Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS WILAYAH TANAH USAHA KABUPATEN SEMARANG

Oleh Hana Zahira Syarif, 1306363872

Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Seiring berjalannya waktu, pengadaan tanah bagi pemenuhan kebutuhan untuk pembangunan di Indonesia
semakin meningkat, baik sebagai tempat bermukim ataupun sebagai tempat kegiatan usaha. Hal tersebut
terjadi pula di Kabupaten Semarang mengingat adanya desentralisasi kewenangan sesuai dengan Undang-
Undang Nomor 22 tahun 1999 (Pasal 11) tentang Pemerintahan Daerah. Pertanahan merupakan salah satu
bidang yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten/kota. Adapun perubahan pola tata guna tanah
dapat di analisis berdarakan tingkat perkembangan wilayah, seperti mengacu pada jaringan jalan dan rasio
murid-guru SMA (pendidikan).

Wilayah Tanah Usaha di Kabupaten Semarang

Pola tata guna tanah adalah sebuah pola atau rangka yang dapat digunakan untuk menerapkan
penggunaan tanah secara berencana ( Sandy, 1989). Hal ini bertujuan agar pemanfaatan sumber daya
tanah dapat dikelola dengan baik, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun
penentuan pola tata guna tanah didasarkan pada unsur ketinggian dan kemiringan lereng. Ketinggian
berfungsi selektif bagi tumbuh-tumbuhan yang disebabkan karena adanya perubahan suhu. Sedangkan
kemiringan lereng berfungsi sebagai pengendali air agar tidak terjadi kerusakan pada tanah.

Kabupaten Semarang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah,
yang mana memiliki ibu kota yaitu Kota Ungaran. Secara astronomis Kabuapaten Semarang terletak pada
1100 14' 54,74" - 1100 39' 3" Bujur Timur dan 7 0 3 57 - 70 30 0 Lintang Selatan. Pada bagian utara
berbatasan dengan Kota Semarang, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Demak dan Grobongan,
bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, serta bagian barat berbatasan dengan Kabupaten
Magelang, Temanggung, dan Kendal. Secara fisiografis terdapat tiga gunung yang melingkupi, yaitu
Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Hal tersebut menyebabkan adanya variasi ketinggian dan
kemiringan lereng, dimana ketinggian Kabupaten Semarang berkisar antara 25 2050 mdpl, sedangkan
kemiringan lereng berkisar antara < 2% hingga > 40%. Berikut ialah klasifikasi wilayah tanah usaha pada
Kabupaten Semarang.

Tabel 1. Klasifikasi Wilayah Tanah Usaha

Perwilayahan Tanah Ketinggia Kemiringan Keterangan


n Lereng
Wilayah Tanah Usaha 50 -100 <40 % Guna lahan perhatian lahan kering, tanaman
1C keras, buah-buahan, perkebunan
Sawah masih cukup baik
Banyak permukiman
Wilayah Tanah Usaha 100 500 <40 % Guna lahan pertanian lahan kering dan
1D perkebunan
Sawah jika masih ada air
Wilayah Tanah Usaha 500 1000 <40 % Bergelombang dan berbukit
2A Peralihan iklim panas ke sedang
Masih dijumpai tumbuhan meskipun tidak
sebaik di bawah 500 mdpl
Tanah datar yang luas sebaiknya untuk
hortikultura dan sayur-sayuran, tanah
bergelombang untuk tanaman keras beriklim
sejut seperti cengkeh, kopi, kemari, dan jeruk
Wilayah Tanah Usaha >1000 <40 % Suhu cukup rendah, beriklim sedang
2B Tanaman iklim sedang dapat tumbuh dengan
baik
Tanah datar luas sangat sesuai untuk bunga-
bungaan, sayur-sayuran dan buah-buahan
iklim dingin.
Wilayah Tanah Terbatas >1000 >40 % Suhu cukup rendah, beriklim sedang
2 Tanaman iklim sedang dapat tumbuh dengan
baik
Tanah datar luas sangat sesuai untuk bunga-
bungaan, sayur-sayuran dan buah-buahan
iklim dingin.
Lereng kebanyakan terjal

Sifat-sifat wilayah berhubungan dengan tempat kegiatan masyarakat. Tabel 1. Klasifikasi Wilayah
Tanah Usaha berfungsi sebagai sumber acuan pembentukan pola wilayah tanah usaha di Kabupaten
Semarang.

Gambar 1. Peta Wilayah Tanah Usaha


Sumber : Pengolahan Data (2016)

Berdasarkan Gambar 1. Peta Wilayah Tanah Usaha dapat diketahui bahwa wilayah tanah usaha di
Kabupaten Semarang memiliki beberapa klasifikasi. Hasil overlay dari kemiringan lereng dan ketinggian
wilayah menunjukkan bahwa wilayah tanah usaha utama lebih mendominasi jika dibandingkan dengan
wilayah tanah usaha terbatas. Wilayah tanah usaha utama lebih mendominasi di daerah Kabupaten
Semarang disebabkan oleh kemiringan lereng yang mayoritas sebesar <40%.
Pada bagian utara di dominasi oleh wilayah tanah usaha2A dan sebagian kecil ialah wilayah tanah
usaha 1D. Bagian timur di dominasi oleh wilayah tanah usaha 2A dan sebagian kecil ialah wilayah tanah
usaha 1D. Bagian Selatan cukup variatif karena memiliki tiga jenis wilayah tanah usaha dengan luasan
yang hampir sama, yaitu wilayah tanah usaha 2A, 2B, dan terbatas 2. Sedangkan pada bagian barat
terdapat wilayah tanah usaha 2B dan terbatas 2.

Jaringan Jalan di Kabupaten Semarang

Sistem transportasi merupakan gabungan dari beberapa komponen yang saling berkaitan dalam
hal pengangkutan orang an atau barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi.
Salah satu bagian dari sistem transportasi ialah jaringan jalan. Jalan merupakan prasarana infrastruktur
dasar yang dibutuhkan manusia untuk dapat melakukan pergerakan dari suatu lokasi lainnya dalam
rangka pemenuhan kebutuhan. Oleh karena itu jaringan jalan erat kaitannya dengan perkembangan
ekonomi.

Sistem jaringan jalan yang disusun mengikuti ketentuan pengaturan tata ruang dan struktur ruang
wilayah nasional, yang menghubungkan simpul-simpul jasa industry (Peraturan Pemerintah RI No
26/1985). Berdasarkan Peraturan Kementrian Pekerjaan Umum, Jaringan jalan dibagi menjadi beberapa
jenis, yaitu terdapat jalan arteri, kolektor, dan lokal. Jalan arteri merupakan jalan yang secara efisien
menghubungkan antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah. Adapun jalan kolektor
merupakan jalan yang secara efisien menghubungkan antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat
kegiatan lokal. Sedangkan jalan lokal merupakan jalan yang secara efisien menghubungkan pusat
kegiatan nasional dengan pensil atau pusat kegiatan wilayah dengan persil atau pusat kegiatan lokal
dengan pusat kegiatan lokal, pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan dibawahnya, pusat kegiatan lokal
dengan persil, atau pusat kegiatan dibawahnya sampai persil.

Gambar 2. Peta Jaringan Jalan


Sumber : Kementrian Pekerjaan Umum
Berdasarkan Gambar 2. Peta Jaringan Jalan maka dapat diketahui bahwa terdapat beberapa jenis
jalan di Kabupaten Semarang, seperti jalan tol, arteri, koleketor, lokal, dan jalur kereta api. Jalan tol
terbentang dari Kecamatan Ungaran Barat, Ungaran Timur, Bergas, Bawen, Pringapus, Tuntang, Pabelan,
Tengaran, Suruh, Susukan, dan Kaliwungu. Adapun jalan arteri meliputi Kecamatan Ungaran Barat,
Bergas, Bawe, Tuntang, Tengaran, Jambu, dan Ambarawa. Jalan kolektor berada pada Kecamatan
Ungaran Timur, Ungaran Barat, Pringapus, Bergas, Bawen, Bringin, Bancak, Tuntang, Pabelan, Suruh,
Susukan, Kaliwungu, Tengaran, Getasan, Banyubiru, Jambu, Ambarawa, Bandungan, dan Sumowono.
Sedangkan jalan lokal terdapat pada semua kecamatan, namun terdapat pula jalan lingkar Ambarawa yang
terdapat di Kecamatan Ambarawa. Disamping itu terdapat pula jalur kereta api yang meliputi Kecamatan
Bringin, Tuntang, Jambu, dan Ambarawa.

Rasio Murid-Guru SMA di Kabupaten Semarang

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 Tentang Guru, dinyatakan bahwa rasio
minimal jumlah murid terhadap guru SD/SMP/SMA ialah 20:1. Oleh karena itu penggolongan rasio
murid-guru dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kelas rendah jika < 20, normal jika 20 -40, dan tinggi jika >
40, sedangkan keterangan nol yaitu tidak terdapat fasilitas dan tenaga pendidikan.

Gambar 3. Peta Rasio Murid-Guru SMA


Sumber : Pengolahan Data (2016)

Berdasarkan Gambar 3. Peta Rasio Murid-Guru SMA maka dapat diketahui bahwa mayoritas
berada pada kelas sedang. Namun terdapat satu kecamatan dengan kelas rasio normal, yaitu Kecamatan
Bergas. Disamping itu terdapat pula kecamatan dengan kelas nol, yaitu terdapat pada Kecamatan Bancak
dan Pringapus.

Keterkaitan Jaringan Jalan Terhadap Perkembangan Wilayah Tanah Usaha

Jaringan jalan merupakan jantung perkembangan suatu wilayah, sehingga hal ini cukup erat
kaitannya dengan wilayah tanah usaha. Dimana akan berdampak pada perkembangan potensi pada
wilayah tanah usaha tersebut.
Gambar 4. Perbandingan Wilayah Tanah Usaha dengan Persebaran Jaringan Jalan
Sumber : Pengolahan Data (2016)

Berdasarkan Gambar 4. Perbandingan Wilayah Tanah Usaha dengan Persebaran Jaringan Jalan
didapatkan hasil yang dinyatakan dalam tabel berikut.

Tabel 2. Perbandingan WTU dan Jalan


Kecamatan WTU Jaringan Jalan
Ungaran Timur 1D, 2A Tol, Kolektor
Ungaran Barat 2A, 2B, T2 Arteri, kolektor
Pringapus 1D, 2A Tol, kolektor
Bergas 2A, 2B, T2 Tol, arteri, kolektor
Bawen 2A, 2B Tol, arteri, kolektor
Bringin 1D, 2A Kolektor, Kereta Api
Bancak 1D, 2A Kolektor
Tuntang 2A, 2B, T2 Tol, arteri, kolektor, KA
Pabelan 2A, 2B Tol, Kolektor
Suruh 2A, 2B Tol, Kolektor
Susukan 2A, 2B Tol, Kolektor
Kaliwungu 2A, 2B Tol, Kolektor
Tengaran 2B Tol, Kolektor, arteri
Getasan T2, 2B Kolektor
Banyubiru T2, 2B, 2A Kolektor
Jambu 2B, T2 Kolektor, arteri, KA
Ambarawa 2A, 2B Kolektor, arteri, KA, lingkar
ambarawa
Bandungan 2B, T2 Kolektor
Sumowono 2B, T2 Kolektor

Berdasarkan Tabel 2. Tabel Perbandingan WTU dan Jalan maka dapat diketahui bahwa, jaringan
jalan tol mayoritas terdapat pada WTU 2B yangmana memiliki wilayah tanah datar yang luas dengan
iklim sedang, sehingga tepat untuk pendirian jalan tol. Adapun jalan arteri terdapat pada kecamatan yang
berada di tengah kabupaten dengan jenis WTU 2A ataupun 2B. Hal ini dikarenakan adanya tanah datar
yang luas dan pengembangan hortikutura yang baik, sehingga fungsi jaringan jalan arteri dapat berfungsi
dengan baik. Disamping itu terdapat pula jaringan jalan kolektor yangmana melingkupi semua kecamatan
dengan berbagai tipe WTU, hal ini dikarenakan pengutamaan fungsi dari jaringan jalan tersebut. Adapun
jalur kereta api berada pada WTU 2A dan 2B. Bagi daerah dengan WTU terbatas 2, pada umumnya hanya
terdapat jalan kolektor dan lokal. Hal ini dikarenakan medan yang dilalui cukup terjal.

Keterkaitan Persebaran Rasio Murid SMA Terhadap Perkembangan Wilayah Tanah Usaha

Pendidikan merupakan salah satu acuan bagi pengembangan wilayah tanah usaha pada suatu
daerah. Hal ini dikarenakan apabila tingkat pendidikan masyarakat semakin baik maka akan semakin baik
pula perekonomian masyarakatnya. Namun, kondisi tersebut menyebabkan semakin menurunnya
penggunaan wilayah tanah usaha, yang berfokus pada pertanian.

Gambar 5. Perbandingan Wilayah Tanah Usaha dengan Rasio Murid-Guru SMA


Sumber : Pengolahan Data (2016)

Berdasarkan Gambar 5. Perbandingan Wilayah Tanah Usaha dengan Rasio Murid-Guru SMA
maka didapatkan hasil yang dinyatakan dalam tabel sebagai berikut

Tabel 3. Perbandingan WTU dengan Kelas Rasio Murid-Guru SMA


Kecamatan WTU Kelas Rasio
Ungaran Timur 1D, 2A Rendah
Ungaran Barat 2A, 2B, T2 Rendah
Pringapus 1D, 2A Tidak Ada
Bergas 2A, 2B, T2 Normal
Bawen 2A, 2B Rendah
Bringin 1D, 2A Rendah
Bancak 1D, 2A Tidak Ada
Tuntang 2A, 2B, T2 Rendah
Pabelan 2A, 2B Rendah
Suruh 2A, 2B Rendah
Susukan 2A, 2B Rendah
Kaliwungu 2A, 2B Rendah
Tengaran 2B Rendah
Getasan T2, 2B Rendah
Banyubiru T2, 2B, 2A Rendah
Jambu 2B, T2 Rendah
Ambarawa 2A, 2B Rendah
Bandungan 2B, T2 Rendah
Sumowono 2B, T2 Rendah

Berdasarkan Tabel 3. Perbandingan WTU dengan Kelas Rasio Murid-Guru SMA maka dapat
diketahui bahwa mayoritas rasio murid-guru SMA pada Kabupaten Semarang ialah rendah. Bahkan
terdapat kecamatan dengan kelas rasio nol atau tidak ada yang berada pada Kecamatan Pringapus dan
Bancak. Apabila dilihat melalui WTU maka pada Kecamatan Pringapus dan Bancak memiliki WTU 1D
dan 2A, umumnya wilayah ini mudah diakses dikarenakan topografinya yang relatif datar, namun terdapat
ketimpangan di dalamnya. Sedangkan kelas rasio normal hanya terdapat di Kecamatan Bergas dimana
memiliki WTU jenis 2A, 2B, dan T2. Perkembangan pendidikan yang cukup baik di Kecamatan Bergas
tak lepas dari peran lokasinya yang berada di pusat kabupaten.

Kesimpulan

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa jaringan jalan erat
kaitannya dengan wilayah tanah usaha. Hal ini dikarenakan semakin tinggi kelas WTU maka jenis
jaringan jalan akan semakin berkurang. Sedangkan keterkaitan rasio murid-guru SMA terhadap WTU
ialah pada kondisi potensi wilayah.

Daftar Pustaka

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2004. Pedoman Kontruksi dan Bangunan. Jakarta

Badan Pusat Statistik. 2015. Kabupaten Seamarang Dalam Angka. Semarang