Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS NON PSIKOTIK

INSOMNIA

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. S

Tanggal lahir : 07 September 1977

Umur : 40 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Suku/ Agama : Mandar/ Islam

Status Perkawinan : Sudah menikah

Warga negara : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Tidak bekerja

Alamat : Kalukuang, Arungkeke, Jeneponto

RIWAYAT PSIKIATRI

I. RIWAYAT PENYAKIT
a. Keluhan utama
Susah tidur
b. Riwayat gangguan sekarang
Keluhan dan gejala
Pasien susah tidur dialami kurang lebih 2 bulan terakhir. Pasien biasa
tidur sekitar jam 2 subuh dan terbangun pada jam 5 subuh. Pasien

1
kesulitan untuk konsentrasi di siang hari dan tidak dapat melakukan
aktifitas dengan baik.
Hendaya/ disfungsi
Hendaya sosial (+)
Hendaya pekerjaan (+)
Hendaya waktu senggang (+)
Faktor stressor psikososial
Pasien tidak memiliki pekerjaan, mempunyai istri dan 3 anak yang
harus dinafkahi.
Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis
sebelumnya
Tidak ada.
c. Riwayat gangguan sebelumnya
Trauma (-)
Infeksi (-)
Kejang (-)
NAPZA :
Merokok (-)
Alkohol (-)
Obat-obatan (-)
d. Riwayat kehidupan pribadi
Masa prenatal dan Perinatal (0-1 tahun)
Pasien lahir normal dan cukup bulan di 07 September 1977 di rumah
dan dibantu oleh dukun.
Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pasien baik sesuai anak seusianya.
Pasien diasuh oleh ibu kandungnya.
Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien mulai sekolah pada umur 7 tahun, sesuai dengan anak-anak
seumurannya dan selesai SD.

2
Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)
Pasien tidak melanjutkan sekolah setelah tamat SD dan hanya tinggal
dirumah (kadang-kadang kerja di pasar).
Riwayat Masa Dewasa
Riwayat Pekerjaan : Pasien tidak bekerja
Riwayat Pernikahan : Pasien sudah menikah
Riwayat Kehidupan Sosial : Hubungan sosial dengan tetangga dan
teman baik
Riwayat Kehidupan Beragama : Pasien beragama Islam
e. Riwayat kehidupan keluarga:
Pasien merupakan anak ke- 3 dari 5 bersaudara ( L,P,L,P,L ). Kedua orang
tua telah meninggal. Hubungan pasien dengan keluarga baik. Riwayat
keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada.
f. Situasi sekarang :
Pasien tinggal bersama dengan istri dan ketiga anaknya.
g. Persepsi pasien tentang diri sendiri dan kehidupannya
Pasien merasa dirinya sehat.

II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


a. Deskripsi Umum
Penampilan: Tampak seorang laki-laki memakai baju merah dengan
celana jeans biru. Perawakan tubuh sedang dan wajah sesuai umur.
Perawatan diri kurang.
Kesadaran: Baik
Perilaku dan aktivitas motorik: Tenang
Pembicaraan: Spontan, lancar dan intonasi suara biasa
Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif
b. Keadaan Afektif
Mood : Sedih
Afek : Inappropriate
Empati: Tidak dapat dirabarasakan

3
c. Fungsi Intelektual
Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan: Sesuai taraf
pendidikan
Daya konsentrasi : Baik
Daya ingat :
o Daya ingat jangka panjang : Baik
o Daya ingat jangka pendek : Baik
o Daya ingat segera : Baik
Orientasi (waktu, tempat, orang) : Baik
Pikiran abstrak : Baik
Bakat Kreatif : Tidak ada
Kemampuan menolong diri sendiri: Terganggu
d. Gangguan Persepsi
Halusinasi : Tidak ada
Ilusi : Tidak ada
Depersonalisasi : Tidak ada
Derealisasi : Tidak ada
e. Proses Berpikir
i. Arus Pikiran
Produktifitas : Cukup
Kontinuitas : Cukup relevan
Hendaya Berbahasa : Tidak ada
ii. Isi Pikiran
Preokupasi : Tidak ada
Gangguan isi pikir : Tidak ada
f. Pengendalian Impuls : tidak terganggu
g. Daya Nilai
Norma Sosial : tidak terganggu
Uji Daya Nilai : tidak terganggu
Penilaian Realitas : tidak terganggu

4
h. Tilikan (Insight) : Derajat (Pasien merasa dirinya sakit)
i. Taraf dapat dipercaya: Dapat Dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


Pemeriksaan Fisik:
Status Internus
Tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, suhu tubuh 36.5C,
pernapasan 20 x/menit. Konjunctiva tidak pucat, sklera tidak ikterus.
Status neurologis
Gejala rangsangan meningeal (-), kaku kuduk (-), kernig sign (-), pupil
bulat dan isokor. Fungsi motorik dan sensorik pasien dalam batas normal.
Tidak ditemukan tanda bermakna dari pemeriksaan neurologis pasien.

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang laki-laki 40 tahun, susah tidur dialami kurang lebih 2 bulan
terakhir. Pasien biasa tidur sekitar jam 2 subuh dan terbangun pada jam 5
subuh. Pasien kesulitan untuk konsentrasi di siang hari dan tidak dapat
melakukan aktifitas dengan baik.
Dari pemeriksaan status mental, tampak seorang laki-laki memakai baju
merah dengan celana jeans biru. Perawakan tubuh sedang dan wajah sesuai
umur. Perawatan diri kurang. Kesadaran baik, perilaku dan aktivitas motorik
tenang, pembicaraan spontan, lancar dan intonasi suara biasa. Mood sedih,
afek inappropriate, empati tidak dapat dirabarasakan. Norma sosial tidak
terganggu, uji daya nilai tidak terganggu, penilaian realitas tidak terganggu.
Pasien merasa dirinya sakit dan semua yang diutarakan pasien dalam taraf
dapat dipercaya.

V. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I:
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis ditemukan gejala
klinis yang bermakna yaitu susah tidur. Keadaan ini menimbulkan

5
penderitaan (distress) pada pasien dan keluarga serta menimbulkan hendaya
(disability) bagi pasien dalam kehidupan sehari-hari, terutama hendaya di
bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu senggang, sehingga dapat
disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa.
Dari pemeriksaan status mental, ditemukan hendaya ringan sehingga
digolongkan gangguan jiwa non psikotik.
Pada pemeriksaan status internus dan status neurologis tidak
ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan adanya gangguan medis
umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak, sehingga penyebab
gangguan organik dapat disingkirkan dan digolongkan gangguan jiwa
psikotik non organik.
Dari alloanamnesis dan autoanamnesis ditemukan adanya gangguan
tidur dan di diagnosis insomnia
Aksis II:
Ciri kepribadian tidak khas.
Aksis III:
Tidak ada diagnosis
Aksis IV:
Stressor psikososial tidak jelas.
Aksis V:
GAF Scale 50-41 : Gejala ringan, disabilitas ringan.

VI. DAFTAR MASALAH


Organo biologik :
Tidak ditemukan kelainan fisik yang bermakna, namun diduga terdapat
ketidakseimbangan neurotransmitter, maka pasien memerlukan
farmakoterapi.
Psikologi :
Ditemukan adanya hendaya ringan
Sosiologik :

6
Adanya hendaya dalam bidang sosial, penggunaan waktu senggang, dan
pekerjaan sehingga memerlukan sosioterapi.

VII. PROGNOSIS
Dubia
Faktor Pendukung :
Gejala positif
Tidak ada kelainan organobiologik
Tidak ada riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama
Adanya dukungan dari keluarga
Faktor penghambat :
Relaps
Tidak teratur minum obat
Stressor psikososial tidak jelas.

VIII. RENCANA TERAPI


a. Farmakoterapi
Diazepam 2 mg 1x1 malam.
b. Psikoterapi Supportif
o Ventilasi
Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk
menceritakan keluhan dan isi hati sehingga pasien merasa lega dan
keluhannya berkurang
o Konseling
Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien agar memahami
penyakitnya dan bagaimana cara menghadapinya.
c. Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada pasien, keluaga dan orang-orang di
sekitarnya tentang penyakit pasien sehingga dapat menerima dan
menciptakan suasana lingkungan yang membantu.

7
IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum dan perkembangan penyakit seperti menilai
efektifitas obat yang diberikan serta kemungkinan efek samping obat yang
diberikan.

8
GANGGUAN TIDUR

I. Pendahuluan
Gangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering
ditemukan dan menjadi masalah kesehatan masyarakat karena berkaitan
dengan kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakan kerja, masalah kesehatan
dan kesalahan kerja lainnya.1 Insomnia kronis dikaitkan dengan peningkatan
angka kematian dua kali lipat dari waktu ke waktu. Kurang tidur meningkatkan
risiko penyakit kronis, termasuk hipertensi, diabetes dan depresi. Mengantuk di
siang hari (daytime sleepiness) mengganggu prestasi kerja dan meningkatkan
risiko kecelakaan industri dan kendaraan bermotor. Kekurangan tidur karena
masalah pernapasan mengarah pada penyakit kardiovaskular dan pulmonary
yang mengancam kehidupan. Pemakaian obat tidur juga menimbulkan
morbiditas seperti jatuh, kecemasan siang hari (daytime anxiety) dan
memperburuk sleep apnea.2
The National Sleep Foundation menyarankan bahwa anak-anak usia
sekolah (5-10 tahun) membutuhkan tidur 10-11 jam, remaja (10-17 tahun)
membutuhkan 8,5-9,5 jam, dan orang dewasa membutuhkan tidur 7-9 jam
setiap harinya. Berdasarkan data dari National Health Interview Survey,
hampir 30% orang dewasa tidur 6 jam per hari pada tahun 2005-2007. Pada
tahun 2009, hanya 31% dari siswa SMA yang tidur setidaknya 8 jam yang
mengikuti sekolah malam.1
Berdasarkan survey The Behavioral Risk Factor Surveillance System
(BRFSS) pada tahun 2009, diantara 74,571 responden orang dewasa di 12
negara, 35.3% tidur <7 jam dalam 24 jam, 48.0% mendengkur, 37.9% tanpa
sengaja tertidur pada siang hari sedikitnya sekali dalam 1 bulan yang lalu, dan
4.7% mengantuk atau tertidur pada saat berkendara sedikitnya sekali dalam 1
bulan yang lalu.1 Terdapat 10% dari populasi mengalami gangguan tidur.
Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan dan 45%
dari mereka yang mengalami insomnia mengalami gangguan dalam hal
mengingat.3

9
II. Fisiologi Tidur yang Normal
a. Elektrofisiologi Tidur
Tidur merupakan suatu proses aktif dan siklik (4-5 siklus/malam). Bukan
sekedar hilangnya keadaan terjaga. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak
berkurang selama tidur. Selama tahap-tahap tertentu tidur, penyerapan O2
oleh otak bahkan meningkat melebihi tingkat normal sewaktu terjaga.
Terdapat 2 jenis tidur yang ditandai oleh pola EEG yaitu NERM (non rapid
eye movement) dan REM (rapid eye movement). Fase awal tidur dimulai
oleh tidur NREM yang terdiri dari 4 fase, lalu diikuti oleh tidur REM.4,5
Keadaan terjaga : Low-voltage, mixed frequency, gelombang Alpha.6
Tidur NREM (75% dari waktu tidur) terdiri dari 4 fase yaitu5,6,7
Fase 1 (5%) : suatu fase transisi, low-voltage, mixed-frequency EEG
dan terdapat vertex waves.
Fase 2 (45%) : terdiri dari kompleks K dan sleep spindle. Terbangun
dengan mudah.
Fase 3 (12%) : 2050% gelombang delta per epoch (3060 seconds).
Fase 4 (13%) : 50% gelombang delta per epoch (30-60 seconds).
Tidur yang terdalam (sulit bangun).
Tidur REM (25% dari waktu tidur): Low-voltage, mixed frequency
activity, Saw-tooth waves, gelombang theta , dan slow alpha activity.6

10
Perbandingan tidur NREM dan tidur REM4 :

Karakteristik Tidur NREM Tidur REM


EEG Memperlihatkan Serupa dengan EEG pada
gelombang-gelombang orang yang sadar penuh
lambat
Aktivitas Tonus otot cukup, sering Inhibisi mendadak tonus
motorik bergerak otot, tidak ada gerakan
Kecepatan Penurunan ringan Ireguler
jantung,
pernapasan,
tekanan
darah
Bermimpi Jarang Sering
Bangun Mudah dibangunkan Lebih sulit dibangunkan
tetapi cenderung bangun
sendiri
Persentase 80% 20%
waktu tidur
Karakteristik Memiliki 4 stadium Gerakan mata cepat
penting lain

11
Pola Electroencephalogram6

b. Sleep Regulation
Siklus tidur-bangun serta berbagai tahapan tidur disebabkan oleh
hubungan timbal-balik antara tiga sistem saraf : (1) sistem keterjagaan, yaitu
bagian dari reticular activating system yang berasal dari batang otak; (2)
pusat tidur gelombang lambat (NREM) di hipotalamus yang mengandung
neuron tidur yang menginduksi tidur; dan (3) pusat tidur paradoksal (REM)
di batang otak yang mengandung neuron tidur REM yang menjadi sangat
aktif sewaktu tidur REM.4

12
Banyak penelitian mendukung peran serotonin dalam regulasi tidur.
Pencegahan sintesis serotonin atau perusakan raphe nucleus dorsal batang
otak, yang berisi hampir seluruh sel serotonergik otak, mengurangi tidur
untuk waktu yang cukup. Sintesis dan pelepasan serotonin oleh neuron
serotonergik dipengaruhi oleh ketersediaan prekursor asam amino
neurotransmitter ini, seperti L-tryptophan. Mengkonsumsi sejumlah besar L-
triptofan (1 sampai 15 g) mengurangi latensi tidur dan terbangun malam
hari. Sebaliknya, kekurangan L-tryptophan dikaitkan dengan sedikit waktu
yang dihabiskan dalam tidur REM. Norepinefrin yang terletak di lokus
seruleus memainkan peran penting dalam mengendalikan pola tidur normal.
Obat dan manipulasi yang meningkatkan neuron noradrenergik mengurangi
tidur REM dan meningkatkan periode terjaga. Pada manusia dengan
elektroda ditanamkan (untuk kontrol spastisitas), stimulasi listrik lokus
seruleus mendalam mengganggu semua parameter tidur.6

III. Klasifikasi Gangguan Tidur


Gangguan tidur dapat dibagi dalam 4 kelompok berdasarkan tipe gangguan
tidur yaitu8 :
1. Insomnia, berkaitan dengan tidur yang tidak cukup, tergangggu atau tidak
berkualitas.
2. Hipersomnia, gangguan kantuk yang berlebihan.
3. Gangguan jadwal tidur-jaga.
4. Parasomnia, berkaitan dengan perilaku yang abnormal selama tidur.
Gangguan tidur juga dapat dikelompokkan berdasarkan etiologinya,
berdasarkan DSM-IV -TR yaitu9:
1. Primary sleep disorders. Dua tipe primary sleep disorder yaitu:
a. Dyssomnias (abnormalitas dalam jumlah, kualitas atau waktu tidur),
terdiri dari:
i. Primary insomnia
ii. Primary hypersomnia
iii. Narcolepsy

13
iv. Breathing-related sleep disorder
v. Circadian rhythm sleep disorders
- Delayed sleep phase type
- Jet lag type
- Shift work type
- Unspecified type
vi. Dyssomnia yang tidak tergolongkan
b. Parasomnias (abnormalitas perilaku yang berkaitan dengan tidur),
terdiri dari:
i. Nightmare disorder
ii. Sleep terror disorder
iii. Sleepwalking disorder
iv. Parasomnia yang tidak tergolongkan
2. Gangguan tidur akibat gangguan mental.
3. Gangguan tidur akibat kondisi medis.
4. Gangguan tidur akibat penggunaan zat (alcohol, amphetamine, caffeine,
cocaine, opioid, sedative, hypnotic, anxiolytic, atau zat lainnya)
Pengelompokan gangguan tidur berdasarkan International Classification of
Sleep Disorders, 2nd Edition yaitu9:
1. Insomnias
a. Adjustment insomnia
b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadequate sleep hygiene
g. Behavioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or substance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition
k. Physiologic insomnia, unspecified

14
2. Sleep-related breathing disorders
a. Primary central sleep apnea
b. Central sleep apnea due to Cheyne-Stokes breathing pattern
c. Central sleep apnea due to high-altitude periodic breathing
d. Central sleep apnea due to a medical condition, not Cheyne-Stokes
breathing pattern
e. Central sleep apnea due to drug or substance
f. Primary sleep apnea of infancy
g. Obstructive sleep apnea
h. Sleep-related nonobstructive alveolar hypoventilation, idiopathic
i. Congenital central alveolar hypoventilation syndrome
j. Sleep-related hypoventilation/hypoxemia due to lower airways
obstruction, neuromuscular, and chest wall disorders, pulmonary
parenchymal or vascular pathology
k. Sleep apnea/sleep-related breathing disorder, unspecified
3. Hypersomnias
a. Narcolepsy with or without cataplexy
b. Narcolepsy with or without cataplexy due to medical condition
c. Narcolepsy unspecified
d. Kleine-Levin syndrome
e. Menstrual-related hypersomnia
f. Idiopathic hypersomnia with or without long sleep time
g. Behaviorally induced insufficient sleep syndrome
h. Hypersomnia due to medical condition
i. Hypersomnia due to drug or substance
j. Hypersomnia not due to substance or known physiologic condition
k. Physiologic hypersomnia, unspecified
4. Circadian rhythm sleep disorders
a. Delayed sleep phase type
b. Advanced sleep phase type
c. Irregular sleep-wake cycle

15
d. Nonentrained type (free-running)
e. Jet lag type
f. Shift work type
g. Due to medical condition
h. Other
i. Due to drug or substance
5. Parasomnias
a. Confusional arousals
b. Sleepwalking
c. Sleep terrors
d. Rapid eye movement sleep behavior disorder
e. Recurrent isolated sleep paralysis
f. Nightmare disorder
g. Sleep-related dissociative disorders
h. Sleep enuresis
i. Sleep-related groaning
j. Exploding head syndrome
k. Sleep-related hallucinations
l. Sleep-related eating disorder
m. Parasomnia, unspecified
n. Parasomnias due to drug or substance
o. Parasomnias due to medical condition
6. Sleep-related movement disorders
a. Restless legs syndrome
b. Periodic limb movement disorder
c. Sleep-related leg cramps
d. Sleep-related bruxism
e. Sleep-related rhythmic movement disorder
f. Sleep-related movement disorder, unspecified
g. Sleep-related movement disorder due to drug or substance
h. Sleep-related movement disorder due to medical condition

16
7. Other sleep disorders
a. Physiologic sleep disorder, unspecified
b. Environmental sleep disorder
c. Fatal familial insomnia

IV. Insomnia
Insomnia, menurut ICSD, ditandai dengan kesulitan dalam memulai atau
mempertahankan tidur. Sebuah definisi yang lebih luas, menurut National
Center on Sleep Disorders Research, insomnia merupakan tidur yang tidak
memadai atau kurang berkualitas yang ditandai dengan satu atau lebih hal
berikut: kesulitan memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur, bangun
terlalu pagi, atau tidur yang tidak menyegarkan, dan memiliki konsekuensi
pada siang hari seperti kelelahan, kekurangan energi, sulit berkonsentrasi, atau
lekas marah. Insomnia dapat bersifat sementara (beberapa hari) atau kronis
(lebih dari 3 minggu).9

17
Penyebab Umum Insomnia6
Symptom Insomnia Secondary to Insomnia Secondary to
Medical Conditions Psychiatric or Environmental
Conditions
Difficulty Any painful or Anxiety
falling uncomfortable condition Tension anxiety, muscular
asleep Central nervous system Environmental changes
(CNS) lesions Circadian rhythm sleep disorder
Difficulty Sleep apnea syndromes Depression, especially primary
remaining Nocturnal myoclonus and depression
asleep restless legs syndrome Environmental changes
Dietary factors (probably) Circadian rhythm sleep disorder
Episodic events Posttraumatic stress disorder
(parasomnias) Schizophrenia
Direct substance effects
(including alcohol)
Substance withdrawal
effects (including alcohol)
Substance interactions
Endocrine or metabolic
diseases
Infectious, neoplastic, or
other diseases
Painful or uncomfortable
conditions
Brainstem or hypothalamic
lesions or diseases
Aging

18
a. Diagnosis
Insomnia Non-organik (F51.0)
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur,
atau kualitas tidur yang buruk.
2. Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu
bulan.
3. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleeplessness) dan peduli
yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang
siang hari.
4. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur
menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi
dalam sosial dan pekerjaan.
b. Treatment
1. Sleep Hygiene
Penatalaksanaan insomnia selalu dimulai dengan instruksi mengenai
sleep hygiene. Mendorong pasien untuk membiasakan jadwal tidur yang
teratur baik itu di hari kerja ataupun di akhir pekan, usahakan lingkungan
tidur yang nyaman, tenang dan gelap. Kurangi kafein di pagi hari, hindari
penggunaan alkohol sebagai penenang, hindari alkohol secara berlebihan
atau merokok di malam hari. Mencoba camilan yang mengandung
triptofan tinggi di malam hari (misalnya, susu, pisang), tetapi hindari
makan yang berlebihan pada saat mau tidur. Mulai olahraga secara
teratur tetapi hindari berolahraga dalam waktu 3 jam sebelum tidur.6,9
2. Farmakologi
a) Sedatif Hipnotik
Sedatif hipnotik yang paling banyak digunakan adalah
benzodiazepin. Benzodiazepin memiliki efek pada karakteristik tidur,
termasuk pemendekan latensi tidur, peningkatan kontinuitas tidur,
elevasi tahap 2 tidur (dengan peningkatan spindle), penurunan tidur
gelombang lambat, dan penurunan tidur REM. Administrasi jangka

19
panjang dapat menyebabkan toleransi dan kebutuhan untuk dosis yang
lebih besar. Benzodiazepin lebih aman daripada barbiturat, sehingga
menjadi pilihan pengobatan yang lebih baik.7
b) Antidepresan
Dosis yang relatif kecil dari beberapa antidepresan seperti
amitriptyline dan trazodone telah membantu dalam mengobati
insomnia pada beberapa pasien yang tidak mengalami depresi. Bukti
baru-baru ini menunjukkan bahwa nefazodone juga dapat berguna
dalam hal ini.7

V. Hipersomnia
Hipersomnia bermanifestasi sebagai jumlah tidur yang berlebihan,
mengantuk di siang hari yang berlebihan atau kadang-kadang keduanya.
Hipersomnia dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti yang tertera dalam
tabel. Narkolepsi merupakan salah satu kondisi yang dikenal secara luas
menyebabkan hipersomnia.6 Gejala yang paling banyak terkait dengan
narkolepsi adalah cataplexy (tiba-tiba kehilangan tonus otot), halusinasi
hypnagogic (pengalaman seperti bermimpi saat akan tertidur tetapi belum
tertidur), dan sleep paralysis (kelumpuhan singkat terkait dengan timbulnya
tidur atau saat akan terjaga). Namun, hanya 10-15% dari pasien narkolepsi
yang mengalami semua empat gejala utama (the classic tetrad). Banyak pasien
narkolepsi juga melaporkan mengalami perilaku kompleks (seperti berjalan
dari satu tempat ke tempat lain atau menulis) tanpa mengingat apa yang telah
mereka lakukan.7

20
Penyebab Umum Hipersomnia6
Chiefly Psychiatric or
Symptom Chiefly Medical
Environmental
Excessive sleep Kleine-Levin syndrome Depression (some)
(hypersomnia) Menstrual-associated Avoidance reactions
somnolence
Metabolic or toxic
conditions
Encephalitic conditions
Alcohol and depressant
medications
Withdrawal from
stimulants
Excessive Narcolepsy and Depression (some)
daytime narcolepsy-like syndromes Avoidance reactions
sleepiness Sleep apneas Circadian rhythm sleep
Hypoventilation syndrome disorder
Hyperthyroidism and other
metabolic and toxic
conditions
Alcohol and depressant
medications
Withdrawal from
stimulants
Sleep deprivation or
insufficient sleep
Any condition producing
serious insomnia

21
a. Diagnosis
Hipersomnia Non-organik (F51.1)
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan
tidur/sleep attacks (tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang),
dan atau transisi yang memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai
sadar sepenuhnya (sleep drunkenness).
2. Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau
berulang dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial
dan pekerjaan.
3. Tidak ada gejala tambahan narcolepsy (cataplexy, sleep paralysis,
hypnagogic hallucination) atau bukti klinis untuk sleep apnoe
(nocturnal breath cessation, typical intermittent snoring sounds, etc).
4. Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan gejala
rasa kantuk pada siang hari.
b. Treatment
Pengobatan hipersomnia sebagian besar terdiri dari obat stimulant,
seperti amfetamin, yang diberikan pada pagi atau sore hari. Obat
antidepresan non sedasi, seperti SSRI, mungkin berguna pada beberapa
pasien.6 Modafinil, natrium oxybate, amfetamin, metamfetamin,
dextroamphetamine, methylphenidate, dan selegiline adalah pengobatan
yang efektif untuk kantuk yang berlebihan terkait dengan narkolepsi,
sementara trisiklik antidepresan dan fuoxetine adalah pengobatan yang
efektif untuk cataplexy, sleep paralysis, dan halusinasi hypnagogic, tetapi
bukti klinis yang mendukung pengobatan ini bervariasi. Tidur siang yang
dijadwalkan dapat bermanfaat untuk mengurangi kantuk pada pasien
narkolepsi. Berdasarkan bukti yang ada, modafinil merupakan terapi yang
efektif untuk kantuk yang disebabkan oleh hipersomnia idiopatik, penyakit
Parkinson, distrofi myotonic, dan multiple sclerosis.11

22
VI. Gangguan Jadwal Tidur-Jaga
Gangguan jadwal tidur jaga akibat dari ketidakcocokan antara sistem tidur-
jaga internal atau endogen dengan tuntutan eksternal atau eksogen pada sistem
tidur-jaga. Kecenderungan tidur-jaga individu tidak sesuai dengan keadaan
sosialnya atau siklus terang-gelap. Meskipun beberapa individu tidak
menganggap ketidakcocokan ini sebagai masalah, bagi orang lain gangguan
jadwal tidur-jaga ini mengganggu kemampuan untuk beraktivitas pada saat
terbangun atau rasa kantuk yang diinginkan atau diperlukan pada saat mau
tidur.8
a. Diagnosis
Gangguan Jadwal Tidur-Jaga Non-organik (F51.2)
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Pola tidur jaga dari individu tidak seirama (out of synchrony) dengan
pola tidur-jaga yang normal bagi masyarakat setempat.
2. Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hipersomnia pada waktu
kebanyakan orang jaga, yang dialami hampir setiap hari untuk
sedikitnya 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu yang lebih
pendek.
3. Ketidakpuasan dalam kuantitas, kualitas, dan waktu tidur
menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi
dalam sosial dan pekerjaan.
b. Treatment
1. Perubahan gaya hidup
Beberapa orang mungkin dapat mengatasi gangguan jadwal tidur-jaga
dengan cara menyesuaikan rutinitas sehari-hari mereka dengan jadwal
tidur-jaga yang mereka alami.12
2. Sleep Hygiene
Instruksi ini untuk membantu pasien dalam mengembangkan kebiasaan
tidur yang sehat dan mengajarkan pasien untuk menghindari masalah
yang lebih buruk dengan mencoba mengobati diri sendiri dengan obat-
obatan atau alkohol.12

23
3. Bright Light Therapy
Terapi ini mensinkronisasikan body clock dengan mengekspos mata ke
tingkat yang aman dari cahaya terang untuk jangka singkat.12
4. Farmakologi
Obat hipnotik dapat diresepkan untuk membantu tidur atau obat stimulan
untuk menjaga tetap terjaga.12
5. Melatonin
Hormon ini diproduksi oleh otak di malam hari dan memainkan peran
dalam mempertahankan siklus tidur-bangun. Konsumsi melatonin pada
waktu dan dosis yang tepat dapat meringankan gejala dari beberapa
gangguan jadwal tidur jaga.12

VII. Parasomnia
Parasomnia merupakan fenomena yang tidak biasa atau tidak diinginkan
yang muncul tiba-tiba selama tidur atau yang terjadi pada ambang antara
terjaga dan tidur. Parasomnia biasanya terjadi pada tahap III dan IV tidur
NREM sehingga terkait dengan gangguan untuk mengingat kembali apa yang
telah terjadi dalam tidur.6
a. Somnabulisme (Sleepwalking) (F51.3)
Sleepwalking, juga dikenal sebagai somnabulisme, terjadi pada
sepertiga pertama malam selama dalam tidur NREM stadium III dan IV.
Pasien duduk dan kadang-kadang melakukan perilaku, seperti berjalan,
berpakaian, pergi ke kamar mandi, berbicara, menjerit, dan bahkan
mengemudi. Pasien terkadang berakhir dalam keadaan terbangun, selama
beberapa menit mengalami kebingungan, dan lebih sering, orang akan
kembali tidur tanpa ingat peristiwa atau perilaku yang telah dilakukan.
Sleepwalking biasanya dimulai antara usia 4 dan 8 tahun dan cenderung
menghilang pada masa remaja. Puncak prevalensi adalah sekitar usia 12
tahun. Kelainan ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada anak
perempuan, dan sekitar 15 persen anak-anak pernah mengalami satu kali
episode. Sleepwalking cenderung diturunkan dalam keluarga.6

24
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Gejala yang utama adalah satu atau lebih episode bangun dari
tempat tidur, biasanya pada sepertiga awal tidur malam, dan terus
berjalan-jalan (kesadaran berubah).
2. Selama satu episode, individu menunjukkan wajah bengong
(blank, staring face), relatif tak memberi respons terhadap upaya
orang lain untuk mempengaruhi keadaan atau untuk
berkomunikasi dengan penderita, dan hanya dapat
disadarkan/dibangunkan dari tidurnya dengan susah payah.
3. Pada waktu sadar/bangun (setelah satu episode atau besok
paginya), individu tidak ingat apa yang terjadi.
4. Dalam kurun waktu beberapa menit setelah bangun dari episode
tersebut, tidak ada gangguan aktivitas mental, walaupun dapat
dimulai denga sedikit bingung dan disorientasi dalam waktu
singkat.
5. Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik.
b. Teror Tidur (Nights Terrors) (F.51.4)
Gangguan nights terror terjadi di sepertiga pertama malam selama tidur
NREM dalam tahap III dan IV. Pasien terbangun dengan jeritan atau
menangis dan disertai dengan manifestasi perilaku cemas atau panik.
Biasanya, pasien duduk di tempat tidur dengan ekspresi ketakutan, berteriak
dengan keras, dan kadang-kadang terbangun segera setelah rasa teror.
Setelah terbangun, pasien lupa mengenai episode nights terror. Sekitar 1
sampai 6 persen anak-anak mengalami gangguan ini, dan lebih sering terjadi
pada anak laki-laki dari pada anak perempuan dan cenderung bersifat
diturunkan dalam keluarga.6
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Gejala utama adalah satu atau lebih episode bangun dari tidur,
mulai dengan berteriak karena panik, disertai anxietas yang hebat,
seluruh tubuh bergetar, dan hiperaktivitas otonomik seperti

25
jantung berdebar-debar, napas cepat, pupil melebar dan
berkeringat.
2. Episode ini dapat berulang, setiap episode lamanya berkisar 1-10
menit dan biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur malam.
3. Secara relatif tidak bereaksi terhadap berbagai uapaya orang lain
untuk mempengaruhi keadaan teror tidurnya dan kemudian dalam
beberapa menit setelah bangun biasanya terjadi disorientasi dan
gerakan-gerakan berulang.
4. Ingatan terhadap kejadian, kalaupun ada, sangat minimal
(biasanya terbatas pada satu atau dua bayangan-banyangan yang
terpilah-pilah)
5. Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik.
c. Mimpi Buruk (Nightmares) (F51.5)
Pada gangguan Nightmares, pasien mengalami mimpi yang
menakutkan berulang kali dan menyebabkan pasien terbangun dari tidur.
Nightmares terjadi selama tidur REM. Mimpi-mimpi atau keadaan
terbangun ini menyebabkan distress atau disability yang signifikan terhadap
pasien. Beberapa orang mengalami mimpi buruk seumur hidupnya, yang
lainnya mengalami mimpi buruk terutama pada waktu stres dan saat
menderita suatu penyakit. Sekitar 50 persen dari populasi orang dewasa
kadang-kadang mengalami mimpi buruk.6,8
Kriteria diagnostik berdasarkan PPDGJ-III10 :
1. Terbangun dari tidur malam atau tidur siang berkaitan dengan
mimpi yang menakutkan yang dapat diingat kembali dengan rinci
dan jelas (vivid), biasanya perihal ancaman kelangsungan hidup,
keamanan, atau harga diri, terbangunnya dapat terjadi kapan saja
selama periode tidur, tetapi yang khas adalah pada paruh kedua
masa tidur.
2. Setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu segera
sadar penuh dan mampu mengenali lingkungannya.

26
3. Pengalaman mimpi itu, dan akibat dari tidur yang terganggu
menyebabkan penderitaan cukup berat bagi individu.
Perbandingan gejala pada parasomnia7
Nightmare Sleep terror Sleepwalking
Karakteristik
disorder disorder disorder
Sleep stage REM NREM NREM
Dream recall ya Tidak Tidak
Motor activity Tidak ada Berteriak, agitasi ada
On Sadar Bingung, Bingung,
awakening disorientasi disorientasi
Time of night Last third of night First third of night First half of night
Prevalence Anak 20%, Anak 5%, dewasa Anak 1-20%,
dewasa 5-10% <1% dewasa <1%
Autonomic Ringan, akibat Berat, berkeringat Tidak ada
activation efek sekunder dan vokalisasi
dari takut
Danger to self Tidak Tidak Pasien berjalan ke
sembarang arah
Treatment Monitor, gejala Monitor, gejala Buat lingkungan
biasanya biasanya yang aman dan
berkurang seiring berkurang seiring monitor gejala
dengan dengan
bertambahnya bertambahnya
usia, jika parah usia, jika parah
pertimbangkan pertimbangkan
psikoterapi low-dose tricyclic
atau
benzodiazepine

27
d. Treatment
Pengobatan parasomnia dimulai dengan meminimalkan masalah
perilaku itu sendiri misalnya dengan menghilangkan faktor stressor
psikososial atau psikoterapi untuk nightmare disorder. Dalam kasus lain,
mungkin lebih praktis untuk meminimalkan konsekuensi dari gangguan atau
menjaga keselamatan pasien seperti pada sleep walking. Sebagai contoh,
pasien dan keluarga harus diberi konseling untuk mengubah lingkungan
seperti menempatkan pintu di atas tangga (jika pasien tidur di ruang tidur
lantai atas) atau mengubah furniture yang memiliki sudut yang tajam dan
sebagainya.7
1. Biasanya tidak ada pengobatan khusus yang diperlukan untuk
nightmare disorder. Obat REM-suppressing seperti monoamine
oxidase inhibitors, obat trisiklik dan benzodiazepines dapat
digunakan untuk mengurangi frekuensi mimpi buruk.6,7
2. Pengobatan khusus untuk night terror disorder jarang diperlukan.
Dalam kasus yang jarang terjadi ketika obat diperlukan, diazepam
(Valium) dalam dosis kecil pada waktu tidur dapat mengurangi
frekuensi serangan dan kadang-kadang benar-benar menghilangkan
serangan.6
3. Intervensi medis jarang dibutuhkan untuk sleepwalking. Dalam
kasus-kasus sulit, beberapa dokter mencoba penggunaan
benzodiazepin, yang mengurangi tidur gelombang lambat. Laporan
terbaru terkait sleepwalking adalah penggunaan obat penenang
Zolpidem (Ambien) namun memerlukan studi lebih lanjut.6
Parasomnia NREM telah diobati dengan benzodiazepin atau dosis
rendah antidepresan trisiklik yang menekan tidur gelombang lambat sampai
batas tertentu, namun dengan keberhasilan yang bervariasi. Sleep hygiene
yang baik juga penting, karena kurang tidur bisa memperburuk
sleepwalking dan parasomnia lainnya yang terjadi selama tidur gelombang
lambat.7

28
VIII. Kesimpulan
Tidur merupakan suatu proses aktif dan siklik (4-5 siklus/malam).
Terdapat 2 jenis tidur yang ditandai oleh pola EEG yaitu NERM (non rapid eye
movement) dan REM (rapid eye movement). Fase awal tidur dimulai oleh tidur
NREM yang terdiri dari 4 fase, lalu diikuti oleh tidur REM.
Gangguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering
ditemukan dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Gangguan tidur dapat
dibagi kedalam 4 tipe berdasarkan tipe gangguan tidur yaitu insomnia,
hipersomnia, gangguan jadwal jaga-tidur dan parasomnia (sleepwalking, night
terror dan nightmares).
Insomnia berkaitan dengan jumlah dan kualitas tidur, hipersomnia
berkaitan dengan jumlah tidur yang berlebihan dan mengantuk yang berlebihan
di siang hari, parasomnia berkaitan dengan perilaku yang abnormal selama
tidur dan gangguan jadwal jaga-tidur merupakan ketidaksesuaian jadwal jaga-
tidur individu dengan keadaan sosialnya atau siklus terang-gelap.
Penatalaksanaan insomnia dimulai dengan instruksi mengenai sleep
hygiene sedangkan untuk farmakologi dapat digunakan Sedatif Hipnotik dan
Antidepresan. Pengobatan hipersomnia sebagian besar terdiri dari obat
stimulant, seperti amfetamin, yang diberikan pada pagi atau sore hari.
Pengobatan parasomnia dimulai dengan meminimalkan masalah perilaku itu
sendiri misalnya dengan menghilangkan faktor stressor psikososial atau
psikoterapi dan meminimalkan konsekuensi dari gangguan atau menjaga
keselamatan pasien. Pengobatan khusus untuk parasomnia jarang diperlukan.
Sementara gangguan jadwal jaga-tidur dapat diatasi dengan perubahan gaya
hidup, sleep hygiene, bright light therapy dan melatonin.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Centers for disease control and prevention. Insufficient Sleep Is a Public


Health Epidemic. Available at
http://www.cdc.gov/features/dssleep/index.html#References. Accessed
October 22, 2013.
2. Feldman, M. D, Christensen, J. F. 2008. Behavioral medicine. A guide for
Clinical Practice. 3rd edition. The McGraw-Hill Companies. Page 291.
3. Ram S et al. 2010. Prevalence and impact of sleep disorders and sleep
habits in the United States. Sleep Breath. 14:6370.
4. Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem Ed.6. Jakarta:
EGC. Halaman 183-184.
5. Tomb, D. A. 2003. Buku Saku Psikiatri Ed.6. Jakarta: EGC. Halaman 220-
221.
6. Sadock, B. J, Sadock, V. A. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. Lippincott Williams &
Wilkins. Page 750-768
7. Ebert, M. H, Loosen, P. T, Nurcombe, B. 2007. Current Diagnosis &
Treatment in Psychiatry. The McGraw-Hill Companies. Chapter 30.
8. First, M. B, Tasman, A. 2006. Clinical Guide to the Diagnosis and
Treatment of Mental Disorders. John Wiley & Sons, Ltd. Page 410
9. Coffey, C. E, McAllister, T. W, Silver, J. M. 2007. Guide to Neuropsychiatric
Therapeutics, 1st Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Page 302-311.
10. Maslim, R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Halaman 92-95.
11. Morgenthaler et al. 2007. Hypersomnia. Practice Parameters for the
Treatment of Narcolepsy and other Hypersomnias of Central Origin. An
American Academy of Sleep Medicine Report. Available at
http://www.aasmnet.org/resources/practiceparameters/PP_narcolepsy.pdf.
Accessed November 01, 2013.

30
12. Darien, I.L. 2008. Circadian Rhythm Sleep Disorders. American Academy of
Sleep Medicine. Available at
http://www.aasmnet.org/resources/factsheets/crsd.pdf. Accessed October 30,
2013.

31