Anda di halaman 1dari 4

Analisa Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XIV-2016 Tentang Pengujian

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia


Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

1. Isi / Bagian Putusan


Secara umum yang menjadi Isi atau Bagian dari suatu Putusan Mahkamah Konstitusi
adalah sebagaimana yang diatur dalam Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang Mahkamah
Konstitusi :
a. Kepala Putusan berbunyi : DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN
YANG MAHA ESA;
b. Identitas para pihak;
c. Ringkasan permohonan;
d. Pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam persidangan;
e .Pertimbangan hukum yang menjadi dasar Putusan;
f. Amar putusan;
g. Hari, tanggal putusan, nama Hakim Konstitusi, dan Panitera.

Menurut hemat kami Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XIV-2016 terkait


pengujian UU Nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara keseluruhan sudah
memenuhi syarat dari Isi atau Bagian-bagian yang harus termuat dalam suatu Putusan
Mahkamah Konstitusi, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 48 UU MK tersebut di atas.
Perkara yang diajukan oleh Pihak Pemohon Ira Hartini Natadpraja Hamel ke Mahkamah
Konstitusi, jika mengacu kepada ketentuan Pasal 10 UU MK, maka perkara yang diajukan
tersebut adalah termasuk kedalam salah satu dari wewenang Mahkamah Konstitusi, yaitu
menguji Undang-Undang terhadap UUD 1945. Akan tetapi hal tersebut belumlah serta merta
menunjukkan kewenangan Mahkamah Konstitusi, karena selain dari pada itu yang perlu
diperhatikan dalam pengujian UU terhadap UUD 1945, juga harus memperhatikan ketentuan
Pasal 50 UU MK bahwa Undang-undang yang dapat dimohonkan untuk diuji adalah Undang-
undang yang diundangkan setelah perubahan UUD 1945.
Jika dilihat dan dibandingkan antara tahun perubahan terakhir UUD 1945 dengan tahun
diundangkannya Undang-undang yang diajukan untuk di uji di Mahkamah Konstitusi yaitu UU
Nomor 12 Tahun 2006, maka UU yang diujikan oleh Pemohon Ira Hartini Natapraja Hamel ke
MK sudah memenuhi ketentuan dari Pasal 50 UU MK tersebut, karena UU tersebut dibuat dan
disahkan setelah terjadinya perubahan UUD 1945.

2. Kedudukan Hukum (Legal Standing)


Ketentuan Pasal 51 ayat (1) menyebutkan bahwa Pemohon yang dapat mengajukan
permohonan perkara pengujian UU terhadap UUD 1945 adalah pihak yang menganggap hak
dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-undang.
Dalam hal ini yang dikatakan hak dan kewenangan konstitusinya dirugikan oleh Undang-
undang adalah sebagaimana yang diatur lebih lanjut dalam Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 006/PUU-III/25 tanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
II/PUU-V/2007 tanggal 20 September 2007 adalah bahwasanya kerugian konstitusional
tersebut harus bersifat spesifik (khusus) dan actual atau setidak-tidaknya potensial yang
menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi.
Dalam contoh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XIV/2016 dimana Ira
Hartini Natapraja Hamell sebagai Pihak Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing)
untuk mengajukan perkaranya ke Peradilan Mahkamah Konstitusi.

3. Pertimbangan Hukum
Secara garis besar pendapat Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi terhadap pertimbangan
hukum dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XIV/2016 terkait pengujian
Undang-undang Nomor 12 tahun 2006 terhadap UUD 1945 tersebut kami sependapat dengan
dengan pertimbangan tersebut.
Dalam konteks permohonan a quo, Pasal 41 UU 12/2006 justru bertujuan untuk
menghindari terjadinya kekosongan hukum, menjamin kepastian hukum, memberikan
perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak dari perubahan peraturan perundang-
undangan (in casu perubahan Undang-Undang Kewarganegaraan), dan mengatur hal-hal yang
bersifat transisional atau sementara yaitu dengan memberi kewarganegaraan Indonesia bagi
anak-anak yang disebutkan dalam Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf l dan anak yang
diakui atau diangkat secara sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sebelum Undang-
Undang ini diundangkan dan belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin.
Caranya adalah dengan mendaftarkan diri kepada Menteri melalui Pejabat atau
Perwakilan Republik Indonesia paling lambat 4 (empat) tahun setelah Undang-Undang ini
diundangkan. Dengan demikian, berdasarkan Pasal 41 UU 12/2006, mereka yang tergolong ke
dalam anak- anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf l dan
Pasal 5 UU 12/2006 akan terhindar dari kemungkinan menjadi anak yang tidak memiliki
kewarganegaraan dan sekaligus terhindar pula dari kemungkinan memiliki kewarganegaraan
ganda. Dikatakan terhindar dari kemungkinan tidak memiliki kewarganegaraan sebab,
berdasarkan Pasal 4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf l dan Pasal 5 UU 12/2006, anak-anak
tersebut akan secara otomatis memperoleh kewarganegaraan Indonesia.
Sementara itu dikatakan terhindar dari kemungkinan memiliki kewarganegaraan ganda
sebab, berdasarkan Pasal 6 UU 12/2006, setelah anak-anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
4 huruf c, huruf d, huruf h, huruf l dan Pasal 5 UU 12/2006 tersebut berusia 18 tahun atau sudah
kawin diharuskan untuk memilih kewarganegaraannya. Oleh karena itulah syarat belum
berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin menjadi penting ditegaskan dalam
ketentuan Pasal 41 UU 12/2006.
Dengan pertimbangan pada angka 1 sampai dengan angka 3 di atas telah ternyata pula
bahwa keberadaan Pasal 41 UU 12/2006, khususnya frasa mendaftarkan diri kepada Menteri
melalui Pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia paling lambat 4 (empat) tahun setelah
Undang-Undang ini diundangkan, tidak ada relevansinya dengan Pasal 28B ayat (2) dan Pasal
28G ayat (1) UUD 1945 dan karenanya dengan sendirinya tidak ada pertentangan dengan
kedua norma dalam UUD 1945 tersebut.
Oleh karena kesempatan untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia berdasarkan
ketentuan peralihan dalam Pasal 41 UU 12/2006 telah terlampaui maka apabila Pemohon,
incasu atau dalam perkara ini anak Pemohon, benar-benar berkeinginan untuk memperoleh
kewarganegaraan Indonesia, sebagaimana tampak dari uraian Pemohon dalam
permohonannya, Undang-Undang a quo (terikait) tetap memberikan jalan untuk mewujudkan
keinginan tersebut melalui prosedur yang diatur dalam Bab III UU 12/2006, yaitu melalui
Pewarganegaraan, dengan memenuhi persyaratan khususnya, sebagaimana yang diatur dalam
Pasal 8.

4. Amar Putusan
Setelah semua pemeriksaan di persidangan dilakukan, selanjutnya adalah tahap
penjatuhan putusan akhir. Amar putusan adalah apa yang diputuskan secara final oleh
Mahkamah Konstitusi.Putusan akhir adalah putusan yang dijatuhkan oleh Hakim setelah
dilakukannya pemeriksaan perkara di persidangan Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan Pasal 56 Undang-undang Mahkamah Konstitusi, bentuk-bentuk Putusan
Mahkamah Konstitusi dapat berupa :
a. Menyatakan permohonan tidak dapat diterima,jika dalam hal Mahkamah Konstitusi
berpendapat bahwa Pemohon dan/atau permohonannya tidak memenuhi syarat dalam Pasal
50 dan Pasal 51 UU MK.
b. Menyatakan permohonan dikabulkan, jika dalam hal Mahkamah Konstitusi berpendapat
bahwa permohonan beralasan, amar putusan menyatakan permohonan dikabulkan.
c. Menyatakan permohonan dikabulkan, jika dalam hal pembentukan Undang-undang
dimaksud tidak memenuhi ketentuan pembentukan Undang-undang berdasarkan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
d. Menyatakan permohonan ditolak, jika dalam hal undang-undang dimaksud tidak
bertentangan dengan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, baik
mengenai pembentukan maupun materinya sebagaian atau keseluruhan.

Pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 80/PUU-XIV/2016 yang menjadi Amar


Putusan / Putusan akhir Majelis Hakim terhadap perkara yang diajukan Pemohon sebagaimana
yang telah diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Hakim tanggal 31 Agustus 2017
, yaitu : mengadili, Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.
Dengan dinyatakannya permohonan Pemohon ditolak untuk seluruhnya, maka Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang
diperkarakan oleh Pemohon akan tetap berlaku, dimana dalam hal ini Mahkamah Konstitusi
berpandangan bahwasanya Undang-undang tersebut tidak bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dimana tidak bertentangan dengan
Pasal 28 B ayat (2) , Pasal 28 D ayat (1), (4) , Pasal 28 H ayat (2), dan Pasal 28 I ayat (2) UUD
1945 sebagaimana yang dijadikan acuan oleh Pemohon dalam mengajukan perkaranya ke
Mahkamah Konstitusi.