Anda di halaman 1dari 11

EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) PT.

KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK


Rizki Apriliawati1 dan Moch Chaerul2
Program Studi Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha No. 10 Bandung 40132
1
rizkiapriliawati@gmail.com dan 2mchaerul2000@gmail.com

Abstrak:
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur baja.
Di dalam kegiatan produksinya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tidak dapat menghindari terbentuknya
limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dapat memberikan dampak negatif, baik bagi
kesehatan manusia maupun bagi lingkungan. Konsep penanganan limbah B3 dikenal dengan istilah
cradle to grave. Evaluasi yang dilakukan meliputi evaluasi pengelolaan secara teknis (pelabelan,
pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahan) dan pengelolaan non-teknis/
operasional (izin pengelolaan dan pengarsipan dokumen). Metode yang dilakukan adalah studi literatur,
wawancara, dan peninjauan langsung di lapangan. Jenis-jenis limbah B3 yang dihasilkan antara lain
debu EAF, sludge, steel slag, katalis, mill scale, ferro oxide, oli dan pelumas bekas, majun, waste pickle
liquor, lampu TL dan bekas kemasan bahan kimia. Dari segi karakteristik, dilihat dari perhitungan
presentase, karakteristik yang paling dominan adalah limbah beracun (99,85%), diikuti dengan korosif
(0,13%), mudah terbakar(0,02%), reaktif, dan infeksius. Secara keseluruhan pengelolaan limbah B3
yang dilakukan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk masih kurang baik. PT Krakatau Steel (Persero)
Tbk perlu meningkatkan upaya-upaya pengolahan yang dapat mengurangi tingkat bahaya dari limbah
B3 tersebut.

Kata Kunci: Limbah B3, Cradle to Grave, Pengelolaan Limbah B3, Manufaktur Baja.

Abstract:
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk is a company that involved in steel manufacture. In its production
activity, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk can not avoid the formation of hazardous waste that could
adversely affect both human health and for the environment. Hazardous waste management concept
known as the cradle to grave. Evaluation included the evaluation of technical management (labeling,
packaging, storage, transport, use, and processing) and non-technical management/ operations
(license management and documents). The method used are literature studies, interviews and direct
observation in the field. The types of hazardous waste produced are EAF dust, sludge, steel slag,
catalyst, mill scale, ferrous oxide, oil and lubricants, dust cloth, waste pickle liquor, fluorescent lamp
and used packaging chemicals. In terms of characteristics, seen from the calculation of the percentage,
the most dominant characteristic is a toxic waste (99.85%), followed by corrosive (0.13%), flammable
(0.02%), reactive, and infectious. Overall, hazardous waste management conducted by PT Krakatau
Steel (Persero) Tbk is still not good. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk need to increase its efforts for
processing their hazardous waste so that the danger level could be reduced.

Keywords: Hazardous Waste, Cradle to Grave, Hazardous Waste Management, Steel Manufacture.

PENDAHULUAN
Pada era globalisasi ini, pembangunan di segala bidang digalakan dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui pembangunan industri yang menghasilkan berbagai
macam barang dan jasa yang bermanfaat dan mendukung kehidupan manusia. Namun, tidak dapat
dipungkiri pemenuhan kebutuhan melalui berbagai macam kegiatan ini menimbulkan limbah yang
dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.
Limbah yang dihasilkan dari kegiatan atau aktivitas industri dapat bersifat limbah bahan berbahaya
dan beracun (hazardous waste), dan bisa juga tidak bersifat limbah bahan berbahaya dan beracun (non-
hazardous waste). Limbah-limbah yang dihasilkan tersebut perlu dikelola supaya tidak menimbulkan
bahaya dan pencemaran terhadap lingkungan sekitar. Prosedur penanganan limbah B3 telah diatur oleh
Negara dalam PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan salah satu perusahaan industri baja dunia (word class)
dan saat ini masih menjadi industri baja terbesar di Indonesia. Sebagai salah satu perusahaan yang
bergerak di bidang manufaktur, PT. Krakatau Steel banyak menghasilkan limbah berbahaya dan
beracun seperti debu, sludge, oli bekas, slag steel, dll.
PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk tidak hanya melakukan kegiatan manufaktur, tetapi juga
berkomitmen terhadap kesehatan dan keselamatan kerja dari karyawannya serta mengutamakan
perlindungan terhadap lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh PT. Krakatau
Steel (Persero) Tbk antara lain: pengelolaan limbah cair, pengelolaan kualitas udara, pengelolaan
limbah B3 dan non-B3, pemantauan K3, dan pemantauan lingkungan lainnya. Keseluruhan hal yang
telah disebutkan diatas merupakan landasan yang melatarbelakangi penulis dalam melakukan kerja
praktik mengenai Evaluasi Pengelolaan Limbah B3 di PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk.

KONDISI EKSISTING
Jenis-jenis limbah B3 yang dihasilkan antara lain debu EAF, sludge, steel slag, katalis, mill scale,
ferro oxide, oli dan pelumas bekas, majun, waste pickle liquor, lampu TL dan bekas kemasan bahan
kimia. Izin yang dimiliki PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk antara lain Surat Keputusan Walikota
Cilegon nomor 658.31/Kep. 342-BLH/2012 tentang Izin Penyimpanan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 131 Tahun 2011 tentang Izin Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun PT Krakatau
Steel (Persero) Tbk. Pengelolaan yang dilakukan meliputi penanganan di setiap unit produksi,
pelabelan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahan yang terdapat dalam gambar
berikut ini.

Gambar 1. Penanganan limbah di sumber

Gambar 2. Penyimpanan limbah B3 PT Krakatau Steel

Gambar 3. Pengangkutan limbah B3 PT Krakatau Steel

Gambar 4. Pengolahan limbah slag oleh PT Purna Baja Harsco


Penanganan limbah B3 di setiap unit produksi secara umum merupakan kegiatan pengumpulan yang
disesuaikan dengan jenis limbah yang dihasilkan. Penanganan ini bertujuan agar limbah dapat terkelola
dengan baik sambil menunggu pengelolaan selanjutnya. Pelabelan yang digunakan terdiri dari pelabelan
keterangan limbah B3 dan simbol. Limbah kemudian disimpan di TPS milik PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk yang berjumlah 5 buah, juga disesuaikan dengan jenis limbah yang akan disimpan. Untuk
kegiatan pengangkutan terbagi menjadi 2 yaitu pengangkutan dari sumber limbah B3 ke TPS Limbah
B3 dan pengangkutan dari TPS limbah B3 ke pihak pengolah atau pemanfaat. Keduanya dilakukan oleh
pihak ketiga berizin yang terlibat kerjasama dengan perusahaan. Pengangkutan belum memiliki jadwal
khusus. Pemanfaatan yang dilakukan terdiri dari recycle limbah fines sponge dengan metode briquetting
dan blocking, pengoperasian filter press pada unit Reject Treatment Plant (RTP) di pabrik CRM, recycle
limbah WPL menggunakan metode Acid Regeneration Plant (ARP), dan reuse drum kemasan oli bekas
untuk menyimpan limbah majun yang terkontaminasi oli. Pengolahan limbah steel slag dilakukan oleh
PT Purna Baja Harsco dengan 2 jenis metode pengolahan yaitu Metal Recovery Plant (MRP) dan Slag
Atomizing Technology (SAT). Pengarsipan dokumen manifest limbah dilakukan per tiga bulan
(triwulan) dengan salinan dokumen yang disimpan adalah lembar berwarna kuning (salinan 2).

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Jenis limbah yang dihasilkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk antara lain debu EAF, sludge, steel
slag, katalis, mill scale, ferro oxide, oli dan pelumas bekas, majun, waste pickle liquor, lampu TL dan
bekas kemasan bahan kimia dengan jumlah limbah B3 yang dominan dihasilkan adalah limbah steel
slag dengan presentase limbah sebesar 68,16%. Dari segi karakteristik, yang paling dominan dihasilkan
adalah limbah beracun (99,85%).
Secara umum, kegiatan penanganan (pengumpulan) yang dilakukan setiap unit produksi belum
disesuaikan dengan syarat-syarat teknis fasilitas untuk limbah B3, sebagai contoh sebagian besar
fasilitas pengumpulan di sumber tidak dilengkapi dengan atap pelindung sehingga berpotensi
menyebabkan perlindian saat hujan terjadi. Sedangkan untuk perlakuan secara umum, presentase
dominan terhadap limbah B3 yang dihasilkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk periode Januari Maret
2015 hanya berupa penyimpanan dengan presentase 99,2%. Kinerja penyimpanan limbah periode
Januari Maret 2015 sebesar 100%.
Pelabelan hanya dilakukan saat limbah sudah masuk ke TPS (saat di sumber tidak dilakukan
pelabelan). Ketidaksesuaian yang ditemui adalah pelabelan pada kendaraan pengangkut berdasarkan
Kep Dirjen Hubdat No. 725/AJ.302/DRJD/2004 secara simbol, ukuran dan bahan belum memenuhi,
belum diberlakukannya pelabelan pada kemasan yang kosong berdasarkan KepBapedal no. 05/1995
dan pelabelan yang digunakan umumnya belum sesuai dengan karakteristik limbah. Selain itu, masih
ditemui pula adanya kebocoran oli pada kemasan yang digunakan.
Untuk penyimpanan, secara teknis fasilitas penyimpanan berdasarkan jenis limbah, bangunan
dengan konstruksi atap dan pagar untuk melindungi dari masuknya air hujan dan sinar matahari sudah
terpenuhi. Fasilitas pelengkap juga sudah dipenuhi seperti tempat penyimpanan yang dilengkapi dengan
sumur pantau, saluran drainase untuk lindi, dan pos jaga yang dilengkapi dengan sistem pemadam
kebakaran serta SOP kondisi darurat (peralatan penaggulangan kondisi darurat), SOP penempatan
limbah, dan SOP neraca limbah. Beberapa ketidaksesuaian yang ditemukan diantaranya tidak adanya
titik koordinat limbah pada izin yang dimiliki pada TPS 2, belum adanya keterangan titik koordinat di
TPS 5, tidak dilengkapinya sekat pemisah antara karakteristik limbah yang berbeda pada TPS 3, serta
TPS 4 yang tidak dirancang menggunakan slope kemiringan lantai dan belum menerapkan sistem
penyimpanan blok berdasarkan Keputusan Bapedal No.01/Bapedal/09/1995. Secara operasional,
saluran drainase pada TPS 4 tersumbat sampah daun menyebabkan sarana tersebut tidak dapat
digunakan secara ideal. Pengumpulan menggunakan sarana yang disediakan seperti bak atau tong
sampah belum diterapkan sesuai dengan fungsinya masih banyak ditemui limbah B3 yang tercampur
dengan limbah non B3.
Pengangkutan dilakukan tanpa jadwal dan hanya disesuaikan dengan estetika sarana pengumpulan
dan penyimpanan limbah tersebut. Saat limbah tersebut sudah melewati batas (terlalu menggunung)
barulah koordinator unit produksi terkait menghubungi pihak pengangkut.
Untuk kegiatan pemanfaatan, selama peninjauan lapangan berlangsung, tidak ada satupun kegiatan
pemanfaatan yang sedang dilakukan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan sedang terjadi ketidak
idealan proses produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk akibat satu dan lain hal, sehingga siklus
pembentukan limbahpun tidak berlangsung secara normal maka pemanfaatan tidak dapat dilakukan.
Pemanfaatan yang pernah dilakukan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk adalah pemanfaatan limbah slag
steel process untuk dijadikan roadbase jalan di kawasan industri PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.
Secara umum PT Krakatau Steel (Persero) Tbk masih perlu meningkatkan kreativitas, usaha, dan
inovasi dalam hal pemanfaatan limbah yang dihasilkan sehingga perusahaan tidak hanya bergantung
kepada pihak ketiga saja.
Kegiatan pengolahan oleh PT Purna Baja Harsco secara regulasi dan izin memenuhi persyaratan
yang ada. Secara operasional, kedua metode yang digunakan PT Purna Baja Harsco dalam mengolah
limbah slag menyebabkan debu yang sangat banyak dan beterbangan di sekitar area pengolahan. Selama
peninjauan lapangan juga tidak terlihat adanya upaya minimasi persebaran debu di areal kerja yang
dilakukan oleh PT Purna Baja Harsco seperti penyiraman area kerja secara rutin. Beberapa pekerja juga
belum memakai APD berupa masker untuk menghindari paparan debu tersebut. Dilihat dari neraca
limbah periode April Juni 2015, besarnya kinerja pengelolaan limbah yang dilakukan hanyalah
sebesar 0,97%. Dan ditinjau dari batas waktu penyimpanan limbah berdasarkan PP no. 101 tahun 2014
Pasal 28b ayat (4) belum dapat disimpulkan apakah lamanya penyimpanan sudah memenuhi
persyaratan yaitu maksimal 365 hari karena penyimpanan limbah yang lama tercampur oleh
penyimpanan limbah yang baru terbentuk.
Pengarsipan dilakukan secara rapi per triwulan dengan pengisian dilakukan secara lengkap pada
bagian-bagian yang harus dilengkapi oleh penghasil limbah. Namun salinan yang diarsipkan adalah
Salinan berwarna kuning (salinan ke 2) yang berdasarkan literatur seharusnya salinan tersebut disimpan
oleh lembaga terkait, bukan oleh penghasil limbah. Hal ini menunjukkan bahwa alur dokumen limbah
B3 yang diterapkan di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tidak sesuai dan perlu dilakukan pengecekan
juga perbaikan sistem.

KESIMPULAN
Jenis-jenis limbah B3 yang dihasilkan antara lain debu EAF, sludge, steel slag, katalis, mill scale,
ferro oxide, oli dan pelumas bekas, majun, waste pickle liquor, lampu TL dan bekas kemasan bahan
kimia. Dari segi karakteristik, dilihat dari perhitungan presentase, karakteristik yang paling dominan
adalah limbah beracun (99,85%), diikuti dengan korosif (0,13%), mudah terbakar(0,02%), reaktif, dan
infeksius.
Pengelolaan limbah B3 yang dilakukan PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk meliputi pelabelan,
pengemasan, penyimpanan, dan pemanfaatan. Kegiatan pengangkutan menjadi tanggung jawab pihak
ketiga baik pemanfaat maupun pengolah limbah. Untuk kegiatan pemanfaatan yang bersifat end of pipe
dilakukan oleh pihak ketiga, sedangkan yang dilakukan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk adalah
pemanfataan yang bersifat proaktif. Sedangkan kegiatan pengolahan seluruhnya dilakukan oleh pihak
ketiga berizin KLH yang telah terlibat kontrak dengan PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk.
Secara umum pengelolaan limbah B3 di PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk masih dirasa kurang,
karena pengelolaan yang dilakukan hanya berupa penyimpanan tanpa adanya usaha untuk mengurangi
potensi bahaya limbah tersebut. Beberapa ketidak sesuaian juga masih ditemui dalam kegiatan
pelabelan, pengemasan, dan penyimpanan. Hal-hal tersebut diakibatkan oleh belum difokuskannya
tentang pentingnya pengelolaan lingkungan oleh sebagian besar karyawan PT Krakatau Steel (Persero)
Tbk. Secara operasional, pengarsipan yang dilakukan juga masih terdapat ketidaksesuaian.
Proses pengolahan limbah slag steel PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk oleh PT Purna Baja Harsco
dilakukan secara fisis, terbagi menjadi dua metode pengolahan yaitu metode Metal Recovery Plant
(MRP) dan Slag Atomizing Technology (SAT). Metode MRP dikenal sebagai metode konvensional
karena proses pengolahan yang sederhana, sedangkan metode SAT merupakan metode pengolahan
yang memanfaatkan proses atomizing dengan produk yang lebih ramah lingkungan.

SARAN
Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan sebagai evaluasi untuk peningkatan pengelolaan
limbah B3 di PT Krakatau Steel (Persero) Tbk kedepannya antara lain:
1. Sebaiknya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk lebih sering mengadakan pencerdasan tentang
pentingnya pengelolaan lingkungan kepada karyawannya, sehingga dapat meningkatkan kesadaran
diri akan pentingnya pengelolaan lingkungan bagi keberjalanan proses produksi.
2. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebaiknya lebih mengontrol tentang kegiatan pengemasan dan
penyimpanan limbah, sehingga limbah selalu dalam keadaan baik, dapat mencegah terjadinya
kebocoran dan tumpahan, serta tidak mengganggu lingkungan kerja karyawan.
3. Senantiasa memberlakukan sistem pembersihan dan pengontrolan rutin untuk fasilitas-fasilitas
penyimpanan limbah baik itu di tempat pengumpulan dalam pabrik maupun di TPS Limbah B3,
sehingga hal-hal seperti limbah yang tercampur dan saluran drainase yang terganggu sampah daun
bisa dihindarkan.
4. Tempat pengumpulan limbah di pabrik seperti oli bekas dan limbah B3 cair WPL sebaiknya
dilengkapi dengan atap agar dapat menghindari potensi terjadinya perlindian saat hujan turun dan
potensi-potensi bahaya lainnya.
5. Senantiasa menjaga dan meningkatkan koordinasi yang baik antara perusahaan dan seluruh vendor
yang terlibat dalam pengelolaan limbah B3, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Khususnya dalam jadwal pengangkutan.
6. Khusus untuk kegiatan pengolahan oleh PT Purna Baja Harsco, sebaiknya perusahaan lebih
menggiatkan lagi kegiatan pengolahan limbah yang dilakukan sehingga jumlah limbah yang belum
terkelola dapat ditekan. Selain itu, perlu dilakukan pengontrolan pencemaran udara akibat aktivitas
pengolahan ini karena proses pengolahan yang sederhana, sedangkan metode SAT merupakan
metode pengolahan yang memanfaatkan proses atomizing dengan produk yang lebih ramah
lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Repblik Indonesia No. 85 Tahun 1999
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 02 Tahun 2008 tentang Pemanfaatan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-01/Bapedal/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-02/Bapedal/09/1995 tentang Dokumen Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-05/Bapedal/09/1995 tentang Simbol dan Label Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Direktur Jenderal Hubungan Darat No. 725/AJ.302/DRJD/2004 tentang penyelenggaraan
pengangkutan bahan berbahaya dan beracun di jalan.
Damanhuri, Enri. 2010. Diktat Kuliah TL-3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Edisi
Semester II 2009/2010. Penerbit ITB.
La Grega, Michael D. Hazardous Waste Management. Singapore: McGraw Hill, Inc.
Motz , H. & Geiseler, J. (2001). Products of steel slags an opportunity to save natural resources. Waste
Management. Vol. 21, No. 3, (2001), pp. (285-293), ISSN 0956-053X
Drissen, P., Ehrenberg, A., Khn, M. & Mudersbach, D. (2009) Recent Development in Slag Treatment
and Dust Recycling. steel research international, Vol. 80, No. 10, (October 2009), pp. (737-745),
ISSN 1869-344X
Besga, G., Pinto, M., Rodrguez, M., Lpez, F. & Balczar, N. (1996). Agronomic and nutritional
effects of Linz-Donawitz slag application to two pastures in Northern Spain. Nutrient Cycling in
Agroecosystems, Vol. 46, No. 3, (1996), pp. (157-167), ISSN 1385-1314
Takahashi,T., Yabuta,K.(2002). New Application of Iron and Steelmaking Slag. NKK TECHNICAL
REPORT-JAPANESE EDITION, No. 87, (2002), pp.(43-48), ISSN 0915-0536
Negim, O., Eloifi, B., Mench, M., Bes, C., Gaste, H., Montelica-Heino, M. & Le Coustumer, P. (2010).
Effect of basic slag addition on soil properties, growth and leaf mineral composition of beans in
a Cu-contaminated soil. Journal Soil and Sediment Contamination, Vol. 19, No. 2, (2010), pp.
(174-187), ISSN 1532-0383
EVALUATION OF HAZARDOUS WASTE MANAGEMENT AT
PT. KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK
Rizki Apriliawati1 dan Moch Chaerul2
Program Studi Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha No. 10 Bandung 40132
1
rizkiapriliawati@gmail.com dan 2mchaerul2000@gmail.com

Abstract:
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk is a company that involved in steel manufacture. In its production
activity, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk can not avoid the formation of hazardous waste that could
adversely affect both human health and the environment. Hazardous waste management concept known
as the cradle to grave. Evaluation included the evaluation of technical management (labeling,
packaging, storage, transport, use, and processing) and non-technical management/ operations (license
management and documents). The method used are literature studies, interviews and direct observation
in the field. The types of hazardous waste produced are EAF dust, sludge, steel slag, catalyst, mill scale,
ferrous oxide, oil and lubricants, dust cloth, waste pickle liquor, fluorescent lamp and used packaging
chemicals. In terms of characteristics, seen from the calculation of the percentage, the most dominant
characteristic is a toxic waste (99.85%), followed by corrosive (0.13%), flammable (0.02%), reactive,
and infectious. Overall, hazardous waste management conducted by PT Krakatau Steel (Persero) Tbk
is still not good. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk need to increase its efforts for processing their
hazardous waste so that the danger level could be reduced.

Keywords: Hazardous Waste, Cradle to Grave, Hazardous Waste Management, Steel Manufacture.

Abstrak:
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur
baja. Di dalam kegiatan produksinya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tidak dapat menghindari
terbentuknya limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dapat memberikan dampak negatif,
baik bagi kesehatan manusia maupun bagi lingkungan. Konsep penanganan limbah B3 dikenal dengan
istilah cradle to grave. Evaluasi yang dilakukan meliputi evaluasi pengelolaan secara teknis
(pelabelan, pengemasan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahan) dan
pengelolaan non-teknis/ operasional (izin pengelolaan dan pengarsipan dokumen). Metode yang
dilakukan adalah studi literatur, wawancara, dan peninjauan langsung di lapangan. Jenis-jenis limbah
B3 yang dihasilkan antara lain debu EAF, sludge, steel slag, katalis, mill scale, ferro oxide, oli dan
pelumas bekas, majun, waste pickle liquor, lampu TL dan bekas kemasan bahan kimia. Dari segi
karakteristik, dilihat dari perhitungan presentase, karakteristik yang paling dominan adalah limbah
beracun (99,85%), diikuti dengan korosif (0,13%), mudah terbakar(0,02%), reaktif, dan infeksius.
Secara keseluruhan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk
masih kurang baik. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk perlu meningkatkan upaya-upaya pengolahan
yang dapat mengurangi tingkat bahaya dari limbah B3 tersebut.

Kata Kunci: Limbah B3, Cradle to Grave, Pengelolaan Limbah B3, Manufaktur Baja.

INTRODUCTION
In this globalization era, development in all fields increase in order to improve the welfare of
society, one through is industry that produces a wide variety of useful goods and services to support
human life. However it can not be denied, this activity has caused waste that would be harmful for
people and environment.
Waste generated from activities or industrial activities, can be hazardous and toxic waste, and can
also be non-hazardous and non-toxic waste. Wastes generated should be managed so it will not cause
harm and pollution to the environment. Hazardous waste handling procedures have been set in
Peraturan Pemerintah no. 101 tahun 2014 about Hazardous and Toxic Waste Management.
PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk is one of the world steel industry (word class) and the largest
steel industry in Indonesia. As one of the companies that involved in steel manufacture, PT. Krakatau
Steel produced many hazardous and toxic wastes such as dust, sludge, waste oils, steel slag, etc.
PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk not only do the manufacturing activities, it is also committed to
the health and safety of its employees and prioritizes the environmental protection. Environmental
management carried out by PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk, among others: liquid waste management,
air quality management, hazardous and non-hazardous waste management, occupational health and
safety monitoring, and other environmental monitoring. The whole thing has been mentioned above is
the authors On The Job Training background on "Hazardous Waste Management" at PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk.

EXISTING CONDITION
The types of hazardous waste produced include EAF dust, sludge, steel slag, catalyst, mill scale,
ferrous oxide, oil and lubricants, dust cloth, waste pickle liquor, fluorescent lamps and the former
chemical packing. License owned by PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk, among others Surat Keputusan
Walikota Cilegon nomor 658.31/Kep. 342-BLH/2012 on Hazardous Wastes and Toxic Storage
Permission for PT Krakatau Steel (Persero) Tbk and Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 131 Tahun 2011 on Utilization Permit of PT Krakatau Steel (Persero) Tbks Hazardous
Waste. Management done there include source handling, labeling, storage, transportation, utilization,
and processing can be seen in figures below.

Figure 1. Source handling

Figure 2. PT Krakatau Steels hazardous waste storages

Figure 3. Hazardous wastes transportations

Figure 4. Hazardous wastes processing

Generally the source handling activities done based on the type of waste produced. Handling is
intended so that the waste can be managed well while waiting for further management. Labeling used
consisted of hazardous waste labeling information and symbols. Waste then stored in the temporary
dumpster owned PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, amounting to 5 pieces, still based on the type of
waste stored. Transportation activity is divided into 2: transport from the source to the polls (temporary
dumpster) and the transport from the dumpster to the processor or beneficiaries. Both are performed by
licensed third parties involved with the company's cooperation. Transportation system do not have a
specific timetable. Utilization conducted consisting of recycle fines sponge waste with briquetting and
blocking method, the operation of the filter press unit at Reject Treatment Plant (RTP) in CRM factory,
recycle WPL waste using the Acid Regeneration Plant (ARP), and reuse drum packaging used to save
oil contaminated rags. Steel slag waste processing carried out by PT Purna Baja Harsco with two types
of processing methods, namely Metal Recovery Plant (MRP) and the Slag Atomizing Technology
(SAT). Waste manifest document archiving is done every three months with a copy of the documents
stored are yellow sheet (copy 2).

ANALYSIS AND DISCUSSION


Type of waste produced by PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, among others dust EAF, sludge, steel
slag, catalyst, mill scale, ferrous oxide, oil and lubricants, dust cloth, waste pickle liquor, fluorescent
lamps and the former chemical packing with the amount of waste The most dominant hazardous waste
produced is steel slag with a percentage of 68.16%. In terms of characteristics, the most dominant is the
toxic waste generated (99.85%).
In general, source handling activities (collection) has not been adjusted to the technical
requirements for hazardous waste facilities, for example, most of the source handling facilities is not
equipped with a protective roof that could potentially lead leaching occurs when it rains. As for
treatment in general, the predominant percentage of the hazardous waste produced by PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk period January - March 2015 only form of storage with a percentage of 99.2%. Waste
storaging performance period January-March 2015 amounted to 100%.
Labelling is only done when the waste has entered into TPS (in the source waste is not performed
labeling). Nonconformities encountered was labeling on vehicles based on Kep Dirjen Hubdat No.
725/AJ.302/DRJD/2004 as a symbol, sizes and materials has not met, yet the implementation for the
empty package labeling based on KepBapedal no. 05/1995 and generally labeling are not used in
accordance with the characteristics of the waste. In addition, they found also the oil leak on the
packaging used.
For storage, it is technically based on the type of waste storage facilities, construction of buildings
with roofs and fences to protect against the entry of rain water and sunlight are met. Complementary
facilities have also been met, such as a storage area equipped with monitoring wells, drainage channels
for leachate and guard posts equipped with fire extinguishing systems as well as emergency SOP
(emergencies equipment), placement of waste SOP and waste balance sheets SOP. Some mismatches
were found among them lack the coordinates of the waste on their license at TPS 2, there is no
description of the point coordinates in TPS 5, there is no separation facilities between the different
characteristics of waste at TPS 3, and the TPS 4 has not designed using floor slope and has not applying
the block storage systems based on Keputusan Bapedal No.01/Bapedal/09/1995. In general, drainage
system on TPS 4 leaf litter clogged causing these facilities can not be used ideally. Collection activities
using the facilities provided such as the tub or trash cans have not been applied effectively, we can still
find hazardous waste discarded mixed with non hazardous waste.
Carriage done without schedules and simply adjusted to the aesthetic means the collection and
storage of the waste. Currently, when the waste had crossed the line (too mounting) the production
coordinator will contact the carrier to carry the waste soon.
For the utilization, during a field survey, none of utilization activities being conducted by the
company. This is because the process is going on a lack of ideal production, so that the waste cycle
formation also does not take place normally, the utilization can not be done. Utilization ever undertaken
by PT Krakatau Steel (Persero) Tbk is steel slag recycling process used for road base in the PT Krakatau
Steel (Persero) Tbk plant site. Generally PT Krakatau Steel (Persero) Tbk still need to improve its
creativity, effort, and innovation in the utilization of waste generated so that the company does not only
depend on third parties only.
Processing activities by PT Purna Baja Harsco in regulations and meet the requirements of the
existing license. Operationally, the two methods used in the PT Purna Baja Harsco slag processing
waste lead very much dust and fluttering around the processing area. During the field survey we did not
see an attempt of minimizing the spread of dust in the work area done by PT Purna Baja Harsco like
watering work area regularly. Some workers also do not wear Personal Protective Equipment (PPE)
such as masks to avoid the dust exposure. Judging from the waste balance period April to June 2015,
the amount of waste management performance made only 0.97%. And in terms of waste storage time
limit based on PP no. 101 tahun 2014 Pasal 28b ayat (4) can not be concluded whether the storage
duration is compliant is a maximum of 365 days due to old waste storage mixed by the newly formed
waste storage.
Archiving is done neatly per quarter with parts that must be completed by the waste producers are
all filled. However, a copy of which is archived is yellow copy (copy 2), based on the literature such
copies should be stored by the relevant institutions, not by the waste producers. This indicates that the
hazardous wasete document flow applied in PT Krakatau Steel (Persero) Tbk is not appropriate, should
be checked and also plan a repair system.

CONCLUSSION
The types of hazardous waste produced include EAF dust, sludge, steel slag, catalyst, mill scale,
ferrous oxide, oil and lubricants, dust cloth, waste pickle liquor, fluorescent lamp and used packaging
chemicals. In terms of characteristics, seen from the calculation of the percentage, the most dominant
characteristic is a toxic waste (99.85%), followed by corrosive (0.13%), flammable (0.02%), reactive,
and infectious.
Hazardous waste management conducted by PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk include labeling,
packaging, storage, and utilization. Transportation activities become the third partys responsibility
(beneficiary and waste processors). End of pipe done by the third party, while PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk done the proactive effort. While the whole processing activities performed by third parties
who have been involved unlicensed KLH contract with PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk.
In general the hazardous waste management in PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk are still lack,
because the management done only in the form of storage without any effort to reduce the potential
danger of such waste. Some discrepancies are still encountered in the activities of labeling, packaging,
and storage. Those things are caused the importance of environmental management are not focused yet
by PT Krakatau Steel (Persero) Tbks employee. Operationally, there is also a mismatch in archieving
the hazardous waste document..
The processing of steel slag PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk by PT Purna Baja Harsco done
physically, divided into two treatment methods: Metal Recovery Plant (MRP) and the Slag Atomizing
Technology (SAT). MRP method is known as a conventional method for processing a simple, whereas
the SAT method is a processing method that utilizes atomizing process with products that are more
environmentally friendly.

RECOMMENDATION
For some suggestions that can be delivered as an evaluation to improve the hazardous waste
managemen in PT Krakatau Steel (Persero) Tbk in the future include:
1. Preferably, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk should improve the employeess knowledge about the
importance of environmental management, so it can increase self-awareness about the advantages
of applying environmental management in production process.
2. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk should control the waste storage and packaging better, so that
waste is always in good condition, can prevent leaks and spills, and does not interfere with the
working environment of employees.
3. Always clean and control the waste storage facilities systems, at a collection point in a factory or
at the hazardous waste storage, so things such as mixed waste and drainage system clogged by leaf
litter can be avoided.
4. Collection facilities at production unit such as used oil and WPL liquid waste should be equipped
with a roof in order to avoid the potential leaching when it rains and other potential dangers.
5. Always keep and improve the coordination between the company and all the vendors involved in
the hazardous waste management, so that the system can run smoothly. Particularly in the
transportation schedule.
6. Especially for processing activities by PT Purna Baja Harsco, the company should increase the
waste processing activities so that the amount of waste that has not managed can be suppressed. In
addition, it is necessary to control air pollution. While the SAT method is a processing method that
utilizes atomizing process with a more environmentally friendlu products.

REFERENCES
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Repblik Indonesia No. 85 Tahun 1999
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 02 Tahun 2008 tentang Pemanfaatan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-01/Bapedal/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-02/Bapedal/09/1995 tentang Dokumen Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun.
Keputusan Kepala Bapedal No.Kep-05/Bapedal/09/1995 tentang Simbol dan Label Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.
Keputusan Direktur Jenderal Hubungan Darat No. 725/AJ.302/DRJD/2004 tentang penyelenggaraan
pengangkutan bahan berbahaya dan beracun di jalan.
Damanhuri, Enri. 2010. Diktat Kuliah TL-3204 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun Edisi
Semester II 2009/2010. Penerbit ITB.
La Grega, Michael D. Hazardous Waste Management. Singapore: McGraw Hill, Inc.
Motz , H. & Geiseler, J. (2001). Products of steel slags an opportunity to save natural resources. Waste
Management. Vol. 21, No. 3, (2001), pp. (285-293), ISSN 0956-053X
Drissen, P., Ehrenberg, A., Khn, M. & Mudersbach, D. (2009) Recent Development in Slag Treatment
and Dust Recycling. steel research international, Vol. 80, No. 10, (October 2009), pp. (737-745),
ISSN 1869-344X
Besga, G., Pinto, M., Rodrguez, M., Lpez, F. & Balczar, N. (1996). Agronomic and nutritional
effects of Linz-Donawitz slag application to two pastures in Northern Spain. Nutrient Cycling in
Agroecosystems, Vol. 46, No. 3, (1996), pp. (157-167), ISSN 1385-1314
Takahashi,T., Yabuta,K.(2002). New Application of Iron and Steelmaking Slag. NKK TECHNICAL
REPORT-JAPANESE EDITION, No. 87, (2002), pp.(43-48), ISSN 0915-0536
Negim, O., Eloifi, B., Mench, M., Bes, C., Gaste, H., Montelica-Heino, M. & Le Coustumer, P. (2010).
Effect of basic slag addition on soil properties, growth and leaf mineral composition of beans in
a Cu-contaminated soil. Journal Soil and Sediment Contamination, Vol. 19, No. 2, (2010), pp.
(174-187), ISSN 1532-0383