Case - Tinea Pedis
Case - Tinea Pedis
Pembimbimg :
dr. Sri Katon S, Sp.KK
Disusun oleh :
Neng Angie Rivera
2014730073
Assalammu’alaikum wr wb,
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan
Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya saya dapat
menyelesaikan penulisan laporan kasus mengenai Tinea Pedis dengan
Onikomikosis.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan
arahan demi terselesaikannya laporan kasus II ini khususnya kepada dr. Sri Katon
S, Sp.KK, selaku pembimbing Laporan kasus II.
Saya sangat menyadari dalam proses penulisan laporan kasus ini masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun metode penulisan. Namun demikian, kami
telah mengupayakan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki. Kami
dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima segala bentuk masukan,
saran dan usulan guna menyempurnakan laporan kasus ini.
Saya berharap semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi siapapun
yang membacanya.
Wassalammu’alaikum wr wb.
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I STATUS PASIEN.................................................................................................1
1.1. Identitas Pasien.......................................................................................................1
1.2. Anamnesis..............................................................................................................1
1.3. Pemeriksaan Fisik...................................................................................................3
1.5. Resume...................................................................................................................6
1.6. Diagnosis Banding..................................................................................................6
1.7. Diagnosis Kerja......................................................................................................6
1.8. Pemeriksaan Penunjang..........................................................................................6
1.9. Tatalaksana.............................................................................................................6
1.10. Prognosis................................................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................8
TINEA PEDIS...................................................................................................................8
2.1. Definisi...................................................................................................................8
2.2. Epidemiologi..........................................................................................................8
2.3. Etiopatogenesis.......................................................................................................8
2.4. Manifestasi Klinis...................................................................................................9
2.5. Pemeriksaan Laboratorium...................................................................................11
2.6. Diagnosis Banding................................................................................................13
2.7. Diagnosis..............................................................................................................13
2.8. Tatalaksana...........................................................................................................14
2.9. Prognosis..............................................................................................................19
ONIKOMIKOSIS............................................................................................................20
2.10. Definisi.................................................................................................................20
2.11. Epidemiologi........................................................................................................20
2.12. Etiopatogenesis.....................................................................................................20
2.13. Manifestasi klinis..................................................................................................21
2.14. Pemeriksaan penunjang........................................................................................23
2.15. Tatalaksana...........................................................................................................24
2.16. Prognosis..............................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................26
ii
BAB I
STATUS PASIEN
1.2. Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan di Poli Klinik Kulit dan Kelamin RSIJ Cempaka
Putih pada Selasa, 15 Oktober 2019.
Keluhan Utama
Pasien mengeluhkan jempol kaki kiri terasa gatal dan perih + sejak 1
minggu sebelum masuk rumah sakit
1
Pada tahun 2010 dilakukan pencabutan kuku jempol kiri, karena menurut
dokter kumannya telah menyebar ke kuku jempol pasien. Saat ini kuku jempol
sudah tumbuh namun kukunya juga jadi rusak kembali
Dua bulan yang lalu pasien pindah rumah sakit karena rujukan dari
puskesmasnya, pasien dirujuk ke poli kulit dan kelamin RSIJ (Rumah Sakit Islam
Jakarta) Cempaka Putih. Dan pasien datang dengan keluhan kaki terasa gatal, dan
perih. Lalu diberikan obat salep serta obat minum yang menurut pasien sama
seperti di RS sebelumnya oleh dokter Sp.KK di RSIJ Cempaka Putih. Namun
pasien tidak mengobatinya secara rutin, dan tidak kembali kontrol sesuai anjuran.
Tujuh hari sebelum masuk RS pasien mengeluhkan kembali keluhan gatal
dan perih pada jempol pasien.
Satu hari sebelum masuk rumah sakit keluhan perih bertambah parah
ketika ada gesekan pada lesi, namun disertai gatal juga, dan menurut pasien
terdapat nanah yang mengering pada lesi di jempolnya sehingga pasien
memutuskan untuk pergi berobat lagi. Keluhan timbul tidak dapat diprediksi,
keluhan gatal diperparah saat malam hari disangkal, gatal di waktu yang senggang
disangkal, keluhan serupa di anggota tubuh lain disangkal. Adanya kontak dengan
suatu bahan kimia yang memperparah keluhan disangkal.
Selama perjalanan penyakit juga pasien suka mengalami keluhan gatal,
nyeri, dan perih yang hilang timbul pada jempolnya. Pasien tidak rutin mengobati
keluhannya sejak awal berobat. Dan Pasien mengatakan dulu memang suka
menggunakan sepatu yang agak sempit dan tidak memakai kaus kaki terkadang
pasien menggunakan sepatu yang agak basah. Pasien menyangkal adanya riwayat
trauma pada kaki, maupun gigitan serangga. Pasien juga menyangkal adanya
riwayat melakukan pekerjaan yang menyebabkan kaki pasien terpapar air dan
sabun terus menerus seperti mencuci.
2
Tidak ada yng mengalami keluhan serupa dengan pasien di keluarga.
Riwayat alergi, asma, DM, hipertensi, hepatitis dan jantung di keluarga di
sangkal.
Riwayat Psikososial
Setelah adanya keluhan pada jempol pasien jarang memakai sepatu,
kemana-mana pasien menggunakan sandal jepit. Pasien juga menghindari kakinya
terpapar air lama-lama. Pasien mencuci baju di rumah menggunakan mesin cuci.
Pasien mengatakan kebiasaan mandinya kadang 1x kadang juga 2x dalam
sehari. Pasien menggunakan air dingin untuk mandi dan menggunakan sabun
nonantiseptik.
Pasien menyangkal konsumsi rokok, alkohol maupun NAPZA.
3
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-/-)
Telinga : Deformitas (-/-), sekret (-/-), membran timpani intak (+/+)
Mulut : Mukosa oral basah, lidah kotor (-), geografik tongue (-), T1-T1,
faring hiperemis (-)
Torax : Normochest.
Paru
Inspeksi : Gerak napas simetris
Palpasi : Gerakan napas simetris, fremitus taktil kanan = kiri
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi: Bronkovesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus kordis tidak teraba
Auskultasi: Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Tampak datar
Palpasi : Hepatomegali (-), nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi: Bising usus (+) 9x/ menit
Ekstremitas :
Atas : Edema (-)
Bawah : Edema (-)
KGB : Tidak teraba
4
Lesi pada regio lateral digiti 1 manus sinistra tampak skuama tebal berukuran 3x1
cm sirkumskrip yang diatasnya terdapat krusta yang berwarna kekuningan
sebagian berwarna merah, pada krusta yang berwarna merah dasarnya erosi.
5
1.5. Resume
Ny.S 36 tahun, datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSIJ Cempaka Putih
dengan keluhan pruritus dan perih pada region digiti 1 manus sinistra sejak 7 hari
SMRS. 1 hari yang lalu diperparah dengan nyeri saat ada gesekan dan tampak
krusta berwarna kekuningan. Keluhan sudah dirasakan selama 13 tahun dengan
lesi awal berupa vesikel-vesikel disertai pruritus yang semakin lama bertambah
lebar menjadi skuama tebal karena garukan, riwayat ekstraksi kuku pada tahun
2010. Keluhan pruritus, perih dan nyeri hilang timbul karena pasien tidak rutin
menjalankan pengobatan, riwayat penggunaan sepatu sempit dan lembab (+)
Pada status dermatologikus didapatkan lesi pada regio lateral digiti 1
manus sinistra tampak skuama tebal berukuran 3x1 cm sirkumskrip yang
diatasnya terdapat krusta yang berwarna kekuningan sebagian berwarna merah,
pada krusta yang berwarna merah dasarnya erosi. Unguium digiti 1 manus sinistra
mengalami onikodistrofi.
1.9. Tatalaksana
Umum
● Rawat Jalan.
● KIE :
- Menjaga kebersihan kaki
6
- Edukasi: apabila gatal tidak menggaruk luka karena dapat menyebabkan
infeksi
- Rutin menjalankan terapi agar tidak terjadi resistensi
Khusus :
Topikal : Ketokonazol 2% krim 2x sehari dioleskan di jempol
1.10. Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
TINEA PEDIS
2.1. Definisi
Tinea pedis adalah infeksi kulit dari jamur superfisial pada kaki .1 Tinea
pedis merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari dan
telapak kaki.2 Tinea pedis merupakan golongan dermatofitosis pada kaki.3
Istilah dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis.
Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk atau
stratum korneum pada lapisan epidermis di kulit, rambut dan kuku yang
disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatomikosis merupakan arti
umum, yaitu semua penyakit jamur yang menyerang kulit.2
2.2. Epidemiologi
Hampir semua orang dalam populasi umumnya terkena jamur yang
menyebabkan Tinea pedis. Sistem kekebalan tubuh masing-masing orang
menentukan apakah hasil infeksi dari eksposur tersebut. Sebagai orang usia
dewasa, retak kecil berkembang di kulit kaki, meningkatkan kerentanan terhadap
infeksi tinea.5 Prevalensi Tinea pedis sekitar 10%, terutama disebabkan oleh
oklusif alas kaki. 2,3
2.3. Etiopatogenesis
Patogenesis dermatofita memiliki 3 tahapan, yaitu : 2,3
1. Adherence/pengikatan. Fungi selalu mempunyai hambatan dalam proses
infeksinya, fungi resisten terhadap sinar UV, tahan terhadap berbagai
temperatur dan kelembaban, kompetisi dengan flora normal kulit,
spingosine yang di hasilkan oleh keratinosit. Asam lemak yg diproduksi
oleh glandula sebasea bersifat fungistatik (menghambat pertumbuhan
jamur). Mulainya diproduksi asam lemak pada anak anak post-pubertas
mungkin menerangkan menurunnya kejadian Tinea kapitis secara drastis.
2. Penetrasi setelah fase adherence, spora akan tumbuh dan memasuki
stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat dari waktu
deskuamasi epidermis. Penetrasi juga di dukung dengan keluarnya enzim
proteinase, lipase dan musinolitik yang juga membantu dalam pembuatan
nutrisi fungi. Trauma dan maserasi merupakan faktor penting dalam
memudahkan penetrasi fungi terutama pada kasus Tinea pedis. Fungal
mannans yang ada di dinding sel dermatofita juga dapat menurunkan
poliferasi sel keratinosit. Pertahanan terbaru pada lapisan epidermis yang
lebih dapat tercapai diantaranya berkompetisi dengan besi dan juga
penghambatan pertumbuhan jamur oleh progesteron.
3. Development a host response/respon host. Proses inflamasi yang terjadi
sangat tergantung dari sistem imun host dan juga oleh jenis organisme.
Beberapa fungi dapat menghasilkan faktor kemotaktik dengan berat
melekul rendah seperti yang dihasilkan bakteri. Antibodi tidak terlihat
pada infeksi dermatofita, tetapi hanya menggunakan jalur reaksi
hipersensitivitas tipe IV. Infeksi yang sangat ringan sering hanya
menimbulkan inflamasi yang ringan juga, pertama muncul berupa eritema
dan scale / skuama yang menandakan terjadinya peningkatan pergantian
keratinosit (keratinocyte turnover). Antigen dermatofit diproses oleh sel
langerhans epidermis dan dipresentasikan di nodus limpa lokal menuju ke
limfosit T. Kemudian limfosit T mengalami poliferasi dan bermigrasi ke
lokasi untuk membunuh jamur dan pada waktu ini lesi menjadi mendadak
inflamasi. Oleh sebab ini barier epidermal menjadi permeable terhadap
transferin dan migrasi sel.
9
sering disertai bau. Bila kulit yang mati dibersihkan, akan terlihat kulit
baru yang pada umumnya telah diserang jamur. Bentuk klinis ini dapat
berlangsung bertahun-tahun dengan menimbulkan sedikit keluhan atau
tanpa keluhan. Pada suatu ketika dapat disertai infeksi sekunder oleh
bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis, limfadenitis dan erisipelas,
dengan gejala-gejala konstitusi. 2,3
10
berupa cairan jernih yang kental. Setelah pecah, vesikel tersebut
meninggalkan sisik berbentuk lingkaran yang disebut kolaret. Infeksi
sekunder dapat terjadi, sehingga dapat menyebabkan selulitis, limfangitis,
dan kadang-kadang menyerupai erisipelas. Jamur terdapat pada bagian
atap vesikel. Untuk menemukannya, sebaiknya diambil atap vesikel atau
bula untuk diperiksa untuk diperiksa secara sediaan langsung atau untuk
dibiak. 2,3
11
yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata dapat
ditambahkan zat warna pada sediaan KoH, misalnya tinta Parker superchoom
blue black. Pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai 2 garis
sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang maupun spora berderet (artrospora) pada
kelainan kulit lama dan/atau sudah diobati. 2,3
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong
pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan.
Yang dianggap paling baik pada waktu ini adalah medium agar dextrosa
Sabouraud. Pada agar Sabouraud dapat ditambahkan antibiotik saja
(kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimit. Kedua zat tersebut diperlukan
untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. 2,3
Gambar 5 : Gambaran histopatologi dari Tinea pedis; hifa pada lapisan superfisial
dari epidermis
12
2.6. Diagnosis Banding
Berdasar Perdoski (2001) Tinea pedis harus dibedakan dari beberapa
penyakit lain dikaki sebagai diagnosis banding diantaranya adalah : 2,3
1. Dermatitis Kontak Alergi
Dermatitis dengan gejala gatal disertai eritema, vesikel, skuamasi
terutama pada jari-jari, punggung, dan kaki. Diakibatkan oleh kontak
dengan zat yang menyebabkan alergi.
2. Psoriasis Pustulosa
Kelainan kulit berupa plak bersisik putih yang terdapat pada daerah
lutut, siku, dan kulit kepala. Selain itu juga, terdapat pada jari-jari tangan
dan jari-jari kaki dengan penampakan plak-plak yang licin dan merah dan
permukaan yang mengalami maserasi.
3. Skabies Pada Kaki
Gejala gatal pada badan, sela jari tangan, lipat paha, dan lipatan
siku yang disebabkan oleh tungau (kutu) skabies.
2.7. Diagnosis
Athlet’s foot biasanya dapat didiagnosis dengan inspeksi dari kulit, tetapi
jika diagnosis tidak pasti, maka dilakukan pemeriksaam kalium hidroksida dari
kerokan kulit dan diperiksa menggunakan mikroskop (dikenal sebagai tes KOH).
Tes ini dapat membantu penegakan diagnosis dari Athlet’s foot dan membantu
menyingkirkan kemungkinan penyebab yang lain, seperti kandidiasis, keratolisis,
erithrasma, dermatitis kontak, eksim, atau psoriasis. Dermatofitosis diketahui
menyebabkan Athlet’s foot dan akan menunjukkan beberapa hifa bersepta dan
bercabang pada mikroskop.2,3
Pada lampu wood (black light), meskipun berguna dalam mendiagnosis
infeksi jamur pada kulit kepala (Tinea kapitis), biasanya tidak membantu dalam
mendiagnosis Athlet’s foot, karena dermatofit umum yang menyebabkan penyakit
ini tidak berfluoresensi dibawah sinar ultraviolet.2,3
2.8. Tatalaksana
Secara umum penatalaksanaan Tinea pedis didasarkan atas klasifikasi dan
tipenya.3
13
Tabel 1. Klasifikasi jenis Tinea pedis dan pengobatannya
Organisme
Tipe Gejala Klinis Pengobatan
Penyebab
Moccasin Trichophyton Hiperkeratosis Antifungal
rubrum yang difus, eritema topikal disertai
dan retakan pada dengan obat-
Epidermophyton
permukaan telapak obatan
floccosum
kaki; pada keratolitik asam
Scytalidium umumnya sifatnya salisilat, urea
hyalinum kronik dan sulit dan asam laktat
S. dimidiatum disembuhkan; untuk
berhubungan mengurangi
dengan defisiensi hiperkeratosis;
Cell Mediated dapat juga
Immunity (CMI) ditambahkan
dengan obat-
obatan oral
Interdigital T. mentagrophytes Tipe yang paling Obat-obatan
sering; eritema, topikal; bisa juga
(var. interdigitale)
krusta dan maserasi menggunakan
T. rubrum yang terjadi pada obat-obatan oral
E. floccosum sela-sela jari kaki, dan pemberian
antibiotik jika
S. hyalinum terdapat infeksi
S. dimidiatum bakteri; kronik :
Candida spp. ammonium
klorida
hexahidrate 20
%
Inflamasi / T. mentagrophytes Vesikel dan bula Obat-obatan
Vesikobulosa pada pertengahan topikal biasanya
(var.
kaki; berhubungan cukup pada fase
mentagrophytes)
dengan reaksi akut, namun
dermatofit apabila dalam
keadaan berat
maka indikasi
pemberian
glukokortikoid
Ulseratif T. rubrum Eksaserbasi pada Obat-obatan
daerah interdigital; topikal;
T.
Ulserasi dan erosi; antibiotik
mentagrophytes
biasanya terdapat digunakan
E. floccosum infeksi sekunder apabila terdapat
oleh bakteri; infeksi sekunder
biasanya terdapat
pada pasien
imunokompromais
dan pasien diabetes
14
Antifungal Topikal
Obat topikal digunakan untuk mengobati penyakit jamur yang terlokalisir.
Efek samping dari obat-obatan ini sangat minimal, biasanya terjadi dermatitis
kontak alergi, yang biasanya terbuat dari alkohol atau komponen yang lain.3
a. Imidazol Topikal. Efektif untuk semua jenis Tinea pedis tetapi lebih cocok
pada pengobatan Tinea pedis interdigitalis karena efektif pada dermatofit
dan kandida.3
Klotrimazole 1 %. Antifungal yang berspektrum luas dengan
menghambat pertumbuhan bentuk yeast jamur. Obat dioleskan dua kali
sehari dan diberikan sampai waktu 2-4 minggu. Efek samping obat ini
dapat terjadi rasa terbakar, eritema, edema dan gatal.3
Ketokonazole 2 % krim merupakan antifungal berspektrum luas
golongan Imidazol; menghambat sintesis ergosterol, menyebabkan
komponen sel yang mengecil hingga menyebabkan kematian sel
jamur. Obat diberikan selama 2-4 minggu.3
Mikonazol krim, bekerja merusak membran sel jamur dengan
menghambat biosintesis ergosterol sehingga permeabilitas sel
meningkat yang menyebabkan keluarnya zat nutrisi jamur hingga
berakibat pada kematian sel jamur. Lotion 2 % bekerja pada daerah-
daerah intertriginosa. Pengobatan umumnya dalam jangka waktu 2-6
minggu.3
b. Tolnaftat 1% merupakan suatu tiokarbamat yang efektif untuk sebagian
besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida. Digunakan secara
lokal 2-3 kali sehari. Rasa gatal akan hilang dalam 24-72 jam. Lesi
interdigital oleh jamur yang rentan dapat sembuh antara 7-21 hari. Pada
lesi dengan hiperkeratosis, tolnaftat sebaiknya diberikan bergantian
dengan salep asam salisilat 10 %.3
c. Piridones Topikal merupakan antifungal yang bersifat spektrum luas
dengan antidermatofit, antibakteri dan antijamur sehingga dapat digunakan
dalam berbagai jenis jamur.3
15
Sikolopiroksolamin. Pengunaan kliniknya untuk dermatofitosis,
kandidiasis dan tinea versikolor. Sikolopiroksolamin tersedia dalam
bentuk krim 1 % yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari. Reaksi iritatif
dapat terjadi walaupun jarang terjadi.3
d. Alilamin Topikal. Efektif terhadap berbagai jenis jamur. Obat ini juga
berguna pada Tinea pedis yang sifatnya berulang (seperi hiperkeratotik
kronik).3
Terbinafine (Lamisil®), menurunkan sintesis ergosterol, yang
mengakibatkan kematian sel jamur. Jangka waktu pengobatan 1
sampai 4 minggu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa
terbinafine 1% memiliki keefektifan yang sama dengan terbinafine
10% dalam mengobati tine pedis namun dalam dosis yang lebih kecil
dan lebih aman.3
e. Antijamur Topikal Lainnya.3
Asam benzoat dan asam salisilat. Kombinasi asam benzoat dan asam
salisilat dalam perbandingan 2 : 1 (biasanya 6 % dan 3 %) ini dikenal
sebagai salep Whitfield. Asam benzoat memberikan efek fungistatik
sedangkan asam salisilat memberikan efek keratolitik. Asam benzoat
hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah
lapisan tanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya. Dapat
terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian, juga ada keluhan yang
kurang menyenangkan dari para pemakainya karena salep ini
berlemak.3
Asam Undesilenat. Dosis dari asam ini hanya menimbulkan efek
fungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan pemakaian yang lama dapat
memberikan efek fungisidal. Obat ini tersedia dalam bentuk salep
campuran yang mengandung 5 % undesilenat dan 20% seng
undesilenat.3
Haloprogin. Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik, berbentuk
kristal kekuningan, sukar larut dalam air tetapi larut dalam alkohol.
Haloprogin tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1 %3
Antifungal Sistemik
16
Pemberian antifungal oral dilakukan setelah pengobatan topikal gagal
dilakukan. Secara umum, dermatofitosis pada umumnya dapat diatasi dengan
pemberian beberapa obat antifungal di bawah ini antara lain 3
1. Griseofulvin
Merupakan obat yang bersifat fungistatik. Griseofulvin dalam
bentuk partikel utuh dapat diberikan dengan dosis 0,5 – 1 g untuk orang
dewasa dan 0,25 - 0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/kg BB.
Lama pengobatan bergantung pada lokasi penyakit, penyebab penyakit,
dan imunitas penderita. Setelah sembuh klinis dilanjutkan 2 minggu agar
tidak residif. Dosis harian yang dianjurkan dibagi menjadi 4 kali sehari. Di
dalam klinik cara pemberian dengan dosis tunggal harian memberi hasil
yang cukup baik pada sebagian besar penderita. Griseofulvin diteruskan
selama 2 minggu setelah penyembuhan klinis. Efek samping dari
griseofulvin jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama ialah
sefalgia yang didapati pada 15 % penderita. Efek samping yang lain dapat
berupa gangguan traktus digestivus yaitu nausea, vomitus dan diare. Obat
tersebut juga dapat bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi
hepar.3
2. Ketokonazole
Obat per oral, yang juga efektif untuk dermatofitosis yaitu
ketokonazole yang bersifat fungistatik. Kasus-kasus yang resisten terhadap
griseofulvin dapat diberikan obat tersebut sebanyak 200 mg per hari
selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazole
merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar.3
3. Itrakonazole
Itrakonazole merupakan suatu antifungal yangdapat digunakan
sebagai pengganti ketokonazole yang bersifat hepatotoksik terutama bila
diberikan lebih dari sepuluh hari. Itrakonazole berfungsi dalam
menghambat pertumbuhan jamur dengan mengahambat sitokorm P-45
yang dibutuhkan dalam sintesis ergosterol yang merupakan komponen
penting dalam sela membran jamur. Pemberian obat tersebut untuk
penyakit kulit dan selaput lendir oleh penyakit jamur biasanya cukup 2 x
17
100-200 mg sehari dalam selaput kapsul selama 3 hari. Interaksi dengan
obat lain seperti antasida (dapat memperlambat reabsorpsi di usus),
amilodipin, nifedipin (dapat menimbulkan terjadinya edema), sulfonilurea
(dapat meningkatkan resiko hipoglikemia). Itrakonazole diindikasikan
pada Tinea pedis tipe moccasion.3
4. Terbinafin
Terbinafin berfungsi sebagai fungisidal juga dapat diberikan
sebagai pengganti griseofulvin selama 2-3 minggu, dosisnya 62,5 mg –
250 mg sehari bergantung berat badan. Mekanisme sebagai antifungal
yaitu menghambat epoksidase sehingga sintesis ergosterol menurun. Efek
samping terbinafin ditemukan pada kira-kira 10 % penderita, yang
tersering gangguan gastrointestinal di antaranya nausea, vomitus, nyeri
lambung, diare dan konstipasi yang umumnya ringan. Efek samping
lainnya dapat berupa gangguan pengecapan dengan presentasinya yang
kecil. Rasa pengecapan hilang sebagian atau seluruhnya setelah beberapa
minggu makan obat dan bersifat sementara. Sefalgia ringan dapat pula
terjadi. Gangguan fungsi hepar dilaporkan pada 3,3 % - 7 % kasus.
Terbinafin baik digunakan pada pasien Tinea pedis tipe moccasion yang
sifatnya kronik. Pada suatu penelitian ternyata ditemukan bahwa
pengobatan Tinea pedis dengan terbinafine lebih efektif dibandingkan
dengan pengobatan griseofulvin.3
2.9. Prognosis
Jenis tinea pedis dan kondisi yang mendasarinya (misalnya imunosupresi,
diabetes) mempengaruhi prognosis, namun dengan pengobatan yang tepat,
prognosis umumnya baik. Tinea pedis tidak terkait mortalitas atau morbiditas
yang signifikan.6
18
TINJAUAN PUSTAKA
ONIKOMIKOSIS
2.10. Definisi
Onikomikosis adalah infeksi jamur pada kuku yang disebabkan
oleh dermatofit, jamur nondermatofit, atau ragi. Secara klinis terdapat 3
tipe onikomikosis: DLSO (Distal Lateral Subungual Onychomycosis,
PSO (Proximal Subungual Onychomycosis), SWO (Superficialis White
Onychomycosis).3
2.11. Epidemiologi
Onikomikosis adalah penyakit kuku yang paling sering yang
mana menyumbang sekitar 50% dari penyebab onikodistrofi. Insidennya
meningkat pada usia tua. Kejadian onikomikosis juga meningkat pada
anak-anak, dan remaja, hingga 20% diagnosis infeksi dermatofit pada
anak-anak. Faktor resikonya usia, jenis kelamin pria, trauma kuku,
keadaan immunosupresi, dan insufisien vaskular perifer. dermatofitosis
biasanya diawali dengan tinea pedis sebelum menyebar ke dasar kuku,
yang mana pengobatan akan lebih sulit. Bagian ini bisa menjadi reservoir
kekambuhan atau infeksi penyebaran infeksi. Pasien dengan
onikomikosis kaki memperlihatkan adanya infeksi kulit dengan
prevalensi hingga 40%, dan yang paling sering tinea pedis 30%.3
2.12. Etiopatogenesis
Penyebab tersering kasus onikomikosis adalah dermatofita, 90%
oleh T. rubrum dan T. interdigitale dari semua kasus. T. tonsurans dan
E. floccosum juga telah dimasukan sebagai penyebab. Ragi dan jamur
nondermatofit seperti Acremonium, Aspergillus, Fusarium,
Scopulariopsis brevicaulis, dan Scytalidium sebagai penyebab
onikomikosis kaki (10%). Terdapat sekitar 30% kasus dengan penyebab
Candida spp, sedangkan jamur nondermatofit tidak terdeteksi pada
penyakit kuku.3
2.13. Manifestasi klinis
Tipe distolateral subungual (DSLO), bentuk yang paling sering
dari onikomikosis, dimulai dengan invasi stratum korneum hiponikium
dan dasar kuku distal, membentuk keruh sampai kuning kecoklatan di
tepi distal kuku. Infeksi kemudian menyebar secara proksimal ke dasar
kuku, ke lempeng kuku. Hiperproliferasi dasar kuku dalam merespon
infeksi menghasilkan hyperkeratosis subungual, selama terjadi invasi
yang progresif pada lempeng kuku akan meningkatkan kuku distrofi.
20
Gambar 7. tipe proksimal subungual3
21
pasien dengan gangguan sistem imun. Beberapa pola onikomikosis
dapat terjadi pada individu yang sama, paling sering dengan kombinasi
PSO dengan WSO atau DLSO dengan WSO. Infeksi bakteri sekunder
pada kuku mungkin terjadi. Infeksi Pseudomonas aeruginosa hadir
sebagai perubahan warna hijau atau hitam di bawah kuku. Kemungkinan
memiliki infeksi campuran dengan dermatofit dan bentuk ragi, seperti
Candida.3
22
hadir secara dangkal pada bagian dorsal kuku dan tampak "perforasi
organ" yang unik dan "eroding fronds." Pada onikomikosis candidal
terdapat invasi pseudohyphae di seluruh lempeng kuku, kutikula yang
berdekatan, lapisan granular, dan stratum spinosum pada dasar kuku,
serta stratum korneum hyponychial.3
2.15. Tatalaksana
Terapi Topikal, terapi topikal (tabel 1) Regimen terapi kombinasi
mungkin memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi daripada
perawatan oral atau topikal saja. Penelitian telah dilakukan dengan
menggunakan rejimen terapi kombinasi dengan tioconazole topikal,
ciclopirox, dan amorolfine dengan hasil yang beragam. Aktivitas
fungisida in vitro yang ditunjukkan oleh timol, kapur barus, mentol, dan
minyak Eucalyptus citriodora menawarkan potensi strategi terapi
tambahan untuk mengobati onikomikosis. Timol 4% yang disiapkan
dalam etanol digunakan sebagai tetes yang diaplikasikan pada lempeng
kuku dan mungkin hiponykium. Aplikasi untuk kuku persiapan topikal
yang tersedia secara komersial dengan timol, seperti Vicks VapoRub,
telah secara anekdot membuahkan kesuksesan. Terapi topikal mungkin
berguna sebagai sarana untuk mencegah kekambuhan.
Intervensi Mekanik, Pemangkasan, debridemen, kuretase bedak
kuku, dan abrasi kuku dapat mempercepat pengiriman obat ke tempat
tindakan. Pilihan lain untuk kasus refraktori termasuk laser, operasi
avulsi, atau pengangkatan kuku secara kimia dengan 40%.3
23
Tabel 2. Terapi topikal antijamur3
2.16. Prognosis
Baru-baru ini obat anti jamur mengalami kemajuan dalam
beberapa decade terakhir, memiliki kemanjuran yang unggul, penemuan
pengobatan yang lebih cepat dan lebih sedikit interaksi obat-obat.
Namun, terlepas dari kemajuan ini, banyak pasien gagal mencapai
kesembuhan total, dan mungkin memiliki tingkat kekambuhan yang
tinggi. Karena diketahui banyak faktor yang terkait dengan respons
buruk terhadap onikomikosis.6
24
DAFTAR PUSTAKA
25