Anda di halaman 1dari 13

VII.

REAKTOR BATCH
A. Gambaran Umum:
Reaktor Batch adalah suatu reaktor yang pada saat reaksi tidak ada aliran
masuk dan aliran keluar. Reaktan dimasukkan sekaligus pada saat awal dan produk
diambil pada waktu tertentu sesudah konversi yang diinginkan tercapai. Dalam
industri reaktor batch biasanya dipakai dalam fase larutan dan jarang dipakai
untuk reaksi fase gas, sebab dengan adanya pengaduk akan mudah mengalami
kebocoran bila packing tidak kuat. Untuk keperluan laboratorium banyak dipakai
reaktor batch yang bekerja secara isotermal, baik untuk reaksi fase gas maupun
larutan.
Karakteristik Reaktor Batch Ideal.

stirrer

Liquidsurface
liquid contens (V)

HE (bila diperlukan)
bentuk tangki, relatif sederhana
Tiap batch adalah suatu sistem tertutup
Fase cair: volume per unit massa konstan konstan
Fase gas dan ada perubahan mol: tidak konstan volume tidak konstan
V=Vo (1+ xA) (isotermal dan isobar)
Asumsi: reaktor ideal, pengadukan sempurna sehingga komposisi dan suhu
reaktor selalu uniform pada waktu yang sama
B. Perhitungan Perancangan Reaktor Batch
Dasar perancangan proses untuk reaktor batch:
Waktu reaksi untuk mendapatkan konversi optimum, yaitu konversi pada
saat biaya operasi total minimum, dengan memperhitungkan waktu
persiapan, waktu pemasukan umpan waktu reaksi dan waktu pengosongan
produk
Konversi maksimum pada suatu keadaan operasi tertentu
Persamaan Perancangan:
Dalam reaktor Batch, waktu satu batch: waktu reaksi + waktu servis
waktu reaksi : dicari dari persamaan perancangan
waktu service : waktu persiapan, waktu pemasukkan umpan, waktu
pengambilan hasil
Waktu reaksi/volume cairan dapat dihitung berdasarkan neraca massa:
Neraca Massa:
Laju aliran zat Laju aliran zat Laju berkurangnya Laju
pereaksi secara pereaksi secara zat pereaksi yang akumulasi zat
kontinyu Qqqqqq=
ke dalam - kontinyu ke luar
+ +
bereaksi dalam + = pereaksi di
reaktor reaktor reaktor atau dalam reaktor
bertambahnya
produk

0 - 0 - (-rA)V = dNA/dt (mol persatuan waktu)


rA V dN A
dt
rA dC A dC A0 1 xA C A00 dxA
dt dt dt
Bila NA0 : Jumlah mol awal (NA pada t=0)
NA0xA: mol yang bereaksi setelah waktu t
NA: sisa mol A pada waktu t= NA0-NA0xA= NA0(1-xA)
Maka diperoleh persamaan perancangan:
rA V
dx A
N A0
dt

rA
dx A
C A0
dt

Interpretasi nilai t/nA0 dapat ditentukan melalui grafik:

Waktu reaksi dapat dihitung dengan persamaan:


t NA A C xA
dN A dC N A0 dx A
dt
0
N rA V C rAA

0
V rA
A0 A0

Bila volume larutan dapat dianggap tetap selama reaksi berlangsung,maka:


t NA A C A x
1 dN A dC A dx A
dt
0
V rA C rA A0 0
N A0
C
rA
A0

Bila volume berubah:


t NA A x A x
dN A N A0 dx A dx
dt
0
N V0 1 A x A rA 0 V0 1 A x A 1 rA A0 0 1 A x AA rA
C
A0

Reaksi sederhana orde satu dengan laju reaksi : (-rA)= k CA


a. Volume konstan:
xA A x
dx A dx A 1 1
t C A0 C A0 ln
0
rA 0
kCA0 1 x A k 1 x A

b. Volume berubah:
xA A x
dx A dx A dx A
t C A0 C A0 C A0
0
1 A x A rA 0
1 A x A kCA 1 A x A k N Ao 1 x A
V0 1 A x A
1 1
t ln
k 1 xA

Ternyata diperoleh persamaan yang sama dengan bila volume berubah, jadi
untuk reaksi orde satu adanya perubahan volume dengan konversi tidak
berpengaruh pada persamaan hubungan waktu dengan konversi.
C. Laju Produksi (Pembentukan) C pada Basis Kontinyu
Waktu siklus (tc) merupakan total waktu per batch:
tc = t + td, t = waktu reaksi
td = down time [waktu yang diperlukan untuk
pengisian, pengeluaran, dan pencucian]
Laju Produksi produk C:

Pr C
mol C terbentuk batch

batch waktu
nC nC1 nC C n A
PrC 2
tc tc t td

Dalam konversi XA:


C C A0 V X A2 X A1
Pr C
t td

Tugas:
Reaksi fase cair A + B C dilakukan dalam reaktor Batch yang bereaksi
isotermal. Reaksi orde satu terhadap masing-masing reaktan denan k=
9,92.10-3 L mole-1 det-1 pada 25 0C. Jika XA=90% da CA0=CB0 =1,5 mole/L.
a. Tentukan waktu reaksi yang diperlukan
b. Hitung vollume reaktor yang diperlukan untuk membuat 150 mol
C/jam bila down time= 30 menit
Soal 1. Larutan A dimasukkan dalam sebuah reaktor Batch isotermal dan
akan terurai menjadi R. Setelah reaksi berlangsung selama 10 menit sampel
diambil dari reaktor dan dianalisis ternyata diperoleh konversi 40%. Hitung
waktu yang diperlukan supaya konversi A yang diperoleh sebesar 80% , jika
reaksi peruraian tersebut merupakan reaksi tingkat satu.
Penyelesaian:
Reaktor Batch, isotermal (T tetap k:konstan), fase larutan volume tetap
t: 10menit xA: 0,4 k= dihitung
t: ? xA: 0,8
k
Persamaan reaksi: A R
Persamaan kinetika : (-rA)= k CA (reaksi orde satu)
Persamaan stoikhiometri: CA=CA0(1-xA)= CA0-CA0.xA (CA: konsentrasi A
mula-mula- konsentrasi A yang bereaksi
Persamaan design:

rA dC A
dt
t xA
dx A
dt C r
0
A0
0 A

t xA A x
dx A dx
dt C
0
A0
0
rA
C A0 A
0
kCA

1 A d (1 x A )
xA xA x
dx A 1 dx A
t C A0 0 1 xA k 0 1 xA
0
kCA0 1 x A k

1 1 1 1
t ln 10menit ln
k 1 xA k 1 0,4

1 1
k ln =0,05
10 0,6

Reaksi isotermal sehingga nilai k tetap, maka untuk mendapatkan konversi


80% diperlukan waktu t:
1 1 1 1
t ln ln
k 1 x A 0,05 1 0,8
Bila reaksi orde 2:
t xA x
dx A A
dx A
dt C
0
A0
0
rA
C A0
0 kC A
2

rA dC A kCA2
dt
CA t
dCA

CA 0 CA
2
k dt
0

1 1 1 xA
kt
C A C A0 C A0 1 x A

1 xA
t kCA0 nilainya tetap
kCA0 1 x A

t: 10menit xA: 0,4


1 xA 1 0,4
kCAo 0,067
t 1 x A 10 0,6
Reaksi isotermal sehingga nilai k tetap, maka untuk mendapatkan konversi
80% diperlukan waktu t:
1 xA 1 0,8
t menit
kCA0 1 x A 0,067 0,2
Soal 2. Reaksi antara zat A dan B berlangsung dalam zat pelarut inert
k
dijalankan dalam volume tetap. Persamaan reaksi: A + B
hasil. Reaksi merupakan reaksi orde 1 masing-masing terhadap A dan B
dengan tenaga aktivasi 30 Kkal/gmol. Konsentrasi A dan B mula-mula
berturut-turut 1 dan 2 gmol/L. Reaksi berlangsung isotermal pada suhu
100oC. Setelah reaksi berjalan 2 jam zat A yang bereaksi 80%, Hitung:
a. Konversi yang diperoleh bila reaksi dijalankan pada suhu 150oC selama 2
jam.
b. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan konversi 80% pada suhu
100oC, tetapi konsentrasi awal A dan B masing-masing 2 gmol/L

Penyelesaian:
Reaktor Batch, isotermal (T tetap k: konstan), fase larutan volume tetap
E=30 Kkal/gmol; CA0= 1 gmol/L ; CB0= 2 gmol/L
T=100oC, t=2 jam xA= 0,8
k
Persamaan reaksi: A + B hasil.
Persamaan kinetika : (-rA)= k CACB
Persamaan stoikhiometri: CA=CA0(1-xA)= 1-xA gmol/L
CB=CB0-CA0xA= CA0(CB0/CA0-2CAOxA)=2-xA gmol/L
Persamaan design:

rA dC A
dt
t xA
dx A
dt CA0
0 0
rA
(-rA)= k CACB= k (1-xA)(2-xA)
t xA
dx A
dt
0
k 1 x 2 x
0 A A

x
1 2 xA 1 2 xA
t ln ln ln 2
k 1 xA 0 k 1 xA

1 2 xA
k ln
t 2(1 x A )

a. xA=0,8 dan t=2jam k=0,5493 L/gmol.j ,(T=100oC)


E
k 0,5493L / gmol. j A.EXP
RT

E 30.000
A k.EXP 0,5493EXP 2,0875.1017 L /( gmol. j )
RT 1.987 373

E 15.094,14
k A.EXP 2,0845.10 EXP
17

RT T

Pada T = 150oC = 423K maka k= 65,725 L/(gmol.j)


1 2 x
k ln
t 21 x

2 x
ln 2.65,725
21 x

2 x

21 x

2(1-x)=0 x=1
Jadi pada suhu150oC dan waktu 2jam maka zat A telah terkonversi
semua.
b. Waktu yang diperlukan jika CA0=CB0=2 gmol/Ldan suhu 100oC
CA=CA0(1-xA)
CB=CB0-CA0xA= CA0(1-xA)
dC A
kCACB kCA2
dt
C A0 A kCA2 0 1 x A
dx 2

dt
dx A
kCA0 dt
1 x A 2
Hitung k pada suhu 100oC=....

t xA
1 dx A
0 dt kCA0 1 x
0 A
2

xA
1 1 1 xA
t
kCA0 1 x A 0 kCA0 1 x A
Hitung k pada T: 100oC
E 15.094,14
k A.EXP 2,0845.10 EXP
17

RT T
Selanjutnya substitusi k terhitung ke persamaan t dengan C A0=2 gml/L dan
xA=0,8
Soal 3. Reaksi fase gas
Peruraian gas A menjadi B dan C berlangsung secara isotermal menurut
persamaan reaksi: 2A 2B + C. Reaksi ini adalah reaksi orde dua dan
tidak balik dengan harga k pada suhu 895oC adalah 977 cc/(gmol.det).
Hitung waktu yang diperlukan untuk menguraikan 80% dari gas A tersebut
pada suhu 895oC:
a. Jika volume dijaga konstan dengan tekanan awal dari gas A=2 atm
b. Jika tekanan dijaga konstan pada 2 atm, dan volume tidak konstan
Penyelesaian:
Reaktor Batch, isotermal pada suhu 895oC , fase gas dan ada perubahan
mol. Po=2 atm
k=977 mL/(gmol.det) ; xA=0,8
Persamaan reaksi : 2A 2B + C
Persamaan kinetika : (-rA)= k CA2

Persamaan design: rA
dC A
dt

Persamaan stoikhiometri:
Misal gas A mula-mula: 2 NA0 , mula-mula hanya ada A sehingga
NT0=2 NA0
Komposisi gas A pada saat t dengan konversi xA :
NA: 2NA0 (1-xA)
NB: 2NA0 xA
NC: NA0 xA
NT: NA0(2+xA)=2NA0(1+1/2xA)
a. Volume dijaga tetap dengan tekanan awal gas A=2 atm
RT
P0V0=NT0RT0=2NA0.R T V0 2 N A0 V
P0

N A 2 N A0 1 x A P0
CA
RT
1 xA
V 2 N A0 RT
P0

rA dC A = k CA2
dt
2

rA dC A d P0 1 x A k P0 1 xA
dt dt RT RT
2
P0 dx A P0
k 1 x A
2

RT dt RT
xA 0,8
RT dxA
dt
kP0 1 x
0 A
2

RT xA
t .....
kP0 1 xA

b. Jika tekanan dijaga konstan pada 2 atm, dan volume tidak konstan
Menentukan persamaan CA: NA/V
Dengan menggunakan persamaan V=V0(1+xA)
3 2
V V0 1 x A V0 1 12 x A
2

RT
P0Vo= 2NA0.R T Vo 2 N A0
P0

NA 2 N A0 1 xA P0 P 1 xA
CA
V 2 N A0 1 2 xA RT RT 1 12 xA
1

Dengan menggunakan hukum gas ideal:


PV= NT R T= NA0(2+xA)RT
V N A0 2 x A
RT
P
N N P 2 N A0 1 x A P P 21 xA
CA A A
V NT RT N A0 2 xA RT RT 2 xA
Substitusi persamaan kinetika ke dalam persamaan design:

rA dCA kCA2
dt

d 21 x A P 21 x A P
2

( ) k
dt 2 x A RT 2 x A RT
2
P d 1 xA P 1 xA
2

2 4 k
RT dt 2 x A RT 2 x A
2
d 1 xA P 1 xA
2 k
dt 2 xA RT 2 x A

1 xA
d
P 2 x A
2 k .dt 2
RT 1 xA

2 xA

1 xA
d
2 xA
t xA
P
RT 0
2 k dt 2
1 xA

0

2 xA
xA

P 1 2 xA
2 kt 2
RT 1 xA 1 xA

2 xA 0

RT 2 x A
t 2 ......
2k .P 1 x A
Kasus 1.
Untuk reaksi: A produk tentukan waktu yang diperlukan untuk
mencapai 80% konversi A, jika 7,5 mol A direaksikan dalam 15-L
constant-volume batch reactor yang beroperasi secara isotermal pada
suhu 300 K. Reaksi ini berorde-satu terhadap A, dengan: kA = 0,05 min-1
pada 300 K.
Kasus 2.
Reaksi fasa-cair antara cyclopentadiene (A) dan benzoquinone (B) yang
menghasilkan produk C:
A + B C dilangsungkan dalam reaktor batch isotermal. Reaksi ini
berorde-satu terhadap masing-masing reaktan, dengan: kA = 9,92 X 10-3
L mol-1s-1 pada 25C. Tentukan volume reaktor yang diperlukan untuk
memproduksi 175 mol C jam-1, jika XA = 0,90; CA0 = CB0 = 0,15 mol L-1,
dan down-time (td) antar batch adalah 30 menit.