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


dan
menurukan
demam
yang menurubnkan risiko keracunan
menyertai flu/influemza dan demam saluran cerna.
sesudah vaksinasi.

Konsumsi dengan alkohol dapat


meningkatkatkan

resiko

hepatotoksisitas.
BAGIAN 2. DIAGNOSIS GIZI
Problem Gizi :
1 Domain Intake

(NI-1.4) Intake energi tidak adekuat berkaitan dengan penurunan nafsu makan dibuktikan oleh
% asupan makanan <75 %
2

Domain Clinical

(NC-2.2) Perubahan nilai laboratorium berkaitan dengan ISK di buktikan oleh hasil tes urine
berwarna kuning keruh, keton 3+ dan bakteri positif.
(NC-3.1) Berat badan kurang berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi karena infeksi
dan menyusui dibuktikan oleh IMT <18.5
Pembahasan Diagnosis gizi :
Perubahan nilai laboratorium berkaitan dengan ISK di buktikan oleh hasil tes urine berwarna kuning
keruh, keton 3+ dan bakteri positif.
Pemeriksaan urinalisis dapat menegakkan diagnosis ISK dengan didapatkan leukosit esterase
dan leukosit 10/lapang pandang kuat (pyuria). Kultur urine menegakkan diagnosis ISK dengan
ditemukan jumlah bakteri 105 koloni/ml (bakteriuria). Jumlah bekteri 10 2 104 koloni/ml merupakan
penanda awal ISK dengan timbulnya gejala ISK atau sebagai respon pengobatan antibiotika
(Gradwohl, dkk. 2008).

13

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

BAGIAN 3. INTERVENSI GIZI


A. PLANNING
1.
2.
3.
4.

Terapi Diet : Makanan Biasa *(Standar RS)


Bentuk makanan : Lunak
Cara pemberian : Oral
Tujuan Diet:
Mencukupi kebutuhan energi, protein, lemak, dan karbohidrat guna memenuhi
kebutuhan ibu menyusui

Memenuhi kebutuhan gizi pasien untuk mencapai intake yang optimal

Meningkatkan berat badan menjadi normal

5. Syarat / prinsip Diet :


Energi diberikan sebesar 2771.78 Kkal
Protein diberikan sebesar 108.94 gram
Lemak diberikan sebesar 78.88 gram
Karbohidrat diberikan 410.767 gram
Makanan tidak meransang saluran cerna
Makanan sehari-hari beranekaragam dan bervariasi
Mudah dicerna
Tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan yang meransang saluran pencernaan,
seperti makanan yang berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu berbumbu, dan minuman
yang mengandung alkohol.
6. Perhitungan Kebutuhan energi dan zat gizi :
BBI = (TB 100) 10%
= (157 100) 10%
= 57 5.7
= 51.3 kg
BEE

= 655 + (9.6 x BBI) + (1.8 x TB) (4.7 x U)


= 655 + (9.6 x 51.3) + (1.8 x 157) (4.7 x 27)
= 655 + 492.48 + 282.6 126.9
= 1303.18

14

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


TEE = BEE x AF x FS
= 1303.18 x 1.3 x 1.4
= 2371.78 Kkal + 400 (kebutuhan ibu menyusui)
= 2771.78 Kkal
Protein = 15% x 2371.78
= 355.76 Kkal : 4
= 88.94 gram + 20 (kebutuhan ibu menyusui)
= 108.94 gram
Lemak = 25% x 2371.78
= 592.945 : 9
= 65.88 gram + 13 (kebutuhan ibu menyusui)
= 78.88 gram
Karbohidrat

= 60% x 2371.78
= 1423.068 Kkal : 4
= 355.767 gram + 55 (kebutuhan ibu menyuui)
= 410.767 gram

Cairan = 35 40 ml/kgBB
= 40 x 42
= 1680 ml
Pembahasan Preskripsi Diet :
Makanan biasa diberikan kepada pasien yang tidak memerlukan diet khusus berhubungan
dengan penyakitnya. Pada diet ini makanan yang diberikan sama dengan makanan sehari-hari yang
beranekaragam, bervariasi dengan bentuk, tekstur, dan aroma yang normal. Walau tidak ada
pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak
meransang saluran cerna (Almatsier, 2010).

15

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


1. Rencana monitoring dan evaluasi (Lihat sign/symptomp dalam diagnosis gizi)
Antropometri
Biokimia

Yang diukur
BB
GDS

Klinik

Urin
Tekanan

Pengukuran
3 hari berikutnya
Setiap hari

Setiap hari
Darah, Setiap hari

Target
Normal
Normal
Warna jernih
Normal

Respirasi, Nadi dan


Asupan zat gizi

suhu
Asupan

energi, Setiap hari

Minimal 75% kebutuhan

protein dan lemak


2. Rencana Konsultasi Gizi
Masalah gizi : ISK.
Konseling gizi :
1. Nutrisi bagi pasien ISK (infeksi saluran kemih)
2. Tidak dianjurkan mengkonsumsi makanan yang merangsang saluran pencernaan seperti,
makanan yang berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu berbumbu, dan minuman yang
mengandung alkohol.
3. Pentingnya PHBS
B. IMPLEMENTASI
1. Kajian Terapi Diet Rumah Sakit

Jenis Diet/Bentuk Makanan/Cara Pemberian : Makanan Biasa/biasa/oral

Parenteral nutrisi : -

Tanggal : 16 Mei 2016


Energi

Standar diet RS
Kebutuhan
% standar/kebutuhan

(kal)
2497.56
2771.78
90.10%

Protein (gr) Lemak


88.90
108.94
81.60%

(gr)
73.50
78.88
93.17%

KH (gr)
385.86
410.767
93.93%

Kesimpulan :
Pada kajian diet rumah sakit dengan cara pemberian makan melalui oral didapatkan
hasil %standar/kebutuhan yang dapat memenuhi untuk energi 90.10% (normal), Protein
81.60% (defisit tingkat ringan), lemak 93.17% (normal), dan karbohidrat 93.93% (normal).
16

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Pembahasan Diet RS :
Tingkat konsumsi adalah perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan
gizi yang dianjurkan. Klasifikasi tingkat kecukupan energi, protein, karbohidrat dan lemak
menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah
1) Defisit tingkat berat (<70% AKG)
2) Defisit tingkat sedang (70-79% AKG)
3) Defisit tingkat ringan (80-89% AKG)
4) Normal (90-119% AKG)
5) Kelebihan (>120% AKG)
Klasifikasi tingkat kecukupan vitamin dan mineral menurut Gibson (2005), yaitu
1) Kurang (<77% AKG)
2) Cukup (>78% AKG)
2. Rekomendasi Diet :
a. Jika nafsu makan masih rendah, makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering. Dengan

3 kali makanan utama dan 2 kali selingan.


b. Standar Diet Rumah Sakit

Waktu Makan
Pagi

Selingan Pagi
Pemesanan Diet : Makanan Biasa

Bahan Makanan
MP (Nasi)
Lauk Hewani
Lauk Nabati
Sayur
Teh Manis
Sari Kacang Hijau

Jumlah
300 gr
50 gr
25 gr
100 gr
200 cc
100 cc

c. Konseling Gizi tidak dilakukan karena pasien pulang pada tanggal 18 Mei 2016

BAGIAN 4. MONITORING, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT


A. ANTROPOMETRI
Yang diukur
Antropometri

BB

Pengukuran
3 hari berikutnya

Evaluasi/Target
Berat badan tetap ( setelah 3
hari

dilakukan

monitoring

berat badan tidak mengalami


17

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Biokimia

Urine

kenaikan) tetap 42 kg
16 Mei 2016

Setiap hari

Warna urine kuning keruh


dengan keton 3+ dan bakteri
positif abnormal
17 Mei 2016
Warna urine kuning jernih,
keton
Klinik

Tekanan
Respirasi,

negatif

dan

bakteri

negatif normal
16 Mei 2016

darah, Setiap hari


Nadi

Tekanan darah, respirasi, nadi


dan suhu normal

dan Suhu

17 Mei 2016
Tekanan darah, respirasi, nadi
Asupan zat gizi

Asupan

dan suhu normal


16 Mei 2016

energi, Setiap hari

protein, dan lemak

Intake <50% dari kebutuhan


total/hari belum tercapai
17 Mei 2016
Intake <50% dari kebutuhan
total/hari belum tercapai

B. BIOKIMIA
Pemeriksaan urin/darah
Warna
Kejernihan
Keton

Satuan/
Nilai Normal
Kuning muda
Jernih
Negatif

15 Mei 2016

17 Mei 2016

Kuning
Keruh
3+

Kuning
Jernih
Negatif

C. KLINIK
Tanggal

Tensi

Macam Pemeriksaan
RR
Nadi

16/5/2016

(mmHg)
100/80

(x/menit) (x/menit)
20
76
18

Suhu
(C )
36.5

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


100/60
20
60
36.5
17/5/2016
100/60
20
60
36.5
100/70
20
76
36
18/5/2016
110/70
22
60
36.5
D. DIETARY
Tanggal

Kajian
Standar
Diet
Asupan

16/5/201

Oral
Kebutuhan

6
% Asupan

Tanggal

Kajian
Standar
Diet
Asupan

17/5/201

Oral
Kebutuhan

6
% Asupan

Tanggal
16 Mei 2016

Energi

Protein

Lemak

Karbohidrat

(Kkal)

(g)

(g)

(g)

2497,56

88,90

73,50

385,86

573

33.7

11.5

81.1

2771.78
20.67%

108.94
30.93%

78.88
14.57%

410.767

(defisit

(defisit

(defisit

tingkat

tingkat

tingkat

berat)

berat)

berat)

Energi

Protein

Lemak

Karbohidrat

(Kkal)

(g)

(g)

(g)

2497.56

88.90

73.50

38.86

625.1

37.1

31.6

54.2

2771.78
22.55%

108.94
34.05%

78.88
40.06%

410.767

(defisit

(defisit

(defisit

tingkat

tingkat

tingkat

berat)

berat)

berat)

Kebutuhan
E = 2771.78 Kkal

Diet
Biasa

19.74%
(defisit
tingkat berat)

13.19%
(defisit
tingkat berat)

Evaluasi
Tindaklanjut
Pasien mengeluh masih Memberikan motivasi

P = 108.94 g

pusing,

L = 78.88 g

Makanan
19

dan sakit perut. kepada


pokok

pasien

untuk

yang tetap makan sehingga

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


KH = 410.76
diberikan

bubur, pasien dapat

mengatakan
makan

tidak

bubur

suka jumlah makanan yang

sehingga masuk sampai >70%

asupan makanan energi, dari


protein,

meningkatkan

lemak

total

kebutuhan

dan sehari.

karbohidrat masih deficit


17 Mei 2016

E = 2771.78 Kkal

Biasa

tingkat berat.
Keluhan
yang

masih Memberikan

P = 108.94 g

dirasakan nyeri perut saja. kepada

L = 78.88 g

Asupan

KH = 410.76

masih deficit tingkat berat dapat

makan

motivasi

pasien

untuk

pasien tetap makan sehingga


meningkatkan

karena pasien tidak mau jumlah maknan yang


makan

dan

kurang masuk sampai >75%

menyukai makanan dari dari


rumah

sakit

asupan

energi,

lemak

dan

total

kebutuhan

sehingga sehari.
protein,

karbohidrat

masih <75%
4. Monitoring, Evaluasi dan Tindaklanjut
a. Terapi diet
Diet rumah sakit yang diberikan belum sepenuhnya dapat diterima oleh pasien karena
pasien mengatakan tidak menyukai makanan rumah sakit sehingga tidak berselera untuk
makan. Asupan yang terhitung pertanggal 16 Mei 2016 masih defisit tingkat berat untuk
energi, protein, lemak dan karbohidrat.
Selanjutnya menindaklanjuti hal demikian, diberikan motivasi kepada pasien di
bangsal Candi Barong ruang 6B mengenai pola makan, pentingnya pemenuhan gizi untuk
penyembuhan dan motivasi untuk meningkatkan asupan.
Pada hari berikutnya (17 Mei 2016) asupan makan pasien masih defisit tingkat berat
<75% walaupun sudah diberikan motivasi pada hari sebelumnya.
b. Terapi obat
Tanggal
16 Mei 2016

Obat yang diberikan


Infus RL 60 tpm
Ranitidin 1A/12 jam
Ondansetron 1A/2 jam
20

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Sucralfat 3xC1
Analsik 3x1
17 Mei 2016

Cefrimatone 1 gr/12 jam


Infus RL D5
Ranitidin 1A/12 jam
Ondansetron 1A/8 jam
Sucralfat 3xC1

18 Mei 2016

Analsik 3x1
Infus RL D5
Ranitidin 1A/12 jam
Ondansetron 1A/8 jam
Sucralfat 3xC1
Cefrimatone
Analsik 3x1

21

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

BAGIAN 5. KESIMPULAN
Ny. W (27 tahun) di diagnosis GERD dengan Vomitus, anoreksia, ISK dan hipoglikemia dirawat di
RSUD Prambanan bangsal Candi Barong Ruang 6B.
1. Status gizi pasien, berdasarkan antropometri berat badan pasien tetap 42 kg dari awal kasus
sampai kasus berakhir. Indeks Massa Tubuh (IMT) pasien adalah 17.03 kg/m 2 dan termasuk
dalam kategori Underweight.
2. Untuk biokimia, pada pemeriksaan urine tanggal 16 Mei hasil monitoring menunjukkan urine
berwarna kuning keruh, keton 3+ dan bakteri positif, sedangkan pada tanggal 17 Mei 2016
menunjukkan urine berwarna kuning jernih, keton negatif dan bakteri negatif.
3. Fisik dan klinik pasien membaik meskipun nadi dan suhu tubuh meningkat pada hari kedua
perawatan namun kembali normal hingga hari terakhir.
4. Untuk dietary, asupan makan kurang ditandai dengan presentasi asupan oral yang
dimonitoring selama 2 hari <75% dan masih defisit tingkat berat.
5. Pasien pulang hari Rabu, 18 Mei 2016

22

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

BAGIAN 6. TINJAUAN PUSTAKA


ISK (Infeksi Saluran Kemih)
a. Defenisi
Infeksi Saluran Kemih (ISK) keadaan ditemukannya mikrorganisme di dalam urin dalam
jumlah tertentu. Dalam keadaan normal, urin juga mengandung mikroorganisme, umumnya
sekitar 102 hingga 104 bakteri/ml urin. Pasien didiagnosis infeksi saluran kemih bila urinnya
mengandung lebih dari 105 bakteri/ml (Coyle dan Prince, 2005).
Penderita infeksi saluran kemih tidak mengalami gejala, namun umumnya mempunyai
gejala yang terkait dengan tempat dan keparahan infeksi. Gejala-gejala dapat meliputi berikut
ini, sendirian atau bersama-sama: (1) menggigil, demam, nyeri pinggang, sering mual dan
muntah (biasanya terkait dengan pielonefritis akut); dan (2) disuria, sering atau terburu-buru
buang airkecil, nyeri suprapubik dan hematuria yang biasanya terkait dengan sistitis
(Schaeffer, 1994).
Beberapa istilah infeksi saluran kemih yang sering dipergunakan di dalam klinik ialah:
1. Asymptomatic Significant Bacteriuria (ASB) ialah bacteriuria yang bermakna tanpa
disertai gejala.
2. Bacterial cyititis ialah sindrom yang terdiri dari:
a. sakit waktu kencing
b. sering kencing (siang maupun malam)
3. Abacterial cystitis (urethra syndrome) ialah sindrom yang terdiri dari:
a. sakit waktu kencing
b. sering kencing tanpa disertai bakteri di dalam kandung kemih (Tessy dkk, 2004).
b. Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih
Dari segi anatomi infeksi saluran kemih dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu
infeksi saluran kemih bagian atas dan infeksi saluran kemih bagian bawah. Infeksi saluran
kemih bagian bawah terdiri dari sistitis (kandung kemih), uretritis (uretra), serta prostatitis
(kelenjar prostat). Infeksi saluran kemih bagian atas terdiri dari pielonefritis yaitu infeksi
yang melibatkan ginjal (Coyle dan Prince, 2005). Infeksi saluran kemih (ISK) dari segi klinik
dibagi menjadi:
23

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


1. Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (simple/ uncomplicated urinary tract infection),
yaitu bila infeksi saluran kemih tanpa faktor penyulit dan tidak didapatkan gangguan
struktur maupun fungsi saluran kemih.

2. Infeksi saluran kemih terkomplikasi (complicated urinary tract infection), yaitu bila
terdapat hal hal tertentu sebagai infeksi saluran kemih dan kelainan struktur maupun
fungsional yang merubah aliran urin seperti obstruksi aliran urin ; batu saluran kemih,
kista ginjal, tumor ginjal, abses ginjal, residu urin dalam kandungan kemih (Suwitra dan
Mangatas, 2004).
Terdapat perbedaan yang bermakna antara infeksi saluran kemih terkomplikasi dan tidak
terkomplikasi dalam hal kebutuhan pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis, jenis
dan lama penatalaksanaan, serta resiko terjadinya perburukan dan gejala sisa infeksi saluran
kemih (Suwitra dan Mangatas, 2004).

c. Etiologi
Mikroorganisme yang paling umum menyebabkan infeksi saluran kemih sejauh ini adalah
E. coli yang diperkirakan bertanggung jawab terhadap 80% kasus infeksi, 20% sisanya
disebabkan oleh bakteri Gram negatif lain seperti Klebsiella dan spesies Proteus, dan bakteri
Gram positif seperti Cocci, Enterococci dan Staphylococcus saprophyticus. Organisme
terakhir dapat ditemui pada kasus-kasus infeksi saluran kemih wanita muda yang aktif
kegiatan seksualnya. Infeksi saluran kemih yang berhubungan dengan abnormalitas struktural
saluran kemih sering disebabkan oleh bakteri yang lebih resisten seperti Pseudomonas
aeruginosa, Enterobacterdan spesies Serratia. Bakteri-bakteri ini juga sering ditemui pada
kasus infeksi nosokomial, terutama pada pasien yang mendapatkan kateterisasi urin (Bint dan
Berrington, 2003). Selain karena bakteri, faktor lain yang dapat meningkatkan resiko
terjadinya infeksi saluran kemih antara lain, kehamilan, menopause, batu ginjal, memiliki
banyak pasangan dalam aktivitas seksual, penggunaan diafragma sebagai alat kontrasepsi,
inflamasi atau pembesaran pada prostat, kelainan pada urethra, immobilitas, kurang masukan
cairan dan kateterisasi (Knowles, 2005).

d. Patogenesis
Secara umum mikroorganisme dapat masuk ke dalam saluran kemih dengan tiga cara yaitu:
1. Asenden yaitu jika masuknya mikroorganisme adalah melalui uretra dan cara inilah yang
paling sering terjadi.
2. Hematogen (desenden), disebut demikian bila sebelumnya terjadi infeksi pada ginjal yang
akhirnya menyebar sampai ke dalam saluran kemih melalui peredaran darah.

24

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


3. Jalur limfatik, jika masuknya mikroorganisme melalui sistem limfatik yang menghubungkan
kandung kemih dengan ginjal namun yang terakhir ini jarang terjadi (Coyle dan Prince,
2005).
4. Pengunaan kateter seringkali menyebabkan mikroorganisme masuk ke dalam kandungan
kemih. Hal ini biasanya disebabkan kurang higienisnya alat ataupun tenaga kasehatan yang
memasukkan kateter. Orang lanjut usia yang sukar buang air kecil umumnya menggunakan
kateter untuk memudahkan pengeluaran urin, itulah sebabnya mengapa penderita infeksi
saluran kemih cenderung meningkat pada rentang usia ini ( Romac, 1992).

e. Gejala klinis
Gejala klinis infeksi saluran kemih tidak khas dan bahkan pada sebagian pasien tanpa
gejala. Gejala yang sering ditemukan ialah disuria, polakisuria, dan terdesak kencing yang
biasanya terjadi bersamaan. Nyeri suprapubik dan daerah pelvis. Polakisuria terjadi akibat
kandungan kemih tidak dapat menampung urin lebih dari 500 mL karena mukosa yang
meradang sehingga sering kecing. Stranguria yaitu kencing yang susah dan disertai kejang
otot pinggang yang sering ditemukan pada sistitis akut. Tenesmus ialah rasa nyeri dengan
keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong. Nokturia ialah cenderung
sering kencing pada malam hari akibat kapasitas kandung kemih menurun. Ditemukan juga
enuresis nokturnal sekunder yaitu mengompol pada orang dewasa, prostatimus yaitu
kesulitan memulai kencing dan kurang deras arus kencing. Nyeri uretra, kolik ureter dan
ginjal (Tessy dkk, 2004).
Gejala klinis infeksi saluran kemih sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi
sebagai berikut: (Tessy dkk, 2004).
1. Pasien infeksi saluran kemih bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit
atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak
enak di daerah suprapubik.
2. Pasien infeksi saluran kemih bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise,
mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.
Kebiasaan minum juga merupakan faktor terjadinya batu pada saluran kencing yaitu
orang yang mengkonsumsi air yang banyak mengandung kapur tinggi akan menjadi
predisposisi pembentukan batu saluran kencing. Maka air yang digunakan manusia tidak
boleh mengandung kadar kesadahan total melebihi 500 Mg/l CaCO3 (Wei Chen, 2009;
Matlaga, 2009).

25

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


DAFTAR PUSTAKA
Berrington, A.W., Bint, A.J., 2003. Urinary Tract Infection, In Walker, R., Edward, (Eds)
Clinical Pharmacy and Therapeutic, 3rd Edition, Churchill Living Stone, UK, 543-542.
Corwin E. J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. EGC, Jakarta.
Coyle, E. A. & Prince, R. A. 2005. Urinary Tract Infection and Prostatitis in 7th Edition, The
McGraw Hill Comparies, Inc., USA.
Craig, Wagner & Travis. 2008. Pyelonephritis : radiologic-pathologic review. [online] 2008;
tersedia dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18203942# [diunduh 21 mei 2016]
Field, Michael, Pollock, Carol, Harris, David. 2006. The Renal System. Elsevier Limited.
hlm.7
Gradwohl, S.E., Stolk, R.P., Camps, M.J.L., Nette, P.M., Collet, T.J., Hoepelman, A.I.M.
(2000b). Risk factors for symptomatic urinary tract infection in women with diabetes.
Diabetes Care, 23 (12):1737-1741
Lane, DR; Takhar, SS. 2011. Diagnosis and management of urinary tract infection and
pyelonephritis. Emergency medicine clinics of North America 29 (3): 539-52
Lewis, S.L., Heitkemper, MM., Dirksen, S.R., OBrien, P.G., Bucher, L. 2007. Medicalsurgical nurcing. Assessment and management of clinical problems. Volume 2. St. Louis:
Mosby, Inc., an affiliate of Elsevier Inc.
Mangatas SM dan Ketut Suwitra. 2004. Diagnosis dan Penatalaksanaan Infeksi Saluran
Kemih Terkomplikasi. Dexa Media, 4(17):183-90
Nicolle, LE. 2008. Uncomplicated urinary tract infection in adults including uncomplicated
pyelonephritis. Emergy medicine clinics of North America 29 (3): 539-52
Rubin, N.E., Cotran, R.S., Rubin, R.H. 2004. Urinary tract infections, pyelonephritis, and
reflux nephropathy. In: Brenner, B.M., editor. Brenner & Rectors the kidney. 7 th ed.
Philadelphia: WB Saunders.
Schaffer A. 2004. Infection of the Urinary Tract. In: Saunders WB, editor. Campbell's
Urologi. Philadelpia1999. p. 533-605.
Sukandar, E. 2009. Infeksi saluran kemih pasien dewasa dalam buku ajar ilmu penyakit
dalam edisi 5. Jakarta : Interna publishing. hlm. 1008 - 13

26

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


Sutisna.
2012,
Pengukuran
Suhu

Tubuh.

Tersedia

https://www.sutisnadoank.wordpress.com/2012/12/26/pengukuran-suhu-tubuh/,

dalam
diakses

tanggal 21 mei 2016.


Sodeman. 1995. Patofisiologi sodeman: mekanisme penyakit, editor, Joko Suyono,
hipocrates. Jakarta.
Syam, A.F., Aulia, C., Reanaldi, K., Simadibrata, T.R., Abdullah, M., Tedjasaputra, T.R. 2013.
Revisi Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Reflux Gastroesofhageal
(Gastroeshophageal Reflux Disease/GERD) di Indonesia. Perkumpulan Gastroenterologi
Indonesia (PGI).
Tessy, Agus, dkk. 2004. Infeksi Saluran Kemih. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 369-76.
Wei Chen. 2009. Prevalence and risk factors associated with cronic kidney disease in an adult
popultion from southerm China. Nephrol Dial Transplant, 24 (4): 1205-1212
Yogaswara, Kevin dan Meitantia Weni.2010. Heartbeat Detector dan ECG Monitoring
Menggunakan Interfacing Soundcard. Surabaya: ITS

27

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

LAMPIRAN-LAMPIRAN

28

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


RECALL I tanggal 16 Mei 2016
=====================================================================

HASIL PERHITUNGAN DIET/


=====================================================================
Nama Makanan

Jumlah

starch

starch

______________________________________________________________________________

SIANG
bubur nasi

50 g

0.0 g

0.0 g

ikan lele

60 g

0.0 g

0.0 g

5g

0.0 g

0.0 g

20 g

0.0 g

0.0 g

kacang hijau

20 g

0.0 g

0.0 g

gula aren

10 g

0.0 g

0.0 g

bubur nasi

50 g

0.0 g

0.0 g

wortel

20 g

0.0 g

0.0 g

mie soun

20 g

0.0 g

0.0 g

5g

0.0 g

0.0 g

25 g

0.0 g

0.0 g

kecap
tempe kedele murni
Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)

SELINGAN PAGI

Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)

PAGI

minyak kelapa sawit


telur ayam
Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)
29

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016

SORE
ikan bawal

65 g

0.0 g

0.0 g

nasi putih

100 g

0.0 g

0.0 g

Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)


=====================================================================

HASIL PERHITUNGAN
=====================================================================
Zat Gizi

hasil analisis

rekomendasi

persentase

nilai

nilai/hari

pemenuhan

______________________________________________________________________________
energy

573.0 kcal

1935.9 kcal

water

0.0 g

protein

33.7 g

fat

11.5 g

carbohydr.

81.1 g

dietary fiber

3.0 g

alcohol

0.0 g

PUFA

2.0 g

cholesterol

169.4 mg

Vit. A

584.3 g

500.0 g

30 %

117 %

carotene

1.3 mg

Vit. E

0.1 mg

Vit. B1

0.3 mg

0.9 mg

31 %

Vit. B2

0.3 mg

1.3 mg

22 %

Vit. B6

0.4 mg

folic acid eq.

0.4 g

170.0 g

0%

Vit. C

2.2 mg

30.0 mg

7%

sodium

388.0 mg

potassium

606.2 mg

30

iodine

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


7.3 g
135.0 g

calcium

5%

101.3 mg

450.0 mg

23 %

magnesium

89.6 mg

250.0 mg

36 %

phosphorus

418.2 mg

iron

2.8 mg

12.5 mg

22 %

zinc

2.3 mg

6.5 mg

35 %

sulfur

1.2 mg

niacineequiv.

0.1 mg

14.5 mg

31

1%

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


RECALL II tanggal 17 Mei 20116
=====================================================================

HASIL PERHITUNGAN DIET/


=====================================================================
Nama Makanan

Jumlah

starch

starch

______________________________________________________________________________
SIANG
bubur nasi

50 g

0.0 g

0.0 g

tempe kedele murni

10 g

0.0 g

0.0 g

semur daging

75 g

0.0 g

0.0 g

100 g

0.0 g

0.0 g

50 g

0.0 g

0.0 g

50 g

0.0 g

0.0 g

100 g

0.0 g

0.0 g

50 g

0.0 g

0.0 g

lontong

50 g

0.0 g

0.0 g

sate ayam

60 g

0.0 g

0.0 g

bening selada air belu

Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)

SELINGAN PAGI
agar-agar
Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)

PAGI
ikan bandeng
tumis kacang panjang belu
bubur nasi
Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)
SORE

Meal analysis: starch 0.0 g (0 %), starch 0.0 g (0 %)


32

Prodi S1 Ilmu Gizi Universitas Alma Ata Tahun 2016


=====================================================================

HASIL PERHITUNGAN
=====================================================================
Zat Gizi

hasil analisis

rekomendasi

persentase

nilai

nilai/hari

pemenuhan

______________________________________________________________________________
energy

625.1 kcal

water

0.0 g

protein

37.1 g

fat

31.6 g

carbohydr.

54.2 g

dietary fiber

6.3 g

alcohol

0.0 g

PUFA

10.6 g

cholesterol

74.0 mg

Vit. A

2533.5 kcal

221.1 g

600.0 g

25 %

37 %

carotene

0.0 mg

Vit. E

0.0 mg

Vit. B1

0.5 mg

1.2 mg

40 %

Vit. B2

0.4 mg

1.8 mg

22 %

Vit. B6

0.6 mg

folic acid eq.

0.0 g

200.0 g

0%

Vit. C

35.5 mg

30.0 mg

118 %

sodium

82.3 mg

922.5 mg

potassium
iodine

1.5 g

135.0 g

1%

calcium

116.8 mg

450.0 mg

26 %

magnesium

109.2 mg

250.0 mg

44 %

phosphorus

424.2 mg

iron

3.8 mg

9.0 mg

42 %

zinc

2.9 mg

9.4 mg

31 %

sulfur

0.0 mg

niacineequiv.

0.0 mg

18.8 mg
33

0%