Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model yang
berhubungan dengan konsep keperawatan.Teori keperawatan juga mengidentifikasi dan
menjabarkan konsep khusus yang berhubungan dengan hal-hal nyata dalam
keperawatan sehingga teori keperawatan didasarkan pada kenyataan-kenyataan yang
ada di alam dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Selain itu teori keperawatan harus
konsisten sebagai dasar-dasar dalam mengembangkan model konsep keperawatan.
Adanya teori keperawata nmembantu para anggota profesi perawat untuk memahami
berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan dalam penyelesaian
masalah keperawatan, pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan atau bentuk model
praktek keperawatan sehingga berbagai masalah dapat teratasi.
Pandangan model konsep dan teori ini merupakan gambaran dari bentuk pelayanan
keperawatan yang akan diberikan dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia
berdasarkan tindakan dan lingkup pekerjaan dengan arah yang jelas dalam pelayanan
keperawatan. Dalam keperawatan terdapat beberapa model konsep keperawatan
berdasarkan pandangan ahli dalam bidang keperawatan, yang mmemiliki keyakinan dan
nilai yang mendasarinya, tujuan yang hendak dicapai serta pengetahuan dan
ketrampilan yang ada.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.2.1. Bagaimanakah riwayat hidup seorang Myra Levine?

1
1.2.2. Apa teori yang dikemukakan oleh Myra Levine?
1.2.3. Bagaimanakah penjelasan dari teori Myra Levine tersebut?
1.2.4. Bagaimanakah bentuk aplikasinya dalam ilmu keperawatan?

1.3.TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.3.1 Mengetahui riwayat hidup seorang Myra Levine
1.3.2 Mengetahui teori yang dikemukakan oleh Myra Levine
1.3.3 Mengetahui penjelasan dari teori Myra Levine
1.3.4 mengetahui bentuk aplikasi teori Myra Levine dalam ilmu keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Myra Estrin Levine

1. Nama : Myra Estrin Levine


2. Tempat, tanggal lahir : Chicago, Illinois in 1920
3. Meninggal : Hospice of the North Shore at Evanston Hospital in 1996.
4. Riwayat Pendidikan
Myra Levine mengembangkan minat dalam perawatan karena ayahnya
sering sakit (mengalami masalah gastrointestinal) dan memerlukan perawatan.
Levine lulus dari Cook County School of Nursing tahun 1944 dan memperoleh
gelar Bachelor Science of Nursing (BSN) dari University of Chicago pada tahun
1949. Setelah lulus, Levine bekerja sebagai perawat sipil untuk US Army,
sebagai supervisor perawat bedah, dan administrasi keperawatan. Setelah
mendapatkan gelar Master Science of Nursing (MSN) di Wayne State
University pada tahun 1962, ia mengajar keperawatan di berbagai lembaga
(George, 2002) seperti University of Illinois di Chicago dan Tel Aviv University
di Israel.

5. Aktivitas tambahan
Levine adalah seorang pemimpin aktip di dalam Asosiasi Perawat
Amerika dan Asosiasi Perawat Illinois. Seorang penyuara dinamik, dia menjadi
pembawa acara pada program, tempat kerja, seminar dan panel, dan seorang
penulis berbakat mengenai ilmu perawatan dan pendidikan. Walaupun dia tidak
pernah berniat untuk mengembangkan teorinya, akan tetapi dia menyajikan
suatu struktural pengajaran tentang medical-surgical dan suatu stimulus untuk
pengembangan teori. " Empat Prinsip Konservasi Keperawatan" adalah statmen
pertama dari prinsip konservasi

6. Tonggak karir
Levine memiliki berbagai macam karir. Pengalamannya dalam ilmu
keperawatan seperti menjadi staff keperrawatan, administrasi dan tenaga
pengajar, instruksi teknis dan pengarah dalam jasa keperawatan.
7. Artikel Yang Diterbitkan
Levine menulis 77 artikel yang dipublikasikan yang termasuk artikel
An Introduction to Clinical Nursing yang dipublikasikan berulang kali pada
tahun pada tahun 1969, 1973 & 1989. Ia juga menerima gelar doktor
kehormatan dari Loyola University pada tahun 1992.
8. Penghargaan
A charter fellow of the American Academy of Nursing(1973)

3
An honorary membership in the American Mental Health Aid to Israel (1976)
Honorary Recognition from the Illinois Nurses' Association
Member of Sigma Theta Tau (Alpha Beta Chapter, Loyola University)
Enlisted in Who's Who in Americal Women (1977-1988)
Enlisted in Who's Who in American Nursing (1987)
Elected fellow in the Institute of Medicine of Chicago (1987-1991)
First recipient of the Elizabeth Russel Belford Award for excellence in teaching
from Sigma Theta Tau (1977)
Both the first and second editions of her book, Introduction to Clinical Nursing,
received American Journal of Nursing (AJN) Book of the Year awards and her 1971
book, Renewal for Nursing was translated to Hebrew
Awarded Honorary Doctorate of Humane Letters from Loyola University of
Chicago (1992)

9. Teori yang dikemukakan


Nursing is human interaction.Nursing knowledge, thoroughly grounded in
modern scientific concepts, allows for a sensitive and productive relationship
between the nurse and the individual entrusted to her care. In the care of the
sick, this has always been true, but never before has there been available to the
nurse so rich and demanding a body of knowledge to use in the patients
behalf Myra Levine (1973, p. 1)

Model Levine berfokus pada individual sebagai makhluk holistic dan area
utama yang menjadi konsern perawat dalam memelihara keutuhan seseorang
(persons wholeness). Model konsep Myra Levine memandang klien sebagai
makhluk hidup terintegrasi yang saling berinteraksi dan beradaptasi terhadap
lingkungannya.Dan intervensi keperawatan adalah suatu aktivitas konservasi dan
konservasi energy adalah bagian yang menjadi pertimbangan.Kemudian sehat
menurut Levine itu dilihat dari sudut pandang konservasi energi, sedangkan dalam
keperawatan terdapa tempat konservasi di antaranya energy klien, struktur
integritas, integritas personal dan integritas social, sehingga pendekatan asuhan

4
keperawatan ditunjukkan padapengguanaan sumber-sumber kekuatan klien secara
optimal.
Pada tahun 1989, perubahan substansial dan klarifikasi tentang teorinya
diterbitkan dalam bab "empat prinsip konservasi: dua puluh tahun kemudian" di
buku Riehl Conceptual Models for Nursing Practice. Levine menguraikan tentang
bagaimana redundansi ciri ketersediaan respon adaptif ketika stabilitas terancam.
Proses adaptasi membuat ekonomi tubuh untuk menjaga stabilitas individu. Hasil
adaptasi adalah konservasi.
Pada tahun 1991, ia secara eksplisit terkait kesehatan untuk proses
konservasi untuk memperjelas bahwa model konservasi memandang kesehatan
sebagai salah satu komponen yang penting. konservasi, melalui pengobatan,
berfokus pada integritas dan reklamasi kesatuan semua orang.
Levine meninggal pada tanggal 20 Maret tahun 1996 pada usia 75. Dia
meninggalkan warisan sebagai seorang pendidik, ulama, administrator, mahasiswa,
istri, ibu, teman, dan perawat. Sebelum kematiannya, dia memiliki kesempatan
untuk meyakinkan rekan-rekannya bahwa spiritualitas merupakan bagian implisit
dari kepribadian dan penting untuk pemeliharaan integritas pribadi.

B. Konsep Utama Teori Konservasi Levine


Teori Myra Estin Levine dikenal dangan Konservasi Model. Model
Konservasi Levine difokuskan dalam mempromosikan keseluruhan adaptasi dan
pemeliharaan dengan menggunakan prinsip-prinsip konservasi. Model ini memandu
perawat untuk berfokus pada pengaruh-pengaruh dan respon-respon di tingkatan
yang organismik. Perawat memenuhi sasaran dari model melalui konservasi energi,
struktur, dan integritas sosial dan pribadi (Levine, 1967 dalam Tomey & Alligood,
2006). Walaupun konservasi adalah fundamental terhadap hasil-hasil yang
diharapkan ketika model itu digunakan.
Tiga Konsep utama model konservasi yaitu keutuhan, adaptasi, dan
konservasi.
1. Wholeness (Keutuhan)
Erikson dalam Levine (1973) menyatakan wholeness sebagai sebuah
sistem terbuka:Wholeness emphasizes a sound, organic, progressive mutuality
between diversified functions and parts within an entirety, the boundaries of
which are open and fluid. (Keutuhan menekankan pada suara, organik,
mutualitas progresif antara fungsi yang beragam dan bagian-bagian dalam
keseluruhan, batas-batas yang terbuka) (hal 63) Levine (1973, hal 11)
menyatakan bahwa interaksi terus-menerus dari organisme individu dengan
lingkungannya merupakan sistem yang terbuka dan cair, dan kondisi
kesehatan, keutuhan, terwujud ketika interaksi atau adaptasi konstan
lingkungan, memungkinkan kemudahan (jaminan integritas) di semua dimensi

5
kehidupan. Kondisi dinamis dalam interaksi terbuka antara lingkungan internal
dan eksternal menyediakan dasar untuk berpikir holistik, memandang individu
secara keseluruhan.
2. Adaptasi
Adaptasi merupakan sebuah proses perubahan yang bertujuan
mempertahankan integritas individu dalam menghadapi realitas lingkungan
internal dan eksternal. Konservasi adalah hasil dari adaptasi. Beberapa adaptasi
dapat berhasil dan sebagian tidak berhasil. Penekanan pada proses adaptasi
ini adalah mengenai tingkatan bukan pada proses berhasil atau gagal, jadi tidak
mengenal proses maladaptasi.
Levine (1991) mengemukakan 3 (tiga) karakteristik adaptasi, yaitu:
historis, spesificity, dan redundancy.
a. Historisitas (Historicity)
Historisitas mengacu pada gagasan bahwa respon adaptif sebagian
manusia didasarkan pada genetik dan sejarah masa lalu. Setiap manusia
terdiri dari kombinasi genetic dan sejarah, dan respon adaptif merupakan
hasil dari keduanya.
b. Kekhususan (Specifity)
Kekhususan mengacu pada fakta bahwa setiap sistem yang
membentuk manusia memiliki jalur stimulus respon yang unik. Tanggapan
yang distimulasi oleh stress spesifik dan berorientasi tugas. Tanggapan yang
dipicu dalam beberapa jalur cenderung akan disinkronisasi.
c. Redundansi (Redundancy)
Redundansi menggambarkan pengertian bahwa jika suatu system
atau jalur tidak dapat memastikan adaptasi, maka jalur lain mungkin dapat
mengambil alih dan menyelesaikan pekerjaan. Ini mungkin berguna bila
respon korektif (misalnya, penggunaan suntikan alergi selama periode waktu
yang panjang untuk mengurangi keparahan alergi secara bertahap dari
system kekebalan tubuh). Namun, redundansi dapat merugikan, seperti
ketika tanggapan yang sebelumnya gagal membangun kembali (misalnya,
ketika kondisi autoimun menyebabkan system kekebalan manusia itu sendiri
menyerang jaringan yang sebelumnya sehat). Levin menyatakan bahwa
setiap individu mempunyai pola respon tertentu untuk menjamin
keberhasilan dalm aktivitas kehidupannya yang menunjukkan adaptasi
historis dan spesificity. pada kenyataannya, pola adaptasi dapat
disembunyikan dalam kode genetik individu. Redundancy menggambarkan
pilihan kegagalan yang terselamatkan dari individu untuk menjamin
adaptasi. Kehilangan redundancy memilih apakah melalui trauma, umur,
penyakit, atau kondisi lingkungan yang membuat individu sulit
mempertahankan hidup. Levine (1991) menduga adanya kemungkinan

6
bahwa penuaan itu sendiri merupakan konsekuensi dari gagalnya redundansi
proses fisiologis dan psikologis.

a. Lingkungan
Dalam menjalani proses adaptasi individu sangat dipengaruhi oleh
lingkungan baik internal maupun eksternal. Levine memandang setiap
individu memiliki lingkungannya sendiri baik lingkungan internal maupun
eksternal. Perawat dapat menghubungkan lingkungan internal individu
dengan aspek fisiologis dan patofisiologis, dan lingkungan eksternal sebagai
level persepsi, opersional dan konseptual. Level perseptual melibatkan
kemampuan menangkap dan menginterpretasi dunia dengan organ indera.
Level operasional terdiri dari segala sesuatu yang mempengaruhi individu
secara fisiologis meskipun mereka tidak dapat mempersepsikannya secara
langsung, seperti mkroorganisme. Pada konseptual level, lingkungan
dibentuk dari pola budaya, dikarakteristikkan dengan keberadaan spiritual,
dan ditengahi oleh simbol bahasa, pikiran dan pengalaman.

b. Respon organism
Kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan disebut
sebagai respon Organismik. Respon tersebut terdiri dari 4 tingkatan, yaitu :
( Menurut Levine (1973))
1) Fight-flight merupakan respon yang paling primitif dimana ancaman
yang diterima individu baik nyata maupun tidak, merupakan respon
terhadap ketakutan melalui menyerang atau menghindar hal ini bersifat
reaksi yang tiba-tiba. Respon yang disampaikan adalah kewaspadaan
untuk mencari informasi untuk rasa aman dan sejahtera.
2) Respon peradangan atau inflamasi
Merupakan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari
lingkungan yang tidak bersahabat, merupakan cara untuk penyembuhan
diri. Respon individu adalah menggunakan energi sistemik yang ada
dalam dirinya untuk menghapus atau mencegah iritasi patogen yang
merugikan. untuk hal ini sangat dibutuhkan kontrol lingkungan.
3) Respon terhadap stress menghasilkan respon defensif dalam bentuk
perubahan yang tidak spesifik pada manusia, perubahan structural dan
kehilangan energi untuk beradaptasi secara bertahap terjadi sampai rasa
lelah terjadi, dikarakteristikkan dengan pengaruh yang menyebabkan
pasien atau individu berespon terhadap pelayanan keperawatan.
4) Kewaspadaan perceptual, respon sensori menghasilkan kesadaran
persepsi, informasi dan pengalaman dalam hidup hanya bermanfaat
ketika diterima secara utuh oleh individu, semua pertukaran energi

7
terjadi dari individu ke lingkungan dan sebaliknya. Hasilnya adalah
aktivitas fisiologi atau tingkah laku. Respon ini sangat tergantung
kepada kewaspadaan perceptual individu, hanya terjadi saat individu
menghadapi dunia (lingkungan) baru disekitarnya dengan cara mencari
dan mengumpulkan informasi dimana hal ini bertujuan untuk
mempertahankan keamanan dirinya.

c. Trophicognosis
Levine merekomendasikan trophicognosis sebagai alternatif untuk
diagnosa keperawatan. Ini merupakan metode ilmiah untuk menentukan
sebuah penentuan rencana keperawatan.

3. Konsep Konservasi
Konservasi berasal dari bahasa latin conservatio yang berarti to keep
togetheratau menjaga bersama-sama (Levine, 1973). Konservasi
menggambarkan cara system yang kompleks dibutuhkan untuk melanjutkan
fungsi bahkan jika terjadi hambatan yang berat sekalipun (Levine, 1990).
Selama konservasi, individu dapat melawan rintangan, melakukan adaptasi yang
sesuai, dan mempertahankan keunikannya. Tujuan konservasi adalah kesehatan
dan kekuatan untuk untuk menghadapi ketidakmampuan. Fokus utama
konservasi adalah menjaga bersama-sama seluruh aspek dari manusia/individu.
Meskipun intervensi keperawatan mungkin mengacu pada satu bagian prinsip
konservasi, perawat juga harus mengkaji pengaruh prinsip konservasi lainnya
(Levine, 1990). Konservasi berfokus pada keseimbangan antara suplai dan
kebutuhan energy dalam realitas biologis yang unik untuk setiap individu.

Ada 4(empat) prinsip konservasi, yaitu sebagai berikut :


a. Konservasi Energi
Individu membutuhkan keseimbangan energi dan pembaharuan
konstan dari energi untuk mempertahankan aktifitas hidup. Proses seperti
penyembuhan dan penuaan merupakan hambatan bagi energy tersebut.
Hukum termodinamika yang kedua diterapkan pada apapun di dunia,
termasuk manusia. Konservasi energi telah lama dipakai dalam praktik
keperawatan meskipun kebanyakan pada prosedur dasar. Tujuan dari
konversi energy ini adalah untuk menghindari penggunaan energy yang
berlebihan atau kelelahan. Karena individu memerlukan keseimbangan
energy dan memperbaharui energy secara konstan untuk mempertahankan
aktivitas hidup. Dalam praktek keperwatan, hal ini terlihat di ruang rawat
pasien.
b. Konservasi Integritas Struktur

8
Penyembuhan merupakan proses memulihkan integritas structural
dan fungsi selama konservasi dalam mempertahanka keutuhan levines
1991). Ketidakmampuan akan ditunjukkan kepada level baru adaptasi
(Levine, 1996). Perawat dapat membatasi jumlah jaringan yang terlibat
dalam penyakit dengan deteksi dini terhadap perubahan fungsi dan dengan
intervensi keperawatan. Konservasi integritas struktur bertujuan untuk
mempertahankan atau memulihkan struktur tubuh sehingga mencegah
terjadinya kerusakan fisik dan meningkatkan proses penyembuhan. Contoh:
Membantu pasien dalam latihan ROM, Pemeliharaan kebersihan diri pasien.
c. Konservasi Integritas Personal
Harga diri dan kepekaan identitas sangat penting, merupakan hal
yang paling mudah diserang. Hal ini diawali dengan berkurangnya privasi
dan munculnya kecemasan. Perawat dapat menunjukkan respek kepada
pasien selama prosedur, mensupport usaha mereka, dan mengajar mereka.
Pada konservasi integritas personal, perawat diharapkan memberikan
pengetahuan dan kekuatan sehingga individu tidak lagi melanjutkan hidup
pribadi dan tidak lagi bergantung, kebutuhan pasien harus dihormati,
dilengkapi dengan privasi, dan dukungan psikologis. kesucian hidup
diwujudkan pada semua orang. Keterbatasan di sini akan berpusat pada
klien yang secara psikologis terganggu. Konservasi integritas personal
bertujuan untuk mengenali individu sebagai manusia yang mendapatkan
pengakuan, rasa hormat, kesadaran diri, dan dapat menentukan nasibnya
sendiri.
d. Konservasi Integritas Sosial
Seorang individu diakui sebagai anggota keluarga, anggota
komunitas atau masyarakat, kelompok keagamaan, kelompok etnis, dan
system politik suatu bangsa. Makna hidup meningkat sepanjang komunikasi
sosial dan kesehatan dipertahankan. Perawat memegang peranan
professional untuk anggota keluarga, membantu dalam kebutuhan agama,
dan menggunakan hubungan interpersonal untuk melestarikan atau
mempertahankan integritas sosial. Tujuan konservasi integritas sosial adalah
untuk melestarikan dan pengakuan dari interaksi manusia, terutama dengan
klien, orang lain yang signifikan yang terdiri dari sistem dukungannya.
Keterbatasan khusus untuk ini, adalah ketika klien tidak memiliki orang lain
yang signifikan seperti ditinggalkan anak-anak, pasien psikiatris yang tidak
mampu berinteraksi, klien tidak responsif seperti orang tak sadar, fokus di
sini adalah tidak lagi pasien sendiri namun ada orang-orang yang terlibat
dalam perawatan kesehatannya.

9
C. Konsep Metaparadigma dalam Teori Levine
Myra Estrin Levine mengembangkan teori tentang model konservasi.
Teorinya dibagi dalam 4 (empat) asumsi utama yaitu manusia, lingkungan,
keperawatan, dan kesehatan. Model Levine membahas juga keterkaitan antara
manusia dan lingkungan yang sesuai dari waktu ke waktu.
Schaefer mengidentifikasi pernyataan berikut sebagai asumsi tentang model
yaitu:
1. orang hanya dapat dipahami dalam konteks lingkungannya.
2. setiap sistem mempertahankan diri memonitor perilaku sendiri dengan
melestarikan penggunaan sumber daya yang diperlukan untuk mendefinisikan
identitas unik".
3. Manusia merespons dengan tunggal, belum terintegrasi, fashion.
Teori tentang model konservasi ini dibagi dalam 4 (empat) asumsi utama
yaitu
1. Manusia
Manusia digambarkan sebagai individu yang holistic yang terus-menerus
berusaha untuk mempertahankan keutuhan dan integritas sebagai makhluk yang
berfikir, berorientasi pada masa depan, dan masa lalu. Manusia memliki
kepekaan identitas dan harga diri. Berdasarkan Levine (1989), proses kehidupan
adalah proses perubahan.
2. Keperawatan
Keperawatan adalah interaksi manusia (Levine, 1973). Perawat masuk
ke dalam satu kemitraan dengan pasien dan berbagi pengalaman dengan setiap
pasien (Levine, 1977). Tujuan keperawatan adalah untuk mempromosikan
adaptasi dan mempertahankan keutuhan baik individu maupun masyarakat.
Keperawatan adalah untuk mempromosikan kesehatan, menyadari bahwa setiap
individu memiliki respon yang unik sebagai individu dan anggota kelompok.
Integritas individu yaitu keutuhan individu (bio,psiko, sosial, dan spiritual) dan
merupakan tanggung jawab perawat untuk membantu pasien mempertahankan
dan mencari realisasinya. Tujuan keperawatan dicapai melalui penggunaan
prinsip-prinsip konservasi : energi, struktur, personal, dan sosial.
3. Sehat sakit
Kesehatan secara umum didefinisikan sebagai kemampuan untuk
melakukan fungsi secara normal (Levine, 1969). Kesehatan bukan hanya tidak
adanya kondisi patologis. Kesehatan juga diartikan sebagai terjaganya keutuhan
tubuh dan keberhasilan adaptasi. Perubahan status kesehatan tidak hanya
perubahan fungsi fisiologis (konservasi integritas struktural) tetapi dapat juga
terjadi gangguan pada beberapa prinsip konservasi yang lain.
4. Lingkungan
Lingkungan adalah "di mana kita terus-menerus dan secara aktif terlibat"
dalam menjalani kehidupan. Levine juga memandang bahwa setiap individu

10
memiliki lingkungan sendiri, baik secara internal maupun eksternal. Lingkungan
internal meliputi fisiolosis dan pathofisiologis, dan lingkungan eksternal
sebagai level persepsi, opersional dan konseptual.
Levine menggunakan definisi Bates (1967) dalam Tomey & Alligood
(2006)dalam mendefinisikan lingkungan eksternal yang terdiri dari tiga level,
yaitu :
a. Perseptual
Lingkungan perseptual adalah bagian dari lingkungan eksternal
dimana individu berespon terhadap sumber sensori seperti cahaya, suara,
sentuhan, suhu, perubahan kimia yang dibau atau yang dirasa.
b. Operasional
Lingkungan operasional adalah bagian dari lingkungan eksternal
yang berinteraksi dengan kehidupan yang mungkin secara fisik
mempengaruhi individu, tetapi tidak disadari oleh manusia karena
merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang berinteraksi dengan
jaringan kehidupan seperti semua bentuk radiasi, mikroorganisme, dan
polutan. Dengan kata lain, elemen-elemen ini mempengaruhi manusia secara
fisik tetapi tidak bisa dirasakan.
c. Konseptual
Lingkungan konseptual merupakan lingkungan eksternal yang terdiri
dari bahasa, ide,symbol, spiritual, keyakinan, dan tradisi, budaya dan etnis,
pola psikologis individu yang diperoleh dari pengalaman hidup.

D. Pernyataan Teoritis
Karya Levine dimaksudkan untuk memberikan struktur organisasi dalam
mengajar keperawatan medikal bedah bukan untuk mengembangkan teori; Oleh
karena itu ia tidak secara eksplisit mengidentifikasi assertions.although teoritis
banyak pernyataan teoritis dapat dihasilkan dari pekerjaannya, pernyataan utama
yaitu:
1. Intervensi Keperawatan didasarkan pada konservasi
energi pasien individu
2. Intervensi Keperawatan didasarkan pada konservasi
integritas struktural pasien individu
3. Intervensi Keperawatan didasarkan pada konservasi
integritas sosial pasien individu.

E. Aplikasi Teori Pada Bidang


1. Praktek
Levine membantu mendefinisikan keperawatan dengan mengidentifikasi
kegiatan meliputi dan memberikan prinsip-prinsip ilmiah di belakang mereka.
Prinsip konservasi sebagai kerangka kerja tidak terbatas pada perawatan di
rumah sakit, tapi dapat digeneralisasi dan digunakan di setiap lingkungan,

11
rumah sakit, atau masyarakat. Prinsip konservasi, tingkat integrasi, dan konsep
lainnya dapat digunakan dalam berbagai konteks. Hirschfeld telah
menggunakan prinsip-prinsip konservasi dalam perawatan orang dewasa yang
lebih tua. Savege dan Culbert menggunakan model konservasi untuk
membangun rencana perawatan untuk bayi. Dever berdasarkan asuhan anak-
anak pada model konservasi. Roberts, Fleming, dan Yeates-Giese merancang
intervensi untuk persalinan berdasarkan model konservasi. Mefford menguji
teori promosi kesehatan untuk bayi prematur diturunkan dari model konservasi
Levine tentang keperawatan dan menemukan hubungan terbalik yang signifikan
antara konsistensi pengasuh dan usia di mana bayi mencapai kesehatan dan
hubungan terbalik antara penggunaan sumber daya dengan bayi prematur
selama mulai tinggal di rumah sakit dan konsistensi pengasuh. Cooper
mengembangkan kerangka kerja untuk perawatan luka yang berfokus pada
integritas struktural sementara mengintegrasikan semua integrities. Webb
menggunakan model konservasi untuk memberikan perawatan bagi pasien yang
menjalani pengobatan kanker. Roberts, Brittin, Cook, dan deCligord
menggunakan model konservasi untuk mempelajari pengaruh teknik bantal
bumerang pada kapasitas pernapasan. Taylor digunakan mereka untuk
mengukur hasil asuhan keperawatan dan digunakan lagi dalam dirinya buku
intervensi, disfungsi neurologis dan keperawatan. Jost menggunakan model
untuk mengembangkan penilaian kebutuhan staf selama mengalami perubahan.
prinsip konservasi telah digunakan sebagai kerangka kerja untuk pengaturan
berbagai praktek di bidang kardiologi, kebidanan, ilmu mengenai usia,
perawatan akut (neurologi), pediatri, perawatan jangka panjang, perawatan
darurat, perawatan primer, neonatologi, area perawatan kritis, dan di komunitas
tunawisma.
2. Pendidikan
Levine menulis pengantar Keperawatan Klinis, buku teks untuk para
pemula yang memperkenalkan materi baru ke dalam kurikulum. Dia
mempresentasikan diskusi awal kematian dan sekarat dan delieved bahwa
perempuan harus dibangunkan setelah biopsi payudara dan berkonsultasi
tentang langkah berikutnya.
Pengantar Keperawatan klinik menyediakan struktur organisasi untuk
mulai mengajar keperawatan medikal bedah kepada siswa . pada edisi kedua
tahun 1969 dan 1973, Levine menyajikan masing-masing model pada akhir bab
sembilan. Setiap model mengandung tujuan, konsep ilmu penting, dan proses
keperawatan untuk memberikan perawat dasar dalam kegiatan menyusui.
Model ini bukan bagian dari Model Percakapan. Model konservasi dibahas

12
dalam Pendahuluan dan dalam Bab 10 dari teks pengantar. Panduan teks guru
yang menyertai tetap menjadi sumber tepat waktu prinsip pendidikan yang
dapat membantu baik guru pemula dan guru berpengalaman yang dapat
mengambil manfaat dari review akar pendidikan.
Kritikus berpendapat bahwa, meskipun teks diberi label pengantar,
mahasiswa mulai akan membutuhkan latar belakang yang cukup luas dalam
ilmu fisik dan sosial untuk menggunakannya. Seorang kritikus dari edisi kedua
menunjukkan bahwa penekanan prinsip-prinsip ilmiah adalah kekuatan yang
pasti, namun kelemahan teks adalah bahwa hal itu tidak menyajikan contoh
yang memadai profil patologis ketika gangguan dibahas. Untuk alasan ini,
resensi satu ini merekomendasikan bahwa teks digunakan sebagai teks
tambahan atau pelengkap, bukan teks utama.
Balai menunjukkan bahwa model Levine digunakan sebagai model
kurikulum. Baru-baru ini, model telah berhasil diintegrasikan ke dalam
kurikulum sarjana dan pascasarjana. Beberapa mahasiswa pascasarjana telah
menggunakan model Levine untuk tesis dan disertasi.
3. Penelitian
Fitzpatrick dan Whall menyatakan bahwa semua dalam semua, Model
Levine sebagai awal yang sangat baik. Kontribusinya telah banyak
menambahkan untuk pengembangan keseluruhan pengetahuan keperawatan.
"Namun, Fawcett menyatakan bahwa untuk membangun kredibilitas, "evaluasi
yang lebih sistematis penggunaan model dalam berbagai situasi klinis
diperlukan, studi yang menguji struktur konseptual-teoritis-empiris langsung
berasal dari atau terkait dengan prinsip-prinsip konservasi. "Banyak pertanyaan
penelitian dapat dihasilkan dari Model Levine. Beberapa mahasiswa
pascasarjana telah menggunakan prinsip-prinsip konservasi sebagai kerangka
kerja untuk penelitian mereka.
4. Masa depan (manfaat teori)
Levine dan lain-lainnya telah bekerja dengan menggunakan prinsip-
prinsip konservasi sebagai dasar dari taksonomi diagnosis keperawatan. Namun,
pengembangan lebih lanjut dari konsep ini telah ditangguhkan sejak Asosiasi
Perawat Amerika mengambil alih diagnosis keperawatan pada tahun 1992.
Pekerjaan tambahan telah dilakukan pada penggunaan Model administrasi
Levine dengan orang tua yang lemah. Baru-baru ini, model tersebut digunakan
untuk mengembangkan Teori Promosi Kesehatan pada bayi prematur. Ini
memiliki potensi besar untuk studi gangguan tidur dan dalam pengembangan
praktek perawatan kolaboratif dan primer.

F. Kritik
1. Kejelasan

13
Model Levine memiliki kejelasan. Fitzpatrick dan Whall yakin bahwa
pekerjaan Levine konsisten baik secara internal maupun eksternal. Fawcett
menyatakan bahwa "Model konservasi Levine menyediakan keperawatan
dengan logis kongruen, pandangan orang holistik." Model ini memiliki banyak
hal; Namun, Levine cukup mendefinisikan mereka untuk kejelasan.
2. Kesederhanaan
Meskipun empat prinsip-prinsip konservasi tampil sederhana pada
awalnya, mereka mengandung subkonsep dan beberapa variabel. Namun
demikian, model ini masih salah satu yang sederhana yang muncul.
3. Keumuman
Empat Prinsip-prinsip konservasi dapat digunakan dalam semua konteks
keperawatan.
4. Presisi empiris
Levine menggunakan logika deduktif untuk mengembangkan model-
nya, yang dapat digunakan untuk menghasilkan pertanyaan penelitian. Saat ia
tinggal Model konservasi, dia diverifikasi penggunaan penalaran induktif untuk
lebih mengembangkan dan menginformasikan model-nya.
5. Derivable Konsekuensi
Meskipun beberapa penulis mempertanyakan penyediaan tingkat
kontribusi Model Levine, empat prinsip-prinsip konservasi diakui sebagai salah
satu awal model keperawatan l. Selain itu, terus memiliki utilitas untuk praktek
keperawatan dan penelitian dan menerima pengakuan yang meningkat di abad
kedua puluh satu ini.

G. Aplikasi Dalam Proses Keperawatan


Proses Keperawatan Levin dengan menggunakan pemikiran kritis (Tomey, 2006)
Proses Pembuatan keputusan
Pengkajian Perawat mengkaji pengaruh lingkungan eksternal dan
internal pasien dengan prinsip konservasi.
Perawat mengobservasi pasien dengan melihat respon
organisme teradap penyakit, membaca catatan medis,
evaluasi hasil diagnostik dan berdiskusi dengan pasien
tentang kebutuhan akan
bantuannya

Keputusan Diagnosa keperawatan menyimpulkan fakta


Tropihicognosis provokatif. Fakta provokatif disusun sedemikian rupa
untuk menunjukkan kemungkinan dari kondisi pasien.
Sebuah keputusan mengenai bantuan yang dibutuhkan

14
pasien dibuat .
Keputusan ini disebut tropihicognosis

Hipotesis Mengarahkan intervensi keperawatan dengan tujuan


untuk keutuhan dan promosi adaptasi. Berdasarkan
keputusan, perawat memvalidasi masalah pasien, lalu
mengemukakan hipotesis tentang masalah dan
solusinya. Ini disebut rencana
keperawatan.
Intervensi Uji hipotesis.
Perawat menggunakan hipotesis untuk memberi arah
dalam melakukan perawatan.
Intervensi dilakukan berdasarkan prinsip konsevasi,
yaitu konservasi energi, struktur, personal dan
sosial.
Pendekatan ini diharapkan mampu mempertahankan
keutuhan dan promosi adaptasi.
Evaluasi Observasi respon organisme terhadap intervensi.
Hasil dari uji hipotesa dievaluasi dengan mengkaji
respon organisme apakah hipotesis membantu atau
tidak.

Aplikasi Teori Levine

1. Kasus

Tn. A, umur 45 tahun dirawat di ruang perawatan Bedah Saraf Rumah Sakit X dengan
kelemahan pada ekstremitas kanan pasca stroke NHS. Tn. A sudah seminggu di rawat
didampingi oleh istri dan seorang anak perempuannya. Selama di rawat pasien Tn. A
tidak pernah dimandikan karena kelemahan yang diderita oleh pasien dan adanya
kepercayaan keluarga bahwa pasien yang sakit tidak boleh dimandikan.

2. Analisa Kasus

1) Pengkajian

a. Konservasi energi

TN. A usia 45 tahun, mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan

15
b. Konservasi integritas struktural

Karena kelemahan yang dialami Tn. A sehingga hal inilah yang membuat pasien tidak
mampu untuk melakukan perawatan diri, badan pasien tampak kotor, kusam dan
berbau.

c. Konservasi Integritas Personal

Pasien dan keluarga menganut kepercayaan jika sakit tidak boleh mandi

d. Konservasi Integritas pasien

Perawat berbicara dengan anggota keluarga pasien dan mereka mengatakan Tn. A tidak
mau dimandikan karena takut penyakit Tn. A bertambah berat bila banyak bergerak.

2) Diagnosa Keperawatan

Deficit Perawat diri b/d kelemahan fisik

3) Intervensi / Implementasi

a. Terapeutik

Bina hubungan saling percaya :

Salam terapeutik

Memperkenalkan diri perawat dan nama panggilan

Menanyakan nama panggilan yang disukai

Menanyakan keadaan pasien hari ini

b. Supportif

Memberikan motivasi, semangat dan support kepada pasien

c. Intervensi

Konservasi energy :

Membantu pasien dalam pemenuhan nutrisi yang adekuat

16
Membantu mobilisasi pasien dengan posisi miring kiri dan kanan setiap 30 menit.

Konservasi integritas structural

Membantu pasien dalam latihan ROM

Membantu pasien mempertahankan personal higiene

Konservasi integritas personal

Menjaga privasi pasien

Menyapa pasien dengan sopan

Meminta izin sebelum melakukan tindakan

Melakukan terminasi setelah melakukan tindakan dan sebelum meninggalkan pasien

Melindungi kebutuhan akan jarak (space)

Konservasi integritas social

Perawat membantu menghadirkan anggota keluarga dalam perawatan pasien termasuk


menganjurkan memanggil rohaniawan untuk memberikan support spiritual kepada
pasien.

4) Evaluasi

a. Pasien tampak bersih, segar dan rapi

b. Pasien dan keluarga mengerti dan mau berperan serta dalam pemenuhan kebutuhan
pasien.

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Myra Estrin Levine adalah seorang ahli yang memberikan penjelasan
berbeda dari disiplin ilmu keperawatan. Model konsep Myra Levine memandang
klien sebagai makhluk hidup terintegrasi yang saling berinteraksi dan beradaptasi
terhadap lingkungannya. Dalam teori Levine ini terdapat empat konsep konversi
utama yaitu konversi energy,integritas struktur,integritas personal dan integritas
social. Semua teori ia bagi menjadi empat bagian utama antara lain manusia,
lingkungan, kesehatan, keperawatan. Selain itu, Levine juga membahas orang dan
lingkungan yang tergabung atau menjadi kongruen dari waktu ke waktu.
Menurutnya seorang perawat harus selalu mengobservasi, memberikan intervensi
yang tepat sesuai perencanaan dan mengevaluasi. Hal tersebut untuk membantu
klien, sehingga hubungan kerja sama antara perawat dengan klien harus baik agar
terwujudnya tujuan kedua belah pihak.

B. Saran

1. Bagi calon perawat semoga bisa mencontoh tauladan dari ilmuwan yang
disebutkan diatas.
2. Tingkatkan ilmu dari para ilmuwan yang telah diberikan dari kata-kata diatas.
3. Tingkatkan solidararitas antara tenaga kesehatan dengan lingkungan
disekitarnya.

18
DAFTAR PUSTAKA

Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses &

Praktik. Jakarta: EGC. Hlm130,137

M. Gaie Rubenfeld dan Barbara K. Scheffer.2010.Berpikir kritis untuk perawat ,Strategi

berbasis kompetensi. Jakarta: EGC. 50.51

R. Siti Maryam, S.Kp, Ns. Santu Setiawati, S.Kep, Ns. Mia Fatma Ekasari, S. Kep,

2008. Berpikir Kritis dalam Proses Keperawatan. Jakarta :EGC. Hlm 6,

19

Anda mungkin juga menyukai