Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 5
BLOK MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

Kelompok Tutorial 7
Anggota Kelompok :
Citra Putri Rengganis
Anisa Nur Hakima
Dea Lili Anis Nur P.
Indah Putri A.D
Aisha Rahma F
Zakiyya Ulpiyah
Anisa Hilda B
Nur Qum Irfan

(141610101037)
(141610101043)
(141610101055)
(141610101057)
(141610101058)
(141610101061)
(141610101063)
(141610101086)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

SKENARIO 5
INDEKS KARIES
Dokter gigi Sinta bekerja di puskesmas Sukamaju ingin mengetahui gambaran
banyaknya karies yang diderita masyarakatnya. Anak-anak maupun orang dewasa
dilakukan pemeriksaan karies dengan menggunakan indeks karies yaitu def-t dan
DMF-t. drg sinta tidak menggunakan def-s dan DMF-s. hasil yang didapatkan dari
pemeriksaan menunjukkan rata-rata D= 5, M=4, F=1. Skor DMF-t dapat membantu
untuk mengetahui kebutuhan perawatan karies. Mengapa drg Sinta menggunakan deft dan DMF-t dan masuk kategori apa skor tersebut.

STEP 1
(Klarifikasi Istilah)
1. DMF-t

:
Indeks karies yang digunakan untuk gigi permanen.
Decay = semua gigi yang mengalami karies
Missing = gigi yang hilang karena karies
Filling = gigi yang sudah ditumpat
Teeth = indeks karies dihitung pergigi
2. Indeks karies :
Indeks merupakan ukuran yang dinyatakan dengan angka.
Indeks karies digunakan untuk mengukur tingkat keparahan
dari

kejadian

sekelompok

masyarakat,

sehingga

dapat

menggambarkan kesehatan rongga mulut. Selain itu juga


digunakan agar didapatkan keseragaman dalam menentukan
3. def-t

4. def-s

kategori karies.
:
indeks karies yang digunakan untuk gigi sulung
decay
= gigi yang mengalami karies
exfoliated
= gigi sulung yang hilang Karena karies
filling
= gigi yang ditumpat
:
Indeks karies ini sama seperti def-t, perbedaanya pada cara
menghitung karies. Karies dihitung per permukaan gigi. Pada
gigi anterior

4 permukaan gigi yaitu mesial, distal, bukal,

lingual/ palatal sedangkan pada gigi posterior 5 permukaan


gigi yaitu oklusal, mesial, distal, bukal,lingual/palatal .

5. DMF-s

:
Indeks karies ini sama seperti def-s. Namun digunakan untuk
gigi permanen

STEP 2
(Menetapkan Permasalahan)
1.
2.
3.
4.

Apa fungsi indeks karies ?


Bagaimana cara menghitung indeks karies ?
Bagaimana cara menentukan kategori indeks ?
Perbedaan DMF-t, DMF-s, def-t dan def-s , Serta alasan mengapa drg sinta
memilih menggunakan DMF-t dan def-t ?

STEP 3
(Menganalisis Masalah)
1. Fungsi indeks karies :
Untuk melihat status karies gigi
Untuk perencanaan promotif dan preventif
Untuk perencanaan perawatan
Memantau perkembangan status pengalaman karies
Membandingkan status kesehatan dari satu daerah dengan daerah

lainnya
Mengetahui hubungan data indeks dengan data lainnya

2. Menurut WHO :
1. DMF-T (pada gigi permanen)
- KATEGORI D
a. Semua gigi yang karies
b. Karies sekunder pada gigi dengan tumpatan permanen
c. Gigi dengan tumpatan sementara
- KATEGORI M
a. Semua gigi yang hilang karenakaries
- KATEGORI F
a. Semua gigi dengan tumpatan permanen
b. Gigi yang sedang dalam perawatan saluran akar

DMF-S ( pada gigi permanen)


Kategori DMF nya sama seperti DMF-t. Hanya saja yang diperiksa per
permukaan gigi, pada gigi anterior sebanyak 4 permukaan, fasial, lingual,
distal, mesial dan pada gigi posterior 5 permukaan, fasial, lingual, distal,
mesial, dan oklusal.
def-t (pada gigi sulung)
- d (decayed) yaitu gigi sulung yang mengalami karies atau jika sudah
direstorasi dan terdapat kaies sekunder.
- e (exfoliated)) yaitu jika terdapat karies yang besar pada gigi sulung
dan diindikasikan pencabutan
- f (filled) gigi sulung yang karies dansudah ditumpat tanpa adanya
karies sekunder.
def-s (pada gigi sulung)
-

Kategori sama dengan DMF-S hanya saja terjadi pada gigi sulung
Kategori m(missing) diganti dengan e(exfoliated)

3. Kategori DMF-t menurut WHO :


0-1,1 : sangat rendah
1,2-2,6 : rendah
2,7-4,4 : sedang
4,5-6,5 : tinggi
6,5> : sangat tinggi
Kategori indeks karies diskenario :
Jumlah D=5 + M=4 + F=1 10 = kategori sangat tinggi
4. DMF-t : digunakan pada gigi permanen dengan menghitung 28 gigi permanen
DMF-s : digunakan pada gigi permanen dengan menghitung per permukaan
gigi, yaitu 128 permukaan gigi
def-t : digunakan pada gigi sulung dengan menghitung pergigi
def-s : digunakan pada gigi sulung dengan menghitung per permukaan gigi
Alasan mengapa drg sinta lebih memilih menggunakan indeks DMF-t dan
def-t karena : banyak orang yang akan dihitung indeks kariesnya sehingga jika
menggunakan indeks DMF-t dan def-t akan lebih sederhana, dibandingkan dengan
DMF-s dan def-s. DMF-t dan def-t lebih sederhana karena perhitungan indeks ini

menggunakan 28 gigi (pergigi), sedangkan indeks DMF-s dan def-s dihitung 128
permukaan gigi (per permukaan gigi).

STEP 4
(Mapping)

Indeks Karies

Macam-macam
Indeks Karies

Dewasa

DMF-t

Anak-anak

DMF-s

def-t

def-s

Kategori

STEP 5
(Learning Objective)
Learning Objective pada skenario ini yaitu mahasiswa mampu mengetahui dan
memahami :
1. Tujuan dan fungsi indeks karies
2. Macam-macam indeks karies dan kategorinya
3. Definisi anak-anak dan dewasa

STEP 6
(Belajar Mandiri)

STEP 7
(Membahas Learning objective)
1

Tujuan dan fungsi indeks karies

Tujuan Indeks Karies


Tujuan penggunaan indeks dalam penilaian karies yaitu agar penilaian yang
kita berikan seragam. Yang perlu diperhatikan dalam menggunakan indeks adalah
penilaian yang akan dipergunakan harus mempunyai cara/metode yang seragam,
sehingga ukuran yang didapat juga seragam. Angka yang diperoleh dengan
menggunakan indeks adalah berdasarkan penilaian yang objektif, bukan berdasarkan
penilaian subjektif, misalnya baik, cukup, kurang sekali. Indeks adalah angka yang
menyatakan suatu keadaan klinis. (Eliza Herjulianti, dkk. 2002)
Tujuan indeks karies dmf-t / def-t yaitu dapat menilai status kesehatan rongga
mulut (baik,sedang,buruk), Sebagai data dan evaluasi untuk program pelayanan
kesehatan yang telah dilakukan.

Fungsi Indeks Karies


Dengan menggunakan indeks kita dapat:
1

Membedakan keadaan klinis dari masyarakat pada saat yang sama atau saat yang

lain.
2 Melihat kemajuan/kemunduran dari kesehatan gigi masyarakat
Contohnya:
Membandingkan keadaan klinis siswa SD Sejahtera I dan siswa SD Sejahtera
II pada tahun 1999.
Membandingkan keadaan klinis siswa SD Sejahtera I pada tahun 1998 dengan
keadaan klinis siswa SD Sejahtera I pada tahun 1999.

Membandingkan keadaan klinisi siswa SD Sejahtera I sebelum diberi


penyuluhan kesehatan gigi tahun 1998 dengan keadaan siswa SD Sejahtera I
setelah mendapat penyuluhan kesehatan gigi tahun 1999. (Eliza Herjulianti,
3
4
5
6

dkk. 2002)
Melihat status karies gigi yang terjadi dimasyarakat
Perencanaan upaya promotif preventif dan kuratif
Memantau perkembangan status karies
Membandingkan status pengalaman karies pada daerah satu dengan yang lain

Kegunaan Indeks Karies


Angka DMF-T atay def-t dari hasil survei dapat dipergunakan untuk (Eliza
Herjulianti, dkk. 2002):
1

Mengetahui keadaan kesehatan gigi masyarakat, misalnya:


Mengetahui jumlah karies menurut umur

Contoh tabel hubungan DMF-T dengan umur


Mengetahui peningkatan jumlah karies dalam waktu tertentu
Mengetahui hubungan antara karies dengan data yang lain
Misal: hubungan antara fluor dengan karies, hubungan antara keadaan
2

kebersihan gigi mulut dengan karies.


Membuat rencana program
Untuk menentukan jumlah tenaga, alat dan bahan, waktu yang diperlukan untuk
pelaksanaan program.. Dari angkat DMF-T dam def-t dapat dihitung berapa waktu,
jumlah tenaga kerja, alat dan bahan juga anggaran belanja yang dibutuhkan dapat
dihitung mendekati kepastian. Selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan

berapa jumlah anak yang dapat dikerjakan oleh seorang perawat gigi.
Melaksanakan program evaluasi
9

Contoh: dari angka DMF-T / def-t yang dikumulkan dari survei, dapat digunakan
untuk mengevaluasi keberhasilan suatu prgram, misalnya pelaksanaan usaha
fluoridasi.
2 Macam-macam indeks karies dan kategorinya
Indeks adalah ukuran yang dinyatakan dengan angka dari keadaan suatu
golongan/ kelompok terhadap suatu penyakit gigi tertentu. Ukuran-ukuran ini dapat
digunakan untuk mengukur derajat keparahan dari suatu penyakit mulai dari yang
ringan sampai berat. Untuk mendapatkan data tentang status karies seseorang
digunakan indeks karies agar penilaian yang diberikan pemeriksa sama atau seragam.
Ada beberapa indeks karies yang digunakan seperti indeks Klein dan indeks WHO,
namun belakangan ini diperkenalkan Significant indeks Caries (SiC) untuk
melengkapi indeks WHO sebelumnya (Sondang. P dan Hamada. T, 2008 ). Indeks
karies gigi yang bisa digunakan adalah :
1

def-t
Pengukuran ini digunakan untuk gigi susu.
d = decayed : Jumlah gigi karies yang masih dapat ditambal
Indeks d digunakan ppabila jaringan email gigi sulung mengalami dekalsifikasi,
terlihat keputih-putihan atau kecoklatan dengan ujung ekskavator/ sonde yang
terasa menyangkut pada kavitas. Keadaan lain yang termasuk ke dalam kategori
ini, yaitu: karies dengan kavitas besar yang melibatkan dentin, karies mencapai
jaringan pulpa baik pulpa tersebut masih vital maupun non-vital, serta karies
pada gigi sulung walaupun pada gigi tersebut terdapat restorasi. Seluruh
keadaan ini masih dikategorikan d (decayed), apabila kavitas tersebut nantinya
masih dapat direstorasi.
e = extracted : Jumlah gigi susu yang telah/harus dicabut karena karies
Indeks e digunakan apabila gigi sulung tersebut telah dilakukan pencabutan
atau tanggal. Keadaan lain yang termasuk ke dalam kategori ini yaitu karies
gigi sulung yang diindikasikan untuk pencabutan, contohnya jika mahkota gigi
tidak ada atau yang ada hanya sisa akar.
f = filled : Jumlah gigi yang ditambal

10

Indeks f digunakan apabila pada gigi sulung tersebut telah ditumpat atau
direstorasi secara tetap maupun sementara. Apabila gigi yang sudah ditumpat
terdapat karies maka tidak akan termasuk kedalam kategori ini.
Penghitungan indeks def-t dilakukan dengan rumus:
Indekst=d +e +f
Indekst ratar ata=

jumlah indekst semuaresponden


jumlah h responden

Kekurangan indeks def-t:


Indeks e (exfoliated) seharusnya dapat menunjukkan jumlah gigi yang dicabut
karena karies. Pada gigi susu kadang-kadang gigi yang tidak ada disebabkan lepas
dengan sendirinya karena faktor fisiologis resobsi akar.. Untuk mencegah
terjadinya kekeliruan indeks def sering diganti df saja (Eliza Herjulianti, dkk.
2002)
2

DMF-T
Indeks DMFT yang dikeluarkan oleh WHO bertujuan untuk menggambarkan
pengalaman karies seseorang atau dalam suatu populasi. Semua gigi diperiksa
kecuali gigi molar tiga karena biasanya gigi tersebut sudah dicabut dan kadangkadang tidak berfungsi. Indeks ini dibedakan atas indeks DMFT (decayed
missing filled teeth) yang digunakan untuk gigi permanen pada orang dewasa dan
deft (decayed extracted filledtooth) untuk gigi susu pada anak-anak (Pintauli,
2008)
Kriteria pemeriksaan seperti terlihat pada Tabel 1. Cara perhitungannya
adalah dengan menjumlahkan semua DMF atau def. Komponen D meliputi
penjumlahan kode 1 dan 2, komponen M untuk kode 4 pada subjek <30 tahun,
dan kode 4 dan 5 untuk subjek >30 tahun misalnya hilang karena karies atau
sebab lain. Komponen F hanya untuk kode 3. Untuk kode 6 (fisur silen) dan 7
(jembatan, mahkota khusus atau viner/implan) tidak dimasukkan dalam
penghitungan DMFT.

11

Tabel 1. Kode pemeriksaan karies dengan indeks


WHO
Kode
Gigi
susu

Gi
gi
permanen

Kondisi/Status

Mahkota
gigi

Mahkota
gigi

Akar
gigi

A
B
C
D

0
1
2
3

0
1
2
3

Permukaan gigi sehat/keras


Gigi karies
Gigi dengan tumpatan, ada karies
Gigi dengan tumpatan baik, tidak ada

7
8
9

karies
Gigi yang hilang karena karies
Gigi yang hilang karena sebab lain
Gigi dengan tumpatan silen
Jembatan, mahkota gigi atau viner/implan
Gigi yang tidak erupsi
Trauma/fraktur
Dan lain-lain: gigi yang memakai pesawat

E
F
G
T
-

4
5
6
7
8
T
9

cekat
ortodonti atau gigi yang mengalami
hipoplasia
enamel yang berat
(Oral Health Basic Surveys, 1997)

Pengukuran ini digunakan untuk gigi permanen.


D = Decayed
Digunakan untuk gigi yang karies (decayed teeth) yang mana meliputi :
-

Gigi Karies
Gigi yang ditumpat dengan karies sekunder
Sisa akar
12

Gigi ditumpat dan ada karies di permukaan lainnya


Tumpatan sementara
Tumpatan yang tidak sempurna

M = Missing
Digunakan untuk gigi yang hilang akibat karies , bukan termasuk berikut :
-

Gigi yang diekstraksi karena alas an selain karies , seperti karena perawatan

orthodontic, impaksi dan penyakit periodontal


Gigi yang tidak erupsi
Hilang karena congenital
Avulsi karena trauma atau kecelakaan

F = Filled
Untuk mendeskripsikan gigi yang ditumpat. Gigi yang dimaksud tanpa adanya
karies sekunder pada restorasi permanen dan tumpatannya tidak rusak. Gigi
dengan mahkota (crown) akibat adanya karies sebelumnya juga dimasukkan
dalam kategori ini. Gigi yang ditumpat selain karena karies tidak dimasukkan ,
seperti :
-

Trauma (Fracture)
Hypoplasia
Bridge Abutment
Fissure sealant
Preventive filling
Seal a root canal akibat trauma
Angka DMF-T menggambarkan banyaknya karies yang diderita seseorang

dari dulu sampai sekarang. Dalam indeks DMF-T, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan (Pintauli dkk, 2008) :
a
b

Semua gigi yang mengalami karies dimasukkan ke dalam kategori D.


Karies sekunder yang terjadi pada gigi dengan tumpatan permanen dimasukkan

c
d

dalam kategori D.
Gigi dengan tumpatan sementara dimasukkan dalam kategori D.
Semua gigi yang hilang atau dicabut karena karies dimasukkan dalam kategori
M

13

Gigi yang dicabut akibat penyakit periodontal dan untuk kebutuhan perawatan

ortodonti tidak dimasukkan dalam kategori M.


Pencabutan normal selama masa pergantian gigi geligi tidak dimasukkan dalam

g
h

kategori M.
Semua gigi dengan tumpatan permanen dimasukkan dalam kategori F.
Gigi yang sedang perawatan saluran akar dimasukkan dalam kategori F.

Cara menghitung DMF-T:


Cara mencari rata-rata indeks DMFT adalah mengumpulkan data tentang indeks
DMFT setiap responden, jumlahkan seluruh nilai indeks DMFT semua responden
yang diteliti, kemudian membagi total jumlah indeks DMFT tersebut dengan
jumlah seluruh responden untuk memperoleh rata-rata indeks DMFT (Nishi dkk,
2001).
Indeks DMFT =D+ M + F
Indeks DMFT ratarata=

jumlah indeks DMFT semuaresponden


jumlah hresponden

Kekurangan indeks DMF-T:


1 Tidak dapat menggambarkan banyaknya karies yang sebenarnya. Karena jika
pada gigi terdapat dua karies atau lebih, karies yang dihitung adalah tetap satu
2

gigi.
Indeks DMF-T tidak dapat membedakan kedalaman dari karies, misal: karies
superfisialis, media maupun profunda. (Eliza Herjulianti, dkk. 2002)

Klasifikasi angka kejadian karies gigi (indeks DMF-T) menurut WHO, adalah
sebagai berikut (WHO, 2003 dan P,Axelsson) :
1. Sangat Rendah : 0,8 1,1
2. Rendah : 1,2 2,6
3. Sedang : 2,7 4,4
4. Tinggi : 4,5 6,5
5. Sangat Tinggi : > 6,5
3

DMF-S

14

Indeks DMFS/defs merupakan indeks yang digunakan pada permukaan gigi,


yaitu 5 permukaan gigi posterior dan 4 permukaan gigi anterior, untuk mengukur
keparahan karies gigi. Cara menghitung skor DMFS/ defs adalah dengan
menjumlahkan semua skor DMF atau def pada permukaan gigi. Skor maksimum
indeks DMFS per individu adalah 128 untuk 28 gigi permanen, sedangkan untuk
skor maksimum indeks defs per individu adalah 88 untuk 20 gigi sulung (Marya,
2011)
Pengukuran dilakukan pada :
1. Permukaan gigi yang diperiksa adalah gigi anterior dengan empat permukaan,
fasial, lingual, distal dan mesial sedangkan gigi posterior dengan lima
permukaan yaitu fasial, lingual, distal, mesial dan oklusal.
2. Kriteria untuk D sama dengan DMF-T
3. Bila gigi sudah dicabut karena karies, maka pada waktu menghitung permukaan
yang hilang dikurangi satu permukaan sehingga untuk gigi posterior dihitung 4
permukaan dan 3 permukaan untuk gigi anterior.
4. Kriteria untuk F sama dengan DMF-T

Kelebihan Indeks DMF-S

Lebih peka
Lebih tepat
Memberikan status yang sebenarnya tentang karies
Kekurangan Indeks DMF-S
Membutuhkan waktu lama untuk pemeriksaannya
Mungkin membutuhkan gambaran radiograf
(Hiremath, 2007)

def-s
Pengukuran ini digunakan untuk gigi susu. E dihitung bila gigi susu dicabut karena
karies.

15

Ada masalah yang cukup serius dalam penggunaan indeks ini.anak-anak muda,
hilangnya gigi sulung bisa jadi disebabkan oleh karena karies. Selain karena karies,
gigi tetap bisa hilang karena trauma, pencabutan untuk perawatan ortodonti atau demi
kepentingan pembuatan gigi palsu dan karena penyakut peridontium. Sementara
molar tiga sering dicabut karena tidak cukupnya ruangan pada lengkung rahang.
Dalam hal seperti di atas gigi hilang bisa diabaikan dari perhitungan indeks dan hanya
gigi karies serta yang ditambal saja yang diperhitungkan. (Edwina A.M Kidd, et al
1992)
Syarat kategori pengukuran
1

tidak ada gigi yang dihitung lebih dari 1 kali, baik decay, missing maupun
filled

D,M,F teeth harus dicatat secara terpisah

gigi dianggap erupsi saat permukaan oklusal/insisalnya terbuka/terlihat atau


terpapar di atas jaringan gingiva

gigi dianggap ada/dipertimbangkan meskipun crown telah rusak dan hanya


akar yang tertinggal di soketnya

supernumerary tooth tidak termasuk / tidak dihitung

jika gigi desidui tertanam dan gigi permanen penggantinya , diklasifikasikan


sebagai gigi permanen

gigi desidui tidak dimasukkan dalam perhitungan "DMF" begitu juga dengan
gigi permanen di perhitungan def dan harus dihitung secara terpisah

PENILAIAN DARI DENTAL KARIES


A Metode pemeriksaan :
16

Ketika melakukan survey kesehatan masyarakat , hal yang harus diperharikan


adalah adanya cahaya untuk pemeriksaan , kaca mulut yang datar dan probe yang
tajam. Foto radiografi tidak direkomendasikan untuk survey masyarakat karena tidak
praktis. Pemeriksaan klinis yang dilakukan tergantung pada tipe data yang ingin
dikumpulan , jika hanya ingin menunjukkan terbatas persentase masyarakat yang
mengidap karies , maka pemeriksaan bisa dideterminasi ketika sudah dipastikan ada
atau tidaknya karies tanpa penghitungan. Disisi lain , jika untuk menghitung DMF
atau def , maka masing-masing gigi harus diperiksa (WHO,1962).
B Penyimpanan data :
Untuk determinasi persentase gigi yang terkena karies , dapat dilakukan dengan 2
1

cara , yaitu :
Untuk mengetahui ada atau tidaknya gigi yang terkena karies dengan memberi tanda
centang (P) pada kolom

df
2

Tidak Ada :

Satu atau lebih :

DMF
Tidak Ada :
Satu atau lebih :
Untuk mengetahui jumlah gigi yang terkena karies , mengisi kolom dengan angka
sesuai dengan gigi yang masuk kategori D , M ataupun F

Decayed :

Gigi Sulung :

Missing :
Filled

Gigi Permanen :
Gigi Permanen :

Gigi Sulung :

Gigi Permanen :

Gigi Campuran (Mixed Dentition)


Masing-masing anak akan menggunakan indeks terpisah seperti yang terdapat pada
metode penyimpanan data untuk gigi permanen dan gigi desidui.

17

Definisi anak-anak dan dewasa

Terminologi WHO :

Newborns
Infants
Anak-anak
Remaja

= 1 sampai 28 hari
= Sampai 12 bulan
= 1-10 tahun
= 10-19 tahun

UNICEF dan organisasi lain bisa jadi menggunakan pengelompokan usia yang
berbeda. Menurut UNICEF, anak-anak adalah sampai usia 18 tahun.
WHO merekomendasikan kelompok umur tertentu untuk diperiksa yaitu
kelompok umur 5 tahun untuk gigi susu dan 12, 15, 35-44 dan 65-74 tahun untuk gigi
permanen. Jumlah subjek yang diperiksa untuk setiap kelompok umur minimal 25-50
orang untuk setiap kelompok.
a

Usia 5 tahun
Anak-anak seharusnya diperiksa di antara ulangtahun mereka yang ke
5 dan 6. Umur ini menjadi umur indeks untuk gigi susu karena tingkat karies
pada kelompok umur ini lebih cepat berubah daripada gigi permanen
sekaligus umur 5 tahun merupakan umur anak mulai sekolah. Namun, di
negara yang usia masuk sekolahnya lebih lambat, dapat digunakan umur 6
atau 7 tahun sebagai umur indeksnya. Pada kelompok umur ini, sebaiknya
gigi susu yang hilang tidak dimasukkan ke dalam skor m (missing) karena
kesulitan membedakan penyebab kehilangan gigi, apakah karena sudah
waktunya tanggal atau dicabut karena karies.

Usia 12 tahun
Kelompok umur ini penting untuk diperiksa karena umumnya anak-anak
meninggalkan bangku sekolah pada umur 12 tahun. Selain itu, semua gigi

18

permanen diperkirakan sudah erupsi pada kelompok umur ini kecuali gigi
molar tiga. Beradasarkan ini, umur 12 tahun ditetapkan sebagai umur
pemantauan global (global monitoring age) untuk karies.
c

Usia 15 tahun
Pada kelompok umur ini dianggap bahwa gigi permanen sudah terekspos
dengan lingkungan mulut selama 3-9 tahun, sehingga pengukuran prevalensi
karies dianggap lebih bermakna dibandingkan usia 12 tahun. Umur ini juga
merupakan usia kritis untuk pengukuran indikator penyakit periodontal pada
remaja.

Usia 35-44 tahun


Kelompok umur ini merupakan kelompok umur standar untuk memonitor
kesehatan orang dewasa dalam hal efek karies, tingkat keparahan penyakit
periodontal, dan efek pelayanan kesehatan gigi yang diberikan.

Usia 65-74 tahun


Kelompok umur ini lebih penting sehubungan dengan adanya perubahan
distribusi umur dan bertambahnya umur harapan hidup yang terjadi di semua
negara. Data dari kelompok umur ini diperlukan untuk membuat perencanaan
pelayanan keseahatan bagi manula dan memantau semua efek pelayanan
rongga mulut yang diberikan

19

DAFTAR PUSTAKA

Hiremath, S.S.2007. Textbook of Preventive and Community Dentistry. Elsevier:


India.
Herijulianti, Eliza., Tati Svasti Indriani., Sri Artini. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi.
Jakrta: EGC.
Kidd, Edwina A.M., Sally Joyston-Bechal. 1992. Dasar-dasar Karies alih bahasa
oleh Narlan Sumawinata dan Safrida Faruk. Jakarta: EGC.
Marya CM. 2011. A textbook of public health dentistry. 1 st Ed. New Delhi: Jaypee
Brothers Medical Publishers.
Pintauli S, Hamada T. 2008. Menuju Gigi dan Mulut Sehat: Pencegahan dan
Pemeliharaannya Edisi I. Medan: USU Press.
WHO.1962.Standardization

of

Reporting

of

Dental

Diseases

and

Conditions.Geneva : Expert Committee on Dental Health


WHO.2008.Children Are Not Little Adults.WHO Training Package for the Health
Sector.
World Health Organization. 1997. Oral health surveys basic methods. 4th ed. Geneva.

20