Anda di halaman 1dari 9

HUKUMAN HADD QADZF

1. PENSYARIATAN HUKUMAN HADD QADZF, SEBAB WAJIBNYA


DAN UKURANNYA.
a. Disyariatkanya Hukuman Qadzaf
Qadzf adalah perbuatan yaang diharamkan dan merupakan salah satu dosa
besar. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a bahwasanya
Rasulullah saw., bersabda,
Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan (maksudnya dosa-dosa
besar). Para sahabat bertanya, Apa itu wahai Rasulullah ? Rasulullah
menjawab, Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan
Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan hartaa
anak yatim, mundur atau lari dari medan perang dan qadzf (melontarkan
tuduhan berzina) kepada orang-orang yang baik, menjaga diri dan
Mukmin.1
Hukuman haad qadzf disyariatkan berdasarkan pada firman Allah SWT,
orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina)
dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka
(yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima
kesaksian meeka buat selama-lamunya. Mereka itulah orang-orang yang
fasik. (an-Nuur: 4)
b. Sebab wajibnya hukuman hadd qadzf
Hukuman hadd qadzf wajib dikenakan kepada seseorang karena menuduh
orang lain melakukan perzinaan. Karena itu adalah sebuah tindakan penisbatan
perbuatan zina pada seseorang yang hal itu tentu dapat menyebabkan orang yang
tertuduh tercemar nama baiknya, sehingga orang yang menuduh harus menerima
hukuman hadd demi merehabilitasi nama baik orang yang telah dituduh dan
membersihkan reputasi.2
c. Ukuran hukuman hadd qadzf
Ukuran atau kadar hukuman hadd qadzf adalah delapan puluh kali dera yang
ukuran ini telah di tetapkan oleh nash ayat diatas. Juga adanya hukuman atau sanksi

1
HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Hurirah r.a (lihat at-talkhish al-habiir, hlm. 355; Al-Ilmaam
karya Ibnu Daqiq Al-Id, hlm. 518; Nail Al-Authar, juz 7, hlm. 252
2
Al-badaai, juz 17, hlm 10
tambahan lain yang berbentuk hukuman moral, yaitu kesaksian orang tersebut tidak
dapat diterima lagi selain dia dianggap sebagai orang yang fasik. Sejak dia
melakukan qadzf, maka kesaksiannya selamanya tidak akan dapat diterima sampai
dia mau bertobat menurut pendapat hanafiyah.

2. DEFINISI QADZF MENURUT BAHASA DAN PENAFSIRANNYA


MEURUT TINJAUAN SYARA
Qadzf secara bahasa artinya adalah melempar batu atau melempar dengan
menggunakan batu atau yang sejenis. Adapun menurut istilah syara, qadzaf adalah
penisbatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain kepada perbuatan
zina, atau pemutusan nasab seorang Muslim. Dengan istilah lain yang lebih
spesifik, qadzf adalah penisbatan yang dilakukan oleh seseorang yang mukallaf
terhadap orang lain yang merdeka, orang baik-baik, Muslim, baligh, berakal dan
mampu (melakukan persetubuhan) dinisbatkan kepada perbuatan zina, atau
pemutusan nasab seorang Muslim. Ini adalah definisi qadzf menurut ulama
malikiyyah.
Ulama hanafiyah mendefinisikan qadzf menjadi dua. Pertama, qadzf dengan
menggunakan kata-kata zina secara jelas dan eksplisit. Kedua, qadzf yang tidak
dengan menggunakan kata-kata zina yang jelas dan eksplisit, tapi diposisikan sama
seperti kata-kata zina yang jelas dan eksplisit, yaitu dengan menggunakan dengan
kata-kata yang menunjukkan arti menafikan nasab.3
Penjelasannya adalah, jika ada seseorang berkata kepada orang lain, Wahai
pezina, atau Kamu adalah pezina, maka orang yang menuduh seperti ini berhak
mendapatkan hukuman hadd qadzf. Karena dia telah menuduh orang lain telah
melakukan pezinaan dengan menggunakan kata-kata zina yang jelas dan eksplisit.
Begitu juga seandainya ia berkata kepada orang lain, Wahai anak orang laki-laki
pezina, atau Wahai anak orang perempuan pezina, (maksudnya wahai anak
ahasil zina), maka ia berarti telah melakukan qadzf terhadp ayah atau ibu anak
tersebut.

3
Wahbah Zuhailu. fiqih Islam Waadillatuhu Jilid 7. Daarul Fikri. 2011. Hlm. 346
3. SYARAT-SYARAT WAJIBNYA HUKUMAN HADD QADZAF
Ulama hanafiyah menetapkan enam syarat supaya hukuman hadd qadzf
dijatuhkan terhadap seseorang. Di antara syarat-syarat itu sebagiannya ada yang
berhubungan dengan qaadzif (pelaku, orang yang menudduh zina), sebagiannya
lagi berhubungan dengan maqdzuuf (orang yang dituduh), sebagian yang lain
berhubungan dengan keduanya, sebagiannya lagi berhugan dengan kaliamt yang
digunakan, sebagiannya yang laain berhu\bungan dengan lokasi tuduuhan dan
sebagian yang lain berhungan dengan qadzf itu sendiri.
a. Syarat-syarat qaadzif (penuduh)
1. Berakal.
2. Baligh.
3. Ia tidak dapat mendatangkan empat orang sanksi.
4. Orang yang menuduh haruslah orang yang berkewajiban mematuhi hukum-
hukum syariat, bukan seorang kafir harbi.
5. Harus atas kehendak dan keinginan diri.
6. Orang yang dituduh tidak memberikan izin kepada orang yang menufuh
untuk menuduh dirinya, maka si penuduh itu tidak dikenai hukuman hadd
karena adanya syubhat.
b. Syarat-syarat maqdzuuf (orang yang dituduh berzina)
1. Orang yang dituduh harus berstatus muhshan, baik laki-laki maupun
perempuan. (syarat-syarat status muhshan dalam kasus qadzf ada lima yaitu,
berakal, baligh, merdeka, islam, dan iffah (menjaga diri) dari berziba).
2. Pihak yang dituduh jelas siapa orangnya.
c. Syarat-syarat bersama kedua belah pihak, penuduh, dan tertuduh.
Sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa disyaratkan penuduh
bukanlah ayah tertudh, tidak pula kakeknya dan seterusnya ke atas, penuduh bukan
pula neneknya begitu seterusnya ke atas.
Jika penuduh adalah aayah tertuduh, atau kakeknya dan seterusnya ke atas,
atau ibunya, atau neneknya terus yike atas, maka tidak ada hukuman hadd qadzf
disini. Karena adanya perintah syariat yang menuntut agar berbuat baik kepada
mereka. Sementara, jika di sini hukuman hadd tetap ditegakkan kepda mereka, itu
berarti sebuah bentuk tindakan meninggalkan penghormatan dan pemuliaan kepada
orang tua yang diwajibkan oleh agama.4
d. Syarat-syarat kalimat tuduhan
Kaliamat qadfz disyaratkan harus berbentuk kalimat tuduhan perzinahan
dengan menggunakan bahasa yang jelas. Atau dengan menggunakan bahasa yang
diposisikan sama, seperti bahasa yang jelas.
e. Syarat-syarat tempat terjadinyaa qadzfh
Disyaratkan bahwa tuduhan harus terjadi di daarul adl (kawasan negeri
islam) jika tuduhan terjadi di daarul harb (kawasan negeri musuh) atau di daruul
baghyi (kawasan yang dikuasai pemberontak), maka hukuman hadd qadzf tidak
dapat dilaksanakan kepda penuduh.
f. Syarat-syarat qadzf itu sendiri
Kalimat qadzf sendiri harus berbentuk mutlak tanpa disertai dengan suatu
syarat dan tidak pula disandarkan kepada waktu yang akan datang. Kesimpulan Al-
qurtubi mengatakan, qadzf menurut para ulama harus memenuhi sembilan syarat
yaitu:
1. 2 syarat untuk orang yang menuduh, yaitu berakal dan baligh
2. 2 syarat untuk bentuk tuduhannya, yaitu tuduhan terhadap seseorang bahwa
ia telah melakukan persenggamaan yang mengharuskan ia mendapatkan
hukuman hadd yaitu zina dan liwaath.
3. 5 syarat yang dituduh (maqdzuuf), yaitu berakal, baligh, islam, merdeka,
dan menjaga diri dari fahisyah (kekejian atau perzinaan).
4. SIFAT HUKUMAN HADD QADZAF
Para ulama berbeda pendapat seputar sifat hukum hadd qadzf, apakah
termasuk hak Allah ataukah hak Hamba?5.
Ulama hanafiyah mengatakan, didalam hukum hadd qadzf terdapat dua hak
yaitu hak hamba dan hak Allah. Adapun ulama syafiiyyah dan ulama hanabilah
mengatakan, hukum hadd qadzf adalah murni hak adami yaitu murni hak orang
yang dituduh. Karena qazaf adalah kejahatan terhadap kehormatan tertuduh. Karena

4
ibid
5
Yang dimaksud dengan hak hamba adalah jika hak tersebut digugurkan oleh yang memilikinya,
maka gugurlah hak tersebut seprti utang dan harga suatu barang. Adapun yang dimaksud dengan
hak Alla adalah hak yang tidak ada seorang hambapun yang mempunyai kewenangan untuk
menggugurkannya.
kehormatannya adalah haknya, maka oleh karena itu, gantinya yaitu hukuman juga
merupakan haknya sebagaimana qishash6
Implikasi perbedaan pendapat ini adalah, berdasarkan pada pendapat
pertama yaitu madzhab ulama hanafiyah, tertuduh tidak mempunyai hak untuk
menggugurkan hukuman hadd qadzf, tidak mempunyai hak untuk memberikan
pengampunan kepada penuduh, tidak berhak untuk melakukan shulh (perdamaian,
kompromi) atau menukarkannya dengan suatu harta (yakni jika memang
perkaranya telah dilaporkan kepada hakim adapun perkaranya dilaporkan kepda
hakim, maka hukum had qadzf bisa berakhir dengan adanya pengampunan).
Hukum hadd qadzf juga tidak bisa diwariskan, akan tetapi hukuman hadd qadzf
akan gugur dengan sendirinya, jika pihak tertuduh meninggal dunia. Karena
warisan hanya berlaku pada sesuatu milik orang yang diwaris yang ditinggalkannya
baik itu berupa kepemilikkan atau berupa hak.

5. PEMBUKTIAN DAN PENETAPAN KASUS QADZF


Bagi hakim, pembuktian dan penetapan suatu tindakan pidana dengan
ancamana hukuman hadd bisa dilakukan berdasarkan bayyinah (saksi) atau
pengakuan, dengan ketentuan terpenuhinya sejumlah syarat-syarat tertentu.
Diantara syarat-syarat tersebut ada yang menyangkut sarana pembuktian itu sendiri,
yaitu srana pembuktian berupa bayyinah atau pengakuan. Dan sebagian yang lain
merupakaan syarat yang menjadi penentu boleh tidaknya hakim melakukan proses
hukum pembuktian terhadap kasus yang ada dengan menggunakan sarana-sarana
pembuktian di atas, yaitu syarat adanya al-khushuumah. Yakni pelaporan perkara
dan pengajuan tuntutan.
Hukum khushuumah atau pengajuan dakwaan dan tuntutan
Yang lebih baik bagi seseorang yang dituduh melakukan zina (maqzuuf)
adalah tidak melakukan khushuumah. Karena jika melakkan khushuumah, maka itu
akan menyebabkan tersiarnya tindak kekejian. Sehingga ia disunnahkan untuk tidak
melakukannya. Begitu juga, memaafkan dan tidak jadi melakukan khusuumah
adalah lebih utama. Hal ini berdasarkaan firman Allah SWT.

6
ibid
dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kamu
melupakan keutamaan diantara kamu (Al Baqarah: 237)

Ketika kasusnya dilaporkan kepada hakim, dianjurkan bagi hakim supaya


membujuk tertuduh agar tidak melakukan tuntutan dan gugatan.7
Orang yang berhak mealakukan khushuumah dan yang tidak
Pihak yang di qadzf (maqdzuuf, pihak yang ditusuh melakukan zina) ada
kalanya dia masih hidup dan adakalanya dia sudah meninggal. Jika saat itu dia
masih hidup, tidak ada seorangpun yang memiliki ha melakukan khushuumah
kecuali hanya dirinya, tidak ada seorang puun yang memiliki hak itu meskipun itu
adalah anak atau orang tuanya sendiri, apakah saat itu ia masih ditempat atau pun
tidak ada. Karena jika dia masih hidup pada saat teradi qadzf, dialah sejatinya yang
menanggung aib dan malu sehingga dia sendirilah yang mempunyai hak
khushuumah. Adapun jika pihak maqdzuuf adalah orang yang sudah meninggal
pada saat qadzf, maka hak khushuumah ada ditangan orang tua ke atas (kakek dan
seterusnya) dan anak ke bawah (cucu dan seterusnya).
a. Perwakilan dalam mengambil hak hukuman hadd
Apakah pewakilan dalam pengambilan hak hukuman hadd adalah sah ?
Ulama hanafiyah bersepakat bahwa pewakilan dalam mengambil hak
hukuman hadd dan qishas adalah tidak sah. Oleh karena itu pengambilan hak
hukuman hadd harus disertai dengan kehadiran maqdzuuf dan kehadiran wali
korban dalam pengambilan hak qishas. Karena pengambilan hak hukuman hadd
ketika tidak disertai dengan kehadiran orang yang mewakilkan, adalah pengambilan
hak hukum dhadd yang disertai adanya syubhat. Karena bisa jadi jika maqdzuuf
hadir di acara pelaksanaan hukuman hadd qadzf tersebut, dia akan mengakui dan
membenarkan apa yang dituduhkan oleh penuduh kepadanya, dan hukuman hadd
tidak boleh dilaksanakan ketika masih menyisakan syubhat.
Apabila madzuuf (orangyang dituduh melakukan zina) menuntut
ditegakkannya hukuman hadd terhadap penuduh, keduanya pun berberkara di
depan hakim, dan hakim pun akhirnya memutuskan vonis hukuman hadd kepada
penuduh, kemudian maqduuf meninggal dunia sebelum melakukan penuntutan,

7
ibid
atau ia meninggal dunia setelah dilaksanakannya sebagian hukuman hadd, maka
batallah hukuman hadd itu, meski hadd yang masih tersisa baru dilaksanakan itu
baru satu kali cambukan, tetap hadd tidak dilanjutkan.
Adapun Imam Syafii dan Imam Ahmad mengatakan para ahli waris
menggantukan posisi tertuduh dalam pembuktian dan penetapan serta pengambiln
hak hukuman hadd qadzf, karena hukuman hadd qadzf adalah murni had Adami,
sehingga apa yang berhubungan dengan hukuman hadd qadzf seperti hak
khushuumah, melanjutkan proses huuhuumah dan pengambilan hak hukuman hadd
adalah dapat diwarisi.
b. Syarat-syarat Bayyinah untuk pembuktian dan penetapan kasus qadzf.
Syarat-syarat bayyinah (saksi) yang iajukan oleh maqdzuuh dalam
melakukan pembuktian dan penetapan adanya qadzf, adalah sama dengan syarat-
syarat umum bayyinah yang berlaku dalam semua kasus pidana dengan hukuman
hadd sebagaimana yang telah dijelaskan didepan, yaitu, laki-laki dan ashaalah
(orisinil). Oleh karena itu, kesakisian wanita, kesaksian atas kesaksian dan surat
hakim adalah tidak dapat diterima.
c. Syarat-syarat pengakuan telah melakukan qadzf
Begitu juga syarat-syarat pengakuan telah melakukan qadzf adalah sama
dengan syarat umum pengakuan dalam kasus-kasus pidana dengan hukuman hadd
yang lainnya, yaitu baligh dan dapat berbicara. Menurut sekepakatan para ulama,
pengakuan telah melakukan qadzf tidak disyaratkan harus berbilang, akan tetapi
satu kali sudah cukup, begitu juga, tidak disyaratkan harus belum kadaluwarsa.
d. Penetapan dan pembuktian tindak pidana qadzf dengan berdasarkan
pengetahuan hakim
Ulama Hanafiyah bersepakat, tindak pidana qadzf dapat dibuktikan dan
ditetapkan dengan berdasarkan pengetahuan hakim di massa dan tempat
persidangan. Namun ulama Hanafiyah berbeda pendapat mengenai penetapan dan
pembuktian tindak pidana qadzf dengan berdasarkan pengetahuan hakim di selain
masa dan tempat persidangan. Ulama hanafiyah generasi pertama mengatakan
boleh. Sedangkan ulama hanafiyah generasi terakhir mengatakan tidak boleh secara
mutlak dalam kasus-kasus yang dipersengketakan, dengan alasan kondisi dunia
peradilan sangat korup.
e. Penuduh diminta untuk bersumpah dan sikap nukuul (sikap tidak
bersedia untu bersumpah pada saat diminta bersumpah)
Jika pihak maqdzuuf tidak mempunyai bayyinah atas kasus pidana qadzf
yang diperkarakannya dan ia meminta kepada hakim agar pihak penuduh (qaadzif,
pihak yang menuduh maqdzuuf) diminta bersumpah atas qadzf yang
dilontarkannya, maka menurut ulama Hanafiyah hal itu tidak dapat dialukan, yakni
pihak penuduh tidak bisa diminta untuk bersumpah.
Adapun Imam Malik dan Imam Syafii mengatakan bahwa qadzif diminta
untuk bersumpah. Jikaa dia menolak untuk bersumpah, sumpah tidak dikembalikan
lagi kepada maqdzuuf (maksudnya, jika ternyata qadzif tidak bersedia untuk
bersumpah, aka pihak maqdzuuf tidak ganti dimintai untuk bersumpah).
Imam Ahmad mengatakan, Pihak Qaadzif diminta untuk bersumpah. Dan
jika dia menolak untuk bersumpah, maka sumpah tidak dikembalikan kepada
maqdzuuf. Dalam hal ini maqdzuuf memutuskan bahwa qaadzif enggan untuk
bersumpah, sehingga keputusannya adalah sesuai dengan gugatan dan tuntutan
pihak maqdzuuf.8

6. KEWENANGAN DAN KOMPETENSI SEORANG HAKIM DALAM


PENETAPAN DAN PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA QADZF

a. Sikap hakim terhadap qaadzif setelah qadzif terbukti


Jika maqdzuuf dapat mendatangkan bayyinah (saksi) atas kebenaran tindak
pidana qadzf terhadap dirinya, atau pihak qaadzif mengekui hal itu, maka yang
harus dilakukan hakim adalah berkata kepada qaadzif, Datangkan bayyinah atas
kebenaran perkataanmu.

Jika qaadzif dapat mendatangkan empat orang saksi maka atas kejadian
perzinaan yang dimaksudkan, atau atas pengakuan maqdzuuf duihadapan imam
sebanyak empat kali bahwa dia telah melakukan perzinaan, maka qaadzif terbebas
dari hukuman hadd qadzf dan dilaksanakanlah hukuman hadd zina terhadap
maqdzuuf. Karena telah terbukti kebenaran perkataan qaadzif.

8
ibid
Jika qaadzif tidak dapat mendatangkan bayyinah, maka dilaksanakanlah
hukuman hadd qadzf terhadapnya. Hal ini berdasarkan firman Allhah SWt,

dan orang-orang yangg menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat


zina) dan mereka tidak mendatangan empat orang saksi, maka deralah
meraka (yang menuduh itu) delapan puluh deraan. (An-Nuur: 4)

b. Liaan setelah pembuktian dan penetapaan qadzf.

Ulama Syafiiyah mengatakan, jika seorang wanita mengajukan gugatan


bahwa suaminya telah melontarkan qadzf kepadanya, sementara sang suami
mengungkari dan menyangkalnya, lalu ada dua orang saksi yang memberikan
kesaksian bahwa sang suami memang telah melakukan qadzf kepada isterinya,
maka sang suami boleh melakukan liaan. Karena pengingkaran dan
penyangkalannya itu tidak mendustakan zina yang di-liaan-kannya, karena ia
mengatakan, yang aku ingkari dan sangkal adalah tindakan qadzf yaitu melakukan
satu tuduhan bohong, dan aku tidak membuat kebohongan atas isteriku. Karena aku
adalah orang yang mengatakan dengan jujur dan benar bahwasanya dia telah
melakukan zina, sehingga boleh baginya untuk melakukan liaan.

c. Hal-hal yang dapat mengguggurkan hukuman hadd qadzf


Hukuman hadd qadzf dapat gugur karena salah satu dari tiga hal berikut.
1. Tuduhan zina terhadap maqdzuuf telah bisa dibuktikan dengan berdasarkan
sakksi atau pengaakuan maqduuf bahwa dirinya memang telah berzina.
2. Pihak maqdzuuf memberikan maaf dan ampunan kepada pihak qaadzif
menurut ulama Syafiiyyah. Karena menurut mereka, hadd qadzf merupaan
hak adami
3. Adanya liaan yang terjadi diantara kedua suami-isteri, berdasarkan firman
Allah SWT.
Dan orang-orang yang menuduh isterinya berzina, padahal merek atidak
ada mempunyai saksi-saki selain diri mereka sendiri, maka kesaksian orang
itu ialah empat kali bersumpah sengaan nama Allah, sesungguhnya dia
adalah termasuk orang-orang yang benar. (an-Nuur: 6)