Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN KOROSI

KOROSI DI BERBAGAI LARUTAN


Dosen Pembimbing: Ir. Retno Indarti, M.T.

Kelompok / Kelas : I / 3C- D3 Teknik Kimia


Nama : 1. Aghnia Fatharani NIM. 151411065
2. Agit Fajar Sukmana NIM. 151411066
3. Anisa Fitriani Rosyadi NIM. 151411067
4. Aprilia Nur Kholifah NIM. 151411068

Tanggal Praktikum : 11 September 2017


Pengumpulan Laporan : 18 September 2017

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri yang cukup banyak menggunakan logam adalah industri kimia, petrokimia
serta sejumlah industri insfrastuktur. Di industri banyak terdapat masalah yang terjadi,
salah satu fenomena yang terjadi adalah korosi. Korosi merupakan proses yang terjadi
secara alami. Korosi tidak dapat dicegah, namun dapat dikendalikan dengan berbagai
cara, diantaranya dengan proteksi katodik metode noda korban dan pelapisan fospatasi.
Korosi merupakan proses degradasi kualitas/mutu logam akibat adanya reaksi
dengan lingkungan ketika dipakai atau dioperasikan. Korosi sebagai suatu reaksi
elektrokimia yang memberikan kontribusi kerusakan fisik suatu material secara
signifikan sehingga perlu perhatian untuk mencegah dan meminimalisai kerugian yang
timbul akibat efek korosi (Prameswari, 2008).
Korosi dapat terjadi di berbagai lingkungan, seperti pada lingkungan asam dan
basa. Laju korosi suatu logam tergantung pada sifat logam dan ditentukan juga sifat
korosivitas lingkungan terhadap logam tertentu. Suatu logam di lingkungan yang berbeda
akan mempunyai laju korosi yang berbeda, begitu juga dalam satu lingkungan terdapat
beberapa logam, logam tersebut juga akan mengalami laju korosi yang berbeda. Oleh
karena itu, dengan mempelajari korosi di berbagai lingkungan pada kondisi nyata.

1.2 Tujuan Percobaan


a. Menghitung laju korosi baja dalam berbagai larutan
b. Mengetahui pengaruh pH larutan terhadap laju korosi logam
c. Mengetahui kondisi logam setelah direndam beberapa waktu di berbagai larutan
pada diagram E-pH untuk sistem Fe-H2O.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Korosi


Definisi dari korosi adalah penurunan mutu material akibat reaksi elektrokimia
dengan lingkungan sekitar. Bila ditinjau dari interaksi yang terjadi, korosi adalah proses
transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam bertindak sebagai sel yang
memberikan elektron (anoda) dan lingkungan bertindak sebagai penerima elektron
(katoda). Sedangkan penurunan mutu yang diakibatkan interaksi secara fisik bukan
disebut korosi, namun biasa dikenal sebagai erosi dan keausan.
Dengan bereaksi ini sebagian logam akan hilang, menjadi suatu senyawa yang
lebih stabil. Di alam, logam pada umumnya berupa senyawa, karena itu peristiwa korosi
juga dapat dianggap sebagai peristiwa kembalinya logam menuju bentuknya
sebagaimana ia terdapat di alam. Dan ini merupakan kebalikan dari proses extractive
metallurgy, yang memurnikan logam dari senyawanya. Dalam hal ini korosi
mengakibatkan kerugian karena hilangnya sebagian hasil usaha manusia memurnikan
logam.
Zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel-partikel yang berupa
atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion. Ion yang bermuatan
positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif dinamakan anion.
Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi.
Ion-ion zat elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion-ion inilah yang sebenarnya
menghantarkan arus listrik melalui larutannya. Sedangkan zat nonelektrolit ketika
dilarutkan dalam air tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul
yang tidak bermuatan listrik.
Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan
listrik. Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:
a. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya
terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.
b. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit
dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang
tidak bermuatan listrik. Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat
menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik.Zat
nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus
listrik karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul.
Laju korosi sangat bergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya
lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap
elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida. Lingkungan
yang dapat menyebabkan korosi logam antara lain adalah dapat berupa asam, basa,
oksigen dari udara, oksigen di dalam air atau zat kimia lain.
Karatan adalah istilah yang diberikan masyarakat terhadap logam yang mengalami
kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam
kecoklatan pada baja disebut Karat. Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan
terhadap satu jenis logam saja yaitu baja, sedangkan secara umum istilah karat lebih tepat
disebut korosi. Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan
paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya.
Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan
berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau
dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya
sehingga memperlambat proses perusakannya.
Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer
elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan
elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang
terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom
logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam
tersebut. Pada katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam
dan menangkap elektron- elektron yang tertinggal pada logam.
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian
tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa terjadinya kerusakan pada peralatan,
permesinan atau stuktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa
terhentinya aktifitas produksi karena terjadinya penggantian peralatan yang rusak akibat
korosi, terjadinya kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tangki
bahan bakar atau jaringan pemipaan air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya
produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan
efisiensi perpindahan panasnya, dan lain sebagainya.
2.2 Mekanisme/Proses Terjadinya Korosi pada Besi
Oleh karena besi merupakan bahan utama untuk berbagai konstruksi maka
pengendalian korosi menjadi sangat penting. Untuk dapat mengendalikan korosi tentu
harus memahami bagaimana mekanisme korosi pada besi. Korosi tergolong proses
elektrokimia, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 2.2 Proses korosi pada besi.


Besi memiliki permukaan tidak halus akibat komposisi yang tidak sempurna, juga
akibat perbedaan tegangan permukaan yang menimbulkan potensial pada daerah tertentu
lebih tinggi dari daerah lainnya. Pada daerah anodik (daerah permukaan yang
bersentuhan dengan air) terjadi pelarutan atom-atom besi disertai pelepasan elektron
membentuk ion Fe2+ yang larut dalam air.
Fe(s) Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dilepaskan mengalir melalui besi, sebagaimana elektron mengalir
melalui rangkaian luar pada sel volta menuju daerah katodik hingga terjadi reduksi gas
oksigen dari udara:
O2(g) + 2H2O(g) + 2e 4OH(aq)
Ion Fe2+ yang larut dalam tetesan air bergerak menuju daerah katodik, sebagaimana
ion-ion melewati jembatan garam dalam sel volta dan bereaksi dengan ion-ion OH
membentuk Fe(OH)2. Fe(OH)2 yang terbentuk dioksidasi oleh oksigen membentuk
karat.
Fe2+(aq) + 4OH(aq) Fe(OH)2(s)
2Fe(OH)2(s) + O2(g) Fe2O3.nH2O(s)
Reaksi keseluruhan pada korosi besi adalah sebagai berikut (lihat mekanisme pada
Gambar 2.2) :
4Fe(s) + 3O2(g) + n H2O(l)
2Fe2O3.nH2O(s)
Karat

Akibat adanya migrasi ion dan elektron, karat sering terbentuk pada daerah yang
agak jauh dari permukaan besi yang terkorosi (lubang). Warna pada karat beragam mulai
dari warna kuning hingga cokelat merah bahkan sampai berwarna hitam. Warna ini
bergantung pada jumlah molekul H2O yang terikat pada karat.

Gambar 2.2 Mekanisme korosi pada besi.


Emas dengan potensial reduksi standar 1,5 V lebih besar dibandingkan potensial
reduksi standar gas O2 (1,23 V) sehingga emas tidak terkorosi di udara terbuka. Di alam
emas terdapat sebagai logam murni.

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Korosi


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat terkorosi dan
kecepatan laju korosi suatu logam. Sua logam yang sama belum tentu mengalami kasus
korosi yang sama pula pada lingkungan yang berbeda. Begitu juga dua logam pada
kondisi lingkungan yang sama tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami
korosi yanga sama. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor
yang dapat mempengaruhi korosi suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan faktor
lingkungan.
2.3.1 Faktor Metalurgi
Faktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu logam dapat
tahan terhadap korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat terjadi pada suatu
kondisi, jenis korosi apa yang paling mudah terjadi, dan lingkungan apa yang dapat
menyebabkan terkorosi, ditentukan dari faktor metalurgi tersebut.
Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :
a. Jenis logam dan paduannya
Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi. Sebagai
contoh, aluminium dapat membentuk lapisan pasif pada lingkungan tanah dan
air biasa, sedangkan Fe, Zn, dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah
terkorosi.
b. Morfologi dan homogenitas
Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka
paduan tersebut akan memiliki karakteristik ketahanan korosi yagn berbeda-
beda pada tiap daerahnya.
c. Perlakuan panas
Logam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur kristal
atau perubahan fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500-
800C terhadap baja tahan karat akan menyebabkan terbentuknya endapan krom
karbida pada batas butir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi
intergranular pada baja tersebut. Selain itu, beberapa proses heat treatment
menghasilkan tegangan sisa. Bila tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan, maka
dapat memicu tejadinya korosi retak tegang.
d. Sifat mampu fabrikasi dan pemesinan
Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik
setelah proses fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi
memiliki tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan terjadinya retak
(Institut Teknologi Sepuluh November, t.t)

2.3.2 Faktor Lingkungan


Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:
a. Komposisi kimia
Ion-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan
jenis korosi yang berbeda-beda. Misalkan antara air laut dan air tanah
memiliki sifat korosif yang berbeda dimana air laut mengandung ion klor
yang sangat reaktif mengakibatkan korosi.

Gambar 2.3.2.1 Pengaruh komposisi elemen paduan terhadap ketahan korosi


terhadap paduan tembaga.

b. Konsentrasi
Konsentrasi dari elektrolit atau kandungan oksigen akan mempengaruhi
kecepatan korosi yang terjadi. Pengaruh konsentrasi elektrolit terlihat pada
laju korosi yang berbeda dari besi yang tercelup dalam H2SO4 encer atau
pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan mudah larut dibandingkan dalam
H2SO4 pekat.

Gambar 2.3.2.2 Pengaruh konsentrasi terhadap laju korosi

Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan O2 yang


berbeda akan terbagi menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik. Daerah
anodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang rendah dan katodik
terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang tinggi.

c. Temperatur
Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi
kinetika reaksi kimia akan meningkat.

Gambar 2.3.2.3 Pengaruh temperatur terhadap laju korosi pada Fe

Semakin tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin meningkat,


namun menurunkan kelarutan oksigen. Sehingga pada suatu sistem terbuka,
diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami penurunan karena oksigen
akan keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju korosi akan terus
menigkat karena adanya oksigen yang terlarut.

d. Gas, cair atau padat


Kandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda.
Misalkan pada gas, bila lingkungan mengandung gas asam, maka korosi akan
mudah terjadi (contohnya pada pabrik pupuk). Kecepatan dan penanganan
korosi ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda. Untuk korosi di
udara, proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan pada medium cair
dan padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi katodik.
e. Kondisi biologis
Mikroorganisme sepert bakteri dan jamur dapat menyebabkan terjadinya
korosi mikrobial terutama sekali pada material yang terletak di tanah.
Keberadaan mikroorganisme sangat mempengaruhi konsentrasi oksigen yang
mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu material.
Faktor-faktor metalurgi dan lingkungan harus dievaluasi secara integral. Dalam
suatu industri, sering diterapkan beberapa jenis logam dalam suatu kondisi lingkungan,
atau sebaliknya satu jenis logam berada dalam beberapa jenis kondisi lingkungan.
Kondisi yang paling rumit adalah beberapa jenis logam berada pada beberapa jenis
lingkungan (Institut Teknologi Bandung, t.t).

2.4 Diagram Pourbaix


Diagram potensial-pH atau diagram Pourbaix memetakan fasa-fasa stabil logam
dan senyawanya dalam larutan dengan pelarut air, yang berada dalam kesetimbangan
termodinamika, sebagai fungsi dari potensial elektroda dan pH larutan. Dalam diagram
potensial pH untuk besi terdapat zona korosi, yaitu daerah reaksi pelarutan besi yang
terletak dalam daerah asam dan di daerah sempit pada kondisi sangat basa; zona pasif,
yaitu daerah terbentuknya selaput tak larut di permukaan logam yang menghalangi
proses korosi lebih lanjut; dan zona kebal, yaitu daerah yang secara termodinamika
keadaan sebagai logam adalah fasa paling stabil. Gambar 1 memperlihatkan diagram
Pourbaix sederhana untuk besi pada keadaan standar pada suhu 25C. Kegunaan diagram
Pourbaix terutama adalah untuk memperkirakan arah reaksi spontan, komposisi produk
korosi, dan perubahan lingkungan yang akan mencegah atau menurunkan laju serangan
korosi.
Gambar 2.4 Diagram Pourbaix untuk logam Fe

Pada potensi lebih positif dari -0,6 dan pada pH di bawah sekitar 9, ion besi (Fe2+
atau Fe II) adalah zat yang stabil. Hal ini menunjukkan bahwa besi akan menimbulkan
korosi pada kondisi ini. Di daerah lain dari besi diagram E-pH, dapat dilihat bahwa
korosi besi menghasilkan ion besi (Fe3+ atau Fe III), besi hidroksida [Fe(OH)3], besi
hidroksida [Fe(OH)2], dan pada kondisi yang sangat alkali, ion HFeO2- kompleks.
Produk korosi padat dianggap berbeda dari sebelumnya, ferric oxide (Fe2O3) dan
magnetit (Fe3O4), baik konstituen bijih besi penting.
Kehadiran daerah kekebalan yang relatif besar di angka sebelumnya, di mana
produk korosi yang kuat dan mungkin pelindung, menunjukkan bahwa zat besi dapat
menimbulkan korosi apalagi dalam kondisi potensial / pH tersebut. Diagram ini juga
menunjukkan bahwa jika potensi besi dibuat cukup negatif atau bergeser katodik di
bawah sekitar -0,5 V vs SHE di lingkungan netral atau asam, seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar berikut, besi akan menimbulkan korosi jauh lebih sedikit. Hal ini
menjelaskan kriteria perlindungan yang berlaku umum katodik dari -0,85 V vs CCSRE
digunakan di industri untuk melindungi aset baja dimakamkan di tanah. Perbedaan antara
potensi katodik ini dan garis merupakan indikasi bahwa potensi tersebut juga akan
cenderung electrolyze air menjadi hidrogen seperti yang ditunjukkan dalam persamaan.
(Firdausi, 2012)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


No Alat Jumlah Bahan Jumlah
1 Gelas Kimia 250 mL 4 Larutan NaCl 3,56% 200 mL
2 Elektroda standar 1 Larutan NaOH 3% 200 mL
3 Indikator pH 15 K2Cr2O7 3% 200 mL
4 Logam baja pelat 5 Lar. HCl 3% 200 mL
5 AVO meter 1 Air Kran 200 mL
6 Batang pengaduk 1 Benang Kasur
7 Neraca analitik 1
8 Gelas bekas minuman 5
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
3.2 Skema Kerja

Menyiapkan 5 buah logam baja, lalu diampelas

Menimbah masing-masing logam

Mengukur luas permukaan masing-masing logam

Menyiapkan larutan NaCl 3,56%; NaOH 3%; K2Cr2O7 3%; HCl 3%; dan Air kran
masing-masing 200 mL

Memasukkan logam kedalam masing-masing larutan

Mengamati logam dimasing-masing larutan pada t=0 menit, t=20 menit, dan t=48 jam

Mencatat pH, potensial, dan pengamatan visual

Logam terkorosi
BAB IV
PENGOLAHAN DATA
4.1 Data Pengamatan
a. Pada saat t=0 menit
Potensial Potensial pH Massa
No. Larutan Pengamatan
(V/CSE) (V/SHE) larutan logam (gr)
Logam: belum terbentuk karat
1. H2O 0,267 0,585 8 10,36
Lar.: bening
K2Cr2O7 Logam: belum terbentuk karat
2. 0,245 0,563 4 9,79
3% Lar.: oranye
Logam: belum terbentuk karat
3. HCl 3% 0,56 0,818 1 10,38
Lar.: kuning muda
Logam: belum terbentuk karat
4. NaCl 3% 0,645 0,963 7 10,13
Lar.: bening
Logam: belum terbentuk karat
5. NaOH 0,45 0,768 14 10,4
Lar.: bening
Tabel 4.1.1 Data Pengamatan (t=0 menit)

Gambar 4.1.1 Pengamatan Visual (t=0 menit)


b. Pada saat t=20 menit
Potensial Potensial pH
No. Larutan Pengamatan
(V/CSE) (V/SHE) larutan
Logam: menjadi hitam
1. H2O 0,606 0,924 9
Lar.: mulai keruh, bergelembung
K2Cr2O7 Logam: tidak terbentuk karat
2. 0,249 0,567 4
3% Lar.: oranye, tidak terjadi perubahan
Logam: terbentuk berkarat
3. HCl 3% 0,503 0,821 1
Lar.: kuning muda, bergelembung
Logam: terbentuk karat
4. NaCl 3% 0,698 1,016 5
Lar.: mulai keruh
Logam: tidak terbentuk karat
5. NaOH 0,398 0,716 14
Lar.: bening, tidak terjadi perubahan
Tabel 4.1.2 Data Pengamatan (t=20 menit)

Gambar 4.1.2 Pengamatan Visual (t=20 menit)


c. Pada saat t=48 jam
Potensial Potensial pH Massa
No. Larutan Pengamatan
(V/CSE) (V/SHE) larutan logam (gr)
Logam terbentuk karat
1. H2O 0,65 0,968 5 10,3
Lar.: menjadi keruh
Logam: belum terbentuk karat
K2Cr2O7
2. 0,46 0,778 3 9,79 Lar.: oranye, tidak ada
3%
perubahan
Logam: terbentuk karat
3. HCl 3% 0,706 1,024 1 10,03
Lar.: kuning muda
Logam: terbentuk karat
4. NaCl 3% 0,429 0,747 4 10,08
Lar.: menjadi keruh
Logam: tidak terbentuk karat
5. NaOH 0,375 0,693 14 10,4 Lar.: bening, tidak ada
perubahan
Tabel 4.1.3 Data Pengamatan (t=48 jam)

Gambar 4.1.3 Pengamatan Visual (t=48 jam)


4.2 Pengolahan Data
Laju korosi di berbagai larutan (t=48 jam)
D (gram/ V
No. Larutan A (cm2) k
(gram) cm2) (mmpy)
1. H2O 0,06 48,128
2. K2Cr2O7 3% 0 0
3. HCl 3% 0,35 11,4 3,45 x 106 7,68 280,75
4. NaCl 3% 0,05 40,223
5. NaOH 0 0
Tabel 4.2 Laju Korosi di Berbagai Larutan

4.3 Kondisi Logam Berdasarkan Diagram E-Ph


Pada saat t=48 jam
No. Larutan pH larutan Potensial (V/SHE) Kondisi logam
1. H2O 5 0,968 Pasif
2. K2Cr2O7 3% 3 0,778 Terkorosi
3. HCl 3% 1 1,024 Sangat terkorosi
4. NaCl 3% 4 0,747 Terkorosi
5. NaOH 14 0,693 Terkorosi
Tabel 4.3 Kondisi Logam Berdasarkan Diagram E-pH
Keterangan : H2 O
K2Cr2O4 3%
HCl 3%
NaCl 3%
NaOH 3%
BAB V
PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

5.1 Pembahasan
Aghnia Fatharani (151411065)
Korosi merupakan suatu proses elektrokimia yang melibatkan adanya transfer
electron dari anodic ke katodik atau merupakan suatu reaksi oksidasi-reduksi yang
berlangsung secara spontan. Pada praktikum kali ini praktikan melakukan praktikum
tentang korosi baja karbon di berbagai larutan. Praktikum ini menggunakan variasi
larutan, yaitu larutan HCl 3%, NaCl 3,56%, NaOH 3%, K2Cr2O7 3% dan air keran.
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan korosi logam baja karbon
di berbagai larutan. Praktikum ini bertujuan menghitung potensial logam dalam berbagai
larutan dengan menggunakan elektroda CSE yang diubah ke dalam standar SHE,
menjelaskan pengaruh pH larutan terhadap laju korosi logam, menunjukan kondisi logam
setelah direndam beberapa waktu di berbagai larutan pada diagram E pH untuk sistem
Fe H2O, dan menghitung laju korosi baja dalam berbagai larutan berdasarkan metode
kehilangan berat (W).
Praktikum dilakukan dengan mencelupkan logam baja karbon kedalam larutan
yang terlah disiapkan, sebelumnya larutan tersebut diukur pH-nya yang bertujuan untuk
melihat pengaruh dari besar nilai pH terhadap laju korosi dan sifat logam tersebut
terkorosi, stabil atau korosi pasif yang nantinya dapat dilihat dari diagram E-pH atau
sering disebut juga diagram puorbaix. Percobaan dilakukan selama 48 jam dan dilakukan
pengamatan pada waktu 0 menit, 20 menit, dan 48 jam.
Dari hasil yang didapatkan dapat diketahui bahwa meskipun logam yang
dikorosikan sama (logam baja), akan tetapi mengalami laju korosi dan pengurangan
massa yang berbeda. Hal ini dikarenakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
laju korosi adalah komposisi kimia dari elektrolitnya.
Logam yang direndam dalam larutan NaOH 3% memliki laju korosi korosi yang
kecil dan paling lambat dibandingkan dengan laju korosi pada larutan lain. Namun laju
korosi pada larutan ini tidak dapat dihitung karena tidak terjadi perubahan massa. Hal ini
disebabkan oleh larutan NaOH yang bersifat basa sehingga laju korosi berjalan lambat.
Selain itu, permukaan logam dalam NaOH menjadi terpasifkan. Laju korosi ini juga
sesuai dengan teori yang ditunjukkan oleh diagram E-pH untuk sistem Fe-H2O, yaitu
pada awal reaksi (t= 0 menit) logam tersebut bersifat pasif dan pada akhir reaksi pun (t=
48 jam) tetap bersifat pasif.
Laju korosi yang lebih kecil berikutnya adalah laju korosi logam pada larutan
K2Cr2O7. Hal ini dikarenakan K2Cr2O7 merupakan senyawa inhibitor korosi yang dapat
menurunkan laju penyerangan korosi lingkungan terhadap suatu logam. Menurunkan laju
penyerangan korosi bukan berarti membuat suatu logam menjadi imun, hanya laju korosi
nya saja yang melambat. Hal ini dapat terlihat bahwa dari diagram E-pH kondisi logam
di larutan K2Cr2O7 bersifat aktif (terkorosi) dari awal hingga akhir reaksi.
Sedangkan logam yang memiliki laju korosi paling tinggi adalah logam yang
direndam dalam larutan HCl 3%, yaitu 28,75 mmpy. Pada akhir proses pun dapat terlihat
secara visual bahwa terbentuk karat disemua lapisan permukaan. Hal ini dapat dibuktikan
juga dengan diagram E-pH untuk sistem Fe-H2O pada awal reaksi (t= 0 menit) logam
bersifat aktif (terkorosi) dengan nilai beda potensial awal bernilai 0,818 V/SHE dengan
pH 1 dan pada akhir reaksi (t= 48 jam) bersifat aktif dengan nilai beda potensial 1,024
V/SHE, pH 1.
Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pH larutan juga berpengaruh terhadap laju
korosi. Semakin tinggi pH, laju korosi relatif menjadi lebih besar. Hal ini terjadi karena
kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7, terjadi reaksi reduksi tambahan yang
berlangsung pada katode, yaitu:
2H-(aq) + 2e- H2
Adanya reaksi reduksi tambahan pada katode menyebabkan lebih banyak atom
logam yang teroksidasi sehingga laju korosi pada permukaan logam semakin besar.

Agit Fajar Sukmana (151411066)


Praktikum kali ini merupakan percobaan mengenai korosi logam baja karbon di
berbagai larutan dan mempunyai tujuan yaitu menghitung potensial logam dalam
berbagai larutan menggunakan elektroda standar CSE dan diubah kedalam standar SHE,
menjelaskan pengaruh pH larutan terhadap laju korosi logam, menunjukkan kondisi
logam setelah direndam beberapa waktu di berbagai larutan pada diagram e-pH untuk
system Fe-H2O dan menghitung laju korosi baja dalam berbagai larutan berdasarkan
metode kehilangan berat. Ada lima larutan larutan yang digunakan untuk merendam besi
pada praktikum kali ini yaitu larutan NaOH 3%, HCl 3%, NaCl 3.56% , K2Cr2O7 3% dan
air keran. Kelima besi yang digunakan dalam praktikum ini mempunyai ukuran yang
hampir sama yaitu mempunyai luas sekitar 11,4 cm2. Sebelum besi dimasukkan dalam
masing-masing larutan, terlebih dahulu besi ditimbang massa awalnya untuk mengetahui
pengurangan massa akibat korosi yang terjadi pada besi.
Pengukuran potensial besi pada praktikum kali ini menggunakan elektroda standar
Cu yang langsung terbaca pada avometer. Potensial besi setelah dua hari yang terukur
pada larutan air keran, K2Cr2O7 3%, HCl 3% NaCl 3.56% dan NaOH 3% dalam
praktikum kali ini masing masing adalah 0.65 CSE, 0.46 CSE, 0.706 CSE, 0.429 CSE,
dan 0.375 CSE. Jika dirubah ke SHE maka potensialnya masing masing adalah sebesar
0.968 SHE, 0.778 SHE, 1.024 SHE, 0.747 SHE, dan 0.693 SHE. Gejala awal yang
timbul pada logam dalam masing-masing larutan berbeda-beda. Larutan yang terlihat
cepat memberikan reaksi pada logam adalah HCl dan air keran dimana langsung
terciptanya buih pada logam tak lama setelah logam dimasukkan. Dilihat dari E0Selnya,
larutan HCl mampunyai nilai yang paling besar. Hal ini menandakan bahwa beda
potensial antara yang menjadi gaya dorong terjadinya korosi di katoda dan anoda besar.
Ada dua faktor yang membuat hal ini terjadi, yaitu ion klorin dan pH. Reaksi yang terjadi
pada saat logam besi dimasukkan kedalam larutan HCl adalah :
R.Anodik : Fe Fe2+ + 2e
R. Katodik : 2H+ + 2e H2
Reaksi Korosi : Fe + 2H+ Fe2+ + H2
Atau singkatnya : Fe (s) + 2HCl (aq) Fe2+ + 2Cl- (s) + H2 (g)
Buih yang terbentuk dalam logam merupakan gas Hidrogen yang dihasilkan dari
reaksi tersebut. Dalam praktikum kali ini logam yang berada pada larutan HCl
mengalami pengurangan massa yang paling besar yaitu sebesar 0.35 gram. Hal ini
menandakan bahwa laju korosi pada larutan HCl yang paling besar yaitu sekitar 280,75
mmpy Setelah diplotkan pada diagram Pourbaix (e-pH) ternyata titik potong antara
E0Sel dan pH pada larutan HCl merupakan daerah terkorosi berat. Kemudian laju korosi
yang tercepat setelah larutan HCl adalah air keran. Pengurangan massa logam yang
terjadi pada air keran yaitu sebesar 0.06 gram dan mempunyai laju korosi sebesar 48.128
mmpy. Pada praktikum kali ini air keran ini sedikit lebih korosif dibandingkan dengan
NaCl yang hanya mengurangi massa logam sebesar 0.05 gram dan mempunyai laju
korosi sebesar 40.22 mmpy. Hal ini bisa dikarenakan pH pada air keran berubah ubah
secara drastis dibandingkan dengan NaCl yaitu dari 9 ke 5. Akibat dari kondisi pH yang
ekstrim ini maka korosi pada air keran berlangsung lebih cepat. Dalam diagram Pourbaix
sendiri, E0Sel vs pH logam dalam kedua larutan menunjukkan daerah terkorosi.
Kemudian logam pada larutan K2Cr2O7 dan larutan NaOH sama sekali tidak
memberikan pengurangan massa pada logam. Hal ini diakibatkan karena laju korosi
logam yang lambat pada kedua larutan. Hal ini terjadi karena E0Sel yang dihaslkan lebih
kecil sehingga transfer electron dari anoda ke katoda berjalan sangat lambat. Dilihat
secara visual, penampilan logam pada K2Cr2O7 hanya berubah warna menjadi kehitaman
setelah dua hari dibiarkan sementara logam pada NaOH tetap mengkilap. Korosi logam
pada kedua larutan ini tetap terjadi yang sebagaimana telah ditunjukkan pada diagram
Pourbaix, namun tidak sampai menimbulkan perkaratan. Hal ini bisa saja terjadi karena
lapisan yang telah terkorosi pada logam sebelumnya menjadi pelindung bagi proses
korosi selanjutnya. Akibatnya laju korosi logam pada kedua larutan ini sangat rendah.
Dengan demikian praktikum korosi baja karbon pada berbagai larutan telah berhasil
dilakukan.

Anisa Fitriani Rosyadi (151411067)

Aprilia Nur Kholifah (151411068)

5.2 Simpulan
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Laju korosi pada baja dalam larutan:
H2O yaitu 48,128 mmpy
HCl 3% yaitu 280,75 mmpy
NaCl 3% yaitu 40,223mmpy
2. Semakin tinggi pH maka semakin kecil laju korosi yang terjadi pada baja
3. Kondisi logam setelah direndam beberapa waktu di berbagai larutan pada diagram
E-pH untuk sistem Fe-H2O adalah:
H2O pada kondisi pasif
K2Cr2O7 3% pada kondisi terkorosi
HCl 3% pada kondisi terkorosi
NaCl 3% pada kondisi terkorosi
NaOH 3,56% pada kondisi terkorosi
DAFTAR PUSTAKA

Institut Teknologi Bandung. T.t. Tersedia:


http://journal.fmipa.itb.ac.id/jms/article/viewFile/163/160. [Diakses 7 Oktober 2016].
Institut Teknologi Sepuluh November. T.t. BAB II. Tersedia:
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-7200-2702100024-bab2.pdf. [Diakses 7
Oktober 2016].
Firdausi, Agung. 2012. Faktor-faktor yang memengaruhi korosi. Tersedia:
http://www.agungfirdausi.my.id/2012/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-
korosi.html?m=0.[Diakses 7 Oktober 2016].
Prameswari, Bunga. 2008. Studi Efektifitas. Tersedia:
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&ua
ct=8&ved=0ahUKEwj0gd2DpMjPAhUKqo8KHarOBMIQFggcMAE&url=http%3A%2
F%2Flib.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F124996-R040863-
Studi%2520efektifitas-HA.pdf&usg=AFQjCNEUunmLOCcEIV97nV-
hDLY7bTauUw&sig2=xa8sktkg2N65vE9UvaEpvg&bvm=bv.134495766,d.c2I. [7
November 2016
Roberge, Pierre R. 2008. Corrosion Engineering: Principles and Practice. New York:
McGraw-Hill.
LAMPIRAN

1. Selisih Massa Logam Setelah Mengalamai Korosi Selama 2 Hari


Tabel 1. Selisih massa logam setelah di mengalami korosi selama 2 hari
No. Larutan w0 (gram) w1 (gram) w (gram)
1. H2O 10,36 10,3 0,06
2. K2Cr2O7 3% 9,79 9,79 0
3. HCl 3% 10,38 10,03 0,35
4. NaCl 3% 10,13 10,08 0,05
5. NaOH 10,4 10,4 0

2. Luas Permukaan Logam Yang Terkorosikan


Panjang logam : 5 cm
Lebar logam : 2 cm
Tinggi logam : 0,1 cm
Luas permukaan = (2 x (2 x 5)) + (2 x (2 x 0,1)) + (2 x (5 x 0,1))
= 10 + 0,4 + 1
= 11,4 cm2

3. Perhitungan Laju Korosi


a. Dalam larutan H2O

V= xK
..
0,06 gram
= x (3,45.106)
11,4 cm2 x 48 jam x 7,86 gram/cm3

= 48,128 mmpy

b. Dalam larutan HCl 3%



V= xK
..
0,35 gram
= x (3,45.106)
11,4 cm2 x 48 jam x 7,86 gram/cm3

= 280,75 mmpy

c. Dalam larutan NaCl 3%



V= xK
..
0,05 gram
= x (3,45.106)
11,4 cm2 x 48 jam x 7,86 gram/cm3

= 40,223 mmpy