Lapsus Tinea Kruris
Lapsus Tinea Kruris
PENDAHULUAN
Distribusi, spesies penyebab, dan bentuk infeksi yang terjadi bervariasi pada daerah
geografis, lingkungan dan budaya yang berbeda. Dermatofit berkembang pada suhu 25-28oC,
dan timbulnya infeksi pada kulit manusia didukung oleh kondisi yang panas dan lembab. Karena
alasan ini, infeksi jamur superfisial relatif sering pada negara tropis, pada populasi dengan status
sosioekonomi rendah yang tinggal di lingkungan yang padat dan higiene yang rendah. 1
Tinea kruris merupakan dermatofitosis pada sela paha, genitalis, daerah pubis, perineum
dan perianal. Trichophyton rubrum (T.rubrum) merupaka penyebab utama, diikuti oleh
T.mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum (E.floccosum). Trichophyton rubrum,
T.mentagrophytes dan E.floccosum merupakan dermatofit yang menyukai daerah yang hangat
dan lembab pada intertriginosa dan kulit yang mengalami oklusi seperti di sela paha. Pasien yang
mengabaikan pengobatan dan kurangnya pengetahuan klinis mengenai infeksi ini dapat
meningkatkan frekuensi penyakit. Tinea kruris merupakan keadaan yang sering terjadi di seluruh
dunia dan paling sering di daerah tropis. Keadaan lembab dan panas berperan pada timbulnya
penyakit. Tinea kruris lebih sering pada pria dibandingkan wanita, salah satunya karena skrotum
menciptakan kondisi yang hangat dan lembab. Infeksi ini bila tidak diobati atau diobati secara
adekuat dapat mengakibatkan penyebaran penyakit yang luas. Angka kekambuhan tinea kruris
1 1
cukup tinggi meskipun setelah pemberian terapi topical dan sistemik sehingga pencegahan
kekambuhan tinea kruris sangat penting. 1,2
Gejala klinis tinea kruris yang khas adalah gatal yang meningkat saat berkeringat dengan
bentuk lesi polisiklik/bulat berbatas tegas, efloresensi polimorfik, tepi lebih aktif. Tinea kruris
biasanya memperlihatkan penyembuhan di bagian sentral dengan predileksi pada lipatan
genitokrural, paha atas bagian medial, dapat meluas kedaerah pubis, perianal, bokong dan perut
bawah. 1,2
Tinea kruris umumnya mudah dikenal secara klinis morfologis kecuali pada beberapa
kasus tertentu. Diagnosis tinea kruris ditegakkan berdasarkan klinis dan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium untuk dermatofitosis yang dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan
mikroskopik langsung dengan KOH 10-20% untuk mengidentifikasi struktur jamur dengan
teknik yang cepat, sederhana, terjangkau dan telah digunakan secara luas sebagai teknik skrining
awal. 1,2
2
BAB II
KASUS
2.1. Identitas
Nama : Tn.Y
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Statur Perkawinan : Belum menikah
Pekerjaan : Pelajar
Bangsa : Indonesia
Agama : Kristen
Alamat : Jl. A.Yani VI
Tanggal Pemeriksaan : 04 Maret 2016
2.2. Anamnesa
Proses anamnesa dilakukan secara autoanamnesa.
Keluhan Utama : Bercak kemerahan semakin melebar di bagian bokong kanan
dan kiri hingga kebagian kedua paha.
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD dr. Doris
Sylvanus dengan keluhan awalnya timbul bercak kemerahan
yang melebar disertai sisik di kedua bokong hingga paha sejak
4 tahun yang lalu. Awal pertama kali timbul bercak merah,
bulat, sebesar koin seribu rupiah disertai rasa gatal di
selangkangan kanan kemudian menjadi bertambah lebar.
Pasien mengeluh gatal terutama saat berkeringat sehingga
pasien sering menggaruknya. Hal ini terus-menerus berulang
sehingga pasien berinisiatif membeli bedak salicyn di apotek.
Keluhan gatal dan bercak merah berkurang namun tidak
sepenuhnya menghilang dan sering kambuh hingga selama 3
tahun ini.
3 3
Setelah masuk tahun keempat, pasien mengaku bercak
kemerahan bertambah besar, kemudian timbul bercak yang
sama dibagian selangkangan kiri hingga melebar ke bokong
kiri dan sekarang bercak kemerahan tersebut hampir menutupi
kedua bokong hingga paha. Pasien juga mengeluh merasakan
gatal terus-menerus sehingga seringkali tidak tahan terhadap
gatalnya dan akhirnya menggaruk-garuk daerah yang gatal
membuat daerah yang gatal terkadang sampai mengelupas.
Pasien juga mengaku daerah yang gatal pada pasien lama-
kelamaan menjadi terasa tebal dan bersisik akibat pasien sering
menggaruknya. Keluhan disertai panas badan disangkal.
Keluhan gatal yang sangat hebat sampai panas seperti terbakar
disangkal.
Pasien mengaku merasakan gatalnya bertambah setelah pasien
melakukan aktivitas fisik berlebihan, olahraga jogging dan
basket, keringat berlebih, dan apabila celana dalam pasien
lembab, biasanya gatal lebih terasa saat malam hari hingga
mengakibatkan pasien susah untuk tidur. Pasien belum pernah
berkonsultasi ke tenaga kesehatan sebelumnya namun pasien
berinisiatif membeli obat sendiri yaitu obat berupa salep
betason yang dioleskan pada daerah yang gatal namun tidak
ada perubahan sehingga pasien mengkobinasikannya dengan
bedak salicyn beberapa tahun terakhir. Pasien mengaku gatal
sedikit berkurang namun cepat muncul kembali dan semakin
melebar sehingga pasien akhirnya berobat ke klinik poli kulit
dan kelamin RSUD dr.Doris Sylvanus P.Raya.
Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien mengaku bahwa pasien tidak pernah mengalami
penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat hipertensi(-), DM (-),
penyakit ginjal(-),asma(-) dan alergi terhadap obat maupun
makanan (-).
4
Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien mengaku bahwa saudara laki-laki pasien pernah
mengalami penyakit serupa beberapa tahun terakhir (pasien
lupa) namun sembuh dengan pemberian obat salicyn. Riwayat
penyakit hipertensi (-), DM (-), dan alergi terhadap obat
maupun makanan (-)
Riwayat higiene : Pasien mandi 2 kali sehari , pagi dan sore dengan
menggunakan PAM. Pasien mengganti pakaian 2 kali sehari.
Memelihara hewan dirumah disangkal, menggunakan pakaian
dan handuk yang sama dengan keluarga dirumah disangkal.
5
Erosi
Tepi aktif
Central
healing
6
2.6. Diagnosis Banding
1. Tinea Kruris
2. Psoriasis Inversa
3. Kandidiasis Intertriginosa
Hifa panjang
bersepta
2.9. Penatalaksanaan
a. Umum
1. Edukasi kepada pasien tentang penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur
2. Memberi tahu pasien untuk menggunakan obat secara teratur dan tidak menghentikan
pengobatan tanpa seizing dokter
3. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
4. Menjaga kelembaban tubuh tetap seimbang
5. Menganjurkan pasien untuk menggunakan pakaian (khususnya pakaian dalam) yang
menyerap keringat, bersih, kering dan tidak ketat
6. Rajin mengganti pakaian
7. Mencegah garukan pada daerah yang gatal
8. Istirahat yang cukup
7
b. Khusus
1. Ketokonazol 2% salep kulit 2 kali sehari selama 2-4 minggu
2. Ketokonazol oral 1 x 200 mg per hari selama 2 minggu
3. Mebhidrolin napadisilat (®Interhistin) 1 x10 mg/hari (jika gatal timbul)
2.10. Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad fungtionam : ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Tinea kruris adalah mikosis superfisial atau disebut juga Eczema marginatum, Dobie itch,
Jockey itch, Ringworm of the groin, yang termasuk golongan dermatofitosis pada lipat paha,
daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat
merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah
genito-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah,
atau bagian tubuh yang lain.2,3
Tinea kruris (jock itch) merupakan dermatofitosis pada sela paha, genitalia, daerah pubis,
perineum dan perianal. Trichophyton rubrum (T. Rubrum) merupakan penyebab utama, diikuti
oleh Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum (E. Floccosum),
Trichophyton rubrum. Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyon floccosum merupakan
dermatofit yang menyukai daerah yang hangat dan lembab pada intertriginosa dan kulit yang
mengalami oklusi seperti disela paha. 2,3,4
Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan
pada tepi lebih nyata daripada bagian tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk
yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak
hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan. 2,3,4
9
9
3.2. Epidemiologi
Di Indonesia, dermatofitosis merupakan 52% dari seluruh dermatomikosis dan tinea kruris
dan tinea korporis merupakan dermatofitosis terbanyak. Insidensi dermatomikosis di berbagai
rumah sakit pendidikan dokter di Indonesia yang menunjukkan angka persentase terhadap
seluruh kasus dermatofitosis bervariasi dari 2,93% (Semarang) yang terendah sampai 27,6%
(Padang) yang tertinggi. Laki-laki pasca pubertas lebih banyak terkena dibanding wanita,
biasanya mengenai usia 18-25 tahun serta 40-50 tahun. 3,4
3.3. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi jamur ini adalah iklim panas, lembab,
higiene sanitasi, pakaian serba nilon, pengeluaran keringat yang berlebihan, trauma kulit, dan
lingkungan. Maserasi dan oklusif pada regio kruris memberikan kontribusi terhadap kondisi
kelembaban sehingga menyebabkan perkembangan infeksi jamur. 3,4
Tinea kruris sangat menular dan epidemik minor dapat terjadi pada lingkungan sekolah dan
komunitas semacam yang lain. Tinea kruris umumnya terjadi akibat infeksi dermatofitosis yang
lain pada individu yang sama melalui kontak langsung dengan penderita misalnya berjabat
tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual. Tetapi bisa juga melalui kontak tidak langsung
melalui benda yang terkontaminasi, ”pakaian, handuk, sprei, bantal dan lain-lain”. Obesitas,
penggunaan antibiotika, kortikosteroid serta obat-obat imunosupresan lain juga merupakan faktor
predisposisi terjadinya penyakit jamur. 3
10
3.5. Patogenesis
Tinea kruris biasanya terjadi setelah kontak dengan individu atau binatang yang terinfeksi.
Penyebaran juga mungkin terjadi melalui benda misalnya pakaian, perabotan, dan sebagainya.
Tinea kruris umumnya terjadi pada pria. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan
peningkatan suhu dan kelembaban kulit sehingga memudahkan infeksi, selain itu dapat pula
terjadi akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. 3
Dermatofita mempunyai masa inkubasi selama 4-10 hari. Infeksi dermatofita melibatkan
tiga langkah utama : perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan diantara sel, dan
perkembangan respon pejamu. 3
a. Perlekatan jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada
jaringan keratin diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan
sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang di produksi oleh kelenjar
sebasea juga bersifat fungistatik. 3
b. Penetrasi. Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan menembus stratum korneum
dengan kecepatan yang lebih cepat daripada proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh
sekresi proteinase, lipase dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur.
Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit. Pertahanan baru muncul
ketika jamur mencapai lapisan terdalam epidermis. 3
c. Perkembangan respon pejamu. Derajat inflamasi di pengaruhi oleh status imun penderita dan
organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed Type Hipersensitivity
(DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam melawan dermatofita. Pasien yang
belum pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya, Infeksi primer menyebabkan inflamasi dan
tes trichopitin hasilnya negatif. Infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang
dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Terdapat hipotesis menyatakan bahwa
antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan di presentasikan dalam
limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ke tempat yang
terinfeksi untuk menyerang jamur. Saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier
epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Segera jamur
hilang dan lesi secara spontan menyembuh. 3
11
3.6. Gambaran Klinis
Penderita merasa gatal dan kelainan lesi berupa plakat berbatas tegas terdiri atas
bermacam-macam efloresensi kulit (polimorfik). Bentuk lesi yang beraneka ragam ini dapat
berupa sedikit hiperpigmentasi dan skuamasi menahun. Kelainan yang dilihat dalam klinik
merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas, terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang
dengan vesikel dan papul di tepi lesi. Daerah di tengahnya biasanya lebih tenang, sementara yang
di tepi lebih aktif yang sering disebut dengan central healing. Kadang-kadang terlihat erosi dan
krusta akibat garukan. Kelainan kulit juga dapat dilihat secara polisiklik, karena beberapa lesi
kulit yang menjadi satu. Lesi dapat meluas dan memberikan gambaran yang tidak khas terutama
pada pasien imunodefisiensi. 3
3.7. Diagnosis
Diagnosis ditegakan berdasarkan gambaran klinis yaitu adanya kelainan kulit berupa lesi
berbatas tegas dan peradangan dimana pada tepi lebih nyata daripada bagian tengahnya.
Pemeriksaan mikologi ditemukan elemen jamur pada pemeriksaan kerokan kulit dengan
mikroskopik langsung memakai larutan KOH 10-20%. Pemeriksaan KOH paling mudah
diperoleh dengan pengambilan sampel dari batas lesi. Hasil pemeriksaan mikroskopis KOH10 %
yang positif, yaitu adanya elemen jamur berupa hifa yang bercabang dan atau artrospora.
Pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur di perlukan bahan klinis, yang dapat berupa
kerokan kulit, rambut, dan kuku. 2,3
12
3.8. Diagnosis Banding
1. Psoriasis Inverse
Psoriasis merupakan penyakit kulit yang bersifat kronik,residif, dan tidak infeksius.
Efloresensi : plakat eritematosa berbatas tegas ditutupi skuama tebal, berlapis-lapis dan
berwarna putih mengkilat. Terdapat tiga fenomena, yaitu bila digores dengan benda tumpul
menunjukan tanda tetesan lilin. Kemudian bila skuama dikelupas satu demi satu sampai
dasarnya akan tampak bintik-bintik perdarahan, dikenal dengan nama Auspits sign.
Adanya fenomena koebner / atau reaksi isomorfik yaitu timbul lesi-lesi yang sama dengan
kelainan psoriasis akibat bekas trauma / garukan. 5, 6
Psoriasis inverse ditemukan pada ketiak, pangkal paha, dibawah payudara, dan
dilipatan-lipatan kulit di sekitar kemaluan dan panggul. Tipe psoriasis ini pertama kali
tampak sebagai bercak (lesions) yang sangat merah dan biasanya lack the scale associated
dengan psoriasis plak. Bercak itu bisa tampak licin dan bersinar.6
Psoriasis inverse sangat menggangu (particularly irritating) karena iritasi yang
disebabkan gosokan/garukan dan keringat karena lokasinya di lipatan-lipatan kulit dan
daerah sensitif (tender), terutama sangat mengganggu bagi penderita yang gemuk dan yang
mempunyai lipatan kulit yang dalam. 6
Pengobatan bisa sukar karena kulit peka pada daerah lipatan-lipatan. Krim steroid
dan salep diyakini sangat efektif tetapi tidak boleh di tutup dengan plastik. Penggunaan
berlebihan atau kesalahan pemakaian steroid, terutama pada lipatan-lipatan kulit dapat
menimbul efek samping terutama penipisan pada kulit dan meninggalkan tanda. Karena
pada daerah ini cenderung timbul infeksi disebabkan yeast dan jamur, dokter akan menguji
untuk infeksi dan mungkin akan menggunakan krim cair oles steroid di gabungkan dengan
obat-obatan lain, seperti 1% atau 2% hydrocortisone dengan anti-yeast atau anti-jamur. 6
13
2. Kandidiasis Intertriginosa
Kandidosis kutis adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur dari
genus Candida. Kandidosis terbagi menjadi 2 macam yakni kandidosis profunda dan
kandidosis superfisial. Nama lain kandidosis kutis adalah superficial kandidosis atau
infeksi kulit-jamur, infeksi kulit-ragi, kandidosis intertriginosa.8,9
Pada kandidosis intertriginosa lesi timbul di daerah predileksi pada daerah lipatan
kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glands
penis, dan umbilikus. Berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa.
Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula
yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan
berkembang seperti lesi primer. Terjadi daerah erosi dan maserasi berwarna keputihan
ditengahnya. Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman dan kadang bisa menimbulkan
nyeri. Kandidosis intertriginosa yang terjadi pada sela jari tangan maupun kaki dapat
diikuti dengan paronikia dan onikomikosis pada tangan atau kaki yang sama. 8,9
Kelainan pada sela-sela jari sering ditemukan pada orang yang banyak berhubungan
dengan air, seperti tukang cuci, petani di sawah, orang yang memakai kaus dan sepatu
terus-menerus. Kandidiasis pada kaki dan sela-sela jari ini sering disebut “kutu air”. Kulit
di sela-sela jari menjadi lunak, terjadi maserasi dan mengelupas seperti kepala susu. Faktor
predisposisi kandidiasis intertriginosa ini adalah diabetes mellitus, kegemukan, banyak
keringat, pemakaian obat antibiotik, kortikosteroid, sitostatik dan penyakit-penyakit yang
menyebabkan daya tahan tubuh menurun. 8,9
14
3.9. Prosedur Pemeriksaan Kerokan Kulit
Pemeriksaan KOH 10-20% untuk mengetahui spora, hifa atau pseudohifa. Sampel yang
digunakan yaitu kerokan kulit, rambut (dicabut), kerokan kuku atau apusan dari discar pada
dinding vagina3,4. Cara pengambilan sampel, yaitu:
1. Sampel diambil dari kerokan skuama diambil dari bagian tepi lesi yang lebih eritem dan
berskuama pada kasus dermatofitosis, atau psudomembran (membran berarna putih)
pada kasus kandidiasis kutis. Selanjutnya hasil kerokan dioleskan/langsung diletakkan di
atas gelas obyek dan ditutup dengan gelas penutup.
2. Discar pada dinding lateral vagina diusap dengan lidi kapas steril, selanjutnya dioleskan
pada gelas obyek.
Cara pemeriksaan yaitu3,4 :
1. Teteskan KOH 20% 1 tetes, pada bagian tepi gelas penutup dan biarkan cairan KOH
menyebar ke seluruh permukaan sampel yang ditutup.
2. Tunggu 5-10 menit (kulit), 15-30 menit (rambut), 1-2 hari (kuku)
3. Lihat di bawah mikroskop, apakah tampak hifa, atau spora dengan psedohifa
3.10. Penatalaksanaan
Terapi pada penyakit kulit tinea korporis dibagi menjadi dua bagian yaitu terapi umum dan
khusus. Pada terapi umum bertujuan untuk menghilangkan faktor predisposisi seperti memakai
baju yang menyerap keringat supaya lingkungan kulit tidak lembab dan tidak menjadi tempat
proliferasi jamur. Kemudian terapi khusus berupa medikamentosa yang terdiri dari obat topikal
dan sistemik.. 3,4,5
1. Higienis sanitari
Tinea kruris dapat dihindari dengan mencegah faktor risiko seperti celana dalam
yang digunakan, hendaknya dapat menyerap keringat dan diganti setiap hari. Selangkangan
atau daerah lipat paha harus bersih dan kering. Hindari memakai celana sempit dan ketat,
terutama yang digunakan dalam waktu yang lama. Menjaga agar daerah selangkangan atau
lipat paha tetap kering dan tidak lembab adalah salah satu faktor yang mencegah terjadinya
infeksi pada tinea kruris. 3
15
2. Farmakologi
Terapi topikal direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit yang hidup
pada jaringan kulit. Preparat yang sering digunakan yaitu golongan imidazol, allilamin,
siklopirosolamin, dan kortikosteroid. Pada golongan imidazol terdiri dari ketokonazol,
mikonazol, klotrimazol, dan hanya ketokonazol yang paling banyak digunakan. 2,3,4
Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang bersifat lipofilik dan larut
dalam air pada pH asam. Ketokonazol digunakan untuk pengobatan dermatofita, pitiriasis
versikolor, kutaneus kandidiasis, dan dapat juga untuk pengobatan dermatitis seboroik.
Obat ini bekerja dengan cara menghambat 14-α-dimetilase pada pembentukan ergosterol
membrane jamur. Ketokonazol 2% cream digunakan untuk infeksi jamur di kulit tak
berambut seperti dermatofita, dengan dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari
kondisi pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan dioleskan 1-2 kali sehari. 2,3,4
Obat berikutnya yaitu golongan Allilamin yang bekerja menghambat allosterik dan
enzim jamur skualen 2,3-epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses
pembentukan ergosterol membrane jamur. Contoh obatnya yaitu aftifine 1%, butenafin 1%,
terbinafin 1% yang mampu bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian 7 hari berturut-turut.
Sedangkan obat siklopirosolamin 2% bekerja menghambat masuknya bahan esensial
seluler dan pada konsentrasi tinggi merubah permeabilitas sel jamur yang merupakan agen
topikal yang bersifat fungisidal, fungistatik, antiinflamasi dan antibakteri. 2,3,4
Penggunaan kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa ditambahkan
pada regimen antijamur topikal untuk menurunkan gejala. Namun steroid hanya diberikan
pada beberapa hari pertama dari terapi. 2,3,4
Untuk terapi sistemik tinea corporis menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh
American Academy of Dermatology yang menyatakan bahwa obat anti jamur sistemik
dapat digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi
yang luas, infeksi kronis, pasien imunokompromais, dan pasien yang tidak responsif
maupun intoleran terhadap obat anti jamur topical. 2,3,4
Terapi sistemik yang paling banyak digunakan yaitu griseofulvin, ketokonazol,
flukonazol, itrakonazol, dan amfoterisin B. Obat tinea corporis griseofulvin merupakan
obat yang bersifat fungistatik. 2,3,4
16
Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa gliseofulvin per oral dapat menyembuhkan
dermatofitosis. Pada masa sekarang, dermatofitisis pada umumnya dapat diatasi dengan
pemberian griseofulvin yang bersifat fungistatik. Bagan dosis pengobatan griseofulvin
berbeda-beda. Secara umum, griseofulvin dalam bentuk fine particle dapat diberikan
dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 g untuk anak –anak sehari atau 10-
25 mg per kg berat badan. Lama pengobatan tergantung dari lokasi penyakit, penyebab
penyakit dan keadaan imunitas penderita.2,3
Obat ini bekerja dengan cara masuk ke dalam sel jamur yang rentan dengan proses
yang tergantung energi. Griseofulvin berinteraksi dengan mikrotubulus dalam jamur yang
merusak serat mitotik dan menghambat mitosis. Obat ini berakumulasi di daerah yang
terinfeksi, disintesis kembali dalam jaringan yang mengandung keratin sehingga
menyebabkan pertumbuhan jamur terganggu. Terapi harus dilanjutkan sampai jaringan
normal menggantikan jaringan yang terinfeksi dan biasanya membutuhkan beberapa
minggu sampai bulan. Obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi tinea yang berat yang
tidak respons terhadap obat-obat anti fungi lainnya.2,3
Efek samping griseofulvin jarang di jumpai, yang merupakan keluhan utama ialah
sefalgia yang di dapati pada 15% penderita. Efek samping yang lain dapat berupa
gangguan traktus digestifus ialah nausea, vomitus, dan diare. Obat tersebut juga bersifat
fotosensitif dan dapat menggangu fungsi hepar. 2,3
Obat selanjutnya yaitu ketokonazol yang merupakan obat antifungi sistemik pertama
yang berspektrum luas. Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang bersifat
lipofilik dan larut dalam air pada pH asam. Ketokonazol bekerja degan cara berinteraksi
dengan C-14 α-demetilase (enzim P-450 sitokrom) untuk menghambat dimetilasi
lanosterol menjadi ergosterol yang merupakan sterol penting untuk membran jamur.
Penghambatan ini mengganggu fungsi membrane dan meningkatkan permeabilitas.
Ketokonazol mempunyai ikatan yang kuat dengan keratin dan mencapai keratin dalam
waktu 2 jam melalui kelenjar keringat eccrine. Penghantaran akan menjadi lebih lambat
ketika mencapai lapisan basal epidermis dalam waktu 3-4 minggu. Konsentrasi
ketokonazol masih tetap dijumpai, sekurangnya 10 hari setelah obat dihentikan. Pemakaian
ketokonazol belum ditemukan adanya resistensi selama diobservasi sehingga obat ini
17
sangat efektif dalam pengobatan jamur. Efek samping yang sering timbul dalam
penggunaan ketokonazol berupa mual dan muntah.11
Ketokonazol sistemik tersedia dalam sediaan tablet 200 mg. Dosis yang dianjurkan
pada dewasa adalah 200- 400 mg perhari dan untuk anak 3,3-6,6 mg/kgBB. Pada kasus-
kasus resisten terhadap griseofulsin dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg per hari
selama 10 hari - 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol merupakan
kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar. Kerena keunggulan ketokonazol sebagai
obat berspektrum luas, tidak resisten, efek samping minimal dan harga yang terjangkau
maka obat ini paling banyak digunakan dalam pengobatan antifungi. 2,3
Pada masa kini selain obat-obatan topikal konvensional, misalnya asam salisil 2-4%,
asam benzoate 6-12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undersilenat 2-5% dan zat warna
(hijau brilian 1% dalam cat Castellani) dikenal banyak obat topical baru. Obat-obat baru ini
diantaranya tolnaftat 2%, tolsiklat, haloprogin, derivate-derivat imidazol,
siklopiroksolamin, dan naftifine masing-masing 1%.2,11
3.11. Prognosis
Tinea kruris mempunyai prognosa baik dengan pengobatan yang adekuat dan kelembaban
dan kebersihan kulit yang selalu dijaga.12
18
BAB IV
PEMBAHASAN
Diagnosis tinea kruris didapatkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap
status dermatologis pasien, yaitu didapatkan hasil pasien usia 19 tahun mengeluh muncul bercak
kemerahan melebar disertai sisik di kedua bokong hingga paha sejak 4 tahun yang lalu. Awal
pertama kali timbul bercak merah, bulat, sebesar koin seribu rupiah disertai rasa gatal di
selangkangan kanan kemudian menjadi bertambah disekitarnya. Bercak kemerahan bertambah
besar dan hal serupa terjadi padabokong kiri hingga meluaskeseluruh bagian paha.Gatal
bertambah apabila aktivitas fisik berlebihan, olahraga jogging dan basket, keringat berlebih, dan
saat celana dalam pasien lembab. Obat yang sudah pernah digunakan berupa salep betason dan
bedak salicyn namun tidakkunjung sembuh.
Berdasarkan status dermatologis pada kruris-gluteal dekstra dan sinistra, didapatkan
UKK plak eritem + hiperpigmentasi, berbatas tegas, ukuran milier hingga plakat, erosi dan
skuama (+) dengan central healing(+) dan tepi aktif (+).
Untuk penegakkan diagnosis tinea kruris secara teori didapatkan dari anamnesa yaitu
bercak merah yang awalnya berbentuk bulat seperti koin, semakin melebar dan dipicu oleh
aktivitas berlebih yang menimbulkan keringat sehingga bagian selangkangan menjadi lembab
dan penggunaan pakaian dalam (cawat) yang ketat atau lembab. Pada pemeriksaan
dermatologis, didapatkan adanya lesi berbatas tegas dan daerah ditengahnya biasanya lebih
tenang (central healing) sementara tepi lebih aktif dan meninggi (tepi aktif). Pemeriksaan
penunjang yaitu dengan pemeriksaan mikologi ditemukan elemen jamur berupa hifa panjang
bersepta pada pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung memakai larutan KOH 10-
20%.
Berdasarkan teori, trauma mekanik kronis pada kulit berupa garukan atau gosokan akan
mengakibatkan penebalan pada kulit. Garukan dan gosokan berulang (yang dipicu faktor asing
atau dari diri sendiri) menghasilkan nodular likenifikasi dan hiperkeratosis. Gatal pada tinea
kruris biasanya berada pada lipatan paha, daerah perineum dan sekitar anus. Kelainan ini dapat
bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.
Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genitor-krural saja, atau meluas ke daerah sekitar anus,
daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh lain.3,4
19 19
Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan obat yaitu antimikotik topikal yaitu
ketokonazol 2% 2 kali sehari selama 2-4 minggu, antimikotik oral yaitu ketokonazol 1 x 200
mg/hari selama 2 minggu dan antihistamin yaitu Mebhidrolin napadisilat (®Interhistin) 1 x 10
mg/hari (jika rasa gatal timbul). Penatalaksanaan pada penyakit ini adalah tujuannya untuk
mengurangi pruritus dan meminimalkan lesinya dengan menggunakan obat-obatan yaitu :
a. Antimikotik untuk mengatasi pertumbuhan jamur2,3
b. Antihistamin mengurangi gatal secara perlahan-lahan.13
Prognosis untuk tinea kruris bergantung pada pengobatan dan pencegahan pada stadium-
stadium awal yang dapat membantu untuk mengurangi proses likenifikasi, rasa gatal dapat
diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan
pengobatan. Relaps dapat terjadi apabila kebersihan dan kelembaban diri tidak dijaga.12
20
BAB V
KESIMPULAN
21
21
Daftar Pustaka
22
12. Vinchia. Tinea Corporis et Cruris. 2010. Available at :
https://www.scribd.com/doc/38007813/Tinea-Corporis-Et-Cruris. Diunduh tanggal 7 Maret
2016 pukul 22.00 WIB.
13. Farmakologi dan Terapi. Ed 5. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,2007.p 277-278.
23