Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH ASWAJA

“PENERAPAN PRINSIP TASAMUH DALAM KONTEKS


KEFARMASIAN”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah aswaja

Dosen pengampu : Nur Cholid, M.Ag, M.Pd

Disusun oleh :
Ipung Arisanti 175020013
Ery Aridyantiningtyas 175020014
Hanna Saptarini 175020015
Ida Rotus Saadah 175020016
Setya Wahyu K 175020017
Deka Navira 175020018

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS WAHID HASYIM

SEMARANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling

sempurna. Manusia dikaruniai akal sehingga mampu memahami,

mengerti, dan memecahkan persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya

dan manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup dengan sendiri.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling

membutuhkan satu sama lain. Dalam kehidupannya manusia memiliki

keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Hal ini merupakan salah

satu kodrat manusia yang selalu ingin berhubungan dengan manusia lain.

Adapun hubungannya dengan manusia sebagai mahluk sosial

adalah bahwa dalam mengembangkan potensi-potesinya ini tidak akan

terjadi secara alamiah dengan sendirinya, tetapi membutuhkan bantuan

dan bimbingan manusia lain. Selain itu, dalam kenyataannya, tidak ada

manusia yang mampu hidup tanpa adanya bantuan orang lain. Hal ini

menunjukan bahwa manusia hidup saling ketergantungan dan saling

membutuhkan antara yang satu dengan lainnya seperti halnya di dalam

dunia kefarmasian.

Farmasis/Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus

pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan

kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker (Kepmenkes, 2004) dan


apoteker seseorang yang ahli didalam obat-obatan dan umumnya adalah

pakar kesehatan yang mengoptimalkan penggunaan obat kepada pasien

untuk kesehatan yang lebih baik dengan melakukan pelayanan

kefarmasian.

Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung

jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan

maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan

pasien.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini

adalah :

1. Apa pengertian dari Al-I’tidal?

2. Bagaimana aplikasi Al-I’tidal dalam pelayanan kefarmasian.

C. TUJUAN

1. Apoteker dapat memahami pengertian Al-I’tidal dengan baik.

2. Apotekerdapat mengaplikasikan Al-I’tidal dalam pelayanan

kefarmasian.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Ahlussunnah Waljama’ah

Ahlussunah Waljama’ah Aswaja versi bahasa terdiri dari tiga

kata, Ahlu, Al-Sunnah, dan Al-Jama’ah. Kata Ahlu diartikan sebagai

keluarga, komunitas, atau pengikut. Kata Al-Sunnah diartikan sebagai

jalan atau karakter. Sedangkan kata Al-Jamaah diartikan sebagai

perkumpulan. Arti Sunnah secara istilah adalah segala sesuatu yang

diajarkan Rasulullah SAW, baik berupa ucapan, tindakan, maupun

ketetapan. Sedangkan Al-Jamaah bermakna sesuatu yang telah

disepakati komunitas sahabat Nabi pada masa Rasulullah SAW dan

pada era pemerintahan Khulafah Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar,

Utsman, dan Ali). Dengan demikian Ahlussunnah Wal Jamaah adalah

komunitas orang-orang yang selalu berpedoman kepada sunnah Nabi

Muhammad SAW dan jalan para sahabat beliau, baik dilihat dari aspek

akidah, agama, amal-amal lahiriyah, atau akhlak hati.

Definisi di atas meneguhkan kekayaan intelektual dan

peradaban yang dimiliki Ahlussunnah Wal Jamaah, karena tidak hanya

bergantung kepada al-Qur’an dan hadits, tapi juga mengapresiasi dan

mengakomodasi warisan pemikiran dan peradaban dari para sahabat

dan orang-orang salih yang sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi. Terpaku


dengan Al-Qur’an dan hadis dengan membiarkan sejarah para sahabat

dan orang-orang saleh adalah bentuk kesombongan, karena merekalah

generasi yang paling otentik dan orisinal yang lebih mengetahui

bagaimana cara memahami, mengamalkan dan menerjemahkan ajaran

Rasul dalam perilaku setiap hari, baik secara individu, sosial, maupun

kenegaraan. Berpegang kepada al-Qur’an dan hadis ansich, bisa

mengakibatkan hilangnya esensi (ruh) agama, karena akan terjebak

pada aliran dhahiriyah (tekstualisme) yang mudah menuduh bid’ah

kepada komunitas yang dijamin masuk surga, seperti khalifah empat.

2. Karakteristik Ahlussunnah Wal Jamaah Dalam Mensikapi


Perkembangan Zaman
Ada lima istilah utama yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits

dalam menggambarkan karakteristik Ahlus sunnah wal jama’ah

sebagai landasan dalam bermasyarakat atau sering disebut dengan

konsep Mabadiu Khaira Ummat yakni sebuah gerakan untuk

mengembangkan identitas dan karakteristik anggota Nahdlatul ‘Ulama

dengan pengaturan nilai-nilai mulia dari konsep keagamaan Nahdlatul

‘Ulama, yaitu At-Tawassuth,Al I’tidal, At-Tasamuh, At-Tawazun, Amar

Ma’ruf Nahi Munkar.

Dari ke lima karakteristik tersebut akan dibahas lebih lanjut mengenai

Al-I’tidal.

3. Pengertian Tasamuh Dan Hakekatnya

4. Aplikasi Al I’tidal dalam Pelayanan Kefarmasian


Pelayanan kefarmasian mulai berubah orientasinya dari drug

oriented menjadi patient oriented. Perubahan paradigma ini dikenal

dengan nama Pharmaceutical care atau asuhan pelayanan kefarmasian

(Kemenkes RI, 2011). Pharmaceutical care atau asuhan kefarmasian

merupakan pola pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien.

Pola pelayanan ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan obat secara

rasional yaitu efektif, aman, bermutu dan terjangkau bagi pasien

(Depkes RI, 2008). Hal ini meningkatkan tuntutan terhadap pelayanan

farmasi yang lebih baik demi kepentingan dan kesejahteraan pasien.

Asuhan kefarmasian, merupakan komponen dari praktek kefarmasian

yang memerlukan interaksi langsung apoteker dengan pasien untuk

menyelesaikan masalah terapi pasien, terkait dengan obat yang

bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Kemenkes RI,

2011).

Akibat dari perubahan paradigma pelayanan kefarmasian,

apoteker diharapkan dapat melakukan peningkatan keterampilan,

pengetahuan, serta sikap sehingga diharapkan dapat lebih berinteraksi

langsung terhadap pasien. Adapun pelayanan kefarmasian tersebut

meliputi pelayanan swamedikasi terhadap pasien, melakukan

pelayanan obat, melaksanakan pelayanan resep, maupun pelayanan

terhadap perbekalan farmasi dan kesehatan, serta dilengkapi dengan

pelayanan konsultasi, informasi dan edukasi (KIE) terhadap pasien

serta melakukan monitoring terkait terapi pengobatan pasien sehingga


diharapkan tercapainya tujuan pengobatan dan memiliki dokumentasi

yang baik (Depkes RI, 2008). Apoteker harus menyadari serta

memahami jika kemungkinan untuk terjadinya kesalahan pengobatan

(Medication Error) dalam proses pelayanan kefarmasian dapat terjadi

sehingga diharapkan apoteker dapat menggunakan keilmuannya

dengan baik agar berupaya dalam melakukan pencegahan dan

meminimalkan masalah tentang obat (Drug Related Problems) dengan

membuat keputusan yang tepat dan profesional agar pengobatan

rasional (Depkes RI, 2008).

Salah satu contoh penerapan sikap Al I’tidal dalam pelayanan

kefarmasian di apotek yaitu ketika didalam suatu rapat tahunan IAI,

terjadi perbedaan pendapat antara apoteker satu dengan apoteker

lainnya, maka sikap seorang apoteker ketua sidang harus adil,

tidak boleh langsung membela salah satu seorang apoteker dengan

menjatuhkan yang lain yang akhirnya akan menguntungkan diri

anggota yang dibelanya. Tetapi harus benar-benar tidak memihak salah

satu, bahkan berusaha menjembatani perbedaan pendapat yang terjadi

diantara anggota apoteker.

Contoh lain ketika seorang pasien bertanya kepada apoteker

mengenai penyakit pasien lainnya. Sikap seorang apoteker adalah

dengan tidak memberi informasi yang berkaitan dengan pasien

tersebut. Apoteker harus merahasiakan kondisi pasien meskipun

apoteker tersebut mendapat imbalan atas informasi yang diberikan. Hal


ini sesuai dengan kode etik apoteker yaitu seorang apoteker harus

senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi apoteker

indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada

prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya. Sikap dan

perilaku seperti contoh diatas harus benar-benar dapat dibiasakan.

Seorang apoteker harus berlatih dan membiasakan diri bersikap netral

dalam segala hal, dan adil dalam menghadapi masalah. Dengan

demikian, akan tercipta seorang apoteker menjadi manusia yang benar-

benar mempunyai sikap yang luhur dan dapat dicontoh bagi orang lain

serta akan menempatkan dirinya pada posisi yang terhormat dan

dimuliakan orang lain.

BAB III

KESIMPULAN

Dari penjabaran makalah diatas maka, penulis dapat menyimpulkan

bahwaIslam mengajarkan pada manusia untuk bersikap adil terhadap sesama

manusia, tidak membedakan antara satu sama lain bahkan tidak membedakan

atas dasar kesenjangan sosial. Berdasarkan Al-quran, Islam menganjurkan

manusia untuk selalu menegakkan kebenaran dan berlaku adil termasuk dengan

orang yang memiliki kebencian terhadap seseorang. Peran apoteker apoteker

yang mempunyai karakter Al I’tidal mampu membawa dirinya untuk selalu


mengambil jalan tengah dan tidak condong kanan dan kiri dalam bertindak. Sikap

seperti ini yang sangat dibutuhkan dan sangat penting dimiliki oleh seorang

apoteker dalam melayani pasien sesuai dengan kebutuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

Alarna, Badrun, (2000), cet. 1, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja,
Yogyakarta : Tiara Wacana
Al-Asy’ari, Abi al-Hasan Ali ibn Ismail, (t.th). al-Ibanah An Ushul al-Diyanah,
Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah

Asmani, Jamal Makmur, (2014), Manhaj Pemikiran Aswaja,dalam

Depkes RI. 2008. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian


di Apotek. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

Hasyim, Yusuf, (2014), Aswaja Annahdliyah; Dari Madzhabi


Menuju Manhajidalam,_http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/0
2/aswaja-annahdliyah-dari-madzhabi-menuju-
manhaji/http://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/manhaj-
pemikiran-aswaja/
ISFI. 2000 Standar Pelayanan Pengabdian Profesi Apoteker di Apotek, Kongres
Nasional Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ISFI XVI, BPP ISFI, Jakarta.
Islamiharjo, Cukup. 2009. Pendidikan Islam Berwawasan ke Indonesia. Skripsi.
Unversitas Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta.
Kemenkes RI. 2011. Profil Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010.
Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan RI, Kementrian
Kesehatan RI.
Kemenkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.
LIM, FKI (2010), cet. 2, Gerbang Pesantren,Pengantar Memahami Ajaran
Ahlussunnah wal Jama’ah, Kediri: Litbang Lembaga Ittihadul Muballigin
PP. Lirboyo

Madjid, Nurcholis, (2000), cet. 4, Islam Doktrin Dan Peradaban, Jakarta:


Paramadina, , hlm. 282-84 .

Misrawi, Zuhairi, (2010), cet. 1, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi,


Keumatan, Dan Kebangsaan, Jakarta : Kompas