Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

KISTA ENDOMETRIOSIS
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
KEPERAWATAN MATERNITAS

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 5 PROGRAM B
1. Yuyun Melinda 220110160175
2. Rini Riandini 220110160165
3. Marjuannah 220110160169

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
TAHUN AKADEMIK 2016-2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya. Dalam penyusunan makalah ini mungkin ada
sedikit hambatan. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman serta
bimbingan dari dosen, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini.
Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak
lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan, dorongan dan doa. Tidak lupa pula kami mengharap kritik
dan saran untuk perbaikan makalah kami ini.

Jatinangor, 19 Maret 2017.

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar ................................................................................................. i
Daftar Isi .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
D. Metode Penulisan ....... .............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Defisini kista ............................................................................................. 3
B. Kista endometriosis ................................................................................... 3
C. Etiologi ...................................................................................................... 5
D. Tanda dan gejala ....................................................................................... 6
E. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................ 7
F. Penatalaksanaan ........................................................................................ 8
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ................................................................................................. 9
B. Diagnosa ................................................................................................... 11
C. Intervensi ................................................................................................... 11
D. Implementasi ............................................................................................. 16
E. Evaluasi ..................................................................................................... 16
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................... 17
B. Saran ......................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kista termasuk tumor jinak yang terbungkus oleh selaput semacam
jaringan di organ reproduksi perempuan yang sering ditemui. Kista dapat
mempengaruhi siklus haid perempuan karena aiatemm hormone yang
terganggu. Kista dapat tumbuh pada ovarium, vagina, vulva dan bisa terjadi di
endometrium.
Kista endometrium dialami oleh 5-10% wanita dan lebih dari 50%
terjadi pada wanita premenopause. Penyebab dari kista ini belum diketahui,
namun beberapa penelitian mengungkapkan hampir 40% wanta yang
mengalami infertilitas memiliki endometriosis (The American College of
Obstetricians and Gynecologist, 2012).
Beberapa dampak dari kista endometrium dapat mempengaruhi
kualitas hidup dari wanita dari infertilitas bahkan adanya gangguan konsep dri
karena kurangnya dukungan dari keluarga, teman dan dari pihak medis. Oleh
karena itu makalah ini disusun untuk mengetahui tentang kista endometrium
dan bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan kista endometrium.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kista?
2. Apa Pengertian kista endometriosis?
3. Apa etiologi kista endometrium?
4. Bagaimana tanda dan gejala kista endometrium?
5. Apa pemeriksaan penunjang pada pasien kista endometrium?
6. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien kista endometrium?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien kista endometrium?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian kista endometrium
2. Mengetahui pengertian kista endometriosis
3. Mengetahui etiologi kista endometrium
4. Mengetahui tanda dan gejala kista endometrium
5. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada pasien kista endometrium
6. Mengetahui penatalaksanaan pasien kista endometrium
7. Mengetahui asuhan keeperawatan pada pasien kista endometrium
D. Manfaat Penulisan
Memberikan wawasan kepada pembaca mengenai kista endometrium
dan asuhan keperawatan pada pasien dengan kista endometrium.
E. Sistematika Penulisan
Bab I merupakan pendahuluan terdiri dari latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan, bab II
tinjauan teori yang terdiri dari pengertian kista, pengertian kista endometriosis,
endometrium, etiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang dan
penatalaksanaan kista endometrium, bab III asuhan keperawatan terdiri dari
pengkajian, diagnose, intervensi, implementasi dan evaluasi, bab IV
kesimpulan dan saran.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Definisi Kista
Kista merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau
setengah cairan yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Tumbuhnya kista
tersebut bisa membuat terganggunya siklus haid, tingkat kesuburan dan juga
sakit luar biasa (Hacker, 2001).
Kista adalah pembesaran suatu organ yang di dalamnya berisi cairan
seperti balon yang berisi air. Pada wanita organ yang paling sering terjadi kista
adalah indung telur. Tidak ada keterkaitan apakah indung telur kiri atau kanan
(Evianggarini, 2009).
Prawiharjo (2002) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat
keganasaannya kista terbagi dua yaitu nonneoplastik dan neoplastic. Kista
nonneoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengpis sendiri setelah dua
hingga tiga bulan. Sementara kista neoplastic umumnya harus dioprasi, namun
hal itupun tergantung pada ukuran dan sifatnya. Menurut Prawiroharjo (2002)
kista endometriosis termasuk kedalamkista nonneoplastik
B. Kista Endometriosis
Endometrium adalah bagian dari lapisan uterus yang terdiri atas epitel
dan lamina propia yang mengandung kelenjar rybylar simpleks. Sel-sel epitel
pelapisnya merupakan gabungan selapis sel-sel silindris sekretorus dan sel
bersilia. Lapisan endometrium dapat dibagi menjadi dua zona yaitu lapisan
fungsional dan lapisan basal. Lapisan fungsional yang merupakan bagian tebal
endometrium, biasanya akan luruh pada saat terjadi fase menstruasi. Lapisan
basal yang paling dalam dan berdekatan dengan myometrium. Lapisan ini
berperan sebagai bahan regenerasi dari lapisan fungsional dan akan tetap
bertahan pada fase menstruasi.
Endometrium adalah jaringan yang sangat dinamis pada wanita usia
reproduksi. Perubahan pada endometrium terus menerus terjadi sehubungan
dengan respon terhadap hormon, stromal dan vascular dengan tujuan akhir agar
nantinya uterus sudah siap saat terjadi pertumbuhan embrio pada kehamilan
(Claude Gompel, 2000).

3
Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang
masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri. Jaringan ini terdiri atas kelenjar-
kelenjar dan stroma (Prawirohardjo, 2002).
Endometriosis adalah suatu keadaan benigna di mana kelenjar
endometrium dan stroma terdapat di luar kavum endometrium, biasanya pada
ovarum atau pada peritoneum pelvis (Hacker, 2001).
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan
selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan
berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat
endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan
dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri
senggama. Kista ini berasal dari sel-sel selaput perut yang disebut peritoneum.
Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan menahun, misalnya keputihan
yang tidak ditangani sehingga kuman-kumannya masuk kedalam selaput perut
melalui saluran indung telur. Infeksi tersebut melemahkan daya tahan selaput
perut, sehingga mudah terserang penyakit.
Gejala kista ini sangat khas karena berkaitan dengan haid. Seperti
diketahui, saat haid tidak semua darah akan tumpah dari rongga rahim ke liang
vagina, tapi ada yang memercik ke rongga perut. Kondisi ini merangsang sel-
sel rusak yang ada di selaput perut mengidap penyakit baru yang dikenal
dengan endometriosis. Karena sifat penyusupannya yang perlahan,
endometriosis sering disebut kanker jinak.
Kista endometriosis adalah suatu jenis kista yang berasal dari jaringan
endometrium. Ukuran kista bisa bervariasi antara 0.4-4 inchi. Jika kista
mengalami ruptur, isi dari kista akan mengisi ovarium dan rongga pelvis.
Kista endometriosis adalah kista yang tumbuh di permukaan ovarium
atau menyerang bagian dalam ovarium dan membentuk kista berisi darah yang
disebut kista endometriosis atau kista coklat. Kista ini disebut kista coklat
karena terdapat penumpukan darah berwarna merah coklat hingga gelap,
berukuran kecil seukuran kacang dan bisa tumbuh lebih besar dari buah
anggur. Meskipun bukan termasuk kista ganas, kista endometriosis perlu di

4
waspadai karena 26 persen dari kasus kista endometriosis dapat berlanjut
menjadi kanker (Evianggarini, 2009).
Kista endometriosis atau biasa disebut kista coklat ini adalah suatu
penyakit yang lazim menyerang wanita di usia reproduktif. Penyakit ini
merupakan kelainan ginekologis yang menimbulkan keluhan nyeri haid, nyeri
saat senggama, pembesaran ovarium dan infertilitas. Hal ini disebabkan oleh
siklus haid yang tidak berjalan dengan baik sehingga darah kotor yang
seharusnya terbuang dengan lancar menjadi tersumbat dan menetap didalam
rahim wanita tersebut dan semakin membesar karena terus menerus
tertampung. Ini terjadi karena gangguan hormon estrogen dan progesteron
didalam tubuh wanita tidak seimbang. Kista endometriosis ini disebut juga
kista coklat karena berisi darah yang mengental dan membeku, sehingga
berwarna coklat kemerahan (nasdaldy, 2009).
C. Etiologi
Endometriosis terjadi ketika suatu jaringan normal dari lapisan uterus
yaitu endometrium menyerang organ-organ di rongga pelvis dan tumbuh di
sana. Jaringan endometrium yang salah tempat ini menyebabkan iritasi di
rongga pelvis dan menimbulkan gejala nyeri serta infertilitas.
Jaringan endometriosis memiliki gambaran bercak kecil, datar,
gelembung atau flek-flek yang tumbuh di permukaan organ-organ di rongga
pelvis. Flek-flek ini bisa berwarna bening, putih, coklat, merah, hitam, atau
biru. Jaringan endometriosis dapat tumbuh di permukaanrongga pelvis,
peritoneum, dan organ-organ di rongga pelvis, yang kesemuanya dapat
berkembang membentuk nodul-nodul.
Endometriosis bisa tumbuh di permukaan ovarium ataumenyerang bagian
dalam ovarium dan membentuk kista berisi darah yang disebut sebagai kista
endometriosis atau kista coklat. Kista ini disebut kista coklat karena terdapat
penumpukan darah berwarna merah coklat hingga gelap. Kista ini bisa
berukuran kecil seukuran kacang dan bias tumbuh lebih besar dari buah
anggur. Endometriosis dapat mengiritasi jaringan di sekitarnya dan dapat
menyebabkan perlekatan (adhesi) akibat jaringan parut yang ditimbulkannya.

5
Penyebabnya kista endometriosis saat ini belum diketahui secara pasti.
Namun ada salah tor hormonal, kemungkinan faktor resiko yaitu:
1. Faktor genetik/ mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan
payudara.
2. Faktor lingkungan (polutan zat radio aktif)
3. Gaya hidup yang tidak sehat
4. Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, misalnya akibat
penggunaan obat-obatan yang merangsang ovulasi dan obat pelangsing
tubuh yang bersifat diuretik.
5. Kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina
(Wiknjosastro, 2005)
Adapun beberapa penyebab kista endometriosis menurut Hacker (2001)
antara lain :
1. Gangguan pembentukan hormone pada hipotalamus hipofise (organ yang
mengatur pembentukan hormone pada manusia)
2. Gangguan pembentukan hormon indung telur
3. Darah menstruasi masuk kembali ke saluran telur (tuba falopi) dengan
membawa jaringan (endometrium) dari lapisan dinding rahim sehingga
jaringan tersebut menetap dan tumbuh di luar rahim.
D. Tanda Dan Gejala
Gejala-gejala yang sering ditemukan pada kista endometriosis adalah:
1. Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan
selama haid (dismenore). Sebab dari dismenore ini tidak diketahui tetapi
mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam
sarang endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Nyeri tidak
selalu didapatkan pada endometriosis walaupun kelainan sudah luas
sebaliknya kelainan ringan dapat menimbulkan gejala nyeri yang hebat.
Nyeri yang hebat dapat menyebabkan mual, mntah, dan diare. Dismenore
primer terjadi selama tahun-tahun awal mestruasi, dan semakin meningkat
dengan usia saat melahirkan anak, dan biasanya hal ini tidak berhubungan
dengan endometriosis. Dismenore sekunder terjadi lebih lambat dan akan
semakin meningkat dengan pertambahan usia. Hal ini bisa menjadi tanda

6
peringatan akan terjadinya endometriosis, walaupun beberapa wanita
dengan endometriosis tidak terlalu merasakannya.
2. Dispareunia merupakan gejala yang sering dijumpai disebabkan oleh
karena adanya endometriosis di kavum Douglasi.
3. Nyeri waktu defekasi, terjadi karena adanya endometriosis pada dinding
rekstosigmoid. Kadang-kadang bisa terjadi stenosis dari lumen usus besar
tersebut.
4. Poli dan hipermenorea, dapat terjadi pada endometriosis apabila kelainan
pada ovarium sangat luas sehingga fungsi ovarium terganggu.
5. Infertilitas, hal ini disebabkan apabila motilitas tuba terganggu karena
fibrosis dan perlekatan jaringan disekitarnya. Sekitar 30-40% wanita
dengan endometriosis menderita infertilitas.
(Prawirohardjo, 2002)
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah
tumor berasal dari ovarium atau tidak dan untuk mengetahui sifat sifat
tumor tersebut.
2. USG
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan dan batas tumor apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium atau kandung kencing, apakah tumor
kistik atau solid dan dapat dibedakan pula cairan dalam rongga perut yang
bebas dan yang tidak
3. Ultrasound / scan CT
Membantu mengindentifikasi ukuran / lokasi massa.
4. Pemeriksaan serum Uji serum
a. CA 125 : sensitiftas atau spesifitas berkurang
b. Protein plasenta I4 mungkin meningkat pada endometriosis yang
mengalami infiltrasi dalam
c. Antibodi endometrial sensitifitas dan spesifitas berkurang
d. Serum adiponectin lebih rendah (Fahdiansyah, dkk, 2013)
5. Pemeriksaan darah lengkap

7
Penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara
penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif, peningkatan SDP dapat
mengindikasikan proses inflamasi / infeksi ( Doenges. 2000).
6. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya
hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat
gigi dalam tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan
pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.
F. Penatalaksanaan
1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan
bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kista.
3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista
ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen
dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada
distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan
gurita abdomen sebagai penyangga.
4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan
pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan
seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam,
informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda tanda
infeksi, perawatan insisi luka operasi ( Lowdermilk.dkk. 2005)

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
KISTA ENDOMETRIUM

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan dahulu. Pernah terpapar agen toksik atau peptisida
2. Riwayat kesehatan sekarang
a. Adanya dismenorea khas pada 24-48 jam menstruasi jabarkan dengan
PQRST
b. Nyeri area pelvis terasa berat dan menyebar ke dalam paha
c. Nyeri area abdomen bawah selama siklus mentruasi
d. Nyeri area punggung bawah
e. Nyeri selama dan setelah hubungan seksual
f. Nyeri sebelum, sesudah dan saat defekasi
g. Feces berdarah
h. Adanya hematuria
3. Riwayat kesehatan keluarga
a. Adanya keluarga yang menderita endometriosis
4. Riwayat obstetric dan menstruasi
a. Adanya riwayat hipermenorea, menoragia, siklus menstruasi pendek,
darah yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau diakhri
mesntruasi.
5. Pengkajian fisik
a. Sistem neurosensori
Kaji tingkat kesadaran, status mental, adanya pusing hebat sampai
tidak sadarkan diri.
b. Sistem pernapasan
Inspeksi bentuk dada, kesimetrisan. Palpasi adanya lesi atau
bengkak. Perkusi suara paru resonan atau dullness. Auskultasi suara
paru apakah adanya ronkhi. Kaji riwayat merokok dan pemajanan
abses.

9
c. Sistem pencernaan
Inspeksi warna kulit abdomen, bentuk, kesimetrisan, adanya
jaringan parut , luka, striae, adanya massa , pembesaran atau
pembengkakan area abdomen. Auskultasi bising usus disetiap kuadran
abdomen. Palpasi adanya massa, bila ada kaji karakteristik, nyeri dan
konsistensi..
d. Sistem reproduksi
Kaji siklus menstruasi, kaji adanya nyeri yang hebat saat
menstruasi (khas 24-48 jam menstruasi), adanya infertilitas, nyeri
sesudah dan saat hubungan seksual sehingga dapat terjadi perubahan
pola respon seksual. Pemeriksaan dalam kadang didapatkan benjolan-
benjolan di kavum Douglasi dan daerah ligamentum sakrouterina yang
sangat nyeri saat penekanan. Adanya lesi blueberry pada vagina atau
serviks namun jarang terjadi.
e. Pola makan
Kebiasaan diet yang tidak sehat, misalnya rendah serat, tinggi
lemak, adiktif, sering konsumsi makanan berpengawet dan beralkohol.
f. Pola eliminasi
Perubahan pola defekasi, adanya feces berdarah, perubahan
eliminasi urinalis seperti nyeri dan adanya hematuria.
g. Pola aktivitas dan istirahat
Adanya kelemahan atau keletihan akibat anemia. Kurangnya pola
istirahat tidur karena adanya nyeri dan ansietas.
h. Konsep diri
Pada interaksi social adanya ketidaknyamanan atau kelemahan
support sistem. Terkadang sering merasa terisolasi karena kurangnya
support system dari keluarga dan teman yang dapat menyebabkan
keputusasaan, perasaan tidak berharga, depresi hingga beresiko bunuh
diri.

10
6. Pemeriksaan penunjang
a. Uji serum
1) CA 125 : sensitiftas atau spesifitas berkurang
2) Protein plasenta I4 mungkin meningkat pada endometriosis yang
mengalami infiltrasi dalam
3) Antibodi endometrial sensitifitas dan spesifitas berkurang
4) Serum adiponectin lebih rendah
b. Usg abdomen atau transvaginal
c. Barium enema
d. Rectal sonografi
e. MRI
f. Pembedahan melalui laparoskopi, find neddle aspirasi biopsy (FNAB)
dan biopsi eksisi.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang kemungkinan muncul adalah :

1. Nyeri berhubungan dengan gangguan menstruasi, proses penjalaran


penyakit.
2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan
penatalaksanaannya.
3. Gangguan harga diri berhubungan dengan infertilitas
4. Gangguan konsep diri : body image berhubungan dengan kekhawatiran
tentang perubahan masalah kewanitaan dan hubungan sosial.
5. Resiko konstipasi berhubungan dengan penekanan neoplasma pada daerah
sekitar.
C. Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan gangguan menstruasi, proses penjalaran
penyakit.
Tujuan : level nyeri berkuang, kenyamanan terpenuhi.
Kriteria hasil :
a. Mampu mengontrol nyeri (mengetahu penyebab nyeri dan mencari
bantuan).
b. Menyatakan nyeri berkurang dengan meggunakan manajemen nyeri.

11
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
Intervensi Rasional
Kaji tingkat nyeri secara Mendapatkan indicator nyeri dan
komprehensif (lokasi, penatalaksanaan selanjutnya.
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan factor precipitasi)
Kaji tipe dan sumber nyeri Nyeri merupakan pengalamn
subyektif klien dan metode skala
merupakan metode yang mudah
serta terpercaya untuk
menentukan intenstas nyeri.
Ajarkan tentang teknik non Memodifikasi reaksi fisik dan
farmakologi psikis terhadap nyeri.
Kolaborasi dengan medis untuk Analgetik bekerja membantu
pemberian terapi analgetik sintesa prostaglandin dan midol
sebagai relaksan uterus.

2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan


penatalaksanaannya.
Tujuan : level kecemasan berkurang, peningkatan koping adaptif,
kecemasan yang terkontrol
Kriteria hasil :
a. Klien dapat mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
mengontrol cemas
c. Tanda-tanda vital dalam batas normal
d. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukan berkurangnya kecemasan

12
Intervensi Rasional
Kaji ulang tingkat pemahaman Mengetahui sejauh mana
klien tentang penyakitnya. pemahaman klien tentang apa
yang dijelaskan.
Dorong klien untuk Membantu klien
mengungkapkan pikiran dan mengungkapkan perasaan dapat
perasaannya. membantu mengurangi
kecemasan klien.
Minta klien untuk memberi Mengetahu tingkat kecemasan
umpan balik tentang apa yang klien.
telah terjadi.
Berikan informasi yang jelas Membantu klien dalam
tentang penyakitnya, prognosis memahami tentang penyakitnya.
dan pengobatan secara prosedur
secara akurat dan jelas
Monitor tanda-tanda vital. Respon fisik akan
menggambarkan tingkat
kecemasan klien.
Instruksi kan klien Membantu klien menjadi tenang
menggunakan teknik relaksasi. dan mengurangi kecemasan.
Kolaboras dengan medis untuk Pemberian terapi dapat
pemberian terapi anti psikotik. mengurangi gejela kecemasan.

3. Gangguan harga diri berhubungan dengan infertilitas


Tujuan : koping efektif, harga diri meningkat,
Kriteria hasil
a. Mampu beradaptasi dengan kondisi
b. Menunjukan penilaian pribadai tentang harga diri
c. Mengungkapkan penerimaan diri
d. Mengatakan optimisme tentang masa depan
e. Menggunakan strategi koping yang efektif

13
Intervensi Rasional
Bina hubungan saling percaya. Hubungan saling percaya
memungkinkan klien terbuka pada
perawat dan sebagai dasar untuk
intervensi selanjutnya.
Tunjukan rasa percaya diri Meningkatkan kepercayaan diri
terhadap kemampuan pasien klien pada klien.
untuk mengatasi situasi.
Berikan motivasi kepada klien. Meningkatkan harga diri klien
karena klien mendapatkan support
system.
Berikan kemampuan dan aspek Mengidentifikasi hal-hal positif
positif yang dimiliki klien. yang dimiliki klien.

4. Resiko gangguan citra tubuh berhubungan dengan kekhawatiran tentang


perubahan masalah kewanitaan dan hubungan sosial.
Tujuan : peningkatan harga diri dan citra tubuh
Kriteria :
a. Terbentuknya body image positif
b. Mampu mengidentifikasi kekuatan personal
c. Mendeskripsikan secara factual perubahan fungsi tubuh
d. Mempertahankan interaksi social

14
Intervensi Rasional
Kaji secara verbal dan non Mengidentifikasi gangguan yang
verbal respon klien terhadap terjadi
tubuhnya.
Dorong klien mengungkapkan Membantu klien mengurangi
perasaannya. kecemasan
Jelaskan tentang pengobatan, Membantu klien dalam
perawatan, kemajuan dan memahami penyakitnya
prognosis penyakit.
Dorong keluarga klien untuk Memberikan support sistem pada
selalu memotivasi klien klien

5. Resiko konstipasi berhubungan dengan penekanan neoplasma pada daerah


sekitar.
Tujuan : defekasi teratur
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan bentuk feces lunak setiap hari
b. Bebas dari ketidaknyamanan dan konstipasi
c. Mengidentifikasi indicator untuk mencegah konstipasi
d. Feces lunak dan berbentuk
Intervensi Rasional
Monitor tanda dan gejala Mengidentifikasi gejala konstipasi
konstipasi
Anjurkan klien untuk konsumsi Nutrsi tinggi serat dapat
makanan tinggi serat meperlancar defekasi
Anjurkan klien untuk minum Dapat membantu melunakan feces
yang cukup
Kolaborasi dengan medis untuk Membantu melunakan feces
pemberian terapi laksatif atau
enema

15
D. Implementasi
Implementasi sesuai dengan intervensi.
E. Evaluasi
Evaluasi respon klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian
hasil yang diharapkan (yang dikembangkan dalam fase perencanaan dan di
dokumentasikan dalam rencana keperawatan) adalah tahap akhir dari proses
keperawatan. Fase evaluasi perlu untuk menentukan seberapa baik rencana
asuhan tersebut berjalan dan bagaimanan selama proses terus menerus. Revisi
rencana keperawatan adalah komponen penting dalam evaluasi. Pengkajian
ulang adalah proses evaluasi terus menerus yang terjadi tidak hanya hasil
yang diharapkan terjadi pada klien namun di tinjau ulang atau bila keputusan
dibutuhkan apakah klien siap atau tidak untuk pulang. Evaluasi adalah proses
berkelanjutan. Perawat dapat mengasumsikan perawatan tersebut telah efektif
saat hasil yang diharapkan untuk perawatan dapat terjadi. Evaluasi yang
diharapkan yaitu :
1. Klien dapat mengontrol nyeri yang dideritanya.
2. Klien dapat mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik
untuk mengontrol cemas
3. Klien mampu beradaptasi dengan kondisi dan mempunyai koping yang
efektif
4. Terbentuknya body image positif pada klien
5. Mempertahankan bentuk feces lunak setiap hari

16
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kista endometriosis adalah kista yang tumbuh di permukaan ovarium
atau menyerang bagian dalam ovarium dan membentuk kista berisi darah yang
disebut kista endometriosis atau kista coklat. Kista endometriosis adalah suatu
jenis kista yang berasal dari jaringan endometrium. Ukuran kista bisa
bervariasi antara 0.4-4 inchi. Jika kista mengalami ruptur, isi dari kista akan
mengisi ovarium dan rongga pelvis.
Tanda dan gejala kista endometriosis ini diantaranya yaitu: nyeri perut
bawah, dispareunia, nyeri waktu defekasi, poli dan hipermenorea, infertilitas.
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien ini antara lain Nyeri
berhubungan dengan gangguan menstruasi, proses penjalaran penyakit, cemas
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan
penatalaksanaannya, gangguan harga diri berhubungan dengan infertilitas,
resiko gangguan citra tubuh berhubungan dengan kekhawatiran tentang
perubahan masalah kewanitaan dan hubungan sosial.
B. SARAN
Bagi Institusi pendidikan diharapkan menambahkan buku-buku
menganai kista endometriosis ini.
Bagi perawat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuiannya
mengenai materi kista endometriosis dan lebih memantapkan asuhan
keperawatan yang akan diberikan pada pasien dengan kista endometriosis.

17
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E.dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman


Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III.Alih
Bahasa: I Made Kriasa.EGC.Jakarta
Fahdiansyah, dkk. 2013. Journal: Serum Adiponectin Level is Lower in
Patients with Endometriotic Cyst. Department of Obstetrics and Gynecology
Faculty of Medicine University of Padjadjaran/ Dr. Hasan Sadikin Hospital
Bandung : Indonesa J Obstet Gynecol.
Hadisaputra, wachyu. 2014. Jurnal: Perkembangan Laparaskopi Operatif di
Indonesi. Departeman Obstetri dan Genokologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : eJKI.
Hacker & More. 2001. Essentials of obstetrics and ginekologi.
Philadelphia : Pennsylvania.
Lowdermilk, perta. 2005. Maternity Womens Health Care. Seventh
edition. Philadelphia : Mosby
Prawirohardjo S. 2002. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBP-SP. p.314-36
Nasdaldy, (2009). Tentang Kista Endometriosis, Jakarta : Rajagrafindo
Persada.
The American College of Obstetricians and Gynecologist. 2012.
Endometriosis A Guide For Patient.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4812685/pdf/10.1177_1933

719114529374.pdf (diakses pada tanggal 27 Maret 2017 pukul 20.00)