Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN (KONSERVASI

KEANEKARAGAMAN HAYATI)

BAB I

PENDAHULUAN

Banyak spesies telah berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. Hal ini
dapat ketahui melalui catatan fosil. Tetapi, sekarang ini spesies menjadi punah dengan
laju yang lebih tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir
keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa geologi yang lalu spesies
yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang mengisi celah atau
ruang yang ditinggalkan. Pada saat sekarang, hal ini tidak akan mungkin terjadi karena
banyak habitat telah hilang.
Kerusakan hutan telah meningkatkan emisi karbon hampir 20 %. Ini sangat
signifikan karena karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca yang
berimplikasi pada kecenderungan pemanasan global. Salju dan penutupan es telah
menurun, suhu lautan dalam telah meningkat dan level permukaan lautan meningkat
100-200 mm selama abad yang terakhir. Bila laju yang sekarang berlanjut, para pakar
memprediksi bumi secara rata-rata 1oC akan lebih panas menjelang tahun 2025.
Peningkatan permukaan air laut dapat menenggelamkan banyak wilayah. Kondisi cuaca
yang ekstrim yang menyebabkan kekeringan, banjir dan taufan, serta distribusi
organisme penyebab penyakit diprediksinya dapat terjadi.
Hutan dapat mempengaruhi pola curah hujan melalui transpirasi dan melindungi
daerah aliran sungai. Deforestasi menyebabkan penurunan curah hujan dan perubahan
pola distribusinya. Ini juga menyebabkan erosi dan banjir. Apa yang disampaikan di atas
hanya beberapa dampak ekologis dari deforestasi, yang dampaknya berpengaruh
langsung pada manusia. Bencana alam seperti banjir, dan kebakaran hutan yang secara
langsung maupun tidak langsung disebabkan kegiatan manusia, semuanya memberikan
konsekuensi ekonomi serius pada wilayah yang terkena. Biaya untuk mengatasinya bisa
menelas ratusan juta rupiah, termasuk kesengsaraan manusian yang terkena. Erosi dan
terbentuknya gurun karena deforestasi menurunkan kemampuan masyarakat setempat
untuk menanam tanaman dan memberi makan mereka sendiri.
1.1 Latar Belakang
Di lingkungan sekitar kita, kita dapat menemui berbagai jenis makhluk hidup.
Berbagai jenis hewan misalnya ayam, kucing, serangga, dan sebagainya, dan berbagai
jenis tumbuhan misalnya mangga, rerumputan, jambu, pisang, dan masih banyak lagi
jenis tumbuhan di sekitar kita. Masing-masing makhluk hidup memiliki ciri tersendiri
sehingga terbentuklah keanekaragaman makhluk hidup yang disebut dengan
keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Di berbagai lingkungan, kita dapat menjumpai keanekaragaman makhluk hidup
yang berbeda-beda. Keanekaragaman itu meliputi berbagai variasi bentuk, warna, dan
sifat-sifat lain dari makhluk hidup. Sedangkan di dalam spesies yang sama terdapat
keseragaman. Setiap lingkungan memiliki keanekaragaman hayati masing-masing.
Indonesia adalah negara yang termasuk memiliki tingkat keanekaragaman yang
tinggi. Taksiran jumlah utama spesies sebagai berikut. Hewan menyusui sekitar 300
spesies, burung 7.500 spesies, reptil 2.000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies,
tumbuhan paku-pakuan 1.250 spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800, jamur
72.000 spesies, serta bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Dari data yang telah
disebutkan, itu membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia sangatlah tinggi.
Ekploitasi sumbedaya hutan yang tidak bijaksana pada akhirnya juga berakhir
dengan kehancuran industri hasil hutan. Bila metode lestari yang dipergunakan, areal
yang dipanenan ditanami kembali, maka ini bukan merupakan substitusi untuk hutan
yang telah dipanen. Hutan alam mungkin memerlukan ratusan tahun untuk berkembang
menjadi sistem yang rumit yang mengandung banyak spesies yang saling tergantung
satu sama lain. Pada tegakan dengan pohon-pohon yang ditanam murni, lapisan
permukaan tanah dan tumbuhan bawahnya diupayakan relatif bersih. Pohon-pohon
muda akan mendukung sebagian kecil spesies asli yang telah ada sebelumnya. Pohon-
pohon hutan hujan tropis perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat dipanen dan tidak
dapat digantikan dengan cepat; demikian juga komunitasnya yang kompleks juga juga
tidak mudah digantikan bila rusak.
Kehilangan keanekaragaman hayati secara umum juga berarti bahwa spesies
yang memiliki potensi ekonomi dan sosial mungkin hilang sebelum mereka ditemukan.
Sumberdaya obat-obatan dan bahan kimia yang bermanfaat yang dikandung oleh
spesies liar mungkin hilang untuk selamanya. Kekayaan spesies yang terdapat pada
hutan hujan tropis mungkin mengandung bahan kimia dan obat-obatan yang berguna.
Banyak spesies lautan mempertahankan dirinya secara kimiawi dan ini merupakan
sumber bahan obat-obatan yang penting.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah konservasi keanekaragaman hayati ini adalah:
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan.
2. Menambah wawasan kita dan pembaca akan keanekaragaman hayati dan manfaatnya
bagi kelangsungan hidup manusia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kawasan konservasi merupakan salah satu cara yang ditempuh pemerintah


untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya dari kepunahan.
Pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi ditujukan untuk mengusahakan
kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Oleh
karenanya keberadaan fungsi-fungsi keanekaragaman hayati tersebut sangatlah penting.
Sampai saat ini, sejumlah kawasan konservasi telah ditetapkan yang jumlahnya
mencapai 28,166,580.30 ha (mencakup 237 Cagar Alam, 77 Suaka Marga Satwa, 50
Taman Nasional, 119 Taman Wisata Alam, 21 Taman Hutan Raya, 15 Taman Buru) di
seluruh Indonesia ( Anonim, 2006).
Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, kewenangan konservasi
masih ada di tangan pemerintah pusat, padahal ada banyak inisiatif di tingkat daerah
mengenai pengelolaan kawasan konservasi yang belum terakomodir oleh peraturan
pusat. Hal ini menjadi pertanyaan, sejauh mana masyarakat memberikan masukan bagi
peraturan dipusat terkait dengan pengelolaan kawasan konservasi (Angi, 2005).
Kawasan konservasi dapat memberikan banyak kontribusi bagi pengembangan
wilayah, dengan menarik wisatawan ke wilayah pedesaan. Pengembangan pariwisata di
dalam dan di sekitar kawasan konservasi juga merupakan salah satu cara terbaik untuk
mendatangkan keuntungan ekonomi bagi kawasan terpencil, dengan cara menyediakan
kesempatan kerja setempat, merangsang pasar setempat, memperbaiki prasarana
angkutan dan komunikasi (MacKinnon et al., 1986 ).

2.1 Kawasan Konservasi


A. Pengertian
Menurut Undang undang nomor 41 tahun 1999 kawasan konservasi adalah
kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi pokok sebagai kawasan
tempat pelestarian keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Kawasan
konservasi ini terdiri dari:
Kawasan Hutan Suaka Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai
fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya,
yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. HSA dibedakan lagi
atas Cagar Alam dan Suaka Margasatwa.
Kawasan Hutan Pelestarian Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. KHPA dibedakan atas Taman Nasional,
Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.
Taman Buru : kawasan hutan konservasi yang diperuntukkan bagi kepentingan wisata
buru.
Sedangkan dalam ketentuan Undang - undang No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kita mengenal mengenai
kawasan konservasi dan klasifikasinya sebagai berikut:
1. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan
maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai
wilayah sistem penyangga kehidupan, yang mencakup:
a) Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya
mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang
perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.
b) Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas
berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan
hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.
2. Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan
maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara
lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, yang mencakup:
a. Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
b. Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama
untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.
c. Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi
tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli,
yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi alam.
Kriteria penetapan Kawasan Taman nasional (Anonim, 2011) antara lain:

Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin


kelangsungan proses ekologis secara alami;
Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan
maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami;
Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;
Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai
pariwisata alam;
Merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam Zona Inti, Zona Pemanfaatan,
Zona Rimba dan Zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi
kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka
mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat
ditetapkan sebagai zona tersendiri.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Umum
3.1.1 Pengertian Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (biodiversity) adalah suatu istilah
pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat
dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies
tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi
dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai
kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu.
Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis.
Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi secara merata di bumi; wilayah tropis
memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah keanekaragaman hayati
terus menurun jika semakin jauh dari ekuator. Keanekaragaman hayati yang ditemukan
di bumi adalah hasil dari miliaran tahun proses evolusi. Asal muasal kehidupan belum
diketahui secara pasti dalam sains. Hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, kehidupan
di bumi hanya berupa archaea, bakteri, protozoa, dan organisme uniseluler lainnya
sebelum organisme multiseluler muncul dan menyebabkan ledakan keanekaragaman
hayati yang begitu cepat, namun secara periodik dan eventual juga terjadi kepunahan
secara besar-besaran akibat aktivitas bumi, iklim, dan luar angkasa.
Konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversitas sudah menjadi
kesepakatan internasional. Objek keanekaragaman hayati yang dilindungi terutama
kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan jenis hewan (fauna) serta
mikroorganisme misalnya bakteri dan jamur. Perlu diingat bahwa yang termasuk flora
tidak hanya tumbuhan yang berbunga yang sehari-hari kita lihat tetapi juga lumut dan
paku-pakuan. Demikian pula dengan fauna, tidak saja mencakup binatang mamalia
tetapi juga ikan, burung, dan serangga.
Tempat perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia telah diresmikan oleh
pemerintah. Lokasi perlindungan tersebut misalnya berupa Taman Nasional, Cagar
Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung,
dan Kebun Raya. Tempat-tempat tersebut memiliki makna yang berbeda-beda meskipun
fungsinya sama yaitu untuk tujuan konservasi.
Keanekaragaman disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan atau
genetik dan faktor lingkungan. Faktor keturunan disebabkan oleh adanya gen yang akan
membawa sifat dasar atau sifat bawaan. Sifat bawaan ini diwariskan turun temurun dari
induk kepada keturunannya. Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak
tampak) karena faktor lingkungan. Jika faltor bawaan sama tetapi lingkungannya
berbeda, mengakibatkan sifat yang tampak menjadi berbeda. Jadi, terdapat interaksi
antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Karena adanya dua faktor tersebut,
maka muncullah keanekaragaman hayati.

3.1.2 Keanekaragaman Hayati di Indonesia


Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki keanekaragaman
hayati yang tinggi. Dua negara lainnya adalah Brasil dan Zaire. Tetapi dibandingkan
dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah
di samping memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki
areal tipe indo-malaya yang luas, juga tipe oriental, australia, dan peralihannya. Selain
itu, di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta spesies endemik.
Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati
yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim
kutub). Keanekaragaman tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan
tropik. Jika di hutan iklim sedang dijumpai satu atau dua jenis pohon, maka di areal
yang sama di dalam hutan hujan tropik memiliki keanekaragaman hayati sekitar 300
kali lebih besar dibandingkan dengan hutan iklim sedang.

Di dalam hutan hujan tropik terdapat berbagai jenis tumbuhan (flora) dan fauna
yang belum dimanfaatkan, atau masih liar. Di dalam tubuh hewan dan tumbuhan itu
tersimpan sifat-sifat unggul, yang mungkin dapat dimanfaatkan di masa mendatang.
Sifat-sifat unggul itu misalnya tumbuhan yang tahan penyakit, tahan kekeringan, dan
tahan terhadap kadar garam yang tinggi. Ada pula yang memiliki sifat menghasilkan
bahan kimia beracun. Jadi, di dalam dunia hewan dan tumbuhan, baik yang sudah
dibudidayakan maupun belum, terdapat sifat-sifat unggul yang perlu dilestarikan.
3.1.3 Keanekaragaman Hayati Dunia
Kehadiran makhluk hidup ditentukan oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan
dapat dibedakan sebagai kondisi dan sumber daya. Kondisi adalah suatu faktor yang
besarannya dapat diukur dan tidak habis jika digunakan oleh organisme. Contoh kondisi
adalah suhu, intensitas cahaya, curah hujan, dan radiasi matahari. Sedangkan sumber
daya adalah faktor lingkungan yang habis ketersediaanya bila sudah digunakan,
misalnya makanan dan ruang (tempat tinggal).
Matahari adalah sumber energi utama untuk kehidupan di bumi. Jumlah sinar
matahari yang diterima oleh permukaan bumi menentukan penyebaran makhluk hidup.
Karena permukaan bumi bulat maka setiap tempat di permukaan bumi mendapatkan
sinar matahari dengan jumlah yang berbeda-beda. Akibatnya suhu di berbagai tempat di
permukaan bumi berbeda-beda. Berdasarkan letak terhadap garis lintang, maka bumi
dibagi dalam beberapa daerah iklim sebagai berikut.
a. Daerah tropik berada di antara 23,50 LU dan 23,50 LS. Daerah ini hanya memiliki
dua musim.
b. Daerah iklim sedang (subtropik) berada di antara 23,50 dan 660. Daerah ini
memiliki empat musim, yaitu panas, gugur, seni, dan dingin (salju).
c. Daerah kutub (artik) berada pada garis lintang lebih dari 660.
d. Daerah peralihan antara subtropik dan kutub (subartik).
Faktor lingkungan penting yang mempengaruhi kehadiran dan penyebaran
oraganisme adalah suhu. Variasi suhu lingkungan menentuakn proses kehidupan,
penyebaran dan kelimpahan organisme. Variasi suhu lingkungan alami dapat bersifat
siklik (misalnya musiman, harian).
Hal ini berkaitan dengan letak tempat di garis lintang (latitudinal), atau
ketinggian di permukaan laut (altitudinal). Variasi suhu berdasarkan garis lintang
berkaitan dengan variasi musim yang disebabkan oleh posisi poros bumi terhadap
matahari. Interaksi antara suhu, kelembapan, angin, altitudinal, latitudinal, dan topografi
menghasilkan daerah iklim yang luas yang dinamakan bioma. Setiap bioma memiliki
hewan dan tumbuhan tertentu yang khas. Beberapa bioma di bumi antara lain tundra,
taiga, hutan gugur, hutan hujan tropik, padang rumput, dan gurun.
3.2 Pentingnya Keanekaragaman Hayati
Pemanfaatan keanekaragaman hayati bagi masyarakat harus secara
berkelanjutan. Yang dimaksud dengan manfaat yang berkelajutan adalah manfaat yang
tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang.
1. Sebagai Sumber Pangan, Perumahan dan Kesehatan
Kehidupan manusia yang bergantung pada keanekaragaman hayati. Hewan dan
tumbuhan yang kita manfaatkan saat ini (misalnya ayam, kambing, padi, jagung) pada
zaman dahulu juga merupakan hewan dan tumbuhan liar, yang kemudian
dibudidayakan. Hewan dan tumbuhan liar itu dibudidayakan karena memiliki sifat-sifat
unggul yang diharapkan manusia. Sebagai contoh, ayam dibudidayakan karena
menghasilkan telur dan daging. Padi dibudidayakan karena menghasilkan beras.
Beberapa contoh tumbuhan dan hewan yang memiliki peranan penting untuk memenuhi
kebutuhan pangan, perumahan, dan kesehatan, misalnya:
a. Pangan: berbagai biji-bijian (padi, jagung, kedelai, kacang), berbagai umbi-
umbian (ketela, singkong, suwek, garut, kentang), berbagai buah-buahan (pisang,
nangka, mangga, jeruk, rambutan), berbagai hewan ternak (ayam, kambing, sapi).
b. Perumahan: kayu jati, sonokeling, meranti, kamfer.
c. Kesehatan: kunyit, kencur, temulawak, jahe, lengkuas.
2. Sebagai Sumber Pandapatan
Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sumber pendapatan. Misalnya untuk
bahan baku industri, rempah-rempah, dan perkebunan. Bahan baku industri misalnya
kayu gaharu dan cendana untuk industri kosmetik, teh dan kopi untuk industri
minuman, gandum dan kedelai untuk industri makanan, dan ubi kayu untuk
menghasilkan alkohol. Rempah-rempah misalnya lada, vanili, cabai, bumbu dapur.
Perkebunan misalnya kelapa sawit dan karet.

3. Sebagai Sumber Plasma Nutfah


Hewan, tumbuhan, dan mikroba yang saat ini belum diketahui tidak perlu
dimusnahkan, karena mungkin saja di masa yang akan datang akan memiliki peranan
yang sangat penting. Sebgai contoh, tanaman mimba (Azadirachta indica),. Dahulu
tanaman ini hanya merupakan tanaman pagar, tetapi saat ini diketahui mengandung zat
azadiktrakhtin yang memiliki peranan sebagai anti hama dan anti bakteri. Adapula jenis
ganggang yang memiliki kendungan protein tinggi, yang dapat digunakan sebagai
sumber makanan masa depan, misalnya Chlorella. Buah pace (mengkudu) yang semula
tidak dimanfaatkan, sekarang diketahui memiliki khasiat untuk meningkatkan
kebugaran tubuh, mencegah dan mengobati penyakit tekanan darah.
Di hutan atau lingkungan kita, masih terdapat tumbuhan dan hewan yang belum
dibudidayakan, yang mungkin memiliki sifat-sifat unggul. Itulah sebabnya dikatakan
bahwa hutan merupakan sumber plasma nutfah (sifat-sifat unggul). Siapa tahu kelak
sifat-sifat unggul itu dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.
4. Manfaat Ekologi
Selain berfungsi untuk menunjuang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati
memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Masing-masing
jenis organisme memiliki peranan dalam ekosistemnya. Peranan ini tidak dapat
digantikan oleh jenis yang lain. Sebagai contoh, burung hantu dan ular di ekosistem
sawah merupakan pemakan tikus. Jika kedua pemangsa ini dilenyapkan oleh manusia,
maka tidak ada yang mengontrol populasi tikus. Akibatnya perkembangbiakan tikus
meningkat cepat dan di mana-mana terjadi hama tikus.
Tumbuhan merupakan penghasil zat organik dan oksigen, yang dibutuhkan oleh
organisme lain. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dapat membentuk humus, menyimpan air
tanah, dan mencegah erosi. Keanekaragaman yang tinggi memperkokoh ekosistem.
Ekosistem dengan keanekaragaman yang rendah merupakan ekosistem yang tidak
stabil. Bagi manusia, keanekaragaman yang tinggi merupakan gudang sifat-sifat unggul
(plasma nutfah) untuk dimanfaatkan di kemudian hari.
5. Manfaat Keilmuan
Keanekaragaman hayati merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang
sangat berguna untuk kehidupan manusia.
6. Manfaat Keindahan
Keindahan alam tidak terletak pada keseragaman tetapi pada keanekaragaman.
Bayangkan bila halaman rumah kita hanya ditanami satu jenis tanaman saja, apakah
indah Tentu saja akan lebih indah apabila ditanami berbagai tanaman seperti
mawar, melati, anggrek, rumput, palem.
Kini kita sadari bahwa begitu banyak manfaat keanekaragaman hayati dalam
hidup kita. Pemanfaatannya yang begitu banyak dan beragam tentu saja dapat
mengancam kelestariannya. Untuk itu kita harus bijaksana dalam memanfaatkan
keanekaragaman hayati, dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan aspek
kelestariannya.

3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biodiversitas


Secara umum, Indonesia termasuk ke dalam wilayah tropika dengan kondisi
tanah yang baik, basah, dan hampir tidak ada musim kering. Musim kering di daerah
tropik adalah musim dengan curah hujan terendah, bukan musim tanpa hujan sama
sekali. Berdasarkan perkembangan wilayah tropik, Indonesia merupakan wilayah
perkembangan dari zona Malaya, dan termasuk wilayah hutan tropik basah klimaks
alami. Daratan hutan tropik basah biasanya rata atau bergelombang, meluas ke bagian
lereng-lereng gunung sampai ketinggian 1.000 meter atau lebih. Karakter iklim tropik
dapat disimpulkan sebagai berikut.
Di beberapa daerah, hujan turun setiap siang dan malam sepanjang tahun,
diselingi satu atau dua musim kering yang masing-masing lamanya tidak melebihi 3
bulan. Sering kali hujan turun selama berhari-hari atau berminggu-minggu, semuanya
tertutup kabut tebal berwarna kelabu. Suhu relatif tinggi dan seragam, rata-rata tahunan
normal, sekitar 25-260C.
Curah hujan pada umumnya berjumlah 200-400 cm setiap tahun, dengan
beberapa tempat tertentu mungkin lebih banyak. Kelembapan nisbi cenderung tinggi,
biasanya melebihi 80%. Intensitas cahaya matahari tinggi. Namun, di hutan-hutan
dengan pohon yang tingginya bertingkat-tingkat, sinar matahari menjadi cahaya
remang-remang dan dapat menembus lantai hutan, membentuk nodanoda cahaya, dan
penting dalam pembentukan iklim mikro.
Pohon-pohon memiliki tajuk pohon (kanopi) berbentuk payung, menjadi tempat
yang subur bagi kehidupan serangga, katak pohon, kadal, ular, burung, tupai, monyet
dan sebagainya. Banyak di antaranya yang hidup selamanya dalam kanopi, dan tidak
pernah menyentuh tanah. Perubahan musiman yang teratur pada tumbuhan tidak ada.
Sepanjang waktu terjadi pembungaan, dan pembentukan buah, meskipun ada
kecenderungan bahwa tiap-tiap jenis mempunyai musim tertentu. Musim ini berlainan
antara satu jenis dan jenis lainnya sehingga secara umum, tropika selalu berdaun dan
berbuah sepanjang tahun. Banyak tumbuhan yang kuncup daunnya tidur (dorman),
baru tumbuh dan berkembang saat tumbuhannya telah tua dan tidak berdaun lagi.
Indonesia memang gudang flora dan fauna, banyak faktor lain yang menyebabkan
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, antara lain:
a. Merupakan negara kepulauan;
b. Memiliki unsur flora dan fauna yang berkisar dari wilayah Indomalaya sampai ke
Australia;
c. Terbagi menjadi 2 zona biogeografi, yakni wilayah oriental dan wilayah Australian.
Wilayah oriental meliputi Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan, sedangkan wilayah
Australian meliputi seluruh pulau kawasan timur Indonesia;
d. Banyak pulau tersebar di Nusantara ini terisolasi beribu-ribu tahun sehingga
tingkat endemisnya tinggi. Oleh karena itu, banyak jenis flora dan fauna yang
hanya terdapat di Indonesia;
e. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki laut yang luas, yaitu 3.650.000 km2
dengan panjang garis pantai 81.000 km, 14% dari panjang pantai bumi;
f. Karena lautnya luas, Indonesia memiliki pantai dengan hutan bakau yang terluas
dan terkaya jenis flora dan faunanya, yaitu 4,25 juta ha;
g. Dengan laut yang luas, Indonesia memiliki sumber daya terumbu karang terkaya,
misalnya atol, terumbu karang tepian, terumbu karang perintang (barrier), dan
terumbu karang sebaran.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, dapat kita simpulkan bahwa keanekaragaman
jenis hayati Indonesia sangat tinggi, karena tiap zona geografi memiliki karakter
berbeda-beda, banyak pulau yang menyimpan hewan dan tumbuhan endemik, dan
wilayah laut yang luas dengan biodiversitas spesifiknya.
3.4 Krisis Biodiversitas
Aktifitas manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati. Hingga saat ini,
berbagai jenis tumbuhan dan hewan terancam punah dan beberapa di antaranya telah
punah. Sebagai contoh, Australia selama 20 tahun telah kehilangan 41 jenis mamalia, 18
jenis burung, reptilia, ikan, dan katak, 200 jenis invertebrata, dan 209 jenis tumbuhan.
Sementara itu, Indonesia kehilangan beberapa satwa penting, misalnya harimau
bali. Saat ini hewan tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya, alias
kemungkinan sudah punah. Hewan-hewan seperti badak bercula satu, jalak bali, dan
trenggiling juga terancam punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata,
ikan, dan hewan air, yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita.
Kepunahan keanekaragaman hayati diduga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu
sebagai berikut:
1. Perusakan Habitat
Habitat didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal organisme. Kekurangan
habitat diyakini manjadi penyebab utama kepunahan organisme. Jika habitat rusak
maka organisme tidak memiliki tempat yang cocok untuk hidupnya. Kerusakan
habitat dapat diakibatkan karena ekosistem diubah fungsinya oleh manusia,
misalnya hutan ditebang dijadikan lahan pertanian, pemukiman dan akhirnya
tumbuh menjadi perkotaan. Kegiatan manusia tersebut mengakibatkan menurunnya
keanekaragaman ekosistem, jenis, dan gen.
Selain akibat aktifitas manusia, kerusakan habitat juga dapat diakibatkan oleh
bencana alam misalnya kebakaran, gunung meletus, dan banjir. Perusakan terumbu
karang di laut juga dapat menurunkan keanekaragaman ayati laut. Ikan-ikan serta
biota laut yang hidup bersembunyi di dalam terumbu karangtidak dapat lagi hidup
dengan terntram, beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya karena
terumbu karang yang rusak. Menurunnya populasi ikan akan merugikan nelayan
dan mengakibatkan harga ikan meningkat. Kehidupan para nelayan menjadi
terganggu.
2. Penggunaan Pestisida
Yang termasuk pestisida misalnya insektisida, herbisida, dan fungisida. Pestisida
yang sebenarnya hanya untuk membunuh organisme penggangu (hama), pada
kenyataannya menyebar ke lingkungan dan meracuni mikroba, jamur, hewan, dan
tumbuhan lainnya.
3. Pencemaran
Bahan pencemar juga dapat membunuh mikroba, jamur, hewan dan tumbuhan
penting. Bahan pencemar dapat berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah
tangga.
4. Perubahan Tipe Tumbuhan
Tumbuhan merupakan produser di dalam ekosistem. Perubahan tipe tumbuhan
misalnya perubahan dari hutan hujan tropik menjadi hutan produksi dapat
mengakibatkan hilangnya tumbuh-tumbuhan liar penting. Hilangnya jenis-jenis
tumbuhan tertentu dapat menyebabkan hilangnya hewan-hewan yang hidup
bergantung pada tumbuhan tersebut.
5. Masuknya Jenis Tumbuhan dan Hewan Liar
Tumbuhan atau hewan liar yang masuk ke ekosistem dapat berkompetisi bahkan
membunuh tumbuhan dan hewan asli.
6. Penebangan
Penebangan hutan tidak hanya menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi
juga merusak pohon-pohon lain yang ada di sekelilingnya. Kerusakan berbagai
tumbuh-tumbuhan karena penebangan akan mengakibatkan hilangnya hewan. Jadi,
penebangan akan menurunkan plasma nutfah.
7. Seleksi
Secara tidak sengaja perilaku kita mempercepat kepunahan oraganisme. Sebagai
contoh, kita sering hanya menanam tanaman yang kita anggap unggul misalnya
mangga gadung, mangga manalagi, jambu bangkok. Sebaliknya kita
menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul, misalnya mangga golek,
nangka celeng.
Menurunnya keanekaragaman hayati menimbulkan masalah lingkungan yang
akhirnya merugikan manusia. Misalnya, penebangan hutan mengakibatkan banjir.
Hewan-hewan yang hidup di dalam hutan misalnya babi hutan, gajah, kera, menyerang
lahan pertanian penduduk karena habitat mereka semakin sempit, dan makanan mereka
semakin berkurang.
Menurunnya populasi serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan
insektisida mengakibatkan terjadinya ledakan populasi serangga yang dimangsa. Jika
serangga ini memakan tanaman pertanian, maka ledakan serangga tersebut sangat
merugikan petani.
3.5 Upaya dalam Melakukan Konservasi Keanekaragaman hayati
Tidak semua aktifitas manusia berakibat menurunkan keanekaragaman hayati.
Ada juga aktivitas yang justru meningkatkan keanekaragaman hayati.
1. Penghijauan
Kegiatan penghijauan meningkatkan keanekaragaman hayati. Kegiatan penghijauan
tidak hanya menanam tetapi yang lebih penting adalah merawat tanaman setelah
ditanam.
2. Pembuatan Taman Kota
Pembuatan taman-taman kota selain meningkatkan kandungan oksigen,
menurunkan suhu lingkungan, mamberi keindahan, juga meningkatkan
keanekaragaman hayati.
3. Pemuliaan
Pemuliaan adalah usaha membuat varietas unggul dengan cara melakukan
perkawinan silang. Usaha pemuliaan akan menghasilkan varian baru. Oleh sebab
itu pemuliaan hewan dan tumbuhan dapat berfungsi meningkatkan keanekaragaman
gen.
4. Pembiakkam
Hewan atau tumbuhan langka dan rawan punah dapat dilestarikan dengan
pembiakan/konservasi secara in situ dan ex situ.
a). Konservasi Insitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies, variasi
genetik dan habitat dalam ekosistem aslinya. Pendekatan insitu meliputi penetapan
dan pengelolaan kawasan lindung seperti: cagar alam, suaka margasatwa, taman
nasional, taman wisata alam, hutan lindung, sempadan sungai, kawasan plasma
nutfah dan kawasan bergambut. Dalam prakteknya, pendekatan insitu juga
termasuk pengelolaan satwa liar dan strategi perlindungan sumberdaya di luar
kawasan lindung. Di bidang kehutanan dan pertanian, pendekatan insitu juga
digunakan untuk melindungi keanekaragaman genetik tanaman di habitat aslinya
serta penetapan spesies dilindungi tanpa menspesifikasikan habitatnya.
b). Konservasi Eksitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies tanaman,
satwa liar dan organisme mikro serta varietas genetik di luar habitat/ekosistem
aslinya. Kegiatan yang umum dilakukan antara lain penangkaran, penyimpanan
atau pengklonan karena alasan: (1) habitat mengalami kerusakan akibat konversi;
(2) materi tersebut dapat digunakan untuk penelitian, percobaan, pengembangan
produk baru atau pendidikan lingkungan. Dalam metode tersebut termasuk:
pembangunan kebun raya, koleksi mikologi, museum, bank biji, koleksi kultur
jaringan dan kebun binatang. Mengingat bahwa organisme dikelola dalam
lingkungan buatan, metode eksitu mengisolasi spesies dari proses-proses evolusi.
5. Restorasi dan Rehabilitasi, meliputi metode, baik insitu maupun eksitu, untuk
membangun kembali spesies, varietas genetik, komunitas, populasi, habitat dan
proses-proses ekologis. Restorasi ekologis biasanya melibatkan upaya rekonstruksi
ekosistem alami atau semi alami di daerah-daerah yang mengalami degradasi,
termasuk reintroduksi spesies asli, sedangkan rehabilitasi melibatkan upaya untuk
memperbaiki proses-proses ekosistem, misalnya Daerah Aliran Sungai, tetapi tidak
diikuti dengan pemulihan ekosistem dan keberadaan spesies asli.
6. Pengelolaan Lansekap Terpadu, meliputi alat dan strategi di bidang kehutanan,
perikanan, pertanian, pengelolaan satwa liar dan pariwisata untuk menyatukan unsur
perlindungan, pemanfaatan lestari serta kriteria pemerataan dalam tujuan dan praktek
pengelolaan. Mengingat bahwa tataguna lahan tersebut mendominasi keseluruhan
bentuk lansekap, baik pedalaman maupun wilayah pesisir, reinvestasi untuk
pengelolaan keanekaragaman hayati memiliki peluang besar untuk dapat diperoleh.
7. Formulasi Kebijakan dan Kelembagaan, meliputi metode yang membatasi
penggunaan sumberdaya lahan melalui zonasi, pemberian insentif dan pajak untuk
menekan praktek penggunaan lahan yang secara potensial dapat merusak;
mengaturan kepemilikan lahan yang mendukung pengurusannya secara lestari; serta
menetapkan kebijakan pengaturan kepentingan swasta dan masyarakat yang
menguntungkan bagi konservasi keanekaragaman hayati.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan materi sebelumnya tentang konservasi keanekaragaman hayati,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Keanekaragaman hayati disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan. Terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan dalam
mempengaruhi sifat makhluk hidup.
2. Makhluk hidup di dunia ini sangat beragam. Keanekaragaman makhluk hidup
tersebut disebut dengan sebutan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Setiap
sistem lingkungan memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda.
Keanekaragaman hayati ditunjukkan oleh adanya berbagai variasi bentuk, ukuran,
warna, dan sifat-sifat dari makhluk hidup lainnya.
3. Indonesia terletak di daerah tropik yang memiliki keanekaragaman hayati yang
tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik dan kutub.
4. Kegiatan manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati, baik keanekaragaman
gen, jenis maupun keanekaragaman lingkungan. Namun di samping itu, kegiatan
manusia juga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati misalnya penghijauan,
pembuatan taman kota, dan pemuliaan.
5. Pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan secara in situ dan ex situ.
4.2 Saran
Dalam penulisan makalah pada tugas selanjutnya, maka disarankan untuk:
1. Harus memahami lebih baik tentang keanekaragaman biodiveritas serta bagaimana
proses dan dampaknya yang terjadi sehingga memudahkan dalam pengerjaan tugas
tersebut
2. Untuk membantu pengerjaan tugas ini, sebaiknya dicari referensi-referensi
mengenai keanekaragaman biodiversitas dari buku-buku yang tersedia di
perpustakaan, dan lain-lain.
3. Hendaknya dilakukan riset mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati yang
lebih intensif guna mendapatkan data yang lebih akurat terhadap keanekaragaman
hayati yang ada di Indonesia maupun di dunia.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. (http://budisma.web.id/materi/sma/kelas-x-biologi/keanekaragaman-


hayati-tingkat-jenis-di-indonesia/)

Departemen Kehutanan. 1995. Ancaman Hujan Asam Bagi Hutan

Fauzan,Muhammad.2009.
(http://fauzzzblog.wordpress.com/2009/12/06/keanekaragaman-hayati-
biodiversitas/)

Leveque, C. & J. Mounolou. 2003. Biodiversity. New York: John Wiley.

Nandika, Dody. 2004. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Bogor: IPB


Press
http://infighters.blogspot.com/2012/03/konservasi-keanekaragaman- hayati.html#!/2012
/03/konservasi-keanekaragaman-hayati.html
http://fauzzzblog.wordpress.com/2009/12/06/keanekaragaman-hayati-biodiversitas/
http://wawan-satu.blogspot.com/2009/11/konservasi-keanekaragaman-hayati.html