Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian osteoarthritis

Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit tulang degeneratif. Osteoarthritis


juga dapat didefinisikan sebagai berbagai kelompok kondisi yang menyebabkan
gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan integrasi kartilago
artikular selain perubahan pada tulang yang mendasarinya. (Brashers, 2001).
Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, tulang di bawahnya mengalami
iritasi, yang menyebabkan degenerasi sendi. Osteoarthritis dapat terjadi secara
idiopatik (tanpa diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma, dengan
stres berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau balerina atau
berkaitan dengan deformitas kongenital. Individu yang mengalami hemofilia atau
kondisi lain yang ditandai oleh pembengkakan sendi kronis dan edema, dapat
mengalami osteoarthritis. Osteoarthritis sering dijumpai pada lansia, yang lebih
dari 70% pria dan wanita yang berusia di atas 65 tahun. Obesitas dapat
memperburuk kondisi ini. Selain itu, osteoarthritis juga sering mempengaruhi
beberapa anggota keluarga yang sama, hal ini menunjukkan bahwa adanya faktor
turun-temurun kerentanan kondisi ini. Sejumlah penelitian menujukkan bahwa
ada prevalensi yang lebih besar dari penyakit antara saudara kandung dan
terutama kembar identik yang menunjukka dasar keturunan, hingga mencapai
60% dari kasus osteoarthritis diperikirakan akibat dari faktor genetik (Hamidah,
dll., 2007).

1.2 Etiologi Osteoatritis


Berdasarkan pathogenesis, osteoarthritis dibedakan menjadi :
a. Osteoarthritis primer (osteoarthritis idiopatik) yaitu osteoarthritis yang
kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit
sistemik maupun perubahan local pada sendi.
b. Osteoarthritis sekunder adalah osteoarthritis yang didasari adanya kelainan
endokrin, inflamasi, metabolic, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan
makro serta imobilisasi yang terlalu lama. Terjadi pada setiap usia dan
abnormal sejak lahir.
Faktor resiko yang terkait dengan terjadinya osteoarthritis adalah :
a. Usia
Merupakan determinan utama pada osteoarthritis. Lebih sering diderita oleh
usia lanjut, meskipun orang yang lebih muda juga dapat menderita hal yang
sama. Berdasarkan bukti-bukti radiografi, pada individu yang berusia 45 –
65 tahun terdapat 30% kasus osteoarthritis, dan pada usia di atas 80 tahun
terdapat lebih dari 80% kasus.
b. Jenis Kelamin
Baik pria maupun wanita bisa menderita penyakit osteoarthritis. Perbedaan
utama insidensi tersebut terkait dengan area yang dipengaruhi oleh
osteoarthritis. Pada wanita, sendi yang sering terkena osteoarthritis adalah
sendi interphalangeal distal, sendi interphalangeal proksimal, sendi
carpometacarpal pertama, sendi metatarsophalangeal, pinggul (usia 55-64
tahun) dan lutut (65-74 tahun). Sedangkan pada pria yang berusia 65-74
tahun, pinggul dan lutut lebih sering terkena osteoarthritis. Frekuensi
osteoarthritis kurang lebih sama antara pria dan wanita pada usia di bawah
45 tahun, tetapu di atas 50 tahun frekuensi osteoarthritis lebih banyak pada
wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
pathogenesis osteoarthritis.
c. Suku bangsa
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoarthritis terlihat ada
perbedaan diantara suku bangsa. Misalnya osteoarthritis paha lebih jarang
pada orang kulit hitam dan Asia dari pada Kaukasia. Osteoarthritis lebih
sering dijumpai pada orang Amerika asli (indian) daripada orang kulit putih.
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan
d. Genetik
Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk
unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe X dan XII, protein
pengikat atau proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya
kecenderungan familial pada osteoarthritis tertentu (terutama osteoarthritis
banyak sendi).
e. Obesitas dan penyakit metabolic
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoarthritis pada sendi
yang menanggung beban, tetapi juga dengan osteoarthritis sendi lain(tangan
atas sternoklavikula). Peran faktor metabolic dan hormonal pada kaitan
antara osteoarthritis dan kegemukan juga didukung oleh adanya kaitan antara
osteoarthritis dengan penyakit jantung koroner (PJK), diabetes mellitus dan
hipertensi.
f. Riwayat trauma sebelumnya
Trauma pada sendi yang terjadi sebelumnya, biasanya mengakibatkan
malformasi sendi yang akan meningkatkan resiko terjadinya osteoarthritis.
Trauma berpengaruh terhadap kartilago artikuler, ligament, atau menikus
yang menyebabkan biomekanika sendi menjadi abnormal dan memicu
terjadinya degenerasi premature.
g. Pekerjaan
Lebih sering terjadi pada yang memiliki pekerjaan dengan memberikan
tekanan pada sendi-sendi tertentu. Misalnya pada tukang jahit, osteoarthritis
lebih sering terjadi di daerah lutut, sedangkan pada buruh bangunan sering
terjadi di daerah pinggang.
h. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya penyakit Perthes dan
dislokasi kongenital paha) telah dikaitkan dengan timbulnya osteoarthritis
paha pada usisa muda.
i. Faktor-faktor lain
Tingginya kepadatan tulang dikaitkan dengan meningkatkan resiko
timbulnya osteoarthritis karena tidak mampu membantu mengurangi
benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang
rawan sendi menjadi lebih mudah robek.

1.3 Osteoartritis dapat dibagi atas dua jenis yaitu:


a. Osteoartritis Primer
OA Primer tidak diketahui dengan jelas penyebabnya, dapat mengenai satu
atau beberapa sendi. OA jenis ini terutama ditemukan pada pada wanita kulit
putih, usia baya, dan umumnya bersifat poli-articular dengan nyeri akut
disertai rasa panas pada bagian distal interfalang, yang selanjutnya terjadi
pembengkakan tulang (nodus heberden).
b. Osteoartritis Sekunder
OA sekunder dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan kerusakan
pada sinovia sehingga menimbulkan osteoartritis sekunder. Beberapa
keadaan yang dapat menimbulkan osteoartritis sekunder sebagai berikut:
1) Trauma /instabilitas.
OA sekunder terutama terjadi akibat fraktur pada daerah sendi, setelah
menisektomi, tungkai bawah yang tidak sama panjang, adanya
hipermobilitas, instabilitas sendi, ketidaksejajaran dan ketidakserasian
permukaan sendi.
2) Faktor Genetik/Perkembangan
Adanya kelainan genetik dan kelainan perkembangan tubuh (displasia
epifisial, displasia asetabular, penyakit Legg-Calve-Perthes, dislokasi
sendi panggul bawaan, tergelincirnya epifisis) dapat menyebabkan OA.
3) Penyakit Metabolik/Endokrin
OA sekunder dapat pula disebabkan oleh penyakit metabolik/sendi
(penyakit okronosis, akromegali, mukopolisakarida, deposisi kristal, atau
setelah inflamasi pada sendi. (misalnya, OA atau artropati karena
inflamasi).
c. Menurut Kellgren dan Lawrence, secara radiologis Osteoartritis di
klafikasikan menjasi:
1) Grade 0 : Normal
2) Grade 1 : Meragukan, dengan gambaran sendi normal, terdapat
osteofit minim
3) Grade 2 : Minimal, osteofit sedikit pada tibia dan patella dan
permukaan sendi menyempit asimetris.
4) Grade 3 : Moderate, adanya osteofit moderate pada beberapa tempat,
permukaan sendi menyepit, dan tampak sklerosis subkondral.
5) Grade 4 : Berat, adanya osteofit yang besar, permukaan sendi
menyempit secara komplit, sklerosis subkondral berat, dan kerusakan
permukaan sendi.
1.4 Manifestasi Klinis
a. Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah
apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
b. Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 - 30 menit dan timbul setelah istirahat atau
saat memulai kegiatan fisik.
c. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam
ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi
yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
d. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan
akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan
keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.
Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar,
misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong
sebelah lateril, dan tungkai atas. Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan
tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.
e. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan
cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
f. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
g. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

1.5 Prognosis
Prognosis pasien dengan osteoarthritis primer bervariasi dan terkait dengan
sendi yang terlibat. Pasien dengan osteoarthritis sekunder, prognosisnya
terkait dengan faktor penyebab terjadinya osteoarthritis. Umumnya baik.
Sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan obat-obat konservatif. Hanya
kasus-kasus berat yang memerlukan pembedahan, yaitu apabila pengobatan
dengan menggunakan obat tidak rasional pada pasien (Hansen & Elliot,
2005).

1.6 Pemeriksaan penunjang


a. Pemeriksaan Radiologi (X-Ray)
Yang diperhatikan dalam pemeriksaan radiologi:
- Jarak antar sendi menyempit
- Osteofit
- Pembentukan tulang di sekitar sendi
- Peningkatan densitas / sklereosis subchondral
- Kisti tulang
b. Pemeriksaan Laboratorium (Serum)
Faktor rheumatoid ditemukan dalam serum
c. Analisa Cairan Engsel
Dokter akan mengambil contoh sampel cairan pada engsel untuk kemudian
diketahui apakah nyeri/ngilu tersebut disebabkan oleh encok atau infeksi.
d. Pengamatan dengan Kamera (Artroskopi)
Artroskopi adalah alat kecil berupa kamera yang diletakkan dalan engsel
tulang. Dokter akan mengamati ketidaknormalan yang terjadi.

1.8 Penatalaksaan Osteoartritis


a. Pencegahan Primordial
Pada prinsipnya upaya pencegahan premordial adalah mempertahankan gaya
hidup yang sudah ada dan benar dalam masyarakat serta melakukan
modifikasi, penyesuaian terhadap resiko yang ada atau berlangsung dalam
masyarakat.Untuk penyakit osteoartrhitis, pencegahan premordialnya antara
lain
- Membuat sarana olahraga umum seperti jogging track dan fasiitas
olahraga lainnya
- Mempertahankan pola makan yang sehat.
- Menjaga lingkungan agar tetap sehat dan tehindar dari faktor resiko OA.
b. Pencegahan Sekunder
Promosi kesehatan :
- Pemberian informasi kesehatan (terkait osteoarthriris) di posyandu lansia
- Promosi tentang bahaya dari penyakit osteoarthritis
- Mengadakan penyuluhan akan kesedaran pola hidup sehat
Pencegahan Khusus :
- Menjaga berat badan. Yang merupakan factor penting agar beban yang
ditanggung oleh sendi menjadi ringan.
- Melakukan jenis olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian
atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang
dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan tiduran.
- Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa
untuk melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan
aktivitas gerak pun sangat tidak dianjurkan. Tubuh yang tidak digerakkan
akan mengundang osteoporosis.
- Menghindari trauma (perlukaan) pada persendian.
- Meminum obat-obatan suplemen sendi (atas konsultasi dan anjuran
dokter).
- Mengkonsumsi makanan sehat.
- Memilih alas kaki yang tepat & nyaman.
- Lakukan relaksasi dengan berbagai teknik.
- Hindari gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
- Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan
dibiarkan. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata
pada semua permukaan tulang
c. Pencegahan Sekunder
Diagnosis Dini meliputi:
- Sinar X
Pencitraan dengan sinar X terhadap persendian yang terkena osteoarthritis
dapat melihat penyempitan di persendian. Kondisi ini mengindikasikan
bahwa tulang rawan kian terkikis. Sinar X juga mengetahui adanya
penonjolam tulang di sekitar sendi, bahkan banyak orang yang sudah tahu
mereka menderita osteoarthritis setelah menjalani pemeriksaaan dengan
sinar X, meskipun belum muncul gejala.
- Magnetic resonance imarging (MRI)
merupakan gelombang radio dan medan magnet kuat untuk menghasilkan
gambar yang jelas dari tulang dan jaringan lunak, termasuk tulang rawan.
Hal ini dapat membantu untuk mengetahui penyebab pasti rasa sakit pada
persendian
Uji Laboratorium, meliputi:
- Tes darah
Tes darah dapat membantu mengetahui penyebab lain dari sakit
persendian, misalnya rheumatoid arthritis.
- Analisis cairan sendi
Digunakan jarum khusus untuk menyedot cairan dari persendian yang
sakit, kemudian cairan tersebut diperiksakan di laboratorium untuk
menentukan apakah ada peradangan atau disebabkan oleh encok atau
infeksi.
Pengobatan Secara Tepat dilakukan dengan operasi, meliputi:
- Penggantian engsel (artroplasti)
Engsel yang rusak akan diangkat dan diganti dengan alat yang terbuat dari
plastik atau metal yang disebut prostesis.
- Pembersihan sambungan (debridemen)
Dokter bedah tulang akan mengangkat serpihan tulang rawan yang rusak
dan mengganggu pergerakan yang menyebabkan nyeri saat tulang
bergerak.
- Penataan tulang
Opsi ini diambil untuk osteoatritis pada anak dan remaja. Penataan
dilakukan agar sambungan/engsel tidak menerima beban saat bergerak.
d. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dilakukan dengan cara rehabilitasi terhadap penderita
agar tidak mengalami kekambuhan atau sakit lagi, cara rehabilitasi
untukpenyakit osteoatritis ini antara lain :
- melatih mobilisasi dan mengkonsumsi makanana bergizi (khususnya tinggi
kalsium)
- Senam osteoarthritis misalnya yoga
- rehabilitasi agar tidak terjadi komplikasi yang lebih parah.
Daftar pustaka
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia.Jakarta: dewan pengurus pusat, persatuan perawat Indonesia
Dr. Achmad zaki. 2013. Buku Saku Osteoarthritis. Bandung: celtics press
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PAESIEN DENGAN
OSTEOARTHRITIS
A. Pengkajian
1. Idenritas
- Biodata meliputi ( nama, usia, jenis kelamin, suku dan kebangsaan,
pendidikan, pekerjaaan, alamat, TMR )
- Keluhan utama
Nyeri pada salah satu sendi, kekakuan
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat kesehatan keluarga
- Tanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
osteoarthritis?
2. Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Aktivitas/Istirahat
 Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi,
kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris
limitimasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan, keletihan, malaise.
 Keterbatasan ruang gerak, atropi otot, kulit: kontraktor/kelainan pada sendi
dan otot.
3. Pola Nutrisi Metabolik
Makanan / Cairan
 Ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau
cairan adekuat mual, anoreksia.
 Kesulitan untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada
membran mukosa
4. Pola Eliminasi
Nyeri/kenyamanan
 Fase akut nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan jaringan
lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pagi hari).
Kenyamanan

 Kulit mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus


 Lesi kulit, ulkas kaki
 Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
 Demam ringan menetap
 Kekeringan pada mata dan membran mukosa

Pemeriksaan Diagnostik

 Reaksi aglutinasi: positif


 LED meningkat pesat
 Protein C reaktif : positif pada masa inkubasi.
 SDP: meningkat pada proses inflamasi
 JDL: Menunjukkan ancaman sedang
 Ig (Igm & Ig G) peningkatan besar menunjukkan proses autoimun
 RO: menunjukkan pembengkakan jaringan lunak, erosi sendi, osteoporosis
pada tulang yang berdekatan, formasi kista tulang, penyempitan ruang sendi.
5. Pola aktivitas dan Latihan
Kardiovaskuler
Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis kemudian
kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.
6. Pola Tidur dan Istirahat
Kaji perbedaan waktu tidur sebelum dan sesudah sakit dan jumlah tidur dan
istirahat per hari
7. Pola Kognitif dan Perseptual
Hygiene
Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri, ketergantungan
pada orang lain.
8. Pola persepsi dan Konsep diri
Integritas Ego
 Faktor-faktor stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
 Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
 Ancaman pada konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi, misalnya
ketergantungan pada orang lain.
9. Pola peran dan Hubungan Dengan Sesama (koping)
Interaksi Sosial
- Kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan peran:
isolasi.
10. Pola Reproduksi – Seksualitas
Kaji pengetahuan klien tentang hubungan penyakit dengan masalah seksualitas.
Ada atau tidaknya gangguan fungsional/seksual karena penyakit yang diderita
(osteoarthritis) . Klien mengalami perubahan atau masalah seksualitas yang
berhubungan dengan penyakit kronik yang diderita .
11. Pola Mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Adakah gangguan penyesuaian diri klien terhadap lingkungan dan situasi yang
baru berhubungan dengan penyakit.
12. Pola Sistem Nilai Kepercayaan
Apa yang menjadi tujuan hidup klien agar dapat menjadi motivasi dalam
melawan rasa dan penyakit yang di derita klien.

B. Analisa Data
Sign/Symptom Etiologi Problem
1 DS: Perubahan metabolisme TRS Nyeri

- Klien mengeluh nyeri Matriks makromolekul TRS


sendi rusak

DO : Antibody membentuk kompleks


imun di ruang sendi
· Ekspresi wajah meringis
Permeabilitas makrovaskuler
· Perilaku yang bersifat sinovial meningkat
hati-hati/melindungi.
Antigen menetap pada jaringan
sendi

Destruksi sendi

Nyeri akut/kronik
2 DS : Destruksi sendi Mobilitas
fisik,
- Klien mengatakan Perubahan fungsi dan struktur
sendinya terasa kaku sendi Kerusakan
dan bengkak
Mengurangi aktivitas pada sendi
DO : yang terkena

- Adanya pembengkakan Rentang gerak terbatas


pada sendi yang terkena
- Adanya keterbatasan Mobilitas fisik, kerusakan
pergerakan
- Penurunan kekuatan
otot

3 DS : Destruksi sendi Gangguan


Citra Tubuh
- Klien merasa tidak Perubahan fungsi dan struktur
berdaya, putus asa sendi
- Klien merasa terisolasi
dari lingkungan Mengurangi aktivitas pada sendi
sosialnya yang terkena

DO : Rentang gerak terbatas

- Perubahan Ketidakseimbangan antara


struktur/fungsi dari mobilitas dan aktivitas
bagian-bagian yang
sakit Gangguan citra tubuh

C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri bergubungan dengan destruksi sendi ditandai dengan Klien mengeluh
nyeri sendi, ekspresi wajah meringis ,perilaku yang bersifat hati-
hati/melindungi
2. Mobilitas fisik berhubungan dengan rentang gerak terbatas ditandai dengan
klien mengatakan sendinya terasa kaku dan bengkak, adanya pembengkakan
pada sendi yang terkena, adanya keterbatasan pergerakan, penurunan
kekuatan otot
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
mobilitas dan aktivitas ditandai dengan klien merasa tidak berdaya, putus asa.
klien merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya, perubahan struktur/fungsi
dari bagian-bagian yang sakit
D. Rencana Asuhan Keperawatan
DX.1. Dx 1. Nyeri bergubungan dengan destruksi sendi ditandai
Kriteria Hasil - Menunjukkan nyeri hilang/terkontrol
: - Klien terlihat rileks dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi
dalam aktivitas
- Mengikuti program terapi
-Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke
dalam program kontrol nyeri.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan 1. Membantu dalam menentukan
intensitas nyeri (skala 0 – 10), catat kebutuhan managemen nyeri dan
faktor-faktor yang mempercepat dan keefektifan program.
tanda-tanda rasa nyeri. 2. Matras yang lembut/empuk, bantal
2. berikan matras atau kasur keras, yang besar akan mencegah
bantal kecil. Tinggikan linen tempat pemeliharaan kesejajaran tubuh yang
tidur sesuai kebutuhan. tepat, menempatkan setres pada sendi
yang sakit.
3. biarkan pasien mengambil posisi 3. Peninggian linen tempat tidur
yang nyaman pada waktu tidur atau menurunkan tekanan pada sendi yang
duduk di kursi. Tingkatkan istirahat terinflamasi / nyeri.
di tempat tidur sesuai indikasi.
4. dorong untuk sering mengubah 4. Pada penyakit berat, tirah baring
posisi. Bantu pasien untuk bergerak mungkin diperlukan untuk membatasi
di tempat tidur, sokong sendi yang nyeri atau cedera sendi.
sakit di atas dan di bawah, hindari
gerakan yang menyentak.
5. anjurkan pasien untuk mandi air 5. Mencegah terjadinya kelelahan umum
hangat atau mandi pancuran pada dan kekakuan sendi. Menstabilkan
waktu bangun. Sediakan waslap sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit
hangat untuk mengompres sendi- pada sendi.
sendi yang sakit beberapa kali
sehari. Pantau suhu air kompres, air
mandi.
6. Beri obat sebelum aktivitas atau 6. Meningkatkan elaksasi/mengurangi
latihan yang direncanakan sesuai tegangan otot, memudahkan untuk
petunjuk seperti asetil salisilat. ikut serta dalam terapi.

Dx 2. Mobilitas fisik berhubungan dengan rentang gerak terbatas


Kriteria Hasil Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
:
INTERVENSI RASIONAL
1. Pertahankan istirahat tirah 1. Untuk mencegah kelelahan dan
baring/duduk jika diperlukan. mempertahankan kekuatan.
2. Bantu bergerak dengan bantuan 2. Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan
seminimal mungkin. otot dan stamina umum.
3. Dorong klien mempertahankan 3. Memaksimalkan fungsi sendi dan
postur tegak, duduk tinggi, berdiri mempertahankan mobilitas.
dan berjalan.
4. Berikan lingkungan yang aman dan 4. Menghindari cedera akibat kecelakaan
menganjurkan untuk menggunakan seperti jatuh.
alat bantu.
5. Berikan obat-obatan sesuai indikasi 5. Untuk menekan inflamasi sistemik
seperti steroid. akut.

DX.6. Dx 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketidakseimbangan


Kriteria Hasil Mengungkapkan peningkatan rasa percaya kemampuan
: untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup dan
kemungkinan keterbatasan.

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :

1. Dorong pengungkapan mengenai 1. Beri kesempatan untuk


masalah mengenai proses mengidentifikasi rasa takut/kesal
penyakit,harapan masa depan. menghadapinya secara langsung.
2. Diskusikan arti dari 2. Mengidentifikasi bagaimana penyakit
kehilangan/perubahan pada mempengaruhi persepsi diri dan
pasien/orang terdekat. Memastikan interaksi dengan orang lain akan
bagaimana pandangan pribadi psien menentukan kebutuhan terhadap
dalam memfungsikan gaya hidup intervensi atau konseling lebih lanjut.
sehari-hari termasuk aspek-aspek
seksual. 3. Isyarat verbal/nonverbal orang
3. Diskusikan persepsi pasien terdekat dapat mempunyai pengaruh
mengenai bagaiman orang terdekat mayor pada bagaimana pasien
menerima keterbatasan. memandang dirinya sendiri.
4. Akui dan terima perasaan berduka, 4. Nyeri melelahkan, dan perasaan
bermusuhan, ketergantungan. marah, bermusuhan umum terjadi.
5. Perhatikan perilaku menarik 5. Dapat menunjukkan emosional atau
diri,penguanan menyangkal atau metode maladaptive, membutuhkan
terlalu memperhatikan intervensi lebih lanjut atau dukungan
tubuh/perubahan. psikologis.
6. Membantu pasien mempertahankan
6. Susun batasan pada prilaku kontrol diri yang dapat meningkatkan
maladaptive. Bantu pasien untuk perasaan harga diri.
mengidentifikasi perilaku positif
yang dapat membantu koping. 7. Meningkatkan perasaan
7. Ikut sertakan pasien dalam kompetensi/harga diri, mendorong
merencanakan perawatan dan kemandirian, dan mendorong
membuat jadwal aktivitas. partisipasi dan terapi.

Kolaborasi :
1. Pasien/orang terdekat mungkin
1. Rujuk pada konseling psikiatri
membutuhkadukungann selama
berhadapan dengan proses jangka
panjang/ketidakmampuan

2. Berikan obat-obat sesuai petunjuk 2. Mungkin dibutuhkan pada saat


munculnya depresi hebat sampai
pasien mengembangkan
kemampuankoping yang efektif.