Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi
urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring
oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan
homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan
oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme
berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam
mempertahankan homeostasis ini.

Urin yang kita keluarkan terdiri dari berbagai unsur seperti : air, protein, amoniak,
glukosa, sedimen, bakteri, epitel dsb. Unsur-unsur tersebut sangat bervariasi
perbandingannya pada orang yang berbeda dan juga pada waktu yang berbeda dan
dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. Kandungan urin inilah yang
menentukan tampilan fisik air urin seperti kekentalannya, warna, kejernihan, bau,
busa, dsb.

Untuk mengetahui aktivitas enzim diastase dalam menghidrolisis amilum oleh karena
itu kita akan melakukan praktikum kali ini. Enzim diastase dapat ditemukan di dalam
air liur di mulut yang dikeluarkan dari kelenjar air liur dan di dalam usus halus yang
dikeluarkan dari pankreas.

1.2 Tujuan Praktikum

Setelah dilaksankan praktikum, mahasiswa diharapkan mampu:


1. Memahami pengertian dari urin
2. Memahami komponen urin normal
3. Mengetahui kadar atau aktivitas enzim diastase normal yang terdapat dalam
urin
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Urine

Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urine disaring didalam ginjal,
dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra. Cairan dan materi pembentuk urine berasal dari darah atau cairan interstisial.
Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorbsi ketika ada molekul yang masih
dibutuhkan oleh tubuh. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang
tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang
keluar dari tubuh (Poedjiadi, 2005).

Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui urinalisasi. Ekskresi urine
diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh
ginjal dan menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis
tubuh peranan urine sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh
adalah melalui sekresi urine (Soendoro, 1985).

2.1.1 Proses Pembentukan Urine Manusia

Urine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal
dengan melalui glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai
Bowman, berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada
tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring
pada glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke
ureter (Ganong, 2003).
Ada tiga tahap dalam pembentukan urine:

1. Proses Filtrasi
Proses ini terjadi di glomerulus, proses filtrasi terjadi karena permukaan
aferen lebih besar dari permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan
darah. Sedangkan sebagian tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai Bowman yang
terdiri dari glukosa, air, natrium, klorida, sulfat, bikarbonat, dan lain-lain
yang diteruskan ke tubulus ginjal (Ganong, 2003).

2. Proses Reabsorbsi
Fungsi utama tubulus proksimal adalah reabsorbsi, yaitu proses
dikembalikannya air bersama dengan glukosa, asam amino, asam urat dan
protein yang berhasil menembus filter glomerulus ke aliran darah. Tubulus
proksimal juga mengembalikan elektrolit, natrium, klorida dan bikarbonat.
Simpai henle mereabsorbsi air dan natrium. Tubulus distal secara halus
mengatur konsentrasi ion-ion ntrium, kalium, bikarbonat, fosfat dan
hidrogen (Ganong, 2003).

3. Proses Sekresi
Proses ini adalah proses penyerapan urine sisa dari filtrasi dan reabsorbsi.
Proses penyerapan urine ini terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala
ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria. Pada
proses sekresi ini menghasilkan urine yang sesungguhnya (Ganong, 2003).

2.2 Metode Wohlgemuth

Metode ini memiliki prinsip reaksi, yaitu:


Diastase adalah enzim yang bekerja memecah amilum. Tahap awal enzim bekerja
mengubah amilum menjadi dekstrin yang berwarna ungu dengan iodium. Kemudian
menjadi eritrodekstrin yang memberikan perubahan warna iodium. Akhirnya diubah
menjadi maltosa yang juga tidak memberikan warna dengan Iodium. Cara penentuan
aktivitasnya dapat dilakukan dengan mengencerkan enzim tersebut agar dapat
diketahui aktivitasnya. Hasilnya dinyatakan dalam satuan unit. Satu Unit diastase,
diartikan dengan banyaknya mL amilum yang dapat diuraikan oleh enzim yang
terdapat dalam 1 mL sampel (serum atau urin) pada suhu 37 derajat Celsius selama
30 menit. Kadar atau aktivitas enzim diastase normal yang terdapat dalam urin adalah
32 U/L, sedangkan dalam serum adalah 16 U/L.

Kata enzim berarti dalam ragi. Suatu enzim adalah suatu katalis biologis. Hewan
tingkat tinggi memiliki ribuan enzim. Hamper semua reaksi kimia dikatalis oleh
enzim. Bahkan kesetimbangan CO2 + H2O H2CO3 dikatalis oleh enzim karena
laju penyetimbangan tanpa katalis tidak menghasilkan asam karbonat yang cukup
cepat untuk keperluan hewan. Enzim merupakan katalis yang lebih efisien daripada
kebanyakan katalis laboratorium atau industri (seperti Pd pada reaksi dehidrogenasi).
Reaksi biologis dalam tubuh berlangsung pada 37o C dan dalam medium air. Enzim
suatu pengendali laju reaksi yang yang tidak dimungkinkan oleh kelas katalis lain.
Suatu enzyme adalah protein.

Enzim adalah sekelompok protein yang berperan sebagai pengkatalis dalamreaksi-


reaksi biologis. Enzim dapat juga didefenisikan sebagai biokatalisator yangdihasilkan
oleh jaringan yang berfungsi meningkatkan laju reaksi dalam jaringan itusendiri.
Semua enzim yang diketahui hingga kini hampir seluruhnya adalah protein.Berat
molekul enzim pun sangat beraneka ragam, meliputi rentang yang sangat luas
(Suhtanry & Rubianty, 1985).
Beberapa memiliki struktur yang sederhana, namun sebagian besar memiliki struktur
yang rumit. Banyak enzim yang strukturnya tidak diketahui. Untuk aktivitas biologis.
Beberapa enzim memerluakan gugus-gugus prostetik ddan kofaktor. Kofaktor ini
merupakan bagian non-protein dari enzim itu. Suatu kofaktor dapat brupa ion logam
sederhana, ion tembaga misalnya merupakan suatu kofaktor bagi enzim suatu asam
askorbat oksidase. Enzim lain mengandung molekul organic non-protein sebagai
kofaktor. Gugus prostetik organic biasanya sering kali dirujuk sebagai suatu koenzim.
Jika suatuorganisme tidak dapat mensintesis suatu kofaktor yang diperlukan maka
kofaktor itu harus terdapat dalam makanan dalam jumlah kecil. Satuan-satuan aktif
dari banyak kofaktor adalah vitamin (Fessenden, 1989: 396).

Dalam pengolongan enzim berdasarkan reaksi yang dikatalis ada 6 kelas utama
enzim. Tiap-tiap enzim ditetapkan dalam empat tingkat nomor kelas dan di beri suatu
nama sistematik yang mengidentifikasi reaksi yang dikatalis. Kebanyakan enzyme
mangatalis pemindahan electron, atom, atau gugus fungsional.

Dalam dunia biokimia sering kita mendengar enzim amylase. Amylase merupakan
enzyme yang termasuk dalam kelas hidrolase, yang menghidrolisis amilum menjadi
monosakaridanya. Enzime amilum memecah ikatan-ikatan amilum hingga
membentuk maltosa. Ada 3 macam enzim amylase yaitu -amilase, -amilase, dan -
amilase. -amilase terdapat pada saliva dan pancreas. Enzyme ini memecah ikatan 1-
4 yang terdapat pada amilum dan disebut endoamilase sebab enzim ini memecah
bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum. -amilase teutama terdapat pada
tumbuhan dan dinamakan ekso-amilase sebab memecah dua unit glukosa yang
terdapat pada ujung molekul amilum secara berurutan sehingga terbentuk maltosa. -
amilase telah diketahui terdapat dalam hati. Enzim ini dapat memecah ikatan 1-4 dan
1-6 pada glikogen dan menghasilkan glokosa (Poedjiadi, 1994: 155).
Enzim -amilase mengkatalisis hidrolisis ikatan 1,4 pati menghasilkan maltodekstrin
linear pendek. Enzim ini digunakan secara luas dalam industri makanan dan deterjen.
Penggunaan amilase dari bakteri halofil dapat memberikan keuntungan karena
memiliki aktivitas optimum di kadar garam tinggi (Ventosa & Nieto 1995). Baru
sedikit informasi yang ada mengenai amilase dari bakteri halofil. Acinetobacter sp.
(Onishi & Hidaka 1978), Nesterenkonia halobia (Onishi & Sonoda 1979),
Micrococcus varianssubsp. Halophilus (Kobayashi et al. 1986), dan isolat
Micrococcus spp. (Onishi 1972, Khire 1994) dilaporkan memiliki aktivitas amilolitik,
tetapi tidak tersedia informasi mengenai karakteristik molekulernya. Satu-satunya
bakteri halofil yang telah dikarakterisasi amilasenya secara molekuler ialah
Halomonas meridiana. Hasil analisis protein dari gen penyandi amilasenya
menunjukkan homologi yang cukup tinggi dengan amylase dari bakteri lain,
streptomycetes, serangga, dan mamalia (Coronado et al. 2000).
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Hari, Tanggal : Kamis, 28 September 2017


Waktu : 08.00 s.d. selesai
Tempat : Laboratorium Terpadu Poltekkes Tanjung Karang

3.2 Alat dan Bahan


Alat : 1. Tabung-tabung reaksi
2. Maat pipet 1, 2, 5, 10
3. Water bath
Bahan : 1. Larutan NaCl 0,9%
2. Larutan amilum 1%
3. Larutan Iodium 0,1 N
4. Air seni

3.3 Prosedur Kerja

Menyediakan 12 tabung reaksi, beri nomor secara berurutan.

Ke dalam tabung nomor 1 dan 2, masukkan 1 mL urin dan ke dalam tabung


nomor 2 sampai 12 masukkan masing-masing 1 mL larutan NaCl 0,9%

Mencampur tabung 2 sampai homogen, dipindahkan sebanyak 1 mL dari


tabung 2 ke tabung ke 3.
Mencampur tabung 3 sampai homogen, dipindahkan sebanyak 1 mL dari
tabung 3 ke tabung ke 4, dan seterusnya sampai tabung 12. Dari tabung 12
buang sebanyak 1 mL.

Ke dalam tiap tabung ditambahkan masing-masing 2 mL larutan amilum 1%


dan 2 mL larutan buffer phosphat pH 6,8 kocok sampai homogen.

Memasukkan semua tabung ke dalam penangas air dengan suhu 37o Celsius
selama 30 menit.

Didinginkan, kemudian pada tabung 1 dan 2 tambahkan 3 tetes larutan


iodium 0,1 N, sedangkan pada tabung lainnya masing-masing ditambahkan 2
tetes larutan iodium 0,1 N.

Mengamati perubahan warna yang terjadi.

Menentukan kadar enzim diastase dalam sampel.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum

Tabel diastase urine.

Kelompok

1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
Diastase

Tabung ke- 5 5 6 4 4 6 5 8 7
7
Konsentrasi
32 32 64 16 16 64 32 256 128
(unit/mL) 128

4.2 Pembahasan

Dalam praktikum ini, kami hanya memakai satu sample urine, tetapi masih belum
diketahui probandus mempunyai penyakit apa, karena tidak pernah melakukan uji
urine atau tes lab yang lainnya. Urin yang kita keluarkan terdiri dari berbagai unsur
seperti : air, protein, amoniak, glukosa, sedimen, bakteri, epitel dsb. Unsur-unsur
tersebut sangat bervariasi perbandingannya pada orang yang berbeda dan juga pada
waktu yang berbeda dan dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. Kandungan
urin inilah yang menentukan tampilan fisik air urin seperti kekentalannya, warna,
kejernihan, bau, busa, dsb.

Urine yang kami ambil kebetulan pada pagi hari. Sampel ini dapat dikatakan optimal
karena ketika itu sampel masih belum terkontaminasi apapun. Menurut para dokter
dalam Medicinenet pun begitu, sampel yang optimal cenderung menjadi sampel urin
pagi hari karena seringkali yang paling terkonsentrasi urin diproduksi dalam sehari.
Warna urine yang kami amati berwarna kuning tua. Menurut MedlinePlus yang
merupakan Medical Encyclopedia Air kencing kuning terang masuk dalam kategori
warna normal menunjukkan bahwa tubuh terdihidrasi dengan baik.

Berikut terdapat tabel warna air seni:

Bau urin dapat bervariasi karena kandungan asam organik yang mudah menguap.
Diantara bau yang berlainan dari normal seperti: bau oleh makanan yang
mengandung zat-zat atsiri seperti jengkol, petai, durian, asperse dll. Bau obat-obatan
seperti menthol, dbs.

Pada buku Biokimia Harper dinyatakan bahwa bau amoniak biasanya terjadi kalau
urin dibiarkan tanpa pengawet atau karena reaksi oleh bakteri yang mengubah ureum
di dalam kantong kemih.Bau keton sering pada penderita kencing manis, dan bau
busuk sering terjadi pada penderita keganasan (tumor) di saluran kemih.Pada urine
probandus terdapat bau amonia hal ini karena kami tidak memakai pengawet pada
urine ini. Bau amonia ini dikarenakan amonnium yang terkandung di dalm urine
menguap atau terlepas ke udara.Ini berarti urin sampel mengandung garam
amonium.Reaksi utama pada tubuh yang menghasilkan NH4+ terjadi di dalam sel,
yaitu perubahan glutamin menjadi glutamat yang dikatalisis oleh enzim glutaminase
yang terdapat di dalam sel tubulus renalis. Glutamat dehidrogenase mengkatalisis
perubahan glutamat menjadi -ketoglutarat.

Glutamin glutamat + NH4+Glutamate -ketoglutarat + NH4+

Urin mengandung: 1. Air dan garam-garam dalam jumlah sedemikian rupa sehingga
terdapat keseimbangan antara cairan ekstrasel dan cairan intrasel.

2. Asam dan basaSisa-sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh.

3. Zat-zat yang dikeluarkan dari darah karena kadarnya berlebihan.

Menurut Eni dalam websitenya Enifreaks, urine normal biasanya bersifat sedikit
asam dengan pH antara 5 7, pernyataan ini diambil dari Kimber. Dari pernyataan
tersebut dapat diketahui bahwa urine probandus meskipun tidak netral dan dapat
dikatakan bersifat asam masih merupakan urine normal karena memang urine normal
bersifat sedikit asam. Lain halnya dengan urine orang yang vegetarian. Bagi urine
orang yang vegetarian nantinya akan didapat urine yang bersifat alkali.
Menurut Biokimia Harper, dalam cairan interstisial dan urin tubulus, NH3 bergabung
dengan H+ membentuk NH4+ yang menyingkirkan NH3 dan mempertahankan
perbedaan konsentrasi yang memudahkan difusi NH3 keluar sel. Bila pH urin7,0
maka rasio NH3 : NH4+ = 1 : 100. Bila urin lebih asam, maka keseimbangan berubah
lebih lanjut ke NH4+. Proses NH3 disekresikan disebut difusi non-ionik. Salisilat dan
sejumlah obat lain yang merupakan basa lemah atau asam lemah juga disekresi oleh
difusi non ionik. Ion ammonium berasal dari makanan, obat-obatan dan hasil
hidrolisa urea.
Enzyme adalah suatu protein yang memiliki fungsi sebagi katalis suatu reaksi pada
organisme., baik tumbuhan maupun hewan. Enzyme sering disebut sebagai biokatalis
karena hal diatas. Suatu enzyme sendiri hanya mengkatalis satu arah reaksi saja.
Sehingga di dalam tubuh memiliki banyak sekali enzyme. Dalam struktur enzyme
sendiri dibagi menjadi 2 bagian yaitu sisi protein dan sisi non-protein. Enzyme diberi
nama berdasarkan subtratnya dan berakhiran ase. Contohnya amilum = amylase.
Enzyme sendiri di golongkan menjadi 6 macam golongan utama antara lain
Oksireduktase, Transferase, hidrolase, liase, isomerase dan ligase (Lehningger, 1988).

Pada praktikum ini kita hanya membahas enzyme amylase yang termasuk sebagai
golongan enzyme hidrolase. Enzyme ini menghidrolisis amilum menjadi maltosa
secara bertahap . tahapan hidrolisis amilum adalah sebagai berikut. Amilum-amilum
terlarut amilodekstrin-eritodekstrin-akrodekstrin-maltosa. Masing-masing tahap ini
akan menghasilkan warna yang berbeda jika larutan ditambahkan larutan iod, yang
awalnya biru karena terbentuknya kompleks antara amilosa dengan iod, dan semakin
kecil seperti eritodekstrin akan memberikan warna merah dengan larutan iod
(Poedjiadi,1994).

Enzyme amylase sendiri hanya memecah ikatan (1-4) glikosida bukan memecah
ikatan (1-6) glikosida, jadi untuk memecahkanya di perlukan suatu enzyme lain yang
disebut glokusidase. Dekstrin sendiri yang dapat di identifikasi dalam praktikum ini
adalah berupa campuran oligosakarida yang memiliki ikatan (1-4) dan (1-6) glikosida
(Fessenden, 1989).

Enzyme amylase sendiri dapat di peroleh dari saliva atau pancreas. Pada air seni juga
terdapat sedikit amylase, maka untuk mengetahuinya pada praktikum ini dilakukan
uji dengan penambahan urin pada 10 tabung reaksi dengan kosentrasi yang berbeda.
Sebagai indikatornya kita mengunakan larutan iod, sedangkan untuk larutan ujinya
kita mengunakan larutan amilum 0,1% yang mengandung NaCl. NaCl ini berfungsi
agar larutan tahan (awet), karena amilum cepat rusak saat penyimpanan terlalu lama,
amilum mudah rusak karena adanya bakteri di udara bebas. Karena reaksi ini cukup
lambat maka kita melakukan pemanasan tetapi dengan suhu tertentu agar diperoleh
suhu maksimum sehingga enzyme berjalan cukup cepat. Pemanasan dilakukan pada
suhu 37o C selama 30 menit pada temperatur ruangan atau sampai terjadi ada
perubahan warna.

Setelah pemanasan tabung reaksi di dinginkan agar reaksi langsung berhenti sehingga
diharapkan hasil dapat diamati dengan jelas. Dan pada hasil pengamatan yang didapat
terjadi perubahan pada tabung ke- 8 tersebut. Hal ini dikarenakan amilum akan
memberikan warna biru, dan eritodekstrin akan memberikan warna merah. Jumlah
iod yang paling sedikit diperlukan untuk mengubah 2 mL larutan amlium (berisi urine
pula) terlarut menjadi erythrodextrine merupakan petunjuk tentang kadar amilase
yang terdapat pada urine. Indeks diastase dari urine normal berkisar antara 5-20. Bila
melebihi ambang tersebut maka terdapat penyakit pankreas atau kerusakan fungsi
sekresi ginjal. Tetapi pada percobaan kali ini indeks diastasenya sebesar 258 sehingga
kerja pankreas melebihi batas normal. Reaksi yang terjadi pada percobaan kali ini
adalah:

Indeks diastasenya ditentukan dari perubahan warna yang terjadi pada tabung.
Adanya perbedaan hasil kelompok kami dengan kelompok pembanding dapat
dikarenakan human error bias pada saat penetesan iodium atau juga pada saat
pengambilan urin dari hasil pengenceran, karena pipet volume yang digunakan sama
dari tabung 1 hingga tabung 12.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Urine adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Urine disaring didalam
ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar
tubuh melalui uretra.
2. Urin yang kita keluarkan terdiri dari berbagai unsur seperti : air, protein,
amoniak, glukosa, sedimen, bakteri, epitel ,dsb.
3. Kadar atau aktivitas enzim diastase normal yang terdapat dalam urin adalah
32 U/L, sedangkan dalam serum adalah 16 U/L.

5.2 Saran

Diharapkan selama melaksanakan praktikum untuk mengenakan peralatan praktikum


di laboratorium secara lengkap seperti jas lab, sepatu lab, handscoon, masker dan
menyediakan tissue.
DAFTAR PUSTAKA

Coronado MJ, Vargas C, Mellado E, Tegos G, Drainas C, Nieto JJ, Ventosa A. 2000.
The -amylase gene amyH of the moderate halophile Halomonas meridiana: cloning
and molecular characterization. Microbiology 146:861-868.
Fessenden, Ralph J dan Joan S. Fessenden. 1989. Kimia Organik edisi ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Ganong. 2003. Fisiologi Kedokteran. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Kobayashi T, Kamekura M, Kamlayakrit W, Onishi H. 1986. Production,
purification, haracterization of an amylase of the moderate halophile Micrococcus
varians subsp. Halophilus. Microbiology 46:165-170.

Lehningger, Albert L. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.


Onishi H. 1972. Halophilic amylase from a moderately halophilic Micrococcus. J
Bacteriol 109:570-574.

Onishi H, Hidaka O. 1978. Purification and properties of amylase produced by a


moderately halophilic Acinetobacter sp. Can J Microbiol 24:1017- 1023.
Poedjiadi, Anna, dan F.M. Titin Supriyanti. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:
UIPress.
Poedjiadi, Anna dkk. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UIPress
Soendoro. 1985. Prinsip-prinsip Biokimia. Surabaya: Erlangga
Suhtanry, rubianto, 1985. Kimia pangan.Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi
Indonesia Bagian Timur, Makassar.
Ventosa A, Nietto JJ. 1995. Biotechnology application and potentialities of halophilic
microorganisms. W J Microbiol Biotechnol 11:85-94.
Winarno, 1992, Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta: Gramedia.
LAMPIRAN
Hasil Pemeriksaan:
Tabung 1 (pengenceran: 1/1): bening

Tabung 2 (pengenceran: 1/2): bening

Tabung 3 (pengenceran: 1/4): bening

Tabung 4 (pengenceran: 1/8): bening

Tabung 5 (pengenceran: 1/16): bening

Tabung 6 (pengenceran: 1/32): bening

Tabung 7 (pengenceran: 1/64): ungu tua

Tabung 8 (pengenceran: 1/128): ungu

Tabung 9 (pengenceran: 1/256): ungu

Tabung 10 (pengenceran: 1/512): biru

Tabung 11 (pengenceran: 1/1024): biru

Tabung 12 (pengenceran: 1/2048): biru

Perhitungan:

konsentrasi = 1 x 2 unit
(1/128)

= 256 unit/mL
LAPORAN PRAKTIKUM
BIOKIMIA GIZI
PENENTUAN KADAR DIASTASE URIN

OLEH:
KELOMPOK B III

1. VISCA ANDINI (1613411036)


2. JIHAN CAHYANI (1613411037)
3. M. IRVAN PERDANA (1613411038)
4. ANNISA KURNIAWATI (1613411039)

POLTEKKES TANJUNG KARANG


JURUSAN GIZI
2017