Anda di halaman 1dari 3

Mengapa Kristen boleh makan babi?

Padahal bibel (Al-kitab/) mengharamkannya/melarangnya?? Bagi yang punya bibel (Al-kitab)


baca Imamat 11:7-8, Ulangan 14:8, Yeyasa 65:2-4, Yeyasa 66:17,

Jawaban Terbaik: Nats: Kis 10: 14-15 “ Tetapi Petrus menjawab tidak Tuhan ....aku belum
pernah makan sesuatu yg haram dan yg tidak tahir..” kedengaran untuk kedua kalinya
suara yang berkata kepadanya “ apa yg dikatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau
nyatakan haram.
(Markus 7:15) "...Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang,
dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari
dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya."
[ Markus ] 7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di
jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
[ 1 Korintus ] 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala
sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.
[ 1 Timotius ] 4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang
haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

Menurut Dr. Soedjatmiko, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15-20 tahun
lalu, proses panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk
melepaskan induk vaksin dari persemaiannya.

Tetapi induk bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan total dengan cara
ultrafilterisasi ratusan kali, sehingga vaksin yang diberikan kepada anak tidak mengandung
tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan khusus.

“Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa vaksin tersebut dapat dipakai, selama belum
ada penggantinya. Contoh vaksin meningokokus haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi
semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus,” lanjut Dr.
Soedjatmiko.

Pendiri Rumah Vaksinasi Dr Piprim Basarah Yanuarso mengatakan ada 14 jenis vaksin.
Namun, memang dalam proses pembuatan vaksinnya terdapat tiga vaksin yang
menggunakan katalisator enzim tripsin dari babi.

Tiga vaksin tersebut, di antaranya polio, rotavirus, dan meningitis. Akan tetapi, untuk tiga
vaksin tersebut telah mendapatkan sertifikat halal, bahkan dari Majelis Ulama Eropa dan
Majelis Ulama Amerika.
Vaksin yang terdapat unsur babi tersebut telah melalui proses pencucian jutaan kali.
Merujuk sejumlah dalil dalam kajian fikih, jika unsur haram tersebut telah dicuci bersih, bisa
menjadi halal.

Kaidah yang diyakini oleh dr Piprim yang juga sebagai Sekretaris Pengurus Pusat Ikatan
Dokter Anak Indonesia, seluruh zat dapat dianggap halal sampai terbukti keharamannya.
''Bukan berarti seluruh zat dianggap haram sampai mendapatkan sertifikasi halal baru
terbukti kehalalannya,'' ujarnya.

Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada
permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu imunisasi dengan
menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan
enzim yang berasal dari babi.

Imunisasi dalam perspektif hukum Islam merupakan ikhtiar dalam menjaga kesehatan di
dalam preventif. Namun, kemudian muncul masalah kedua terkait isu halal haram dalam
penggunaan vaksin mengandung enzim babi.

Masyarakat, kata dia, secara paradigma bisa menerima pengobatan secara preventif, tetapi
pengobatan dalam perspektif hukum Islam diwajibkan jangan menggunakan enzim haram
dan ini ada dalam hadis shahih.

“Namun, dalam kondisi tertentu ketika tidak ada bahan atau enzim (halal) lain maka
dimungkinkan pembolehan vaksin dari bahan najis atau haram. Ini sama seperti yang
dilakukan nabi dalam menggunakan air kencing yang jelas-jelas najis dan haram untuk
pengobatan,” katanya, di Jakarta, Senin (20/4).

Gelatin adalah bahan yang diperoleh dari jaringan kolagen binatang. Jaringan kolagen
tersebut berasal dari bagian tulang keras, tulang rawan, tendon, atau kulit. Gelatin yang
terdapat di dalam vaksin adalah gelatin murni dan telah mengalami proses hidrolisis (reaksi
pemecahan dengan molekul air [H2O]) (hydrolized gelatine). Kemurnian gelatin antara lain
ditunjukkan dengan tes yang tidak bisa lagi mendeteksi DNA babi. Hal ini menunjukkan
bahwa sumber asal gelatin tersebut (yaitu babi), tidak bisa dideteksi lagi. [1]

Sebagian vaksin mengandung gelatin yang berasal dari babi. Berbeda dengan enzim tripsin
yang tidak lagi ditemukan di produk akhir vaksin, gelatin memang terkandung dalam produk
akhir vaksin (yang masuk ke dalam tubuh kita). Gelatin ditambahkan ke dalam vaksin
tertentu sebagai stabilizer, yaitu untuk melindungi antigen vaksin dari perubahan suhu yang
ekstrim, misalnya vaksin yang megandung virus hidup yang dilemahkan (live-attenuated
vaccines). Dengan adanya stabilizer, vaksin tetap aman dan efektif digunakan selama proses
distribusi dan penyimpanan.

Sebagian kecil vaksin yang mengandung gelatin dari babi, misalnya vaksin MMR (merk
VaxPro®, MMR II®), vaksin MMR-varicella (merk ProQuad®), vaksin influenza (merk Fluenz®,
Fluzone®, Flumist®), vaksin herpes zooster (merk Zostafax®), vaksin varicella (merk
Varivax®), dan vaksin tifoid (merk Vivotif®).

Gelatin babi dalam vaksin tidak bisa begitu saja diganti dengan gelatin dari sumber lain,
misalnya sapi

Peraturan Tentang Binatang yang Haram


Bacaan Alkitab hari ini: Imamat 11-12
Imamat 11 berisi peraturan mengenai haram atau tidaknya binatang berkaki empat, burung,
dan segala makhluk hidup yang bergerak di air dan segala makhluk hidup yang mengeriap di
atas bumi (11:46-47). Ada dua hal yang melatar belakangi peraturan ini, yakni kekudusan
Allah dan status bangsa Israel sebagai umat Allah (11:44-45). Sebagai umat pilihan Allah,
bangsa Israel harus menjaga kekudusan lewat kehidupan yang berbeda dengan bangsa
bangsa lain di negeri Kanaan, antara lain melalui tidak makan binatang yang haram. Apa
yang mendasari ketentuan Allah tentang haram tidaknya binatang? Matthew Henry
menjelaskan bahwa binatang haram berhubungan erat dengan praktik penyembahan
berhala bangsa kafir. Umat Israel dilarang bersentuhan atau memakan binatang seperti itu
agar kekudusan hidup mereka tidak tercemar.
Apakah larangan tersebut masih berlaku bagi orang Kristen masa kini? Jawabannya adalah
tidak. Kita tidak terikat dengan peraturan itu karena semua peraturan Taurat sudah digenapi
oleh Yesus Kristus yang “dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum
Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (Efesus 2:15; bandingkan dengan Roma
10:4; Galatia 3:24-27). Dengan kata lain, kita yang hidup dalam zaman anugerah dalam Yesus
Kristus tidak lagi terikat dengan peraturan Taurat, termasuk peraturan tentang makanan
haram atau tidak karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa semua makanan adalah halal
(Markus 7:19). Namun demikian, kita dapat menerapkan prinsip pengajaran bagian ini, yakni
melalui tekad untuk menjaga kekudusan hidup, sebagaimana Allah kita adalah kudus. Kita
harus menghindari segala sesuatu yang dapat mencemarkan hidup kita, termasuk dalam hal
makanan dan dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. [TF]
“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain,
lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10:31