Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM

ANTENA DAN PROPAGASI


MODUL I : SINGLE PATCH DESIGN

DISUSUN OLEH :
Muhammad Fathurrohman Nur
14101102

Praktikum Tanggal : 30 Maret 2017


Dikumpulkan Tanggal: 06 April 2017

Asisten Praktikum : Henry Jovinski [13101017]


Whenny Harina E.Y [13101037]

LABORATORIUM KOMPUTER DAN APLIKASI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM
JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO
2017
MODUL I
SINGLE PATCH DESIGN
I. DASAR TEORI
Antena adalah suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan
menerima gelombang radio atau elektromagnetik. Pemancaran merupakan satu
proses perpindahan gelombang radio atau elektromagnetik dari saluran
transmisi ke ruang bebas melalui antena pemancar. Sedangkan penerimaan
adalah satu proses penerimaan gelombang radio atau elektromagnetik dari
ruang bebas melalui antena penerima. Karena perangkat perantara antara
saluran transmisi dan udara, maka atena harus mempunyai sifat yang sesuai
dengan saluran pencatunya. [1]
Energi listrik dari pemancar dikonversi menjadi gelombang
elektromagnetik dan oleh sebuah antena yang kemudian gelombang tersebut
dipancarkan menuju udara bebas. Pada penerima akhir gelombang
elektromagnetik dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan antena.
Antena mikrostrip secara umum terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
Patch, pada umumnya Pacth terbuat dari bahan konduktor seperti
tembaga atau emas yang mempunyai bentuk bermacam-macam. Bentuk
patch ini bisa bermacam-macam seperti lingkaran, persegi, persegi
panjang, segitiga, ataupun annular ring. Patch berfungsi sebagai
meradiasikan gelombang elektromagnetik ke udara.
Substrate, berfungsi sebagai media penyalur GEM dari catuan.
Karakteristik Substrate sangat berpengaruh pada besar parameter-
parameter antena. Pengaruh ketebalan Substrate dielektrik terhadap
parameter antena adalah pada bandwith.
Ground Plane, bisa terbuat dari bahan konduktor. Ukurannya selebar
dan sepanjang Substrate. Fungsi Ground Plane adalah sebagai Ground
antena.
Ada beberapa karakteristik antena yang penting dalam memilih jenis antena
untuk aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu
pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya
sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau
menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu.
Pola Radiasi
Pola Radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang
dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan
sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasiantena dibentuk
oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada
bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang
irisan arah azimuth (pola azimuth).
Gain
Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan
kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan
sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur
dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya,
melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang
digunakan untuk gain adalah desibel.
Polarisasi
Polarisasi merupakan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena
dipol memiliki polarisasi linear vertikal . Mengenali polarisasi antena
amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan
efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan
mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek
astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek
tersebut [2]
II. LANGKAH PRAKTIKUM
1. Buka Aplikasi CST Suite Studio 2016 kemudian Create Project.

Gambar 2.1 Tampilkan Utama CST Suite Studio 2016


2. Kemudian pilih MF & RF Optical dan kemudian pilih Antenna, dan pilih
Plannar.

Gambar 2.2 Tampilan CST Suite Studio 2016


3. Pilih Time Domain kemudian next, lalu masukan frekuensi minimum dan
maksimum kemudian Finish.
4. Setelah tampil pada workspace utama, maka siapkan langkah-langkah
selanjutnya yaitu membuat lapisan per lapisan penyusun antena mikrostrip,
yaitu lapisan Substrate, Patch, and Groung Plane.

Gambar 2.3 Tampilkan Workspace Utama


5. Untuk lapisan Substrate langkah awal adalah dengan cara klik ikon (Kotak)
/ brick. Atur ukuran dan material yang sesuai pada template brick.

Gambar 2.4 Brick Properties Untuk Lapisan Substrate


6. Kemudian isikan semua parameter sesuai dengan singkatan yang sudah
dibuat, dimana parameter diatas akan masuk kedalam rumus rumus pada
kolom kordinat.
Gambar 2.5 Jenis Bahan Antena Untuk Lapisan Substrate
7. Kemudian buat lapisan selanjutnya yaitu Patch dan aturlah bahan yaitu
Copper (anaealed) kemudian aturlah parameter.

Gambar 2.6 Bahan Material Pembuatan Antena


Gambar 2.7 Brick Lapisan Patch
8. Selanjutnya beri Pick Edge Center pada salah satu sisi Substrate bagian
atas, dengan cara klik Pick > double klik pada salah satu sisi Substrate yang
akan diberi Pick Edge Center.

Gambar 2.8 Pick Point Edge Center


9. Buatlah Stripline dengan cara klik Brick.

Gambar 2.10 Stripline Layout


Gambar 2.11 Pick Point Pada Salah Satu Sudut Bawah Patch Dengan Stripline
10. Kemudian buatlah Pick Point pada salah satu sudut bawah Patch dengan
Stripline.

Gambar 2.12 Buat Slot 1 dan Slot 2


11. Buatlah Slot 1 dan 2 dengan memasukkan UMin -0,5 dan VMax 7.5, WMin
-HP untuk slot 1 sedangkan slot 2 UMax 0,5 dan VMax 7,5, WMax HP.

Gambar 2.13 Slot 1 dan Slot 2 Pada Pembuatan Slot


12. Kemudian masing-masing Slot dengan menggunakan menu Boolean
kemudian klik Component Patch pada Navigation Tree dan pilih Boolean
Substrate kemudian klik pada Slot 1 lalu enter. Lakukan sama pada Slot ke
2.

Gambar 2.14 Hasil Potongan Dari Slot 1 dan 2 Patch


13. Setelah itu hubungkan antara Patch dengan Stripline yang sudah dibuat
sebelumnya dengan cara klik Compenent Patch pada Navigation Tree
kemudiaan pilih menu Boollean Add kemudian klik Stripline kemudian
enter.
14. Langkah selanjutnya adalah lapisan Ground Plane dengan material bahan
yaitu Cooper dengan ketebalan 0,035 mm. dengan cara tampilan antena
menuju bagian tampak belakang antena, kemudiana pilih Pick, gunakan
Pick Point On Face.

Gambar 2.15 Pick Face Tampak Belakang Antena


Gambar 2.16 Ukuran dan Ketebalan Ground Plane
15. Buat Ground Plane dengan klik icon Extrude, atur Ground Plane.
16. Komponen yang harus dibuat yaitu konektor antena. Caranya berikan Pick
Face pada Feed Line > Buat Waveguide > klik Waveguide > atur posisi
sesuai kententuannya.
17. Sebelum dilakukan itu silahkan untuk melakukan Pick Face pada bagian
bawah Stripline kemudian buat langkah 16 dilakukan dengan mengikuti
ukuran parameter yang sudah di tentukan.

Gambar 2.17 Ukuran dan Ketebalan Waveguide Port


18. Kemudian akan menghasilkan tampilan akhir antena sebagai berikut.

Gambar 2.18 Hasil Akhir Dari Antena


III. ANALISA DAN PEMBAHASAN

Gambar 3.1 Skema Ukuran dan Dimensi Keseluruhan Antena Microstrip

Gambar 3.2 Skema Antena Single Patch Menggunakan CST

Gambar 3.3 Parameter Ukuran Antena Single Patch Menggunakan CST


Pada antena Planar Single Patch dengan menggunakan bahan Substrate
yang terbuat dari FR-4(lossy) dan Patch yang terbuat dari Copper (annealed).
Pada umumnya Patch terbuat dari bahan konduktor seperti tembaga atau emas
yang mempunyai bentuk bermacam-macam. Bentuk Patch ini bisa bermacam-
macam, lingkaran, persegi, persegi panjang, segitiga, ataupun annular ring.
Patch berfungsi sebagai meradiasikan gelombang elektromagnetik ke udara.
Pada antena Single Patch mempunyai nilai tebal Substrate yang sangat
berpengaruh pada besar kecilnya nilai bandwith yang dihasilkan. Jika nilai tebal
Substrate semakin besar maka pada nilai bandwith akan semakin besar.
Pada Substrate berfungsi sebagai media penyalur GEM dari catuan.
Karakteristik Substrate sangat berpengaruh pada besar parameter-parameter
antena. Pengaruh ketebalan substrate dielektrik terhadap parameter antena
adalah pada bandwith. Sedangkan Ground Plane bisa terbuat dari bahan
konduktor. Ukurannya selebar dan sepanjang Substrate. Fungsi Ground Plane
adalah sebagai Ground antena.
Pada saat mendesign antena kita harus mengatur pengaturan WCS. WCS
digunakan untuk memposisikan atau memidahkan koordinat ditengah lembar
kerja. Hali ini memotong bagian Patch karena akan digunakan untuk membuat
input dari catu daya.
Pada hasil dari perancangan menggunakan alat aplikasi CST Studio Suite
mendesain sebuah antena menjadi lebih mudah dan juga menjadikan antena
yang didesain sesuai serta dapat maksimal kinerjanya. Pada perancangan
membutuhkan ketelitian dalam hal perhitugan untuk menentukan nilai dari
komponen pada antena.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Pada nilai bandwith antena Single Patch dipengaruhi oleh tipis atau
tebalnya Substrate.
2. Pada nilai Substrate harus lebih besar dibandingkan dengan Patch.
Karena Substrate berfungsi sebagai menyalurkan radiasi pada Pacth.
3. Untuk menghubungkan antara Stripline dengan Substrate, harus
memilih icon (Waveguide Port).
4. Perancangan suatu antena Single Patch sangat dipengaruhi oleh
frekuensi yang digunakan.
B. SARAN
1. Setiap praktikum diharapkan untuk menginstall software CST Suite
Studio, agar dapat dipelajari kembali.
2. Dalam melakukan perancangan atau simulasi pada antena kita perlu
memperhatikan koordinat dari antena yang kita buat.
3. Perhatikan pada setiap nilai parameter, jika kita memasukkan nilai
berbeda maka keluaran (output) yang kita dapatkan akan berbeda.
V. DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonymous, "Teori Dasar Antena," 19 Maret 2017. [Online]. Available:


http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/458/jbptunikompp-gdl-dedeyuswan-
22890-3-babii.pdf . [Accessed 05 April 2017].
[2] R. K. Rizky, "Antena dan Propagasi," 28 Oktober 2013. [Online].
Available: https://www.scribd.com/doc/179573201/ANTENA-DAN-
PROPAGASI-pdf . [Accessed 05 April 2017].
LAPORAN PRAKTIKUM
ANTENA DAN PROPAGASI
MODUL II : SIMULATION SETTING

DISUSUN OLEH :
Muhammad Fathurrohman Nur
14101102

Praktikum Tanggal : 06 April 2017


Dikumpulkan Tanggal: 13 April 2017

Asisten Praktikum : Henry Jovinski [13101017]


Whenny Harina E.Y [13101037]

LABORATORIUM KOMPUTER DAN APLIKASI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM
JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO
2017
MODUL II
SIMULATION SETTING
I. DASAR TEORI
Antena merupakan suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan
menerima gelombang radio atau elektromagnetik. Pemancaran merupakan satu
proses perpindahan gelombang radio atau elektromagnetik dari saluran
transmisi ke ruang bebas melalui antena pemancar. Sedangkan penerimaan
adalah satu proses penerimaan gelombang radio atau elektromagnetik dari
ruang bebas melalui antena penerima. Karena perangkat perantara antara
saluran transmisi dan udara, maka atena harus mempunyai sifat yang sesuai
dengan saluran pencatunya. [3]
Energi listrik dari pemancar dikonversi menjadi gelombang
elektromagnetik dan oleh sebuah antena yang kemudian gelombang tersebut
dipancarkan menuju udara bebas. Pada penerima akhir gelombang
elektromagnetik dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan antena.
Antena mikrostrip secara umum terbagi menjadi tiga bagian yaitu :
Patch, pada umumnya Pacth terbuat dari bahan konduktor seperti
tembaga atau emas yang mempunyai bentuk bermacam-macam. Bentuk
patch ini bisa bermacam-macam seperti lingkaran, persegi, persegi
panjang, segitiga, ataupun annular ring. Patch berfungsi sebagai
meradiasikan gelombang elektromagnetik ke udara.
Substrate, berfungsi sebagai media penyalur GEM dari catuan.
Karakteristik Substrate sangat berpengaruh pada besar parameter-
parameter antena. Pengaruh ketebalan Substrate dielektrik terhadap
parameter antena adalah pada bandwith.
Ground Plane, bisa terbuat dari bahan konduktor. Ukurannya selebar
dan sepanjang Substrate. Fungsi Ground Plane adalah sebagai Ground
antena.
Parameter umum antena microstrip terdiri dari beberapa parameter sebagai
berikut.
Gain, perbandingan antara rapat daya persatuan unit antena terhadap
rapat daya antena referensi dalam arah dan daya masukan yang sama.
Pola Radiasi, representasi grafis sifat-sifat pemancaran antena sebagai
fungsi dari koordinat ruang.
Dimensi Antena, untuk mencari dimensi antena microstrip (W dan L),
harus diketahui terlebih dahulu parameter bahan yang digunakan yaitu
tebal dielektrik, konstanta dielektrik, tebal konduktor.
Return Loss, perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang
direfleksikan terhadap amplitudo gelombang yang dikirimkan. Return
Loss digambarkan sebagai peningkatan amplitudo dari gelombang yang
direflesikan dibanding dengan gelombang yang dikirim.
VSWR (Voltage Standing Wave Ratio), perbandingan antara amplitudo
gelombang berdiri (standing wave) maksimum Vmax dengan minimum
Vmin. Pada saluran transmisi ada dua komponen gelombang tegangan,
yaitu tegangan yang dikirimkan dan tegangan yang direflesikan.
Directivity, perbandingan antara daya maksimum pada berkas utama
terhadap rapat daya rata-rata yang diradiasikan. [4]
II. LANGKAH PRAKTIKUM
1. Buka kembali project antena pada modul sebelumnya yang telah dibuat.
2. Setalah project dibuka maka klik frekuensi pada menu bar simulation.

Gambar 2.1 Pengaturan Frekuensi Minimal dan Maksimal


3. Aturlah frekuensi minimum dan maksimum pada kolom, kemudian ok.
Setelah mengatur frekuensi maka kita akan mengatur boundaries dimana
merupakan pengaturan cakupan seperti yang ditampilkan pada gambar
bawah ini:

Gambar 2.2 Pengaturan Boundaries


4. Kemudian aturlah Symmetry Plane juga seperti yang ditunjukan pada
gambar bawah ini:
Gambar 2.3 Pengaturan Symmetry Plane
5. Kemudian buatlah field monitor baru dengan klik kanan pada menu field
monitor pada navigation tree. Buatlah 2 tipe monitoring yaitu e-field dan
kemudian masukan frekuensi dari perhitungan dimensi antena yang telah
dirancang. Pada e-field monitor jangan lupa mengatur sub volume pada
sumbu x.

Gambar 2.4 Pengaturan E-Field Monitor


6. Setelah mengatur field monitor langkah selanjutnya, aturlah setup solver
yaitu pada time domain.
Gambar 2.5 Pengaturan FarField Monitor

Gambar 2.6 Pengaturan Setup Solver Accuracy -50dB


7. Kemudian setelah mengkonfigurasi setup solver dan mengklik start
tunggulah beberapa saat untuk proses menjalankan simulasi.

Gambar 2.7 Proses Load Simulasi


8. Setelah selesai calculate VSWR dengan mengklik s-parameter calculation
pada menu bar post processing.

Gambar 2.8 Proses VSWR Calculate


9. Setelah proses calculate, maka dapat dilihat beberapa parameter. Parameter
pertama yang akan dilihat adalah s-parameter. Caranya adalah klik 1D
result pada navigation Tree > klik s-parameter > file parameter yang akan
dibuka.
10. Kemudian untuk menampilkan VSWR maka caranya adalah klik 1D result
pada navigation tree > klik vswr > file parameter yang akan dibuka.

Gambar 2.9 FarField Plot Properties


11. Kemudian untuk melihat farfield maka klik farfield pada navigation tree
kemudian pilih abs. setelah itu klik kanan pada gambar dan pilih farfield
plot properties kemudian akan muncul pada gambar 2.9 diatas.
12. Ada 7 mode yang ada dalam menu plot, dan ada 4 plot type akan tetapi pada
praktikum ini yang type yang digunakan hanya 2 yaitu bentuk polar dan
bentuk 3D. Untuk mengubah-ubah mode plot, caranya klik plot mode dan
pilihlah plot mode and scaling untuk setiap mode yang ada, dimulai dari
directivity sampai dengan power pattern.
13. Atur type pada menu general pada farfield plot properties. Dalam bentuk
polar dan 3D. kemudian ok. Lakukan langkah-langkah diatas untuk
mendapatkan atau melihat hasil dari plot mode and scalling yang ada.
Gambar 2.10 Plot Mode and Scaling Yang Ada Pada FarField Plot Properties
14. Setelah masing-masing plot mincul. Kemudian menyimpan gambar hasil
data dengan cara home pada menu bar, lalu macros dan pilih result and
report dan kemudian pilih save image, aturlah mau disimpan pada direktori
dan posisi logo CST, lalu Ok.
III. HASIL DATA DAN ANALISA PEMBAHASAN
Pada praktikum modul 2 terdapat hasil beberapa parameter yang diuji dalam
simulasi diantaranya yaitu:

Gambar 3.1 Hasil S-Parameter


Pada gambar diatas diketahui S-Parameter memiliki karakteristik hasil
return loss maksimum yang berada pada perancangan antena yang dihasilkan
nilai S-Parameter yaitu -1.5637 dB, dengan frekuensi 2.02 GHz. Scattering
parameter (S-Parameter) sendiri adalah aturan yang popular untuk gelombang
elektromagnetik frekuensi tinggi yang biasa ditetapkan pada frekuensi RF dan
gelombang mikro.

Gambar 3.2 View Full VSWR


Pada hasil data VSWR (Voltage Standing Wave Ratio) menunjukan hasil
nilai VSWR yaitu 11.14 pada frekuensi 2.02 GHz. Dimana nilai VSWR yang
dihasilkan sangat buruk, karena nilainya lebih dari 2.

Gambar 3.3 Hasil Desain Antena


Pada rangkaian antena pada diatas, menunjukan pada gambar 3.3
merupakan komponen antena yang sudah jadi pada praktikum sebelumnya
dengan baik dan benar serta perhitungan antena secara manual sudah dilakukan
secara teliti. Adapun parameter farfield pada gambar 3.4 akan dijelaskan
berikut.

Gambar 3.4 Directivity dalam bentuk 3D dan polar


Pada gambar 3.4 menunjukan bahwa bentuk farfield directivity pada 3D dan
Polar menunjukan hasil yaitu 5.97 dBi yang mana directivity merupakan
kemampuan antena untuk memusatkan energi diarah yang tertentu sewaktu
memancarkan, atau untuk menerima energi dari arah yang tertentu sewaktu
menerima.
Gambar 3.5 Gain dalam bentuk 3D dan Polar
Selanjutnya pada gambar 3.5 menunjukan besarnya gain yang memiliki
oleh antena yang telah dirancang yaitu sebesar -0.174 dB. Gain merupakan
penguatan sinyal yang dilakukan oleh suatu antena yang terkai dengan
kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari
arah tertentu.
Pada bentuk polar terdiri 5 daerah yaitu frekuensi, main lobe magnitude,
main lobe direction, angular witdh, dan side lobe level. Pada main dan side lobe
terlihat pancaran nilai yang paling besar pada main lobe akan tetapi ada juga
pancaran nilai pada side lobe secara idealnya semua terarah dan dipancarkan
sepenuhnya.

Gambar 3.6 Realized Gain dalam bentuk 3D dan Polar


Realized gain merupakan parameter yang mewujudkan penguatan sinyal
yang dilakukan oleh suatu antena. Jadi dapat dikatakan bahwa untuk melakukan
penguatan sebuah antena ini hanya dapat menghasilkan gain -5.37 dB seperti
yang ditunjukan pada gambar berikut ini dalam bentuk plot tipe 3D dan dalam
bentuk polar. Selanjutnya masuk ke gambar 3.7 E-Field pada 3D dan polar.

Gambar 3.7 E-Field dalam bentuk 3D dan Polar


pada nilai e-max. Pada e-field dalam bentuk 3D memiliki nilai e-max yang
dihasilkan sebesar 9.399 dBV/m yang mana menunjukan warna merah yang
berarti antena ini memilih nilai maksimum dari setiap parameter e-fieldnya.

Gambar 3.8 H-Field Dalam Bentuk 3D dan Polar


pada nilai h-max. Pada h-field dalam bentuk 3D memiliki nilai h-max yang
dihasilkan sebesar -42.12 dBV/m yang mana menunjukan warna merah yang
berarti antena ini memilih nilai maksimum dari setiap parameter h-fieldnya.
Pada perubahan e-field dan h-field menunjukan perubahan yang significant
terhadap nilai e-max dan h-max.

Gambar 3.9 E-Pattern Dalam Bentuk 3D dan Polar


E-pattern merupakan memiliki nilai yang sama dengan e-field dalam bentuk
polar juga. Berikut ini hasil e-pattern dalam bentuk 3D diperoleh nilai frekuensi
2.02 GHz, rad.effic = -6.145 dB, tot.effic = -11,34 dB, dan vmax = 9.399 dBV.
Sedangkan polar frekuensi 2.02 Ghz, main lobe = 9.4 dBV, angular width =
95.2 deg, dan side lobe level = -9.5 dB.

Gambar 3.10 Power Pattren Dalam Bentuk 3D dan Polar


Power pattren adalah distribusi sudut memancarkan kekuatan, sering
dinormalisasi untuk kesatuan di puncak. Berikut ini hasil power pattren dalam
bentuk 3D diperoleh nilai frekuensi 2.02 GHz, rad.effic = -6.145 dB, tot.effic =
-11,34 dB, dan pmax = -16.36 dBV/m2. Sedangkan polar frekuensi 2.02 Ghz,
main lobe = -16.4 dBV, angular width = 95.2 deg, dan side lobe level = -9.5 dB.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Main lobe adalah lobe yang mempunyai arah dengan pola radiasi
maksimum.
2. Frekuensi yang digunakan dalam melakukan simulasi antena adalah
frekuensi sebesar 2.02 GHz.
3. Pada hasil simulasi perancangan antena ini menunjukan terdapat hasil
Directivity sebesar yaitu 5.97 dBi.
4. Pada hasil simulasi perancangan antena ini menunjukan terdapat hasil
Gain sebesar yaitu -0.174 dB.
5. Pada hasil simulasi perancangan antena ini terdapat hasil Realized gain
sebesar -5.369 dB pada frekuensi 2.02 GHz.
6. Pada hasil simulasi perancangan antena ini terdapat hasil E-Field
sebesar 9.399 dBV/m pada frekuensi 2.02 GHz, sedangkan H-Field
sebesar -42.12 dBV/m pada frekuensi2.02 GHz.
7. Pada hasil simulasi perancangan antena ini terdapat hasil E-Pattern
Vmax sebesar 9.399 dBV frekuensi 2.02 Ghz.
8. Pada hasil simulasi perancangan antena ini terdapat hasil Power Pattern
Pmax sebesar -16.36 dBV/m2 frekuensi 2.02 Ghz.
B. SARAN
1. Setiap praktikum diharapkan untuk menginstall software CST Suite
Studio, agar dapat dipelajari kembali.
2. Perhatikan pada setiap nilai parameter, jika kita memasukkan nilai
berbeda maka keluaran (output) yang kita dapatkan akan berbeda.
3. Jika pada grafik gambar dihasilkan skala yang kurang akurat, maka
aturlah skalanya atau diperbesar pada grafiknya agar mudah dilihat dan
dianalisis.
4. Sebelum memulai praktikum terlebih dahulu baca dan kuasai materi
mengenai parameter antena yang dipakai pada modul Simulation
Settings ini.
V. DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonymous, "Teori Dasar Antena," 19 Maret 2017. [Online]. Available:


http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/458/jbptunikompp-gdl-dedeyuswan-
22890-3-babii.pdf . [Accessed 12 April 2017].
[2] R. K. Rizky, "Antena dan Propagasi," 28 Oktober 2013. [Online].
Available: https://www.scribd.com/doc/179573201/ANTENA-DAN-
PROPAGASI-pdf . [Accessed 12 April 2017].
LAPORAN PRAKTIKUM
ANTENA DAN PROPAGASI
MODUL III : PERANCANGAN SIMULASI ANTENA

DISUSUN OLEH :
Muhammad Fathurrohman Nur
14101102

Praktikum Tanggal : 16 Maret 2017


Dikumpulkan Tanggal: 23 Maret 2017

Asisten Praktikum : Henry Jovinski [13101017]


Whenny Harina E.Y [13101037]

LABORATORIUM KOMPUTER DAN APLIKASI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM
JL. DI. PANJAITAN 128 PURWOKERTO
2017
MODUL III
PERANCANGAN SIMULASI ANTENA
I. DASAR TEORI
Antena adalah suatu piranti yang digunakan untuk merambatkan dan
menerima gelombang radio atau elektromagnetik. Pemancaran merupakan satu
proses perpindahan gelombang radio atau elektromagnetik dari saluran
transmisi ke ruang bebas melalui antena pemancar. Sedangkan penerimaan
adalah satu proses penerimaan gelombang radio atau elektromagnetik dari
ruang bebas melalui antena penerima. Karena perangkat perantara antara
saluran transmisi dan udara, maka atena harus mempunyai sifat yang sesuai
dengan saluran pencatunya. [1]
Energi listrik dari pemancar dikonversi menjadi gelombang
elektromagnetik dan oleh sebuah antena yang kemudian gelombang tersebut
dipancarkan menuju udara bebas. Pada penerima akhir gelombang
elektromagnetik dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan antena.
Gambar dibawah menunjukkan antena sebagai pengirim dan penerima.

Gambar 1.1 Antena Sebagai Pengirim dan Penerima


Ada beberapa karakteristik antena yang penting dalam memilih jenis antena
untuk aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu
pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya
sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau
menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu.
Pola Radiasi
Pola radiasi antena adalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang
dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot 3-dimensi tingkat penerimaan
sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Pola radiasiantena dibentuk
oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu pola radiasi pada
bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidang
irisan arah azimuth (pola azimuth).
Gain
Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan
kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan
sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur
dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya,
melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang
digunakan untuk gain adalah desibel.
Polarisasi
Polarisasi merupakan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena
dipol memiliki polarisasi linear vertikal . Mengenali polarisasi antena
amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan
efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan
mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek
astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek
tersebut [2]
II. HASIL DATA
1. Tentukan frekuensi antena berdasarkan 2 digit terakhir NIM praktikan.
Frekuensi yang digunakan adalah 2,02 GHz.
2. Carilah karakteristik material patch yang akan digunakan. Dalam simulasi
ini akan menggunakan material FR4 dengan karakteristik sebagai berikut:
r = 4,4
= 0,008
r = mendekati 1 (udara)
Thicness (tebal tembaga) = 0,035 mm
Tebal substrat = 1,6 mm
Impedansi = 50
3. Hitung masing-masing ukuran yang dibutuhkan sesuai dengan keterangan
diatas.
Fc=Frekuensi = 2,02 Ghz = 2,02 x 109

Rumus = W = Er+1
2 x fc
2

3 108
4,4+1
2 2,02 109
2

3 108
= 6,637 109

= 0.0452101
= 45,2 mm
4. Panjang gelombang ideal dan sering digunakan adalah , maka

o =
3 108
= (2,02 109
4,4
3 108
= 4,237109

= 0,0708 m
= 70,8 mm
o = x 70,8 mm = 17,7 mm
5. Rumus eff atau efektivitas Dielektrik Konsisten
+1 1
Eff = + (1 + 12 )1/2
2 2
4,4+1 4,41 1.6
= + (1 + 12 45,2)1/2
2 2
1
= 2,7 + 1,7
1.424
1
= 2,7 + 1,7 (1.193) = 2,7 + 1,7 (0.838)

= 2,7 + 1,424
= 4.124

6. Rumus Length (Leff)



Leff =
2

3108
= 2 2,02 109
5,250
3108
= 22,02 109 2.291
3108
= 9,255 109

= 0,0324 m
= 32,4 mm

7. Rumus L

(+0,3) ( +0,264)
L = 0,412 h x [(0,258)
]
( +0,8)

45,2
(5,250+0,3) ( +0,264)
1,6
= 0,412 x 1,6 x [ 45,2 ]
(5,2500,258) ( +0,8)
1,6

5,55 28,514 158,252


= 0,6592 x [ 4,992 29,05] = 0.6592 x [145,017]

= 0,6592 x 1.091
= 0,7193 mm
8. Rumus L
L = Leff - 2L
= 32,4 2(0,7193)
= 32,4 1,438 = 30,9614 mm

9. Rumus WG dan LG (Jarak Substrat ke Patch)


WG = 6h + w
= (6 x 1,6) + 45,2
= 9,6 + 45,2
= 54,8 mm
LG = 6h + L
= (6 x 1,6) + 30,9614
= 9,6 + 30,9614
= 40,5614 mm

10. Design Stripline 50 Ohm


Line Width (Wst) mikrostrip (Lebar line)
2 1 0,61
Wst = { 1 ln(2 1) + [ln( 1) + 0,39 }
2
60 2
Dimana B =

Jika w/h < 1 maka

+1 1 1 2
Eff = + [ + 0,04 (1 ) ]
2 2
1+12

Dan jika w/h > 1 maka


+1 1 1
Eff = +
2 2
(1+12 )

60 2
B =
60 2 603.142
= 50 = = 5,64167
4,4 104,88

11. Rumus mencari Wst


2 1 0,61
Wst = { 1 ln(2 1) + [ln( 1) + 0,39 }
2
2 1,6 4,41
= {5,64167 1 ln(10,29234) + [ln(5,64167
3.14 2 4,4
0,61
1) + 0,39 }
4,4

= 1,01859 {4,64617 ln (10,29234) + 0,3863 [ln(4,64617) +


0,25136)]}
= 1,0859 (2,31477 + 0,69042)
= 3,06111 mm
12. Width = 3.06111 (Wst feed line 50 Ohm)
3,06111
=
1,6

= 1,9132 sehingga w/h > 1


Maka
+1 1 1
Eff = +
2 2
(1+12 )

4,4 + 1 4,41 1
= +
2 2 1,6
(1+123,06111)

= 3,3304
Dengan Fc = 2,02 Ghz

o =
3 108
= 2,02 109

= 0,1485 m
= 148,5 mm

o 148.5 148.5
9 = = = 1,825 = 81.414 mm
3,3304

Maka Lst
9 81.414
Lst = = = 20.353 mm
4 4

Tabel Hasil Perhitungan :


Komponen Simbol Dimensi (dalam
mm)
Lebar Patch W 45,2
Panjang Patch L 30,9614
Tinggi Patch T 0,035
Lebar Strip Wstrip 3,06111
Panjang Strip Lstrip 20,353
Tinggi Strip Tstrip 0,035
Lebar Substrat Ls/WG 54,8
Panjang Substrat Ps/LG 40,5614
III. ANALISA DAN PEMBAHASAN
Pada Pratikum Antena Propagasi yang dilaksanakan pada tanggal 16 Maret
2017, membahas tentang perhitungan dimensi antena. Lapisan pada antena
memiliki 3 jenis yang terdiri dari lapisan Subtrate, lapisan Patch, lapisan
Ground Plane. Pada gambar dibawah ini rancangan ukuran masing-masing
skema lapisan.

Gambar 3. 1 Skema ukuran Lapisan Patch


Pada Lapisan Patch terdapat beberapa aturan rumus yang digunakan untuk
mengatur dan menghasilkan perkiraan dimana dapat menangkap sinyal sebesar
2.02 GHz. Seperti perhitungan panjang Patch, lebar Patch, lebar Strip , dan
panjang Strip. Pada analisa kali ini disampaikan beberapa penjelasan dari mana
angka angka tersebut muncul.
Pada perhitunganmencari nilai W dimana W adalah lebar dari patch.
Muncul angka 45,2 mm dan kemudian untuk perhitungan selanjutnya yakni
melakukan perhitungan panjang patch atau L. Pada L yang didapatkan hasil
30,9614 mm. Dalam patch ini juga terdapat tinggi patch atau yang dapat disebut
dengan ketebalan dimana besarnya sudah menjadi ketetapan yakni sebesar
0,035 mm. pada perhitungan panjang dan lebar dari patch, terdapat juga besaran
yakni Wst atau lebar strip dan Lst yakni panjang strip. Hasil dari perhitungan
Wst sebesar 3,06111 mm, sedangkan Lst dapat dihasilkan dengan nilai sebesar
20,353 mm.
Gambar 3. 2 Skema ukuran Lapisan Subtrate
Selanjutnya pada gambar 3.2 Skema Lapisan Subrate memiliki perhitungan
Lebar Substrat dan Panjang Substrat. Pada lebar substrat melakukan
perhitungan dengan rumus Jarak Substrart ke Patch (WG = 6h+w) dengan nilai
sebesar 54,8 mm. Sedangkan panjang substrat melakukan perhitungan dengan
rumus (LG = 6h+L) dengan hasil nilai sebesar 40,5614 mm. Pada substart ini
memiliki ketebalan yang tetap 1,6 mm, jika ketebalan berubah maka akan
berpengaruh pada bandwithnya.

Gambar 3.3 Skema ukuran dan dimensi keseluruhan Antena Microstrip


Selanjutnya pada gambar 3.3. Skema ukuran dan dimensi keseluruhan
Antena Microstrip untuk menghasilkan frekuensi yang diinginkan dipengaruhi
dari ukuran dan dimensi antena yang akan dibuat dan di rancang, dan
menggunakan perhitungan dengan frekuensi sesuai pada 2 digit terakhir dari
NIM masing-masing dan bisa dilihat pada hasil diatas pada gambar 3.3.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Antena Mikrostrip mempunyai tiga bagian, adapun bagian-bagiannya
yakni berupa Patch, Substrat, dan Ground Plan.
2. Nilai Ketebalan bahan antena dengan nilai tinggi strip serta nilai tinggi
patch, hal tersebut dikarenakan bahan yang digunakan sama yaitu
tembaga
3. Semakin tinggi Frekuensi maka semakin kecil dimensi antena yang di
rancang.
4. Nilai pada impedansi yang digunakan mempengaruhi bentuk antena.

B. SARAN
1. Pada praktikum mengenai perhitungan ini, sebaiknya dalam melakukan
perhitungan dilakukan dengan teliti dan cermat agar hasilnya sesuai.
2. Gunakan alat bantu kalkulator scientific dalam menghitung dimensi
antena
3. Perhatikan nilai frekuensi karena nilainya sudah ditentukan
menggunakan NIM.
4. Pada saat melakukan penghitungan antena, perhatikan rumus yang akan
digunakan agar tidak salah dalam pengerjaanya.
V. DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonymous, "Teori Dasar Antena," 19 Maret 2017. [Online]. Available:


http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/458/jbptunikompp-gdl-dedeyuswan-
22890-3-babii.pdf . [Accessed 21 Maret 2017].
[2] R. K. Rizky, "Antena dan Propagasi," 28 Oktober 2013. [Online].
Available: https://www.scribd.com/doc/179573201/ANTENA-DAN-
PROPAGASI-pdf . [Accessed 21 Maret 2017].