Anda di halaman 1dari 16

9.

1 PENGENDALIAN SIKLUS TRANSAKSI PADA PROSES BISNIS


PRODUKSI

Pengendalian Produksi

Sistem akuntansi biaya berfokus pada pengelolaan persediaan pada persediaan


pemanufakturan, seperti bahan baku, bahan baku dalam proses, dan barang jadi. Job
costing merupakan prosedur yang harga perolehannya didistribusikan ke job khusus
atau pesanan produksi. Job costing memerlukan sistem pengendalian pesanan
produksi.

Pada proses costing harga perolehan di kompilasikan dalam proses atau


rekening departemen secara periodik (hari, minggu atau bulan). Pada setiap akhir
periode harga perolehan untuk setiap proses di bagi dalam unit yang di produksi
untuk menetukan rata-rata harga perolehan perunit. Proses costing digunakan jika
tidak memungkinkan untuk mengidentifikasi pekerjaan atau lot produksi sebelumnya.
Harga perolehan job atau proses costing dapat berupa harga perolehan sesungguhnya
atau harga perolehan standar.

Pengendalian persediaan dan produksi di dasarkan pada pemisahaan fungsi


dan pencatatan dan dokumentasi, seperti pesanan produksi , formulir permintaan
material , dan kartu jam kerja karyawan. Perlindungan persediaan dari pencurian fisik
mencakup keamanan dan keterbatasan akses, juga perhitungan fisik dan uji
pencatatan independen.

File dan Laporan


Pengendalian produksi meliputi perencanaaan produk yang akan di produksi dan
penjadwalan produksi untuk mengoptimalkan pemakaian sumber daya. Kebutuhan
dasar produksi di sediakan dengan daftar material dan daftar operasi master.
Spesifikasi rinci material untuk produk pada daftar material. Daftar material berisi
daftar semua bahan yang diperlukan dan deskripsinya dalam pesanan dan
subperakitan. Daftar operasi mirip dengan daftar material, yang berisi operasi tenaga

1
kerja rinci, urutan pengerjaan dan kebutuhan mesin yang berkaitan dengan pengerjaan
tersebut. Daftar material dan daftar operasi digunakan secara luas dalam fungsi
pengendalian produksi. Dalam sistem biaya standar, biaya material standar dan biaya
tenaga kerja dimasukkan dalam daftar material dan daftar operasi.

Penentuan produk apa yang akan di buat memerlukan integrasi permintaan


produk, kebutuhan produk, dan ketersediaan sumber daya produksi. Ketersediaan
sumber daya untuk di produksi di komunikasikan ke fungsi pengendalian produksi
dengan menggunakan laporan status pesediaan dan laporan ketersediaan faktor.
Laporan status bahan baku berisi sumber daya yang tersedia dalam produksi. Laporan
ketersediaan faktor berisi ketersediaan sumber daya tenaga kerja dan mesin.
Kebutuhan permintaan untuk produk tergantung pada pda apakah produk yang dibuat
sesuai dengan pesanan pelanggan atau dibuat secara rutin untuk persediaan. Jika
produk diproduksi secara rutin untuk persediaan, kebutuhan produksi tergantung pada
prediksi penjualan, yang dikirim ke pengadilan produksi dari departemen penjualan
atau pemasaran. Prediksi penjualan harus dihubungkan dengan jumlah produk dalam
persediaan. Informasi ini disediakan dalam laporan status produk jadi, yang berisi
daftar jumlah produk dalam persediaan. Integrasi dari semua faktor ini merupakan
hasil dari perencanaan produksi untuk organisasi. Perencanaan produksi dimasukkan
dalam penjadwalan produksi dan pesanan produksi. Dokumen ini merupakan awal
dari arus pemrosesan data produksi.

Arus Transaksi
Pesanan produksi dijalankan sesuai dengan otorisasi untuk departemen produksi
untuk membuat produk. Permintaan material diterbitkan untuk setiap pesanan
produksi untuk mengotorisasi departemen persediaan untuk mengeluarkan material
ke departemen produksi. Item dan jumlah item yang di tunjukan untuk permintaan
pembelian di tentukan dari spesifikasi produk yang ada pada bill of materials. Alur
permintaan material dan pesanan produksi dapat dilihat pada gambar flowchart arus
transaksi dalam aplikasi pengendalian produksi. Fungsi akuntansi biaya menerima
tembusan pesanan produksi langsung dari pengendalian produksi, juga dari

2
departemen produksi ketika pesanan produksi telah selesai. Akuntansi biaya juga
menerima tembusan penerimaan material dari fungsi pengendalian persediaan dan
departemen produksi. Distribusi dokumen seperti ini menunjukkan adanya pemisahan
tugas dan memberikan akuntabilitas untuk departemen produksi.

Operasi tenaga kerja dicatat pada kartu pencatat waktu kerja. Kartu ini
diposting ke pesanan produksi dan dilanjutkan ke departemen akuntansi biaya.
Rekonsiliasi periodik dari kartu pencatat waktu dengan laporan tenaga kerja produksi
merupakan hal penting dalam fungsi pengendalian internal.

Laporan status produksi dikirimkan secara periodik dari departemen produksi


ke fungsi pengendalian produksi. Laporan status produksi merinci pekerjaan yang
telah selesai pada pesanan produksi individual yang telah dipindahkan melalui proses
produksi. Laporan ini digunakan untuk memonitor status pesanan produksi yang
belum selesai dan jika diperlukan, dapat dilakukan revisi pada jadwal departemen
produksi.

Dokumen utama dalam proses sebelumnya adalah pesanan produksi.


Tembusan pesanan produksi digunakan oleh fungsi akuntansi biaya untuk mencatat
bahan baku dalam proses (WIP) untuk setiap pekerjaan.

Akuntansi Biaya
Departemen akutansi biaya bertanggung jawab untuk mengelola file pencatatan biaya
barang dalam proses. Catatan baru di tambahkan pada file ini ketika menerima
pemesanan produksi yang baru, yang di mulai oleh pengendalian produksi. Biaya
material diposting dari job time ticket. Biaya overhead sering diterapkan dengan dasar
jam tenaga kerja langsung atau biaya tenaga kerja langsung dan diposting pada waktu
yang bersamaan sebagai biaya tenaga kerja.

Efisiensi pengendalian produksi memerlukan pembandingan antara produksi


sesungguhnya dengan penjadwalan produksi dan analisis perbedaan (varian).
Pengendalian produksi juga membutuhkan pembadingan dan analisis dari faktor-

3
faktor yang lain, termasuk biaya yang dianggarkan dengan biaya sesungguhnya untuk
pesanan produksi individual dan atau departemen dan fasilitas yang digunakan
dibandingkan dengan ketersediaan fasilitas oleh departemen. Pengendalain terhadap
hilangnya persediaan dan pengolaan level persediaan yang optimal juga merupakan
faktor yang penting untuk pengendalain produksi secara keseluruhan.

Pengendalain Persediaan
Pengendalian persediaan diwujudkan melalui beberapa pencatatan persedian dan
laporan yang berisi informasi seperti penggunaan persediaan, saldo persediaan, dan
levl maksimum dan minimum dari persediaan. Titik pemesanan ulang (reorder
point) dan prosedur-prosedur dibuat. Titik pemesanan ulang merupakan level
persediaan yang digunakan sebagai pertimbangan untuk memesan atau memproduksi
item tambahan untuk menghindari kondisi tidak memiliki persediaan. Pengembangan
teknik pemesanan ulang memerlukan analisis permintaan produksi biaya setup
produksi atau pemesanan, waktu tunggu pemasok atau produksi, biaya penanganan
persediaan, dan biaya yang berkaitan dengan kondisi ketika tidak memiliki persediaan
seperti kehilangan kesempatan menjual atau tidak efisiennya penggunaan fasilitas
produksi.

Karena tujuan pengendalian persediaan adalah meminimumkan biaya


persediaan total, keputusan penting yang dibuat adalah ukuran jumlah setiap pesanan
pembelian yang disebut dengan economic order quantity (EOQ). Kuantitas yang
dipesan kembali harus menyeimbangkan dua sistem biaya, yaitu penanganan dan
biaya pemesanan. Rumus untuk menghitung EOQ adalah

EOQ = Error: Reference source not found

Dimana:

EOQ = economic order quantity

R = kebutuhan untuk item pada suatu periode

4
S = biaya pembelian per pesanan

P = unit biaya

I = biaya penanganan persediaan per periode,dinyatakan dalam


persentase nilai periode persediaan

Jika EOQ telah dihitung, waktu pemesanan harus diputuskan, artinya reorder
point harus ditentukan. Jika waktu tunggu pesanan dan tingkat penggunaan
persediaan diketahui, penentuan reorder point dapat segera dilakukan. Waktu tunggu
(lead time) adalah waktu antara penempatan pesanan dan penerimaan barang. Tingkat
penggunaan persediaan (inventory usage rate) adalah kuantitas penggunaan barang
selama periode waktu tertentu. Reorder point menunjukkan level persediaan yang
mencapai jumlah unit yang akan dikonsumsi selama waktu tunggu. Dalam rumus
dinyatakan:

Reorder point = lead time x rata-rata inventory usage rate

Bagian penting dalam pengndalian persediaan adalah evaluasi perputaran


persediaan untuk menentukan umur, kondisi dan status persediaan. Pengendalian
khusus dibuat untuk menghapus yang telah kadaluarsa dan item persediaan yang
perputarannya rendah dan membandingkan antara level persediaan yang telah dibuat.
Laporan status persediaan menunjukkan penggunaan secara rinci secara periodik
yang secara khusus akan membantu pengelolaan persediaan pada level yang tepat dan
mengendalikan item yang perputarannya rendah.

Pengendalian persediaan meliputi metode untuk penanganan dan


penyimpanan. Item-item perlu diklasifikasikan dan diidentifikasikan secara tepat
sehingga dapat ditempatkan secara tepat dan juga memungkinkan untuk pelaporan
dan verifikasi secara tepat. Penyimapan dan penanganan item harus diberikan
keamanan terhadap penggelapan, perlindungan terhadap kerusakan, terhindar dari
kadaluwarsa dan keyakinan adanya pengendalian yang tepat.

5
Persediaan merupakan investasi yang penting. Sistem pengendalian
persediaan menyediakan laporan status pada setiap produk yang aktif sehingga
perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan. Karena banyaknya item
persediaan dan variasi transaksi yang memengaruhi persediaan, maka menjadi sulit
untuk mendapatkan informasi secara cepat dengan menggunakan sistem manual.
Sistem pengendalian terkomputerisasi dapat menyebabkan berkurangnya investasi
persediaan : penghematan ini mencakup pengurangan persediaan tanpa mengurangi
layanan, penentuan EOQ dan titik pesanan, membangun tingkat persediaan yang
aman, dan prediksi permintaan dimasa depan berdasarkan informasi sekarang dan
masa lalu. Penggunaan pencatatan, analisis perputaran dan keusangan, titik
pemesanan ulang, dan statistik lainnya yang relevan dengan pengendalian persediaan,
sulit untuk dihasilkan dengan sistem manual.

Produksi Just In Time (JIT)


Produksi just in time (JIT) merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan
sistem produksi yang komponen diproduksi hanya ketika diperlukan dalam suatu
proses operasi. Sistem JIT berbeda dari sistem produksi konvensional di mana barang
dalam proses, bahan baku, dan barang jadi diminimumkan atau secara total dikurangi.
Konsep JIT.

Persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi ditunjukkan
dalam bentuk garis putus-putus untuk mengindikasi terjadinya pengurangan dalam
produksi JIT. Istilah minimum inventory production system (MIPS), material as
needed (MAN), dan zero inventory production system (ZIPS) juga menjelaskan
konsep minimalisasi persediaan.

Pesediaan dipakai sebagai penyangga pada operasi yang berbeda. Persediaan


dikurangi dengan analisis operasi secara hati-hati untuk menghasilkan tingkat
produksi yang konstan yang akan menyeimbangkan input dan output pada berbagai
tahap produksi. Produksi JIT juga menekankan pada pengendalian kualitas. Karena

6
persediaan diminimumkan, produksi yang rusak akan dibetulkan dengan segera jika
arus konstan produksi berlangsung terus-menerus.

Keuntungan finansial dari produksi JIT berasal dari berkurangnya level


persediaan. Investasi total perusahaan pada persediaan juga menjadi berkurang. Biaya
seperti penanganan dan penyimpanan bahan, keusangan, luas tempat penyimpanan,
dan beban keuangan pada biaya persediaan total, dapat dikurangi, bahkan signifikan.
Keuntungan lain termasuk biaya tenaga kerja operasi yang turun yang dirancang
ulang untuk arus produksi yang konstan, diskon kuantitas dari pemasok yang akan
menerima kontrak jangka panjang, dan meningkatnya penekanan pada kualitas
produksi dan pengurangan pada biaya sisa bahan.

Aplikasi Akuntansi Kekayaan


Elemen penting dari pengendalian internal yang efektif adalah pemrosesan yang
akurat dan tepat waktu dari informasi yang berhubungan dengan aktiva tetap dan
investasi. Pemrosesan seperti ini dikerjakan dengan menggunakan aplikasi akuntansi
khusus yang disediakan untuk akuntansi, operasional, dan kebutuhan informasi
manajemen.

Aktiva Tetap
Ada empat tujuan dari aplikasi aktiva tetap dan investasi :

Untuk mengelola pencatatan yang benar yang mengidentifikasikan aset


dengan deskripsi, biaya, dan lokasi fisik.
Untuk depresiasi yang benar dan atau perhitungan amortisasi untuk tujuan
buku dan pajak.
Untuk evaluasi ulang asuransi dan tujuan biaya penggantian.
Menyediakan laporan bagi pihak manjemen untuk merencanakam dan
mengendalikan item aset individual.
Investasi
Investasi, seperti aktiva tetap, memerflukan pencatatan terpisah, khususnya register
investasi yang digunakan sebagai pengendalian akuntansi. Register investasi berisi

7
semua informasi yang relevan, seperti nomor sertifikat dan nilai buku sekuritas untuk
memudahkan identifikasi dan pengendalian. Semua transaksi investasi seyogyanya
diotorisasi dan didokumentasikan. Pengendalian umum yang biasanya dilakukan
untuk penanganan fisik sekuritas investasi dilakukan oleh dua orang : satu orang
mengamankan kotak deposit dan lainnya memasukkan deposit.

9.2 Sistem Pemanufakturan Respon Cepat


Sistem pemanufakturan terintegrasi-komputer (CIM) mengintegrasi sistem
pemanufakturan fisik dan sistem perencaaan sumber daya pemanufakturan (MRP II).
Sistem pemanufakturan respon-cepat adalah sistem CIM yang pemanufakturan fisik
dan MRP II terintegrasi dengan teknologi yang lebih maju. Teknologi integrasi
tingkat lanjut meliputi electronic data interchange (EDI), identifikasi otomatis, dan
proses terdistribusi.

Komponen Sistem Pemanufakturan Respon-Cepat


Sistem Pemanufakturan Fisik
Ada dua subsistem yang secara langsung mendukung sistem pemanufakturan fisik,
yaitu computer-aided design and drafting (CADD) dan sistem computer-aided
manufacturing (CAM).

Computer-Aided Design and Drafting (CADD). CADD menggunakan perangkat


lunak komputer untuk melakukan fungsi rekayasa dan diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas design engineer. Produktivitas yang meningkat membuat
organisasi harus lebih responsif terhadap permintaan pasar untuk penawaran produk
baru dan produk yang ditingkatkan. Ahli teknik, perancang, dan drafter bekerja di
CADD stations-stasiun kerja elektornik yang ditujukan untuk membantu pekerjaan
mereka. CADD stations yang terdiri dari sebuah monitor dengan kemampuan grafis,
light pen atau mouse untuk menempatkan garis atau detail lainnya pada layar, dan
sebuah plotter atau printer untuk mencetak. Detail rancangan produk disimpan oleh
komputer dan dapat dipanggil lagi dan dimanipulasi oleh pengguna.

8
Sistem CADD memberikan beberapa tipe fungsi dukungan yang berbeda.
Solid modeling adalah gambaran matematika dari bagian objek solid dalam memori
komputer. Model ini menunjukkan volume yang disertakan dalam bidang permukaan.
Berbagai model komponen dapat digunakan untuk memprediksi produk akhir, seperti
berat, stabilitas, atau momen kelembanan. Analisis elemen hingga adalah metode
matematika yang digunakan untuk menentukan karakteristik mekanik, seperti
tegangan dari struktur di bawah beban.
Drafting terotomatisasi menghasilkan gambar rancang bangun dan dokumen
hardcopy lainnya. Gambar dihasilkan dengan menggambar berbagai sudut pandang
dari model geometrik yang telah dibuat sebelumnya dan disimpan dalam memori
komputer.

Pemanufakturan dengan Bantuan Komputer (CAM). Sistem CAM meliputi


perangkat lunak untuk mendefinisikan proses pemanufakturan, alat untuk
memperbaiki produktivitas proses, sistem pendukung pengambil keputusan untuk
membantu pengendalian dan pengawasan proses produksi, dan beberapa elemen
implementasi untuk pengendalian proses shop-foor seperti robotik, programmable
logic controller (PLC) dan machine vision systems. Alat-alat ini lebih dikenal dengan
sebutan peranti cerdas (intelligent tools). Robot industri adalah alat yang dirancang
untuk memindahkan material, suku cadang, atau alat khusus dengan menggunakan
variabel gerakan yang diprogram untuk berbagai macam tugas yang dilakukan.

Sistem CAM memasukkan modul-modul untuk memudahkan proses


perencanaan, line analysis, pengendalian proses statistik, analisis kualitas, dan
pengawasan pemeliharaan. Pengendalian proses online digunakan sebagai
umpanbalik proses data untuk setiap sistem untuk manipulasi dan analisis berikutnya.

Sistem CADD mengumpulkan dan memproses data dari proses


pemanufakturan yang dapat diprogram untuk menyediakan dukungan keputusan.
Data digunakan untuk menghasilkan laporan dan untuk menganalisis kinerja proses
pemanufakturan. Sistem memonitor kondisi status dan parameter pemrosesan dari

9
mesin produksi, ukuran kualitas, dan sistem penanganan barang dalam proses.
Informasi yang dikumpulkan dari sistem ini meliputi status mesin, alarm kegagalan,
penghitungan bahan, efesiensi mesin, penghitungan foat,siklus waktu, level kualitas,
dan karakteristik bahan. Informasi tersebut dimasukkan ke sistem pemantauan
produksi, analisis kualitas, dan pemantauan pemeliharaan.

Banyak CAM menggunakan pengendalian proses statistic. Pengendalian


proses statistic digunakan intuk menentukan apakah proses pemanufakturan masih
dalam pengendalian. Bebrapa sistem CAM , disebut sistem pemanufakturan
fleksibel (FMS) digabungkan dengan proses produksi yang dapat deprogram yang
dapat dikonfigurasi secara cepat untuk menghasilkan tipe produk yang berbeda.

Sistem Perencanaan Sumber Daya Pemanufakturan (MRP II)


Sistem perencanaan sumber daya pemanufakturan (MRP II) terdiri dari sistem
perencanaan kebutuhan bahan baku (MRP) dan sistem berkaitan dengan
penjualan, penagihan, dan pembelian. Akan tetapi, sistem MRP merupakan sistem
yang utama dari sistem MRP II.

Sistem MRP menggunakan kemampuan komputasi dari komputer untuk


memproses sejumlah besar data yang diperlukan untuk perencanaan dan penjadwalan
kebutuhan penggunaan bahan baku. MRP digunakan secara komprehensif untuk
memasukkan semua persediaan bahan baku, barang dalam proses,dan barang jadi.
Karena barang dalam proses mencakup biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead, juga biaya bahan baku, maka semua elemen pemanufakturan dimasukkan
dalam sistem MRP. Sistem MRP mengintegrasikan empat subsitem, diantaranya
perencanaan produksi, penjadwalan produksi, akuntansi biaya, dan pelaporan.

Teknologi Integrasi Tingkat Lanjut


Fleksibilitas dan kecepatan respon sistem pemanufakturan sangat tergantung pada
tingkat integrasi komponen-komponen yang terkait. Identifkasi otomatis
meningkatkan integrasi karena produk dan material yang diberi tanda elektronik
secara efektif membuat mereka dapat dibaca oleh mesin. EDI meningkatkan integritas

10
karena ia secara efektif mengintegrasikan sistem perusahaan dengan sistem pemasok
dan pelanggan. Pemrosesan terdistribusi meningkatkan integritas karena ia secara
logika dan fifsik mengkombinasikan sumber daya informasi yang tersebar secara
geografis menjadi satu sistem yang berkaitan.

Identifikasi Otomatis Identifikasi otomatis terhadap berbagai aktivitas produksi


merupakan hal yang penting untuk otomatisasi pabrik; jadi, mesin yang dapat
membaca barcode dan teknologi scanner merupakan elemen yang sangat diperlukan.
Perusahaan pemanufakturan dapat memperoleh keuntungan dengan menggunakan
sistem barcode UPC (Uniform Product Code) standar. Dengan kode UPC, pelanggan
dan pemasok akan menggunakan kode produk yang sama sehingga mengurangi
masalah referensi silang.

EDI. Merupakan integrasi aplikasi terkomputerisasi yang melekat dalam CIM. EDI
memberikan dampak pada efisiensi pemanufakturan dan persediaan dengan
menyederhanakan rantai logistik pada penempatan dan penyimpanan pesanan dengan
membuat sistem yang lebih responsif untuk kebutuhan saat ini. Level persediaan
dapat dikurangi hanya dengan menggunakan EDI karena ia memperpendek waktu
pengurutan penyimpanan pesanan dan penempatan. Kesalahan juga dapat dikurangi.
EDI berguna pada banyak tipe lingkungan pemanufakturan, ia juga menjadi
komponen kritis dari lingkungan pemanufakturan JIT.

PEMROSESAN TRANSAKSI PADA SISTEM PEMANUFAKTURAN


RESPON-CEPAT

Perencanaan Produksi
Perencanan produksi meliputi penentuan produk mana yang di produksi dan
penjadwalan produksi agar penggunaan sumber daya produksi menjadi optimal.
Penentuan produk mana yang di produksi memerlukan integrasi antara permintaan
produk dan kenutuhan produksi dan sumber daya produksi yang tersedia di
perusahaan. Gambar dibawah menggambarkan arus data yang ada dalam perencanaan
produksi.

11
Implementasi Perencanaan Produksi Menggambarkan proses yang diperlukan
untuk implementasi perencanaan produk master. Perencanaan produk master di
proses untuk status produksi, daftar material, dan file operasi master. Proses ini
menghasilkan file pesanan produksi, permintaan material, dan routing dan juga
memperbaharui file status produks. File status produksi berisi data akuntansi dan data
operasional yang ada dalam status pesanan produksi. File daftar material, berisi
record untuk setiap produk yang diproduksi. File operasi master berisi data yang
sama yang berhubungan dengan setiap rincian kebutuhan tenaga kerja dan operasi
mesin produk dan urut-urutannya melalui proses produksi.

Penjadwalan Produksi
Berisi tentang status produksi yang di kumpulkan pada departemen pabrik sebagai
proses kerja. Data pesanan produksi, formulir permintaan material dan routing bisa di
kumpul dengan berbagai cara. RTG bisa sebagai output dokumen turnaround bagi
aplikasi perencanaan produksi. RTG di masukan oleh departemen pabrik sebagai
proses kerja pada pesanan produksi khusus.

Akutansi biaya
Output dari program akutansi biaya meliputi item sebagai berikut. Satu file status
produksi yang telah di perbaharui. Dua file pesanan produksi yang telah selesai. Tiga
file penggunaan sumber daya. Empat laporan ringkas.

Pelaporan
File pesanan produksi yang telah selesai berisi semua biaya produksi yang telah
selasai. File ini digunakan untuk memperbaharui file persediaan barang jadi. Output
proses ini meliputi file persediaan barang jadi yang telah di perbaharui, laporan status
persediaan barang jadi, ringkasan biasa pesanan produksi yang telah selesai. Dan
laporan ringkas yang meliputi bach dan informasi pengendalian informasi.
File penggunaan sumber daya yang merupakan output dari aplikasi akuntansi
biaya berisi biaya aktual dan biaya standar untuk material dan tenaga kerja, dan biaya
operasi untuk pekerjaan yang telah selesai, seperti yang ditunjukkan oleh data

12
permintaan material dan data RTG. Kuantitas standar, waktu, dan biaya disalin pada
file ini dari file status produksi. File ini adalah input untuk program aplikasi komputer
yang mengakumulasi biaya material dan operasi oleh departemen atau pusat kerja dan
mencetak laporan penggunaan sumber daya. Laporan ini berisi perbedaan antara data
biaya standar dan biaya sesungguhnya. Laporan penggunaan sumber daya
didistribusikan ke departemen supervisor untuk membantu fungsi pengendalian
produksi secara keseluruhan.

Biaya Berbasis Aktivitas


Teknik akuntansi biaya tradisional tidak mencakup lagi dalam lingkungan CIM. Tiga
elemen utama dimasukkan dalam biaya produk pemanufakturan, yaitu bahan baku
langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead.

CIM mengubah Pola Perilaku-Biaya. Istilah overhead dibebankan menjelaskan


teknik akuntansi biaya yang sudah dikenal di mana beban overhead pada sebuah
produk dihitung dengan menggunakan tarif aplikasi overhead yang telah ditetapkan
sebelumnya. Tarif overhead yang telah ditetapkan sebelumnya umumnya didasarkan
pada total jam tenaga kerja langsung yang diharapkan atau total biaya tenaga kerja
langsung yang diharapkan. Tarif overhead pabrik yang dibebankan dapat dihitung :

CIM secara signifikan mengubah pola perilaku biaya perusahaan


pemanufakturan sebagai akibat dari substitusi modal peralatan untuk tenaga kerja
langsung. Tenaga kerja langsung dikurangi, bahkan kemungkinan dikurangi secara
total, dan digantikan dengan mesin-mesin yang dikendalikan dengan komputer.

Biaya berbasis-aktivitas (ABC) menghitung beberapa tarif overhead, satu tarif


untuk setiap aktivitas pemanufakturan, dan menggunakan tarif tersebut untuk
menghitung biaya produk dari biaya aktivitas spesifik yang terjadi selama produksi.
13
Aktivitas mungkin terpusat pada mesin, penanganan material, inspeksi, atau jenis
lainnya dari operasi pemanufakturan. Satu departemen dapat berisi banyak aktivitas
yang berbeda. Sebagai contoh, departemen perakitan di mana beberapa produksi
dirakit menggunakan peralatan robot dan produk lain dirakit secara manual,
kemungkinan akan memiliki dua aktivitas, yaitu perakitan dengan robot dan manual.
Dasar overhead yang berbeda dapat digunakan untuk menetapkan (secara lebih
akurat) biaya aktivitas yang berbeda pada produk.

Pemicu Biaya (cost driver) adalah elemen yang mempengaruhi biaya total dari suatu
aktivitas. Sebagai contoh, biaya penanganan material dipengaruhi oleh jumlah item
yang ditangani, tipe penanganan item, tipe alat yang digunakan, dan efisiensi pekerja.
Pemicu biaya diukur dengan volume produksi, jumlah karyawan, jumlah formulir
yang dapat diselesaikan atau jumlah bahan yang ada dalam suatu produk. Ukuran
waktu dalam proses, seperti jam tenaga kerja langsung, jam mesin atau waktu jam,
sering digunakan sebagai pemicu biaya.

MRP II versus MRP


Sistem MRP II meliputi berbagai modul pemrosesan MRP. Modul daftar material
(bill-of-material) digunakan untuk mengkomunikasikan struktur suatu produk, seperti
dalam MRP. Perluasan pemrosesan daftar material dalam MRP II dapat mencakup
pemeliharaan gambaran rancang bangun/produk dari sistem CADD. Modul file
routing menunjukkan urutan operasi yang diperlukan untuk menghasilkan komponen
atau perakitan, seperti dalam MRP. Perluasan dari pemrosesan file routing dalam
MRP II meliputi informasi yang lebih luas mengenai data kapasitas pusat kerja, data
alat pemeliharaan mesin, dan data pengendalian pemeliharaan mesin numerical dari
sistem CADD.

Impelemtasi JIT dalam Lingkungan MRP II/CIM


Dalam lingkungan produksi batch, pembuatan produksi khusus jarang terjadi. Batch
dari produk yang serupa dirakit secara periodik untuk pemenuhan kebutuhan saat itu
dan perencanaan kebutuhan masa depan. Biaya setup biasanya terjadi ketika suatu

14
batch diproduksi, dan biaya ini biasanya sama tanpa memerhatikan ukuran produksi
batch yang akan dilakukan. Kata terencana mengindikasikan bahwa lingkungan batch
membantu konsep push pemanufakturan yang efisien. MRP II diatur dengan
sinkronisasi dan menjadwalkan tipe-tipe kejadian yang terjadi dalam lingkungan
batch.
Lingkungan pemanufakturan JIT adalah lingkungan dengan arus kontinu atau
terus-menerus. Lingkungan JIT memerlukan produksi ekonomis dari lot kecil-penting
untuk operasi produksi pada basis terus-menerus untuk meminimalkan atau secara
total mengurangi persediaan.

Pertimbangan Pengendalian Internal Khusus


Sistem informasi respons-cepat, sama seperti sistem computer yang lain,
menignkatkan masalah pengendalian internal tertentu. Transaksi dapat dilakukan
tanpa persetujuan atau intervensi manusia, yang berarti mengurangi pengendalian
konvensional berkaitan dengan pemisahan tugas dalam transaksi. Oleh karena itu,
pertimbangan utama adalah memastikan bahwa pengendalian atau yang sejenisnya
merupakan bagian integral dari sistem pemanufakturan respons-cepat. Pemrosesan
komputer secara umum dan EDI akan mengurangi dokumen kertas yang berorientasi
pada manusia. Akan tetapi, masalah validasi keaslian harus dihadapi dalam operasi
dengan menggunakan sistem pemrosesan tanpa kertas, baik dalam sebuah perusahaan
maupun dalam pertukaran dengan mitra bisnisnya.

DAFTAR PUSTAKA

15
Bodnar, George H. dan Hopwood, William S. 2001. Sistem Informasi Akuntansi Edisi
ke-9. Jakarta: Salemba Empat

16