Anda di halaman 1dari 31

DIPLOMA -

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II


III

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita sering mendengar istilah ekstraksi dalam farmakognosi dan

beberapa bidang disiplin ilmu. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan

ekstraksi? Banyak orang memiliki kesalahan pemahaman tentang

terminologi dari ekstraksi. Pada umumnya banyak orang memiripkan

ekstraksi itu sebagai sebuah proses pembuatan jus. Padahal ekstraksi itu

memiliki perbedaan sangat nyata dengan pembuatan jus. Ekstraksi itu

adalah sebuah proses penyarian zat - zat aktif dari suatu tumbuhan maupun

hewan dengan menggunakan pelarut yang dapat mengekstrak suatu zat

tanpa memlarutkan material lainnya, yang paling sering digunakan adalah

methanol dan ethanol.


Ekstraksi merupakan suatu proses penyarian suatu senyawa kimia

dari suatu bahan alam dengan menggunakan pelarut tertentu. Ekstraksi bisa

dilakukan dengan berbagai metode yang sesuai dengan sifat dan tujuan

ekstraksi. Pada proses ekstraksi ini dapat digunakan sampel dalam keadaan

segar atau yang telah dikeringkan, tergantung pada sifat tumbuhan dan

senyawa yang akan diisolasi. Untuk mengekstraksi senyawa utama yang

terdapat dalam bahan tumbuhan dapat digunakan pelarut yang cocok. Untuk

mengekstraksi komponen kimia tersebut diperlukan beberapa metode

ekstraksi yang diperlukan dengan sifat-sifat dan zat aktif dari bahan alam

sehingga dikenal beberapa cara ekstraksi.

B. Maksud dan Tujuan Percobaan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

1. Maksud Percobaan

Adapun maksud percobaan kali ini adalah untuk mengetahui

metode pemisahan zat aktif yang terkandung dalam tanaman obat

berkhasiat menggunakan metode ekstraksi dingin dengan metode

perkolasi.

2. Tujuan Percobaan

Adapun tujuan percobaan kali ini adalah

1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan metode maserasi.


2. Untuk mengetahui proses ekstraksi metode maserasi.
3. Untuk mengetahui jenis pelarut yang digunakan dalam metode

maserasi.

C. Prinsip Kerja Maserasi

Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam kulit bulu babi

dalam cairan penyari yang sesuai pada temperatur kamar, terlindung dari

cahaya. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel

akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel

dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar

dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi).

Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara

larutan diluar sel dan di dalam sel.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bulu Babi Hitam (Tripneustes gratilla L)

1. Klasifikasi (Suwigno, 1989)

Kingdom : Animalia

Filum : Echinodermata

Kelas : Echinoidea

Genus : Echinos

Spesies : Echinos seculentus

2. Morfologi (Darsono, 1982)


Bulu babi Tripneustes gratilla L termasuk dalam kelas

Echinoidea, dari filum Echinodermata (binatang berkulit duri). Ciri

umum dari kelas Echinoidea adalah biota ini tidak mempunyai lengan

bebas, tetapi hampir seluruh tubuhnya mengandung duri-duri yang

dapat digerakkan. Berdasarkan bentuk tubuhnya bulu babi dibagi

menjadi bulu babi beraturan (regular echinoids) dan bulu babi tidak

beraturan (irregular echinoids) dan hanya bulu babi beraturan saja yang

dapat dimakan gonadnya.


Bulu babi Tripneustes gratilla L tergolong kelompok bulu babi

beraturan. Pada umumnya bulu babi beraturan mempunyai struktur

cangkang berbentuk bola yang biasanya sirkular atau oval dan agak

pipih pada bagian oral dan aboral. Permukaan cangkang dilengkapi

duri dengan panjang yang berbeda tergantung jenisnya, serta dapat

digerakkan. Cangkang tersusun dari lempengan-lempengan kapur yang

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

membentuk pola pentaradial simetri. Lima pasang lempeng ambulakral

tersusun bergantian dengan 5 pasang lempeng interambulakral.

Lempeng ambulakral berukuran lebih kecil dan mempunyai lubang

tempat penjuluran kaki tabung. Sedangkan lempeng interambulakral

berukuran lebih besar dan melebar. Duri-duri utama terletak pada

lempeng interambulakral, sedangkan duri-duri kecil tersebar di semua

lempeng ambulakral.
Tubuh bulu babi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian oral,

bagian aboral, dan bagian di antara oral dan aboral. Pada bagian tengah

sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral

terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan

interambulakral berada di antara sistem apikal dan sistem peristomial.

Di tengah-tengah sistem apikal terdapat lubang anus yang dikelilingi

oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah

keping-keping genital. Salah satu di antara keping genital yang

berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem

pembuluh air (madreporit). Sedangkan pada sistem peristomial terdapat

selaput kulit tempat menempelnya organ lentera aristoteles yang

berfungsi sebagai pemotong dan penghancur makanan bulu babi yang

berupa tanaman laut. Organ ini juga mampu memotong cangkang

teritip, moluska, ataupun jenis bulu babi lainnya.

3. Kandungan Kimia(Chasanah, 1998)


Gonad bulu babi merupakan makanan tambahan yang kaya akan

nilai gizi. Lee dan Hard (1982) dalam Azis (1995diacu dari Ratna

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

(2002) melaporkan bahwa dari analisis protein bulu babi, ternyata

didalamnya terkandung sekitar 28 macam asam amino. Selain itu

gonad bulu babi juga kaya akan vitamin B kompleks, vitamin A dan

mineral.
Gonad bulu babi sebagai organ reproduksi merupakan timbunan

protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam-asam amino yang

sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari hasil analisa kualitatif

gonad bulu babi Diadema setosum diketahui bahwa dalam gonad

tersebut ditemukan lima asam amino esensial bagi orang dewasa yaitu

lisin, metionin, fenilalanin, threonin, dan valin, dua asam amino

esensial bagi anak-anak yaitu arginin dan histidin, juga ditemukan

asam amino esensial lain yaitu asam aspartat, asam glutamat, glisin,

serin.
Beberapa jenis asam amino yang terkandung dalam gonad bulu

babi sangat berperan dalam karakterisasi rasa spesifik gonad bulu babi.

Jenis-jenis asam amino tersebut adalah glisin, valin, alanin, methionin,

dan asam glutamat. Selain itu pula nukleotida dari jenis IMP (Inosin

Mono Phosphat) dan GMP (Guanosin Mono Phosphat) juga ikut

memengaruhi karakterisasi rasa gonad bulu babi, terutama dalam

pembentukan rasa umami, yaitu rasa khas seperti golongan daging.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

4. Sifat dan Khasiat (Winarno, 2000)


Dengan komposisi senyawa yang dikandungnya, bulu babi cukup

bergizi untuk di konsumsi. Tak hanya itu, binatang ini juga terbukti

mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit misalnya mereduksi

kolesterol jahat dalam darah, menurunkan tekanan darah, memperbaiki

sistem metabolisme, menambah vitalitas, dan masih banyak lagi

lainnya. Sementara itu, tak hanya bagian telur yang berguna. Sebab

hampir semua bagian tubuh bulu babi memiliki manfaat.Sebut saja

cangkangnya, bagian ini bisa diolah menjadi tepung yang digunakan

sebagai pakan ternak. Tak hanya itu, bagian cangkang juga bisa

dijadikan produk kerajinan berkualitas tinggi. Sementara itu bagian lain

seperti usus juga sangat baik diolah menjadi pupuk organik.


B. Bintang Laut (Asterias vulgaris)
1. Klasifikasi (Rusyana, A. 2011)
Kingdom : Animalia
Filum : Echinodermata
Class : Asteroidea
Ordo : Farcipulatida
Family : Asteridae
Genus : Asterias
Species : Asterias vulgaris

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

2. Morfologi
Pada bintang laut, tubuhnya berbentuk bintang dengan 5 lengan,

permukaaan tubuh pada bagian dorsal atau aboral terdapat duri-duri. Pada

sekitar duri terdapat modifikasi duri berupa penjepit yaitu pedicelleria,

yang berfungsi melindungi insang dermal, mencegah serpihan-serpihan

dan organism kecil agar tidak tertimbun di permukaan tubuh, juga untuk

menangkap mangsa. Pada bagian lengan memiliki madreporit sebagai

tempat masuknya air dalam sistem vascular air. Di tengah-tengah tubuh

sebelah dorsal terdapat lubang anus, pada bagian ventral terdapat mulut

(Rusyana, A. 2011).
3. Kandungan Kimia

44%-45% protein, 3%-5% karbohidrat, 1,5% lemak (Hari, 2008).


4. Manfaat
Penyakit asma selama ini diketahui belum ada obat yang bisa

menyembuhkannya, begitu pula dengan radang sendi atau arthritis. Tapi

studi terbaru dari ilmuwan kelautan menunjukkan bahwa bintang laut

bisa menjadi obat untuk penderita asma dan radang sendi.


Sebuah tim peneliti dari Scottish Association for Marine Science telah

mempelajari substansi atau bahan berlendir yang melapisi tubuh bintang

laut berduri. Peneliti menemukan bahwa bahan licin pada bintang laut

lebih baik dari Teflon untuk menghentikan puing-puing menempel pada

tubuh bintang laut, sehingga bisa menjaga kebersihannya.


Dan peneliti percaya bahwa bahan tidak lengket ini dapat dijadikan

senjata baru yang penting untuk mengobati penyakit inflamasi atau

peradangan seperti asma dan radang sendi.Penyakit peradangan seperti

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

asma dan radang sendi merupakan kondisi yang terjadi ketika respon

alami tubuh terhadap infeksi dipercepat diluar kendali.


Hal ini membuat sel darah putih (leukosit) yang bertugas memerangi

infeksi mulai menumpuk di pembuluh darah dan menempel pada sisi-

sisinya, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan.


Lendir bintang laut dapat digunakan untuk melapisi pembuluh darah

yang akan membiarkan sel darah putih mengalir dengan mudah, sel-sel

darah putih harus tetap mengalir pada pembuluh darah. Jadi tim peneliti

mulai mempelajari bagaimana lendir bintang laut dapat mengatasi hal ini

dan mencegah terjadinya peradangan pada tubuh manusia.


Ini dapat mengurangi jumlah obat yang harus diminum pasien asma

dan radang sendi, yang sering memiliki efek samping yang tidak

diinginkan, bintang laut sangat efektif dan telah banyak membantu

pengobatan manusia (Romimohtarto, 2007).


C. Teripang (Holothuria indica)
1. Klasifikasi Teripang (Karnila, 2011)

Kingdom : Animalia

Phylum : Echinodermata

Class : Holothuroidea

Genus : Holothuria

Spesies : Holothuria indica

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

2. Morfologi
Teripang adalah hewan tidak bertulang belakang dengan tubuh

berbentuk silinder. Bentuk tersebut menyerupai mentimun sehingga

teripang dikenal dengan nama mentimun laut (sea cucumber). Mulut dan

anus terletak di ujung poros berlawanan, yaitu mulut di anterior dan anus

di posterior, disekitar mulut teripang terdapat tentakel yang dapat

dijulurkan dan ditarik dengan cepat. Teripang termasuk salah satu hewan

berkulit duri atau Echinodermata (Karnila, 2011). Namun demikian,

tidak semua jenis teripang mempunyai duri pada kulitnya. Ada beberapa

jenis teripang yang tidak berduri (Widodo, 2013).


Badan teripang berbentuk bulat panjang dan akan segera

mengkerut bila diangkat dari permukaan air. Di seluruh permukaan

badan teripang terdapat bintil-bintil halus. Teripang mudah dikenali

karena warnanya indah. Bagian punggungnya berwarna hitam keungu-

unguan atau kebiru-biruan. Sementara bagian perut, sisi sekitar mulut

dan duburnya kemerah-merahan. Teripang hidup di daerah perairan

berkarang atau berpasir yang ditumbuhi ilalang (sea grass) (Martoyo,

2006).
3. Kandungan Kimia
Teripang mengandung saponin sebagai anti jamur, sitotoksik

melawan sel tumor, hemolisis, aktivitas kekebalan tubuh dan anti kanker,

steroid, triterpenoid glikosida yang terbukti memiliki aktivitas antijamur

dan antitumor (Harborne, 1987)


4. Manfaat
Teripang kaya akan grow factor sehingga dapat memperbaiki sel-sel

yang rusak pada tubuh, dan kaya akan kolagen yang bisa meregenerasikan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

kulit. Teripang dimanfaatkan sebagai diyakini memiliki efek biologis,

termasuk diantaranya sebagai anti jamur, sitotoksik melawan sel tumor,

hemolisis, aktivitas kekebalan tubuh dan anti kanker (Pranoto, 2012).

Bordbar, et al., (2011), mengatakan bahwa teripang kaya akan glikosida

terutama triterpen glikosida yang terbukti memiliki aktivitas antijamur

dan antitumor. Triterpen glikosida dan glikosida lainnya seperti

holothurin A dan B, teridentifikasi dari fraksi n-butanol. Teripang secara

spesifik mengandung sapogenin steroid triterpen glikosida dan holostan

yang berfungsi sebagai antibakteri, antimikroba dan antijamur (Bordbar,

et al., 2011).
Kandungan protein teripang yang cukup tinggi ini menunjukkan

bahwa teripang memiliki nilai gizi yang baik sebagai makanan. Protein

pada teripang mempunyai asam amino yang lengkap, baik asam amino

esensial maupun asam amino non esensial. Asam amino sangat berguna

dalam sintesa protein dalam pembentukan otot dan dalam pembentukan

hormon (Karnila, 2011).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

D. Bulu Babi (Diadema setosum)


1. Klasifikasi (Martoyo, 2010)

Kingdom : Animalia

Phylm : echinodermata

Kelas : echinoidea

Ordo : cidaroidea

Famili : diadematidea

Genus : diadema

Spesies : Diadema setosum

2. Morfologi Bulu Babi


Bentuk tubuh globular, terdiri atas lima bagian tubuh yang sama,

tanpa lengan, dan berduri. Duri melekat pada otot yang menyerupai

bongkol (tuberkel). Mempunyai pediselaria. Kaki ambulakral pendek

dan terlekat di antara duri-duri yang memanjang. Mulut dikelilingi oleh

lima buah gigi yang berkumpul di dalam bibir berbentuk corong. Di

ujung aboral terdapat anus, gonopor (lubang genital), dan madreporit.


3. Kandungan Kimia Bulu Babi
Komponen kimia yang terkandung dalam bulu babi yaitu

mengandung protein, lemak, karbohidrat, mineral dan air.


4. Manfaat Bulu Babi
Bulu babi dapat bermanfaat untuk mencerdaskan otak karna

banyak mengandung protien.

E. Spons
1. Klasifikasi (Martoyo, 2010)

Kingdom : Animalia

Phylm : Porifera

Kelas : Demospongiae

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

Ordo : Haploselerida

Famili : Callyspongidae

Genus : Callyspongidae

Spesies : Callyspongidae sp.

2. Morfologi
Terdiri dari dua lapisan sel (dilpoplastib) dengan lapisan luar

(epidermis) tersusun atas sel-sel berbentuk pipih disebut pinakosit. Pada

epidermis terdapat poris / lubang kecil disebut ostin yang dihubungkan

oleh saluran perongga tubuh (sponocoe). Sedangkan lapisan dalam

tersusun atas sel-sel berleher dan berflagel disebut konosit yang

berfungsi untuk mencernakan makanan.


3. Kandungan Kimia

Terpena merupakan senyawa yang terbentuk dari satuan isoprena

atau isopentana yang terbentuk oleh penyambungan 2 atau lebih satuan C5

yang berkombinasi dengan susunan kaidah kepala-ekor. Terpenoida

merupakan terpena yang mengandung unsur-unsur lain disamping C dan

H. Komposisi senyawa terpenoida dapat berupa monoterpenoida (C10),

seskuiterpen (C15), diterpenoida (C20), triterpenoida (C30),

tetraterpenoida (C40), dan politerpenoida (Cn).

a. Senyawa Terpenoida

Terpenoida merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari

enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari

hidrokarbon C-30 asiklis, yaitu skualena. Triterpena dapat dibagi

menjadi empat golongan yaitu:

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

1. Triterpena sebenarnya

Berdasarkan jumlah cincin yag terdapat dalam struktur molekulnya,

dapat digolongkan atas (Harborne, 1987) :

a. Triterpena asiklik yaitu triterpena yang tidak mempunyai cincin

tertutup pada struktur molekulnya, misalnya skualena (Robinson,

1995).
b. Triterpena trisiklik yaitu triterpena yang mempunyai tiga cincin

tertutup pada struktur molekulnya, misalnya ambrein (Robinson,

1995).
c. Triterpena tetrasiklik yaitu triterpena yang mempunyai empat

cincin tertutup pada struktur molekulnya, misalnya lanosterol

(Robinson, 1995).
d. Triterpena pentasiklik yaitu triterpena yang mempunyai lima

cincin tertutup pada struktur molekulnya, misalnya -amirin

(Robinson, 1995).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

2. steroida
3. saponin
4. glikosida jantung.
b. Senyawa Steroida

Steroida adalah triterpena yang kerangka dasarnya cincin

siklopentana perhidrofenantren (Harborne, 1987). Inti steroida dasar

sama dengan inti lanosterol dan triterpenoida tetrasiklik lain,

perbedaannya hanya pada sistem cincin, pada posisi 10 dan 13. Nama

sterol dipakai khusus untuk steroida alkohol, tetapi karena praktis

semua steroida tumbuhan berupa alkohol dengan gugus hidroksil pada

C-3, seringkali semuanya disebut sterol (Robinson, 1995). Sterol

adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem siklopentana

perhidrofenantren. Dahulu sterol terutama dianggap sebagai senyawa

satwa (sebagai hormon kelamin, asam empedu, dan lain-lain)

(Harborne, 1987). Dari pandangan kimiawan organik, semua molekul

steroida adalah turunan jenuh dari fenantren (hidrokarbon aromatik

trisiklik) (Wilbraham, 1992). Berdasarkan sumber atau asalnya maka

sterpoida dibagi atas empat golongan (Manitto, 1981), yaitu :

1. Zoosterol yaitu steroida yang berasal dari hewan terutama

vertebrata.
2. Fitosterol yaitu steroida yang berasal dari tumbuhan.
3. Mikosterol yaitu steroida yang berasal dari jamur (fungi).
4. Zoosterol yaitu steroida yang berasal dari organisme laut.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

c. Senyawa Alkaloida

Alkaloida biasanya diperoleh dengan cara mengekstraksi bahan

tumbuhan memakai air yang diasamkan yang melarutkan alkaloid

sebagai garam, atau bahan tumbuhan dibasakan dengan natrium

karbonat dan sebagainya dan basa bebas diekstraksi dengan pelarut

organik sepeerti kloroform, eter dan sebagainya. Pereaksi Mayer

(kalium tetraiodomerkurat) paling banyak digunakan untuk mendeteksi

alkaloid, pereaksi lain seperti Wagner (iodium dalam kalium iodide),

pereaksi Dragendorff dan iodoplatinat. Untuk kebanyakan alkaloid,

pelarut yang digunakan bersifat asam atau basa untuk memastikan

bahwa molekul semuanya tidak terprotonisasi atau semuanya

terprotonisasi. Pereaksi deteksi yang paling umum digunakan untuk

penyemprot kromatogram adalah pereaksi Dragendorff (Robinson,

1995).

5. Manfaat

Spons merupakan salah satu komponen biota penyusun terumbu

karang yang mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak

dimanfaatkan. Hewan laut ini mengandung senyawa aktif yang persentase

keaktifannya lebih besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang

dihasilkan oleh tumbuhan darat (Muniarsih dan Rachmaniar, 1999).

Spons merupakan organisme laut yang memiliki potensi akan

kandungan senyawa aktif yang berlimpah meliputi antimikroba, inhibitor

enzim, inhibitor pembelahan sel, antiviral, antifungi, antiimflamatori,

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

antitumor, dan sitotoksik (Hanani, 2005; Wibowo, 2007; Kurniawan,

2008).

Menurut Garson (1994), senyawa aktif yang dihasilkan oleh

spons merupakan hasil biosintesis bakteri simbionnya Hal ini bisa saja

terjadi karena koloni mikroba dapat mencapai 40% dari komponen

penyusun tubuh spons. Simbiosis mikroba dengan spons dapat

berlangsung dalam sitoplasma sel tubuh spons (simbiosis intraseluler), di

sisi dalam tubuh spons (endosimbiosis ekstraseluler), dan di bagian luar

tubuh spons (eksosimbiosis ekstraseluler) (Lee et al, 2001; Garson, 1994;

Kurniawan, 2008).

Olehnya itu pemanfaatan mikroba dalam menghasilkan senyawa

aktif adalah salah satu solusi yang paling tepat disamping waktu

pertumbuhan yang lebih singkat juga untuk melindungi kepunahan jenis-

jenis spons karena eksploitasi yang berlebihan.

Bakteri Chromohalobacter sp merupakan salah satu jenis bakteri

laut yang menghasilkan senyawa aktif dan dilaporkan bersimbiosis

dengan beberapa organisme laut (Wibowo, 2007; Christina et al, 2007;

Argandora et al, 2007), salah atunya dengan spons Callyospongia sp

(Nurhaedar, 2009). Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian

ini untuk mengetahui bioaktivitas bakteri Chromohalobacter sp yang

diisolasi dari spons Callyspongia sp terhadap bakteri patogen Salmonella

typhi dan Staphylococcus aureus.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

F. Maserasi
1. Defenisi Maserasi (Supardi, 1995)
Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya

merendam): adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi

bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut

nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu

tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian.


2. Keuntungan dan Kelemahan Maserasi
Keuntungan dari maserasi yaitu antara lain (Supardi, 1995) :
a. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam
b. Biaya operasionalnya relatif rendah
c. Prosesnya relatif hemat penyari
d. Tanpa pemanasan

Kelemahan dari maserasi yaitu antara lain (Aziz, 1993) :

a. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu

terekstraksi sebesar 50% saja


b. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.
3. Modifikasi Maserasi
Modifikasi maserasi yaitu antara lain :
a. Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan

lemah, yaitu pada suhu 40o 50oC. Cara maserasi ini hanya dapat

dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap

pemanasan. Dengan pemanasan diperoleh keuntungan antara lain:


1) Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan

berkurangnya lapisan-lapisan batas.


2) Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat, sehingga

pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan

pengadukan.
3) Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolute dan

berbanding terbalik dengan kekentalan, sehingga kenaikan suhu

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

akan berpengaruhpada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat

aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.


4) Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan,

maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan

akan menguap kembali ke dalam bejana.


b. Maserasi dengan Mesin Pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu

proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.


c. Remaserasi
Cairan penyari dibagi menjadi, Seluruh serbuk simplisia di

maserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah diendapkan, tuangkan

dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

d. Maserasi Melingkar
Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan

penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu

mengalir kembali secara berkesinambungan melalui sebuk simplisia dan

melarutkan zat aktifnya.


Apa yang disebut bahan nabati, dalam dunia farmasi lebih dikenal

dengan istilah simplisia nabat. Langkah kerjanya adalah merendam

simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari tertentuk

selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil

beningannya. Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi

zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang

cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat bisa campur air

(contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang

bersifat tidak campur air (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut

non polar atau pelarut organik). Metode Maserasi umumnya

menggunakan pelarut non air atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika

simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih,

maka ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel dan

masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada

pertemuan antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat

aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel

tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara

penyari yang berada di luar sel belum terisi zat aktif akibat adanya

perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel ini akan muncul

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha

mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan di luar

sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan

konsentrasi (jenuh).
Pelarut polar contohnya seperti air, sedangkan pelarut non-polar

contohnya seperti n-Heksan, Heptana, sikloheksana, karbontetraklorida,

benzene, kloroform, eter (dietil eter), etil asetat, piridina, aseton, etanol,

dan methanol.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

BAB III
METODE KERJA

A. Alat dan Bahan


1. Alat yang digunakan
a. Batang pengaduk
b. Botol kaca (gelap)
c. Cater
d. Ember
e. Gelas ukur
f. Gelas kimia
g. Kain flannel
h. Keranjang
i. Toples kaca
j. Talenan
2. Bahan yang digunakan
a. Air PAM
b. Aluminium foilt
c. Etanol 70%
d. Lakband
e. Sampel biota laut

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

B. Cara Kerja
1. Penyiapan sampel
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Dilakukan panen secara manual
c. Dibersihkan sampel dengan menggunakan air yang mengalir
d. Sampel potong kecil-kecil untuk memudahkan proses melarut sempurna

dengan cairan penyari


e. Sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
2. Proses maserasi
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang sampel
c. Dimasukkan kedalam toples kaca
d. Ditambah etanol 70 % (700 mL) ditutupi dengan aluminium foilt dan

dibalut dengan lakband, lalu ditutup rapat


e. Didiamkan selama 5 hari, sambil berulang diaduk setiap 3 kali sehari
f. Setelah 5 hari, disaring ampas diperas menggunakan kain flannel
g. Dimasukkan kedalam botol kaca gelap, ditutupi dengan aluminium foilt

dan dibalut dengan lakband


h. Diberi etiket.

C. Skema Kerja Ekstraksi Metode Maserasi

Pengambilan Bahan Simplisia


(Dipetik Langsung Dengan
Tangan)
Pengolahan Simplisia
Sortasi Basah Pencucian Penirisan Perajanga
Proses Ekstraksi n
(Metode Maserasi)

Penimbanga Masukan ke Tambahkan Rendam selama 5 hari


n Sampel Dalam Toples Penyari (Diaduk tiap hari)

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

Saring

Ekstrak Cair

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM

Tabel Hasil Pengamatan

A. Bulu Babi Hijau

Berat Sampel Volume Ekstrak (ml) Warna


(g) Ekstrak
Vol. Awal Vol. Akhir

Coklat
150 700 475
Kemerahan

B. Bintang Laut
Volume ekstrak Warna
Sampel Penyari
Vol. awal Vol. akhir ekstrak
Kloroform 1000 mL 700mL Kuning
Bintang laut
Etanol 70% 2000 mL 1800mL Keruh

C. Teripang
Berat Volume ekstrak (mL) Warna
Volume awal (mL) Volume akhir (mL)

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

sampel (g) ekstrak


142,68 g 600 mL 530 mL Kuning

kehijauan

D. Bulu Babi Hitam


Berat sampel Volume ekstrak ( ml ) Warna
Volume akhir
Volume awal
( gram) ekstrak
170,45 820 ml Bening
1000 ml
kekuningan

E. Spons

Metode Banyak Ekstrak yang Banyak


Pelarut
Ekstraksi sampel diperoleh ekstrak
cair
Etanol 70% Berwarna kuning
Maserasi 250 gram 1900 mL
1875 mL kecoklatan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

BAB V
PEMBAHASAN

Pada percobaan ini yaitu ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi

digunakan yang di peroleh dari pulau Bokori. Ekstraksi ini menggunakan suatu

teknik ekstraksi dingin dengan cara merendam sampel bahan alam dengan

menggunakan pelarut Etanol 70%. Hal yang pertama dilakukan adalah

memotong sampel dan membersihkannya kemudian di potong-potong lagi

hingga ukurannya kecil. Tujuan dari pemotongan secara kecil agar metabolit

sekunder dapat keluar dari sampel kemudian dikeringkan pada suhu kamar,

agar metabolit sekunder yang terdapat pada sampel tidak rusak karena terkena

cahaya matahari langsung. Sampel direndam dengan menggunakan pelarut

etanol.

Pelarut etanol 70% (C2H5OH) digunakan dalam proses isolasi senyawa

organik bahan alam, karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit

sekunder dan mempunyai titik didih rendah, sehingga mudah untuk diuapkan

dan juga ekonomis.

Pada metode ekstraksi maserasi dikenal hukum difusi, dimana cairan

penyari akan masuk menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel

simplisia yang mengandung bahan aktif karena adanya perbedaan tekanan di

luar dan di dalam sel simplisia sehingga ketika cairan penyari masuk kedalam

rongga sel maka tekanan di dalam rongga sel akan lebih besar karena cairan

penyari telah berikatan dengan zat aktif, hal ini menyebabkan cairan yang ada

di dalam rongga serbuk simplisia akan terdorong keluar sel simplisia.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

Ekstraksi dapat di hentikan ketika cairan penyari telah jenuh, pada

metode maserasi keadaan jenuh dari cairan penyari dapat terjadi saat simplisia

telah direndam selama 5 hari, dimana pada pada hari ke 5 diduga cairan

penyari telah jenuh dan tidak dapat lagi menarik bahan aktif dari sampel.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

BAB VI
PENUTUP

F. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah:

1. Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya

merendam): adalah ekstrak cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi

bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut

nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu

tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian.


2. Ekstraksi metode maserasi di lakukan dengan membersihkan sampel,

kemudian merendam sampel yang telah di potong-potong kecil dengan

alkohol 70% di dalam toples selama 5 hari dan diaduk setiap hari.
3. Pelarut yang digunakan dalam percobaan ekstraksi yang kami laukan

adalah etanol70% (C2H5OH) sebab banyak digunakan dalam proses

isolasi senyawa organik bahan alam, karena dapat melarutkan seluruh

golongan metabolit sekunder dan mempunyai titik didih rendah,

sehingga mudah untuk diuapkan dan juga ekonomis.


G. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan yaitu mahasiswa hendaknya lebih

memahami tekhnik pemisahan zat aktif atau metabolit sekunder yang

terdapat pada biota laut.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, A. 1993.Beberapa Catatan tentang Perikanan Bulu Babi.Oseana Vol. 18


No. 2. Pusat Pengembangan Oseanologi. Indonesia LIPI. Jakarta: Hal. 65-
75.

Chasanah, E. dan R. Andamari, 1998.Komposisi Kimia, Profil Asam Lemak dan


Asam Amino Gonad Bulu Babi Tripneustes gratilla dan Salmacis sp dan
Potensi Pengembangannya. Prosiding Seminar Kelautan LIPI UNHAS
Ke 1, Balitbang Sumberdaya Laut, Puslitbang OseanologiLIPI Ambon,
Maret 1998 : 269274.

Darsono, P. 1982. Bulu Babi sebagai Sumber Protein Hewani.Oseana Vol. VIII
No. 5. Lembaga Oseanologi Nasional LIPI. Jakarta: Hal. 1 7.

Siahaya, Donna Marselia. 2009. Analisis Kandungan Asam Lemak pada Gonad
Bulu Babi (Tripneustes gratilla L).Ichtyos, Vol. 8 No. 2, Juli 2009: 75-79.

Sugiarto dan Supardi. 1995. Beberapa Catatan Tentang Bulu Babi Marga
Diadema. Oseana Vol. XX No. 4 Pusat Pengembangan Oseanologi
Indonesia LIPI. Jakarta. Hal: 35-41.

Winarno, F.G. 2000.Kimia Pangan dan Gizi, Penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

LAMPIRAN
1) Pembersihan Sampel

2) Pengeringan Sampel Setelah Perajangan

3) Penimbangan Sampel

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI


DIPLOMA -
LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II
III

4) Memasukkan Sampel ke dalam Wadah

e. Pemberian Pelarut

f. Hasil Akhir

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI