Anda di halaman 1dari 11

PENANGANAN PASCAPANEN KANGKUNG

(Makalah Praktikum Teknologi Pascapanen)

Oleh
Kelompok 5

Lutfah Qurrota Aini 1414121131


M. Afif Hidayatullah 1414121132
Mei Sri Haryani 1414121146
Niko Fernando 1414121172

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakan

Kangkung merupakan salah satu sayuran yang telah dikenal dan dibudidayakan
secara luas di Indonesia, atau bahkan diseluruh dunia. Tanaman kangkung sangat
mudah dikenali, dengan ciri berupa perdu yang tumbuh tegak, batangnya tebal
berserat dan sukulen. Kangkung merupakan tanaman semusim dan berumur
pendek. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma,
Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika. Kangkung disebut
juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Kangkung selain
memiliki rasa yang enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi,
mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat
besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan (Sutarno, 1996).

Seorang pakar kesehatan Filipina Herminia de Guzman Ladion memasukkan


kangkung dalam kelompok tanaman obat, sebab berkhasiat untuk penyembuh
penyakit sembelit juga sebagai obat yang sedang diet. Selain itu, akar kangkung
berguna untuk obat penyakit wasir. Usaha budidaya tanaman kangkung di
Indonesia semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan pasar akan
sayur kangkung dari tahun ke tahun terus meningkat yang dikarenakan adanya
peningkatan variasi makanan dan usaha rumah tangga yang menggunakan sayur
kangkung sebagai bahan bakunya. Prospek pemasaran kangkung sekarang ini
sangat menjanjikan baik dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk
ekspor. Teknik budidaya hingga pascapanen juga akan mempengaruhi
pertumbuhan dan daya jual kangkung pada tingkatan pasar.
I.2 Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktikum ini, yaitu:


1. Mengetahui perbedaan cara penanganan pascapanen kangkung di tingkat
petani, pedagang dan supermarket.
2. Mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan selama pascapanen.
II. PEMBAHASAN

Semakin beragamnya permintaan konsumen terhadap suatu produk, membuat cara


pengemasan dan pemasaran produk menjadi beragam. Setiap cara pengemasan
dan tempat pemasaran suatu produk, terutama Produk hortikultura akan memiliki
range harga yang berbeda pula. Berikut ini perbedaan cara penanganan
pascapanen pada petani, pedagang pasar dan Supermarket.

II.1 Penanganan Pascapanen Kangkung di Tingkat Petani.

Survei mengenai penanganan pascapanen pada petani, kami lakukan di Desa Jati
Mulyo, Lampung Selatan. Proses pascapanen yang dilakukan oleh petani, yaitu:
1. Panen kangkung dilakukan pada tanaman yang telah berumur 30 hari, dengan
cara mencabut kangkung. Setelah di cabut, akar kangkung dibersihkan dengan
cara dicuci menggunakan air dan kangkung diletakkan pada tempat yang
teduh..
2. Setelah itu, kangkung diikat dengan menggunakan tali. Dalam satu ikatan tali
terdapat 20-40 batang kangkung. Selanjutnya kangkung di kumpulkan dan
digulung dengan menggunakan karung dan dijual pada pengepul atau pedagang
pasar. Harga jual kangkung ditingkat petani masih sangat bervariasi antara Rp
500,00-Rp 2.000,00.
3. Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah kegiatan pemenuhan terhadap
tindakan grading yang mempunyai tujuan untuk memberikan nilai lebih atau
harga lebih tinggi untuk kualitas yang lebih baik. Standar yang digunakan
untuk pemilahan/ kriteria dari masing-masing kualitas tergantung dari
permintaan pasar. Standardisasi merupakan ketentuan mengenai kualitas atau
kondisi komoditas berikut kemasannya yang dibuat untuk kelancaran
pemasaran. Oleh karena itu dapat dimulai dengan membiasakan bekerja dengan
menetapkan kriteria mutu yang akan diacu guna memenuhi kebutuhan pasarnya
(Bambang, 2002).

2.2 Penanganan Pascapanen Kangkung di Tingkat Pasar.

Penanganan pascapanen kangkung ditingkat pasar, dilakukan di Pasar Bambu


Kuning, Bandar Lampung. Pedagang di pasar tersebut menjual dagangannya
dengan meletakkan kangkung dan barang dagangan lainnya diatas terpal atau alas
lain. Kangkung hanya bertahan 2-3 hari setelah pedagang membelinya dari
petani. Terkadang pedagang memercikkan air diatas sayuran yang dijualnya
untuk menjaga kesegaran dari sayuran tersebut. Dengan begitu , jika dibiarkan
terlalu lama kangkung akan cepat rusak dan mudah layu. Sehingga menurunkan
kualitas dan harga jual pada kangkung tersebut. Harga jual kangkung di pasar
berkisar antara Rp 1.000,00- Rp 2.500,00.

2.3 Penanganan Pascapanen Kangkung di Tingkat Supermarket/Swalayan.

Penanganan pascapanen kangkung di Supermarket atau Swalayan lebih baik


dibandingkan dari petani dan pasar. Pada Supermarket kangkung dikemas dengan
baik menggunakan plastik, ditempatkan pada rak khusus yang terdapat
sambungan pipa paralon dan busa yang basah. Selain itu, suhu ruangan selalu
terkontrol. Hal ini lah yang menjaga agar kangkung tetap dalam kondisi baik dan
segar. Perlakuan yang baik juga berdampak pada harga jual kangkung tersebut.
Harga jual di Supermarket dapat mencapai Rp 6.000,00 untuk satu ikat kangkung
yang berisi sekitar 20-40 batang kangkung. Adapula di Swalayan lain, harganya
berkisar Rp 896,00 untuk satu ikat kecil kangkung yang berisi 15 batang
kangkung.

Dapat dilihat secara jelas bahwa perbedaan perilaku konsumen dan tempat
pemasaran menentukan harga jual bagi suatu produk. Semakin nyaman tempat
pemasarannya, maka akan semakin tinggi harga produk tersebut.
III. KESIMPULAN

Kesimpulan mengenai penanganan pascapaenn yang diperoleh dari pembahasan


diatas, yaitu:
1. Penanganan pascapanen di petani dan pasr masih termasuk dalam penanganan
secara sederhana, sehingga produk masih cepat rusak dan tidak bertahan lama.
2. Penanganan pascapanen di Supermarket/Swalayan sudah modern, dengan
menggunakan pengatur suhu ruangan untuk menjaga kesegaran buah dan sayur.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Cahyono, Ir. 2002. Teknik Budidaya dan Analisa Usahatani Kangkung.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sutarno, Hadi, 1996. Agribisnis Tanaman Hortikultura. PT. Penebar Swadaya.


Jakarta.
LAMPIRAN
Gambar 1. Lahan Kangkung di Desa Jati Mulyo

Gambar 2. Survei Penanganan Pascapanen di Pasar Bambu Kuning

Gambar 3. Penanganan Pascapanen di Suprmarket