Anda di halaman 1dari 29

0

PEMBANGUNAN MASYARAKAT PEDESAAN

MAKALAH
untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia
yang dibimbing oleh Bapak Agus Dharmawan

Oleh:
Kelompok 2/ Offering C
Dewi Nur Arasy (140341602754)
Diah Nur Rochmah (140341605238)
Irma Rizqi Taufika (140341603440)
Joddy Oki Ibrahim (140341606446)
Qomaril Ulfa (140341600722)
Septian Dwi Devinta Sari (140341602034)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September, 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat hidayah dan nikmat-Nya berupa kesehatan, waktu dan segala hal yang
kami butuhkan sehingga dapat menyelesaikan makalah untuk mata kuliah
Manajeman Sumber Daya Manusia yang berjudul Pengembangan Masyarakat
Pedesaan ini dengan lancar.Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat
bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Agus Dharmawanselaku dosen
pembimbing mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, kepada orang tua,
teman diskusi, dan pihak-pihak lain yang mendukung penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi semua pembaca. Penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk
itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan ke arah kesempurnaan.Akhir kata penulis menyampaikan terimakasih.

Malang, 12 September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman

Cover

Kata Pengantar ......................................................................................................... i

Daftar Isi.................................................................................................................. ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ........................................................................................1

1.2.Rumusan Masalah .....................................................................................2

1.3.Tujuan .......................................................................................................2

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

2.1.Hakikat Pembangunan Masyarakat Pedesaan ..........................................3

2.2.Tujuan dan Prinsip Pembangunan Masyarakat Pedesaan .........................7

2.3.Komponen Pembangunan Masyarakat Pedesaan .....................................9

2.4. Tahapan Penting yang Harus Diperhatikan dalam Pembangunan

Masyarakat Pedesaan ...................................................................................13

2.5. Ukuran Keberhasilan Pembangunan Masyarakat Pedesaan ..................16

BAB III. PENUTUP

3.1. Simpulan ................................................................................................21

3.2. Saran ....................................................................................................22

Daftar Rujukan .......................................................................................................23

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Desaadalah ujung tombak sebuah peradaban.Kekuatan sebuah negara
tergantung dari produktivitas, ekonomi, kekhasan, adat, dan tradisi di wilayah
pedesaan.Jumlah penduduk Indonesia saat ini kurang lebih telah mencapai 250
juta jiwa sehingga menempatkan Indonesia di urutan keempat penduduk terbesar
dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Masih banyak masyarakat
Indonesia yang tinggal di wilayah pedesaan (Prasetyono, 2017).
Berdasarkan data terakhir yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri,
sampai dengan Oktober 2015 tercatat ada 74.053 desa dan 8.300 kelurahan (total
jumlah desa dan kelurahan menjadi 82.353). Semua desa dan kelurahan tersebut
tersebar di 34 Provinsi, 511 Kabupaten/Kota dan 7000 lebih kecamatan. Jumlah
tersebut tentu akan semakin bertambah seiring dengan banyaknya daerah lokal
yang gencar melakukan pemekaran wilayah. Data menarik lain adalah jumlah
sebaran penduduk Indonesia, sampai dengan awal tahun 2015, tercatat sebanyak
45% (112,5% juta jiwa) dari total jumlah penduduk Indonesia tinggal di desa.
Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri tahun 2012, Indonesia sendiri
terdiri dari 17.504 pulau besar dan kecil dengan luas wilayah 5.200.000 km2,
terdiri dari kurang lebih 3.300.00 km2 laut dan 1.900.000 km2 daratan
(Prasetyono, 2017).
Didalam masyarakat dapat ditemukan dua macam keadaan: kemiskinan
sekaligus kesenjangan atau tidak terdapat kemiskinan tetapi boleh jadi masih ada
kesenjangan. Upaya menanggulangi kemiskinan sangat kompleks dan rumit, dan
upaya menanggulangi kemiskinan sekaligus kesenjangan jauh lebih kompleks dan
rumit lagi(Hanafiah, 1985).Permasalahan tersebut hingga saat ini masih belum
dapat dituntaskan, terutama di wilayah pedesaan. Hal tersebut terutama karena
sumber daya manusia di pedesaan pada umumnya cenreung lebih rendah daripada
di perkotaan.
Pemberdayaan masyarakat merupakan prasyarat mutlak bagi upaya
penanggulangan masalah kemiskinan. Keberhasilan pembangunan nasional suatu
negara akan ditentukan juga oleh keberhasilan pembangunan masyarakat desa.

1
2

Dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan masyarakat pedesaan, mutu Sumber


Daya Manusia (SDM) perlu ditingkatkan untuk menggerakan ekonomi produktif
desa. SDM lokal tidak dibenarkan hanya menjadi penonton, namun harus
dilibatkan secara aktif menjadipelaku pembangunan di desanya (Prasetyono,
2017). Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dalam makalah ini penulis
akan membahas tentang Pembangunan Masyarakat Pedesaan.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.2.1. Apakah hakikat pembangunan masyarakat pedesaan?
1.2.2. Apakah tujuan danprinsip pembangunan masyarakat pedesaan?
1.2.3. Apa sajakah komponen pembangunan masyarakat pedesaan?
1.2.4. Bagaimana tahapan penting yang harus diperhatikan dalam pembangunan
masyarakat pedesaan?
1.2.5. Bagaimana ukuran keberhasilan pembangunan masyarakat pedesaan?

1.3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1.3.1. Hakikat pembangunan masyarakat pedesaan
1.3.2. Tujuan dan prinsip pembangunan masyarakat pedesaan
1.3.3. Komponen pembangunan masyarakat pedesaan
1.3.4. Tahapan penting yang harus diperhatikan dalam pembangunan masyarakat
pedesaan
1.3.5. Ukuran keberhasilan pembangunan masyarakat pedesaan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hakikat Pembangunan Masyarakat Pedesaan


Konsep pembangunan merupakan konsep yang sangat multidimensional,
yang mengacu kepada serangkaian karakteristik dan segenap aspek kehidupan,
baik aspek politik, ekonomi maupun sosial. Menurut Todaro dalam Bryant and
White (1998) pembangunan adalah proses multidimensi yang mencakup
perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial, sikap rakyat dan lembaga-
lembaga nasional dan juga akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengurangan
kesenjangan dan pemberantasan kemiskinan.
Seiring dengan reformasi dan arus desentralisasi, sejak Undang-Undang
Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang kemudian diubah
dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, paradigma pembangunan nasional
telah mengalami suatu perubahan yang signifikan, dari pembangunan yang
bertumpu pada negara menjadi paradigma pembangunan yang bertumpu pada
masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah pembangunan masyarakat.
Masyarakat dalam bahasa Inggris, masyarakat disebut society, asal katanya
socius yang berarti kawan. Mengenai arti masyarakat, ada beberapa definisi
menurut para ahli yakni:
a. R. Linton: seorang ahli antropologimengemukakan bahwa masyarakat ialah
setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama,
sehingga mereka dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya
dalam satu kesatuan social dengan batas-batas tertentu.
b. M.J. Herkovits: masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan
dan mengikuti satu cara hidup tertentu.
c. J.L Gilin dan J.P Gilin: masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar
dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.
d. S.R Steimetz: masyarakat ialah kelompok manusia yang terbesar, yang
meliputi pengelompokkan-pengelompokkan manusia lebih kecil yang
mempunyai hubungan erat dan teratur.

3
4

e. Hasan Shadily: masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa
manusia yang dengan pengaruh bertalian secara golongan dan mempunyai
pengaruh kebatinan satu sama lain.
Masyarakat adalah sejumlah manusia yang telah hidup bersama di suatu
wilayah tertentu dengan menciptakan sejumlah aturan, sistem dan kaidah-kaidah
pergaulanserta melahirkan kebudayaan masyarakat tersebut.
Berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014
Pasal 1 tentang desa, dapat diketahui bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan / atau hak tradisional yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Replubik Indonesia.
Menurut Widjaja (2010) setiap desa memiliki kondisi dan potensi yang khas
berbeda dengan desa lainnya, demikian pula aspirasi dan karakter
masyarakatnya.Oleh sebab itu pembangunan di desa memang sepatutnya lebih
banyak ditentukan oleh masyarakat desa sendiri.
Masyarakat desa selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat,
yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Terdapat beberapa
karakteristik yang menjadi ciri khas masyarakat desa, antara lain:
a. Sederhana, sebagian besar masyarakat desa hidup bersahaja (apa adanya).
Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: secara ekonomi memang tidak
mampu dan secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri
b. Mudah curiga, cecara umum masyarakat desa akan menaruh curiga pada hal-
hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya dan seseorang/ sekelompok
yg bagi komunitas mereka dianggap asing.
c. Menjunjung tinggi unggah ungguh, sebagai orang desa sangat menjunjung
tinggi kesopanan atau unggah-ungguh apabila bertemu dengan tetangga,
pejabat, orang yg lebih tua/dituakan, yang lebih mampu secara ekonomi atau
orang yang tinggi tingkat pendidikan/jabatannya.
d. Kekeluargaan, sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa
suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah mendarah-daging dalam
sanubari mereka.
5

e. Lugas, Berbicara apa adanya, itulah ciri khas lain yg dimiliki masyarakat
desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi
orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain.
Kejujuran, itulah yg mereka miliki.
f. Suka gotong royong, Salah satu ciri khas masyarakat desa yg dimiliki di
hampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong. Uniknya, tanpa
harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan bahu-membahu
meringankan beban tetangganya yang memiliki hajatan. Mereka tidak
memperhitungkan kerugian materiil yg dikeluarkan untuk membantu orang
lain.
g. Menghargai orang lain, masyarakat desa benar-benar memperhitungkan
kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai patokan untuk
membalas budi sebesar besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud
material tetapi juga dalam bentuk penghargaan social atau dalam bahasa Jawa
biasa disebut dengan ngajeni.
h. Religious, Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam
keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka
juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yg bernuansa keagamaan.
Misalnya: tahlilan, rajaban, dll.
Pembangunan masyarakat desa haruslah memperhatikan karakteristik dari
masyarakat desa itu sendiri.Oleh karenanya dalam membangun masyarakat
desa diperlukan sikap yang sesuai dengan karakteristik masyarakat
desa.Cara bersikap kepada masyarakat desa diantaranya bersikap andhap asor,
bersahabat, menghargai, sopan santun, terbuka, membantu tanpa pamrih, tepat
waktu, silahturahmi, membaur, dan partisipatif.
Pembangunan di wilayah pedesaan diarahkan untuk meningkatkan
kesejahteraan yang semakin memantapkan ketahanan masyarakat dalam upaya
meletakan dasar dan landasan ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan dan
ketahanan nasional.Untuk itu, pembangunan pedesaan diarahkan kepada kegiatan
pengembangan secara terpadu dan menyeluruh dengan cara memperdayakan
setiap komponen dimasyarakat dalam rangka meningkatkan pengembangan
masing-masing desa.Dalam mewujudkan tujuan pembangunan desa dibutuhkan
6

kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat.Selain itu juga diperlukan
kebijakan pemerintah untuk mengarahkan serta membimbing masyarakat guna
bersama-sama melaksanakan program pembangunan desa(Melis et al., 2016).
Menurut Marbun (2002) bahwa pembangunan desa adalah seluruh kegiatan
yang berlangsung di pedesaan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat,
dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong-royong
masyarakat.Pembangunan desa diarahkan untuk memanfaatkan secara optimal
potensi sumber daya alam, dan mengembangkan sumber daya manusianya dengan
meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan keterampilan, meningkatkan
prakarsa, dengan mendapatkan bimbingan dan bantuan.
Menurut Muhi (2011) Pembangunan desa pada hakikatnya adalah segala
bentuk aktivitas manusia (masyarakat dan pemerintah) di desa dalam membangun
diri, keluarga, masyarakat dan lingkungan di wilayah desa baik yang bersifat fisik,
ekonomi, sosial, budaya, politik, ketertiban, pertahanan dan keamanan, agama dan
pemerintahan yang dilakukan secara terencana dan membawa dampak positif
terhadap kemajuan desa. Dengan demikian, pembangunan desa sesungguhnya
merupakan upaya-upaya sadar dari masyarakat dan pemerintah baik dengan
menggunakan sumberdaya yang bersumber dari desa, bantuan pemerintah maupun
bantuan organisasi-organisasi/lembaga domestik maupun internasional untuk
menciptakan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.
Pembangunan desa meliputi dua aspek utama yaitu pembangunan desa
dalam aspek fisik dan pembangunan dalam aspek pemberdayaan insani.
a. Pembangunan desa dalam aspek fisik yaitu pembangunan yang objek utamanya
dalam aspek fisik (sarana, prasarana dan manusia) di pedesaan seperti jalan
desa, bangunan rumah, pemukiman, jembatan, bendungan, irigasi, sarana
ibadah, pendidikan (hardware berupa sarana dan prasarana pendidikan, dan
software berupa segala bentuk pengaturan, kurikulum dan metode
pembelajaran), keolahragaan, dan sebagainya. Pembangunan dalam aspek fisik
ini selanjutnya disebut pembangunan desa Muhi (2011).
b. Pembangunan dalam aspek pemberdayaan insani, yaitu pembangunan yang
objek utamanya aspek pengembangan dan peningkatan kemampuan, skill dan
memberdayakan masyarakat di daerah pedesaan sebagai warga negara, seperti
7

pendidikan dan pelatihan, pembinaan usaha ekonomi, kesehatan, spiritual, dan


sebagainya. Tujuan utamanya adalah untuk membantu masyarakat yang masih
tergolong marjinal agar dapat melepaskan diri dari berbagai belenggu
keterbelakangan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Pembangunan dalam
aspek pemberdayaan insani ini selanjutnya disebut sebagai Pemberdayaan
Masyarakat Desa. Pemberdayaan masyarakat menurut Widjaja (2005) adalah
upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat
sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya
secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik
dibidang ekonomi, sosial, agama dan budaya.
Untuk mencapai keberhasilan yang maksimal, maka suatu kegiatan sangat
dipengaruhi oleh ketetapan pengorganisasian, sistem kerja yang dijalankan dan
unsur-unsur pendukungnya, yaitu mutu personilnya serta sarana yang diperlukan.
Dalam keadaan demikian, maka akan dapat dicapai suatu penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan yang berdayaguna dan berhasilguna. Seiring
dengan hal tersebut, maka dalam penyelenggaraan pembangunan desa diperlukan
pula pengorganisasian yang dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi
dalam pembangunan desa, serta melaksanakan administrasi pemerintahan desa
yang semakin rasional, tidak didasarkan pada tuntutan emosional yang sukar
dipertanggungjawabkan pelaksanaannya.

2.2. Tujuan dan Prinsip Pembangunan Masyarakat Pedesaan


Pembangunan masyarakat desa adalah upaya yang dilakukan secara
terencana dan berkelanjutan untuk mencapai masyarakat desa yang di cita-citakan
guna mencapai masyarakat sejahtera (perubahan pola hidup dan pola tingkah laku
dari berfikir tradisonal menjadi masyarakat yang modern). Selain itu
Pembangunan masyarakat desa memilikipengertian yaitu seluruh kegiatan
pembangunan yang berlangsung di desa, yang meliputi seluruh aspek kehidupan
masyarakat (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan
keamanan), dan dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya
gotong royong masyarakat.
8

Tujuan pembangunan masyarakat pedesaan:


a. Meningkatkan taraf hidup dan kehidupan rakyat di desa- desa yang berarti
menciptakan situasi dan kondisi, kekuatan dan kemampuan dalam satu tingkat
yang lebih kuat dan nyata untuk tahap- tahap pembangunan selanjutnya.
b. Mewujudkan desa swasembada yang berketahanan disegala bidang
(IPOLEKSOSBUDHANKAM) sebagai jembatan menuju masyarakat
Pancasila.
Prinsip kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan:
a. Prinsip Integral
Pembangunan masyarakat desa dilaksanakan dalam rangka kesatuan
tindak dan gerak dengan program nasional.Programnya harus saling mengisi,
lengkap melengkapi, tunjang menunjang dengan program nasional.Prinsip
integral ini harus berlaku secara vertikal maupun horizontal dalam batas
regional maupun nasional. Program pelaksanaan yang didalamnya terkandung
landasan, sasaran, kegiatan dan target harus menunjukkan kesatuan arah untuk
tercapainya sasaran jangka pendek dalam setiap tahap repelita ataupun sasaran
jangka panjang dalam rangka era pembangunan 25 tahun. Prinsip integral ini
juga berlaku untuk semua aparat pelaksana, antara pemimpin dan yang
dipimpin dan antara pemerintah dan masyarakat, sehingga pembangunan
masyarakat desa benar- benar dilaksanakan oleh pemerintah dan rakyat
bersama- sama.
b. Prinsip Keseimbangan
Pembangunan masyarakat desa yang berusaha meletakkan dasar
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi nasional yang sehat harus dapat
mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan sektor lainnya sebagai satuan
mata rantai jaringan aktivitas ekonomi. Harus pula ada keseimbangan antara
perkembangan desa dan kota dimana kota sebagai pusat fasilitas (center place)
dan desa- desa sebagai sumber bahan mentah dan tenaga kerja (heterland).
Perkembangan desa dan kota saling menciptakan pasaran dimana kota
menjadi pasaran hasil produksi desa dan desa menjadi pasaran industri,
sehingga perkembangannya saling menciptakan kesempatan kerja.
Keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan kemajuan
9

masyarakat.Pembaharuan yang tidak menimbulkan desintegrasi sosial yang


membawa efek negatif.Keseimbangan proporsional antara pengembangan
ekonomi sosial budaya politik, ketertiban, dan keamanan.Keseimbangan
tanggung jawab dan inisiatif antara pemerintah dan masyarakat.
c. Prinsip Prioritas
Dalam melaksanakan pembangunan masyarakat desa harus pula disadari
adanya batas- batas kemampuan baik di bidang pembiayaan maupun di bidang
keahlian sehingga kita untuk mendahulukan sektor-sektor yang strategis
seperti:
- Memprioritaskan bidang ekonomi sebagai instrumen atau alat yang paling
uatama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
- Mendahulukan pengembangan desa yang mempunyai potensi dan
kemungkinan yang paling baik;
- Mendahulukan pengembangan desa- desa yang berada dalam lingkaran
region ekonomi dengan mendahulukan region primer dari region sekunder.
d. Prinsip Keswadayaan Masyarakat
Swadaya masyarakat menjadi dasar bagi pelaksanaan pembangunan
masyarakat desa, sedangkan bantuan pemerintah merupakan pendorong.
Peningkatan potensi swadaya masyarakat akan menjamin kelangsungan
pembangunan masyarakat desa. Prinsip ini memberikan keseimbangan
tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan
pembangunan masyarakat desa.

2.3. Komponen Pembangunan Masyarakat Pedesaan


Pembangunan masyarakat desa berarti adanya proses perbaikan keadaan
masyarakat desa menuju pada peningkatan kesejahteraannya yang dilakukan
secara terus menerus sesuai karakteristik dan kebutuhan masyarakat desa dengan
melibatkan semua komponen atau pihak pemangku kepentingan, yaitu masyarakat
desa, agen perubahan/ penyuluh/ pihak pendamping yang akan mendorong
partisipasi aktif masyarakat desa, dan pemerintah (Soetarto, 2014).
10

a. Masyarakat Desa
Pembangunan akan bermakna apabila pembangunan bersifat
memasyarakat yang berarti masyarakat tidak hanya terlibat aktif dalam proses
pembangunan, namun pembangunan tersebut sepenuhnya diperuntukkan bagi
masyarakat serta sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada pada
masyarakat. Memposisikan masyarakat sebagai bagian penting dalam
pembangunan menjadikan masyarakat bertanggung jawab atas keberhasilan
dan keberlanjutnan proses pembangunan tersebut sehingga pembangunan
merupakan proses dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat
(Prastyanti, 2012).
Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan individu secara aktif dalam
mengubah kondisi-kondisi yang problematik dalam suatu komunitas dan
memberikan pengaruh atas kebijakan serta program yang mempengaruhi
kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, tingkat partisipasi masyarakat desa
menjadi proses yang akan menentukan keberhasilan pembangunan.
b. Pendamping Desa
Dalam pembangunan masyarakat desa, penyuluh merupakan pihak
pendamping yang dapat mendorong partisipasi aktif masyarakat desa mulai
dari proses perencanaa, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan hasil
pembangunan serta keberlanjutan pembangunan (Soetarto, 2014).
Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Desa, kegiatan
pendampingan desa adalah kegiatan untuk melakukan tindakan pemberdayaan
masyarakat melalui asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi desa.
Pendampingan sebagai suatu strategi yang umum digunakan oleh pemerintah
dan lembaga non profit dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas dari
sumber daya manusia. Pendampingan pada dasarnya merupakan upaya untuk
mengajak serta dan membimbing masyarakat (individu atau kelompok) untuk
mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya, agar mampu mencapai
kualitas kehidupan yang lebih baik. Program pendampingan ini membutuhkan
ketersediaan sumber daya manusia (SDM) memiliki integritas dan kualitas,
yang mampu berperan sebagai fasilitator, komunikator dan dinamisator, serta
berperan sebagai konsultan tempat bertanya bagi kelompok (Sunarti, 2016).
11

Pendampingan diupayakan untuk menumbuhkan keberdayaan dan


keswadayaan agar masyarakat yang didampingi dapat hidup secara mandiri.
Untuk mesukseskan kegiatan pendampingan desa dalam membangun, maka
pemerintah menyiapkan tenaga pendamping desa yang terdiri dari: (a) tenaga
pendamping profesional; (b) Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa; dan/atau
(c) pihak ketiga (Permendes RI Nomor 3 Tahun 2015). Tenaga pendamping
profesional terdiri atas: (a) pendamping desa yang berkedudukan di kecamatan;
(b) pendamping teknis berkedudukan di kabupaten; dan (c) Tenaga Ahli
Pemberdayaan Masyarakat berkedudukan di pusat dan provinsi, sedangkan
Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa berkedudukan di Desa. Pihak ketiga
sebagai pendamping desa terdiri dari: (a) Lembaga Swadaya Masyarakat; (b)
Perguruan Tinggi; (c) Organisasi Kemasyarakatan; atau (d) Perusahaan
(Permendes RI Nomor 3 Tahun 2015).
Seorang pendamping mempunyai peranan kunci dalam program
pengembangan masyarakat. Tugas utama seorang pendamping adalah
menggali, membangun dan mengembangkan kapasitas masyarakat agar mampu
mengorganisasi dirinya kelompoknya, serta menentukan sendiri upaya-upaya
yang diperlukan dalam memperbaiki kehidupan mereka. Pendamping bekerja
bersama-sama dengan masyarakat untuk membangun kepercayaan diri mereka
terhadap kemampuan dan potensi yang sebenarnya mereka miliki. Pendamping
desa bertugas mendampingi desa dalam penyelenggaraan pembangunan Desa
dan pemberdayaan masyarakat desa. Tujuan pendampingan desa dalam
Permendes RI Nomor 3 Tahun 2015 meliputi (Sunarti, 2016):
a. meningkatkan kapasitas, efektivitas dan akuntabilitas pemerintahan desa
dan pembangunan desa;
b. meningkatkan prakarsa, kesadaran dan partisipasi masyarakat desa dalam
pembangunan desa yang partisipatif;
c. meningkatkan sinergi program pembangunan desa antarsektor; dan
d. mengoptimalkan aset lokal desa secara emansipatoris.
c. Pemerintah
Pada era reformasi, secara substansial pembangunan desa lebih cenderung
diserahkan kepada desa itu sendiri, sedangkan pemerintah dan pemerintah
12

daerah cenderung mengambil posisi dan peran sebagai fasilitator, memberi


bantuan dana, pembinaan dan pengawasan. Program pembangunan desa lebih
bersifat bottom-up atau kombinasi buttom-up dan top-down.
Top-down Planning. Perencanaan pembangunan yang lebih merupakan
inisiatif pemerintah (pusat atau daerah). Pelaksanaannya dapat dilakukan oleh
pemerintah atau dapat melibatkan masyarakat desa di dalamnya.Namun
demikian, orientasi pembangunan tersebut tetap untuk masyarakat desa.
Bottom-up Planning. Perencanaan pembangunan dengan menggalipotensi
riil keinginan atau kebutuhan masyarakat desa dimana masyarakat desa diberi
kesempatan dan keleluasan untuk membuat perencanaan pembangunan atau
merencanakan sendiri apa yang mereka butuhkan. Masyarakat desa dianggap
lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Pemerintah memfasilitasi dan
mendorong agar masyarakat desa dapat memberikan partisipasi aktifnya dalam
pembangunan desa.
Berdasarkan hal tersebut, peranan pemerintah dapat diketahui sebagai:
- Pelaksana kebijakan
Di dalam Pemerintahan Desa, Kepala Desa dan LPMD (Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Desa) bekerjasama dan saling membantu
dalam menyusun rencana pembangunan yang berbasis pada perbaikan
mutu hidup masyarakat desa.Penetapan pokok-pokok pikiran sebagai suatu
upaya untuk pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat akan lebih
maju, sejahtera dan mandiri (Ulumiyah, et al., Tanpa Tahun).
Kerjasama yang dilakukan Pemerintah Desa dengan LPMD (Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Desa) berupa penyusunan rencana
pembangunan yang menghasilkan sebuah kebijakan. Adapun kebijakan
yang dapat dirumuskan dalam rangka pemberdayaan masyarakat misalnya
sebagai berikut (Ulumiyah, et al., Tanpa Tahun):
1) Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan.
2) Meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis pada
sumber daya manusia (SDM).
3) Meningkatkan Pemberdayaan Aparatur Desa dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan desa.
13

- Pelaksana program
Pemerintah Desa dapat membuka kesempatan kepada masyarakat desa
untuk terlibat dalam menggali gagasan sehingga program-program tersebut
bisa dikendalikan sendiri oleh masyarakat.Pemerintah desa hanya berfungsi
sebagai pengontrol pelaksanaan program-program serta ikut mengevaluasi
hasil kegiatan yang ada dilapangan (Ulumiyah, et al., Tanpa Tahun).
Berikut contoh program-program pembangunan masyarakat Desa:
1) Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan, dengan
kegiatan:
a) Pelaksanaan kerja bakti
b) Perlombaan Desa
c) Pembangunan Fisik, dsb.
2) Peningkatan ekonomi produktif, dengan kegiatan:
a) Pelatihan pembuatan pande besi
b) Pelatihan keterampilan border, dsb.
- Pembina
Kepala Desa mempunyai peran dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat salah satunya melalui pembinaan, dengan adanya pembinaan
diharapkan masyarakat desa mempunyai keinginan untuk ikut turut serta
dalam setiap kegiatan program pemberdayaan masyarakat. Pembinaan
dapat mencakup berbagai bidang seperti bidang ekonomi, salah satunya
pertanian.Dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, pemerintah desa
dapat bekerjasama dengan dinas pertanian dalam memberikan penyuluhan
tentang sistem pola tanam padi, pemilihan bibit, penggunaan teknologi
modern seperti mesin perontok padi serta perbaikan irigasi.Dengan
demikian, penyuluhan yang diberikan dinas pertanian sangat bermanfaat
bagi para petani desa (Ulumiyah, et al., Tanpa Tahun).

2.4. Tahapan Penting yang Harus Diperhatikan dalam Pembangunan


Masyarakat Pedesaan
Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan berdasarkan beberapa
langkah yang perlu diperhatikan, baik dalam lingkup umum maupun
14

khusus.Berikut adalah langkah atau tahapan penting yang harus dilakukan


menurut Sumaryadi, (2004).
- Pertama, melakukan analisis kebutuhan. Seseorang agen harus dapat mengenali
apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia harus
melakukan need assesment. Analisis kebutuhan dimaksudkan agar tidak terjadi
kekeliruan di dalam memetakan apa yang mestinya diperbuat untuk
pemberdayaan masyarakat.
- Kedua, melakukan analisis situasi sosial atau social analysis, yaitu melakukan
kajian terhadap berbagai hambatan dan potensi, baik fisik maupun non-fisik
yang mempengaruhi atas hidupnya masyarakat, dan kemudian menempatkan
hasil analisis kebutuhan tersebut di dalam peta hambatan dan potensi yang
dimaksud.
- Ketiga, menemukan berbagai program yang layak dijadikan sebagai basis
pengembangan masyarkat, mungkin akan ditemui sekian banyak program yang
relevan dengan analisis kebutuhan dan analisis situasi sosialnya.
- Keempat, menentukan alternatif program yang diprioritaskan.
- Kelima, melakukan aksi pemberdayaan masyarakat sesuai dengan program
prioritaskan.
- Keenam, melakukan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan atau kegagalan
program dan faktor-faktor penyebabnya. Melalui evaluasi ini akan
ditindaklanjuti program berikutnya.
Menurut Kuntari (2003), masyarakat merupakan obyek tetapi juga sekaligus
subyek pembangunan, oleh karena itu kegiatan yang dilakukan tenaga
pengembang masyarakat (pekerja sosial) sejauh mungkin diarahkan kepada
terwujudnya masyarakat yang lebih mandiri, yakni masyarakat yang mampu
merencanakan, mengambil keputusan, melaksanakan dan menilai usaha dalam
memenuhi kebutuhannya. Sesungguhnya pengembangan swasembada masyarakat
merupakan siklus kegiatan yang bertahap.
Selanjutnya, Mardikanto (2010) mengemukakan siklus kegiatan yang harus
diperhatikan dalam pembangunan masyarakat, yakni sebagai berikut.
a. Persiapan Sosial Identifikasi Potensi, Masalah, dan Kebutuhan (Need
Assesment)
15

Dalam persiapan sosial diperlukan adanya komunikasi antara pekerjaan


sosial dan masyarakat.Hal ini berkaitan dengan prosedur administratif di lokasi
kegiatan. Informasi mengenai lokasi kegiatan perlu dimiliki, oleh karena
itu base line survey perlu diadakan. Setelah prosedur administrasi dan
gambaran umum lokasi didapat maka proses selanjutnya yaitu need
assement itu merupakan dialog antara pihak terkait dan anggota masyarakat
untuk memperoleh fakta (Fact Finding) antara lain kondisi fisik lokasi, sosial
ekonomi, sumber pendapatan dan lingkungan. Pada saat itu juga diungkapkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan masyarakat dan
lingkungannya.Selanjutnya dirumuskan alternatif pemecahan masalah secara
serta penentuan prioritas-prioritas pemecahan masalah. Explanation
PRA mungkin dapat membantu untuk memperlancar proses ini.
b. Perencanaan Program
Perencanaan program merupakan bagian dari pengembangan swadaya
masyarakat yang membahas dan memutuskan tentang tujuan, target, waktu,
pembagian peran dan tanggungjawab, sumber dana, sistem monitoring dan
evaluasi yang semua dipahami oleh anggota masyarakat. Planning PRA bisa
membantu analisis partisipatif terhadap penyusunan program.
c. Pembentukan dan Dinamisasi Kelompok
Kelompok sebagai sarana untuk menangani masalah masyarakat, dapat
dibentuk berdasarkan beberapa alternatif pendekatan, antara lain:
- Pendekatan berdasarkan kesamaan masalah
Dalam hal ini masyarakat didekati menurut kesamaan masalah yang
dihadapi, misalnya masalah yang dihadapi pedagang makanan kecil,
pedagang buah-buahan, pengrajin bambu. Pendekatan ini memiliki
kekuatan antara lain memudahkan pendampingan karena masalahnya
sama. Kelemahan dari pendekatan ini adalah sulit melakukan
pendampingan secara berkelompok karena mungkin tempatnya berjauhan.
- Pendekatan berdasarkan tempat berkumpulnya.
Masyarakat didekati berdasarkan tempat mereka berkumpul sehari-
harinya, misalnya para pedagang sektor informal di pasar, petani di
pedesaan.Pendekatan ini menguntungkan dari segi pengelompokan karena
sudah berkumpul disuatu tempat tertentu.
16

- Pendekatan berdasarkan tempat tinggal


Pembinaan dilakukan dilokasi pemukiman, pendekatan ini mempunyai
kelebihan terutama mudah diketahuinya latar belakang keluarga.

d. Pelaksanaan Program Masyarakat


Koordinasi antara masyarakat dengan pihak-pihak yang terkait dalam
rangka merealisasikan program yang sudah ditentukan dengan sumber dana
dan sumber daya yang ada.
e. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau sejauh mana program
dilaksanakan, apakah sesuai dengan perencanaan atau tidak. Dengan demikian
dapat mengetahui penyimpangan dan penyebabnya. Monitoring adalah
pemantauan kegiatan untuk melihat sejauh mana kemajuan pencapaian tujuan,
apakah ada penyimpangan-penyimpangan. Evaluasi adalah pemantauan untuk
melihat sejauh mana dampak yang diperoleh dalam kegiatan pengembangan
masyarakat.
f. Perencanaan dan Tindak Lanjut
Apabila dalam monitoring dan evaluasi ditemukan penyimpangan maka
dilakukan perbaikan-perbaikan yang dituangkan dalam perencanaan tidak
lanjut.

2.5. Ukuran Keberhasilan Pembangunan Masyarakat Pedesaan


Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup
seluruhsistem sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan,
pendidikan danteknologi, kelembagaan, dan budaya (Abe, 1994). Pembangunan
adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek
kehidupan masyarakat. Untuk mengukur sejauh mana kemajuan pembangunan
dicapai diperlukan ukuran (indikator).Indicator danvariable pembangunan bisa
berbda-beda untuk setiap Negara.Di Negara-negara yang masih miskin, ukuran
kemajuan dan pembangunan mungkin masih sekitar kebutuhan-kebutuhan dasar
seperti listrik masuk desa, layanan kesehatan pedesaan, dan harga makanan pokok
yang rendah. Sebaliknya, di Negara-negsara yang telah dapat memenuhi
17

kebutuhan tersebut, indikator pembangunan akan bergeser kepada faktor-faktor


sekunder dan tersier (Tikson, 1987).
Sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui atau mengukur
sejauh mana kemajuan pembangunan dicapai, antara lain:
a. Pendapatan Perkapita
Pendapatan per kapita, baik dalam ukuran GNP maupun PDB merupakan
salah satuindikator makro-ekonomi yang telah lama digunakan untuk
mengukur pertumbuhanekonomi.Dalam perspektif makroekonomi, indikator
ini merupakan bagiankesejahteraan manusia yang dapat diukur, sehingga dapat
menggambarkankesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
b. Struktur Ekonomi
Telah menjadi asumsi bahwa peningkatan pendapatan per kapita akan
mencerminkantransformasi struktural dalam bidang ekonomi dan kelas-kelas
sosial. Dengan adanyaperkembangan ekonomi dan peningkatan per kapita,
konstribusi sectormanufaktur/industri dan jasa terhadap pendapatan nasional
akan meningkat terus.Perkembangan sektor industri dan perbaikan tingkat upah
akan meningkatkanpermintaan atas barang-barang industri, yang akan diikuti
oleh perkembanganinvestasi dan perluasan tenaga kerja. Di lain pihak ,
kontribusi sektor pertanianterhadap pendapatan nasional akan semakin
menurun.
c. Angka Tabungan
Perkembangan sector manufaktur/industri selama tahap industrialisasi
memerlukaninvestasi dan modal. Finansial capital merupakan factor utama
dalam proses industrialisasi dalam sebuah masyarakat, sebagaimana terjadi di
Inggeris pada umumnya Eropa pada awal pertumbuhan kapitalisme yang
disusul oleh revolusi industri. Dalam masyarakat yang memiliki produktivitas
tinggi, modal usaha ini dapat dihimpun melalui tabungan, baik swasta maupun
pemerintah. Dalam indeks ini, angka rata-rata harapan hidup dan kematian bayi
akan dapat menggambarkan status gizi anak dan ibu, derajat kesehatan, dan
lingkungan keluarga yang langsung beasosiasi dengan kesejahteraan keluarga.
Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf, dapat menggambarkan
jumlah orang yang memperoleh akses pendidikan sebagai hasil pembangunan.
18

Variabel ini menggambarkan kesejahteraan masyarakat, karena tingginya status


ekonomi keluarga akan mempengaruhi status pendidikan para anggotanya.

d. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)


The United Nations Development Program(UNDP) telah membuat
indikator pembangunan yang lain, sebagai tambahan untuk beberapa indikator
yang telah ada. Ide dasar yang melandasi dibuatnya indeks ini adalah
pentingnya memperhatikan kualitas sumber daya manusia. Menurut UNDP,
pembangunan hendaknya ditujukan kepada pengembangan sumberdaya
manusia. Dalam pemahaman ini, pembangunan dapat diartikan sebagai sebuah
proses yang bertujuan m ngembangkan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan
oleh manusia. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas
sumberdaya manusia akan diikuti oleh terbukanya berbagai pilihan dan
peluang menentukan jalan hidup manusia secara bebas.
Pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai factor penting dalam kehidupan
manusia, tetapi tidak secara otomatis akan mempengaruhi peningkatan
martabat dan harkat manusia. Dalam hubungan ini, ada tiga komponen yang
dianggap paling menentukan dalam pembangunan, umur panjang dan sehat,
perolehan dan pengembangan pengetahuan, dan peningkatan terhadap akses
untuk kehidupan yang lebih baik. Indeks ini dibuat dengagn
mengkombinasikan tiga komponen. Tiga komponen tersebut adalah :
- Rata-rata harapan hidup pada saat lahir
- Rata-rata pencapaian pendidikan tingkat SD, SMP, dan SMU
- Pendapatan perkapita yang dihitung berdasarkan Purchasing Power Parity
Pengembangan manusia berkaitan erat dengan peningkatan kapabilitas
manusia yang dapat dirangkum dalam peningkatan knowledge, attitude dan
skills, disamping derajat kesehatan seluruh anggota keluarga dan
lingkungannya.
e. Kesehatan
Rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 telah
disusun olehDepartement Kesehatan bersama sama dengan lintas sektor,
19

perguruan tinggi, LSM, organisasi profesi, dan 7 partai besar yang selanjutnya
akan digunakan sebagai acuan program kesehatan dalam mengembangkan
rencana strategis untuk mencapai indikator keberhasilan pembangunan
kesehatan yang telah ditetapkan. Salah satu indikator keberhasilannya adalah
perilaku hidup sehat yang didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya
penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan masyarakat.
Pada dasarnya pembangunan dibidang kesehatan bertujuan untuk
memberikanpelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah.Dengan
meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.Salah satu upaya Pemerintah dalam rangka
pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah dengan penyediaan
fasilitas kesehatan terutama Puskesmas dan Puskesmas Pembantu karena kedua
fasilitas tersebut dapat menjangkau segala lapisan masyarakat hingga kedaerah
terpencil. Upaya pemerintah mengutamakan pembangunan dibidang kesehatan
mempunyai beberapa kepentinganantara lain meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat secara luas yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas
sumber daya manusia dan lebih dini lagi adalah untuk menurunkan angka
kematian bayi/balita. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
yang baik selain dengan penyediaan berbagai fasilitas kesehatan, juga melalui
penyuluhan kesehatan agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat.Adapun
upaya untuk menilai keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan salah
satunya adalah dengan berdasarkan situasi derajat kesehatan. Oleh karena itu,
derajat kesehatan merupakan keharusan guna menilai hasil pelaksanaan
program kesehatan yang dijalankan. Guna menilai keberhasilan pembangunan
kesehatan maupun sebagai dasar dalam menyusun rencana untuk masa yang
akan datang mutlak diperlukan analisa situasi derajat kesehatan tersebut.
f. Pendidikan
Pembangunan bidang pendidikan memiliki dua indikator utama yakni
indicatorperkembangan pembangunan pendidikan dan indikator keberhasilan
pembangunanpendidikan. Indikator perkembangan pembangunan pendidikan
20

dapat ditunjukkanmelalui: akses penduduk usia sekolah terhadap lembaga


pendidikan, kesadaranmasyarakat untuk menyekolahkan anak, tingkat
pengeluaran pemerintah untukanggaran pendidikan serta rasio sarana belajar
pendidikan (Rasio Siswa-kelas, Rasiosiswa-Guru dan Rasio Guru-kelas).
g. Sosial dan Budaya
Bila pembangunan sosial lebih berorientasi pada peningkatan kualitas
hidup manusia dalam arti luas, maka pembangunan manusia memfokuskan
perhatiannya pada peningkatan modal manusia (human capital) yang diukur
melalui dua indikator utama; pendidikan (misalnya angka melek huruf) dan
kesehatan (misalnya angka harapan hidup).Sementara itu,
pembangunankesejahteraan sosial lebih berorientasi pada peningkatan modal
sosial (social capital) yang dapat dilihat dari indikator keberfungsian sosial
(social functioning) yang mencakup kemampuan memenuhi kebutuhan dasar,
melaksanakan peran sosial serta menghadapi goncangan dan tekanan
kehidupan. Meskipun sasaran pelayanan pembangunan kesejahteraan sosial
mencakup individu dan masyarakat dari berbagai kelas sosial ekonomi, namun
sasaran utama pelayanan pembangunan sosial pada umumnya adalah mereka
yang tergolong kelompok-kelompok kurang beruntung (disadvantaged groups)
yang di Indonesia dikenal dengan nama Pemerlu PelayananKesejahteraan
Sosial (PPKS).
Banyak arti yang diberikan pada istilah kesejahteraan sosial (Suharto,
2005).Kesejahteraan sosial seringkali menyentuh, berkaitan, atau bahkan,
selintas, bertumpang-tindih (overlapping) dengan bidang lain yang umumnya
dikategorikan sebagai bidang sosial, misalnya kesehatan, pendidikan,
perumahan, dll. Makna kemiskinan dalam berbagai manifestasinya
menekankan bahwa masalah kemiskinan disini tidak hanya menunjuk pada
kemiskinan fisik,seperti rendahnya pendapatan (income poverty) atau rumah
tidak layak huni, melainkan pula mencakup berbagai bentuk masalah sosial
lain yang terkait dengannya, seperti anak jalanan, pekerja anak, perdagangan
manusia, pelacuran, pengemis, pekerja migran, termasuk didalamnya
menyangkut masalah kebodohan, keterbelakangan, serta kapasitas dan
21

efektifitas lembaga-lembaga pelayanan sosial pemerintah dan swasta (LSM,


Orsos, institusi lokal) yang terlibat dalam penanggulangan kemiskinan.
22

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Simpulan dari makalah ini sebagai berikut:
1. Pembangunan di wilayah pedesaan diarahkan untuk meningkatkan
kesejahteraan yang semakin memantapkan ketahanan masyarakat dalam upaya
meletakan dasar dan landasan ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan dan
ketahanan nasional. Untuk itu, pembangunan pedesaan diarahkan kepada
kegiatan pengembangan secara terpadu dan menyeluruh dengan cara
memperdayakan setiap komponen dimasyarakat dalam rangka meningkatkan
pengembangan masing-masing desa.
2. Tujuan pembangunan masyarakat pedesaan adalah untuk meningkatkan taraf
hidup rakyat di desa-desa yang berarti menciptakan situasi, kondisi, kekuatan,
dan kemampuan dalam satu tingkat yang lebih kuat dan nyata untuk tahapan
pembangunan selanjutnya, serta untuk mewujudkan desa swasembada yang
berketahanan disegala bidang (IPOLEKSOSBUDHANKAM) sebagai
jembatan menuju masyarakat Pancasila. Sedangkan prinsip pembangunan
masyarakat pedesaan meliputi prinsip integral, keseimbangan, prioritas, dan
keswadayaan masyarakat.
3. Komponen yang terlibat dalam pembangunan masyarakat pedesaan yaitu
masyarakat desa, agen perubahan atau penyuluh, dan pemerintah.
4. Tahapan penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan masyarakat
pedesaan antara lain: persiapan sosial identifikasi potensi, masalah, dan
kebutuhan (Need Assesment), perencanaan program, pembentukan dan
dinamisasi kelompok, pelaksanaan program masyarakat, monitoring dan
evaluasi, dan perencanaan dan tindak lanjut.
5. Ukuran keberhasilan pembangunan masyarakat pedesaan dapat ditinjau dari
pendapatan perkapita, struktur ekonomi, angka tabungan, indeks pembangunan
manusia (human development index), kesehatan, pendidikan, sosial dan
budaya.
23

3.2. Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan makalah ini sebagai berikut:
1. Bagi pembaca, makalah ini dapat dijadikan sumber bacaan untuk menambah
wawasan mengenai pembangunan masyarakat pedesaan.
2. Bagi penulis, untuk penulisan makalah selanjutnya sebaiknya lebih
mengeksplor lagi berbagai sumber, dapat pula ditambahkan data yang akurat
untuk memperkuat gagasan yang disampaikan.
24
25

DAFTAR RUJUKAN

Abe, Alexander. 1994. Perencanaan Daerah Partisipatif. Yogyakarta: Pustaka


Jogja Mandiri.

Bryant, Coralie dan White Louise. 1998. Manajemen Pembangunan. Jakarta:


LP3ES

Gusnirahmawati, D.Y., Yulida, R., Rabesdini, D. 2013. Peran Penyuluh


Pertanian dalam Pengembangan Kelompok Tani di Desa Sanglar
Kecamatan Reteh Kabupaten Indragirihilir Provinsi Riau. (Online,
http://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/4697/Diah%2
0Yeni%20Gusnirahmawati.pdf?sequence=1), diakses pada 11 September
2017.

Hanafiah, T. 1985. Pendekatan Wilayah dan Pembangunan Pedesaan. Bogor:


IPB.

Kuntari, Sri. 2003. Metode Pengembangan Masyarakat Dua Arah. Departemen


Sosial RI Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial. Yogyakarta: Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial
Yogyakarta.

Melis, Munthalib, Abd. Aziz, dan Apoda. 2016. Analisis Partisipasi Masyarakat
dalam Membangun Desa (Studi Di Desa Wawolesea Kecamatan Laloso
Kabupaten Konawe Utara). Jurnal Ekonomi, 1(1): 99 105.

Prasetyono, A. P. 2017. Re-Inveting: Desa Berdaya Saing Global. (Online,


http://www.dikti.go.id/re-inventing-desa-berdaya-saing-global/), diakses
pada 9 September 2017.

Prastyanti, Shinta. 2012. Mengkomunikasikan Pembangunan pada Masyarakat


Pedesaan. JurnalActa diurnA, 8 (1).

Soetarto, Endriatmo. 2014. Materi Pokok Pembangunan Masyarakat Desa: 1-6.


Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Sumaryadi, I, N. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan


Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: Citra Utama.

Sunarti, Vevi. 2016. Peranan Pendamping Desa dalam Membentuk Masyarakat


Sadar Bencana sebagai Salah Satu Mitigasi Bencana. Prosiding Seminar
Nasional Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Padang.
26

Tikson, Deddy.1987.Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang,


Jakarta :Gelora Aksara Pratama.

Ulumiyah, I., Gani, A. J. Andi, Mindarti, Lely I. Tanpa Tahun. Peran Pemerintah
Desa dalam Memberdayakan Masyarakat Desa. JurnalAdministrasi Publik
(JAP),1(5): 890-899.

TANGGAPAN.
Secara umum tulisan sudah bagus, ada beberapa hal yang menjadi tulisan ini
menjadi terbatasi yaitu mengarhkan ke pembangunan pertanian, dengan
memfokuskan arah bahasan ke Penyuluh Pertanian. Meskipun sebagian
besar penduduk Indonesia hidup di desa, namun tudak berarti desa identik
dengan pertanian. Desa dapat merupakan kawasan gunung, hutan, daerah
keraing dan juga pesisir. Dalam pembangunan diperlukan peran orang-orang
yang mampu bertindak sebagai Inovator, konseptor dan juga yang
berkemampuan menjabarkan dalam tataran teknik operasional dan
mekanismenya. Orang-orang tersebut biasanya disebut Fasilitator atau
Pendamping. Oleh karenanya Bahasan tentang Penyuluh Pertanian
hendaknya direvisi dan digantikan dengan Pendamping yang fungsinya
adalah mendampingi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan
pembangunan.