Anda di halaman 1dari 2

KISAH KHALIFAH UMAR BIN KHATAB

Umar Bin Khattab salah satu sahabat nabi yang dijanjikan surga karena ketaatannya
kepada Allah. Umar Bin Khattab adalah sosok tegas dan berwatak keras. Secara fisik dia
sangat tinggi besar dan gagah menjulang. Orang-orang menyebutnya sebagai Singa Padang
Pasir karena kecakapannya dalam berkelahi dan tidak ada yang ditakuti oleh Umar Bin
Khattab. Setiap kali berkelahi, Umar Bin Khattab selalu menang dan tidak ada yang berani
melawan Umar.
Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab terkenal dengan kezalimannya. Berbagai
maksiat telah ia lakukan. Berzina, minuman keras, menentang Islam dengan keras dan
bahkan membunuh putrinya. Namun, semua itu berubah atas berkah dari doa Rasulullah
SAW. Rasulullah memohon kepada Allah SWT untuk memberinya hidayah Islam. Allah
ternyata memberikan hidayah kepada Umar melalui Al-Quran surat Thoha ayat 1-8. Surat
yang diperdengarkan oleh saudarinya yang telah lebih dahulu masuk Islam bersama suaminya
itu menggugah kesadaran Umar bin Khattab. Umar bin Khattab mendapatkan hidayah
kemudian masuk ke dalam agama Islam.
Setelah Abu Bakar meninggal, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah
(pemimpin) menggantikan Abu Bakar. Pengangkatan ini bukannya Umar bin Khattab sendiri
yang meminta, tetapi orang-oranglah yang mengangkat Umar bin Khattab karena tidak ada
lagi yang berhak menggantikan Abu Bakar selain Umar bin Khattab. Umar bin Khattab pun
dengan berat hati menerima tugas sebagai khalifah. Jangan lagi ditanyakan bagaimana
loyalitas dan pengorbanan sosok Umar bin Khattab pada saat ia menjabat sebagai khalifah.
Beliau adalah sosok tauladan pemimpin yang tak akan ditemui pada masa sekarang. Segala
kepentingan rakyat di atas segala-galanya termasuk kepentingan pribadinya. Umar bin
Khattab adalah simbol keadilan, mau mengorbankan diri, baik harta dan jiwanya sendiri.
Maka tak berlebihan jika kemudian Umar bin Khattab mendapat gelar Amirul
Mukminin (pemerintahnya orang beriman). Sebagai pemimpin ia adalah lelaki yang menjauhi
kemewahan duniawi. Ia tidak memperkaya diri dari jabatannya yang ia sandang. Lebih baik
anak dan istrinya kelaparan, dari pada rakyat yang lain tidak makan. Bahkan, dalam
menjalankan pemerintahannya, Umar bin Khattab memilih untuk berada di bawah pohon
kurma daripada di istana yang megah.
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, kekeringan mengepung negerinya.
Tanah-tanah menghitam bagai terbakar, pepohonan kering meranggas, dan air dalam sumur
tak lagi melimpah. Umat Islam saat itu mengalami masalah ekonomi yang pailit. Sebagai
bentuk keprihatinan dan kebersahajaannya, Umar pun mengurangi diri sendiri dari nikmatnya
makan minum. Ini dilakukan Umar agar ia bisa merasakan penderitaan yang rakyat rasakan.
Konon selama itu ia hanya makan cuka dan minyak goreng. Seringnya mengkonsumsi
makanan tersebut, menjadikan wajahnya tak bercahaya dan nyaris menghitam, padahal semua
orang tahu bahwa paras awal wajah Umar bin Khattab adalah tampan oleh kulitnya yang
putih bersih. Hingga pada suatu saat, rakyatnya dibuat kagum karena Umar berpidato dengan
pakaian yang penuh dengan tambalan di sana-sini sebanyak 12 lubang.

Kisah Umar bin Khattab dan Ibu yang merebus batu


Kisah yang paling terkenal dari perjalanan Umar bin Khattab adalah saat ia
melakukan inspeksi mendadak tengah malam pada rakyatnya. Saat itu didapatinya seorang
ibu yang sedang merebus batu untuk menenangkan anak-anaknya yang lapar. Saking lamanya
batu yang dimasak tersebut hingga membuat anak-anak dari ibu tersebut tertidur karena
kecapekan. Umar bin Khattab kemudian bertanya kepada ibu tersebut. Karena tidak tahu
bahwa yang mengajaknya adalah Umar sang Khalifah, bu tersebut mengatakan bahwa semua
yang terjadi padanya karena pemimpin yang tidak bisa memimpin rakyat sehingga rakyatnya
kelaparan. Umar bin Khattab yang masih menyembunyikan identitasnya kaget dan merasa
bersalah karena si perempuan itu mengatakan bahwa pemimpinnya telah melalaikan dirinya.
Malam itu juga Umar bin Khattab mendatangi gudang makanan dan meminta
pembantunya menaikkan sekarung tepung dan lemak ke punggungnya. Lalu Umar bin
Khattab berjalan sekian lama dengan memanggul bekal makanan. Tak sampai di situ, Umar
bin Khattab pun memasakkan makanan untuk anak-anak si ibu tersebut hingga mereka bisa
tenang dan tertidur. Saat tahu bahwa orang yang membawakannya beras adalah Umar bin
Khattab, sang ibu tampak sangat terharu dengan kedermawanan Umar bin Khattab dan sangat
berterima kasih kepada Umar bin Khattab. Sosok Umar bin Khattab adalah kisah teladan
sahabat nabi yang amanat dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah.