Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TELAAH KURIKULUM SEKOLAH

KURIKULUM 1984

Disusun oleh :

1. Melan Wahyuni (15030184037)


2. Nabila Kamalia (15030184049)
3. Nunik Kunthi Muflikah (15030184094)
4. Nur Wahyu Hidayat (15030184095)

Kelompok 6 / Pendidikan Fisika B 2015

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
2017/2018
A. SEJARAH KURIKULUM 1984 DI INDONESIA
Sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan
keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke
kurikulum 1984, karena suda dianggap tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan
masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara umum dasar
perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam
kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
2) Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi
dengan kemampuan anak didik.
3) Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di
sekolah.
4) Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
5) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang
pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai
sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
6) Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan
perkembangan lapangan kerja.

Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :


1) Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa
pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat
terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.
2) Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa
aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual,
dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara
maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3) Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral
adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan
kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
4) Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Untuk
menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu
siswa memahami konsep yang dipelajarinya.
5) Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa.
Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan
penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret,
semikonkret, semi-abstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan
induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan.
6) Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah
pendekatan belajar-mengajar yang memberi tekanan kepada proses
pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan
mengkomunikasikan perolehannya.

Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai berikut :


1) Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti. Kurikulum 1984
memiliki enam belas mata pelajaran inti, yakni:
a. Agama;
b. Pendidikan Moral Pancasila;
c. Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa;
d. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia;
e. Geografi Indonesia;
f. Geografi dunia;
g. Ekonomi;
h. Kimia;
i. Fisika;
j. Biologi;
k. Matematika;
l. Bahasa Inggris;
m. Kesenian;
n. Keterampilan;
o. Pendidikan Jasmani dan Olahraga;
p. Sejarah Dunia dan Nasional.
2) Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan masing-
masing.
3) Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum 1975 terdapat 3
jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam Kurikulum 1984 jurusan
dinyatakan dalam program A dan B. Program A terdiri dari :
A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika
A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi
A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya.
B, penekanan keterampilan kejuruan. Tetapi mengingat program B
memerlukan sarana sekolah yang cukup maka program ini untuk
sementara ditiadakan.

B. STRUKTUR KURIKULUM 1984 UNTUK SD SMP DAN SMA


Sepuluh tahun kemudian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
memberlakukan kurikulum baru yang dikenal dengan nama Kurikulum 1984, sesuai
dengan tahun pada waktu kurikulum tersebut diberlakukan. Setelah ini kebijakan
penggantian kurikulum setiap sepuluh tahun menjadi suatu tradisi. Perkembangan
dalam kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi, agama, seni, ilmu dan teknologi
tidak berpengaruh terhadap kurikulum. Kurikulum tidak berubah dan terus berjalan
walaupun aspek-aspek yang menjadi dasar dari kurikulum tadi sudah jauh berbeda
dari ketika suatu kurikulum dikembangkan. Pemerintah memperlakukan kurikulum
sebagai suatu seremoni politik dan hanya ketika terjadi tuntutan politik lah maka
kurikulum baru berubah. Faktor lain yang telah dikemukakan selain politik tidak
mampu menyentuh perubahan kurikulum.

Pendidikan ideologi dalam kurikulum 1984 tetap menjadi warna yang


dominan dalam kurikulum. Pemerintah menetapkan Pendidikan Pancasila sebagai
mata pelajaran wajib dalam kurikulum sejak SD sampai ke perguruan tinggi. Dalam
TAP MPR Nomor IV/MPR/1978 ditetapkan Pendidikan Pancasila sebagai mata
pelajaran wajib dan diarahkan untuk menumbuhkan jiwa, semangat dan nilai-nilai
1945. Berdasarkan TAP MPR Nomor II/MPR/1978 ditetapkan pula Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila sebagai penuntun dan pegangan hidup
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi setiap warganegara Indonesia,
setiap penyelenggara Negara serta setiap lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan,
baik di Pusat maupun di Daerah dan dilaksanakan secara bulat dan utuh. Pedoman
Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P-4) dan juga dinamakan Ekaprasetia
Pancakarsa ditetapkan sebagai bagian dari Pendidikan Pancasila melalui TAP MPR
Nomor II/MPR/1983.
Kurikulum SD 1984 memiliki struktur sama dengan kurikulum SD 1975.
Semua mata pelajaran tidak dibagi dalam kelompok-kelompok. Jumlah mata pelajaran
bertambah menjadi 11 dengan adanya tambahan mata pelajaran Pendidikan Sejarah
Perjuangan Bangsa (PSPB) dan Bahasa Daerah. PSPB untuk SD tidak diberikan di
setiap catur wulan tetapi diberikan pada setiap catur wulan III. Jumlah jam pelajaran
per minggu dapat dikatakan sama dengan kurikulum SD 1975 yaitu kelas I 26/27 jam,
kelas II 26/27 jam, kelas III 33/33 jam, kelas IV, V, dan VI masing-masing 36/37 jam.
Jika diperhatikan jumlah jam pelajaran ini berkurang dibandingkan dengan kurikulum
SD 1975 karena jam mata pelajaran Bahasa Daerah tidak dihitung dalam kurikulum
SD 1975. Bahasa Daerah hanya berlaku untuk di sejumlah daerah Indonesia seperti
propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timut, dan Bali. Jam pelajaran untuk Bahasa
Indonesia pada catur wulan 3 berkurang 1 jam untuk diberikan kepada PSPB.

Struktur kurikulum SMP 1984 sama dengan struktur kurikulum SMP 1975,
yaitu Program Pendidikan Umum, Program Pendidikan Akademis, dan Program
Pendidikan Ketrampilan. Dalam kelompok Program Pendidikan Umum terdapat mata
pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa sehingga jumlah mata pelajaran di
kelompok ini bertambah satu dari kurikulum SMP 1975. Dalam kelompok Program
Pendidikan Akademis, IPA untuk kurikulum SMP 1984 langsung dibagi atas Biologi
dan Fisika dengan alokasi waktu terpisah masing-masing 3 jam pelajaran per minggu.
IPS tidak dipisahkan dan tetap memiliki jam pelajaran per minggu 4 jam sama dengan
kurikulum sebelumnya. Di sini tampak adanya pergeseran konsep dan filosofis
dimana para pengembang kurikulum SMP 1984 terbagi dalam kelompok yang
berbeda. Pengembang kurikulum SMP 1984 masih tetap mempertahankan pendidikan
IPS sedangkan kelompok pengembang IPA sudah tidak lagi mempertahankan pikiran
semula yang digunakan dalam kurikulum SMP 1975. Mungkin saja kesulitan
mendapatkan guru yang mampu mengajar Biologi dan Fisika dalam satu mata
pelajaran IPA menjadi alasan utama pemisahan tersebut.

Struktur kurikulum SMA 1984 mengalami perubahan yang cukup mendasar


dibandingkan dengan kurikulum SMA 1975. Pada kurikulum SMA 1984 mata
pelajaran dikelompokkan Program Inti yang harus diikuti seluruh peserta didik dan
Program Pilihan yang mengganti istilah penjurusan. Perubahan terjadi juga dalam
penjurusan baik mengenai waktu mau pun mengenai jumlah penjurusan. Peserta didik
baru memilih jurusan yang dinamakan Program Pilihan pada saat mereka naik ke
kelas II dan bukan pada semester II. Dalam hal waktu penjurusan, kurikulum SMA
1984 sama dengan kurikulum SMA 1968. Nama Program Pilihan adalah Program
Ilmu-Ilmu Fisik, Program Ilmu-Ilmu Biologi, Program Ilmu-Ilmu Sosial, dan Program
Pengetahuan Budaya. Nama Ilmu Pasti yang selalu disejajarkan dengan Pengetahuan
Alam dalam kurikulum sebelumnya tidak digunakan lagi.

Orientasi pendidikan disiplin ilmu pada kurikulum SMA 1984 semakin kental
dibandingkan kurikulum sebelumnya. Orientasi pendidikan disiplin ilmu tampak pada
nama-nama mata pelajaran yang disamakan dengan nama disiplin ilmu dan pada mata
pelajaran. Program Inti yang tidak saja terdiri dari mata pelajaran umum seperti
agama, PMP, dan pendidikan jasmani terdapat pula mata pelajaran untuk landasan
pendidikan akademik. Mata pelajaran Sejarah (Indonesia dan Dunia), Geografi,
Bahasa, Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, dan Bahasa Inggris menjadi mata
pelajaran dalam Program Inti.

Kurikulum 1984 pada dasarnya tidak banyak mengubah posisi belajar peserta
didik. Peserta didik harus memegang peran aktif dalam belajar terus dipertahankan.
Bahkan kurikulum baru menambah peran aktif itu dengan memperkenalkan
ketrampilan proses. Pesta didik harus melaksanakan ketrampilan proses sehingga
mereka memiliki kemampuan dalam mengembangkan masalah berdasarkan apa yang
telah dibaca, diamati, dan dibahas.

C. PENGEMBANGAN DAN PENTAHAPAN PELAKSANAAN KURIKULUM


1984
Kurikulum 1984 berlaku berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 0461/U/1983 yang ditandatangani Prof. Dr. Nugroho
Notosusanto pada 22 Oktober 1983 tentang Perbaikan Kurikulum. Berdasarkan
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0461/U/1983, Pusat Kurikulum
dibawah pimpinan Prof. DR. Conny Semiawan sesuai dengan tugasnya mengadakan
perbaikan kurikulum yang hasilnya disebut dengan Kurikulum 1984 TK, SD/SDLB,
SMP/SMPLB, SMA/SMALB, SPG/LB dan SMK baik yang setingkat dengan tingkat
SMP maupun yang setingkat dengan tingkat SMA. Perbaikan terhadap kurikulum
mencakup :
1) Peninjauan kembali secara menyeluruh kurikulum yang berlaku melalui
pendekatan pengembangan dengan bertitik tolak pada:
a) Pilihan kemampuan dasar, baik pengetahuan maupun keterampilan yang perlu
dikuasai dalam pembentukan kemampuan dan watak peserta didik.
b) Keterpaduan dan keserasian antara matra kognitif, afektif dan psikomotorik.
c) Penyesuaian tujuan dan struktur kurikulum dengan perkembangan
masyarakat, pembangunan, ilmu pegetahuan dan teknologi.
2) Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa sebagai bidang/program
yang berdiri sendiri, dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Menengah
Tingkat Atas, termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
3) Pengadaan program studi baru yang merupakan usaha memenuhi kebutuhan
perkembangan di lapangan kerja.

Salah satu prinsip pengembangan kurikulum 1984 adalah prinsip


dekonsentrasi yang mempunyai arti adanya pembagian kewenangan dalam
pengembangan kurikulum antara Pusat dan Daerah. Kewenangan daerah dalam hal ini
terutama terletak pada pengembangan keterampilan yang sesuai dengan
perkembangan budaya masyarakat dan lapangan kerja di daerah. Untuk maksud ini
maka Staf Bidang Dikdas dan Dikmenum, Kanwil Depdikbud memerlukan
koordinasi/kerjasama dengan Kantor Depdikbud tingkat Kabupatan dan atau Tingkat
Kecamatan, Instansi lain yang terkait, misalnya Kanwil Depnaker, KADIN, dan
Perusahaan, Pemerintah Daerah antara lain Gubernur, Walikota/Bupati, khususnya
BAPPEDA.

Pengembangan Kurikulum 1984 perlu berpedoman pada azas-azas (1)


berdasarkan Pancasila, Undang-Undang 1945 dan GBHN, (2) Keluwesan dengan
mempertimbangkan baik tuntutan kebutuhan peserta didik pada umumnya maupun
kebutuhan peserta didik secara individu sesuai dengan minat dan bakatnya, serta
kebutuhan lingkungan, (3) Pendekatan Pengembangan yang berarti bahwa
pengembangan kurikulum dilakukan secara bertahap dan terus menerus.yaitu dengan
jalan melakukan penilaian terhadap pelaksanaan dan hasil-hasil yang telah dicapai
untuk maksud perbaikan/pemantapan dan pengembangan lebih lanjut, dan (4) Peran
serta daerah dimana daerah berwewenang menjabarkan lebih lanjut materi program
keterampilan dan khususnya program B untuk Sekolah Menengah Atas. Kurikulum
1984 dilaksanakan secara bertahap mulai dari kelas I pada tahun ajaran 1984/1985,
kelas I dan kelas II pada tahun ajaran 1985/1986, dan seterusnya (Soedirdjo, dkk,
2010: 45-46).
D. PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM 1984

Kurikulum ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi Humanistik, yang


memandang anak didik sebagai individu yang dapat dan mau aktif mencari sendiri,
menjelajah dan meneliti lingkungannya. Oleh sebab itu kurikulum 1984 menggunakan
pendekatan proses, disamping tetap menggunakan orientasi pada tujuan.

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan


pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut
Kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek
belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active
Leaming (SAL).

Miller dan Seller (1985) lebih menekankan pada hal yang penting dalam
pengembangan kurikulum yaitu Orientasi. Orientasi dalam pengembangan
kurikulum menyangkut tujuh aspek yakni: prilaku, disiplin ilmu, masyarakat,
pengembangan, proses kognitif, humanistic dan transpersonal. Disamping itu,
orientasi menyangkut enam masalah pokok, yaitu:
1. Tujuan pendidikan: menunjukkan arah kegiatan,
2. Konsepsi tentang anak: pandangan mengenai anak, apakah sebagai pelaku aktif
atau pasif,
3. Konsepsi tentang proses mengajar-belajar: aspek transpersonal, kehidupan batin
anak dan perubahan tingkah laku,
4. Konsepsi tentang lingkungan: pengaturan lingkungan untuk memperlancar belajar,
5. Konsepsi tentang peranan guru: otoriter, directive atau fasilitator, dan;
6. Evaluasi belajar, mengacu pada tes, eksperimental atau bersifat terbuka.
Setiap pengembangan kurikulum, harus berpijak pada sejumlah landasan, dan
harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip
tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga
dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang
telah disepakati.
Kurikulum 1984 mengacu pada prinsip :
1. Prinsip Relevansi
Relevansi keluar kurikulum yaitu tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam
kurikulum itu sendiri. Maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam
kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan
masyarakat, yang menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat.
Isi kurikulum mempersiapkan siswa sekarang dan siswa yang akan datang untuk tugas
yang ada dalam perkembangan masyarakat. Relevansi didalam kurikulum yaitu:
adanya kesesuaian atau konsistensi antara kompenen-kompenen kurikulum yaitu
antara tujuan, isi proses penyampaian dan penilaian. Relevansi internal ini
menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
2. Pendekatan pengembangan kurikulum
1. Pendekatan bidang studi (pendekatan subjek atau disiplin ilmu)
Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar
organisasi kurikulum misalnya matematika, sains, sejarah IPS, IPA, dan
sebagainya. Seperti yang lazim kita dapati dalam sistim pendidikan kita
sekarang di semua sekolah dan universitas.
Yang diutamakan dalam pendekatan ini ialah penguasaan bahan dan proses
dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuai dengan falsafah
realisme. Pendekatan ini paling mudah dibandingkan dengan pendekatan
lainnya oleh sebab disiplin ilmu telah jelas Batasannya dan karena itu lebih
mudah mempertanggung jawabkan apa yang diajarkan.
2. Pendekatan Interdisipliner
Dibawah ini akan kita bicarakan beberapa pendekatan interdisipliner dalam
pengembangan kurikulum.
a. Pendekatan Broad-field
Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata
pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan
tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan
bagian integral dari kehidupan manusia. Pendekatan broad-field ini juga
dapat digunakan agar siswa memahami hubungan yang kompleks antara
kejadian-kejadian di dunia, misalnya antara perang vietnam dan korea
dengan kebangkitan ekonomi jepang dan lain-lain.
b. Pendekatan Kurikulum Inti (core curriculum)
Kurikulum ini banyak persamaannya dengan broad-field, karena juga
menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Kurikulum diberikan
berdasarkan suatu masalah sosial atau personal. Untuk memecahkan
masalah itu digunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan
dengan masalah itu.
c. Pendekatan Kurikulum Inti di Perguruan Tinggi
Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum Perguruan Tinggi.
Dengan core dimaksud pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari
semua disiplin ilmu yang dianggap esensial mengenai kebudayaan dan
ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik
dan terpelajar.
d. Pendekatan Kurikulum Fusi
Kurikulum ini men-fusi-kan atau menyatukan dua atau lebih disiplin
tradisional menjadi studi baru misalnya: geografi + botani + arkeologi
menjadi earth sciences.
3. Pendekatan Rekonstruksionisme
Pendekatan ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan
kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat,
seperti polusi, ledakan penduduk dan lain-lain.
Dalam gerakan rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang
sangat berbeda pandangannya tentang kurikulum, yaitu rekonstruksionisme
konservatif dan rekonstruksionisme radikal.
a. Rekonstruksionisme konservatif.
Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan pada
peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan
mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang
dihadapi masyarakat. Peranan guru ialah sebagai orang yang
menganjurkan perubahan mendorong siswa menjadi partisipan aktif
dalam masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah
pragmatisme.
b. Rekonstruksionisme Radikal.
Aliran ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan
pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang
merupakan mayoritas masyarakat. Golongan radikal ini menganjurkan
agar pendidik formal maupun non-formal mengabdikan diri demi
tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan
kekayaan yang lebih adil dan merata.
4. Pendekatan Humanistik
Kurikulum ini berpusat pada siswa, dan mengutamakan perkembangan
efektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar.
Para pendidik humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional
siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil
maksimal. Pendekatan humanistic dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-
asumsi yang berikut:
a. Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan
sepenuhnya.
b. Siswa yang diturut-sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran
akan merasa bertanggung jawab atas keberhasilannya.
c. Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa
saling mempercayai, saling membantu, dan bebas dari ketegangan yang
berlebihan.
d. Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab
kepada siswa atas kegiatan belajarnya.
e. Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam
penguasaan bahan pelajaran itu.
f. Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa
harga diri.
5. Pendekatan Accountability
Accountability atau pertanggung jawaban lembaga pendidikan tentang
pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai
pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak
pengamat pendidikan accountability ini telah mendesak pendidikan dalam arti
yang sebenarnya menjadi latihan belaka. Accountability yang sistimatis yang
pertama kalinya diperkenalkan Frederick Taylor dalam bidang industri pada
permulaan abad ini. Pendekatannya, yang kelak dikenal sebagai scientific
management atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang
harus diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu.
6. Pendekatan Pembangunan Nasional
Pendekatan ini mengandung tiga unsur :
a. Pendidikan kewarganegaraan
Dalam masyarakat demokratis, warga negara dapat dimasukkan dalam tiga
kategori:
1) Warganegara yang apatis
2) Warganegara yang pasif
3) Warganegara yang aktif
b. Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional
Tujuan pendidikan ini adalah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Para pengembang kurikulum
bertugas untuk mendisain program yang sesuai dengan analisis jabatan
yang akan diduduki.
c. Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari
Keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan sehari- hari dapat dibagi
dalam beberapa kategori yang tidak hanya bercorak keterampilan akan
tetapi juga mengandung aspek pengetahuan dan sikap, yaitu:
a. Keterampilan untuk mencari nafkah dalam rangka sistim ekonomi
suatu negara.
b. Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat.
c. Keterampilan untuk menyumbang kepada kesejahteraan umum.
d. Keterampilan sebagai warganegara yang baik.
3. Pendidikan seumur hidup
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum
mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan
informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
4. Prinsip Fleksibilitas (keluwesan)
Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi, atau dikurangi
berdasarkan tuntutan dan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau
kaku. maka yang dilaksanakan adalah program pendidikan keterampilan industri.
E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KURIKULUM 1984
Terlepas dari berbagai pembaharuan yang ditawarkan oleh Kurikulum 1984, terdapat
kelebihan dan kekurangan dari Kurikulum 1984, sebagai berikut:

Kelebihan Kurikulum 1984:


1. Kurikulum 1984 memuat materi dan metode yang disebut secara rinci,
sehingga guru dan siswa mudah untuk melaksanakannya.
2. Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar meningkat secara pesat,
ditunjukkan melalui peningkatan diri dalam melaksanakan tugas dan
keberanian mengemukakan pendapat dalam diskusi kelas.
3. Anak dapat belajar dari pengalaman langsung.
4. Kualitas interaksi antara siswa sangat tinggi, baik intelektual maupun
sosial.

Sedangkan, kelemahan Kurikulum 1984:


1. Banyak sekolah yang salah menafsirkan metode CBSA dengan
menganggap disuksi yang dilakukan menjadikan suasana gaduh di kelas.
2. Guru dan siswa mengalami ketergantungan pada materi dalam suatu buku
teks dan metode yang disebut secara rinci, sehingga membentuk guru dan
siswa tidak kreatif untuk menentukan metode yang tepat dan memiliki
sumber belajar sangat terbatas.
3. Proses pembelajaran hanya didominasi oleh seorang atau sejumlah siswa
sehingga ia menolak pendapat siswa lain. Siswa yang pandai akan
bertambah pandai sedangkan yang kurang pandai tertinggal.
4. Guru berperan sebagai fasilitator, sehingga prakarsa serta tanggung jawab
siswa dalam kegiatan belajar sangat kurang. Hal ini juga mengakibatkan
guru kurang komunikatif dengan siswa.
5. Materi pelajaran tidak tuntas dikuasai siswa karena diperlukan waktu yang
banyak dalam pembelajaran menggunakan diskusi.
DAFTAR PUSTAKA

https://agussusilo121.wordpress.com/2015/06/30/kurikulum-1984/ (Online, diakses tanggal 5


September 2017 pukul 18.30 wib)

http://www.tintapendidikanindonesia.com/2017/07/kurikulum-1984.html?m=0 (Online,
diakses tanggal 7 September 2017 pukul 20.30)

Hamid, Hasan S. Tanpa tahun. Konferernsi Nasional Sejarah (online)


http://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/s_hamid_hasan.pdf

Iskandar, Alexandria. 2015. Kurikulum Tahun 1984 (online)


https://www.slideshare.net/alexandriaiskandar/kurikulum-tahun-
1984?from_action=save

Sutisna, Ade. Tanpa tahun. Sejarah Perkembangan Kurikulum (online)


http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/197607312001121-
ADE_SUTISNA/SEJARAH_PERKEMB.__KURIKULUM.pdf