Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, penulis ucapkan puji
syukur kehadirat-Nya karena rahmat, taufik serta hidayahnya, sehingga kami bisa
menyelesaikan makalah yang berjudul Strategi Satuan Pendidikan dengan lancar. Sahalawat
dan salam tidak lupa pula kita ucapkan untuk sang teladan mulia, Nabi Muhammad SAW.,
yang telah mengajarkan kita tentang arti kehidupan dan bagaimana kita menata hidup ini.
Tidak lupa kami persembahkan ucapan terima kasih kepada semua pihak. Terutama,
kepada dosen pembing mata kuliah Manajemen Strategis Pendidikan Islam pada Program Studi
Manajemen Pendidikan Islam PPS IAIN Batusangkar, Bapak Dr. H. Jasrial, M.Pd. Tentunya
juga, kepada segenap kawan-kawan di bangku kuliah yang dalam pembuatan serta
penyempurnaan makalah Manajemen Strategis Pendidikan Islam ini, penulis dibantu oleh
berbagai pihak sehingga kesulitan yang penulis hadapi dalam proses pembuatan makalah ini
bisa diatasi dengan baik dan selesai pada waktu yang telah ditentukan. Juga tak luput kami
mengucapkan terima kasih atas berbagai pihak yang telah membantu kami dalam proses
pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dari
segi bahasa maupun dari segi lainnya. Oleh karena itu, kami membuka tangan kepada para
pembaca untuk memberikan kritik serta saran untuki memperbaiki makalah ini supaya lebih
baik.
Penulis berharap makalah ini bisa menambah pengetahuan bagi para pembaca, serta
menjadi inspirasi untuk mengembangkan pengetahuan pembaca tentang Pengembangan
Sumberdaya Manusia.
Batusangkar, 30 April 2017
Tim Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dua persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Pertama, secara internal,
bangsa Indonesia mengahadapi krisis multidimensional, persatuan bangsa yang
merenggang, demokratisasi pada semua aspek kehidupan, desentralisasi manajemen
pemerintahan, dan kualitas pendidikan belum menunjukkan kemampuan kompetitif.
Kedua, secara eksternal, bangsa Indonesia menghadapi tantangan pasar global,
kemajuan teknologi yang menuntut pendidikan kompetitif dan inovatif, dan
networking tanpa batas.
Agar bangsa Indonesia dapat survival, bahkan dapat tampil secara berarti
dalam percaturan di tengah-tengah masyarakat dunia, kondisi tersebut di atas tidak
harus dihindari, melainkan wajib dihadapi dengan semangat dan kemampuan yang
tinggi oleh setiap warga dan segenap bangsa Indonesia. Upaya yang sangat strategi
untuk menghadapinya adalah memantapkan sistem pendidikan nasional, dan
menjamin terselenggaranya pendidikan nasional yang bertanggung jawab. Jika
upaya pembenahan sistem pendidikan nasional dapat dilakukan secara sungguh-
sungguh, maka diharapkan bangsa Indonesia mampu mengangkat martabat bangsa
dan negara.
Pendidikan merupakan komponen yang memiliki peranan yang strategis bagi
bangsa Indonesia untuk dapat survive dalam persaingan dunia. Out put dan out come
dari dunia pendidikan sangat diharapkan dapat mewujudkan tujuan pendidikan
Nasional. Salah satu tujuan Bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD
1945 pada alinia keempat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk
mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram dengan
jelas dalam agenda pemerintah yang berupa penyelenggaraan pendidikan.
Tujuan pendidikan Negara Indonesia yang tertuang dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

1
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan
negara1.
Dunia pendidikan termasuk pendidikan Islam- merupakan salah satu bidang
yang tidak dapat melepaskan diri dari tantangan ini. Dengan semakin banyaknya
lembaga pendidikan dan semakin beragamnya program yang ditawarkan, para
pengelola pendidikan Islam dituntut untuk dapat berpacu dan berkompetisi secara
fair memperebutkan pasar pendidikan yang semakin luas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian lembaga pendidikan Islam ?
2. Apa saja masalah yang terjadi pada genarasi sekarang?
3. Bagaimana arah kebijakan Pendidikan ?
4. Bagaimana arah kebijakan Pendidikan Islam?
5. Bagaimana Penetapan arah dan tujuan lembaga pendidikan Islam?
6. Bagaimana Strategi lembaga Pendidikan Islam?

C. Tujuan Pembahasan
1. Pengertian lembaga pendidikan Islam
2. Masalah-masalah kekinian
3. Arah kebijakan pendidikan
4. Arah kebijakan Pendidikan Islam
5. Penetapan Arah dan Tujuan lembaga pendidikan Islam
6. Strategi Lembaga Pendidikan Islam

1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Islam


Lembaga menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah bakal dari
sesuatu, asal mula yang akan menjadi sesuatu, bakal, bentuk, wujud, rupa, acuan,
ikatan, badan atau organisasi yang mempunyai tujuan jelas terutama dalam
bidang keilmuan2.
Menurut ensiklopedi Indonesia, lembaga pendidikan yaitu suatu wadah
pendidikan yang dikelola demi mencapai hasil pendidikan yang diinginkan.Badan
pendidikan sesungguhnya termasuk pula dalam alat-alat pendidikan, jadi badan/
lembaga pendidikan yaitu organisasi atau kelompok manusia yang karena
sesuatu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan agar
proses pendidikan dapat berjalan dengan wajar.
Secara terminology lembaga pendidikan Islam adalah suatu wadah, atau
tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam, lembaga pendidikan itu
mengandung konkirit berupa sarana dan prasarana dan juga pengertian yang
abstrak, dengan adanya norma- norma dan peraturan- peraturan tertentu, serta
penanggung jawab pendidikan itu sendiri.
Lembaga pendidikan Islam ialah suatu bentuk organisasi yang diadakan
untuk mengembangkan lembaga-lembaga Islam yang baik, yang permanen,
maupun yang berubah-ubah dan mempunyai struktur tersendiri yang dapat
mengikat individu yang berad adalam naungannya, sehingga lembaga ini
mempunyai kekuatan hokum tersendiri3.
Lembaga pendidikan Islam di Indonesia antara lain: raudhatul athfal atau
bustanul athfal, madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar Islam, madrasah
tsanawiyah, sekolah menengah pertama Islam, madrasah aliyah, pesantren dan
berbagai sekolah lainnnya yang setingkat4.

2
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka
3
Bukhori Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 149
4
https://www.academia.edu/5872428/PERKEMBANGAN_LEMBAGA_PENDIDIKAN_ISLAM

3
B. Masalah-Masalah Kekinian
Thomas Lickona seorang profesor pendidikan dari Cortland University,
mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang harus diwaspadai. Jika
tanda ini smuncul, berarti sebuah bangsa sedang menuju kehancuran. Tanda-
tanda dimaksud ialah (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2)
penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk, (3) pengaruh peer-group yang
kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti
penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman
moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa
hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu
dan warga negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa
saling curiga dan kebencian di antara sesama5.
Ternyata kesepuluh tanda tersebut telah ada dan dapat dilihat dengan
kasat mata pada berbagai tataran kehidupan secara nasional, termasuk
perguruan tinggi. Dewasa ini kesepuluh tanda zaman di atas telah muncul dengan
intensitas yang bervariasi, terutama setelah terjadinya krisis multidimensional
pada penghujung tahun 1997. Maka kata-kata yang tidak santun, kebebasan
berbicara yang tidak proporsional, dan anarkisme yang berlebihan merupakan
gejala yang menonjol di masyarakat. Mereka menjadikan era reformasi,
demokrasi, dan kebebasan sebagai pembenaran atas aneka perilakunya itu. Maka
muncullah berbagai kritik, pandangan, dan saran untuk mengatasi persoalan di
atas yang dikemukakan oleh para birokrat, pendidik, dan ulama. Mereka
mengemukakan sejumlah kritik terhadap sistem pendidikan, terutama
pendidikan agama dan budi pekerti. Kritik mereka difokuskan pada masalah
kurikulum, kualifikasi guru, sarana dan prasarana, manajemen, dan anggaran
pendidikan. Pemerintah merespon kritik dan saran di atas secara sistematis
melalui penetapan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang merupakan dasar hukum dalam penyelenggaraan dan
reformasi sistem pendidikan. Undang-undang ini tidak lagi membedakan antara
pendidikan yang dikelola Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen

5
Hamied, F.A. dan Syihabuddin (ed.). (2008). Pendidikan di Indonesia: Masalah dan Solusi. Jakarta:
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Departemen Agama R.I. (2008),hlm 179

4
Agama. Kedua lembaga ini secara bersama-sama, terkoordinasi, dan sinkron
melakukan tiga hal pokok:
1. mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan yang bermutu,
2. meningkatkan mutu pendidikan dengan segala aspeknya,
3. meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk mendukung upaya di atas, pemerintah mengalokasikan dana sebesar
20 % dari jumlah total APBN. Lalu, apakah upaya di atas mampu meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia secara signifikan? Apakah kebijakan dan
program pemerintah di bidang pendidikan mampu mereduksi dan
meminimalkan ekses dan dampak negatif dari euforia reformasi? Apakah
lembaga-lembaga pendidikan Islam mampu memperbaiki dan meningkatkan
moral bangsa? Untuk itu kita memerlukan arah kebijakan yang jelas dalam
mengelola lembaga. Tujuan dan arah lembaga pendidikan Islam harus jelas agar
dapat mereduksi akses negative dari euphoria reformasi yang kebablasan.

C. Arah Kebijakan Pendidikan


Untuk dapat mengatasi masalah bangsa ini yang sudah dapat dilihat
dengan kasat mata, sehingga kita dapat menegakkan kepala kepada Negara luar,
bahwa kita yang memiliki pendidikan yang bagus diperlukan arah tujuan dalam
dunia pendidikan kita, diantaranya:
1. Pemberdayaan Lembaga Pendidikan. Kebijakan pendidikan nasional pada
semua jenjang baik kini maupun ke depan terutama telah diarahkan kepada
pemberdayaan lembaga pendidikan, sehingga memiliki otonomi yang tinggi
dalam menghadapi setiap persoalan yang dihadapi. Pemberdayaan lembaga
pendidikan ini lebih didasarkan pada pemberian trust kepada lembaga
untuk mengelola dirinya sendiri secara bertanggung jawab.
2. Desentralisasi Pendidikan Keragaman yang dimiliki oleh lembaga
pendidikan baik dilihat dari jenis dan jenjangnya tidaklah relevan lagi jika
semua pengelolaan pendidikan disentralkan, sebagaimana pada era-era
sebelumnya. Desentralisasi pendidikan diharapkan dapat mewujudkan
setiap program dan pelaksanaannya sesuai dengan kondisi masing-masing,

5
sehingga dapat dijamin efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan
pendidikan.
3. Akuntabilitas Pendidikan. Institusi dan sumber daya pendidikan dalam
menunjukkan kegiatannya sering kali lepas dari tanggung jawabnya. Untuk
dapat lebih dipertanggungjawabkan kepada public, maka setiap institusi
seharusnya mampu menunjukkan kinerjanya secara bertanggung jawab
sebagaimana amanat yang telah diberikan. Kegiatan pendidikan tidak hanya
menghabiskan biaya yang telah disepakati, namun sejauh mana dapat
diwujudkan dalam kegiatan yang bermakna.
4. Relevansi Pendidikan. Program pendidikan dan kurikulum telah dilakukan
perbaikan secara terus menerus yang diharapkan dapat menyiapkan lulusan
memiliki kesiapan dalam menghadapi tantangan pada jamannya. Namun
lepas dari itu tetap berbagai kegiatan yang diciptakan perlu dirahkan juga
untuk membekali peserta didik dalam menghadapi kebutuhan dalam
hidupnya.
5. Pemberdayaan Masyarakat. Masyarakat merupakan stakeholder utama
dalam proses pendidikan. Oleh karena di samping pemerintah memenuhi
tanggung jawabnya untuk mendukung terjadinya proses pendidikan,
masyarakat perlu diberdayakan untuk berpartisipasi, baik secara finansial
maupun substantive, sehingga mereka ikut memiliki tanggung jawab dalam
mengawal proses pendidikan yang ada di sekitarnya

D. Arah Kebijakan Pendidikan Islam


Arah kebijakan Pendidikan Islam mengacu pada arah kebijakan Kementerian
Agama Bidang Pendidikan 2015-2019 adalah:
1. Meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) diarahkan
pada upaya:
- Peningkatan dana operasional sekolah berupa BOS untuk RA;
- Penyediaan ruang kelas pendidikan RA yang berkualitas;
- Penyediaan peralatan dan perlengkapan pendidikan RA yang berkualitas;
dan

6
- Pengembangan kurikulum yang disertai dengan pelatihan, pendampingan
dan penyediaan buku pendidikan yang berkualitas sesuai kurikulum
pendidikan anak usia dini yang berlaku.
2. Meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar-menengah (wajib belajar 12
tahun) yang meliputi:
- Memperluas akses masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan.
- Meningkatkan penyediaan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas.
- Meningkatkan mutu peserta didik.
- Meningkatkan jaminan mutu kelembagaan pendidikan.
- Meningkatkan kurikulum dan pelaksanaannya.
- Meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan.
3. Meningkatkan akses, mutu dan relevansi pendidikan tinggi keagamaan
meliputi:
- Meningkatkan akses pendidikan tinggi keagamaan.
- Meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi keagamaan.
- Meningkatkan mutu dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi
keagamaan.
- Meningkatkan kualitas hasil penelitian/riset dan inovasi perguruan tinggi
keagamaan.
4. Meningkatkan layanan pendidikan keagamaan yang berkualitas meliputi:
- Peningkatan akses pendidikan keagamaan.
- Peningkatan mutu sarana prasarana pendidikan keagamaan.
- Peningkatan mutu peserta didik pendidikan keagamaan.
- Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan
keagamaan.
- Peningkatan penjaminan mutu kelembagaan pendidikan keagamaan.
- Peningkatan kualitas pembelajaran keagamaan yang moderat pada
pendidikan keagamaan.
5. Meningkatkan kualitas pendidikan agama pada satuan pendidikan umum
untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan untuk membina akhlak
mulia dan budi pekerti luhur meliputi:
- Peningkatan mutu dan pemerataan guru pendidikan agama.
- Peningkatkan mutu dan pemahaman siswa terhadap pendidikan agama.

7
- Peningkatan mutu kelembagaan pendidikan agama.
6. Meningkatkan tata kelola pendidikan agama diarahkan pada upaya:
- Penguatan struktur dan tata organisasi pengelola pendidikan dalam
mendukung penyelenggaraan pendidikan pada semua jenis, jenjang dan
jalur pendidikan;
- Penguatan lembaga penelitian kebijakan pendidikan dan jaringannya agar
dapat menghasilkan kajian-kajian kebijakan dalam pengembangan norma,
standar, prosedur, dan kriteria pembangunan pendidikan yang inovatif;
- Penguatan penyusunan dan penyelarasan peraturan yang menjadi dasar
penyelenggaraan pendidikan yang merata, berkeadilan dan bermutu;
- Penguatan sistem informasi pendidikan melalui penguatan kelembagaan
dan kapasitas pengelola sistem informasi;
- Peningkatan komitmen pengembil kebijakan dalam penyediaan data dan
informasi pendidikan sehingga pengumpulan data dan informasi dapat
dilakukan dengan lebih baik;
- Penyelarasan peraturan yang memungkinkan pemanfaatan sumberdaya
keuangan untuk pembiayaan semua jenis satuan pendidikan oleh
pemerintah pusat dan pemerintah daerah;
- Penguatan kapasitas pengelola pendidikan untuk dapat berperan secara
maksimal dalam pengelolaan satuan pendidikan secara transparan dan
akuntabel; dan
- Peningkatan partisipasi seluruh pemangku kepentingan pembangunan
pendidikan untuk memperbaiki efektivitas dan akuntabilitas
penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan dalam
memberikan dukungan bagi satuan pendidikan untuk pelayanan
pendidikan.6

6
http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=strategipendis#.VwtKjH2LS1s diakses pada hari
Jumat, 28 April 2017 pukul 13.58 WIB

8
E. Penetapan Arah dan Tujuan Pendidikan Lembaga Pendidikan Islam
1. Pentingnya Penetapan Arah dan tujuan Pendidikan
Dalam UU no. 20 Tahun 2003 tentang tujuan pendidikan nasional
terdapat pada pasal 3 menyebutkan Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi Marusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.7
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional harus menjalankan perannya
dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan ini,
sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal.8
Pengelolaan sekolah secara tidak profesional dapat menghambat
langkah sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan
formal, dibutuhkan rencana strategis sebagai suatu upaya atau cara untuk
mengendalikan sekolah secara efektif dan efisien. Komponen dalam
perencanaan strategis paling tidak terdiri dari visi, misi, tujuan, sasaran dan
strategi (cara mencapai tujuan dan sasaran). Perumusan terhadap visi, misi,
tujuan, sasaran dan strategi tersebut harus dilakukan pengelola sekolah, agar
sekolah memiliki arah kebijakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan
yang diharapkan.
2. Hakikat Perencanaan
Perencanaan atau planning dapat didefinisikan sebagai keseluruhan
proses pemikiran dan penentuan secara matang daripada hal-hal yang akan
dikerjakan dimasa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditentukan. Anderson dan Bowman dalam bukunya Teoritical
Consideration in Educational Planning seperti dikutip oleh Ahmad Rohani
dan Abu Ahmadi, berpendapat : perencanaan / Rancangan adalah Proses

7
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
8
Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah. Jogyakarta, Ar-ruzz Media,2013, hal- 8

9
mempersiapkan seperangkat putusan bagi perbuatan dimasa datang.
Perencanaan menjadi fungsi organic pertama karena merupakan dasar dan
titik tolak dari kegiatan pelaksanaan selanjutnya. Alasannya bahwa tanpa
adanya rencana, maka tidak ada dasar untuk melaksanakan kegiatan kegiatan
tertentu dalam rangka usaha pencapaian tujuan.
Perencanaan Penetapan tujuan, arah dan Strategi lembaga pendidikan
Islam merupakan hal penting bagi sebuah lembaga khususnya lembaga
pendidikan Islam untuk menghadapi tantangan era globalisasi dalam hal
meningkatkan kualitas out put dan out come sebuah lembaga pendidikan.
Penetapan tujuaan, arah dan strategi pendidikan dapat di artikan sebagai
proses penyusunan langkah-langkah kegiatan menyeluruh secara sistematis,
rasional dan berjangka panjang dalam hal ini diwujudkan melalui visi, misi
dan prinsip tertentu untuk memenuhi kebutuhan mendasar dan menyeluruh
para pelanggan dalam hal ini adalah peserta didik.
Perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan. Tak
dapat dibayangkan jika seseorang berhasil tanpa perencanaan. Pun
seandainya berhasil maka keberhasilan yang diperoleh mungkin bersifat
semu. Dalam bidang manajemen, setiap ahli menejemen menempatkan
perencanaan sebagai aktifitas pertama kegiatan. Sebelum menejer melakukan
kegiatan pengkoordinasian, kepemimpinan, evaluasi dan lainnya, ia terlebih
dahulu harus membuat rencana yang menggariskan tujuan, arah kepada
organisasi, menentukan apa yang akan dan kapan dikerjakan, bagaimana
mengerjakannya, dan siapa yang akan mengerjakannya. Ini menandakan
bahwa perencanaan menduduki posisi strategis.9

9
Ali imron, perencanaan Sekolah, dalam Burhanuddin, dkk (Ed), 2002. Menejemen Pendidikan, Wacana, Proses
dan Aplikasinya di sekolah. Malang: UIN PRESS, 2007

10
F. Strategi Lembaga Pendidikan Islam
Websters New Word Dictionary mendefinisikan strategi sebagai science of
planning and directing large scale military operation skill in managing or
planning. Yaitu strategi merupakan suatu ilmu tentang perencanaan dan
pengarahan keterampilan operasi militer pada skala besar dalam mengatur dan
merencanakan. Khususnya digunakan oleh militer, atau dalam bahasa yunani
disebut Strateagem, yang berarti memimpin tentara.10
Strategi berasal dari bahasa Yunani stratogos yang artinya ilmu para
jenderal untuk memenangkan suatu pertempuran dengan menggunakan sumber
daya yang terbatas.11 Pengertian atau defenisi Manajemen strategi dalam
khasanah literatur ilmu manajemen memiliki cakupan yang luas, dan tidak ada
suatu pengertian yang dianggap baku. Itulah sebabnya defenisi manajemen
strategi berkembang luas tergantung pemahaman ataupun penafsiran seseorang.
Manajemen strategis adalah seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan
pengevaluasian keputusan-keputusan lintas fungsional yang dapat
memungkinkan suatu perusahaan mencapat sasarannya.12 Manajemen strategis
adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan
perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber
daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan
organisasi. Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas dari
berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan beberapa pandangan di atas, maka strategi pengembangan
lembaga pendidikan Islam harus tetap mengacu pada target serta tujuan dan
nilai-nilai kependidikan Islam yang sedang berkembang. Di satu pihak
pendidikan Islam tidak boleh apriori terhadap trend pendidikan yang dibawa
oleh proses globalisasi, tetapi di pihak lain pendidikan Islam harus tetap tegar
dengan karakteristik khas yang dimilikinya sebagai bumper kehidupan
masyarakat dari persoalan-persoalan moral dan spiritual. Untuk mewujudkan hal
itu, penulis menawarkan empat jenis strategi sebagaimana dikemukakan oleh
Sirozi yaitu strategi substantive, bottom-up,deregulatory,dan cooperative.

10
Agus Maimun dan agus zaenul fitri, Madrasah Unggulan, (Malang: Uin-Maliki Press), 2010,hlm.50
11
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka
12
Colemen M & Bush T, 2006, Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan, Yogyakarta. IRCISOD

11
Pertama, strategi substantive. Lembaga-lembaga pendidikan Islam dari
tingkat dasar sampai perguruan tinggi perlu menyajikan program-program yang
komprehensif. Dilihat dari metode penyajiannya, program-program tersebut
harus menyentuh tiga aspek pembelajaran sebagaimana diperkenalkan oleh
Bloom dalam Nurhadi dkk, yaitu aspek kognitif (pemahaman), afektif
(penerimaan atau sikap) dan psikomotor (pengalaman atau keterampilan). Jika
mengacu pada konsep dasar pendidikan yang diperkenalkan oleh UNESCO,
proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam sekurang-kurangnya
harus dapat membantu pelajar untuk memiliki lima (5) kemampuan, yaitu to
know (meraih pengetahuan), to do (berbuat sesuatu), to be (menjadi diri sendiri),
to live together (hidup berdampingan) dan to know Gods creation (mengenal
ciptaan Tuhan) . Bila semua aspek dan kemampuan ini disajikan secara terpadu,
maka para lulusan lembaga pendidikan Islam diharapkan memiliki
keseimbangan antara kualitas ilmu/intelektual, iman dan amal/akhlak. Dilihat
dari materi yang disajikan, program-program di lembaga pendidikan Islam perlu
diorientasikan pada aktivitas pengakajian dan pengembangan berbagai disiplin
ilmu keislaman dengan mengacu pada potensi, kebutuhan dan cita-cita pelajar
serta mengacu pada kebutuhan aktul masyarakat dunia yang mencintai
pendidikan.
Kedua, strategi bottom-up. Lembaga-lembaga pendidikan Islam harus
tumbuh dari bawah. Konsep dan desain program serta struktur kelembagaan
pendidikan Islam harus disesuaikan dengan potensi, situasi dan struktur
masyarakat, tidak boleh dicekoki dari atas. Proses perencanaan, pengelolaan
dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam harus melibatkan
masyarakat luas dan mengacu pada situasi, potensi dan kebutuhan riil kehidupan
masyarakat. Strategi ini diperlukan agar lembaga-lembaga pendidikan Islam
tidak terkesan milik suatu rezim pengelolanya sehingga tidak akan terjadi lagi
suatu program strategis tertentu akan dihapus begitu saja hanya karena ketidak
senangan kita terhadap pengelola dan birokrat lembaga yang sebelumnya,
sekedar untuk menghilangkan jejak dan karakter seseorang. Seluruh komponen
lembaga pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya perlu dilibatkan
agar memiliki concern (kepedulian), sense of belonging (rasa memiliki) dan sense
of responsibility (rasa turut bertanggung jawab) terhadap keberadaan lembaga

12
pendidikan Islam beserta program-programnya. Dengan cara ini maka lembaga-
lembaga pendidikan Islam tidak akan dianggap barang asing atau barang antik
oleh masyarakat di sekitarnya karena keberadaannya akan benar-benar
mengakar dalam masyarakat. Sebagai bagian integral dari penerapan strategi
bottom-up, lembaga pendidikan Islam perlu secara sungguh-sungguh berupaya
mengembangkan konsep community based education (pendidikan berbasis
masyarakat) serta mempercepat proses pembentukan dan pemberdayaan
komite sekolah atau majelis madrasah atau POM (persatuan orangtua
mahasiswa). Lembaga-lembaga pendukung ini, perlu dibentuk melalui cara-cara
yang demokratis, agar benar-benar menjadi badan independen dan fungsional,
bukan sekedar perpanjangan tangan pimpinan lembaga pendidikan.
Ketiga, strategi deregulatory. Lembaga-lembaga pendidikan Islam sedapat
mungkin tidak terlalu terikat pada ketentuan-ketentuan baku dan kaku yang
terlalu sentralistik dan mengikat. Agar tidak terkesan liar atau anarkis,
diperlukan kebijakan khusus dari jajaran Departemen Agama atau pemerintah
daerah setempat, agar lembaga-lembaga pendidikan Islam bebas berkreasi dan
berimprovisasi, sehingga dapat mengembangkan program-program yang sesuai
dengan sifat-sifat khusus yang dimilikinya. Kebebabasan ini diperlukan untuk
menjadikan lembaga-lembaga pendidikan islam sebagai lembaga-lembaga
pendidikan alternatif. Yaitu lembaga pendidikan yang bukan pengekor, tetapi
lembaga-lembaga pendidikan pelopor yang memiliki karakteristik dan
keunggulan tersendiri. Pertanyaannya kemudian adalah; siapkah lembaga-
lembaga pendidikan Islam saat ini untuk otonom dan berkreasi sendiri seperti
itu?, sepertinya kesiapan sumber daya yang ada pada masing-masing lembaga
pendidikan Islam tersebut mengharuskan kita belum bisa optimis.
Contoh kecil, Salah satu kebijakan pemerintah pusat saat ini adalah
menyerahkan sebagian besar urusan disain dan pengembangan kurikulum
kepada daerah dan masing-masing lembaga pendidikan Islam termasuk
pendidikan tinggi agama. Namun yang terjadi kemudian adalah lembaga-lembaga
tersebut menanti dan menunggu datangnya kurikulum yang sudah final dan
sudah jadi padahal pemerintah pusat tidak akan melakukan hal itu sehingga yang
terjadi kemudian adalah masing-masing lembaga pendidikan tetap status quo
dengan pola kurikulum lamanya dan yang lebih diperparah lagi materi dan

13
matakuliah dipertahankan oleh pengajar yang bersangkutan walaupun
materinya tumpang tindih dan berulang pada kajian yang lain atau mungkin
materinya sudah out of date, tetapi karena egoisme pengelola dan pengajar yang
bersangkutan sehingga harus dipertahankan hanya karena kehilangan mata
kuliah dan tidak punya kompetensi untuk mengajarkan materi dan matakuliah
yang lain.
Seharusnya kebijakan pemerintah pusat tersebut ditangkap sebagai peluang
untuk menyesuaikan materi pembelajaran dan strategi pendekatannya serta
pengembangan berbagai sumber belajar sesuai dengan kondisi riil lingkungan
masyarakat setempat. Dengan demikian maka lembaga pendidikan tersebut tidak
akan menjadi beban kontekstual dan sebaliknya dapat lebih marketable. Dalam
pengelolaan dan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam diperlukan
standar kualitas. Standar kualitas setiap mata pelajaran/mata kuliah, program
studi/jursan sehingga paradigma pasti lulus dalam ujian dapat dihindari.
Demikian pula dengan standar kualitas tenaga pengajar dan pengelolaan
organisasi kelembagaan. Dengan penetapan standar kualitas seperti ini akan
memudahkan kita untuk mengetahui dan mengukur/menilai apakah usaha yang
kita lakukan telah berhasil atau belum, sudah memenuhi standar yang telah
ditetapkan atau belum, kalau belum, apa yang harus dilakukan untuk memenuhi
standar dan memperbaiki kinerja?
Keempat, strategi cooperative. Lembaga-lembaga pendidikan Islam harus
dikelola dengan suatu sistem manajemen profesional yang mampu merangkul
dan memanfaatkan semua potensi dan sumber daya yang ada, bukan sebaliknya
mengekang dan membungkam dengan berbagai cara, potensi dan sumber daya
tersebut. Sudah saatnya para pemimpin lembaga pendidikan Islam tidak lagi
berpikir bahwa hanya mereka yang dapat mengelola dan memajukan lembaga
yang mereka pimpin tanpa bantuan orang lain yang ditandai dengan
keenggangan mereka menerima saran dan pertimbangan termasuk kritikan.
Selain memperlihatkan sikap picik dan wawasan sempit, pola berpikir seperti ini
terkesan bergaya supermen dan sangat merugikan, karena dapat menutup
peluang-peluang kemitraan dan kerjasama.

14
Pengelola lembaga pendidikan Islam perlu mengembangkan jaringan
kemitraan dan kerjasama baik ke dalam (internal) lembaga pendidikan Islam itu
sendiri maupun keluar dengan pribadi atau lembaga lain. Jaringan kerjasama
yang luas akan memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan
diversifikasi sumber-sumber dana untuk membiayai program-program yang
lebih berkualitas dan bukan untuk belanja pegawainya dengan berbagai alasan
kesejahteraan pegawai.
Lebih dari itu, kerjasama saling menguntungkan yang dibangunnya akan
meningkatkan kemampuan finansial lembaga-lembaga pendidikan Islam. Para
pengelola lembaga-lembaga pendidikan Islam dituntut untuk pro aktif dan kreatif
menciptakan peluang-peluang dana di luar pundi-pundi yang telah tersedia
secara konvesional seperti dari departemen agama atau yayasan yang
mengelolanya.13

13
https://prodibpi.wordpress.com/2010/08/05/lembaga-pendidikan-islam-antara-realitas-dan-kemestian-
pengembangannya/ diakses pada jumat, 28 april 2017 pukul 15:07 WIB

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penetapan arah, tujuan dan strategi lembaga pendidikan Islam sangat
diperlukan agar lembaga pendidikan tersebut dapat meningkat pesat dari sisi
kualitas sehingga memiliki banyak peminat dan dapat survive di dalam era
globalisasi ini. Penetapan arah ,tujuan lembaga mengikuti arah kebijakan
pendidikan nasional pada umumnya maupun kebijakan Islam terkhusus.
Penetapan arah, tujuan lembaga pendidikan Islam merupakan suatu pedoman
dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam tersebut di
kancah persaingan sumber daya manusia senagai out come dari lembaga
pendidikan yang semakin kompetitif.
Selain arah, dan tujuan lembaga pendidikan yang harus ditetapkan
diperlukan juga strategi untuk mencapai arah dan tujuan yang telah ditetapkan.
Seorang visioner dari lembaga pendidikan harus memiliki grand desain proyek
jangka pendek dan jangka panjang dari lembaga yang dipimpinnya. Untuk
mencapai semua hal itu diperlukan kerja sama dari semua pihak termasuk
dukungan dana dari pemerintah demi majunya sebuah lembaga. Sebagai contoh
lembaga IAIN Batusangkar berkembang pesat di bawah kepemimpinan Dr. H.
Kasmuri Selamat, MA. Beliau memiliki strategi yang mempuni untuk kemajuan
STAIN menjadi IAIN. Begitu juga UMMU Malang yang memiliki kemajuan yang tak
kalah pesat dengan bisnis yang maju demi keberlangsungan kehidupan sebuah
lembaga. Mulai dari rumah sakit, Pom bensin dan banyak lagi yang mempunyai
nilai ekonomis yang bagus dimata masyarakat. Begitupun UNISMA dengan rumah
sakit dan berbagai hal yang mendukung kemajuan lembaganya. Baik IAIN
Batusangkar, UMMU dan UNISMA merupakan beberapa contoh lembaga
pendidikan Islam yang maju pesat karena memiliki arah, tujuan dan strategi yang
baik. Di harapkan lembaga pendidikan Islam yang lain seperti MI, MTs, MA, dan
Pesantren dapat membuat kemajuan yang pesat juga dengan ditetapkan arah,
tujuan dan strategi yang jelas dan jangka panjang sehingga lembaga pendidikan
Islam tetap survive dan menjadi lembaga pendidikan kebanggaan Umat.

16
B. Saran
Di akhir penulisan makalah ini penulis memberikan saran terhadap semua
unsur dan kalangan yang mengkaji lebih dalam lagi tentang Strategi Satuan
Pendidikan ini. Spesifiknya dalam lembaga pendidikan Islam Hal tersebut
tentunya bertujuan membekali wawasan serta keilmuan kita tentang pola
lembaga pendidikan Islam.
Demikianlah makalah ini kami sajikan. Makalah inipun tak luput dari
kesalahan dan kekurangan maupun target yang ingin dicapai. Adapun kritik, saran
sangat kami harapkan sebagai penunjang pada kesempurnaan makalah ini.
Sebelum dan sesudahnya penulis ucapkan terima kasih.

17
DAFTAR RUJUKAN

Ali imron, perencanaan Sekolah, dalam Burhanuddin, dkk (Ed), 2002. Menejemen
Pendidikan, Wacana, Proses dan Aplikasinya di sekolah. Malang: UIN PRESS, 2007
Agus Maimun dan agus zaenul fitri, Madrasah Unggulan, (Malang: Uin-Maliki Press), 2010
Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah. Jogyakarta, Ar-ruzz Media,2013
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Colemen M & Bush T, 2006, Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan,
Yogyakarta. IRCISOD
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Hamied, F.A. dan Syihabuddin (ed.). (2008). Pendidikan di Indonesia: Masalah dan Solusi.
Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Departemen Agama R.I.
(2008)
Bukhori Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 149.
https://www.academia.edu/5872428/PERKEMBANGAN_LEMBAGA_PENDIDIKAN_ISLAM
http://pendis.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=strategipendis#.VwtKjH2LS1s
diakses pada hari jumat, 28 April 2017 pukul 13.58 WIB
https://prodibpi.wordpress.com/2010/08/05/lembaga-pendidikan-islam-antara-
realitas-dan-kemestian-pengembangannya/ diakses pada jumat, 28 April 2017
pukul 15:07 WIB

18