Anda di halaman 1dari 8

HEMOGRAM

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel
darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah secara
keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter. Sekitar 55%
adalah plasma darah, sedangkan 45% terdiri dari sel darah. Sisanya diisi oleh sejumlah bahan
organic, yaitu : glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolesterol, dan asam amino.
Plasma juga berisi : gas oksigen dan karbondioksida, hormon hormon, enzym, dan antigen
(Pearce, 2006).

Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan unsur-
unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit
danleukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah, sedangkan plasma darah
padadasarnya adalah larutan air yang mengandung :Air (90%)Zat terlarut (10%) yang terdiri
dari :- Protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7%- Senyawa Organik (As. Amino,
glukosa, vitamin, lemak) 2.1%- Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%.

Sel darah pada umumnya dikenal ada tiga tipe yaitu: eritrosit, lekosit dan trombosit. Eritrosit
manusia dalam keadaan normal berbentuk cakram bulat bikonkaf dengan diameter 7,2 m
tanpa inti, lebih dari separoh komposisi eritrosit terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk
substansi koloidal padat. Sel ni bersifat elastis dan lunak. Lekosit (sel darah putih) terdapat
pada bagian pinggir sel darah, lekosit ini dibagi menjadi dua yaitu granulosit dan agranulosit.

Granulosit terbagi menjadi tiga yaitu Netrofil (terbanyak) berbentuk bulat dengan diameter
10-12 m, Eosinofil yang strukturnya lebih besar daripada netrofil (10-15 m) dan Basofil
(paling sedikit) dengan ukuran hampir sama dengan netrofil tetapi basofil sangat sulit
ditemukan. Agranulosit dibagi menjadi dua yaitu Limfosit yang mempunyai ukuran yang
bevariasi, inti bulat sitoplasma mengelilingi inti seperti cincin dan berperan penting dalam
imunitas tubuh, dan Monosit (sel lekosit terbesar), intinya berbentuk oval kadang terlipat-
lipat dapat bergerak dengan membentuk pseudopodia. Tipe ketiga yaitu Trombosit (disebut
juga keping darah), berbentuk sebagai keping-keping sitoplasma lengkap dengan membran
yang mengelilinginya, Trombosit terdapat khusus pada sel darah mammalia.

Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada umumnya dibuat sediaan
apus darah. Sediaan apus darah ini tidak hanya digunakan untuk mempelajari sel darah tapi
juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah. Pembuatan
preparat apus darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles (metode smear)
yangmerupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau membuat selaput (film) dan
substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda yang bersih dan bebas
lemak untuk kemudian difiksasi, diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup (Handari, 2003).

Film darah (sediaan oles) dapat diwarnai dengan berbagai macam metode termasuk larutan-
larutan yang sederhana antara lain: pewarnaan Giemsa, pewarnaan acid fast, pewarnaan
garam, pewarnaan wright, dan lain-lain. Pewarnaan Giemsa disebut juga pewarnaan
Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak digunakan untuk mempelajari morfologi sel-sel
darah, sel-sel lien, sel-sel sumsum dan juga untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah
misal Tripanosoma, Plasmodia danlain-lain dari golongan protozoa.

Praktikum pembuatan apusan darah manusia ini menggunakan metode apus/ smear/ oles.
Darah yang digunakan adalah darah manusia . Berdasarkan foto dari hasil pengamatan
preparat apus darah manusia dengan pewarnaan Giemsa diketahui bahwa preparat secara fisik
cukup baik, bersih, dan terwarna. Dapat terlihat adanya eritrosit dalam jumlah banyak dan
leukosit.

Eritrosit teramati terwarna agak bening transparan. Eritrosit berbentuk bulat, dengan bentuk
seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam (tengah) dan tak berinti. Leukosit ditunjukkan
dengan sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna ungu disebabkan oleh inti leukosit yang
basa sehingga mudah menyerap zat warna giemsa. Leukosit yang paling banyak dijumpai
ialah neutrofil dan monosit berkisar antara 10-15%, serta sedikit eosinofil dengan presentase
kurang dari 5%. Presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah, yaitu mencapai
50-70% dari jumlah leukosit yang ada. Ditemukanya leukosit dalam preparat apus darah
menunjukkan bahwa pendonor sdang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi leukosit
sebagai bentuk pertahanan tubuh manusia.

Preparat tampak rapat namun sel-selnya dapat teramati dengan baik karena tidak bertumpuk,
sehingga dapat dikatakan ketipisan apusan sudah cukup baik.

Sel netrofil paling banyak dijumpai. Sel golongan ini mewarnai dirinya dengan pewarna
netral, atau campuran pewarna asam basa dan tampak berwarna ungu. Sel eosinofil sel
golongan ini hanya sedikit di jumpai. Sel ini menyerap pewarna yang bersifat asam (eosin)
dan kelihatan merah. Sel basofil menyerap pewarna basa dan menjadi biru. Limfosit sel ini
dibentuk didalam kelenjar limfe dan dalam sumsum tulang .

Monosit memiliki morfologi berubah dalam darah perifer, tetapi berinti satu (mononuclear)
dan memiliki sitoplasma keabuan dengan vakuola dan granul berukuran kecil (Pearce, 2006).

Pewarnaan Giemsa adalah pulasan yang terdiri dari eosin, metilin azur dan
metilen blue berguna untuk mewarnai sel darah dan melakukan fiksasi sendiri dengan metil
alkohol. Kualitas Giemsa mempengaruhi hasil pewarnaan pada sediaan hapusan darah.
Kualitas Giemsa dikatakan baik apabila Giemsa dibuat baru dan dikatakan kurang baik
apabila Giemsa yang sudah disimpan lebih dari 1 hari (Gandasoebrata, 2007).

Menurut Depkes RI (2007), pembuatan Giemsa dapat dilakukan dengan berbagai konsentrasi
pengenceran, ada 3 teknik pengenceran Giemsa diantaranya :

1. Pembuatan larutan Giemsa 5% (1:20), 1 bagian Giemsa + 19 bagian Buffer. Lakukan


pewarnaan dengan larutan Giemsa 5% selama 30 45 menit.

2. Pembuatan larutan Giemsa 10% (1:10), 1 bagian Giemsa + 9 bagian Buffer. Lakukan
pewarnaan dengan larutan Giemsa 10% selama 20 25 menit.
3. Pembuatan larutan Giemsa 20% (1: 5), 1 bagian Giemsa dan 4 bagian Buffer. Lakukan
pewarnaan dengan larutan Giemsa 20% selama 1015 menit

Menurut penelitian Malaya Adianto (2013), pengenceran Giemsa idealnya mempunyai pH


6,0 agar tidak berpengaruh pada pewarnaan morfologi sel darah. Terlalu asam atau basa akan
bisa menimbulkan masalah, untuk itu diperlukan larutan penyangga atau buffer supaya asam
basanya seimbang.

Fungsi larutan buffer adalah menjadi zat yang mempertahankan keadaan pH saat sejumlah
kecil basa atau asam dimasukkan ke dalam larutan. pH pengenceran yang rendah atau kurang
dari 6,0 mengakibatkan leukosit akan memperlihatkan bagian inti yang kurang jelas. Syarat
pengenceran Giemsa dikatakan baik apabila baru diencerkan, langsung digunakan untuk
mewarnai sediaan hapusan darah. Derajat keasaman pengenceran hendaknya berada pada pH
6,0 (Depkes RI, 2007).

Perubahan pH pada larutan pengenceran Giemsa berpengaruh pada sel sel darah. Faktor
yang menentukan mutu pewarnaan Giemsa antara lain kualitas Giemsa baik dan tidak
tercemar air, pengenceran Giemsa dengan perbandingan tepat, waktu pewarnaan, ketebalan
pewarnaan dan kebersihan sediaan.

Pewarna Giemsa dengan pengenceran 10% sebagai pewarna yang umum digunakan
agar sediaan terlihat lebih jelas. Zat ini tersedia dalam bentuk serbuk atau larutan yang
disimpan di dalam botol yang gelap (Kurniawan, 2010).

Namun setiap rumah sakit mempunyai standar pengenceran Giemsa yang berbeda untuk
pemeriksaan hapusan darah tepi. Perbedaan ini memungkinkan komposisi pengenceran cat
dapat mempengaruhi warna, ukuran, bentuk sel leukosit, dan kerataan cat pada hapusan darah
tepi.

Warna, ukuran, bentuk inti sel leukosit dapat memberikan hasil yang berbeda sehingga terjadi
perbedaan penilaian hapusan darah tepi dan mendirikan diagnosa penyakit. Sedangkan
kualitas cat semakin baik maka akan memudahkan pembacaan preparat. Berdasarkan latar
belakang diatas maka penelitian ini perlu untuk dilakukan.

HCL

Merupakan suatu larutan pengencer yang bagus untuk mengerjakan angka leukosit, karena
larutan ini bekerja dengan cepat dan cukup untuk menghemolisiskan semua eritrosit yang
tidak bernukleus. ( Gandra Soebrata, 2006 ).

Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka membiarkannya
hingga kering, setelah itu meneteskan metanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi
darah tertutup semuanya dan membiarkannya selama 5 menit. Fungsi metanol adalah untuk
memfiksasi darah sehingga darah tidak hilang saat diamati. Selanjutnya sediaan diteteskan
dengan giemsa yang telah diencerkan dengan air dan membiarkannya selama 20 menit dan
membilasnya dengan air dan mengeringkannya. Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah
sehingga mudah dibedakan dan dapat terlihat jelas saat diamati. Waktu perendaman ini
sebaiknya jangan terlalu lama karena darah bisa tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu
pekat.

Pada pengamatan di praktikum ini tidak ditemukan eritrosit yang berbentuk selain
bikonkaf, itu artinya OP tidak menderita kelainan struktur eritrosit. Kelainan pada struktur
eritrosit dapat disebabkan karena faktor genetika ataupun lingkungan.

Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu


mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit ataupun
monosit. Hal tersebut karena keterbatasan pembesaran pada mikroskop yang digunakan
sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel leukosit tersebut. Penggolongan
leukisit menjadi 5 macam merupakan penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk nukleus,
da ada tidaknya granula sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih teliti dan
perbesaran mikroskop yang baik serta dapat pula dibantu dengan menggunakan minyak
emersi.

Berdasarkan referensi, sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda
dalam sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan
dengan benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 m samapai 12 m. Sel eosinofil
memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel
ini memiliki nukleus berlobus dua, dan berdiameter 12 m sampai 15 m. Berfungsi sebagai
fagositik lemah. Sedangkan basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang
bentuknya tidak beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan
nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 m sampai 15 m (Sloane, 2003).

Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan monosit,
diperoleh data berdasarkan refernsi bahwa limfosit bergaris tengah 6-8 m, 20-30% dari
leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada satu sisi.
Sitoplasmanya sedikit dan kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit (Efendi, 2003).
Sedangkan monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal,
diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering diameter mencapai 20 m atau lebih. Inti
biasanya eksentris, adanya lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).

Menurut referensi yang kami peroleh, jenis sel darah putih yang paling banyak adalah
netrofil dengan presentase sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling sedikit adalah basofil,
yaitu 0,1-0,4 %.
Monosit berfungsi untuk membunuh bakteri, fungsi monosit ini sama dengan neutrofil, hanya
jumlahnya saja yang berbeda. Jumlah monosit yang tinggi menunujukkan disel sedang terjadi
infeksi. Berdasarkan pengamatan, jumlah monsit sedikit, sehingga neutrofilpun kurang aktif
dalam merespon perusakan jaringan. Dengan kata lain, jumlah neutrofil dalam darah yang
seharusnya mempunyai kadar/jumlah yang tinggi dalam darah menjadi menurun jumlahnya.
Limfosit berfungsi sebagai elemen kunci dalam respon kekebalan tubuh. Kadar limfosit yang
banyak diduga karena sedikitnya jumlah neutofil dalam darah. Sehingga untuk
mempertahankan kekebalan tubuh, maka limfositlah yang bekerja secara aktif.

Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses
peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap
infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan
adanya nanah. Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian
meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit. Basofil terutama bertanggung jawab
untuk memberi reaksi alergi antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang
menyebabkan peradangan.

Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit yaitu
Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya
membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B
akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem
'memori'). Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi ) serta
penting untuk menahan bakteri intraseluler. Sel natural killer merupakan sel pembunuh alami
(natural killer, NK) yang dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa
dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi atau telah menjadi kanker.

Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil terlihat
seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini sesuai dengan
teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak berinti, berbentuk cakram
dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 8 fl.. Nilai normal trombosit bervariasi
sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal menurut Deacie adalah 150 400 x
109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai normal trombosit 140 340 x 109/ L, dengan
menggunakan Coulter Counter harga normal 150 350 x 109/L.

Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu eritrosit
sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10% dan trombosit
sebanyak 20%. Berdasarkan referensi juga disebutkan bahwa persentase sel darah merah
(eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar. Sedangkan leukosit memiliki jumlah
yang lebih sedikit daripada sel eritrosit. Dalam Sloane (2003), disebutkan bahwa jumlah
eritrosit pada laki-laki sehat mencapai 4,2 hingga 5,5 juta sel per mm3 dan sekitar 3,2 hingga
5,2 juta per mm3 pada wanita sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai
9000 per mm3 dan trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Hal tersebut
sesuai dengan hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit. Meskipun
berjumlah paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit pada tubuh sangat
penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda asing maka jumlah leukosit dapat
meningkat.

Praktikum anatomi fisiologi manusia kali ini adalah pembuatan apus darah
manusia menggunakan metode apus/ smear/ oles. Darah yang digunakan adalah darah
manusia . Berdasarkan foto dari hasil pengamatan preparat apus darah manusia dengan
pewarnaan Giemsa diketahui bahwa preparat secara fisik cukup baik, bersih, dan terwarna.
Dapat terlihat adanya eritrosit dalam jumlah banyak dan leukosit.
Eritrosit yang diamati berwarna agak bening transparan. Eritrosit berbentuk bulat,
dengan bentuk seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam (tengah) dan tak berinti. Leukosit
ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna ungu disebabkan oleh inti
leukosit yang basa sehingga mudah menyerap zat warna giemsa. Leukosit yang paling
banyak dijumpai ialah neutrofil dan monosit berkisar antara 10-15%, serta sedikit eosinofil
dengan presentase kurang dari 5%. Presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah,
yaitu mencapai 50-70% dari jumlah leukosit yang ada. Ditemukanya leukosit dalam preparat
apus darah menunjukkan bahwa pendonor sdang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi
leukosit sebagai bentuk pertahanan tubuh manusia.
Preparat tampak rapat namun sel-selnya dapat teramati dengan baik karena tidak
bertumpuk, sehingga dapat dikatakan ketipisan apusan sudah cukup baik.

Pada pengamatan di praktikum ini tidak ditemukan eritrosit yang berbentuk selain bikonkaf,
itu artinya OP tidak menderita kelainan struktur eritrosit. Kelainan pada struktur eritrosit
dapat disebabkan karena faktor genetika ataupun lingkungan.

Kemudian didapatkan beberapa jenis leukosit, namun praktikan tidak mampu


mengidentifikasinya apakah termasuk basofil, eosinofil, batang, neutrofil, limfosit ataupun
monosit. Hal tersebut karena keterbatasan pembesaran pada mikroskop yang digunakan
sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas bentuk dari inti sel leukosit tersebut. Penggolongan
leukisit menjadi 5 macam merupakan penggolongan berdasarkan ukuran sel, bentuk nukleus,
da ada tidaknya granula sitoplasma sehingga perlu pengamatan yang lebih teliti dan
perbesaran mikroskop yang baik serta dapat pula dibantu dengan menggunakan minyak
emersi.

Berdasarkan referensi, sel neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam
sitoplasmanya. Nukleusnya memiliki tiga sampai lima lobus yang terhubungkan dengan
benang kromatin tipis. Diameternya mencapai 9 m samapai 12 m. Sel eosinofil memiliki
granula sitoplasma yang kasar dan besar, dengan pewarnaan oranye kemerahan. Sel ini
memiliki nukleus berlobus dua, dan berdiameter 12 m sampai 15 m. Berfungsi sebagai
fagositik lemah. Sedangkan basofil memiliki sejumlah granula sitoplasma besar yang
bentuknya tidak beraturan dan akan berwarna keunguan sampai hitam serta memperlihatkan
nukleus berbentuk S. diameternya sekitar 12 m sampai 15 m (Sloane, 2003).

Untuk kelompok leukosit yang merupakan agranulosit yaitu lomfosit dan monosit, diperoleh
data berdasarkan refernsi bahwa limfosit bergaris tengah 6-8 m, 20-30% dari leukosit darah,
memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada satu sisi. Sitoplasmanya sedikit dan
kandungan basofilik dan azurofiliknya sedikit (Efendi, 2003). Sedangkan monosit merupakan
sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan
darah kering diameter mencapai 20 m atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya lekukan
yang dalam berbentuk tapal kuda (Efendi, 2003).

Menurut referensi yang kami peroleh, jenis sel darah putih yang paling banyak adalah netrofil
dengan presentase sebesar 50-70 %, sedangkan yang paling sedikit adalah basofil, yaitu 0,1-
0,4 %.

Monosit berfungsi untuk membunuh bakteri, fungsi monosit ini sama dengan neutrofil, hanya
jumlahnya saja yang berbeda. Jumlah monosit yang tinggi menunujukkan disel sedang terjadi
infeksi. Berdasarkan pengamatan, jumlah monsit sedikit, sehingga neutrofilpun kurang aktif
dalam merespon perusakan jaringan. Dengan kata lain, jumlah neutrofil dalam darah yang
seharusnya mempunyai kadar/jumlah yang tinggi dalam darah menjadi menurun jumlahnya.
Limfosit berfungsi sebagai elemen kunci dalam respon kekebalan tubuh. Kadar limfosit yang
banyak diduga karena sedikitnya jumlah neutofil dalam darah. Sehingga untuk
mempertahankan kekebalan tubuh, maka limfositlah yang bekerja secara aktif.

Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses
peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap
infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan
adanya nanah. Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian
meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit. Basofil terutama bertanggung jawab
untuk memberi reaksi alergi antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang
menyebabkan peradangan.

Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit yaitu Sel B
membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya
membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B
akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem
'memori'). Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi ) serta
penting untuk menahan bakteri intraseluler. Sel natural killer merupakan sel pembunuh alami
(natural killer, NK) yang dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa
dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi atau telah menjadi kanker.

Sedangkan trombosit yang teramati yaitu trombosit berukuran sangat kecil terlihat
seperti titik atau bercak yang berada di luar sel dan berwarna ungu. Hal ini sesuai dengan
teori yang menyebutkan bahwa trombosit adalah sel darah tak berinti, berbentuk cakram
dengan diameter 1 - 4 mikrometer dan volume 7 8 fl.. Nilai normal trombosit bervariasi
sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal menurut Deacie adalah 150 400 x
109 / L. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai normal trombosit 140 340 x 109/ L, dengan
menggunakan Coulter Counter harga normal 150 350 x 109/L.

Dari ketiga macam sel darah yang teramati diperoleh persentasenya yaitu eritrosit
sebanyak 70% dari lapang pandang yang diamati, leukosit sebanyak 10% dan trombosit
sebanyak 20%. Berdasarkan referensi juga disebutkan bahwa persentase sel darah merah
(eritrosit) pada tubuh merupakan yang paling besar. Sedangkan leukosit memiliki jumlah
yang lebih sedikit daripada sel eritrosit. Dalam Sloane (2003), disebutkan bahwa jumlah
eritrosit pada laki-laki sehat mencapai 4,2 hingga 5,5 juta sel per mm3 dan sekitar 3,2 hingga
5,2 juta per mm3 pada wanita sehat, sedangkan jumlah normal leukosit adalah 7000 sampai
9000 per mm3 dan trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Hal tersebut
sesuai dengan hasil pengamatan yaitu jumlah eritrosit > trombosit > leukosit. Meskipun
berjumlah paling sedikit dari ketiga sel darah yang ada, fungsi leukosit pada tubuh sangat
penting, dimana dalam keadaan sakit atau terserang benda asing maka jumlah leukosit dapat
meningkat.