Anda di halaman 1dari 10

A.

Hubungan Terapeutik Perawat-Klien

Tahapan dalam Hubungan Terapeutik Perawat-Klien

Hubungan terapeutik antara perawat-klien adalah hubungan kerjasama yang
ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran, dan pengalaman dalam
membina hubungan intim yang terapeutik. (Stuart Sundeen, 1987). (Ermawati Dalami,
dkk, 2009)
Dalam prosesnya perawat membina hubungan sesuai tingkat perkembangan
klien, dengan mendorong perkembangan klien dalam menyadari dan mengidentifikasi
masalah dan membantu pemecahan masalah. Menurut ahli pendidikan, anak
membutuhkan asuhan dan pengalaman belajar agar menjadi orang dewasa yang
bertanggung jawab. Perawat memberi umpan balik dan alternatif pemecahan dan
klien dapat memakai informasi untuk menangani masalah yang belum dipecahkan
secara konstruktif. Proses berhubungan perawat-klien dapat dibagi dalam 5 tahap
yaitu pra-interaksi, perkenalan, orientasi, kerja, dan terminasi (Stuart & Sundeen,
1987). Setiap tahap ditandai dengan serangkaian tugas yang perlu diselesaikan.
(Ermawati Dalami, dkk, 2009)

a. Pra-Interaksi
Tahap ini disebut juga tahap apersepsi dimana perawat menggali lebih dahulu
kemampuan yang dimilki sebelum kontak/berhubungan dengan klien termasuk
kondisi kecemasan yang menyelimuti diri perawat sehingga terdapat dua unsur
yang perlu dipersiapkan dan dipelajari pada tahap prainteraksi yaitu unsur diri
sendiri dan unsur dari klien. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith, 2011)

Hal-hal yang dipelajari dari diri sendiri adalah sebagai berikut (Abdul Nasir dan
Abdul Muhith, 2011) :
1. Pengetahuan yang dimiliki yang terkait dengan penyakit dan masalah klien.
Pengetahuan yang dimiliki perawat akan kondisi klien dipakai sebagai bekal
dalam berinteraksi sehingga ketika perawat belum menguasai penyakit dan
keluhan klien, maka perawat perlu belajar dulu atau diskusi dengan teman
sejawat, atasan, maupun dengan yang lainnya sehingga ketika perawat hadir
secara fisik dihadapan klien, perawat sudah siap untuk berinteraksi.
Penguasaan materi yang akan didiskusikan mutlak sangat diperlukan dalam
berdiskusi dengan klien.
2. Kecemasan dan kekalutan diri.
Kecemasan yang dialami seseorang dapat mempengaruhi interaksinya
dengan orang lain. Konsentrasi menjadi pecah, tidak mampu memfokuskan diri
pada pembicaraan yang aktual serta tidak mampu mengendalikan diri. Untuk
itu sebelum perawat berinteraksi dengan klien harus mengeksplorasi perasaan,
harapan, dan kecemasan.
Kecemasan yang dialami oleh perawat mengakibatkan perawat tidak
mampu mendengarkan keluhan yang diutarakan klien dengan baik. Hal ini
merupakan persyaratan yang mutlak untuk dapat mengerti keluhan klien
karena penggunaan active listening sangat dibutuhkan untuk mengerti keluhan
klien. Perasaan-perasaan negatif yang sering timbul saat akan berkomunikasi
dengan klien antara lain : ditolak klien, ragu akan kemampuan yang dimilki,
ragu akan menanggapi respon klien, tidak terbangunnya hubungan rasa
percaya, dan kesulitan untuk memulai pembicaraan (suryani, 2006). Demikian
juga kekalutan pada diri sendiri seperti masalah pribadi yang akan mengganggu
konsentrasi dalam melaksanakan tindakan keperawatan yang sedang
dijalankan.
Perawat harus mampu membedakan masalah pribadi dan menjalankan
profesi. Ketika berada dalam lingkungan pelayanan keperawatan, tentunya
masalah pribadi dikesampingkan seakan-akan tidak pernah terjadi sehingga
pada saat menjalankan profesinya mampu berkonsentrasi dengan baik.
3. Analisis kekuatan diri.
Dalam diri seseorang terdapat kelebihan dan kekurangan. Sebelum kontak
dengan klien, perawat perlu menganalisis kelemahannya dan menggunakan

Namun demikian. menjadikan klien menutup diri sehingga perawat kekurangan informasi dan kesulitan dalam rangka menjalankan tindakan keperawatan karena klien tidak kooperatif. 3. Sedangkan. Analisis kelemahan dalam rangka mencari solusi yang terbaik saat sebelum berinteraksi dengan klien. 2011) : 1. Demikian juga dengan kebiasaan istirahat yang dilakukan klien. Analisis kekuatan diri dalam konteks berkomunikasi dengan orang lain terutama pada aspek kekuatan mental. faktor penentu untuk mendapatkan perubahan perilaku seseorang tidak hanya menempuh jalur pengetahuan saja. Sikap yang cenderung defensif dan menarik diri (isolasi sosial). Kesadaran untuk mengakui kelemahan menumbuhkan minat untuk mencari alternatif koping dalam mengatasi permasalahnnya sendiri. Perawat harus mampu menentukan waktu yang tepat saat pertemuan. hal-hal yang perlu dipelajari dari unsur klien adalah sebagai berikut (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Perkenalan Pada tahap perkenalan ini perawat memulai kegiatan yang pertama kali dimana perawat bertemu pertama kali dengan klien. 2011) . Lama pertemuan juga perlu dipertimbangkan agar klien tidak jenuh dalam diskusi. saat itulah perawat mengajak klien berdiskusi atau memulai pertemuan yang tentunya dimulai dengan menentukan dulu kapan pertemuan dimulai (kontrak pertemuan). klien menjadi lebih kooperatif dan asertif serta berperilaku yang konstruktif dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Hal ini akan mempermudah perawat dalam memberikan penyuluhan dan bahkan tanpa penyuluhan seseorang akan berubah perilaku sendiri dari perilaku destruktif menjadi perilaku yang konstruktif. maka perawat akan mudah kehilangan kendali ketika ada klien yang rewel. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. perawat perlu menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan pertemuan atau berkomunikasi dengan klien. Demikian juga dengan bahasa keseharian yang sering kali terjadi kesalahan persepsi sehingga mengganggu dalam proses komunikasi. Adat istiadat. 2. Pada diri dengan mudah terpengaruh ataupun mudah emosional akan mempengaruhi proses komunikasi. perawat mengajak pertemuan. kekuatannya untuk berinteraksi dengan klien. Perilaku klien dalam menghadapi penyakitnya. b. Kebiasaan tersebut seharusnya diakomodasi tanpa mengurangi prinsip-prinsip pelayanan keperawatan. selain itu masih dibutuhkan kehadiran tanda dan gejala penyaklit yang diderita. biasanya lama diskusi 20-30 menit kecuali dengan tindakan keperawatan. Kegiatan yang dilakukan adalah memperkenalkan diri kepada klien dan keluarga bahwa saat ini yang menjadi perawat adalah dirinya. Penguasaan penyakit ini terutama penguasaan dalam hal tindakan keperawatan. Dengan mudah marah. Pengusaan tentang penyakit yang diderita akan membantu dalam penerimaan diri. Dengan adanya penerimaan diri. hal ini akan mengganggu kebutuhan dasar akan istirahat tidu. komplikasi dari penyakit. perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya. perawat harus tahu kebiasaan dan jadwal istirahat klien. Perilaku yang destruktif pada klien saat menghadapi penyakitnya akan menyulitkan perawat dalam berkomunikasi dengan klien. perawat harus mampu mengkondisikan. Saat klien sedang santai. sampai klien menyelesaikan kegiatannya. Sebelum bertemu dengan klien. 4. jangan sampai saat klien memulai tidur. Dengan memperkenalkan dirinya. sebaiknya perawat memotong kegiatannya dan mengajak diskusi. Saat klien melakukan kegiatan. Kebiasaan yang dibawa klien ke rumah sakit saat menjalani perawatan terkadang membawa pengaruh dalam hubungan perawat-klien. tujuan perawatan sulit tercapai ataupun suasana keakraban antarperawat dan petugas lainnya juga akan terganggu. Dalam hal ini berarti perawat sudah siap sedia untuk memberikan pelayanan keperawatan kepada klien. Tingkat pengetahuan. Waktu pertemuan baik saat pertemuan maupun lama pertemuan.

perawat dituntut memilki keahlian yang tinggi dalam menstimulasi klien maupun keluarga agar mampu mengungkapkan keluhan yang dirasakan secara lengkap dan sistematis serta objektif. Maka dari itu perawat perlu mendengarkan secara aktif untuk mengumpulkan data tersebut. konfrontasi. jujur. 2011) Pada tahap perkenalan ini tidak ada pembatasan diri antara perawat-klien dalam konteks komunikasi terapeutik. akan tetapi bagaimana klien menerima perawat tanpa syarat dan mempercayakan sepenuhnya kepada perawat akan upaya penyembuhan penyakit atau upaya mengurangi keluhan yang dirasakan. dan domisili. maupun dari pemeriksaan fisik. Perawat menjadi rujukan pertama untuk mengutarakan keluhan yang dirasakan sehingga klien mau membuka diri. Dari data yang diperoleh akan disususn rencana tindakan keperawatan serta implementasi yang akan dikerjakan pada tahap kerja. dan menghargai klien. 2011) Kedua. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. 2011) c. Hubungan yang dibina ini tidak bersifat statis tergantung dari situasi. serta mengevaluasi tindakan yang lalu. Keahlian yang harus dimilki perawat adalah terkait dengan teknik komunikasi agar klien mengungkapkan keluhannya dengan sebenarnya tanpa ditutup-tutupi ataupun diada adakan sehingga mengacaukan rencana tindakan keperawatan. memecahkan kebuntuan hubungan yang terapeutik serta membangun hubungan saling percaya. wawancara. Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan suatu hubungan terapeutik. . observasi. Untuk itu pada tahap orientasi ini perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap perubahan yang terjadi dalam respon verbal dan non verbal. serta membantu klien mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Teknik komunikasi yang sering digunakan adalah validasi. menerima klien apa adanya. Perawat harus mengetahui masalah keperawatan yang terdapat pada diri klien yang diperoleh dari timbulnya tanda dan gejala dari keluhan yang dirasakan melalui studi dokumentasi. sistematis. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Perawat dituntut mampu membuat suasana tidak terlalu formal sehingga suasana tidak terkesan tegang dan tidak bersifat menginterogasi. Lingkungan yang kondusif membantu klien bisa berpikir jernih dan mengutarakan keluhan yang diderita secara terbuka. kondisi. membina hubungan saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka. Tahap orientasi ini merupakan jembatan untuk memasuki tahap kerja sehingga data yang telah ditemukan dan dikelompokkan perlu juga diverifikasi dan divalidasi sehingga ditemukan keakuratan data. Orientasi Pada tahap orientasi ini perawat menggali keluhan-keluhan yang dirasakan oleh klien dan divalidasi dengan tanda dan gejala yang lain untuk memperkuat perumusan diagnosis keperawatan. Tahap perkenalan ini tidak hanya perawat yang mengetahui nama si klein saja atau klien tahu nama perawat saja. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. 2011) Pada tahap orientasi ini. 2011) Perawat harus menyimak dengan benar dan teliti apa yang telah diungkapkan klien dan memperhatikan data melalui studi dokumentasi yang telah ada. lengkap. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. untuk mempertahankan dan memelihara hubungan saling percaya perawat harus terbuka. Tujuan pada tahap ini untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. 2011) Tugas perawat pada tahap perkenalan adalah pertama. Penting bagi perawat untuk mempertahankan hubungan saling percaya agar klien dan perawat ada keterbukaan dan tidak saling menutup-nutupi. Perawat harus mampu membuat kesimpulan dari proses interaksi tersebut untuk memasuki tahap kerja. menepati janji. ikhlas. memodifikasi lingkungan yang kondusif dengan peka terhadap respons klien dan menunjukkan penerimaan. Oleh karena itu. dan objektif. dan presenting reality. Dari keterbukaan tersebut akan memudahkan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Pentingnya memperkenalkan diri adalah menghindari kecurigaan klien dan keluarga terhadap petugas yang merawat.

Proses kesembuhan bukan merupakan tanggung jawab pribadi perawat. 2011) Ketiga. Tugas perawat pada tahap ini meliputi hal-hal berikut ini. klien tidak pernah menyadari tentang hal tersebut sehingga seakan-akan proses kesembuhan merupakan tanggung jawab petugas kesehatan. Kecemasan yang menimpa klien sebagian besar dari tindakan keperawatan yang dilakukan pada fase kerja. bila klien lupa tinggal mengingatkan kembali kesepakatan yang telah dibuat. perawat bisa menjadikannya sebagai alat untuk mengingatkan akan kesepakatan yang telah dibuat terkait dengan interaksi yang sedang berlangsung. dan pikiran antara klien dan perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan akhir dari pelayanan keperawatan yaitu mempercepat proses kesembuhan sehingga sangat diperlukan adanya kemandirian sikap dari klien dalam pengambilan keputusan. akuntabel. 2011) Kedua. realistis. Jadi. namun klien juga mempunyai tanggung jawab. . waktu pelaksanaan. menetapkan tujuan yang akan dicapai. dapat diukur dengan jelas. bisa dicapai. ide. dan ada waktunya. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. tempat. Maka dari itu dalam menentukan tujuan yang akan dicapai harus spesifik. Dalam merumuskan sebuah kontrak harus ada kesepakatan bersama antara perawat-klien karena kontrak yang akan diputuskan harus mendapat persetujuan dari kedua belah pihak sehingga dalam ruang lingkup interaksi telah terjadi kesepakatan bersama antara klien-perawat perihal topik yang akan didiskusikan termasuk juga tempat yang akan dijadikan tempat diskusi. memberikan semangat bagi klien untuk selalu kooperatif dan berkomitmen dalam berinteraksi. Penting sekali mengggali pikiran dan perasaan klien saat di tempat pelayanan kesehatan terutama mengenai tingkat kecemasan akibat masalah yang mengganggu dalam pikirannya seiring adanya penyakit yang diderita. Perawat menolong klien untuk mengatasi cemas. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Demikian juga dengan upaya mengidentifikasi masalah keperawatan pada klien. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. maka tindakan tersebut tidak dapat dilakukan. Dengan adanya tujuan yang akan dicapai memberikan kejelasan arah dalam berinteraksi. 2011) Pertama. Dengan adanya kecemasan pada diri klien merupakan awal dari tidak tercapainya keinginan perawat untuk mendapatkan data yang faktual. dan juga lama pelaksanaan diskusi. 2011) d. Kontrak ini menggambarkan adanya konsistensi dari perawat dalam menjalankan pelayanan keperawatan. dan waktu. 2011) Pada tahap kerja ini. Kerja Tahap kerja merupakan tahap untuk mengimplementasikan rencana keperawatan yang telah dibuat pada tahap orientasi. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Adanya tujuan yang akan dicapai. Kegagalan perawat pada tugas ini akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Mengingat pentingnya tindakan keperawatan dalam rangka proses kesembuhan klien. Hal ini merupakan tugas yang terberat bagi perawat dalam rangka memberi jaminan pelayanan keperawatan. dan variatif. ekplorasi pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah keperawatan klien. Dengan kontrak. sederhana. Bagaimanapun juga bila tindakan keperawatan yang dilakukan perawat tidak mendapat persetujuan klien. maka hal tersebut tidak bisa dihindari namun disikapi dan diterima sebagai hal yang terbaik untuk klien. membuat kontrak dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal yang penting dalam percakapan dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama terhadap proses kesembuhan penyakitnya sendiri. 2011) Pada tahap kerja ini perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Komunikasi menjadi tidak monoton dan tidak membosankan. perawat bertugas meningkatkan kemandirian tanggung jawab terhadap proses penyembuhan penyakitnya dengan mencarikan mencarikan altenatif koping yang positif sehingga didapatkan suatu perubahan perilaku. harus ada persamaan persepsi. meningkatkan kemandirian. dan tanggung jawab terhadap diri sendiri serta mengembangkan mekanisme koping konstruktif. Akan tetapi. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. komunikasi menjadi lebih fleksibel. Isi dari kontrak yang akan dirumuskan terdiri atas topik.

Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Tindakan lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan pada pertemuan berikutnya. yang dibagi dua yaitu (Muslihah dan Fatmawati. 2010) Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan. 2010) Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan maslahnya (Arwani. Kepercayaan diri dan keluwesan berkomunikasi dari perawat sangat berpengaruh dalam menjalankan keahlian profesionalnya. 2003).  Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. perawat membantu dan klien menerima bantuan. (Muslihah dan Fatmawati. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat. akan tetapi pada tahap kerja ini selalu berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai. dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu. sebaiknya tidak menjalankan firasat itu. Terminasi Tahap ini merupakan tahap yang sulit dan penting. B. (Abdul Nasir dan Abdul Muhith. Akan tetapi jangan sampai terlalu asyik bekerja. 2. berarti masih ada pertemuan lanjutan. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien. Tidak semuanya intervensi yang telah dibuat akan dilaksanakan semua pada tahap implementasi ini. Apabila perawat ragu. Perbedaan antara terminasi sementara dan terminasi akhir. (Muslihah dan Fatmawati. Komunikasi Terapeutik 1. perasaan. karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Pada tahap ini perawat dituntut keahlian profesionalnya untuk mengurangi sikap defensif dan isolasi sosial dari klien.  Melakukan evaluasi subjektif.  Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi diantara perawat dan klien. 2010) . (Muslihah dan Fatmawati. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Kegagalan pada tahap kerja akan berdampak pada kegagalan tujuan yang ingin dicapai. 1997). evaluasi ini disebut evaluasi objektif. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. waktu dan tempat pertemuan. perawat menggunakan konsep kehilangan. Tugas perawat pada tahap ini yaitu :  Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan. dan merupakan tindakan professional. adalah bahwa terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi. namun harus direncanakan. dan tindakan klien. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komuniksasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati. 2003). pikiran. kontrak yang perlu disepakati adalah topik. Terminasi sementara. karena dalam menjalankan keahlian professional juga memerlukan suasana psikologis yang menunjang. Perawat mengeksplorasi stressor yang tepat dan mendorong perkembangan wawasan diri yang dengan persepsi. terutama tujuan khusus. disengaja. Untuk melalui tahap ini dengan sukses dan bernilai terapeutik. Terminasi akhir. 2011) e. Tahap kerja ini merupakan tahap yang terpenting dalam mencapai tujuan. 2010) : 1. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI.

Klarifikasi nilai c. penderitaan.2. Konteks : tatanan dimana komunikasi terjadi. Untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama Perawat-Klien melalui hubungan Perawat pasien. Pada tahap perawatan. e. 2010) a. b. “Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menolong sesama yang memerlukan bantuan”. Ekplorasi perasaan d. b. Mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam praktek keperawatan. Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan. serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Komponen Komunikasi Terapeutik Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid. Fungsi Komunikasi Terapeutik Fungsi komunikasi terapeutik adalah (Sulur Joyo Sukendro. lingkungan fisik dan dirinya sendiri. 2005) : (Muslihah dan Fatmawati. c. Mengurangi keraguan. Motivasi altuistik f. Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid. Karakteristik tersebut antara lain (Suryani. Mempengaruhi orang lain. 2009) : a. 2010) : a. Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan potensial dapat diidentifikasi. Addalati (1983). Pengirim : yang menjadi asal dari pesan. Menurut Roger. d. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan sehingga akhirnya menjadi bagian dari kepribadian. 1998) : (Muslihah dan Fatmawati. 1998) : (Muslihah dan Fatmawati. Komunikasi Terapeutik sebagai Tanggung Jawab Moral Perawat Perawat harus memiliki tanggung jawab moral tinggi yang didasari atas sikap peduli dan penuh kasih sayang. Selanjutnya. dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama. terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan terapeutik. perawat tidak dapat bersikap tidak peduli terhadap orang lain dan adalah seorang pendosa apabila perawat mementingkan dirinya sendiri. dan menjaga/mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit. Perawat berusaha mengungkap perasaan pasien. Penerima : yang mempersepsikan pesan. 2010) a. b. 3. 4. serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri. yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan. Kemampuan untuk menjadi model peran e. meningkatkan. Bucaille (1979). Kesadaran diri b. 2010) . bila komunikasi berjalan dengan baik dapat maka memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien mengatasi persoalan yang dihadapi. serta mengidentifikasi dan mengkaji masalah pasien. c. Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa human care terdiri atas upaya untung melindungi. Tujuan Komunikasi Terapeutik Tujuan Komunikasi Terapeutik (Indrawati. dan keberadaannya. 5. c. Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima. Rasa tanggung jawab dan etik. membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya. 2003) (Muslihah dan Fatmawati. Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien percaya pada hal yang diperlukan.

f. Membuka diri digunakan dalam interaksi. Klien harus menjadi fokus utama interaksi. Perawat harus mengenal dirinya sendiri (menghayati. tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. dan saling menghargai. f. h. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima. Tingkah laku professional mengatur hubungan terapeutik. Kerahasiaan klien harus dijaga. Menurut Carl Rogers. saling percaya. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. keberhasilan. b. Hubungan sosial dengan klien harus dihindari. h. yang berguna untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. maupun frustasi. b. Kejujuran merupakan modal utama perawat agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik. memahami dirinya serta nilai yang dianutnya). Empati bukan simpati. c. Ketidaksesuaian antara komunikasi non verbal dengan komunikasi verbal dapat menyebabkan klien bingung. Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik antara lain (Muslihah dan Fatmawati. seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik. marah. Tanpa kemampuan ini hubungan terapeutik sulit terjalin dengan baik. prinsip komunikasi terapeutik (Muslihah dan Fatmawati. d. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan permasalahan klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. c. e. Implementasi intervensi berdasarkan teori. sedih. 2010) : a. g. f. d. a. 6. d. e. Bersikap postif dapat ditunjukkan dengan sikap hangat. b. i. Bersikap positif. tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. 2010) : a. karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya. Beri petunjuk klien untuk menginterpretasikan kembali pengalamannya secara rasional. dan penghargaan terhadap klien. Perawat harus menyadari pentingnya mengetahui kebutuhan pasien baik fisik maupun mental. Memelihara interaksi yang tidak menilai dan dihindari membuat penilaian tentang tingkah laku klien dan memberi nasehat. h. Sensitif terhadap permasalahan klien. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap. . Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien. c. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai agar dapat mempertahankan konsistennya. penuh perhatian. Cara yang digunakan adalah teknik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan keluhan klien. Jika seseorang diterima dengan tulus. Menerima klien apa adanya. g. karena jika tidak sensitif perawat bisa saja melakukan pelanggaran batas. Kompetensi intelektual harus dikaji untuk menentukan pemahaman. Perawat harus memahami nilai yang dianut oleh pasiennya sekaligus dapat menghayatinya. g. e. Kejujuran. Dengan empati seorang dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien. Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap maupun tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Melalui pengulangan kembali kata-kata klien. Menerima tidak berarti menyetujui. i. menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. Mendengarkan dengan penuh perhatian. . Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. n. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien. m. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Mengklafikasi. Klasifikasi terjadi pada saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata- kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien. g. Teknik Komunikasi Terapeutik Ada dua pertanyaan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen. c. Stuart dan Sundeen. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. k. Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. i. j. Meringkas. Memahami betul arti empati/simpati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya. f. dan gaya hidup. e. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran. Perawat harus mampu berperan sebagai role-model. j. mengorganisir pikiran dan memproses informasi. karena itu perlu mempertahankan keadaan sehat secara fisik. l. h. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dank lien untuk mengorganisir. Menolong orang lain secara manusiawi dan mendapat kepuasan. Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien. b. Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain. Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik. spiritual. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga diri pemberi maupun penerima pesan. k. l. Diam. Memfokuskan Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. 7. b. Menawarkan informasi. Menyatakan hasil observasi. Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Dengan demikian dapat meyakinkan dan menunjukkan kepada orang lain tentang pentingnya kesehatan. Beri kesempatan lebih banyak kepada klien untk berbicara. mental. Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Menunjukkan penerimaan. merawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut : a. d. 1998) yaitu : a. informasi maupun masukan. Memberi penghargaan. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.

Sikap Perawat dalam Komunikasi Terapeutik Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu berkomunikasi dengan klien. b. perawat membantu pasien untuk melihat dan memperhatikan apa yang tidak disadari sebelumnya. Perawat aktif mendengarkan dan memberi respon kepada pasien dengan cara menunjukkan sikap atau menerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. d. e. e. Umumnya komunikasi terapeutik lebih akrab karena mempunyai tujuan dan berfokus pada pasien yang membutuhkan bantuan. Lebih banyak terjadi dalam pekerjaan aktivitas sosial dll. c. d. c. Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. yaitu : (Ermawati Dalami dkk. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon pada klien. Apabila perawat ingin mengerti klien. tetapi lebih mengarah kepada kebersamaan dan rasa senang. 9. Perawat tidak cukup hanya mengetahui teknik berkomunikasi dan isi komunikasi. Menempatkan kejadian secara berurutan. c. Komunikasi bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan. Komunikasi Sosial : (Muslihah dan Fatmawati. Refleksi Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri. Perbedaan Komunikasi Terapeutik dengan Komunikasi Sosial Komunikasi Terapeutik : (Muslihah dan Fatmawati. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu. Dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan. Selain itu. Tetap rileks. Hambatan dalam Komunikasi Terapeutik a. Pembicaraan tidak mempunyai fokus tertentu. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi . Berhadapan. b. Terjadi antara pasien dengan perawat atau anggota kesehatan lainnya b. Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. 10. m. k. Mempertahankan kontak mata. Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan. 2010) a. Mempertahankan sikap terbuka. Arti dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”. l. tetapi yang sangat penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi. Faktor-faktor penghambat komunikasi terapeutik Komunikasi terapeutik dapat mengalami hambatan diantaranya :  Pemahaman berbeda  Penafsiran berbeda  Komunikasi yang terjadi satu arah . Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topic pembicaraan. d. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya. Membungkuk ke arah klien. Terjadi setiap hari antar orang perorang dan dalam pergaulan maupun lingkungan kerja. 8. 2009) a. 2010) a. j. Egan (1975) mengidentifikasi lima sikap atau cara untuk menghdirkan diri secara fisik. maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.

penjelasan dan tantangan  Mengalihkan topic pembicaraan  Memberikan kritik mengenai perasaan pasien  Terlalu banyak bicara  Memperlihatkan sifat jemu dan pesimis b. . 2010) 1. Kontertransferens Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien kontratransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. 3. 2. Transferens Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penginderaan verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminnya. Model-model hambatan dalam hubungan terapeutik (Muslihah dan Fatmawati.  Kepentingan berbeda  Pemberian jaminan yang tidak mungkin  Bicara hal-hal yang pribadi  Menuntut bukti.