Anda di halaman 1dari 25

SKENARIO 1.

KLINIK PRATAMA

Seorang dokter gigi ingin membuka klinik pratama untuk memberikan pelayanan
kesehatan pada masyarakat. Dokter gigi tersebut bekerja sama dengan dokter
umum untuk mewujudkan keinginannya. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi
antara lain menyiapkan perijinan klinik, sarana, prasarana dan ketenagaan. Klinik
tersebut memberikan seluruh pelayanan kesehatan perorangan yaitu promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif berupa rawat jalan, rawat inap, one day care dan
home care. Diskusikan tindakan yang harus dilakukan oleh dokter gigi tersebut
dalam mewujudkan klinik yang diinginkan.

STEP 1. DEFINISI KATA SULIT


1. Klinik Pratama merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan
medik dasar baik umum maupun khusus.
2. Home care merupakan perawatan lanjutan untuk pasien untuk
mamaksimalkan kesehatannya dan melibatkan keluarga yang memegang
peranan penting dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien,
mempertahankan atau memulihkan penyakit dan mengurangi dampak
penyakit.
3. Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan yang dilakukan oleh orang
atau beberapa orang dalam bidang kesehatan berupa promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.
4. One day care merupakan pelayanan yang dilakukan singkat dalam waktu
1x24 jam untuk pasien yang telah ditegakkan diagnosanya.
5. Rawat jalan merupakan pelayanan medis oleh tenaga medis dimana
perawtan dilakukan di rumah, tidak perlu menginap
6. Klinik Pratama merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan
medik dasar baik umum maupun khusus.
7. Home care merupakan perawatan lanjutan untuk pasien untuk
mamaksimalkan kesehatannya dan melibatkan keluarga yang memegang
peranan penting dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien,

1
mempertahankan atau memulihkan penyakit dan mengurangi dampak
penyakit.
8. Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan yang dilakukan oleh orang
atau beberapa orang dalam bidang kesehatan berupa promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif.
9. One day care merupaan pelayanan yang dilakukan singkat dalam waktu
1x24 jam untuk pasien yang telah ditegakkan diagnosanya.
10. Rawat jalan merupakan pelayanan medis oleh tenaga medis dimana
perawtan dilakukan di rumah, tidak perlu menginap.

STEP 2. RUMUSAN MASALAH


1. Apa perbedaan home care dan rawat jalan?
2. Bagaimana kriteria persyaratan untuk membuat klinik pratama?
3. Apakah klinik tersebut termasuk dalam kategori rumah sakit? Jika
berbeda, di mana letak perbedaannya?
4. Siapa saja tenaga kesehatan untuk membangun klinik pratama?
5. Apakah klinik pratama harus memberikan pelayanan berupa rawat jalan,
rawat inap, one day care, dan home care sekaligus?
6. Apakah untuk membangun klinik pratama Dokter Gigi harus bekerja sama
sengan Dokter Umum?
7. Seperti apakah pelayanan medik dasar yang dimaksud dalam klinik
pratama?
8. Apakah perbedan rawat inap dan rawat jalan dalam hal persyaratan?
9. Apa perbedaan klinik pratama dan puskesmas? Kepada siapakah
pertangung jawaban dari pelaksaan klinik pratama?
10. Apakah praktek pribadi termasuk dalam kategori klinik pratama?
11. Bagaimana peraturan yang mengatur mengenai klinik pratama?

2
STEP 3. PEMBAHASAN MASALAH
1. Perbedaan home care dan rawat jalan

Aspek Rawat Jalan Home care

Jenis Diagnosa dan kuratif dilakukan di Diagnosa sampai kuratif dilakukan


perawatan klinik di klinik atau
Rehabilitatif dilakukan di klinik Diagnosa di klinik dilanjutkan
dan rumah rehabilitatif di rumah
Peranan Dokter yang berperan penting Peran keluarga sangat diperlukan

Tipe pasien Pasien dapat datang sendiri ke Pasien lanjut usia, pasien cacat,
klinik dan kooperatif pasien yang meminta perawatan
dilakukan di rumah

Perbedaan ini akan dibahas lebih lanjut pada STEP 7. Pembaasan tujuan
pembelajaran

2. Kriteria persyaratan untuk membuat klinik pratama


Lokasi
1) Pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur persebaran Klinik dengan
memperhatikan kebutuhan pelayanan
Bangunan
1) Bersifat permanen dan tidak bergabung fisik bangunannya dengan tempat
tinggal perorangan.
2) Harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan
dalam pemberian pelayanan.
3) Bangunan Klinik paling sedikit terdiri atas:
a. ruang pendaftaran
b. ruang konsultasi
c. ruang administrasi
d. ruang obat
e. ruang tindakan
f. ruang/pojok ASI
g. kamar mandi
h. ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.

3
Jika melayani rawat inap maka harus ditambahkan:
a. ruang rawat inap
b. ruang farmasi
c. ruang laboratorium
d. ruang dapur

Prasarana Klinik
a) instalasi listrik;
b) ambulans,
c) sistem gas medis;
d) sistem tata udara;
e) sistem pencahayaan;
f) prasarana lainnya sesuai kebutuhan.

Ketenagaan
a) Penanggung jawab klinik harus seorang tenaga medis
b) Ketenagaan terdiri dari tenaga medis mininimal 2 dokter dan atau
dokter gigi, tenaga kesehatan, dan tenaga non kesehatan.
c) Dokter tersebut harus memiliki surat izin praktek (SIP)
d) Tenaga kesehatan lain yang bekerja di Klinik harus mempunyai
Surat Tanda Registrasi (STR), dan Surat Izin Kerja (SIK) atau Surat
Izin Praktik (SIP).

Perizinan
a) penyelenggaraan Klinik wajib memiliki izin mendirikan dan izin
operasional.
b) Pendirian klinik harus dengan mendapat surat rekomendasi dari dinas
kesehatan
c) Untuk mendapatkan izin mendirikan, penyelenggara Klinik harus
melengkapi persyaratan:
1. identitas lengkap pemohon
2. fotokopi pendirian badan hukum atau badan usaha

4
3. fotokopi sertifikat tanah, atau bukti surat kontrak minimal untuk
jangka waktu 5 tahun
4. dokumen untuk klinik rawat jalan atau dokumen untuk klinik rawat
inap sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
5. diberikan untuk jangka waktu 6 bulan, bisa diperpanjang paling
lama 6 bulan jika masih belum bisa memenuhi persyaratan
6. Apabila batas waktu habis dan pemohon tidak bisa memenuhi
persyaratan, maka pemohon harus mengajukan permohonan izin
yang baru.
d) Untuk mendapatkan izin operasional, harus memenuhi persyaratan
teknis dan administrasi.
e) Persyaratan teknis: lokasi, bangunan, prasarana, ketenagaan, peralatan,
kefarmasian, dan laboratorium
f) Persyaratan administrasi: izin mendirikan dan rekomendasi dari dinas
kesehatan kabupaten/kota.
g) Izin operasional diberikan untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat
diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan

3. Rumah sakit memiliki klasifikasi menjadi rumah sakit A, B, C, D dan E.


Akan tetapi masih belum mengerti apakah klinik masuk ke dalam klasifikasi
rumah sakit. Sehingga pertanyaan ini akan dibahas pada STEP 7. Pembahasan
Tujuan Pembelajaran.

4. Tenaga kesehatan untuk membangun klinik pratama:


a. Penanggung jawab teknis klinik harus seorang tenaga medis dan punya
SIP.
b. Tenaga medis yang memberikan pelayanan kedokteran minimal pling
sedikit 2 orang dokter dan atau dokter gigi.
c. Jika menyelenggarakan 24 jam harus menyediakan dokter serta tenaga
kesehatan lain sesuai kebutuhan peayanan dan setiap saat ada di klinik,
jadi dibuat shift kerja.
d. Klinik pratama dibagi menjadi 2:

5
1. Rawat jalan:
Tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lain dan tenaga
non kesehatan
2. Rawat inap:
Tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga ahli gizi, analis kesehatan,
tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan

5. Klinik pratama tidak harus memberikan pelayanan berupa rawat jalan,


rawat inap, one day care, dan home care sekaligus. Hal ini dikarenakan
kebutuhan pelayanan yang disediakan juga harus disesuaikan dengan sarana
prasarana dan ketenagaan yang dimiliki oleh suatu klinik pratama.

6. Untuk membangun klinik pratama Dokter Gigi tidak harus bekerja sama
dengan dokter umum karena pada klinik pratama minimal harus terdiri dari 2
orang dokter dan atau dokter gigi. Jadi pada sebuah klinik pratama dapat
terdiri atas 2 dokter umum saja, 1 dokter umum dan 1 dokter gigi, atau 2
dokter gigi.

7. Pelayanan medik dasar yang dimaksud dalam klinik pratama:


a. Pelayanan praktik umum, bukan spesialis
b. Pelayanan khusus tergantung dengan fokus ilmu
c. Pelayanan medik dasar berupa bedah hanya bisa bedah minor tanpa
melakukan anastesi umum
Selanjutnya akan di bahas pada STEP 7. pembahasan tujuan pembelajaran

8. Perbedan rawat inap dan rawat jalan dalam hal persyaratan:


Aspek Rawat Inap Rawat Jalan

Sarana dan Harus ada ruang rawat inap, Boleh tidak ada ruangan yang
prasarana ruang farmasi, ruang disebutkan pada klinik rawat
laboratorium, ruang dapu untuk inap
ahli gizi

6
Ketenagaan Tenaga medis Tenaga medis
Tenaga keperawatan Tenaga keperawatan
Tenaga kesehatan lain Tenaga ahli gizi
Tenaga non kesehatan Analis kesehatan
Tenaga kesehatan lain
Tenaga non kesehatan

9. Perbedaan klinik pratama dan puskesmas

Aspek Puskesmas Klinik Pratama


Pelayanan Masyarakat dan perorangan perorangan
Kepemilikan pemerintah Pemerintah, pemerintah daerah,
masyarakat (perorangan, badan
usaha, badan hukum)
Fungsi sosial Langsung terjun ke masyarakat, Hanya mengobati perorangan
mengobati perorangan sekaligus
memutus persebaran penyakit
menular
wilayah Mencakup (tiap kecamatan ada) Tidak mencakup (hanya untuk
kelompok perorangan

10. Praktek pribadi tidak termasuk dalam kategori klinik pratama. Hal ini
dikarenakan klinik pratama minimal harus terdiri oleh dua orang tenaga
medis baik dokter dan atau dokter gigi, sedangkan prakter pribadi hanya
terdiri dari satu orng dokter atau dokter gigi. Pada klinik pratama juga bisa
tersedia pelayanan rawat inap sedangkan praktek pribadi tidak ada. Dilihat
darisegi lokasi klikin pratama tidak boleh bergabung dengan bangunan lain
seperti tempat tinggal.

11. Peraturan yang mengatur mengenai klinik pratama adalah Permenkes no. 9
tahun 2014. Untuk selengkapnya akan dibahas pada STEP 7. Pembahasan
tujuan pembelajaran.

STEP 4. PETA KONSEP

7
UU

Pelayanan Kesehatan Peraturan Permenkes

Perpu

Puskesmas Klinik Pratama Rumah sakit

Utama

Jenis Klinik Macam-macam Klinik Syarat Pendirian

Umum Khusus Rawat Jalan


Rawat InapHome Care

Preventif Kuratif Rehabilitatif

Pelayanan Medik Dasar

8
STEP 5. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mengetahui perbedaan home care dan rawat jalan


2. Mengetahui pengertian Rumah Sakit, kategori Rumah sakit. (Apakah
klinik termasuk dalam kategori Rumah Sakit)
3. Memahami macam macam pelayanan medik dasar pada klinik pratama
4. Memahami peraturan tentang klinik pratama

STEP 7. PEMBAHASAN TUJUAN PEMBELAJARAN


1. Mengetahui perbedaan home care dan rawat jalan
Home care adalah komponen dari pelayan kesehatan yang disediakan
untuk individu dan keluarga ditempat tinggal mereka dengan tujuan
mempromosikan, mempertahankan, atau memaksimalkan level kemandirian serta
meminimalkan efek ketidakmampuan dan kesakitan termasuk di dalamnya
penyakitnya terminal. Defenisi ini menggabungkan komponen dari home care
yang meliputi pasien, keluarga, pemberian pelayanan yang professional
(multidisiplin) dan tujuannya, yaitu untuk membantu pasien kembali pada level
kesehatan optimum dan kemandirian (Bukit, 2008).
Neis dan Mc. Ewen (2010) menyatakan home care adalah system dimana
pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang
cacat atau orang-orang yang bagus harus tinggal di rumah kerena kondisi
kesehatannya.
Menurut Amerika Medicine Associatin, Home care merupakan penyedian
peralatan dan jasa pelayanan keperawatan kepada pasien di rumah yang bertujuan
untuk memulihkan dan mempertahankan secara maksimal tingkat kenyamanan
dan kesehatan. Dalam kasus apapun efektifitas perawatan berbasis rumah
membutuhkan upaya kolaboratif pasien, keluarga, dan professional .
Sedangkan Dapertemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care
adalah pelayanan kesehatan yang berkesinabungan dan komperhensif yang
diberikan kepada individu dan keluarga ditempat tinggal mereka yang bertujuan
untuk meningkatkan, mempertahankan atau memaksimalkan tingkat kemandirian
dan meminimalkan akibat dari penyakit.

9
Menurut Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Depertemen Kesehatan
RI dalam makalahnya pada seminar Nasional 2007 tentang Home Care: Bukti
Kemandirian Perawat menyebutkan bahwa pelayanan keperawatan kesehatan di
rumah sebagai salah satu bentuk praktik mandiri perawat. Pelayanan keperawatan
di rumah merupakan sintesis dari pelayanan keperawatan kesehatan komunitas
dan ketrampilan teknis keperawatan klinik yang berasal dari spesialisasasi
keperawatan tertentu. Pelayanan keperawatan kesehatan, memelihara ,dan
meningkatkan kesehatan fisik, mental, atau emosi pasien. Pelayanan diberikan di
rumah dengan melibatkan pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan yang
lain.
Dari beberapa literature yang didapatkan home care dapat didefenisikan
sebagai berikut:
1. Perawatan di rumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah
sakit yang sudah termasuk rencana pemulangan dan dapat dilaksanakan
oleh perawat rumah sakit semula oleh perawat komunitas dimana pasien
berada atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan dirumah.
2. Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga
sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.
3. Pelayanan kesehatan berbasis di rumah merupakan suatu komponen
rentang keperawatan kesehatan yang berkesinanambungan dan
komperhensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka.
4. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga,
direncanakan, dikoordinasikan, dan disediakan oleh pemberi pelayanan
yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau
pengaturan berdasarkan perjanjian kerja atau kontrak (Warola, 1980.
Dalam pengembangan model praktek mandiri keperawatan di rumah yang
disusun PPNI dan Departemen Kesehatan )

10
Ada beberapa perbedaan antara home care dan rawat jalan ditinjau dari
berbagai aspek sebagai berikut:

Aspek Home Care Rawat Jalan

Tempat Diagnosa sampai kuratif di klinik, Diagnosa sampai rehabilitatif


kemudian rehabilitatif rumah dilakukan di klinik
Atau diagnosa sampai rehabilitatif
dilakukan di rumah
Pasien Biasanya lanjut usia, pasien cacat Pasien yang memungkinkan
yang tidak memungkinkan datang langsung ke klinik
perawatan di klinik
Sifat pasien Cenderung pasif, artinya tenaga Pasien aktif dan koopertif tiap
medis yang datang ke rumah pasien kali jadwal kontrol. Pasien
untuk memberikan pelayanan kepada diintruksiakan untuk datang
pasien, pasien tidak perlu melakukan kontrol ke klinik sesuai dengan
kunjungan rutin ke klinik jadwal yang telah diberikan oleh
dokter yang bersangkutan.
Sarana Kurang lengkap dibandingkan pada Dilengkapi dengan laboratorium
prasarana klinik untuk dapat melakukan cek lab
langsung sehingga memudahkan
penegakan diagnosi
Ketenagaa Tenaga medis, tenaga keperawaran, Tenaga medis dan lain-lain tidak
n ahli gizi datang ke rumah pasien, datang ke rumah, pasien datang
dibantu oleh peran penting keluarga sendiri langsung ke klinik
Biaya Lebih tinggi Lebih murah

Tabel 1. Perbedaan Home Care dan Rawat Jalan

2. Mengetahui pengertian Rumah Sakit, kategori Rumah sakit. (Apakah


klinik termasuk dalam kategori Rumah Sakit)
Berdasarkan Permenkes No. 56 tahun 2014 Rumah Sakit dibagi
menjadi dua yakni Rumah Sakit Umum (rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit) dan Rumah
Sakit Khusus (rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu

11
bidang atau jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan
umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainya). Pelayanan yang
diberikan rumah sakit umum meliputi pelayanan medik, kefarmasian,
keperawatan dan kebidanan, penunjang klinik, nonklinik, serta rawat inap
Klasifikasi Rumah Sakit diatur pada UU No. 44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit dan Permenkes No. 56 tahun 2014 tentang klasifikasi
rumah sakit. Rumah sakit umum tipe/kelas A, B, C, D, dan D Pratama (RS
Kelas D Pratama didirikan dan diselenggaran untuk menjamin
ketersediaan dan eningkatkan aksesibilitas masyarkatat terhadap pelayanan
kesehatan tingkat kedua dan hanya dapat didirikan dan diselenggarakan di
daerah tertinggal, perbatasan, atau kepulauan).
Tipe Rumah Sakit Umum:
1. Tipe A
Pelayanan medik terdiri dari pelayanan gawat darurat, pelayanan
medik spesialis dasar spesialis penunjang, spesialis lain, subspesialis, dan
spesialis gigi dan mulut. Dengan tenaga medis minimal terdiri dari 18
dokter umum, 4 dokter gigi umum, 3 dokter spesialis dasar, 3 dokter
spesialis penunjang, 3 dokter spesialis lain, 2 dokter subspesialis, dan 1
dokter gigi spesialis.
2. Tipe B
Pelayanan medik yang diberikan sama dengan pelayanan medik rumah
sakit tipe A, hanya saja jumlah tenaga medis yang berbeda. Tenaga medis
untuk tipe B minimal terdiri dari 12 dokter umum, 3 dokter gigi umum, 3
dokter spesialis, dasar, 2 dokter spesialis penunjang, 1 dokter spesialis lain,
1 dokter subspesialis, dan 1 dokter gigi spesialis.
3. Tipe C
Pelayanan medik yang diberikan masih sama hanya berbeda jumlah
tenaga medis. Tenaga medis tipe ini minimal terdiri dari 9 dokter umum, 2
dokter gigi umum, 2 dokter spesialis dasar, 1 dokter spesialis penunjang,
dan 1 dokter gigi spesialis .
4. Tipe D umum
Pelayanan medik yang diberikan pada tipe D lebih sedikit dibanding
tipe yang lain yaitu, pelayanan gawat darurat, pelayanan medik umum,
pelayanan spesialis dasar, dan pelayanan spesialis penunjang. Tenaga

12
medis minimal untu tipe D adalah 4 dokter umum, 1 dokter gigi umum,
dan 1 dokter spesialis.
5. Tipe D pratama
Tipe D diselenggarakan di daerah terpencil, perbatasan, kepulauan dan
juga pada daerah kabupaten atau kota yang memnag belum memiliki
rumah sakit.
Yang mengawasi klinik pratama adalah gubernur atau bupati atau
kepala dinas kesehatan, dimana pengawas berhak untuk memberi
peringatan tertulis dan juga mencabut izin klinik jika didapati klinik
tersebut ,melakukan pelanggaran.

Berikut perbedaan Rumah Sakit Tipe/Kelas A, B, C, dan D dilihat


dari Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yakni Medik, Kefarmasian,
Keperawatan, Kesehatan dan Nonkesehatan.
Jenis A B C D
Pelayanan
Medik 18 dokter umum 12 dokter umum 9 dokter umum 4 dokter umum
untuk pelayanan untuk pelayanan untuk pelayanan untuk pelayanan
medik dasar medik dasar medik dasar medik dasar
4 dokter gigi
umum untuk 3 dokter gigi 2 dokter gigi 1 dokter gigi
pelayanan umum untuk umum untuk umum untuk
medik gigi pelayanan medik pelayanan medik pelayanan
mulut gigi mulut gigi mulut medik gigi
mulut
6 dokter 3 dokter spesialis 2 dokter spesialis
spesialis untuk untuk setiap jenis untuk setiap jenis 1 dokter
setiap jenis pelayanan medik pelayanan medik spesialis untuk
pelayanan spesialis dasar spesialis dasar setiap jenis
medik spesialis pelayanan
dasar 2 dokter spesialis 1 dokter spesialis medik spesialis
untuk septiap untuk septiap dasar
3 dokter jenis pelayanan jenis pelayanan
spesialis untuk medik sepsialis medik sepsialis
septiap jenis penunjang penunjang
pelayanan
medik sepsialis 1 dokter spesiali 1 dokter gigi
penunjang untuk setiap jenis untuk setiap jenis
pelyanan medik pelayanan medik
3 dokter spesiali spesilis gigi

13
untuk setiap spesialis lain mulut
jenis pelyanan
medik spesialis 1 dokter
lain subspesiali untuk
setiap jenis
2 dokter pelayanan medik
subspesiali subspesialis
untuk setiap
jenis pelayanan 1 dokter gigi
medik untuk setiap jenis
subspesialis pelayanan medik
spesilis gigi mulut
1 dokter gigi
untuk setiap
jenis pelayanan
medik spesilis
gigi mulut

Kefarmasian 1 Apt ssbg 1 Apt sbg kepala 1 Apt sbg kepala 1 Apt sbg kepala
kepala instalasi instalasi farmasi instalasi farmasi instalasi farmasi
farmasi
4 Apt di Rawat 2 Apt di Rawat 1 Apt di rawat
5 Apt di Rawat Jalan dibantu 8 Jalan dibantu 4 inap dibantu 2
Jalan dibantu 10 tenaga teknis tenaga teknis tenaga teknis
tenaga teknis farmasi farmasi farmasi
farmasi
4 Apt di rawat 4 Apt di rawat 1 apt koord
5 Apt di rawat inap dibantu 8 inap dibantu 4 penerimaan,
inap dibantu 10 tenaga teknis tenaga teknis distribusi, dan
tenaga teknis farmasi farmasi produksi
farmasi
1 Apt di IGD 1 Apt koord
1 Apt di IGD dibantu 2 tenaga penerimaan,
dibantu 2 tenaga teknis farmasi distribusi, dan
teknis farmasi produksi
1 Apt di ICU
1 Apt di ICU dibantu 2 tenaga
dibantu 2 tenaga teknis farmasi
teknis farmasi
1 Apt sbg koord
1 Apt sbg koord penerimaan dan
penerimaan dan

14
distribusi distribusi

1 Apt sbg koord 1 Apt sbg koord


produksi produksi

Keperawatan Jumlah sesuai Jumlah sesuai Dihitung dengan 2 perawat utk 3


tempat tidur pd tempat tidur pd perbandingan 2 tempat tidur
rawat inap rawat inap perawat utk 3
tempat tidur Kualifikasi &
Kualifikasi & Kualifikasi & kompetensi
kompetensi kompetensi Kualifikasi & disesuaikan
disesuaikan disesuaikan kompetensi dengan keb. RS
dengan keb. RS dengan keb. RS disesuaikan
dengan keb. RS

Tenaga Disesuaikan Disesuaikan Disesuaikan Disesuaikan


kesehatan dengan keb. dengan keb. dengan keb. dengan keb.
dan Non kes Rumah sakit Rumah sakit Rumah sakit Rumah sakit

Tabel 2. Perbedaan Rumah Sakit Tipe/Kelas A, B, C, dan D

Klinik pratama tidak masuk dalam klasifikasi rumah sakit, hal ini
dikarenakan syarat perizinan rumah sakit dan klinik berbeda sesuai dengan
Permenkes No. 56 tahun 2014 tentang klasifikasi dan perizinan rumah

15
sakit dan Permenkes No. 9 tahun 2014 tentang klinik pratama. Dapat
diambil contoh rumah sakit dengan klasifikasi terendah yaitu rumah sakit
tipe D pratama dibandingkan dengan klinik pratama dari beberapa aspek
seperti ketenagaan dan sarana prasarana.
Aspek Rumah sakit tipe D pratama Klinik Pratama
Ketenagaan Rumah Sakit Kelas D Pratama Tenaga medis pada Klinik pratama
minimal harus memiliki 4 yang memberikan pelayanan
(empat) orang dokter umum kedokteran paling sedikit terdiri dari
dan 1 (satu) orang dokter gigi 2 (dua) orang dokter dan/atau dokter
yang mempunyai surat izin gigi sebagai pemberi pelayanan.
praktik di rumah sakit tersebut. (Permenkes No.9 tahun 2014)
(Permenkes No.24 tahun 2014)
Jumlah tempat tidur minimal Jumlah tempat tidur pasien pada
Sarana dan
10 (sepuluh) yang seluruhnya Klinik rawat inap paling sedikit 5
prasarana
merupakan tempat tidur (lima) buah dan paling banyak 10
perawatan pasien kelas III (sepuluh) buah
(Permenkes No.24 tahun 2014) (Permenkes No.9 tahun 2014)

Tabel 3. Perbedaan Rumah Sakit Tipe D Pratama dengan Klinik Pratama

3. Memahami macam macam pelayanan medik dasar pada klinik


pratama
Menurut keputusan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 6
tahun 2007, pelayanan medik dasar adalah pelayanan kesehatan individual
yang dilandasi ilmu klinik (clinical science), merupakan upaya kesehatan
perorangan yang meliputi aspek pencegahan primer (health promotion dan
specific protection), pencegahan sekunder meliputi deteksi dini ddan
pengobatan, serta pembatasan cacat dan pencegahan tertier berupa
rehabilitasi medik yang secara maksimal dilakukan oleh dokter, dokter gigi
termasuk dokter keluarga.
Pelayanan medik dasar dalam bidang kedokteran gigi:
1. Konseling medik (umum dan gigi)
2. Deteksi dini meliputi penegakkan diagnose dengan atau tanpa
menggunakan pelayanan penunjang sederhana (laboratorium)
3. Pengobatan dan atau tindakan tepat, cepat terhadap peyakit infeksi,
penyakit tidak menular (umum dan gigi) termasuk kegawat daruratan

16
atau penyakit tanpa komplikasi yang tidak/belum membutuhkan
pelayanan dokte spesialis serta rehabilitasi dasar
4. Pelayanan medik dasar sesuai dengan kompetensi dokter atau gigi.
Menurut Permenkes No. 9 tahun 2014 disebutkan bahwa Klinik
pratama hanya dapat melakukan bedah kecil (minor) tanpa anestesi
dan/atau spinal.
Berdasarkan keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia No.
6 tahun 2007, pada bidang kedokteran gigi jenis pelayanan medik dasar
yang dapat diberikan antara lain:
1. Pelayanan darurat dasar (mengurangi rasa sakit)
2. Pembersihan karang gigi
3. Ekstraksi
4. Fissure sealent
5. Restorasi tumpatan
6. Perawatan saluran akar
7. Perawatan penyakit/kelainan jaringan mulut
8. Menghilangkan traumatic oklusi
9. Pelayanan bedah minor (insisi abses, tumor kecil jinak pada kulit)
Buku panduan praktis pelayanan kesehatan BPJS (2014) menyebutkan
bahwa ada beberapa pelayanan kesehatan tingkat dasar yang dapat
dilakukan dalam bidang kedokteran gigi, antara lain:
1. administrasi pelayanan, meliputi biaya administrasi pendaftaran
peserta untuk berobat, penyediaan dan pemberian surat rujukan ke
fasilitas kesehatan lanjutan untuk penyakit yang tidak dapat ditangani
di fasilitas kesehatan tingkat pertama
2. pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
3. premedikasi
4. kegawatdaruratan oro-dental
5. pencabutan gigi sulung (topikal, infiltrasi)
6. pencabutan gigi permanen tanpa penyulit
7. obat pasca ekstraksi
8. tumpatan komposit/GIC
9. skeling gigi (1x dalam setahun)

4. Memahami peraturan tentang klinik pratama


Penyelenggaraan klinik pratama diatur dalam beberapa peraturan menteri
kesehatan Republik Indonesia, antara lain:
1. Permenkes No.9 tahun 2014 tentang Klinik Pratama.

17
JENIS KLINIK
1) Berdasarkan jenis pelayanan, Klinik dibagi menjadi:
a. Klinik pratama
b. Klinik utama.
2) Klinik pratama merupakan Klinik yang menyelenggarakan pelayanan
medik dasar baik umum maupun khusus.
3) Klinik utama merupakan Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik
spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.
4) Klinik dapat mengkhususkan pelayanan pada satu bidang tertentu
berdasarkan cabang/disiplin ilmu atau sistem organ.

Klinik dapat dimiliki oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau


masyarakat. Klinik yang dimiliki oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah
harus didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Klinik yang dimiliki oleh masyarakat yang menyelenggarakan rawat jalan
dapat didirikan oleh perorangan atau badan usaha. Klinik yang dimiliki oleh
masyarakat yang menyelenggarakan rawat inap harus didirikan oleh badan
hukum.
LOKASI
Pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur persebaran Klinik yang
diselenggarakan masyarakat di wilayahnya dengan memperhatikan kebutuhan
pelayanan berdasarkan rasio jumlah penduduk. Lokasi Klinik harus memenuhi
ketentuan mengenai persyaratan kesehatan lingkungan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan.

BANGUNAN
Bangunan Klinik harus bersifat permanen dan tidak bergabung fisik
bangunannya dengan tempat tinggal perorangan. Tidak termasuk apartemen,
rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis. Bangunan
Klinik harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan
dalam pemberian pelayanan serta perlindungan keselamatan dan kesehatan
bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.
Bangunan Klinik paling sedikit terdiri atas:

18
a. ruang pendaftaran/ruang tunggu
b. ruang konsultasi
c. ruang administrasi
d. ruang obat dan bahan habis pakai untuk klinik yang
melaksanakan pelayanan farmasi
e. ruang tindakan
f. ruang/pojok ASI
g. kamar mandi/wc
h. ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.

Klinik rawat inap harus memiliki:

a. ruang rawat inap yang memenuhi persyaratan;


b. ruang farmasi;
c. ruang laboratorium; dan
d. ruang dapur;
Jumlah tempat tidur pasien pada Klinik rawat inap paling sedikit 5 (lima)
buah dan paling banyak 10 (sepuluh) buah.

PRASARANA
1) Prasarana Klinik meliputi:
a. instalasi sanitasi
b. instalasi listrik
c. pencegahan dan penanggulangan kebakaran
d. ambulans, khusus untuk Klinik yang menyelenggarakan rawat inap
e. sistem gas medis
f. sistem tata udara
g. sistem pencahayaan
h. prasarana lainnya sesuai kebutuhan.
Sarana dan Prasarana Klinik harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi
dengan baik.

KETENAGAAN

19
Penanggung jawab teknis Klinik harus seorang tenaga medis. Penanggung
jawab teknis Klinik harus memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di Klinik tersebut, dan
dapat merangkap sebagai pemberi pelayanan. Tenaga Medis hanya dapat menjadi
penanggung jawab teknis pada 1 (satu) Klinik.

Ketenagaan Klinik rawat jalan terdiri atas tenaga medis, tenaga


keperawatan, Tenaga Kesehatan lain, dan tenaga non kesehatan sesuai dengan
kebutuhan. Ketenagaan Klinik rawat inap terdiri atas tenaga medis, tenaga
kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, Tenaga
Kesehatan lain dan tenaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Jenis,
kualifikasi, dan jumlah Tenaga Kesehatan lain serta tenaga non kesehatan
disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis pelayanan yang diberikan oleh Klinik.

Tenaga medis pada Klinik pratama yang memberikan pelayanan


kedokteran paling sedikit terdiri dari 2 (dua) orang dokter dan/atau dokter gigi
sebagai pemberi pelayanan. Setiap tenaga medis yang berpraktik di Klinik harus
mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap tenaga kesehatan lain yang
bekerja di Klinik harus mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR), dan Surat Izin
Kerja (SIK) atau Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Klinik harus bekerja sesuai
dengan standar profesi, standar prosedur operasional, standar pelayanan, etika
profesi, menghormati hak pasien, serta mengutamakan kepentingan dan
keselamatan pasien.

Pendayagunaan tenaga kesehatan warga negara asing di Klinik


dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Klinik yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan 24 (dua puluh empat) jam harus
menyediakan dokter serta tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan pelayanan dan
setiap saat berada di tempat.

PERALATAN
Klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan nonmedis yang

20
memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan. Peralatan medis dan
nonmedis harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan. Selain
memenuhi standar peralatan medis harus memiliki izin edar sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan. Peralatan medis yang digunakan di Klinik harus
diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi pengujian fasilitas kesehatan
yang berwenang.
Ketentuan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peralatan medis yang menggunakan sinar pengion harus mendapatkan izin sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan. Penggunaan peralatan medis di Klinik
harus dilakukan berdasarkan indikasi medis.
KEFARMASIAN
Klinik rawat jalan tidak wajib melaksanakan pelayanan farmasi. Klinik
rawat jalan yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian wajib memiliki
apoteker yang memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) sebagai penanggung
jawab atau pendamping.
Klinik rawat inap wajib memiliki instalasi farmasi yang diselenggarakan
apoteker. Instalasi farmasi melayani resep dari dokter Klinik yang bersangkutan,
serta dapat melayani resep dari dokter praktik perorangan maupun Klinik lain.
Klinik yang menyelenggarakan pelayanan rehabilitasi medis pecandu narkotika,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya wajib memiliki instalasi farmasi yang
diselenggarakan oleh apoteker.

LABORATORIUM
Klinik rawat inap wajib menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan
laboratorium klinik. Klinik rawat jalan dapat menyelenggarakan pengelolaan dan
pelayanan laboratorium klinik. Laboratorium Klinik merupakan pelayanan
laboratorium klinik umum pratama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Perizinan laboratorium klinik terintegrasi dengan perizinan Klinik.
Dalam hal Klinik menyelenggarakan laboratorium klinik yang memiliki sarana,
prasarana, ketenagaan dan kemampuan pelayanan melebihi kriteria dan
persyaratan Klinik, maka laboratorium klinik tersebut harus memiliki izin
tersendiri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

21
PERIZINAN
Setiap penyelenggaraan Klinik wajib memiliki izin mendirikan dan izin
operasional. Izin mendirikan diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.
Izin operasional diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota atau kepala
dinas kesehatan kabupaten/kota.
Untuk mendapatkan izin mendirikan, penyelenggara Klinik harus
melengkapi persyaratan:
a. identitas lengkap pemohon
b. salinan/fotokopi pendirian badan hukum atau badan usaha, kecuali untuk
kepemilikan perorangan
c. salinan/fotokopi yang sah sertifikat tanah, bukti kepemilikan lain yang
disahkan oleh notaris, atau bukti surat kontrak minimal untuk jangka
waktu 5 (lima) tahun
e. dokumen SPPL untuk Klinik rawat jalan, atau dokumen UKL-UPL untuk
Klinik rawat inap sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan; dan
profil Klinik yang akan didirikan meliputi pengorganisasian, lokasi,
bangunan, prasarana, ketenagaan, peralatan, kefarmasian, laboratorium,
serta pelayanan yang diberikan
f. persyaratan lainnya sesuai dengan peraturan daerah setempat.
Izin mendirikan diberikan untuk jangka waktu 6 (enam) bulan, dan dapat
diperpanjang paling lama 6 (enam) bulan apabila belum dapat memenuhi
persyaratan. Apabila batas waktu habis dan pemohon tidak dapat memenuhi
persyaratan, maka pemohon harus mengajukan permohonan izin mendirikan yang
baru.
Untuk mendapatkan izin operasional, penyelenggara Klinik harus
memenuhi persyaratan teknis dan administrasi. Persyaratan teknis meliputi
persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, ketenagaan, peralatan, kefarmasian, dan
laboratorium. Persyaratan administrasi meliputi izin mendirikan dan rekomendasi
dari dinas kesehatan kabupaten/kota. Izin operasional diberikan untuk jangka
waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi
persyaratan.

22
Pemerintah daerah kabupaten/kota atau kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota harus mengeluarkan keputusan atas permohonan izin operasional,
paling lama 1 (satu) bulan sejak diterima permohonan izin. Keputusan dapat
berupa penerbitan izin, penolakan izin atau pemberitahuan untuk kelengkapan
berkas.
Apabila dalam permohonan izin operasional, pemohon dinyatakan masih
harus melengkapi persyaratan, maka Pemerintah daerah kabupaten/kota atau
kepala dinas kesehatan kabupaten/kota harus segera memberitahukan kepada
pemohon dalam jangka waktu 1 (satu) bulan. Pemohon dalam jangka waktu 60
(enam puluh) hari sejak pemberitahuan disampaikan, harus segera melengkapi
persyaratan yang belum dipenuhi. Apabila dalam jangka waktu pemohon tidak
dapat memenuhi persyaratan, pemerintah daerah kabupaten/kota atau kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota mengeluarkan surat penolakan atas permohonan izin
operasional dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari.
Perpanjangan izin operasional harus diajukan pemohon paling lama 3
(tiga) bulan sebelum habis masa berlaku izin operasional. Dalam waktu 1 (satu)
bulan sejak permohonan perpanjangan izin sebagaimana, pemerintah daerah
kabupaten/kota atau kepala dinas kesehatan kabupaten/kota harus memberi
keputusan berupa penerbitan izin atau penolakan izin. Dalam hal permohonan
perpanjangan izin ditolak, pemerintah daerah kabupaten/kota atau kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota wajib memberikan alasan penolakan secara tertulis.

PENYELENGGARAAN
Klinik menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan kesehatan yang bersifat
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dilaksanakan dalam bentuk rawat
jalan, rawat inap, pelayanan satu hari (one day care) dan/atau home care.
Pelayanan satu hari (one day care) merupakan pelayanan yang dilakukan
untuk pasien yang sudah ditegakkan diagnosa secara definitif dan perlu
mendapat tindakan atau perawatan semi intensif (observasi) setelah 6 (enam)
jam sampai dengan 24 (dua puluh empat) jam.
Home care merupakan bagian atau lanjutan dari pelayanan kesehatan

23
yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan
keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan,
mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat
kemandirian dan meminimalkan dampak penyakit.
Klinik rawat inap hanya dapat memberikan pelayanan rawat inap paling
lama 5 (lima) hari. Apabila memerlukan rawat inap lebih dari 5 (lima) hari, maka
pasien harus secara terencana dirujuk ke rumah sakit sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Klinik pratama hanya dapat melakukan bedah kecil (minor) tanpa anestesi
umum dan/atau spinal. Klasifikasi bedah kecil, sedang, dan besar ditetapkan oleh
Organisasi Profesi yang bersangkutan.

2. Permenkes No. 46 tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama,


Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi.
3. Kepmenkes No.6 tahun 2007 tentang Pelayanan Medik Dasar pada Klinik
4. Permenkes No. 71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan
Kesehatan Nasional.
5. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan tahun 2014.
6.

24
DAFTAR PUSTAKA

BPJS Kesehatan, 2014. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan. Jakarta.


Bukit, E. 2008. Perawatan Kesehatan di Rumah. Repository Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Depkes RI, 2007. Keputusan menteri kesehatan republik Indonesia No. 6
tahun 2007 tentang Pelayanan Medik Dasar. Jakarta.
Depkes RI, 2013. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 71 tentang Pelayanan
Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional. Jakarta
Depkes RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 56, tentang
Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit. Jakarta.
Depkes RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 tentang Klinik
Pratama. Jakarta.
Depkes RI, 2015. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 46 tentang Akreditasi
Puskesmas, Klinik Pratama, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik
Mandiri Dokter Gigi. Jakarta.
Depkes, RI. 2002. Pengembangan Model Praktek Pelayanan Mandiri
keperawatan. Pusgunakes. Jakarta
Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan, RI. 2007.
Home care : Bukti Kemandirian Perawat. Makalah dipresentasikan pada Seminar
Nasional
Nies,M. A. and Mc Ewen,M. 2010. Community Health Nursing, W. B.
Saunders Company, Philadelphia
Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
Warola, 1980. Dalam pengembangan model praktek mandiri keperawatan
di rumah yang disusun PPNI dan Departemen Kesehatan

25