10 DIMENSI MUTU JASA
28Jul2009 Filed under: ISO 9000 Author: sentri
Ada 10 Dimensi dalam implementasi mutu jasa :
1. Tidak nyata (Tangible)
Sesuatu yang dirasakan oleh customer dalam waktu memberikan pelayanan seperti: Penampilan
fasilitas fisik-alat karyawan
2. Daya uji (Realibility/kehandalan)
Akurat, sesuai janji (apabila kita menentukan sesuatu (janji) haruslah sesuai dengan kesepakatan
dan jangan sekali-sekali kita tidak menepati janji tersebut karena akan membuat konsumen
merasa di permainkan/komplain).
3. Daya tanggap (Responsiveness)
Waktu tunggu antara permintaan layanana dengan layanan yang diberikan (Bantu pelanggan
segera)
4. Kepastian (Assurance)
Kepercayaan dan keyakinan akan layanan yang baik (Keterampilan, Pengetahuan & keahlian)
5. Empaty /Keramahan
Perhatian para karyawan terhadap kebutuhan customer (Sopan, perhatian, bersahabat)
6. Kredibilitas
Ketulusan, kepercayaan, kejujuran
7. Keamanan
Keyakinan adanya suatu kepastian layanan
8. Aksesibilitas
Kemudahan untuk dijangkau secara langsung/fisik dan tidak langsung
9. Komunikasi
Dengarkan suara pelanggan (keluhan, keinginan dan harapannya)
10.Pengertian
Kenali pelanggan & kebutuhannya
http://blog.unila.ac.id/sentri/2009/07/10-dimensi-mutu-jasa/
DIMENSI MUTU
PELAYANAN KESEHATAN
Dimensi Mutu Pelayanan
Dimensi mutu pelayanan menurut Parasuraman (1992) dalam Tjiptono (2002 : 57) adalah :
1. Kehandalan (reliability) yaitu kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan
dengan terpercaya dan akurat. Hal ini berarti tingkat kehandalan di mata pelanggan,
meliputi kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan
memuaskan, yang meliputi catatan transaksi yang lengkap, kredibilitas/bonafiditas/citra
perusahaan dan daya tarik keunggulan kualitas pelayanan.
2. Daya tanggap (responsiveness) yaitu kemauan untuk membantu pelanggan dan
memberikan jasa dengan cepat. Reaksi, kesediaan dan sikap tanggap perusahaan kepada
pelanggan terdiri dari keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan
memberikan layanan dengan tanggap, misalnya pengiriman slip transaksi tepat waktu dan
sebagainya.
3. Jaminan (assurance) pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka
untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan. Kemampuan perusahaan memberikan
kepastian yang dapat menimbulkan rasa percaya diri pelanggan terhadap perusahaan,
mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki
para staf.
4. Bukti langsung (tangibles) yaitu penampilan fisik, peralatan, personil dan materi
komunikasi. Layanan ini meliputi fasilitas fisik, perlengkapan pegawai alat-alat atau
perlengkapan yang dipergunakan untuk menyediakan layanan, representasi fisik dan
layanan serta fasilitas-fasilitas layanan lainnya untuk keperluan layanan.
5. Empathy, kesediaan untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi langganan. Layanan
sepenuh hati dari perusahaan kepada pelanggan berupa perhatian individual, komunikasi
yang baik, perhatian individual, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian individu, dan memahami kebutuhan setiap
pelanggannya.
Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan menurut Lori Di Prate Brown (Djoko Wijono, 2000 : 35 –
37).
1) Kompetensi teknis (Technical competence)
Kompeten teknis berkaitan dengan ketrampilan, kemampuan dan penampilan petugas, manajer
dan staf pendukung. Kompetensi teknis berhubungan dengan bagaimana cara petugas mengikuti
standar pelayanan yang telah ditetapkan dalam hal dipertanggungjawabkan atau diandalkan
(dependability), ketepatan (accurancy), ketahanan uji (reliability) dan konsistensi (consistency).
Dimensi ini relevan untuk pelayanan klinis maupun non-klinis.
2) Akses terhadap pelayanan (Access to service)
Akses berarti bahwa pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial,
ekonomi, budaya, organisasi, atau habatan bahasa. Akses geografis dapat diukur dengan jenis
transportasi, jarak, waktu perjalanan dan hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang
untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
3) Efektivitas (Effectiveness)
Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektivitas yang menyangkut norma pelayanan
kesehatan dan petunjuk klinis sesuai standart yang ada.
4) Kontinuitas (Contiunity)
Kelangsungan pelayanan berarti klien akan menerima pelayanan yang lengkap yang dibutuhkan,
termasuk rujukan tanpa intruksi, berhenti atau mengulangi prosedur diagnosa dan terapi yang
tidak perlu.
5) Keamanan (Safety)
Sebagai salah satu dimensi dari mutu, keamanan (safety) berarti mengurangi resiko, cidera,
infeksi, efek samping, atau bahan lain yang berkaitan dengan pelayanan. Keamanan pelayanan
melibatkan petugas dan pasien. Misalnya, safety adalah salah satu dimensi kualitas transfusi
darah, terutama sejak munculnya AIDS. Pasien harus dilindungi dari infeksi, dan petugas
kesehatan yang bertugas mengurus darah harus dilindungi dengan prosedur yang aman.
6) Hubungan antar manusia (Interpersonal relations)
Dimensi hubungan antara manusia berkaitan dengan interaksi antara petugas kesehatan dan
pasien, manager dan petugas, dan antara tim kesehatan dengan masyarakat.
7) Kenyamanan (Amenities)
Keramahan atau kenikmatan (amenities) berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang tidak
berkaitan langsung dengan efektivitas klinis, tetapi dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan
bersedianya untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.
8) Efisiensi (Efficiency)
Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber/biaya
untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.
Pengertian efisiensi menurut Mulyamah (1987;3) yaitu:
“Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan
dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataam lain penggunaan yang
sebenarnya”
Sedangkan pengertian efisiensi menurut SP.Hasibuan (1984;233-4) yang mengutip pernyataan H.
Emerson adalah:
“Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil
antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil
optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Dengan kata lain
hubungan antara apa yang telah diselesaikan.”
http://morningcamp.com/?p=117
Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan
Menurut teori Lori Di Prete Brown,et al. Dengan bukunya Quality
Assurance of Health Care In Developing Countries, Mutu merupakan fenomena
yang komprehensif dalam multi facet. Dimensi mutu tepat untuk pelayanan klinis
maupun manajemen untuk mendukung pelayanan kesehatan.
Delapan Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan tersebut antara lain:( Djoko
Wijono, 1999: 35)
1) Kompetensi Teknis
Kompetensi teknis berhubungan dengan cara petugas mengikuti standar
pelayanan yang ditetapkan dalam hal: dan dapat dipertanggungjawabkan
atau diandalkan (dependability), ketepatan (accuracy) ketahanan uji
(reliability) dan konsitensi (Consisitency). Kurangnya kompetensi teknis
dapat bervariasi dari penyimpangan kecil dari prosedur standar sampai
kesalahan yang besar yang menurunkan efektifitas dan membahayakan
pasien.
2) Akses dalam Pelayanan
Akses berarti bahwa pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan
geografis, sosial, ekonomi, budaya , organisasi atau hambatan bahasa.
3) Efektifitas
Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektifitas yang menyangkut
norma pelayanan kesehatan dan petunjuk klinis sesuai standar yang ada.
4) Hubungan antar Manusia
Dimensi hubungan antar manusia berkaitan dengan interaksi antara petugas
kesehatan dan pasien, manajer dan petugas, dan antar tim kesehatan.
Hubungan antar manusia yang bak menanamkan kepercayaan dan
kredibilitas dengan cara menghargai, menjaga rahasia, menghormati,
responsif dan memberikan perhatian. Hubungan antar manusia yang baik
mempunyai andil yang besar dalam konseling yang efektif. Hubungan antar
manusia yang kurang baik akan mengurangi efektifitas dari kompetensi
teknis pelayanan kesehatan.
5) Efisiensi
Efisiensi pelayanan kesehatan merupakan dimensi yang penting dari mutu
karena efisiensi akan mempengaruhi hasil pelayanan kesehatan, apalagi
sumber daya pelayanan kesehatan pada umumnya terbatas. Pelayanan yang
efisien akan memberikan perhatian yang optimal daripada memaksimalkan
pelayanan kepada pasien. Pelayanan yang kurang baik disamping
menyebabkan risiko yang tidak perlu terjadi dan ketidaknyamanan pasien.
6) Kelangsungan Pelayanan
Kelangsungan pelayanan berarti klien akan menerima pelayanan yang
lengkap yang dibutuhkan (termasuk rujukan) tanpa interupsi, berhenti atau
mengulangi prosedur diagnosa atau terapi yang tidak perlu. Tidak adanya
kelangsungan pelayanan akan mengurangi efisien dan kualitas hubungan
antar manusia.
7) Keamanan
Sebagai salah satu dimensi dari mutu, keamanan (safety) berarti mengurangi
risiko cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya yang lain yang berkaitan
dengan pelayanan. Keamanan pelayanan melibatkan petugas dan pasien.
8) Kenyamanan, Kenikmatan
Keramahan/kenikmatan (amenities) berkaitan dengan pelayanan kesehatan
yang tidak berhubungan dengan efektifitas klinis, tetapi dapat mempengaruhi
kepuasan pasien dan bersediannya untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk
memperoleh pelayanan berikutnya.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH3760/9a6af2d5.dir/doc.pdf