Anda di halaman 1dari 55

PT.

PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

PT. PLN (PERSERO)

UNIT PEMBANGKITAN TANJUNG JATI

TELAAHAN STAF

NAMA : MUHAMMAD ARIF SUSETYO, ST

No. Test : BD / PE / 0264

PROJECT MANAGEMENT GROUP

Proyeksi Jabatan : Assisstant Engineer Operasi Pembangunan Proyek

Mechanical engineering

Judul :

ANALISA KEGAGALAN PENGELASAN PADA HIGH PRESSURE


MAIN STOP VALVE UNIT 2

TAHUN 2008

1
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Daftar Isi

LEMBAR PENGESAHAN ..................................................... Error! Bookmark not defined.


KATA PENGANTAR ............................................................. Error! Bookmark not defined.
Daftar Isi .................................................................................................................................... 2
Daftar Gambar ........................................................................................................................... 3
Daftar Tabel ............................................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................... Error! Bookmark not defined.
1.1. Latar Belakang .......................................................... Error! Bookmark not defined.
1.2. Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 1
1.3. Batasan Masalah .......................................................................................................... 1
BAB 2 PERMASALAHAN ...................................................................................................... 2
2.1. Kasus kegagalan sambungan Main Stop Valve Unit 2 ............................................... 2
BAB 3 PRA ANGGAPAN ........................................................................................................ 3
3.1. Pra-Anggapan penyebab kegagalan sambungan MSV unit 2 ..................................... 4
BAB 4 LANDASAN TEORI..................................................................................................... 5
4.1. Creep ........................................................................................................................... 5
4.2. Difusi karbon pada sambungan material P22 dan P91 ................................................ 8
BAB 5 PEMBAHASAN .......................................................................................................... 12
5.1. Existing Design (Unit 1 & 2) .................................................................................... 12
5.2. Modified Design (Unit 3 & 4) ................................... Error! Bookmark not defined.
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................... 19
6.1. Kesimpulan ............................................................................................................... 19
6.2. Saran .......................................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 20

2
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Daftar Gambar

Gambar 2.1 Contoh pengelasan ................................................................................................. 4


Gambar 4.1 Proses Fit Up ........................................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.2 Grafik Mesin Perlakuan Panas ............................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.3 Spesifikasi Pipa dan Welder ................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.4 Proses Pengelasan Pipa ........................................ Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.5 Penampang Lintang Hasil Pengelasan ................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.6 Proses Pemasangan Insulasi ................................. Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.7 Posisi Pemasangan Thermocouple ....................... Error! Bookmark not defined.
Gambar 4.8 Sketsa Grafik PWHT ........................................... Error! Bookmark not defined.

Daftar Tabel

Tabel 3-1 Welding Procedure Specification (WPS) untuk Pipa Feed waterError! Bookmark
not defined.
Tabel 3-2 Welding Procedure Specification (WPS) untuk Pipa Downcomer ..................Error!
Bookmark not defined.
Tabel 4-1 PW-39 ASME SECTION 1 ..................................... Error! Bookmark not defined.
Tabel 4-2 ASME B 3.11 132 ................................................... Error! Bookmark not defined.

3
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Muhammad Arif Susetyo

No. Test : BD/PE/0264

Proyeksi Jabatan : Assistant Engineering Construction

Menyetujui: Jepara, 19 Juli 2010

Mentor

Coordinator Project Management Group Peserta On the Job Training

Agung Wahyudi Muhammad Arif Susetyo

Mengetahui:

Manager SDM General Manager

PT. PLN (Persero) KIT TJB PT. PLN TJB

4
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Surya Fitriadi Basuki Siswanto

5
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kata Pengantar

6
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Abstrak

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PLTU Tanjug Jati B marupakan salah satu pembangkit listrik yang menyuplai listrik kepada
sistem interkoneksi Jawa Bali yang dimiliki oleh PT PLN. Pembangkit listrik ini
menggunakan siklus uap dengan batu bara sebagai bahan bakarnya. Dari total 4 unit yang
akan dioperasikan, 2 unit telah beroperasi sejak tahun 2005, dan menyuplai tenaga listrik
netto maksimal 2x660 MW. Pembangkit listrik ini dibangun oleh Sumitomo Corporation,
dimiliki oleh PT Central Java Power, dan dioperasikan oleh PT Tanjung Jati B Power
Service. Posisi PLN pada pembangkit ini adalah sebagai penyewa, yang akan menjadi
pemilik, setelah 21 tahun sejak pembangkit beroperasi secara Komersil.

Pembangkit listrik ini temasuk salah satu pembangkit berkualitas tinggi dan ramah
lingkungan, karena menggunakan Flue Gas Desulfurization Unit sebagai pengurang polusi
gas buang. Namun, terdapat beberapa masalah yang menggangu operasi pembangkit. Salah
satu masalah yang terjadi adalah kegagalan sambungan antara Main Steam Pipe, dan Main
Stop Valve (MSV) pada unit 2, pada 5 april 2008 yang menyebabkan shutdown demi
dilakukannya perbaikan. Terdapat 2 MSV pada tiap unit yang bekerja secara paralel, dan
sambungan MSV yang mengalami kegagalan pada unit 2 adalah sisi kanan dengan kode
sambungan MS 21. Gambar dibawah menunjukkan skema Main Steam Pipe yang
bersangkutan, dan MSV yang terpengaruh.

7
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Sambungan MSV
gagal

Gambar 1.1 Skema Main Steam Pipe dan Main Stop Valve

Telah dilakukan telaahan yang dilakukan oleh pihak departemen Metalurgin dan Material
Institut Teknologi bandung dengan peneliti Slameto Wiryolukito dan Angga Fitrananta P
yang menyimpulkan bahwa kegagalan terjadi karena fenomena Creep. Telaahan staff ini
dibuat untuk mengetahui penyebab Creep yangseharusnya tidak terjadi.

1.2 Tujuan Penulisan

-Mengkaji kegagalan Creep pada Main Stop Valve unit 2

-Memastikan bahwa hal seperti ini tidak terjadi lagi di unit 3 dan 4 yang sedang dalam tahap
konstruski.

1.3 Batasan Masalah

Terdapat banyak sambungan las pada Pembangkit Listrik. Untuk itu, pengkajian dibatasi
pada sambungan las pada inlet Main Stop Valve Unit 2 (sambungan MS 21 dan MS 23), dan
sambungan inlet MSV pada unit 3 dan 4 yang sedang dalam tahap konstruksi.

8
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BAB 2

PERMASALAHAN

2.1 Kasus kegagalan sambungan Main Stop Valve Unit 2

Kasus yang diangkat pada telaahan staf ini adalah kegagalan pada Unit 2 PLTU Tanjung Jati
B, pada tanggal 5 April 2008. Kegagalan berupa keretakan pada sambungan Main Steam
Pipe (Material 9Cr1-MoV) dan Main Stop Valve (Material 1.25Cr-1Mo) dengan kode
pengelasan MS 21. Saluran ini dilewati oleh uap air superheated dengan Tekanan 166 Bar
Gauge, Temperatur 538 oC. Retak terjadi pada fusion line antara filler metal (Material
2.25Cr1Mo) dan pipa pada 70% sambungan bagian bawah. Analisis kegagalan yang
dilakukan oleh ITB (peneliti Slameto Wiryolukito dan Angga Fitrananta P) menyimpulkan
bahwa kegagalan terjadi karena fenomena Creep.

Lokasi Crack
Lokasi Crack

Gambar 0.1 Lokasi kegagalan

9
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BAB 3

PRA - ANGGAPAN

3.1 Pra Anggapan penyebab kegagalan sambungan MSV unit 2


`
Main Stop Valve Filler Metal
1,25 Cr-1Mo (P11) 2,25 Cr-1Mo (P22)

Lokasi Crack
Main Steam Pipe
9 Cr-1Mo (P91)

Gambar 3.2 Material-material berbeda pada sambungan

Material yang digunakan pada sambungan adalah sebagai Berikut :

Main Stop Valve : SA 335 P 11


Filler Metal : SA 335 P 22
Main Steam Pipe : SA 335 P 91
Penjelasan Kode Material :
SA 335 : Material Untuk High Temperature Service
P 11 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 1,25
P 22 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 2,25
P 91 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 9

Berdasarkan teori, terdapat fenomena metalurgi yang bisa mengurangi kekuatan


sambungan, yaitu Carbon Diffusion dari material dengan kandungan Cr lebih rendah

10
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

kepada material dengan kandungan Cr yang lebih tinggi. Fenomena ini terjadi karena
penyambungan material yang mempunyai kadar Cr berbeda, dan temperatur operasi
diatas 500 Celcius. Fusion line antara Filler Metal dan Main Steam Pipe mengalami
temperatur operasi 538 Celcius, dan merupakan fusi Material SA 335 P22 dengan
fraksi Cr 2,25, dan Material SA 335 P 91 dengan Fraksi Cr 9. Spesifikasi welding
dan parameter operasi ini mendukung untuk terjadinya fenomena carbon diffusion.
Hal ini akan menyebabkan tejadi Carbon Depletion pada Fusion Line, yang akan
mengurangi yield strength sambungan. Praduga kegagalan sambungan mengarah
kepada fenomena Carbon Diffusion yang menurunkan Yield Strength sambungan
hingga terjadi Creep.

11
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BAB 4

LANDASAN TEORI

Terdapat dua fenomena yang terjadi pada kegagalan penyambungan pada Main Steam
Valve unit 2, yaitu Creep, dan Carbon Diffusion.

4.1 Creep
Creep, atau mulur adalah fenomena perpanjangan material yang bisa berakhir dengan
kegagalan material atau tidak. Fenomena ini disebabkan oleh pembebanan statik pada
temperatur tinggi. Biasanya, creep adalah fenomena yang tidak diinginkan, dan
sering manjadi faktor penghambat umur operasi alat. Creep terjadi pada semua jenis
material. Namun pada metal, creep hanya teradi pada temperatur diatas 0.4 kali
Temperatur Leleh Absolut. Material Amorphous, seperti plastik dan karet sangat
sensitif terhadap Creep.

Perilaku Creep

Perilaku creep bisa dimodelkan melalui creep test, dimana spesimen diberikan beban,
dan dipanaskan sampai temperatur yang diinginkan. Deformasi dan perpanjangan lalu
diukur, dan di-plot sebaai fungsi dari waktu.

Gambar 4.1 Tahap-tahap peregangan pada fenomena Creep


12
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Diagram Strain vs Waktu yang dikarenakan pembebanan konstan dan temperatur


yang dinaikkan

Mekanisme Creep berdasarkan creep test terjadi atas beberapa tahap:


Tahap 0 : Perpanjangan Elastis (0) : Merupakan perpanjangan elastis yang terjadi
karena pembebanan awal.

Tahap 1, Primary/Transient Creep : Terjadi pada awal fenomena creep, dan


ditandai dengan menurunnya laju pertambahan creep seiring dengan berjalannya
waktu. Hal ini menunjukan bahwa material menahan lajunya creep karena terjadi
strain hardening. Strain hardening adalah pengerasan material karena deformasi
plastis yang dikarenakan bertambahnya dislokasi pada material. Hal ini menaikkan
kekerasan material, dan menyebabkan deformasi semakin sulit terjadi.

Tahap 2, Secondary/Steady State Creep : ditandai dengan laju creep yang konstan.
Seringkali, ini adalah proses creep dengan durasi paling lama dari fenomena creep.
Fenomena ini bisa dijelaskan karena terjadi keseimbangan antara strain hardening,
dan recovery. Recovery adalah pelepasan tegangan sisa yang diakibatkan oleh
deformasi plastis. Hal ini bisa terjadi karena temperatur tinggi yang dialami material
akan membantu difusi atomik, sehingga terjadi pengurangan jumlah dislokasi. Dalam
secondary creep, terdapat keseimbangan antara kenaikan kekerasan material akibat
Strain Hardening dengan melunaknya material akibat Recovery.

Tahap 3, Tertiary Creep & Rupture : Merupakan tahap akhir dalam fenomena
creep, dimana terjadi kenaikan laju mulur, sampai terjadinya rupture. Hal ini
dikarenakan perubahan mikrostruktur dan metalurgi, seperti grain boundary
separation, crack, cavity, dan void. Tahap ini biasanya berakhir dengan rupture
material.

13
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 4.2 Hasil SEM dari sampel yang patah karena Creep

Gambar 4.3 Rekonstruksi posisi Pori yang terjadi karena Creep

Gambar dibawah menunjukkan SEM material sama yang baru mengalami Post Weld
Heat Treatment (PWHT), dan daerah yang sama setelah mengalami creep dalam
temperatur 600 C selama 14000 Jam. Jumlah kepadatan presipitat berkurang selama

14
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

terjadinya creep, terjadi void, dan diameter rata-rata presipitat meningkat. Kedua hal
ini mengakibatkan berkurangnya kekuatan material pada daerah HAZ.

Gambar 4.4 Contoh Material yang terkena Creep

a. Setelah Post Weld Heat Treatment b. Setelah 14000 jam @ 600 oC

4.2 Carbon Diffusion pada fusion Line material P22 dan P91

Baja ferritic berperan penting dalam konstruksi PLTU, dan digunakan dalam banyak
aplikasi lainnya yang membutuhkan kekuatan, dan dioperasikan dalam temperatur
tinggi. Namun, sambungan las antara Baja Ferritic dengan tipe berbeda bisa
menyebabkan kegagalan, yang bisa mengganggu Operasi PLTU. Ketidakstabilan
Mikrostruktur dan redistribusi elemen pada dissimilar joint antara material 9Cr-1Mo
(P91), dan 2.25Cr-1Mo(P22) yang dikarenakan perilaku PWHT, dan temperatur
operasi bisa menyebabkan penurunan kekuatan material yang tidak diinginkan.
Kondisi ini telah dipelajari dengan menggunakan Mikroskop Optik, dan Elektron, dan
fenomena mikromekanik yang bertanggungjawab atas penurunan kualitas
mikrostruktur bisa dijelaskan.

Percobaan dilakukan pada sambungan P91 dan P22, yang dipaparkan pada temperatur
1023 K dalam waktu yang berbeda-beda. Setelah perlakuan panas tersebut ditemukan
bahwa terjadi Daerah keras getas dengan karakter sebagai berikut : (1) Kekerasan
yang tinggi dibanding daerah yang lain (>270VHN), dan (2) Kandungan karbon yang
tinggi pada daerah dengan alloy tinggi (P91). Selain itu, juga terdapat daerah lunak

15
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

dengan karakteristik sebagai berikut: (1)kekeranan rendah (<120 VHN), dan struktur
feritik yang hampir tidak mempunyai karbida pada sisi alloy rendah (P22). Kedua
zona ini akan melebar, seiring dengan berlanjutnya perlakuan panas yang diterima.
Hal ini menunjukkan bahwa terjadi difusi Karbon dari material dengan Kandungan Cr
kecil (P22), menuju material dengan kandungan Cr besar (P 91).

Gambar 4.5 Mikrografi dan profil kekerasan pada sambungan antara daerah keras
P91 (A), dan daerah lunak P22 (B)

Difusi Unsur C menuju daerah Cr Banyak akan membentuk Karbida Chromium, yang
menaikkan kekerasan daerah tersebut. Sedangkan, di daerah lunak hampir tidak
terdapat karbida, dan hanya mengandung sedikit presipitat M2C dan M6C.
Berdasarkan pengertian dari fenomena atomik yang terjadi pada sambungan material
diatas, maka terdapat 3 metode yang bisa mencegah terjadinya pelemahan material,
yaitu :
1. Penggunaan Interlayer yang berfungsi sebagai diffusion barrier bagi karbon
2. Menyambung baja ferritic dengan filler metal dengan konsentrasi Cr diantara.
3. Mengubah komposisi base metal untuk mengurangi aktivitas difusi.

16
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Salah satu solusi yang dirasa efektif untuk mencegah terjadinya difusi karbon adalah
dengan menggunakan Sambungan Transisi atau Filler metal berbahan dasar Nickel.
Material berbahan dasar Nickel dirasa sesuai untuk aplikasi ini, karena sifat tolak
menolak antara nickel dan Karbon, kompatibilitas penyambungan dengan Baja
Farritic, dan mempunyai sifat-sifat thermal yang sesuai.

Telah dilakukan penelitian, dimana dilakukan penyambungan antara material P91 dan
P22 dengan penghubung berbahan Inconel 182. Sambungan ini lalu dipaparkan
kepada perlakuan panas yang sama dengan sambungan pertama. Pengecekan dengan
mikrografi optis menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan mikrostruktur pada
sambungan dan daerah sekitarnya. Diambil kesimpulan bahwa sambungan berbahan
dasar Nickel efektif dalam mencegah terbentuknya daerah keras dan lunak pada baja
ferritic.

Gambar 4.6 Mikrografi yang menunjukkan distribusi kekerasan sambungan P91


dan P22 yang telah diberikan Interlayer Nickel

Hasil mikrografi menujukkan tidak adanya daerah keras dan lunak pada transisi antara
material P22 dan P91 dengan menggunakan sambungan material berbahan dasar
Nikel

4.2.1 Penyebab terbentuk daerah Keras dan Lunak

Ketika material Cr-Mo dengan kadar berbeda disambung dan dipaparkan temperatur
tinggi, maka Carbon akan berdifusi dari daerah dengan kadar Cr rendah menuju ke

17
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

daerah dengan kadar Cr tinggi. Persamaan berikut menjelaskan hubungan antara


aktivitas karbon (ac), konsentrasi Cr, CCr, dan parameter interaksi antara Cr dan C,CCr

Berdasarkan persamaan diatas, karena Chromium mengalami interaksi negatif dengan


Carbon (CCr=-72), kenaikan kandungan Cr akan mengakibatkan penurunan aktivitas
Karbon. Perbedaan aktivitas karbon antara metal dengan Cr tinggi dan rendah ini
adalah penyebab terjadinya difusi Karbon.

4.2.2 Pertimbangan Mekanis dari pembentukan fasa Austenite

Perbedaan aktivitas karbon antara material dengan kandungan Cr tinggi dan rendah
menyebabkan difusi karbon pada sambungan. Perpindahan Carbon menuju baja 9Cr-
1Mo meningkatkan kadar Carbon di daerah ini jauh diatar kemampuan pelarutan
material P91. Hal ini menyebabkan terbentuknya fasa karbida yang kaya akan
Cromium, yang membuat daerah ini menjadi keras dan getas. Karbida yang terdapat
pada daerah P22 terlarut menuju P91, dan terbentuk fasa Bainite dan Ferrite pada
daerah tersebut. Hal ini menyebabkan terbentuknya daerah lunak berkekuatan rendah
pada daerah dengan kandungan Cr kecil.

Seiting dengan terpaparnya material dengan temperatur tinggi (temperatur operasi),


maka difusi karbon akan terus terjadi, dan daerah keras/lunak ini akan terus melebar
sampai titik tertentu. Hal ini dikarenakan : (1) penurunan selisih aktivitas pada kedua
sisi(2) berkurangnya kadar Cr pada P22, dan rencahnya kadar Karbon pada P22.

18
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

. Gambar 4.7 Skema formasi daerah keras dan lunak pada sambungan

19
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Existing Design (Unit 1 & 2)

5.1.1 Data Kekerasan

Gambar 5.1 Titik-titik pengambilan hardness test

Joint Hardness
Position Point
No. (HB)

A 191

B 189

0 C 194
MS-21

MSP D 188

&
E 184
MSV
(R)
A 195

90 B 190

C 189

20
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

D 187

E 185

Tabel 5.1 Data hardness test sambungan

Kekerasan dari material sambungan yang mengalami kegagalan sesuai dengan standar
ASTM A335 untuk material P91, yaitu tidak melebihi 250 HB / 265 HV / 25 HRC.
Data menunjukkan kekerasan sesuai, yaitu pada kisaran 190 Brinnel Hardness scale.
Namun, tes ini tidak dapat mendeteksi adanya soft xone dan hard zone, karena zona
tersebut mempunyai lebar yang sangat sempit (300 mikrometer). Sedangkan,
indentansi yang terbentuk untuk mengukur kekerasan jauh lebih besar dari angka
tersebut.

21
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5.1.2 Kondisi Creep

Dilakukan penelitian menganai Struktur mikro daerah sambungan, pada 4 sudut, yaitu
0o, 90o, 180o, dan 270o seperti gambar dibawah.

Gambar 5.2 Lokasi pengambilan Boat Sampling

Dari penelitian struktur mikro yang dilakukan oleh ITB, terdapat bukti terjadi creep,
yang ditandai dengan terdapatnya creep void seperti yang ditunjukkan pada gambar
dibawah (Lokasi 270o). Lokasi Lainnya terdapat pada lampiran :

22
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 5.3 Gambar Makro dari Boat Sampling

Gambar 5.4 Bukti terjadinya Creep Damage pada Boat Sample

23
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

5.1.3 Buttering method

Pihak Kontraktor (Toshiba) melakukan penambahan filler metal pada sambungan las
(Buttering Layer). Modifikasi ini ditujukan untuk menurunkan stress maksimal
sambungan dari 8.53 kg/mm2 menjadi 4.31 kg/mm2, sehingga didapat umur Creep
naik dari 2,22 Tahun menjadi 50+ tahun. Hal ini dirasa cukup, mengingat asumsi
pengoperasian PLTU adalah 30 tahun. Namun karena material dan temperatur operasi
tidak berubah, maka fenomena carbon diffusion tetap terjadi, dan efek penurunan
yield strength pada fusion line P22 dan P91 tetap terjadi.

Buttering Layer

Gambar 5.4 Skema Perbaikan yang dlakukan kepada unit 2

24
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 5.5 Perbaikan yang dlakukan kepada sambungan MSV unit 2

25
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 5.6 Evaluasi Nilai Creep Baru pada sambungan Buttering

5.2 Modified Design MSV (unit 3 dan 4).

Pihak Kontraktor telah melakukan perubahan desain pengelasan pada MSV untuk unit
3 dan 4. Perubahan itu adalah sebagai berikut :

-Material MSV diubah dari 1,25Cr-1Mo, menjadi 9Cr-1Mo (A182 Gr. F91)

-Material filler metal diubah dari 2,25 Cr-1Mo menjadi 9Cr-1Mo

Root : GTAW ER 905 G (TGS-9Cb)

Filler : E 9016 G (CM 9 Cb)

-Tidak ada perbedaan diameter luar dari interface joint pipa dan MSV.

Perubahan telah dilakukan oleh pihak kontraktor, yaitu menyeragamkan komposisi


material antara Pipa, filler metal, dan MSV. Hal ini ditujukan untuk menyeragamkan
kandungan Chromium, yang menghilangkan gradien aktivitas karbon antara ketiga

26
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

material, sehingga karbon tidak terpicu untuk melakukan perpindahan. Dengan


dilakukan hal ini, maka struktur mikro sambungan akan lebih stabil, dan kekuatan
sambungan akan seragam. Hal ini akan menghilangkan efek carbon diffusion,
sehingga mengurangi kemungkinan fenomena creep yang disebabkan penurunan
tensile strength dari material. Bisa diambil kesimpulan bahwa kemungkinan
kegagalan pada sambungan jenis ini lebih rendah dibanding dengan proses
penyambungan yang dilakukan pada tahun 2005.

Gambar 5.6 Detail Sambungan MSV dan Pipa pada Unit 3

27
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 5.7 Hasil Pengelasan Inlet MSV Unit 3 sisi kanan (Sebelum kampuh
digerinda)

28
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar 5.8 Hasil Pengelasan Inlet MSV Unit 3 sisi kiri (Sebelum kampuh
digerinda)

29
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

BAB 6

KESIMPULAN & SARAN

6.1 Kesimpulan

Existing Design (Unit 1 & 2)

Berdasarkan data lapangan dan teori, bisa disimpulkan bahwa desain pengelasan yang
tidak sesuai dengan material dan parameter operasi merupakan penyebab dari
kegagalan sambungan MSV unit 2.

Alur kegagalan sambungan adalah sebagai berikut:

1. Material P91 dan P 11 disambung menggunakan Filler P22

2. Sambungan terpapar Stress tinggi dan Temperatur Tinggi (>500oC)

3. Terjadi perbedaan aktivitas Karbon Antara material P11, P22, dan P91. Selisih
pada P91 dan P22 cukup besar untuk terjadinya difusi Karbon yang signifikan.

4. Difusi Karbon menyebabkan Daerah Keras dan lunak, yang memperlemah


sambungan.

5. Terjadi Creep dan terbentuk Creep voids di daerah lunak Sambungan.

6. Creep Voids cukup banyak untuk bergabung (Creep void linking), dan terjadi
kegagalan pada sambungan.

6.2 Saran

Perlu dilakukan kajian mendalam mengenai sambungan MSV unit 1 dan 2, mengingat
proses difusi karbon tetap terjadi. Kajian ini bias dilakukan ketika Unit sedang
mengalami Shutdown rutin untuk keperluan Maintenance.

30
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Callister Jr, William D. 2003. Materials Science and engineering an introduction.


ISBN 9812-53-053-5
2. Classroom Training Handbook. International Welding Engineer and International
Welding Technologist.
3. Dr. M. Vijayalakshmi, Microchemical and Microstructural Variations
across Dissimilar Joints, American Welding Society Research of the Year 2006.

4. www.Wikipedia.com

31
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

LAMPIRAN

32
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

I. Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Latar belakang dari telaahan staf ini adalah kasus kegagalan pada Unit 2 PLTU
Tanjung Jati B, pada tanggal 5 April 2008. Kegagalan berupa keretakan pada
sambungan Main Steam Pipe (Material 9Cr1-MoV) dan Main Stop Valve (Material
1.25Cr-1Mo) dengan kode pengelasan MS 21. Saluran ini dilewati oleh uap air
superheated dengan Tekanan 166 Bar Gauge, Temperatur 538 oC. Retak terjadi
pada fusion line antara filler metal (Material 2.25Cr1Mo) dan pipa pada 70%
sambungan bagian bawah. Analisis kegagalan yang dilakukan oleh ITB (peneliti

33
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Slameto Wiryolukito dan Angga Fitrananta P) menyimpulkan bahwa kegagalan


terjadi karena fenomena Creep.

Lokasi Crack
Lokasi Crack

II. Cakupan dan Tujuan Analisa

Mengacu kepada analisa dari ITB yang menyatakan bahwa kegagalan disababkan
oleh fenomena Creep, maka diduga permasalahan tedapat pada desain pengelasan.
Tujuan dari telaahan staf adalah untuk mengkaji ulang desain pengelasan pada Main
Stop Valve unit 3 dan 4 yang sedang pada tahap konstruksi untuk memastikan bahwa
hal seperti ini tidak terjadi lagi. Apabila diperlukan, maka failure analysis lanjutan
juga dilakukan, mengingat bagian ini beroperasi pada Temperatur dan Tekanan
tertinggi pada pembangkit. Semua ini dilakukan agar memastikan kegagalan
pengelasan pada unit 2 tidak terulang kembali.

34
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

III. Praduga Penyebab kegagalan pipa

`Main Stop Valve Filler Metal


1,25 Cr-1Mo 2,25 Cr-1Mo
Lokasi Crack

Main Steam Pipe


9 Cr-1Mo

35
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Material yang digunakan pada sambungan adalah sebagai Berikut :


Main Stop Valve : SA 335 P 11
Filler Metal : SA 335 P 22
Main Steam Pipe : SA 335 P 91
Penjelasan Kode Material :
SA 335 : Material Untuk High Temperature Service
P 11 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 1,25
P 22 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 2,25
P 91 : Menunjukkan fraksi Cr sebesar 9

Berdasarkan teori, terdapat fenomena metalurgi yang bisa mengurangi kekuatan


sambungan, yaitu Carbon Diffusion dari material dengan kandungan Cr lebih rendah
kepada material dengan kandungan Cr yang lebih tinggi. Fenomena ini terjadi karena
penyambungan material yang mempunyai kadar Cr berbeda, dan temperatur operasi
diatas 500 Celcius. Fusion line antara Filler Metal dan Main Steam Pipe mengalami
temperatur operasi 538 Celcius, dan merupakan fusi Material SA 335 P22 dengan
fraksi Cr 2,25, dan Material SA 335 P 91 dengan Fraksi Cr 9. Spesifikasi welding
dan parameter operasi ini mendukung untuk terjadinya fenomena carbon diffusion.
Hal ini akan menyebabkan tejadi Carbon Depletion pada Fusion Line, yang akan
mengurangi yield strength sambungan. Praduga kegagalan sambungan mengarah
kepada fenomena Carbon Diffusion yang menurunkan Yield Strength sambungan
hingga terjadi Creep.

IV. Dasar Teori

36
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Terdapat dua fenomena yang terjadi pada kegagalan penyambungan pada Main Steam
Valve unit 2, yaitu Creep, dan Carbon Diffusion.

6 Creep
Creep, atau mulur adalah fenomena perpanjangan material yang bisa berakhir dengan
kegagalan material atau tidak. Fenomena ini disebabkan oleh pembebanan statik pada
temperatur tinggi. Biasanya, creep adalah fenomena yang tidak diinginkan, dan
sering manjadi faktor penghambat umur operasi alat. Creep terjadi pada semua jenis
material. Namun pada metal, creep hanya teradi pada temperatur diatas 0.4 kali
Temperatur Leleh Absolut. Material Amorphous, seperti plastik dan karet sangat
sensitif terhadap Creep.

Perilaku Creep

Perilaku creep bisa dimodelkan melalui creep test, dimana spesimen diberikan beban,
dan dipanaskan sampai temperatur yang diinginkan. Deformasi dan perpanjangan lalu
diukur, dan di-plot sebaai fungsi dari waktu.

Diagram Strain vs Waktu yang dikarenakan pembebanan konstan dan temperatur


yang dinaikkan

Mekanisme Creep berdasarkan creep test terjadi atas beberapa tahap:

37
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Tahap 0 : Perpanjangan Elastis (0) : Merupakan perpanjangan elastis yang terjadi


karena pembebanan awal.

Tahap 1, Primary/Transient Creep : Terjadi pada awal fenomena creep, dan


ditandai dengan menurunnya laju pertambahan creep seiring dengan berjalannya
waktu. Hal ini menunjukan bahwa material menahan lajunya creep karena terjadi
strain hardening. Strain hardening adalah pengerasan material karena deformasi
plastis yang dikarenakan bertambahnya dislokasi pada material. Hal ini menaikkan
kekerasan material, dan menyebabkan deformasi semakin sulit terjadi.

Tahap 2, Secondary/Steady State Creep : ditandai dengan laju creep yang konstan.
Seringkali, ini adalah proses creep dengan durasi paling lama dari fenomena creep.
Fenomena ini bisa dijelaskan karena terjadi keseimbangan antara strain hardening,
dan recovery. Recovery adalah pelepasan tegangan sisa yang diakibatkan oleh
deformasi plastis. Hal ini bisa terjadi karena temperatur tinggi yang dialami material
akan membantu difusi atomik, sehingga terjadi pengurangan jumlah dislokasi. Dalam
secondary creep, terdapat keseimbangan antara kenaikan kekerasan material akibat
Strain Hardening dengan melunaknya material akibat Recovery.

Tahap 3, Tertiary Creep & Rupture : Merupakan tahap akhir dalam fenomena
creep, dimana terjadi kenaikan laju mulur, sampai terjadinya rupture. Hal ini
dikarenakan perubahan mikrostruktur dan metalurgi, seperti grain boundary
separation, crack, cavity, dan void. Tahap ini biasanya berakhir dengan rupture
material.

38
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Gambar SEM dari sampel yang patah karena Creep

Rekonstruksi posisi Pori yang terjadi karena Creep

Gambar dibawah menunjukkan SEM material sama yang baru mengalami Post Weld
Heat Treatment (PWHT), dan daerah yang sama setelah mengalami creep dalam
temperatur 600 C selama 14000 Jam. Jumlah kepadatan presipitat berkurang selama

39
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

terjadinya creep, terjadi void, dan diameter rata-rata presipitat meningkat. Kedua hal
ini mengakibatkan berkurangnya kekuatan material pada daerah HAZ.

Setelah PWHT Setelah 14000 jam @ 600 C

7 Carbon Diffusion pada fusion Line material P22 dan P91

Baja ferritic berperan penting dalam konstruksi PLTU, dan digunakan dalam banyak
aplikasi lainnya yang membutuhkan kekuatan, dan dioperasikan dalam temperatur
tinggi. Namun, sambungan las antara Baja Ferritic dengan tipe berbeda bisa
menyebabkan kegagalan, yang bisa mengganggu Operasi PLTU. Ketidakstabilan
Mikrostruktur dan redistribusi elemen pada dissimilar joint antara material 9Cr-1Mo
(P91), dan 2.25Cr-1Mo(P22) yang dikarenakan perilaku PWHT, dan temperatur
operasi bisa menyebabkan penurunan kekuatan material yang tidak diinginkan.
Kondisi ini telah dipelajari dengan menggunakan Mikroskop Optik, dan Elektron, dan
fenomena mikromekanik yang bertanggungjawab atas penurunan kualitas
mikrostruktur bisa dijelaskan.

Percobaan dilakukan pada sambungan P91 dan P22, yang dipaparkan pada temperatur
1023 K dalam waktu yang berbeda-beda. Setelah perlakuan panas tersebut ditemukan
bahwa terjadi Daerah keras getas dengan karakter sebagai berikut : (1) Kekerasan
yang tinggi dibanding daerah yang lain (>270VHN), dan (2) Kandungan karbon yang
tinggi pada daerah dengan alloy tinggi (P91). Selain itu, juga terdapat daerah lunak

40
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

dengan karakteristik sebagai berikut: (1)kekeranan rendah (<120 VHN), dan struktur
feritik yang hampir tidak mempunyai karbida pada sisi alloy rendah (P22). Kedua
zona ini akan melebar, seiring dengan berlanjutnya perlakuan panas yang diterima.
Hal ini menunjukkan bahwa terjadi difusi Karbon dari material dengan Kandungan Cr
kecil (P22), menuju material dengan kandungan Cr besar (P 91).

Mikrografi dan profil kekerasan pada sambungan antara daerah keras P91 (A), dan
daerah lunak P22 (B)

Difusi Unsur C menuju daerah Cr Banyak akan membentuk Karbida Chromium, yang
menaikkan kekerasan daerah tersebut. Sedangkan, di daerah lunak hampir tidak
terdapat karbida, dan hanya mengandung sedikit presipitat M2C dan M6C.
Berdasarkan pengertian dari fenomena atomik yang terjadi pada sambungan material
diatas, maka terdapat 3 metode yang bisa mencegah terjadinya pelemahan material,
yaitu :
4. Penggunaan Interlayer yang berfungsi sebagai diffusion barrier bagi karbon
5. Menyambung baja ferritic dengan filler metal dengan konsentrasi Cr diantara.
6. Mengubah komposisi base metal untuk mengurangi aktivitas difusi.

41
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Salah satu solusi yang dirasa efektif untuk mencegah terjadinya difusi karbon adalah
dengan menggunakan Sambungan Transisi atau Filler metal berbahan dasar Nickel.
Material berbahan dasar Nickel dirasa sesuai untuk aplikasi ini, karena sifat tolak
menolak antara nickel dan Karbon, kompatibilitas penyambungan dengan Baja
Farritic, dan mempunyai sifat-sifat thermal yang sesuai.

Telah dilakukan penelitian, dimana dilakukan penyambungan antara material P91 dan
P22 dengan penghubung berbahan Inconel 182. Sambungan ini lalu dipaparkan
kepada perlakuan panas yang sama dengan sambungan pertama. Pengecekan dengan
mikrografi optis menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan mikrostruktur pada
sambungan dan daerah sekitarnya. Diambil kesimpulan bahwa sambungan berbahan
dasar Nickel efektif dalam mencegah terbentuknya daerah keras dan lunak pada baja
ferritic.

Hasil mikrografi menujukkan tidak adanya daerah keras dan lunak pada transisi antara
material P22 dan P91 dengan menggunakan sambungan material berbahan dasar
Nikel

Penyebab terbentuk daerah Keras dan Lunak

Ketika material Cr-Mo dengan kadar berbeda disambung dan dipaparkan temperatur
tinggi, maka Carbon akan berdifusi dari daerah dengan kadar Cr rendah menuju ke

42
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

daerah dengan kadar Cr tinggi. Persamaan berikut menjelaskan hubungan antara


aktivitas karbon (ac), konsentrasi Cr, CCr, dan parameter interaksi antara Cr dan C,CCr

Berdasarkan persamaan diatas, karena Chromium mengalami interaksi negatif dengan


Carbon (CCr=-72), kenaikan kandungan Cr akan mengakibatkan penurunan aktivitas
Karbon. Perbedaan aktivitas karbon antara metal dengan Cr tinggi dan rendah ini
adalah penyebab terjadinya difusi Karbon.

Pertimbangan Mekanis dari pembentukan fasa Austenite

Perbedaan aktivitas karbon antara material dengan kandungan Cr tinggi dan rendah
menyebabkan difusi karbon pada sambungan. Perpindahan Carbon menuju baja 9Cr-
1Mo meningkatkan kadar Carbon di daerah ini jauh diatar kemampuan pelarutan
material P91. Hal ini menyebabkan terbentuknya fasa karbida yang kaya akan
Cromium, yang membuat daerah ini menjadi keras dan getas. Karbida yang terdapat
pada daerah P22 terlarut menuju P91, dan terbentuk fasa Bainite dan Ferrite pada
daerah tersebut. Hal ini menyebabkan terbentuknya daerah lunak berkekuatan rendah
pada daerah dengan kandungan Cr kecil.

Seiting dengan terpaparnya material dengan temperatur tinggi (temperatur operasi),


maka difusi karbon akan terus terjadi, dan daerah keras/lunak ini akan terus melebar
sampai titik tertentu. Hal ini dikarenakan : (1) penurunan selisih aktivitas pada kedua
sisi(2) berkurangnya kadar Cr pada P22, dan rencahnya kadar Karbon pada P22.

43
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Skema yang menunjukkan formasi daerah keras dan lunak pada sambungan.

Analisis

Data Kekerasan

44
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Joint Hardness
Position Point
No. (HB)

A 191

B 189

0 C 194

D 188
MS-21

MSP E 184

&
A 195
MSV
(R)
B 190

90 C 189

D 187

E 185

Kekerasan dari material sambungan yang mengalami kegagalan sesuai dengan standar
ASTM A335 untuk material P91, yaitu tidak melebihi 250 HB / 265 HV / 25 HRC.
Data menunjukkan kekerasan sesuai, yaitu pada kisaran 190 Brinnel Hardness scale.
Namun, tes ini tidak dapat mendeteksi adanya soft xone dan hard zone, karena zona
tersebut mempunyai kelebaran yang sangat sempit (300 mikrometer). Sedangkan,
indentansi yang terbentuk untuk mengukur kekerasan jauh lebih besar dari angka
tersebut.

45
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Kondisi Creep

Dilakukan penelitian menganai Struktur mikro daerah sambungan, pada 4 sudut, yaitu
0o, 90o, 180o, dan 270o seperti gambar dibawah.

Dari penelitian struktur mikro yang dilakukan oleh ITB, terdapat bukti terjadi creep,
yang ditandai dengan terdapatnya creep void seperti yang ditunjukkan pada gambar
dibawah (lokasi 270o) :

46
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Bukti terjadinya Creep Damage yang ditandai oleh creep void.

47
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Buttering method

Pihak Kontraktor (Toshiba) melakukan penambahan filler metal pada sambungan las
(Buttering Layer). Modifikasi ini ditujukan untuk menurunkan stress maksimal
sambungan dari 8.53 kg/mm2 menjadi 4.31 kg/mm2, sehingga didapat umur Creep
naik dari 2,22 Tahun menjadi 50+ tahun. Hal ini dirasa cukup, mengingat asumsi
pengoperasian PLTU adalah 30 tahun. Namun karena material dan temperatur operasi
tidak berubah, maka fenomena carbon diffusion tetap terjadi, dan efek penurunan
yield strength pada fusion line P22 dan P91 tetap terjadi.

Buttering Layer

Gambar perbaikan yang dlakukan kepada unit 2

48
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Creep Rupture Evaluation pada buttering method

8 Kesimpulan

Berdasarkan data lapangan dan teori, bisa disimpulkan bahwa desain pengelasan yang
tidak sesuai dengan material dan parameter operasi merupakan penyebab dari
kegagalan sambungan MSV unit 2.

Alur kegagalan sambungan adalah sebagai berikut:

1. Filler metal sambungan dengan kadar Cr berbeda dan temperatur operasi


tinggi memicu difusi karbon.
2. Difusi Karbon menyebabkan terjadinya daerah Lunak dan Keras.
3. Daerah tersebut mengurangi tensile strength pada daerah lunak.
4. Stress yang terjadi pada daerah lunak dengan tensile strength yang telah
terkompromi menyebabkan terjadinya Creep void.
5. Creep void yang cukup banyak mengurangi kekuatan struktur, dan terjadi
kegagalan.

49
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

9 Saran

Perlu dilakukan kajian mendalam mengenai sambungan MSV unit 1 dan 2, mengingat
proses difusi karbon tetap terjadi.

10 Perubahan desain pada MSV unit 3 dan 4.

Pihak Kontraktor telah melakukan perubahan desain pengelasan pada MSV untuk unit
3 dan 4. Perubahan itu adalah sebagai berikut :

-Material MSV diubah dari 1,25Cr-1Mo, menjadi 9Cr-1Mo (A182 Gr. F91)

-Material filler metal diubah dari 2,25 Cr-1Mo menjadi 9Cr-1Mo

Root : GTAW ER 905 G (TGS-9Cb)

Filler : E 9016 G (CM 9 Cb)

-Tidak ada perbedaan diameter luar dari interface joint pipa dan MSV.

Perubahan telah dilakukan oleh pihak kontraktor, yaitu menyeragamkan komposisi


material antara Pipa, filler metal, dan MSV. Hal ini ditujukan untuk menyeragamkan
kandungan Chromium, yang menghilangkan gradien aktivitas karbon antara ketiga
material, sehingga karbon tidak terpicu untuk melakukan perpindahan. Dengan
dilakukan hal ini, maka struktur mikro sambungan akan lebih stabil, dan kekuatan
sambungan akan seragam. Hal ini akan menghilangkan efek carbon diffusion,
sehingga mengurangi kemungkinan fenomena creep yang disebabkan penurunan
tensile strength dari material. Bisa diambil kesimpulan bahwa kemungkinan
kegagalan pada sambungan jenis ini lebih rendah dibanding dengan proses
penyambungan yang dilakukan pada tahun 2005.

50
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Detail Sambungan MSV dan Pipa pada Unit 3

51
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Proses Pengerjaan Sambungan Inlet MSV unit 3

Tahap 1 : Fit Up

Side B (joint no. 1004) : 30 Juni 2010

52
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Side B (joint no. 1004) : 1 Juli 2010 (Detail Fit Up)

53
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Side A (joint no. 1002) : 1 Juli 2010 (Root Weld)

54
PT. PLN (PERSERO)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Sambungan MSV unit 3, bersama welder, Alip. (1 Juli 2010)

55