Anda di halaman 1dari 24

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1 Pengertian Analisa SWOT


Analisis SWOT adalah suatu bentuk analisis yang digunakan oleh
manajemen perusahaan atau organisasi yang sistematis dan dapat membantu dalam
usaha penyusunan suatu rencana yang matang untuk mencapai tujuan perusahaan atau
organisasi tersebut. Baik tujuan tersebut untuk tujuan jangka panjang maupun tujuan
jangka pendek. Selain itu, analisis SWOT juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk
analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi suatu gambaran) tentang
sebuah perusahan atau organisasi. Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi
sebagai sebagai faktor yang di jadikan masukan. Dan kemudian masukan tersebut
dikelompokkan sesuai kontribusinya masing-masing.

Satu hal yang perlu diperhatikan bagi pangguna analisa ini, bahwa analisa
SWOT semata-mata hanya digunakan sebagai suatu analisa saja, yang ditujukan
untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi sebuah perusahaan atau
oraganisasi. Analisis SWOT bukan sebuah alat yang mampu memberikan jalan keluar
dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Pengertian analisis SWOT menurut para ahli :


1. Menurut Kotler & Armstrong (2008:64)
Analisis SWOT adalah penilaian menyeluruh terhadap kekuatan
(strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman
(threats) suatu perusahaan. Analisis ini diperlukan untuk menentukan
beberapa strategi yang ada di perusahaan. Salah satunya yang kita bahas
adalah strategi promosi dan penempatan produk.
2. Menurut David (Fred R. David, 2008,8)
Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area
fungsional bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya
dalam semua area bisnis.
Kekuatan/kelemahan internal, digabungkan dengan peluang/ancaman dari
eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan
strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan
internal dan mengatasi kelemahan.

Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT yaitu:


a. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain
yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang
dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan
adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi
perusahaan di pasar.
b. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya,
keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja
perusahaan. Keterbatasan tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya
keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat
meruoakan sumber dari kelemahan perusahaan.
c. Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan
perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu
sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan
antara perusahaan dengan pembeli atau pemasokk merupakan gambaran
peluang bagi perusahaan.
d. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan
perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang
atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah
yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan
perusahaan.

Dalam penelitian analisa SWOT kita dapat memproleh hasil berupa


kesimpulan-kesimpulan yang berdasarkan ke-4 faktor yaitu :

1) Strategi Kekuatan-Kesempatan (S dan O atau Maxi-maxi)


Strategi yang dihasilkan pada kombinasi ini iyalah
dapat memanfaatkan kekuatan atas peluang yang telah diidentifikasi.
Contoh: bila kekuatan perusahaan ada pada keunggulan teknologinya, maka
keunggulan ini harus dapat dimanfaatkan untuk mengisi suatu segmen pasar
yang membutuhkan tingkat teknologi serta kualitas yang lebih maju, yang
keberadaanya serta kebutuhannya telah diidentifikasi pada analisis ini.

2) Strategi Kelemahan-Kesempatan (W dan O atau Mini-maxi)


Kesempatan yang telah diidentifikasi tidak mungkin dapat
dimanfaatkan dikarenakan kelemahan suatu perusahaan. Contoh : jaringan
distribusi pada pasar tersebut tidak dipunyai oleh perusahaan. Salah satu
strategi yang dapat dilakukan iyalah bekerjasama dengan perusahaan yang
juga mempunyai kemampuan menggarap pasar tersebut. Pilihan strategi lain
iyalah dapat mengatasi kelemahan agar dapat memanfaatkan kesempatan.

3) Strategi Kekuatan-Ancaman (S atau T atau Maxi-min)


Dalam analisa ancaman juga ditemukan kebutuhan untuk
mengatasinya. Strategi ini iyalah mencoba mencari kekuatan yang dimiliki
perusahaan yang digunakan untuk dapat mengurangi atau menangkal ancaman
tersebut. Misalnya ancaman perang harga.

4) Strategi Kelemahan-Ancaman (W dan T atau Mini-mini)


Dalam situasi harus menghadapi ancaman serta sekaligus kelemahan
intern, strategi yang umumnya iyalah “keluar” dari situasi yang terjepit
tersebut. Keputusan yang diambil iyalah “mencairkan” sumber daya yang
terikat pada suatua situasi yang mengancam tersebut, serta mengalihkan pada
usaha lain yang lebih cerah. Siasat lainnya iyalah dengan mengadakan
kerjasama dengan satu perusahaan yang lebih kuat, dengan harapan ancaman
tersebut saat akan hilang. Dengan mengetahui situasi atau masalah yang akan
dihadapi, anak perusahaan juga dapat mengambil langkah-langkah yang perlu
serta bertindak dengan mengambil kebijakan-kebijakan yang terarah
serta mantap, dengan kata lain perusahaan tersebut dapat menerapkan strategi
yang tepat.

Cara Membuat Analisis SWOT


Kinerja perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan
eksternal. Kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT.
SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Streghts dan Weaknesses serta
lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis
SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang ( opportunities) dan
Ancaman (thearts) dengan faktor internal Kekuatan (strengths) dan Kelemahan
(weaknesses).

1. Kuadran I :
Ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan perusahaan tersebut, memiliki
peluang dan kekuatan sehinga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi
yang harus ditetapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan
pertumbuhan yang agresif ( Growth Oriented Strategi ).
2. Kuadran II :
Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan ini masih memiliki
kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan
kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi di
versifikasi ( produk atau pasar ).
3. Kuadran III :
Perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar tetapi dilain pihak, ia
menghadapi beberapa kendala atau kelemahan internal. Kondisi bisnis pada
kuadran 3 ini mirip dengan Question Mark pada BCG matrik. Fokus strategi
perusahaan ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan
sehingga dapat merebut peluang pasar yang baik.
4. Kuadran IV :
Ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut
menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.

3.2 Sarana manajemen pengkajian 5M

Menurut Harrington Emerson dalam Phiffner John F. dan Presthus Robert


V. (1962) manajemen mempunyai lima unsur (5M), yaitu:

1. Men
2. Money
3. Materials
4. Machines, and
5. Methods

Peterson 0.F., member of Indiana Univercity memasukan unsur mesin ke


dalam material dan metode diberi istilah the use sehingga katanya, “Management
is the use of man, money and materials to achieve a common goal”. Ada lagi
seorang ahli bernama Mooney James D., 1954, is memasukan unsur-unsur uang,
material dan mesin ke dalam istilah yang disebut fasilitas sehingga unsur-unsur
manajemen adalah

1. Men
2. Facilities
3. Method

George R. Terry dalam bukunya Principle of Management mengatakan,


terdapat enam sumber daya pokok dari manajemen, yaitu:
(1) Men and women
(2) Materials
(3) Machines
(4) Methods
(5) Money
(6) Markets

Sistematika pandangan para ahli itu jelas menunjukan, manusia


merupakan unsur manajemen yang pokok. Manusia tidak dapat disamakan
dengan benda, is mempunyai peranan, pikiran, harapan serta gagasan. Reaksi
psikisnya terhadap keadaan sekeliling dapat menimbulkan pengaruh yang lebih
jauh dan mendalam serta sukar untuk diperhitungkan secara seksama. Oleh
karena itu, manusia perlu senantiasa diperhatikan untuk dikemhangkan ke arah
yang positif sesuai dengan martabat dan kepribadiannya sebagai manusia. Sejalan
dengan pandangan itu, Harold Konntz dan Cyril O’Donnel (1972) menegaskan,
“Manage-ment is the development of people, not the direction of thing.” :

1. Man
merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi.
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia
yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk
mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada
dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul
karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
2. Money atau Uang
merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan
dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena
itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena
segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja,
alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
dari suatu organisasi.
3. Material
terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam
dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai
salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa
materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
4. Methode
Adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan
maneje. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan
kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan
kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu serta
uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat, meskipun metode baik, sedangkan
orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai
pengalaman, maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian,
peranan utama dalam manajemen tetap manusianya

5. Machine atau Mesin


digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan
yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja. Sedangkan metode adalah
suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah
metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas
dengan memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran,
fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan
kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang
melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka
hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam
manajemen tetap manusianya sendiri.
6. Market atau pasar
adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan)
produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila
barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan
berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu,
penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor
menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan
harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli
(kemampuan) konsumen.

3.3 Depresi

Definisi Depresi

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan


dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa
putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010).

Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat


disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter
(noradrenalin, serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP (terutama pada sistem
limbik) (Maslim, 2002).
Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai
oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat.
Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan
afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu (Kaplan, 2010).

Jenis- jenis Depresi

Penggolongan depresi dapat dibedakan

Menurut gejalanya

 Depresi neurotic

Depresi neurotik biasanya terjadi setelah mengalami peristiwa yang


menyedihkan tetapi yang jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali
dipenuhi trauma emosional yang mendahului penyakit misalnya kehilangan orang
yang dicintai, pekerjaan, milik berharga, atau seorang kekasih. Orang yang menderita
depresi neurotik bisa merasa gelisah, cemas dan sekaligus merasa depresi. Mereka
menderita hipokondria atau ketakutan yang abnormal seperti agrofobia tetapi mereka
tidak menderita delusi atau halusinasi.

 Depresi psikotik

Secara tegas istilah 'psikotik' harus dipakai untuk penyakit depresi yang
berkaitan dengan delusi dan halusinasi atau keduanya.

 Psikosis depresi manik

Depresi manik biasanya merupakan penyakit yang kambuh kembali disertai


gangguan suasana hati yang berat. Orang yang mengalami gangguan ini menunjukkan
gabungan depresi dan rasa cemas tetapi kadang-kadang hal ini dapat diganti dengan
perasaan gembira, gairah, dan aktivitas secara berlebihan gambaran ini disebut
'mania'.
Menurut arah penyakit
 Depresi tersembunyi

Diagnosa depresi tersembunyi (atau atipikal) kadang-kadang dibuat bilamana


depresi dianggap mendasari gangguan fisik dan mental yang tidak dapat diterangkan,
misalnya rasa sakit yang lama tanpa sebab yang nyata atau hipokondria atau
sebaliknya perilaku yang tidak dapat diterangkan seperti wanita lanjut usia yang suka
mengutil.

 Berduka

Proses kesedihan itu wajar dan merupakan reaksi yang diperlukan terhadap suatu
kehilangan. Proses ini membuat orang yang kehilangan itu mampu menerima
kenyataan tersebut, mengalami rasa sakit akibat kesedihan yang menimpa, menderita
putusnya hubungan dengan orang yang dicintai dan penyesuaian kembali.

 Depresi pascalahir

Banyak wanita kadang-kadang mengalami periode gangguan emosional dalam


10 hari pertama setelah melahirkan bayi ketika emosi mereka masih labil dan mereka
merasa sedih dan suka menangis. Seringkali hal itu berlangsung selama satu atau dua
hari kemudian berlalu.

 Depresi dan manula

Usia tua merupakan saat meningkatnya kerentanan terhadap depresi. Namun,


kadang-kadang depresi pada manula ditutupi oleh penyakit fisik dan cacat tubuh
seperti penglihatan atau pendengaran yang terganggu. Oleh karena itu, sangatlah
penting untuk mengingat kemungkinan terjadinya penyakit depresi pada orang tua.

Faktor Pencetus

Ada empat sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam
perasaan (Sundeen,Stuart,1998:260):
 Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang dibayangkan, termasuk
kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan, atau harga diri.
Karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan,
maka persepsi pasien merupakan hal yang sangat penting.
 Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah
yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
 Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi
perkembangan depresi, terutama pada wanita.
 Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai
penyakit fisik, seperti infeksi, neoplasma, dan gangguan keseimbangan
metabolik, dapat mencetuskan gangguan alam perasaan.

Gambaran Klinis

Gejala umumnya,banyak diantara mereka muncul dengan menunjukkan


sikap rendah diri, dan biasanya sulit untuk didiagnosa (Evans, 2000).

Perubahan Fisik
Penurunan nafsu makan.
Gangguan tidur.
Kelelahan dan kurang energy
Agitasi.
Nyeri, sakit kepala, otot keran dan nyeri, tanpa penyebab fisik.

Perubahan Pikiran
Merasa bingung, lambat dalam berfikir, penurunan konsentrasi dan sulit
mengungat informasi.
Sulit membuat keputusan dan selalu menghindar.
Kurang percaya diri.
Merasa bersalah dan tidak mau dikritik.
Pada kasus berat sering dijumpai adanya halusinasi ataupun delusi.
Adanya pikiran untuk bunuh diri.

Perubahan Perasaan
Penurunan ketertarikan ddengan lawan jenis dan melakukan
hubungan suami istri.
Merasa bersalah, tak berdaya.
Tidak adanya perasaan.
Merasa sedih.
Sering menangis tanpa alas an yang jelas.
Iritabilitas, marah, dan terkadang agresif.

Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari


Menjauhkan diri dari lingkungan sosial, pekerjaan.
Menghindari membuat keputusan.
Menunda pekerjaan rumah.
Penurunan aktivitas fisik dan latihan.
Penurunan perhatian terhadap diri sendiri.
Peningkatan konsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang.

Tanda dan gejala depresi lainnya :


 Gangguan alam perasaan pervasive
 Kesedihan,kehilangan semangat
 Menangis
 Ansietas,serangan panic
 Murung
 Iritabilitas
 Pernyataan merasa sedih, “blue”,tertekan,rendah,atau susah” dan perasaan bahwa
tidak ada satupun yang menyenangkan
 paranoia
 Gangguan persepsi diri,lingkungan,masa depan
 Menarik diri dari aktivitas-aktivitas biasa
 Penurunan gairah seks
 Ketidakmampuan mengekspresikan kesenangan
 Perasaan tidak berharga
 Ketakutan yang tidak beralasan
 Pendekatan diri kembali pada kegagalan kecil
 Delusi
 Halusinasi(durasi singkat)
 Kritik yang ditujukan pada diri sendiri dan orang lain
 Pasif
 Vegetative
 Penigkatan atau penurunan gerakan tubuh
 Mondar-mandir,meremas-remas tangan,menarik atau mengusap
rambut,tubuh,ataupun pakaian
 Sulit tidur,terus terjaga,terbangun dini hari
 Penurunan atau terkadang penigkatan nafsu makan
 Penurunan atau terkadang peningkatan berat badan
 Keletihan
 Terpaku pada kesehatan fisik,terutama ketakutan terhadap kanker
 Ketidakmampuan berkonsentrasi,berpikir jernih,atau membuat keputusan
 Bicara lambat,berhenti sejenak sebelum menjawab,penurunan jumlah
bicara,bicara rendah atau monoton
 Berpikir tentang kematian
 Bunuh diri atau upaya bunuh diri
 Konstipasi
 Takikardia
Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis

Gangguan depresi pada usia lanjut ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III
(Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) yang merujuk pada ICD 10
(International Classification Diagnostic10).Gangguan depresi dibedakan dalam
depresi berat, sedang, dan ringan sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta
dampaknya terhadap fungsi kehidupan seseorang (Maslim,2000).

Gejala Utama :

• Perasaan depresif
• Hilangnya minat dan semangat
• Mudah lelah dan tenaga hilang

Gejala Lain

• Konsentrasi dan perhatian menurun


• Harga diri dan kepercayaan diri menurun
• Perasaan bersalah dan tidak berguna
• Pesimis terhadap masa depan
• Gagasan membahayakan diri atau bunuh diri
• Gangguan tidur
• Gangguan nafsu makan
• Menurunnya libido

Tingkat Gejala Gejala Fungsi Keterangan


Depresi Umum Lain
Ringan 2 2 Baik -

Sedang 2 3-4 Terganggu Nampak


distress
Berat 3 >4 Sangat Sangat
terganggu distress

3.4 Krisis Manajemen

Struges (1994) menguraikan tentang model Fink (1986) model ini


menggambarkan bagaimana tindakan yang berbeda diperlikan selama berbagai proses
fase krisis. Sruges (1994) mengusulkan bahwa berbagai jenis komunikasi ditekankan
pada berbagai tahapan siklus hidup krisis. Fase akut didominasi oleh ledakan krisis.
Stakeholders tidak tau apa yang terjadi; oleh karena itu, mereka memerlukan
informasi tentang bagaimana krisis mempengaruhi mereka dan apa yang harus
mereka lakukan untuk melindungi diri. Contohnya, informasi seperti apakah publik
harus mengevaluasi daerah atau apakah karyawan harus laporan berikutnya informasi
harus sangat relevan. Sebaliknya, resolusi tahap melihat akhir krisis.

Ian Mitroff (1994) ia membagi manajemen krisis ke lima tahapan: (1) Deteksi
sinyal: krisis baru tanda peringatan harus diidentifikasi dan ditindaklanjuti untuk
mencegah krisis, (2) Menyelidiki dan pencegahan: anggota organisasi mencari tau
faktor resiko krisis dan bekerja untuk mengurangi potensi bahaya, (3) penahan
kerusakan: anggota organisasi mencoba untuk mencegah kerusakan menyebar ke
bagian organisasi yang tidak terkontaminasi atau lingkungannya, (4) Pemulihan:
anggota organisasi kembali bekerja normal ke bisnis yang dijalankan sesegera
mungkin, dan (5) Belajar: anggota oraganisasi mengulas dan mengkritik upaya keluar
dari manajemen krisis dan menjadikan ingatan untuk organisasi. Model Mitroff
menengkankan bagaimana tim manajemen krisis dapat memefasilitasi pemulihan
sementara model Finn (1986) memulihkan dokumen dengan berbagai kecepatan.

Mitroff (1994) fokus pada manajemen krisis dari pada hanya mendeskripsikan
krisis. Model Fink hanya memecatat bahwa tahap resolusi terjadi ketika krisis tidak
lagi menjadi perhatian. Untuk Fink, penghentian manandai akhir krisis fungsi
manajemen. Sebaliknya, model Mitroff menganggap siklus merupakan awal yang
baru untuk memulai. Karena, upaya pengelolaan krisis ditinjau dan di kritik dalam
rangka untuk menentukan cara untuk meningkatkan sistem.

Model Richardson (1994) dibagi menjadi tiga, (1) fase sebelum krisis atau
pra bencana, dimana tanda peringatan mucul dan orang – orang mencoba untuk
menghilangkan resiko. (2) dampak krisis atau fase penyelamatan, dimana krisis hits
dan dukungan yang tersedia bagi mereka yang terlibat di dalamnya, dan (3)
pemulihan atau fase kematian, dimana kepercayaan para stakeholders dipulihkan.
Berikut ada tiga tahap makro: sebelum krisis, krisis, pasca krisis. Istilah makro berarti
bahwa setiap tahap mengandung sejumlah lebih spesifik tahap sub tingkatan mikro.

Menurut Gary Kreps(1990), managemen krisis merupakan sebuah proses


yang menggunakan aktivitas public relations untuk mengatasi akibat negative,
misalnya kerusakan-kerusakan yang dialami organisasi. Tujuan dari manajemen krisis
adalah untuk menghentikan dampak negative dari suatu peristiwa melalui upaya
persiapan dan penerapan beberapa strategi dan taktik.

Manajemen krisis adalah upaya untuk menekan faktor ketidakpastian dan


faktor resiko hingga tingkat serendah mungkin, dengan demikian akan lebih mampu
menampilkan sebanyak mungkin faktor kepastiannya. Sebenarnya yang disebut
manajemen krisis itu diawali dengan langkah mengupayakan sebanyak mungkin
informasi mengenai alternatif-alternatif, maupun mengenai probabilitas, bahkan jika
mungkin mengenai kepastian tentang terjadinya, sehingga pengambilan keputusanan
mengenai langkah-langkah yang direncanakan untuk ditempuh, dapat lebih
didasarkan pada sebanyak mungkin dan selengkap mungkin serta setajam (setepat)
mungkin informasinya.

Karakteristik Krisis

Kharakteristik dapat dijadikan alat untuk membedakan anatara krisis dengan


isu. Karakeristik krisis antara lain:

1. Peristiwa yang spasifik (specific event).


Penyebab krisis dapat diketahui. Suatu organisasi dapat mengalami
satu macam krisis, seperti demostrasi karyawan atau krisis yang menerpa
produknya. Tetapi, dimungkinkan pada saat yang sama, organisasi
tersebut mengalami dua macam atau lebih krisis.

2. Krisis bersifat tidak diharpkan dan dapat terjadi setiap saat.


Krisis cenderung mengacam kehidupan organisasi atau publiknya,
sehingga tidak seorang pun dalam organisasi yang mengharapkan krisis
terjadi. Krisis terjadi sebagai bagian dari aktivitas organisasi. Krisis tidak
diharapkan karena dapat menghasilkan kerusakan, ancaman, menimbulkan
korban jiwa, dan dapat mengubah sistem sosial-budaya. Krisis bersifat
tidak terduga, artinya organisasi mengerti bahwa suatu isu jika tidak
diatasi dengan baik akan memicu krisis, tetapi organisasi tidak dapat
memastikan kapan krisis tersebut terjadi (Coombs, 2007b:136).
3. Krisis mencipkan ketidakpastisan Informasi.
Pada awal krisis, biasanya muncul rumor. Rumor adalah informasi yang
tidak jelas dari mana asalnya, siapa yang membawanya, dan kebenaranya
tidak dapat dipertanggungjawabkan. Rumor terjadi karena sitiap orang
mempunyai kesempatan untuk mengira – mengira atau membuat analisis
sendiri tentang apa yang terjadi. Untuk mengatasinya, Public relations
mesti proaktif dan menyediakan saluran komunikasi yang dapat
menyebarkan informasi yang benar kepada publik. Jika tidak, maka rumor
kan menyebar keluar organisai. Menurut G. Harrison (2005), aktivitas
Public relations dalam menyediakan pesan – pesan yang relevan dengan
situasi krisis dan membuka saluran komunikasi yang terbuka, disebut
sebagai komunikasi krisis (crisis communication).
4. Menimbulkan kepanikan.

Kepanikan bisa muncul akibat ketidakpastiaan dan kekurangan


informasi. Situasi ini memunculkan rumor yang tidak jelas sumber dan
kebenarannya.
5. Menimbulkan dampak bagi oprasional organisasi.
Krisis menimbulkan dampak bagi oprasional oraganisas. Dampak ini
dapat bersifat negatif, seperti penurunan profil, penurunan kepercayaan
publik, pemerintah dan publik tiada henti – hentinya memberikan
perhatian besar atau bahkan menginvestigasi organisasi, mengancam
reputasi dan nama organisasi, perubahan yang bersifat tidak produktif
(misalnya kehilangan modal, pengunduran diri karyawan dan pemutusan
hubungan kerja masal, dan hilangnya waktu untuk mengatasi konflik).
Krisis juga dapat memunculakan dampak yang tidak terduga – duga,
seperti masalah – masalah yang selama ini terpendam tiba - tiba muncul
ke permukaan dan munculah kompetitor baru. Tetapi, krisis juga
berpotensi menjadi awal yang baik bagi organisasi, seperti munculnya
pahlawan baru atau seseorang yang akhirnya menjadi pemimpin baru yang
membawa organisasi keluar dari krisis, munculnya strategi-strategi baru
(misalnya organisasi mulai berfikir perlunya strategi komunikasi baru atau
sistem “early warning” yang baru), munculnya kebujakan – kebijakan
baru ( misalnya, organisasi membuat aturan baru untuk mencegah krisis
terjadi lagi), dan peluang memunculakan perubahan yang lebih baik. Agar
krisis dapat menjadi titik balikmenuju yang lebih baik maka organisasi
dituntut merencanakan dan melaksanakan strategi krisis dengan baik
selama dan sesudah krisis (post crisis communication).
6. Berpotensi menimbulakan konflik.
Konflik terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan
kenyataan. Konflik bisa terjadi di internal organisasi atau juga antara
organisasi dengan publik eksternal (konflik eksternal). Krisis
memunculkan media massa dan perhatikan publik yang terus – menerus.
Sumber dan Jenis Krisis

G. Harrison (2005) dan White & Mazur (1995) menyimpulakan bahwa krisis
secara umum dapat disebebkan oleh dua sumber, yaitu dari dalam dan dari luar
organisasi. Sumber krisis dari dalam organisasi antara lain: manusia, manajemen, dan
teknologi. Sumber dari luar, yaitu peraturan – peraturan pemerintah, bencana alam,
dan kerusakanyang dilakukan orang lain (malevolent).

Berdasarkan sumber – sumber krisis di atas, krisis dpat dikelompokan ke dlam


beberapa jenis, yaitu:

a. Krisis teknologi.
Krisis yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan teknologi tertentu
dalam oprasional organisasi. Contoh: kasus ledakan nuklir Chernobyl di
Rusia, kesalahan pengeboran yang diduga menyebabkan lumpur meluap di
Sidoarjo Krisis Lumpu Lapindo, 2006 sampai sekarang, menewaskan 14
orang dan membuar 60 ribu orang kehilangan rumah dan desanya, bocornya
kilang kimia di Bhopal India yang menewaskan ribuan orang pada 1980-an
atau tumpahnya minyak dari tangker milik Exxon Valdez yang mencemari
Alaska pada 1989. Peluncuran roket milik Korea Utara pada April 2012
menimbulkan krisis antara Korea Utara dan beberpa negara tetangga adalah
krisis yang disebabkan oleh penggunaan teknologi roket yang dituduh oleh
negara – negara Barat membawa nuklir yang dilarang oleh PBB (meski
tuduhan ini tidak terbukti).
b. Krisis konfrontasi.
Relasi yang baru antara organisasi dan publik dapat merangsang
terjadinya konfrontasi, yang akhirnya memicu krisis. Ini terjadi bila publik
mengekspresikan kemarahanya (public outrage) karena ketidakpuasaanya
terhadap operasi sehari – hari organisasi. Demonstrasi besar – besaran
menentang kenaikan bahan bakar minyak di tahun 2012 adalah krisis akibat
tindakan pemerintah yang menaikan BBM.
c. Krisis malevolence.
Terjadi bila seseorang atau sekelompok mempunyai keinginan untuk
menjatuhkan atau membahayakan organisasi, seperti sabotase atau teroris
yang mengebom area bisnis dan menggangu aktivitas organisasi. Bom Bali,
tahun 2002 yang menewaskan 202 orang adalah contoh krisis yang
diakibatkan ulah manusia yang merusak.
d. Krisis manajemen.
Terjadi karena kelompok manajemen gagal melaksanakan tanggung
jawabnya. Sebagai contoh: korupsi yang dilakukan manajemen, seseorang
manajer bank yang kalah dalam permainan valas, pergantian manajemen, take
over (akusisi). Kasus – kasus korupsi wisma atlet dan proses pemilihan ketua
partai yang melibatkan para petinggi Partai Demokrat pada 2011-2012 adalah
krisis yang bersumber pada perilaku manajemen partai.

e. Krisis bencana alam.

Krisis yang disebabkan oleh bencana alam yang mempengaruhi


aktivitas organisasi, seperti banjir, tanah longsir, dan gempa bumi. Contoh:
Tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, yang menewaskan 216 ribu orang dan
kerusakan harta benda; angin dahyat Hurricane Katrina yang menyerang
Amerika Serikat bagian Tenggara pada Agustus 2005, menewaskan 4 ribu
orang, me-rusak 160 ribu rumah dan membuat 900 ribu orang kehilangan
pekerjaan dan meletusnya Gunung Merapi di Jawa Tengah.

f. Krisis produk.

Krisis yang diakibatkan oleh kesalahan produk, seperti sebuah produk


yang mengandung zat berbahaya. Keracuanan produk Tylanol milik Johnson
and Johnson di tahun 1982 adalah salah satu contoh.
Tahapan Krisis

Secara umum krisis berkembang melalui tiga tahap (Jacques, 2007). Tahapan
tersebut adalah:

1. Pra-krisis (pre- crisis)


Pra-krisis terjadi ketiak situasi serius mulai muncul dan organisasi
menyadarina. Pada tahap ini, anggota organisasi baik manajemen maupun
karyawan dimungkinkan telah mengetahui tanda – tanda akan terjadinya
krisis. Tetapi, jika situasi tersebut dibiarkan tanpa mengambil tindakan
pencegahan maka dapat membuat situasi berkembang menjadi krisis yang
besar. Contoh, beberapa petugas telah mengatisipasi adanya kebocoran di
pabrik kimia Union Carbide. Tetapi, antisipasi kebocoran ini tidak
disampaikan ke pabrik Union Carbide yang ada di Bhopal. Akibat tidak
tersambungnya informasi ini, menyebabkan pabrik di Bhopal bocor dan
gas kimianya menewaskan sekitar 2.000 orang. Pada tahap ini, kesiapan
menghadapi adalah faktor terpenting. Kesipan ini diperoleh dari upaya
mengantisipasi kemungkinan – kemungkinan munculnya krisis ( melalui
manajemen isu). Jika memang krisis tidak dapat dihindari, tetapi karena
sudah diantisipasi lebih awal maka organisasi suadah mempunyai
perencanaan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi terburuk.
Pada stuasi, ini media massa mulai mencium adanya sesuatu yang tidak
beres terjadi sehingga para wartawan muali melakukan investigasi untuk
memberitakan kepada masyarakat.
2. Krisis (acute crisis)
Tahap krisis (krisis akut) terjadi ketika situasi tidak dapat
dimanajemen dengan baik oleh organisasi. Contohnya yang seringterjadi
adalah kasus makanan beracun (misalnya biskuit dan mie instan) atau
pemogokan karyawan menuntut kesejahteraan. Sebenarnya kedua jenis
krisis ini dapat dihindari jika manajemen melakukan antisipasi
sebelumnya. Jika manajemen menyadari bahwa biskuit yang di
produksinya mempunyai potensi membuat orang keracuan, maka mereka
akan selalu melakukan pengawasan ketat terhadap kuliatas produk. Pada
tahap ini, jalan terbaik yang dilakukan adalah meminimalkan akibat krisis,
jangan munculkan korban – korban baru, termasuk mengisolasi krisis agar
tidak meluas. Prioritasnya adalah menjamin keselamatan publik, bukan
berkutat untuk memcari tau penyebab krisis. Meskipun, misalnya belum
dapat dipastikan secara ilmiah karena masih menunggu hasil tes
laboratorium, produk yang “beracun” tersebut langsung saja ditarik dari
pasaran terlebih dahulu. Peristiwa kecelakan super jet 100 Sukhoi milik
Rusia yang sedang demo-flight di Gunung Salak Jawa Barat adalah contoh
suksesnya manajemen krisis pemerintah pada fase ini. Dalam waktu
singkat setelah kejadian diketahui oleh menara kontrol bandara (hilang
kontak dengan pesawat), tim gabungan dari SAR, TNI, Polisi, Komite
Nasional Keselamatan Transportasi langsung bergerak. Posko didirikan di
sekitar lokasi Halim Jakarta, yang memungkinkan akses informasi secara
terbuk. Presiden SBY pun langsung mengunjungi keluarga di posko Halim
dan menjalin kerja samadengan pihak Rusia.

3. Pascakrisis (post-crisis)
Terjadi ketika sudah terakumulasi dan organisasi berupaya
memp[ertahankan citranya atau kehilangan citra tersebut. Masa ini
organisasi berupaya untuk memperbaiki segala akibat yang ditimbulkan
krisis (recovery). Berbagai upaya dimasa ini yang menentukan citra
organisasi, memnentukan manajemen mengatasi krisis. Jika gagal,
kemungkinan terburuk adalah kebangkrutan. Jika manajemen dapat
mengendalikan krisis, misalnya para korban mendapat santuan, produk
ditarik kembali, penyebab sudah diketahui, maka fase ini juga dapat
digunakan untuk refleksi diri agar situasi yang sam tidak terulang.
DAFTAR PUSTAKA

Cotton, F. A., & Wilkinson, G. (1988). Advanced inorganic chemistry (Vol. 594, p.
1962). New York: Wiley.

David, F. R. (2011). Strategic management: Concepts and cases. Peaeson/Prentice


Hall.

Emerson, H. (1912). The twelve principles of efficiency. Engineering magazine.

Fink, S. (1986). Crisis management: Planning for the inevitable. American


Management Association.

Presthus, R. (1962). Toward the organizational society.

Rangkuti, F. (1998). Analisis SWOT teknik membedah kasus bisnis. Gramedia


Pustaka Utama

Rangkuti, F. (2006). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis: reorientasi


konsep perencanaan strategi untuk menghadapi abad 21. Cetakan ke, 14.

Sadock, B. J. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2.

Jaques, T. (2007). Issue management and crisis management: An integrated, non-


linear, relational construct. Public Relations Review, 33(2), 147-157.