Anda di halaman 1dari 16

STUDY KELAYAKAN USAHA KERIPIK NANAS

OLEH :
ANUGERAH DWI PUTRA
SANDI EKA PUTRA
TAUFIQ AL FAROZI
HERMANSYAH
RICKI MUSTAFA
JULFAN

DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Vonny S Johan, STP, MT

“Tugas ini dibuat untuk melengkapi nilai tugas individu”

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. latar belakang
Salah satu bentuk makanan olahan dari buah-buahan yang mempunyai
peluang pasar internasional adalah makanan kering. Permintaan akan makanan
kering dari buah-buahan terus meningkat karena masyarakat negara-negara maju
menyukai makanan sehat yang banyak mengandung serat (Syaefullah et al.
2002). Pada tahun
Salah satu makanan ringan adalah keripik, yang tergolong jenis crackers
,yaitu makanan yang bersifat kering, renyah, tahan lama, praktis, mudah dibawa
dan disimpan, serta dapat dinikmati kapan saja (Direktorat Jenderal Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian 2004). Pembu-atan keripik buah dapat dilakukan
dengan mesin penggoreng vakum. Buah digoreng pada suhu rendah dalam tabung
peng-goreng bertekanan rendah sehinggadihasilkan keripik buah yang renyah.
Kelebihan lain dari penggunaan mesin ini adalah aroma buah masih seperti
aslinya.
Keripik nanas adalah salah satu bentuk produk industri yang mengolah
buah segar menjadi keripik. Keripik merupakan makanan ringan yang sangat
digemari oleh masyarakat, karena mengingat rasanya yang nikmat dan gurih.
Keberadaan usaha kecil sangat berpengaruh dalam meningkatkan ekonomi
masyarakat lokal, karena dapat menyerap tenaga kerja, memberikan nilai tambah
pada buah-buahan dan dapat menjadi sumber pendapatan bagi pemilik usaha kecil
tersebut.
Investasi dalam industri pengolahan mempunyai beberapa tujuan, tetapi
yang menjadi tujuan utama adalah untuk mencapai laba yang maksimum guna
kelangsungan hidupnya. Laba yang maksimum akan dapat diwujudkan apabila
perusahaan mampu menekan biaya produksi dan operasi serendah mungkin,
menentukan harga jual sedemikian rupa, dan meningkatkan volume penjualan
sebesar mungkin (Supriyono, 1995)

2
1.2. Perumusan Masalah
Usaha Kripik Nanas ini belum mengetahui kondisi rugi laba dalam
kegiatan usaha yang dilakukannya. Berdasarkan keadaan ini, sehingga muncul
pertanyaan yaitu seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari usaha keripik
buah dan sayur ini dan bagaimana kondisi usaha serta apa permasalahan yang
dihadapi usaha ini. Untuk itu dilakukan perancangan industry kripik Nanas

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah\ini adalah:
1. Menganalisa keuntungan dan titik impas dari Usaha Keripik Nanas.
2. Mendeskripsikan permasalahan usaha pengolahan Keripik Nanas

3
BAB II
PERENCANAAN INDUSTRI
KRIPIK NANAS

2.1. Produk
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk
diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai
pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan (Tjiptono,
2002:95). Pada bagian ini menjelaskan yang dihasilkan. Perencanaan yang perlu
dilakukan menyangkut produk (output), terutama pada usaha manufaktur dan
industri pengolahan adalah:

a. Dimensi Produk
Dimensi produk berkenaan dengan sifat dan ciri-ciri produk yang meliputi
bentuk, ukuran, warna serta fungsinya. Produk yang berbahan baku buah ini
disajikan dalam bentuk keripik .

b. Nilai/Manfaat Produk
Produk keripik nanas yang ditawarkan memiliki manfaat yang positif bagi
kesehatan konsumen yang merupakan manfaat inti dari produk keripik buah.
Nanas yang diolah memiliki banyak kandungan gizi yang bermanfaat. Produk
keripik Nanas dan memiliki Potential Benefit (manfaat potensial) seperti menjaga
lingkungan dan memperdulikan kesehatan pelanggan, Selain itu kandungan gizi

4
tetap terjaga keripik buah yang diproses dengan alat penggoreng sistem hampa
tidak jauh berbeda dengan keadaan buah segar, karena diproses dengan
menggunakan suhu rendah

c. Keunggulan Produk
Keunggulan kompetitif produk kami antara lain :
1. Rasa yang sangat renyah dan gurih. .
2. Kesegaran dari buah yang masih terasa.
3. Harga terjangkau dan sesuai dengan kantong konsumen.

2.2. Pemasaran
Pendapatan diperoleh dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dari usaha
tersebut. Oleh karena itu di dalam agroindustri, pemasaran produk merupakan hal
utama yang harus diperhatikan oleh setiap pemilik usaha, agar diperoleh
pendapatan optimal sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam pemasaran produk yaitu: produk, harga, distribusi, dan
promosi

a. Produk
Produk adalah apa saja yang dapat ditawarkan ke dalam pasar
untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk Keripik Nenas yang di
pasarkan harus memiliki mutu yang baik, & kemasan yang menarik
sehingga dapat menarik minat konsumen untuk membeli.

b. Harga
Harga jual untuk per 250 gram nya dijual dengan harga Rp 25.000,
dan per 100 gram nya dijual dengan harga Rp 10.000 untuk kemasan
dalam plastik yang telah diberi label. Sedangkan yang dijual dalam
bentuk kemasan kotak untuk berat 100 gram dijual dengan harga Rp
15.000/kotak, dan berat 250 gram Rp 30.000/kotak. Jika dijual dalam

5
bentuk curah kepada agroindustri maka harga jual keripik nenas Rp
65.000 – 75.000/ kg.

c. Distribusi
Target pasar memberikan prospek yang bagus dapat memasarkan
produk keripik nanas ke beberapa tempat misalnya saja ditoko, di
koperasi-koperasi, bahkan dapat dipasarkan di supermarket-
supermarket jika sudah memiliki izin usaha. Setiap agroindustri harus
memiliki koneksi terhadap pedagang pengecer/toko untuk memasarkan
produknya. Selain dijual di toko produk juga dipasarkan secara
langsung.

d. Promosi
Untuk promosi produk, produk dapat diiklankan di internet serta
dipromosikan dari pedagang pengecer/toko dan juga dapat
dipromosikan melaluispanduk yang disebarkan dibeberapa daerah.
Dengan adanya distribusi ke pengecer/toko dan iklan menggunakan
internet maka promosi untuk keripik nenas dapat terbantu. Hal ini
bermanfaat memperkenalkan keripik nenas kemasyarakat luas sehingga
dapat menarik konsumen untuk mencoba dan membeli produk keripik
nenas.

e. Kendala Pemasaran
Kendala dari pemasaran biasanya dipengaruhi oleh permintaan
pasar dan selera konsumen yang selalu berubah-ubah.

f. Segmen pasar
a. Distributor/toko kue dan toko keripik.
b. Pasar modern.

6
2.3. Penentuan Lokasi Pabrik
Penentuan lokasi pabrik merupakan suatu hal penting yang perlu
diperhatikan dalam pendirian suatu industri. Pemilihan lokasi yang tepat akan
berpengaruh terhadap kelangsungan dan efisiensi perusahaan. Beberapa hal
yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pabrik adalah
ketersediaan bahan mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air,
pasokan tenaga kerja, dan fasilitas transportasi (Husnan dan Muhammad, 2005).
Suatu industri yang lokasinya tidak tepat, akan menghadapi persoalan
yang terus menerus dan tidak terselesaikan, terutama dalam menghadapi
saingan sehingga kelangsungan hidup dan stabilitas industri tersebut akan
selalu mengalami kesulitan. Oleh sebab itu, untuk memperoleh keputusan
yang teapat dalam penentuan lokasi, maka perlu dilakukan pengkajian
berbagai faktor yang mempengaruhinya. Lokasi industri yang tepat dapat
melayani proses-proses baru, perkembangan teknologi, dan dapat menampung
kemungkinan-kemungkinan perluasan industri.
Untuk mendukung proses pendistribusian bahan baku dan produk
dibutuhkan infrastruktur yang mendukung. Diperlukan kedekatan dengan
akses pasar akan mempermudah kegiatan pemasaran produk dan mampu
meringankan biaya distribusi produk. membutuhkan infrastruktur yang
mendukung yaitu kebutuhan tenaga listrik harus memadai, pasokan air
memadai dengan kualitas air masih cukup baik.
Calon lokasi pabrik keripik nanas ditetapkan oleh calon pendiri pabrik
yaitu di kabupaten Kampar. pemilihan lokasi di Kampar dilakukan pengkajian
beberapa faktor yang mempengaruhi. Lokasi ini dipilih karna dekat dengan bahan
baku dan dekat dengan kota sehingga pemasaran tidak memerlukan biaya mahal.

2.4. Aspek Produksi


a. Proses Pengolahan
Proses pengolahan merupakan perubahan input menjadi suatu bentuk output
atau hasil, dalam memproduksi suatu barang diperlukan suatu teknologi atau
metode untuk pengolahan bahan baku menjadi barang jadi (Soekartawi, 2001).
Waktu yang diperlukan untuk satu kali proses pengolahan ± 4 jam, rata-rata

7
produksi keripik nenas setiap hari nya sekitar 25 kg dengan masa kerja 25
hari/bulan. untuk satu kali proses penggorengan dibutuhkan waktu ± 2,5 jam.

1. Pengupasan
Nenas yang sudah cukup tua (matang) dikupas kulitnya dengan
menggunakan pisau yang tajam dan alas papan telenan. Tebal kulit
dibuang sekitar 1 cm, ujung buah dibuang sekitar 1,5 cm dan pangkal
buah sekitar 1 cm, dalam proses pengupasan termasuk proses pembunagn
mata nenas.

2. Pembuangan Empulur
Pembuangan empulur dengan menggunakan pipa tipis dengan diameter
0,75 inch, panjang 50 cm, dengan cara pipa ditusukkan pada empulur
dari pangkal hingga tembus ujung buag nenas, dalam pipa terdapat kayu
kecil panjang 75 cm guna mendorong empulur yang tertusuk hingga
keluar, sehingga nenas tidak memiliki empulur.

3. Perajangan
Setelah nenas dikupas dan dibuang empulurnya selesai kemudian nenas
dirajang atau dipotong-potong dengan ketebalan lebih kurang 2,5-5 cm
dengan menggunakan pisau, saat perajangan buah yang dipotong tersebut
ditampung dengan baskom berisi air yang telah diberi garam dan soda.

4. Pemasakan
Sebelum proses ini dilakukan terlebih dahulu mesin dipanaskan, kegiatan
ini merupakan bagian dari proses pembuatan keripik nenas dengan
menggunakan bahan bakar gas dan bak pendingin yang di isi aair dengan
ukuran panjang 2 m, lebar 1,5 m, tinggi 80 cm. Dalam proses ini telah
diatur dengan suhu optimal yaitu 84 °C. Pemasakan atau penggorengan
keripik nenas dilakukan selama kurang lebih 2,5 jam atau 150 menit.

8
5. Penirisan
Setelah keripik nenas dimasak, dilakukan penirisan keripik guna
mengurangi kadar minyak yang digunakan alat penirisan sentrifugal yang
diputar dengan mesin dinamo dan menggunakan bantuan tenaga listrik.
6. Pengemasan
Keripik nenas di kemas dengan menggunakan kemasan kotak ataupun
plastic kaca yang telah di beri label, dengan berat bervariasi mulai dari
100 gram dan 250 gram dengan cara penimbangan . Kemudian plastik
tersebut di press dengan menggunakan alat press. Tahap dalam proses
pembuatan keripik nenas sampai pengemasan dalam satu kali proses
produksi dilakukan ± 4 jam.

b. Mesin dan Alat


Tabel 1. Peralatan pembuatan keripik nanas
Jumlah Jumlah
Nama Mesin/Peralatan Merk Harga
Unit Harga
1. Kompor Gas Rinnai 1 300.000 300.000
2. Tabung Gas LPG 3kg 1 100.000 100.000
3. Mesin Vaccum Frying Maksindo 1 24.000.00 24.000.000
0
4. Pisau Kiwi 2 16.000 32.000
5. Kuali Maxim 1 50.000 50.000
6. Baskom Kiramas 1 10.000 10.000
7. Timbangan Lion Star 1 30.000 30.000
8. Saringan Lion Star 1 8.000 8.000
5. Kuali Maxim 1 50.000 50.000
6. Baskom Kiramas 1 10.000 10.000
7. Timbangan Lion Star 1 30.000 30.000
8. Saringan Lion Star 1 8.000 8.000
9. Alat pres plastic 1 4.000.000 4.000.000

10. Alat pengupas 1 200.000 200.000

11. Wadah plastic 5 25.000 125.000

Total Pembelian Mesin/Peralatan Rp 28.855.000

9
Pada proses produksi kripik nanas diatas diperlukan beberapa mesin dan
peralatan yang mendukung proses produksi. Alat-alat yang digunakan pada
proses produksi pembuatan kripik nanas adalah Mesin Vaccum Frying.
Kegunaan alat ini dipergunakan untuk menggoreng/ mengolah berbagai bahan
(aneka buah) menjadi keripik secara vakum (tekanan tinggi) sehingga hasil olahan
matang merata. Alat ini dilengkapi sentrifuse yang berfungsi untuk mengurangi
kadar minyak hasil gorengan/ olahan.
Baik untuk perencanaan pembelian ataupun sewa, daftar mesin dan
peralatan juga harus dirinci sedetail mungkin proyeksinya. Perencanaan ini tetap
selalu berkaitan dengan kapasitas dan kompetensi teknis Wirausahawan.

Tabel 2. Mesin Penggoreng Vakum Produksi

Uraian Keterangan
Kapasitas (kg masukan/proses) 10 – 15
Lama proses penggorengan (mnt) 60 – 80
Suhu penggorengan (0C) 75 – 80
Tekanan vakum (mm Hg) -640 s/d –740
Jenis pembangkit vakum Pompa vakum
Penggerak pompa vakum Motor listrik 1 HP

10
Sistem pendingin Sirkulasi air
Sistem pengaduk penggoreng Mekanis
Kontrol suhu Otomatis
Bahan bakar LPG dengan kontrol suhu
Volume minyak goreng (ltr) 40 – 50
Kebutuhan LPG (kg/jam) 0,5 – 0,6
Kebutuhan daya (watt)
Pompa vakum 750
Pompa sirkulasi 125
Pengaduk 185
Spiner 350
Air pendingin (ltr) 250
Dimensi (p x l x t) cm 190 x 100 x 160
Kelengkapan Pengatur minyak, buku manual

Sistim kerja mesin vacuum frying (pengering buah) sebagai berikut.


Buah / sayur digoreng pada mesin vacuum fryer, dengan medium minyak goreng.
Pemanasan minyak goreng disetting pada suhu rendah (80-85 derajat celcius).
Pemanasan ini menggunakan bahan bakar LPG. Untuk mempercepat
penggorengan, maka dilakukan penyedotan kandungan air pada buah dengan cara
pemvakuman. Pemvakuman ini menggunakan pompa khusus, dengan tenaga
listrik. Suhu penggorengan vakum frying terkontrol otomatis (80-85 derajat
celcius). Suhu yang terjaga rendah ini, menjadikan produk tidak gosong, sehingga
warna sesuai aslinya.
c. Sarana Penunjang
Instalasi sarana penunjang berkaitan dengan tata letak (lay-out) yang
termasuk dalam anggaran investasi. Pemasangan sarana penunjang ini meliputi
listrik, air, telepon, internet, dan lain-lain.

2.5. Analisis Keuangan


Salah satu komponen yang mendukung pembangunan nasional adalah
tersedianya lembaga intermediasi yang mempunyai fungsi menghimpun dana dari
masyarakat dan menyalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lainnya. Lembaga intermediasi yang ada dibedakan dalam 3
kategori yakni :

11
a. Berbentuk Bank tunduk pada Undang-Undang Pokok Perbankan
b. Berbentuk Koperasi Simpan Pinjam tunduk pada Undang-Undang Koperasi
c. Lembaga Keuangan Mikro lainnya yang belum diatur undang-undang
Lembaga keuangan mikro yang membantu mengembangkan iklim
wirausaha di Indonesia diatur dalam Surat Edaran Menteri Keuangan No. SE-
31/MK/2000 tanggal 5 Mei 2000 tentang Pelaksanaan Program PUKK. Dalam hal
ini Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi mengacu kepada Surat Keputusan
Menteri Keuangan No.316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 yang
menggantikan Surat Keputusan Menteri BUMN/Kepala Badan Pembina BUMN
No. Kep.216/M-PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999. Sumber pendanaan
dari Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) berasal dari
penyisihan laba BUMN termasuk saldo dana Pembinaan Usaha Kecil dan
Koperasi (PUKK) tahun-tahun sebelumnya yang merupakan sumber pendanaan
utama dalam merealisir terwujudnya pemerataan kehidupan perekonomian
masyarakat melalui kemitraan dengan para pengusaha kecil dan koperasi serta
lingkungan masyarakat sekitarnya.
Pelaksanaan Program Pembinaan Usaha Kecil, Koperasi (PUKK) dan
Bina Lingkungan dilaksanakan di dalam lingkup masyarakat yang bertujuan untuk
mendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi rakyat, melalui pemerataan di
sektor ekonomi dimana anggota masyarakat golongan pengusaha kecil dan
koperasi di beri kesempatan untuk melakukan perluasan usahanya, berdasarkan
bantuan pinjaman untuk modal kerja / pinjaman lunak yang berasal dari
penyisihan laba BUMN. Namun untuk bisnis keripik buah dan keripik sayur ini,
kami menggunakan dana dari kami sendiri, agar tanggung jawab dan pembagian
hasil nantinya jauh lebih mudah, adapun bila membutuhkan pengembangan usaha,
salah satu cara pendanaan yang tertera diatas bisa menjadi bahan pertimbangan
kami.
a. Proyeksi Keuangan
Aspek finansial dari proposal bisnis dapat memperlihatkan potensi dana
yang dimiliki, kebutuhan dana eksternal, perhitungan kelayakan usaha, termasuk
di dalamnya 3 performa laporan keuangan: neraca, rugi-laba, dan cash flow.

12
Secara ringkas, dapat diberikan format sederhana perhitungan kelayakan usaha
secara finansial sebagai berikut:

Berikut analisa usaha bisnis makanan ringan keripik buah dan sayur :
Investasi Rp 28.855.000
Berikut ini adalah biaya variabel :
 Bahan baku Rp 1.000.000
 Bahan pelengkap untuk rasa dan aroma                         Rp 500.000
 Penyusutan mesin pengering 1/48 x Rp 20.000.000       Rp 418.000
 Penyusutan alat pengupas 1/48 x Rp 200.000               Rp 4.180
 Penyusutan wadah plastic 1/48 x Rp 125.000                Rp 2.600
 Penyusutan alat press plastic 1/48 x Rp 4.000.000          Rp 83.000
 Promosi                                                                      Rp 200.000
 Plastik kemasan                                                             Rp 200.000
 Kotak kemasan Rp 400.000
 Total Rp 2.807.780

Biaya tetap :
 Gaji 6 pegawai Rp 3.600.000
 Biaya Telpon                                                             Rp 100.000
 Biaya Listrik Rp 500.000
 Biaya Air Rp 200.000
 Biaya Internet Rp 250.000
 Sewa Tempat Rp 10.000.000/tahun
 Total Rp 14.650.000

Total Biaya Operasional : Rp 2.807.780 + Rp 14.650.000 = Rp 17.457.780

b. Penghasilan
Jika perhari terjual 25 bungkus (100 g kemasan plastik), 15 bungkus (250
g kemasan plastik), 15 bungkus (100 g kemasan kotak) dan 10 bungkus (250 g
kemasan kotak), maka omzet perbulan yang di peroleh adalah :

13
20 bungkus (100 g kemasan plastik)
20 bungkus @ Rp 10.000          = 20 x Rp 10.000 x 30 hari
= Rp 6.000.000

10 bungkus (250 g kemasan plastik)


10 bungkus @ Rp 25.000          = 10 x Rp 25.000 x 30 hari
= Rp 7.500.000

15 bungkus (100 g kemasan kotak)


15 bungkus @ Rp 15.000          = 15 x Rp 15.000 x 30 hari
= Rp 6.750.000

10 bungkus (250 g kemasan kotak),


10 bungkus @ Rp 30.000          = 10 x Rp 30.000 x 30 hari
= Rp 9.000.000

Keuntungan     = Total penerimaan – total biaya operasional


= Rp 29.250.000 – Rp 17.457.780
= Rp 11.792.220

Nilai pengembalian modal (BEP): investasi / keuntungan x 1 bulan


= Rp 28.855.000 /  Rp 11.792.220 x 1 bulan
= Rp 2,4 Bulan

RC rasio : R/C = TR/TC


R/C = Rp 29.250.000/17.457.780 = 1,67
Nilai RC Rasio >1 (1,67) maka uaha ini layak untuk dilakukan

2.6. Analisis Resiko Usaha


a. Analisis Resiko Usaha

14
Menggambarkan hal-hal yang mungkin mengganggu pelaksanaan investasi dan
pengembalian pinjaman.
o Adanya perubahan selera pasar yang kemungkinan akan terjadi.
o Kenaikan harga bahan baku diatas 25%
o Kebijakan pemerintah yang sewaktu-waktu akan berubah.
o Resiko yang dihadapi ketika perekonomian tidak stabil adalah akan
terganggunya produktivitas yang akan dihasilkan.
o Adanya persaingan dari pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari
usaha ini.
o Kenaikan upah tenaga kerja sebesar 30%
o Penurunan Daya Beli Masyarakat
o Kerusakan mesin – mesin Peralatan

b. Antisipasi Resiko Usaha


Menggambarkan strategi / kegiatan yang dilakukan dalam mengantisipasi dan
meminimalkan resiko usaha.
o Pembelian stock bahan baku dan bahan penolong.
o Membuat kontrak kerja dengan tenaga kerja.
o Menyediakan fasilitas pendukung untuk pekerja agar tetap loyal.
o Memperluas saluran distribusi pemasaran.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari proposal bisnis ini yaitu Produk keripik nanas yang
ditawarkan memiliki manfaat yang positif bagi kesehatan konsumen yang
merupakan manfaat inti dari produk keripik buah. Nanas yang diolah memiliki
banyak kandungan gizi yang bermanfaat. Produk keripik Nanas dan memiliki
banyak Potential Benefit (manfaat potensial). Salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam pemasaran produk yaitu: produk, harga, distribusi, dan

15
promosi, Kendala pemasaran dan Segmen Pasar. Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pabrik adalah ketersediaan bahan
mentah, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, pasokan tenaga kerja,
dan fasilitas transportasi.
Investasi dari industri Keripik Nanas ini yaitu berjumlah Rp 28.855.000.
Total Biaya Variabelny yaitu Rp 2.807.780 dan total biaya tetap berjumlah Rp
14.650.000. Total jumlah biaya operasional adalah Rp 17.457.780. Total
keuntungan perbulan berjumlah Rp 11.792.220. Nilai pengembalian modal (BEP)
yaitu 2,4 Bulan dan RC Rasio yaitu 1,67, RC Rasio >1 (1,67) maka usaha ini
layak.

3.2. Saran
Saran dari para pembaca sangat bermanfaat dikarenakan masih banyak
kesalahan-kesalahan yang terdapat pada proposal ini sehingga nantinya proposal
ini dapat menjadi lebih baik lagi.

16