Anda di halaman 1dari 8

CERPEN

JUDUL:

DIARY MISTERIUS

Disusun oleh :

Arika Sari (NIS : 9987816602)

SMA NEGERI 5 PALEMBANG


Jln. Gotong Royong Sungai Buah Palembang
Telp : 0711-713259
Website : sman5palembang.sch.id

2014
DIARY MISTERIUS

Kukkuruyyuk...
Suara yang tak asing bagiku dipagi hari mulai terdengar ricuh. Alarm pun
tak hentinya menyahut. Memaksaku untuk terbangun dari kasurku yang empuk
dan nyaman.
"05.00 tepat!" ucapku yang masih terkankut-kantuk. Aku bergegas ke kamar
mandi. Melakukan semua kebiasaanku dipagi hari. Setelah semua ter-prepare.
Akupun menuju ruang makan utnuk bersiap-siap memasukkan beberapa potong
roti dan segelas susu hangat ke dalam pencernaanku. Setelah selesai, akupun
berangkat ke sekolah ditemani Ayah mengendarai mobil pribadinya.
"Assalamualaikum!" ucapku kepada Ibuku yang berdiri di ambang pintu masuk.
"Waalaikumsalam!" balas wanita paru baya itu.

Sesampaiku di sekolah, semuanya tak ada yang berubah setelah dua


minggu sekolah ini dikosongkan karena liburan semester. Aku mencoba
menelusuri beberapa kelas yang masih kosong. Aku memang anak yang paling
rajin datang paling pagi.
"06.00 tepat!" ucapku setelah sampi digerbang sekolah.Semua telah tersusun
dengan rapi jadwal.
"Mulai hari ini sampai seterusnya kegiatanku harus rapi seperti ini dan tepat
waktu juga!" ujarku dalam hati dengan sikap perfeksionis.

"Kelas XII IPS 1" ucapku ketika membaca papan penanda kelas yang
ditaruh tepat di kusen pada atas pintu. Karena penasaran, akupun mencoba
memasukinya. Menelusuri setiap detail dan sudutnya. Kelas ini sudah lama
tidak terpakai. Boleh dibilang ini adalah gedung lama. Kelas XII IPS 1 sekarang
telah pindah ke gedung baru. Tetapi, kelas-kelas yang lain masih ada yang stay
di gedung lama. Konon katanya, telah terjadi sesuatu yang mistis di kelas ini.
"Hahhhh..!!!!" pekikku dengan ekspresi kaget dan suaraku yang lantang
seketika menggema di ruangan itu.
"Rani Wahyuni?" ujarku dalam tanda tanya besar di kepalaku setelah membaca
sebuah diary milik seseorang yang bernama Rani Wahyuni.
Kringg..Kringg..
Lonceng milik sekolah pun berbunyi riang pertanda jam pelajaran pertama akan
segera dimulai. Seketika aku tersentak dari lamunanku. Aku bergegas keluar
dari kelas itu. Akan tetapi, batinku memintaku untuk mengambil buku itu dulu.
" Yah sudahlah.." batinku.

Aku mengikuti beberapa pelajaran dengan perasaan yang campur


aduk.Penasaran..bingung..takut..
"ihhh.." ucapku lirih sembari memegang tengkukku.
Blukk! spidol putih-hitam itu mendarat tepat ddi kepalaku.
"Adoww..!" ringisku kesakitan.
"CHIKA MAHARANI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN DARI TADI!!
IBU LIAT KAMU HANYA BENGONG SAJA!!! KALAU TAK SUKA
PELAJARAN IBU SILAHKAN KELUAR!!!" teriak Ibu Rima lantang.
"mm.. a.. a.. anu.. bu..aanu.." ucapku terbata-bata karena gugup.
"ANU ANU APA!!!"
"agak demam bu..." sahutku asal-asalan.
"Ohh.. kalau begitu kamu istirahat saja. Tapi, tetap mengikuti pelajaran dengan
baik. Dengar Chika!?" ujar Ibu Rima dengan intonasi yang diperlembut ketika
tahu anak muridnya sedang sakit.
"Iya bu..." jawabku sopan.
"Bohong dikit gak papakan? hehe.." ucapku dalam hati disertai tawa kecil dari
bibir imutku.
"13.00 tepat!" ucapku ketika melihat angka di arlojiku.
Kringg...Kringg...
"Hore!!!!!" teriak sekelas ricuh. Kebiasaan siswa-siswi yang tak bisa hilang
yakni bersorak gembira ketika bel jam pulang sekolah berbunyi.

"Sayang.. Papa ada lembur di kantor dan gak bisa jemput kamu di sekolah.
Kamu bisakan pulang naik bis atau kendaraan umum lainnya? atau mau pulang
naik taksi?" pinta Ayahku lewat sambungan telepon selular.
"Hmm..Chika naik angkot saja Pa!" jawabku lembut.
"Gak pa-pakan?"
"Iya..!" ucapku dipertegas.
"Oke..Bye sayang! Assalamualaikum!"
"Iya Pa, Waalaikumsalam!" ucapku mengakhiri pembicaraan singkat itu. Klik!

Di atas angkot, aku terus memikirkan kejadian aneh di kelas XII IPS 1 tadi.
Ada keganjalan. Aura negatif dan perasaan aneh saat di kelas tersebut kembali
muncul di angkot ini. Ketika aku mengambil buku diary dari ranselku lalu
kubuka, perasaan penasaran dan bingung kian menyeruak.
"Apaan ini? Kosong melomponh begini!" timpalku kesal.
"Huhh..!" sungutku lalu aku membuang buku itu di bawah bangku angkot
tersebut.
'Kiri Pak!" teriakku ketika jalanan menuju rumahku mulai terlihat. Aku turun
dari angkot tersebut dengan perasaan kesal.
"Apa-apaan!"
"Ditimpuk spidol dan dimarahi pagi ini itu bencana besar! Gak sesuai prepare!"
"Hanya karena diary sialan itu! Huhh!" timpalku sambung-menyambung
dengan mulut yang terus beradu. Di sepanjang perjalanan bibirku terus
berkomat kamit. Saking kesalnya, batu kerikil yang cukup besar. Sebesar
gengnggaman tangan kutendang hingga mengenai anjing tetangga yang
kebetulan sedang nongkrong di tong sampah.
"Grrrrr.....!" anjing itu mendengus kesal.
"HAHHH!!!" teriakku sambil berlari.

Sesampaiku di rumah denagn napas terengah-engah dan keringat yang


bercucuran.
"Anjing keparat itu sudah gak mengikutiku lagi! Huft.." batinku lega.
"As..salamualaikum!" ucapku dengan napas yang masih memburu.
"Waalaikumsalam! Kamu kenapa sayang? Kok kondisimu agak ruwet?" tanya
Ibuku yang keheranan.
"Itu Ma, habis diburu sama Dolphi, anjing si Mayang itu! Hihh.."
"Hahaha... gak biasanya Dolphi galak"
"Sensitif kali ma, acara makan siangnya Chika ganggu. Hehe.." ungkapku
disertai tawa kecil.
"Hahaha... yah sudah! ganti bajumu dulu, terus makan!"
"Oki doki Mama!"

Setibaku di kamar, akupun mengganti baju seragamku. Betapa terkejutnya


aku ketika melihat buku diary Rani Wahyuni itu tersimpan rapi di meja
belajarku.
"Loh? Kok bisa? Tadi kan..." ucapku shock dan tak bisa melanjutkan beberapa
kata yang terputus tadi.
'Chika! Makan!" teriak Ibuku dari lantai satu.
"Iya Ma!"
Aku cepat-cepat meninggalkan kamarku menuju meja makan. Rasa bingung
penasaran dan takut itu kembali muncul. Makanan masuk begitu saja ke dalam
kerongkonganku. Tanpa aku peduli makanan itu enak atau tidak. Aku
termenung. Mencoba mengingat kembali kejadian aneh hari ini.
"Aneh! Benar-benar aneh!" batinku.

Setelah selesai makan, aku bergegas menuju kamarku. Setelah sampai di


depan pintu, hatiku jadi berdebar-debar tidak karuan. Akupun membukanya dan
dengg...
Tidak terjadi apa-apa di kamar itu. Karena penasaran dengan diary itu akupun
mencoba untuk membukanya lagi, dan dengan hal yang sama, buku itu kosong.
"Gue memang udah benar-benar gila!"
Setelah kejadian itu, kuputuskan untuk menggunakan diary itu. Menuliskan
berbagai peristiwa dan hal-hal lain ke dalam diary temuan itu.
Prepare for tomorrow : Bangun jam 05.00
Tulisku pada lembar pertama di diary itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------

"07.00! HAHHH!! MAMA..!! AKU TELAT!" teriakku.


Persiapanku berantakan. Semua yang telah kutulis dalam buku itu tidak ada
yang terpenuhi.
"DIARY SIALAN!" rutukku.

Setibaku di sekolah, pintu gerbang telah ditutup. Lapangan sudah sepi.


Semuanya pada kelas masing-masing.
"Pak! Plis Pak izinkan saya masuk! Sekali ini aja Pak! Sayakan murid yang
paling rajin datang pagi-pagi. Jadi, izinkan sekali ini aja Pak!" ucapku
memohon dengan wajah memelas.
"Maaf neng Chika, tidak bisa!"
Akupun berfikir sambil mencoba mencari akal. Ding! Aku mengeluarkan
selembar uang duapuluhribuan dari dompetku.
"Nih Pak! Ambil aja, asal aku dibukain pintunya"
Aku mencoba menyogok satpam tersebut. Satpam itu mencoba melirik uang
tersebut.
"Ayolah Pak! Ambil aja!" bujukku lagi.
"Yaudah! Lain kali jangan telat lagi yah Neng!"
"Oke deh"
"......."
"Makasih Pak! I love you!" sahutku kepada Pak Satpam itu setelah sukses
membukakanku pintu pagar tersebut.
"Yah...Sama-sama"

------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------

"Chik..tumben lo telat! Untung Pak Bambang sakit jadi lo bebas deh dari
omelannya" ujar salah seorang teman.
"Iyah nih, habis main game sama kakak sampai larut malam. Abisnya..
Kakakku baru pulang dari Surabaya dan minta diajak main PS" jawabku
berbohong. Gak mungkin kan aku menjawab karena diary misterius yang
kutemukan di kelas XII IPS 1 kemarin. Bisa dianggap gila aku.
"Ohh.." balasnya.

Malamnya, aku mencoba menulis kebalikan dari persiapanku di diary


tersebut.
Prepare for tomorrow : Terlambat bangun, Ulangan Matematika dapat
nol dan diomelin guru
Tulisku di lembaran kedua di diary itu.
"Hahaha... Mudah-mudahan berhasil! Biarin aja gue dibilang gila, percaya sama
hal-hal mistik seperti ini. Tapi, liat! Gue buktiin besok aja!"

Besoknya, kemistikan diary tersebut terbukti. Aku bangun jam 05.00 tepat.
Nilai ulangan Matematikaku dapat seratus dan tidak diomelin guru.
"Matematika dapat 100? itu biasa, memang aku pintar kok di pelajaran itu.
Tapi, bangun jam 05.00 tepat!?" tuturku heran. Setelah kejadian
keterlambatanku kemarin tanpa alasan yang jelas. Mungkin saja, buku itu
memang mempunyai aura mistik.
"Mungkin saja!" pikirku

Untuk membuktikannya, aku mencoba mengulang kembali menulis


kebalikan dari persiapanku. Alhasil, kejadian serupa terjadi lagi dan lagi. Aku
mulai mendelik ngeri.
"Aneh! Aneh! Aneh!" batinku.
"Besok, aku harus mengembalikan nuku itu ketempat asalnya!" ujarku disela-
sela belajarku yang tidak konsen karena teringat terus dengan buku itu.

------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------

Sebelum aku menaruhnya di tempat asalnya, aku mencoba membuka


halaman demi halaman. Mencari tahu barangkali ada sesuatu di balik misteri
ini.
"APA!? Tulisanku yang kemarin lenyap?! Kok bisa?" pekikku. Aku mencoba
memakluminya. Setelah sampai di tengah buku, buku itu masih tetap kosong.
Tetapi, setelah sampai di lembar terakhir buku itu, seperti flashback. Kejadian
masa lalu di kelas itu mulai terkuak dan terngiang di benakku. Aku melihatnya.
Kejadian 5 tahun yang lalu.
Rani Wahyuni. Seorang murid dari sekolah SMA SERIN KELAS XII IPS
1. Mati bunuh diri di kelas ini. Sebelum mengakhiri hidupnya, ia
menuliskan pesan-pesan terakhirnya di diary itu. Di halaman paling
belakang dari buku itu. Akhir dari diary itu.
"Aku tak tau mengapa? Mengapa orang-orang mencemooh dan
membuangku! Aku tau, Aku harus menanggung ini sendiri. Menanggung
beban yang amat berat diakibatkan oleh ulah orang lain. Aku hamil. Karena
siapa? Karena aku dinodai oelh lelaki yang akupun tak tau siapa? Kenapa
kalian menjauhiku? Aku korban! Kalian tau kan? AKU SAYANG
SEKALIGUS BENCI KEPADA KALIAN SEMUA!! AKU BENCI! Untuk
orang-orang yang tak berharap hidupnya seperti ini! Ini bukan mauku!
Kalian tau kan? ATAU KALIAN PURA-PURA TAK TAU!? HEI KAU! KAU
AKAN MERASAKAN SAKITNYA APABILA APA YANG TIDAK
DIHARAPKAN TERJADI!" tulisnya pada lembaran terakhir di diary
itu. RANI WAHYUNI.
"Astagfirullah Al Azim!" ucapku ketika tersentak dari kejadian tadi.
Aku buru-buru meninggalkan kelas itu. Tanpa sadar buku di tangan kujatuhkan
ke lantai. Seketika bunyi hentakan buku itu mengisi ruangan misterius itu.
Masih dengan aura mistik. Supranatural. Aku berlari keluar dengan perasaan
yang campur aduk.

Anda mungkin juga menyukai