Anda di halaman 1dari 5

MUSA OKTAVIANUS

110110140162
HUKUM JAMINAN KELAS C

Melalui tulisan yang berjudul Pranata Gadai Sebagai Alternatif Pembiayaan Berbasis
Kekuatan Sendiri (Gagasan Pembentukan UU Pegadaian) karangan Lastuti Abubakar, saya
akan memberikan beberapa pandangan/komentar saya secara pribadi, diantaranya adalah:
1. Terhadap kekhawatiran penulis mengenai perubahan status Perum Pegadaian menjadi PT
(Persero) Pegadaian yang akan mempengaruhi misi sosialnya, pendapat saya pribadi
adalah Pegadaian tetap menjadikan pelayanan kebutuhan masyarakat kecil sebagai tugas
utamanya. Dalam perjalanannya, perubahan Pegadaian menjadi PT tak terlalu berdampak
besar bagi pelayannya kepada masyarakat.
Mengenai penjelasan penulis: menyalurkan pinjaman berdasarkan jaminan fudusia, dan
melayani jasa titipan, pelayanan jasa taksiran, sertifikasi dan perdagangan logam mulia
serta batu adi, memperjelas pangsa pasar pegadaian bergeser dari menengah bawah
ke arah menengah atas.. Diversifikasi produk dari Pegadaian tidak membuat pangsa
pasar Pegadaian bergeser menjadi masyarakat menengah atas. Karena masyarakat kelas
bawah pun ternyata menikmati produk-produk dari Pegadaian tersebut.
Saya mengutip dari sebuah berita online:
Untuk langkah awal, petani bisa mendapatkan pinjaman dengan jaminan BPKP
kendaraan bermotor dengan sistem fidusia. Ini merupakan pengembangan
produk yang awalnya hanya diberikan untuk UMKM yang bergerak dalam
industri rumah tangga dan perdagangan.1

Tak punya modal untuk memulai musim tanam rendeng (penghujan), petani di
Kabupaten Indramayu menggadaikan emas miliknya. Saat ini sudah mulai ada
peningkatan (transaksi), kata Kepala Pegadaian Cabang Indramayu, Lilies
Sulistiyawati, Kamis 28 Januari 2015.2

1
http://swa.co.id/swa/trends/management/mantap-pegadaian-masuk-desa
2
https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/01/28/090740365/tak-punya-modal-tanam-petani-di-indramayu-gadaikan-
emas
Dari berita online tersebut, dapat kita ketahui bahwa petani pun memiliki asset kendaraan
bermotor, emas, dan lain-lain.
Sesungguhnya, diversifikasi produk dan kegiatan investasi dari Pegadaian tersebut juga
banyak dipengaruhi oleh masyarakat kecil. Kebutuhan masyarakat kecil itu sendiri juga
turut berubah. Penulis sependapat dengan pendapat Dirut Pegadaian bahwa: Sampai
hari inipun kami tetap konsisten untuk itu. Namun, ada perubahan Kebutuhan
masyarakat kecil. Pada saat Pegadaian didirikan, kebutuhan orang kecil hanya untuk
menyambung kehidupannya. Apakah untuk beli beras atau apa. Tapi kalau sekarang
kebutuhan orang kecil itu punya tabungan, hand phone, dan segala macam. Kami
menyesuaikan ke situ3
Namun disamping itu semua, saya juga menaruh kekhawatiran bahwa Pegadaian turut
mendukung masyarakat kecil menjadi konsumtif, kekhawatiran saya jelas tergambar dari
kutipan berita berikut:

Inovasi terbaru dilakukan Yamaha lewat Deta Group sebagai main dealer. Mereka
menggandeng PT Pegadaian (Persero). Kerja sama keduanya bertujuan memudahkan
konsumen memiliki sepeda motorbrand garputala dengan jaminan ketersediaan unit.

Dyonisius menambahkan, jaringan outlet Pegadaian yang sampai ke pedesaan


memungkinkan distribusi sepeda motor Yamaha sampai ke pelosok negeri. Lewat
program Amanah ini, konsumen bisa membeli motor dengan uang muka minimal 20
persen dan angsuran hingga 36 bulan.4

Pegadaian juga jangan sampai melupakan hakikat utamanya sebagai lembaga jaminan.
Selain itu, Pegadaian yang saat ini jemput bola hadir ke desa-desa dikhawtirkan dapat
mempengaruhi eksistensi dari pranata jaminan yang lainnya, yaitu Resi Gudang. Telah
dijelaskan sebelumnya bahwa petani-petanipun dapat menggadaikan BPKB motor atau
emas. Pedahal alangkah lebih baiknya pranata jaminan yang mereka gunakan adalah Resi
Gudang.

2. Melauli pernyatan penulis:

3
http://bisnis.liputan6.com/read/2058720/bos-pegadaian-pegadaian-kini-tak-cuma-urus-bisnis-gadai-saja
4
http://otomotif.metrotvnews.com/motor/1bVXnG2K-pegadaian-juga-jualan-motor
Zonasi atau pembagian pangsa pasar lembaga-lembaga pembiayaan menjadi
semakin kabur dengan dimungkinkannya PT Pegadaian memasuki usaha yang
semula dikelola oleh perbankan, yakni usaha jasa uang, jasa transaksi
pembayaran dan jasa administrasi pinjaman.

.namun menjadi competitor bagi perbankan dan lembaga pembiayaan dalam


menarik dana masyarakat. Persaingan akan sangat ditentukan oleh seberapa
baik jasa dan keuntungan yang dapat diberikan.
Dengan kondisi persaingan yang semakin kompetitif menurut saya akan semakin
mendorong para pelaku usaha khususnya PT Pegadaian menjadi lebih baik lagi. Pada
prinsipnya persaingan dalam dunia bisnis adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Yang
tidak wajar dan tidak sah adalah, jika persaingan tersebut dilakukan dengan cara tidak
sehat. Demikian juga halnya, monopoli pun dimungkinkan jika secara alamiah dan atau
pun Undang-Undang memang melindungi hal tersebut.

Pegadaian selama ini dilihat hanya sebagai tempat untuk gadai barang saja. Seolah-olah
dibedakan dengan jasa keuangan lain apakah itu bank atau lembaga pembiayaan
(multifinance). Padahal, Pegadaian sama atau merupakan bagian dari industri jasa
keuangan juga. Hanya jika bank terdapat regulasi tentang perbankan, multifinance ada
regulasi tentang multifinance. Dan Pegadaian pun sekarang sudah mulai diatur oleh
lembaga regulasi yaitu melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi sebagai sesama
lembaga keuangan tak masalah jika satu sama lain berkegiatan yang serupa, asalkan tidak
terdapat persaingan yang tidak sehat. Maka, saya pun setuju dengan pendapat penulis
yang demikian: Terciptanya sinergitas antara lembaga keuangan perbankan, pasar
modal,lembaga pembiayaan lain dan pegadaian sehingga seluruh masyarakat,
khususnya pelaku usaha sebagai penggerak ekonomi mempunyai akses permodalan yang
sesuai dengan kemampuan.
3. Mengenai banyaknya lembaga gadai liar yang didirikan oleh swasta atau perorangan,
berdasarkan perkembangan berita yang saya ikuti bahwa dalam waktu dekat pemerintah
akan menertibkannya dalam UU Pegadaian (sampai tahun ini, gagasan pembentukan
pranata gadai yang diinginkan penulis belum terwujud dan masih menggunakan UU masa
kolonial. Perlu disadari bahwa Pegadaian tidak mampu melayani jumlah kebutuhan
masyakat,sehingga dianggap perlu memperluas pelaku jasa pergadaian ini ke sektor
swasta ataupun koperasi.
Sampai saat ini, gadai yang dilakukan oleh Pegadain memang dipandang sebagai suatu
kegiatan yang bersifat monopoli, karena hanya Pegadaian yang disahkan oleh pemerintah
kegiatan usahanya. Namun Undang-Undang Nomor 5/1999 tentang Larangan Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dengan jelas melarang monopoli oleh suatu pelaku
usaha tertentu.

Nantinya seluruh usaha jasa pegadaian harus memperoleh perizinan dari OJK
terlebih dahulu sebelum beroperasi.5

Beleid itu nantinya akan memuat pembatasan usaha, misalnya dari sisi jumlah
dan jenis gadainya, serta ketentuan terkait modal minimal juga disiapkan. OJK
juga akan melihat kemampuan untuk menaksir barang yang akan digadaikan dan
proses jika ada barang yang tidak ditebus. Misalnya, mekanisme lelang barang
yang tidak ditebus harus menggunakan balai lelang resmi sehingga pebisnis tidak
menjual sendiri.

4. Terhadap Pegadaian yang menerima jaminan fidusia, saya sependapat dengan penulis
bahwa hal tersebut menimbulkan inkonsistensi dari kegiatan gadai itu sendiri. Seperti kita
ketahui bahwa fidusia merupakan lembaga jaminan lain. Harus adanya sinergitas antara
lembaga jaminan yang sudah ada dan diatur sebelumnnya.

5. Saya sangat sependapat mengenai peraturan lebih lanjut dari objek dari gadai. Selama ini
objek dari gadai terbatas pada benda bergerak yang berwujud saja. Pada kenyataannya,
hal tersebut sudah ketinggalan jaman dan regulasi gadai yang sudah ada belum
mengantisipasi perkembangannya. Sudah saatnya objek gadai juga dapat berupa benda
bergerak tidak berwujud, seperti halnya saham.

6. Kesimpulan saya adalah saya sependapat dengan penulis bahwa perlunya peraturan
terhadap Gadai ini. Setiap kegiatan usaha idealnya mengikuti aturan yang berlaku dan

5
https://m.tempo.co/read/news/2015/07/29/090687457/jasa-gadai-swasta-berisiko-bagi-masyarakat
undang-undang seharusnya lebih spesifik lagi mengatur tentang jenis kegiatan usaha yang
ada dalam masyarakat agar tidak terjadi aturan yang tumpang tindih yang membuat
masyarkat ragu-ragu dalam berusaha. Kendala yang dihadapi oleh Perum sehingga
mengganti bentuk hukum menjadi PT Pegadaian (Persero) adalah pada peraturan
perundang-undangan yang ada. Maka dari itu pemerintah seharusnya mempercepat
pengesahan Undang-Undang Tentang Usaha Gadai sehingga dalam bentuk hukum
apapun pelaku usaha gadai dapat dilindungi hak-haknya dan melaksanakan kewajibannya
sesuai aturan yang berlaku.